Anda di halaman 1dari 27

URBANISASI DAN PEMERATAAN DESA-KOTA

Tugas Ini Dipresentasikan Pada Mata Kuliah Ekonomi Pembangunan 2 Dosen : Fahmi Wibawa, MBA

oleh : Nida Khofiya 109084000014 Hikmah Nur Azza 109084000042 Ibnu Syeh Fajar 106084003602 IESP 6A Pembangunan

JURUSAN ILMU EKONOMI STUDI PEMBANGUNAN FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA 2012
1

KATA PENGANTAR
Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh, Puji syukur kami panjatkan kepada Allah SWT., karena berkat rahmat-Nya penulis dapat menyelesaikan makalah yang berjudul Urbanisasi dan Pemerataan Desa-Kota ini tepat pada waktunya. Makalah ini dibuat berdasarkan hasil peninjauan melalui buku yang menunjang dan sumber-sumber dari internet yang membantu dalam menyusun makalah ini. Penulis mengucapkan terima kasih kepada Bapak Fahmi Wibawa atas bimbingan yang telah beliau berikan kepada kami dalam penyusunan materi. Tak lupa kami sampaikan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu dalam penyusunan makalah ini, yang namanya tidak bisa disebutkan satu persatu. Penulis menyadari sepenuhnya bahwa makalah ini jauh dari kesempurnaan. Oleh sebab itu, penulis berharap mendapat saran dan kritik konstruktif demi peningkatan kualitas dan penyempurnaan makalah ini. Semoga makalah ini dapat diterima dan kelak dapat bermanfaat bagi kita semua.

Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Jakarta, Mei 2012

Penulis

DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR............................................................................................................................ ........... 2 DAFTAR ISI ............................................................................................................................................ ..... 3 BAB I PENDAHULUAN A. B. C. Latar Belakang Ruang Lingkup Tujuan ..................................................................................................................... Masalah ....................................................................................................... 4 5 6

...............................................................................................................................

BAB II URBANISASI DAN PEMERATAAN DESA-KOTA A. Dilema Migrasi dan Urbanisasi ................................................................................................... 7 1) Migrasi................................................................................................................................... 7 2) Urbanisasi.............................................................................................................................. 8 B. Pemerataan Kota: Aglomerasi.................................................................................................. 12 1) Pertumbuhan Kota ......................................................................................................... 12

2) Awal Terbentuknya Kota ................................................................................................. 13 3) Apa yang Dimaksud Aglomerasi ........................................................................................ 13 4) Konsep Ekonomi Aglomerasi .......................................................................................... 15

5) Aglomerasi Ekonomi dan Manfaat yang Ditimbulkan......................................................... 15 C.

Masalah yang Ditimbulkan Kota Raksasa: Megapolitan .................................................. 10

Studi Kasus : Megapolitan Jabodetabekjur................................................................................. 19


BAB III PENUTUP A. B. Kesimpulan Saran ........................................................................................................................ 24

................................................................................................................................. 25

DAFTAR PUSTAKA ....................................................................................................................................... 27

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang


Adanya berbagai permasalahan di dalam pembangunan kota-kota di Indonesia, khususnya kota-kota menengah dan kota besar, terutama diakibatkan kurang dilibatkannya masyarakat di dalam proses pembangunan kota-kota dimaksud, sejak proses awal yaitu dari tahap perencanaan. Akibatnya hasil pembangunan di kota-kota menengah dan besar di Indonesia cenderung mengarah untuk menampung kebutuhan sebagian kecil kelompok masyarakat, yang rata-rata berpenghasilan tinggi dan menengah. Sebagian besar kelompok masyarakat berpenghasilan rendah tidak tertampung aspirasinya, pada perencanaan pembangunan kota dan perencanaan pembangunan kawasan. Kota-kota menengah dan besar di Indonesia saat ini menyajikan kondisi dilematik. Di satu sisi pertumbuhan dan pembangunan kota cukup pesat, namun di sisi lain mengakibatkan masyarakat berpenghasilan rendah tersingkir dan semakin miskin (marginal-society). Terjadinya kontradiksi ini akhirnya sering menimbulkan konflik sosial yang mengarah kepada pengrusakan sarana-prasarana fisik perkotaan dan sendi-sendi sosial antar kelompok masyarakat yang sebelumnya sudah cukup kuat dan terpelihara dengan baik. Terdapat berbagai definisi mengenai kota yang membedakan secara tegas tentang makna dan fungsi kota pada skala makro dan mikro. Secara makro kota merupakan bagian dari sistem kota global, dengan semua resiko dan manfaat yang terkandung, serta sebagai akibat globalisasi dari kehidupan masyarakat yang semakin mantap. Faham ini perlu dilengkapi dengan kejelasan mikro, yaitu : Kota merupakan sistem dari beragam sarana fisik dan non fisik yang diadakan oleh dan untuk warga masyarakat, serta untuk merangsang dan memfasilitasi aktivitas, serta kreativitas warga, dalam mewujudkan cita-cita politik, sosial, ekonomi, kebudayaan dan lingkungan hidupnya. Kota membuka dan memberi peluang yang sama bagi semua lapisan masyarakat dalam mencapai kehidupan yang sesuai dengan cita-citanya secara adil dan demokratis. Kota-kota di Indonesia berkembang pesat, dan direncanakan sesuai dengan standar kotakota lain di dunia, namun di sisi lain kota harus mampu mengedepankan kekhasan lokal, baik yang fisik maupun non-fisik dalam dimensi kemanusiaan yang alami. Pembangunan perkotaan di Indonesia memberikan berbagai dampak bagi masyarakat secara luas, baik yang bersifat positip, maupun yang negatif. Disadari bahwa pembangunan di kotakota besar dan menengah di Indonesia, yang dipenuhi oleh penduduk yang berurbanisasi dari desadesa memberikan banyak manfaat bagi Pemerintah, maupun bagi masyarakat. Manfaat dimaksud di antaranya dukungan terhadap Product Domestic Regional Bruto (PDRB) memberikan lapangan kerja yang luas bagi masyarakat, penyediaan sarana dan prasarana umum serta penyediaan sarana dan teknologi untuk peningkatan pengetahuan dan kepentingan warga masyarakat. Namun disadari banyak dampak negatif yang ditimbulkan pembangunan kota-kota tersebut, diakibatkan berbagai faktor, salah satu di antaranya kesalahan pendekatan penyusunan perencanaan pembangunan kota.

Urbanisasi merupakan salah satu bagian dari proses mobilitas penduduk yang menarik untuk diperbincangkan selain fertilitas dan mortalitas. Ketiga komponen ini selalu bekerja dalam setiap proses penduduk. Maraknya pembangunan di kota-kota besar di Indonesia dapat memacu pertumbuhan ekonomi. Sebagai dampaknya, kota-kota tersebut akan menjadi magnet bagi penduduk untuk berdatangan mencari pekerjaan dan bertempat tinggal. Hal ini sering disebut dengan urbanisasi. Namun urbanisasi ini menimbulkan berbagai macam masalah karena tidak ada pengendalian di dalamnya. Masalah ini lah yang dihadapi Negara Indonesia saat ini yaitu pertumbuhan konsentrasi penduduk yang tinggi. Lebih buruk lagi, hal ini tidak diikuti dengan kecepatan yang sebanding dengan perkembangan industrialisasi. Masalah ini akhirnya menimbulkan fenomena yaitu urbanisasi berlebih. Kasto, 2002 menjelaskan bahwa faktor ekonomi merupakan determinan mobilitas penduduk yang utama, yang berkaitan dengan kekuatan sentripetal dan sentrifugal di daerah asal. Kekuatan ini mempunyai daya dorong yang cukup besar dan sulit dibendung. Oleh karena itu migrasi desa kota (urbanisasi) selalu berkaitan dengan masalah kemiskinan dan pengangguran di perkotaan serta masalah perkembangan daerah pinggiran kota. Adanya urbanisasi yang berlebih ini telah menimbulkan berbagai masalah di Indonesia. Tidak hanya menimbulkan masalah di kota yang dituju namun juga menimbulkan masalah di desa yang ditinggalkan. Masalah yang terjadi kota antara lain yaitu meningkatnya angka kemiskinan sehingga pemukiman kumuhnya juga meningkat, peningkatan urban crime dan masih banyak masalah lain. Di desa juga akan timbul masalah diantaranya yakni berkurangnya sumber daya manusia karena penduduknya telah pergi ke kota, desa akhirnya tidak mengalami perkembangan yang nyata. Urbanisasi dipicu adanya perbedaan pertumbuhan atau ketidakmerataan fasilitas pembangunan, khususnya antara daerah pedesaan dan perkotaan. Akibatnya, wilayah perkotaan menjadi magnet menarik bagi kaum urban untuk mencari pekerjaan. Dengan demikian, urbanisasi sejatinya merupakan suatu proses perubahan yang wajar dalam upaya meningkatkan kesejahteraan penduduk atau masyarakat (Stark, 1991). Perkembangan urbanisasi di Indonesia sendiri perlu diamati secara serius. Banyak studi memperlihatkan bahwa tingkat konsentrasi penduduk di kota-kota besar di Indonesia telah berkembang dengan pesat. Studi yang dilakukan oleh Warner Ruts tahun 1987 menunjukkan bahwa jumlah kota-kota kecil (<100 ribu penduduk) sangat besar dibandingkan dengan kota menengah (500 ribu sampai 1 juta penduduk). Kondisi ini mengakibatkan perpindahan penduduk menuju kota besar cenderung tidak terkendali. Ada fenomena kota-kota besar akan selalu tumbuh dan berkembang, kemudian membentuk kota yang disebut kota-kota metropolitan. Salah satu kota yang telah mengalami hal ini adalah kota Jakarta sebagai ibu kita dari negara Indonesia sendiri. Dimulai sebagai kota besar kemudian berkembang menjadi kota metropolitan dan saat ini mengarah menjadi kota megapolitan.

B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas hal yang akan dibahas di sini adalah : 1. Mengetahui kondisi kependudukan Indonesia dalam perspektif migrasi dan urbanisasi 2. Mengetahui masalah yang timbul akibat aglomerasi 5

3. Mengetahui masalah yang ditimbulkan kota raksasa (megapolitan)

C. Tujuan
1. Menentukan kebijakan yang tepat untuk mengatasi masalah migrasi dan urbanisasi di Indonesia 2. Menentukan kebijakan yang tepat untuk mengatasi masalah yang ditimbulkan aglomerasi 3. Menentukan kebijakan yang tepat untuk mengatasi masalah yang ditimbulkan kota raksasa (megapolitan)

BAB II URBANISASI DAN PEMERATAAN DESA-KOTA A. Dilema Migrasi dan Urbanisasi


1) Migrasi
Migrasi adalah perpindahan penduduk dari suatu tempat ke tempat lain melampaui batas negara atau batas administrasi (batas bagian) suatu negara dengan tujuan menetap. Jenis Migrasi Migrasi dapat dibedakan menjadi dua. a. Migrasi Internasional (migrasi antar negara) Migrasi internasional adalah perpindahan penduduk dari satu negara ke negara lain. Migrasi internasional meliputi tiga hal. Imigrasi adalah masuknya penduduk ke suatu negara dari Negara lain dengan tujuan menetap di negara yang didatangi. Orang yang melakukan Imigrasi disebut imigran, contohnya orang Malaysia datang di Indonesia. Emigrasi adalah keluarnya penduduk dari suatu negara ke negara lain dengan tujuan menetap di negara yang dituju. Orang yang melakukan emigrasi disebut emigran, contohnya orang Indonesia pindah ke Mesir. Remigrasi atau repatriasi adalah perpindahan penduduk yang kembali ke tanah airya (negara asalnya). b. Migrasi Nasional (migrasi intern) Migrasi nasional atau migrasi lokal adalah perpindahan penduduk dari suatu daerah ke daerah lain dalam satu wilayah negara. Pola migrasi nasional adalah sebagai berikut. Urbanisasi adalah perpindahan penduduk dari desa ke kota atau dari kota kecil ke kota besar. Transmigrasi adalah perpindahan penduduk dari provinsi atau pulau yang padat penduduknya ke provinsi atau pulau lain yang jarang penduduknya dalam satu wilayah negara. Ruralisasi adalah perpindahan penduduk dari kota ke desa untuk menetap di desa. Biasanya dilakukan oleh penduduk kota yang pulang kembali ke desanya.

Indikator-indikator Pembangunan Jumlah penduduk 2005 (dalam ribuan) Tingkat pertumbuhan penduduk 2005 (%) Tingkat pertumbuhan penduduk berusia 15-39 tahun 2000-2005 (%) Tingkat kesuburan total 2005 Persentase perkotaan 2005 Tingkat migrasi bersih di tahun 2005 (per 1000) Produk Domestik Bruto per kapita 2005 (dalam AS$ 2000)
Sumber: Organisasi Internasional untuk Migrasi (IOM)

226.063 1,24 1,06 2,28 48,1 -0,9 942

Kecuali perpindahan penduduk di atas masih ada lagi perpindahan penduduk dari suatu tempat ke tempat lain, baik bersifat nasional maupun internasional, yaitu evakuasi. Evakuasi adalah perpindahan penduduk untuk menghindari bahaya yang mengancam, misalnya bencana alam dan perang. Contoh evakuasi yang bersifat nasional ialah perpindahan penduduk di daerah Gunung Merapi, Yogyakarta. Contoh evakuasi yang bersifat internasional ialah perpindahan penduduk Palestina ke Saudi Arabia dan penduduk Kuwait ke Saudi Arabia karena perang. Jadi, pola mobilitas penduduk yang ada di Indonesia dapat dibedakan menjadi dua, mobilitas permanen (migrasi) yang meliputi urbanisasi, transmigrasi, ruralisasi, dan mobilitas tidak permanen atau mobilitas sirkuler yang meliputi mobilitas ulang-alik (harian) dan mobilitas bermusim.
Gambar 1. Skema Perpindahan Migrasi Internasional dan Nasional

2) Urbanisasi
Urbanisasi adalah perpindahan penduduk dari desa ke kota atau dari kota kecil ke kota besar. Orang yang melakukan urbanisasi disebut urban. Contohnya orang-orang dari daerah pedesaan pergi ke kota-kota besar seperti Jakarta, Yogyakarta, Surabaya, Semarang, dan Bandung. Faktor Penyebab Perpindahan penduduk dari desa ke kota disebabkan oleh adanya beberapa faktor yang secara garis besarnya dikelompokkan menjadi dua, yaitu faktor pendorong dari desa (daya tolak desa) dan faktor penarik dari kota (daya tarik kota). 1. Faktor pendorong dari desa

- Pemilikan tanah di desa semakin sempit sebagai akibat pertambahan penduduk yang cepat sehingga pendapatan rendah. Kesempatan kerja atau lapangan kerja di desa terbatas. - Upah tenaga kerja rendah. - Kurangnya fasilitas-fasilitas di desa, penerangan, dan hiburan. 2. Faktor penarik dari kota - Kesempatan kerja di kota lebih banyak, misalnya di sektor industri, perdagangan, bidang jasa, dan sebagainya. - Upah tenaga kerja lebih tinggi. - Kota memiliki kemudahan fasilitas, misalnya hiburan, penerangan, dan transportasi. - Kota sebagai pusat pemerintahan, teknologi, dan sebagainya. fasilitas pendidikan, kesehatan, ilmu pengetahuan dan misalnya fasilitas pendidikan, kesehatan,

perdagangan,

Akibat Urbanisasi Urbanisasi akan menimbulkan akibat, baik di daerah pedesaan yang ditinggalkan maupun di kota yang dituju. Akibat daridanya urbanisasi adalah sebagai berikut. 1. Akibat negatif urbanisasi yang terjadi di desa antara lain : - Terjadi kekurangan tenaga muda kota untuk mencari pekerjaan, karena pemuda banyak yang pindah ke

- Sulit mencari tenaga terdidik sebagai tenaga penggerak pembangunan sebab mereka yang mempunyai pendidikan cukup tinggi tidak mau pulangke desanya, sedangkan yang tinggal di desa sebagian besar hanyalah anak-anak dan orang tua, - Terhambatnya pembangunan di desa, - Produktivitas pertanian dan sumber-sumber penghasilan di daerah pedesaan makin menurun sebab kekurangan tenaga pengelola. 2. Akibat negatif urbanisasi yang terjadi di kota antara lain : - Di bidang kependudukan, semakin meningkatnya kepadatan penduduk di kota, - Di bidang ekonomi, akibat kurangnya keterampilan yang dimiliki oleh para urban sehingga meningkatnya pekerja kasar di kota, penghidupan semakin sulit, kesempatan kerja semakin sempit, dan jumlah pengangguran meningkat, - Di bidang sosial, perumahan makin sulit diperoleh sehingga timbul golongan tunawisma (gelandangan), gubuk-gubuk liar, daerah pemukiman kumuh atau slum area, dan lingkungan kota menjadi kotor, - Di bidang transportasi, sering terjadi kemacetan lalu lintas terutama dijalan-jalan besar, meningkatnya kecelakaan lalu lintas, jumlah transportasi umum tidak mencukupi jumlah penumpang,

- Di bidang keamanan, meningkatnya angka kejahatan, seperti pencopetan, penodongan, pencurian, penipuan, dan perampokan.

Meskipun urbanisasi banyak membawa positifnya. Akibat positif urbanisasi bagi desa :

akibat

negatif,

ada

juga akibat

- Mengurangi pengangguran di pedesaan, Mengurangi kepadatan pendudukdi desa, - Tertanamnya sifat dinamis masyarakat desa akibat pengaruh dan urban yang pulang ke desa, sehingga menunjang pembangunan desa. Akibat positif urbanisasi bagi kota adalah dapat memperoleh tenaga kerja yang murah untuk pembangunan, terutama tenaga kerja kasar.

Penduduk dunia makin lama semakin banyak yang tinggal di kota, PBB melaporkan bahwa hampir separuh penduduk dunia tinggal di wilayah perkotaan (UN, 1998:2). Laporan ini juga menyajikan proyeksi yang menarik. Pertama, begitu melewati milenium baru, untuk pertama kali dalam sejarah umat manusia, penduduk perkotaan akan melampaui jumlah penduduk yang tinggal di pedesaan. Kedua, pada tahun 2030 diperkirakan 3 dari 5 penduduk dunia akan tinggal di wilayah perkotaan, baik kota kecil, kota besar maupun kota metropolitan. Beberapa pakar sependapat bahwa dasawarsa terakhir abad ke-20 akan menjadi saksi apakah penduduk perkotaan melebihi penduduk perdesaan untuk pertama kalinya dalam sejarah (Clark, 1996). Kendati fenomena ini amat monumental, kejadian historis ini relatif kurang mendapat perhatian. Tingkat urbanisasi di negara-negara Asia Tenggara lebih tinggi dibanding negara-negara Asia lainnya. Selama empat dasawarsa terakhir, tingkat urbanisasi yang diukur dengan persentase penduduk yang tinggal di daerah perkotaan meningkat hampir dua kali lipat di negara-negara ASEAN (Tabel 1). Pada tahun 1960, tingkat urbanisasi di negara-negara ASEAN sebesar 20 persen, sedikit di bawah negara-negara Asia lainnya. Pada tahun 1985, hampir semua negara-negara ASEAN memiliki tingkat urbanisasi yang jauh lebih tinggi dibanding rata-rata negara Asia. Kendati demikian, pada skala global, tingkat urbanisasi di negara-negara ASEAN masih tergolong rendah. Ini terbukti dari tingkat urbanisasi dunia pada tahun 1960 dan 1995 masing-masing sebesar 34 persen dan 45 persen, yang lebih tinggi daripada rata-rata tingkat urbanisasi ASEAN. Industrialisasi telah menjadi kekuatan utama (driving force) di balik urbanisasi yang cepat di kawasan Asia sejak dasawarsa 1980-an. Kecuali dalam kasus industri berbasis sumberdaya (resourcebased industries), industri manufaktur cenderung berlokasi di dalam dan di sekitar kota. Pertanian dan industri berdampingan, bahkan kadang berebut lahan, di seputar pusat-pusat kota, yang pada gilirannya semakin mengaburkan perbedaan baku antara desa dan kota (McGee, 1991). Industri cenderung beraglomerasi di daerah-daerah di mana potensi dan kemampuan daerah tersebut memenuhi kebutuhan mereka, dan mereka mendapat manfaat akibat lokasi perusahaan yang saling berdekatan. Kota umumnya menawarkan berbagai kelebihan dalam bentuk produktifitas dan pendapatan yang lebih tinggi, yang menarik investasi baru, teknologi baru, pekerja terdidik dan terampil dalam jumlah yang jauh lebih tinggi dibanding perdesaan (Malecki, 1991)

10

Tabel 1. Urbanisasi di Negara ASEAN, 1995 dan 1960

Negara Thailand Indonesia Philippines Malaysia Brunei Cambodia Laos Vietnam ASEAN Asia World
1

Tingkat Urbanisasi (%) 1995 1960 20.0 12.5 35.4 14.6 54.0 30.3 53.6 26.6 69.2 43.4 20.4 10.3 20.7 7.9 19.4 14.7 36.6 20.0 34.7 45.3 20.8 33.6

Tidak termasuk Singapura karena merupakan negara kota dengan 100% penduduk tinggal di kawasan perkotaan.

Oleh karena itu, dapat dimengerti apabila aglomerasi (agglomeration), baik aktifitas ekonomi maupun penduduk di perkotaan, menjadi isu sentral dalam literatur geografi ekonomi (Krugman, 1998), strategi bisnis dan peningkatan daya saing nasional (Porter, 1998a; Porter, 1998b), dan studi-studi regional (Maskell, et al. 1997; Scott & Storper, 1992). Ini disebabkan karena pertanyaan mengapa (why) industri manufaktur cenderung memilih berlokasi di dalam dan di sekitar kota-kota utama belum terjawab dengan memuaskan. Kita masih belum memahami seberapa jauh dan menyebarnya fenomena aglomerasi antar daerah, kota, dan industri. Ada beberapa motivasi yang bersifat umum yang mendorong terjadinya Urbanisasi, yaitu: Motivasi Ekonomi Dalam motivasi ini tercakup keinginan untuk mencari nafkah, meningkatkan pendapatan atau memperbaiki standar hidup; mencari uang kontan untuk kebutuhan hidup dan lain-lain. Motivasi Pendidikan Di dalamnya tercakup keinginan untuk meningkatkan pengetahuan, pengembangan bakat, dan lain-lain. Motivasi Kultural Di dalamnya tercakup dorongan untuk menghindar diri dari norma-norma dan nilai-nilai budaya yang tidak dipandang lagi sesuai dengan perkembangan kemajuan. Motivasi Politik Di dalamnya tercakup desakan-desakan dari mereka untuk yang berkuasa; adanya ketidakpuasan terhadap golongan yang memerintah, tapi tidak mampu untuk menentang, dan lain-lain 11

Motivasi Hukum Tercakup di dalamnya ialah penghindar diri dari tuntutan hukum karena adanya pelanggaran, dan lain-lain.

Motivasi rekreasi Meskipun bersifat sementara, tapi pergi datangnya penduduk pedesaan ke kota-kota untuk berekreasi, dapat menimbulkan masalah kepadatan penduduk, lalu lintas, dan sebagainya. Urbanisasi diartikan sebagai suatu proses berpindahnya bagian yang semakin besar

penduduk di suatu negara untuk bermukim di pusat-pusat perkotaan. Namun, pengertian urbanisasi itu dapat di rinci ke dalam pengertian-pengertian berikut : 1. 2. 3. 4. Arus perpindahan penduduk dari desa ke kota; Bertambah besarnya jumlah tenaga kerja non-agraris di sektor industri dan sektor tersier; Tumbuhnya pemukiman menjadi kota; Meluasnya pengaruh kota di daerah-daerah pedesaan dalam segi ekonomi, sosial, budaya, dan psikologi.

B. Peranan Kota: Aglomerasi


1) Pertumbuhan Perkotaan Pertunbuhan kota- kota ternyata meliputi berbagai faktor yang lebih kompleks daripada sekadar penghematan aglomerasi. Teori skala kota yang optimal (theories of optimum city size) yang dikaji ulang oleh Fujita & Thisse (1996), menggambarkan ekuilibrium konfigurasi spasial aktivitas ekonomi sebagai hasil tarik menarik antara kekuatan sentripetal dan sentrifugal. Kekuatan Sentripetal yang ditunjukkan oleh penghematan aglomerasi adalah semua kekuatan yang menarik aktivitas ekonomi ke daerah perkotaan. Kekuatan sentrifugal adalah kebalikan dari kekuatan sentripetal yaitu kekuatan dispersi. Ini diperlihatkan oleh adanya kenaikan upah tenaga kerja yang terampil ataupun kasar serta kenaikan gaji manajer yang mendorong perusahan memilih lokasi di luar pusat kota. Pertumbuhan kota juga cenderung meningkatkan harga tanah secara rill karena jumlahnya tidak bertambah. Pendekatan yang lebih luas dipelopori oleh Paul Krugmanm yang nyarus sendirian memproklamasikan paradigma Geografi Ekonomi Baru (New Economic Geography) (Krugman, 1995; 1998). Krugman, mahaguru MIT ini menempatkan aglomerasi perkotaan sebagai pusat perhatian. Kendati banyak menggunakan kerangka sistem perkotaan ala Neo-Klasik, Krugman telah membuka misteri penghematan eksternal dan memasukkan dimensi spasial serta semangat Proses kausalitas kumulatif dalam mendeskripsikan perkembangan perkotaan dan daerah. Ia menyoroti adanya empat hal yang secara empiris tidak berubah mengenai konsentrasi perkotaan ( Krugman, 1996: 123).

12

Pertama, pendapatan perkapita berhubungan negatif dengan konsentrasi perkotaan. Kedua, konsentrasi penduduk di perkotaan berkorelasi dengan konsentrasi kekuasaan politis. Ketiga, infrastruktur transportasi memiliki dampak penting terhadap konsentrasi perkotaan. Yang terakhir, semakin terbuka suatu perekonomian, sebagaimana diukur dengan pangsa ekspor terhadap PDB, cenderung memiliki kota kota utama yang lebih kecil dibanding perekonomian yang tidak memiliki perdagangan sebesar itu. 2) Awal Terbentuknya Kota Ada beberapa hal yang melatarbelakangi terbentuknya sebuah kota. Pertama, sebuah kota dapat terbentuk di suatu wilayah yang memiliki sumber daya alam yang kaya. Sebagai contoh, kita dapat melihat kegemilangan Kuala Lumpur di negeri jiran yang dahulu merupakan kawasan pertambangan. Kedua, wilayah yang menjadimedian location atau tempat transit juga bisa berkembang menjadi sebuah kota. Kota-kota seperti ini biasanya dibangun di kawasan pelabuhan di mana terjadi pergantian moda transportasi dalam pengangkutan barang (dari kapal ke truk) atau yang bisa disebut sebagai transitment point. Ketiga, sebuah kota bisa pula dibuat atau didesain langsung oleh pemangku kebijakan. Misalnya saja, Bandung, Bogor, dan Malang yang sengaja dibuat oleh pemerintah kolonial Belanda sebagai kota peristirahatan karena memiliki udara yang dingin. Ada pula kota Palangkaraya yang menjadi satu-satunya kota yang dibangun setelah Indonesia merdeka di tengah-tengah belantara Kalimantan. 3) Apa yang Dimaksud Aglomerasi? Montgomery mendefinisikan aglomerasi sebagai konsentrasi spasial dari aktifitas ekonomi di kawasan perkotaan karena penghematan akibat lokasi yang berdekatan (economies of proximity) yang diasosasikan dengan kluster spasial dari perusahaan, para pekerja, dan konsumen (Montgomery, 1988). Ini senada dengan Markusen (1996) yang menyatakan bahwa aglomerasi merupakan suatu lokasi yang tidak mudah berubah akibat adanya penghematan eksternal yang terbuka bagi semua perusahaan yang letaknya berdekatan dengan perusahaan lain dan penyedia jasa-jasa; dan bukan akibat kalkulasi perusahaan atau para pekerja secara individual. Ia menulis bahwa aglomerasi menunjukkan: the stickiness of a place resides not in the individual locational calculus of firms or workers, but in the external economies available to each firm from its spatial conjunction with other firms and suppliers of services (Markusen, 1996). Dari kutipan-kutipan definisi di atas dapat ditarik benang merah bahwa suatu aglomerasi tidak lebih dari sekumpulan kluster industri. Namun suatu kluster, atau superkluster di Brazil, atau bahkan kumpulan kluster tidak dapat diidentikkan dengan suatu kota. Nama-nama populer seperti Silicon Valley di AS atau Sinos Valley di Brazil menunjukkan bentuk-bentuk geografis yang berbeda, demikian juga literatur kluster industri seperti Emilia-Romagna di Italia. Perkembangan konsep dan pemikiran mengenai aglomerasi dapat dirangkum dalam Gambar 2. Gambar ini memperlihatkan bahwa setiap studi atau teori mengenai aglomerasi dapat digolongkan dalam perspektif klasik atau moderen (Kuncoro, 2002: bab 2). Perspektif klasik percaya bahwa aglomerasi merupakan suatu bentuk spasial dan diasosiasikan dengan konsep penghematan akibat aglomerasi (economies of agglomeration) melalui konsep eksternalitas. Para pendukung 13

perspektif ini telah meletakkan dasar-dasar model mikro mengenai eksternalitas akibat skala ekonomis (Fujita & Ogawa, 1982; Fujita & Thisse, 1996). Belakangan, jalur pemikiran ini ditindaklanjuti dengan berbagai studi empiris yang mencoba menganalisis dan mengestimasi besarnya skala ekonomis, sebagaimana terlihat dari karya Gelder (1994), Henderson (1988), dan Sveikauskas (1975). Sementara itu, para ahli ekonomi perkotaan mendefinisikan kota sebagai hasil dari produksi aglomerasi secara spasial. Ini pada gilirannya mendorong tumbuhnya literatur mengenai formasi kota. Perspektif moderen menunjukkan beberapa kelemahan teori Klasik mengenai aglomerasi. Pada konteks ini, tiga jalur pemikiran dapat diidentifikasi. Pertama, teori-teori baru mengenai eksternalitas dinamis (dynamic externalities). Kedua, mazab pertumbuhan perkotaan. Ketiga, paradigma berbasis biaya transaksi.
Gambar 2. Perkembangan Konsep dan Pemikiran Mengenai Aglomerasi

Dalam menjelaskan fenomena aglomerasi, banyak ekonom mendefinisikan kota sebagai hasil dari proses produksi aglomerasi secara spasial. Dalam khasanah studi perkotaan yang secara intensif dilakukan oleh para ekonom agaknya dapat diidentifikasi empat periode evolusi pemikiran (Quigley, 1998: 127-9). Pada perode pertama, yaitu beberapa dasawarsa setelah Perang Dunia I, fokus analisis adalah pada faktor-faktor yang mempengaruhi lokasi perusahaan dan rumah tangga dalam suatu kota. Pada periode kedua, yang dimulai pada pertengahan dasawarsa 1960-an, kebanyakan studi memformalkan model yang mencoba menjelaskan daya tarik lokasi kawasan perkotaan. Periode ketiga muncul dari analisis yang intensif mengenai kota-kota utama di AS (misalnya, New York) dan memperkenalkan konsep eksternalitas, yang muncul akibat skala 14

ekonomis. Saat ini, kita berada dalam pertengahan periode keempat dalam mencoba memahami perekonomian kota. Pada periode ini, kota digunakan untuk menganalisis hakekat dan sebab-sebab pertumbuhan ekonomi. Kebanyakan analisis aglomerasi secara implisit mengasumsikan bahwa formasi dan perkembangan kota dapat dipahami bila mekanisme konsentrasi produksi secara spasial telah dimengerti dengan benar. 4) Konsep Ekonomi Aglomerasi (Agglomeration Economies) Dalam konteks ekonomi geografi, konsep aglomerasi berkaitan dengan konsentrasi spasial dari penduduk dan kegiatan-kegiatan ekonomi (Malmberg dan Maskell, 2001). Hal ini sejalan dengan apa yang dikemukakan oleh Montgomery dalam Kuncoro (2002) bahwa aglomerasi adalah konsentrasi spasial dari aktivitas ekonomi di kawasan perkotaan karena 3 penghematan akibat lokasi yang berdekatan (economies of proximity) yang diasosiasikan dengan kluster spasial dari perusahaan, para pekerja dan konsumen. Keuntungan-keuntungan dari konsentrasi spasial sebagai akibat dari ekonomi skala (scale economies) disebut dengan ekonomi aglomerasi (agglomeration economies). (Mills dan Hamilton, 1989). Pengertian ekonomi aglomerasi juga berkaitan dengan eksternalitas kedekatan geografis dari kegiatan-kegiatan ekonomi, bahwa ekonomi aglomerasi merupakan suatu bentuk dari eksternalitas positif dalam produksi yang merupakan salah satu faktor yang menyebabkan terjadinya pertumbuhan kota. (Bradley and Gans, 1996). Ekonomi aglomerasi diartikan sebagai penurunan biaya produksi karena kegiatan-kegiatan ekonomi berlokasi pada tempat yang sama. Gagasan ini merupakan sumbangan pemikiran Alfred Marshall yang menggunakan istilah localized industry sebagai pengganti dari istilah ekonomi aglomerasi. Ahli ekonomi Hoover juga membuat klasifikasi ekonomi aglomerasi menjadi 3 jenis (Isard, 1979) yaitu large scale economies merupakan keuntungan yang diperoleh perusahaan karena membesarnya skala produksi perusahaan tersebut pada suatu lokasi, localization economiesmerupakan keuntungan yang diperoleh bagi semua perusahaan dalam industri yang sama dalam suatu lokasi dan urbanization economies merupakan keuntungan bagi semua industri pada suatu lokasi yang sama sebagai konsekuensi membesarnya skala ekonomi (penduduk, pendapatan, output atau kemakmuran) dari lokasi tersebut. 5) Aglomerasi Ekonomi dan Manfaat Yang Ditimbulkan Suatu kota terbentuk karena adanya pengumpulan orang dan aktivitas ekonomi di suatu tempat atau yang biasa disebut dengan istilah aglomerasi ekonomi, yaitu berkumpulnya aktivitasaktivitas ekonomi di lokasi yang sama untuk menghasilkan manfaat ekonomi yang pada akhirnya mendorong perusahaan-perusahaan untuk membentuk kluster. Manfaat-manfaat yang didapatkan perusahaan dari aglomerasi, antara lain: Economies of scale, biaya produksi per unit barang menjadi lebih murah jika memproduksi dalam skala besar karena adanya indvisible input. Sharing labor pool, biaya pencarian tenaga kerja menjadi murah, misalnya: di Jakarta yang banyak terdapat stasiun televisi, perusahaan akan mudah mencari pekerja di bidang pertelevisian sehingga biaya pencarian tenaga kerja menjadi murah, sedangkan di

15

Palangkaraya akan susah untuk mencari tenaga kerja di bidang pertelevisian sehingga biaya pencarian tenaga kerja menjadi lebih mahal. Labor matching, adanya kecocokan antara kebutuhan skill tenaga kerja yang dibutuhkan perusahaan dengan skill yang dimiliki tenaga kerja yang tersedia sehingga perusahaan tidak perlu mengeluarkan biaya untuk training tenaga kerja. Apabila tingkat labor matching rendah (dengan kata lain skill yang dibutuhkan tidak cocok dengan skill tenaga kerja yang tersedia) maka perusahaan harus mengadakan training dengan biaya yang tidak sedikit. Perusahaan bisa mengalami kerugian berarti jika tenaga kerja yang telah selesai menjalani training memilih untuk keluar atau pindah kerja (pembajakan tenaga kerja). Knowledge spillover, adanya efek limpahan pengetahuan yang akan menguntungkan perusahaan. Fenomena ini juga muncul ketika adanya foreign direct investment (FDI), contohnya: masuknya waralaba siap saji asing di Indonesia menimbulkan knowledge spillover yang menyebabkan menjamurnya penjual fried chicken dan hamburger.

Selain manfaat, kluster juga menimbulkan biaya bagi perusahaan, yaitu: Biaya oportunitas karena perusahaan harus membagi pasar dengan pesaing (tidak memiliki pasar eksklusif) sehingga dapat menurunkan penjualan. Perusahaan tidak bisa memperoleh profit margin yang besar. Biaya perusahaan untuk pindah ke kluster mahal.

Akan tetapi, benefit dari kluster hampir selalu lebih besar daripada biaya yang harus dikeluarkan. Ada dua jenis aglomerasi ekonomi, yaitu: Localization economies, berkumpulnya industri karena alasan-alasan produksi yang akan menurunkan biaya produksi dan memudahkan proses produksi. Urbanization economies, berkumpulnya industri mendekati pasar yang besar di daerah perkotaan. Kegiatan aglomerasi ini pada akhirnya akan berpengaruh pada urban size. Besarnya ukuran urban size akan memberikan manfaat-manfaat, antara lain: join labor supply, learning opportunity, dan social opportunity. Sejak diundangkannya Undang-undang No.24 tahun 1999 tentang Penataan Ruang (selanjutnya disebut UUPR), maka secara formil yuridis telah diberikan pedoman bagi Penataan Ruang yang harus dilaksanakan. Ada 3 aspek utama dari Penataan Ruang yang harus di capai, yaitu aspek perencanaan, pemanfaatan ruang dan pengendalian pemanfaatan ruang. Berbagai penelitian mengenai perkembangan dan pertumbuhan kota umumnya sampai pada kesimpulan bahwa perubahan-perubahan yang terjadi di dalam suatu kota atau pun daerah perdesaan adalah karena ledakan penduduk. Khususnya di daerah perkotaan pertambahan penduduk tersebut disebabkan oleh meningkatnya jumlah kelahiran dan ditambah dengan penduduk pendatang dari daerah pedesaan di sekitarnya atau pun dari kota-kota lain yang lebih kecil.

16

Sebenarnya banyak sekali faktor yang memberikan kontribusinya kepada permasalahan besar dari suatu kota, tetapi jelas bahwa faktor penduduk ini merupakan faktor utama.1[9] Sebagaimana halnya yang terjadi di negara-negara yang sedang berkembang di mana kota-kota besarnya mengalami ledakan jumlah penduduk. Daerah Khusus Ibukota Jakarta (selanjutnya akan disebut sebagai DKI Jakarta) sebagai kota terbesar di Indonesia karena kedudukannya secara administratif adalah Ibukota Negara, pun tidak dapat terhindar dari permasalahan ini. Urbanisasi adalah salah satu faktor yang mengakibatkan terjadinya ledakan penduduk di Jakarta. Berbeda dengan pendapat para ahli ekonomi yang lain, OSullivan (1996) membagi ekonomi aglomerasi menjadi dua jenis yaitu ekonomi lokalisasi dan ekonomi urbanisasi. Dalam hal ini yang dimaksud dengan ekonomi aglomerasi adalah eksternalitas positif dalam produksi yaitu menurunnya biaya produksi sebagian besar perusahaan sebagai akibat dari produksi perusahaan lain meningkat.

C. Masalah yang Ditimbulkan Kota Raksasa: Megapolitan


Penganut metropolitanis berpandangan bahwa kota kota di abad ke-20 mampu dikelola. Sementara itu, paham regionalis berpandangan bahwa daripada hanya mengelola kota metropolis yang cenderung berpusat pada satu titik (monosentris), lebih baik jika diarahkann pada jalinan antarkota metropolitan dan metropolitann dalam wilayah luas (kawasan urban). PBB mengkategorisasikan bahwa sebuah kota dinyatakan megapolitan jika jumlah populasinya melampaui 8 juta jiwa. Sementara itu, Asia Development Bank (ADB) menetapkan 10 juta jiwa sebagai patokan sebuah kota dapat dikatakan sebagai megacity. Konsep megapolitan dilihat sebagai upaya pengelolaan kota yang lebih baik untuk melayani sejumlah besar populasi penduduknya yang beraktivitas, bekerja, dan bertempat tinggal di wilayah tersebut. Dengan demikian, konsep megapolitan bersifat multidisiplin, mencakup berbagai aspek, yakni ekonomi, politik, fisik lingkungan hidup, transportasi, sosial budaya dan aspek aspek turunannya. Definisi Umum Metropolitan Lang (2002) mendefinisikan megapolitan sebagai :

1. Wilayah yang menggabungkan dua atau lebih daerah metropolitan atau mikropolitan dengan total penduduk melebihi 10 juta jiwa; 2. Wilayah yang digabung ke dalam metropolitan ataupun mikropolitan yang bersebelahan satu sama lain; 3. Memiliki kesatuan budaya 4. Berada di lingkungan alam fisik yang sama; 5. Ada infrastruktur transportasi yang menggabungkan daerah daerah tersebut ditandai dengan aktivitas lalu lintas barang barang ekonomi dan jasa.

17

UNDP (2008) mendefinisikan megapolitan sebagai suatu daerah yang didalamnya terdapat suatu daerah pemerintahan yang paling maju dan beberapa entitas pemerintahan daerah yang lebih kecil bersatu padu secara harmonis untuk melakukan pembangunan berkelanjutan melalui satu pola perencanaan jangka panjang yang dibuat oleh otoritas yang ditunjuk oleh pemerintah.
Berdasarkan uraian di atas dan praktek dalam pengelolaan perkotaan, metropolitan didefinisikan sebagai suatu pusat permukiman yang besar yang terdiri dari satu kota besar dan beberapa kawasan yang berada di sekitarnya dengan satu atau lebih kota besar melayani sebagai titik hubung (hub) dengan kota-kota sekitarnya tersebut. Suatu kawasan metropolitan merupakan aglomerasi dari beberapa kawasan permukiman, tidak harus kawasan permukiman yang bersifat kota, namun secara keseluruhan membentuk suatu satu kesatuan dalam aktivitas bersifat kota dan bermuara pada pusat (kota besar yang merupakan inti) yang dapat dilihat dari aliran tenaga kerja dan aktivitas komersial. Menurut Goheen (dalam Bourne, ed. 1971), Kota/Distrik Metropolitan adalah kawasan perkotaan dengan karakteristik penduduk yang menonjol dibandingkan dengan penduduk perdesaan di sekitarnya. Istilah ini digunakan untuk memberikan gambaran yang lebih tepat mengenai besaran dan konsentrasi penduduk dalam wilayah yang luas, yang selanjutnya dapat menunjukkan besaran pusat-pusat permukiman yang utama di satu negara. Secara umum, kawasan metropolitan dapat didefinisikan sebagai satu kawasan dengan konsentrasi penduduk yang besar, dengan kesatuan ekonomi dan sosial yang terpadu dan mencirikan aktivitas kota Beberapa ciri metropolitan dapat dilihat dari kependudukan dan aspek lain sebagaimana dijelaskan di bawah ini : Kependudukan Jumlah penduduk merupakan salah satu karaktersistik suatu metropolis yang ditentukan untuk kepentingan penghitungan statistik, mengumpulkan, mentabulasikan dan mempublikasikan data-data statistik. Untuk kepentingan ini misalnya SMSA (Standard Metropolitan Statistical Areas) di Amerika mendefiniskan Metropolitan sebagai: a large population nucleus, together with adjacent communities having a high degree of social and economic integration with that core. Metropolitan areas comprise one or more entire counties(U.S. Census Bureau 2006). Jumlah penduduk memang bukan satu-satunya karakteristik yang signifikan dari metropolitan yang membedakan permukiman lain dengan metropolitan. Kriteria lain yang penting adalah aktivitas sosial ekonomi yang menunjukkan adanya spesialisasi fungsi. Biasanya merupakan industri-industri dan jasa. Metropolitan merupakan pusat aktivitas jasa yang kemudian tercermin dalam pembagian fungsi keruangannya secara nyata. Integrasi antar kawasan permukiman dan tempat kerja adalah persoalan nyata di metropolitan saat ini dan merupakan karakter khas metropolitan. Angotti (1993) menyatakan bahwa proses spesialisasi di metropolitan terjadi karena selalu berkembangnya teknologi produksi dan distribusi dan komunikasi.

18

Karakter lain dari suatu metropolitan adalah kemudahan mobilitas yang menurut Angotti (1993) terlihat dalam 3 bentuk mobilitas: 1. Mobilitas Pekerjaan (Employment Mobility) 2. Mobilitas Perumahan (Residential Mobility) 3. Mobilitas Perjalanan (Trip Mobility) Mobilitas pekerjaan dicirikan dari mudahnya orang berpindah tempat kerja tanpa harus berpindah tempat tinggal karena lebih banyak jenis dan variasi pekerjaan tersedia di kota metropolitan. Mobilitas pekerjaan ini berkaitan dengan tersedianya modal dan mobilitas modal yang besar. Mobilitas tempat tinggal biasanya mengikuti perubahan tempat kerja. Perpindahan tempat tinggal ini tidak selalu karena keinginan sendiri, berhubungan dengan pindahnya tempat kerja, tetapi sering kali juga terjadi karena dipindahkan (digusur) secara paksa maupun tidak. Tidak dipaksa terjadi karena perubahan harga lahan yang disebabkan oleh dinamika pembangunan real estate. Mobilitas perjalanan lebih mudah dilakukan di metropolitan daripada di permukiman lain karena ketersediaan sarana transportasi yang lebih baik (Penglaju Jakarta-Tangerang misalnya). Secara keseluruhan dapat dikatakan bahwa metropolitan dicirikan dengan adanya mobilitas dari modal dan tenaga kerja yang sangat tinggi.

STUDI KASUS: METROPOLITAN JABODETABEKJUR


Sejarah Pembentukan Kawasan Metropolitan Jakarta atau yang dikenal dengan Jabodetabek (sekarang Jabodetabekjur), disebabkan oleh adanya keterkaitan antar wilayah yang membuat adanya suatu hubungan sehingga setiap kabupaten/kota yang terkait terus berkembang, belum lagi adanya aliran investasi asing dan dalam negeri serta kebijakankebijakan pemerintah yang mendukung pembentukan wilayah metropolitan. Pada tahun 1970-an, wilayah ini dikenal dengan sebutan Jabotabek, yaitu singkatan dari JakartaBogor-Tangerang-Bekasi. Akan tetapi seiring dengan bertumbuhnya jumlah penduduk dan meluasnya kegiatan perekonomian perkotaan, pada tahun 1990-an, kawasan ini dikenal dengan Jabodetabek (ditambah dengan Kota Depok) dan kini Jabodetabekjur (ditambah dengan beberapa kecamatan di Kabupaten Cianjur). Melihat perkembangan yang terus berlangsung maka tidak menutup kemungkinan bertambahnya kawasan metropolitan baru di dalam Kawasan Metropolitan Jakarta ini. Sebelum terbentuknya wilayah metropolitan ini, Jakarta yang dulu dikenal dengan Sunda Kelapa, merupakan pelabuhan perdagangan kecil di hilir Sungai Ciliwung. Setelah kemenangan Portugis tahun 1527, berdasarkan ketentuan adat Sunda, Sunda Kelapa beralih nama menjadi Jayakarta yang mengandung arti Kemenangan (The Victory). Pada tahun 1618 Jayakarta beralih nama kembali menjadi Batavia pada masa penjajahan Belanda yang melakukan perluasan kota demi keperluan VOC sebagai pelabuhan utama di Indonesia. Hingga abad berikutnya, Batavia terus tumbuh menjadi kota yang berpenduduk 500.000 jiwa. Jalur kereta api dalam kota menghubungkan Batavia dengan Tangerang (bagian barat Batavia), Serpong, dan Selat Sunda di barat daya, Bogor dan Bandung di bagian selatan, Bekasi dan Cirebon di bagian Timur. Sejak saat itu, perluasan Kota Batavia telah dimulai seiring dengan permintaan akan lahan perumahan.

19

Setelah pengakuan dunia internasional terhadap kemerdekaan Indonesia, nama Batavia kembali menjadi Jakarta yang berfungsi sebagai ibukota negara. Akan tetapi, pada tahun 1960-an terjadi kesulitan oleh karena adanya transformasi sosial dari negara jajahan ke negara merdeka, dan adanya kebijakan anti-kapitalis yang mempersulit pertumbuhan ekonomi akibat menurunnya investasi asing dan domestik. Apabila dilihat dari perkembangan jumlah penduduknya, pada tahun 1950-an jumlah penduduk Jakarta telah mencapai 1,5 juta jiwa, lebih dari dua kali lipat dari tahun 1945. Lalu, pada tahun 1961, jumlah penduduk Jakarta mencapai 2,9 juta yang menjadikan Jakarta sebagai kota terbesar di dunia. Sebagian penduduk Jakarta tinggal di kampungkampung padat penduduk dengan infrastruktur yang buruk, selain itu transportasi publik juga sangat tidak diperhatikan. Master Plan pertama untuk Kota Jakarta disiapkan pada tahun 1952 yang merencanakan jalan lingkar (ring road) sebagai batas pertumbuhan kota yang dikelilingi oleh green belt mengikuti prinsip-prinsip Garden City Ebenezer Howard. Rencana ini tidak pernah terealisasi, sampai 35 tahun berikutnya terjadi pertumbuhan pesat dan perubahan struktur kota. Seiring dengan pertumbuhan ekonomi, Jakarta menjadi pusat pertumbuhan nasional. Sejak tahun 1961 sampai 1971, jumlah penduduk Jakarta hampir mencapai dua kali lipat dari 2,9 juta jiwa menjadi 4,6 juta jiwa dengan laju pertumbuhan 5,8 persen per tahun. Dengan adanya industrialisasi di wilayah Jakarta, tingkat urbanisasi meningkat melebihi batas-batas adminitratif hingga ke kabupaten-kabupaten di sekitarnya. Oleh karena itu, Master Plan kedua tahun 1967, untuk periode 1965 1985, berusaha untuk mengatasi pertumbuhan besar baru. Perkembangan Kota Jakarta yang tadinya merupakan kota kecil mengalami perkembangan yang sangat pesat dan seiring dengan adanya peningkatan perekonomian dan pembangunan infrastruktur telah mendorong pertumbuhan wilayah di sekitarnya sampai terbentuk suatu kawasan metropolitan seperti sekarang. Saat ini kawasan metropolitan Jabodetabekjur tidak dapat dipandang sebagai suatu unit yang berdiri sendiri, akan tetapi terus memberikan pengaruhnya terhadap perkembangan wilayah yang terintegrasi. Struktur Ruang Adapun struktur Kawasan Metropolitan Jabodetabekjur, menunjukkan suatu pola struktur yang polisentrik (banyak pusat), yaitu DKI Jakarta sebagai pusat utamanya, dan memiliki Bogor (kabupaten dan kota), Kota Depok, Tangerang (kabupaten dan kota), Bekasi (kabupaten dan kota) sebagai sub pusat yang melayani kota dan daerah otonomnya, serta ditambah dengan kawasan Puncak-Cianjur yang juga diperhatikan pengaruhnya terhadap wilayah metropolitan. Selain itu dapat dengan jelas kita lihat bagaimana pengaruh DKI Jakarta sebagai pusat terhadap wilayah sekitarnya yang menghasilkan suatu daerah perkotaan yang meluas, seperti ditunjukkan pada Gambar 1.

20

Sumber : Google Earth 2006

Jabodetabekjur : Megapolitan Indonesia


Konsep megapolitan masih menimbulkan pro dan kontra diantara daerah yang akan dilibatkan dalam konsep tersebut yakni DKI Jakarta, Bogor, Tangerang, Bekasi dan Cianjur. Konsep megapolitan sebenarnya dapat memberi kemudahan transportasi untuk pelaksanaan kegiatan dengan dukungan infrastruktur antar provinsi, karena ada otoritas lebih tinggi. Sebagai contoh Menteri Perhubungan dalam bidang trasportasi, Menteri PU dalam bidang air bersih dan lain sebagainya. Untuk menyelesaikan masalah-masalah lintas daerah dibutuhkan koordinasi antara kepala pemerintahan di pusat maupun daerah. Perpaduan pembangunan Jakarta dan daerah sekitarnya secara alamiah sudah terjadi. Gejala perkembangan urban region menjadi megapolitan didorong oleh banyak faktor, tetapi semuanya mengarah pada aktivitas ekonomi, yakni terkait dengan aspek ruang, tingkat komunitas, skala kota, regional, nasional bahkan global. Meskipun perpaduan tersebut secara alami telah terjadi, prosesnya masih belum terencana secara terpadu karena tidak ada koordinator yang menangani khususnya di tingkat kebijakan. Pada tahun 2000, jumlah penduduk Jabodetabekjur telah mencapai 13,7 juta jiwa. Jumlah sebesar itu membuat Jabodetabekjur digolongkan ke dalam kelompok 10 kota besar dunia. Pada tahun 2005, jumlah penduduk di Kota Jakarta menurut BPS DKI Jakarta sebesar 8,6 juta jiwa dengan luas wilayah sebesar 661,62 hektar persegi (lihat tabel 2). Jika ditambah dengan masyarakat commuter yang setiap hari melaju dari wilayah Bodetabekjur ke Jakarta untuk bekerja, jumlah penduduknya mencapai lebih dari 12 juta jiwa. Jumlah sebesar itu merupakan salah satu syarat terbentuknya kota megapolitan.

21

Tabel 2. Jumlah Penduduk dan Luas Wilayah Jabodetabekjur Tahun 2005

Provinsi/Kab/Kota DKI Jakarta Kab. Bogor Kota Bogor Kota Depok Kab. Tangerang Kota Tangerang Kab. Bekasi Kota Bekasi Kab. Cianjur Total

Jumlah Penduduk Luas Wilayah (Juta Jiwa) (Km 2) 8.603,776 661,62 3.798,212 2.237,09 816,86 108,99 1.324,452 212,24 3.186,69 1.110,38 1.466,884 164,31 1.797,9 1.065,36 1.814,316 209,55 2.058,134 2.977,44 23.249,114 8.746,97

Sumber: BPS DKI Jakarta dalam Reksomarnoto (2006)

Undang Undang No.34 tahun 1999 tentang Pemenrintah Provinsi DKI Jakarta, khususnya pasal 31, memberikan kewenangan kepada Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta untuk mengelola beberapa kawasan khusus yang ada di Jakarta. Kawasan kawasan khusus di DKI Jakarta di antaranya adalah kawasan Gelora Bung Karno, kawasan kompleks Kemayoran, kawasan Pelabuhan dan pengelolaan jalan tol dalam kota. Beberapa asas yang harus dipertimbangkan dalam pemberian kewenangan pengelolaan kawasan kawasan khusus tersebut adalah sebagai berikut : 1. Asas Ekternalitas, yakni kewenangan pengelolaan kawasan khusus diberikan kepada siapa yang terkena dampak dari adanya kawasan khusus. 2. Asas Akuntabilitas, yakni mempertimbangkan siapa yang dekat dan dapat melaksanaan pengawasan. 3. Asas Efisiensi, yakni mempertimbangkan siapa yang dapat melaksanakan pengelolaan dengan pembiayaan yang sangat efisien. 4. Asas Kesinambungan (sustainability), yakni telah ditetapkannya kewenangan pengelolaan kawasan khusus oleh Pemprov DKI Jakarta dalam rencana kerja dan masterplan. Maka, asas kesinambungan akan lebih terjaga baik untuk jangka pendek, menengah maupun panjang. Agar pengembangan wilayah megapolitan Jabodetakbekjur dapat lebih terarah, diperlukan kerangka penyebaran fungsi masing masing wilayah yang didasarkan atas kemampuan dan kondisi sumber daya yang ada. Fungsi fungsi wilayah tersebut meliputi : 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. Fungsi wilayah sebagai pusat pemerintahan; Fungsi wilayah sebagai pintu gerbang internasional Fungsi wilayah sebagai daerah industri, baik industri pengolahan maupun agroindustri; Fungsi wilayah sebagai daerah perniagaan (bisnis, perdagangan, perbankan, jasa); Fungsi wilayah sebagai daerah kawasan pendidikan yang berbasis perguruan tinggi; Fungsi wilayah sebagai daerah resapan (ruang terbuka hijau); Fungsi wilayah sebagai tempat tinggal (perumahan);

22

Beberapa hal yang harus diperhatikan demi terwujudnya megapolitan Jabodetabekjur adalah: 1. Adanya kesamaan cara pandang di tingkat kebijakan bahwa megapolitan merupakan solusi dalam menghadapi kebutuhan bersama; 2. Adanya sinergi dukungan politis dari pihak eksekutif dan legislatif baik di tingkat pusat maupun daerah; 3. Adanya dukungan dan partisipasi dari seluruh komponen lapisan masyarakat seJabodetabekjur; 4. Adanya kebijakan pemerintah pusat. Pengembangan konsep megapolitan Jabodetabekjur mencakup tiga wilayah yang luas yakni Jakarta, Jawa Barat dan Banten serta melibatkan berbagai sektor di bidang Perencanaan terpadu dilakukan pada sektor sektor yang berkaitan dengan kawasan megapolitan dan diarahkan pada perencanaan tata ruang, aktivitas wilayah demi terwujudnya keseimbangan ekonomi, sosial dan lingkungan hidup. Berdasarkan Raperpres Penataan Ruang Kawasan Jabodetabek-Punjur, metropolitan Jabodetabek-Punjur merupakan Pusat Kegiatan Nasional (PKN). Wilayah ini meliputi: Seluruh wilayah DKI Jakarta; Sebagian wilayah Propinsi Jawa Barat, mencakup seluruh wilayah Kabupaten Bekasi, seluruh wilayah Kota Bekasi, seluruh wilayah Kota Depok, seluruh wilayah Kabupaten Bogor, seluruh wilayah Kota bogor, dan sebagian wilayah Kabupaten Cianjur, yang meliputi Kecamatan Cugenang, Kecamatan Pacet, dan Kecamatan Sukaresmi. Sebagian wilayah Propinsi Banten, yang mencakup seluruh wilayah Kabupaten Tangerang dan seluruh wilayah Kota Tangerang.

23

BAB III PENUTUP A. Kesimpulan


1) Proses urbanisasi sangat terkait mobilitas maupun migrasi penduduk. Ada sedikit perbedaan antara mobilitas dan migrasi penduduk. Mobilitas penduduk didefinisikan sebagai perpindahan penduduk yang melewati batas administratif tingkat II, namun tidak berniat menetap di daerah yang baru. Sedangkan migrasi didefinisikan sebagai perpindahan penduduk yang melewati batas administratif tingkat II dan sekaligus berniat menetap di daerah yang baru tersebut. Di dalam pelaksanaan perhitungannya, data yang ada sampai saat ini baru merupakan data migrasi penduduk dan bukan data mobilitas penduduk. Di samping itu, data migrasi pun baru mencakup batasan daerah tingkat I. Dengan demikian, seseorang dikategorikan sebagai migran seumur hidup jika propinsi tempat tinggal orang tersebut sekarang ini, berbeda dengan propinsi dimana yang bersangkutan dilahirkan. Selain itu seseorang dikategorikan sebagai migran risen jika propinsi tempat tinggal sekarang berbeda dengan propinsi tempat tinggalnya lima tahun yang lalu. 2) Suatu kota terbentuk karena adanya pengumpulan orang dan aktivitas ekonomi di suatu tempat atau yang biasa disebut dengan istilah aglomerasi ekonomi, yaitu berkumpulnya aktivitas-aktivitas ekonomi di kawasan yang sama untuk menghasilkan manfaat ekonomi yang pada akhirnya mendorong perusahaan-perusahaan untuk membentuk kluster. Masalah yang ditimbulkan akibat aglomerasi adalah: Localization economies, berkumpulnya industri karena alasan-alasan produksi yang akan menurunkan biaya produksi dan memudahkan proses produksi. Urbanization economies, berkumpulnya industri mendekati pasar yang besar di daerah perkotaan. Adanya ketimpangan ekonomi antara kawasan yang memiliki pendapatan tinggi dan kawasan yang pendapatan rendah. 3) Kota/Distrik Metropolitan adalah kawasan perkotaan dengan karakteristik penduduk yang menonjol dibandingkan dengan penduduk perdesaan di sekitarnya. Istilah ini digunakan untuk memberikan gambaran yang lebih tepat mengenai besaran dan konsentrasi penduduk dalam wilayah yang luas, yang selanjutnya dapat menunjukkan besaran pusat-pusat permukiman yang utama di satu negara. Secara umum, kawasan metropolitan dapat didefinisikan sebagai satu kawasan dengan konsentrasi penduduk yang besar, dengan kesatuan ekonomi dan sosial yang terpadu dan mencirikan aktivitas kota

24

B. Saran 1) Cara Mengatasi Masalah Urbanisasi Masalah urbanisasi ini dapat ditangani dengan memperlambat laju pertumbuhan populasi kota yaitu diantaranya dengan membangun desa, adapun program-program yang dikembangkan diantaranya: Intensifikasi pertanian

mengurangi/ membatasi tingkat pertambahan penduduk lewat pembatasan kelahiran, yaitu program Keluarga Berencana memperluas dan mengembangkan lapangan kerja dan tingkat pendapatan di pedesaan program pelaksanaan transmigrasi penyebaran pembangunan fungsional di seluruh wilayah pengembangan teknologi menengah bagi masyarakat desa pemberdayaan potensi utama desa

perlu dukungan politik dari pemerintah, diantaranya adanya kebijakan seperti reformasi tanah Berdasarkan kebijakan tersebut, maka yang yang berperan adalah pemerintah setempat dalam penerapannya. Pemerintah daerah perlu berbenah diri dan perlu

mengoptimalkan seluruh potensi ekonomi yang ada di daerah, sehingga terjadi kegiatan ekonomi dan bisnis yang benarbenar berorientasi pada kepentingan warganya. Tapi bukan berarti pemerintah daerah saja yang berperan, di tingkat pusat, pemerintah juga perlu membuat kebijakan lebih adil dan tegas terkait pemerataan distribusi sumber daya ekonomi. Arus balik ialah fenomena tahunan. Banyak pelajaran berharga yang bisa dipetik untuk mengantisipasi meledaknya jumlah penduduk perkotaan dengan segala macam persoalannya. 2) Menjalankan teori Trickle Down Effect, di mana kenaikan kapasitas atau kemampuan ekonomi orang orang kaya (dalam kawasan pendapatan kapita tinggi) akan menggulirkan (Trickle Down) peningkatan kesejahteraan pula pada kalangan menengah ke bawah. 3) Pembangunan Wilayah perkotaan seharusnya berbanding lurus dengan pengembangan wilayah desa yang berpengaruh besar terhadap pembangunan kota. Masalah yang terjadi di kota tidak terlepas karena adanya problem masalah yang terjadi di desa, kurangnya sumber daya manusia yang produktif akibat urbanisasi menjadi masalah yang pokok untuk diselesaikan dan paradigma yang sempit bahwa dengan mengadu nasib dikota maka kehidupan menjadi bahagia dan sejahtera menjadi masalah serius. Problem itu tidak akan 25

menjadi masalah serius apabila pemerintah lebih fokus terhadap perkembangan dan pembangunan desa tertinggal dengan membuka lapangan pekerjaan dipedesaan sekaligus mengalirnya investasi dari kota dan juga menerapkan desentralisasi otonomi daerah yang memberikan keleluasaan kepada seluruh daerah untuk mengembangkan potensinya menjadi lebih baik, sehingga kota dan desa saling mendukung dalam segala aspek kehidupan.

26

DAFTAR PUSTAKA
Budiman, Arief. 1995. Teori Pembangunan Dunia Ketiga. Jakarta: PT. Gramedia Pustakan Utama. Djoyohadikusumo, Sumitro. 1994. Perkembangan Pemikiran Ekonomi. Cetakan pertama. Jakarta: Penerbit PT. Pustaka LP3ES Kuncoro, Mudrajad. 1997. Ekonomi Pembangunan, Teori, masalah dan kebijakan. Cetakan pertama. Yogyakarta: Unit penerbitan dan percetakan akademi manajemen perusahaan YKPN. Todaro, Michael P and Stephen C. Smith. 2006. Pembangunan Ekonomi. Jilid 1. Edisi Kesembilan. Jakarta: Erlangga.

27

Anda mungkin juga menyukai