Anda di halaman 1dari 26

MAKALAH APRESIASI PUISI PENGERTIAN PUISI , APRESIASI PUISI , PEMAHAMAN HAKEKAT PUISI, PEMAHAMAN METODE PUISI Diajukan untuk

memenuhi salah satu tugas Mata Kuliah APRESIASI PUISI

Disusun Oleh: Nama Kelas Jurusan NIM : Vita Julianah : II / I : FKIP B. Indonesia : 110050014

PRODI PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS SWADAYA GUNUNG JATI Jl. Perjuangan No. 01 Cirebon 45132 Telp. (0231) 206558 Fax. 236742 2012-2013

KATA PENGANTAR

Segala puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT, Tuhan semesta alam, yang Maha penyayang, dan Dzat yang Maha memiliki sumber ilmu pengetahuan. Shalawat serta salam penulis selalu curahkan kepada junjungan kita Rasulullah Muhammad SAW., Nabi besar seluruh umat muslim beserta keluarga, sahabat, hingga pada keturunannya hingga akhir zaman. Syukur Alhamdulillah dengan segala rahmat, pertolongan, karunia, keridhoan serta kasih sayang-Nya, akhirnya berjudul Apresiasi puisi makalah kuliah Apresiasi puisi . Penulis sadar sepenuhnya bahwa penulisan makalah ini masih jauh dari laporan makalah dapat diselesaikan yang

ini diajukan untuk memenuhi tugas mata

sempurna dan masih banyak kekurangan. Oleh karena itu, kritik dan saran yang membangun masih penulis harapkan untuk perbaikan di masa yang akan datang. Penulis berharap semoga dengan makalah yang telah penulis susun ini, dapat memberikan manfaat bagi siapapun yang mempunyai semangat untuk terus mengembangkan serta memperbaiki potensi yang terdapat dalam dirinya.

Cirebon, September 2012

Penulis

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ......................................................................................... i DAFTAR ISI ....................................................................................................... ii BAB I PENDAHULUAN A. Latar belakang ........................................................................................... 1 B. Rumusan masalah...................................................................................... 1 C. Tujuan ....................................................................................................... 2 D. Manfaat ..................................................................................................... 2 BAB II RINGKASAN DAN PEMBAHASAN A. Definisi puisi ............................................................................................. 3 B. Pengertan apresiasi puisi ........................................................................... 3 C. Ragam apresiasi puisi ................................................................................ 4 D. Pemahaman hakekat puisi ......................................................................... 17 E. Pemhaman metode puisi ........................................................................... 18 BAB III PENUTUP A. Kesimpulan ............................................................................................... 21 B. Saran .......................................................................................................... 22 DAFTAR PUSTAKA .......................................................................................... 23

ii

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Puisi merupakan bentuk karya sastra yang paling tua. Karya besar yang bersifat abadi seperti: Mahabharata, Ramayana, Wedatama, Tripama, Babad Tanah Jawi ( Sastra Jawa ), Oedipus, Antigone, Hamlet, Machbeth, dan sebagainya (dari Yunani dan Inggris ), di karang dalam bentuk puisi. Bentuk puisi yang paling tua adalah Mantra. Di dalam Mantra tercermin hakikat sesungguhnya dari puisi, yakni bahwa pengkonsentrasian kekuatan bahasa itu di maksudkan oleh penciptanya untuk menimbulkan gaya Magis atau kekuatan gaib. Dalam perkembangannya di Indonesia, kita kenal dengan berbagai jenis tipografi dan model puisi yang menunjukan perkembangan struktur puisi tersebut. Ciri-ciri struktur puisi dari jaman ke jaman dan dari periode-periode tidak hanya di tandai oleh perbedaan struktur fisik, tetapi juga oleh struktur makna atau tematiknya.

B. Rumusan masalah Berdasarkan latar belakang masalah diatas penulisan mengajukan beberapa rumusan masalah sebagai berikut : 1. Apa definisi dari puisi ? 2. Apa definisi dari apresiasi puisi ? 3. Apa saja Ragam apresasi puisi ? 4. Apasaja pemahaman hakekat puisi itu ? 5. Apa saja pemahaman metode puisi ?

C. Tujuan Tujuan dari pembuatan makalah ini adalah sebagai berikut : 1. Untuk mengetahui dan menjelaskan definisi dari puisi itu sendiri 2. untuk memenuhi dan menjelaskan definisi apresiasi puisi 3. untuk mengetahui dan menjelaskan Ragam paresiasi puisi 4. untuk mengetahui dan menjelaskan pemahaman hakekat puisi 5. untuk mengetahui dan menjelaskan pemahaman metode puisi

D. Manfaat Manfaat dari pembuatan makalah ini adalah sebagai berikut : 1. Supaya mahasiswa dapat mengetahui definisi puisi dan apresiasi puisi . 2. Supaya mahasiswa mengetahui dan menjelaskan ragam puisi . 3. Supaya mengetahui dan menjelaskan pemahaman hakekat puisi dan metode puisi .

BAB II RINGKASAN DAN PEMBAHASAN

A. Definisi puisi Penekanan pada segi estetik suatu bahasa dan penggunaan sengaja pengulangan, meter dan rima adalah yang membedakan puisi dari prosa. Namun perbedaan ini masih diperdebatkan. Beberapa ahli modern memiliki pendekatan dengan mendefinisikan puisi tidak sebagai jenis literatur tapi sebagai perwujudan imajinasi manusia, yang menjadi sumber segala kreativitas. Selain itu puisi juga merupakan curahan isi hati seseorang yang membawaa oraang lain kedaalam keaadaan hatinya.

B. Pengertan apresiasi puisi Secara leksikal istilah apresiasi berasal dari kata benda appreciation yang berarti pemahaman dan pengenalan yang tepat, pertimbangan, penilaian, dan pernyataan yang memberikan penilaian, Hormby (Najid, 202:38). Kamus Oxford Learner memberi makna memahami dan menikmati atau memahami secara keseluruhan. Pengertian lain menyebutkan bahwa apresiasi dapat berarti pengenalan, pemahaman, dan penghargaan terhadap karya seni. Pengertian ini ditafsirkan dari bahasa lain apreciatio yang memiliki arti mengindahkan dan menghargai. Beberapa pendapat tentang pengertian apresiasi dapat dikemukakan sebagai berikut. Efendi (Najid, 2002:39) mengatakan bahwa apresiasi dapat diartikan sebagai aktivitas menggauli karya sastra secara sungguh-sungguh sehingga tumbuh pengertian, penghargaan, kepekaan pikiran kritis, dan kepekaan perasaan yang baik terhadap karya sastra. Dengan demikian, apresiasi adalah upaya untuk dapat mengerti karya sastra yang dapat dibaca dengan memahami maknanya, baik aktual maupun intensional dengan memahami seluk beluk karya sastra tersebut. Secara etimologis, puisi berasal dari bahasa Yunani yang juga dalam bahasa lain poeitas ( latin poeta), yang berarti membangun, membentuk

atau membuat. Asal kata poeiteo atau poio yang berarti membangun, menyebabkan, menimbulkan, atau menyair.Di dalam kamus istilah sastra, Panuti mengatakan bahwa puisi adalah ragam sastra yang bahasanya terikat oleh irama, matra, rima, serta penyusunan larik dan bait. Batasan ini tentu tidak berlaku bagi puisi modern atau kontemorer karena II puisi tersebut memiliki kebebasan bentuk. Mulyana (Semi, 1998:91) memberikan batasan puisi dengan menggunakan pendekatan psikolinguistik karena puisi

merupakan karya seni yang tidak saja berhubungan dengan masalah bahasa, tetapi juga berhubungan dengan masalah jiwa. Dengan pendekatan terebut, beliau menyimpulkan bahwa puisi adalah sintesis dari berbagai puisi bahasa yang telah tersaring semurni mungkin dan berbagai proses jiwa yang mencari hakikat pengalamannya tersusun dalam sistem kerespondesi dalam salah satu bentuk.Volerdge (Prodopo, 1996:6) mengemukakan bahwa puisi adalah katakata terindah dalam susunan terindah. Wordsworth mempunyai gagasan bahwa puisi adalah pernyataan perasaan yang imajinatif, yaitu perasaan yang direkakan atau diragukan.

C. Ragam apresiasi puisi Ada bermacam-macam jenis puisi yang ditulis para penyair Indonesia. Karya sastra tidak bersifat otonom. Dalam memahami makna karya sastra, kita mengacu pada beberapa hal yang erat hubungannya dengan puisi tersebut. Dalam pemahaman puisi, hal yang dipandang erat hubungannya adalah jenis puisi itu sendiri dan sudut pandang penyair. Sebenarnya ada banyak sekali macam-macam puisi, dan bagaimana penyair dalam menyampaikan inspirasinya, serta bagaimana menafsirkan makna puisi dengan mudah. Sehingga mudah mengklasifikasikan, termasuk jenis puisi apakah yang kita ciptakan. W.H Hudson menyatakan adanya puisi sebyektif dan puisi obyektif (1959:96). Cleanth Brooks menyebut adanya puisi naratif dan puisi deskriptif (1979:335-356). David Daiches menyebut adanya puisi fisik, platonic, dan metafisik (1948:145). X.J. Kennedy menyebut adanya puisi konkret dan

balada (1071:116-226). Dalam kumpulan puisi Rendra, kita mengenal juduljudul: balada, romansa, stanza, serenada, dan sebagainya. Ada juga parable atau alegori. Sedangkan istilah ode, himne, puisi kamar, dan puisi auditorium juga sering kita jumpai.

1. Puisi Naratif, Lirik, dan Deskriptif Klasifikasi puisi ini berdasarkan cara penyair mengungkapkan isi atau gagasan yang hendak disampaikan. a. Puisi Naratif Puisi naratif mengungkapkan cerita atau penjelasan penyair. Ada puisi naratif yang sederhana, ada yang sugestif, dan ada yang kompleks. Puisi-puisi naratif, misalnya: epik, romansa, balada, dan syair. Balada adalah puisi yang bercerita tentang orang-orang perkasa, tokoh pujaan, atau orang-orang yang menjadi pusat perhatian. Rendra banyak sekali menulis balada tentang orang-orang tersisih, yang oleh penyairnya disebut "Orang-orang Tercinta". Kumpulan baladanya yaitu, Balada Orang-orang Tercinta dan Blues Untuk Bonnie. Romansa adalah jenis puisi cerita yang menggunakan bahasa romantic berisi kisah percintaan yang berhubungan dengan ksatria, dengan diselingi perkelahian dan petualangan yang menambah percintaan mereka lebih mempesonakan. Rendra juga banyak menulis romansa. Salah satu bagian dalam "Empat Kumpulan Sajak"nya berjudul "Romansa" dan berisi jenis puisi romansa, yakni kisah percintaan sebelum Rendra menikah. Kirdjomuljo menulis romansa yang berisi kisah petualangan dengan judul Romance Perjalanan". Kisah cinta ini dapat huga berarti cinta tanah kelahiran seperti puisipuisi Ramadhan K.H. Priangan Si Jelita. Priode 1953-1961 banyak ditulis jenis romansa ini.

b. Puisi Lirik Dalam puisi lirik penyair mengungkapkan aku lirik atau gagasan pribadinya. Ia tidak bercerita. Jenis puisi lirik misalnya: elegi, ode, dan serenada. Elegi adalah Puisi yang mengungkapkan perasaan duka. Misalnya "Elegi Jakarta" karya Asrul Sani yang mengungkapkan perasaan duka penyair di kota Jakarta. Serenada adalah Sajak percintaan yang bisa dinyanyikan. Kata serenada berarti nyanyian yang tepat dinyanyikan pada waktu senja. Rendra banyak menciptakan serenada dalam 'Empat Kumpulan Sajak'. Misalnya Serenada hitam, Serenada Biru, serenade Merah Jambu, serenade ungu, Serenada Kelabu, dan sebagainya. Warna-warna dibelakang serenada itu melambangkan sifat nyanyian cinta itu, ada yang bahagia, sedih, kecewa, dan seterusnya. Ode adalah Puisi yang berisi pujaan terhadap seseorang, sesuatu hal, sesuatu keadaan. Yang banyak ditulis adalah pemujaan terhadap tokoh-tokoh yang dikagumi. Teratai Sanusi Pane, Diponegoro Chairil Anwar, dan Ode Buat Proklamator Leon Agusta merupakan contoh ode yang bagus. Berikut ini kutipan Ode Buat Proklamator, sebuah ode yang memuja tokoh proklamator Bung Karno dan Bung Hatta.

ODE BUAT PROKLAMATOR Bertahun setelah kepergiannya kurindukan dai kembali Dengan gelombang semangat halilintar dilahirkan sebuah negri; dalam Lumpur dan lumut Dengan api menyapu kelam menjadi untaian permata hijau dibentangan cahaya abadi Yang sesantiasa membuatnya tak pernah berhenti bermimpi menguak kabut gulita mendung, menerjang benteng demi benteng membalikkan arah topan, menjelmakan impian demi impian

Dengan seorang sahabatnya, mereka tanda tangani naskah itu Mereka memancang tiang bendera, merobah nama dan peta, berjaga membacakan sejarah, menggenti bahasa pada buku Lalu dia meniup terompet dengan selaksa nada kebangkitan sukma. Kini kita ikut membubuhkan nama diatas bengkalainya; meruntuhkan sambil mencari, daftar mimpi membelit bulan perang saudara mengundang musnah, dendam tidur di hutan-hutan, di sawah terbuka yang sakti Kata berpasirdibibir pantai hitam dan oh, lidahku yang terjepit, buih lenyap dilaut biru derap suara yang gempita Cuma bertahan atau menerkam Ya, walau tak mudah, kurindukan semangatnya menyanyi kembali bersama gemuruh cinta yang membangun sejuta rajawali Tak mengelak dalam bercumbu, biar berbisa perih dirabu Berlapis cemas menggunung sesal mutiara matanya yang pudar Bagi negriku, bermimpi dibawah bayangan burung garuda (Hukla 1979)

Dalam puisi ini, dapat diungkapkan rasa kagum penyair kepada sang proklamator. Ungkapan-ungkapan rasa kagum ini sangat mengena dan tidak bersifat klise. Kerinduan penyair untuk mendengarkan bara semangat yang ditiupkan lewat pidato-pidato yang berapi-api, dapat kita hayati sejak enam baris terakhir. c. Puisi Deskriptif Didepan telah dinyatakan bahwa dalam puisi deskriptif, penyair bertindak sebagai pemberi kesan terhadap keadaan / peristiwa, benda, atau suasana dipandang menarik perhatian penyair. Jenis puisi yang dapat diklasifikasikan dalam puisi deskriptif, misalnya puisi satire, kritik sosial, dan puisi-puisi impresionitik.

Satire adalah Puisi yang mengungkapkan perasaan tidak puas penyair terhadap suatu keadaan, namun dengan cara menyindir atau menyatakan keadaan sebaliknya. Kritik Sosial adalah Puisi yang juga menyatakan ketidak senangan terhadap keadaan tau terhadap diri seseorang, namun dengan cara membeberkan kepincangan atau ketidak beresan keadaan / orang tersebut. Impresionistik adalah Puisi yang mengungkapkan kesan (impresi) penyair terhadap suatu hal.

2. Puisi Kamar dan Puisi Auditorium Istilah puisi kamar dan puisi auditorium juga kita jumpai dalam buku kumpulan puisi Hukla karya Leon Agusta. Puisi-puisi auditorium disebut juga puisi Hukla (puisi yang mementingkan suara atau serangakaian suara). Puisi Kamar ialah Puisi yang cocok dibaca sendirian atau dengan satu atau dua pendengar saja di dalam kamar. Puisi Auditorium adalah Puisi yang cocok dibaca di auditorium, di mimbar yang jumlah pendengarnya dapat ratusan orang. Sajak-sajak Leon Agusta banyak yang dimaksudkan untuk sajak auditorium. Puisi-puisi Rendra kebanyakan adalah puisi auditorium yang baru memperlihatkan keindahannya setelah suaranya terdengar lewat pembacaan yang keras. Puisi auditorium disebut juga puisi oral karena cocok untuk dioralkan.

3. Puisi Fisikal, Platonik, dan Metafisikal Pembagian puisi oleh David Daiches ini berdasarkan sifat dari isi yang dikemukakan dalam puisi itu. Puisi Fisikal adalah Puisi bersifat realistis, artinya menggambarkan kenyataan apa adanya. Yang dilukiskan adalah kenyataan dan bukan gagasan. Hal-hal yang didengar, dilihat, atau dirasakan merupakan obyek

ciptaannya. Puisi-puisi naratif, balada, impresionistis, juga puisi dramatis biasanya merupakan puisi fisikal. Puisi Platonik adalah Puisi yang sepenuhnya berisi hal-hal yang bersifat spiritual atau kejiwaan. Dapat dibandingkan dengan istilah 'Cinta Platonis' yang berarti cinta tanpa nafsu jasmaniah. Puisi-puisi ide atau citacita, religius, ungkapan cinta luhur seorang kekasih atau orang tua kepada anaknya dapat dimasukkan ke dalam klasifikasi puisi platonik. Puisi Metafisikal adalah Puisi yang bersifat filosofis dan mengajak pembaca merenungkan kehidupan dan merenungkan Tuhan. Puisi religius disatu pihak dapat dinyatakan puisi platonic (menggambarkan ide atau gagasan penyair), dilain pihak dapat disebut sebagai puisi metafisik (menagjak pembaca merenungkan hidup, kehidupan, dan Tuhan), karyakarya mistik Hamzah Fansuri seperti Syair Dagang, Syair Perahu, dan Syair Si Burung Pingai dapat dipandang sebagai puisi metafisikal. Kasidah-kasidah Al-Barzanji karya Ja'far Al-Barzanji dan tasawuf karya Jalaludin Rumi dapat diklasifikasikan sebagai puisi metafisikal.

4. Puisi Subyektif dan Puisi Obyektif Puisi Subyektif disebut juga Puisi Personal, yakni puisi yang mengungkapkan gagasan, pikiran, perasaan, dan suasana dalam diri penyair sendiri. Puisi-puisi yang ditulis kaum ekspresionis dapat diklasifikasikan sebagai puisi subyektif, karena mengungkapkan keadaan jiwa penyair sendiri. Demikian pula puisi lirik dimana aku lirik bicara kepada pembaca. Puisi Obyektif berarti Puisi yang mengungkapkan hal-hal diluar diri penyair itu sendiri. Puisi obyektif disebut juga puisi impersonal. Puisi naratif dan deskriptif kebanyakan adalah puisi obyektif, meskipun juga ada beberapa yang subyektif.

5. Puisi Konkret Puisi konkret sangat terkenal dalam dunia perpuisian Indonesia sejak tahun 1770-an. X.J.Kennedy memberikan nama jenis puisi tertentu dengan nama puisi konkret, yakni puisi yang bersifat visual, yang dapat dihayati keindahan bentuk dari sudut pandang (poem for the eye). Kita mengenal adanya bentuk grafis dari puisi, kaligrafi, ideogramatik, atau puisi-puisi Sutardji Calzoum Bachri yang menunjukkan pengimajian lewat bentuk grafis. Dalam puisi konkret ini, tanda baca dan huruf-huruf sangat potensial membentuk gambar. Gambar wujud fisik yang 'kasat mata' lebih dipentingkan dari pada makna yang ingin disampaikan. Contoh dalam bahasa Inggris, misalnya karya Joice Klimer berikut ini : t ttt rrrrrrr eeeeeeeee ??? Kata yang hendak dinyatakan dalam puisi ini hanyalah 'tree', namun karena membentuk gambar pohon natal, maka pembaca mengetahui bahwa yang dimaksud penyair adalah pohon natal. Karya Sutardji banyak sekali yang dapat diklasifikasikan sebagai puisi konkret. Kemudian diikuti oleh penyair-penyair yang lebih muda. Puisi konkret ada yang berbentuk segi tiga, kerucut, belah ketupat, piala, tiang lingga, oval, spindle, ideografik, dan ada juga yang menunjukkan lambang tertentu.

6. Puisi Diafan, Gelap, dan Prismatis Puisi Diafan atau puisi polos adalah puisi yang kurang sekali menggunakan pengimajian, kata konkret dan bahasa figurative, sehingga puisinya mirip dengan bahasa sehari-hari. Puisi yang demikian akan sangat muda dihayati maknanya. Puisi-puisi anak-anak atau puisi karya mereka yang baru belajar menulis puisi dapat diklasifikasikan puisi diafan. Mereka belum mampu mengharmoniskan bentuk fisik untuk mengungkapkan

10

makna. Dengan demikian penyair tersebut tidak memiliki kepekaan yang tepat dalam takarannya untuk lambang, kiasan, majas, dan sebagainya. Jika puisi terlalu banyak majas, maka puisi itu menjadi gelap dan sukar ditafsirkan. Sebaliknya jika puisi itu kering akan majas dan versifikasi, maka itu akan menjadi puisi yang bersifat prosaic dan terlalu cerlang sehingga diklasifikasikan sebagai puisi diafan. Dalam puisi prismatis penyair mampu menyelaraskan kemampuan menciptakan majas, versifikasi, diksi, dan pengimajian sedemikian rupa sehingga pembaca tidak terlalu mudah menafsirkan makna puisinya, namun tidak terlalu gelap. Pembaca tetap dapat menelusuri makna puisi itu. Namun makna itu bagaikan sinar yang keluar dari prisma. Ada bermacam-macam makna yang muncul karena memang bahasa puisi bersifat multi interpretable. Puisi prismatis kaya akan makna, namun tidak gelap. Makna yang aneka ragam itu dapat ditelusuri pembaca. Jika pembaca mempunyai latar belakang pengetahuan tentang penyair dan kenyataan sejarah, maka pembaca akan lebih cepat dan tepat menafsirkan makna puisi tersebut. Penyair-penyair seperti Amir Hamzah dan Chairil Anwar dapat menciptakan puisi-puisi prismatis. Namun belum tentu semua puisi yang dihasilkan bersifat prismatis. Hanya dalam suasana mood seorang penyair besar mampu menciptakan puisi prismatis. Jika puisi itu diciptakan tanpa kekuatan pengucapan, maka niscaya tidak akan dapat dihasilkan puisi prismatis. Puisi-puisi dari orang yang baru belajar menjadi penyair biasanya adalah puisi diafan. Namun kadang-kadang juga kita jumpai puisi gelap.

7. Puisi Pernasian, dan Puisi Inspiratif Pernasian adalah sekelompok penyair Prancis pada pertengahan akhir abad 19 yang menunjukkan sifat puisi-puisi yang mengandung nilai keilmuan. Puisi pernasian diciptakan dengan pertimbangan ilmu atau pengetahuan dan bukan didasari oleh inspirasi karena adanya mood dalam jiwa penyair.

11

Puisi-puisi yang ditulis oleh ilmuwan yang kebetulan mampu menulis puisi, kebanyakan adalah puisi pernasian. Puisi-puisi Rendra dalam Potret Pembangunan dalam puisi yang banyak berlatar belakang teori ekonomi dan sosiologi dapat diklasifikasikan sebagai puisi pernasian. Demikian juga puisi-puisi Dr. Ir. Jujun S. Suriasumantri yang sarat dengan pertimbangan keilmuan. Puisi Inspiratif diciptakan berdasarkan mood atau passion. Penyair benar-benar masuk ke dalam suasana yang hendak dilukiskan. Suasana batin penyair benar-benar terlibat kedalam puisi itu. Dengan mood, puisi yang diciptakan akan memiliki tenaga gaib, sekali baca habis. Pembaca memerlukan waktu cukup untuk menafsirkan . puisi prosaic seperti karya penyair-penyair tahun 1970-an dibawah ini, termasuk puisi yang menggunakan bahasa pernassioan.

Karena Jajang Tuhan Saya minta duit Buat beli sugus Karena Jajang Lagi doyan sugus

8. Stansa Jenis puisi yang bernama stanza kita jumpai dalam Empat Kumpulan Sajak karya Rendra. Stanza artinya puisi yang tediri atas 8 baris. Stanza berbeda dengan oktaf karena oktaf dapat terdiri atas 16 atau 24 baris. Aturan pembarisan dalam oktaf adalah 8 baris untuk tiap bait, sedangkan dalam setanza seluruh puisi itu hanya terdiri atas 8 baris. Berikut ini dikutip contoh stanza yang ditulis sekitar tahun 1969.

12

Malam kelabu Ada angina mnerpa jendela Ada langit berwarna kelabu Hujan titik satu-Saturday menatap cakrawala malam jauh Masih adakah kuncup-kuncup mekar Atau semua telah layu Kelu dalam seribu janji Kelam dalam penantian. (Herwa, 1969)

9. Puisi Demonstrasi dan Pamflet Puisi demonstrasi menyaran pada puisi-puisi Taufiq Ismail dan mereka yang oleh Jassin disebut angkatan 66. puisi ini melukiskan dan merupakan hasil refleksi demonstrasi para maha siswa dan pelajar sekitar tahun 1966. Menurut subagio Sastrowardoyo, puisi-puisi demonstrasi 1966 bersifat kekita-an, artinya melukiskan perasaan kelompok, bukan perasaan individu. Puisi-puisi mereka adalah endapan dari pengalaman fisik, mental, dan emosional selama penyair terlibat dalam demonstrasi 1966. gaya paradoks dan ironi banyak kita jumpai. Sementara itu, kata-kata yang membakar semangat kelompok banyak dipergunakan, seperti kebenaran,

kamanusiaan, tirani, kebatilan, dan sebagainya. Di bawah ini dikemukakan salah satu contoh.

Mimbar Dari mimbar ini telah dibicarakan Pikiran-pikiran dunia Suara-suara kebebasan Tanpa ketakutan

Dari mimbar ini diputar lagi Sejarah kemanusiaan

13

Pengembangan teknologi Tanpa ketakutan

Di kampus ini Telah dipahatkan Kemerdekaan

Segala despot dan tirani Tidak bisa dirobohkan Mimbar kami (Taufiq Ismail, 1966)

Seperti halnya puisi pamflet, puisi-puisi demonstrasi merupakan ungkapan sepihak, sehingga kebenaran sulit ditrima secara obyektif. Pihak yang dibela diberikan tempat dan kedudukan yang terhormat dan serba benar, sedang pihak yang dikritik dilukiskan berada dalam posisi yang kurang simpatik. Puisi pamflet juga mengungkapkan protes social. Disebut puisi pamflet karena bahasanya adalah bahasa pamflet. Kata-katanya

mengungkapkan rasa tidak puaas kepada keadaan. Munculnya kata-kata yang berisi protes secara spontan tanpa proses pemikiran atau perenungan yang mendalam. Istilah-istilah gagah membela kelompoknya disertai dengan istilah tidak simpatik yang memojokkan pihak yang dikritik. Seperti halnya puisi demonstrasi, bahasa pusi pamflet juga bersifat prosaic. Rendra adalah tokoh puisi pamflet. Didepan telah diberikan salah satu contoh puisi pamflet Rendra yang berjudul "Sajak Burung Kondor". Kata-kata cukong, dan kondom dinyatakan bersam dengan kata-kata penderitaan, kelaparan, dan kesengsaraan rakyat kecil yang dibela. Dalam pusi-puisi pamflet banyak kita jumpai kata-kata tabu yang diungkapkan penyair untuk menunjukkan kedongkolan hati penyair kepada pihak yang

14

dikritik atau terhadap keadaan

yang tidak memuaskan dirinya.

Puisi pamflet Rendra kehilangan makna konotatif, suatu kehebatan Rendra dalam menciptakan puisi pada tahun 50-an. Kata-kata kasar, ungkapanungkapan langsung ke sasaran, dan hiperbola yang bertujuan memojokkan pihak yang dikritik banyak kita jumpai dalam puisi-puisi pamflet Rendra. Puisi-puisi pamflet Rendra ini mengingatkan kita akan puisi-puisi Jerman pada awal industrialisasi di sana. Puisi-puisi pamflet Rendra kebetulan merupakan reaksi terhadap industrialisasi yang berkembang pesat sekitar tahun 1974 (seperti halnya puisi pamflet Jerman). Berikut ini dikutip salah satu puisi pamflet Rendra

Menghirup sebatang lisong, Melihat Indonesia Raya, Mendengar 130 juta rakyat, Dan di langit Dua tiga cukong mengangkang, Berak diatas mereka . Delapan juta kanak-kanak Menghadapi satu jalan panjang, Tanpa pilihan, Tanpa pohonan Tanpa dangau persinggahan, Tanpa ada bayangan ujungnya .. Menghisap udara Yang disemprot deodorant, Aku melihat sarjana-sarjana menganggur Berpeluh di jalan raya; Aku melihat wanita bunting Antri uang pensiun

15

Dan di langit: Para teknokrat berkata : Bahwa bangsa kita adalah malas Bahwa bangsa mesti dibangun Mesti di up-grade, Disesuaikan dengan teknologi yang diimport. Bunga-bunga bangsa tahun depan Berkunang-kunang pandang matanya, Di bawah iklan berlampu neon. Berjuta-juta harapan ibu dan bapak Menjadai gembalau suara kacau, Menjadi karang di bawah muka samudra. Kita mesti berhenti membeli rumus-rumus asing. Diktat-diktat hanya boleh memberi metode Tetapi kita sendiri mesti merumuskan keadaan. Kita mesti keluar ke jalan raya, Keluar ke desa-desa, Mencatat sendiri semua gejala, Dan menghayati persoalan yang nyata. Inilah sajakku Pamflet masa darurat, Apakah arti kesenian, Bila terpisah dari derita lingkungan. Apakah artinya berpikir, Bila terpisah dari masalah kehidupan.

10. Alegori Puisi sering-sering mengungkapakan cerita yang isinya dimaksudkan untuk memberikan nasihat tentang budi pekerti dan agama. Jenis alegori yang terkenal adalah parable yang juga disebut dongeng perumpamaan.

16

Dalam kitab suci banyak kita jumpai dongeng-dongeng perumpamaan yang maknanya dapat kita cari dibalik yang tersurat. Puisi "Teratai" karya Sanusi Pane boleh dikatakn sebagai puisi alegori, karena kisah bunga teratai itu digunakan untuk mengisahkan tokoh pendidikan. Kisah tokoh pendidikan yang dilukiskan sebagai teratai itu digunakan untuk memberi nasihat kepada generasi muda agar mencontoh teladan 'teratai' itu. Cerita berbingkai seperti Panca Tantra, 1001 Malam, Bayan Budiman dan Hikayat Bachtiar juga dapat diklasifikasikan sebagai parable.

D. Pemahaman hakekat puisi Hakikat dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia berarti inti sari atau dasar, atau kenyataan yang sebenarnya. Sedangkan pengertian puisi dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia berarti ragam sastra yang bahasanya terikat oleh irama, matra, rima, serta penyusunan larik dan bait. Itu jika kita lihat pengertian dari setiap kata pada hakikat puisi. Selanjutnya, Pradopo menyatakan bahwa hakikat puisi bukan terletak pada bentuk formulanya meskipun bentuk formula itu penting. Hakikat puisi adalah apa yang menyebabkan puisi itu disebut puisi. Puisi baru (modern) tidak terikat pada bentuk formal, tetapi disebut puisi juga. Hal ini disebabkan di dalam puisi modern terkandung hakikat puisi ini, yang tidak berupa sajak (parsamaan bunyi), jumlah baris, ataupun jumlah kata pada tiap barisnya. Ada tiga aspek yang perlu diperhatikan untuk mengerti puisi itu sebagai hakikat puisi, diantaranya: a. Fungsi estetik Puisi adalah karya seni sastra. Puisi merupakan salah satu bentuk karya sastra. Rane Wellek dan Warren mengemukakan bahwa paling baik kita memandang kesusastraan sebagai karya yang di dalamnya fungsi estetikanya dominan, yaitu fungsi seninya yang berkuasa. Tanpa fungsi seni itu karya kebahasaan tidak dapat disebut karya (seni) sastra. Jadi pada akhirnya dalam penulisan puisi tidak sampai berkutat dan terikat pada pengertian puisi sajam melainkan pada fungsi puisi sebagai puisi hati.

17

b. Kepadatan Membuat puisi merupakan aktivitas pemadatan. Dalam puisi tidak sama peristiwa itu diceritakan. Yang dikemukakan dalam puisi hanyalah inti masalah, peristiwa, atau inti cerita. Yang dikemukakam dalam puisi adalah esensi sesuatu, hakikat. Jadi puisi itu merupakan ekspresi esensi. Karena puisi mampat dan padat, maka penyair memilih kata dengan akurat. Untuk pemadatan ini, kadang-kadang kata-kata yang hanya di ambil inti dasarnya. Imbuhan, awalan, dan akhiran sering dihilangkan.

c. Ekspresi yang tidak langsung Puisi itu sepanjang zaman selalu berubah. Dikemukakan oleh Riffateree bahwa sepanjang waktu, dari waktu ke waktu, puisi itu selalu berubah. Perubahan ini disebabkan oleh evolusi selera dan perubahan konsep estetik, dan hakikat puisi adalah jujur. Itu berarti menceritakan apa yang dialami, sedangkan apa yang dialami setiap orang dari masa ke masa, meskipun intinya sama yaitu manusia dan kemanusiaan namun cara pandanglah yang akhirnya mempengaruhi proses penulisan. Akan tetapi, satu hal yang tidak berubah yaitu mengucapkan sesuatu secara tidak langsung. Ucapan tidak langsung itu jalan menyatakan suatu hal dengan arti yang lain. Ketidaklangsungan ekspresi ini disebabkan oleh tiga hal, yaitu penggantian arti (displacing of meaning), penyimpangan atau pemencongan arti (distorting of meaning), dan Penciptaan arti (crating of meaning). Hal ini pulalah yang sering kali terciptanya citraan atau pengimajian dalam puisi.

E. Pemhaman metode puisi Dalam bahasa Inggris kata puisi ini adalah poetry yang erat hubungannya dengan kata poet yang berarti mencipta atau orang yang mencipta melalui

imajinasinya, dan kata poem. Salah satu maksud utama puisi pada umumnya adalah not to speak but to sing yang artinya bukan berbicara tetapi berdendang/bernyanyi. Menurut ahli Watts diantara puisi adalah ekspresi yang

18

konkrit dan yang bersifat artistk dari pikiran manusia dalam bahasa emosional dan berirama, sedangkan menurut Lescelles Abercrombie puisi adalah ekspresi dari pengalaman yang bersifat imajinatif/khayalan.

Hahekat Puisi Seorang kritikus sastra yang terkenal LA Richard, bahwa puisi mengandung suatu makna keseluruhan yang merupakan perpaduan dari tema (mengenai inti pokok puisi tsb), perasaan (sikap sang penyair terhadap bahan atau obyeknya), nada (sikap sang penyair terhadap pembaca /penikmatnya), dan amanat ( maksud atau tujuan sang penyair). Sehingga dapat kita simpulkan semua itu disebut dengan hakekat puisi yang bersifat catur tunggal. Dalam puisi haruslah terdapat subject matter untuk dikemukakan atau ditonjolkan antara lain yaitu : falsafah hidup, lingkungan, agama, pekerjaan, dan pendidikan sang penyair.

Lahirnya Sebuah Puisi Dalam penciptaan puisi ini Stephen Spender mengemukakan suatu pendapat tentang unsur-unsur yang diperlukan dalam menciptakan sebuah puisi. Pendapatnya tersebut ditulis dalam makalahnya The Making of a Poem yang mula-mula dimuat dalam Partisan Review. Isinya antara lain : 1. Konsentrasi (terdiri atas konsentrasi langsung yang sempurna, dan konsentrasi lamban yang disempurnakan secara lambat). 2. Inspirasi (ilham dan bisikan). 3. Kenangan (memory). 4. Keyakinan (faith) 5. Lagu (song). Hakikat dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia berarti inti sari atau dasar, atau kenyataan yang sebenarnya. Sedangkan pengertian puisi dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia berarti ragam sastra yang bahasanya terikat oleh irama, matra, rima, serta penyusunan larik dan bait. Itu jika
19

kita lihat pengertian dari setiap kata pada hakikat puisi. Selanjutnya, Pradopo menyatakan bahwa hakikat puisi bukan terletak pada bentuk formulanya meskipun bentuk formula itu penting. Hakikat puisi adalah apa yang menyebabkan puisi itu disebut puisi. Puisi baru (modern) tidak terikat pada bentuk formal, tetapi disebut puisi juga. Hal ini disebabkan di dalam puisi modern

20

BAB III PENUTUP

A. Kesimpulan 1. Secara etimologis, kata puisi dalam bahasa Yunani berasal dari poesis yang artinya berati penciptaan. Dalam bahasa Inggris, padanan kata puisi ini adalah poetry yang erat dengan poet dan -poem. Mengenai kata poet, Coulter (dalam Tarigan, 1986:4) menjelaskan bahwa kata poet berasal dari Yunani yang berarti membuat atau mencipta. 2. Membaca puisi bukan sekedar menyampaikan arus pemikiran penyair, tapi kita juga harus menghadirkan jiwa sang penyair. Kita harus menyelami dan memahami proses kreatif sang penyair, bagaimana ia dapat melahirkan karya puisi. 3. Teknik Pembacaan Puisi. Interpretasi (penafsiran/pemahaman makna puisi) Vocal Diksi Tempo Dinamika Modulasi Intonasi Jeda Pernafasan. Penampilan Gerak Komunikasi Ekspresi Konsentrasi

21

B. Saran 1. Hendaknya pihak sekolah memberikan bimbingan (kurikulum) kepada siswa yang memiliki potensial di bidang fisika instrument. 2. Hendaknya pihak sekolah mengadakan lomba karya tulis ilmih, agar para penuis puisi akan lebih kompetitif.

22

DAFTAR PUSTAKA

http://definisi.net/story.php?title=puisi http://abdurrosyid.wordpress.com/2009/07/27/puisi-pengertian-dan-unsurunsurnya/ http://duniapuisi.110mb.com/jenis-jenis%20puisi.htm http://www.kapasitor.net/community/post/2920 http://duniapuisi.110mb.com/teknik%20pembuatan%20puisi.htm http://duniapuisi.110mb.com/teknik%20pembacaan%20puisi.htm

23