Anda di halaman 1dari 28

GRIFFIN Perpsektif Interpretatif dan Obyektif dalam Penelitian Ilmu Komunikasi A theory is not just an explanation it is a way of packaging

reality, a way of understanding it. Human beings always represent reality symbolically, and we are always operating in the realm of theory. A theory is a system of thought, a way of looking, we can never view reality purely. Instead, we must use a set of concept and symbols to define what we see, and our theories provide the lenses with which we observe and experience the world.(Teori tidak hanya dipahami sebagai sebuah penjelasan semata, akan tetapi lebih dari itu sebuah teori merupakan sebuah sistem mengenai cara berfikir dan bagaimana memahami dan melihat sesuatu, serta teori merupakan jalan untuk mengemas realitas dan bagaimana caranya memahaminya. Dengan memakai teori, maka kita akan mampu menjelajahi dan memahami dunia berserta dengan fenomena fenomena yang terjadi didalamnya). Berbicara mengenai teori, Griffin dalam bukunya A First Look at Communication Sciene membagi dua perspektif utama dalam memahami fenomena - fenomena sosial yang diilakukan lewat sebuah penelitian khususnya dalam kajian ilmu komunikasi. Yakni perspektif obyektif dan perspektif interpretatif. Baik itu perspektif obyektif maupun perspektif interpretatif, keduanya berada dalam jalur ilmu sosial, namun demikian terdapat perbedaan sebagaimana yang diungkapkan Littlejohn bahwa perspektif interpretative ditandai dengan adanya sebuah pemahaman atau interpretasi yang kreatif dari peneliti yang artinya juga membuka sisi sisi subyektifitas peneliti. Mengingat ilmu komunikasi merupakan salah satu ilmu yang berada dalam jalur ilmu sosial atau humanitis, maka kedua perspektif ini secara langsung memberikan pengaruh yang cukup besar dalam kajian ilmu komunikasi. Meskipun kedua perspektif ini dapat diterapkan dalam penelitian komunikasi, akan tetapi baik itu perspektif obyektif maupun perspektif interpretatif memiliki sejumlah perbedaan dalam beberapa hal, antara lain dalam hal metode penelitian yang digunakan, pengambilan kesimpulan penelitian serta bagaimana posisi peneliti ketika memulai penelitian.

Para penganut aliran interpretative meyakini bahwa kebenaran bersifat subjektif dan makna dapat dipahami dari hasil interpretasi subyektif, serta meyakini bahwa teks memiliki makna yang beragam tergantung dari subyek yang menginterpretasikannya. Perspektif interpretatif juga meyakini bahwa realitas dipandang sebagai bentukan dari interaksi manusia yang penuh dengan makna atau meaningfull social action. Maka dari itu, realitas dipahami sebagai pemaknaan (meaning) dimana hanya bisa ditafsirkan atau verstehen dan hendak dilukiskan secara mendalam. Pandangan ini sesuai dengan filsafat rasionalitas yang memandang bahwa individu dengan rasionalitasnya mampu menemukan kebenaran, bahkan filsafat ini meyakini bahwa kebenaran tersebut sebenarnya sudah ada dalam diri manusia itu sendiri, karenanya tidak dicari diluar dirinya. Karena dasar ilmu pengetahuan kemudian berasal dari rasionalitas manusia atau pemaknaan tadi maka ilmu pengetahuan itu tidak bersifat objektif dan tidak bersifat universal. Ilmu pengetahuan semata menggambarkan kekhasan pengalaman suatu kelompok manusia dalam konteks tertentu. Terdapat beberapa hal yang harus dipenuhi supaya teori interpretatif dapat dikatakan baik, antara lain; Pertama, harus mampu menawarkan gagasan gagasan baru dan memberikan pemahaman baru pula yang bermanfaat bagi dunia. Kedua, teori interpretatif harus mampu membawa nilai nilai kemanusiaan kearah nilai yang terbuka. Ketiga, mampu membangkitkan semangat estetis. Artinya bahwa hal ini akan mampu membangkitkan imajinasi para peneliti dalam menginterpretasikan sesuatu. Keempat, teori interpretatif dikatakan baik jika hasil penelitiannya banyak disepakati dan didukung oleh pihak lain dari disiplin ilmu sejenis, meskipun pada dasarnya dihasilkan dari interpretasi subyektif akan tetapi dukungan dari pihak lain dapat membuat hasil penelitian tersebut terlihat teruji validitasnya. Kelima, bahwa teori interpretatif bisa dikatakan baik jika hasilnya dapat memberikan manfaat positif bagi masyarakat. sekarang kita sedikit membahas mengenai perspektif obyektif. perpsektif ini meyakini bahwa hanya ada satu kebenaran diluar sana, hanya ada satu realitas diuar sana yang tengah menanti kita untuk mengungkapkannya dengan

menggunakan panca indera yang kita miliki. Bagi penganut perspektif ini, prinsip seing is believing dipegang teguh. Mereka juga percaya jika satu prinsip telah berhasil diketahui dan telah dinyatakan valid, maka selamanya ia akan diyakini sebagai kebenaran selama kondisi dan situasinya relative sama. Berkaitan dengan perilaku manusia, perspektif ini menyakini bahwa perilaku manusia merupakan hasil bentukan dari factor luar yang sifatnya memaksa dan berada di luar kesadarannya. Perilaku terbentuk dari hasil hubungan antara stimulus respon. Penganut aliran ini menjunjung tinggi prinsip prinsip obyektifitas semenjak mereka meyakini bahwa hanya ada satu kebenaran di luar sana. Para penganutnya berupaya untuk membuat sebuah hukum universal yang mampu menjawab berbagai macam fenomena perilaku manusia yang hadir dalam berbagai situasi. Yakni dengan cara menguji hipotesis atau membuat hipotesis dan kemudian membuktikannya atau mengujinya. Dalam pengujiannya ini, metode penelitian yang secara umum digunakan adalah dengan menggunakan metode eksperimen dan survey yang kerap digunakan dengan jenis penelitian kuantitatif. . . Dua Pendekatan yang Melandasi Penelitian Komunikasi Ada 2 Metode Penelitian komunkasi yang saat ini digunakan, yaitu Metode Penelitian Kuantitatif dan Metode Penelitian Kualitatif. Penelitian Kuantitatif dilandasi oleh pendekatan objektif, sedangkan Penelitian Kualitatif dilandasi oleh pendekatan subjektif /interpretif. Pendekatan Objektif Sebagai Landasan Metode Penelitian Kuantitatif Pendekatan objektif/ilmiah diterapkan dalam penelitian yang sistematis, terkontrol, empiris dan kritis atas hipotesis mengenai hubungan yang diasumsikan di antara fenomena alam. Pendekatan ini memandang bahwa kebenaran dapat ditemukan bila kita dapat menyingkirkan campur tangan manusia ketika melakukan

penelitian atau mengambil jarak dari objek yang diteliti. Jadi penelitian yang dilakukan harus bebas nilai, artinya terlepas dari interpretasi atau penilaian dari si peneliti. Metode penelitian cendrung menganggap manusia itu seperti mesin atau hewan yang prilakunya bisa diramalkan sehingga bisa digeneralisasikan. Penelitian ini bersifat deduktif, artinya berfikir dari umum ke khusus. Peneliti mengambil kesimpulan umum terlebih dahulu untuk melakukan generalisasi yang disebut sebagai hipotesis untuk kemudian diuji kebenarannya. Sebagai ilustrasi, hipotesis yang menyatakan bahwa Tayangan kekerasan di televisi menimbulkan perilaku agresif pada penontonnya, sehingga dapat disimpulkan, Semakin sering anak-anak menonton tayangan kekerasan di televisi, maka perilaku anak akan semakin agresif. Disini terlihat hubungan sebab akibat dimana terdapat 2 variabel (yang tentunya ini merupakan ciri dari Metode Penelitian Kuantitatif), yaitu variabel bebas dan variabel terikat. Tayangan kekerasan di televisi sebagai variabel bebas yang mempengaruhi perilaku agresif anak sebagai variabel terikat. Jadi disini jelas terlihat bahwa menurut pendekatan pendekatan objektif sebagai landasan dari metode penelitian kuantitatif, perilaku manusia sebagai objek penelitian dapat diramalkan sehingga dapat digeneralisasikan. Penelitian Kuantitatif ini bertujuan menguji teori. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian kuantitatif ini bersifat deskriptif dengan menggunakan wawancara yang berstruktur, survei korelasional, eksperimen yang menekankan pada pencarian penjelasan kausal dan mekanistik atas fenomena komunikasi. Pendekatan Subjektif Sebagai Landasan Metode Penelitian Kualitatif Menurut pendekatan subjektif bahwa perilaku manusia itu sangat unik dan tidak bisa diramalkan karena manusia memiliki kehendak bebas. Berbeda dengan sesuatu (benda) yang hanya sekedar bergerak atau hewan yang bertindak hanya karena insting. Jadi manusialah yang yang menciptakan struktur, bukan struktur

yang menentukan perilaku manusia. Ini berarti manusia aktif bertindak dalam membetuk realitas. Manusialah yang menstruktur dunia, bukan dunia yang menstruktur manusia. Pendekatan ini memandang bahwa realitas sosial bersifat majemuk, tidak tunggal, sehingga tidak bisa digeneralisasikan. Beberapa prinsip pendekatan subjektif diantaranya: * Setiap manusia itu unik, tidak persis sama dengan yang lain sehingga perilaku mereka tidak bisa diuraikan secara kausal dan karenanya tidak dapat diramalkan * Bila terdapat tatanan kausal dalam fenomena perilaku manusia, tatanan tersebut begitu kompleks sehingga penemuan tidak tercapai secara permanen * Dalam ilmu alam, fakta sekarang selalu didahului oleh fakta yang lalu, namun perilaku manusia tidak hanya ditentukan oleh perilaku masa lalu tapi juga tujuan masa depan * Bila perilaku manusia merupakan bagian dari tatanan kausal dari peristiwa-peristiwa dan prinsipnya dapat diramalkan, akan sia-sia berusaha membuat pilihan antara kebaikan dan kejahatan, serta meminta orang untuk mempertanggung jawabkan perbuatannya.

Kaum subjektifis merasa, mengelola perilaku manusia sebagai materi untuk diteliti secara ilmiah terhambat oleh keterlibatan langsung peneliti dalam perilaku yang mereka ingin jelaskan dan oleh karena penelitian tidak bisa lepas dari interpretasi peneliti secara subjektif. Penelitian Kualitatif tidak bertujuan menguji teori, melainkan untuk menghasilkan model atau teori baru Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian kualitatif ini bersifat deskriptif dengan menggunakan wawancara yang mendalam (tidak berstruktur), pengamatan berperan serta, analisis dokumen, studi kasus, studi historis-kritis dengan penafsiran sujektif.

Rentang Pendekaan Objektif dan Interpretif Meski masih banyak dipertentangkan, tapi sekedar sebagai perbandingan dapat disimak pendapat Bavelas yang mencoba menggambarkan perbedaan kedua metode ini sebagai berikut: Penelitian Kuantitatif Angka-angka Parametik Statistik Empiris Objektif Deduktif Pengujian hipotesis Eksperimental Laboratorium Artifisial Dapat digeneralisasikan Penelitian Kualitatif Tanpa angka-angka Nonparametik Nonstatistik Tidak empiris Subjektif Induktif Penjelajahan (Exploratory) Noneksperimental Dunia nyata Alamiah Tidak dapat digeneralisasikan

Sumber: Deddy Mulyana dan Solatun dalam bukuya:Metode Penelitian Komunikasi Sedangkan rentang perspektif subjektif perspektif objektif menurut Morgan dan Smircich, adalah sebagai berikut:

Sementara pemetaan Teori Komunikasi dalam rentang Perspektif Objektif dan Perspektif Subjektif/interpretif menurut Griffin:

Sumber: Em Griffin. A First Look at Communication Theory, Edisi ke-3, NY, 1997 Beberapa pakar ada yang tidak sependapat dengan pemetaan di atas Misalnya Prof. Dr. Deddy Mulyana, menilai teori interaksi simbolik masuk pada perspektif subjektif karena manusia secara aktif memaknai simbol-simbol yang mereka buat untuk berinteraksi antara satu sama lain. .

Berbagai perbedaan yang terkandung dalam masing-masing kelompok tradisi komunikasi tersebut mempengaruhi pada cara melakukan riset atau penelitian komunikasi dan mempengaruhi pilihan teori yang akan digunakan. Setiap teori menggunakan cara atau metode riset yang berbeda yang secara umum dapat dibagi ke dalam dua kelompok besar paradigma penelitian yaitu objektif dan interpretatif. 1. Objektif Ilmu pengetahuan seringkali diasosiasikan dengan sifatnya yang objektif (objectivity) yang berarti bahwa pengetahuan selalu mencari standarisasi dan kategorisasi. Dalam hal ini, para peneliti melihat dunia sedemikian rupa sehingga peneliti lain yang menggunakan cara atau metode melihat yang sama akan menghasilkan kesimpulan yang sama pula. Dengan kata lain, suatu replikasi atau penelitian yang berulang-ulang akan selalu menghasilkan kesimpulan yang persis sama sebagaimana penelitian dalam ilmu pengetahuan alam (natural sciences). Penelitian yang menggunakan metode objektif sering disebut dengan penelitian empiris (scientific scholarship) atau positivis. Perlu ditegaskan disini bahwa apa yang dikenal selama ini sebagai tipe penelitian kuantitatif dan penelitian kualitatif masuk dalam kategori penelitian objektif positivis ini. 2. Interpretatif Mereka yang menggunakan pendekatan ini sering disebut dengan humanistic scholarship. Jika metode objektif (penelitian kuantitatif/kualitatif) bertujuan membuat standarisasi observasi maka metode subjektif (penelitian interpretatif) berupaya menciptakan interpretasi. Jika ilmu pengetahuan berupaya untuk mengurangi perbedaan diantara para peneliti terhadap objek yang diteliti maka para peneliti humanistik berupaya untuk memahami tanggapan subjektif individu. Pendekatan interpretatif memandang metode penelitian ilmiah tidaklah cukup untuk dapat menjelaskan 'misteri' pengalaman manusia sehingga diperlukan unsur manusiawi yang kuat dalam penelitian. Kebanyakan mereka yang berada

dalam kelompok ini lebih tertarik pada kasus-kasus individu daripada kasus-kasus umum. Berdasarkan klasifikasi teori komunikasi oleh Robert Craig tersebut, yang manakah dari ketujuh tradisi teori komunikasi tersebut yang memiliki sifat objektif dan yang manakah yang bersifat interpretatif. Dalam hal ini, kita dapat menggunakan pandangan Griffin melalui peta tradisi teori komunikasi sebagai berikut:

Sumber: EM Griffin, dan Glen McClish (special consultant), A First Look At Communication Theory, Fifth Edition, McGraw Hill, 2003. Hal 33. Berdasarkan peta tersebut di atas maka kelompok teori komunikasi yang paling objektif adalah Sosisopsikologi sedangkan kelompok teori yang paling subjektif interpretatif adalah fenomenologi, sosiokultural dan kritis. Pertanyaanya sekarang adalah: SEBERAPA JAUH PANDANGAN SUBJEKTIF DAPAT MASUK KE DALAM PENELITIAN INTERPRETATIF? Dalam hal ini terdapat dua pandangan subjektif yaitu: 1) Pandangan subjektif dari objek penelitian yaitu manusia a. Dalam penelitian interpretatif, tidak ada batasan mengenai seberapa jauh pandangan subjektif objek penelitian dapat masuk ke dalam penelitian karena tujuan penelitian adalah untuk mengetahui bagaimana objek penelitian memandang

dirinya dan lingkungannya. Dalam penelitian kualititatif keterangan narasumber yang salah atau keliru dapat diabaikan, namun penelitian interpretatif tidak mempersoalkan benar atau salah. b. Dalam penelitian interpretatif, peneliti berupaya mengumpulkan data mengenai objek penelitian (manusia) melalui pengamatan (observasi), wawancara dan sebagainya. Dalam hal ini, peneliti haruslah bersikap seobjektif mungkin. Dengan kata lain, sebagaimana penelitian objektif, peneliti harus membangun konsensus terlebih dulu mengenai apa yang akan diteliti atau diamatinya (fokus penelitian). 2) Pandangan subjektif peneliti. Setelah data diperoleh secara cermat dan objektif, maka data tersebut harus dijelaskan dan diinterpretasikan, dan disinilah pandangan subjektif peneliti dapat masuk, sebagaimana dikemukakan Littlejohn dan Foss: "Once behavioral phenomena are accurately observed, they must be explained and interpreted -and here's where the humanistic part come in". Salah satu bentuk laporan di bidang komunikasi yang sering dibuat dan seringkali diklaim sebagai penelitian interpretatif adalah apa yang disebut dengan analisis wacana (discourse analysis) dan analisis bingkai (framing analysis). Analisa wacana memfokuskan perhatian pada percakapan (lisan atau teks) untuk mengetahui kondisi struktur sosial yang ada melalui percakapan misalnya antara ibu dan anak, antara buruh pabrik dll) dengan mengidentifiaksi berbagai kategori, ide, pandangan dan sebagainya berdasarkan transkrip percakapan yang diamatinya. Analisa framing memfokuskan perhatian pada bagaimana media massa mengelola ide dan isi berita dan menunjukkan apa yang menjadi isu melalui pemilihan, penekanan, penyisihan dan uraian berita. .

Perpsektif Interpretatif dan Obyektif dalam Penelitian Ilmu Komunikasi A theory is not just an explanation it is a way of packaging reality, a way of understanding it. Human beings always represent reality symbolically, and we are always operating in the realm of theory. A theory is a system of thought, a way of looking, we can never view reality purely. Instead, we must use a set of concept and symbols to define what we see, and our theories provide the lenses with which we observe and experience the world.(Teori tidak hanya dipahami sebagai sebuah penjelasan semata, akan tetapi lebih dari itu sebuah teori merupakan sebuah sistem mengenai cara berfikir dan bagaimana memahami dan melihat sesuatu, serta teori merupakan jalan untuk mengemas realitas dan bagaimana caranya memahaminya. Dengan memakai teori, maka kita akan mampu menjelajahi dan memahami dunia berserta dengan fenomena fenomena yang terjadi didalamnya). Berbicara mengenai teori, Griffin dalam bukunya A First Look at Communication Sciene membagi dua perspektif utama dalam memahami fenomena - fenomena sosial yang diilakukan lewat sebuah penelitian khususnya dalam kajian ilmu komunikasi. Yakni perspektif obyektif dan perspektif interpretatif. Baik itu perspektif obyektif maupun perspektif interpretatif, keduanya berada dalam jalur ilmu sosial, namun demikian terdapat perbedaan sebagaimana yang diungkapkan Littlejohn bahwa perspektif interpretative ditandai dengan adanya sebuah pemahaman atau interpretasi yang kreatif dari peneliti yang artinya juga membuka sisi sisi subyektifitas peneliti. Mengingat ilmu komunikasi merupakan salah satu ilmu yang berada dalam jalur ilmu sosial atau humanitis, maka kedua perspektif ini secara langsung memberikan pengaruh yang cukup besar dalam kajian ilmu komunikasi. Meskipun kedua perspektif ini dapat diterapkan dalam penelitian komunikasi, akan tetapi baik itu perspektif obyektif maupun perspektif interpretatif memiliki sejumlah perbedaan dalam beberapa hal, antara lain dalam hal metode penelitian yang digunakan, pengambilan kesimpulan penelitian serta bagaimana posisi peneliti ketika memulai penelitian.

Para penganut aliran interpretative meyakini bahwa kebenaran bersifat subjektif dan makna dapat dipahami dari hasil interpretasi subyektif, serta meyakini bahwa teks memiliki makna yang beragam tergantung dari subyek yang menginterpretasikannya. Perspektif interpretatif juga meyakini bahwa realitas dipandang sebagai bentukan dari interaksi manusia yang penuh dengan makna atau meaningfull social action. Maka dari itu, realitas dipahami sebagai pemaknaan (meaning) dimana hanya bisa ditafsirkan atau verstehen dan hendak dilukiskan secara mendalam. Pandangan ini sesuai dengan filsafat rasionalitas yang memandang bahwa individu dengan rasionalitasnya mampu menemukan kebenaran, bahkan filsafat ini meyakini bahwa kebenaran tersebut sebenarnya sudah ada dalam diri manusia itu sendiri, karenanya tidak dicari diluar dirinya. Karena dasar ilmu pengetahuan kemudian berasal dari rasionalitas manusia atau pemaknaan tadi maka ilmu pengetahuan itu tidak bersifat objektif dan tidak bersifat universal. Ilmu pengetahuan semata menggambarkan kekhasan pengalaman suatu kelompok manusia dalam konteks tertentu. Terdapat beberapa hal yang harus dipenuhi supaya teori interpretatif dapat dikatakan baik, antara lain; Pertama, harus mampu menawarkan gagasan gagasan baru dan memberikan pemahaman baru pula yang bermanfaat bagi dunia. Kedua, teori interpretatif harus mampu membawa nilai nilai kemanusiaan kearah nilai yang terbuka. Ketiga, mampu membangkitkan semangat estetis. Artinya bahwa hal ini akan mampu membangkitkan imajinasi para peneliti dalam menginterpretasikan sesuatu. Keempat, teori interpretatif dikatakan baik jika hasil penelitiannya banyak disepakati dan didukung oleh pihak lain dari disiplin ilmu sejenis, meskipun pada dasarnya dihasilkan dari interpretasi subyektif akan tetapi dukungan dari pihak lain dapat membuat hasil penelitian tersebut terlihat teruji validitasnya. Kelima, bahwa teori interpretatif bisa dikatakan baik jika hasilnya dapat memberikan manfaat positif bagi masyarakat. sekarang kita sedikit membahas mengenai perspektif obyektif. perpsektif ini meyakini bahwa hanya ada satu kebenaran diluar sana, hanya ada satu realitas diuar sana yang tengah menanti kita untuk mengungkapkannya dengan menggunakan panca indera yang kita miliki. Bagi penganut perspektif ini, prinsip seing is

believing dipegang teguh. Mereka juga percaya jika satu prinsip telah berhasil diketahui dan telah dinyatakan valid, maka selamanya ia akan diyakini sebagai kebenaran selama kondisi dan situasinya relative sama. Berkaitan dengan perilaku manusia, perspektif ini menyakini bahwa perilaku manusia merupakan hasil bentukan dari factor luar yang sifatnya memaksa dan berada di luar kesadarannya. Perilaku terbentuk dari hasil hubungan antara stimulus respon. Penganut aliran ini menjunjung tinggi prinsip prinsip obyektifitas semenjak mereka meyakini bahwa hanya ada satu kebenaran di luar sana. Para penganutnya berupaya untuk membuat sebuah hukum universal yang mampu menjawab berbagai macam fenomena perilaku manusia yang hadir dalam berbagai situasi. Yakni dengan cara menguji hipotesis atau membuat hipotesis dan kemudian membuktikannya atau mengujinya. Dalam pengujiannya ini, metode penelitian yang secara umum digunakan adalah dengan menggunakan metode eksperimen dan survey yang kerap digunakan dengan jenis penelitian kuantitatif. . . Chapter I Berbicara tentang Teori 1. Perbandingan Antara Pendekatan Glenn Dan Marty Dalam Menganalisa Coca-Cola Diet Komersil; Glenn Menggunakan Perspektif Objectif. Ruang lingkup yang dibahas adalah efek media. Glenn bermaksud menemukan bagaimana pesan media massa mempengaruhi pikiran masyarakat, nilai-nilai; perasaan, sikap, dan perilaku. Dalam riset efek media, Glenn tertarik akan suatu gathering support untuk prinsip umum yang menerapkan ke seberang iklan. Marty Menggunakan Perspektif Interpretif.

Menurutnya iklan Coca-cola diet baik dipahami sebagai suatu alegori. Alegori adalah suatu cerita simbolis di mana ada dua pihak yang berarti luas dan bermakna lebih spesifik. Intinya, dalam iklan tersebut terdapat implikasi teks yang visual tampak bersih. 24 2. Pendekatan Objektif Dari Glenn Dan Interpretive Dari Marty Telah Mendekati Ke Studi Komunikasi Dengan Jelas Berbeda Pada Titik Awal, Metoda, Dan Kesimpulannya. Menurut Glenn, seorang ilmuwan yang bekerja keras dapat menjadi sasaran. Seluruh bab pengantar ini menurut Glenn akan menggunakan terminologi yang dapat diolah lagi. Menurut Marty, seorang kritikus retoris yang mengerjakan ilmu interpretive. 3. Menemukan Kebenaran Melawan Menciptakan Multipe Kenyataan. Whats truth? Para ilmuan mengasumsikan bahwa kebenaran adalah bentuk tunggal. Kenyataan "diluar sana" penantian untuk menemukan sesuatu melalui panca indera penglihatan, suara, sentuhan, perasa, dan penciuman. Para ilmuwan juga mencari kebenaran interpretive, tetapi mereka jauh lebih bersifat sementara tentang kemungkinan menyatakan kenyataan yang bersifat objektif. 5. Metode Penelitian : Eksperimen, Survei, Analisis Tekstual, dan Etnografi. Suatu mengadakan percobaan untuk menetapkan suatu cause-and-effect secara berurutan dengan sistematis dalam menggerakkan satu variabel

dalam situasi yang terkendalikan untuk mengetahui efeknya pada variabel lain. Menggunakan daftar pertanyaan atau melaksanakan wawancara, penelitian survei bersandar pada data laporan diri untuk menemukan orang-orang yang berpikir, merasakan, atau berniat untuk melakukan sesuatu. Metodologi survei juga membantu ilmuwan dalam mengesahkan teori. Tujuan dari analisa tekstual adalah untuk menguraikan dan menginterpretasikan karakteristik suatu pesan. Ahli teori komunikasi menggunakan istilah ini untuk mengacu pada ungkapan yang simbolis lisan atau pun bukan lisan/tulisan. Etnografi adalah bukan suatu ilmu pengetahuan yang bersifat percobaan dalam mencari hukum, akan tetapi suatu interpretive dalam mencari maksud tertentu. . . Halaman 17 Para Ilmuwan klasik yang meyakini paham filsafat determinisme, yakin bahwa teori dan riset itu bisa dan harus bebas nilai, dan karenanya para ilmuwan dalam kelompok ini harus menjadi ilmuwan yang obyektif serta netral, tidak dipengaruhi oleh nilai-nilai (agama, norma dan lain sejenisnya) dalam proses kerja ilmiahnya. Jika tidak maka riset yang dilakukannya akan menghasilkan bad science. Menurut Peursen (1985 : 4), pendirian bahwa ilmu itu obyektif serta netral, sebetulnya merupakan alat untuk mempertahankan keadaan dan cara berfikir, pendirian yang dipengaruhi oleh ideologi konservatif. Ilmuwan dalam kelompok ini diistilahkannya dengan positivistis. Meskipun begitu, ada yang berbeda paham dalam menilai posisi nilai tersebut dalam proses bekerjanya ilmu. Mereka ini adalah ilmuwan dari kelompok interpretif/humanis (istilah Griffin) atau ritual (istilah Mc Quail). Ilmuwan

demikian meyakini bahwa manusia itu memiliki kemauan bebas dan karenanya ilmuwan tidak bebas nilai dalam melakukan proses kerja ilmu. Kelompok ilmuwan yang diistilahkan Peursen (1985 : 4) dengan ilmuwan ideologis ini (istilah yang juga digunakan oleh Neuman (2000 :5), dianut oleh para Marxis dan Neo Marxis, tapi di antara mereka ada juga yang bukan Marxis dan Neo-Marxis. Dalam kaitan kelompok ideologis atau interpretif dimaksud, Griffin (2003 : 9-10) sendiri berkomentar, bahwa para sarjana tersebut menyebutkan diri mereka dengan variasi nama yang membingungkan. Ada yang menyebut henneneuticists, poststructuralis, deconstructivis, phenomenologis, peneliti studi budaya, dan ada yang menyebutnya dengan ahli teori aksi sosial. Teoritisi James Anderson dari Universitas Utah, seorang yang berberspektif postmodernisme, sebagaimana dikutip Griffin, mengemukakan penilaiannya dengan suatu pengandaian berlalu lintas terhadap keragaman nama tadi : Dengan jumlah yang sangat besar dari komunitas interpretif ini, maka nama-nama suka tertukar, patroli perbatasan menjadi sia-sia dan pelanggaran terus berkelanjutan. Para anggota, bagaimanapun, sering melihat perbedaan-perbedaan yang nyata sifatnya. Keluhan terhadap kalangan ideologis ini, juga muncul dalam bentuk lain, misalnya dari Robert Ivie, editor senior pada Quaterly Journal of Speech, dan karenanya ia menyarankan bahwa kritik-kritk retorikal hendaknya dilakukan dengan menggunakan teori dengan cara ini : Kita tidak bisa melakukan kritik retorikal realitas sosial tanpa memanfaatkan suatu panduan teori retorikal yang menjelaskan secara umum kepada kita tentang apa yang harus dicari di dalam kenyataan sosial, apa yang harus diperbuat terhadap kenyataan sosial itu, dan whether to consider it significant. (dalam Griffin, 2003 : 14). Dengan telaah aksiologis tadi, kiranya memberikan pengertian bahwa melalui wacana nilai telah memunculkan perspektif yang berbeda dalam cara memperoleh ilmu pengetahuan, dengan mana juga mengelompokkan akademisi ke dalam dua bagian, kelompok scientific/obyektive/ positivistis dan interpretif/humanis/ideologis. Menurut Griffin (2003 : 10), pemisahan pandangan

sarjana interpretif dan ilmuwan obyektive ini mencerminkan asumsi yang kontras tentang bagaimana cara pemerolehan pengetahuan, inti dari sifat manusia, pertanyaan-pertanyaan mengenai nilai, tujuan utama teori, dan methode penelitian. Perbedaan perspektif yang kontras dari dua kelompok ilmuan tadi, di sisi lain sekaligus juga dapat menjadi tolok ukur dalam mengevaluasi kualitas teori komunikasi. Dalam scientific/objektive theory, tolok ukur yang membuatnya menjadi sebuah teori yang bagus terdiri dari lima standard; 1. penjelasan data; 2. Perkiraan terhadap peristiwa-peristiwa yang akan datang; 3. kesederhanaan relatif (relative simplicity); 4.Hipotesis yang dapat diuji, a good objektive theory is testable. dan 5. Kegunaan praktis teori. A good objektive theory is useful. Sementara dalam interpretive/ humanistic theory, ukuran kebagusannya adalah : 1. New understanding of people; 2. Clarification of values; 3. Aesthetic appeal; 4. Community of Agreement dan kle 5. Reform of Society (Lihat, Griffin, 2003 : 3947). Bagi akademisi ilmu komunikasi, pemahaman terhadap kedua pendekatan beserta standard kebaikannya itu, tentu menjadi penting karena bisa membantunya, antara lain dalam memutuskan pendekatan yang akan dijadikan sebagai petunjuk dalam melakukan studi studi komunikasi. Ilmu komunikasi, sebagai ilmu yang menurut banyak ahli sebagai ilmu yang bersifat interdisipliner, telah menimbulkan banyak pandangan ahli dalam berupaya mengkateorikan teori-teori komunikasi yang telah ada. Dalam upaya pengkategorian ini, para teoritisinya masing-masing menunjukkan penggunaan istilah yang berbeda. Istilah itu, menurut penulis ada yang pengkodefikasiannya menurut tempat berasalnya pemikiran-pemikiran teoritis, ada yang menurut ideologi yang mendasari lahirnya perspektif teoritis, dan ada yang berdasarkan cara bekerjanya ilmu dalam proses mencapai kebenaran ilmiahnya.

Terhadap pengkodefikasian yang dilakukan berdasarkan tempat asal lahirnya pemikiran teoritis, maka kodefikasiannya dikenal dengan kelompok Chicago School yang Liberal-Pluralis dan direpresentasikan sebagai perspektif teori komunikasi Barat yang nota bene positivistic/obyektif. Karenanya, penelitian dalam kubu ini diarahkan pada penggunaan unit analisis individu dengan methode survey dan instrumen-instrumen yang standar, yang dimaksudkan sebagai usaha dalam menjelaskan gejala-gejala sosial sebagaimana dalam hukum-hukum alam, yang hanya terbatas pada erklaeren berdasarkan hubungan causal. Lawannya adalah Frankfurt School-Marxis Kritikal, yang direpresentasikan sebagai pemikiranpemikiran yang melahirkan teori-teori komunikasi Timur. Para Ilmuwan dalam kelompok ini, dengan tokoh yang antara lain terdiri dari Max Horkheimer, Theodor W. Adorno, Erich Fromm dan Herbert Macuse, adalah para pemikir yang meyakini bahwa ilmu itu tidak bebas nilai dan pandangan mereka ini banyak dipengaruhi oleh kritik idealisme Karl Marx. Jadi, di antara dua kubu tersebut, perspektif teoritisnya terutama dibedakan oleh soal pengakuan value dalam proses bekerjanya ilmu dalam menemukan kebenaran ilmiahnya. Kemudian, pengkodefikasian yang dilakukan menurut cara bekerjanya ilmu dalam proses mencapai kebenaran ilmiahnya, maka termasuklah di sini pengistilahan yang diberikan Mc Quail dan Griffin. Mc Quail sendiri mengkodefikasikan istilahnya itu dengan konsep model, yakni model komunikasi yang terdiri dari model Transmisi dan Ritual. Model transmisi merupakan model yang menggambarkan cara bekerjanya ilmu komunikasi dalam perspektif tradisional atau positivistic yang nota bene free value. Jadi, sama dengan proses bekerjanya ilmu dalam perspektif Teori Barat sebelumnya. Sementara model ritual, yakni model yang menggambarkan cara bekerjanya ilmu komunikasi itu dengan proses seperti yang terjadi pada perspektif interpretif (humanis) sebagaimana dikatakan Griffin seperti telah disinggung sebelumnya. Griffin sendiri, mengistilahkan transmisi sebagaimana digunakan Mc Quail tadi dengan istilah Scientific (Objektive). Dengan mana, perspektifnya relatif tidak berbeda dengan apa yang digambarkan oleh Mc Quail.

Guna tidak membingungkan dan memudahkan akademisi komunikasi dalam memahami perbedaan di antara kedua model, dalam bukunya Griffin mencoba menganalogikan dua akademisi yang dimintanya menanggapi fenomena cita-cita anak mengenai pekerjaan dalam Iklan Superbowl itu, dengan dua perancang mode pakaian. Glenn yang Objective mungkin akan menjahit suatu mantel yang pantas untuk semua orang pada berbagai kesempatan dengan baik, satu ukuran cocok untuk semua. Di pihak lain maka Marty yang interpretif/humanis mungkin mengaplikasikan prinsip dari desain fhasion-nya ke gaya suatu mantel yang dibuat untuk perorangan, untuk klien tunggal - satu orang satu tipe pakaian, kreasi tertentu yang khas untuk seseorang. Glenn mengadopsi suatu teori dan kemudian mengujinya untuk melihat apakah itu bisa mencakup semua orang. Sementara Marty menggunakan teori untuk membuat perasaan yang unik dari event-event komunikasi.(Griffin, 2003 :14) Interpretif ........ Ahli teori obyektif pada umumnya mengedepankan efektifitas dan partisipasi ditempatkan di belakang. Ahli teori cenderung memusatkan pada partisipasi dan mengurangi peran keefektivitas-an (Griffin, 2003 :14). Jadi, ada perbedaan yang kontradiktif di antara ilmuwan obyektif dan interpretif dalam cara memperoleh pengetahuan ilmu. Kemudian, kodefikasi yang dilakukan menurutideologi sebagai landasan epistemologis yang mendasari lahirnya perspektif teoritis. Untuk yang ini, maka ada dua teoritisi yang mengemukakan gagasannya. Pertama seperti yang dikemukakan Littlejohn melalui istilah yang disebutnya dengan genre Communication Theory. Untuk gagasan Littlejohn, maka genre teori komunikasi itu menurutnya ada lima: 1. teori struktural fungsional; 2. teori kognitif dan behavioral; 3. teori interaksional; 4. teori interpretif dan 5. teori kritis. (Littlejohn, 1994 : 13). Basis pada teori 1 adalah perspektif sosiologi struktural-fungsionalisme dari Emile Durkheim dan Talcott Parson. Perspektif ini berdasarkan pada perspektif dalam falsafah atau jenis-jenis teori komunikasi, dan kedua oleh Miller dengan istilahnya Conceptual Domains of

determinisme. Pada teori kedua, maka basis pemikirannya bertolak pada perspektif psikologis, yakni Stimulus (S) dan Respon (R). Manusia mendapatkan pengetahuannya dengan cara merespon rangsangan-rangsangan yang ada di alam ini. Pada genre ketiga, maka basisnya adalah bahwa kehidupan sosial dipandang sebagai sebuah proses interaksi, tokohnya antara lain Herbert Mead. Kemudian genre keempat, basisnya yaitu pada upaya menemukan makna pada teks, misalnya seperti teks pada iklan cita-cita anak dalam iklan seperti dicontohkan Griffin, sebagaimana disinggung sebelumnya. Yang tergabung dalam kelompok ini adalah para ilmuwan yang menamakan diri dengan henneneuticists, poststructuralis, deconstructivis, phenomenologis, peneliti studi budaya, dan ada yang menyebutnya dengan ahli teori aksi sosial. Terakhir yaitu teori kritis, basis teorinya adalah kritik idealisme Karl Marx, dengan tokoh awalnya Max Horkheimer, Theodor W. Adorno, Erich Fromm dan Herbert Macuse. Meskipun teori komunikasi itu terbagi menjadi lima genre, namun ini bukan berarti masing-masing genre tidak memiliki persamaan sama sekali. Persamaan yang kasat mata, paling tidak itu dimungkinkan terjadi menurut motif yang melatar belakangi para ilmuwannya dalam memunculkan salah satu sudut pandang (angel) terhadap upaya menelaah fenomena komunikasi. Persamaan dimaksud, dapat dikatakan sebagai sebuah persamaan umum yang ada pada masing-masing genre teori komunikasi, yakni upaya untuk menemukan kebenaran yang sedalam-dalamnya tentang fenomena (Erscheinungen) komunikasi sebagai obyek forma dari ilmu komunikasi. Selain persamaan umum, juga terdapat persamaan yang khas pada kelima genre itu. Persamaan dimaksud, misalnya antara genre struktural and functional theories dengan genre cognitif and behavioral theories, keduanya dipersamakan oleh landasan falsafah ilmu yang dianut, yakni determinisme positivisme yang dipelopori A. Comte (1798-1857) (Poedjawijatna, 1983 :94). Dengan demikian, komunikasi antara lain dianggap sebagai proses yang linier, dari komunikator ke

komunikan. Jadi, persis seperti apa yang dimaksudkan Mc Quail dalam model transmisinya. Namun demikian, khusus terhadap genre pertama sebelumnya (struktural and functional), genre itu lahir dari akar pemahaman yang berbeda, di mana struktural berbasis pada pandagan sosiologi, sementara functional basisnya pada biologi, terutama terhadap konsep sistem anatomi tubuh manusianya, yang kemudian dinilai tidak berbeda halnya dengan sosial. Persamaan lainnya adalah, bahwa kedua genre teori komunikasi dimaksud, juga berada dalam posisi yang sama dalam melihat posisi value dalam ilmu, yakni sama-sama meyakini bahwa nilai tidak boleh terlibat dalam proses keilmuan demi tidak lahirnya bad science. Diketahui pula, hipotesis yang dirumuskan dengan proses berfikir ilmiah deduktif, dinilai sangat berperan dalam kedua genre ketika ilmu komunikasi berupaya menemukan kebenarannya. Berbeda dengan dua genre teori komunikasi sebagaimana dibahas barusan, maka pada tiga genre lainnya, yaitu interactionist symbolic theories; interpretive theories dan crical theories, masalah value dinilai syah dalam proses ilmiah. Ini berhubungan dengan pemahaman bahwa manusia itu sebagai makhluk yang memiliki kehendak bebas. Seiring dengan itu, komunikasipun dirumuskan bukan sebagai sebuah proses yang linier, melainkan sirkuler, dengan mana manusiamanusia yang terlibat di dalamnya tidak dibedakan dalam hal status seperti halnya dalam genre teori yang berperspektif positivis dengan isitilah komunikator dan komunikan. Dalam tiga genre ini, individu yang terlibat disebut dengan partisipan komunikasi, atau ada yang dengan istilah komunikan sebagai ekuivalen dengan partisipan. Dengan demikian, maka komunikasipun antara lain didefinisikan sebagai sebuah proses pertukaran makna. Ragam perspektif yang ada di dalam melihat teori komunikasi di atas kiranya mengindikasikan kalau upaya menemukan tori komunikasi yang sifatnya mengandung makna seumum-umumnya (meta theory) itu begitu sulit. Dalam kaitan ini Littlejohn berpendapat bahwa memang ini menjadi salah satu kelemahan ilmu,

termasuk ilmu komunikasi. Kelemahan ini dimungkinkan karena daya tangkap indra manusia terbatas, dan karenanya ilmu hanya bisa mengobservasi fenomenafenomena indrawi yang bersifat fragmentaris. Kalaupun ada ilmuwan yang berupaya mencoba mempelajari secara non fragmentaris, sebagaimana halnya dilakukan oleh disiplin ilmu filsafat dengan cara berfikir kritis, ekstrim dan universal, maka upaya ini sudah ke luar dari tradisi ilmu pengetahuan dalam menemukan kebenarannya yang nota bene bertolak dari data empirik. Jadi, upaya ilmu filsafat tadi, tetap saja tidak dapat menolong ilmu untuk dapat menelaah obyeknya secara non fragmentaris. Ilmu merupakan pengetahuan ilmiah yang tebatas sifatnya, terbatas pada obyek formanya dan karenanya pula para filsuf menyebutnya dengan ilmu-ilmu khusus, atau ilmu tentang ada khusus, kata Poedjawijatna. Namun, sebagai ilmu khusus maka ilmu pengetahuan juga berupaya mempelajari obyek formanya itu melalui pendekatan-pendekatan yang dilakukan oleh ilmu filsafat. Tujuannya tak lain adalah agar mendapatkan pengetahuan yang seumum-umumnya tentang obyek forma yang dipelajari. Upaya ini sendiri dilakukan ilmu melalui salah satu cabang ilmunya sendiri, yakni filsafat ilmu pengetahuan sebagai pure science-nya sebuah ilmu pengetahuan. Melalui telaah aspek ontologi, epistemologi dan aksiologi, filsafat ilmu komunikasi berusaha menemukan kebenaran seumum-umumnya tentang obyek forma ilmu komunikasi, human communication. Meskipun demikian, dalam prosesnya kebenaran mutlak tetap saja bukan menjadi sesuatu yang mesti diwujudkan sebagai titik akhir dari proses. Upaya yang tidak mungkin dilakukan sehubungan dengan keterbatasan manusia inipun, seyogyanya disadari sebagai embrio yang menjadikan sesama ilmuwan bisa saling menghargai dalam upaya angel masing-masing dalam menemukan kebenaran ilmu komunikasi. Lagi pula, seperti dinyatakan Anderson, "kebenaran adalah perjuangan, bukan status ". Jadi, tidak ada kebenaran indrawi yang berhenti pada satu titik, kecuali kebenaran dogmatis agama yang berasal dari Tuhan.

Kebenaran ilmu pun begitu, seperti halnya dengan ilmu komunikasi. Dalam kaitan kelemahan ilmu yang demikian, Littlejohn (2005, 17) berkomentar, All theories are abstactions. They always reduce experience to a set of categories and as a result always leave something out. A theory focuses on certain things and ignores others. This truism is important because it reveals the basic inadequacy of any one theory. No single theory will ever reveal the whole truth or be able to totally address the subject of investigation. Theories are also created by people, not ordained by God. When scholars examine something in the world, they make choices- about how to categorize what they are observing, what to name the concepts upon which they have focused, how broad or narrow their focus will be, and so on. Thus, theories represent various ways observers see their environments more than they capture reality than a record of scholars conceptualizations about that reality. (2005, 17). Secara praktis, ketiga komponen yang menjadi fokus telaah dalam asumsi filosofis sebelumnya, sebenarnya terkandung di dalam semua pengetahuan, termasuk pengetahuan biasa. Yang berbeda adalah materi perwujudannya serta sejauh mana landasan-landasan dari ketiga aspek ini diperkembangkan dan dilaksanakan. Namun, dari semua pengetahuan, pengetahuan ilmu merupakan pengetahuan yang aspek ontologis, epistemologis dan aksiologisnya telah jauh lebih berkembang dibandingkan dengan pengetahuan-pengetahuan lain dan dilaksanakan secara konsekuen dan penuh disiplin (Lihat, Suriasumantri, 1984 : 33). Apa yang dikatakan Suriasumantri itu, khusus terkait dengan ilmu komunikasi misalnya, maka berdasarkan indikasi yang ada memang relevan dengan pernyataan Suriasumantri tadi. Pada aspek ontologis, maka indikasinya berupa cukup jelasnya obyek kajian ilmu komunikasi itu, yakni proses human communication yang dikatakan Littlejohn sebelumnya terjadi dalam lima tingkatan ; interpersonal, kelompok, publik, organisasi, dan massa. Pada aspek epistemologis, indikasinya berupa terdapatnya beberapa pendekatan dalam menelaah obyek kajian ilmu komunikasi ; misalnya berdasarkan perspektif scientific/obyektive versus interpretif-humanistic, atau transmisi versus ritual. Sementara pada aspek

aksiologis,

indikasinya

berupa

kemunculan

dua

kubu

dalam

akademisi

komunikologi dalam kaitan value dengan ilmu, yakni kubu free value (neutral) yang tergabung dalam dalam diri kelompok positivistis/obyektif/scientifis/tradisional/konservatif manusia yang tergabung dalam kelompok dan kubu not free value (tidak bebas nilai) atau yang mengakui eksistensi free will interpretif/humanis/ritual/ideologis. Akan tetapi, berkaitan dengan pernyataan Suriasumantri tentang dilaksanakan secara konsekuen dan penuh disiplin, tadi, maka berdasarkan fenomena akademik mengindikasikan kalau pernyataan ini masih relatif banyak tidak berkesesuaian. Ini terlihat dari rancangan atau penelitian yang dibuat, atau skripsi maupun tesis yang dibuat akademisi komunikasi. Bentuk-bentuk karya ilmiah yang nota bene mengandung asumsi-asumsi filosofis ilmu tersebut, dengan mana elemen ontologis tercermin melalui masalah pokok penelitian, epistemologis tercermin melalui methode penelitian dan elemen aksiologis tercermin melalui tujuan dan manfaat penelitian, kerap terlihat tidak memiliki konsistensi (taat asas) di antara ketiga unsur tadi. Inkonsistensi atau pengingkaran asas ini biasanya lebih sering muncul dalam kaitan komponen ontologis dan epistemologis. Sebagai contoh misalnya disain riset yang dilakukan Lembaga Riset Inpendam Yogyakarta terhadap fenomena konflik sosial dalam kaitannnya dengan komunikasi. Inkonsistensi terjadi ketika lembaga tersebut tidak menggunakan mainstream ilmu komunikasi dalam menelaah konflik sosial, melainkan dengan mainstream sosiologi an sich. Contoh lain yang paling sering terjadi adalah pada pembuatan skripsi. Dalam menelaah efek media massa misalnya, berdasarkan rumusan masalahnya sudah jelas khalayak media diposisikan sebagai individu aktif. Namun dalam proses pembuatan kerangka teori, hipotesis, methode dan instrumennya, bukan bersandar pada perspektif paradigma khalayak aktif melainkan pada perspektif khalayak pasif, atau bersandar pada teori efek media yang linier. ..

. erbagai perbedaan yang terkandung dalam masing-masing kelompok tradisi komunikasi tersebut mempengaruhi pada cara melakukan riset atau penelitian komunikasi dan mempengaruhi pilihan teori yang akan digunakan. Setiap teori menggunakan cara atau metode riset yang berbeda yang secara umum dapat dibagi ke dalam dua kelompok besar paradigma penelitian yaitu objektif dan interpretatif. 1. Objektif Ilmu pengetahuan seringkali diasosiasikan dengan sifatnya yang objektif (objectivity) yang berarti bahwa pengetahuan selalu mencari standarisasi dan kategorisasi. Dalam hal ini, para peneliti melihat dunia sedemikian rupa sehingga peneliti lain yang menggunakan cara atau metode melihat yang sama akan menghasilkan kesimpulan yang sama pula. Dengan kata lain, suatu replikasi atau penelitian yang berulang-ulang akan selalu menghasilkan kesimpulan yang persis sama sebagaimana penelitian dalam ilmu pengetahuan alam (natural sciences). Penelitian yang menggunakan metode objektif sering disebut dengan penelitian empiris (scientific scholarship) atau positivis. Perlu ditegaskan disini bahwa apa yang dikenal selama ini sebagai tipe penelitian kuantitatif dan penelitian kualitatif masuk dalam kategori penelitian objektif positivis ini. 2. Interpretatif Mereka yang menggunakan pendekatan ini sering disebut dengan humanistic scholarship. Jika metode objektif (penelitian kuantitatif/kualitatif) bertujuan membuat standarisasi observasi maka metode subjektif (penelitian interpretatif) berupaya menciptakan interpretasi. Jika ilmu pengetahuan berupaya untuk mengurangi perbedaan diantara para peneliti terhadap objek yang diteliti maka para peneliti humanistik berupaya untuk memahami tanggapan subjektif individu. Pendekatan interpretatif memandang metode penelitian ilmiah tidaklah cukup untuk dapat menjelaskan misteri pengalaman manusia sehingga diperlukan unsur

manusiawi yang kuat dalam penelitian. Kebanyakan mereka yang berada dalam kelompok ini lebih tertarik pada kasus-kasus individu daripada kasus-kasus umum. Berdasarkan klasifikasi teori komunikasi oleh Robert Craig tersebut, ketujuh tradisi teori komunikasi tersebut ada yang bersifat objektif dan yang bersifat interpretatif. Dalam hal ini, kita dapat menggunakan pandangan Griffin melalui peta tradisi teori komunikasi sebagai berikut:

Sumber: EM Griffin, dan Glen McClish (special consultant), A First Look At Communication Theory, Fifth Edition, McGraw Hill, 2003. Hal 33. . 1. Survei Yakni metode penelitian dengan menggunakan kuesioner sebagai instrumen pengumpulan datanya dengan tujuan memperoleh informasi tentang sejumlah responden yang dianggap mewakili populasi tertentu. Survei ini terdiri dari: a. Survei Deskriptif Jenis survei yang digunakan untuk menggambarkan populasi yang sedang diteliti. Fokus penelitian ini adalah perilaku yang sedang terjadi dan terdiri dari satu variabel. Misalnya menggambarkan variabel sosiodemografis responden dalam riset Bagaimana karakteristik sosiodemogafis pembaca Kompas?, maka peneliti akan menggambarkan tingkat pendidikan responden, tingkat penghasilan, agama, jenis kelamin, tempat tinggal, usia, status perkawinan dan lain-lain b. Survei Eksplanatif (Analitik)

Jenis survei ini digunakan untuk mengetahui mengapa situasi atau kondisi tertentu terjadi atau apa yang mempengaruhi terjadinya sesuatu. Peneliti tidak sekedar menggambarkan terjadinya fenomena tapi menjelaskan mengapa fenomena itu terjadi dan apa pengaruhnya. Dengan kata lain, peneliti ingin menjelaskan hubungan antara dua variabel atau lebih dan membuat hipotesis sebagai asumsi awal untuk menjelaskan hubungan antar variabel yang diteliti. Analisis data menggunakan uji statistik inferensial. Misalnya seorang praktisi iklan ingin mensurvei apakah frekwansi terpaan iklan mempengaruhi keinginan orang untuk membeli produk yang diiklankan. Survei Eksplanatif ini terbagi dua yaitu: 1) Komparatif: bermaksud untuk membuat komparasi (perbandingan) antara

variabel yang satu dengan lainnya yang sejenis. Misalnya: Apakah ada perbedaan antara tingkat kepuasan pembaca Tribun dan Batam Pos? 2) Asosiatif: Bermaksud untuk menjelaskan hubungan (korelasi) antar variabel.

Misalnya: Apakah ada hubungan antara terpaan media massa dengan pengetahuan politik mahasiswa? 2. Metode Analisis Isi (Content Analysis)

Yaitu metode penelitian yang digunakan untuk meneliti atau menganalisis isi komunikasi secara sistematik, objektif dan kuantitatif. Sistematis berarti proses analisis tersusun secara sistematis mulai dari penentuan isi komunikasi yang dianalisis, cara menganalisisnya maupun kategori yang dipakai untuk menganalisisnya. Objektif berarti peneliti harus mengesampingkan faktor-faktor yang subjektif atau personal sehingga hasil analisis benar-benar objektif dan bila diteliti peneleti lain hasilnya relatif sama. Analisis ini harus dikuantitatifkan ke

dalam angka-angka, misalnya 70% berita berita Kompas selama setahun adalah bertema politik. Analisis isi kuantitatif lebih memfokuskan pada isi komunikasi yang tampak (tersurat/manifest/nyata). Sedangkan untuk menjelaskan hal-hal yang tersirat (latent), misalnya ideologi dibalik berita dilakukan analisis isi kualtatif, seperti analisis framing, analisis wacana dan semiotika yang telah banyak berkembang di dalam Ilmu Komunikasi. 3. Metode Eksperimen

Yaitu metode yang digunakan untuk meneliti hubungan atau pengaruh sebab akibat dengan memanipulasi satu variabel atau lebih pada pada satu kelompok ekperimental atau lebih, dan membandingkan hasilnya dengan kelompok kontrol yang tidak mengalami manipulasi. Peneliti harus membagi responden dalam 2 kelompok. Kelompok yang satu dimanipulasi dengan pesan tertentu, dan kelompok dua yang tidak dimanipulasi. Kemudian peneliti melihat efek manipulasi tersebut terhadap kelompok satu dengan membandingkannya dengan kelompok dua. Contoh, judul penelitian: Pengaruh tayangan kekerasan di TV terhadap perilaku agresif anak. Kelompok anak yang satu disuruh menonton tayangan kekerasan di TV, sedangkan kelompok dua disuguhi acara ringan seperti komedi atau acara ringan lainnya. Kelompok satu disebut kelompok eksperimental, kelompok dua disebut kelompok kontrol. Jika kekerasan diukur dengan perilaku memukul, menendang, mencubit dan yang lainnya, bila anak-anak yang setelah menonton tayangan kekerasan di TV ketika diamati banyak yang memukul, menendang, mencubit, berarti terbukti bahwa acara kriminal tersebut telah mempengaruhi perilaku agresif pada anak-anak.