Anda di halaman 1dari 20

Aplikasi survey dalam bidang pertambangan

Ruli Andaru, ST, M.Eng Jurusan Teknik Geodesi Fakultas Teknik UGM

Pekerjaan survey sangat penting dalam pekerjaan tambang. Mulai dari eksplorasi sampai eksploitasi. Untuk membuka tambang, biasanya diperlukan survey awal, survey awal bisa menggunakan survey fotogrametry dengan foto udara, bisa juga menggunakan survey teristris dengan GPS, Theodolite atau Total Station. Biasanya untuk survey pendahuluan, Total station digunakan untuk pekerjaan penentuan titik kontrol, penentuan batas, atau stakeout titik-titik awal di lapangan.

Pekerjaan survey untuk penambangan antara lain : 1. 2. 3. 4. 5. 6. Pekerjaan konstruksi : Penentuan tiang pancang, pelurusan Survey pembebasan tanah : menentukan batas dan luasan. menentukan batas kepemilikan lahan atau wilayah. Survey jalan : Penentuan as jalan, pemasangan patok-patok rencana Stakeout : penentuan titik bor, penentuan batas (boundary) Pengukuran progress kemajuan tambang Pengukuran topografi : untuk menentukan volume dan hasil pekerjaan tambang. Mengukur/memetakan permukaan bumi yang direpresentasikan dalam kumpulan titik-titik koordinat 3D kemudian biasa digambarkan dalam garis kontur (garis yang menghubungkan titik-titik yang tingginya sama). Survey monitoring : untuk mengetahui pergeseran bangunan atau lereng.

7.

Mengapa data survei diperlukan ? Data survei menghasilkan nilai koordinat dan elevasi. Data ini digunakan untuk : Menentukan posisi dan ketinggian titik/patok Menentukan koordinat dan elevasi titik bor Menentukan batas/boundary Data survei untuk memproduksi peta kontur Data survei diperlukan untuk menentukan coal resourhes (cadangan) Untuk keperluan mine design Menentukan volume tanah (OB, IB) , coal Monitoring kemajuan tambang Stake out (penentuan letak titik di lapangan) Survey deformasi: menentukan apakah stuktur atau object mengalami perubahan bentuk atau pergerakan

1. Mine progress map (peta kemajuan tambang) Dalam dunia pertambangan, data survei sangat vital yaitu
sebagai data utama untuk pembuatan peta kemajuan tambang. Peta kemajuan tambang dibuat dalam kurun waktu tertentu, mingguan atau bulanan Peta kemajuan tambang sebagai data untuk monitoring bentuk progress penambangan dan untuk dasar perhitungan volume, baik volume lapisan tanah penutup (OB&IB) maupun volume coal. Data survei ini bisa diperoleh dengan cra pengukuran topografi menggunakan Total Station, GPS ataupun laser scanning.

2. Mine design map


Mine design map dibuat menggunakan data : geologi, geotek, drilling, dan data survei (topografi).Tanpa data topografi mine design map tidak bisa diproduksi. Dalam mine design map, dicantumkan coal resourches, volume tanah penutup, dsb dimana volume ini dihitung menggunakan data survei

MINE DESIGN MAP

3. Hitungan volume coal stock (stock pile)

Kondisi stock coal diupdate dan dihitung volume nya oleh tim survei.

Contoh kondisi stock coal

4. Hitungan volume tanah penutup (OB&IB)


Untuk menghitung volume tanah penutup (OB) dibutuhkan data topografi original dan data topografi exsisting. Data ini semua disediakan oleh tim survei

5. Stake out titik (batas , titik bor , dll)


Stake out adalah penentuan posisi/letak suatu titik yang sudah diketahui koordinat (x, y dan z) nya.

Proses stake out memerlukan minimal 1 buah titik station dengan 1 azimuth atau 2 titik (STA dan BS/FS)
Tahapan proses nya adalah setelah titik koordinat dimasukkan, maka alat mengkalkulasi sudut/arah titik yang dicari, sehingga teropong alat diarahkan pada arah tersebut (biasanya bacaan Hz menunjukkan sudut 0). Pada arah tersebut kemudian dicari jarak yang sesuai (jarak sudah dikalkulasi oleh alat).

Konsep Stake Out


Akan di stake out titik P (200,200), dimana posisi-nya? Untuk mencari posisi titik P dibutuhkan azimuth BP dan jarak BP

BS

AB
A (110,110)

BP ArcTAN

( XP XB ) (YP YB )

r XP XB (YP YB ) 2
2

BP
STA
B (100,100) r P

Tahapan kegiatan penambangan batubara


1. Persiapan Kegiatan ini merupakan kegiatan tambahan dalam tahap penambangan. Kegiatan ini bertujuan mendukung kelancaran kegiatan penambangan. Pada tahap ini akan dibangun jalan tambang (acces road), rencana lokasi stockpile, dll. Pada tahap ini mine design map harus ada. Map design diperoleh melalui pengukuran survei topografi dan geologi 2. Pembersihan lahan (land clearing) Kegiatan yang dilakukan untuk membersihkan daerah yang akan ditambang mulai dari semak belukar hingga pepohonan yang berukuran besar. Pada tahap ini harus didefinisikan dengan jelas batas-batas areal pertambangan. Batas ini dipasang oleh tim survey berdasarkan mine design map. Pemasangan batas bisa dilakukan dengan cara stake out, atau dengan membaca peta secara manual.

3. Pengupasan Tanah Pucuk (top soil) Maksud pemindahan tanah pucuk adalah untuk menyelamatkan tanah tersebut agar tidak rusak sehingga masih mempunyai unsur tanah yang masih asli, sehingga tanah pucuk ini dapat diguanakan dan ditanami kembali untuk kegiatan reklamasi. Tanah pucuk yang dikupas tersebut akan dipindahkan ke tempat penyimpanan sementara atau langsung di pindahkan ke timbunan. Hal tersebut bergantung pada perencanaan dari perusahaan. 4. Pengupasan Tanah Penutup (stripping overburden) Bila material tanah penutup merupakan material lunak (soft rock) maka tanah penutup tersebut akan dilakukan penggalian bebas. Namun bila materialnya merupakan material kuat, maka terlebih dahulu dilakukan pembongkaran dengan peledakan (blasting) kemudian dilakukan kegiatan penggalian. Pengupasan tanah penutup harus mengacu pada mine design map, dimana tim survei selalu mengkontrol batas dan elevasi tanah in progress.

5. Penimbunan Tanah Penutup (overburden removal) Tanah penutup dapat ditimbun dengan dua cara yaitu backfilling dan penimbunan langsung. Tanah penutup yang akan dijadikan material backfilling biasanya akan ditimbun ke penimbunan sementara pada saat taambang baru dibuka. Lokasi dan design area disposal memerlukan data topografi. Ketika proses bacfilling berlangsung juga selalu diperhatikan elevasi dan batas terluar area disposal. Batas dan elevasi ini ditentukan oleh tim survei.
6. Penambangan Batubara (coal getting) Untuk melakukan penambangan batubara (coal getting) itu sendiri, terlebih dahulu dilakukan kegiatan coal cleaning. Maksud dari kegiatan coal cleaning ini adalah untuk membersihkan pengotor yang berasal dari permukaan batubara (face batubara) yang berupa material sisa tanah penutup yang masih tertinggal sedikit, serta pengotor lain yang berupa agen pengendapan (air permukaan, air hujan, longsoran). Selanjutnya dilakukan kegiatan coal getting hingga pemuatan ke alat angkutnya. Untuk lapisan batubara yang keras, maka terlebih dahulu dilakukan penggaruan. Dalam proses coal getting ini dikenal istilah expose coal dan mine out. Expose coal adalah area in pit yang sudah terlihat roof batubara (lapisan teratas dari coal), area ini perlu untuk di survei, begitu juga untuk area yang telah diambil coal depositnya (mine out). Dari data expose dan mine out coal ini, bisa dihitung jumlah coal yang telah di produksi. Peran survei sangat vital dalam proses ini.

7. Pengangkutan Batubara ke (coal hauling) Setelah dilakukan kegiatan coal getting, kegiatan lanjutan adalah pengangkutan batubara (coal hauling) dari lokasi tambang (pit) menuju stockpile atau langsung ke unit pengolahan. Batubara yang 8. Pengupasan parting (parting removal) Parting batubara yang memisahkan dua lapisan atau lebih batubara peerlu dipindahkan agar tidak mengganggu dalam penambangan batubara.

9. Backfilling (dari tempat penyimpanan sementara) Tanah penutup maupun tanah pucuk yang sebelumnya disimpan di tempat penyimpanan sementara akan diangkut kembali ke daerah yang telah tertambang (mined out). Kegiatn ini dimaksudkan agar pit bekas tambang tidak meninggalkan lubang yang besar dan digunakan untuk rehabilitasi lahan pasca tambang.

10. Perataan dan Rehabilitasi Tanah (spreading) Terdiri dari pekerjaan penimbunan, perataan, pembentukan, dan penebaran tanah pucuk diatas disposal overburden yang telah di backfilling, agar daerah bekas tambang dapat ditanami kembali untuk pemulihan lingkungan hidup (reclamation). 11. Penghijauan (reclamation) Merupakan proses untuk penanaman kembali lahan bekas tambang, dengan tanaman yang sesuai atau hampir sama seperti pada saat tambang belum dibuka. 12. Kontrol (monitoring) Kegiatan ini ditujukan untuk pemantauan terhadap aplikasi rencana awal penambangan. kontrol akan dilakukan terhadap lereng tambang, timbunan, ataupun lingkungan, baik terhadap pit yang sedang aktif maupun pit yang telah ditambang.