Anda di halaman 1dari 16

DISCOVERY INQUIRY

OLEH KELOMPOK 10 : MISRAI FARAUK ROIS AMRULLAH A. BRILIAN AKBAR K.P. (100210103057) (100210103056) (100210103084)

NURIS AULIA D.R. (100210103033) APRIS WAHYU S. (100210103077)

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BIOLOGI FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS JEMBER 2011

DISCOVERY - INQUIRY

A.

Teori Mengajar Mencari dan Menemukan ( Discovery - Inquiry )

Teori mengajar yang telah banyak dipandang dalam proses belajar untuk mampu mencari dan menemukan informasi belajar baru untuk menyelesaikan masalah yang dihadapi anak, maka sudah tidak anak asing disebut dengan Discover-Inquiry. Kaitannya dengan mengajar maka pada dasarnya dapat dikatakan sebagai teori mengajar sebagaimana di nyatakan oleh Richard Schuman ( 1962 ), bahwa teori mengajar DiscoveryInquiry adalah teori mengajar yang dikembangkan berdasarkan pemikiran bahwa siswa memiliki kemampuan untuk percaya pada diri sendiri dengan cara berpikir dan belajar sendiri sehingga Ia mampu menemukan jawaban dan analisisnya sendiri hingga pada akhirnya sendiri mampu menjelaskan hasil belajarnya sendiri. Dalam mempraktekkan teori mengajar ini maka seorang guru mampu mendekati, mengenali, menggali dan mengembangkan potensi anak. Berdasarkan pemikiran maka teori mengajar DiscoveryInquiry akan lebih bermanfaat dan efektif untuk memberikan kesempatan kepada kita agar bisa mandiri dalam belajar dan berfikir tentang sesuatu hingga mereka memiliki pemahaman berdasarkan pola dan proses belajar yang Ia alami sendiri. Dalam sIstem belajar-mengajar ini, guru menyajikan bahan pelajaran yang tidak dalam bentuknya yang final. Siswalah yang diberikan kesempatan untuk mencari dan menemukannnya sendiri dengan menggunakan teknik pendekatan pemecahan masalah. Secara garis besar prosedurnya yaitu stimulasi-perumusan masalah-pengumpulan dataanalisis data-verifikasi-generalisasi.

Sistem belajar mengajar seperti ini dikembangkan oleh Bruner. Pendekatan belajar ini sangat cocok untuk materi pelajaran yang bersifat kognitif. Mengenai penggunaan istilah discovery dan inquiry para ahli terbagi kedalam dua pendapat:
1.

Istilah-istilah discovery dan inquiry dapat diartikan dengan maksud yang sama dan digunakan saling bergantian atau keduanya sekaligus.

2.

Istilah discovery, sekalipun secara umum menunjuk kepada pengertian yang sama dengan inquiry, pada hakikatnya mengandung perbedaan dengan inquiry. Berikut akan dijelaskan perbedaan antara discovery dan dan inquiry yang lebih mendetail.

B.

DISCOVERY(PENEMUAN)

Teknik penemuan adalah terjemahan dari Discovery. Menurut Sund discovery adalah proses mental dimana siswa mampu mengasimilasikan suatu konsep atau prinsip. Yang dimaksud dengan proses mental tersebut antara lain ialah: mengmati, mencerna, mengerti, menggolong-golonkan, membuat dugaan mengukur, membuat kesimpulan dan sebagainya. Suatu konsep: Misalnya segitiga, panas, demokrasi, dan sebagainya. Sedangkan yang dimaksud dengan prinsip antara lain ialah: logam apabila dipanaskan akan mengembang. Dalam teknik ini siswa dibiarkan menemukan sendiri atau mengalami proses mental itu sendiri., guru hanya membimbing dan memberikan instruksi.

Selanjutnya Sund mengatakan bahwa penggunaan discovery dalam batas-batas tertentu adalah baik untuk kelas-kelas rendah, sedangkan inquiry adalah baik untuk siswa-siswa di kelas yang lebih tinggi. DR. J. Richard Suchman mencoba mengalihkan kegiatan belajar-mengajar dari situasi yang didominasi. guru ke situasi yang melibatkan

siswa dalam proses mental melalui tukar pendapat yang berwujud diskusi, seminar dan sebagainya. Salah satu bentuknya disebut Guided Discovery Lesson, (pelajaran dengan penemuan terpimpin) yang langkah-langkahnya sebagai berikut:

1. Adanya problema yang akan dipecahkan, yang dinyatakan dengan pernyataan atau pertanyaan. 2. Jelas tingkat/kelasnya (dinyatakan dengan jelas tingkat siswa yang akan diberi pelajaran, misalnya SMP kelas III). 3. Konsep atau prinsip yang harus ditemukan siswa melalui keglatan tersebut perlu ditulis dengan jelas. 4. Alat/bahan perlu disediakan sesuai dengan kebutuhan siswa dalam melaksanakan kegiatan 5. Diskusi sebagai pengarahan sebelum siswa melaksanakan kegiatan. 6. Kegiatan metode penemuan oleh siswa berupa penyelidikan/percobaan untuk menemukan konsep-konsep atau prinsip-prinsip yang telah ditetapkan 7. Proses berpikir kritis perlu dijelaskan untuk menunjukkan adanya mental operasional siswa, yang diharapkan dalam kegiatan. 8. Perlu dikembangkan pertanyaan-pertanyaan yang bersifat terbuka, yang mengarah pada kegiatan yang dilakukan siswa. 9. Ada catatan guru yang meliputi penjelasan tentang hal-hal yang sulit dan faktorfaktor yang dapat mempengaruhi hasil terutama kalau penyelidikan mengalami kegagalan atau tak berjalan Sebagaimana mestinya.

Dr. J. Richard dan asistennya mencoba self-learning siswa (belajar sendiri) itu, sehingga situasi belajar mengajar berpindah dari situasi teacher dominated learning menjadi situasi student dominated learning. Dengan menggunakan Discovery learning ialah suatu cara mengajar yang melibatkan siswa dalam proses kegiatan mental melalui tukar pendapat, dengan diskusi, seminar, membaca sendiri dan mencoba sendiri, agar anak dapat belajar sendiri. Penggunaan teknik Discovery ini guru berusaha meningkatkan aktivitas siswa dalam proses belajar mengajar. Maka teknik ini memiliki keunggulan sebagai berikut:

Teknik ini mampu membantu siswa untuk mengembangkan; memperbanyak

kesiapan; serta penguasaan ketrampilan dalam proses kognitif/pengenalan siswa.


Siswa memperoleh pengetahuan yang bersifat sangat pribadi sehinga sangat

mendalam tertinggal dalam jiwa siswa tersebut Dapat membangkitkan kegairahan belajar para siswa.
Teknik ini mampu memberikan kepada siswa untuk berkembang dan maju

sesuai dengan kemampuannya masing-masing. Mampu mengarahkan cara siswa belajar, sehingga lebih memiliki motivasi yang kuat untuk belajar lebih giat.
Membantu siswa untuk memperkuat dan menambah kepercayaan pada diri

sediri dengan proses penemuan sendiri. Strategi itu berpusat pada siswa tidak pada guru. Guru hanya sebagai teman belajar saja ;membantu bila diperlukan.

Walaupun demikian baiknya tehnik ini masih ada pula kelemahan yang perlu diperhatikan ialah :

Pada siswa harus ada kesiapan dan kematangan mental untuk cara

belajar ini. Siswa harus berani dan berkeinginan untuk mengetahui keadaan sekitarnya dengan baik.

Bila kelas terlau besar penggunkan tehnik ini akan kurang berhasil. Bagi guru dan sisiwa yang sudah biasa dengan perencanaan dan

pengajaran tradisional mugkin aka sangat kecewa bila di ganti dengan tehnik penemuan. terlalu Dengan tehnik ini ada yang berpendapat bahwa proses mental ini mementingkan proses pengertian saja, kurang

memperhatikanperkembangan/pembentukan sikap dan keterampilan bagi siswa. Tehnik ini mungkin tidak memberikan kesempatan untuk berpikir

secara kreatif.

C.

INQURY

Salah satu metode pembelajaran dalam bidang Sains, yang sampai sekarang masih tetap dianggap sebagai metode yang cukup efektif adalah metode inquiry. David L. Haury dalam artikelnya, Teaching Science Through Inquiry (1993) mengutip definisi yang diberikan oleh Alfred Novak: inquiry merupakan tingkah laku yang terlibat dalam usaha manusia untuk menjelaskan secara rasional fenomena-fenomena yang memancing rasa ingin tahu. Dengan kata lain, inquiry berkaitan dengan aktivitas

dan keterampilan aktif yang fokus pada pencarian pengetahuan atau pemahaman untuk memuaskan rasa ingin tahu (Haury, 1993). Sebagai tambahan pada proses-proses discovery, inquiry mengandung prosesproses mental yang lebih tinggi tingkatannya, misalnya merumuskan problema sendiri, merancang eksperimen, melakukan eksperimen, mengumpulkan dan menganalisis data, menarik kesimpulan, mempunyai sikap-sikap obyektif, jujur, hasrat ingin tahu, terbuka, dan sebagainya. Metode inquiry merupakan metode pembelajaran yang berupaya menanamkan dasar-dasar berfikir ilmiah pada diri siswa, sehingga dalam proses pembelajaran ini siswa lebih banyak belajar sendiri, mengembangkan kreativitas dalam memecahkan masalah. Siswa benar-benar ditempatkan sebagai subjek yang belajar. Peranan guru dalam pembelajaran dengan metode inquiry adalah sebagai pembimbing dan fasilitator. Tugas guru adalah memilih masalah yang perlu disampaikan kepada kelas untuk dipecahkan. Namun dimungkinkan juga bahwa masalah yang akan dipecahkan dipilih oleh siswa. Tugas guru selanjutnya adalah menyediakan sumber belajar bagi siswa dalam rangka memecahkan masalah. Bimbingan dan pengawasan guru masih diperlukan, tetapi intervensi terhadap kegiatan siswa dalam pemecahan masalah harus dikurangi (Sagala, 2004). Walaupun dalam praktiknya aplikasi metode pembelajaran inquiry sangat beragam, tergantung pada situasi dan kondisi sekolah, namun dapat disebutkan bahwa pembelajaran dengan metode inquiry memiliki 5 komponen yang umum yaitu Question, Student Engangement, Cooperative Interaction, Performance Evaluation, dan Variety of Resources (Garton, 2005). Question. Pembelajaran biasanya dimulai dengan sebuah pertanyaan pembuka yang memancing rasa ingin tahu siswa dan atau kekaguman siswa akan suatu fenomena. Siswa diberi kesempatan untuk bertanya, yang dimaksudkan sebagai pengarah ke pertanyaan inti yang akan dipecahkan oleh siswa. Selanjutnya, guru

menyampaikan pertanyaan inti atau masalah inti yang harus dipecahkan oleh siswa. Untuk menjawab pertanyaan ini sesuai dengan Taxonomy Bloom siswa dituntut untuk melakukan beberapa langkah seperti evaluasi, sintesis, dan analisis. Student Engangement. Dalam metode inquiry, keterlibatan aktif siswa merupakan suatu keharusan sedangkan peran guru adalah sebagai fasilitator. Siswa bukan secara pasif menuliskan jawaban pertanyaan pada kolom isian atau menjawab soal-soal pada akhir bab sebuah buku, melainkan dituntut terlibat dalam menciptakan sebuah produk yang menunjukkan pemahaman siswa terhadap konsep yang dipelajari atau dalam melakukan sebuah investigasi. Cooperative Interaction. Siswa diminta untuk berkomunikasi, bekerja berpasangan atau dalam kelompok, dan mendiskusikan berbagai gagasan. Dalam hal ini, siswa bukan sedang berkompetisi. Jawaban dari permasalahan yang diajukan guru dapat muncul dalam berbagai bentuk, dan mungkin saja semua jawaban benar. Performance Evaluation. Dalam menjawab permasalahan, biasanya siswa diminta untuk membuat sebuah produk yang dapat menggambarkan pengetahuannya mengenai permasalahan yang sedang dipecahkan. Bentuk produk ini dapat berupa slide presentasi, grafik, poster, karangan, dan lain-lain. Melalui produk-produk ini guru melakukan evaluasi. Adapun pelakksanaannya sebagai berikut : guru memberi tugas meneliti sesuatu masalah ke kelas. Siswa dibagi menjadi beberapa kelompok, dan masing-masing kelompok mendapat tugas tertentu yang harus di kerjakan. Kemudian mereka mempelajari, meneliti atau membahas tugasnya di dalam kelompok. Setelah hasil kerja mereka dalam kelompok didiskusikan, kemudian dibuat laporan yang tersusun dengan baik. Akhirnya hasil laporan kerja kelompok dilaporkan ke siding pleno, dan terjadilah diskusi secara luas. Dari sidang plenolah kesimpulan akan dirumuskan

sebagai kelanjutan hasil kerja kelompok. Dan kesimpulan yang terakhir bila masih ada tindak lanjut yang harus dilaksanakan; hal itu perlu di perhatikan. Tehnik ini dapat juga berjalan sebagai berikut : guru menunjukkan sesuatu benda/barang/buku yang masih asing kepada siswa di kelas. Semua siswa disuruh mengamati, meraba, melihatdengan seluruh alat indranya. Kemudian guru memberikan maslah/pertanyaan kepada seluruh siswa-siswa yang sudah siap dengan jawaban/pendapat, maka ia akan mendapat giliran mengemukakan pendapatnya. Jawaban/pendapat, yang sudah di kemukakan temannya terdahulu, tidak boleh diulang oleh temannnya kemudian. Jadi masalah itu berkembang seperti yang diarahkan; tidak menyeleweng pada garis pelajaran yang telah di rencanakan. Murid menemukan banyak masukkan baru (bahan-bahan) yang berarti. Hal itu bisa terjadi bila prosesinteraksi belajar mengajar bila ada arah perubahan dari teacher centered kepda student centered. Adapun tehnik inquiry ini memiliki keunggulan yang dapat di kemukakan sebagai berikut:
1)

Dapat membentuk dan mengembangkan sel-consept pada diri siswa, sehingga siswa dapat mengerti tentang konsep dasar dan ide-ide lebih baik.

2)

Membantu dalam menggunkan ingatan dan transfer pada situasi proses belajar yang baru.

3)

Mendorong siswa untuk berpikir dan bekerja atas inisiatif sendiri, bersikap oyektif, jujur dan terbuka.

4) 5) 6) 7)

Mendorong siswa untuk berfikir intuitif dan merumuskan hipotesisnya sendiri. Memberi kepuasan yang bersifat intrinsik. Situasi proses belajar menadi lebih merangsang. Dapat mengembankan bakat atau kecakapan individu.

8)

Siswa apat menghindari siswa dari cara-cara belajar yang tradisional.

Dalam proses belaajar siswa memerlukan waktu untk menggunakan daya otaknya untuk berpikir dan memperoleh pengertian tentang konsep, prinsip dan tehnik menyelidiki masalah. Untuk meningkatkan teknik inquiry dapat ditimbulkan dengan kegitan-kegiatan sebagai berikut:

1). Membimbing kegiatan laboratorium. Maksudnya Guru menyediakan petunjuk yang cukup luas kepada siswa, dan sebagian besar perencanaanya dibuat oleh guru. Dimana siswa melakukan kegiatan percobaan/penyelidikan untuk menemukan konsep-konsep atau prinsip-prinsip yang telah di tetapkan guru.

2). Modifikasi inquiry. Dalam hal ini guru hanya menyediakan masalah-masalah,dan menyediakan bahan/alat yang diperlukan untuk memecahkan masalah secara perseorangan maupun kelompok. Bantuan yang bisa diberikan harus berupa pertanyaan-pertanyaan yang memungkinkan siswa dapat berpikir dan menemukan caracara penelitian yang tepat.

3). Kebebasan inquiry. Setelah siswa mempelajari dan mengerti bagaimana memecahkan suatu problema atau memperoleh pengetahuan cukup tentang mata pelajaran tertentu; serta telah melakukan modifikasi inquiry, maka siswa telah siap untuk melakukan kegiatan inquiry. Diman guru dapat mengundang siswa untuk melibatkan diri daam kegiatankebebasan inquiry, dari siswa dapat mengidentifikasi dan merumuskan macam-macam masalah yang akan dipelajari.

4). Inquiry pendekatan peranan . Siswa dilibatkan dalam proses pemecahan masalah yang cara-caranya serupa dengan cara-cara yang biasanya dikuti oleh para ilmiawan. Suatu undanagn memberikan suatu masalah kepada siswa, dan dengan pertnyaan yang telah direncanakan dengan teliti, mengundang siswa untuk melakukan beberapa kegiatan seperti: merancang eksperimen, menemukan hipotesa, menetapkan pengawasan dan seterusnya.

5). Mengundang kedalam inquiry. Merupakn kegiatan proses belajar yang melibatka siswa dalam tim-tim yang masing-masing terdiri dari 4 anggota untuk memecahkan masalah, masing-masing anngota diberi tugas untuk memecahkan maslah, masingmasing diberi tugas suatu peranan yang berbeda-beda seperti : coordinator tim, penasihat teknis, merekam data, proses penilaian. Anggota tim menggambarkan peranan-eranan diatas, berkerjasama untuk memecahkan masalah-masalah yang berkaitan dengan topic yang akan dipelajari.

6). Teka-teki bergambar. Merupakan salah satu tehnik untuk mengembangkan motivasi dan perhatian siswa di dalam diskusi kelompok kecil/besar. Gambar, peragaan atau situasi yang sesungguhnya dapat digunakn untuk meningkatkan cara berpikir kritis dan kreatif siswa.

7). Synetics lesson. Pendekatan ini untuk menstimulir bakat-bakat kreatif siswa. Misalnya science dan ilmu-ilmu sastra lebih lanjut di-katakan bahwa emosi, efektif, dan komponen-komponen arasional kreatif pada permulaannya adalah lebih penting dibanding dengan pikiran-pikiran rasional. Pada dasarnyasynetics memusatkan pada

keterlibatan siswa unutk membuat berbagai macam bentuk kiasan agar supaya dapat membuka intelegensinya dan mengembangkan daya kreatifitasnya. Hal itu dapat dilaksanakan karena kiasan yang membantu dalam melepaskan menunjang timbulnya ide-ide kreatif. 8). Kejelasan nilai-nilai. Perlu diadakan evaluasi lebih lanjut tentang keuntungankeuntungan pendekatan ini, terutama yang menyangkut sikap, nilai-nilai dan pembentukanself-concept siswa. Ternyata dengan tehnik inquiry siswa melakukan tgas-tugas kognitif lebih baik. ikatan struktur mental yang melekat kuat dalam memandang suatu masalah sehingga dapat

Agar tehnik ini dapat dilaksaakan dengan baik memerlukan kondisi-kondisi sebagai berikut: 1. Kondisi yang fleksibel, bebas untuk berinteraksi. 2. Kondisi lingkungan yang responsive. 3. Kondisi yang memudahkan untuk memusatkan perhatian. 4. Kondisi yang bebas dari tekanan.

Dalam tehnik inquiry guru berperan untuk: 1. Menstimulir dan menantang siswa untuk berpikir. 2. Memberikan fleksibilitas atau kebebasan untuk berinisiatif dan bertindak. 3. Memberikan dukungan untukinquiry. 4. Menentukan diagnose kesulitan-kesulitan siswa dan membantu mengatasinya.

5. Mengidentifikasi dan menggunakan teach able momentsebaik-baiknya.

Hal-hal yang perlu distimuir dalam proses belajar melaluiinquiry: 1. Otonomi siswa. 2. Kebebasan dan dukungan pada siswa. 3. Sikap keterbukaan 4. Percaya pada diri sendiri dan kesadaran kan harga diri. 5. Self-concept. 6. Pengalaman inquiry, terlibat dalam masalah-masalah

D.

KESIMPULAN

Dari pembahasan topik mengenai strategi belajar discovery-inquiry tersebut, dapat di simpulkan bahwa strategi belajar mengajar discovery-inquiry secara umum diartikan sebagai proses belajar untuk mampu mencari dan menemukan informasi belajar baru untuk menyelesaikan masalah yang dihadapi anak. Secara khusus yang dimaksud dengan discovery adalah proses mental dimana siswa mengasimilasikan suatu konsep atau suatu prinsip. Sedangkan inquiry adalah metode pembelajaran yang berupaya menanamkan dasar-dasar berpikir ilmiah pada diri siswa, sehinggan dlam proses pembelajaran ini siswa

lebih banyak belajar sendiri, mengembangkan kreativitas dalam memecahkan masalah.

DAFTAR PUSTAKA

Anonim. 2009. Discovery inquiry. [on-line] http://smpn1banjar- pdg.net/index.php/ artikel/34-artikel/49-discovery-inquiry: 15 Februari 2011. Anonim. Tanpa Tahun. Kumpulan Teori Belajar. [on-line] http://www.scribd.com/doc/18092793/kumpulan-Teori-Belajar. 15 Februari 2011. Budiningsih, Asri C. 2005. Belajar dan Pembelajaran. Jakarta, Penerbit Rineka Cipta. Garton, Janetta. 2005. Inquiry Based Learning. Willard R-II School District, Tehnology Integration Academy . Haury, L. David. 1993. Teaching Science Through Inquiry. Columbus, OH: ERIC Clearinghouse for Science, Mathematics, and Environment Education. N.K., Roestiyah. 1998. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta: PT Rineka cipta. Sagala, Syaiful. 2004. Konsep dan Makna Pembelajaran. Bandung: Penerbit Alfabeta. Sudrajat, akhmad. 2009. Teori-Teori Belajar. [on-line] http://yayang08. wordpress.com/2009/04/15/ strategi-belajar-mengajar/: 15 Februari 2011. Sutrisno, joko. 2008. Metode pembelajaran inqury. [on-line] http://gurupkn.wordpress.com /2008/08/16/metode-pembelajaran-inquiry/:15 Februari 2011. Tim pengembang ilmu pendidikan FIP-UPI . 2007. Ilmu & Aplikasi Pendidikan. Bandung: PT. Imperal Bhakti Utama.