P. 1
PNACT026

PNACT026

|Views: 68|Likes:

More info:

Published by: Allind Linalinallinnallindllaggi on Sep 25, 2012
Hak Cipta:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

11/13/2012

pdf

text

original

Sections

  • 1. Pendahuluan
  • 1.1 Latar Belakang
  • Gambar 1. Areal Perkebunan Kelapa Sawit Menurut Kepemilikan, 1985-1999
  • 1.2 Tujuan
  • 2. Metoda dan Pendekatan
  • 3. Data
  • 5. Definisi Beberapa Istilah yang Digunakan
  • 6. Analisis Investasi Perkebunan Kelapa Sawit
  • 6.1. Biaya dan Manfaat Bagi Perusahaan
  • 6.2. Analisis Finansial Investasi Perkebunan Kelapa Sawit
  • 6.3 Biaya Lingkungan dan Biaya Sosial
  • Tabel 1. Beberapa Contoh Biaya Lingkungan dan Biaya Sosial (US$/ha)
  • 6.4 Analisis Valuasi Ekonomi Investasi Perkebunan Kelapa Sawit
  • 6.6. Analisis Pulang Pokok untuk Nilai-nilai Penggunaan Lahan Alternatif
  • 7. Kesimpulan dan Rekomendasi
  • 7.1 Kesimpulan
  • 7.2 Rekomendasi
  • Daftar Pustaka
  • Lampiran 3: Data Dasar Proyek Perkebunan Kelapa Sawit Untuk Analisis Finansial

Analisis Valuasi Ekonomi Investasi Perkebunan Kelapa Sawit di Indonesia

September 2001

Laporan Teknis

Analisis Valuasi Ekonomi Investasi Perkebunan Kelapa Sawit di Indonesia
Oleh: E. G. Togu Manurung Forest Economist

September 2001

Environmental Policy and Institutional Strengthening IQC OUT-PCE-I-806-96-00002-00

The NRM Program's Policy and Planning Group supports cross-cutting policy analysis and institutional development and provides economic and quantitative policy analysis services to all project components and partner organizations. Working with BAPPENAS and its provincial government counterparts, NRM Policy and Planning Group works in three main subject areas: spatial and land use planning; environmental economic valuation; economic analysis/impact assessment. In addition, policy issues related to community-based resource management and land use issues are supported in collaboration with the Forestry Management Group. For more information about this report contact Tim Brown, Policy and Planning Advisor, NRM Program Secretariat, Ratu Plaza Bldg., 17th fl., Jl. Jend. Sudirman 9, Jakarta 10270, Indonesia Telephone: 62-21-720-9596 Fax: 62-21-720-4546 Email: secretariat@nrm.or.id

OUT-PCE-I-833-96-00002-00

Daftar Isi

Daftar Isi............................................................................................................................... i Daftar Gambar....................................................................................................................iii Daftar Singkatan.................................................................................................................. v 1. Pendahuluan .................................................................................................................... 1 1.1 Latar Belakang ........................................................................................................ 1 1.2 Tujuan...................................................................................................................... 6 2. Metoda dan Pendekatan .................................................................................................. 7 3. Data ................................................................................................................................. 9 4. Asumsi-asumsi Dasar yang Digunakan dalam Studi ini ............................................... 13 5. Definisi Beberapa Istilah yang Digunakan................................................................... 13 6. Analisis Investasi Perkebunan Kelapa Sawit ............................................................... 17 6.1 Biaya dan Manfaat Bagi Perusahaan.................................................................... 17 6.2 Analisis Finansial Investasi Perkebunan Kelapa Sawit........................................ 19 6.3 Biaya Lingkungan dan Biaya Sosial .................................................................... 21 6.4 Analisis Valuasi Ekonomi Investasi Perkebunan Kelapa Sawit .......................... 25 6.5 Analisis Pulang Pokok untuk suatu Kisaran Biaya-biaya Lingkungan dan Sosial ............................................................................................................. 26 6.6 Analisis Pulang Pokok untuk Nilai-nilai Penggunaan Lahan Alternatif.............. 27 7. Kesimpulan dan Rekomendasi ..................................................................................... 31 7.1 Kesimpulan............................................................................................................ 31 7.2 Rekomendasi ......................................................................................................... 32 Daftar Pustaka ................................................................................................................... 33 Lampiran 1: Areal Hutan yang Dikonversi untuk Perkebunan dan Defisit Hutan Konversi............................................................................................... 35 Lampiran 2: Produksi Kayu Bulat dari RKT dan IPK ...................................................... 39 Lampiran 3: Data Dasar Proyek Perkebunan Kelapa Sawit utk Analisis Finansial ......... 41 Lampiran 4: Analisis Finansial Perkebunan Kelapa Sawit .............................................. 43

i

ii

.. Jumlah Ekspor dan Nilai Ekspor 1990-1998 .. 29 Daftar Tabel Tabel 1...................................... Beberapa Contoh Biaya Lingkungan dan Biaya Sosial (US$/ha)..................................... Produksi Minyak Sawit (CPO)..................Daftar Gambar Gambar 1.... 26 Gambar 5.................... Grafik Analisis Pulang Pokok terhadap Nilai Penggunaan Lahan Alternatif berupa Mixed Agroforestry System...................................... 21 iii ........................................ 1985-1999 ........................................... 18 Gambar 4.... 2 Gambar 3....... Areal Perkebunan Kelapa Sawit Menurut Kepemilikan............................. Total Pengeluaran & Penerimaan Perusahaan dari Kegiatan Proyek Perkebunan Kelapa Sawit Selama 38 Tahun. 1 Gambar 2................. Grafik Analisis Pulang Pokok pada Kisaran Biaya Lingkungan dan Biaya Sosial .............

iv .

Daftar Singkatan B/C Ratio CPO HGU HPH HPK HTI IPK IRR KPO NPV PKS RTRWP TBS TGHK : : : : : : : : : : : : : : Benefit-cost ratio Crude Palm Oil (Minyak Sawit) Hak Guna Usaha Hak Pengusahaan Hutan Hutan Produksi yang dapat Dikonversi Hutan Tanaman Industri Ijin Pemanfaatan Kayu Internal Rate of Return Inti Sawit Net Present Value Pabrik Kelapa Sawit Rencana Tata Ruang Wilayah Provinsi Tandan Buah Segar Tata Guna Hutan Kesepakatan v .

vi .

Gambar 1 memperlihatkan perkembangan luas areal perkebunan kelapa sawit di Indonesia dari tahun 1985-1999.1. 1985-1999 3. pada tahun 1999 produksinya kembali meningkat menjadi 5.000 0 1985 1987 1989 1991 1993 1995 1997 1999 Luas Areal (Ha) Perkebunan Rakyat BUMN Swasta Sumber: Direktorat Jenderal Perkebunan dalam Casson (2000). total produksi minyak kelapa sawit Indonesia meningkat tajam.000 1. Pada tahun 1998.780 ha pada tahun 1986 menjadi hampir 3 juta ha pada tahun 1999.crude palm oil) dan inti kelapa sawit (CPO) merupakan salah satu primadona tanaman perkebunan yang menjadi sumber penghasil devisa non-migas bagi Indonesia. produksi minyak sawit turun menjadi 5 juta ton. Namun demikian. Nilai ekspor minyak sawit tertinggi dicapai pada tahun 1997. yaitu dari 1. yaitu dari 606. kemudian turun menjadi US$ 745 juta pada tahun 1998 (lihat Gambar 2).66 juta ton.4 milyar.71 juta ton pada tahun 1988 menjadi 5.000 2. mengalami pertumbuhan yang paling tinggi.000 1. Areal Perkebunan Kelapa Sawit Menurut Kepemilikan. Penurunan nilai ekspor ini 1 .000. sehubungan dengan terjadinya krisis ekonomi di Indonesia. Selama 14 tahun terakhir ini telah terjadi peningkatan luas areal perkebunan kelapa sawit sebesar 2. Gambar 1.35 juta ha. Areal perkebunan kelapa sawit milik perusahaan swasta.000 2. Cerahnya prospek komoditi minyak kelapa sawit dalam perdagangan minyak nabati dunia telah mendorong pemerintah Indonesia untuk memacu pengembangan areal perkebunan kelapa sawit.1 Latar Belakang Kelapa sawit sebagai tanaman penghasil minyak kelapa sawit (CPO.38 juta ton pada tahun 1997. yaitu sebesar US$ 1. Seiring dengan bertambahnya luas perkebunan kelapa sawit.000.000 500.500.500.000. Pendahuluan 1.

2000). Sulawesi dan Irian Jaya. Sumatera. Separuh dari luasan perkebunan kelapa sawit ini dialokasikan untuk perusahaan perkebunan swasta asing. pemerintahan Suharto merencanakan untuk mengalahkan Malaysia sebagai eksportir minyak kelapa sawit terbesar di dunia dengan cara menambah luas areal perkebunan kelapa sawit di Indonesia dua kali lipat. Berkembangnya sub-sektor perkebunan kelapa sawit di Indonesia tidak lepas dari adanya kebijakan pemerintah yang memberikan berbagai insentif. pada awalnya (sebelum krisis ekonomi) diharapkan produksi minyak kelapa sawit Indonesia meningkat menjadi 7. Dengan pertambahan luas areal perkebunan kelapa sawit ini. Hal ini terjadi karena pengembangan areal perkebunan kelapa sawit utamanya dibangun 2 . Terutama kemudahan dalam hal perijinan dan bantuan subsidi investasi untuk pembangunan perkebunan rakyat dengan pola PIR-Bun dan dalam perijinan pembukaan wilayah baru untuk areal perkebunan besar swasta.5 juta hektar pada tahun 2000. Jumlah Ekspor dan Nilai Ekspor.terutama disebabkan oleh kebijakan larangan ekspor CPO dan/atau pengenaan pajak ekspor CPO yang sangat tinggi untuk memenuhi kebutuhan permintaan minyak kelapa sawit di dalam negeri.6 juta ton pada tahun 2005 (Casson. Pengembangan perkebunan kelapa sawit terutama akan dibangun di Kalimantan. yaitu menjadi 5. Pada tahun 1996. pengembangan areal perkebunan kelapa sawit ternyata menyebabkan meningkatnya ancaman terhadap keberadaan hutan alam tropis Indonesia.2 juta ton pada tahun 2000 dan 10. 1990-1998 6000 5000 1000 ton 4000 3000 2000 1000 0 1990 1991 1992 1993 1994 1995 1996 1997 1998 Total Produksi (Ton) Ekspor (ton) Nilai ekspor (US$) 1600 1400 1200 800 600 400 200 0 Juta US$ 1000 Sumber: BPS dan Departemen Kehutanan dan Perkebunan dalam Casson (2000) Sementara pertumbuhan sub-sektor perkebunan kelapa sawit telah menghasilkan manfaat ekonomi yang penting. Gambar 2: Produksi Minyak Sawit (CPO).

31 Juli 2000). terutama industri pulp dan kertas. bahkan di kawasan konservasi yang memiliki ekosistem yang unik dan mempunyai nilai keanekaragaman hayati yang tinggi (Manurung. Sedangkan realisasi pembangunan hutan tanaman industri (HTI) sampai Januari 1999 hanya mencapai 22% dari target yang direncanakan (Ditjen Bina Pengusahaan Hutan. Potter and Lee. Sumatera Utara. Para investor lebih suka untuk membangun perkebunan kelapa sawit pada kawasan hutan konversi karena berpotensi mendapatkan keuntungan besar berupa kayu IPK (Ijin Pemanfaatan Kayu) dari areal hutan alam yang dikonversi. Dampak negatif terhadap lingkungan menjadi bertambah serius karena dalam praktiknya pembangunan perkebunan kelapa sawit tidak hanya terjadi pada kawasan hutan konversi. karena motivasi utamanya untuk mendapatkan keuntungan yang besar dan cepat dari kayu IPK. bahkan menjadi ancaman terhadap hilangnya kekayaan keanekaragaman hayati ekosistem hutan hujan tropis Indonesia. paling sedikit 6000 ha telah dikonversi menjadi perkebunan kelapa sawit (Kompas.1% dari total areal hutan konversi yang sudah ada SK pelepasannya. 2000). 3 . 1999). Juga diberitakan pada kawasan hutan lindung Register 40 di Tapanuli Selatan.pada areal hutan konversi (lihat Lampiran 1). Sebagai akibatnya. melainkan juga merambah ke kawasan hutan produksi.000 ha (Suara Pembaruan. di areal Taman Nasional Bukit Tigapuluh telah dibangun dua perkebunan kelapa sawit dengan luas masing-masing 8. kegiatan konversi hutan telah menjadi salah satu sumber perusakan hutan alam Indonesia. pelaksanaan konversi hutan alam untuk pengembangan areal perkebunan kelapa sawit telah menyebabkan jutaan hektar areal hutan konversi berubah menjadi lahan terlantar berupa semak belukar dan/atau lahan kritis baru sedangkan di lain pihak realisasi pembangunan perkebunan kelapa sawit tidak sesuai dengan yang direncanakan (Kompas. realisasi pembangunan perkebunan kelapa sawit hanya 16. Konversi hutan alam untuk pembangunan perkebunan kelapa sawit terus berlangsung sampai saat ini walaupun di Indonesia sesungguhnya sudah tersedia lahan kritis dan lahan terlantar dalam skala yang sangat luas (sekitar 30 juta hektar) sebagai akibat aktifitas pembukaan dan/atau eksploitasi hutan untuk berbagai keperluan (Badan Planologi Kehutanan dan Perkebunan. 8 Juni 1998). Kayu IPK sangat dibutuhkan oleh industri perkayuan. 19 Mei 2000). 2000.000 ha dan 4. 1998a). karena produksi kayu yang berasal dari HPH semakin berkurang dari tahun ke tahun (lihat Lampiran 2). Menurut mantan Menteri Kehutanan dan Perkebunan Muslimin Nasution (2000). Sebagai contoh. Di samping itu.

1999. muncul serangan hama dan penyakit. atau perusahaan perkebunan “membayar” penduduk lokal untuk melakukan pembakaran dalam kegiatan pembukaan lahan untuk pembangunan perkebunan kelapa sawit dan/atau HTI. praktik konversi hutan alam untuk pembangunan perkebunan kelapa sawit seringkali menjadi penyebab utama bencana kebakaran hutan dan lahan di Indonesia. Pihak perusahaan secara sengaja melakukan pembakaran. Total kerugian ekonomi akibat kebakaran hutan dan lahan pada tahun 1997/98 diperkirakan mencapai US$ 9. meningkatnya erosi tanah. Oleh karena itu. Di samping itu. Berbagai pemberitaan media massa dan hasil penelitian lapangan menyebutkan bahwa sebagian besar kejadian kebakaran hutan dan lahan berada di (berasal dari) lokasi pembangunan perkebunan kelapa sawit dan HTI. 1998a). 133 di antaranya adalah perusahaan perkebunan (Down to Earth. pembangunan perkebunan kelapa sawit turut bertanggung jawab sebagai salah satu penyebab utama bencana kebakaran hutan dan lahan seluas 10 juta hektar pada tahun 1997/98. serta berbagai dampak negatif lainnya terhadap eco-function yang dapat dihasilkan oleh ekosistem hutan alam tropis – menimbulkan biaya yang tidak sedikit pada pihak ketiga. kebakaran hutan juga dipicu oleh adanya konflik lahan antara perusahaan perkebunan dengan masyarakat setempat yang di antaranya menimbulkan ‘perang api’ antara pihak masyarakat dan perusahaan yang terlibat dalam konflik lahan (Manurung dan Mirwan. perubahan aliran air permukaan tanah. pembangunan areal perkebunan kelapa sawit skala besar juga telah menyebabkan dipindahkannya masyarakat lokal yang tinggal di dalam wilayah 4 .3 milyar (Bappenas. 1999). yaitu terjadinya musim kering yang panjang akibat ElNiño). sebagai akibat ekosistem hutan hujan tropis diubah menjadi areal tanaman monokultur. Berbagai permasalahan lingkungan yang disebutkan di atas dan berbagai dampak negatif lainnya terhadap lingkungan akibat konversi hutan alam menjadi areal perkebunan kelapa sawit -.Selanjutnya. 1997). Potter dan Lee. sehingga selayaknya diperhitungkan sebagai biaya lingkungan. dan pencemaran lingkungan akibat pemakaian pupuk dan pestisida dalam jumlah yang banyak. Permasalahan lainnya. Penyebab utama kebakaran hutan tersebut diidentifikasi sebagai faktor kesengajaan oleh manusia (yang diperburuk oleh faktor alami. Hal ini terjadi karena pada kegiatan pembersihan lahan (land clearing) untuk membangun perkebunan kelapa sawit dilakukan dengan cara membakar agar cepat dan biayanya murah. Pada saat terjadi bencana nasional kebakaran hutan tahun 1997 media massa nasional melaporkan bahwa dari 176 perusahaan yang dituduh melakukan pembakaran hutan dalam pembukaan lahan.misalnya.

Biaya yang terjadi sebagai akibat munculnya konflik sosial berkepanjangan antara perusahaan perkebunan dengan masyarakat akan dibayar dengan mahal oleh perusahaan setelah kegiatan bisnis perkebunan kelapa sawit berjalan.sehingga biaya sosial yang harus dikeluarkan menjadi sangat tinggi.pengembangan perkebunan kelapa sawit. sering terjadi penyerobotan (pencaplokan) lahan masyarakat adat oleh perusahaan perkebunan kelapa sawit. 1998b). bahkan turut ditanggung oleh masyarakat internasional. Berbagai permasalahan ini telah menyulut permasalahan konflik sosial yang berkepanjangan dan sangat merugikan semua pihak -. Namun demikian.terutama bagi masyarakat yang mengalami dampak negatif akibat pembangunan perkebunan kelapa sawit -. Sebagai akibatnya. Tindakan penyerobotan tanah masyarakat adat ini dilakukan baik secara halus maupun dengan cara paksaan. misalnya dengan cara pembakaran lahan yang telah diorganisir dengan baik oleh pihak perusahaan (Potter dan Lee. Di samping itu. Semua biaya lingkungan dan biaya sosial yang terjadi sesungguhnya menjadi biaya yang harus ditanggung oleh masyarakat/negara Indonesia. merupakan pihak yang menanggung biaya sosial dan biaya lingkungan yang terjadi sejak awal dimulainya proyek pembangunan perkebunan kelapa sawit. seringkali timbul permasalahan klaim lahan oleh masyarakat setempat terhadap areal perkebunan kelapa sawit yang sedang/telah dibangun. Hal ini terjadi karena biayabiaya lingkungan dan sosial yang timbul tidak ditanggung (dibayar) oleh perusahaan perkebunan pada saat melakukan investasi. masyarakat (khususnya masyarakat setempat) yang mengalami dampak negatif dari keberadaan proyek pembangunan perkebunan kelapa sawit. Ganti rugi tanah pada areal pengembangan kelapa sawit tersebut seringkali menimbulkan permasalahan karena tidak dibayar dengan harga yang ‘adil’ dan ‘pantas’. perusahaan perkebunan swasta tidak pernah memasukan biaya lingkungan dan biaya sosial ini dalam Analisis finansial proyek pembangunan perkebunan kelapa sawit. para pembuat kebijakan dan khususnya para pengambil keputusan di pemerintahan dalam mengevaluasi (menilai) analisis biaya dan manfaat proyek pembangunan perkebunan kelapa sawit harus turut memperhitungkan berbagai biaya lingkungan dan biaya sosial tersebut. Biaya lingkungan dan biaya sosial yang terjadi seharusnya turut diperhitungkan dalam analisis investasi perkebunan kelapa sawit. padahal di atas tanah tersebut masih terdapat tanaman pertanian dan tanaman perkebunan milik masyarakat. 5 . Sementara itu. Konflik sosial yang terjadi akhirnya menjadi sumber risiko dan ketidakpastian bagi perusahaan perkebunan kelapa sawit dalam melakukan bisnis usahanya secara berkelanjutan. Oleh karena itu.

1. termasuk biaya lingkungan dan biaya sosial. 6 . Penyajian laporan teknis ini dimulai dengan pemaparan metoda dan pendekatan studi. dan diakhiri dengan kesimpulan. yaitu dengan turut memperhitungkan (internalize) semua biaya yang terkait dalam investasi perkebunan kelapa sawit.2 Tujuan Tujuan studi analisis valuasi ekonomi investasi perkebunan kelapa sawit ini adalah: 1) Memeriksa kelayakan finansial dan kelayakan ekonomi investasi perkebunan kelapa sawit sebagai salah satu alternatif pilihan penggunaan lahan. pemaparan asumsi-asumsi dasar yang digunakan. 2) Mengidentifikasi dan menilai asumsi-asumsi dasar yang digunakan dalam analisis ekonomi yang dilakukan. pemaparan data. dan wawancara dengan berbagai sumber mengenai konversi hutan alam untuk pembangunan perkebunan kelapa sawit. Di samping itu. 4) Membandingkannya dengan proses keputusan yang berdasarkan pertimbangan sosial. diskusi dan pembahasan. Penulisan makalah teknis ini terutama didasarkan kepada studi literatur dan analisis data sekunder yang berasal dari berbagai publikasi dan hasil penelitian ilmiah mengenai bisnis dan investasi perkebunan kelapa sawit. kemudian dilanjutkan dengan penyajian hasil analisis valuasi ekonomi investasi perkebunan kelapa sawit. 3) Mengevaluasi proses dan dasar pengambilan keputusan investor swasta dalam melakukan investasi perkebunan kelapa sawit. ekonomi dan lingkungan. juga dilakukan penelitian lapangan.

berbagai dampak eksternal (negatif) terhadap lingkungan. misalnya nilai kini bersih (NPV. Hal ini dimaksudkan untuk dapat memungkinkan perbandingan diantara kategori manfaat dan biaya. sedang. 4) Melakukan analisis fleksibilitas dan analisis pulang pokok (break-even analysis) untuk melihat dimana keputusan investasi berubah dari “ya” ke “tidak” 5) Melakukan pemeriksaan terhadap berbagai dampak ekternalitas lingkungan (menilai biaya lingkungan yang mungkin terjadi).2. keanekaragaman hayati. Misalnya. pemeliharaan tanaman. 3) Mengdentifikasi kasus ‘dasar’ (‘base’ case) yang mendeskripsikan kondisi (situasi) rata-rata proyek investasi perkebunan kelapa sawit perusahaan swasta. net present value). alternatif sumber pendapatan berdasarkan pilihan penggunaan lahan. dan nilai-nilai (dari suatu keberadaan sumberdaya alam hutan) yang tidak dapat dihitung (intangible values). pemanenan dan pengolahan TBS menjadi CPO dan KPO. berbagai harga masukan yang harus dibayar untuk investasi tanaman. tingkat produksi tandan buah segar (TBS) pada berbagai kelas lahan (tingkat produksi lahan: rendah. 2) Mengembangkan perhitungan dalam suatu lembaran kerja (spreadsheet dengan menggunakan Excel) sedemikian sehingga memungkinkan untuk melakukan penyesuaian peubah-peubah secara fleksibel. Selanjutnya dilakukan perhitungan nilai peubah indikator pembanding. dan nilai-nilai yang tidak dapat dihitung (intangible values). harga hasil produksi (CPO dan KPO). Metoda dan Pendekatan Analisis valuasi ekonomi investasi perkebunan kelapa sawit dilakukan melalui pendekatan sebagai berikut: 1) Mengidentifikasi berbagai faktor dan peubah (variables) utama yang berpengaruh terhadap investasi perkebunan kelapa sawit. 7 . dan tinggi). Semua perhitungan nilai peubah biaya dan manfaat proyek dilakukan dalam satuan per unit (per hektar). Berdasarkan data yang telah dipublikasikan dan perkembangan pergerakan (trend) nilai suatu peubah dilakukan pemeriksaan terhadap nilai-nilai serta kisaran nilai yang dapat diterima.

dengan turut memperhitungkan biaya lingkungan yang terjadi. 7) Melakukan analisis perkiraan terhadap biaya potensial yang mungkin dapat terjadi sebagai akibat kegiatan pembangunan perkebunan kelapa sawit. pertanian subsisten. 8 . 8) Membandingkan NPV yang dihasilkan dari alternatif penggunaan lahan lainnya (misalnya agroforestry.6) Mengdentifikasi kisaran nilai dimana nilai-nilai eksternalitas lingkungan dan intangibles menjadi penting dalam pengambilan keputusan. dan perkebunan karet hutan) dengan NPV yang dihasilkan dari bisnis perkebunan kelapa sawit.

yaitu pabrik pengolahan tandan buah segar (TBS) menjadi CPO dan KPO Masa produktif tanaman kelapa sawit selama 25 tahun. Data Dalam studi ini. Rotterdam): 531.i.o. digunakan data sebagai berikut: Luas perkebunan kelapa sawit 10.000 ha (perkebunan skala besar) Lahan perkebunan kelapa sawit (Hak Guna Usaha) berasal dari hutan konversi Memiliki pabrik kelapa sawit (PKS). Indonesian port): 600 US$/ton Biaya transport CPO/KPO dari lokasi PKS ke pelabuhan ekspor: 5 US$/ton Data selengkapnya untuk perhitungan analisis valuasi ekonomi investasi perkebunan kelapa sawit dapat dilihat pada Lampiran 3. Tingkat produksi: TBS: 20-29 ton/ha (produktifitas rendah sampai tinggi). 9 .81 US$/ton International transport cost: 40 US$/ton Harga CPO (f.b.b. dan mulai mengalami penurunan pada tahun ke-19.o. sebagai kasus dasar untuk perhitungan analisis valuasi ekonomi investasi perkebunan kelapa sawit. pajak lokal dan retribusi) Depresiasi 329 US$/ha Harga CPO (c.3. Tingkat ekstraksi TBS menjadi CPO: 24% (maksimum) Tingkat ekstraksi TBS menjadi KPO: 5% (maksimum) Biaya tanam dan pengolahan (pada kelas lahan produktifitas tinggi) Investasi tanaman: 1. Pohon kelapa sawit mulai memproduksi TBS pada tahun ke-4 Produksi TBS maksimum dicapai pada tahun ke-10 sampai tahun ke-18.f.81 US$/ton Harga KPO (f. gestation period 3 tahun. Indonesian port): 491.317 US$/ha Pemanenan: 202 US$/ha (tahun produksi maksimum) Pemeliharaan 120 US$/ha Pupuk 248 US$/ha Tranportasi 100 US$/ha (tahun produksi maksimum) Pengolahan TBS 161 US$/ha (tahun produksi maksimum) Biaya overhead 134 US$/ha (termasuk PBB.

10 .

pemerintah mengeluarkan (memberikan) Ijin Pemanfaatan Kayu (IPK). dengan diameter pohon lebih dari 10 cm. Pada areal hutan konversi ini dilakukan pembukaan lahan dengan cara tebang habis. Asumsi-asumsi Dasar yang Digunakan dalam Studi ini Dalam studi ini diasumsikan bahwa areal pembangunan perkebunan kelapa sawit berasal dari kawasan hutan konversi (istilah hutan konversi kemudian oleh Departemen Kehutanan dan Perkebunan diubah menjadi hutan produksi yang dapat dikonversi. diasumsikan bahwa sekitar 30% kayu IPK mempunyai diameter pohon lebih dari 30 cm. berdasarkan hasil wawancara dengan beberapa sumber di lapangan. 11 . Asumsi ini berlaku pada areal hutan konversi yang terletak di pulau Sumatera dan Kalimantan. Diasumsikan. dengan diameter pohon yang beragam. diasumsikan bahwa areal HPK yang dikonversi untuk pembangunan perkebunan kelapa sawit adalah areal bekas tebangan HPH (logged-over area). berdasarkan hasil wawancara dengan berbagai sumber. Oleh karena itu. Diasumsikan keuntungan bersih (net profit) hasil penjualan setiap meter kubik kayu IPK adalah sebagai berikut: 1) untuk kayu bulat dengan diameter lebih dari 30 cm keuntungan bersih yang diperoleh sebesar US$ 35/m3. 2000). tanpa bakar. Selanjutnya. Diasumsikan bahwa IPK diberikan oleh pemerintah kepada perusahaan yang akan membangun perkebunan kelapa sawit. Diasumsikan bahwa pada areal hutan alam yang dikonversi tersebut terdapat sejumlah pohon dari berbagai macam jenis. pada areal hutan konversi potensi volume kayu dari semua jenis pohon. Sebagian besar kayu IPK (sampai 70%) dimanfaatkan sebagai bahan baku kayu serpih untuk industri pulp. sehingga dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku industri penggergajian dan/atau industri kayu lapis. Dalam perhitungan keuntungan bersih telah mencakup biaya yang dikeluarkan oleh perusahaan untuk memperoleh IPK. diantaranya masih terdapat pohon-pohon dengan diameter batang pohon lebih dari 40 cm. HPK) (Santoso. rata-rata sebesar 120 m3/ha.4. sedangkan untuk kayu bulat berdiameter 10-30 cm diasumsikan keuntungan bersihnya yang bisa diperoleh ratarata sebesar US$ 10/m3. Selanjutnya.

1997). Diasumsikan harga jual CPO/KPO di pasar domestik Indonesia sama dengan harga jual ekspor CPO dan KPO. price di pelabuhan ekspor Indonesia sebesar $491. (c.81/ton (Pusat Data Bisnis Indonesia. Kemudian. Harga KPO rata-rata 1. maka diperoleh CPO f. Diasumsikan tidak ada peremejaan pohon kelapa sawit setelah akhir umur perkebunan (28 tahun).22 kali lipat harga CPO. 1998).o. berdasarkan data empiris harga jual CPO dan KPO di pasar internasional Rotterdam. Diasumsikan. Rotterdam) pada tahun 1996 adalah: CPO harga pasarnya sebesar US$ 531. Diasumsikan pajak ekspor CPO (dan KPO) sebesar 10 persen.f.b.81/ton. setelah dikurangi dengan biaya angkutan internasional dengan kapal laut sebesar US$ 40/ton (CIC. Belanda.i.Diasumsikan dalam satu tahun sebuah perusahaan yang akan membangun perkebunan kelapa sawit dapat melakukan pembukaan dan pembersihan lahan (land clearing) seluas 10. Selanjutnya diasumsikan sebanyak 50% produksi CPO dan KPO diekspor dan 50% untuk konsumsi di dalam negeri.000 ha. 12 . price.

Nilai guna tidak langsung (indirect use values). Misalnya. yang berjasa untuk mendukung kehidupan mahluk hidup. adalah semua biaya yang timbul karena terjadinya kerusakan lingkungan dan/atau dampak eksternalitas negatif yang merugikan sebagai akibat pelaksanaan kegiatan tertentu. adalah nilai yang bersumber dari penggunaan secara langsung oleh individu/masyarakat atau perusahaan terhadap komoditas hasil hutan. adalah semua biaya yang timbul sebagai akibat terjadinya permasalahan dan/atau konflik sosial dalam pelaksanaan kegiatan tertentu. perlindungan spesies. misalnya berupa hasil hutan kayu. adalah alternatif pilihan saat memanfaatkan sumber daya alam. adalah nilai yang diberikan masyarakat yang hidup saat ini terhadap suatu daerah tertentu agar tetap terjaga untuk dimanfaatkan oleh generasi mendatang.5. Biaya sosial (social costs). dalam satu generasi manusia. fauna dan manfaat rekreasi alam. Nilai warisan (bequest value). upaya preventif terhadap perubahan yang tidak dapat diperbaharui. sumber daya genetik. Nilai pilihan (option value). Misalnya: perlindungan keanekaragaman hayati. 13 . berbagai dampak negatif terhadap lingkungan yang disebabkan dilaksanakannya pembangunan perkebunan kelapa sawit dengan cara mengkonversi hutan alam. adalah nilai yang bersumber dari penggunaan secara tidak langsung terhadap manfaat fungsional proses ekologis (ecofunction) dari hutan. keragaman ekosistem. Nilai guna langsung (direct use values). Contohnya: konservasi habitat. Merupakan manfaat yang “disimpan atau dipertahankan” untuk kepentingan yang akan datang. seperti hilangnya keanekaragaman hayati. hasil hutan non-kayu. Definisi Beberapa Istilah yang Digunakan Biaya lingkungan (environmental costs). Jasa hutan dihasilkan dari suatu proses ekologis oleh komponen biofisik ekosistem hutan. Misalnya biaya yang harus dikeluarkan karena terjadinya konflik lahan antara perusahaan perkebunan dengan masyarakat lokal yang tinggal di lokasi pembangunan perkebunan kelapa sawit.

adalah pemulihan berbagai unsur hara yang bergerak (mobile) dan pelepasan atau penghancuran unsur hara majemuk yang berlebihan. Contohnya: pencegahan kehilangan lapisan atas tanah oleh tiupan angin. adalah nilai yang diperoleh dari hasil penjumlahan semua biaya (costs) tahunan yang dikeluarkan (atau manfaat/benefits yang didapat) selama jangka waktu umur proyek setelah didiskonto dengan tingkat suku bunga tertentu. Pengendali erosi (erosion control). pengendalian banjir dan kekeringan. Nilai pada masa kini (present value). adalah penyimpanan. mengatur aliran-aliran air. 14 .Pengendali gangguan (disturbance regulation). Perlakuan pemrosesan limbah (waste treatment). Pengatur tata air (water regulation). N. adalah kemampuan dan keterpaduan respon ekosistem terhadap berbagai perubahan lingkungan. irigasi). dan penawar racun. menahan endapan tanah di danau atau lahan basah. Contohnya: proses pembusukan limbah. dan perolehan berbagai unsur hara. Siklus hara (nutrient cycling). Contohnya: pengikatan nitrogen. dan berbagai aspek respon habitat terhadap perubahan lingkungan yang utamanya dikontrol oleh struktur vegetasi. Contohnya: penyediaan air melalui daerah aliran sungai. Penyediaan air (Water supply). siklus internal. Contohnya: perlindungan terhadap badai. adalah penangkapan dan penyimpanan air. atau transportasi. adalah proses-proses pembentukan tanah. atau untuk proses industri (misalnya pabrik pengolahan). Contohnya: pelapukan batuan melalui perubahan cuaca dan akumulasi bahan organik. P dan siklus hara fundamental yang lainnya. pemrosesan. Pembentukan lapisan tanah (Soil formation). aliran permukaan tanah. Contohnya: menyediakan air untuk pertanian (misalnya. adalah penahanan (pemeliharaan) tanah di dalam suatu ekosistem. dan lapisan air tanah. pengontrolan polusi. penampungan air. atau proses pemindahan yang lainnya.

. 2.Ct NPV = ∑  t=1 (1 + i)t di mana. t = 1..Nilai kini bersih (net present value/NPV). biaya atau semua pengeluaran proyek pada tahun ke-t t = tahun proyek. Bt = benefits. adalah nilai pada masa kini yang diperoleh dari selisih present value of benefits dikurangi dengan present value of costs. n Bt . 3. 28 i = tingkat suku bunga diskonto (discount rate: 10%) 15 . . manfaat atau semua penerimaan proyek pada tahun ke-t Ct = costs.

16 .

biaya pada tahun ke-1 berupa biaya investasi tanaman kelapa sawit. diperoleh dari hasil penjualan CPO dan KPO yang dijual di pasar domestik maupun yang diekspor. Tanaman kelapa sawit baru mulai menghasilkan TBS pada tahun ke-4 (gestation period 3 17 . selama jangka waktu umur kegiatan. Pengeluaran biaya proyek dimulai dari tahun ke-0.6. dalam nilai uang. dan berbagai pengeluaran biaya lainnya. 3) pemeliharaan tanaman. 4) pemanenan TBS. dan aliran penerimaan (inflow). dan 11) biaya depresiasi. 5) pemupukan. Lampiran 4 memperlihatkan berbagai biaya dan manfaat proyek perkebunan kelapa sawit skala besar (10. 8) biaya pengolahan TBS menjadi CPO dan KPO. Total manfaat per tahun yang diterima dari pelaksanaan kegiatan perkebunan kelapa sawit merupakan penjumlahan dari semua penerimaan dalam kurun waktu satu tahun tertentu.1. Aliran kas terdiri dari aliran pengeluaran (outflow). yaitu semua biaya per tahun. untuk melaksanakan kegiatan tertentu. yaitu dari tahun ke-0 sampai dengan tahun ke-28.000 ha) selama umur kegiatan. sesuai dengan jadual pelaksanaan kegiatan. Biaya-biaya yang harus dikeluarkan oleh perusahaan dalam pelaksanaan kegiatan proyek di antaranya adalah biaya untuk: 1) Mendapatkan Hak Guna Usaha (HGU) lahan perkebunan kelapa sawit. selama umur proyek. yaitu semua penerimaan per tahun. 6) pengangkutan TBS ke pabrik pengolahan. 9) biaya pengangkutan CPO dan KPO dari lokasi PKS ke pelabuhan ekspor. Penerimaan dalam nilai uang. 10) biaya overhead. 2) investasi tanaman kelapa sawit. Lampiran 4 juga memperlihatkan aliran kas (cash-flow) proyek investasi perkebunan kelapa sawit selama jangka waktu umur perkebunan. Analisis Investasi Perkebunan Kelapa Sawit 6. Total biaya per tahun untuk pelaksanaan kegiatan perkebunan kelapa sawit merupakan penjumlahan dari semua pengeluaran dalam kurun waktu satu tahun tertentu. yang diterima oleh perusahaan dari pelaksanaan kegiatan perkebunan kelapa sawit. yaitu mulai dari tahapan pengurusan ijin HGU dan pembukaan lahan. 7) investasi pembangunan pabrik. sesuai dengan rencana kegiatan proyek sampai dengan tahun ke-28. yang dikeluarkan oleh perusahaan selama pelaksanaan kegiatan. Biaya dan Manfaat Bagi Perusahaan Semua biaya yang dikeluarkan dan manfaat yang diterima oleh perusahaan dalam pelaksanaan kegiatan proyek perkebunan kelapa sawit diidentifikasi dan dicatat secara rinci. dalam nilai uang. setiap tahun.

Selanjutnya. keuntungan perusahaan yang berasal dari hasil penjualan kayu IPK akan turut diperhitungkan sebagai bagian dari penerimaan yang diperoleh perusahaan. Gambar 3 memperlihatkan grafik total pengeluaran dan penerimaan perusahaan perkebunan kelapa sawit selama jangka waktu umur kegiatan.000 Ribu US$ 25. kisaran nilainya sebesar US$ 105 – $3. Dengan total biaya produksi selama jangka waktu umur kegiatan yang berkisar antara: US$ 478 .$1353/ha/tahun.000 0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 Tahun proyek Total aliran pengeluaran perusahaan Total aliran penerimaan perusahaan Gambar 3.000 20. Pada bagianbagian lain dari laporan ini. penerimaan dari kayu IPK tidak dimasukan sebagai bagian dari manfaat yang diterima oleh perusahaan.000 15. yaitu pada tahun ke-1 sampai dengan tahun ke-3. kemudian terus berlanjut sampai dengan tahun ke-28. Total Pengeluaran dan Penerimaan Perusahaan Selama 28 tahun (Tanpa kayu IPK) 40. mulai tahun ke4 sampai dengan tahun ke-28.000 30.tahun). sehingga penerimaan proyek dari hasil penjualan CPO dan KPO baru mulai dihasilkan pada tahun ke-4. Pengeluaran perusahaan sampai dengan tahun ke-5 lebih besar dibandingkan dengan penerimaan perusahaan. Total pengeluaran dan Penerimaan Perusahaan dari Kegiatan Proyek Perkebunan Kelapa Sawit Selama 28 tahun 18 .718/ha/tahun. Sangat penting untuk diperhatikan bahwa dalam perhitungan analisis finansial investasi perkebunan kelapa sawit.000 5. Pada periode investasi tanaman kelapa sawit dan masa investasi pembangunan pabrik kelapa sawit (PKS).000 35. dari hasil analisis data yang disajikan pada Lampiran 4 diketahui bahwa penerimaan total perusahaan yang berasal dari penjualan CPO dan KPO.000 10. perusahaan harus mengeluarkan biaya investasi dan belum memperpoleh penerimaan.

000 ha) memberikan nilai NPV sebesar US$ 72.35%). kelayakan finansial ditunjukkan oleh nilai NPV. Dengan demikian. Jadi. Artinya. maka nilai NPV positif.62 juta (dan nilai IRR sebesar 26. Dalam studi ini. dengan tingkat suku bunga diskonto (discount rate) sebesar 10%. Berdasarkan hasil perhitungan analisis finansial. perkebunan kelapa sawit skala besar (walaupun tidak memasukan penerimaan/keuntungan perusahaan dari hasil penjualan kayu IPK) secara finansial sangat menguntungkan. Suatu kegiatan dikatakan layak secara finansial (menguntungkan bagi perusahaan) bila nilai NPV-nya positif. sangat penting untuk turut memperhitungkan semua biaya dan manfaat yang relevan dan/atau benar terjadi sebagai akibat pelaksanaan kegiatan. Kelayakan finansial suatu kegiatan ditunjukan oleh nilai NPV (net present value). Nilai NPV. Bila keseluruhan manfaat yang dihasilkan selama jangka waktu umur kegiatan lebih besar daripada keseluruhan biaya investasi.6. Dalam mengambil keputusan berdasarkan penilaian kelayakan suatu kegiatan. (grup) perusahaan telah menerima keuntungan besar berupa kayu IPK yang berasal dari kegiatan pembukaan lahan hutan konversi. B/C ratio dan IRR sesungguhnya saling berhubungan satu sama lainnya. dan nilai IRR-nya lebih besar dari tingkat suku bunga diskonto (discount rate) yang dipergunakan dalam perhitungan nilai NPV. Seperti telah dikemukakan. Analisis Finansial Investasi Perkebunan Kelapa Sawit Analisis finansial bertujuan untuk menilai apakah suatu kegiatan tertentu dilaksanakan layak secara finansial. sesungguhnya sebelum investasi perkebunan kelapa sawit dimulai. atau dapat memberikan keuntungan finansial bagi perusahaan yang bertujuan untuk memaksimumkan keuntungan. kegiatan secara finansial layak untuk dilaksanakan karena dapat memberikan keuntungan finansial bagi perusahaan. Nama perusahaan yang memperoleh IPK dari Departemen Kehutanan dan Perkebunan biasanya berbeda dengan 19 . Bila NPV positif artinya nilai B/C ratio-nya lebih besar dari satu. proyek perkebunan kelapa sawit skala besar (10. salah satu dari ketiga nilai tersebut dapat dipergunakan untuk mengambil keputusan apakah suatu kegiatan akan menguntungkan (layak) atau tidak secara finansial. B/C ratio (Benefit-Cost Ratio). atau IRR (Internal Rate of Return).2.

nama perusahaan yang akan membangun perkebunan kelapa sawit. seperti yang telah diberitakan oleh berbagai media massa nasional dan daerah. Bila penerimaan perusahaan yang berasal dari kayu IPK turut diperhitungkan dalam analisis finansial maka nilai NPV proyek perkebunan kelapa sawit meningkat menjadi US$ 93. Kenyataan bahwa perusahaan dapat memperoleh keuntungan besar dari kayu IPK. 11 Agustus 2000). Besarnya keuntungan yang diterima dari kayu IPK ternyata telah menyebabkan banyak perusahaan perkebunan kelapa sawit menelantarkan lahan HGU-nya setelah mendapatkan kayu IPK. keuntungan yang diperoleh dari kayu IPK harus turut diperhitungkan sebagai penerimaan perusahaan perkebunan kelapa sawit. 20 . berupa semak belukar dan/atau lahan kritis yang baru (Kompas. sebelum kegiatan investasi tanaman perkebunan kelapa sawit dimulai. Namun demikian. Sebagai akibatnya.000 ha. dalam kenyataannya perusahaan-perusahaan tersebut termasuk dalam grup perusahaan yang sama. juga dapat dipakai untuk biaya investasi pembangunan pabrik kelapa sawit. menyebabkan kawasan hutan konversi selalu menjadi pilihan utama untuk lokasi pembangunan perkebunan kelapa sawit. Oleh karena itu. Realisasi pembangunan perkebunan kelapa sawit tidak dilakukan sesuai dengan perencanaan.000 ha. Media Indonesia.62 juta. Perusahaan biasanya meminjam modal dari bank walaupun telah memperoleh cukup dana dari keuntungan kayu IPK. Bila demikian halnya. Jadi. Dalam praktiknya perusahaan perkebunan kelapa sawit seringkali meminjam modal investasi dari bank milik grup perusahaannya sendiri. Keuntungan perusahaan perkebunan kelapa sawit semakin bertambah karena rata-rata sebesar 70% dari total modal investasi perusahaan perkebunan kelapa sawit berasal dari pinjaman bank. 19 Mei 2000. Bahkan sesungguhnya. perusahaan perkebunan kelapa sawit tersebut sesungguhnya mendapatkan dana murah dengan cara yang mudah. saat ini jutaan hektar lahan perkebunan di beberapa propinsi (misalnya di provinsi Jambi dan Kalimantan Timur) telah berubah menjadi lahan terlantar. penerimaan perusahaan bertambah sebesar US$ 21 juta. Keuntungan besar dari penjualan kayu IPK tersebut cukup untuk biaya investasi tanaman kelapa sawit seluas 10. yaitu keuntungan bersih dari hasil penjualan kayu IPK yang berasal dari areal hutan konversi seluas 10.

Nilai guna tidak langsung Pengendali gangguan Pengatur tata air Pengendali erosi Pembentukan lapisan tanah Siklus hara Pemrosesan limbah 2. Tabel 1 memperlihatkan beberapa contoh biaya lingkungan dan biaya sosial. 1999. Oleh 21 . Biaya sosial: konflik & keamanan TOTAL Asumsi N.3 Biaya Lingkungan dan Biaya Sosial Di samping berbagai biaya dan manfaat seperti yang telah dikemukakan pada bagian analisis finansial. 1997). Constanza. Selanjutnya.067 100 3 30 272 12 36 2. Beberapa Contoh Biaya Lingkungan dan Biaya Sosial (US$/ha) 1.1. High value diperoleh berdasarkan metoda benefit transfer. Kayu (2 m3/ha @ $35/m3) Nonkayu 1.6. Low value dan persentase “trust” factor adalah asumsi yang dibuat berdasarkan kondisi di Indonesia untuk mendapatkan reasonable minimum values dari biaya lingkungan dan biaya sosial (lihat Tabel 1).2. reasonable minimum values ini dipergunakan dalam perhitungan analisis valuasi ekonomi investasi perkebunan kelapa sawit. Biaya lingkungan Keanekaragaman hayati Pencemaran. penyakit & hama Penyerap karbon 3. Intangibel: Nilai pilihan & warisan 4. 70 75 2 3 53 8 80 75 2 4 82 1 3 458 Berbagai biaya lingkungan yang terjadi dalam kenyataannya selama ini tidak pernah diperhitungkan sebagai biaya yang harus ditanggung (dibayar) oleh perusahaan. Rendah N.305 Tingkat Kepercayaan 100% 75% 75% 75% 75% 75% 75% 75% 75% 40% 30% 30% 30% Nilai Min. Besarnya biaya lingkungan dibedakan menjadi high value dan low value. yaitu dari hasil penelitian pada ekosistem hutan hujan tropis di beberapa negara (Ruitenbeek. Nilai guna langsung: lahan & ekosistem .Tinggi 70 100 2 4 71 11 107 100 3 10 272 4 9 763 70 401 5 15 283 11 1. Tabel 1. Nilai lahan dan ekosistem 1. sesungguhnya masih ada biaya-biaya lain yang timbul (terjadi) sebagai akibat kegiatan konversi hutan alam untuk pembangunan perkebunan kelapa sawit. yaitu biaya lingkungan (environmental costs) dan biaya sosial (social costs).

Sebagai contoh. dan jasa rekreasi alam.karena itu. Manfaat guna langsung yang dapat diperoleh dari ekosistem hutan alam di antaranya adalah: hasil hutan kayu. pengaturan dan penyediaan air (water supply/regulation). secara umum dapat dibedakan menjadi dua bagian. hasil hutan non-kayu. siklus hara (nutrient cycling). serta pencemaran bahan kimia cair yang berasal dari proses pengolahan TBS menjadi CPO/KPO. misalnya pencemaran yang disebabkan oleh penggunaan pupuk dan pestisida dalam budidaya tanaman perkebunan kelapa sawit. 22 . biaya lingkungan dan biaya sosial yang terjadi tidak pernah turut dihitung dalam analisis finansial perkebunan kelapa sawit. pembentukan lapisan tanah (soil formation). mengendali erosi tanah (erosion control). hutan alam yang ditebang habis menyebabkan berkurang/hilangnya habitat bagi satwa liar. Di samping itu. pembangunan perkebunan kelapa sawit dengan melakukan konversi hutan alam tropika basah menimbulkan dampak negatif terhadap lingkungan. Biaya lingkungan adalah semua biaya yang timbul karena terjadinya kerusakan dan/atau permasalahan lingkungan sebagai akibat dari pelaksanaan suatu kegiatan tertentu. dan 4) penyebaran hama dan penyakit tanaman karena hutan alam dikonversi menjadi tanaman monokultur. dan perlakuan pemrosesan limbah (waste treatment) (lihat definisi istilah pada bagian 5). Dengan perkataan lain. Dampak negatif terhadap lingkungan ini sesungguhnya merupakan kerugian ekonomi yang harus dibayar oleh masyarakat dan/atau pihak lainnya. Kedua jenis manfaat tersebut seharusnya dapat diberikan oleh ekosistem hutan alam bila tidak dikonversi menjadi perkebunan kelapa sawit. Biaya-biaya lingkungan lainnya yang timbul akibat dikonversinya hutan alam menjadi areal perkebunan kelapa sawit dapat disebabkan oleh: 1) hilangnya keanekaragaman hayati. misalnya pembangunan perkebunan kelapa sawit. 3) hilangnya kemampuan hutan untuk menyerap karbon. pembukaan lahan yang berasal dari hutan alam dengan cara tebang habis menyebabkan hilangnya sebagian ekosistem hutan hujan tropika basah Indonesia yang terkenal memiliki keanekaragaman hayati yang tak terhingga (mega biodiversity). yaitu: 1) kerugian karena hilangnya nilai guna langsung (direct-use value). sedangkan yang termasuk dalam manfaat guna tidak langsung adalah manfaat yang berhubungan dengan fungsi ekologis (eco-function) yang dapat diberikan oleh suatu ekosistem hutan alam. Diantaranya adalah: pengendali gangguan (disturbance regulation). 2) terjadinya polusi. Kerugian yang timbul akibat hilangnya hutan alam karena ditebang habis. dan 2) kerugian karena hilangnya nilai guna tidak langsung (indirect-use value).

paling parah pada tahun 1997-1998.3 milyar. terutama bagi masyarakat yang tinggal di sekitar lokasi kebakaran hutan. Oleh karena itu. Kebakaran hutan dan lahan. 23 . Hutan alam juga dapat menghasilkan manfaat berupa nilai pilihan (option value).5% dari total biaya yang dikeluarkan oleh perusahaan untuk proyek perkebunan kelapa sawit. Negara tetangga Indonesia. yaitu Singapura dan Malaysia juga mengalami dampak negatifnya. Pembersihan lahan dengan cara membakar ternyata menjadi salah satu penyebab utama timbulnya bencana kebakaran hutan dan lahan di Indonesia. Low value dan reasonable minimum value-nya sengaja dibuat kecil (lihat Tabel 1). yaitu sebesar 2. Demikian pula. Misalnya adalah biaya yang (potensial) dikeluarkan akibat terjadinya konflik lahan antara perusahaan perkebunan dengan masyarakat lokal yang tinggal di lokasi sekitar perkebunan kelapa sawit. Biaya sosial adalah semua biaya yang timbul akibat terjadinya permasalahan dan/atau konflik sosial dalam pelaksanaan kegiatan proyek pembangunan perkebunan kelapa sawit. low value dan reasonable minimum value-nya sengaja dibuat kecil atau merupakan nilai yang konservatif (lihat Tabel 1). Kebakaran hutan dan lahan semakin sering terjadi beberapa tahun terakhir ini. kerugian yang timbul akibat hilangnya manfaat yang bersifat intangibles ini digolongkan kedalam intangible costs. Kegiatan pembukaan dan pembersihan lahan (land clearing) untuk lokasi perkebunan kelapa sawit dalam kenyataannya seringkali dilakukan dengan cara membakar agar biayanya murah dan cepat. nilai budaya (cultural value) dan nilai warisan (bequest value). Dalam studi ini nilai kerugian ekonomi akibat kebakaran hutan yang berasal dari kegiatan pembersihan lahan perkebunan dengan cara membakar tidak turut dihitung. Dalam studi ini. terutama akibat polusi asap kebakaran hutan dan lahan yang sampai ke wilayah negara tersebut. Berbagai manfaat ini tergolong ke dalam manfaat yang sulit diukur nilainya dengan uang (intangible benefits).Dalam studi ini besarnya biaya lingkungan (high value) akibat polusi dan serangan hama dan penyakit diasumsikan berdasarkan perkiraan. dan telah menyebabkan kerusakan lingkungan serta menimbulkan kerugian ekonomi yang besar. besarnya intangibles (high value) diasumsikan sebesar 1% dari total biaya yang dikeluarkan perusahaan untuk proyek perkebunan kelapa sawit. menurut Bappenas (1999) menimbulkan kerugian ekonomi sebesar US$ 9.

khususnya masyarakat adat. konflik lahan yang kemudian berubah menjadi konflik sosial. utamanya untuk menghindari agar tidak terjadi perusakan (bahkan pembakaran) aset-aset perusahaan. perusahaan terpaksa harus membayar biaya premi risiko yang tinggi (high risk premium). Akar masalah konflik lahan ini utamanya disebabkan karena pemerintah dalam menetapkan (membuat) tata guna lahan (misalnya Tata Guna Hutan Kesepakatan pada awal tahun 1980-an. menimbulkan risiko serta ketidakpastian usaha. untuk meminjam modal investasi perkebunan kelapa sawit. sebagai akibat risiko usaha yang tinggi. bahkan akhirnya menimbulkan konflik sosial yang merugikan kehidupan sosial-ekonomi masyarakat yang terlibat konflik. Hak-hak masyarakat adat atas suatu areal lahan tertentu yang sesungguhnya sejak lama (sebelum masa kemerdekaan RI) telah menjadi hak ulayat (hak komunal) masyarakat adat seringkali tidak diindahkan (diakui) oleh pemerintah. Biaya sosial yang harus dibayar oleh suatu perusahaan juga dapat disebabkan oleh semakin mahalnya biaya premi yang harus dibayar oleh perusahaan. Penyelesaian konflik lahan ini seringkali berlarut-larut. Konflik sosial yang terjadi dapat menyebabkan perusahaan harus mengeluarkan biaya tambahan untuk perlindungan (cost of protection) terhadap kegiatan operasi perusahaan. atau berada pada areal lahan hak ulayat (hak komunal) masyarakat adat. pemaduserasian antara TGHK dengan RTRWP (rencana tata ruang wilayah propinsi) pada tahun 1990-an pun dibuat dan disepakati tanpa melakukan mekanisme konsultasi publik (tanpa melibatkan masyarakat). ditutup oleh masyarakat yang terlibat konflik dengan perusahaan. yang di antaranya menetapkan wilayah kawasan hutan konversi) tidak pernah melibatkan masyarakat. Bagi pengusaha perkebunan kelapa sawit. antara pihak perusahaan dengan masyarakat. khususnya pada areal perkebunan kelapa sawit skala besar. Akibatnya klaim lahan perkebunan oleh masyarakat terjadi di berbagai lokasi pembangunan perkebunan kelapa sawit. termasuk karena masyarakat tidak dapat menggarap lahan mereka yang telah diambil oleh perusahaan. Misalnya.Konflik lahan sering terjadi karena areal HGU perkebunan kelapa sawit yang diberikan oleh pemerintah kepada para pengusaha perkebunan (berdasarkan surat ijin resmi pemerintah) ternyata berada di dalam areal yang diklaim oleh masyarakat sebagai areal tanah miliknya. Kemudian. besarnya biaya sosial (high value) diasumsikan sebesar 3% 24 . Bila hal ini terjadi perusahaan pasti akan menanggung kerugian yang besar. Dalam studi ini. Konflik sosial akibat konflik lahan ini dalam kenyataannya juga dapat menyebabkan akses jalan perusahaan ke lokasi perkebunan. atau untuk pengangkutan CPO dan KPO ke luar pabrik.

Dengan demikian. Pada bagian berikutnya juga dilakukan analisis pulang pokok untuk berbagai alternatif nilai penggunaan lahan. tergantung dari besarnya biaya lingkungan dan biaya sosial yang (sesungguhnya) terjadi. keuntungan perusahaan dari kayu IPK turut diperhitungkan). atau tidak memberikan keuntungan atau kerugian finansial bagi investor. bila besarnya biaya lingkungan dan biaya sosial yang diperhitungkan adalah reasonable minimun value (lihat Tabel 1) investasi proyek menjadi layak karena NPV berubah menjadi positif.4 Analisis Valuasi Ekonomi Investasi Perkebunan Kelapa Sawit Berbeda dengan analisis finansial. Dalam studi ini biaya lingkungan dan biaya sosial yang diperhitungkan pada awalnya adalah high value (lihat Tabel 1). dalam analisis valuasi ekonomi berbagai biaya lingkungan dan biaya sosial yang mungkin atau potensial terjadi turut diperhitungkan dalam menilai kelayakan investasi suatu kegiatan. Bila dibandingkan dengan besarnya NPV hasil perhitungan analisis finansial (yaitu US$ 93. Keuntungan perusahaan yang berasal dari kayu IPK telah turut diperhitungkan. NPV hasil perhitungan analisis valuasi ekonomi (pada tingkat suku bunga diskonto = 10%) sebesar minus US$ 55. yang berarti investasi tidak layak. yaitu berdasarkan NPV.dari total biaya yang dikeluarkan oleh perusahaan untuk perkebunan kelapa sawit. Bila NPV sama dengan nol berarti investasi proyek tersebut hanya menghasilkan pulang pokok saja. yaitu US$ 53. Kriteria kelayakan investasi tetap sama. atau menentukan layak tidaknya suatu investasi. karena besarnya biaya lingkungan dan biaya sosial yang sesungguhnya sulit diukur/diketahui dengan tepat dan pasti maka dalam studi ini dilakukan pendekatan analisis pulang pokok (break-even analysis) untuk mengetahui berapa nilai total biaya lingkungan dan biaya sosial yang menjadikan nilai NPV perkebunan kelapa sawit sama dengan nol.73 juta. Selanjutnya. berapa besarnya biaya lingkungan dan biaya sosial yang mungkin terjadi sangat mempengaruhi hasil perhitungan NPV.62 juta. maka NPV hasil perhitungan analisis valuasi ekonomi mengalami pengurangan sebesar US$ 40 juta sampai US$ 149 juta. Sedangkan low value dan reasonable minimum value-nya sengaja dibuat kecil atau merupakan nilai yang sangat konservatif (lihat Tabel 1). Selanjutnya. 6.54 juta. 25 .

000 $0 -$20.000 $20.000 ha) mencapai titik pulang pokok (break-even point). with Env/Social Costs Gambar 4. NPV mencapai nilai nol pada saat total biaya lingkungan dan biaya sosial sebesar $700/ha. Berdasarkan analisis finansial (total biaya lingkungan dan biaya sosial dianggap nol).000 -$40. Grafik Analisis Pulang Pokok pada Kisaran Biaya Lingkungan dan Biaya Sosial Besarnya NPV (dengan memperhitungkan penerimaan dari kayu IPK) mencapai nilai nol pada saat total biaya lingkungan dan biaya sosial sebesar $900/ha.62 juta. Besarnya NPV semakin berkurang dengan semakin meningkatnya total biaya lingkungan dan biaya sosial.62 juta. Kesimpulannya.000 Ha (@ 10%) $100. yaitu besarnya NPV setelah dikurangi dengan biaya lingkungan dan biaya sosial yang seharusnya dibayar oleh perusahaan. sedangkan besarnya NPV dengan memperhitungkan penerimaan kayu IPK sebesar US$ 93.000 $80.6. Total biaya lingkungan dan biaya sosial diasumsikan semakin meningkat nilainya.000 $60. with Env/Social Costs NPV without IPK.000 0 150 300 450 600 750 900 Peningkatan Biaya Lingkungan & Sosial NPV with IPK. yaitu mulai dari nol dan selanjutnya meningkat dengan interval sebesar US$ 50/ha.5. jika total biaya lingkungan dan biaya sosial sebesar $900 investasi proyek perkebunan kelapa sawit skala besar (10.000 $40. 26 . sampai nilai NPV investasi perkebunan kelapa sawit hasil perhitungan analisis finansial sama dengan nol. Bila penerimaan dari kayu IPK tidak diperhitungkan. PEMBANDINGAN NILAI INVESTASI (NPV) MINYAK SAWIT Berdasarkan Biaya Lingkungan dan Sosial Net Present Value $000 Per 10. Analisis Pulang Pokok untuk suatu Kisaran Biaya-biaya Lingkungan dan Sosial Gambar 4 memperlihatkan grafik analisis pulang pokok perkebunan kelapa sawit skala besar. besarnya NPV tanpa penerimaan kayu IPK sebesar US$ 72.

opportunity cost dari kegiatan mixed agroforestry inilah yang seharusnya diperbandingkan dengan penerimaan perusahaan perkebunan kelapa sawit. bila reasonable minimum value (yaitu US $458.305. 6.000/ha (tingkat suku bunga 10%). atau untuk berbagai alternatif penggunaan lahan lainnya.Dengan demikian. Demikian pula. 2000). 1999). Lampung.510/ha (ICRAF. bila high value (yaitu US $ 2. pemanfaatan lahan untuk Damar agroforest di Krui. sedangkan pemanfaatan lahan untuk rubber agroforest dapat menghasilkan NPV sebesar $1.000/ha. Dengan demikian. maka investasi perkebunan kelapa sawit skala besar secara finansial layak (NPV positif). mixed agroforestry system yang dilakukan oleh suatu kelompok masyarakat di Kalimantan Timur dapat menghasilkan pendapatan bersih ratarata sekitar $400/ha/tahun (LaFranchi et. pertanian padi subsisten.al. lebih kecil dari $900) dipercaya sebaga total biaya lingkungan dan biaya sosial yang (sesungguhnya) terjadi dan harus dibayar oleh perusahaan.362/ha. Berdasarkan perhitungan analisis finansial proyek perkebunan kelapa sawit skala besar menghasilkan NPV berkisar antara $ 7. Alternative Slash and Burn research.262/ha sampai $ 9. kegiatan wanatani campuran (mixed agroforestry). Oleh karena itu. Tetapi. pemanfaatan lahan (per hektar) untuk perkebunan kelapa sawit dapat menghasilkan 27 . Bila lahan tersebut dipergunakan secara terus menerus untuk kegiatan mixed agroforestry system maka lahan tersebut dapat menghasilkan NPV sebesar $4. lebih besar dari $900) merupakan total biaya lingkungan dan biaya sosial yang (sesungguhnya) terjadi dan harus dibayar oleh perusahaan. Berdasarkan hasil penelitian.6. Analisis Pulang Pokok untuk Nilai-nilai Penggunaan Lahan Alternatif Suatu hamparan lahan dapat dipergunakan untuk berbagai keperluan penggunaan lahan guna menghasilkan manfaat ekonomi. penerimaan perusahaan yang menggunakan hamparan lahan untuk areal perkebunan kelapa sawit seharusnya diperbandingkan dengan pendapatan yang bisa dihasilkan bila lahan tersebut dipergunakan untuk alternatif penggunaan lahan lainnya. dapat menghasilkan NPV lebih dari $4. Setiap bentuk penggunaan lahan akan menghasilkan pendapatan ekonomi bagi orang/pihak yang menggunakan areal lahan tersebut. Jadi. maka investasi menjadi tidak layak (NPV negatif). Bila suatu hamparan lahan tidak dipergunakan untuk areal perkebunan kelapa sawit maka lahan tersebut sesungguhnya dapat dimanfaatkan untuk kegiatan lain misalnya.

Di samping itu. Besarnya NPV dari kegiatan mixed agroforestry system sebesar $ 4. analisis pulang pokok untuk nilai penggunaan lahan alternatif perlu dilakukan untuk mengetahui berapa besar total biaya lingkungan dan biaya sosial yang membuat NPV perkebunan kelapa sawit sama dengan NPV dari penggunaan lahan alternatif.000 ha) sama dengan NPV penggunaan lahan alternatif berupa mixed agroforestry system. jika total biaya lingkungan dan biaya sosial (yang sesungguhnya terjadi) mencapai $550 maka besarnya NPV proyek kelapa sawit skala besar (10. harus diingat bahwa perkebunan kelapa sawit adalah tanaman monokultur.000 ha. digambarkan sebagai garis horizontal. Selanjutnya perbandingan NPV berdasarkan dua alternatif penggunaan lahan tersebut memperlihatkan bahwa besarnya total biaya lingkungan dan biaya sosial yang menyebabkan investasi perkebunan kelapa sawit menjadi tidak layak semakin mengecil. yaitu turun dari $ 900 menjadi $550. Oleh karena itu. perusahaan perkebunan kelapa sawit juga harus (tetap) menanggung biaya sosial yang mungkin terjadi.000/ha. Namun demikian. Kesimpulannya. misalnya mixed agroforestry system. atau $40 juta untuk areal lahan seluas 10. Garis NPV hasil perhitungan analisis finansial perkebunan kelapa sawit semakin menurun dengan meningkatnya total biaya lingkungan dan biaya sosial dan memotong garis horizontal NPV dari kegiatan mixed agroforestry system pada saat total biaya lingkungan dan biaya sosial mencapai nilai $350 dan $550. Gambar 5 memperlihatkan grafik analisis pulang pokok perkebunan kelapa sawit terhadap nilai penggunaan lahan alternatif berupa mixed agroforestry system. Bila 28 .pendapatan (NPV) yang lebih tinggi dibandingkan dengan pemanfaatan lahan untuk mixed agroforestry system. sedangkan mixed agroforestry system adalah tanaman heterokultur yang dapat memberikan jasa eco-function dan nilai keanekaragaman hayati yang lebih tinggi.

lahan yang tidak produktif tersebut dapat direhabilitasi dan dibuat menjadi produktif.000 Net Present Value $000 Per 10. Oleh karena itu.000 $20. Grafik Analisis Pulang Pokok terhadap Nilai Penggunaan Lahan Alternatif Berupa Mixed Agroforestry System reasonable minimum value (yaitu US $458. 29 . yaitu lebih dari 30 juta ha.4 juta ha pada tahun 1997 (Manurung dan Saragih.000 -$40. 1999). maka investasi perkebunan kelapa sawit skala besar layak untuk dilaksanakan (NPV positif). transmigrasi. Sosial & Nilai Alternatif Pemanfaatan Lahan $100. Oleh karena itu. Hutan konversi yang digunakan untuk berbagai kepentingan pembangunan non-kehutanan seperti perkebunan. pertanian. di Indonesia pada saat ini sudah tersedia areal lahan yang tidak produktif dalam skala sangat luas.000 $40.000 0 150 300 450 600 750 Peningkatan Biaya Lingkungan & Sosial NPV with IPK. Areal lahan yang tidak produktif berupa semak belukar.000 Ha (@ 10%) $80.000 $60. lebih kecil dari $550) dipercaya sebagai total biaya lingkungan dan biaya sosial yang (sesungguhnya) terjadi dan harus dibayar oleh perusahaan. Dengan demikian. alang-alang.000 $0 -$20. Perkebunan kelapa sawit sesungguhnya tidak perlu dibangun pada areal hutan produksi konversi (hutan alam) yang masih produktif. lahan terlantar dan/atau lahan kritis. hutan tanaman industri dan lainnya terus mengalami penurunan dari seluas 30 juta ha pada tahun 1984 menjadi 8.PEMBANDINGAN NILAI INVESTASI KELAPA SAWIT (NPV) Berdasarkan Biaya Lingkungan. sehingga dapat menghasilkan manfaat ekonomi yang tinggi. with Env/Social Costs NPV Agroforestry @ $400/Ha 900 Gambar 5. Sementara itu. with Env/Social Costs NPV without IPK. konversi hutan alam untuk pembangunan perkebunan kelapa sawit harus dihentikan. seharusnyalah lahan-lahan yang tidak produktif ini yang “dikonversi” menjadi areal perkebunan kelapa sawit.

nilai guna langsungnya rendah karena potensi kayu dan non-kayunya rendah akibat terjadinya degradasi dan/atau deforestasi. Besarnya NPV (tanpa penerimaan kayu IPK) masih lebih besar dibandingkan besarnya NPV yang berasal dari penggunaan lahan alternatif berupa mixed agroforestry system. Pada Gambar 5 garis panah besar memperlihatkan total biaya lingkungan dan biaya sosial yang harus dibayar diasumsikan sebesar $150. Namun demikian. para pengusaha perkebunan sengaja meminta lahan HGU di bekas areal konsesi HPH atau di atas areal hutan produksi konversi yang masih produktif utamanya untuk mendapatkan keuntungan besar dari kayu IPK. Kesimpulannya. karena di samping menghasilkan NPV yang lebih besar dibandingkan dengan nilai penggunaan lahan alternatif. perkebunan kelapa sawit perlu diprioritaskan untuk dibangun pada areal lahan yang tidak produktif. Biaya sosial diasumsikan tetap terjadi. pembangunan perkebunan kelapa sawit pada areal lahan yang tidak produktif juga bermanfaat untuk merehabilitasi lahan. seperti yang telah dikemukakan pada bagian awal tulisan ini. Dengan demikian akan menghasilkan manfaat ekonomi yang tinggi dan dapat memperbaiki kualitas lingkungan. Demikian pula.Pada areal lahan yang tidak produktif. Perusahaan diasumsikan tidak mendapatkan kayu IPK dari areal lahan tidak produktif. Oleh karena itu. bila perkebunan kelapa sawit dibangun pada areal lahan (hutan) yang tidak produktif maka biaya lingkungan yang harus dibayar menjadi (jauh) lebih rendah. tingkat keanekaragaman hayati pada areal lahan yang tidak produktif juga rendah. 30 .

Selanjutnya. besarnya nilai total biaya lingkungan dan biaya sosial yang sebenarnya terjadi menentukan layak tidaknya investasi perkebunan kelapa sawit.62 juta. Keuntungan perusahaan yang berasal dari kayu IPK sangat besar dan diperoleh sebelum perusahaan melakukan investasi tanaman kelapa sawit. 2) Dalam studi ini diasumsikan areal Hak Guna Usaha perkebunan kelapa sawit berasal dari hutan konversi.100/ha). keuntungan yang diperoleh dari kayu IPK biasanya tidak pernah diperhitungkan sebagai penerimaan perusahaan perkebunan kelapa sawit. investasi perkebunan kelapa sawit skala besar (10. dalam analisis finansial perkebunan kelapa sawit.1 Kesimpulan 1) Berdasarkan analisis finansial. Dengan demikian. dalam analisis finansial berbagai biaya lingkungan dan biaya sosial yang timbul akibat pelaksanaan kegiatan proyek tidak turut diperhitungkan walaupun biaya ini sesungguhnya adalah biaya riil yang harus dibayar oleh seseorang/masyarakat pada masa sekarang atau di kemudian hari.000 ha) layak untuk dilaksanakan karena manfaat yang diterima oleh investor lebih besar dibandingkan dengan total biaya yang dikeluarkan. Oleh karena itu perusahaan mendapatkan manfaat (keuntungan) dari hasil penjualan kayu IPK. Kesimpulan dan Rekomendasi 7. NPV perkebunan kelapa sawit sebesar US$ 72. berdasarkan perhitungan analisis pulang pokok.35%) Penerimaan perusahaan berasal dari hasil penjualan CPO dan KPO.5% dari total NPV. Bila penerimaan (keuntungan) perusahaan yang berasal dari kayu IPK turut diperhitungkan dalam analisis finansial. 3) Berdasarkan analisis valuasi ekonomi. yaitu sebesar $21 juta (atau $2.73 juta. Di samping itu. Bila diasumsikan nilai minimum (yang dapat diterima) untuk total biaya lingkungan dan biaya sosial sebesar US$ 458/ha maka besarnya NPV (dengan turut memperhitungkan keuntungan dari kayu IPK) adalah US$ 53. besarnya NPV tergantung dari berapa besarnya biaya lingkungan dan biaya sosial yang mungkin terjadi. perkebunan kelapa sawit menjadi tidak layak (NPV negatif) bila total biaya lingkungan dan biaya sosial mencapai lebih dari $ 900/ha. atau merupakan 22.62 juta (internal rate of return sebesar 26.7. Namun demikian. yaitu dengan turut memperhitungkan total biaya lingkungan dan biaya sosial yang terjadi. NPV perkebunan kelapa sawit menjadi US$ 93. 31 .

investasi perkebunan kelapa sawit skala besar lebih menguntungkan karena menghasilkan NPV yang lebih besar. bila total biaya lingkungan dan biaya sosial mencapai lebih dari US$ 550/ha perkebunan kelapa sawit menghasilkan NPV yang lebih kecil. Disamping itu. perkebunan kelapa sawit sebaiknya dibangun pada areal lahan yang tidak produktif dan bukan pada areal hutan produksi konversi. Total biaya lingkungan yang harus dibayar sangat rendah bila areal perkebunan kelapa sawit dibangun pada areal lahan yang tidak produktif. perkebunan kelapa sawit yang dibangun pada areal lahan kritis menghasilkan NPV yang lebih tinggi dibandingkan nilai penggunaan lahan alternatif berupa kegiatan mixed agroforestry system. Namun demikian. investasi perkebunan kelapa sawit tetap layak secara finansial (walaupun tidak memberikan keuntungan yang sangat tinggi seperti bila areal HGU perkebunan kelapa sawit berasal dari hutan konversi). konversi hutan alam untuk pembangunan perkebunan kelapa sawit harus dihentikan. Oleh karena itu.4) Bila dibandingkan dengan alternatif penggunaan lahan lainnya. 32 . Namun demikian. misalnya mixed agroforestry system.2 Rekomendasi Berdasarkan analisis valuasi ekonomi. 7.

1997. Jakarta. Casson. Jakarta. Direktorat Jenderal Pengusahaan Hutan. Bogor. 1999. Komitmen Indonesia dan isu-isu internasional tentang kehutanan dan perkebunan. E. Pontianak. Indonesia. Jakarta. Constanza. Anex I: Causes. Bahan ceramah dan diskusi.. Indonesia. 33 . Bappenas (National Development Planning Agency). Jakarta. Final Report. Panen Bencana Kelapa Sawit. Study on Palm Oil.Daftar Pustaka Badan Planologi Kehutanan dan Perkebunan. Planning for Fire Prevention and Drought Management Project. Topik 1: “Moratorium Konversi Hutan Alam dan Penutupan Industri Pengolahan Kayu Sarat Hutang. 35.T. CIFOR Occasional Paper No. Nature 387 (1997): 253. Manurung. E. Produksi kayu bulat areal konversi. A. Direktorat Bina Pengusahaan Hutan. CIC. et al. 1999. Down to Earth. D-5. November. R. Departemen Kehutanan. Statistik tidak diterbitkan. dan Petebang.” Diselenggarakan oleh Departemen Kehutanan dan Perkebunan bekerja sama dengan Natural Resources Management Program. London.G. CIFOR. 2000. Institut Dayakologi. Impact and Costs of 1997/98 Fires and Drought. Capricorn Indo Consult. 26-29 Juni 2000. Asian Development Bank Technical Assistance Grant TA 2999-INO. Extent. 1997. Departemen Kehutanan dan Perkebunan. 29. 2000. Down to Earth No. The Value of the World’s Ecosystem Services and Natural Capital. Rakernas 2000. Florus. 1997. The Hesistant Boom: Indonesia’s Oil Palm Sub-Sector in an Era of Economic Crisis and Political change. 1999. Mengapa Konversi Hutan Alam Harus Dihentikan? Makalah disampaikan pada acara Seri Lokakarya Kebijakan Kehutanan. 8-9 Agustus 2000. The 1997 Fires: Responsibility rests with Suharto. P.

Potret Pembangunan Industri Perkebunan Kelapa Sawit di Indonesia.G. Nopember 1999. Jakarta. 1998a. Wirasapoetra. J. 2000. Manurung. Edited by Glover.Manurung. J. dan Saragih. CIFOR Occasional Paper No. Tree Planting in Indonesia: trends. 18. Potter. T. 8-9 Agustus 2000. Oil Palm in Indonesia: its role in forest conversion and the fires of 1997/98. Paparan lisan pada acara Diskusi Nasional Kehutanan. Topik 1: “Moratorium Konversi Hutan Alam dan Penutupan Industri Pengolahan Kayu Sarat Hutang. Ruitenbeek. Yayasan Padi Indonesia dan Wahana Lingkungan Hidup Indonesia. World Market Prices of Palm Oil. Makalah disampaikan pada acara diskusi panel tentang Praktek Konversi Hutan Alam: “Hutan Alam Indonesia Terancam Punah”.T. Jakarta. 2000. E. 1999. 1998. Potret Konversi Hutan Alam Indonesia. Yayasan WWF Indonesia.G. Jakarta. dan Mirwan. D. Pusat Data Bisnis Indonesia. 34 . Moratorium Konversi Hutan Alam. CIFOR. Departemen Kehutanan. Jakarta. L and Lee. 1-2 Agustus 2000. J. Indonesia. K. 1998. Nasution. impacts and directions. Makalah disampaikan pada acara Seri Lokakarya Kebijakan Kehutanan. Dampak Perkebunan Kelapa Sawit Terhadap Sumberdaya Alam dan Perekonomian Rakyat di Kabupaten Pasir. 1999. Badan Planologi Kehutanan dan Perkebunan. E. and Jessup. 1998b. Potter. J. 1979-1997 (CIF Rotterdam/US$/ton). Singapore. H. dan Sarmiah. Institute of Southeast Asian Studies. A report for WWF Indonesia Programme. Indonesia. Diselenggarakan oleh Yayasan WWF Indonesia. In “Indonesia’s Fires and Haze. Perspektif Pemerintah. D. Santoso. L and Lee. Jakarta. Jakarta. 1999. Propinsi Kalimantan Timur (Kasus Desa-desa di Kecamatan Long Ikis). M. 7 September 1999.” Diselenggarakan oleh Departemen Kehutanan dan Perkebunan bekerja sama dengan Natural Resources Management Program. “Menjawab Quo Vadis Masa Depan Kehutanan Indonesia”. Bogor.T. the cost of catastrophe”. Indonesia.

621 65.454.909.89 189.104.265.28 196.862.69 101.593.989.502 0 24. Statistik Badan Planologi Kehutanan dan Perkebunan Tahun 1998/99 35 .00 0 23870 455.025.938 74.000.50 165.35 162.247 131.095.733.843.25 256.00 0.533.54 26.769 7.45 0 27.021.530 2.795.37 428.862.400.096 278. 0 0 0 0 0 8.991 21.00 0.159.06 434.870.00 0.936.616.729.312.063.00 0 0 14.484.00 89.80 550.00 94.62 0 0 0 0 23.887.538 492.756.030.036 0 77.00 64.297 232.035 68.882 410.17 0.88 57.00 332.003.54 1.00 7.560.00 9.40 92.00 802 0 0 0 0 0 0 0 0 3.00 71.25 0 0 0 0 0 0 0 0 0 802.145.701.566 164.056.96 297.634 4.34 0 182.532.320.738.678.502 0 0 0 0 21.33 89.306.502 2.989 6.04 92.46 985. Hutan Produksi Terbatas yang telah dikonversi menjadi areal perkebunan sampai Maret 1999 17.840 0 0 3.954 122.83 7.00 0.37 0 0 0 0.870.049.644.40 1.558.50 65.862.332.36 0 17.00 84.000 95.36 Hutan Konversi yang telah dikonversi menjadi areal perkebunan sampai Maret 1999 213.140 83.81 254.48 134.25 Propinsi Hutan Produksi yang telah dikonversi menjadi areal perkebunan sampai Maret 1999 10.117.83 0 2.118.00 45.473.645.87 0 753.37 5.640 494.74 56.00 161.761 68.90 75.114.912 603.86 0 753.139.244 406.779.202 478.19 30.34 57.946 Aceh Sumatra Utara Sumatra Barat Riau Bengkulu Jambi Sumatra Selatan Lampung Total Jawa Barat Jawa Tengah Jawa Timur DI Yogyakarta DKI Jakarta Total Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Tenggara Sulawesi Selatan Total Kalimantan Barat Kalimantan Timur Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Total Bali NTB NTT Maluku Irian Jaya Timor Timur Total Grand total Sumber: Badan Planologi Kehutanan dan Perkebunan.928.675.863.862 161.00 0.635.00 23.651 0 0 0 0 24.053.80 3.515 0 753 0 13.00 84.950 331.502 0 0 0 0 21.08 118950.00 16.006.184 101.92 4.372 1.359 222.253.00 0 10.677 0 24677 2.00 37.220 266.44 0 0 0 0 0 0 0.92 3.566.60 111.87 1.83 79.25 0.00 0 0 129.258 246.992.475.495.26 140. Maret 1999.388 678.63 48.740.885.510.406.903.06 425.Lampiran 1: Areal Hutan yang Dikonversi untuk Perkebunan dan Defisit Hutan Konversi Areal hutan yang dikonversi untuk perkebunan.65 800.306 573.091.605.00 6.141.690 327.421 1.063.925.319 266.826.946.478.449.840 166.00 7.834.643.405 69.055.960.00 23.50 0 19.50 181. 1982-1999.22 163.35 2.393.22 139.34 0 154311.00 10.00 11.35 2.873.91 0 0 0 0 0 0 6.00 390.638.627.104.009.832 21.86 Penyediaan Total areal Total areal Total areal Areal hutan yang telah perkebunan perkebunan Penggunaan dikonversi kelapa kareat Lain untuk sawit sampai perkebunan sampai 1998 sampai Maret 1998 1999 menurut Dephutbun 13.134.669 0 178.70 1.61 1.36 0 13.887.221.507.158.890.055.57 0 0 0 0 0 0 2.25 315.

460.134. Statistik Badan Planologi Kehutanan dan Perkebunan Tahun 1998/99 36 .35 2.453 16.415.36 282.23 1.37 428.88 57.34 0 182.694.936.339.653 396.634.Defisit Hutan Konversi berdasarkan Tataguna Hutan Kesepakatan tahun 1982.050.312.171 7.35 162.11 92.010.733.03 477.473.00 122.485.729.12 0 121.62 227.36 0 13.86 0 753.346 633.36 0 17.690 8.25 39.lperkebuna perkebunan perkebunan dan TGHK 1982 prinsip telah dikonversi n sampai Maret sampai Maret transmigrasi disetujui menjadi areal 1999 1999 sampai Maret sampai Maret perkebunan 1999 1999 sampai Maret 1999 324.42 271.036.18 4.09 Propinsi Aceh Sumatra Utara Sumatra Barat Riau Bengkulu Jambi Sumatra Selatan Lampung Total Jawa Barat Jawa Tengah Jawa Timur DI Yogyakarta DKI Jakarta Total Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Tenggara Sulawesi Selatan Total Kalimantan Barat Kalimantan Timur Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Total Bali NTB NTT Maluku Irian Jaya Timor Timur Total Grand total 188.97 0 0 0 0 0 0 8.00 412.336.000.490 2.701.00 427. Hutan Konversi yang tersedia berdasarkan TGHK 1982 (Paduserasi) Areal hutan Total areal Hutan konversi Total Hutan Hutan Permohonan yang secara hutan yang telah yang telah Konversi yang konversi yang pelepasan prinsip telah dikonversi dikonversi telah dikonversi masih tersisa areal hutan disetujui menjadi menjadi areal menjadi areal berdasarkan yang secara untuk area.296.95 261.134.548 407.294.66 206.87 0 753.00 891.857 168.031.822.00 25.638.332.36 -189.978.958.801.34 -30.962.491.145.00 0 1.61 1.863.000.00 803.35 150.114.215.00 0 1.112.000 1.35 502.550.50 181.34 5.854.053.887.88 6.657.480 121.610.118.00 0 16.278 428.360 1.098.311.021.374.34 0 154.754.63 48.108 491.965 968.731.731.834.54 69.457.849 1.320.400.853.513.000 1.157.35 -171.885.960.741.053.12 10.624.752.00 426.09 13.54 1.060 6.350 351.505.533.306.44 116.188.815.17 43.14 57.00 3.593.563.037.00 294.960.98 1.71 1.00 3.099.40 1.35 2.50 113.25 315.213.75 97.866.862.955.416.66 -3.088.87 -2.244.938.15 311.00 32.57 0 0 0 0 0 0 2.925.36 0 23.33 89.141.00 9.17 254.811.08 213.00 86.50 165.841.10 -1.406.00 128.00 748.249.50 65.254.00 201.321.051.50 285.730.06 425.894.00 84.946 3. Maret 1999.967.140.283.182.70 534.566.641.46 2.259.25 0 0 0 0 0 0 10.253.236 338.104.000.062.973.56 387.325.90 75.00 43.663.91 8.29 101.49 0 -110.900.151.857.571.878.75 438.625.695.690.41 706.26 12.766.35 2.907 126.15 -656.862.06 434.323.90 2.027.159.645.67 337.643.431 164.622.113.86 844.653.866.563.099.69 101.92 4.557.883 1.024 14.344.870.084 1.512.66 0 525.46 985.349.147.000 192.771.89 189.395.258.751 811.60 111.25 256.482.348.320.76 144.59 966.792.88 0 1.24 286.22 163.00 332.909.35 1.30 299.94 457.151.914.978.863.123.902 6.006.77 3.04 98.773.243.82 1.46 -134.00 84.57 665.338.00 709.453.32 18.65 4.452.696.158.322.605.00 282.68 Sumber: Badan Planologi Kehutanan dan Perkebunan.28 0 0 0 0 0 0 1.726.570.858.35 1.661.693.83 79.00 7.497.57 8.95 8.96 204.52 66.35 0 643 0 40.006.74 56.276.000 1.00 0 811.721.907.58 1.61 653.998 1.00 71.738.243.50 90.051.87 1.221.132 34.000.589.097.000 5.644.104.48 134.812.751.000.05 91.843.00 0 396.306.39 671.40 92.992.862.394.063.00 0 707.616.678.92 3.124.056.00 23.886 32.752.553.87 0 338.40 70.049.22 139.065.614.073.188.00 7.977.475.

52 122.118.929.26 12.634.67 337.34 6.593.037.322.33 245.100 7.Defisit Hutan Konversi berdasarkan Rencana Tata Ruang Propinsi Tahun 1999.058.877 0 101.638 Kalimantan Selatan 847.061.099.521 417.541.00 2.010 Total 0 0 0 Bali 244.601.924 10.60018 Sulawesi Tengah 212.771.459.654 175.062.237.5 Grand total Sumber: Badan Planologi Kehutanan dan Perkebunan.83 225.346 13.982 Riau 70.559.411 9.570.360 Bengkulu 0 6.981.75 97.048.812 0 3.54 -1.665.62 546.676.866.395.025.792.94 457.114 5.97 -142.778 0 6.00 25.98 -1.932 4.188.062 0 244.50 766.06 -457.050.35 502. -69.904.459 74.630.264.848 Kalimantan Timur 0 100.5 Sumatra Selatan 153.752.62 227.073 19.778 Timor Timur 5.681 589.320 0 582.062 NTB 101.034.131.024.583 535.958 268.50 113.123 0 212.52 66. Maret 1999.28 0 0 0 0 0 0 1.536.900 -6.100 Kalimantan Tengah 265.46 2.35 -112.699.360 70.5 7.098.00 459. Maret 1999 Permohonan areal yang akan diproses berasal dari Hutan Konversi Hutan konversi yang masih tersisa berdasarkan RTRWP 99 setelah permohonan bulan Agustus diproses Permohonan pelepasan areal hutan yang secara prinsip telah disetujui berdasarkan data Maret 1999 69.662 23.878.338.50 504.877.4812 Sulawesi Utara 269.073.17 43.084.98 1. Hutan Konversi yang masih tersisa berdasarkan RTRWP.692 Sumatra Barat 334.073.866.848.533.91 Planologi Kehutanan dan Perkebunan 37 .011.112.03 477.00 43.064 2.5 Total 0 0 0 Jawa Barat 0 0 0 Jawa Tengah 0 0 0 Jawa Timur 0 0 0 DI Yogyakarta 0 0 0 DKI Jakarta 0 0 0 Total 34.65 4.810 Total 8.318.872.482.884 843.26 57.241.738 Total 582.320.785 Sulawesi Selatan 618.316.790.11 92. Statistik Badan Tahun 1998/99.169.960.868 Maluku 2.009.848 -168.225 Irian Jaya 6.5 1.779 78.10 0 1.321.588.367.491.797 14.320 Kalimantan Barat 0 168.503 -82.35 150.65 2.49 0 0 0 23.419 28.00 58.90 153.050.680 Lampung 1.100 -100.135 Sumatra Utara 189.00 187.66 0 525.009.877 NTT 2.900 Jambi 774.151.00 101.778.194.978.050 2.123 Sulawesi Tenggara 102.030.49 0 244.09 Propinsi Hutan Konversi yang masih tersisa jika semua permohonan yang ada berasal dari Hutan Konversi 0 593 -593 Aceh 37.563.948 579.72 0 0 0 0 0 0 33.11 173.227.25 -97.393 2.288 82.822.275 6.638 0 265.671.960.00 4.35 3.

38 .

000.000.000.000.000. 20.000 4. 1999 IPK 39 .000 14.Lampiran 2: Produksi Kayu Bulat dari Rencana Karya Tahunan (RKT) dan Ijin Pemanfaatan Kayu (IPK).000 8.000.000.000.000 16.000.000 2.000 6.000 12.000 10.000 0 1994/95 1995/96 1996/97 Tahun Volume (M3) 1997/98 1998/99 RKT Sumber: Direktorat Bina Pengusahaan Hutan.000 18.000. 1994/951997/98.

40 .

3 1.0% 4.0% 5.8 1.0% 5.9 1.Rate 1 US$ = Rp 2.0% 5.0% 5.0 1.0% 6.000 ha BIG SCALE OIL PALM ESTATE (10.1 1.0% 6.6 24.0% 5.87$/ton 569$/ha 262$/ha 245$/ha 241$/ha 1.4 28.0 0.0% 4.0% 5.0% 5.0% 0.0% 5.0 5.2 531.3 26.3 25.0% 0.0% 5.Lampiran 3: Data Dasar Proyek Perkebunan Kelapa Sawit Untuk Analisis Finansial FINANCIAL ANALYSIS OIL PALM ESTATE 10.4 28.8 1.0% 6.2 1.3 1.1 21.4 24.9% 4.5 23.4 26.0% 6.0% 0.0% 0.0% 5.6$/ton 122% 533.9 1.1 25.3 14.0% 6.2 24.000 Ha) Currency: Thousand US$ Ech.0% 6.0 0.0% 6.0% 6.5 1.9 1.0% 5.0% 6.6 24.2 24.0% 5.share Avg CPO price KPO/CPO price KPO price Planting investment: Year 0 Year 1 Year 2 Year 3 Total Yield 10.0% 6.3 27.0% 5.0 0.4 28.000ha 25t/ha 50t/hr 23% 5% Age 0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 Average FFB OER KER CPO KPO t/ha % % t/ha t/ha 0.0% 6.81$/ton 49.6 24.317$/ha 41 .2 21.4 28.port Export tax: 10% Transport CPO from mill to port CPO price at mill gate CPO domestic price Domestic vol.0 0.0% 5.0 0.0% 5.7 21.0% 5.4 28.0 24.0 0.500 OIL PALM ESTATE Basic data: Area FFB yield average CPO Factory CPO extraction rate Kernel extraction rate Price derivation CPO CIF Rotterdam -/.9 24.6 24.6 24.9 1.4 17.3 26.3 26.0% 0.0% 6.0% 5.9 1.0% 5.6 24.0 24.7 24.9 1.Int.4 0.3 1.5 24.0% 5.6 19.0% 0.6 24.18$/ton 5.3 25.0% 5.0% 5.8 1.5% 0.ship transport CPO FOB Ind.0 1.0% 5.0% 5.9 15.3 26.4 28.0% 6.6 1.3 24.share Export vol.03$/ton 437.0% 5.9 0.1 1.0 22.0 0.0 0.4 28.4 28.2 24.6% 2.0% 6.9 1.6 24.1 25.81$/ton 40$/ton 491.0% 4.9 1.0% 5.0% 6.4 24.4 24.0% 6.9% 5.6$/ton 100% of export price 50% 50% 437.3 1.

42 .

Lampiran 4: Oil Palm Estate Financial Analysis 43 .

245 13 38 708 110 2.010 4.000 4.175 0 1.15 1.4 1.309 0 0 1.338 885 6.721 12 2.296 -59.010 4.729 13.466 1.3 0. 10 t.6 $/ton 100% of export price 50 % 50 % 437. Price of land The price of land is considered as the cost to the society.670 13.6 28.366 37.800 0 1.875 0 0 1.20 2.245 13 38 708 110 2.480 994 0 1.370 1.735 7.668 1.202 2.000 4.B) 200 0 0 0 0 0 0 0 0 200 20.535 9.788 13.176 36.710 700 4.000 4.062 124 30 243 2. fertilizers.245 13 38 708 110 2.520 24.000 3 2.936 -88.0 24.10 823 -56.734 21. soil formation and waste treatment.428 1.668 1.506 2.535 9.338 2.469 34.2 24.29 $/ton palm products Upkeep 120.202 2.559 1.245 13 38 708 110 2.600 68.9 6.port Export tax: 10% Transport CPO from mill to port CPO price at mill gate CPO domestic price Domestic vol.960 254.6 25.054 3.875 12.470 186.504 9. it is assumed that some ecosystem function recover after 2nd year.527 24.096 0 0 1.432 22.852 12.074 129 30 266 2.000 m3/ha m3/ha.537 20..480 240.335 1.010 4.010 4. 3) erosion control.338 0 10. per ha dbh 10-30 cm dbh > 30 cm Land clearing Total Inflow (A) 21.920 0.245 -82.0% 24.602 14.875 12.974 18.435 0 0 1.000 5 2.960 12.814 12.0% 5.0% 5.2 5.790 6.668 1.7 1.0% 24.874 1.089 135 30 270 2. Net Benefit (cash flow).000 4.843 12.592 1.535 9. Net Benefit (cash flow).500 Rp = 1 US$ PREPARATION 1996 PROJECTION PERIOD: 28 Year OIL PALM ESTATE Basic data: Area FFB yield average CPO Factory CPO extraction rate Kernel extraction rate Price derivation CPO CIF Rotterdam -/.0% 24.535 9.338 3.406 19.870 21.721 66 3.204 0.338 3.760 1.627 13.000 4.467 12.303 28.354 -2.668 1.010 4.0% 24.710 C2.018 107 30 84 2.810 19.08 559 -55.0% 15.280 285. Outflow Cost of getting HGU for oil palm plantation 10.2 531.721 68 3.600 65.206 6.623 0.0% 5.1 1.617 12.311 0 0 981 961 1.535 9.907 0. and 4) nutrient cycling will be recovered in year 3 to year 4.443 -68.878 27.535 9.422 11.338 3.710 4.0% 5.87 $/ton 0 0 0 0 0 0 772 283 2.224 0.FINANCIAL ANALYSIS OIL PALM ESTATE 10.710 700 4.624 29.338 3.962 133.383 0 972 774 721 1.335 1.083 133 30 269 2.480 902 0 1.3 1.3 1.26 2.271 12.840 68.897 -22.086 134 30 266 2.580 11.000 25 50 23 5 ha t/ha t/hr % % Age 0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 Average FFB t/ha 0.663 25.202 2.951 -13.0 0.061 14.000 4.668 1.248 0.010 4.660 0.0% 5.338 1.62 -10.0% 5.402 12.010 4.560 11.207 -3.338 1.0% 5.6% 4.245 0 0 0 0 0 0 30 50 2.957 1.14 1.246 223 1.786 13.B) -(C+D+E+F)} Discounting factor ( i = 10%) Discounted net benefit ( i = 10%) Accumulated discounted net benefit ( i = 10%) NPV (i = 10%) -55.010 recreation --.6 28.888 0.095 25 75 1.589 -85.710 700 4.0% 5.099 0 0 2.480 995 0 1.361 -29.123 110 8.03 $/ton 437.0 21.076 130 30 282 2.000 11.9 6.476 -2.245 13 38 708 110 2.327 14.000 ha Planting investment 1.535 9.668 1.984 561 0 904 1.721 28 2.338 3.280 64.741 7.535 9.603 1.612 24.338 3.196 9.824 12.0% 5.680 269.830 110 10.083 14.710 700 4.402 6.670 25 75 1.919 26.7 28.668 1.480 937 0 1.668 1.5% 4.000 4.0% 24.000 4.75 -22.317 $/ha $/ha $/ha $/ha $/ha Projection: Year Planting Production FFB CPO KPO ha/yr 0 0 1 2.010 4.4 1.750 0 0 1.338 400 5.480 869 0 1.055 122 30 213 2.847 13.721 31 2.721 53 3.0 0.584 0.668 1.138 0 0 1.9 14.008 14.480 660 0 1.560 1.4 21.826 1.903 0 0 2.6 28.4 1.0% 5.0 0.868 3.488 382 0 617 1.221 -66.010 4.813 25 30 203 2.582 -1.665 -10.455 1.710 700 4.0% 24.958 1.317.3 1.893 13.480 849 1.498 7.278 29.710 4.990 96 30 260 2.668 1.624 29.668 1.893 13.600 68.202 2.9 6.584 10.202 2.909 10.0% 5.175 0 2.480 967 0 1.668 1.089 135 30 268 2.884 272. Inflow CPO KPO (With IPK and W/o Env/Social Costs) Year 0 1 Thousand US$ 0 0 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 437.701 13.107 0.758 1.600 66.710 4.665 0 2.842 -77.338 3.562 56 3.721 48 2.099 0 0 1.000 4.338 3.010 4.245 13 38 708 110 2.224 0.962 -73.710 700 4.480 914 0 1.719 1.010 4.038 35.927 1.473 1.875 12.170 5.010 4.946 78 30 191 2.280 282.6 25.202 2.721 68 3.51 -2.522 8.491 1.663 0.055 25.454 6.010 4.015 -86.013 1.539 19.535 1.575 7.480 724 1.000 14.088 135 30 271 2.202 2.11 $/ha Harvesting 24.162 19.600 45.843 -33.419 28.710 700 4.245 13 38 708 110 2.535 9.4 1.600 68.603 1.200 62.202 2.662 14.245 13 38 708 110 2.000 189.384 11.918 0 0 1.0% 5.202 2.369 335 0 22.584 34.338 3. C1.860 12.480 835 0 1.871 1.710 700 4.005 102 30 213 2.35 $/ton palm products Overhead 133.095 38 113 2.535 9.810 19.415 110 5.710 700 4.856 42 30 112 2. {(A .175 0 1.338 3.069 127 30 252 2.0% 5.721 51 3.760 14.4 25.3 1.003 1.29 3.000 4.464 262.907 62 30 156 2.163 22.420 23.0% 24.2 25.385 16.401 1.622 0.18 1.202 2.287 23.710 4.643 -1.012 1.00 $/ton palm products Factory investment 14.000 2 2.1 6.000 ha BIG SCALE OIL PALM ESTATE (10.Not valid for Indonesia --Total C1 0 4.716 Additional benefits IPK Wood Average vol.56 -7.0% 24.202 2.509 32.398 13.155 9. Social costs ( assumed: 3% of total investment) Land conflicts (land claimed by local people) legal fee to protect the right of land maintenance cost of land to prevent conflict Total (C+D+E + F) 0 74 305 320 126 167 187 234 287 390 422 388 399 404 406 406 406 406 403 399 395 391 385 382 378 373 365 320 253 9.668 1.535 9.08 124 -55.867 13.141 33.710 700 4.998 1.572 30.000 4.668 1.0% 24.721 68 3.16 1.535 9.000 4.793 7.793 1.738 14.4 1.293 11.718 6.9 2.47 -398 -88.072 128 30 255 2.692 -51.619 3. indirect use: (forest eco-function.988 1.670 1.123 110 8.338 2.520 24.338 3. (This is actually a real "hidden" benefit accrued to the oil palm investor who pay only HGU fee for (conversion) forestland area).0% 5.535 9.584 1.68 -15.3 1.e.535 9.010 4.710 700 4.245 13 38 708 110 2.245 13 38 708 110 2.11 959 -57.17 $/ha Fertilizer 247.756 0 0 1.000 7.39 2.780 0 482 1.184 285.544 14.0% 4.109 -17.622 14.721 61 3.426 9.619 37.9 26.35 3. Some other ecosystem function.8 5.787 12.32 3.842 12.0 5.07 -183 -55.202 2.891 56 30 125 2.677 0 1.5 28.630 29.91 -22.461 0.42 704 -88.95 $/ha Transportation 12.607 36.450 0 0 1.9% 5.415 110 5.400 61.535 9.721 65 3.592 0.668 1.601 9.0 0.535 9.202 2.000 4.860 12.116 3.535 9.619 37.535 9.336 1.511 1.980 283. raw materials 0 4.0% 23.202 2. i.800 -24.338 2.316 0 0 1.404 10.000 7.791 26.0 0.668 1.535 9.570 21.272 0.0% 0.668 1.010 4.475 -853 0.239 2.579 12.0% 24.0% 0.830 110 10.450 0.385 16.103 141 30 259 2.324 27.3 1.920 25.962 84 6.668 1. 2) water supply/regulation.710 4.000 4.135 961 1.670 1.3 1.520 38 113 2.535 9.0% 5.535 9.0% 17.010 4.000 6 0 7 0 8 0 9 0 10 0 11 0 12 0 13 0 14 0 15 0 16 0 17 0 18 0 19 0 20 0 21 0 22 0 23 0 24 0 25 0 26 0 27 0 28 0 ton ton ton 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 11.520 24.720 57.535 9.721 67 3.871 12.920 66.668 1.995 7. $35/m3) 0 700 700 700 700 700 700 700 700 700 700 700 non-timber forest products.carbon/ha) Dissem.072 10.618 8.056 12.010 4.152 0 0 0 0 7.0% 5.958 -64.021 36.650 37.338 3.574 13.245 13 38 708 110 2.00 20.202 2. of plant diseases & pests (assumed: 0.502 12.202 2.800 20.123 0 0 2.2 1.260 0.960 12.660 1.8 KPO t/ha 0.000 57.897 8.share Avg CPO price KPO/CPO price KPO price Planting investment: Year 0 Year 1 Year 2 Year 3 Total Yield 10.0 OER % 0.407 0 0 1.476 0 1.9 6.012 1.245 13 38 708 110 2.123 112 F.792 1. . liquid & solid waste) Carbon sequestration (loss:$10/tonne carbon.501 0 0 1.0 5.000 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1.012 1.22 2.020 7.196 -76.9 6.634 0.034 22.000 14.960 CASH FLOW A.721 62 3.509 32.619 37.115 11.292 285.119 15.480 994 0 1.4 1.689 12.2 1.490 -60.6 $/ton 533. food.188 7.444 0.914 9.830 12.010 4.0% 24.338 3.214 35.175 -10.893 13.836 12.896 273.721 66 3.089 135 30 270 2.596 37.000 4 2.721 53 3.ship transport CPO FOB Ind.000 4.335 B.1 1.721 70 3.984 484 0 781 1.534 29.077 18.018 107 30 169 2.560 6.827 12.0% 22.000 HA) Currency: Thousand US$ EXCH.670 13 38 708 110 2.138 0 0 0 0 0 0 1.428 0 0 1.096 -58.245 13 38 708 110 2.721 67 3.687 -70.010 4.877 31.160 49.634 56 0 0 28 0 44 1.800 1.245 13 38 708 110 2.480 967 0 1.1 5.350.496 457 481 992 226 0 364 1.000 4.897 1.0% 0.202 2.710 4.245 13 38 708 110 2.Int.9 6.721 21 2.624 29.066 126 30 249 2.3 6.0% 19.000 4.721 63 3.793 1.904 8.0% 24. and recover up to 50% in year 5 and 6.5 6.83 -27.080 132 30 261 2.995 7.480 994 0 1.010 4.544 14.18 $/ton $/ton $/ton $/ton 5.280 285.336 6.338 3.0% 24.642 7.027 11.245 13 38 708 110 2.520 50 150 2.9% KER % 0.4 26.995 7.099 0 0 2.347 1.721 68 3.560 63.805 12.0% 24.338 0 10.680 68.721 42 2.0% 24.4 1.664 13.662 0 0 0 0 7.00 $/ton palm products Total Outflow (B) I.338 0 2.480 885 0 1.9 6.003 1.564 8.032 0.0% 0.478 1. 10 $/m3 m3/ha. loss) disturbance regulation water supply/regulation erosion control soil formation nutrient cycling ($1067/ha/year) waste treatment Total C2 Total C D.014 13.735 11.083 133 30 263 2.454 4.338 3.480 987 0 1.722 0.089 135 30 270 2.341 258.868 12.603 1.168 1.898 12.245 13 38 708 110 2.245 13 38 708 110 2.037 6.710 0 0 0 0 0 0 0 0 50 150 2.0% 24.480 924 0 1.456 0.784 15.010 4.721 64 3.240 67.0% CPO t/ha 0.0 6.591 20.338 3.202 2. Specifically.133 7.634 207 240 496 102 0 165 1.480 952 0 1.208 12.281 7.720 249.4 4.4 1.710 4.000 4.010 4.212 -67.710 4.600 12.0 0.245 13 38 708 110 2.81 40 491.909 Other costs: C. are assumed to be unrecovered.849 1.0% 24. and then recover up to 75% until the end of project life.000 4. (A .9 6.710 700 4. Environmental costs Biodiversity Externality due to pollution (assumed: 2% of total cost) (of pesticides.152 0 2.5% TC) Total D E.00 thousand $. total Processing 19.904 12.245 13 38 708 110 2.010 4.960 37.464 29.202 2.604 1. direct use: timber (increment: 2 m3/ha/year.544 II.448 20.764 0 0 1.3 6.710 700 4.024 0.539 -5.6 28.200 33.6 28.721 65 3.000 11.010 4.RATE 2.0% 5.0% 21.764 529 40.911 12.854 83.214 6.330 -79.533 12.5 27. Other intangible costs (loss) Option value Bequest value ( assumed: 1% of total cost) 700 4.4 1.6 26.837 13.721 39 2.480 982 0 1.128 259.668 1.000 4.245 13 38 708 110 2.896 13.710 -62.537 Note: for indirect use (forest ecosystem function).112 277.544 14.668 1.09 704 -56.338 108 4.000 4.188 27.222 6.875 12.691 1. 35 $/m3 ha/year 21.408 6.000 120 84 36 10.000 4.3 6.620 12.12 1.3 6.24 2.291 23.224 0.103 0.0% 5.338 3.75 $/ha Depreciation 47.463 23.668 1.710 4.6 6.0% 5.454 16.710 700 4.010 4.834 21.81 49.710 700 4. 25% of ecosystem function for: 1) disturbance regulation.640 63.600 59.064 1.8 5.710 700 4.0 0.0% 24.077 130 30 257 2.6 28.1 26.6 $/ton 122 % 533.122 230.009 27.721 65 3.932 19.4 26.0 0.913 5.0% 5.632 279.721 66 3.share Export vol.710 4.743 7.721 64 3.114 10.204 -30.480 139.010 4.010 4.3 1.87 $/ton 569 262 245 241 1.925 22.914 990 6.227 0.

317 $/ha $/ha $/ha $/ha $/ha Projection: Year Planting Production FFB CPO KPO ha/yr 0 0 1 2.0% 5.338 3.995 7.5 6.0% 24.408 6.559 1.025 0.2 25.2 531.12 2.Int.350.498 7.3 1.760 1.6 28.00 $/ton palm products Factory investment 14.18 $/ton $/ton $/ton $/ton 5.3 1.0% 4.3 1.9 2.135 0.520 24.0% 24.064 1.0 0.663 32.454 4.032 60.958 1.202 2.012 1.480 952 0 1.509 26.0% CPO t/ha 0.9 6.000 25 50 23 5 ha t/ha t/hr % % Age 0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 Average FFB t/ha 0.383 0 972 774 721 1.0 6.920 25.780 0 482 1.8 5.338 3.544 14.738 14.604 1.0% 17.280 285.919 34.600 59.455 1.544 14.634 56 0 0 28 0 44 1.202 2.9% 5.909 Discounting factor ( i = 10%) Discounted net benefit ( i = 10%) Accumulated discounted net benefit ( i = 10%) NPV (i = 10%) 72.188 35.95 $/ha Transportation 12.931 0.788 13.839 0.8 KPO t/ha 0.000 ha BIG SCALE OIL PALM ESTATE (10.196 9.0% 24.603 1.083 14.544 14.338 2.0 0.624 37.980 283.509 25.338 400 5.share 50 % Avg CPO price 437.3 1.6 $/ton CPO domestic price 100% of export price Domestic vol.837 0.9 6.9 26.054 2.619 29.0% 5.202 2.160 49.600 45.336 6.793 1.03 $/ton 437.021 29.0% 19.897 1.409 -10.691 1.6 $/ton KPO/CPO price KPO price Planting investment: Year 0 Year 1 Year 2 Year 3 Total 122 % 533.39 6.561 0.202 2.893 13.0% 24.135 961 1.35 7.596 29.0% 0.share 50 % Export vol. total Processing 19.338 3.618 .83 -8.920 66.764 0 0 1.303 36.4 26.6 25.957 1.756 0 0 1.17 $/ha Fertilizer 247.15 3.854 83.560 63.0% 24.428 1.520 24.897 8.311 0 0 981 961 1.480 885 0 1.338 3.734 21.91 -2.29 $/ton palm products Upkeep 120.338 2.624 37.013 1.202 2.321 0.743 7.574 13.5 28.4 1.400 57.175 0 1.099 0 0 2.3 6.896 13.720 249.327 14.480 724 1.533 12.202 2.584 27.09 1.974 14.338 3.133 0.2 24.9 6.960 CASH FLOW A.6% 4.038 28.42 6.202 2.75 $/ha Depreciation 47.056 12.0% 5.81 40 491.10 2.793 7.000 3 2.618 1.592 1.603 1.175 0 2.FINANCIAL ANALYSIS OIL PALM ESTATE 10.630 37.00 $/ton palm products Total Outflow (B) I.0% 24.077 18.6 $/ton 533.520 24.012 1.602 14.116 3.324 21.607 28.884 272.0% 24.338 3.0% 24.012 1.24 5.584 1.0% 5.470 186.81 49.3 1.0% 0.352 29.624 37.995 7.335 B.162 19.572 37.4 1.480 994 0 1.338 0 2.4 1.8 5.480 994 0 1.480 660 0 1.0% 0.020 7.188 7.0% 5.891 0.3 1.570 16.5% 4.960 254.601 9.027 11.463 23.627 13.665 -10.812 53.454 14.0% 5.867 13.0 21.18 4.29 6.4 25.338 3.338 2.993 1.480 924 0 1.168 1.480 139.35 $/ton palm products Overhead 133.480 835 0 1.338 1. (A .632 279.347 1.208 12.850 0.480 914 0 1.16 3.338 3.754 0.480 869 0 1.68 -2.859 0.0% 5.150 -5.338 3.138 0 0 0 0 0 0 1.435 0 0 1.501 0 0 1.680 269.202 2.206 6.764 529 40.338 3.2 1.480 849 1.391 65.511 1.0% 24.4 1.632 70.51 3.837 13.618 0.600 68.750 0 0 1.309 0 0 1.893 13.701 13.3 1. Inflow CPO KPO Total Inflow (A) (W/o IPK and W/o Env/Social Costs) Year 0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 437.988 1.716 18.868 3.1 6.0% 5.721 0.240 67.807 0.336 1.00 thousand $.9 14.0% 24.898 12.480 982 0 1.480 937 0 1.744 9.6 28.398 13.292 285.6 28. Net Benefit (cash flow).924 23.56 1.527 24.0% 24.450 0 0 1.07 687 72.26 6.338 885 6.401 1.619 29.11 2.280 282.152 0 2.112 277.591 20.4 4.202 2.3 1.893 13.012 -18.128 259.338 0 10.000 57.338 0 10.75 -8.0% 5.9 6.0% 5.406 31.RATE 2.962 133.138 0 0 1.6 28.0% 22.600 68.984 561 0 904 1.198 0.662 0 0 0 0 7.619 29.0% 24.904 6.099 0 0 2.153 -21.3 0.640 63.871 1.214 6.0 24.840 68.480 967 0 1.055 27.7 28.11 $/ha Harvesting 24.620 12.672 62.420 23.0% 5.476 -2.998 1.419 36.791 33.473 1.000 HA) Currency: Thousand US$ EXCH.995 7.000 189.066 0.3 6.20 4.584 10.200 33.535 1.287 23.123 0 0 2.642 7.665 0 2.202 2.402 12.407 0 0 1.124 67.0% 24.9 6.338 108 4.6 28.0% 5.768 45.0% 5.664 13.338 1.4 1.0% 21.0 0.87 $/ton Thousand US$ 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 772 283 1.729 13.927 1.202 2.200 62.448 20.600 68.000 6 0 7 0 8 0 9 0 10 0 11 0 12 0 13 0 14 0 15 0 16 0 17 0 18 0 19 0 20 0 21 0 22 0 23 0 24 0 25 0 26 0 27 0 28 0 ton ton ton 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 11.2 1.B) 200 0 0 0 0 0 0 0 0 200 -200 0 1.092 71.603 1.612 19.903 0 0 2.560 1.316 0 0 1.877 25.464 262.560 6.488 -11.4 1.579 12.427 16.792 1.0 0.0 OER % 0.000 5 2.1 1.338 3.0% 24.718 6.202 2.466 1.622 11.08 1.896 273.141 26.6 25.0% 24.677 0 1.0% 15.62 -1.4 1.000 4 2.0% 5.560 11.389 0.849 1.650 29.480 995 0 1.703 0.163 22.606 0.506 2.122 230.345 -20.338 3.175 -10.175 0 1.467 12.488 382 0 617 1.22 5.273 49.008 14.207 0.480 967 0 1.464 36.4 1.925 22.769 35.6 26.575 7.096 0 0 1.662 14.0 0.0% 5.7 1.341 258.338 3.278 35.202 2.0% 0.0% 24.619 3.450 0.202 2.984 484 0 781 1.0 0.491 1.87 $/ton 569 262 245 241 1.202 2.582 -1.202 2.32 7.099 0 0 1.878 32.042 -22.480 902 0 1.600 65.735 7.758 1.250 -2.600 12.242 0.061 24.760 14.5 27.271 12.3 6.338 3.4 26.281 7.08 1.847 13.913 5.202 2.504 9.0% 24.291 23.4 1.0% 23.152 0 0 0 0 7.670 13.719 1.115 8.239 2.214 27.834 21.009 34.9 6.634 207 240 496 102 0 165 1.428 0 0 1.454 6.9 6.1 1.9 6.904 12.480 987 0 1.480 994 0 1.500 Rp = 1 US$ PREPARATION 1996 PROJECTION PERIOD: 28 Year OIL PALM ESTATE Basic data: Area FFB yield average CPO Factory CPO extraction rate Kernel extraction rate Price derivation CPO CIF Rotterdam -/.port Export tax: 10% Transport CPO from mill to port CPO price at mill gate Yield 10.469 27.338 3.1 26.885 69.000 2 2.0 5.4 21.202 2.875 0 0 1.1 5.0% 5.370 1.476 0 1.104 0.680 68.00 -200 -200 0.245 40.534 37.793 1. Outflow Cost of getting HGU for oil 10.0% 5.0% 5.47 5.338 3.6 6.872 0.366 30.2 5.720 57.0 5.133 7.317.14 3.914 990 3.870 21.660 1.3 6.ship transport CPO FOB Ind.918 0 0 1.034 22.014 13.176 29.480 240.000 ha palm plantation Planting investment 1.479 -17.338 3.6 28.0% 5.0 0.402 6.184 285.400 61.426 9.0% 24.484 0.826 1.280 285.280 64.207 -3.786 13.9% KER % 0.0% 5.790 6.600 66.222 6.960 37.0 0.496 457 481 992 226 0 364 1.604 0.202 2.

309 0.196 9.096 0.4 1.560 63.123 0.338 3.2 25.624 29.500 Rp = 1 US$ PREPARATION 1996 PROJECTION PERIOD: 28 Year OIL PALM ESTATE Basic data: Area FFB yield average CPO Factory CPO extraction rate Kernel extraction rate Price derivation CPO CIF Rotterdam -/.000 6 0 7 0 8 0 9 0 10 0 11 0 12 0 13 0 14 0 15 0 16 0 17 0 18 0 19 0 20 0 21 0 22 0 23 0 24 0 25 0 26 0 27 0 28 0 ton ton ton 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 11.878 27.3 6.207 0 0 1.619 37.650 37.338 3.162 19.834 21.7 28.491 1.903 0.630 29.202 2.871 1.484 0 0 2.135 0 0 1.184 285.68 -2.995 7.202 2.600 66.0% 24.400 61.960 37.000 ha BIG SCALE OIL PALM ESTATE (10.793 7.055 25.35 7.988 1.042 -1.812 74.800 1.9 6.56 1.8 5.341 258.338 400 5.128 0 2.29 $/ton palm products Upkeep 120.931 0 0 981 961 1.786 13.793 1.504 9.544 14.480 994 0 1.680 269.00 thousand $.877 31.202 2.9 26.0% 5.5 27.584 10.603 1.338 885 6.496 457 481 992 226 0 364 1.0% 5.198 0 0 1.720 57.665 0.9 6.407 0.124 88. Inflow CPO KPO (With IPK and W/o Env/Social Costs) Year 0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 437.250 18.1 5.428 1.618 .3 1.42 6.202 2.408 6.4 1.958 1.850 0 0 2.0% 24.222 6.870 21.6 28.9% KER % 0.0% 5.0% 15.Int.488 9.660 1.87 $/ton Thousand US$ 0 0 0 0 0 0 0 0 772 283 2.454 6.383 0.0 OER % 0.32 7.160 49.317 $/ha $/ha $/ha $/ha $/ha Projection: Year Planting Production FFB CPO KPO ha/yr 0 0 1 2.480 967 0 1.788 13.837 0 0 2.1 6.153 -25 0 2.188 27.338 3.303 28.012 1.0% 5.604 1.400 78.6% 4.14 3.897 1.914 990 6.624 29.29 6.338 3.338 3.03 $/ton 437.398 13.336 6.321 0 0 1.758 1.0% 24.338 3.116 3.009 27.918 0.338 3.51 3.4 1.168 1.273 70.0% 19.391 86.5 6.560 6.995 7.480 987 0 1.281 7.480 849 1.18 4.061 14.6 25.793 1.0 0.4 26.9 6.338 0 10.175 -10.0% 5.480 994 0 1.596 37.463 23.560 1.913 5.000 m3/ha m3/ha.735 7.115 11.2 1.919 26.324 27.6 28.000 4 2.0% 24.691 1.278 29.402 12.87 $/ton 569 262 245 241 1.506 2.083 14.550 0 1.0% 5.0% 5.849 1.246 0 0 1.20 4.640 63.612 24.464 29.6 25.0% 24.2 24.800 20.450 0.08 1.620 12.0% 4.6 6.800 0 1.634 56 0 0 28 0 44 1.672 83.0% 5.245 61.406 19.0% 0.0% 24.370 1.701 13.9 6. Outflow Cost of getting HGU for oil palm plantation 10.0 0.0% 5.962 133. per ha dbh 10-30 cm dbh > 30 cm Land clearing Total Inflow (A) 21.0% 5.0 0.480 902 0 1.202 2.6 $/ton 100% of export price 50 % 50 % 437.3 1.092 92.6 28.9 14.338 2.12 2.202 2.202 2.897 8.00 $/ton palm products Factory investment 14.960 254.488 382 0 617 1.91 -2.0% 24.980 283.7 1.0% 24.338 1.122 230.893 13.893 13.9 6.662 14.16 3.291 23.3 6.476 -2.347 1.8 KPO t/ha 0.591 20.734 21.066 0 1.426 9.008 14.064 1.B) Discounting factor ( i = 10%) Discounted net benefit ( i = 10%) Accumulated discounted net benefit ( i = 10%) NPV (i = 10%) 93.200 33.624 29.000 189.112 277.338 2.602 14.592 1.18 $/ton $/ton $/ton $/ton 5.435 0.480 995 0 1.0% 5.202 2.35 $/ton palm products Overhead 133.0% 5.336 1.0 0.338 3.0 0.027 11.561 0 0 1.501 0.338 108 4.619 3.4 1.4 1.603 1.716 Additional benefits IPK Wood Average vol. (A .619 37.807 0 0 1.677 0.896 13.993 22.3 6.8 5.0 0.206 6.466 1.632 91.366 37.000 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1.402 6.718 6.0% 24.920 25.837 13.350.163 22.202 2.622 14.ship transport CPO FOB Ind.769 56.0% 24.738 14.925 22.6 $/ton 122 % 533.11 $/ha Harvesting 24.099 0.032 81.000 57.202 2.960 CASH FLOW A.995 7.572 30.9 6.600 12.056 12.RATE 2.575 7.847 13.618 0 0 1.311 0.0% 0.670 13.280 285.83 -8.3 1.214 35.6 $/ton 533.904 12.0% 5.338 3.202 2.780 0.480 967 0 1.6 26.012 1.764 0.867 13.473 1.511 1.520 24.632 279.0% 24.08 1.10 2.138 0.271 12.509 32.480 139.6 28.909 0.600 65.464 262.898 12.479 3.619 37.480 885 0 1.601 9.480 869 0 1.0% 24.013 1.9 6.352 50.544 14.338 3.520 24.014 13. Net Benefit (cash flow).280 285.764 529 40.3 1.22 5.39 6.957 1.338 3.034 22.480 835 0 1.175 0 1.984 484 0 781 1.26 6.480 924 0 1.128 259.427 37.0 6.893 13.000 2 2.584 1.5% 4.020 7.854 83.790 6.875 0.891 0 0 1.104 0 0 1.9 2.335 B.0% 24.141 0 2.470 186.4 25.202 2.138 0 0 0 0 0 0 1.202 2.0% 24.998 1.3 6.896 273.600 68.81 49.0% 23.428 0.924 44.0 24.038 35.021 36.454 16.420 23.0% 5.4 1.469 34.627 13.884 272.600 45.4 1.175 0 1.454 4.3 0.207 -3.0 0.012 2.885 90.634 207 240 496 102 0 165 1.133 0 0 1.9 6.15 3.3 1.338 1.476 0.099 0.480 937 0 1.498 7.520 24.744 30.000 5 2.07 687 93.75 -8.0% 5.0% 17. 35 $/m3 ha/year 21.0% CPO t/ha 0.202 2.826 1.663 25.9% 5.0% 5.0 21.0% 5.758 0 482 1.175 0.077 18.768 66.202 2.1 1.0% 24.480 994 0 1.535 1.419 28.642 7.559 1.703 0 0 1.618 200 0 0 0 0 0 0 0 0 200 20.760 1.09 1.527 24.448 20.338 3.000 120 84 36 10.480 660 0 1.920 66.904 8.202 2. 10 $/m3 m3/ha.4 26.1 1.720 249.6 28.729 13.0 5.000 3 2.3 1.2 5.75 $/ha Depreciation 47.316 0.00 $/ton palm products Total Outflow (B) I.202 2.287 23. total Processing 19.0% 5.133 7.0 0.338 3.467 12.3 1.0% 24.582 -1.338 3.240 67.544 14.11 2.401 1.239 2.338 0 2.533 12.202 2.606 0 0 2.47 5.760 14.054 3.6 28.3 1.868 3.012 1.0% 21.338 0 10.0% 0.792 1.4 4.share Export vol.4 1.0% 5.664 13.port Export tax: 10% Transport CPO from mill to port CPO price at mill gate CPO domestic price Domestic vol.480 240.345 279 0 972 774 721 1.600 68.756 0.974 18.62 -1.574 13.0 5.0% 24.327 14.0% 5.750 0.17 $/ha Fertilizer 247.202 2.5 28.176 36.00 20.600 68.665 -10.560 11.141 33.135 961 1.200 62.480 914 0 1.396 0 0 1.534 29.4 21.152 0.188 7.579 12.208 12.000 HA) Currency: Thousand US$ EXCH.338 3.839 0 0 1.984 561 0 904 1.280 64.338 3.570 21.150 15.480 952 0 1.2 1.280 282.317.389 0 0 1.603 1.338 2.338 3.409 10.600 59.840 68.81 40 491.662 0 0 0 0 7.480 724 1.24 5.4 1.95 $/ha Transportation 12.0% 0.680 68.719 1.292 285.455 1.000 25 50 23 5 ha t/ha t/hr % % Age 0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 Average FFB t/ha 0.share Avg CPO price KPO/CPO price KPO price Planting investment: Year 0 Year 1 Year 2 Year 3 Total Yield 10.000 ha Planting investment 1.099 0.509 32.152 0 0 0 0 7.1 26.607 36.0% 22.480 982 0 1.FINANCIAL ANALYSIS OIL PALM ESTATE 10.584 34.927 1.791 26.743 7.0% 24.2 531.214 6.

You're Reading a Free Preview

Mengunduh
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->