Anda di halaman 1dari 10

ACARA V KONSISTENSI TANAH KUALITATIF

Abstraksi
Konsistensi tanah sangat penting dalam hal menentukan cara pengolahan tanah yang baik/jitu, penting bagi penetrasi akar tanaman di lapiasan bawah, dan kemampuan tanah menyimpan lengas. Oleh karena itu, pengujian konsistensi tanah kualitatif bertujuan untuk menetapkan konsistensi tanah dalam keadaan kering dan basah. Praktikum Dasar-Dasar Ilmu Tanah acara V yang berjudul Konsistensi Tanah Kualitatif dilakukan pada hari Senin, 20 April 2009 di Laboratorium Tnah Umum, Jurusan Tanah, Fakultas Pertanian, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta. Penetapan konsistensi dalam praktikum ini menggunakan metode cara kualitatif. Konsistensi basah dilakukan berdasarkan kelekatan dan plastisitas tanah yang diamati dalam keadaan basah atau berada diatas kapasitas lapang. Konsistensi kering diukur dengan cara memecahkan agregat tanah dalam keadaan kering dengan menggunakan ibu jaru dan telunjuk atu menggunakan tangan. Hasilnya menunjukkan bahwa urutan konsistensi basah tanah yang diuji dari yang sangat lekat ke yang tidak lekat adalah vertisol, rendzina, alfisol, ultisol, dan entisol. Sedangkan kurutan konsistensi kering tanah di yang paling keras ke yang adalah vertisol, rendzina, alfisol, ultisol, dan entisol. Dua faktor utama yang mempengaruhi konsistensi adalah kondisi kelengasan tanah (baik tanah kering dan basah) dan tekstur tanah (terutama kandungan lempung).

I.PENDAHULUAN A. Latar Belakang Konsistensi tanah merupakan salah satu sifat fisika tanah yang penting untuk dipahami. Konsistensi tanah diartikan sebagai bentuk kerja kakas (force) adhesi dan kohesi pada partikel-partikel tanah di berbagai tingkat kelengasan tanah. Bentuk kerja tersebut tercermin antara lain ketahanan tanah terhadap gaya tekanan, gaya gravitasi, dan tarikan, serta kecenderungan massa tanah untuk melekat satu dengan yang lain. Konsistensi berguna dalam menentukan cara pengelolaan tanah yang baik. Hal itu sangat penting bagi penetrasi akar tanaman dilapisan bawah dan kemampuan tanah menyimpan lengas Penentuan konsistensi tanah menggunakan 2 cara yaitu cara kualitatif (di lapangan) dan cara kuantitatif (di laboratorium) berdasarkan angka-angka atterberg yaitu Batas Cair (BC), Batas Gulung (BG), Batas Lekat (BL), dan Batas Berubah Warna (BBW). Penentuan konsistensi tanah ini sangat dipengaruhi oleh kelengasan

53

tanah (kering dan basah) dan tekstur tanah (terutama kandungan lempung). B. Tujuan 1. Menetapkan konsistensi tanah dalam keadaan basah. 2. Menetapkan konsistensi tanah dalam keadaan kering.

II.TINJAUAN PUSTAKA Konsistensi tanah ialah istilah yang berkaitan erat dengan kandungan air yang menunjukkan manifestasi gaya-gaya fisika yakni kohesi dan adesi yang berada di dalam tanah pada kandungan air yang berbeda-beda. Setiap materi tanah mempunyai konsistensi yang baik bila massa tanah itu besar atau kecil, dalam keadaan ilmiah ataupun sangat terganggu, terbentuk agregat atau tanpa struktur maupun dalam keadaan lembab atau kering. Sekalipun konsistensi tanah dan struktur berhubungan erat satu sama lain, struktur tanah menyangkut bentuk ukuran dan pendefinisian agregat alamiah yang merupakan hasil dari keragman gaya tarikan di dalam massa taanh. Sebaliknya, konsistensi meliputi corak dan kekuatan dari gaya-gaya tersebut ( Hakim, et.al. 1986). Konsistensi tanah menunjukkan kekuatan daya tahan atau daya adhesi butir tanah dengan benda lain. Hal ini ditunjukkan oleh daya tahan terhadap gaya akan mengubah bentuk atau gaya-gaya tersebut, misalnya pencangkulan, pembajakkan dan sebagainya. Tanah-tanah yang mempunyai konsistensi baik umumnya mudah diolah dan tidak melekat pada alat pengolah tanah olehkarena itu dapat ditemukan dalam keadaan lembab, basah atau kering, maka penyifatan konsistensi tanah harus disesuaikan dengan keadaan tanah tersebut. Dalam keadaan lembab konsistensi tanah dibedakan kedalam konsistensi gembur sampai tegas. Dalam keadaan kering tanah dibedakan keadaan konsistensi lunak sampai kering. Dalam keadaan basah dibedakan plastisitasnya yaitu dari tidak lekat sampai lekat (Hardjowigeno, 1989). Atterberg memberikan cara untuk menggambarkan batas konsistensi dari tanah berbutir halus dengan mempertimbangkan kandungan kadar airnya. Batasbatas tersebut adalah batas cair, batas plastis, dan batas susut. Tingkat plastisitas

tanah dibagi dalam 4 tingkatan berdasarkan nilai indeks plastisitasnya yang ada dalam selang antara 0 % dan 17 % (Anonim, 2006). Konsistensi digambarkan untuk tiga tingkat kelembaban : basah, lembab dan kering. Saat tanah tertentu dapat menjadi lekat bila basah, teguh bila lembab dan keras bila kering. Istilah-istilah tersebut digunakan untuk menggambarkan konsistensi termasuk (Foth, 1988): 1. Tanah basah : tidak lekat, lekat, tidak plastis, dan plastis. 2. Tanah lembab : mudah lepas, mudah pecah, dan teguh. 3. Tanah kering : lepas, halus, keras. Faktor-faktor 1. Kadar tanah 2. Bahan-bahan penyemen agregat tanah 3. Tingkat agregat 4. Bahan dan ukuran agregat tanah 5. Faktor-faktor penentu struktur tanah, yaitu: tekstur, macam lempung, kadar bahan organik. Cara menentukan konsistensi tanah ada dua, yaitu (Darmawijaya, 1992): 1. Di Lapangan Cara menentukan konsistensi tanah di Lapangan ialah dengan cara memijit tanah, dalam berbagai keadaan kandungan air seperti basah, lembab atau kering di antara ibu jari dan telunjuk. 2. Di Laboratorium Penentuan konsistensi tanah dikerjakan secaratidak langsung dengan menetapkan angka Atterberg. Penentuan batas cair tanah ini di lakukan di laboratorium terhadap contoh tanah yang diambil dari lapangan. Kegunaan hasil uji batas cair ini dapat diterapkan untuk menentukan konsistensi perilaku material dan sifatnya pada tanah kohesif, konsistensi tanah tergantung dari nilai batas cairnya. Disamping itu nilai batas cair ini dapat digunakan untuk menentukan nilai indeks plastisitas tanah yaitu nilai batas cair dikurangi dengan nilai batas plastis (Anonim, 2003). yang mempengaruhi konsistensi tanah ialah (Notohadiprawiro, 2000):

55

Batas-batas Atterberg atau batas-batas konsistensi tanah adalh persen berat kadar lengas tanah yang menandai terjadinya perubahan konsistensi secara nyata dan ditakrifkan jelas. Nilai-nilai ini terutama digunakan dalam pekerjaan rekayasa teknik, maupun secara terbatas juga digunakan dalm bidang pertanian (Euroconsult, 1989). Suatu hal yang penting pada tanah berbutir halus adalah plastisitasnya. Hal ini disebabkan adanya mineral lempung dalam tanah. Plastisitas adalah kemampuan tanah menyesuaikan perubahan bentuk pada volume konstan tanpa retak-retak atau remuk. Bergantung pada kadar air, tanah dapat berbentuk cair, plastis, semi padat, atau padat. Kedudukan fisik tanah berbutir halus pada kadar air tertentu disebut konsistensi (Wiqoyah, 2006). Kandungan bahan organik juga mempengaruhi terbentuknya struktur maupun konsistensi tanah di atas. Fungsi bahan organik tanah antara lain sebagai perekat butiran tanah. Berkurangnya kandungan bahan organik pada lapisan tanah bawah, menyebabkan sifat dari lempung menjadi lebih tampak. Lempung bersifat plastis dan lekat. Akibatnya konsistensi tanah pada lapisan bawah cenderung mempunyai konsistensi yang teguh pada kondisi lembab dan lekat pada kondisi basah (Wiyono, 2006).

III.METODOLOGI Praktikum dasar-dasar ilmu tanah IV yang berjudul Konsistensi Tanah Kualitatif dilaksanakan pada hari Senin, tanggal 20 April 2009 di Laboratorium Tanah Umum, Jurusan Tanah, Fakultas Pertanian, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta. Bahan yang digunakan dalam praktikum acara V ini adalah contoh tanah agregat tidak terusik (bongkah), contoh tanah kering udara ukuran 2 mm, dan air. Pada acara ini terdapat dua macam penetapan konsistensi tanah , yang pertama yaitu konsistensi kering dan yang kedua adalah konsistensi basah. Cara kerja pada konsistensi tanah adalah sebagai berikut :

A. Konsistensi Kering Tanah bongkah diletakkan antara ibu jari dan telunjuk. Jika tanpa ditekan sudah hancur, maka konsistensi lepas-lepas, jika sedikit ditekan hancur, lunak, bila ditekan kuat baru hancur, konsistensi kasar. Jika ditekan antara telapak tangan dengan ibu jari hancur, konsistensi keras. Jika tidak hancur konsistensi sangat keras. B. Konsistensi Basah Contoh tanah kering udara ukuran diameter 2mm diambil. Masing-masing tanah tersebut (entisol, rendzina, alfisol, ultisol, dan vertisol) dibasahi dengan aquadest dan dicampur hingga homogen. Kelekatan dan plastisitas dilakukan dengan menggunakan antara telunjuk dan ibu jari atau dengan ditempatkan ke benda lain. Diamati apakah tanah tersebut mudah lepas atau tidak.

IV.HASIL PENGAMATAN Tabel 10. Konsistensi Basah dan Konsistensi kering Tanah Jenis Tanah Konsistensi Basah Konsistensi Kering Entisol + Lunak Ultisol ++ Agak Keras Alfisol +++ Keras Rendzina ++++ Sangat Keras Vertisol +++++ Sangat Keras Keterangan: semakin banyak (+), semakin lekat dan mudah dibentuk

V.

PEMBAHASAN

Konsistensi merupakan sifat fisik tanah yang menunujukan derajat adhesi dan kohesi zarah-zarah pada berbagai tingkat kelengasan tanah. Sifat fisik yang ditunjukan oleh konsistensi berupa keteguhan (friability), keliatan (plasticity), dan kelekatan (stickness). Konsistensi tanah tergantung pada tekstur, sifat, jumlah 57

koloid-koloid organik dan anorganik, struktur, dan terutama kandungan air tanah. Berdasarkan hasil pengamatan diperoleh data bahwa tanah entisol memiliki konsistensi basah tidak begitu lekat dan sulit dibentuk, hal ini tergambar dari tanda +. Sedangkan konsistensi keringnya adalah lunak. Hal ini sesuai teori yang mengatakan bahwa tanah entisol bertekstur pasir, permeabilitas cepat, dan porositas yang besar. Tanah entisol memerluka jumlah air yang lebih besar dibandingkan tanah yang lain apabila digunakan untuk pengusahaan tanah sawah karena memiliki tekstur pasir geluhan yang menyebabkan daya lekat dan plastisitas yang paling minim dibandingkan dengan tanah yang lain. Tanah ultisol memiliki konsistensi tanah basah yang tidak begitu lekat dan sulit dibentuk, tidak jauh berbeda dengan tanah entisol, digambarkan dengan ++. Sedangkan konsistensi keringnya agak keras. Hal ini menggambarkan tanah ultisol baik konsistensi basah maupun kering kurang baik, pada kondisi kering pengerukan dan peretakan masih bisa dilakukan. Tanah alfisol memiliki konsistensi basah yang lumayan lekat dan mudah dibentuk, digambarkan dari tanda +++. Sedangkan konsistensi keringnya adalah keras. Hal ini sesuai teori yang mengatakan alfisol mempunyai sifat struktur yang kurang diinginkan karena memiliki kandungan lempung yang lebih rendah dalam horizon A. semakin tinggi kandungan lempung suatu tanah maka kelekatan dan plastisitas semakin tinggi. Tanah rendzina memiliki konsistensi lekat dan mudah dibentuk, ditandai dengan ++++, sedangkan konsistensi keringnya sangat keras. Tanah rendzina akan lebih lekat bila basah dan akan mengeras bila dalam keadaan kering. Rendzina merupakan tanah dengan perkembangan horizon permukaan kaya bahan organik yang mambentuk epipedon molik diatas bahan induk kapur. Tanah vertisol memiliki konsistensi basah sangat lekat dan mudah dibentuk, ditandai dengan +++++. Hal ini menandai bahwa tanah vertisol memiliki konsistensi basah paling baik dibanding jenis tanah lainnya. Antara teori dan hasil praktikum memiliki kesamaan, yaitu vertisol data diolah pada kisaran kelengasan jauh lebih rendah dari jenis tanah lainnya. Tetapi apabila basah tanah ini menjadi lunak dan lengket. Tanah vertisol biasanya mengkerut, retak, sehingga dapat

menimbulkan masalah jika dipakai untuk pondasi gedung, jalan raya, dan digunakan untuk lahan pertanian. Pada praktikum ini kita menggunakan metode pilinan dengan cara merasakan tekstur tanah tersebut sehingga dapat diketahui konsistensinya. Pada saat praktikum konsistensi tanah dibutuhkan sensitivitas yang baik untuk merasakan tekstur tanah yang tepat. Sedangkan pada konsistensi kering dibutuhkan tangan yang kuat, karena pada konsistensi kering digunakan cara penekanan antara jari ibu jari dan telunjuk. Beberapa manfaat konsistensi tanah di bidang pertanian yaitu untuk pengelolaan tanah, apakah tanah itu akan digunakan untuk lahan persawahan atau perladangan. Beberapa jenis tanah yang memiliki daya lekat dan tingkat plastisitas yang tinggi dapat digunakan untuk industry geraban dan kerajinan cinderamata lain yang bahan dasarnya tanah. Sifat konsistensi tanah memiliki hubungan yang erat dengan struktur tanah dan tekstur tanah. Hubungan ketiga sifat fisik tanah tersebut adalah suatu tanah dengan tekstur pasir maka akan mempunyai struktur butir tunggal dan sifat konsistensi lepas-lepas. Sebaliknya tanah bertekstur lempung akan mempunyai struktur gumpal, pejal, atau baji dan mempunyai konsistensi agak teguh-teguh (kering) dan plastis bila basah.

VI.KESIMPULAN 1. Urutan konsistensi basah tanah dari tingkat plastisitas dan daya lekat yang paling rendah ke yang tinggi adalah entisol-ultisol-alfisol-rendzina-vertisol. 2. Urutan konsistensi kering tanah dari yang paling lunak ke yang paling keras adalah entisol-ultisol-alfisol-rendzina-vertisol.

59

3. Semakin banyak kandungan lempung dalam tanah maka semakin tinggi konsistensi tanahnya, dan semakin banyak kandungan pasir dalam tanah semakin rendah konsistensi tanahnya.

DAFTAR PUSTAKA

Anonim. 2003. Konsistensi. <http://www.pu.go.id/balitbang/SNI/isisni>. Diakses tanggal 1 Oktober 2007.

53

Anonim. 2006. Konsistensi Tanah. <http://www.wikipedia.org>. Diakses tanggal 1 Oktober 2007. Darmawijaya. 1992. Klasifikasi Tanah Dasar Teori Bagi Peneliti Tanah dan Pelaksana Pertanian di Indonesia.Gadjah Mada University Press, Yogyakarta. Euroconsult.1989. Agriculture Amsterdam. Competition.Third Revised Edition.Elsevier,

Foth, H.D. 1988. Fundamentals of Soil Science (Dasar-dasar Ilmu Tanah, alih bahasa Endang D.P., Dwi R.L., dan Rahayunming T.). Gadjah Mada University Press, Yogyakarta. Hakim,N.M., Yusuf N.A., Lubis, Sutopo G. N., Amin D., Go B. H., dan Bailey. 1986. Dasar-Dasar Ilmu Tanah.Universitas Lampung, Lampung. Hardjowigeno,S. 1989. Ilmu Tanah. Universitas Gadajah Mada, Yogyakarta. Notohadiprawiro,T. 2000. Tanah dan Lingkungan. Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta. Wiqoyah, Q. 2006. Pengaruh kadar kapur, waktu perawatan dan perendaman terhadap kuat dukung tanah lempung. Dinamika Teknik Sipil 6: 16-24. Wiyono, A. Syamsul dan E. Hanudin. 2006. Aplikasi soil taxonomy pada tanahtanah yang berkembang dari bentukan karst gunung kidul. Jurnal Ilmu Tanah dan Lingkungan 6: 13-26.

53