Anda di halaman 1dari 25

Gangguan Preferensi Seksual

Marwin T, Fiona, Boyke S, Emelia W

BAB I. PENDAHULUAN
Perilaku seksual bermacam-macam dan ditentukan oleh suatu interaksi faktor-faktor yang kompleks. Seksualitas ditentukan oleh anatomi, fisiologi, psikologi, kultur dimana orang tinggal, hubungan seseorang dengan orang lain, dan mencerminkan perkembangan pengalaman seks selama siklus kehidupannya. Ini termasuk persepsi sebagai laki-laki atau wanita dan semua pikiran, perasaan, dan perilaku yang berhubungan dengan kepuasan dan reproduksi, termasuk ketertarikan dari seseorang terhadap orang lain.(1) Seksualitas normal termasuk hasrat, perilaku yang menimbulkan kenikmatan pada dirinya dan pasangannya, dan stimulasi organ seks primer termasuk koitus tanpa disertai rasa bersalah, atau kecemasan, dan tidak kompulsif. Pada beberapa konteks seks diluar pernikahan, masturbasi, dan bebagai bentuk stimulasi seksual terhadap organ selain seksual primer mungkin masih dalam batas normal.(1) Seksualitas seseorang dan kepribadian keseluruhan adalah sangat terjalin sehingga tidak mungkin untuk membicarakan seksualitas sebagai bagian yang terpisah. Dengan demikian istilah psikoseksual digunakan untuk mengesankan perkembangan dan fungsi kepribadian sebagai sesuatu yang dipengaruhi oleh seksualitas seseorang. Psikoseksual jelas bukan terbatas pada perasaan dan perilaku seksual, demikian juga tidak sama dengan libido dalam pandangan Freud.(1) Seksualitas seseorang tergantung pada empat faktor-faktor yang saling berhubungan: identitas seksual, identitas jenis kelamin, orientasi seksual, dan perilaku seksual. Faktor-faktor tersebut mempengaruhi pertumbuhan, perkembangan, dan fungsi kepribadian dan keseluhannya dinamakan faktor psikoseksual. Seksualitas adalah sesuatu yang lebih dari jenis kelamin fisik, koitus atau nonkoitus, dan sesuatu yang kurang dari tiap aspek perilaku diarahkan untuk mendapatkan kesenangan. Fungsi utama perilaku seksual bagi manusia adalah membentuk ikatan, untuk mengekspresikan dan meningkatkan cinta antara dua orang, dan untuk mendapatkan keturunan. (1) Dalam dunia psikologi abnormal, gangguan abnormalitas seksual merupakan ruang lingkup di dalamnya. Berdasar DSM IV TR (Asosiasi Psikiatrik Amerika) diklasifikasi menjadi tiga garis besar yaitu Disfungsi seksual, Parafilia dan Gangguan Identitas Gender.

Kepaniteraan Klinik Ilmu Kesehatan Jiwa Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara Rumah Sakit Khusus Jiwa Dharma Graha BSD Tangerang Periode 03 September 2012 06 Oktober 2012

Gangguan Preferensi Seksual

Marwin T, Fiona, Boyke S, Emelia W

1.) Disfungsi psikoseksual inhibisi dalam keinginan seksual atau penampilan psikofisiologik 2.) Parafilia perangsangan seksual terhadap stimulus yang menyimpang 3.) Gangguan identitas gender pasien merasa sebagai jenis kelamin yang berlawanan. Seiring dengan perkembangan zaman yang modern, kebebasan demokrasi dan human right, salah satu jenis dari gangguan abnormal seksual parafilia, yaitu Homoseksual mulai dihapus dari DSM IV TR dan dinyatakan bukan merupakan gangguan abnormal seksual lagi bahkan saat ini di luar negeri sudah melegalkan perkawinan sejenis.(1,2) Pada referat ini, kita akan membahas tentang parafilia yang pada PPDGJ disebut sebagai gangguan preferensi seksual (F65). Istilah parafilia diciptakan oleh Wilhelm Stekel pada 1920an. Parafilia merupakan istilah untuk segala sesuatu mengenai kebiasaan seksual, gairah seksual, atau kepuasan terhadap perilaku seksual yang tidak lazim dan ekstrim.(2) Parafilia adalah stimulasi seksual atau tindakan yang menyimpang dari kebiasaan seksual normal, namun bagi beberapa orang, tindakan menyimpang ini penting untuk mendapatkan rangsangan seksual dan orgasme. Individu seperti ini mampu mendapatkan pengalaman dalam kenikmatan seksual, namun mereka tidak memiliki respon terhadap stimulasi yang secara normal dapat menimbulkan gairah seksual. Orang-orang dengan parafilia terbatas pada stimulasi atau tindakan spesifik yang menyimpang.(2) Parafilia merupakan suatu tindakan bagi sebagian orang untuk melepaskan energy seksual atau frustrasi mereka. Biasanya tindakan ini diikuti dengan gairah dan orgasme dan dicapai dengan masturbasi dan fantasi. Gangguan ini kurang dikenali oleh masyarakat dan sering sulit untuk diobati. Hal ini karena orang yang memiliki gangguan ini menyembunyikan masalah mereka disebabkan oleh perasaan rasa bersalah, malu dan sering tidak bekerjasama dengan profesi medis.(3) Parafilia yang dialami oleh seseorang dapat merupakan parafilia dengan kebiasaan mendekati normal sampai kebiasaan yang merusak atau menyakiti dirisendiri ataupun diri sendiri dan pasangan, dan pada akhirnya menjadi kebiasaan yang dianggap merusak dan mengancam komunitas yang lebih luas. (2,3) Psikopatologis parafilia tidak sama dengan psikologis perilaku normative seksual dan fantasi seksual orang dewasa pada umumnya. Kegiatan konsensual orang dewasa dan hiburan yang mungkin melibatkan beberapa aspek roleplay seksual atau aspek fetishisme seksual tidak selalu dipastikan sebagai kegiatan parafilia. Kepaniteraan Klinik Ilmu Kesehatan Jiwa Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara Rumah Sakit Khusus Jiwa Dharma Graha BSD Tangerang Periode 03 September 2012 06 Oktober 2012

Gangguan Preferensi Seksual

Marwin T, Fiona, Boyke S, Emelia W

BAB II. F65. GANGGUAN PREFERENSI SEKSUAL


A.DEFINISI
F65.0 Gangguan Preferensi Seksual(4) Termasuk : Parafilia Tidak termasuk : Problem yang berhubungan dengan orientasi seksual (F66.-)

Parafilia adalah sekelompok gangguan yang mencakup ketertarikan seksual terhadap objek yang tidak wajar atau aktivitas seksual yang tidak pada umumnya. Dengan kata lain, terdapat deviasi (para) dalam ketertarikan seseorang (filia).(5) Parafilia (paraphilia) diambil dari bahasa Yunani yaitu para yang artinya "pada sisi lain", dan philos artinya "mencintai".
(6)

Parafilia adalah gangguan seksual yang ditandai oleh khayalan seksual yang khusus dan

desakan serta praktek seksual yang kuat, biasanya berulang kali dan menakutkan.(2)

B. KLASIFIKASI
1.

Parafilia Menurut Diagnostic And Statistical Manual Of Mental Disorder

Edisi Revisi IV (DSM-IV-TR) (2,7,8) Ekshibisionisme

Fetishisme

Froteurisme Pedofilia Masokisme Seksual Sadisme Seksual

Voyeurisme

Fetishisme Transvestik

Parafilia Lain yang Tidak Ditentukan (NOS : Not Oherwise Specified) contoh: Zoofilia

Kepaniteraan Klinik Ilmu Kesehatan Jiwa Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara Rumah Sakit Khusus Jiwa Dharma Graha BSD Tangerang Periode 03 September 2012 06 Oktober 2012

Gangguan Preferensi Seksual


2.

Marwin T, Fiona, Boyke S, Emelia W

F65. Gangguan Preferensi Seksual Menurut Pedoman Penggolongan dan

Diagnosis Gangguan Jiwa di Indonesia Edisi III (PPDGJ III) (4)


F65.0 Fetihisme F65.1 Tranvetisme Fetihistik F65.2 Ekshibisionisme F65.3 Voyeurisme F65.4 Pedofilia F65.5 Sadomasokisme F65.6 Gangguan Preeferensi Seksual Multipel F65.8 Gangguan Preferensi Seksual Lainya F65.9 Gangguan Preferensi Seksual YTT

C.

EPIDEMIOLOGI(2)
Parafilia dipratekkan oleh sejumlah kecil populasi. Tetapi, sifat gangguan yang

berulang menyebabkan tingginya frekuensi kerusakan akibat tindakan parafilia. Di antara kasus parafilia yang dikenali secara hukum, pedofilia adalah jauh lebih sering dibandingkan yang lainnya. Voyeurisme memiliki resiko yang tidak besar. 20% wanita dewasa telah menjadi sasaran orang dengan ekshibisionisme dan voyeurisme. Masokisme seksual dan sadisme seksual kurang terwakili dalam perkiraan prevalensi yang ada. Zoofilia merupakan kasus yang jarang. Menurut definisinya, parafilia adalah kondisi yang terjadi pada laki-laki. Lebih dari 80% penderita parafilia memiliki onset sebelum usia 18 tahun. Pasien parafilia umunya memiliki 3 sampai 5 parafilia baik yang bersamaan atau pada saat terpisah. Kejadian perilaku parafilia memuncak pada usia antara 15 dan 25 tahun, dan selanjutnya menurun. Parafilia jarang terjadi pada pria umur 50 tahun, kecuali mereka tinggal dalam isolasi atau teman yang senasib.

Kepaniteraan Klinik Ilmu Kesehatan Jiwa Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara Rumah Sakit Khusus Jiwa Dharma Graha BSD Tangerang Periode 03 September 2012 06 Oktober 2012

Gangguan Preferensi Seksual

Marwin T, Fiona, Boyke S, Emelia W

Kategori Diagnostik Pedofilia Eksibisionisme Veyorisme Frotteurisme Masokisme seksual Transvestik Fetishisme Sadisme seksual Fetishisme Zoofilia

Pasien Parafilia dalam Terapi Rawat Jalan (%) 45 25 12 6 3 3 3 2 1

Tabel 1 - Frekuensi Tindakan Parafilia yang dilakukan oleh Pasien Parafilia yang mencari Terapi Rawat Jalan.(2)

D.ETIOPATOFISIOLOGI
1. Faktor Psikososial Dalam model psikoanalitik klasik, seseorang dengan parafilia adalah orang yang gagal untuk menyelesaikan proses perkembangan normal ke arah penyesuaian heteroseksual, tetapi model tersebut telah dimodifikasi oleh pendekatan psikoanalitik. Kegagalan menyelesaikan krisis oedipus dengan mengidentifikasi aggressor ayah (untuk laki-laki) atau aggressor ibu (untuk perempuan) menimbulkan baik identifikasi yang tidak sesuai dengan orang tua dengan jenis kelamin berlawanan atau pilihan objek yang tidak tepat untuk penyaluran libido. Eksibisionisme dapat merupakan suatu upaya menenangkan kecemasan mereka akan kastrasi.(2) Kecemasan kastrasi membuat eksibisionis meyakinkan diri sendiri tentang maskulinitasnya dengan menunjukkan kelaki-lakiannya kepada orang lain.(9) Apa yang membedakan satu parafilia dengan parafilia lainnya adalah metode yang dipilih oleh seseorang (biasanya laki-laki) untuk mengatasi kecemasan yang disebabkan oleh: (1) kastrasi oleh ayah dan (2) perpisahan dengan ibu. Bagaimanapun kacaunya manifestasi, perilaku yang dihasilkan memberikan jalan keluar untuk dorongan seksual dan agresif yang seharusnya telah disalurkan kedalam perilaku seksual yang tepat. Kepaniteraan Klinik Ilmu Kesehatan Jiwa Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara Rumah Sakit Khusus Jiwa Dharma Graha BSD Tangerang Periode 03 September 2012 06 Oktober 2012

Gangguan Preferensi Seksual

Marwin T, Fiona, Boyke S, Emelia W

Berdasarkan teori ini terdapat beberapa penyebab parafilia. Freud dan koleganya mengajukan bahwa beberapa parafilia dapat disebabkan oleh penyimpangan dari fase courtship. Normalnya, fase ini akan berujung pada proses mating pada pria dan wanita. Fase ini dimulai dari masa remaja dan dengan/ tanpa adanya sexual intercourse pada tahap awal perkembangan seksual. Fase Definitif Courtship
a) b) c) d)

Locating partner potensial fase inisial dari courtship. Pretactile interaction berbicara, main mata dst. Tactile interaction memegang, memeluk, dst. (foreplay). Effecting genital union sexual intercourse . Teori lain mengaitkan timbulnya parafilia dengan pengalaman diri yang

mengondisikan atau mensosialisasikan anak melakukan tindakan parafilia. Awitan tindakan parafilia dapat terjadi akibat orang meniru perilaku mereka berdasarkan perilaku orang lain yang melakukan tindakan parafilia, meniru perilaku seksual yang digambarkan media, atau mengingat kembali peristiwa yang memberatkan secara emosional di masa lalu. Teori pembelajaran menunjukkan bahwa karena mengkhayalkan minat parafilia dimulai pada usia dini dan karena khayalan serta pikiran pribadi tidak diceritakan kepada orang lain, penggunaan dan penyalahgunaan khayalan dan dorongan parafilia terus berlangsung tanpa hambatan sampai usia tua.(2) 2. Faktor Biologis Beberapa studi mengidentifikasi temuan organik abnormal pada orang dengan parafilia. Di antara pasien yang dirujuk ke pusat medis besar, yang memiliki temuan organik positif mencakup 74 % pasien dengan kadar hormone abnormal, 27 % dengan tanda neurologi yang ringan atau berat, 24 % dengan kelainan kromosom, 9 % dengan kejang, 9 % dengan disleksia, 4 % dengan EEG abnormal, 4 % dengan gangguan jiwa berat, 4 % dengan cacat mental. Tes psikofisiologis telah dikembangkan untuk mengukur ukuran volumemetrik penis sebagai repon stimulasi parafilia dan nonparafilia. Prosedur dapat digunakan dalam diagnosis dan pengobatan, tetapi memiliki keabsahan diagnostik yang diragukan karena beberapa laki-laki dapat menekan respon erektilnya. (2) Kepaniteraan Klinik Ilmu Kesehatan Jiwa Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara Rumah Sakit Khusus Jiwa Dharma Graha BSD Tangerang Periode 03 September 2012 06 Oktober 2012

Gangguan Preferensi Seksual

Marwin T, Fiona, Boyke S, Emelia W

Karena sebagian besar orang yang mengidap parafilia adalah laki-laki, terdapat spekulasi bahwa androgen berperan dalam gangguan ini. Berkaitan dengan perbedaan dalam otak, suatu disfungsi pada lobus temporalis dapat memiliki relevansi dengan sejumlah kecil kasus eksibisionisme.(9)
3. Teori Behavioural (Kelakuan)

Berdasarkan teori ini, parafilia disebabkan oleh proses conditioning. Jika objek nonseksual dipakai sering dan diulang-ulang untuk aktivitas seksual maka akan mengakibatkan objek tersebut menjadi sexually arousing. Tidak harus dengan adanya dorongan positif tapi bisa disebabkan oleh dorongan negatif. Misalnya jika anak laki-laki suka membanggakan penisnya ketika ereksi maka ibunya akan memarahinya, akibat dari itu, anak merasa bersalah dan malu dengan kelakuan seksual normal. Pedofilia, ekshibisionisme dan vouyerisme merupakan akibat dari perilaku yang beresiko dilakukan secara berulang-ulang. Conditioning bukan satu-satunya hal yang berperan pada perkembangan parafilia. Hal yang juga berpengaruh adalah kepercayaan diri yang rendah. Ini sering dijumpai pada pasien parafilia.(5) 4. Teori Dawkin (Teori Transmisi Gen) Parafilia dipengaruhi oleh lingkungan dan genetik. Contohnya kebanyakan orang akan mendapatkan orgasme yang pertama pada prepubertas tetapi ada beberapa orang dapat terjadi sebelum periode prepubertas. Ada sedikit orang yang tanpa adanya stimulus eksternal bisa mengalami orgasme, orang ini biasanya memiliki dorongan seksual yang tinggi saat bayi (sonogram menunjukkan bayi memegang penisnya dalam uterus). Anak yang aktif secara seksual pada usia muda akan cenderung aktif secara seksual pada remaja. Hal ini dipengaruhi oleh DNA dan akan diturunkan kepada anak- anaknya.(5) 5. Teori Darwin Faktor operatif dari teori Darwin ada 2, yaitu kuantitas dan kualitas. Kuantitas jika dari keturunan yang dihasilkan yang besar dibandingkan dengan yang survive. Kualitas yaitu yang dapat beradaptasi terhadap lingkungan. Pria yang secara fisik dapat menghasilkan banyak keturunan (kuantitas), dan wanita yang bertanggung jawab untuk kualitas. Wanita akan lebih berhati hati dalam memilih pasangannya sedangkan pria cenderung hanya untuk melakukan hubungan seksual dengan banyak wanita (tidak memilih-milih). Hal tersebut menjelaskan mengapa parafilia sering terjadi pada pria. Kepaniteraan Klinik Ilmu Kesehatan Jiwa Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara Rumah Sakit Khusus Jiwa Dharma Graha BSD Tangerang Periode 03 September 2012 06 Oktober 2012

Gangguan Preferensi Seksual

Marwin T, Fiona, Boyke S, Emelia W

Study dari Sharnor (1978) menyatakan bahwa pria usia 12-19 tahun memikirkan seks 20 kali dalam 1 jam atau sekali dalam 3 menit Pria usia 30-39 tahun, memikirkan seks 4 kali per jam. Hal ini dapat menjelaskan alasan, mengapa parafilia biasanya terjadi pada usia 15-25 tahun.(5)
E.

MANIFESTASI KLINIS(5)
Gejala utama dari parafilia adalah dorongan, fantasi, dan rangsangan yang terjadi

berulang-ulang dan ada kaitannya dengan :


1. Obyek-obyek yang bukan manusia (sepatu, baju dalam, bahan kulit atau karet).

2. Menyakiti diri sendiri atau menghina mitra sendiri.


3. Individu-individu yang tidak diperbolehkan menurut hukum (anak-anak, orang yang

tidak berdaya atau pemerkosaan).

F. DIAGNOSIS
1. Fetihisme Fetishisme adalah kelainan yang dikarakteristikan sebagai dorongan seksual hebat yang berulang dan secara seksual menimbulkan khayalan yang dipengaruhi oleh objek yang bukan manusia.(10) Pada fetishisme, dorongan seksual terfokus pada benda atau bagian tubuh (seperti, sepatu, sarung tangan, celana dalam, atau stoking) yang secara mendalam dihubungkan dengan tubuh manusia. Pada penderita fetishisme, penderita kadang lebih menyukai untuk melakukan aktivitas seksual dengan menggunakan obyek fisik (jimat), dibanding dengan manusia. Penderita akan terangsang dan terpuaskan secara seksual jika: (1,11)
1. Memakai pakaian dalam milik lawan jenisnya

2. Memakai bahan karet atau kulit 3. Memegang, atau menggosok-gosok atau membaui sesuatu, misalnya sepatu bertumit tinggi. Objek fetish sering digunakan untuk mendapatkan gairah selama melakukan masturbasi, dorongan seksual tidak dapat terjadi jika ketidakhadiran dari objek tersebut. Kepaniteraan Klinik Ilmu Kesehatan Jiwa Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara Rumah Sakit Khusus Jiwa Dharma Graha BSD Tangerang Periode 03 September 2012 06 Oktober 2012

Gangguan Preferensi Seksual

Marwin T, Fiona, Boyke S, Emelia W

Jika terdapat pasangan seksual, pasangannya ditanya untuk memakai pakaian atau objek lain sesuai objek fethisnya selama aktivitas seksual.(2)

Gambar 1. Foot Fetishism Pedoman Diagnostik Fetihisme menurut PPDGJ III (4) Mengandalkan pada beberapa benda mati(non-living object) sebagai rangsangan untuk membangkitkan keinginan seksual dan memberikanb kepuasan seksual. Kebanyakan benda tersebut (object fetish) adalah ekstensi dari tubuh manusia, seperti pakaian atau sepatu Diagnosis ditegakkan apabila object fetish benar-benar merupakan sumber yang utama dari rangsangan seksual atau penting sekali untuk respon seksual yang memuaskan. Fantasi fetihistik adalah lazim, tidak menjadi suatu gangguan kecuali apabila menjurus kepada suatu ritual yang begitu memaksa dan tidak semestinya sampai menggangu hubungan seksual dan menyebabkan bagi penderitaan individu.

Fetihisme terbatas hampir hanya pada pria saja

Kriteria Diagnostik Fetihisme menurut DSM-IV (8)


1. Selama waktu sekurangnya 6 bulan terdapat khayalan yang merangsang secara

seksual, dorongan seksual, atau perilaku yang berulang dan kuat berupa pemakaian benda-benda mati (misalnya, pakaian dalam wanita)
2. Khayalan, dorongan seksual, atau perilaku yang menyebabkan penderitaan yang

bermakna secara klinis atau gangguan dalam fungsi sosial, pekerjaan, atau fungsi penting lainnya. Kepaniteraan Klinik Ilmu Kesehatan Jiwa Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara Rumah Sakit Khusus Jiwa Dharma Graha BSD Tangerang Periode 03 September 2012 06 Oktober 2012

Gangguan Preferensi Seksual

Marwin T, Fiona, Boyke S, Emelia W

Objek fetish bukan perlengkapan pakaian wanita yang digunakan pada cross-dressing (berpakaian lawan jenis) seperti pada fetishisme transvestik atau alat-alat yang dirancang untuk tujuan stimulasi taktil pada genital, misalnya sebuah vibrator.
2.

Tranvetisme Fetihistik Tranvetisme Fetihistik adalah gejala keadaan seseorang yang mencari

rangsangan dan pemuasan sexual dengan memakai pakaian dan berperan sebagai seorang dari sex yang berlainan.(11) Cross dressing tersebut dapat berupa menggunakan salah satu bahan yang dipakai wanita atau mengenakan pakaian wanita lengkap dan menampilkan diri sebagai wanita di depan umum. Tujuan orang tersebut adalah untuk mencari kepuasan seksual. Pria yang mengalami penyakit ini mengadakan masturbasi pada waktu mengenakan pakaian wanita dan berfantasi mengenai pria lain yang tertarik dengan pakaiannya. Seorang wanita dikatakan mengalami kelainan ini jika mereka mengenakan pakaian laki-laki untuk mencari kepuasan seksual.(2)

Gambar 2. Tranvetisme Fetihistik pada Laki - Laki Pedoman Diagnostik Tranvetisme Fetihistik menurut PPDGJ - III (4) Mengenakan pakaian dari lawan jenis dengan tujuan pokok untuk mencapai kepuasaan seksual Gangguan ini harus dibedakan dari fetihisme (F65.0) dimana pakaian sebagai objek fetish bukan hanya sekedar dipakai, tetapi juga untuk menciptakan penampilan seorang dari lawan jenis kelaminya. Biasanya lebih dari satu jenis barang yang dipakai dan seringkali suatu perlengkapan yang menyeluruh, termasuk rambut palsu dan tat arias wajah.

Kepaniteraan Klinik Ilmu Kesehatan Jiwa Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara Rumah Sakit Khusus Jiwa Dharma Graha BSD Tangerang Periode 03 September 2012 06 Oktober 2012

10

Gangguan Preferensi Seksual

Marwin T, Fiona, Boyke S, Emelia W

Transvetisme fetihistik deibedakan dari trasvetisme transsexual oleh adanya hubungan yang jelas dengan bangkitnya gairah seksual dan keinginan/hasrat yang kuat untuk melepaskan baju tersebut apabila orgasme sudah terjadi dan rangsang seksual menurun

Adanya riwayat transvetisme fetihistik biasanya dilaporkan sebagai suatu fase awal oleh para penderita transeksualisme dan kemungkinan merupakan suatu stadium dalam perkembangan transeksualisme.

Kriteria Diagnostik Fetishisme Transvestik menurut DSM-IV (8)


a. Selama waktu sekurangnya 6 bulan, pada laki-laki heteroseksual, terdapat khayalan

yang merangsang secara seksual, dorongan seksual, atau perilaku yang berulang dan kuat berupa cross dressing. b. Khayalan, dorongan seksual, atau perilaku menyebabkan penderitaan yang bermakna secara klinis dan gangguan dalam fungsi sosial, pekerjaan, atau fungsi penting lainnya.
3.

Ekshibisionisme Eksibisionisme adalah dorongan berulang untuk menunjukkan alat kelamin pada

orang asing atau pada orang yang tidak menyangkanya. Kegairahan seksual terjadi pada saat antisipasi terhadap pertunjukan tersebut, dan orgasme didapatkan melalui masturbasi selama atau setelah peristiwa. Dinamika laki-laki dengan eksibisonisme adalah untuk menegaskan maskulinitas mereka dengan menunjukkan penis dan dengan melihat reaksi korbanketakutan, kaget, jijik.(2) Pedoman Diagnostik Ekhibisionisme menurut PPDGJ-III (4) Kecenderungan yang berulang atau menetap untuk memamerkan alat kelamin

kepada asing (biasanya lawan jenis kelamin) atau kepada orang banyak di tempat umum, tanpa ajakan atau niat untuk berhubungan lebih akrab. Ekshibisionisme hampir sama sekali terbatas pada laki-laki heteroseksual yang

memamerkan pada wanita, remaja atau dewasa, biasanya menghadap mereka dalam jarak yang aman di tempat umum. Apabila yang menyaksikan itu terkejut, takut, atau terpesona, kegairahan penderita menjadi meningkat.

Kepaniteraan Klinik Ilmu Kesehatan Jiwa Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara Rumah Sakit Khusus Jiwa Dharma Graha BSD Tangerang Periode 03 September 2012 06 Oktober 2012

11

Gangguan Preferensi Seksual

Marwin T, Fiona, Boyke S, Emelia W

Pada beberapa penderita, ekshibisionisme merupakan satu-satunya penyaluran

seksual, tetapi pada penderita lainnya kebiasaan ini dilanjutkan bersamaan (stimultaneously) dengan kehidupan seksual yang aktif dalam suatu jalinan hubungan yang berlangsung lama, walaupun demikian dorongan menjadi lebih kuat pada saat menghadapi konflik dalam hubungan tersebut. Kebanyakan penderita ekshibisionisme mendapatkan kesulitan dalam

mengendalikan dorongan tersebut dan dorongan ini bersifat ego-alien (suatu benda asing bagi dirinya). Kriteria Diagnosik Eksibisionisme menurut DSM-IV (8)
a. Selama waktu sekurangnya 6 bulan, terdapat khayalan yang merangsang secara

seksual, dorongan seksual, atau perilaku yang berulang dan kuat berupa memamerkan alat kelaminnya sendiri kepada orang yang tidak dikenal dan tidak menduga.
b. Khayalan, dorongan seksual, atau perilaku menyebabkan penderitaan yang

bermakna secara klinis atau gangguan dalam fungsi sosial, pekerjaan, atau fungsi penting lainnya.
4.

Voyeurisme Istilah voyeurism, dari kata Prancis berarti melihat, mengacu pada keinginan

untuk memandang tindakan dan ketelanjangan hubungan seks.(12) Voyeurisme adalah preokupasi rekuren dengan khayalan dan tindakan yang berupa mengamati orang lain yang telanjang atau sedang berdandan atau melakukan aktivitas seksual. Gangguan ini juga dikenal sebagai skopofilia. Masturbasi sampai orgasme biasanya terjadi selama atau setelah peristiwa.(2) Voyeurisme ini merupakan kegiatan mengintip yang menggairahkan dan bukan merupakan aktivitas seksual dengan orang yang dilihat. Sebagian besar pelaku voyeurisme ialah dari golongan pria.(13)

Kepaniteraan Klinik Ilmu Kesehatan Jiwa Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara Rumah Sakit Khusus Jiwa Dharma Graha BSD Tangerang Periode 03 September 2012 06 Oktober 2012

12

Gangguan Preferensi Seksual

Marwin T, Fiona, Boyke S, Emelia W

Gambar 3. Voyeurisme Pedoman Diagnostik Voyeurisme menurut PPDGJ-III (4) Kecenderungan yang berulang atau menetap untuk melihat orang yang sedang

berhubungan seksual atau berperilaku intim seperti sedang menanggalkan pakaian. Hal ini biasanya menjurus kepada rangsangan seksual dan mastrubasi, yang

dilakukan tanpa orang yang diintip menyadarinya. Kriteria Diagnostik Voyeuisme menurut DSM-IV (8)
a. Selama waktu sekurangnya 6 bulan, terdapat khayalan yang merangsang secara

seksual, dorongan seksual, atau perilaku yang berulang dan kuat berupa mengamati orang telanjang yang tidak menaruh curiga, sedang membuka pakaian, atau sedang melakukan hubungan seksual. b. Khayalan, dorongan seksual, atau perilaku menyebabkan penderitaan yang bermakna secara klinis atau gangguan dalam fungsi sosil, pekerjaan, atau fingsi penting lainnya.
5.

Pedofilia

Kepaniteraan Klinik Ilmu Kesehatan Jiwa Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara Rumah Sakit Khusus Jiwa Dharma Graha BSD Tangerang Periode 03 September 2012 06 Oktober 2012

13

Gangguan Preferensi Seksual

Marwin T, Fiona, Boyke S, Emelia W

Kata ini berasal dari bahasa Yunani: paidophilia (), pais (, "anak-anak") dan philia (, "cinta yang bersahabat" atau "persahabatan". Di zaman modern, pedofil digunakan sebagai ungkapan untuk "cinta anak" atau "kekasih anak" dan sebagian besar dalam konteks ketertarikan romantis atau seksual.(14) Pedofilia juga merupakan gangguan psikoseksual, yang mana fantasi atau tindakan seksual dengan anak-anak prapubertas merupakan cara untuk mencapai gairah dan kepuasan seksual. Perilaku ini mungkin diarahkan terhadap anak-anak berjenis kelamin sama atau berbeda dengan pelaku. Beberapa pedofil tertarik pada anak laki-laki maupun perempuan.Sebagian pedofil ada yang hanya tertarik pada anak-anak, tapi ada pula yang juga tertarik dengan orang dewasa dan anak-anak.(2,11)

Gambar 4. Pedofilia Pedoman Diagnostik menurut Pedofilia PPDGJ III (4) Preferensi seksual terhadap anak-anak, biasanya pra-pubertas atau awal masa pubertas, baik laki-laki maupun perempuan Pedofilia jarang ditemukan pada perempuan Preferensi tersebut harus berulang dan menetap Termasuk : laki-laki dewasa yang mempunyai preferensi partner seksual dewasa, tetapi karena mengalami frustasi yang kronis untuk mencapai hubungan seksual yang diharapkan, maka kebiasaanya beralih kepada anak-anak sebagai pengganti. Kriteria Diagnostik Pedofilia menurut DSM-IV (8)
a. Selama waktu sekurangnya 6 bulan, terdapat khayalan yang merangsang secara

seksual, dorongan seksual, atau perilaku yang berulang dan kuat berupa aktivitas seksual dengan anak prapubertas atau dengan anak-anak (biasanya berusia 13 tahun atau kurang)

Kepaniteraan Klinik Ilmu Kesehatan Jiwa Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara Rumah Sakit Khusus Jiwa Dharma Graha BSD Tangerang Periode 03 September 2012 06 Oktober 2012

14

Gangguan Preferensi Seksual

Marwin T, Fiona, Boyke S, Emelia W

b. Khayalan, dorongan seksual, atau perilaku menyebabkan penderitaan yang bermakna secara klinis atau gangguan dalam fungsi sosial, pekerjaan, atau fungsi penting lainnya. c. Orang sekurangnya berusia 16 tahun dan sekurangnya berusia 5 tahun lebih tua dari anak, atau anak-anak dalam kriteria A.
6.

Sadomasokisme Sadisme seksual adalah preferensi mendapatkan atau meningkatkan kepuasan

seksual dengan cara menyakiti orang lain, baik secara fisik maupun mental. Perbuatan sadistik dalam bersetubuh antara lain memukul, menampar, menggigit, mencekik, menoreh mitranya dengan pisau, menyayat-nyayat mitranya dengan benda tajam. Juga bisa dengan mengeluarkan kata-kata kotor, penyiksaan berat sampai dengan pembunuhan untuk mendapatkan kepuasan seks dan untuk mendapatkan orgasme adalah puncak dari sadisme dimana tubuh korban dirusak dan dibunuh dengan kejam. Biasanya hal ini dilakukan dengan kondisi jiwa psikotik. Ada semacam obsesi sangat kuat merasa ditolak oleh wanita, sekaligus rasa agresif, dendam dan benci. Masokhisme seksual yaitu mencapai kepuasan seksual dengan menyakiti diri sendiri, lebih sering terjadi pada wanita, sedangkan sadisme lebih sering terjadi pada laki-laki.(2,3)

Gambar 5. Sadomasokisme Kriteria Diagnostik Sadomasokisme menurut PPDGJ-III (4)

Kepaniteraan Klinik Ilmu Kesehatan Jiwa Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara Rumah Sakit Khusus Jiwa Dharma Graha BSD Tangerang Periode 03 September 2012 06 Oktober 2012

15

Gangguan Preferensi Seksual

Marwin T, Fiona, Boyke S, Emelia W

Preferensi terhadap aktivitas seksual yang melibatkan pengikatan atau menimbulkan rasa sakit atau penghinaan; (individu yang lebih suka untuk menjadi resipien dari perangsangan demikian disebut masokisme, sebagai pelaku = sadism) Seringkali individu mendapatkan rangsangan seksual dari aktivitas sadistik maupun masokistik. Kategori ini hanya digunakan apabila sadomasokistik merupakan sumber rangsangan yang penting pemuasan seksual.
Harus dibedakan dari kebrutalan dalam hubungan seksual atau kemarahan yang

tidak berhubungan dengan erotisme. Kriteria Diagnostik Untuk Sadisme Seksual menurut DSM-IV (8)
a. Selama waktu sekurangnya 6 bulan, terdapat khayalan yang merangsang secara

seksual, dorongan seksual, atau perilaku yang berulang dan kuat berupa tindakan (nyata atau disimulasi) dimana penderitaan korban secara fisik atau psikologis (termasuk penghinaan) adalah menggembirakan pelaku secara seksual. b. Khayalan, dorongan seksual, atau perilaku menyebabkan penderitaan yang bermakna secara klinis atau gangguan dalam fungsi sosial, pekerjaan, atau fungsi penting lainnya. Kriteria Diagnostik Untuk Masokisme Seksual menurut DSM-IV (8)
a. Selama waktu sekurangnya 6 bulan, terdapat khayalan yang merangsang secara

seksual, dorongan seksual, atau perilaku yang berulang dan kuat berupa tindakan (nyata, atau disimuasi) sedang dihina, dipukuli, diikat, atau hal lain yang membuat menderita. b. Khayalan, dorongan seksual, atau perilaku menyebabkan penderitaan yang bermakna secara klinis atau gangguan dalam fungsi sosial, pekerjaan, atau fungsi penting lainnya.
7.

Gangguan Preferensi Seksual Multipel Kadang kadang lebih dari satu gangguan preferensi seksual yang terjadi pada

seseorang dan tidak satupun lebih diutamakan daripada yang lainnya. Kombinasi yang paling sering adalah fetihisme, transvestisme dan sadomasokisme.(4) Kepaniteraan Klinik Ilmu Kesehatan Jiwa Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara Rumah Sakit Khusus Jiwa Dharma Graha BSD Tangerang Periode 03 September 2012 06 Oktober 2012

16

Gangguan Preferensi Seksual


8.

Marwin T, Fiona, Boyke S, Emelia W

Gangguan Preferensi Seksual Lainya Suatu varietas dari pola lain pada preferensi dan aktivitas seksual mungkin

terjadi, yang masing masing relatif tidak lazim. Ini mencakup kegiatan seperti melakukan panggilan telepon cabul, menggosok menempel pada orang untuk stmulasi seksual di tempat umum yang ramai (frotteurisme), aktivitas seksual dengan binatang. Menggunakan cekikan atau anoksia untuk mengintensifkan kepuasan seksual dan kepuasan terhadap partner dengan cacat badan tertentu seperti tungkai yang diamputasi. Perbuatan erotik terlalu bermacam macam dan banyak diantaranya terlalu jarang atau idionsikatrik untuk diberikan istilah khusus untuk setiap kelainan. Menelan urin, melaburkan feses, atau menusuk kulup atau puting susu merupakan sebagian dari perilaku yan termasuk sadomasokisme. Masturbasi dengan berbagai cara ialah lzim, tetapi praktek yang lebih ekstrem seperti memasukkan benda ke rektum atau uretra penis atau strangulas diri parsialis, apabila menggantikan hubungan seksual yang lazim, termasuk dalam abnormalitas. Nekrofilia juga harus dimasukkan dalam kategori ini. (4)

Frotteurisme Frotteurisme biasanya ditandai oleh seorang laki-laki yang menggosokkan penisnya kepada bokong atau bagian tubuh seorang wanita yang berpakaian lengkap untuk mencapai orgasme. Pada saat yang lain, ia mungkin menggunakan tangannya untuk meraba korban yang tidak menaruh curiga. Tindakan ini biasanya terjadi pada tempat ramai, khususnya dalam kereta dan bus. Orang dengan frotteurisme adalah sangat pasif dan terisolasi, dan cara tersebut seringkali merupakan satu-satunya sumber kepuasan seksualnya.(2) Kriteria diagnostik Frotteurisme menurut DSM-IV (8)
a. Selama waktu sekurangnya 6 bulan, terdapat khayalan yang merangsang secara

seksual, dorongan seksual, atau perilaku yang berulang dan kuat berupa menyentuh atau bersenggolan dengan orang yang tidak menyetujuinya. b. Khayalan, dorongan seksual, atau perilaku yang menyebabkan penderitaan yang bermakna secara klinis atau gangguan dalam fungsi sosial, pekerjaan, atau fungsi penting lainnya Kepaniteraan Klinik Ilmu Kesehatan Jiwa Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara Rumah Sakit Khusus Jiwa Dharma Graha BSD Tangerang Periode 03 September 2012 06 Oktober 2012

17

Gangguan Preferensi Seksual

Marwin T, Fiona, Boyke S, Emelia W

Nekrofilia Nekrofilia adalah obsesi untuk mendapatkan kepuasan seksual dari mayat. Sebagian besar orang dengan nekrofilia mendapatkan mayat untuk eksploitasinya dari rumah mati. Beberapa orang diketahui menggali kuburan. Suatu waktu, orang membunuh untuk memuaskan desakan seksualnya. Pada beberapa kasus yang dipelajari, orang dengan nekrofilia percaya bahwa mereka membebankan penghinaan terbesar yang dipikirkannya pada korban mereka yang mati. (2)

Gambar 6. Frotteurisme
9.

Gambar 7. Nekrofilia

Parafilia yang tidak ditentukan(2)

Skatologia Telepon Pada skatologia telepon, ditandai oleh panggilan telepon yang cabul, ketegangan dan perangsangan yang dimulai saat akan menelepon, melibatkan pasangan yang tidak menaruh curiga, penerima telepon mendengarkan saat penelepon (biasanya laki-laki) secara verbal membuka preokupasinya atau mengajak wanita untuk menceritakan aktivitas seksualnya, dan percakapan tersebut disertai dengan masturbasi, yang seringkali disudahi setelah kontak terputus. Orang dapat juga mengggunakan jaringan computer interaktif untuk mengirimkan pesan cabul melalui surat elektronik. Di samping itu, orang menggunakan jaringan computer untuk mengirimkan pesan dan gambar-gambar video yang seksual. Beberapa orang secara kompulsif menggunakan jasa tersebut.

Parsialisme Kepaniteraan Klinik Ilmu Kesehatan Jiwa Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara Rumah Sakit Khusus Jiwa Dharma Graha BSD Tangerang Periode 03 September 2012 06 Oktober 2012

18

Gangguan Preferensi Seksual

Marwin T, Fiona, Boyke S, Emelia W

Dalam parsialisme seseorang memfokuskan pada satu bagian tubuh dan menyingkirkan bagian lainnya. Kontak genital mulut seperti kunilingus (kontak oral dengan genital eksternal wanita), felasio (kontak oral dengan penis), dan analingus (kontak oral dengan anus) adalah suatu aktivitas yang normalnya berhubungan dengan pemanasan seksual (foreplay). Freud memandang bahwa permukaan mukosa tubuh sebagai erotogenik dan mampu menghasilkan sensasi yang menyenangkan. Tetapi jika seseorang menggunakan aktivitas tersebut sebagai sumber satu-satunya kepuasan seksual dan tidak dapat melakukan koitus atau menolak melakukan koitus, terdapat suatu parafilia. Keadaan ini juga dikenal sebagai oralisme.

Zoofilia Pada zoofilia, binatang yang mungkin dilatih untuk berperan serta adalah disukai untuk khayalan perangsangan atau aktivitas seksual, termasuk hubungan seksual, masturbasi, dan kontak oral-genital. Zoofilia sebagai suatu parafilia yang terorganisasi adalah jarang. Bagi sejumlah orang, binatang adalah sumber utama hubungan, sehingga tidak mengejutkan bahwa binatang rumah tangga digunakan secara sensual atau seksual. Hubungan seksual dengan binatang kadang-kadang merupakan suatu hasil pertumbuhan dari tersedianya atau kesenangan, khususnya pada bagian dunia dimana kaidah yang ketat melarang seksualitas pramarital atau dalam situasi isolasi yang berlebihan. Tetapi, karena masturbasi juga tersedia dalam situasi tersebut, suatu predileksi untuk kontak dengan binatang kemungkinan ditemukan pada zoofilia oportunistik.

Kepaniteraan Klinik Ilmu Kesehatan Jiwa Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara Rumah Sakit Khusus Jiwa Dharma Graha BSD Tangerang Periode 03 September 2012 06 Oktober 2012

19

Gangguan Preferensi Seksual

Marwin T, Fiona, Boyke S, Emelia W Gambar 8. Zoofilia

Koprofilia Dan Klismafilia Koprofilia adalah kesenangan seksual yang berhubungan dengan keinginan untuk defekasi pada tubuh pasangan, didefekasi oleh pasangan, atau makan feses (koprofagia). Suatu varian adalah pemakaian kompulsif kata-kata cabul (koprolalia). Parafilia tersebut adalah berhubungan dengan fiksasi pada stadium anal dari perkembangan psikoseksual. Demikian juga, penggunaan enema sebagai bagian dari stimulasi seksual, klismafilia, adalah berhubungan dengan fiksasi anal.

Urofilia Urofilia adalah minat dalam kenikmatan seksual yang berhubungan dengan keinginan untuk kencing pada tubuh pasangan atau dikencingi oleh pasangan; ini adalah suatu bentuk erotikisme uretral. Keadaan ini mungkin disertai dengan teknik masturbasi yang melibatkan insersi benda asing ke dalam uretra untuk mendapatkan stimulasi seksual baik pada laki-laki maupun wanita.

Masturbasi Masturbasi adalah aktivitas normal yang sering ditemukan pada semua stadium kehidupan dari masa bayi sampai usia lanjut. Hal ini tidak selalu dianggap demikian. Freud percaya neurastenia adalah disebabkan oleh masturbasi yang berlebihan. Pada awal tahun 1990-an, kegilaan masturbasi (masturbatory insanity) adalah suatu diagnosis yang sering ditemukan pada rumah sakit untuk kegilaan criminal di AS. Masturbasi dapat didefinisikan sebagai pencapaian kenikmatan seksual biasanya menyebabkan orgasme oleh diri sendiri (autoerotikisme). Alfred Kinsley menemukan bahwa masturbasi adalah lebih menonjol pada laki-laki daripada wanita, tetapi perbedaan tersebut tidak lagi benar. Frekuensi masturbasi bervariasi dari tiga sampai empat kali dalam seminggu pada masa remaja sampai satu sampai dua kali seminggu pada masa dewasa. Masturbasi sering ditemukan pada orang yang telah menikah; Kinsey melaporkan bahwa keadaan ini terjadi rata-rata satu kali sebulan pada pasangan yang menikah.

Kepaniteraan Klinik Ilmu Kesehatan Jiwa Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara Rumah Sakit Khusus Jiwa Dharma Graha BSD Tangerang Periode 03 September 2012 06 Oktober 2012

20

Gangguan Preferensi Seksual

Marwin T, Fiona, Boyke S, Emelia W

Teknik masturbasi adalah bervariasi pada kedua jenis kelamin dan dari orang ke orang. Teknik yang paling sering adalah stimulasi langsung pada klitoris atau penis dengan tangan atau jari. Stimulasi tidak langsung mungkin juga digunakan, seperti menggosokan pada bantal atau mengencangkan panggul. Kinsey menemukan bahwa 2% wanita mampu mencapai orgasme melalui khayalan saja. Laki-laki dan wanita telah diketahui menginsersikan benda-benda ke dalam uretranya untuk mencapai orgasme. Vibrator tangan sekarang digunakan sebagai alat masturbasi oleh kedua jenis kelamin. Masturbasi adalah abnormal jika ia menjadi satu-satunya jenis aktivitas seksual yang dilakukan, jika dilakukan sedemikian seringnya sehingga menyatakan suatu kompulsi atau disfungsi seksual, atau jika secara terus menerus disukai untuk berhubungan seks dengan pasangan. Hipoksifilia Hipoksifilia adalah keinginan untuk mencapai perubahan kesadaran sekunder karena hipoksia saat mengalami orgasme. Dalam gangguan ini orang mungkin menggunakan obat (seperti nitrit volatil atau nitrogen oksida) yang menghasilkan hipoksia. Asfiksiasi autoerotik juga berhubungan dengan keadaan hipoksik tetapi harus diklasifikasikan sebagai suatu bentuk masokisme seksual.
G. DIAGNOSIS

BANDING(2)

Klinisi perlu membedakan suatu parafilia dari coba-coba dimana tindakan dilakukan untuk mengetahui efek baru dan tidak secara rekuren atau kompulsif. Aktivitas parafilia paling sering terjadi pada masa remaja. Beberapa parafiliak (khususnya tipe kacau) adalah bagian dari gangguan mental lain, seperti skizofrenia. Penyakit otak mungkin melepaskan impuls yang buruk.

H. PENATALAKSANAAN

(2,3,5)

1. Kendali Eksternal Penjara adalah mekanisme kendali eksternal untuk kejahatan seksual yang biasanya tidak berisi kandungan terapi. Memberitahu teman sebaya, atau anggota keluarga dewasa lain mengenai masalah dan menasehati untuk menghilangkan kesempatan bagi perilaku untuk melakukan dorongannya. Kepaniteraan Klinik Ilmu Kesehatan Jiwa Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara Rumah Sakit Khusus Jiwa Dharma Graha BSD Tangerang Periode 03 September 2012 06 Oktober 2012

21

Gangguan Preferensi Seksual

Marwin T, Fiona, Boyke S, Emelia W

2. Terapi Seks Adalah pelengkap yang tepat untuk pengobatan pasien yang menderita disfungsi seksual tertentu dimana mereka mencoba melakukan aktivitas seksual yang tidak menyimpang dengan pasangannya.

3. Terapi Perilaku Digunakan untuk memutuskan pola parafilia yang dipelajari. Stimuli yang menakutkan, seperti kejutan listrik atau bau yang menyengat, telah dipasangkan dengan impuls tersebut, yang selanjutnya menghilang. Stimuli dapat diberikan oleh diri sendiri dan digunakan oleh pasien bilamana mereka merasa bahwa mereka akan bertindak atas dasar impulsnya.

4. Terapi Obat Termasuk medikasi antipsikotik dan antidepresan, adalah diindikasikan sebagai pengobatan skizofrenia atau gangguan depresif jika parafilia disertai dengan gangguangangguan tersebut. Antiandrogen, seperti ciproterone acetate di Eropa dan medroxiprogesterone acetate (Depo-Provera) di Amerika Serikat, telah digunakan secara eksperimental pada parafilia hiperseksual. Medroxiprogesterone acetate bermanfaat bagi pasien yang dorongan hiperseksualnya diluar kendali atau berbahaya (sebagai contoh masturbasi yang hampir terus-menerus, kontak seksual setiap kesempatan, seksualitas menyerang yang kompulsif). Obat serotonorgik seperti Fluoxetin (prozac) telah digunakan pada beberapa kasus parafilia dengan keberhasilan yang terbatas. 5. Psikoterapi Berorintasi Tilikan Merupakan pendekatan yang paling sering digunakan untuk mengobati parafilia. Pasien memiliki kesempatan untuk mengerti dinamikanya sendiri dan peristiwaperistiwa yang menyebabkan perkembangan parafilia. Secara khusus, mereka menjadi menyadari peristiwa sehari-hari yang menyebabkan mereka bertindak atas impulsnya (sebagai contohnya, penolakan yang nyata atau dikhayalkan). Psikoterapi juga Kepaniteraan Klinik Ilmu Kesehatan Jiwa Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara Rumah Sakit Khusus Jiwa Dharma Graha BSD Tangerang Periode 03 September 2012 06 Oktober 2012

22

Gangguan Preferensi Seksual

Marwin T, Fiona, Boyke S, Emelia W

memungkinkan pasien meraih kembali harga dirinya dan memperbaiki kemampuan interpersonal dan menemukan metode yang dapat diterima untuk mendapatkan kepuasan seksual. Terapi kelompok juga berguna.

I.

PROGNOSIS(2)
Prognosisnya buruk untuk parafilia adalah berhubungan dengan onset usia yang awal,

tingginga frekuensi tindakan, tidak adanya perasaan bersalah atau malu terhadap tindakan tersebut, dan penyalahgunaan zat. Perjalanan penyakit dan prognosisnya baik jika pasien memiliki riwayat koitus disamping parafilia, jika pasien memiliki motivasi tinggi untuk berubah, dan jika pasien datang berobat sendiri, bukannya dikirim oleh badan hukum.

BAB III. KESIMPULAN


Gangguan Preferensi seksual atau disebut juga parafilia adalah sekelompok gangguan yang mencakup ketertarikan seksual terhadap objek yang tidak wajar atau aktivitas seksual yang tidak pada umumnya. Parafilia yang dialami oleh seseorang dapat merupakan parafilia dengan kebiasaan mendekati normal sampai kebiasaan yang merusak atau menyakiti diri sendiri ataupun diri sendiri dan pasangan, dan pada akhirnya menjadi kebiasaan yang dianggap merusak dan mengancam komunitas yang lebih luas. Penyebab dari parafilia antara lain adalah faktor psikososial dan faktor biologi. Menurut PPDGJ III dibagi menjadi F65.0 Fetihisme, F65.1 Tranvetisme Fetihistik, F65.2 Ekshibisionisme, F65.3 Veyeurisme, F65.4 Pedofilia, F65.5 Sodomasokisme, F65.6 Gangguan Preeferensi Seksual Multipel, F65.8 Gangguan Preferensi Seksual Lainya, dan F65.9 Gangguan Preferensi Seksual YTT.

Kepaniteraan Klinik Ilmu Kesehatan Jiwa Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara Rumah Sakit Khusus Jiwa Dharma Graha BSD Tangerang Periode 03 September 2012 06 Oktober 2012

23

Gangguan Preferensi Seksual

Marwin T, Fiona, Boyke S, Emelia W

Di antara kasus parafilia yang dikenali secara hukum, pedofilia adalah jauh lebih sering dibandingkan yang lainnya. Lebih dari 80% penderita parafilia memiliki onset sebelum usia 18 tahun. Pasien parafilia umunya memiliki 3 sampai 5 parafilia baik yang bersamaan atau pada saat terpisah. Kejadian perilaku parafilia memuncak pada usia antara 15 dan 25 tahun, dan selanjutnya menurun. Parafilia jarang terjadi pada pria umur 50 tahun, kecuali mereka tinggal dalam isolasi atau teman yang senasib. Gejala utama parafilia adalah dorongan, fantasi, dan rangsangan yang berulang-ulang dan berkaitan dengan : (1) Obyek-obyek bukan manusia (sepatu, baju dalam, bahan kulit atau karet). (2) Menyakiti diri sendiri atau pasangan. (3) Individu yang tidak diperbolehkan menurut hukum (anak-anak, orang yang tidak berdaya atau pemerkosaan). Diagnosis dibuat berdasarkan kriteria diagnostik PPDGJ III dan DSM IV. Klinisi perlu membedakan suatu parafilia dari coba-coba dimana tindakan dilakukan untuk mengetahui efek baru dan tidak secara rekuren atau kompulsif. Lima jenis intervensi psikiatri digunakan untuk mengobati orang dengan parafilia, yaitu psikoterapi berorientasi tilikan, terapi seks, terapi perilaku, medikamentosa, dan terapi aversi. Psikoterapi berorientasi tilikan adalah pendekatan yang paling sering digunakan. Prognosisnya buruk berhubungan dengan onset usia yang awal, tingginya frekuensi tindakan, tidak adanya perasaan bersalah atau malu terhadap tindakan tersebut, dan penyalahgunaan zat. Prognosisnya baik jika pasien memiliki riwayat koitus disamping parafilia, jika pasien memiliki motivasi tinggi untuk berubah, dan jika pasien datang berobat sendiri, bukan dikirim oleh badan hukum.

DAFTAR PUSTAKA
1).

Ronawulan, Endah. Bahan ajar mata kuliah kedokteran Jiwa gangguan psikoseksual. Jakarta : Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara. 2006.

2).

Sadock, BJ. Kaplan & Sadocks Synopsis Of Psychiatry 10th ed. Philadelphia: Lippincott Williams & Wilkins; 2007.p.705-14

3).

Bannon,

G.E.

&

Carroll,

K.S.

Paraphilias

2008

.Available

from:

http://emedicine.medscape.com/article/291419-clinical [Accessed 30 April 2011].


4).

Pedoman Penggolongan Dan Diagnosis Gangguan Jiwa di Indonesia III (PPDGJ-III), Departemen Kesehatan RI, Direktorat Jenderal Pelayan Medik, 1993. Cetakan Pertama

Kepaniteraan Klinik Ilmu Kesehatan Jiwa Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara Rumah Sakit Khusus Jiwa Dharma Graha BSD Tangerang Periode 03 September 2012 06 Oktober 2012

24

Gangguan Preferensi Seksual 5).

Marwin T, Fiona, Boyke S, Emelia W

Nevid., Greene., Beverly., Rathus. (2005) Psikologi Abnormal (5th ed). (Tim Fakultas Psikologi UI, trans). Jakarta : Erlangga.

6).

Nevid,J.S.,Rathus, S.A., Greene ,B. (2003) Psikologi Abnormal ed 5. Jakarta : Penerbit Erlangga.

7).

Ebert MH, Loosen PT, and Nurcombe B. Current Diagnostic & Treatment In Psychiatry. New York: Lange; 2003

8).

Diagnostic and Statistical Mannual of Mental Disorder fourth edition (DSM-IV), American Psychiatric Association, Washington DC.

9).

Davison, G.C., Neale, J.M., Kring, A.M. Psikologi Abnormal. Edisi ke-9. Jakarta: PT. RajaGrafindo Persada; 2006. p611-641.

10). Fetishism. Available from http://mentaldisorder.com. Last update on 2005


11).

Maramis WF, Maramis AA. (2009). Catatan Buku Kedokteran Jiwa. Edisi 2. Surabaya : Airlangga University Press

12).

Robert

Levey,

PhD,

MPH

Sexual

and

Gender

Identity

Disorders,

http://www.emedicine.com
13). 14).

Anonim : Parafilia, http://www.medicastore.com http://id.wikipedia.org/wiki/Pedofilia#cite_note-Liddell.2C_H.G._1959-4. April 29, 2012. Accessed

Kepaniteraan Klinik Ilmu Kesehatan Jiwa Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara Rumah Sakit Khusus Jiwa Dharma Graha BSD Tangerang Periode 03 September 2012 06 Oktober 2012

25