Anda di halaman 1dari 7

SUNAN KALIJAGA

Tuban adalah daerah kadipaten yang berdaulat dengan Majapahit. Ketika itu yang menjadi adipati di sana adalah tumenggung wilwatikta. Ia sudah beragama islam. Maklum daerah pesisir di saat itu mulai tersentuh dakwah para wali. Salah satu wali yang berdakwah di Tuban dan sekitarnya adalah Sunan Bonang dan Sunan Drajat. Kedua wali itu dibantu oleh para muridnya yang sudah mampu berdakwah. Tumenggung Wilwatikta dikenal sebagai muslim yang taat. Tak heran jikaia mendidik putraputrinya dengan akhlak yang mulia. Ia mempunyai dua anak, yaitu raden said dan dewi rasa wulan. Keduanya mendapat pendidikan islam di dlaam istana. Sebab sang tumenggung memanggil seorang guru untuk mengajari mereka. Tumenggung wilwatikta dan istrinya berharap kelak kedua putranya itu menjadi anak yang shalilh. Oleh karena itu, taden said mapun adiknya jarang keluar dari lingkungan istana. Ketika itu terjadi kemarau panjang. Sawah dan ladang di daerah itu menjadi kering kerontang. Padahal pra petani dalam berocok tanam selalu mengandalkan air hujan. Sementara angin dari timu berhgembus kencang, sehingga bagi nelayan takut untuk turun ke laut karena ombaknya cukup bersar. Hal itu berlangsung berbulan-bulan. Masyarakat Tuban dilanda paceklik. Keadaan itu semakin mencekik mereka karena pihak istana majabapahit terjus menerus meminta upeti . bahkan pajak rakyat pun dinaikkan. Menyikapi hal demikian, Tuban tidak bisa berbuat banyak karena kadipaten itu berdaulat penuh kepada Majjapahit. Sementara itu raden said yang sudah menginjak usia remaja merasa jebuh dikungkung di dalam istana. Maklumlah, putra bangsawan biasanya segala sessuatunya diatur. Ia tidak boleh bergaul dengan sembarang orang, apalagi rakyat jelata. Jika bergaul dengan rakyat jelata yang notabene petani dan nelaya, akan dapat menurunkan kewibawaan. Tetapi adat istana itu bertentangan dengan hati raden said. Apalagi ia telah mendapat pengetahuan tentang akhlak muslim dari guru ngajinya. Di mana, manusia itu mempunyai derajat yang sama di hadapan tuhannya. Kebangsawnan bukanlah hal yang utama. Namun yang membedakan adalah akhlak dan amal kebaikannya. Oleh karena itu, raden said berusaha mencairkan pandangan dan kebiasaan para bangsawan yang bertentangan dengan agamanya itu. Ia kemudian suka keluar istana kadipaten dan bergaul dengan orang-orang miskin. Ketika keluar masuk kampung, ia sempat mengelus dada melihat keadaan rakyat Tuban yang menyedihkan. Raden said tak segan-segan berbicara dengan mereka sehingga ia dapat mengetahui ulah pegawai kadipaten yang suka merampas simpanan bahan makan dengan alasan untuk membayar pajak. Lumbung kami kosong karena padi hasil panen yang disimpan di sana dirampas oleh pegawai pajak kadipaten, gusti raden , ujar mereka. Mengapa mereka sampai begitu. Apa alasannya? tanya Raden Said. Alasannya untuk dibuat upeti ke Trowulan Majapahit,ujar mereka. Raden Said ikut bersedih mendengar keluhan nasib mereka. Betapa rakyat kecil yang tak berdaya, diperlakukan sewenan-wenan. Beginikah kehidupan di luar istana? Siapa yang kuat akan memakan yang lemah? Demikian pikir raden said yang hatinya berontak. Keadaan rakyat yang sangat memprihatinkan itu disampaikan kepada ayahandanya, Tyemenggung Wilwatikta. Ayahanda, saya merasa sedih melhat nasib rakyat Tuban. Di saat seperti sekarang ini, paceklik melanda kehidupannya. Tanah kering tak bisa ditanami. Sedangkan yang bekerja sebagai

nelayan tak berani turun ke laut karena gelombang sangat besar,katanya kepada Temenggung Wilwatikta. Ya, aku juga memahami tentang paceklik tahun ini, ujar ayahnya. yang saya sesalkan ialah mengapa mereka masih dikenai pajak. Apakah ayah tidak bisa mencegah petugas pajak menghentikan ulahnya merampas padi-padi yang disimpan di lumbung mereka? Adipati Tuban menghela napas. aku pun resah memikirkan rakyat kita. Namun tak mungkin kita menghentikan memungut pajak. Sebab Tuban berada di bawah kekuasaan majapahit. Setiap saat kita berkewajiban mengirim upeti ke istana. tetapi, ulah para petugas pajak sangat keterlaluan. Bukankah ayahanda sebagai adipati. Apakah tidak bisa mencegah mereka berbuat sewenang-wenang? Saya pikir, ayah bisa memanggil mereka agar lebih santung sedikit kepada kawula alit,usul raden said. Adipati temenggung wilwatikta tak segera bicara. Ia manggut-manggut dan sedang memikirkan sesuatu. Tapi tak mungkin pungutan pajak dihentikan. Demikian pikirnya dalam hati. Raden said bertekat untuk mengurangi beban penderitaan rakyat Tuban. Ia mencari akal agar bisa melakukan sesuatu yang terbaik. Ia memahami, ayahandanya hanyalah seorang adipati bawahan Raja Majapahit. Tak mungkin adipati membangkang perintah raja. Seitap habis shalat maghrib raden said belajar ilmu agama. Sesudah isya ia mengalunkan ayat-ayat Al-Quran namun akhir akhir ini alunan wahyu ilahi nan merdu dari bibirnya itu jarang kedengaran. Ketika malam telah gelap dan semua penghuni istana kadipaten terlelap. Ia membuka pintu kamarnya. Sambil berjalan herjingkat-jingkat ia menuju gudang istana. aduh, penjaganya masih siap siaga di depan pintu gudang.ia berkata sendiri. Raden said mempunyai ilmu kesaktian, aji sirep begandana. Barangsiapa yang terkena ajian sirep begandana, akan terlelap sangat pulas. Untuk bisa masuk gudang istana, ia terpaksa menggunakan aji sirep. Seketika itu juga, penjaga gudang menguap dan tubuhnya terasa letih lalu berbaring dan tertidur pulas sekali. Dengan sangat mudahnya, raden said masuk ke gudang dan mengambil bahan-bahan makanan. Ia kemudian menerobos kegelapan malam dan mencari rumah-rumah penduduk yang dianggap fakir miskin. Bahan makanan itu diletakkan begitu saja di depan pintu ketika pemiliknya sedang tertidur lelap. Pagi harinya, tentu saja pemilik rumah merasa kaget bercampur gembira. Seakan-akan ada rejeki jatuh dari langit. Namun mereka tidak tahu siapakah orang yang meletakkan rejeki itu. Demikianlah kesibukan raden said setiap malam. Difitnah lokajaya Al kisah, si sebelah barat kadipaten Tuban terdapat hutan lebat. Hutan itu memisahkan wilayah Tuban dengan blora. Hanya ada satu jalan setapak yang dilalui orang disana. Suasananya mencekam. Siang hari sekali pun, hutan itu tampak temang-remang karena cahaya matahari tak mampu menembus kedalamnya. Di dalam hutan itulah terdapat segerombolan penyamin yang kejam. Setiap orang yang lewat dan membawa barang, maka dirampas barang bawaaanya. Jika orang itu berani melawan, maka mereka tak segan-segan menghabisi nyawanya. Sesungguhnya kelompok berandalan di hutan Tuban tersebut adalah barisan orang-orang yang sakit hati. Mereka ingin menggulingkan kekuasaan Adipati Tuban . caranya menciptakan suasana tidak aman.

Akibatnya banyak orang yang takut jika melewati jalan di hutan itu. Padahal jalan tersebut merupakan satu-satunya akses menuju ke Blora atau ke pusat perdagangan. Kondisi yang tidak menguntungkan tersebut akhirnya menimbulkan kesan bahwa Tuban tidaklah aman. Setiap hari ada saja orang yang mati terbunuh di hutan itu. Namun tak sedikit pula di antara korban yang selamat dan dapat meloloskan diri. Brandal lokajaya selalu sesumbar dan menyebutnyebut nama Raden said putra bupati Tuban. Hal tersebut menimbulkan kesan bahwa seakan-akan raden Said yang menjadi penjahat fihutan Tuban. Kabar tak sedap tersiar ke mana-mana, hingga akhirnya sampai pula ke istana. Raden Said menjadi kurban fitnah. Tidak sedikit kawula alit yang lapor ke pendapat kadipaten Tuban tentang ulah Raden Said tersebut. Apalagi akhir-akhir ini raden said jarang pulang. Kalau bukan raden Said, lalu siapa lagi yang menjadi penyamyn di hutan itu, Gusti? katasalah seorang yang melaporkan perihal kekacauan tersebut. Kami yakin dia yang melakukannya. Setiap kali penyamun itu sesumbar dan mengaku bahwa dirinya adalah Raden Said. Mungkin ada orang lain yang kebetulan namanya sama dengan nama putraku, kata Bupati Tuban. Dia menagku raden said putra bupati Tuban. Inikan sudah jelas,ujar mereka. Baiklah, aku akan menegur putraku. Kalau terbukti bersalah, bila perlu akau akan menghukumnya. Terima kasih, kalian telah melaporkan hal ini kepadaku,kata Bupati Tuban. Pada kesempatan lain Raden Said plang ke rumah. Ayahandanya segera mengajak bicara. Raden Said, apa saja yang kau lakukan selama ini? tanya ayahnya. Raden Said tidak segera menjawab. Ia heran mengapa tibatiba ayahnya bersikap kurang bersahabat dan tampak sedang marah. Hei, Raden Said! Apa kau tuli! bentak Bupati Tuban. Tidak,Romo, jawab Raden Said. Kau sudah sangat keterlaluan. Kau mencoreng arang dimuka ayahmu. apa salahku wahai Romo? Banyak kawula alit yang datang kemari dan melaporkan ulahmu dihutan sebelah barat Tuban ini. Aku semakin tak mengerti. Jangan berlagak bodoh. Bukankah kau merampok, menjadi berandal dan tak segan-segan membunuh orang yang lemah!? Raden Said semakin bingung mendengar kata-kata ayah-nya. Karena memang ia tak merasa melakukan hal itu. Sungguh, aku tak melakukannya, ujar Raden Said. Kau mengakui kesalahanmu atau tidak, itu sama saja. Sudah terlanjur aku menanggung malu. Kau tak pantas menjadi seorang putra Bupati. Mulai sekarang, tinggalkan kadipaten ini!? Kata Bupati Tuban.

Tanpa banyak bicara, ia mengangkat kaki dan pergi dari istana kadipaten Tuban. Hatinya mendidih karena amarah dan dendam. Ia berjanji dalam hati akan menghabisi gerombolan perampok yang mencatut namanya itu. Di sebuah hutan yang lebat, Raden Said bertemu dengan para gerombolan perampok. Ketua perampok itu mengaku bernama Lokajaya. Apakah kau yang bernama Brandal Lokajaya? tanya Raden Said. Semua orang kenal siapa aku. Akulah raden said brandal lokajaya,jawabnya. Raden said menjadi terperanjat manakala mendengar namanya disebut. Jelaslah sudah bahwa orang yang selama mencemarkan dirinya sekarang berada di hadapannya. Kau jangan menyebut-nyebut Raden Said. Apakah kau tahu siapakah Raden Sasid itu? tanya Raden Said. Akulah Raden Said,jawab kepala prampok itu. Biadab. Tidak tahukah kau bahwa orang yang kau catut namanya sekarang ini di hadapanmu? Akulah Raden Said Putra Bupati Tuban. Enak saja kau mengaku sebagai Raden Said. Akibat ulahmu, kini aku menuai fitnah! ujar Raden Said geram. Brandal Lokajaya tertawa terbahak-bahak . seakan-akan mengejek Raden Said. Hai bocah ingusan, apa maumu sekarang. Kau tak terima jika namamu kucemarkan? kata Brandal Lokajaya. Aku kemari mencarimu. Kalau sudah ketemu? Kuhabisi nyawamu! kata Raden Said. Mereka bercekcok mulut hingga akhirnya bertarung. Masing-masing mengadu kesaktian oleh kanuragan. Akhirnya Brandal Lokajaya tewas di tangan Raden Siad. Semenjak itu anak buah Brandal Lokajaya menyerah dan tunduk kepada Raden Said. Raden Said tidak mau keluar dari hutan itu.ia sekarang menggantikan kedudukan Brandal Lokajaya, menjadi perampok dan merampas harta orang yang kebetulan lewat d hutan itu. Bedanya, hasil dari rampokannya dibagi-bagikan kepada rakyat miskin yang ada di tepi hutan. Sedangkan yang menjadi korbannya tidak semua orang, melaikan si kaya yang kikir atau pejabat negara yang korup.

Bertemu guru sejati Suatu ketika melintaslah seorang lelaki berjubah. Rambut jenggotnya sudah memutih. Lelaki itu tidak mebawa apa-apa kecuali tongkat sebagai penyanggah jika ia berjalan. Namun raden said mencegatnya. berhentilah pak tua! Hendak kemakah kau? sapa Raden Said. Orang berjubah itu tampak tenang, tak gentar sedikitpun. Ia menghentikan langkahnya. adakah keperluan sehingga engkau menghentikan langkahku, wahai anak mudaa? tanya orang tersebut. Raden Said tak segera menjawab. Pandangan matanya tertuju kepada kelpala tongkat yang dipegang orang berjubah itu. Tiba-tiba orang tua berjubah tersebut tersenyum, seakan-akantahu isi hati Raden Said. Kau menginginkan tongkat ini? tanya orang itu.

Berikan tongkat itu kepadaku! pinta Raden Said. Orangtua tersebut tertawa terkekeh. Setelah pus tertawanya, barulah berkata,apa yang kau inginkan dari tongkat buruk ini? Aku tertarik dengan kepala tongkat itu,kata Raden Said. Sekali lagi Pak Tua terkekeh-kekeh seraya berkata,Rupanya kau cerdik dan tahu kalau tongkat ini berkepala emas. Tapi percuma saja, emas ini hanya sekepal tangan. Berikan segera kepadaku! pinta Raden Said dengan agak memaksa. Kubilang, percuma saja. Emas ini hanya sedikit. Jika kau ingin lebih banyak, maka ambillah emas itu! kata Pak Tua seraya menuding sebuah pohon aren. Dengan penuh keajaiban, buah aren itu pun berubah menjadi emas. Raden Said terperanjat. Lama ia tercengang seakan-akan hilang kesadarannya. Matanya terbelalak tak berkedip memperhatikan pohon aren berbuah emas. Daripada kau meminta tongkatku, lebih baik kau petik buah emas tersebut. Tentu lebih banyak, bukan? ujar pak Tua sambil terkekeh-kekeh. Seketika itu Raden Said menjatuhkan tubuh dan bersimpuh di kaki orang yang hendak dirampok tersebut. Maafkan aku, Pak Tua. Siapakah sesungguhnya engkau ini? tanya Raden Said. Orang menyebutku Sunan Bonang,jawabnya. Oh, Kanjeng Sunan, maafkan kesalahanku! Raden Said merengek-rengek. Bangunlah. Siapakah namamu, Nak? tanya Sunan Bonan sejurus kemudian. Aku Raden Said, Putra Bupati Tuban, jawabnya. Putra Bupati Tuban? tanya Sunan Bonang heran. Benar,jawab Raden Said mengangguk. Mengapa kau sampai merampok dan berbuat tidak terpuji? tanya Sunan Bonang. Raden Said kemudian menceritakan segala sesuatu yang dialaminya. Setelah mendengarkan ceritanya, Sunan Bonang menjadi maklum. Berhentilah dari perbuatan burukmu. Meskipun kau sakit hati terhadap lokajaya tetapi tindakanmu ini tidaklah benar! kata Sunan Bonang menasihati. Ya aku akan berhenti. Aku ingin menjadi murid kanjeng Sunan Bonan sehingga bisa menimba ilmu agama dan ilmu kebijaksanaan, kata Raden Said mantap. Tidak mudah menjadi muridku. Apa pun yang kanjeng Sunan perintahkan kepadaku, aku siap melakukannya, kata Raden Said. Apakah kau sanggup menjalankan syarat-syaratnya? sanggup,ujarnya mantap. Sunan Bonang tak segera bicara. Ia tampak sedang berpikir. Aku tak bisa berlama-lama di tempat ini,ujarnya. Hendak kemanakah? aku hendak ke Timur, ke Gresik, jawab Sunan Bonang. Bolehkah aku ikut?

jangan, cegah Sunan Bonang. Kalau kau ingin menadi muridku, maka tunggulah di sini sampai aku kembali! tunggulah ditepi sungai ini. Duduklah dengan tenang dan penuh konsentrasi layaknya orang bertapa. Koreksi semua kesalahan yang pernah kau perbuat. Dan bertaubatlah kepada tuhan. Jangan sekali-kali kau meninggalkan tempat ini sebelum aku kembali! demikian pesan Sunan Bonang. Sesaat setelah itu orang berjubah tersebut melangkah pergi. Gerakannya sangat cepat bagaikan kecepatan cahaya. Dalam waktu sekejap tubuhnya sudah lenyap dari pandangan mata. Sedangkan Raden Said memulai semadinya. Ia duduk bersila di tepi sungai yang tenang. Ia tertidur lelap dalam keadaan duduk bersila dan kedua tangna menyilang di dada. Tidak satu dua hari atau satu dua bulan. Namun raden said terlena sampai tiga tahun lamanya. Semak-semak di tepi sungai itu merambat dan menutupi tubuhnya. Ketika air pasang, tubuh Raden Said tidak tersentuh oleh air. Tiga tahun kemudia, Sunan Bonang melintas di tempat itu. Keadaanya sudah berubah sama sekali. Sebenarnya selama melakukan perjalanan dakwah ke arah timur , yakni ke Gresik untuk bertemu Sunan Giri, Sunan Bonang sudah lupa bahwa ia pernah meninggalkan Raden Said di tepi sungai. Namun ketika melintas daerah itu tiba-tiba ia merasa ada firasat. Lalu teringatlah bahwa tiga tahun lamanya Raden Said diminta untuk menunggui kedatangannya. Sunan Bonang berhenti dan mengingat-ingat di mana kiranya Raden Said menunggu. Akhirnya diketemukan juga. Keaadan tubuh Raden Said sudah tak dapat dikenali lagi karena tertutup semak merambat dan akar-akar pohon di tepi sungai. Bahkan kulitnya telah ditumbuhi lumut. Sunan bonan membersihkan semak dan akar-akar yang mencengkeram tubuh Raden Said. Lalu membaringkannya di tempat landa. Raden said seakan-akan sudah tak bernyawa lagi. Tubuhnya bagaikan pohon yang mati. Setelah diberihkan, kemudian Sunan Bonang membaca mantera . raden said, bangunlah! kata Sunan Bonang. Namun raden said tak bergerak sama sekali. Sunan bonan mencoba meraba dada raden said. Lalu memegangi urat nadi dipergelangan tangan. Masih berdenyut. Berarti putra bupati Tuban itu masih belum mati. Sunan Bonang lalu menriakkan suara adzan di telinga raden said. Perlahan lahan tubuh yang sangatkurus itu bergerakgerak. Matanya kemudian sedikit demi sedikit terbuka. Setelah sadar dari tidur gaibnya, raden said disuruh untuk mandi di sungai dan membersihkan segala kotoran yang menempel pada tubuhnya. Sunan Bonang lalu memberinya pakaian . Engkau ternyata pemuda yang cukup amanah dan setia menepati janjimu. Buktinya, selama tiga tahun kutinggalkan, kau tetap tak beranjak dari tempat ini,puji Sunan Bonan. hal itu kulakukan demi sebuah keinginan, menjadi murid Kanjang Sunan,jawab Raden Said . ya, kau telah lulus ujian yang pertama. Sekarang, marilah ikut aku ke kerajaan Demak Bintoro. Disana Engkau akan kuperkenalkan para wali. Namun senelum berangkat, aku akan mengubah namamu bukan Raden Said lagi. lalu siapakah nama yang cocok buatku? Kalijaga. Artinya orang yang setia menjaga sungai, ujar Sunan Bonang . Semenjak saat itulah Raden Said berganti nama menjadi Sunan Kalijaga. Ia juga dinobatkan sebagai wali sebagai penyebar agama islam. Suatu ketika Sunan Bonang berkata kepada Sunan Kalijaga , wahai kalijaga, untuk menyebarkan agama islam tidak cukup hanya berbekal ilmu syariat maupun hakikat. Namun kau

perlu membekali diri dengan ilmu gaib atau ilmu kanuragan. Karena tugasmu akan banyak mendapat tantangan-tantangan di tanah Jawa ini. Kalau demikian, aku merasa perlu untuk belajar, wahai Kanjeng Sunan,ujar Sunan Kalijaga. Aapakah kau sudah siap mempelajari ilmu kesaktian? tanya Sunan Bonan. ya, insay Allash aku siap lahir dan batin. Wajah Sunan Bonang berseri-seri mendengar kesiapan muridnya itu.Baiklah, besok pagi kita harus berangkat ke daerah Cirebon Girang. Dimanakah letak daerah itu? tanya Sunan Kalijaga. Dari Demak ini kita terus berjalan ke arah barat. Memang harus menempuh jalan yang sulit dan berhari-hari lamanya, kata Sunan Bonang. Pada saat yang dijanjikan Sunan Bonang mengajak muridnya berjalan meninggalkan Demak Bintoro menuju ke arah barat, yakni ke daerah Cirebon Girang. Berhari-hari lamanya mereka menyusur jalan setapak di dalam hutan. Sunan Kalijaga dianggap sebagai wali yang paling muda usia tetapi ilmu agama dan ilmu kesaktiannya paling hebat. Karena itu disaat mengadili Siti Jenar, para wali meminta agar Sunan Kalijaga mengirimkan sasmita gaib kepadanya. Perjuangannya dalam menyebarkan Islam di pulau Jawa sangatlah berarti. Namun demikian, sampai kini makam Sunan Kalijaga tidak diketahui. Yang ada hanyalah petilasan-petilasannya yang tersebar di seluruh nusantara. Petilasan adalah tempat yang pernah disinggahi dan oleh penduduk sekitar diabadikan.