Anda di halaman 1dari 19

LAPORAN PRAKTIKUM PATOLOGI ANATOMI REFRAT ATHEROSCEROSIS

Asisten: (Nama NIM) Kelompok:

Asisten: Briliant Fan F.S.R. NIM. G1A008086 Mona Fadhila I Ngurah Ardhi W Risma Pramudya W Gilang Ridda F Mutiara Chandra D G1A010043 G1A010046 G1A010045 G1A01004 G1A01004

BLOK CARDIOVASCULAR JURUSAN KEDOKTERAN FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU-ILMU KESEHATAN

UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN PURWOKERTO 2012

LEMBAR PENGESAHAN MESOTELIOMA Oleh: Mona Fadhila I Ngurah Ardhi W Risma Pramudya W Gilang Ridda F Mutiara Chandra D G1A010043 G1A010046 G1A010045 G1A01004 G1A01004

Disusun untuk memenuhi persyaratan mengikuti Ujian Identifikasi Praktikum Patologi Anatomi Kedokteran Blok Respirasi Jurusan Kedokteran Fakultas Kedokteran dan Ilmu Ilmu Kesehatan Universitas Jenderal Soedirman Purwokerto

Diterima dan disahkan: Purwokerto, Maret 2012

Asisten

Briliant F.S.R. NIM. G1A008086

KATA PENGANTAR

Puji syukur kami ucapkan kepada Tuhan yang Maha Esa yang telah memberi rahmat dan hidayahNya kepada kita semua, karena atas berkat rahmatNya kami dapat menyelesaikan refrat praktikum patologi anatomi pada blok cardiovascular.tidak lupa kami juga mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang turut ikut serta dalam pembuatan laporan ini. Refrat ini berisikan pembahasan mengenai penyakit Atherosclerosis. Tujuan dalam pembuatan refrat ini adalah untuk memenuhi tugas praktikum Patologi Anatomi Blok Cardiovascular dan sebagai media informasi bagi pembaca yang belum paham dalam penyakit Athrosclerosis.Diharapkan refrat ini akan sangat bermanfaat bagi kami khususunya dan bagi seluruh para pembaca pada umumnya. Akhir kata kami selaku penyusun laporan, mengucapkan terima kasih sebanyakbanyaknya kepada seluruh pihak yang membantu dan memohon maaf jika ada kekurangan dalam penyusunan laporan ini. Purwokerto, Mei 2012

BAB I PENDAHULUAN

Arteriosklerosis merupakan keadaan pada pembuluh arteri yang mengakibatkan penebalan arteriol dan pengerasan pada pembuluh darah arteri diakibatkan oleh penumpukan lemak. Aterosklerosis merupakan jenis yang penting dari arteriosklerosis, istilah aterosklerosis merupakan sinonim dari arteriosklerosis (Guyton, 1997). Aterosklerosis merupakan penyakit yang melibatkan cabang-cabang aorta yang besar dan arteri berukuran sedang, seperti arteri yang menyuplai darah ke bagian-bagian ekstremitas, otak, jantung dan organ dalam utama. Penyakit ini multifokal, dan lesi unit, atau ateroma (bercak aterosklerosis), terdiri dari masa bahan lemak dengan jaringan ikat fibrosa. Sering disertai endapan sekunder garam kalsium dan produk-produk darah. Bercak aterosklerosis mulai pada lapisan intima atau lapisan dalam dinding pembuluh tetapi dalam pertumbuhannya dapat meluas sampai melewati tunika media atau bagian muskuloelastika dinding pembuluh(Guyton, 1997) Sekarang aterosklerosis tak lagi dianggap merupakan proses penuaan saja. Timbulnya "bercak-bercak lemak" di dinding arteria koronaria merupakan fenomena alamiah bahkan sejak masa kanak-kanak dan tidak selalu harus menjadi lesi aterosklerotik; terdapat banyak faktor saling berkaitan yang dapat mempercepat proses aterogenik. Telah dikenal beberapa faktor yang meningkatkan risiko terjadinya aterosklerosis koroner pada individu tertentu (Hanafi, 1997). Aterosklerosis adalah perubahan dinding arteri yang ditandai akumulasi lipid ekstrasel, recruitment dan akumulasi lekosit, pembentukan sel busa, migrasi dan proliferasi miosit, deposit matriks ekstrasel, akibat pemicuan patomekanisme multifaktor yang bersifat kronik progresif, fokal atau difus, bermanifestasi akut maupun kronis, serta menimbulkan penebalan dan kekakuan arteri.Aterosklerosis disebabkan faktor genetik serta intensitas dan lama paparan faktor lingkungan (hemodinamik, metabolik, kimiawi eksogen, infeksi virus dan bakteri, faktor imunitas dan faktor mekanis), dan atau interaksi berbagai faktor tersebut (Hanafi, 1997).

BAB II ISI 1. DEFINISI Atheroskerosis ditandai dengan adanya endapan lemak yang berkumpul didalam sel yang melapisis dinding suatu arteri koroner dan menyumbat aliran darah(Kumar, 2007). Endapan lemak (atheroma) terbentuk secara bertahap dan tersebar di percabangan besar dari kedua arteri koroner utama, yang mengelilingi jantung dan menyediakan darah bagi jantung. Proses pembentukan atheroma ini disebut juga sebagai atheroskerosis. (Kumar, 2007).

(Gambar 1: Potongan dinding arteri)

(Gambar 2: Potongan melintang arteri) 2. ETIOLOGI Kelainan yang mendasar pada atherosklerosis adalah deposisi lemak kompleks pada tunika intima. Berbagai faktor resiko utama antara lain: a) Hipertensi Hipertensi merupakan faktor resiko terpenting pada orang yang berusia lebih dari 45 tahun. Penyakit jantung iskemik lima kali lebih sering terjadi pada individu yang memiliki tekanan darah > 160/95 mmHg daripada individu yang normotensi(tekanan darah 140/90 mmHg). Resiko berkurang jika tekanan darah terkontrol dengan obat(Chandrasoma, 2005). b) Merokok Orang yang merokok lebih dari 10 batang sehari meningkatkan resiko tiga kali lipat. Resiko menurun kembali hingga keadaan normalnsetelah 1 tahun berhenti merokok. Hubungan meroko dengan atherosklerosis dianggap berkaitan dengan adanya berbagai faktor, misalnya karbonmonoksida yang dapat menyebabkan cedera sel endotel(Chandrasoma, 2005). c) Diabetes melitus Semua pasien diabetes melitus yang telah menderita penyakit ini selama lebih dari 10 tahun cenderung menderita atherosklerosis signifikan. Sebagian resiko pada diabetes disebabkan oleh berbagai faktor resiko lain yang menyertai, sperti

obesitas, hipertensi dan hiperlipidemia. Selain itu nyang dapat meningkatkan faktor resiko antara lain : 1) Peningkatan glikosilasi kolagen dengan meningkatkan ikatan LDL pada kolagen didalam lesi ateromatosa 2) HDL yang terglokosilasi lebih mudah dihancurkan daripada HDL normal. Kedua mekanisme diatas bergantung pada glikosilasi, yang bergantung pada peningkatan glukosa darah(Chandrasoma, 2005). d) Hiperlipidemia Adanya hiperlipidemia merupakan faktor resiko terkuat pada atherosklerosis pada pasien dibawah usia 45 tahun. Hiperlipidemia primer maupun sekunder meningkatkan resiko atherosklerosis. Lipoprotein yang berkaitan dengan metabolisme lipid endogen, misalnya lipoprotein densitas rendah(LDL) dan lipoprotein densitas sedang (IDL) merupakan faktor rsiko yang lebih tinggi daripada 3. EPIDEMIOLOGI Atheroskelosis merupakan penybab utama pada penyakit jantung iskemik dan penyakit serebrovascular serta penyebab utama pada kematian disebagian besar negara maju. Angka kematian akinat penyakit arteri koroner dan serebro atherosklerotik pada tahu 1986 menurun lebih dari 50 % dibandingkan tahun 1968, hal ini berkaitan dengan perubahan diet dan kebiasaan latihan serta kontrol hipertensi yang lebih baik. Di Amerika Utara dan Eropa, beberapa derajat atheroskelosis hampir selalu terjadi pada aorta dan arteri otot setelah usia 30 tahun(Chandrasoma, 2005). 4. GAMBARAN HISTOPATOLOGI Aterosklerosis bermula ketika sel darah putih yang disebut monosit, pindah dari aliran darah ke dalam dinding arteri dan diubah menjadi sel-sel yang mengumpulkan bahanbahan lemak. Pada saatnya, monosit yang terisi lemak ini akan terkumpul, menyebabkan bercak penebalan di lapisan dalam arteri(Kumar, 2007). Setiap daerah penebalan (yang disebut plak aterosklerotik atau ateroma) yang terisi dengan bahan lembut seperti keju, mengandung sejumlah bahan lemak, terutama kolesterol, sel-sel otot polos dan sel-sel jaringan ikat(Kumar, 2007). kilomikron yang berkaitan dengan metabolisme lipid eksogen(Chandrasoma, 2005).

Arteri yang terkena aterosklerosis akan kehilangan kelenturannya dan karena ateroma terus tumbuh, maka arteri akan menyempit. Lama-lama ateroma mengumpulkan endapan kalsium, sehingga menjadi rapuh dan bisa pecah. Darah bisa masuk ke dalam ateroma yang pecah, sehingga ateroma menjadi lebih besar dan lebih mempersempit arteri(Kumar, 2007). Ateroma yang pecah juga bisa menumpahkan kandungan lemaknya dan memicu pembentukan bekuan darah (trombus). Selanjutnya bekuan ini akan mempersempit bahkan menyumbat arteri, atau bekuan akan terlepas dan mengalir bersama aliran darah dan menyebabkan sumbatan di tempat lain (emboli), (Kumar, 2007).

(Gambar 3: atherosklerosis pada lumen arteri koronaria) (Gambar 4: Atherosklerosis disertai makrofag dan terdapat fibrosis) 5. TANDA GEJALA Tanda dan gelaja arterosklerosis 1. Klaudikasio intermiten, suatu perassan nyeri dan dan kram terutama di ekstremitas bawah 2. Peka terhadap rasa dingin 3. Perubahan warna kulit 4. Dapat diraba penurunan denyut arteri di sebelah hilir dari llesi arterosklerotik (Corwin, 2007) 6. FAKTOR RESIKO Meskipun ilmuwan tidak mengetahui secara pasti penyebab terjadinya atherosclerosis, namun mereka mengetahui bahwa pada kondisi-kondisi tertentudapat meningkatkan resiko terjadinya atherosklerosis.Beberapa faktor resiko dari penyakit aterosklerosis, yaitu sebagai berikut : A. Faktor risiko biologis yang tak dapat diubah, yaitu: usia, jenis kelamin,ras, dan riwayat keluarga. Risiko aterosklerosis koroner meningkat denganbertambahnya usia; penyakit yang serius jarang terjadi sebelum usia 40 tahun.Tetapi hubungan antara usia dan timbulnya penyakit mungkin hanyamencerminkan lebih panjangnya lama paparan terhadap faktor- faktoraterogenik. Wanita agaknya relatif kebal terhadap penyakit ini sampaimenopause, dan kemudian

menjadi sama rentannya seperti pria; diduga olehadanya efek perlindungan estrogen. Orang Amerika-Afrika lebih rentanterhadap aterosklerosis daripada orang kulit putih. Riwayat keluarga yangpositif terhadap penyakit jantung koroner (saudara atau orang tua yangmenderita penyakit ini sebelum usia 50 tahun) meningkatkan kemungkinantimbulnya aterosklerosis prematur. Pentingnya pengaruh genetik danlingkungan masih belum diketahui. Komponen genetik dapat diduga padabeberapa bentuk aterosklerosis yang nyata, atau yang cepat perkembangannya,seperti pada gangguan lipid familial. Tetapi, riwayat keluarga dapat pulamencerminkan komponen lingkungan yang kuat, seperti misalnya gaya hidupyang menimbulkan stres atau obesitas(Sherwood, 2006). B. Hiperkolesterolemia Pada keadaan hiperkolesterolemi terdapat gangguan homeostasispembuluh darah yang disebabkan : a. Penurunan produksi NO akibat ganguan transduksi sinyal protein G1-2 b. Peningkatan produksi anion superoksida melalui protein kinase C yangmerusak NO. c. Peningkatan reaktivitas Endothelind. d. Peningkatan adhesi sel akibat peningkatan ekspresi NFKB melaluipeningkatan produksi anion superoksidae. e. Penurunan endothelium dependent vasodilatation. f. Peningkatan adhesi dari monosit bila disertai dengan diabetes mellitus (Ross,1999) C. Hipertrigliseridemia Masih merupakan perdebatan antara para ahli, apakah konsentrasitrigliserida plasma yang meningkat adalah faktor resiko terjadinya penyakitkardiovaskuler(Ross,1999) D. Diabetes melitus. Pada diabetes mellitus terjadi peningkatan aktivitas enzim aldosareduktase yang diperlukan untuk mengubah glukosa yang tinggi menjadi sorbitol. Peningkatan aktivitas aldosa reduktase menyebabkan peningkatan konversi NADPH yang tereduksi menjadi bentuk teroksidasi NADP.Pemakaian NADPH akan berakibat penurunan produksi NO dan anti oksidan.Penurunan anti oksidan akan menyebabkan radikal bebas yang harusnya didetoksifikasi oleh antioksidan berinteraksi dengan NO menjadi peroksinitrit (NOO) yang dapat merusak pembuluh darah. Ketidakseimbangan inilah yang disebut stres oksidatif. Kadar glukosa yang tinggi juga menyebabkan terjadinya reaksi glikosilasi dengan protein dan molekul lain yang mengandung gugus amin sehingga menghasilkan advance glycocylation endproduct (AGE). AGE akan berikatan dengan reseptor pada endotel makrofag.Ikatan dengan endotel akan meningkatkan ekspresi ICAM, vascular adhesionmolecule 1, dan E-selektin yang memudahkan terjadi adhesi monosit. Monosit yang menempel tersebut akan bermigrasi ke subendotel dan berikatan dengan LDL teroksidasi, sehingga membentuk foam cell yang akan berkembang menjadi fatty streak. Low Density Lipoprotein (LDL) teroksidasi akan mengaktivasi sellimfosit T yang berakibat menurunnya densitas dan fungsi otot polos,sehingga sintesa matriks menurun. Juga akan mengaktivasi makrofag untuk mengeluarkan enzim proteolitik seperti matriks metalloproteinase, sehinggamenyebabkan peningkatan degradasi matriks. Peningkatan

degradasi matriksdan penurunan sintesis matriks tersebut akan memudahkan ruptur plak(Soegondo, 1999). E. Hipertensi Bila tekanan darah lebih dari 140/90 mmHg. Berpengaruh buruk padapria dan wanita dengan komponen diastol sebagai faktor terpenting. Pengaruhhipertensi pada perkembangan aterosklerosis masih belum jelas, mungkin saatterjadi kerusakan pada endotel memungkinkan masuknya protein, lipoprotein,dan sel lain ke lapisan intima. Hipertensi menambah tekanan hidrodinamik intra arteri sehingga suatu saat dapat terjadi robekan pada plaqueaterosklerosis, lalu berakibat trombosis akut dan obstruksi arteri. Pada keadaan hipertensi terdapat disfungsi endotel akibat : a. Peningkatan kadar anion superoksida (O2-) yang akan menyebabkan stressoksidatif dan dapat merusak NO. b. Penurunan bioavailabilitas prekursor sintetis NO (L arginin). c. Peningkatan angiotensi II menyebabkan peningkatan kadar O2- melalui peningkatan NADH / NADPH membran serta menyebabkan pertumbuhan sel otot polos vaskuler dengan menginduksi growth factor seperti PDGF,bFGF, dan TGT B1. d. Peningkatan endothelin-1 akibat peningkatan AII(Soegondo.1999) F. Hiperhomosisteinemia Pasien penyakit ini beresiko mendapat penyakit oklusi vaskuler. Mekanisme : merusak sel endotel dan otot polos sehingga menunjangaterosklerosis. Kelainan ini Juga membantu kelainan koagulasi platelet(Setianto, 2001). G. Obesitas Penelitian ziccardia P20 membuktikan bahwa wanita dengan obesitas ditemukan adanya disfungsi endotel yang dihubungkan dengan peningkatanlemak tubuh, khususnya lemak viseral. Pada keadaan obesitas terjadi peningkatan mediator proinflamasi, seperti TNF-, IL-6, yang dapat meningkatkan ekspresi kemotaksis dan molekul adhesi pada endotel. Disamping itu juga ditemukan peningkatan vaskular adhesion molecule-1(VCAM1), ICAM-1 dan P-selektin. Peningkatan mediator tersebut memegang peran penting dalam terjadinya aterosklerosis. Penurunan beratbadan menunjukkan adanya perbaikan endotel yang bermakna dan berkolerasi dengan penurunan sitokin. Petanda inflamasi dalam darah seperti CRP dapat dipakai untuk menduga keadaan kesehatan, terutama kejadian yang berhubungan dengan penyakit kardiovaskuler. Belum merupakan faktor resiko yang spesifik, tetapi biasanya obesitasdisertai oleh hipertensi, DM, hiperkolesterolemi, dan hipertrigliseridemi.Meningkatnya berat badan berhubungan dengan meningkatnya LDL danmenurunnya HDL kolesterol, sehingga kenaikan berat badan sering dikaitkan dengan munculnya faktor resiko(Setianto, 2001). H. Merokok Merupakan faktor resiko untuk terjadinya aterosklerosis dan penyakit jantung koroner. Mekanisme terjadinya disfungsi endotel pada perokok melalui mekanisme peningkatan interaksi trombosit dengan dinding pembuluhdarah, penurunan ekspresi PGI2,

peningkatan kadar kolesterol LDLteroksidasi, penurunan konsentrasi HDL, dan terjadinya stres oksidatif. Selainitu merokok juga menyebabkan peningkatan adhesi dan agregasi trombosit,meningkatkan kadar fibrogen, spasme arteri, dan menurunkan kapasitasoksigen darah. Banyak merokok maka kerusakan bertambah besar. Kematian karena penyakit kardiovaskular pada perokok berat 70 % lebih tinggi daripada non-perokok. Merokok berhubungan dengan penyakit serebrovaskular dan insidens lebih tinggi pada penyakit vaskular perifer. Bila merokok dihentikan pada umur < 65 tahun, maka resiko akan menurun drastis. Faktor resiko perokok pasif adalah dua kali lipat pada istri dengan suami perokok daripada istri dengan suami non-perokok. Mekanisme terjadi kelainan kardiovaskular pada perokok akibat vasokonstriksi, agregasi platelet meningkat, dan hipoksemivaskular yang tidak permanen(Ross, 1999). I. Kelakuan dan kepribadian Bahwa stress berlebihan berakibat aterosklerosis yang diawali denganterjadinya disfungsi endotel, namun belum dibuktikan. Yang sedang dikajibagaimana reaksi pasien terhadap stress, bahwa dengan marah berlebihan akanmeningkatkan tekanan darah dan denyut jantung(Soegondo, 1999). J. Aktifitas Jasmani Aktifitas jasmani yang teratur memberi potensi untuk mengurangi aterogenesis, seperti meningkatnya konsentrasi HDL kolesterol dan menurunnya tekanan darah. Tidak melakukan aktifitas jasmani adalah faktor resiko aterosklerosis, namun olahraga berlebihan tidak untuk mengatasi penyakit ini(Setianto, 2001). K. Homosisteinuria Adalah penyakit yang jarang dan diturunkan secara autosom resesif,serta menyebabkan penurunan aktivitas enzim cystathionine B sintetase .peningkatan kadar homosistein penderita ini mempunyai resiko aterosklerosis.Hal ini disebabkan karena pembentukan radikal bebas selama prosesautooksidasi homosistein(Setianto, 2001). L. Shear Stress ( Tekanan Gesek ) Penelitian membuktikan bahwa shear stress (tekanan gesek) memegang peranan penting dalam mengatur fenotif endotel pada cabang arteri. Shearstress yang melebihi 15 dyne/cm menyebabkan penurunan ekspresivasokonstriktor, growth factor, mediator inflamasi, molekul adhesi danoksidan serta peningkatan produksi faktor vasodilator, inhibitor pertumbuhan,fibrinolitik, faktor antitrombosit, antioksidan. Sedangkan Shear stress yang rendah (0-4 dyne/cm) dapat meningkatkan ekspresi molekul adhesi, vasokonstriktor, prokoagulan, protrombotik, prooksidan, substansi proliferatif yang akan menyebabkan aterosklerosis.(Setiaanto, 2001). M. Penuaan Bertambahnya usia oksidatif(Soegondo,1999). N. Perubahan hormonal selalu berhubungan dengan peningkatan stress

Insiden PJK meningkat pada wanita setelah melewati dekade ke-6,sedangkan sebelum dekade tersebut insidensnya separuh pada pria. Beberapapenelitian membuktikan bahwa hormon estrogen bersifat kardioprotektif terhadap wanita. Penelitian lain menunjukkan bahwa terapi estrogen dapat meningkatkan ekspresi NO dan PGI pada wanita pasca menopause. Sudahterbukti bahwa estrogen mempunyai sifat antioksidan. Pada wanitapascamenopause terjadi penurunan kolesterol HDL, peningkatan kolesterolLDL, peningkatan fibrinogen & penurunan antitrombin(Soegondo, 1999). O. Infeksi Infeksi berperan pada patogenesis aterosklerosis dan infark miokard.Infeksi yang terjadi pada patogenesis PJK yaitu infeksi kronik herpes simplexvirus (HSV-I), chlamydia pneumonia (Cpn). Hal itu dapat dilihat dengan adanya peningkatan C-reactive protein(CRP) (Soegondo, 1999). 7. PATOGENESIS ATHEROSCLEROSIS Patogenesis atherosklerosis merupakan suatu proses interaksi yang kompleks, dan hingga saat ini masih belum di mengerti sepenuhnya. Interaksi dan respons komponen dinding pembuluh darah dengan pengaruh unik berbagai stresor (beberapa di ketahui sebagai faktor resiko) yang terutama di pertimbangkan. Teori patogenesis yang mencakup konsep ini adalah hipotesis respon terhadap cedera, dengan beberapa bentuk cedera tunika intima yang mengawali inflamasi kronis dinding arteri dan menyebabkan timbulnya atheroma. Atherogenesis merupakan suatu proses pembentukan plak ateroma yang selanjutnya menyebabkan atherosklerosis. Atherosklerosis melibatkan proses penumpukan kolesterol yang akan menjadi plak dan remodelling arteri yang kedua-duanya berjalan pada saat yang bersamaan. Selain kedua proses ini, terdapat satu teori baru yang mengatakan bahwa leukosit seperti monosit dan basofil, akan menyerang dan merusak endotel arteri oleh sebab-sebab yang tidak diketahui. Reaksi inflamasi (Price, 2005). Langkah pertama atherogenesis melibatkan pembentukan fatty streak yang merupakan pengendapan kolesterol-kolesterol yang telah dioksidasi dan makrofag di bawah endothelium arteri. Low Density Lipoprotein (LDL) dalam darah akan menyerang endotel dan dioksidasi oleh radikal-radikal bebas pada permukaan endotel. Reaksi inflamasi yang disebabkan oleh kerusakan endotel ini akan mengeluarkan sinyal-sinyal yang disebabkan oleh penyerangan ini akan menyebabkan pembentukan plak atheroma di tunika intima arteri.

yang akan menarik monosit memasuki dinding arteri dari darah. Proses ini disertai juga oleh pelekatan platelet ke bagian pembuluh darah yang cedera ini. Monosit-monosit yang telah memasuki dinding arteri ini akan berubah menjadi makrofag dan menyerang LDL yang telah dioksidasi. Saat makrofag mengkonsumsi kolesterol LDL muncul busa pada sel dan menjadi apa yang disebut foam cell yang nanti oleh vesikel-vesikel dijadikan dalam bentuk sitoplasma makrofag. (Price, 2005). Foam cell ini akhirnya akan mati dan makin memperparah proses inflamasi pada dinding arteri. Selain itu, juga terdapat penambahan otot polos yang akan bergerak dari tunika media ke tunika intima apabila dirangsang oleh sitokin yang dilepaskan oleh sel endotel yang rusak. Proses ini akan menyebabkan pembentukan kapsul yang terdiri daripada jaringan fibrous dan kapsul ini akan menutup celah berlemak pada dinding arteri. (Price, 2005) Langkah selanjutnya akan menyebabkan kalsifikasi pada otot polos pembuluh darah terutama otot-otot di sebelah plak atheroma. Kematian sel-sel pembuluh darah juga akan menyebabkan kalsium yang berada di luar sel bergerak ke dalam otot-otot polos ini dan mengendap. Selain itu, LDL juga akan membawa kolesterol-kolesterol ke dalam dinding saluran darah. Kolesterol-kolesterol ini akan dilepaskan dan dioksidasi untuk menarik makrofag ke bagian pembuluh darah. (Price, 2005). Keadaan ini akan menjadi lebih parah jika tubuh hanya mempunyai HDL yang sedikit untuk membawa kolesterol di sel kembali ke hati. Foam cell dan platelet akan memicu proliferasi dan migrasi otot polos ke tunika intima. Otot-otot polos ini akan mengkonsumsi lipid dan menjadi foam cell. Setelah itu,mereka akan diganti oleh kolagen. Satu fibrous cap akan terbentuk di tengah endapan lemak dan tunika intima. Atheroma ini akan menghasilkan enzim yang akan menyebabkan pembesaran arteri. Pembesaran lumen arteri ini akan menurunkan frekuensi penyempitan saluran darah tetapi apabila pembesaran lumen ini melebihi batas ketebalan dinding arteri, ia akan menyebabkan aneurisma. (Price, 2005).

8. PATOFISIOLOGI

(Corwin, 2007) 9. KOMPLIKASI Adanya penyempitan diameter pembuluh darah akibat penumpukan jaringan fibrous (plaque) yang makin lama makin besar. Penyempitan dapat mencapai hingga nilai 50-70% dari diameter pembuluh awal. Hal ini berakibat terganggunya sirkulasi darah kepada organ yang membutuhkan sehingga kebutuhan oksigen dan nutrisi sel terganggu. Contoh penyakit yang berhubungan dengan masalah ini adalah angina pectoris, mesenterik angina, dan lainsebagainya (Sherwood, 2006) Plaque yang telah terbentuk dapat pecah dan mengalir mengikuti pembuluh darah menjadi trombus dan emboli. Trombus ini dapat menyumbat arteri-arteri tubuh yang penting. Jika menyumbat arteri koroner maka dapat mengakibatkan otot jantung mengalami iskemia (kekurangan nutrisi) dan selanjutnya dapat memicu terjadinya infark myocard dan stroke. Emboli ini dapat juga terjadi secara tanpa sengaja pada peristiwa pembedahan aorta, angiograf, dan terapi trombolitik pada pasien aterosklerosis.

Penyakit Jantung Koroner pada mulanya disebabkan oleh penumpukan lemak pada dinding dalam pembuluh darah jantung (pembuluh koroner), dan hal ini lama kelamaan diikuti oleh berbagai proses seperti penimbunan jaringan ikat, perkapuran, pembekuan darah, dll,yang kesemuanya akan mempersempit atau menyumbat pembuluh darah tersebut. Hal ini akan mengakibatkan otot jantung di daerah tersebut mengalami kekurangan aliran darah dan dapat menimbulkan berbagai akibat yang cukup serius, dari Angina Pectoris (nyeri dada) sampai InfarkJantung, yang dalam masyarakat di kenal dengan serangan jantung yang dapat menyebabkan kematian mendadak. Penyakit pada arteri koroner ditandai dengan adanya bunyi jantung keempat yang semakin jelas, takikardi,hipotensi, atau hipertensi. Angina pectoris ditunjukkan dengan perasaan tidak nyaman pada daerah retrosternal dan menyebar ke daerah lengan kanan yang kadang-kadangdisalah artikan sebagai gejala dyspnea. Angina pectoris timbul setelahmelakukan kerja berat dan diobati dengan beristirahat atau terapi nitrat.Jika angina pectoris berlanjut dan terjadi berulang-ulang dapat berlanjutkepada infark myocard (serangan jantung). Stroke merupakan kelanjutan dari adanya sumbatan pada pembuluh darahotak. Akibatnya sel-sel otak mengalami iskemia dan mangalami gangguandalam hal fungsinya. Penyakit vaskuler perifer meliputi perasaan pegal, impotensi, luka yang tak kunjung sembuh dan infeksi pada daerah ekstremitas. Perasaan pegal ini meningkat setelah berolahraga dan sembuh ketika beristirahat. Perasaan ini dapat diikuti dengan kulit kepucatan atau kesemutan. Penyakit vaskuler perifer ditandai dengan penurunan denyut nadi perifer, sumbatan pada arteri perifer, sianosis perifer, gangrene, atau luka yang sukar sembuh. Iskemia pada organ-organ visceral berakibat pada kerusakan susunan dan fungsi dari organ yang terkena. Mesenterik angina ditandai dengan sakit pada epigastrium atau periumbilikal setelah makan dan dianalogkan dengan hematemesis, diare, defisiensi nutrisi, atau berkurangnya berat badan. Aneurisme pada aorta abdominalis dimana aorta abdominalis mengalami kerusakan sehingga membesar menimbulkan sebuah benjolan pada dinding luar aorta abdominalis atau kolapsnya nvasi sirkulasi. Emboli arteri sering timbul bersamaan dengan nekrosis pada jari-jari, pendarahan saluran pencernaan, infark myocard, iskemia pada retina, infark serebral, dan gagal

ginjal. Emboli pada arteri ditandai dengan gangrene, sianosis, munculnya pedal pulses yang dikaitkan adanya penyakit makrovaskular dan emboli kolesterol Penyakit serebrovaskuler ditandai dengan tidak terabanya denyut nadi pada arteri karotis dan kemunduran dari fungsi otak(Sherwood,2006). 10. TERAPI A. Terapi lama Setelah seseorang dipastikan menderita aterosklerosis maka dapat diberikan obatobatan untuk menurunkan kadar lemak dan kolesterol dalam darah (contohnya kolestiramin, kolestipol, asam nikotinat, gemfibrozil, probukol, lovastatin). Selain itu, aspirin, ticlopidine dan atau anti-koagulan nva diberikan untuk mengurangi resiko terbentuknya bekuan darah. B. Terapi baru
Pada penderita aterosklerosis tentunya tidak sedikit biaya yang di keluarkan untuk pengobatannya. Kebanyakan penderita menghentikan pengobatan akibat mahalnya biaya pengobatan. Untuk itu, sudah saatnya dipikirkan oleh dunia farmasi, bahwa obat yang baik tidaklah harus obat yang mahal. Tentunya harus memenuhi mutu dan standard yang diakui oleh BPOM (Badan Pengawas Obat dan Makanan). Produk tersebut adalah clopidogrel. Clopidogrel adalah obat yang sangat dibutuhkan oleh penderita penyakit jantung, stroke, serta penyempitan pembuluh darah perifer. Pada penderita tersebut terjadi gangguan sirkulasi darah, dimana semakin diperburuk oleh nvasive yang dibentuk terus menerus. Untuk itu pembentukan nvasive harus dicegah dengan cara menghambat agregasi platelet. (Kalim, 2008) Clopidogrel bekerja menghambat ikatan antara ADP dengan reseptornya, sehingga menghambat terjadinya agregasi platelet. Pemberian Clopidogrel diperlukan dalam jangka waktu yang lama. Untuk kasus infark miokard, pemberian Clopidogrel dianjurkan selama 1 tahun, juga untuk kasus stroke selama 3 bulan. Clopidogrel merupakan obat dalam bentuk tablet 75 mg. (Kalim, 2008)

Angioplasti balon dilakukan untuk meratakan plak dan meningkatkan aliran darah yang melalui endapan lemak. Enarterektomi merupakan suatu pembedahan untuk mengangkat endapan. (Syaifuddin, 2006) Pembedahan bypass merupakan prosedur yang sangat nvasive, dimana arteri atau vena yang normal dari penderita digunakan untuk membuat jembatan guna menghindari arteri yang tersumbat. (Syaifuddin, 2006)

11. PROGNOSIS Seperti yang disebutkan sebelumnya, sekitar 1.5 juta orang Amerika per tahun memiliki AMI, dengan sepertiga dari peristiwa ini membuktikan berakibat fatal. Yang selamat dari memiliki prognosis buruk, membawa 1.5- dengan 15-kali lipat lebih tinggi risiko mortalitasdan morbiditas dari sisa populasi. Historis, misalnya, 25% laki-laki dan 38% perempuanmeninggal dalam waktu 1 tahun setelah MI, meskipun angka ini mungkin melebih-lebihkanangka kematian 1 tahun hari ini, diberikan kemajuan dalam pengobatan CHF dan kematian jantung mendadak. Di antara korban, 18% laki-laki dan 34% perempuan memiliki MI keduadalam 6 tahun, 7% laki-laki dan 6% perempuan meninggal tiba-tiba, 22% laki-laki dan 46% perempuan dinonaktifkan dengan CHF, dan 8% lakilaki dan 11% perempuan mengalamistroke.Prognosis pada pasien dengan aterosklerosis tergantung pada faktor-faktor berikut: Kehadiran iskemia diinduksi Fungsi ventrikel kiri Keberadaan aritmia Revaskularisasi potensial (vs lengkap tidak lengkap) Agresivitas perubahan risiko Kepatuhan dengan terapi medis Prognosis aterosklerosis juga tergantung pada beban penyakit sistemik, tempat tidur nvasive(dengan) terlibat, dan tingkat pembatasan aliran. Variabilitas luas dicatat,dan dokter menghargai bahwa banyak pasien dengan keterbatasan penting aliran ke organ vital dapat bertahan hidup bertahun-tahun, meskipun beban berat penyakit.Sebaliknya, MI ataukematian jantung mendadak mungkin manifestasi klinis pertama penyakit kardiovaskular aterosklerotik pada pasien yang dinyatakan asimtomatik dengan stenosis lumen minimal danringan beban penyakit.Banyak dari keragaman fenotipik yang mungkin ditentukan oleh stabilitas nvasive dari beban plak pembuluh darah. Plak pecah dan paparan dari inti lipid thrombogenic adalah kejadian penting dalam ekspresi dari proses penyakit dan menentukan prognosis.Kemampuan untuk menentukan dan mengukur risiko dan prognosis pada pasien dengan aterosklerosis dibatasioleh ketidakmampuan untuk secara obyektif mengukur stabilitas plak dan nvasive lain dari peristiwa klinis(Perticone, 2001 ).

BAB III KESIMPULAN

1. Atherosclerosis adalah lemak yang berkumpul didalam sel yang melapisis dinding suatu arteri koroner dan menyumbat aliran darah. 2. Etiologi atherosclerosis yaitu hipertensi, Diabetes melitus, merokok, dan hiperlipidemia 3. Tanda gejala atherosclerosis adalah Klaudikasio intermiten, Peka terhadap rasa dingin, Perubahan warna kulit, Dapat diraba penurunan denyut arteri di sebelah hilir dari llesi arterosklerotik 4. Faktor resiko atherosclerosis adalah Faktor risiko biologis, Hiperkolesterolemia, Hipertrigliseridemia,Diabetes mellitus, Hipertensi, Hiperhomosisteinemia, Obesitas, Merokok, Kelakuan dan kepribadian,Aktifitas Jasmani, Homosisteinuria,Shear Stress ( Tekanan Gesek ),Penuaan,dan Perubahan hormonal,Infeksi 5. Atherosclerosis memiliki prognosis yang berbeda0beda sesuai dengan faktor-faktor tertentu.

DAFTAR PUSTAKA

Sherwood L .Fisiologi Manusia.Edisi 2. Jakarta: EGC, 2006; 288-4. Ross R. 1999.Atherosclerosis and inflammatory disease. New Engl JMed;340:115-26. Soegondo S.1999.Mekanisme komplikasi diabetes mellitus ; aspek ilmu-ilmudasar pada keadaan klinik.Dalam : Sudoyo AW, Setiati S. Alwi I, dkk, editor. Naskah Lengkap Penyakit Dalam PIT 99 ;87-101. Setianto B. 2001.Sindrom koroner akut: patofisiologi. Dalam: Kaligis RWM,Kalim H, Yusak M, dkk, editor. Diagnosis dan tatalaksana hipertensi, sindrom koroner akut dan gagal ginjal, Jakarta: Edisi I;:59-66 Perticone F. Ceravelo R, Fujiya A, Ventura G, Iacopino S, Seozzafava A, etal. 2001.Prognostik significant of endothelial dysfunction in hipertensive patient.Circulation ; 1104; 191-6 Guyton dan Hall. 1997. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran. Jakarta: EGC Hanafi, Muin Rahman, Harun. 1997. Ilmu Penyakit Dalam jilid I. Jakarta: FKUI Price, Sylvia. A; Wilson, Lorraine. M. 2005. Patofisiologi : Konsep Klinis Proses Proses Penyakit. Jakarta: EGC. Vinay Kumar, Ramzi S. Cotran, Stanley L. Robbins. 2007. Buku Ajar Patologi Robbin volume 2. Jakarta: EGC Chandr Kalim, H. 2008. The New Paradigma of Antiplatelet Aggregation Therapy:How Long Can You Go. Jakarta
Syaifuddin. 2006. Anatomi Fisiologi untuk Mahasiswa Keperawatan, Edisi 3. Jakarta: EGC.

asoma, Parakrama. 2005. Ringkasan Patologi Anatomi. Jakarta : EGC