Anda di halaman 1dari 4

Ingeu Widyatari Heriana 180110110055 Sastra Indonesia (A) Filosofi Asal-usul Kehidupan dan Ketidaklengkapan Deskripsi Tata Pentas

dalam Drama Sandhyakala Ning Majapahit Karya sastra yang lahir dari seorang pengarang pasti memiliki gagasan yang harus dipahami oleh pembaca dan diterapkan sebagai manifestasi cita-cita pengarang. Sanusi Pane dalam karyanya sastra dramanya juga bertindak demikian. Walaupun dimulai dari bagian Kata Bermula sudah ditemukan beberapa hal yang disampaikan pengarang. Pada prolog drama bagian Kata Bermula sudah ditemukan amanat tersurat ... jadi hikayat untuk cermin perbandingan bagi turunan sekarang. Hal tersebut dapat dipahami bahwa drama ini dibuat dan disusun sebagai acuan kehidupan mengenai nilai dan norma bagi masyarakat pada zaman karya ini dibuat untuk dipertahankan dan dikembangkan oleh masyarakat yang akan datang. ... turunlah Majapahit dan akhirnya dimusnahkan oleh bala tentara Islam, sehingga mulailah lakon yang baru. Dengar dan lihatlah, ya Tuan, turunan yang sekarang, bagaimana sang pujangga menghidupkan waktu yang silam kembali ... melalui kutipan tersebut pengarang menginginkan karya-karya tetap muncul dan berkembang di masa setelah karya ini lahir, seperti keproduktifan karya-karya masa pengarang melahirkan karya. Lakon ini mengandung pengharapan, supaya pujangga boleh berhenti, kerena diganti tenaga baru. ... Jikalau kamu telah membaca ataumelihat lakon ini, timbulkan maksud alam hatimu mengarang lakon yang lebih indah ... pengarang menyisipkan harapan pada karya sastra dramanya harus ada generasi penerus yang menggantinya sebagai orang-orang baru yang

menghasilkan karya-karya yang lebih baik daripada karya-karya terdahulu. Pengarang juga mengharapkan karya yang sudah ada tetap terjaga. Hal yang paling penting dari segala harapan dan usaha, pengarang berdoa kepada Tuhan melalui diksi Dewa sebagai simbol untuk unsur keindahan agar generasi penerus memiliki kemampuan dalam menjalankan amanat untuk terus berkarya dengan lebih baik. Drama ini baik apabila dipentaskan dengan jenis drama musikal. Pada bagian awal adegan muncul dialog anak gembala yang bernyanyi. Hal tersebut akan menjadi sebuah pembukaan yang hikmat sebelum terjadinya alur-alur yang rumit. Beberapa dialog para tokoh sarat akan makna sastra. Sastra yang tidak lepas dari masalah asal-usul kehidupan disinggung oleh pengarang dengan cara menyisipkannya melalui dialog para tokoh. Dibuktikan dengan kutipan berikut. MAHARESI: Pertanyaan ini tidak terjawab oleh manusia, yang picik pilkirannya. ... DAMAR WULAN: Siapakah yang menjadikan Brahma? MAHARESI: Ia tercipta oleh kekuatan dirinya sendiri. ... DAMAR WULAN: ... .Apa guna manusia hidup. Mengapa ia harus mati. Sastra berdekatan dengan filsafat. Menurut Eristotheles dalam pemikirannya mengenai sastra sebagai jalan keempat menuju kebenaran dan filsafat ketiga sehingga pemikiran filsafat bisa disisipkan dalam karya sastra. Unsur ketuhanan dalam sastra disampaikan dengan halus oleh pengarang menggunakan kata Dewa sebagai simbol Allah, sinonim dari Tuhannya manusia. Hal tersebut disampaikan melalui kutipan dialog Damar Wulan ... akan tetapi tidak seorang yang pernah melihat mereka. ... .Tidak senang hati saya membaca dan mendengar permainan pikiran saja. Filsafat yang membicarakan asal-usul menggunakan metafisik yang

tidak bisa dijangkau nalar manusia dijelaskan dengan tersirat.

Dalam naskah ini, kalimat disusun dengan kata-kata rumit tidak sesuai kaidah bahasa sehingga sulit dipahami penyampaian maksud terjadinya kehidupan. Melalui gaya bahasa yang mengutamakan keindahan, filsafat mengenai kehidupan terlalu mendalam menambah sulit pembaca memaknai lakon. Contohnya terdapat pada dialog Wisynu ... .Dunia adalah dunia. Perkataan ini tidak benar juga, sebab dunia sebenarnya bukan dunia dan bukan pula bukan dunia. Mengenai teknis, drama yang akhirnya untuk dipentaskan dirasakan hampa apabila di bagian awal adegan hanya terjadi Di muka srama MAHARESI PALUH AMBA. MAHARESI duduk di atas batu yang datar dan DAMAR WULAN bersila di mukanya. Di luar kedengaran suara genta kerbau dan seorang anak gembala bernyanyi. Disayangkan apabila sebuah drama dipentaskan di atas pentas yang kosong properti maupun atribut. Hanya ada sebuah batu yang disinggahi manusia tanpa ada benda-benda lainnya seperti yang tersedia di kehidupan sesungguhnya. Cerita pewayangan biasanya terjadi di sebuah negeri, apalagi zaman dahulu yang masih memiliki hutan lebat, pohon-pohon tinggi, tanaman belukar menjalar, lahan berupa padang yang luas. Hal-hal tersebut tidak dijelaskan dengan rinci Atribut yang dipakai tokoh juga tidak dijelaskan secara rinci. Padahal ketertarikan sebuah pementasan terletak pada kostum dan tata rias yang dikenakan tokoh yang membuat pergerakan alur semakin mengesankan. Perawakan dan ketegasan rupa tokoh-tokoh terlewatkan begitu saja. Kejelasan kegiatan para tokoh tidak disebutkan. Pembaca pasti tergugah imajinasinya

pada sebuah pentas jika membaca sebuah drama, tetapi pada drama ini hanya terbayang tokohtokoh yang hanya bercakap-cakap saja menunjukkan hapalan naskah tanpa ada gerak-gerik yang melengkapi. Di awal adegan para tokoh dibuat pasif. Tidak ada penjelasan para tokoh menguasai panggung sebagai pengenalan pementasan. Tokoh juga tidak dibuat memperkenalkan latar pementasan.