Anda di halaman 1dari 24

LARANGAN PERKAWINAN DALAM ISLAM

OLEH WIRDYANINGSIH

Al Quran

DASAR HUKUM LARANGAN PERKAWINAN DALAM ISLAM

Al-Baqarah: 221 (larangan mengawini orang musyrik) Al-Baqarah: 228 dan 234 (laki-laki dilarang menikahi perempuan yang sedang berada pada masa iddah) An-Nisa:22 (larangan mengawini ibu tiri); An-Nisa:23 (larangan mengawini karena hubungan darah, sepersusuan, anak tiri yang bada dukhul dengan ibunya, poligami 2 perempuan bersaudara kandung/seayah/ seibu

Dasar Hukum ..
An-Nisa:24 (larangan POLIANDRI); Al-Maidah: 5 (mengawini wanita ahlulkitab) lihat pula Al Mumtahanah: 10 Hadits Rasul UU No.1/1974 ttg Perkawinan Pasal 8 Kompilasi Hukum Islam Pasal 39-44 dan 54

1. LARANGAN PERKAWINAN KARENA PERBEDAAN AGAMA


Q.S al Baqarah (2) ayat (221): a. Jangan kamu kawini perempuan musyrik hingga dia beriman b. Jangan kamu kawinkan laki-laki musyrik hingga dia beriman c. Orang musyrik itu membawa kepada neraka sedangkan Tuhan membawa kamu kepada kebaikan keampunan. Dihubungkan dengan Q.S al Maidah(5) ayat (5) khusus terhadap orang yang beragama Yahudi dan Nasrani. Wanita muslim itu halal kamu kawini Wanita ahli kitab itu halal kamu kawini .

1. LARANGAN PERKAWINAN KARENA PERBEDAAN AGAMA


Ahlul kitab: golongan para pengikut/penganut ajaran yang dibawa oleh nabi Musa a.s dan Isa a.s dengan kitab sucinya masing-masing (Taurat dan Injil) Mazhab Syafii dan Hambali: boleh asalkan orang tua wanita tersebut ahlul kitab juga. Mazhab Hanafi dan Maliki tidak mensyaratkan. Golongan Syiah Imamiyah mengharamkan.

1. LARANGAN PERKAWINAN KARENA PERBEDAAN AGAMA


KHI Pasal 40 huruf c wanita non-muslim dilarang dinikahi oleh laki-laki muslim KHI Pasal 44: Wanita Muslim dilarang melangsungkan perkawinan dgn pria yang tidak beragama Islam. Umar bin Khattab melarang (membenci) laki-laki muslim yang menikahi perempuan non-muslim, meskipun tidak dilarang dalam al Quran. Alasannya adalah: Anak-anak yang lahir dalam rumah tangga tersebut akan dirusak akidahnya dari Islam Komunitas perempuan muslim yang belum menikah dapat meningkat Perempuan non-muslim dapat menginformasikan kepada kaum non-muslim tentang umat Islam

2. Larangan Perkawinan Karena Hubungan Darah


An Nisa ayat 23. Laki-laki dilarang menikahi:
Ibu kandung Anak perempuan Saudara perempuan Saudara bapak yang perempuan Saudara ibu yang perempuan Anak perempuan dari saudara laki-laki Anak perempuan dari saudara perempuan

KHI Pasal 39 ayat (1)

3. Larangan Perkawinan Karena Hubungan Sesusuan


An Nisa ayat 23. Laki-laki dilarang menikah dengan:
Ibu yang menyusukan kamu Saudara perempuan sesusuan

KHI Pasal 39 ayat (3) Syarat saudara sesusuan:


Umur anak kurang dari 2 tahun Ukuran menyusui: 5 kali menyusui penuh sampai kenyang (HR Muslim) (Syafii & Hanbali) Sedikit atau banyak sama akibatnya (Mazhab Hanafi & Maliki)

Hubungan semenda artinya hubungan kekeluargaan yang timbul karena perkawinan yang telah terjadi terlebih dahulu. An Nisa ayat 23. Laki-laki dilarang menikah dengan:
j.Ibu isteri (mertua perempuan) k.Anak isteri dari isteri yang telah dicampuri (jika isteri belum dicampuri dan telah bercerai, anak isteri boleh dinikahi) l.Isteri anak kandung m.Menikahi 2 orang perempuan bersaudara sekaligus

4. Larangan Perkawinan Karena Hubungan Semenda

An Nisa ayat 22. Laki-laki dilarang menikah dengan:


Ibu tiri

KHI Pasal 39 ayat (2)

Larangan & Kebolehan Perkawinan Karena Hubungan Semenda

Ibnu Taimiyah:
Boleh menikah dengan ANAK PEREMPUAN dari IBU TIRI (SAUDARA TIRI); ANAK PEREMPUAN dari ISTERI ANAK (CUCU TIRI) Dilarang menikah dengan: isteri-isteri AYAH ke atas; isteri-isteri Anak Kandung ke bawah; ibunya isteri ke atas, Anak Tiri ke bawah.

5.Larangan Khusus dalam Poligami


Larangan poligami dengan wanita yang mempunyai pertalian nasab atau sesusuan dengan isterinya (KHI Pasal 41 (1)):
a. saudara kandung, seayah, atau seibu serta keturunannya lihat An Nisa: 23 b. bibinya atau kemenakannya lihat HR Jamaah
HR Jamaah dari Abu Hurairah ra., ia berkata: Nabi saw. melarang seorang perempuan dinikah (secara poligami) bersama bibinya dari pihak ayah atau bibinya dari pihak ibu HR Jamaah kecuali Ibnu Majah dan Tirmidzi dan dalam riwayat lain: Nabi saw. melarang dimadu (dihimpun) antara seorang perempuan dengan bibinya dari pihak ayah dan antara seorang perempuan dengan bibinya dari pihak ibu

5. Larangan Khusus dalam Poligami


Larangan tersebut tetap berlaku meskipun isteri ditalak raji tapi masih iddah (KHI Pasal 41 ayat (2)) Perkawinan poligami dibatasi hanya boleh memiliki maksimal 4 isteri (Pasal 42 jo Pasal 55 KHI) Dilarang poligami bila tidak mampu berlaku adil terhadap isteri dan anakanaknya (Pasal 55 KHI)

Menghimpun Anak Tiri dan Ibu Tiri


Dari Ibnu Abbas, bahwa sesungguhnya ia pernah memadu (menghimpun) antara janda seorang lakilaki dengan anak perempuan laki-laki itu dari isteri yang lain setelah isteri (yang pertama) ditalak dua kali dan sekali talak khuli Sahabat Rasulullah, Jabalah, memadu (menghimpun) antara janda seorang laki-laki dan anak perempuan laki-laki itu dari isterinya yang lain

6. Larangan Menikahi Perempuan Karena Kondisinya


Q.S.an Nisa ayat (24) dan KHI Pasal 40 huruf a. Laki-laki dilarang menikahi perempuan yang sedang bersuami (poliandri) Q.S. al Baqarah ayat (228) dan 234 dan KHI Pasal 40 huruf b. Laki-laki dilarang menikahi perempuan yang sedang berada pada masa iddah

7. Laki-laki Dilarang Menikah Karena Kondisinya


KHI Pasal 42: Telah memiliki 4 isteri, baik keempat-empatnya masih terikat dalam perkawinan atau salah seorang masih dalam iddah talak raji KHI Pasal 44: Tidak beragama Islam apabila ingin menikahi perempuan muslimah. Wanita Muslim dilarang melangsungkan perkawinan dgn pria yang tidak beragama Islam.

8. Larangan Perkawinan Terkait dengan Putusnya Perkawinan


Q.S. al Baqarah (2) ayat (230) dan KHI Pasal 43 ayat (1) dan (2) Talak bain kubra (talak yang terjadi untuk ke3 kalinya). Laki-laki dilarang menikahi bekas isterinya apabila telah melakukan talak baiin kubra, kecuali ada muhallil Lian. Suami atau isteri yang menuduh pasangannya berbuat zina mengajukan alat buktinya dengan sumpah lian. Bandingkan dengan ketentuan dalam Pasal 126 KHI bahwa lian terjadi apabila ada penolakan dari tertuduh

9. Larangan Mengawini Pezina


Q.S. An Nur (24): ayat 3:orang-orang mukmin dilarang menikah dengan orang yang berzina KHI Pasal 53: wanita hamil di luar nikah dapat dikawinkan dengan pria yang menghamilinya tanpa menunggu kelahiran anaknya dan tidak perlu melakukan perkawinan ulang setelah anaknya lahir.

9. Larangan Mengawini Pezina


HR Ahmad dan Abu Daud Dari Abu Hurairah ra ia berkata: Rasulullah saw bersabda Pezina laki-laki yang pernah didera hendaklah tidak kawin melainkan kepada perempuan sepertinya HR Abu Daud, Nasai, dan Tirmidzi Dari Amr bin Syuaib dari ayahnya dari datuknya, sesungguhnya Martsad bin Abi Martsad al-Ghunawi pernah membawa beberapa tawanan ke Makkah, sedang di Makkah (pada waktu itu) ada seorang pelacur bernama Anaq dan Anaq ini adalah teman Martsad. Martsad berkata: Kemudian aku menghadap Nabi saw, lalu aku bertanya, Ya Rasulullah, bagaimana kalau aku mengawini Anaq? Martsad berkata; Maka Nabi pun diam; Lalu turunlah ayat Dan perempuan pezina itu tidak (pantas) dikawini melainkan oleh laki-laki pezina atau laki-laki musyrik (QS 24: 3). Kemudian Nabi saw memanggilku, lalu ia membaca ayat tersebut kepadaku dan bersabda, Janganlah engkau mengawininya

Pernikahan antara Zani dan Zaniyah


Ibnu Taimiyyah dan mazhab Imam Ahmad berpendapat bahwa seorang perempuan pezina dilarang untuk dinikahi kecuali ia telah bertobat dan habis masa iddahnya Umar bin Khattab dalam ijtihadnya membolehkan laki-laki menikahi perempuan pezina yang telah bertobat

10. Larangan Perkawinan Dalam Masa Ihram


KHI Pasal 54 (1): Selama masih dalam keadaan ihram, tidak boleh melangsungkan perkawinan dan juga tidak boleh bertindak sebagai wali nikah. (2) Apabila terjadi perkawinan dalam keadaan ihram, atau wali nikahnya masih berada dalam ihram, maka perkawinannya tidak sah.

11. Larangan Kawin Mutah


Kawin mutah:perkawinan yang sejak semula telah direncanakan hanya dilakukan untuk sementara waktu Kebolehan melakukan Kawin Mutah: HR Muslim dari Saburah Al Juhani: Bahwa ia ikut berperang bersama Rasulullah saw pada saat penaklukan kota Mekah. Nabi saw memberi izin kepada mereka (yang ikut berperang) melakukan nikah mutah Larangan melakukan Kawin Mutah: HR Ibnu Majah: Bahwa Rasulullah saw mengharamkan mutah. Lalu Rasulullah bersabda: Wahai sekalian manusia, aku telah membolehkan kalian melakukan nikah mutah; ketahuilah! Sekarang Allah swt telah mengharamkannya sampai hari kiamat nanti.

11. Larangan Kawin Mutah


Diriwayatkan oleh Ibnu Majah dari Ibnu Umar ra ia berkata: Ketika Umar ra menjadi khalifah, beliau berpidato di depan khalayak Sesungguhnya Rasulullah saw mengizinkan kita tiga macam mutah, kemudian setelah itu beliau mengharamkannya. Demi Allah, kalau ada seseorang melakukan kawin mutah, sedangkan ia telah beristeri, pasti ia akan saya hukum rajam dengan batu, kecuali kalau ia bisa mendatangkan 4 orang saksi kepadaku yang semuanya menyatakan bahwa Rasulullah saw telah menghalalkannya lagi setelah beliau mengharamkannya. Golongan syiah masih membolehkan perkawinan mutah

Pasal 8 UU No. 1 Tahun 1974 Tentang Perkawinan


Perkawinan dilarang antara dua orang yang : a. Berhubungan darah dalam garus keturunan lurus kebawah ataupun ke atas b. Berhubungan darah dalam garis keturunan menyamping yaitu antara saudara, antara seorang dengan saudara orang tua dan antara seorang dengan saudara neneknya c. Berhubungan semenda, yaitu mertua, anak tiri, menantu ibu/bapak tiri. d. Berhubungan susuan, yaitu orang tua susuan, anak susuan, saudara susuan dan bibi/paman susuan; e. Berhubungan saudara dengan istri atau sebagai bibi atau kemenakan dari istri, dalam hal seorang suami beristri lebih dari seorang. f. Mempunyai hubungan yang oleh agamanya atau peraturan lain yang berlaku dilarang kawin.

Terima Kasih
Wassalam