Anda di halaman 1dari 23

BUDIDAYA UDANG VANNAMEI (litopenaeus vannamei) POLA TRADISIONAL PLUS

PENDAHULUAN UDANG VANNAMEI (litopenaeus vannamei) merupakan salah satu jenis udang introduksi yang akhir-akhir ini banyak diminati, karena memiliki keunggulan seperti tahan penyakit, pertumbuhannya cepat (masa pemeliharaan 100-110 hari), sintasan selama pemeliharaan tinggi dan nilai konversi pakan (FCR-nya) rendah (1:1,3). Namun dimikian pembudidaya udang yang modalnya terbatas masih menggangap bahwa udang vannamei hanya dapat dibudidayakan secara intensif. Anggapan tersebut ternyata tidalah sepenuhnya benar, karena hasil kajian menunjukan bahwa vannamei juga dapat diproduksi dengan pola tradisional. Bahkan dengan pola tradisional petambak dapat menghasilkan ukuran panen yang lebih besar sehingga harga per kilo gramnya menjadi lebih mahal.Teknologi yang tersedia saat ini masih untuk pola intensif dan semiintensif, pada hal luas areal pertambakan di indonesia yang mencapai sekitar 360.000 ha, 80% digarap oleh petambak yang kurang mampu. Informasi teknologi pola tradisional plus untuk budi daya udang vannamei sampai saat ini masih sangat terbatas. Diharapkan dengan adanya brosur ini dapat menambah wawasan pengguna dalam mengembangkanbudi daya udang vannamei pola tradisional plus.

PERSIAPAN TAMBAK 1.Pengeringan/pengolahan tanah dasar Air dalam tambak dibuang, ikan-ikan liar diberantas dengan saponin, genangaan air yang masih tersisa dibeberapa tempat harus di pompa keluar. Selanjutnya yambak dikeringkan sampai retak-retak kalau perlu di balik dangan cara ditraktor sehingga HS menghilang karena teroksidasi. Pengeringan secara sempurna juga dapat membunuh bakteri patogen yang yang ada di pelataran tambak. 2.Pemberantasan hama Pemberantasan ikan-ikan dengan sapion 15-20ppm (7,5-10kg/ha) dengan tinggi air tembak 5cm 3.Pengapungan dan pemupukan Untuk menunjang berbaikan kualitas tanah dan air dilakukan pemberian kapur bakar (CaO), 1000 kg/ha, dan kapur pertanian sebanyak 320 kg/ha. selanjutnya masukkan air ketambak sehingga tambak menjadi macak-macak kemudian dilakukan pemupukan dengan pupuk urea (150 kg/ha), pupuk kandang (2000 kg/ha). 4.Pengisian air Pengisian air dilakukan setelah seluruh persiapan dasar tambak telah rampung dan air dimasukkan ke dalam tambak secara bertahap. Ketinggian air tersebut dibiarkan dalam tambak selama 2-3 minggu sampai kondisi air betul-betul siap ditebari benih udang. tinggi air di petak pembesaran diupayakan 1,0m.

PENEBARAN Penebaran benur udang vannamei dilakukan setelah plangton tumbuh baik (7-10 hari) sesudah penumpukan. Benur vanname yang digunakan adalah PL 10 - PL 12 berat awal 0,001g/ekor diperoleh dari hatchery yang telah mendapatkan rekomendasi bebas patogen, Spesific Pathogen Free (SPF). Kreteria benur vannamei yang baik adalah mencapai ukuran PL - 10 atau organ insangnya telah sempurna, seragam atau rata, tubuh benih dan usus terlihat jelas, berenang melawan arus. Sebelum benuh di tebar terlebih dahulu dilakukan aklimatisasi terhadap suhu dengan cara mengapungkan kantong yang berisi benuh ditambak dan menyiram dengan perlahan-lahan. Sedangkan aklimatisasi terhadap salinitas dilakukan dengan membuka kantong dan diberi sedikit demi sedikit air tambak selama 15-20 menit. Selanjutnya kantong benur dimiringkan dan perlahan-lahan benur vannamei akan keluar dengan sendirinya. Penebaran benur vannamei dilakukan pada saat siang hari. Padat penebaran untuk pola tradisional tanpa pakan tambahan dan hanya mengandalkan pupuk susulan 10% dari pupuk awal adalah 1-7 ekor/m. Sedangkan apabila menggunakan pakan tambahan pada bulan ke dua pemeliharaan, maka disarankan dengan padat tebar 8-10 ekor/m.

PEMELIHARAAN Selama pemeliharaan, dilakukan monitoring kualitas air meliputi : suhu, salinitas, transparasi, pH dan kedalaman air dan oksigen setiap hari. Selain itu, juga dilakukan pemberian pemupukan urea dan TPS susulan setiap 1 minggu sebanyak 5-10% dari pupuk awal. (urea 150kg/ha) dan hasil fermentasi probiotik yang diberikan seminggu sekali guna menjaga kestabilan plangton dalam tambak. Pengapuran susulan dengan dolomit super dilakukan apabila pH berfluktuasi. Pakan diberikan pada hari ke-70 dimana pada saat itu dukungan pakan alami (plangton) sudah berkurang atau pertumbuhan udang mulai lambat. Dosis pakan yang di berikan 5-2% dari biomassa udang dengan frekuensi pemberian 3kali /hari yakni 30% pada jam 7.00 dan 16.00 serta 40% pada jam 22.00.Pergantian air yang pertama kali dilakukan setelah udang berumur >60 hari dengan volume pergantian 10% dari volume total, sedangkan pada bukan berikutnya hingga panen, volume pergantian air ditingkatkan mencapai 15-20% pada setiap periode pasang. Sebelum umur pemeliharaan mencapai 60 hari hanya dilakukan penambahan air sebanyak yang hilang akibat penguapan atau rembesan. Kualitas air yang layak untuk pembesaran vannamei adalah salinitas optimal 10-25 ppt (toleransi 50 ppt), suhu 28-31C, oksigen >4ppm, amoniak <0,1ppm, pH 7,5-8,2 dan HS <0,003ppm

PANEN Panen harus mempertimbangkan aspek harga, pertumbuhan dan kesehatan udang. Panen dilakukan setelah umur pemeliharaan 100-110 hari. Perlakukan sebelum panen adalah pemberian kapur dolomit sebanyak 80 kg/ha (tinggi air tambak 1m), dan mempertahankan ketinggian air (tidak ada pergantian air) selama 2-4 hari yang bertujuan agar udang tidak mengalami molting (ganti kulit) pada saat panen. Selain itu disiapkan peralatan panen berupa keranjang panen, jaring yang dipasang di puntu air, jala lempar, stiroform, ember, baskom,

dan lampu penerangan dilakukan dengan menurunkan volume air secara gravitasi dan di bantu pengeringan dengan pompa. Bersamaan dengan aktifitas tersebut juga dilakukan penangkapan udang dengan jala. Sebaiknya panen dilakukan pada malam hari yang bertujuan untuk mengurangi resiko kerusakan mutu udang, karena udang hasil panen sangat peka terhadap sinar matahari. Udang hasil tangkapan juga harus di cuci kemudian direndam es, selanjutnya dibawa ke cold storage. Dengan pola tradisional plus produksi udang vannamei 835-1050 kg/ha/musim tanam dengan sintasan 60-96%, ukuran panen antara 55-65 ekor/kg

tebel 3. Analisis ekonomi usaha budi daya udang vannamei pola tradisional plus dilahan tambak 1ha, padat penebaran 80000 ekor/ha, dan lama pemeliharaan 105 hari NO A Investasi Pompa air (unit) Sewa tambak (ha/tahun) Sub total B Biaya Operasional Benur udang vannamei (ekor) Pakan (kg) Pupuk organik (kg) Pupuk anorganik (kg) Dolomit (kg) Saponin (kg) Solar (L) Pemeliharaan tambak (paket) Pemeliharaan peralatan (paket) Lain-lain (paket) Bunga modal (Rp 11 juta+Rp 7 juta/musim) Sub total C Penyesutan investigasi 80.000 450 6.000 250 1.00 200 1 1 1 1 40 8.000 110 2.960 500 2.000 4.500 600.000 400.000 200.000 3.200.000 3.600.000 660.000 740.000 500.000 200.000 900.000 600.000 400.000 200.000 1.350.000 12.350.000 1 4.500.000 1 2.500.000 4.500.000 2.500.000 7.000.000 Uraian Jumlah Harga (Rp) Total (Rp)

- 1.350.000

Pompa (6 musim) Sewa tambak/musim Sub total D Biaya total/musim Penjaulan udang (kg/musim) Upah penjaga (20%) Keuntungan Keuntungan/Ha/musim

750.000 1.250.000

750.000 1.250.000 2.000.000

1 14.350.000 14.350.000 835 29.500 24.632.500 2.057.000 8.225.500

1 2.057.000 1 8.288.000

]]> 2012-03-14 10:19:56 http://www.kkp.go.id/index.php/arsip/c/7520/BUDI-DAYA-IKANNILA-MERAH-DALAM-KERAMBA-JARING-APUNG-DILAUT/?category_id=107http://www.kkp.go.id/index.php/arsip/c/7520/BUDI-DAYA-IKANNILA-MERAH-DALAM-KERAMBA-JARING-APUNG-DILAUT/?category_id=107 BUDI DAYA IKAN NILA MERAH DALAM KERAMBA JARING APUNG DI LAUT

Ikan nila merah mampu hidup pada perairan tawar,payau dan laut. selama ini produksi ikan nila merah sebagian besar masih diproduksi dari hasil budidaya air tawar. Karena mampu beradaptasi pada kondisi perairan dengan rentang salinitas yang lebar maka ikan nila merah berpotensi untuk dibudidayakan di laut dengan sistem KJA. Ikan nila merah mempunyai keunggulan antara lain: (1) ikan nila merah respons terhadap pakan buatan (2) pertumbuhan cepat (3) dapat hidup dalam kondisi kepadatan tinggi (4) nilai perbandingan antara konsumsi pakan dan daging yang dihasilkan lebih rendah (5) tahan terhadap penyakit dan lingkungan perairan yang tidak memadai (6) rasanya enak dan banyak digemari masyarakat. PERSYARATAN LOKASI Beberapa aspek yang perlu dipertimbangkan dalam pemilihan lokasi budi daya diantaranyafisika, kimia dan biologi perairan. Ketersediaan bahan untuk rakit dan keramba, kemudahan mendapatkan benih dan pakan, daya serap pasar serta keamanan juga mesti diprhatikan. Teluk yang terlindung dari ombak dan badai memiliki pola penggantian massa
4

air yang lancar dan bebas pencemaran baik dari limbah industri maupun limbah rumah tangga. Beberapa kriteria peubah lingkungan untuk budi daya ikan nila merah dalam KJA yaitu salinitas 0-33 ppt, (asal perubahan salinitas harian tidak lebih 10ppt) temperatur 25-32c, pH 6,5-8,5, oksigen terlarut 4-8 ppm, kecepatan arus 10-20 cm/dt, tinggi gelombang <1m, kecerahan >3m, dan kedalaman air 10-20 m. DISAIN DAN KONSTRUKSI WADAH 1.Rakit Sebagai tempat keramba dapat dibuat dari kayu, pipa besi anti karat atau bambu. 2.Pelampung -Berupa drum plastik volume 200 liter. -Satu unit KJA berukuran 5x5 m memerlukan 8-9 pelampung. 3.Pengikat -Pengikat rakit bambu8 sebaiknya digunakan kawat yang berdiameter 4-5 mm. -Rakit yang terbuat dari kayu atau pipa besi sebaiknya disambung dengan sistem baut. -Untuk mengikat pelampung ke rakit, digunakan tali plastik yang berdiameter 5-6 mm. 4.Jangkar berfungsi untuk menjaga rakit tidak terbawa arus. 5.Keramba Keramba dibuat dari trawl yang bahannya dari polythene. ukuran mata jaring tergantung dari ukuran ikan yang akan di budidayaka. 6.Pemberat -Berfungsi sebagai penahan arus agar jaring tetap simetris. -Pada setiap sudut harus diberi pemberat dari batu timah atau semen cor (2-5 kg). PENGELOLAAN BUDI DAYA 1. Pengadaan dan Pengangkutan Benih a) Pengadaan Benih

Benih nila merah didatangkan dari balai benih dengan memesan benih nila merah yang unggul dengan ukuran yang seragam. Apabila ingin melakukan budidaya secara monoseks dipesan benih yang berjenis kelamin jantan. Ikan nila merah jantan lebih cepat tumbuh dan mempunyai ukuran lebih besar dari betina dengan waktu pemeliharaan yang sama. b) Pengangkutan Benih Apabila pengangkutan membutuhkan waktukurang dari 4 jam sebaiknya dilakukan dengan sistem terbuka. sedangkan apabila lebih dari 4 jam, pengangkutan dapat dilakukan dengan sistem tertutup menggunakan kantong plastik yang ditambahkan oksigen. 2. Penebaran Benih Penebaran benih dilakukan pada pagi atau sore hari. Sebelum penebaran harus diperhatikan kondisi kualitas air. Bila kualitas air air pengangkutan beda dengan kualitas air lokasi budidaya, maka perlu dilakukan adaptasi secara perlahan-lahan terutama terhadap salinitas dan suhu. padat tebar yang optimal untuk diaplikasikan adalah 500 ekor/m dengan berat awal benih 15-20 g/ekor dan waktu pemeliharaan 3 bulan untuk sistim budidaya tunggal kelamin (jantan saja). 3.Pemberian Pakan Ikan nila merah disamping bersifat herbivora juga bersifat omnivora sehingga dapat diberikan pakan buatan (pellet). pakan buatan yang diberikan adalah pellet dengan kandungan protein 26-28 sebanyak 3% per berat badan perhari dengan frekuensi pemberian pakan 3 kali sehari yaitu pagi, siang, dan malam. 4. Perawatan Wadah Ganti keramba setiap bulan Bersihkan keramba dengan menjemur terlebih dahulu untuk memudahkan pelepasan fouling Pembersihan dapat dilakukan dengan penyikatan atau penyemprotan dengan pompa bertekanan tinggi Polikultur dengan ikan beronang dapat mengendalikan lumut dan alga yg menempel pada jaring Pemberian beberapa ekor bintang laut dalam keramba dapat mengendalikan perkembangan populasi kekerangan PENYAKIT DAN PENCEGAHANNYA Untuk mengetahui jenis penyakit dan cara pencegahannya diperlukan diagnosa gejala penyakit. Gejala penyakit untuk ikan nila merah yang dibudidayakan dapat diamati dengan tanda-tanda sebagai berikut: a). Penyakit pada kulit dengan gejala pada bagian tertentu berwarna merah, berubah warna dan tubuh berlendir.
6

Gejala penyakit ini dikendalikan dengan: (1) merendam dalam larutan PK (Kalium Permanganat) selama 30-60 menit dengan dosis 2 g/10 liter air, pengobatan dilakukan berulang 3 hari kemudian. (2) Merendam dalam Negovon (Kalium Permanganat) selama 3 menit dengan dosis 2-3,5%. b.) Penyakit pada insang dengan gejala tutup insang bengkak, lembar insang pucat/keputihan, pengendalian sama dengan di atas. c.) Penyakit pada organ dalam dengan gejala perut ikan bengkak, sisik berdiri, ikan tidak gesit, pengendalian sama dengan di atas. Secara umum hal-hal yang dilakukan untuk dapat mencegah timbulnya penyakit pada budidaya ikan nila merah di KJA adalah: (1) hindari penebaran ikan secara berlebihan melebihi kapasitas, (2) pemberian pakan cukup, baik kualitas maupun kuantitasnya. (3) hindari penggunaan pakan yang sudah berjamur. PANEN Padat penebaran 500 ekor/m dan lama pemeliharaan 3 bulan, dapat dipanen ikan nila merah dengan produksi 85 kg/m dan sintasan 84%. Pemanenan ikan di KJA mudah dilakukan namun harus hati-hati untuk mencegah terjadinya luka akibat gesekan atau tusukan sirip ikan lainnya, yaitu dengan mengangkat dasar keramba perlahan-lahan. Salah satu sisi keramba harus tetap berada dalam air untuk memungkinkan ikan berkumpul. Seleksi ukuran dapat dilakukan terhadap ikan yang sudah terkumpul di sisi keramba dan ditangkap dengan menggunakan seser secara perlahan-lahan. Sistem pemanenan dapat dilakukan secara total atau selektif tergantung dari krbutuhan. Tabel 1. Analisis usaha produksi ikan nila merah dalam KJA/musim (2 musim/tahun) No Uraian Biaya Investasi 1 - Rakit (10x10 m) 1 1 - Rumah jaga (6x6m) 1 - Perahu katingting 32 - Jaring keramba 6 m Total I II A Biaya operasional/th Biaya tetap 0,05 1 33.600.000 33.600.000 1.680.000 9.800.000 9.800.000 9.800.000 300.000 9.600.000 2 4.800.000 6.000.000 6.000.000 3 2.000.000 6.000.000 6.000.000 6 1.000.000 12.000.000 12.000.000 6 2.000.000 Jumlah Harga Nilai(Rp) Satuan (Rp) Umur Penyusutan/Tahun (Th)

1.Biaya perawatan5% 2.Penyusuta/tahun 3.Bunga modal 15% Jumlah II A Biaya tidak tetap 1. Gelondonganikan nila (sintasan pengangkutan 90%, 16 unit x 500 ekor x 6 m x 2 mt B 2. Pakan pellet (kg)

0,15

33.600.000 5.040.000

16.520.000

99.000 500 107.520 2.000 24 4.500

49.500.000

215.040.000 10.800.000 -

96.000x0.8x035xRKP4) 0,05 3. Tenaga kerja 2 orang (OB) 4. Biaya lain-lain 5% Jumlah II.B Total II.A + II.B Penerimaan per tahun III - Produksi ikan nila (kg) (SR 0,8x96.000 ekor x 400g) Total III IV Analisis Biaya Manfaat - Penerimaan kotor (III-II) - Pajak 10% dari penerimaan kotor 307.200.000 20.142.000 2.014.200 29.942.000 36.662.000 30.720 15.000 307.200.000 270.538.000 287.058.000 98.360.000 4.918.000

- Perputaran uang sebelum dipotong pajak (IV+IIA2) 27.927.800 - Laba operasional (III-II.B) - Pendapatan bersih (IV.3-IV.2) - Jangka waktu pengembalian (I: IV.5) x 12 bulan 14,44 1,07 37.727.800

- Imbangan penerimaan biaya (R/C ratio) (III.II) - Cash flow (IV.5+IIA.2) - Rentabilitas ekonomi (IV.5/total I)x100%) - BEP=jumlah II.A: (1-jumlah II.B/ total III)

83,12 138.425.181

]]> 2012-03-14 10:19:21 http://www.kkp.go.id/index.php/arsip/c/7518/BUDIDAYATERIPANG-HulothuriaScabra/?category_id=107 http://www.kkp.go.id/index.php/arsip/c/7518/BUDIDAYATERIPANG-Hulothuria-Scabra/?category_id=107

BUDIDAYA TERIPANG (Hulothuria Scabra)


PENDAHULUAN Teripang atau ketimun laut yang digolongkan ke dalam kelas Holothuridea merupakan satu di antara hewan laut yang dimakan dan mempunyai prospek cerah sebagai bahan ekspor yang permintaannya semakin besar, terutama dalam bentuk kering dan asapan. Selama ini produksi teripang umumnya diperoleh dari penangkapan di alam yang sumber dayanya semakin terbatas, sehingga untuk memenuhi volume permintaan pasar dapat ditempuh melalui budi daya. Budi daya teripang khususnya teripang pasir (Holothuria Scabra) memungkinkan dilakukan oleh masyarakat pantai karena teknik budidayanya cukup sederhana dan inventasi yang diperlukan relatif kecil. Sifat biologis teripang pasir yang khas adalah hidup pada habibat pasir atau lumpur yang ditumbuhi tanaman lamun pada kedalaman relatif dangkal, dan mengambil makanan yang ada disekitarnya (Filter feeder). Salah satu sifat biologi teripang pasir yang penting diketahui dalam rangka usaha budidaya adalah: tubuhnya elastis sehingga mudah meluruskan diri melalui celah-celah yang sangat sempit. Berdasarkan sifat biologi teripang, wadah budi daya yang cocok adalah kurung tancap (hampang) memagar keliling habitat asli teripang dengan waring nilon setinggi 2 m Usaha budi daya teripang di dalam kurung tancap selain menjaga kelestarian sumberdayanya, juga merupakan lapangan kerja baru bagi masyarakat pantai yang dapat memberi nialai tambah dalam peningakatan kesejahteraan. LOKASI Beberapa faktor yang perlu diperhatikan dalam budi daya teripang adalah: Dasar perairan terdiri dari pasir, pasir berlumpur, berkarang, dan ditunbuhi tanaman lamun (rumput lindung) Terlindung dari angin kencang dan arus/gelombang yang kuat
9

Tidak tercemar dan bukan daerah konflik serta mudah dijangkau Kedalaman perairanlokasi antara 50-150 cm pada saat surut terendah dan sirkulasi air terjadi secara sempurna Mutu air: salinitas 24-33 ppt, kecerahan 50-150 cm, suhu 25-30C KONTRUKSI KURUNG TANCAP Bahan Balok berukuran (5x7x200) cm Waring nilon ukuran mata 0,2 cm Tali ris dari nilon Tali pengikat atau paku anti karat Papan yang tahan air CARA PEMASANGAN Tiang dipancang pada dasar perairan sedalam 0,5 m Bagian tiang yang berada di atas permukaan sebagai tempat melekatkan waring Waring yang telah dilengkapi dengan tali ris disambung dengan papan Papan yang telah disambung dengan waring dibalut lalu ditanam ke dalam lumpur (30 cm) Bila tidak ada papan bagian ujung waring ditanam ke dalam lumpur sedalam 30 cm kemudian bagian ujungnya dibelokkan ke dalam sepanjang 15 cm Ukuran kurung tancap disesuaikan dengan kebutuhan PEMILIHAN BENIH Pilih benih yang seragam baik jenis maupun ukuran Benih yang baik adalah tubuhnya berisi dan tidak cacat Hindari benih yang diangkut dalam waktu lama (lebih 1 jam) dan dalam keadaan bertumpuk (padat) Hindari benih yang telah mengeluarkan cairan berwarna kuning Pengangkutan benih sebaiknya dilakukan pada pagi atau malam hari atau pada saat suhu rendah dan menggunakan wadah yang berisi substrat pasir khususnya pada sistem pengangktan terbuka
10

TEKNIK BUDIDAYA Benih teripang dengan berat awal 40-60 g ditebar ke dalam kurung tancap dengan kepadatan 5-6 ekor/m2. Penebaran dilakukan pada pagi atau sore hari atau pada suhu rendah. Sebelum benih ditebar ke dalalm kurung tancap, adaptasikan terlebih dahulu agar dapat diketahui vitalitas maupun jumlah benih. Selama pemeliharaan diberikan kotoran ayam atau kotoran ayam yang dicampur dedak halus sebanyak 0,1 kg/m2 setiap minggu sekali. Kotoran ayam atau dedak halus sebelum ditebar dicampur dengan air bersih dan diaduk merata agar tidak hanyut atau terapung dan lakukan pada air sururt. Pada sistem ini teripang yang dipelihara tidak tergantung dari pakan buatan karena teripang tersebut berada pada habitat aslinya. Pemberian kotoran ayam berfungsi sebagai pupuk untuk merangsang pertumbuan diatom yang merupakan makanan utama bagi teripang. Masa pemeliharaan selama 4-5 bulan. CARA PANEN Setelah dipelihara selama 40-5 bulan, teripang telah mencapai ukuran konsumsi (300-500 g), teripang siap dipanen. Panen dilakukan pada ssat air surut terendah, dan dilakukan beberapa kali karena banyak yang membenamkan diri dalam pasir atau lumpur. Untuk mengetahui apakah teripang sudah terpanen semuanya, dilakukan pengecekan pada air pasang, karena teripang senang keluar dari persembunyiannya setelah air pasang. PENGOLAHAN Cara pengolahan teripang tidak sama dengan komoditas perikanan lainnya, karena teripang tidak dikomsumsi dalam bentuk segar atau dalam bentuk kering atau apapun. Mula-mula teripang segar dibersihkan isi perutnya dengan cara menusuk-nusukan lidi pada bagian anusnya, kemudian bagian perutnya dibelah sepanjang 5-10 cm untuk mengeluarkan isi perut yang masihn tersisa (sesuaikan dengan ukuran) kemudian dibilas dengan air bersih. Setelah itu teripang direbus selama 30 menit sampai matang. Untuk membersihkan kulit dapat direndam dengan NaOH, KOH, CaCO3, atau dengan bahan alami seperti parutan pepaya muda selama 1 jam. Selanjutnya dilakukan pengeringan atau pengasapan untuk mengurangi kandungan airnya. Pengeringan dapat dilakukan dengan sinar matahari atau oven dengan menggunakan bahan bakar berupa kayu keras, serbuk gergaji terutama dari kayu ulin dan sabut kelapa. Namun yang terbaik adalah dengan menggunakan serbuk gergaji kayu ulin karena mempunyai warna dan aroma yang baik, sehinggamutu dan harganya lebih tinggi. Hasil pengeringan dengan sinar matahari mempunyai mutu yang lebih rendah, karena biasanya berbau amis. Mutu teripang yang baik adalah mempunyai berat 40% dari berat segar.

11

Harga teripang olahan di pasaran sangat dipengaruhi ukuran dan mutu pengeringannya. Teripang dalam bentuk asapan dengan aroma yang baik harganya lebih mahal dibandingkan dengan teripan kering.

Sumber: BALAI RISET PERIKANAN BUDIDAYA AIR PAYAU 14 Maret 2012 ]]> 2012-03-14 10:11:44 http://www.kkp.go.id/index.php/arsip/c/7496/PERBENIHANIKAN-BERONANGSiganusguttanus/?category_id=107http://www.kkp.go.id/index.php/arsip/c/7496/PERBENIHANIKAN-BERONANGSiganus-guttanus/?category_id=107 PERBENIHAN IKAN BERONANG(Siganus guttanus) PENDAHULUAN ikan beronang, siganus guttanus merupakan salah satu jenis ikan laut yang banyak diminati oleh konsumen kiarena rasa dagingnya lezat. ikan ini dapat dibudidayakan baik di keramba jaring apung(KJA) maupun di tambak, mampu hidup berjejal,respon terhadap pakan buatanserta memiliki laju pertumbuhan yang relatif tinggi. Ketersediaan benih masih menjadikendala dalam pengembangan budidaya, oleh karena itu perlu usaha pembenihan. Balai Riset Perikanan Budidaya Air Payautelah merintis perbenihan ikan beronang, Sigganus guttatus. PENYEDIAAN INDUK Induk beronang diperoleh dari alam dan diadaptasikan terlebih dahulu terhadap pakan buatan selama 2(dua) bulan dalam lingkungan bak terkontrol agar dapat menghasilkan telur berkualitas. Transportasi induk dapat dilakukan baik dengan sistim tertutup maupun terbuka. Induk yang digunakan sebaiknya berukuran minimal 300g(induk jantan dan betina). PEMATANGAN INDUK Pematangan induk dilakukan di bak terkontrol dengan kepadatan 30 ekor / 2,5 tondengan rasio betina dan jantan adalah 2:1. Bak induk dilengkapi aerasi dengan pergantian air sekitar 150-200% perhari Pakan induk adalah pellet dengan kadar protein 46% sebanyak 3-5%/hari dari bobot tubuh,diberikan 3 kali sehari. Pakan tambahan berupa rumput laut segar diberikan 3 kali seminggu sebanyak 20-25%. Pemacuan kematangan gonad dapat dilakukan dengan implantasi pellet hormon LHRH-a sebanyak 10g/kg bobot ikan. Penentuan tingkat kematangan gonad (TKG) dapat dilakukan dengan cara kanulasi. Induk beronang dapat menghasilkan telur sekitar 245.000-500.000 butir tergantung ukuran bobot tubuh ikan dengan diameter telur berkisar 546-550 m dantingkat penetasan sekitar 80-95%. PENYEDIAAN PAKAN ALAM Pakan alami chlorella (Nannochloropsis occulata) dikultur dalam bak untuk kebutuhan pakan rotifera (Brachionus plicatilis), dan juga sebagai green-water dalam pemeliharaan larva beronang. Rotifer yang dikultur dalam bak selanjutnya dijadikan sebagai pakan larva beronang. Rotifer terdiri dari 3 ukuranyaitu tipe super small, small dan large. selain rotifera,
12

juga diperlukan trochopor tiram sebagai pakan tambahan awal larva. untuk meningkatkan sintasan larva dari faseendogeneous ke fase exogeneous feeding. Larva (D1-6) belum mampu mengkonsumsirotifera tipe S (140-200m), sebab ukuran bukaan mulut larva adalah 125 m. Setelah benih berumur D-25 digunakan pakan alami berupa naupli artemia. PEMELIHARAAN LARVA Pemeliharaan larvadapat dilakukan pada bakterkontrol volume 500 L, dengan kepadatan 1020 ekor/L. Pemberian pakan pada larva dilakukan seperti tabel berikut: Jenis pakan Nannochloropsis Trochopor Rotifer Naupli artemia Pakan buatan Pergantian air (%) Umur larva 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10

15

20

25

30 40

10-15 15-20 20-30 30-40

Kepadatan rotifer dipertahankan sekitar 20sel/mL,sedangkan naupli artemia 2-3 ind/ekor larva. Juvenil hasil perbenihansetelah berumur 115 hari memiliki bobot sekitar 50g dan panjang total 12 cm

Sumber: BALAI RISET PERIKANAN BUDIDAYA AIR PAYAU 12 Maret 2012

]]> 2012-03-12 10:23:39 http://www.kkp.go.id/index.php/arsip/c/7497/KEPITINGLUNAK/?category_id=107 http://www.kkp.go.id/index.php/arsip/c/7497/KEPITINGLUNAK/?category_id=107KEPITING LUNAK

Apa sebenarnya kepiting lunak itu ? Kepiting termasuk ke dalam golongan binatang yang disebut arthropoda dimana penopang tubuhnya terbentuk dari cangkang yang menyelimuti bagian luar tubuhnya. Pertumbuhan baginya merupakan hal yang krusial karena untuk tumbuh menjadi lebih besar kepiting harus melepaskan kulit yang lama kemudian kulit baru yang ukurannya lebih besar akan menggantikan tempatnya. Peristiwa tersebut dikenal sebagai molting yang terjadi berkali-kali selama daur hidup kepiting yang frekuensinya menurun dengan semakin bertambah umur dan ukurannya. Molting merupakan salah satu fenomena alami yang sangat menarik untuk diketahui. data menunjukan bahwa, aktifitas molting kepiting bakau dapat mempunyai dua puncak dalam sebulan yakni pada puncak pasang perbani dan purnama. Walaupun tidak semua indifidu mengikut pola tersebut. sesaat sebelum kepiting molting, kepiting telah menyediakan dasar
13

kulit baru di bawah kulit yang lama. Pada saat tersebut kalsium diserap dari kulit yang lama sehingga menjadi lebih rapuh atau fleksibel. Kulit yang lama terpisah pada bagian belakang kepiting dan kerapas bagian belakang tersangkut. Walaupun demikian, tangkai mata tetap tidak terganti sehingga biasa digunakan sebagai meletakan tanda/tag pada kegiatan penandaan kepiting. kepiting bakau mengalami pergantiankulit sekitar 17 kali sampai dengan umur setahun. Pada tahap awal dari kepiting lunak tersebut merupakan kondisi yang benarbenar lemah dan rawan terhadap pemanghsa predator, sehingga untuk beberapa hari berikutnya kepiting dangan cangkang yang lunak akan tetap berbenam diri ke dalam sedimen/lumpur sementara kulit yang baru mengembang dan semakin mengeras. Karena itu sudah menjadi pengtahuan umum bahwa kepiting lunak sangat jarang tertangkap dengan alat tangkap yang dilengkapi dengan umpan. Dalam beberapa hari kemudian, kepiting lunak akan aktif,dapat menghindar dari predator dan bahkan sudah dapat aktif mencari makan. dalam dua hingga tiga minggu cangkangnya akan mengeras dan daginganya tumbuh mengisi cangkang baru yang lebih besar.selama fase itu, kepiting lunak menjadi sangat berpeluang untuk tertangkap dengan perangkap dan rawan terhadap kerusakan cangkangnya.

Mengapa kepiting lunak bila tertangkap sebaiknya dilepas kembali ke alam ? Kepiting lunak hanya menghasilkan daging kurang dari 20% dari bobot tubuhnya sedangkan kepiting keras akan menghasilkan 25% . menangkap kepiting pada kondisi cangkan keras akan memaksimumkan produksi untuk jumlah kepiting tertentu. Disamping itu, kualitas daging dari kepiting cangkang lunak sangat rendah dibandingkan dengan kepiting cangkang keras. masyarakan mengenal daging kepiting demikian dengan daging berair, lembek, tidak bertekstur, bahkan menyatu seperti jelli sehingga tidak jarang hanya dibuang. dengan melepas kan kembali kepiting cangkang lunak yang tertangkap ke alam dengan hati-hati, berarti akan memberi kesempatan kepada kepiting untuk mengeras dan dapat di tangkap di kemudian hari setelah qualitas dagingnya maksimal.

Bagaimana membedakan antara kepiting cangkang lunak denga kepiting cangkang keras ? Kepiting lunak dapat diidentifikasi dengan jalan memijit/menekan secara perlahan bagian tubuh kepiting. kepiting lunak yang dipasarkan khusus untuk komsumsi adalah kepiting yang baru saja molting atau paling tidak baru berumur 4jam sejak molting .pada kondisi demikian, bagiancangkang kepiting pun lunak apalagi bagian tubuh yang lainnya. Pada kondisi ini ,kepiting belum mampu melakukan perlawanan apabila diganggu sehingga dialam sangat rawan terhadap pemangsa. berbeda dengan kepiting lunak yang memang diproduksi untuk dikomsumsi, kepiting lunak yang biasanya tercampur dengan kepiting komsumsi yang di jual di pasaran biasanya kondisinya sudah lebih baik. Cangkang dan bagian tubuh yang lainnya sudah mengeras sehingga sudah bisa menghidar dan melawan predator yang mengganggu. Identifikasi kepiting lunak seperti ini sudah jauh lebih sulit karena hampir seluruh bagian tubunya sudah mengeras tetapi sebenarnya isinya masih sangat sedikit dan tubuhnya sebagian besar masih terisi dengan air.Untuk mengidentifikasikannya, maka beberapa pijitan dapat dilakukan di beberapa tempat seperti pada ruas pertama pada kaki-kaki jalan dan kaki renang atau pada bagian dada kepiting. Apabila bagian-bagian tersebut lentur, maka kepiting tersebut masih termasuk kepiting lunak. Disamping tanda tersebut, orang yang berpengalaman dalam penanganan kepiting dapat mengetahui bahwa kepiting yang kelihatan lebih ringan dibandingkan dengan bobot sebenarnya pada umumnya
14

adalah kepiting lunak biasanya putih dan bersih, sedangkan kepiting keras biasanya lebih gelap, kekuning-kuningan, kecoklatan dan bahkan sering ditempili dengan teritip dan alga.

Bagaimana memproduksi kepiting lunak secara massal untuk komsumsi ? Salah satu sifat yang dimiliki krustase dalam pertumbuhannya adalah ganti kulit atau dalam bahasa ilmiah dikenal dengan molting. Pada kondisi ganti kilut, kulit krutase yang tadinya keras digantikan oleh kulit yang lunak sehingga dikenal dengan "soft shelling crab" yang di indonesia kemudian disingkat menjadi "soka". Karena kulitnya yang lunak, maka dia tidak dapat mencapit dan mudah penanganannya. Kondisi lunak tersebut hanya bertahan dalam waktu yang singkat kemudian berangsur-angsur mengeras kembali sebagaimana layaknya kepiting normal sehingga perlu pengontrolan yang ketat. Produk ini sebenarnya telah lama dikenal terutamauntuk kepiting biru Calinectes sapidus yang ditangkap dari alam namun karena penangkapan soka dari alam ketersediaannya tidak menentu, maka kemudian dipikirkan untuk dibudidayakan. Berbagaicara telah dilakukan untuk mempercepat terjadinya ganti kulit pada kepiting bakau seperti rengsangan melalui manipulasi makanan, manipulasi lingkungan dan teknik pemotong kaki. Hingga saat ini teknik pemotongan kaki yakni dengan mematahkan capit dan kaki jalan kepiting masih merupakan cara yang paling praktis yang dapat dilakukan untuk mempercepat terjadinya pergantian kulit dan dapat diterapkan secara massal. Dengan mematahkan anggota badan kepiting, maka hormon pertumbuhannya akan memacu pembentukan kembali dari anggota badan yang hilang. Dengan cara ini, kepiting muda dapat berganti kulit dalam waktu 2-3 minggu tergantung pada kejelian di dalam memilih kepiting yang sudah mendekati fase ganti kulit. Karena penggemar soka cukup luas maka produk ini menjadi andalan oleh beberapa negara penghasil kepiting ke depan. Harganya pun cukup menggiurkan yakni sekitar 3-5 USD tergantung pada ukurannya. semakin besar ukurannya semakin tinggi pula harganya. Namunkarena pergantian kulit kepiting pada ukurannya yang lebih kecil biasanya lebih cepa, maka perkembangan soka biasanya diarahkan untuk kepiting muda dengan bobot 60-150 g/ekor. Berdasrkan sifat ganti kulit kepiting diatas, maka sejak tahun 90an, produksi kepiting soka telah mulai dikembangkan di indonesia. Walau pun secara ekonomis budidaya soka kelihatan menguntungkan, namun sebagaian besar pengusaha soka tidak bisa bertahan lama. Berbagai kendala dihadapi terutama masalah pasar dan ketersediaan benih yang bersaing dengan kebutuhan komsumsi menyebabkan harga benih di beberapa sentra pengembangan manjadi mahal. Namun semakin membaiknya teknik pembenihan, maka di massa yang akan datang diharapkan hal ini tidak lagi menjadi masalah. Sedangkan masalah pemasaran, diharapkan dapat di formulasikan solusinya melalui keterlibatan pembudidaya dan pemerintah. Produksi dilakukan melalui beberapa tahap seperti : persiapan tambak, pemasangan keranjang sebagai wadah yang diapungkan di dalam tambak, penebaran benih yang kakikakinya telah dipatahkan, pemberian pakan, dan pengontrolan/panen. Persiapan tambak dapat dilakukan sebagaimana persiapan tambak untuk budidaya bandeng untuk menghasilkan lingkungan tambak yang baik. Keranjang yang digunakan dapat berupa keranjang buah lengkeng yang disekat dengan bilah bambu menjadi 6 kotak untuk mengakomondasi masing-masing satu kepiting per kotak. Selain itu, saat ini tersedia secara komersial kotak khusus untuk pemeliharaan soka namun dengan harga yang lebih mahal. kotak khusus yang terbuat dari plastik tersebut memungkinkan untuk melalukan pemeliharaan soka tanpa pemotongan kaki karena dilengkapi dengan penutup yang kuat dan khusus sehingga kepiting tidak dapat keluar dari kotak pemelihraan. Keranjang atau pun kotak plastik tersebut kemudian dirangkai dan diapungkan di dalam tambak. satu hektar tambak dapat diisi sampai dengan 10.000 kotak atau 10.000 ekor kepiting. setelah penebaran,
15

dilakukan pemberian pakan berupa ikan rucah dua kali sehari sebanyak 5-10% dari bobot kepiting. pengontrolan kapiting ganti kulit dilakukan lebih intensif setelah pemeliharaan memasuki minggu kedua apabila dilakukan pemotongan kaki atau bulan kedua bila tanpa pemotongan kaki untuk mengantisipasi adanya kepiting yang ganti kulit. Apabila kepiting yang ganti kulit dibiarkan sampai dengan 4jam, maka kepiting lunak akan mengeras secara perlahan. Dari 10.000 ekor yang dipelihara dengan pemotongan kaki maka sejak minggu ketiga sampai dengan satu bulan biasanya terjadi pergantian kulit sekitar 10% perhari atau sekitar 1000 ekor atau setara dengan sekitar 100kg per hari. Namun apabila tidak dilakukan pemotongan kaki maka biasanya memasuki bulan kedua sampai dengan tiga bulan masa pemeliharaan akan di dapat kan kepiting lunak sebanyak sekitar 150 ekor atau setara dengan 15kg per hari. Kepiting yang dipanen biasanya dapat dipasarkan dalam keadaan hidup maupun beku. Berdasarkan hasil pengkajian balai budidaya air payau takalar terhadap pengusaha soka di sulawesi selatan menunjukan bahwa usaha ini menguntungkan dengan R/C rasio 1,94untuk skala <1000ekor dan 2,24 untuk skala>1000 ekor. ]]> 2012-03-12 10:22:33 http://www.kkp.go.id/index.php/arsip/c/7495/TEKNIKPRODUKSI-DAN-APLIKASI-VAKSIN-BAKTERI-VIBRIO-BAKTERIN-DALAMPENANGGULANGAN-PENYAKITUDANG/?category_id=107 http://www.kkp.go.id/index.php/arsip/c/7495/TEKNIKPRODUKSI-DAN-APLIKASI-VAKSIN-BAKTERI-VIBRIO-BAKTERIN-DALAMPENANGGULANGAN-PENYAKIT-UDANG/?category_id=107 Pendahuluan: Vibriosis merupakan penyakit kemerahan pada udang yang terutama disebabkan oleh bakteri Vibrio Harveyi yang menimbvulkan kematian dan kerugian yang cukup besar. Pencegahan dan penanggulangan penyakit ini dapat dilakukan antara lain dengan menggunakan immunostimulan misalnya vaksin. Syarat dari suatu vaksin atau bakterin harus immunogen, artinya harus dapat merangsang dalam pembentukan antibodi yang bertujuan untuk mendapatkan kekebalan secara aktif. Mengingat udang tidak memiliki sel memori, sehingga antibodi yang bersifat non-spesifik. Oleh karena itu vaksin pada udang lebih dikenal sebagai immunostimulan. Vaksin yang diproduksi oleh Laboratorium Kesehatan Ikan dan Lingkungan Balai Riset Perikanan Budidaya Air Payau adalah Bakterin/Vaksin Vibrio Harveyi yang diproses dengan cara melemahkan bakteri tersebut menggunakan formalin. TEKNIK PRODUKSI BAKTERIN Bahan: Bahan yang digunakan dalam produksi bakterin adalah: -Triptic Soy Agar (TSA), Triple Citrate Bile Sucrose Agar (TCBSA) dan Nutrient Broth (NB) -Isolat murni bakteri V.harveyi -NaCl -Formalin -Alkohol Peralatan:
16

Peralatan yang digunakan dalam produksi bakterin adalah: -Cawan petri -Erlenmeyer -Jarum Ose -Sentrifuge -Inkubator -Autoklaf Isolasi dan Identifikasi Bakteri Vibrio Hemolimp atau hepatopankreas udang yang terserang vibriosis digoreskan pada cawan petri yang berisi media TCBSA dengan menggunakan jarum ose steril. Biakan bakteri diinkubasi pada suhu 2837 C selama 2448 jam. Setiap koloni bakteri ditransfer ke media TSAmiring untuk pengujian/identifikasi lebih lanjut. Identifikasi secara morfologi/meliputi bentuk koloni, warna, sifat tembus cahaya, bentuk pinggiran dan permukaan koloni. Untuk uji biokimia meliputi swarming, luminiscence, VP test, arginin, gas form, glukosa, growth 40 C, lisin dekarboksilat, pigmen, amilase, sukrosa, indol, ornithin, putricine, etanol, serin, heptanoate, xantine, aminobutitrate, arabinose, cellubiose, glukonat, ketoglutarate, L-alanin, leusin, dan propionat Produksi Bakterin Isolat murni bakteri V.harveyi diremajakan ke dalam media TCBSA menggunakan jarum ose dan diinkubasikan pada suhu 28 C selama 24 jam. Biakan murni bakteri V.harveyi. (sebanyak 45 ose) dikultur dalam media NB dengan teknik goyangan menggunakan alat Orbital Shaker selama 2448 jam, sampai mencapai kepadatan 10 10 CFU/mL. Biakan bakteri tersebut dilemahkan menggunakan formalin 0,5-1% dan disimpan pada suhu 4 C selama 24 jam. Bakteri ditanam pada media TCBSA dan diinkubasikan selama 24 jam dalam suhu ruangan dan apabila tidak ada bakteri yang tumbuh, maka bakteri tersebut dianggap aman untuk dibuat vaksin. Selanjutnya bakteri disentrifus pada suhu 4 C dengan kecepatan 3000 rpm selama 15 menit. Selanjutnya (cairan yang ada pada bagian atas) dibuang dan endapan dalam wadah dicuci dengan larutan fisiologis (saline solution) 0,85% sebanyak 3 kali. Endapan yang dihasilkan ditambahkan larutan fisiologis sebanyak volume awal supernatan yang dibuang dan dikocok. Larutan tersebut merupakan bakterin yang siap digunakan. Untuk menjaga keamanan dan kestabilan bakterin disimpan dalam freezer (20 C). Isolat murni bakteri vibrio dalam NB Digoyang menggunakan orbital shaker (24-48 jam)
17

Dilemahkan dengan larutan formalin 1% Inkubasi pada suhu 4 C selama 24 jam Tanam pada media TCBSA Tidak tumbuh, sentrifus pada suhu 4 C (3000 rpm, 15 menit) Supernatan dibuang dan ditambah larutan fisiolagis sebanyak volume supernatan yang dibuang. Sentrifus pada suhu 4 C (3000 rpm, 15 menit) Supernatan dibuang danditambah larutan fisiologis sebanyak volume supernatan yang dibuang. Sentrifus pada suhu 4 C (3000 rpm, 15 menit) Supernatan dibuang dan ditambah larutan
18

fisiologis sebanyak volume supernatan yang dibuang. Diaduk sampai homogen Bakterin Simpan dalam freezer (20 C)

Teknik Aplikasi Bakterin: 1. Perekatan bakterin pada pakan. Perekatan pada bakterin dapat dilakukan melalui 2 cara yaitu: a. Perekatan sebelum pakan jadi pelet. Sebanyak 1 kg pakan pelet dihancurkan kemudian ditambahkan 2,4 mL bakterin, 5 g perekatan progol dan 0,5 mL vitamin C, diaduk sampai homogen kemudian dicetak kembali dalam bentuk pelet. b. Perekatan setelah pakan jadi pelet. Perekatan progol 5 g dicampurkan ke dalam 2,4 mL bakterin, 0,5 mL vitamin C, 250 mL garam fisiologis, dan diaduk sampai homogen, kemudian disemprotkan secara merata pada 1 kg pakan, lalu dikering-anginkan. 2. Perendaman benur dalam bakterin sebelum penebaran. Sebelum benur ditebar terlebih dahulu direndam dalam wadah berisi larutan bakterin 2,4 mL dan o,5 mL vitamin C per L air media selama 15 menit. Cara lain dapat dilakukan dalam kantong benur selama pengangkutan. 3. Aplikasi bakterin selama pemeliharaan. Vaksinasi lanjutan berupa pemberian pakan berbakterin mulai dilakukan pada hari ke-12 pemeliharaan selama 3 hari berturut-turut, selanjutnya diulangi dengan interval waktu 12 hari sampai panen.

19

]]> 2012-03-12 10:22:14 http://www.kkp.go.id/index.php/arsip/c/7494/PERBENIHANUDANG-PAMA-Penaeussemisulcatus/?category_id=107http://www.kkp.go.id/index.php/arsip/c/7494/PERBENIHAN -UDANG-PAMA-Penaeus-semisulcatus/?category_id=107 PERBENIHAN UDANG PAMA (Penaeus semisulcatus) PENDAHULUAN Udang pama, Penaeus semisulcatus merupakan salah satu jenis krustase lokal yang memiliki prospek untuk dikembangkan sebagai spesies kandidat budi daya tambak dalam rangka diversifikasi usaha. Penyediaan benur melalui perbenihan sangat diperlukan untuk pengembangan budidayanya. PENYEDIAAN INDUK Induk harus ditangani secara tepat dan hati-hati dalam keadaan lingkungan yang sesuai agar dapat menghasilkan telur yang berkualitas. Induk yang berkualitas akan menghasilkan benih yang berkualitas juga. Transportasi induk dapat dilakukan dengan menggunakan media air baik dengan sistem terbuka maupun tertutup. Ukuran induk minimal adalah 60 g (betina) dan 40 g (jantan). PEMATANGAN INDUK Pematangan induk dapat dilakukan di bak terkontrol dengan kepadatan 30 ekor/3 ton dengan rasio betina dan jantan adalah 2:1. Mutu air harus dijaga dengan melengkapi aerasi dan pergantian air harus sekitar 200-250% perhari. Penggunaan pakan seperti cacing laut atau dicampur dengan cumi-cumi dapat diberikan sebanyak 15% BW dengan frekuensi 2kali/hari. Ablasi mata dapat merangsang pemacuan pematangan gonad induk. PEMELIHARAAN LARVA Satu ekor induk dapat menghasilkan telur antara 16.320-111.800 butir dan diameter berkisar 268-301m dan tingkat penetasan antara 6,10-72,04%. Presentase sintasan sampai dengan nauplius-6 dapat mencapai 100%, Zoea3-Mysis3 (64%), PL-1 mencapai 60% dan PL-1 mencapai 60% dan PL-10 dapat mencapai 47%. Pakan yang diberikan adalah pakan alami seperti Chaetoceros sp, Artemia salina dan pakan komersial mikroenkapsulasi. Chaetoceros sp,diberikan pada stadia awal larva sebanyak 5.000-20.000 sel/mL, sedangkan pada stadia lanjut diberikan dengan kepadatan 25.000-35.000 sel/mL dan Artemia salina sebanyak 5-15 nauplius/larva). Pergantian air dimulai saat stadia zoea-3 hingga stadia postlarva. Perkembangan larva udang pama. Jenis pakan Chaetoceros sp Pakan buatan CAR Pakan buatan 2CD
20

N-6 Z1 Z2 5.000 20.000sel/mL

Umur larva (Hari) Z3 M1 M2 M3 PL1 PL2 PL3 PL4 PL5 PL6 PL7 PL8 PL9 PL10 25.000 - 35.000 sel/mL

Pakan buatan PL+150 Pakan buatan PL+300 Naupli artemia

5 - 15 ind.Artemia/1 ind. Artemi/1 ind. larva

Sumber: BALAI RISET PERIKANAN BUDIDAYA AIR PAYAU 12 Maret 2012

]]> 2012-03-12 10:21:44 http://www.kkp.go.id/index.php/arsip/c/5454/PERBANYAKANINDUK-YY-DAN-UJI-PERFORMANCE-BENIH-GMT-GENETIC-MALETILAPIA/?category_id=107http://www.kkp.go.id/index.php/arsip/c/5454/PERBANYAKAN -INDUK-YY-DAN-UJI-PERFORMANCE-BENIH-GMT-GENETIC-MALETILAPIA/?category_id=107 PERBANYAKAN INDUK YY DAN UJI PERFORMANCE BENIH GMT (GENETIC MALE TILAPIA) Dalam rangka memenuhi ketersediaan induk dan benih nila yang bermutu, maka pemerintah bersama para ahli dan swasta mendirikan Pusat Pengembangan Induk Ikan Nila yang mempunyai tugas untukmeningkatkan mutu induk ikan nila melalui berbagai teknologi, salah satunya adalah dengan teknologi YYSupermale. Selanjutnya ]]> 2009-04-08 10:24:19 http://www.kkp.go.id/index.php/arsip/c/5453/UJI-TOLERANSIBERBAGAI-STRAIN-IKAN-MAS-TERHADAPKHV/?category_id=107http://www.kkp.go.id/index.php/arsip/c/5453/UJI-TOLERANSIBERBAGAI-STRAIN-IKAN-MAS-TERHADAP-KHV/?category_id=107 UJI TOLERANSI BERBAGAI STRAIN IKAN MAS TERHADAP KHV Serangan Koi Herpes Virus (KHV) hingga saat ini masih menjadi masalah pada kegiatan budidaya ikan mas. Hasil monitoring BBAT Sukabumi (2002-2005), menunjukkan bahwa virus KHV menyerang semuastadia ikan mas. Berdasarkan data penyebaran virus KHV di Indonesia, hampir semua wilayah dimanaterdapat berbagai strain ikan mas terserang virus KHV. Namun demikian, belum ada data tentangperbedaan persentase kematian antara satu strain ikan mas dengan lainnya. Perbedaan persentase kematian antara satu strain dengan yang lain diduga berkaitan dengan daya toleransi suatu strain ikan mas terhadap virus KHV. Selengkapnya ]]> 2009-04-08 10:20:43 http://www.kkp.go.id/index.php/arsip/c/5452/PEMBUDIDAYAAN-KERANGMUTIARA-AIR-TAWAR-Margaritifera-sp-DI-KOLAMTERKONTROL/?category_id=107 http://www.kkp.go.id/index.php/arsip/c/5452/PEMBUDI DAYAAN-KERANG-MUTIARA-AIR-TAWAR-Margaritifera-sp-DI-KOLAMTERKONTROL/?category_id=107PEMBUDIDAYAAN KERANG MUTIARA AIR TAWAR (Margaritifera sp)
DI KOLAM TERKONTROL

21

Kerang air tawar jenis Margaritifera sp diduga pertama kali tersebar diwilayah perairan Indonesia bersamaan dengan nila yang didatangkan dari Taiwan pada tahun 1969 dalam fase glochidia (larva kerang), hingga saat ini potensinya belum diberdayakan secara optimum. Dengan morfologi yang menyerupai kerang mutiara air tawar yaitu Heryopsis sp maka akan sangat mungkin digunakan untuk produksi mutiara tawar.

Selengkapnya ]]> 2009-04-08 10:15:58 http://www.kkp.go.id/index.php/arsip/c/5323/PEMANFAATANLIMBAH-SAWIT-UNTUK-BAHAN-PAKANIKAN/?category_id=107http://www.kkp.go.id/index.php/arsip/c/5323/PEMANFAATANLIMBAH-SAWIT-UNTUK-BAHAN-PAKAN-IKAN/?category_id=107 Dewasa ini permintaan terhadap produksi perikanan budidaya guna memenuhi gizi masyarakat semakin meningkat. Konsumsi ikan penduduk Indonesia dari tahun ke tahun mengalami kenaikan sekitar 4,6% pada tanuh 2003. Disamping itu, adanya wabah flu burung pada unggas pada tahun 2006 menjadikan ikan sebagai sumber protein hewani yang cukup aman dikonsumsi. Kenaikan konsumsi ikan oleh masyarakat tersebut berpengaruh sangat besar terhadap kenaikan produksi ikan mengingat Indonesia memiliki jumlah penduduk yang sangat besar. Dengan meningkatnya produksi ikan terutama ikan budidaya maka secara otomatis akan terjadi kenaikan permintaan pakan. Selanjutnya ]]> 2008-06-03 11:50:53 http://www.kkp.go.id/index.php/arsip/c/5322/TEKNIKPRODUKSI-INDUK-BETINA-IKANNILA/?category_id=107http://www.kkp.go.id/index.php/arsip/c/5322/TEKNIKPRODUKSI-INDUK-BETINA-IKAN-NILA/?category_id=107 Dalam rangka memenuhi kebutuhan induk betina sebagai pasangan dari induk jantan YY , maka diperlukan suatu teknologi untuk memproduksi induk nila tunggal kelamin betina. Tahap pertama yang harus dilakukan adalah produksi induk jantan XX. Populasi induk jantan XX jika dikawinkan dengan betina (XX) maka akan diperoleh keturunan tunggal kelamin betina (monosex).

selengkapnya

]]> 2008-06-03 00:00:00 http://www.kkp.go.id/index.php/arsip/c/5324/UJIPERFORMANCE-BENIH-NILA-MERAH-ASAL-JAWA-TENGAH-DAN-DAERAHISTIMEWAYOGYAKARTA/?category_id=107 http://www.kkp.go.id/index.php/arsip/c/5324/UJIPERFORMANCE-BENIH-NILA-MERAH-ASAL-JAWA-TENGAH-DAN-DAERAHISTIMEWA-YOGYAKARTA/?category_id=107Pusat Pengembangan Induk Ikan Nila Nasional (PPIINN) di BBPBAT, salah satu tugas-fungsinya adalah melakukan produksi induk bermutu yang menghasilkan benih unggul. Keunggulan benih tidak hanya ditentukan oleh bentuk morfolgi, kesehatan, keseragaman ukuran, tetapi juga sangat ditentukan oleh performance pertumbuhan, sintasan dan FCR berdasarkan hasil pengujian. Selanjutnya

22

]]> 2008-06-03 00:00:00 http://www.kkp.go.id/index.php/arsip/c/5325/PENGGUNAANBIOKATALISATOR-PADA-BUDIDAYA-UDANGGALAH/?category_id=107http://www.kkp.go.id/index.php/arsip/c/5325/PENGGUNAANBIOKATALISATOR-PADA-BUDIDAYA-UDANGGALAH/?category_id=107 Pemanfaatan biokatalisator baik itu berupa hewan maupun tumbuhan akan bermanfaat untuk mengatasi terjadinya penurunan lingkungan. Salah satu diantaranya dengan pemanfaatan ikan jenis plankton feeder diharapkan dapat mengurangi blooming plankton. Selengkapnya ]]> 2008-06-03 00:00:00 http://www.kkp.go.id/index.php/arsip/c/5319/PEMANFAATANIMMUNOSTIMULAN-UNTUK-PENGENDALIAN-PENYAKIT-PADA-IKANMAS/?category_id=107 http://www.kkp.go.id/index.php/arsip/c/5319/PEMANFAATANIMMUNOSTIMULAN-UNTUK-PENGENDALIAN-PENYAKIT-PADA-IKANMAS/?category_id=107 Koi Herpes Virus (KHV) merupakan penyakit virus yang menyerang ikan mas dan koi sejak tahun 2002 hingga sekarang yang menyebabkan produksi ikan mas di Indonesia mengalami kelesuan. Berbagai upaya pencegahan telah diteliti dan dikembangkan serta diterapkan di lapangan dengan tujuan untuk meningkatkan daya tahan tubuh ikan mas, mengingat obat tidak dapat digunakan secara efektif untuk pengendalian penyakit ini. Salah satu bahan immustimulan yang berpotensi untuk digunakan dalam pengendalian penyakit ini adalah Chromium yeast (Cr-yeast) yang diaplikasikan melalui pakan. Bahan ini biasanya digunakan sebagai pencampur pakan pada hewan ternak, yang diharapkan dapat berdampak positif juga bagi pertahanan tubuh ikan

23