Anda di halaman 1dari 37

BAB 1 PENDAHULUAN A.

Latar Belakang Masalah Pada era saat ini, organisasi kesehatan harus bekerja keras dan berkesinambungan untuk meningkatkan kualitas menjadi lebih baik. Hal ini merupakan hasil dari ekonomi global yang meningkatkan kompetisi. Bagi organisasi pelayanan kesehatan, dibutuhkan sistem yang bagus dan struktural yang dapat mengoptimalkan kualitas kerja para pekerjanya. Kepemimpinan dan manajemen dalam bidang keperawatan merupakan suatu kemampuan dan ketrampilan yang harus dimiliki oleh perawat profesional jika ingin berhasil dalam lingkungan perawatan kesehatan sekarang. Selama bertahun-tahun keperawatan menyandarkan kedua hal tersebut dalam hirarki organisasi untuk mengatur dan memimpin unitnya. Suatu jenis kepemimpinan yang baru dapat memfasilitasi kerja tim dan proses peningkatan dapat berjalan. B. Tujuan Penulisan 1. Tujuan Umum Tujuan umum dari penyusunan makalalah ini adalah dalam rangka memenuhi tugas yang telah diberikan oleh fasilitator mata ajar Kepemimpinan dan Manajemen Keperawatan kepada penulis. 2. Tujuan Khusus Tujuan khusus dari penyusunan makalah ini adalah: a. Mahasiswa mampu menambah dan memperkaya ilmu serta pengetahuan mengenai manajemen dan kepemimpinan dalam dunia keperawatan dan pentingnya kedua hal tersebut bagi perawat saat ini. b. Mahasiswa mampu mengaplikasikan konsep manajemen dan kepemimpinan pada asuhan keperawatan. C. Rumusan Masalah Penulis merumuskan masalah yang akan dibahas dalam makalah ini dalam beberapa pertanyaan, yaitu: 1. Bagaimana konsep manajemen asuhan keperawatan?
2. Bagaimana konsep perawat sebagai leader? 1

3. Bagaimana metode penugasan dalam manajemen asuhan keperawatan? 4. Apa saja peran dan tugas perawat dalam manajemen asuhan keperawatan?
5. Bagaimana proses timbang terima per-shift dan ronde asuhan keperawatan?

6. Bagaimana dokumentasi dalam asuhan keperawatan? 7. Bagaimana kualitas asuhan keperawatan? D. Metode Penulisan Metode yang digunakan dalam penyusunan makalah ini adalah studi pustaka, yaitu dengan mencari materi yang terkait melalui literatur-literatur baik itu buku, maupun internet dan juga melalui diskusi kelompok. E. Sistematika Penulisan Sistematika penulisan ini dibagi menjadi tiga bab. Bab pertama berisi latar belakang penulisan makalah, tujuan penulisan, metode penulisan, dan sistematika penulisan makalah. Bab kedua berisi pembahasan mengenai pemicu yang diberikan. Bab terkahir yaitu bab penutup berisi tentang simpulan isi makalah dan saran.

BAB II
2

PEMBAHASAN Teori dan Tipe Kepemimpinan serta Peran dan Fungsi Manajemen Keperawatan Di era globalisasi ini, segala profesi yang ada dituntut untuk menunjukkan keprofesianalannya, termasuk profesi perawat. Untuk menyikapi hal ini lahirlah standar akreditasi internasional yang telah dibuat dengan tujuan memudahkan adanya pengakuan berstandar Internasional bagi profesi perawat. Adanya standar akreditasi international perawat ini sangatlah penting, karena Perawat memiliki peranan besar bagi suatu rumah sakit dalam memenuhi standar pelayanan internasional. Guna memberikan pelayanan yang baik, perawat harus memperhatikan standar pelayanan sesuai akreditasi Joint Commision International (JCI), yaitu keselamatan pasien dan kualitas perawatan pasien (Dimyati, 2012). Demi terwujudnya pelayanan rumah sakit di Indonesia yang memenuhi standar JCI dibutuhkan berbagai peranan elemen masyarakat, termasuk pemerintah. Dalam upaya mendukung peningkatan mutu rumah sakit, pemerintah telah membuat kebijakan yang dituangkan dalam UU No. 44 tahun 2009 tentang Rumah Sakit, Peraturan Menteri Kesehatan No. 659 tahun 2009 tentang Rumah Sakit Indonesia Kelas Dunia dan SK Menteri Kesehatan No. 1195 Tahun 2010 tentang Lembaga Akreditasi Rumah Sakit Bertaraf Internasional (IZN, 2012). Seluruh regulasi ini berperan dalam mengatur instansi kesehatan menuju rumah sakit yang memenuhi standar JCI. Akreditasi tersebut menjadi wujud nyata peningkatan profesionalisme bagi setiap rumah sakit yang mendapatkan akreditasi itu. Kelanjutan apabila suatu RS sudah berstandar JCI maka harus ada peranan dari elemen lain yang terlibat didalamnya. Salah satu bagian yang memegang peranan penting ialah perawat. Langkah konkrit lainnya ialah meningkatkan kompetensi perawat di Indonesia. Perawat harus memiliki kemampuan kompetensi khusus dalam meningkatkan pelayanan. Selain itu, hal lain yang penting untuk mewujudkan rumah sakit berstandar JCI yaitu adanya pengaturan pengorganisasian dalam manajemen asuhan keperawatan yang baik. Hal tersebut meliputi konsep kepemimpinan, managemen keperawatan, metode penugasan, pengaplikasian manajemen keperawatan dalam setting asuhan keperawatan di rumah sakit maupun puskesmas, dan pendokumentasian asuhan keperawatan.
A. Teori-teori dalam Kepemimpinan 3

Kepemimpinan adalah kegiatan atau seni mempengaruhi orang lain agar mau bekerjasama yang didasarkan pada kemampuan orang tersebut untuk membimbing orang lain dalam mencapai tujuan-tujuan yang diinginkan kelompok (Tead; Terry; Hoyt (dalam Kartono, 2003)). Kepemimpinan juga merupakan kemampuan mempengaruhi orang lain, bawahan atau kelompok, kemampuan mengarahkan tingkah laku bawahan atau kelompok, memiliki kemampuan atau keahlian khusus dalam bidang yang diinginkan oleh kelompoknya, untuk mencapai tujuan organisasi atau kelompok. Tipe dari setiap kepempinan bisa berbeda- beda. Berikut beberapa tipe kepemimpinan, diantaranya: 1. Tipe Otokratis Seorang pemimpin yang otoriter akan menujukan sikap yang menonjolkan keakuannya, antara lain dalam bentuk : 1. Kecenderungan memperlakukan para bawahannya sama dengan alat-alat lain dalam organisasi, seperti mesin, dan dengan demikian kurang menghargai harkat dan martabat mereka. 2. Pengutamaan orientasi terhadap pelaksanaan dan penyelesaian tugas tanpa mengkaitkan pelaksanaan tugas itu dengan kepentingan dan kebutuhan para bawahannya. 3. Pengabaian peranan para bawahan dalam proses pengambilan keputusan. Gaya kepemimpinan yang dipergunakan pemimpin yang otokratik antara lain: 1. Menuntut ketaatan penuh dari para bawahannya. 2. Dalam menegakkan disiplin menunjukkan keakuannya. 3. Bernada keras dalam pemberian perintah atau instruksi. 4. Menggunakan pendekatan punitif dalamhal terhadinya penyimpangan oleh bawahan. 2. Tipe Paternalistik Tipe pemimpin paternalistik hanya terdapat di lingkungan masyarakat yang bersifat tradisional, umumnya dimasyarakat agraris. Salah satu ciri utama masuarakat tradisional ialah rasa hormat yang tinggi yang ditujukan oleh para anggiota masyarakat kepada orang tua atau seseorang yang dituakan. Pemimpin seperti ini kebapakan, sebagai tauladan atau panutan masyarakat.

Biasanya tiokoh-toko adat, para ulama dan guru. Pemimpin ini sangat mengembangkan sikap kebersamaan. 3. Tipe Kharismatik Tidak banyak hal yang dapat disimak dari literatur yang ada tentang kriteria kepemimpinan yang kharismatik. Memang ada karakteristiknya yang khas yaitu daya tariknya yang sangat memikat sehingga mampu memperoleh pengikut yang jumlahnya kadang-kadang sangat besar. Tegasnya seorang pemimpin yang kharismatik adalah seseorang yang dikagumi oleh banyak pengikut meskipun para pengikut tersebut tidak selalu dapat menjelaskan secara konkret mengapa orang tersebut dikagumi. 4. Tipe Laissez Faire Pemimpin ini berpandangan bahwa umumnya organisasi akan berjalan lancar dengan sendirinya karena para anggota organisasi terdiri dari orang-orang yang sudah dewasa yang mengetahui apa yang menjadi tujuan organisasi, sasaran-sasaran apa yang ingin dicapai, tugas apa yang harus ditunaikan oleh masing-masing anggota dan pemimpin tidak terlalu sering intervensi. 5. Tipe Kepemimpinan Militeristik Tipe kepemimpinan militeristik ini sangat mirip dengan tipe kepemimpinan otoriter. Adapun sifat-sifat dari tipe kepemimpinan militeristik adalah: 1. Lebih banyak menggunakan sistem perintah/komando, keras dan sangat otoriter, kaku dan seringkali kurang bijaksana. 2. Menghendaki kepatuhan mutlak dari bawahan, 3. Sangat menyenangi formalitas, upacara-upacara ritual dan tanda-tanda kebesaran yang berlebihan, 4. Menuntut adanya disiplin yang keras dan kaku dari bawahannya, 5. Tidak menghendaki saran, usul, sugesti, dan kritikan-kritikan dari bawahannya, 6. Komunikasi hanya berlangsung searah. 6. Tipe Kepemimpinan Populistis
5

Kepemimpinan populis berpegang teguh pada nilai-nilai masyarakat yang tradisonal, tidak mempercayai dukungan kekuatan serta bantuan hutang luar negeri. Kepemimpinan jenis ini mengutamakan penghidupan kembali sikap nasionalisme. 7. Tipe Kepemimpinan Administratif/Eksekutif Kepemimpinan tipe administratif ialah kepemimpinan yang mampu menyelenggarakan tugas-tugas administrasi secara efektif. Pemimpinnya biasanya terdiri dari teknokrat-teknokrat dan administratur-administratur yang mampu menggerakkan dinamika modernisasi dan pembangunan. Oleh karena itu dapat tercipta sistem administrasi dan birokrasi yang efisien dalam pemerintahan. Pada tipe kepemimpinan ini diharapkan adanya perkembangan teknis yaitu teknologi, indutri, manajemen modern dan perkembangan sosial ditengah masyarakat. 8. Tipe Kepemimpinan Demokratis Kepemimpinan demokratis berorientasi pada manusia dan memberikan bimbingan yang efisien kepada para pengikutnya. Terdapat koordinasi pekerjaan pada semua bawahan, dengan penekanan pada rasa tanggung jawab internal (pada diri sendiri) dan kerjasama yang baik. kekuatan kepemimpinan demokratis tidak terletak pada pemimpinnya akan tetapi terletak pada partisipasi aktif dari setiap warga kelompok. Kepemimpinan demokratis menghargai potensi setiap individu, mau mendengarkan nasehat dan sugesti bawahan. Bersedia mengakui keahlian para spesialis dengan bidangnya masing-masing. Mampu memanfaatkan kapasitas setiap anggota seefektif mungkin pada saatsaat dan kondisi yang tepat. Perawat sebagai Leader Untuk memastikan bahwa staf keperawatan melaksanakan tugasnya dengan baik, manajer keperawatan harus mampu memimpin, meminta, meyakinkan, mendesak dan membujuk stafnya untuk melakukan apa yang seharusnya dikerjakan, tidak bergantung kepada kapan mereka mau melakukannya tetapi pada kapan klien dan rekan kerja memerlukan bantuan mereka, tidak berdasarkan atas kesukaan mereka tetapi pada apa yang seharusnya dilakukan demi tercapainya tujuan asuhan keperawatan. Kepemimpinan dalam keperawatan merupakan penerapan pengaruh dan bimbingan yang ditujukan kepada semua staf keperawatan untuk

menciptakan kepercayaan dan ketaatan sehingga timbul kesediaan melaksanakan tugas dalam rangka mencapai tujuan bersama secara efektif dan efisien. Penerapan kepemimpinan dalam keperawatan menurut Kron (1981), ruang lingkup kegiatan kepemimpinan dalam keperawatan meliputi: 1. Perencanaan dan pengorganisasian 2. Membuat penugasan dan memberi pengarahan 3. Pemberian bimbingan 4. Mendorong kerjasama dan partisipatif 5. Kegiatan koordinasi 6. Evaluasi hasil kerja. Morton menguraikan ada 4 pemimpin yang efektif yaitu: 1) Seseorang akan mengerti apabila menerima suatu komunikasi, 2) Orang ini mempunyai pedoman apa yang harus dilakukan yang diminta oleh komunikasi tadi, 3) Orang ini percaya bahwa perilaku yang diminta adalah sesuai dengan kehendak perorangan dengan nilai yang baik, 4) Orang ini percaya bahwa hal itu sesuai dengan tujuan dan nilai organisasi. Semua definisi kepemimpinan dipandang bagai suatu proses interaksi yang dinamis yang mencakup tiga dimensi yaitu pimpnan, bwahan, dan situasi. Masing masing dari dimensi tersebut saling mempengaruhi (Swanburg, 2000). Peran dan Tugas Perawat dalam Manajemen Asuhan Keperawatan 1. Peran dan Fungsi Perawat Fungsi perawat menurut Aziz (2004), merupakan suatu pekerjaan yang dilakukan sesuai dengan perannya. Fungsi tersebut dapat berubah sesuai dengan keadaan yang ada. Dalam menjalankan perannya, perawat akan melaksanakan beberapa fungsi dianataranya: a. Fungsi Independen yaitu: mandiri dan tidak tergantung pada orang lain dimana perawat dalam melaksanakannya dilakukan secara sendiri dengan keputusan sendiri dalam melakukan tindakan dalam rangka memenuhi kebutuhan dasar manusia b. Fungsi Dependen yaitu: dalam melaksanakan kegiatan atas pesan dan instruksi dari perawat lain ataupun dari dokter. Sehingga sebagai tindakan pelimpahan tugas yang diberikan. Hal ini biasanya dilakukan oleh perawat kepada perawat umum atau perawat yang fungsinya sebagai perawat pelaksana, juga dokter melimpahkan ke perawat.
7

c.

Fungsi Interdependen yaitu: dilakukan dalam kelompok tim yang bersifat saling ketergantungan diantara tim satu dengan lainnya. Fungsi ini dapat terjadi apabila bentuk pelayanan membutuhkan kerjasama tim dalam pemberian pelayanan seperti dalam memberikan asuhan keperawatan pada penderita yang mempunyai penyakit komplek.

2. Peran Manajer Secara umum peran manajer dapat dinilai dari kemampuannya dalam memotivasi dan meningkatkan kepuasan staf. Kepuasan kerja staf dapat dilihat dari terpenuhinya kebutuhan fisik, psikis, dimana kebutuhan psikis tersebut dapat terpenuhi melalui peran manajer dalam memperlakukan stafnya. Hal ini dapat ditanamkan kepada manajer agar diciptakan suasana keterbukaan dan memberikan kesempatan kepada staf untuk melaksanakan tugas dengan sebaik-baiknya. 3. Peran Kepala Ruangan Adapun tanggung jawab kepala ruangan menurut Gillies (1994) adalah peran kepala ruangan harus lebih peka terhadap anggaran rumah sakit dan kualitas pelayanan keperawatan, bertanggung jawab terhadap hasil dari pelayanan keperawatan yang berkwalitas, dan menghindari terjadinya kebosanan perawat serta menghindari kemungkinan terjadinya saling melempar kesalahan. Kepala ruangan disebuah ruangan keperawatan, perlu melakukan kegiatan koordinasi kegiatan unit yang menjadi tanggung jawabnya dan melakukan kegiatan evaluasi kegiatan penampilan kerja staf dalam upaya mempertahankan kualitas pelayanan pemberian asuhan keperawatan. Berbagai metode pemberian asuhan keperawatan dapat dipilih disesuaikan dengan kondisi dan jumlah pasien, dan kategori pendidikan serta pengalaman staf di unit yang bersangkutan (Arwani, 2005). 4. Fungsi Kepala Ruangan Fungsi kepala ruangan menurut Marquis dan Houston (2000) sebagai berikut: 1) Perencanaan: dimulai dengan penerapan filosofi, tujuan, sasaran, kebijaksanaan, dan peraturan-peraturan, membuat perencanaan jangka pendek dan jangka panjang, menetapkan biaya-biaya untuk setiap kegiatan serta merencanakan dan pengelola rencana perubahan.
8

2) Pengorganisasian:

meliputi

pembentukan

struktur

untuk

melaksanakan

perencanaan, menetapkan metode pemberian asuhan keperawatan kepada pasien yang paling tepat, mengelompokkan kegiatan untuk mencapai tujuan unit serta melakukan peran dan fungsi dalam organisasi dan menggunakan power serta wewengan dengan tepat. 3) Ketenagaan: pengaturan ketegagaan dimulai dari rekruetmen, interview, mencari, dan orientasi dari staf baru, penjadwalan, pengembangan staf, dan sosialisasi staf. 4) Pengarahan: mencangkup tanggung jawab dalam mengelola sumber daya manusia seperti motivasi untuk semangat, manajemen konflik, pendelegasian, komunikasi, dan memfasilitasi kolaborasi. 5) Pengawasan meliputi penampilan kerja, pengawasan umum, pengawasan etika aspek legal, dan pengawasan professional. Seorang manajer dalam mengerjakan kelima fungsinya tersebut sehari sehari akan bergerak dalam berbagai bidang penjualan, pembelian, produksi, keuangan, personalia dan lain lain. 5. Kepala Ruangan Sebagai Manager Keperawatan Sebagai manajer keperawatan, uraian tugas kepala ruangan menurut Depkes (1994), adalah sebagai berikut: 1. Melaksanakan fungsi perencanaan, seperti merencanakan jumlah dan kategori tenaga perawatan serta tenaga lain sesuai kebutuhan, jumlah jenis peralatan perawatan yang diperlukan serta jenis kegiatan/ asuhan keperawatan yang akan diselenggarakan sesuai kebutuhan pasien. 2. Melaksanakan fungsi pergerakan dan pelaksanaan, seperti mengatur dan mengkoordinasi seluruh kegiatan pelayanan di ruang rawat, melaksanakan program orientasi kepada tenaga keperawatan satu atau tenaga lain yamg bekerja di ruang rawat, serta memberi pengarahan dan motivasi kepada tenaga perawatan untuk melaksanakan asuhan perawatan sesuai standar 3. Melaksanakan fungsi pengawasan, pengendalian dan penelitian, meliputi: 1) Mengawasi dan menilai pelaksanaan asuhan keperawatan yang telah ditentukan, melaksanakan penilaian terhadap uapaya peningkatan pengetahuan dan keterampilan di bidang perawatan. 2) Melaksanakan penilaian dan mencantumkan kedalam Daftar Penilaian Pelaksanaan Pekerjaan Pegawai (D.P.3) bagi pelaksana keperawatan dan tenaga lain di ruang yang berada di bawah tanggung jawabnya untuk berbagai
9

kepentingan (naik pangkat/ golongan, melanjutkan sekolah) mengawasi dan mengendalikan pendayagunaan peralatan perawatan serta obat-obatan secara efektif dan efisien. 3) Mengawasi pelaksanaan system pencatatan dan pelaporan kegiatan asuhan keperawatan serta mencatat kegiatan lain di ruang rawat. 6. Perawat Pelaksana Perawat sebagai pelaksana secara langsung maupun tidak langsung memberikan asuhan keperawatan kepada pasien individu, keluarga, dan masyarakat. Peran perawat sebagai perawat pelaksana disebut Care Giver yaitu perawat menggunakan metode pemecahan a. masalah dalam membantu pasien mengatasi masalah kesehatan (Praptianingsi, 2006). Peran sebagai perawat pelaksana, yaitu: Comferter Perawat mengupayakan kenyamanan dan rasa aman pasien (Praptianingsi, 2006). Menurut Potter & Perry (2005), peran sebagai pemberi kenyamanan yaitu memberikan pelayanan keperawatan secara utuh bukan sekedar fisik saja, maka memberikan kenyamanan dan dukungan emosi sering kali memberikan kekuatan kepada klien untuk mencapai kesembuhan. Dalam memberikan kenyamanan kepada klien, perawat dapat mendemonstrasikan dengan klien. b. Protector dan Advocat Perawat berupaya melindungi pasien, mengupayakan terlaksananya hak dan kewajiban pasien dalam pelayanan kesehatan (Praptianingsi, 2006). Menurut Potter & Perry (2005), sebagai pelindung perawat membantu mempertahankan lingkungan yang aman bagi klien dan mengambil tindakan untuk mencegah terjadinya kecelakaan dan melindungi klien dari kemungkinan efek yang tidak diinginkan dari suatu tindakan diagnostik atau pengobatan. c. Communication Perawat sebagai mediator antara pasien dan anggota tim kesehatan, hal ini terkait dengan keberadaan perawatyang mendampingi pasien selama 24 jam untuk memberikan asuhan keperawatan (Praptianingsi, 2006). Menurut Potter & Perry (2005), peran sebagai komunikator merupakan pusat dari seluruh peran perawat pelaksana yang lain. Keperawatan mencakup komunikasi dengan klien, keluarga, antara sesama perawat san profesi kesehatan lainnya, sumber informasi dan komunitas.
10

d.

Rehabilitator Rehabilitas merupakan proses dimana individu kembali ketingkat fungsi maksimal setelah sakit, kecelakaan, atau kejadian yang menimbulkan ketidakberdayaan lainnya. Rentang aktivitas rehabilitas dan restoratif mulai dari mengajar klien berjalan dengan menggunakan alat pembantu berjalan sampai membantu klien mengatasi perubahan gaya hidup yang berkaitan dengan penyakit kronis (Potter & Perry, 2005)

B. Konsep Manajemen dalam Asuhan keperawatan

Pengertian Manajemen Manajemen adalah suatu rangkaian aktivitas (termasuk perencanaan dan pengambilan keputusan, pengorganisasian, kepemimpinan dan pengendalian) yang diarahkan pada sumber-sumber daya organisasi (manusia, finansial, fisik dan informasi) dengan maksud untuk mencapai tujuan organisasi secara efektif dan efisien (Griffin, R.W, 2002). Sedangkan manajer adalah orang yang tanggung jawab utamanya adalah melaksanakan proses manajemen. Fungsi fungsi manajemen adalah sebagai berikut :
a. Perencanaan (Planning)

Fungsi perencanaan meliputi beberapa tugas, diantaranya mengenali masalah, menetapkan dan mengkhususkan tujuan jangka panjang dan jangka pendek, mengembangkan tujuan, dan terakhir menguraikan bagaimana tujuan dan sasaran tersebut dapat dicapai.
b. Pengorganisasian (Organizing)

Rangkaian kegiatan manajemen untuk menghimpun semua sumber daya (potensi) yang dimiliki oleh organisasi dan memanfatkannya secara efisien untuk mencapai tujuan organisasi.
c. Penggerak (Actuating)

Actuating adalah proses memberikan bimbingan kepada staf agar mereka mampu bekerja secara optimal dan melakukan tugas tugasnya sesuai dengan keterampilan yang mereka miliki sesuai dengan dukungan sumber daya yang tersedia.
d. Pengelolaan Staf (Staffing) 11

Fungsi ini mencakup memperoleh, menempatkan dan mempertahankan anggota/staf pada posisi yang dibutuhkan dalam pekerjaan.
e. Pengarahan (Directing)

Seorang manajer harus mampu memberikan arahan kepada stafnya sehingga mereka menjadi pekerja yang berpengetahuan dan mampu bekerja secara efektif guna mencapai sasaran yang telah ditetapkan.
f. Pengontrolan (Controlling)

Tugas ini mencakup kelanjutan tugas untuk melihat apakah kegiatan yang dilaksanakan oleh staf telah berjalan sesuai dengan rencana. Prinsip prinsip manajemen menurut Fayol adalah :
a. Division of work (pembagian pekerjaan) b. Authority dan responsibility (kewenangan dan tanggung jawab) c. Dicipline (disiplin) d. Unity of command (kesatuan komando) e. Unity of direction (kesatuan arah) f. Sub ordination of individual to generate interest (kepentingan individu tunduk pada

kepentingan umum)
g. Renumeration of personal (penghasilan pegawai) h. Centralization (sentralisasi) i. j.

Scalar of hierarchy (jenjang hirarki) Order (ketertiban)

k. Stability of tenure of personal (stabilitas / masa jabatan pegawai) l.

Equity (keadilan)

m. Inisiative (prakarsa) 12

n. Esprit de Corps (kesetiakawanan korps / semangat bekerja sama )

Pengertian Manajemen Keperawatan Manajemen keperawatan diartikan secara singkat sebagi proses pelaksanaan pelayanan keperawatan melalui staf keperawatan untuk memberikan asuhan keperawatan, pengobatan, dan rasa aman kepada pasien/keluarga/masyarakat. (Suyanto,2008). Sehingga dapat disimpulkan manajemen keperawatan adalah suatu tugas khusus yang harus dilaksanakan oleh pengelola keperawatan untuk merencanakan, mengorganisasi, mengarahkan serta mengawasi sumber sumber yang ada baik sumber daya manusia, alat maupun dana, sehingga dapat memberikan pelayanan keperawatan yang efektif, baik kepada pasien, keluarga dan masyarakat. Proses manajemen keperawatan sesuai dengan pendekatan sistem terbuka dimana masing -masing komponen saling berhubungan dan berinteraksi dan dipengaruhi oleh lingkungan. Karena merupakan suatu sistem maka akan terdiri dari lima elemen yaitu input, proses, output, kontrol dan mekanisme umpan balik. Input dari proses manajemen keperawatan antara lain informasi, personel, peralatan dan fasilitas. Proses dalam manajemen keperawatan adalah kelompok manajer dari tingkat pengelola keperawatan tertinggi sampai ke perawat pelaksana yang mempunyai tugas dan wewenang untuk melakukan perencanaan, pengorganisasian, pengarahan dan pengawasan dalam pelaksanaan pelayanan keperawatan. Output adalah asuhan keperawatan, pengembangan staf dan riset. Kontrol yang digunakan dalam proses manajemen keperawatan termasuk budget dari bagian keperawatan, evaluasi penampilan kerja perawat, prosedur yang standar dan akreditasi. Mekanisme timbal balik berupa laporan finansial, audit keperawatan, survei kendali mutu dan penampilan kerja perawat. Menurut Suyanto (2008) Prinsip yang mendasari manajemen keperawatan yaitu: a. Manajemen keperawatan seyogyanya berlandaskan perencanaan, karena melalui fungsi perencanaan pimpinan dapat menurunkan resiko kesalahan, memudahkan pemecahan masalah. b. Manajemen keperawatan dilaksanakan melalui penggunaan waktu yang efektif. Manajer keperawatan yang menghargai waktu akan menyusun perencanaan yang terprogram dengan baik dan melaksanakan kegiatan sesuai waktu yang telah ditentukan.

13

c. Manajemen keperawatan melibatkan para pengambilan keputusan. Berbagai situasi maupun permasalahan yang terjadi saat mengelola kegiatan keperawatan memerlukan keterlibatan pengambil keputusan diberbagai tingkatan manajerial. d. Memenuhi kebutuhan asuhan keperawatan pasien merupakan fokus perhatian manajer keperawatan dengan mempertimbangkan apa yang pasien lihat, fikir, yakini dan ingini. Kepuasan pasien merupakan point utama dari seluruh tujuan keperawatan. e. Pengarahan merupakan elemen kegiatan manajemen keperawatan yang meliputi proses pendelegasian, supervisi, koordinasi dan pengendalian pelaksanaan rencana yang telah diorganisasikan.
f. Devisi keperawatan yang baik dapat memotivasi perawat untuk memperlihatkan

penampilan kerja yang terbaik. g. Manajemen keperawatan menggunakan komunikasi yang efektif. h. Pengembangan staf penting untuk dilaksanakan sebagai upaya persiapan perawat pelaksana menduduki posisi yang lebih tinggi atau untuk peningkatan pengetahuan dan ketrampilan perawat. i. Pengendalian merupakan elemen manajemen keperawatan yang meliputi: penilaian pelaksanaan rencana yang telah dibuat, pemberian instruksi, menetapkan standar dan membandingkannya dengan penampilan serta memperbaiki kekurangan yang terjadi. Lingkup Manajemen Keperawatan (Suyanto, 2008) terdiri dari:
a. Manajemen Pelayanan Keperawatan

Pelayanan keperawatan dirumah sakit dikelola oleh bidang perawatan yang terdiri dari tiga tingkatan manajerial, yaitu: 1) Manajemen puncak (kepala bidang keperawatan)
2) Manajemen menengah (kepala unit pelayanan/supervisor)

3) Manajemen bawah (kepala ruang perawatan) 4) Manajemen Asuhan Keperawatan Manajemen asuhan keperawatan yang dilakukan dengan menggunakan proses keperawatan pada prinsipnya menggunakan konsep konsep manajemen seperti perencanaan, pengorganisasian, pengarahan dan pengendalian atau evaluasi. (Suyanto, 2008) Proses manajemen keperawatan Proses manajemen keperawatan menurut Nursalam (2007) yaitu: a. Pengkajian- pengumpulan data
14

Pada tahap ini seseorang manajer dituntut tidak hanya mengumpulkan informasi tentang keadaan pasien, melainkan juga mengenai institusi (rumah sakit atau puskesmas): tenaga keperawatan, administrasi, dan bagian keuangan yang akan mempengaruhi fungsi organisasi keperawatn secara keseluruhan. Manajer perawat yang efektif harus mampu memanfaatkan proses manajemen dalam mencapai suatu tujuan melalui usaha orang lain. b. Perencanaan Menyusun suatu perencanaan yang strategis dalam mencapai suatu tujuan organisasi yang telah ditetapkan. Perencanaan disini dimaksud untuk menentukan kebutuhan dalam asuhan keperawatan kepada semua pasien, menehgakkan tujuan, mengalokasikan anggaran belanja, menetapkan ukuran dan tipe tenaga keperawatan yang dibutuhkan. c. Pelaksanaan Manajemen keperawatan yang memerlukan kerja melalui orang lain, maka tahap implementasi dalam proses manajemen terdiri atas bagaimana manajer memimpin orang lain untuk menjalankan tindakan yang telah direncanakan. d. Evaluasi Tahap akhir manajerial adalah mengevaluasi seluruh kegiatan yang telah dilaksanakan. Tujuan evaluasi adalah untuk menilai seberapa jauh staf mampu melaksanakan perannya sesuai dengan organisasi yang telah ditetapkan serta mengidentifikasi faktor faktor yang menghambat dan mendukung dalam pelaksanaan.
C. Penerapan kepemimpinan dan Manajemen pada Setting Pelayanan di Rumah

Sakit dan Puskesmas Keberhasilan manajemen keperawatan dalam mengelola suatu organisasi keperawatan dapat dicapai melalui upaya penerapan prinsip-prinsip manajemen keperawatan yaitu : 1. Manajemen keperawatan seyogianya berlandaskan perencanaan 2. Manajemen keperawatan dilaksanakan melalui penggunaan waktu yang efektif 3. Manajemen keperawatan akan melibatkan pengambilan keputusan 4. Memenuhi kebutuhan asuhan keperawatan pasien 5. Manajemen keperawatan harus terorganisir 6. Pengarahan merupakan elemen kegiatan manajemen keperawatan 7. Divisi keperawatan yang baik 8. Manajemen keperawatan menggunakan komunikasi yang efektif
15

9. Pengembangan staf 10. Pengendalian merupakan elemen manajemen keperawatan Pada setting ruang rawat rumah sakit kita mengenal adanya kepala ruangan (karu). Kepala ruangan adalah tenaga perawat yang diberikan tugas memimpin satu ruang rawat dan bertanggung jawab terhadap pemberian asuhan keperawatan. Adapun hal-hal yang dikelola oleh kepala ruang yaitu: 1. SDM Keperawatan 2. Sarana dan prasarana 3. Biaya/anggaran 4. Sistem informasi.
5. Karu secara terus menerus belajar dan menguasai pengetahuan manajemen yang digunakan

untuk menyelesaikan masalah manajerial. 6. Karu berasumsi bahwa perawat pelaksana memerlukan peningkatan kompetensi 7. Organisasi tetap eksis melalui upaya karu melakukan perubahan/pembaharuan. Adapun lingkup kegiatan kepala ruangan (Huber, 2006) yaitu: 1. Mengelola praktik klinik keperawatan dan askep di ruang rawat
2. Mengkoordinasikan pelayanan ruangan dengan dengan tim kesehatan.

3. Mengelola keuangan
4. Mengelola SDM keperawatan di ruangan 5. Bertanggung jawab terhadap staf dan pengaturan shift.

6. Mengevaluasi kualitas dan askep yang tepat. 7. Mengorientasikan dan mengembangkan staf 8. Menjamin terlaksananya standar dan aturan lain. 9. Mempertahankan kenyaman/keamanan pasien
16

D. Penerapan Kepemimpinan dan Majemen pada Setting Pelayanan Keperawatan di Puskesmas Puskesmas sebagai unit pelayanan strata pertama sebenarnya merupakan tempat yang paling ideal bagi perawat khususnya untuk aplikasi perawatan kesehatan keluarga dan komunitas. Selama ini, manajemen keperawatan tidak dijalankan dengan baik di Puskesmas. Berbeda dengan di Rumah Sakit atau klinik swasta. Secara umum, manajemen Puskesmas telah diatur oleh pemerintah termasuk pencatatan dan pelaporannya. Namun, tugas pokok dan fungsi perawat sebagai pelaksana asuhan keperawatan sangat jarang tersentuh pada aplikasinya. Tidak bisa dipungkiri bahwa tugas perawat di Puskesmas tidak sama dengan di Rumah Sakit atau klinik. Perawat di Puskesmas selain memberikan pelayanan di dalam gedung juga memberikan pelayanan di luar gedung. Ditambah lagi dengan beberapa tugas rangkap yang disebabkan kurangnya tenaga di Puskesmas. Banyak perawat yang harus melaksanakan tugas administratif yang seharusnya menjadi tugas staf administrasi. Bahkan di banyak Puskesmas Pembantu, perawat seringkali melakukan tindakan yang sebenarnya merupakan fungsi dependent dari tenaga keperawatan. Mengingat hal tersebut, perlu suatu manajemen yang tepat agar perawat di Puskesmas bisa menjalankan tugas dan fungsinya dengan baik. E. Penerapan Kepemimpinan dan Majemen pada Setting Pelayanan Keperawatan di Keluarga dan Masyarakat Keluarga merupakan sumber dukungan social yang sangat diperlukan oleh setiap individu di dalam setiap siklus kehidupannya (Efendi dan Makhfuldi, 2009,). Dukungan sosial akan semakin dibutuhkan ketika seseorang mengalami masalah atau sakit, di sinilah peran anggota keluarga diperlukan untuk menemani menjalani masamasa sulit dengan cepat. Tingkat kemandirian keluarga menurut Departemen Kesehatan RI (2006) dalam Efendi dan Makhfuldi (2009) yaitu

17

Keperawatan kesehatan keluarga dalam keberadaannya tentunya memiliki tujuan. Tujuan keperawatan kesehatan keluarga yaitu: Meningkatkan kemampuan keluarga dalam mengambil keputusan yang tepat utk mengatasi masalah kesehatan keluarga Meningkatkan kemampuan keluarga dalam memberikan asuhan keperawatan terhadap anggota keluarga yang sakit dan dalam mengatasi masalah kesehatan anggota keluarganya Meningkatkan produktifitas keluarga dalam meningkatkan mutu hidupnya Dalam keperawatan kesehatan keluarga terdapat cara-cara untuk memanajemen kesehatan keluarga tersebut. Adapun Manajemen perawatan kesehatan keluarga adalah Membina hubungan kerja sama yang baik dengan keluarga Melaksanakan pengkajian masalah kesehatan keluarga Menyusun rencana asuhan perawatan kesehatan keluarga Melaksanakan asuhan keperawatan kesehatan keluarga Melaksanakan evaluasi keberhasilan tindakan keperawatan yang dilakukan Lain halnya dengan keluarga, masyarakat adalah sumber-sumber sejati dari divisi keperawatan, dan masyarakat dibuat produktif oleh manajemen keperawatan. Melalui
18

fungsi keperawatan mereka dapat menghasilkan lingkungan hidup mereka sendiri dan menemukan akses pada kebutuhan mereka terhadap status social, pencapaian komunitas dan individu, dan kepuasan. (Swanburg, 2000) F. Metode Penugasan dalam Manajemen Asuhan Keperawatan di Pelayanan di Rumah Sakit dan Puskesmas Profesionalisme perawat mempengaruhi kualitas pelayanan dalam sebuah institusi baik rumah sakit maupun puskesmas. Salah satu upaya untuk memberikan pelayanan yang berkualitas dan profesional adalah pengembangan model praktik keperawatan profesional (MPKP) yang mengatur metode penugasan dalam memberikan asuhan keperawatan. Ada beberapa metode penugasan dalam manajemen asuhan keperawatan di rumah sakit yang meliputi keperawatan fungsional, keperawatan tim, keperawatan primer, praktik bersama, dan manajemen kasus. 1. Metode Fungsional Model pemberian asuhan keperawatan ini berorientasi pada penyelesaian tugas dan prosedur keperawatan. Model ini digambarkan sebagai keperawatan yang berorientasi pada tugas dimana fungsi keperawatan tertentu ditugaskan pada setiap anggota staf. Setiap staf perawat hanya melakukan 1-2 jenis intervensi keperawatan pada semua pasien di bangsal. Misalnya seorang perawat bertanggung jawab untuk pemberian obat, seorang lain untuk tindakan perawatan luka, dan sebagainya.

Gambar 1.1 Sistem pemberian asuhan keperawatan fungsional

19

2. Metode Tim Metode tim adalah pengorganisasian pelayanan keperawatan dnegan menggunakan tim yang terdiri atas kelompok klien dan perawat. Kelompok ini dipimpin oleh perawat yang berijazah dan berpengalaman kerja serta memiliki pengetahuan di bidangnya (Registered nurse). Pembagian tugas dalam kelompok dilakukan oleh pimpinan kelompok/ketua group dan ketua group bertanggung jawab dalam mengarahkan anggota kelompoknya/tim. Ketua kelompok juga bertugas untuk memberi pengarahan dan menerima laporan kemajuan pelayanan keperawatan klien serta membantu anggota tim dalam menyelesaikan tugas apabila mengalami kesulitan selanjutnya ketua tim melaporkan pada kepala ruang. Pelaksanaan konsep tim sangat bergantung pada filosofi ketua tim apakah berorientasi pada tugas atau pada klien. tugas keta tim meliputi: mengkaji anggota tim, memberi arahan perawatan untuk klien, melakukan pendidikan kesehatan, dan

mengkoordinasikan aktivitas klien. 3. Metode Primer Keperawatan primer merupakan suatu metode pemberian asuhan keperawatan dimana perawat primer bertanggung jawab selama 24 jam terhadap perencanaan pelaksanaan pengevaluasi satu atau beberapa klien dan sejak klien masuk rumah sakit sampai pasien dinyatakan pulang. Selama jam kerja, perawat primer memberikan perawatan langsung secara total untuk klien. ketika perawat primer tidak sedang

20

bertugas, perawatan diberikan/didelegasikan kepada perawat asosier yang mengikuti rencana keperawatan yang telah disusun oleh perawat primer. Setiap perawat primer mempunyai 4-6 pasien. Ada beberapa ketentuan untuk menentukan perawat primer di antaranya, memiliki kemampuan asertif, self direstion kemampuan mengambil keputusan yang tepat, menguasai keperawatan klinik, akuntabel serta mampu berkolaborasi dengan baik antar berbagai disiplin ilmu, biasanya yang ditunjuk sebagai perawat primer adalah seorang perawat spesialis klinik.

4. Metode Kasus Metode dimana perawat bertanggung jawab terhadap pasien tertentu yang didasarkan pada rasio satu perawat untuk satu pasien dengan pemberian perawatan kostan untuk periode tertentu. metode ini biasa diterapkan untuk perawatan khusus seperti isolasi, intensive care, perawat kesehatan komunitas, dll. 5. Metode Modifikasi Metode yang merupakan modifikasi antara tim dan primer. Menurut Sudasono (2000), ada beberapa jenis metode modifikasi yang ditentukan berdasarkan kondisi sumber daya manusia, antara lain adalah:

21

a. Model Praktek Keperawatan Profesional III. Ketenagaannya terdiri dari perawat

dengan kemampuan doktor dalam keperawatan klinik yang berfungsi untuk melakukan riset dan membimbing para perawat melakukan riset.
b. Model Praktek keperawatan Profesional II. Ketenagaannya terdapat tenaga perawat

dengan kemampuan spesialis keperawatan yang spesifik untuk cabang ilmu tertetentu. Perawat spesialis berfungsi untuk memberikan konsultasi tentang asuhan keperawatan kepada perawat primer pada area spesialisnya. Jumlah perawat spesialis direncanakan satu orang untuk 10 perawat primer pada area spesialisnya.
c. Model Praktek Keperawatan Profesional I. Diperlukan 3 komponen utama yaiitu:

ketenagaan keperawatan, metode pemberian asuhan keperawatan yang digunakan. Kombinasi metode keperawatan primer dan metode tim disebut tim primer.
d. Model Praktek Keperawatan Profesional Pemula. Pada model ini terdapat 3

komponen utama yaitu: ketenagaan keperawatan, metode pemberian asuhan keperawatan dan dokumentasi asuhan keperawatan. Nilai-nilai profesional dari penatalaksanaan kegiatan keperawatan daplikasikan dalam bentuk aktivitas pelayanan profesional yang dipaparkan dalam 4 pilar sebagai berikut: Pendekatan Manajemen (Management approach), Penghargaan karir (compensatory rewards), Hubungan Profesional (Professional relationship), dan Sistem pemberian asuhan pasien (patient care delivery system).

22

Keperawatan Kesehatan Masyarakat (Community Health Nursing) Perawatan Kesehatan Masyarakat sering disebut dengan PHN (Public Health Nursing), namun pada akhir-akhir ini lebih tepat disebut CHN (Community Health Nursing). Keperawatan Kesehatan masyarakat (Perkesmas) adalah pelayanan keperawatan profesional yang merupakan perpaduan antara konsep kesehatan masyarakat dan konsep keperawatan yang ditujukan pada seluruh masyarakat dengan penekanan pada kelompok resiko tinggi. Kegiatan keperawatan kesehatan masyarakat meliputi kegiatan di dalam maupun di luar gedung Puskesmas baik upaya kesehatan perorangan dan atau upaya kesehatan masyarakat. (Supari, 2006) Pelaksana utama kegiatan keperawatan kesehatan masyarakat adalah semua perawat fungsional keperawatan di Puskesmas. Perawat Puskesmas memiliki enam peran dan fungsi, yaitu (1) sebagai penemu kasus (case finder), (2) sebagai pemberi pelayanan (care giver); (3) sebagai koordinator dan kolaborator ; (5) pemberi nasehat (counseling); (6) sebagai panutan (role model). (Supari, 2006) Pengorganisasian di Puskesmas. Kepala Puskesmas merupakan penanggung jawab kegiatan Perkesmas di Puskesmas. Agar berjalan optimal, ditetapkan adanya: 1. Perawat Pelaksana perkesmas di puskesmas adalah semua tenaga fungsional perawat di Puskesmas.
2. Perawat penanggung jawab desa/daerah binaan merupakan perawat pelaksana yang

sekaligus membantu perawat koordintor perkesmas. Dalam aspek teknis keperawatan kesehatan masyarakat, Kepala Puskesmas dibantu oleh Perawat Koordinator. (Supari, 2006)

G. Proses Timbang Terima Per-shift dan Ronde Keperawatan


1. Timbang Terima Per-shift

Proses timbang terima per-shift atau biasa disebut sebagai operan adalah suatu proses dimana suatu tim perawat menyampaikan laporan yang berkaitan dengan kondisi pasien, contohnya mengenai informasi tentang asuhan keperawatan kepada tim perawat yang lain, dan biasanya dilaksanakan pada akhir shift (Smith, 2004). Perawat yang melaksanakan timbang terima mengkaji secara penuh terhadap masalah, kebutuhan dan segenap tindakan yang telah dilaksanakan serta hal-hal yang penting lainnya selama masa perawatan. Tujuan dari proses ini adalah untuk mengakurasi, mereliabilisasi komunikasi
23

tentang perpindahan informasi yang relevan yang digunakan untuk kesinambungaan dalam keselamatan dan keefektifan dalam bekerja (Nursalam, 2002). Gaya utama dalam proses timbang terima terdiri dari timbang terima verbal yang bertempat di ruangan khusus, rekaman (tape recorder), timbang terima di samping tempat tidur dan timbang terima secara tertulis (Sexton, 2004). Gaya timbang terima yang diterapkan pada tiap rumah sakit berbeda tergantung dari masing-masing manajemen rumah sakit tersebut. Timbang terima secara verbal dilakukan saat kedua tim perawat yang akan bertukar shift berkumpul dalam ruangan khusus dan melakukan konferensi dan bertukar informasi, model ini memakan waktu lama sehingga banyak keluhan pasien yang tidak dapat tersampaikan. Sedangkan timbang terima yang dilakukan di samping tempat tidur memungkinkan perawat menerima informasi terbaru dari pasien dan tidak memakan banyak waktu dalam prosesnya. Proses timbang terima dilakukan kepada masing-masing penanggung jawab dan dilaksanakan setiap penggantian shift. Dari nurse station, perawat berdiskusi untuk melaksanakan timbang terima dengan mengkaji secara komprehensif hal-hal yang berkaitan tentang masalah keperawatan klien. Hal-hal yang sifatnya khusus, memerlukan perincian yang matang dicatat secara khusus untuk diserah terimakan pada petugas berikutnya. Berikut ini adalah hal-hal yang perlu disampaikan pada saat timbang terima (Nursalam, 2002): a) Identitas pasien dan diagnosa medis b) Masalah keperawatan yang masih muncul c) Tindakan mandiri keperawatan yang telah dilaksanakan d) Intervensi kolaboratif yang telah dilaksanakan e) Rencana umum dan persiapan yang perlu dilakukan terhadap prosedur yang tidak rutin dijalankan. Perawat yang melaksanakan timbang terima dapat melakukan klarifikasi, tanya jawab dan melakukan validasi terhadap hal-hal yang telah ditimbang terimakan atau berhak bertanya terhadap keterangan-keterangan yang kurang jelas. Timbang terima harus dilakukan seefektif mungkin dan proses ini dilakukan tidak lebih dari 5 menit untuk setiap pasien, kecuali dalam kondisi khusus dan memerlukan keterangan yang rumit. Informasi yang disampaikan harus akurat sehingga kesinambungan asuhan keperawatan dapat berjalan dengan sempurna (Nursalam, 2002). Prinsip dalam proses timbang terima terdiri dari (Brown, 2010): a) Informasi harus disampaikan secara verbal dan tertulis
24

b) c) d) e) lainnya

Diberikan atau disampaikan oleh perawat yang secara langsung Menunda pekerjaan atau kegiatan klinis selama proses timbang terima Merupakan proses komunikasi dua arah, terdapat kesempatan untuk Ruang khusus, terpisah dari pekerjaan klinis dan kemungkinan distraksi

menangani pasien atau mengetahui kondisi pasien

melakukan klarifikasi

f)Menggunakan dokumentasi atau laporan yang telah tersedia untuk menghindari adanya dokumentasi ganda atau kesalahan transkripsi g) h) Berisi laporan singkat dan dikhususkan pada masalah klinis Menghindari penggunaan singkatan dan istilah non spesifik

i) Menghindari asumsi lokal dan pengetahuan budaya Kontinuitas dari sebuah pelayanan keperawatan profesional di rumah sakit dapat dicapai dengan cara pengoptimalan peran dan fungsi masing-masing anggota tim kesehatan. Hal ini dapat diwujudkan bergantung dari adanya suatu mekanisme komunikasi yang efisien dan efektif dari seluruh anggota tim kesehatan (Sexton, 2004). Apabila komunikasi antar tim kesehatan yang ada berjalan dengan lancar, maka peran dan fungsi masing-masing anggota tim akan berjalan secara optimal, yang nantinya secara otomatis dapat meningkatkan kualitas asuhan keperawatan. 2. Ronde Keperawatan Ronde keperawatan adalah suatu kegiatan yang bertujuan untuk mengatasi masalah keperawatan klien yang dilaksanakan oleh perawat, disamping pasien dilibatkan untuk membahas dan melaksanakan asuhan keperawatan, akan tetapi pada kasus tertentu harus dilakukan oleh perawat primer atau konselor, kepala ruangan, perawat associate dengan melibatkan seluruh anggota tim. Karakteristik dari ronde keperawatan adalah klien dilibatkan secara langsung dan merupakan fokus kegiatan, perawat asosiet, perawat primer dan konselor melakukan diskusi bersama dan konselor memfasilitasi kreatifitas serta membantu mengembangkan kemampuan perawat asosiet dan perawat primer dalam mengatasi masalah (Sitorus, 2005). Tujuan dari ronde keperawatan adalah menumbuhkan cara berpikir secara kritis, menumbuhkan pemikiran tentang tindakan keperawatan yang berasal dari masalah klien, meningkatkan validitas data klien, menilai kemampuan justifikasi, meningkatkan kemampuan dalam menilai hasil kerja, dan meningkatkan kemampuan untuk
25

memodifikasi rencana keperawatan (Sitorus, 2005). Intinya, ronde keperawatan ialah suatu kegiatan yang bertujuan untuk meningkatkan kompetensi dasar dari masing-masing perawat agar skill atau kemampuan yang dimiliki semakin meningkat dan menjadi setara antara perawat yang satu dengan perawat yang lainnya. Peran dari masing-masing anggota tim dalam ronde keperawatan sangat penting untuk memaksimalkan keberhasilan dalam pekerjaan, diantaranya yaitu (Sitorus, 2005): a) Peran perawat primer (ketua tim) dan perawat asosiet (anggota tim)

Menjelaskan keadaan dan data demografi klien Menjelaskan masalah keperawatan utama Menjelaskan intervensi yang belumdan yang akan dilakukan Menjelaskan tindakan selanjutnya Menjelaskan alasan ilmiah tindakan yang akan diambil Memberikan justifikasi Memberikan reinforcement Menilai kebenaran dari suatu masalah, intervensi keperawatan serta tindakan yang rasional Mengarahkan dan koreksi Mengintegrasikan teori dan konsep yang telah dipelajari Pelaksanaan ronde keperawatan dimulai dari penjelasan tentang klien oleh

b) Peran ketua tim lain dan konselor

perawat primer, dalam hal ini penjelasan difokuskan pada masalah keperawatan dan rencana tindakan yang akan atau telah dilaksanakan. Proses selanjutnya adalah diskusi antar anggota tim mengenai kasus tersebut, pemberian justifikasi oleh perawat primer, konselor atau kepala ruangan tentang masalah klien, serta tindakan yang akan dilakukan dan tindakan keperawatan pada masalah prioritas yang telah atau yang akan ditetapkan (Sitorus, 2005). H. Dokumentasi dalam Asuhan Keperawatan di Area Rumah Sakit dan Puskesmas Pendokumentasian asuhan keperawatan merupakan suatu upaya untuk menegakkan akuntabilitas profesi perawat, yang secara umum bertujuan untuk meningkatkan mutu pelayanan keperawatan. Pendokumentasian dilakukan setelah pelaksanaan setiap tahap proses keperawatan keluarga dilakukan dan disesuaikan urutan waktu. Adapun manfaat dari pendokumentasian diantaranya sebagai alat komunikasi antar anggota tim kesehatan
26

lainnya, sebagai dokumen resmi dalam sistem pelayanan kesehatan, sebagai alat pertanggung jawaban dan pertanggung gugatan asuhan keperawatan yang diberikan pada pasien (Effendi, 1995). Tujuan utama pendokumentasian keperawatan adalah mengidentifikasi status kesehatan klien dalam rangka mencatat kebutuhan klien,merencanakan, melaksanakan tindakan keperawatan, dan mengevaluasi tindakan, serta dokumen tasi untuk penelitian, keuangan, hukum dan etika. Sedangkan manfaat dari pendokumentasian ini antara lain :

Bila terjadi suatu masalah yang berhubungan dengan profesi kepoerawatan, dimana perawat sebagai pemberi jasa dan klien sebagai pengguna jasa, maka dokumentasi diperlukan sewaktu-waktu. Dokumentasi tersebut dapat dipergunakan sebagai barang bukti di pengadilan.

Jaminan mutu (kualitas pelayanan). Pencatatan data klien yang lengkap dan akurat, akan memberikan kemudahan bagi perawat dalam membantu menyelesaikan masalah klien. Dan untuk mengetahui sejauh mana masalah klien dapat teratasi dan seberapa jauh masalah baru dapat diidentifikasi dan dimonitor melalui catatan yang akurat. Hal ini akan membantu meningkatkan mutu yankep.

Komunikasi, Dokumentasi keadaan klien merupakan alat perekam terhadap masalah yang berkaitan dengan klien. Perawat atau tenaga kesehatan lain akan bisa melihat catatan yang ada dan sebagai alat komunikasi yang dijadikan pedoman dalam memberikan asuhan keperawatan.

Keuangan, Semua tindakan keperawatann yang belum, sedang, dan telah diberikan dicatat dengan lengkap dan dapat digumakan sebagai acuan atau pertimbangan dalam biaya keperawatan.

Pendidikan,

Isi pendokumentasian menyangkut kronologis dari kegiatan asuhan

keperawatan yang dapat dipergunakan sebagai bahan atau referensi pembelajaran bagi siswa atau profesi keperawatan.

Penelitian,

Data yang terdapat di dalam dokumentasi keperawatan mengandung

informasi yang dapat dijadikan sebagai bahan atau objek riset dan pengembangan profesi keperawatan.

Akreditasi, Melalui dokumentasi keperawatan dapat dilihat sejauh mana peran dan fungsi keperawatan dalam memberikan askep pada jklien. Dengan demikian dapat

27

diambil kesimoulan tingkat keberhasilan pemeberian askep yang diberikan, guna pembinaan lebih lanjut. 1. Dokumentasi Keperawatan di Puskesmas Upaya keperawatan kesehatan masyarakat sebagai upaya kesehatan yang professional harus dapat dipertanggungjawabkan baik dalam aspek teknis maupun administrative. Untuk mendukung hal tersebut, diperlukan dokumentasi yang tepat dan benar antara lain melalui pencatatan dan pelaporan kegiatan. Meskipun materi yang dicatat dan dilaporkan tergantung informasi yang diperlukan untuk mendukung proses pengambilan keputusan di tingkat Puskesmas/Kabupaten/Kota, tetapi Puskesmas diharapkan mempunyai pencatatan kegiatan Perkesmas (Perawat Kesehatan Masyarakat) sebagai berikut:

a.

Pencatatan Meliputi: Formulir pengkajian keperawatan. Formulir pengkajian keperawatan baik untuk individu, keluarga, kelompok, masyarakat. 1) Register Rawat jalan dan register rawat inap (untuk Puskesmas dengan Ruang Rawat Inap). 2) Catatan keperawatan. Dimaksudkan untuk mencatat rencana, tindakan dan penilaian keperawatan klien (individu, keluarga, kelompok, masyarakat) yang mendapat asuhan keperawatan. 3) Family Folder (berkas catatan kesehatan keluarga) untuk setiap keluarga rawan kesehatan/miskin yang dibina. 4) Buku register Kohort Keluarga Pembinaan Keluarga rawan. Merupakan catatan untuk mengetahui identitas, masalah kesehatan yang dihadapi serta kemajuan pembinaan keluarga rawan kesehatan/miskin yang dibina.

28

5) Buku register Pembinaan Kelompok/Desa/mayarakat. Merupakan catatan untuk mengetahui identitas, masalah kesehatan yang dihadapi serta kemajuan pembinaan kelompok khusus/masyarakat/desa yang dibina. 6) Buku Catatan Kegiatan Perawat. Merupakan catatan kegiatan perawat dalam melaksanakan asuhan keperawatan dan kegiatan lainnya, yang memudahkan untuk perhitungan angka kredit jabatan fungsionalnya. (Keputusan Menkes RI, 2006) b. Pelaporan Disesuaikan dengan kebutuhan informasi untuk mengukur keberhasilan upaya keperawatan kesehatan masyarakat sesuai dengan indikator yang sudah diterapkan. Bentuk format laporan terintegrasi dengan sistem pelaporan yang berlaku. (Keputusan Menkes RI, 2006)

2. Dokumentasi Keperawatan di Rumah Sakit Teknik dokumentasi keperawatan merupakan cara menggunakan dokumentasi keperawatan dalam penerapan proses keperawatan. Ada tiga teknik dokumentasi yang sering digunakan: a) SOR (Source Oriented Record) Adalah tehnik dokumentasi yang dibuat oleh setiap anggota tim kesehatan. Dalam melksanakan tindakan mereka tidak tergantung dengan tim lainnya. Catatan ini cocok untuk pasien rawat inap. b) Kardex Teknik dokumentasi ini menggunakan serangkaian kartu dan membuat data penting tentang klien dengan menggunakan ringkasan problem dan terapi klien yang digunakan pada pasien rawat jalan. c) POR (Problem Oriented Record) POR merupakan teknik efektif untuk mendokumentasikan system pelayanan keperawatan yang berorientasi pada masalah klien. Teknik ini dapat digunakan untuk mengaplikasikan pendekatan pemecahan masalah, mengarahkan ide
29

pemikiran anggota tim mengenai problem klien secara jelas. Sistem POR ini mempunyai 4 komponen: Data dasar, daftar masalah, rencana awal, catatan perkembangan Format Dokumentasi Aziz Alimul (2001) mengemukakan ada lima bentuk format yang lazim digunakan: a) Format naratif. Merupakan format yang dipakai untuk mencatat perkembangan pasien dari hari ke hari dalam bentuk narasi. b) Format Soapier Format inib dapat digunakan pada catatan medic yang berorientasi pada masalah (problem oriented medical record) yang mencerminkan masalah yang di identifikasi oleh semua anggota tim perawat. Format soapier terdiri dari: S= Data Subjektif. Masalah yang dikemukakan dan dikeluhkan atau yang dirasakan sendiri oleh pasien O = Data Objektif. Tanda-tanda klinik dan fakta yang berhubungan dengan diagnose keperawatan meliputi data fisiologis dan informasi dari pemeriksaan. Data info dapat diperoleh melalui wawancara, observasi, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan diagnostic laboratorium. A = Pengkajian (Assesment). Analisis data subjektif dan objektif dalam menentukan masalah pasien. P = Perencanaan. Pengembangan rencana segera atau untuk yang akan dating dari intervensi tindakan untuk mencapai status kesehatan optimal. I = Intervensi. Tindakan yang dilakukan oleh perawat E = Evaluasi. Merupakan analisis respon pasien terhadap intervensi yang diberikan R = Revisi. Data pasien yang mengalami perubahan berdasarkan adanya respon pasien terhadap tindakan keperawatan merupakan acuan perawat dalam melakukan revisi atau modifikasi rencana asuhan keperawatan. c) Format fokus/DAR Semua masalah pasien diidentifikasi dalam catatan keperawatan dan terlihat pada rencana keperawatan. Kolom focus dapat berisi : masalah pasien (data), tindakan (action) dan respon (R)
30

d) Format DAE Merupakan system dokumentasi dengan konstruksi data tindakan dan evaluasi dimana setiap diagnose keperawatan diidentifikasi dalam catatan perawatan, terkait pada rencana keprawatan atau setiap daftar masalah dari setiap catatan perawat dengan suau diagnose keperawatan. e) Catatan perkembangan ringkas Dalam menuliskan catatan perkembangan diperlukan beberapa hal yang perlu diperhatikan antara lain : Adanya perubahan kondisi pasien, berkembangnya masalah baru, pemecahan masalah lama, respon pasien terhadap tindakan, kesediaan pasien terhadap tindakan, kesediaan pasien untuk belajar, perubahan rencana keperawatan, adanya abnormalitas atau kejadian yang tidak diharapkan

I.

Upaya Peningkatan Kualitas Kepemimpinan dan Manajemen Keperawatan agar Sesuai dengan Kualitas Akreditasi Secara Internasional/JCI Di era globalisasi ini, segala profesi yang ada dituntut untuk menunjukkan keprofesianalannya, termasuk profesi perawat. Untuk menyikapi hal ini lahirlah standar akreditasi internasional yang telah dibuat dengan tujuan memudahkan adanya pengakuan berstandar Internasional bagi profesi perawat. Adanya standar akreditasi international perawat ini sangatlah penting, karena Perawat memiliki peranan besar bagi suatu rumah sakit dalam memenuhi standar pelayanan internasional. Guna memberikan pelayanan yang baik, perawat harus memperhatikan standar pelayanan sesuai akreditasi Joint Commision International (JCI), yaitu keselamatan pasien dan kualitas perawatan pasien (Dimyati, 2012). Demi terwujudnya pelayanan rumah sakit di Indonesia yang memenuhi standar JCI dibutuhkan berbagai peranan elemen masyarakat, termasuk pemerintah.Dalam upaya mendukung peningkatan mutu rumah sakit, pemerintah telah membuat kebijakan yang dituangkan dalam UU No. 44 tahun 2009 tentang Rumah Sakit, Peraturan Menteri Kesehatan No. 659 tahun 2009 tentang Rumah Sakit Indonesia Kelas Dunia dan SK Menteri Kesehatan No. 1195 Tahun 2010 tentang Lembaga Akreditasi Rumah Sakit Bertaraf Internasional (IZN, 2012). Seluruh regulasi ini berperan dalam mengatur instansi kesehatan menuju rumah sakit yang memenuhi standar JCI.
31

Akreditasi tersebut menjadi wujud nyata peningkatan profesionalisme bagi setiap rumah sakit yang mendapatkan akreditasi itu. Kelanjutan apabila suatu RS sudah berstandar JCI maka harus ada peranan dari elemen lain yang terlibat didalamnya. Salah satu bagian yang memegang peranan penting ialah perawat. Apabila suatu rumah sakit telah berakreditasi JCI maka perlu adanya komunikasi yang optimal antara rumah sakit dengan perawat, dan perawat dengan pasien. Perawat yang baik harus mampu mewujudkan efisiensi biaya perawatan kesehatan," ucap Taryudi, Direktur Keperawatan RS Premier Jatinegara (Dimyati, 2012). Program yang telah dijalankan oleh RS Premier Jatinegara sebagai upaya pemenuhan standar JCI ini ialah dengan menjalankan Clinical Pathways (Dimyati, 2012). Program ini menjadi sarana komunikasi yang akurat antara para perawat dengan pasien. Sehingga komunikasi yang akurat bisa mewujudkan efisiensi biaya perawatan kesehatan, sehingga bisa menekan pengeluaran yang harus ditanggung pasien. Perawat yang professional harus mampu menempatkan dirinya dan mengambil segala pelajaran yang didapat kemudian diterapkan saat bertemu pasiennya. Ketua Umum Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI), Ibu Dewi Irawaty mengatakan, komitmen perawat harus kuat dalam mengutamakan kepentingan pasien (IZN, 2012). Beliau mengungkapkan bahwa nasib pasien ditentukan dengan kinerja perawat. Sebagai seorang pemimpin yang juga harus mampu mengatur segalanya, disinilah perawat yang telah berkomitmen harus mampu membantu pasien dalam menyelesaikan segala masalahnya. Coba dibayangkan kalau ada perawat yang melakukan mogok kerja, bagaimana dengan nasib pasiennya, ungkap Ibu Dewi Irawaty. Langkah konkrit lainnya ialah meningkatkan kompetensi perawat di Indonesia. Perawat harus memiliki kemampuan kompetensi khusus dalam meningkatkan pelayanan. Direktur Jenderal Bina Pemerintah Upaya Indonesia Kesehatan telah Kemenkes, Supriantoro, mengatakan

menandatangani Mutual Recognition Arrangement (MRA) on Nursing Services di Busan, Filipina pada 2006 lalu. Dengan langkah tersebut artinya Indonesia dituntut memiliki kesejajaran dalam mutu pelayanan keperawatan dengan negara-negara ASEAN lainnya (Dimyati, 2012). "Dalam pelayanan medik, perawat berada di lini depan dalam menangani pasien. Perawat sudah dapat menegakkan diagnosis
32

keperawatan sehingga dapat memberikan perawatan sebelum pasien ditangani oleh dokter," kata Supriantoro. Dari berbagai penjelasan yang telah dipaparkan menujukkan bahwa perawat telah menjadi bagian yang vital dalam proses penanganan pasien. Setiap perawat dituntut untuk mengetahui dengan baik prosedur dan standar keselamatan pasien serta peran dan tanggung jawabnya. Perawat yang baik di rumah sakit yakni perawat yang mampu mewujudkan efisiensi biaya perawatan kesehatan sekaligus hidup-mati pasien. Oleh karena itu, banyak rumah sakit yang mulai menggalakkan banyak cara untuk mewujudkan hal ini, seperti program Clinical Pathways yang dijalankan di RS Premier Jatinegara. Mari kita dukung program untuk meningkatkan mutu pelayanan kesehatan rumah sakit di Indonesia agar sesuai dengan standar internasional.

33

BAB III PENUTUP

A. Kesimpulan Keperawatan merupakan bagian yang terpenting dalam pelayanan kesehatan yang pasti memerlukan suatu pengelolaan keperawatan yang baik. Sementara untuk mewujudkan pengelolaan yang baik diperlukan beberapa tingkat pengetahuan tentang manajemen keperawatan. Proses manajemen keperawatan sesuai dengan pendekatan sistem terbuka dimana masing -masing komponen saling berhubungan dan berinteraksi dan dipengaruhi oleh lingkungan yang didalamnya terdapat prinsip, lingkup, dan proses. Pengeloaan keperawatan yang baik akan dapat didapatkan apabila diserta cara kepemimpinan yang baik sehingga dapat dipastikan staf keperawatan melaksanakan tugasnya dengan baik. Penerapan kepemimpinan dan manajemen keperawatan pun berbeda menurut lingkupnya, baik itu di ruang rawat inap, puskesmas, atau masyarakat dan keluarga. Terdapat banyak istem penugasan dalam manajemen keperawatan yang penerapan dari kesemuanya tersebut bergantung pada sumber daya masyarakat, situasi, dan kondisi yang berlangsung. Setiap staf keperawatan memeliki fungsi dan tugas tersendiri yang tercakup dalam fungsi dependen, fungsi independen, dan fungsi interdependen yang di dalam penerapannya juga dipengaruhi oleh tingkat kabatan serta kewenangan yang dimiliki
34

oleh perawat, misalnya seorang kepala ruangan yang juga bertugas untuk memberikan pengarahan kepada staf perawat di bawahnya selain harus memberikan asuhan keperatan kepada klien. Selain berinteraksi dengan klien dan tim medis yang lain perawat juga melakukan interaksi dengan sesama perawat untuk salah satunya melalui operan shift atau pun ronde. Semua manajemen keperawatan ini tidak lain bertujuan untuk memberikan pelayanan yang baik. Dan pelayanan yang baik adalah pelayanan yang sesuai akreditasi yang terdapat pada Joint Commision International (JCI), yaitu keselamatan pasien dan kualitas perawatan pasien.

B. Saran Saat ini, dunia keperawatan dan perawat dituntut untuk seakin maju dan lebih professional yang bukan hanya memberikan asuhan keperawatan yang bermutu akan tetapi juga memiliki skill untuk dapat memanajemen dan memimpin. Manajemen keerawatan yang baik akan berefek pada peningkatan pelayanan asuhan keperawatan yang baik pula. Oleh karena itu, diperlukan upaya peningkatan kepemimpinan dan manajemen perawat yang sesuai dengan JIC (Joint Commision International) salah satunya dengan memenuhi akreditasi yang telah ditetapkan di rumah sakit yang telah terakreditasi.

35

DAFTAR PUSTAKA Brown, A. (2010). Review of Nursing Shift to Shift Handover at a Regional Hospital. http://www.changechampions.com.au/resource/Andrew_Brown.pdf. Connor, F.,D. (2010).Nursings Role in The Computerization. Diakses dari http://proquestnursing&alliedhealthsource diakses 6 September 2012-09-08 Dimyati, Vien. (2012). Kompetensi Perawat Perlu Ditingkatkan. http://www.jurnas.com/halaman/9/2012-05-22/209811. (Diakses pada 09 September 2012, 12.45) Griffin, R.W. (2002). Manajemen . Jakarta: Erlangga. Harnawatiaj. 2008. Dokumentasi Keperawatan. Diakses 5 September 2012. Di http://harnawatiaj.wordpress.com/2008/06/23/format-dokumentasi-keperawatan/ IZN. (2012). Perawat Berperan Penting Mewujudkan RS Berakreditasi Internasional. http://www.pdpersi.co.id/content/news.php?mid=5&nid=814&catid=2. (Diakses pada 05 September 2012, 11.15) Kozier, et al., (1995). Fundamentals of nursing: concepts process and practice, fourth edition, Addison Wesley, California Nursalam (2002). Manajemen Keperawatan: Aplikasi dalam Praktik Keperawatan Profesional. Jakarta: Salemba Medika. ------------. 2008. Manajemen Keperawatan: Aplikasi dalam praktik Keperawatan Profesional Edisi 2. Jakarta: Salemba Medika
36

Potter, P.A. & Perry, A.G. (2005). Fundamental of Nursing: Concept, Process, and Practice. 4th Ed. St. Louis: Mosby-Year Book Inc. Sexton, A.C., et al. (2004). Journal of Nursing Management: Nursing handovers: do we really need them?. http://publicationslist.org/data/m.elliott/ref-10/Nursing%20handovers%20%20do%20we%20really%20need%20them.pdf. Sitorus, R. (2005). Model Praktek Keperawatan Profesional di Rumah Sakit. Jakarta: EGC. Smith, G.D. (2004). Get Set for Nursing. Edinburgh: Edinburgh University Press. Supari, S.F. (2006). Keputusan Menteri Kesehatan Nomer 279/MENKES/SK/IV/2006 tentang Pedoman Penyelenggaraan Upaya Keperawatan Kesehatan Masyarakat di Puskesmas. Menteri Kesehatan Republik Indonesia. Suyanto, SKp, M.Kep (2008) ; Kepemimpinan dan manajemen keperawatan. Yogjakarta: MITRA CENDIKIA Press, Swanburg, Russel C. ( 2000 ), Pengantar kepemimpinan & manajemen keperawatan. Jakarta: EGC. Windyati, Senik (2008). Seminar Peran Sistem Informasi Kesehatan dalam Desa Siaga. Sistem Informasi dalam ...simkes.fk.ugm.ac.id/?p=8 diakses pada tanggal 6 September 2012

37