Anda di halaman 1dari 25

Analisa Konflik

Peran UNAMSIL dalam Penyelasaian Konflik Sierra Leone

Disusun oleh :

Fahmy Syahirul Alim

107083003248

Makalah disusun sebagai salah satu tugas dalam UAS mata kuliah Negosiasi dan resolusi konflik

Jurusan Hubungan Internasional Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Univesitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta 2010

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Sierra Leone terletak di Afrika Barat dan berbatasan dengan Guinea, Liberia, dan Samudera Atlantik. Dengan luas 71,740 km2, Sierra Leone memiliki penduduk sebanyak 6.294.774 jiwa menurut data CIA pada tahun 2008. Dengan iklim tropisnya, wilayah Sierra Leone terdiri dari savannah hingga hutan hujan. Sierra Leone merupakan salah satu negara penghasil barang tambang, terutama berlian, terbesar di dunia dengan keuntungan mencapai 250-300 juta dollar AS per tahun1. Hasil tambang dari negara dengan ibukota bernama Freetown ini, selain berlian konflik (blood diamond) yang sangat terkenal, juga rutile (sejenis bijih uranium), emas dan bauksit. Semua kekayaan tambang ini menjadi sebuah dilema bagi Sierra Leone, karena di satu sisi sangat menguntungkan dan menggiurkan dengan keuntungan yang sangat tinggi. Namun di sisi lain menjadi rebutan berbagai pihak mulai dari para negara maju, MNC-MNC pertambangan, hingga penduduk dalam negeri sendiri yang menjadi pemberontak. Telebih Sieera Leone merupakan negara dengan otoritarian. Karakteristik regime Sierra Leone ini secara histories bersumber dari kebijakan destruktif pemerintahan Presiden Siaka Stevens (1968-1985) yang menjadikan pemerintahan Seirra Leone sebagai regime otoritarian. Kebijakan Stevens ini kemudian diteruskan oleh Presiden Joseph Momoh yang berkuasa tahun 1985 sampai 1992.2 Presiden Siaka Steven mengubah sistem multipartai yang ada di Sieera Leone menjadi sistem partai tunggal sejak tahun 1978, melarang adanya partai oposisi dan menggunakan langkah-langkah koersif untuk menentang lawan politiknya.3 Secara politis Sierra Leone yang terpolarisasi ke dalam garis etnis. Dua kelompok etnis utama yang menjadi mayoritas di Sierra Leone yaitu Mende yang mendominasi wilayah selatan 1 Arga Sentara. Tentara bayaran di sierra leone dari http://soldier.com/2010/04/artikel-tentara-bayaran-di-sierraleone.html diakses pada tanggal 16 Mei 2010 2 Michael Chege, Sierra Leone: The State that Came Back from the Dead The Whasington Quarterly, diakses dari www.twq.com/02summer/chege.pdf -79k-v diakses pada tanggal 20 Mei 2010 3 Joe A. D. Alie. Backround to the Conflict (1961-1991) dalam Bound to Coorporate : conflict, Peace and People ini Sieera Leone.dari http://ec.europa.eu/development/body/publications/courier/courier187/en/en_073.pdf diakses pada tanggal 20 Mei 2010

dan timur, dan Temne yang berda di wilayah utara. Masing-masing etnik ini memiliki porsi 30 % dari total penduduk.4 Kedua kelompok etnis ini memebentuk dua partai politik utama. Untuk memenagkan pemilihan umum, aliansi juga dibangun dengan sejumlah kelompok minoritas yang berada di luar kelompok etnis utama. Sierra Leone Peoples Party (SLPP) menjadi partai yang mewakili kelompok selatan dengan pendukung utama etnik Mende sedangkan All Peoples Congress (APC) memiliki basis dukungan utamanya dari utara, terutama dari kelompok kelompok etnik Limba, Krio dan juga Kono.5 Dalam hal ini Pemerintah berupaya untuk mendapatkan dukungan dari kelompok etnik maupun para pemimpinya, agar dapat mencapai tujuan ini, maka birokrasi negara dipergunakan untuk memanipulasi sumberdaya . Negara memiliki struktur birokrasi yang besar namun lemah dan tidak efektif dalam menjalankan tugas-tuganya. Strategi koersif menjadi pilihan kebijakan dan control sosial tetap berasa di tangan para kepala suku yang terkait erta dengan loyalitas masyarakat. Salah satu cara untuk mendapatkan loyalitas dari kepala suku adalah melalui hasil pertambangan berlian yang dimiliki Sierra Leone. Oleh karena itu Presiden Siaka Stevens yang memerintah sejak tahun 1967 samai dengan tahun 1985 mempergunakan pemberian kontrol sekaligus pembebasan pajak atas daerah pertambangan berlian bagi kelompok-kelompok yang mendukungnya. Pada Pada masa masa pemerintahan Joseph Momoh penurunan pendapatan dari sektor berlian menyebabkan pemerintah yang berkuasa tidak mampu mempertahankan hubungan patron yang telah terbentuk sejak masa Presiden Siaka Stevens. Presiden Momoh berupaya untuk mendapatkan kembali kontrol atas pertambangan berlian dari politisi-politisi yang berasosiasi dengan Siaka Stevens karena ia ingin mendatangkan perusahaan-perusahaan asing baru untuk berinvestasi di sektor pertambangan berlian, selain itu penguasaan atas wilayah-wilayah pertambangan berlian menjadi syarat kunci bagi kreditor untuk memberikan pinjaman bagi Sierra Leone. Pada akhirnya sebuah konsorsium pertambangan kemudian mengajukan proposal investasi skala besar dalam operasi pertambangan berlian kimberlite. Akan tetapi wilayah pertambangan
4 Chirstoper Clapham, Lancaster University , Sierra Leone: The Global-Local Politics of state Collapse and Attempted Reconstruction, Failed States Conference. Dari www.ippu.purdue.edu/failed state/2001/papers/CLAPHAM2.PDF-95k diakses pada tanggal 20 Mei 2010 5 Ibid

etnik

Temne, selain itu etnik lainya yang membentuk koalisi dalam partai APC juga terdiri atas

harus terlebih dahulu diamankan dari kelompok-kelompok bersenjata yang merupakan penentang pemerintah yang menganggap pemerintah bertindak tidak adil. kinerja pemerintah yang korup, kesalahan managment negara, tidak adil terhadap rakyat kecil, tidak memperhatikan masalah kesehatan, kesejahteraan dan Revolutioner United Front (RUF).. Namun karena ada desakan tersebut, Presiden Momoh memerintahkan angkatan bersenjata Sierra Leone untuk menjalankan kebijakan Operation clean sweep dan Operation Clear All pada tahun 1990 yang berhasil memindahkan 30.000 penambang dari lokasi pertambangan berlian. Namun apa yang dilakukan oleh Presiden Momoh tersebut tidak sesuai dengan harapan, RUF masih saja melakukan berbagai pemberintakan, Dalam perjalanannya memang RUF mendapat bantuan dari Liberia khususnya National Patriotic Front of Liberia (NPFL) yang juga berperan dalam gerakan yang sama di Liberia. RUF mendapat dukungan dalam berbagai hal untuk melancarkan upaya menggulingkan pemerintahan APC dari Liberia, karena presiden Liberia saat itu juga memperoleh kekuasaan dengan cara yang sama. Indikasi lain adalah, RUF mempunyai kontrak dengan Liberia terkait dengan suplai senjata bagi RUF yang dibayar dengan berlian illegal dari RUF. Hal ini dapat terbaca ketika Liberia menjadi salah satu Negara penjual berlian, padahal Liberia tidak mempunyai sumber-sumber berlian. RUF juga disponsori oleh Sierra Leone Peoples Party secara diam-diam. RUF diketuai oleh Foday Sankoh, pembentuk organisasi militer yang dipenjara di tahun 1971 karena keterlibatannya dalam kudeta militer yang dilancarkan kepada APC. RUF terdiri dari dua kelompok kecil yang beranggotakan tidak lebih dari 150 orang.7 Namun walaupuin kecil, pada faktanya RUF malah mampu menyerang pemerintah, hal ini terbukti dengan adanya serangan pertama RUF yang terjadi di Distrik Kailahun, timur Sierra Leone, tidak lepas dari andil Liberia. Belum selesai dengan RUF, terjadi percobaan kudeta di tubuh pemerintahan. 22 April 1992, enam tentara Sierra Leone mengasingkan Presiden Sierra Leone, Joseph Momoh, ke Guinea. Hal ini terjadi diduga karena keenam tentara tersebut frustasi akibat kegagalan pemerintah dalam mengahadapi RUF. Khusunya bagi Momoh yang dianggap tidak serius dan partai oposisi All Peoples Congress (APC) yang terus meningkat kekuatannya. Keenam tentara tersebut berhasil mengasingkan presiden dengan bantuan pangkat tinggi mereka di militer. Mulai dari Letnan Kolonel, Kolonel, Kapten, hingga Brigadir Jenderal. Mereka kemudian 6Frisca Arini. Conflict Sierra Leone dari http://sensasiresh.blogspot.com/2009/06/conflict-sierra-leone.html
diakses pada tanggal 16 Mei 2010 7 ibid

pendidikan6 Dan kelompok bersenjata tersebut dinamakan

membentuk pemerintahan baru, National Provisional Ruling Council (NPRC) dengan Kolonel Yahya Kanu sebagai pemimpinnya. Namun diduga akan bernegosiasi dengan APC, Kanu dibunuh oleh seorang anggota NPRC.8 Pada tanggal 4 Mei 1992, Valentine Strasser, seorang kapten berumur 25 tahun yang ikut mengkudeta Momoh, menjadi pengganti Kanu dan juga sebagai kepala negara. Rakyat yang Sierra Leone yang gembira atas kemenangan NPRC, yang berhasil menjatuhkan kediktatoran APC yang dianggap korup, turun ke jalan. Junta NPRC, segera setelah menguasai negara, membekukan konstitusi dengan menerapkan negara dalam kondisi darurat. Selain itu larangan berbicara dan pemberitaan juga diterapkan. Namun siring berjalanya waktu, pemerintahan dibawah Valentine Strasser ternyata tidak lebih baik dari masa pemerintahan Presiden Momoh dalam hal mencegah pemberontakan yang dilakukan oleh RUF. Pada faktanya semakin banyak wilayah yang jatuh ke tangan RUF, termasuk sebagian besar daerah tambang berlian di timur Sierra Leone. Walaupun jumlah anggota angkatan bersenjata Sierra Leone telah ditambah menjadi 6.150 pasukan pada tahun 1994-1995.9 Namun perlu diketahui juaga bahwa dalam perkembangannya ideologi RUF mengalami pergeseran, tidak lagi fokus pada upaya pembenahan pemerintahan namun menjadi kampanye yang penuh dengan kekerasan diantaranya melakukan terror, kekerasan seksual serta perbudakan seksual dan yang paling mengerikan adalah melakukan mutilasi terhadap rakyat sipil, dengan tujuan utama untuk mendapatkan akses masuk ke penambangan berlian Negara dan tambangtambang mineral lainnya. Terlepas dari apa yang telah dilakukan terhadap rakyat sipil yang menjadi korban, RUF terus memperkuat dirinya dengan bergabungnya beberapa prajurit dari Sierra Leone Army (SLA) yang terpuruk dengan kondisi ekonomi yang kurang baik. Para prajurit ini (disebut sobels) menanggalkan identitas keprajuritannya di malam hari dan memakai identitas pemerintahan dan melanjutkan pekerjaan sebagai pegawai pemerintahan.10 Dan ketika RUF berhasil menduduki daerah-daerah yang vital, seperti lokasi-lokasi pertambangan dan ibu kota negara, Pemerintah Sierra Leone yang pada saat itu dikuasai oleh NPRC akhirnya memilih untuk menggunakan PMC (Private Security Company) untuk
8 Arga. Op. cit 9www. militarybalance.com diakses pada tanggal 20 Mei 2010 10 Frisca. Op,cit

menanggulangi pemberontakan RUF tersebut

Namun adanya PMC tidak lantas menjadikan

konflik Sieera Leone berhenti, Konflik internal negara Sierra Leone pada permasalahan Blood Diamond, masih terus menelan banyak korban, baik korban penyiksaan individu-individu secara fisik maupun eksploitasi sumber daya alam yang tidak ada habis-habisnya. Melihat fenomena demikian pada Juli 1999, diadakan negosiasi antara pemerintah Sierra Leone dan RUF yang menghasilkan kesepakatan bahwa masyarakat menyetujui akan selesainya gencatan permusuhan, pelucutan senjata dari semua pertempuran dan formasi pemerintah kesatuan nasional yang kemudian disebut dengan Lome Peace Agreement. Perundingan ini berada di bawah pengawasan PBB dalam badan yang dibentuk oleh PBB yang bernama United Nations Mission in Sierra Leone (UNAMSIL).11 Dalam hal ini PBB yang berusaha membantu Sierra Leone dengan mengirimkan pasukan penjaga perdamaian. Ribuan pasukan ditempatkan di Sierra dalam LeoneBerdasarkan paparan diatas, dalam makalah analisa konflik dan UNAMSIL berakhir secara resmi oleh Presiden Kabbah pada tahun 2002. B. Pertanyaan penelitian Bagaimanan peran pasukan perdamaian (Peacekeeping) PBB (UNAMSIL) dalam penyelasaian konflik yang terjadi di Sierra Leone ? BAB II KERANGKA TEORI 1. Peacekeeping Menurut Johan Galtung ada tiga proses yang harus dilewati sebelum perdamaian dapat dibangun, ketiga proses tersebut adalah Peacekeeping, Peacemaking dan Peacebuilding. Peacemaking adalah proses menghentikan atau mengurangi aksi kekerasan melalui intervensi militer yang menjalankan peran sebagai penjaga perdamaian yang netral. Kemudian yang dimaksud Peacemaking adalah proses yang tujuannya mempertemukan atau merekonsiliasi sikap politik dan strategis dari pihak-pihak yang bertikai melaui mediasi, negosiasi, arbritasi terutama pada level elite atau pimpinan. Dan yang dimaksud Peacebuilding adalah proses implementasi perubahan atau rekontruksi sosial, politik, dan ekonomi demi terciptanya
11 ibid

penyelesaian konflik yang terjadi di Sierra Leone yang dimulai dari tahun 1991 sampai dinyatakan

perdamaian yang

langgeng.12 Adapun Pecekeeping atau penjaga perdamaian, menurut definisi PBB, adalah cara ntuk menolong negara-negara yang terpecah karea konflik untuk menciptakan kondisi untuk perdamaian yang dapat dipertahankan. Pasukan pemelihara perdamaian bertugas memantau dan mengawasi proses perdamaian di wilayah pasca-konflik dan menolong para mantan tentara yang terlibat dalam memberlakukan perjanjian perdamaian yang mungkin telah mereka tandatangani. Bantuan ini dapat mengambil berbagai bentuk, termasuk langkah-langkah membangun rasa percaya diri, pengaturan pembagian kekuasaan, dukungan untuk proses pemilihan umum, memperkuat penegakan hukum, dan pembangunan sosial-ekonomi. Karena itu, Pasukan Penjaga Perdamaian PBB (sering disebut Topi Baja Biru sesuai dengan topi biru muda yang mereka kenakan) dapat mencakup tentara, polisi sipil, dan para petugas sipil lainnya.13 Piagam PBB memberikan kepada Dewan Keamanan PBB kekuasaan dan tanggung jawab untuk mengambil tindakan bersama untuk memelihara perdamaian dan keamanan internasional. Karena alasan ini, komunitas internasional biasanya berpaling kepada Dewan Keamanan untuk memberikan otorisasi untuk operasi pemeliharaan perdamaian, dan semua misi Pemeliharaan Perdamaian PBB harus memperoleh otorisasi dari Dewan Keamanan. Mayoritas dari operasi-operasi ini dibentuk dan diimplementasikan oleh PBB sendiri dengan pasukan-pasukan yang melayani di bawah komando operasional PBB. Dalam hal ini, para anggota pasukan pemelihara perdamaian tetap menjadi anggota masing-masing angkatan bersenjata mereka, dan tidak membentuk suatu Pasukan PBB yang independent, karena PBB tidak mempunyai pasukan seperti itu. Apabila keterlibatan langsung PBB dianggap tidak tepat atau tidak memungkinkan, Dewan akan memberikan otirisasi keapda organisasi-organisasi regional seperti misalnya North Atlantic Treaty Organisation (NATO), Komunitas Ekonomi Negara-negara Afrika Barat, atau koalisi dari negara-negara yang bersedia terlibat untuk melaksanakan tugas memelihara atau memberlakukan perdamaian. PBB bukanlah satu-satunya organisasi yang telah memerintahkan misi pemeliharaan perdamaian, meskipun sebagian akan mengatakan bahwa ini adalah satu-satunya kelompok yang secara legal diizinkan melakukannya. Pasukan-pasukan 12 Jemadu, Aleksius. 2008. Politik Global dalam Teori dan Praktik.Yogyakarta:Graha Ilmu. hlm 208 13 http://id.wikipedia.org/wiki/Pasukan_pemelihara_perdamaian diakses pada tanggal 30 Mei 2010 7

pemeliharaan perdamaian non-PBB termasuk Misi NATO di Kosovo dan Pasukan dan Pengamat Multinasional di Jazirah Sinai.14 Melihat contoh diatas, pada dasarnya adanya beberapa perubahan dan pergeseran misi Pasukan penjaga perdamian (Peacekeeping) PBB menurut Oliver Ramsbotham beserta dua penulis lainya dalam buku Resolusi konflik bahwasanya bisa dilihat dari tiga generasi yaitu, generasi pertama dan generasi kedua (1956-1995) dimana pada saat itu misi peacekeeping disediakan oleh PBB hanya apabila ada negara yang sedang bertikai satu sama lain ( interstate conclict),15 dan sepereti yang kita ketahui, bahwa munculnya gagasan pertama kali diadakanya Pecekeeping yaitu dari Sekjen PBB Dag Hammarskjold pada saat terjadinya Krisis Suez16 di Timur tengah pada tahun 1956. Selanjutnya generasi ketiga dan Keamana Insani ( human security ) , Dalam generasi ketiga ini ada dua model yang membedakan dengan generasi sebelumnya.yaitu, pertama misi peacekeeping bisa dilakukan dengan cara unilateral oleh sebuah negara, beberapa negara (multilateral), atau oleh fakta pertahanan regional seperti NATO dalam konflik Bosnia dan Kosovo, namun itu semua tetap harus mendapat IZIN pengesahan dari PBB. Kedua, melanjutkan dan terus tetap meguatkan misi PBB namun langsung dibawah komando satu negara dan menyediakan beberpa hal yang masih dianggap dibutuhkan oleh negara yang sedang berkonflik. Contohnya pasukan perdamaian Inggris dalam konflik Sieera Leone.17 Adapun yang dimaksud dengan konsep keamanan Insani atau human security
18

yaitu

diamana manusia secara individual sebagai objek acuan dari keamanan itu sendiri, human security mengimbangi konsep national security yang terlalu menekankan perlindungan terhadap negara berdaulat. Hal ini dikakarenakan di abad ke 21 ini banyak fenomena perang saudara (civil war), 14
15 Ramsbothamm, Oliver. Woodhouse, Tom. And Miall Hugh. 2006. Conflict Resolution. Cambridge : Polity Press. hlm 134-135 16 Krisisi Suez bermula dari keinginan Mesir dibawah pemerintahan Gemal Abdul Naseer menasionalisasi Terusan Suez, dan ini mendapat reaksi dari inggris dan Perancis yang mempunyai banyak saham dalam mengelola Terusan Suez sejak dibngun pada tahun 1866. Terusan ini tak kuramg dari 12.000 kapal setahun dari 45 negara. Maka Inggirs dan Perancis dengan dibantu Israel melancarkan aksi militer dengan meyerang Mesir. Namun hal itu tidak berlangsung lama, karena mendapat respon yang luar biasa dari dunia internasional, utamanya PBB (menjatuhkan resolusi|), termasuk sekutu Inggris, Amerika, yang tidak setuju dengan tindakan Inggris tersebut. Lihat Adnan Hadi , Abdul (2008). Perkembangan Hubungan Internasional di Afrika. Bandung : CV Angkasa 17 Ramsbothamm cs, Op, cit hlm 149-150 18 UNDP (United Nation Development Program) merupakan salah satu organisasi internasional yang paling gencar menyebarluaskan konsep Human security tersebut

genosida, dan pengungsi ( displacement of population)19 Seiring perkembangannya Pecekeeper atau penjaga perdamaian PBB banyak mendapat

tantangan yang dihadapi dan tak luput dari kritikan. Dalam artikel Andreu Sola Martin disebutkan bahwa selama masa Perang Dingin, Penjaga Perdamaian PBB terutama dilihat sebagai hasil dari politik kekuasaan. Fungsi utama adalah untuk mencegah konflik meningkat antara kekuasaan yang lebih besar. Selain itu, perdamaian dikandung terutama oleh kekuatan Barat sebagai cara untuk mempromosikan stabilitas rezim ramah dan mengamankan kepentingan ekonomi mereka di bekas koloni mereka. Karenanya, perdamaian awalnya ciptaan politik kekuasaan dan alat penahanan konflik. Namun, perdamaian juga merupakan intervensi non-kekerasan pihak ketiga dengan tidak memihak, non-blok serta negara-negara kecil. Perdamaian sebagai non-koersif semacam inovatif intervensi militer potensi untuk mendorong dan mempromosikan resolusi konflik antara pihak yang bertikai.
20

Menurutnya sehubungan dengan perdebatan tentang peran PBB di zaman sekarang: "Sebagai legitimiser utama dunia, PBB dapat dikatakan untuk mewakili Masyarakat Internasional sebagai keseluruhan. Namun, secara luas dianggap sebagai penciptaan politik kekuasaan yang besar, dan khususnya Amerika Serikat kepentingan nasional (Ramsbotham dan Woodhouse 1996: 158). " Beberapa ahli telah menunjukkan pengaruh teori konflik pada berlakunya klasik prinsipprinsip perdamaian. Johan Galtung terkait praktek penjaga perdamaian ke promosi perdamaian negatif, atau tidak adanya kekerasan fisik (Galtung 1976). Di sisi lain, John Burton perdamaian terkait dengan mekanisme represif melalui yang menyatakan melindungi kepentingan mereka pada tingkat internasional (Burton 1990).
21

Pada akhir Perang Dingin, peran PBB sebagai legitimiser utama dunia menjadi lebih menonjol. PBB mewujudkan keinginan kekuatan-kekuatan besar untuk mempromosikan perdamaian di wilayah tersebut Perang Dingin telah mendorong ketidakstabilan dan kekerasan. Dalam kerangka internasional, Penjaga Perdamaian PBB telah menambahkan tugas menyelesaikan konflik dengan fungsinya sebagai stabilisator konflik. Dengan demikian, perdamaian dipahami sebagai jenis intervensi pihak ketiga yang dapat mempromosikan
19 Aleksius, Op.cit, hlm 142 20 Sola, Martin Andreu. The Contribution of Critical Theory to New Thinking on Peacekeeping. dari http://http.bradford.ac.uk diakses pada tanggal 16 Mei 2010 21 Ibid, hlm 1

transformatif kebijakan. Dalam konteks ini, PBB terkait dengan pemecahan masalah model intervensi dan, yang lebih khusus, untuk bidang pengetahuan. resolusi konflik.22 Kemudian Andreu menambahkan bahwa perdamaian dalam pemecahan masalah paradigma transformasi konflik secara damai melalui akuntabilitas sosial kekuasaan pemegang (proses demokratisasi, penentuan nasib sendiri, hak asasi manusia, komisi pemantauan kebenaran PBB) dan rekonsiliasi masyarakat. 23

BAB III PEMBAHASAN


22 Studi resolusi konflik dalam perkembangannya mempunyai empat generasi.a., Precursors : The First generatioo (1918-1945). b. Foundation : The Second Generation (1945-1965). c. Consolidation : The Thrid Generation (1965:1985). d. Reconstruction : The Fourth Generation (1985-2005). Lihat Ramsbothamm, Oliver. Woodhouse, Tom. And Miall Hugh. 2006. Conflict Resolution. Cambridge : Polity Press. 23 Ibid, hlm 2

A. Privatisasi Konflik di Sierra Leone Di Sierra Leone, peningkatan kebutuhan keamanan terjadi dengan eskalasi kekerasan setelah kelompok persenjataan dari pemberontak RUF ( Revolutionary United Front) mendapat bantuan Charles Taylor keapada RUF bertujuan untuk mereduksi kemampuan

pemerintah Sierra Leone dalam memeberikan bantuan militer kepada Economic Community of West African States Monitoring Group (ECOMOG) di Liberia. Pada bula Maret 1991, RUF yang telah dipersenjatai melakukan perlawanan terhadap pemerintahan All People Congress yang dipimpin oleh Presiden Joseph Momoh. Walaupun pemerintahan Momoh dikudeta oleh kelompok pemberintak yang dipimpin oleh Kapten Valentine Strasser, pada bulan Alril 1992, RUF tetap melancarkan seranganya atas pemerintahan yang berkuasa, serta menolak untuk bernegosiasi, RUF bhakan mengajukan tuntutan penarikan mundur pasukan Nigeria dan Guinea dari wilayah Sierra Leone. Peningkatan kekerasan yang ditimbulkan oleh perang sipil antara pemerintah Sierra Leone dan RUF telah menyebabkan 20.000 korban meninggal dan lebih separuh rakyat Sierra Leone mengungsi meniggalkan tempat tinggalnya. Kondisi humaniter di Sierra Leone terus memburuk sejak perang sipil dimulai pada tahun 1991. Terdapat 700.000 internally displaced peoples (IDPs) dan 500.000 pengungsi di luar perbatasan wilayah Sierra Leone. Kondisi keamanan internal yang dipenuhi dengan konflik internal tersebut tidak dapat diatasi oleh pemerintah Sierra Leone oleh karena adanya kendala keterbatasan jumlah personel militer. Sejak tahun 1990 sampai dengan akhir tahun 1992, jumlah tentara yang dimiliki hanya mencapai 3,150 personil. Jumlah ini baru mengalami penigkatan setelah tahun 1993 menjadi 6.150 orang.24 Melihat fenomena diatas maka Pemerintahan Sieraa Leone memakai jasa PMC (Private Milatary Company) yang menjadikan konflik Sierra Leone semakin meluas dan malah tak kunjung usai. Pertumbuhan PMC (Private Milatary Company) atau PSC (Private Security Company) telah membuka potensi pasar yang mendorong terjadinya privatisasi konflik. Dalam mendefinisikan Private Milatary Companies (PMCS), David Shearer menuliskan bahwa PMCs
24 Febrica, Senia. Isu Privatisasi Konflik : Penngunaan Perusahaan Militer atau Keamanan dalam Konflik Sierra Leone. Jurnal Politik GLOBAL. Vol 9 No I Mei 2007, hlm 33-34 , mengutip dari P. W Singer, Corporate Warriors : The Rise of Privatized Military Industry, Ithaca : Cornell University Press. Hlm 49-69

11

merupakan perusahaan yang menawarkan kealian militer yang semula dikontrol pemerintah. Tujuan utamanya adalah untuk memperkuat kapabilitas kekuatan militer klienya agar dapat berfungsi secara lebih baik dalam perang atau untuk menangkal konflik dengan lebih efektif. PMCs berbeda dengan organisasi organisasi lainya dalam area industri keamanan karena didesain untuk memberikan dampak strategis bagi kondisi keamanan dan politik dari negara lemah ketika menghadapi ancaman militer yang signifikan. 25 B. Peran Peacekeeping (UNAMSIL) dalam membantu penyelesaian konflik di Sierra Leone 1. Transformasi dari UNOMSIL (United Nations Observer Mission in Sierra Leone) ke UNAMSIL (United Nations Mission in Sierra Leone) Pada Juni 1998, Dewan Keamanan membentuk Misi Pengamat PBB di Sierra Leone (UNOMSIL) untuk periode awal enam bulan Misi dimonitor dan menyarankan upaya untuk melucuti kombatan dan restrukturisasi pasukan keamanan sierra Leone. Kemudian paada bulan Desember 1998 aliansi pemberontak secara ofensif bermaksud merebut kembali Freetown dan pada bulan Januari berhasil menguasai sebagian besar kota Freetown, Semua personil UNOMSIL pun dievakuasi. Adapun Kepala Militer Observer terus melaksanakan tugas mereka, mempertahankan hubungan dekat dengan semua pihak dalam konflik dan aelalu memantau situasi yang berkembang.26 Setelah serangan yang dilakukan pemberontak, Perwakilan Khusus Okelo (UNOMSIL), dalam konsultasi dengan negara-negara Afrika Barat, memulai serangkaian upaya diplomatik yang bertujuan untuk membuka dialog dengan para pemberontak. Negosiasi antara Pemerintah dan pemberontak dimulai pada Mei 1999 dan pada tanggal 7 Juli semua pihak dalam konflik menandatangani perjanjian di Lome untuk mengakhiri permusuhan dan membentuk pemerintah persatuan nasional. Pihak-pihak yang konflik juga meminta peran untuk UNOMSIL diperluas. Dan permintaan pihak yang bertikaipun dikabulkan oleh Dewan Keamanan PBB dan pada tanggal 20 Agustus jumlah pengamat militer ditingkatkan Pada tanggal 22 Oktober, Dewan Keamanan lebih memperkuat posisi PBB di Sierra Leone dengan mengganti UNOMSIL dengan UNAMSIL.. Operasi ini memiliki mandat lebih luas daripada yang pendahulunya yang lebih kecil dan diberi tugas untuk membantu berbagai pihak dalam melaksanakan Lome Accord.
25 Ibid. hlm 69

26 http://www.un.org/en/peacekeeping/missions/past/unamsil/ diakses pada tanggal 25 Mei 2010

UNAMSIL mengalami peningkatan yang signifikan dalam hal kegiatan di Sierra Leone, meningkatkan kehadirannya menjadi 6.000 personel militer termasuk 260 pengamat militer. Seperti kedua UNPROFOR dan UNAMIR, UNAMSIL mandat awal adalah untuk bekerja sama dengan pihak dalam konflik di melaksanakan perjanjian tersebut. Ini termasuk membantu pemerintah dengan melucuti dan melakukan demobilisasi pasukan pemberontak (RUF).. Di bawah revisi mandat, personil UNAMSIL diminta untuk aktif memberikan keamanan di semua situs, memfasilitasi arus bebas orang, barang dan bantuan kemanusiaan sepanjang thoroughfares spesifik, membantu dan mengkoordinasikan penegakan hukum Sierra Leone .Kemudian mandat UNAMSIL berubah dari membantu dan memantau pelaksanaan Accord Lome menjadi lebih luas yaitu bertujuan menegakan hukum dan ketertiban di seluruh Sierra Leone. Untuk membantu UNAMSIL melaksanakan misi barunya tersebut, komponen militer berangsur-angsur diperluas. Pada bulan Februari 2000, Dewan Keamanan meningkatkan jumlah pasukan yaitu 11.100 tentara, dan pada bulan Maret 2001 ditingkatkan lagi menjadi 17.500 pasukan. Adapun menurut Resolusi Dewan Keamanan 22 Oktober 1999, UNAMSIL memiliki mandat sebagai berikut:

Untuk bekerja sama dengan Pemerintah Sierra Leone dan pihak-pihak lain untuk Perjanjian Damai dalam pelaksanaan Perjanjian

Untuk membantu Pemerintah Sierra Leone pada pelaksanaan perlucutan senjata, demobilisasi dan reintegrasi rencana

untuk membangun kehadiran di lokasi-lokasi kunci di seluruh wilayah Sierra Leone, termasuk di pusat penerimaan perlucutan senjata / dan pusat demobilisasi

Untuk menjamin keamanan dan kebebasan bergerak personil PBB Untuk memantau kepatuhan terhadap gencatan senjata sesuai dengan perjanjian gencatan senjata

Untuk mendorong para pihak untuk menciptakan mekanisme pembangunan kepercayaan dan dukungan fungsi mereka 13

Untuk memudahkan pemberian bantuan kemanusiaan Untuk mendukung kegiatan para pejabat PBB sipil, termasuk Wakil Khusus Sekretaris Jenderal dan stafnya, petugas hak asasi manusia dan petugas urusan sipil

Untuk memberikan dukungan, seperti yang diminta, dengan pemilihan, yang akan diadakan sesuai dengan konstitusi sekarang Sierra Leone27 Kemudian Pada bulan Februari 2000 mandat tersebut telah direvisi untuk memasukkan

tugas-tugas berikut:

Untuk memberikan keamanan di lokasi-lokasi kunci dan bangunan Pemerintah, khususnya di Freetown , persimpangan penting dan bandara utama, termasuk Lungi bandara

Untuk memfasilitasi arus bebas orang, barang dan bantuan kemanusiaan di sepanjang jalan utama yang ditetapkan

Untuk memberikan keamanan di dalam dan di semua situs dari perlucutan senjata, demobilisasi dan program reintegrasi

Melakukan koordinasi dengan dan membantu, penegakan hukum Sierra Leone berwenang dalam melaksanakan tanggung jawab mereka

Untuk menjaga senjata, amunisi dan peralatan militer lainnya yang dikumpulkan dari mantan kombatan dan untuk membantu dalam pembuangan berikutnya mereka atau

2. Keberhasilan misi UNAMSIL Banyak kalangan yang menilai bahwa UNAMSIL dapat menjadi model bagi perdamaian yang sukses, serta prototipe untuk penekanan baru pada perdamaian PBB. Selama mandatnya, Misi dilucuti puluhan ribu mantan pejuang, dibantu dalam menyelenggarakan pemilu nasional, membantu untuk membangun kembali angkatan kepolisian negara itu, dan memberikan kontribusi terhadap merehabilitasi infrastruktur dan membawa pelayanan pemerintah kepada masyarakat 27 http://www.un.org/en/peacekeeping/missions/mandates/unamsil/ diakses pada tanggal 25 Mei 2010

lokal. Tidak hanya itu, UNAMSIL juga membantu pemerintah menghentikan perdagangan ilegal berlian dan mengatur bebearpa industri industri.dengan baik. Seperti yang telah penulis paparkan di awla tulisan bahwa selama perang, pemberontak telah menggunakan uang dari "darah" atau "konflik" berlian untuk membeli senjata yang telah memicu konflik Namun dalam perjalananya UNAMSIL tidak selalu diramalkan untuk berhasil: pada satu titik, pada Mei 2000, misi ini hampir dipermalukan ketika pemberontak Front Persatuan Revolusioner (RUF) menculik ratusan penjaga perdamaian dan meninggalkan gencatan senjata dalam bergerak tentu ini membahayakan kredibilitas penjaga perdamaian PBB. Dengan adanya kekacauan seperti itu ditambah dengan tekanan masyarakat internasional terhadap pemberontak untuk mematuhi gencatan senjata dan sanksi terhadap sponsor RUF. Oleh karena iu, UNAMSIL meluncurkan upaya mediasi baru dan membawa dua pihak yang bertikai mulai melucuti persenjataan dari kedua belah pihak. Dalam hal ini, Inggris telah mengirim pasukan untuk memulihkan perdamaian berikut RUF yang melakukan pelanggaran terhadap gencatan senjata, kemudian dilanjutkan dengan restrukturisasi tentara sementara UNAMSIL adapun penjaga perdamaian internasional lainnya berkonsentrasi pada pelatihan pasukan polisi Sierra Leone. Hingga pada awal tahun 2002, UNAMSIL telah melucuti senjata dan menarik lebih dari 75.000 mantan pasukan pmberontak , termasuk tentara anak-anak . Tidak lama setelah itu Pada tanggal 18 Januari 2002. Pemerintah Sieraa Leone dibawah Presiden Kabbah secara resmi menyatakan perang saudara telah berakhir. Tidak sampai disitu misi UNAMSIL dilanjutkan dengan membantu mengatur Pemilihan umum presiden dan parlemen pertama Sierra Leone yang bebas dan adil dengan menyediakan logistik dan dukungan informasi publik. UNAMSIL menyelesaikan sebagian besar tugas yang diberikan itu oleh Dewan Keamananyaitu dengan sukarela membantu kembali lebih dari setengah juta pengungsi dan orang terlantar serta membantu Pemerintah mengembalikan otoritas dan pelayanan sosial di daerahdaerah yang sebelumnya dikuasai oleh pemberontak, melatih ribuan personil polisi, dan dibangun atau direkonstruksi puluhan stasiun polisi. Tidak hanya itu, UNAMSIL secara berkala memonitor dan melatih orang-orang Sierra 15 kembali ke meja perundingan. Dengan membawa pasukan yang lebih banya untuk memonitor gencatan senjata dan

Leone dalam hal penegakan hak asasi manusia dan berperan penting dalam mendirikan Pengadilan Khusus untuk Sierra Leone untuk mengadili mereka yang paling bertanggung jawab atas kejahatan perang, serta membantu Pemerintah dalam mendirikan Komisi Kebenaran dan Rekonsiliasi, bertugas dengan penyembuhan luka-luka perang dengan membawa bersama-sama pelaku dan korban kekejaman. Bekerja sama dengan badan-badan PBB lainya , yaitu mengadakan cepatdampak dan proyek-proyek yang menghasilkan pendapatan untuk menyediakan lapangan kerja bagi ribuan pemuda pengangguran dan mantan anggota pemberontak dan layanan dasar kepada masyarakat lokal.28

BAB IV ANALISA Dalam mengintervensi sebuah konflik tentu sebelumnya kita harus membuat peta konflik secermat dan sedetil mungkin. Pemetaan adalah langkah pertama in conflict management. Dalam beberapa literatur mengenai resolusi konflik disebutkan bahw pemetaan konflik membuat pihak yang bertikai maupun intervenor (yang melalukan intervensi-dalam arti positif mediator, dalam arti negative provokator) mendapatkan pemahaman yang lebih jelas mengenai akar konflik, nature dan dinamika konflik serta berbagai kemungkinan untuk mengakhiri atau memperpanjang konflik. Dalam hal ini, konflik internal yang terjadi di negara lemah secara militer namun
28 http://www.un.org/en/peacekeeping/missions/past/unamsil/

mempunyai Sumber Daya Alam yang melimpa, yaitu adanya berlian, tentu hal ini akan mengundang pihak-pihak yang berkepentingan untuk mengambil keuntungan (benefit) dari konflik itu sendiri, baik itu Primary party yaitu pihak yang memiliki tujuan jelas dalam konflik, Secondary party, pihak yang tidak terlibat langsung, namun jelas memiliki kepentingan yang juga tidak sedikit dalam sebuah konflik, dan Interested third party, yaitu pihak yang memiliki kepentingan terhadap hasil akhir dari konflik, apakah perdamaian atau perluasan konflik. Hemat penulis ketiga pihak diatas kaitanya dengan konflik yang terjadi di Sierra Leone tentu terlihat jelas, satu sisi adanya privatisasi konflik. tentu membuat orang yakin bahwa konflik ini sengaja dipelihara untuk kepentingan bisnis, tidak sampai disitu saja , seperti yang penulis paparkan di pembahsan bahwa faktanya PMCs tersebut memiliki afiliasi dengan perusahaanperusahaan berlian kelas dunia. Memang tidak terlibat langsung, namun kepentingan mereka jauh melebihi kepentingan seorang anak Sierra Leone yang hanya menjadi korban di tanah kelahiran mereka sendiri. Bahkan ada banyak bukti yang menunjukkan bahwa beberapa negara di wilayahsub sangat terlibat dalam pengadaan dan transfer senjata ringan dan amunisi untuk konflik di Sierra Leone, dan bahwa perdagangan ini terkait erat dengan industri pertambangan berlian di Sierra Leone. Tampak bahwa senjata yang dibeli di Eropa Timur (Bulgaria atau Ukraina) dan pindah ke Tripoli, Libya di mana mereka dipindahkan ke kapal atau pesawat charter untuk pengiriman ke wilayah ini. pengiriman udara yang bertahap melalui Ouagadougou, Burkina Faso dan kemudian melanjutkan ke Liberia, di mana mereka dipindahkan ke pesawat yang lebih kecil atau truk untuk pengiriman ke wilayah yang dikuasai pemberontak (RUF) di Sierra Leone. Liberia dan Burkina Faso telah membantah terlibat dalam perdagangan senjata api kecil yamg dituduhkan pada mereka, namun adanya bukti kuat yang tegas berimplikasi pada kedua negara tersebut. Pada akhir Maret 1999 ada pengiriman udara (dalam pesawat carteran Ukraina) lebih dari 68 ton senjata api kecil yang baru-baru ini dikirimkan ke Sam Bockarie di Sierra Leone tenggara. pengiriman ini diterbangkan ke Ouagadougou, dimana pesawat duduk selama beberapa hari di aspal presiden, sebagai kru Ukraina menolak untuk terbang ke Monrovia, mengatakan pekerjaan mereka adalah hanya memberikan senjata ke Burkina Faso. pengiriman itu dipindahkan ke pesawat lain dan diterbangkan ke Monrovia, dimana kemudian dikirim ke Bockarie di Sierra

17

Leone. Kiriman terbaru ini diumumkan oleh ECOMOG pada tanggal 8 April 199929. Melihat Fenomena diatas membuktikan bahwa dalam suatu konflik memang terlapau banyak yang bermain dan mempunyai kepentigan masing-masing untuk menganmbil keuntungan dari konflik tersebut. Bhakan konflik di Sieera Leone cenderung dijadikan sebagai lahan bisnis (Privatisasi konflik) bagi para pemilik perusahaan dalam jasa keamanan ( Private Military Companies) yang mempunyai hubungan dengan perusahaan-perusahaan berlian kelas dunia30, yang hanya membutuhkan berlian murah dan illegal yang merasa dipermudah karena adanya konflik di Sierra Leone tersebut.

Namun, melihat fenomena tersebut komunitas internasional tidak tinggal diam, berlian yang dihasilkan dari pertumpahan darah (blood diamond) dan dinikmati oleh pihak yang tidak bertanggung jawab, tentu tidak dapat dibenarkan, berkat desakan masyrakat internasional, Dewan Keamanan PBB pada akhirnya mengeluarkan resolusi tentang pembentukan UNAMSIL (United Nations Mission in Sierra Leone) pada yanggal 22 Oktober 1999. Yang menarik dari misi UNAMSIL adalah bahwa, banyak pihak yang menyatakan UNAMSIL adalah misi percontohan yang dilakukan oleh PBB, dan tentunya dianggap paling berhasil. Kalau kita amati, pada dasarnya satu hal yang menjadikan UNAMSIL bisa dikatakan berhasil dalam misinya, karena UNAMSIL pada perjalanannya tidak hanya sebagai penjaga perdamian saja (peacekeeping), mengupayakan mengurangi dan menghentikan tindakan kekerasan melalui intervesi kekuatan militer sebagai kekuatan yang netral, namun juga memfasilitasi adanya Peacemaking antara kedua belah pihak yang bertikai (RUF dan pemerintah Sierra Leone), yakni
29 Siera Leone : the forgotten crisis Report to the minister of forign affairs, dari http:// www.global security.org/military/library/report/crisis/1999.htm. diakses pada tanggal 16 Mei Mei 2010 30 Penggunaan Sandline Internasional di Sierra Leone itu kembali ditentukan dengan koalisi yang terbentuk antara pemerintah Sierra Leone dibwah kepemimpinan Presiden Kabbah dengan kepentingan pertamabangan. Sandline Internasional merupakan perusahaan militer atau keamnan yang berbasisi di Inggris. Perusahaan ini memiliki afiliasi dengan perusahaan pertambangan seperti, Diamond Works dan Branch Energy, maupun perusahaan militer atau keamanan lainya seperti Lifeguard dan Executtive Outcomes. Privatisasi kemudian mendorong perkembangan PMC yang berbasis di benua ini. Kepemilikan lokal atas PMC ini selain menjadi symbol politik juga menjadi sumber keuntungan bagi sejumlah politisi yang duduk dalam pemerintahan. Lihat , Senia. Isu Privatisasi Konflik : Penngunaan Perusahaan Militer atau Keamanan dalam Konflik Sierra Leone. Jurnal Politik GLOBAL. Vol 9 No I Mei 2007,

dengan mengajak kedua belah pihak untuk berunding, dan mencapai titik tenu dengan adanya Lome Peace Accord yang disepakati oleh kedua belah pihak. Tidak hanya sampai disana, UNAMSIL pun melanjutkan proses Peacebuilding, proses implementasi dari perubahan sosial secara damai melalui pembangunan sosial ekonomi. Dengan adanya proses Peacebuilding yaitu harus mampu menciptakan peralihan dari negative peace (just the absence of violencs) menjadi positive peace diamana tidak ada lagi kekerasan srtuktural dan budaya.31 Maka dari itu UNAMSIL membantu pemerintah Sierra Leone dalam penyelenggaraan pemilihan umum pertama, serta bekerjasama dengan badan PBB lainya dalam hal membuka lapangan kerja, mengajarkan tentang pentingnya penegakan HAM. Hal ini tentu diharapkan dapat melanggengkan perdamaian di Sierra Leone. Setelah adanya keterlibatan UNAMSIL, Sierra Leone telah membuat kemajuan besar dalam menjamin perdamaian. Dengan bantuan dari masyarakat internasional, Sierra Leone telah mencapai beberapa ukuran stabilitas politik dan keamanan. Namun, jika perdamaian ini, ingin menjadi perdamaian yang abadi maka pemerintah Sierra Leone dan masyarakat internasional harus fokus juga pada mengurangi kesenjangan ekonomi dan kemiskinan, dan memberikan kesempatan yang menghasilkan pendapatan yang layak bagi rakyat Sierra Leone. Mereka juga harus memusatkan perhatian pada menghilangkan berkelanjutan korupsi dan membuka sistem politik untuk memperkuat masyarakat sipil serta memberikan kesempatan keadilan dan rekonsiliasi pada ranah kultural dan structural masyarakat dari top level hingga rakyat biasa (grassroot) diamana proses tersebut (Peacebuilding) memang tidak dapat dilakukan dengan sekejap, namun membutuhkan proses yang panjang agar semua aspek dan semua pihak dapat berjalan harmoni. Mungkin kemudian Sierra Leone akan dapat dinyatakan sebagai sebuah kisah sukses pembangunan perdamaian yang utuh.

31 Aleksius, Op,cit. hlm 219

19

BAB V PENUTUP Konflik yang terjadi di Sierra Leone pada dasarnya tidal lepas dari globalisasi ekonomi, dimana pemerintahan pusat bekerjasamam dengan perusahaan multinasional untuk mengeksploitasi kekayaan alam yang ada di wilayah Sierra Leone, tanpa mengindahkan kepentingan politik, ekonomi dan byudaya dari penduduk setempat. Akibatnya muncul gerakan perlawanan (RUF) terhadap pemerintah pusat. Dan konflik internal tersebut pada akhirnya dimanfaatkan oleh pihak-pihak yang mempunyai kepentingan terhadap sumber daya alam yang ada di Sierra Leone. Baik itu negara tetangga (Liberia sebagai pemasok senjata bagi RUF), Perusahaan-perusahhan berlian dan perusahaan yang bergerak dalam jasa keamanan. Sehingga konflik di Sierra Leone terlihat sengaja dipelihara agar kepentingan mereka semakin tercapai. Dengan status negara yang lemah dalam hal miter, tentu medorong Pemerintah Sierra Leone untuk teru mempertahankan kekuasanya dari pemberontak, dengan memiliki Sumber daya yang melimpah (berlian), PMCs pun berbodong-bondong mengajukan diri untuk menjadi tentara bayaran bagi pemerintahan RUF. Namun pada faktanya dengan hanya mengandalkan PMCs, pemberontak tidak bisa di tupas secara menyeluruh, bahkan konflik malah semakin meluas tanpa ada penyelesaian akhir. Dan pada akhirnya berkat tekanan dunia internasional, Dewan Keamanan PBB membentuk

UNAMSIL untuk menyelesaikan konflik Sierra Leone secara tuntas. Keterlibatan dunia internasional dalam internal konflik pada faktanya memang sangat dibutuhkan, hal ini sesuai dengan gagasan yang diajukan oleh Edward Azar, yang menolak dikotomi antara dimensi internal dan eksternal, dimana dimensi internal hanya ditangani oleh disiplin sosiologi dan sntropologi sedangkan dimensi eksternal dibahas oleh disiplin Hubungan internasional. Dalam hal ini Azar berupaya memadukan semua disiplin tersebut dalam keterpaduan sehingga pemahaman terhadap konflik menjadi lebih komprehensip.32 Karena suatu konflik apabila tidak dipahami secara komprehensip, maka apabila suatu saat kita menjadi intervenor akan kesulitan dalam mengetahui akar konflik serta mengenai isu-isu yang terjadi dalam konflik itu sendiri. Bagi seorang yang mengintervensi sebuah konflik, maka jangan sampai objek yang diintervensi malah menjadi boomerang bagi sang intervenor. Seperti kasus yang terjadi pada pasukan perdamiaan Amerika (Peacekeeping force) yang bertugas di Somalia. Pasukan Amerika tersebut diangga terlalu menyederhanakan konflik, sehingga yang terjadi adalah mereka yang menjadi korban dari konflik itu sendiri.

32 Azar, Edward. 1990. The Management of Protacted of social conflict : Theory and Cases. Aldershot: Darmouth. Hlm 6, dikutip dari Aleksius Op,cit, hlm 201

21

Facts of UNAMSIL Location : Sierra Leone Headquarters Freetown, Sierra Leone Duration 22 October 1999 to 31 December 2005 Special Representative of the Secretary-General Mwakawago (Tanzania) December 2003December 2005 Alan Doss (United Kingdom) [Officer-in-Charge] July 2003December 2003 Oluyemi Adeniji (Nigeria) December 1999 July 2003 Force Commander and Chief Military Observer Sajjad Akram (Pakistan) October 2003 September 2005 Daniel Opande (Kenya) November 2000 September 2003 Vijay Kumar Jetley (India) December 1999 September 2000 Police Commissioner Hudson Benzu (Zambia) March 2003 September 2005 Joseph Dankwa (Ghana) December 1999 February 2003 Strength Authorized maximum strength and Chief of Mission Daudi Ngelautwa

17,500 military personnel, including 260 military observers (S/RES/1346) and up to 170 police personnel (S/RES/1436) Maximum delpoyment (31 March 2002): Military: 17,368; UN Police: 87; international civilian: 322; local civilian: 552 Strength as of 30 November 2005 1,043 total uniformed personnel, including 944 troops, 69 military observers and 30 police supported by 216 international civilian personnel, 369 local civilian staff and 83 United Nations Volunteers Contributors of Military Personnel Bangladesh, Bolivia, Canada, China, Croatia, Egypt, Gambia, Germany, Ghana, Guinea, India, Indonesia, Jordan, Kenya, Kyrgyzstan, Malawi, Malaysia, Nepal, Nigeria, Norway, Pakistan, Russian Federation, Slovakia, Sweden, Tanzania, Ukraine, United Kingdom, Uruguay and Zambia Contributors of Police Personnel Australia, Bangladesh, Cameroon, Canada, Gambia, Ghana, India, Jordan, Kenya, Malawi, Malaysia, Mauritius, Namibia, Nepal, Niger, Nigeria, Norway, Pakistan, Russia, Senegal, Sri lanka, Sweden, Tanzania, Turkey, United Kingdom, United States, Zambia and Zimbabwe Expenditures: 1 July 1999 to 30 June 2000: $264,9 million 1 July 2000 to 30 June 2001: $494,4 million 1 July 2001 to 30 June 2002: $617,7 million 1 July 2002 to 30 June 2003: $603,1 million 1 July 2003 to 30 June 2004: $448,7 million 1 July 2004 to 30 June 2005: $265,0 million Approved budget: 1 July 2005 to 30 June 2006 : $107,5 millio Total estimated expenditures: $2.8 billion Sumber : http://www.un.int/france/documents_anglais/010918_cs_presidence_afrique.htm diakses pada tanggal 16 Mei 2010 Daftar Pustaka Buku 23

Azar, Edward. 1990. The Management of Protacted of social conflict : Theory and Cases. Aldershot: Darmouth Adnan Hadi , Abdul (2008). Perkembangan Hubungan Internasional di Afrika. Bnadung : CV Angkasa Jemadu, Aleksius. 2008. Politik Global dalam Teori dan Praktik.Yogyakarta:Graha Ilmu Ramsbothamm, Oliver. Woodhouse, Tom. And Miall Hugh. 2006. Conflict Resolution. Cambridge : Polity Press Shearer, David .Private Armies and Military intervention, New York : Oxford University

Jurnal
Febrica, Senia. Isu Privatisasi Konflik : Pegngunaan Perusahaan Militer atau Keamanan dalam Konflik Sierra Leone. Jurnal Politik GLOBAL. Vol 9 No I Mei 2007,

Artikel Internet Arga Sentara. Tentara bayaran di sierra leone dari http://soldier.com/2010/04/artikel-tentarabayaran-di-sierra-leone.html diakses pada tanggal 16 Mei 2010 Chirstoper Clapham, Lancaster University , Sierra Leone: The Global-Local Politics of state Collapse and Attempted Reconstruction, Failed States Conference. Dari www.ippu.purdue.edu/failed state/2001/papers/CLAPHAM2.PDF-95k diakses pada tanggal 20 Mei 2010 Frisca Arini. Conflict Sierra Leone dari diakses pada tanggal 16 Mei 2010 Joe A. D. Alie. Backround to the Conflict (1961-1991) dalam Bound to Coorporate : conflict, Peace and People ini Sieera Leone.dari http://ec.europa.eu/development/body/publications/courier/courier187/en/en_073.pdf diakses pada tanggal 20 Mei 2010 Richard Cornwell Head Operational African Security information service (OASIS) Institute fo security studies, Sierra Leone : RUF Diamonds? dalam African security review Vol 7 NO 4, 1998. dari www,iss.co.za/pubs/ASR/7No4/Africawatch.html. diakses pada tanggal 20 Mei 2010 www. militarybalance.com diakses pada tanggal 20 Mei 2010 http://www.un.org/en/peacekeeping/missions/past/unamsil/ diakses pada tanggal 20 Mei 2010 http://www.un.org/en/peacekeeping/missions/past/unamsil/ diakses pada tanggal 25 Mei 2010 Sieraa Leone : the forgotten crisis Report to the minister of forign affairs, dari http:// www.global security.org/military/library/report/crisis/1999.htm. diakses pada tanggal 16 Mei Mei 2010 http://www.un.int/france/documents_anglais/010918_cs_presidence_afrique.htm diakses pada tanggal 16 Mei 2010

Sola, Martin Andreu. The Contribution of Critical Theory to NewThinking on Peacekeeping. dari http://http.bradford.ac.uk diakses pada tanggal 20 Juni 2010

25