Anda di halaman 1dari 15

Laporan Praktikum Elektronika 1

Nama NPM Program Studi No. Kel No. Modul Nama Percobaan Tanggal Percobaan : Reza Aditya : 0906530131 : Fisika : 05 : Enam : Aplikasi Transistor : 22 Maret 2010

FMIPA Universitas Indonesia


APLIKASI TRANSISTOR

A. TUJUAN 1. Mampu mempelajari aplikasi transistor 2. Mampu menerapkan rangkaian dasar transistor B. TEORI 1. Transistor sebagai penguat Transistor sering digunakan sebagai penguat paling dasar. R1 dan R3 digunakan untuk memberikan tegangan basis pada transistor dan menentukan titik tengah operasi transistor. Nilai R4 digunakan untuk mengatur daerah arus bagi transistor dan R2 berpengaruh pada penguatan transistor.

Gambar 6.1. Rangkaian Dasar Penguat Transistor

Gambar 6.2. Rangkaian Penguat Arus

Jenis penguat dibedakan berdasarkan kelas A, B dan C dan berdasarkan perbedaan input yang digunakan penguat diferensial. Pada kelas A, transistor bekerja pada daerah aktif setiap waktunya sehingga arus kolektor mengalir untuk 360 dari sirkulasi AC. Dengan penguatan kelas A, pembuat rangkaian akan mencoba untuk menempatkan Q point didekat dengan garis beban. Dengan cara ini, sinyal dapat bergelombang secara maksimum tanpa danya saturasi atau cut off pada transistor, yang akan mengganggu sinyal.

Pada kelas B, berbeda dengan kelas A karena arus kolektor mengalir untuk 180 dari sirkulasi ac. Untuk mendapatkan operasi kelas B, pembuat rangkaian menempatkan Q point pada posisi cut off. Kemudian, hanya pada setengah positif dari tegangan basis ac dapat menghasilkan arus kolektor. Akibatnya mengurangi panas yang terbuang pada tenaga transistor. Pada kelas C, arus kolektor mengalir kurang dari 180 dari sirkulasi AC. Dengan operasi kelas C, hanya bagian setengah positif dari tegangan basis AC dapat menghasilkan arus kolektor. Transistor berdasarkan tipe couplingnya dibagi berdasarkan capacitive coupling, transformer coupling, dan direct coupling. Capacitive coupling akan meneruskan penguatan voltase ke stage berikutnya dalam rangkaian penguat. Rangkaian capacitive coupling dapat dilihat pada gambar (a). Transformer coupling akan meneruskan penguatan voltase ke stage berikutnya namun dengan menggunakan transformer. Rangkaian transformer coupling dapat dilihat dari gambar (b). Sedangkan untuk direct coupling seperti yang terlihat pada gambar (c) akan ada hubungan langsung antara collector dari transistor pertama dan base dari transistor kedua. Direct coupling sering juga disebut sebagai DC amplifier. Transistor berdasarkan jangkauan frequensi dapat dibagi menjadi narrowband dan wideband. Transistor dengan narrowband hanya dapat beroperasi pada jangkauan frekuensi yang sempit. Sedangkan transistor dengan wideband dapat beroperasi pada jangkauan frequensi yang lebar. Sekarang akan dijelaskan bagaimana didapatkan penguatan voltase pada transistor. R1 dan R3 digunakan sebagai pembagi tegangan kepada base transistor. Tegangan tersebut melewati transistor dan menyebabkan arus pada emitter. Karena arus emitter dengan pendekatan pertama nilainya sama dengan arus collector, maka kita akan mendapat arus collector yang sama dengan arus emitter. Setelah itu R2 digunakan sebagai penentu dalam peguatan transistor. Rangkaian transistor sebagai penguat dapat dilihat pada gambar 6.1.

Gambar (a). Rangkaian Capacitive Coupling

Gambar (b). Rangkaian Transformer Coupling

Gambar (c). Rangkaian Direct Coupling 1. Transistor sbagai sumber arus Transistor dapat digunakan sebagai sumber arus. Pada gambar 6.2 terdapat gambar transisitor sebagai sumber arus. Kita dapat mengukur arus Ic pada ampre meter yang dipasang seri pada LED. 2. Transistor sebagai saklar

pada bagian ini transistor digunakan sebagai saklar. R3 dapat berupa LDR atau sensor lain yang nilai hambatannya berubah sesuai dengan besaran tertentu. Jika R3 nilainya berkurang hingga menyebabkan Q1 aktif maka beban tidak mendapat tegangan yang cukup. Jika nilai R4 bertambah sehingga basis Q1 mendapat tegangan yang cukup untuk menyebabkan Q1 saturasi maka beban akan mendapat arus sehingga saklar ON. 3. Cermin Arus aplikasi lain dari transistor sebagai cermin arus, dimana kita dapat memiliki dua sumber arus yang sama. Arus pada R1, Q1 dan R2 dapat dapat dijadikan sebagai arus referensi bagi beban RL dengan nilai yang sama dan tidak dipengaruhi oleh beban. Dengan kata lain kita memiliki metode lain guna mendapatkan sumber arus yang tidak dipengaruhi hambatan beban.

Aplikasi Lain Transistor


Untuk lebih memahami keuntungan dari tipe peralihan, kita lihat kembali prinsip pengubahan daya DC-DC tipe linier seperti terlihat pada Gambar 1.

Gambar 1. Pengubah tipe linier Pada tipe linier, pengaturan tegangan keluaran dicapai dengan menyesuaikan arus pada beban yang besarannya tergantung dari besar arus pada base-nya transistor:

V0 = IL . RL (1)
Dengan demikian pada tipe linier, fungsi transistor menyerupai tahanan yang dapat diubah ubah besarannya seperti yang juga terlihat dalam Gambar 1. Lebih jauh lagi, transistor yang digunakan hanya dapat dioperasikan pada batasan liniernya (linear

region) dan tidak melebihi batasan cutoff dan selebihnya (saturation region). Maka dari itu tipe ini dikenal dengan tipe linier. Walau tipe linier merupakan cara termudah untuk mencapai tegangan keluaran yang bervariasi, namun kurang diminati pada aplikasi daya karena tingginya daya yang hilang (power loss) pada transistor (VCE*IL) sehingga berakibat rendahnya efisiensi. Sebagai alternatif, maka muncul tipe peralihan yang pada prinsipnya dapat dilihat pada Gambar 2.

Gambar 2. Pengubah tipe peralihan Pada tipe peralihan, terlihat fungsi transistor sebagai electronic switch yang dapat dibuka (off) dan ditutup (on). Dengan asumsi bahwa switch tersebut ideal, jika switch ditutup maka tegangan keluaran akan sama dengan tegangan masukan, sedangkan jika switch dibuka maka tegangan keluaran akan menjadi nol. Dengan demikian tegangan keluaran yang dihasilkan akan berbentuk pulsa seperti pada Gambar3.

Gambar 3. Tegangan keluaran Besaran rata rata atau komponen DC dari tegangan keluaran dapat diturunkan dari persamaan berikut:

(2) Dari persamaan diatas terlihat bahwa tegangan keluaran DC dapat diatur besarannya dengan menyesuaikan parameter D. Parameter D dikenal sebagai Duty ratio yaitu rasio antara lamanya waktu switch ditutup (ton) dengan perioda T dari pulsa tegangan keluaran, atau (lihat Gambar 3):

(3) dengan 0 D 1. Parameter f adalah frekuensi peralihan (switching frequency) yang digunakan dalam mengoperasikan switch. Berbeda dengan tipe linier, pada tipe peralihan tidak ada daya yang diserap pada transistor sebagai switch. Ini dimungkinkan karena pada waktu switch ditutup tidak ada tegangan yang jatuh pada transistor, sedangkan pada waktu switch dibuka, tidak ada arus listrik mengalir. Ini berarti semua daya terserap pada beban, sehingga efisiensi daya menjadi 100%. Namun perlu diingat pada prakteknya, tidak ada switch yang ideal, sehingga akan tetap ada daya yang hilang sekecil apapun pada komponen switch dan efisiensinya walaupun sangat tinggi, tidak akan pernah mencapai 100% C. Komponen 1. Transistor 2. Resistor 3. LDR 4. LED 5. Protoboard 6. Catudaya 7. Multimeter 8. Osiloskop D. Prosedur Percobaan 1. Transistor sebagai penguat

a. Menyusunl rangkaian pada gambar 6.1, dengan seperti pada komponen yang telah dilakukan pada Laporan Pendahuluan. b. Memberikan Vin sebesar 10 mVpp, mencatat Vin dan Vout, serta fase msing-masing tegangan. c. Menaikan Vin sampai 100 mVpp dengan interval kenaikan 20 mVpp. Mencatat nilai Vin dan Vout serta fase masing-masing tegangan. 2. Transistor sebagai penguat arus a. Menyusunl rangkaian pada gambar 6.2, dengan seperti pada komponen yang telah dilakukan pada Laporan Pendahuluan. b. Memberikan Vbb sebesar 0 volt, menaikan sebesar 1 sampai 12 volt, mencatat arus yang mengalir pada masing-masing tegangan Vbb. 3. Transistot sebagai saklar a. Menyusunl rangkaian pada gambar 6.3, dengan seperti pada komponen yang telah dilakukan pada Laporan Pendahuluan. b. Menghalangi cahaya yang jatuh pada LDR, kemudian mengukur Ic dan Vce c. Membuka penghalang cahaya pada LDR, kemudian mengukur Ic dan Vce d. 4. Transistor sebagai Cermin Arus a. Menyusunl rangkaian pada gambar 6.4, dengan seperti pada komponen yang telah dilakukan pada Laporan Pendahuluan. b. Mengukur arus yang mengalir pada R1, R1, R3 dan RL. E. Tugas Pendahuluan 1. Perhatikan gambar 6.1. Dengan mengatur nilai R1-R4. Desainlah rangkaian penguat dimana Vout = 100 Vin. Kemudian tentukan tegangan dan arus pada rangkaian tersebut! 2. Perhatikan gambar 6.2. Dengan mengatur nilai R1, R2, R3, Vcc dan Vbb. Desainlah rangkaian penguat arus. Kemudian tentukan tegangan dan arus pada rangkaian tersebut!

3. Perhatikan gambar 6.3. Desainlah suatu rangkaian sensor cahaya: ada cahaya LED mati, tidak ada cahaya LED menyala, dengan mengatur nilai R1, R2, dan R3. Jelaskan cara kerja rangkaian! Kemudian tentukan tegangan dan arus pada rangkaian tersebut! 4. Perhatikan gambar 6.4. Dengan mengatur nilai R1, R2, R3, RL dan Vcc. Desainlah rangkaian cermin arus. Kemudian tentukan tegangan dan arus pada rangkaian tersebut! A. TUGAS PENDAHULUAN 1. Vout = 100 Vin TEGANGAN PADA 10 Vin PADA 10 Vin ARUS

V pada 20 Vin Vin

Arus pada 20

V pada 40 Vin Vin

Arus pada 40

V pada 60 Vin Vin

Arus pada 60

V pada 80 Vin Vin

Arus pada 80

V pada 100 Vin pada 100 Vin

Arus

2.

Rangkaian penguat arus

3.

Transistor sebagai saklar

4.

Cermin Arus