Anda di halaman 1dari 42

BAB I PENDAHULUAN

Urin adalah cairan sisa yang diekskresikan oleh ginjal keluar dari tubuh melalui proses urinasi. Urin merupakan serum dan bagian yang cair dari darah, yang dibawa oleh arteri ke ginjal dan oleh proses fermantasi diubah menjadi urin. Urin bersifat panas, melarutkan, membersihkan, menghilangkan, menahan proses pembusukkan. Sistem urin terdiri atas ginjal, ureter, kandung kemih, dan uretra yang membantu mempertahankan homeostasis dengan menghasilkan urin, dimana berbagai hasil metabolisme dibuang. Ginjal juga mengatur keseimbangan cairan tubuh dan tempat pembentukan renin dan eritropoeitin. Urin yang dihasilkan oleh ginjal berjalan melalui ureter ke kandung kemih dan dikeluarkan tubuh melalui uretra.

1.1 Sistem Urinari


Sistem perkemihan atau sistem urinaria, adalah suatu sistem dimana terjadinya proses penyaringan darah sehingga darah bebas dari zat-zat yang tidak dipergunakan oleh tubuh dan menyerap zat-zat yang masih di pergunakan oleh tubuh. Zat-zat yang tidak dipergunakan oleh tubuh larut dalam air dan dikeluarkan berupa urin (air kemih). Sistem urinari terdiri dari : Ginjal, yang mengeluarkan sekret urin Ureter, yang menyalurkan urin dari ginjal ke kandung kencing Kandung kencing, yang bekerja sebagai penampung Uretra, yang mengeluarkan urin dari kandung kemih.

A. Ginjal

Kedudukan ginjal terletak dibagian belakang dari kavum abdominalis di belakang peritoneum pada kedua sisi vertebrata lumbalis III dan melekat langsung pada dinding abdomen. Ginjal kanan terletak lebih ke bawah dibandingkan ginjal kiri. Ginjal berbentuk seperti biji kacang merah (kara atau ercis), jumlahnya ada 2 buah yang letaknya di kiri dan kanan, ginjal kiri lebih besar daripada ginjal kanan. Pada orang dewasa berat ginjal 200 gram. Dan pada umumnya ginjal laki-laki lebih panjang daripada ginjal wanita. Satuan structural dan fungsional ginjal terkecil disebut nefron. Tiap-tiap nefron terdiri atas pembuluh-pembuluh darah yaitu glomerulus dan kapiler peritubuler yang mengitari tubuli. Dalam komponen tubuler terdapat kapsul Bowman, serta tubulus-tubulus yaitu tubulus kontortus proksimal, tubulus kontortus distal, tubulus pengumpul dan lengkung henle yang terdapat pada medulla. Kapsula Bowman terdiri atas lapisan parietal (luar) berbentuk gepeng dan lapis visceral (langsung membungkus kapiler glomerulus) yang bentuknya besar dengan banyak juluran mirip jari disebut podosit (sel berkaki) atau pedikel yang memeluk kapiler secara teratur sehingga celah-celah antara pedikel itu sangat teratur. Kapsula Bowman bersama glomerulus disebut korpuskel renal, bagian tubulus yang keluar dari korpuskel renal disebut dengan tubulus kontortus proksimal karena jalannya yang berbelokbelok, kemudian menjadi saluran yang lurus yang semula tebal kemudian menjadi tipis disebut ansa Henle atau Loop of henle, karena membuat lengkungan tajam berbalik kembali ke korpuskel renal asal, kemudian berlanjut sebagai tubulus kontortus distal. Ginjal dibungkus oleh simpai jaringan fibrosa yang tipis. Pada sisi medial terdapat cekungan, dikenal sebagai hilus, yang merupakan tempat keluar masuk pembuluh darah dan keluarnya ureter. 2

Bagian ureter atas melebar dan mengisi hilus ginjal,dikenal sebagai piala ginjal (pelvis renalis). Pelvis renalis akan terbagi lagi menjadi mangkuk besar dan kecil yang disebut kaliks mayor (2 buah) dan kaliks minor (8-12 buah). Setiap kaliks minor meliputi tonjolan jaringan ginjal berbentuk kerucut yang disebut papilla ginjal. Pada potongan vertical ginjal tampak bahwa tipa papilla merupakan puncak daerah pyramid yang meluas dari hilus menuju kapsula. Pada papilla ini bermuara 10-25 buah duktus koligens. Satu pyramid dengan bagian korteks yang melingkupinya dianggap sebagai satu lobus ginjal. Secara histology ginjal terbungkus dalam kapsul simpai jaringan lemak dan simpai jaringan ikat kolagen. Organ ini terdiri atas bagian korteks dan medulla yang satu sama lain tidak dibatasi oleh jaringan pembatas khusus, ada bagian medulla yang masuk ke korteks dan ada bagian korteks yang masuk ke medulla. Ginjal adalah organ di dalam tubuh manusia yang terletak di belakang abdomen atas. Anatomi ginjal yaitu lapisan luar yang disebut kortex atau kulit ginjal. Kortex mengandung kurang lebih 1-4 juta nefron. Tiap-tiap nefron terdiri atas: - Bagian yang melebar, renal corpuscle atau badan malphigi - Tubulus kontortus proksimal - Bagian tipis dan tebal lengkung Henle, dan - Tubulus kontortus distal. Ginjal yang normal pada orang dewasa berukuran : Panjang Lebar Berat Persentase berat ginjal : 10-13 cm (4 -5 inci) : 5-7,5 cm (2-3 inci) : Kurang lebih 150 gram : 0,5% dari berat tubuh

Bagian-bagian ginjal

Ukuran ginjal pada manusia sangat kecil, anatomi juga sangat sederhana, akan tetapi tanggung jawabnya terhadap kesehatan tubuh sangat besar. Renal corpuscle terdiri atas berkas kapiler-kapiler, glomerulus, dikelilingi oleh kapsula epitel berdinding ganda yang dinamakan kapsula Bowman. Lembaran dalam kapsula yang meliputi kapilerkapiler glomerulus dinamakan lapisan visceral, sedangkan lembaran luar membentuk batas luar tebal corpuscle dan dinamakan lapisan parietal kapsula Bowman. Antara kedua lembaran kapsula Bowman ini terdapat ruang kapsuler, yang menerima cairan yang difiltrasi melalui dinding kapiler dan lapisan viseral. Tiap-tiap renal corpuscle mempunyai kutub vaskuler di mana arteriol afferen masuk dan arteriol efferen meninggalkan renal corpuscle dan kutub urinarius, di mana tubulus kontortus proksimal dimulai. Tubulus kontortus proksimal merupakan segmen awal nefron berkelok-kelok yang timbul pada kutub urinarius badan ginjal. Tubulus kontortus proksimal biasanya ditemukan pada potongan melintang korteks, dibatasi oleh epitel selapis kubis yang mempunyai sitoplasma sangat asidofil akibat adanya banyak mitokondria yang memanjang. Selanjutnya segmen awal nefron yang berkelokkelok menjadi segmen desenden lurus yang menembus medula dengan dangkal, dilanjutkan dengan bagian nefron yang dinamakan lengkung Henle. Masing-masing lengkung Henle berbentuk huruf U dan mempunyai segmen tipis diikuti oleh segmen yang tebal. Sebagian besar bagian tipis berjalan turun dan sebagian besar bagian tebal berjalan ke atas. Bagian tipis lengkung Henle merupakan lanjutan tubulus kontortus proksimal. Bagian ini menyerupai kapiler darah sehingga sukar dibedakan. Lengkung Henle asenden yang tebal strukturnya sama dengan tubulus kontortus distal. Tubulus kontortus distal merupakan segmen terakhir nefron yang dibatasi oleh epitel selapis tipis. Perbedaan antara tubulus kontortus proksimal dan distal didasarkan pada sifat-sifat berikut: sel-sel tubulus proksimal lebih besar, mempunyai brush border, dan lebih asidofil karena banyak mengandung mitokondria. Lumen tubulus distal lebih besar dan terlihat memiliki lebih banyak sel dan banyak inti karena selsel tubulus distal lebih pendek dan lebih kecil daripada selsel tubulus proksimal. Tubulus kontortus distal mengadakan hubungan dengan kutup vaskuler pada ginjal dari nefronnya sendiri.

Fungsi Ginjal antara lain: Eliminasi zat-zat yang berlebihan dalam tubuh. Eliminasi produk akhir metabolisme yang non-volatif. Eliminasi zat-zat anorganik yang tidak dibutuhkan tubuh. Sekresi sampah-sampah nitrogen yaitu urea, asam urat, dan kreatin yang merupakan sisa metabolisme protein. Mengatur konsentrasi ion-ion penting dengan cara mengekskresi ion natrium, kalium, kalsium, sulfat, dan fosfat. Mengatur keseimbangan asam basa dengan mengendalikan ekskresi ion hidrogen, bikarbonat, dan amonium serta memproduksi urin asam atau basa, bergantung pada kebutuhan tubuh. 4

Mengeluarkan zat beracun dengan mengeluarkan polutan, zat tambahan makanan, obat-obatan atau zat kimia asing lain dari tubuh. Mengendalikan konsentrasi gula darah dan asam amino darah melalui ekskresi glukosa dan asam amino berlebih, bertanggung jawab atas konsentrasi nutrien dalam darah. Mengatur tekanan darah dengan mengatur volume cairan yang esensial bagi pengaturan tekanan darah dan juga memproduksi enzim renin. Mengatur produksi sel darah merah dengan melepas eritroprotein yang mengatur produksi sel darah merah dalam sumsum tulang belakang.

B. Ureter Secara histologik ureter terdiri atas lapisan mukosa, muskularis dan adventisia. Lapisan mukosa terdiri atas epitel trannsisional yang disokong oleh lamina propria. Epitel transisional terdiri atas 4-5 lapis sel. Sel permukaan bervariasi dalam hal bentuk mulai dari kuboid (bila kandung kemih kosong atau tidak teregang) sampai gepeng (bila kandung kemih dalam keadaan penuh atau teregang). Sel-sel permukaan ini mempunyai batas konveks (cekung) pada lumen dan dapat berinti dua. Sel-sel permukaan ini dikenal sebagai sel payung. Lamina propria terdiri atas jaringan fibrosa yang relative padat dengan banyak serat elastin. Lumen pada potongan melintang tampak berbentuk bintang yang disebabkan adanya lipatan mukosa yang memanjang. Lipatan ini terjadi akibat longgarnya lapis luar lamina propria, adanya jaringan elastin dan muskularis. Lipatan ini akan menghilang bila ureter diregangkan. Lapisan muskularisnya terdiri atas serat otot polos longitudinal disebelah dalam dan sirkular disebelah luar (berlawanan dengan susunan otot polos d saluran cerna). Lapisan adventisia atau serosa terdiri atas lapisan jaringa ikat fibroelsatin. Fungsi ureter adalah meneruskan urin yang diproduksi oleh ginjal ke dalam kandung kemih. Bila ada batu disalurkan ini akan menggesek lapisan mukosa dan merangsang reseptor saraf sensoris sehingga akan timbul rasa nyeri dan menyebabkan penderita batu ureter akan berguling-guling, keadaan ini dikenal sebagai kolik ureter. Ureter adalah tabung atau saluran yang menghubungkan ginjal dengan kandung kemih. Ureter merupakan lanjutan pelvis renis, menuju distal dan bermuara pada vesica urinaria. Panjangnya 25-30 cm. Persarafan ureter oleh plexus hypogastricus inferior T11-L12 melalui neuron-neuron simpatis. Terdiri dari dua bagian : Pars abdominalis Pars pelvina

Tiga tempat penyempitan pada ureter : Uretero-pelvic junction Tempat penyilangan ureter dengan vasca iliaca sama dengan flexura marginalis Muara ureter ke dalam vesica urinaria 5

Terdiri dari dua saluran pipa masing-masing bersambung dari ginjal ke kandung kemih (vesica urinaria) panjangnya 25-30 cm dengan penampang 0,5 cm. ureter sebagian terletak dalam rongga abdomen dan sebagian terletak dalam rongga pelvis. Lapisan dinding ureter terdiri dari ; a. Dinding luar jaringan ikat (jaringan fibrosa) b. Lapisan tengah otot polos c. Lapisan sebelah dalam lapisan mukosa Lapisan dinding ureter menimbulkan gerakan-gerakan peristaltic tiap 5 menit sekali yang akan mendorong air kemih masuk ke dalam kandung kemih (vesikel urinaria). Gerakan peristaltic mendorong urin melalui ureter yang disekresikan oleh ginjal dan disemprotkan dalam bentuk pancaran, melalui osteum uretralis masuk ke dalam kandung kemih. Ureter berjalan hamper vertical ke bawah sepanjang fasia muskulus psoas dan dilapisi oleh pedtodinium. Penyempitan ureter terjadi pada tempat ureter meninggalkan renalis, pembuluh darah, saraf, dan pembuluh sekitarnya mempunyai saraf sensorik. Ureter pada pria terdapat di dalam visura seminalis atas dan disilang oleh duktus deferens dan dikelilingi oleh leksus vesikalis. Selanjutnya ureter berjalan oblique sepanjang 2 cm di dalam dinding vesika urinarai pada sudut lateral dari trigonum vesika. Sewaktu menembus vesika urinaria, dinding atas dan dinding bawah ureter akan tertutup dan pada waktu vesika urinaria penuh akan membentuk katup (valvula) dan mencegah pengambilan urine dan vesika urinaria. Ureter pada wanita terdapat dibelakang fossa ovarika dan berjalan ke bagian medial dan ke depan bagian lateral serviks uteri bagian atas, vagina untuk mencapai fundus vesika urinaria. Dalam perjalanannya, ureter didampingi oleh arteri iterina sepanjang 2,5 cm dan selanjutnya arteri ini menyilang ureter dan menuju ke atas diantara lapisan ligamentum. Ureter mempunyai 2 cm dari sisi. Pembuluh darah ureter : a. Arteri renalis b. Arteri spermatika interna c. Arteri hipogastrika d. Arteri vesikalis inferior Persarafan ureter : Persarafan ureter merupakan cabang dari pleksus mesenterikus inferior, fleksus spermatikus, dan pleksus sepertiga dari nervus vagus rantai eferens dan nervus vagus rantai eferens dari nervus torakali ke-11 dan ke-12, nervus lumbalis ke-1, dan nervus vagus mempunyai rantai eferens untuk ureter.

C. Kandung kemih Kandung kemih disebut juga Vesica urinaria/bladder, terdiri atas lapisan mukosa, muskularis dan serosa/adventisia. Vesica urinaria merupakan kantung berongga yang dapat direnggangkan dan 6

volumenya dapat disesuaikan dengan mengubah status kontraktil otot polos di dindingnya. Secara berkala urin dikosongkan dari kandung kemih ke luar tubuh melalui ureter. Organ ini mempunyai fungsi sebagai reservoir urine (200-400 cc). Dindingnya mempunyai lapisan otot yang kuat. Letaknya dibelakang os pubis. Bentuk bila penuh seperti telur (ovoid). Apabila kosong seperti limas. Apex (puncak) vesica urinaria terletak di belakang symphysis pubis. Mukosanya dilapisi oleh epitel transisional yang lebih tebal dibandingkan ureter (terdiri atas 6-8 lapis sel) dengan jaringan ikat longgar yang membentuk lamina propria dibawahnya. Tunika muskularisnya terdiri atas berkas-berkas serat otot polos yang tersusun berlapis-lapis yang arahnya tampak tak membentuk aturan tertentu. Diantara berkas-berkas ini terdapat jaringan ikat longgar. Tunika adventisianya terdiri atas jaringan fibroelastik. Bagian vesica urinaria : Apex

Dihubungkan ke cranial oleh urachus (sisa kantong allantois) sampai ke umbilicus membentuk ligamentum vesico umbilicale mediale. Bagian ini tertutup peritoneum dan berbatasan dengan ileum dan colon sigmoideum Corpus Fundus

Vesica urinaria dipersarafi oleh cabang-cabang plexus hypogastricus inferior yaitu : Serabut-serabut post ganglioner simpatis glandula para vertebralis L12 Serabut-serabut preganglioner parasimpatis N. S2,3,4 melalui N. splancnicus & plexus hypogastricus inferior mencapai dinding vesica urinaria. Disini terjadi sinapsis dengan serabut-serabut post ganglioner. Serabut-serabut sensoris visceral afferent: N. splancnicus menuju SSP Serabut-serabut affern mengikuti serabut simpatis pada plexus hypogastricus menuju medulla spinalis L1-2.27. Fungsi vesica urinaria : 1. Sebagai tempat penyimpanan urin, dan 2. Mendorong urin keluar dari tubuh.

Persarafan utama berasal dari saraf-saraf pelvis yang berhubungan dengan medulla spinalis melalui pleksus dari medulla spinalis. Saraf sensorik untuk mendeteksi derajat regangan dalam dinding kandung kemih. Sinyal regangan merupakan sinyal yang kuat terutama berperan untuk memicu reflek penggosongan kandung kemih. Saraf motorik merupakan saraf parasimpatik. Saraf ini berakhir di sel ganglion yang terletak di dalam kandung kemih. Mempersarafi detrusor (kontraksi kandung kemih). Selain saraf pelvis, terdapat dua persarafan lain, yaitu serabut motorik skeletal yang dibawa melalui saraf pudendus ke 7

spincter eksterna kandung kemih. Saraf ini mengatur otot rangka volunteer pada spincter tersebut. Selain itu juga mendapatkan persarafan simpatis dari saraf hipogastrik terutama berhubungan dengan L2 dari medulla spinalis. Serabut simpatis merangsang pembuluh darah dan member sedikit efek terhadap proses kontraksi kandung kemih.

Pengisian dan pengosongan kandung kemih Pengisian

Dinding ureter mengandung otot polos yang tersusun dalam berkas spiral longitudinal dan sekitar lapisan otot yang tidak terlihat. Kontraksi peristaltic ureter 1-5 kali/menit akan menggerakan urine dari pelvis renalis ke dalam kandung kemih dan disemprotkan setiap gelombang peristaltic. Ureter yang berjalan miring melalui dinding kandung kemih untuk menjaga ureter tertutup kecuali selama gelombang peristaltic untuk mencegah urin tidak kembali ke ureter. Apabila kandung kemih terisi penuh permukaan superior membesar, menonjol ke atas masuk ke dalam rongga abdomen. Peritoneum akan menutupi bagian bawah dinding anterior kolum kandung kemih yang terletak di bawah kandung kemih dan permukaan atas prostat. Serabut otot polos dilanjutkan sebagai serabut otot polos prostat kolum kandung kemih yang dipertahankan pada tempatnya oleh ligamentum pubovesikalis pada wanita yang merupakan penebalan fasia pubis. Membrane mukosa kandung kemih dalam keadaan kosong akan berlipat-lipat. Lipatan ini akan hilang apabila kandung kemih terisi penuh. Daerah membrane mukosa meliputi permukaan dalam basis kandung kemih yang dinamakan trigonum. Vesika ureter menembus dinding kandung kemih secara mirirng membuat seperti katup untuk mencegah aliran balik urin ke ginjal pada waktu kandung kemih terisi. Pengosongan

Kontraksi otot muskulus detrusor bertanggung jawab pada pengosongan kandung kemih selama berkemih (mikusturasi). Berkas otot tersebut berjalan pada sisi uretra, serabut ini dinamakan sfingter uretra interna. Sepanjang uretra terdapat sfingter otot rangak yaitu sfingter uretra membranosa (sfingter uretra eksterna). Epitel kandung kemih dibentuk dari lapisan superfisialis sel kuboid. Merupakan saluran keluar dari urin yang diekskresikan oleh tubuh melalui ginjal, ureter, vesica urinaria. Uretra adalah saluran sempit yang berpangkal pada kandung kemih yang berfungsi menyalurkan air kemih keluar.

D. Uretra Uretra adalah saluran yang menghubungkan kantung kemih ke lingkungan luar tubuh. Uretra berfungsi sebagai saluran pembuang baik pada sistem kemih atau ekskresi dan sistem seksual. Pada pria, berfungsi juga dalam sistem reproduksi sebagai saluran pengeluaran air mani. Uretra pada wanita : Pada wanita, panjang uretra sekitar 2,5 sampai 4 cm dan terletak di

antara klitoris dan pembukaan vagina. Pria memiliki uretra yang lebih panjang dari wanita. 8

Artinya, wanita lebih berisiko terkena infeksi kantung kemih atau sistitis dan infeksi saluran kemih.

Uretra pada pria

: Pada pria, panjang uretra sekitar 20 cm dan berakhir pada akhir

penis.Uretra pada pria dibagi menjadi 4 bagian, dinamakan sesuai dengan letaknya: pars pra-prostatica, terletak sebelum kelenjar prostat. pars prostatica, terletak di prostat. Terdapat pembukaan kecil, dimana terletak muara vas deferens.

pars membranosa, sekitar 1,5 cm dan di lateral terdapat kelenjar bulbouretralis. pars spongiosa/cavernosa, sekitar 15 cm dan melintas di corpus spongiosum penis.

1.2 Proses Pembentukan Urin


Cara kerja ginjal Darah yang banyak mengandung sisa metabolism masuk ke ginjal melalui pembuluh nadi ginjal. Cairan yang keluar dari pembuluh darah masuk ke nefron. Air, gula, asam amino dan urea terpisah dari darah kemudian menuju simpai Bowman. Proses ini disebut filtrasi. Dari sekitar 180 liter air yang disaring oleh simpai Bowman setiap hari, hanya liter yang diekskresikan sebagai urin. Sebagaian besar air diserap kembali di dalam pembuluh halus. Cairan dari simpai Bowman menuju ke saluran pengumpul. Dalam perjalanan tersebut terjadi penyerapan kembali glukosa dan bahan-bahan lain oleh aliran darah. Peristiwa ini disebut reabsorpsi. Bahan-bahan seperti urea dan garam tidak direabsorpsi bergabung dengan air menjadi urin. Dalam keadaan normal, urin mengandung: air, urea dan ammonia yang merupakan sisa perombakan protein. Garam mineral, terutama garam dapur. Zat warna empedu yang memberi warna kuning pada urin. Zat yang berlebihan dalam darah seperti vitamin, obat-obatan pada hormone. Jika dalam urin terdapat protein, hal itu menunjukkan adanya kerusakan di dalam ginjal. Ginjal berperan dalam proses pembentukkan urin yang terjadi melalui serangkaian proses, yaitu : penyaringan, penyerapan kembali dan augmentasi 1. Penyaringan (filtrasi) Proses pembentukan urin diawali dengan penyaringan darah yang terjadi di kapiler glomerulus. Sel-sel glomerulus yang berpori (podosit), tekanan dan permeabilitas yang tinggi pada glomerulus mempermudah proses penyaringan. Selain penyaringan, di glomerulus juga terjadi penyerapan kembali sel-sel darah, keeping darah, dan sebagian besar protein plasma. Hasil penyaringan di glomerulus disebut filtrate glomerolus atau urin primer, mengandung asam amino, glukosa, natrium, kalium, dan garam-garam lainnya. 2. Penyerapan kembali (re-absorpsi)

Bahan-bahan yang masih diperlukan di dalam urin primer akan diserap kembali di tubulus kontortus proksimal, sedangkan di tibulus kontortus distal terjadi penambahan zat-zat sisa dan urea. Meresapnya zat pada tubulus ini melalui dua cara. Gula dan asam amino meresap melalui peristiwa difusi, sedangkan air melalui peristiwa osmosis. Penyerapan air terjadi pada tubulus proksimal dan tubulus distal. Substansi yang masih diperlukan seperti glukosa dan asam amino dikembalikan ke darah. Zat ammonia, obat-obatan seperti penisilin, kelebihan garam dan bahan lain pada filtrate dikeluarkan bersama urin. Setelah terjadi reabsorpsi maka tubulus akan menghasilkan urin sekunder, zat-zat yang masih diperlukan tidak akan ditemukan lagi. Sebaliknya, konsentrasi zat-zat metabolisme yang bersifat racun bertambah, misalnya urea. 3. Augmentasi Augmentasi adalah proses penambahan zat sisa dan urea yang mulai terjadi tubulus kontortus distal. Dari tubulus-tubulus ginjal, urin akan menuju rongga ginjal, dinding kantong kemih melalui saluran ginjal. Jika kantong kemih telah penuh terisi urin, dinding kantong kemih akan tertekan sehingga timbul rasa ingin buang air kecil. Urin akan keluar melalui uretra. Komposisi urin yang berfungsi member warna dan bau pada urin.

Ekskresi urea, rata - rata tubuh membentuk 25 sampai 30 gram urea tiap hari. Semua urea ini harus diekskresikan ke dalam urin. Jika tidak demikian ia akan berkumpul di dalam cairan tubuh. Konsentrasi normal di dalam plasma kira kira 26 mg/100 ml, tetapi dalam keadaan insufisiensi ginjal yang jarang tercatat sehingga 800 mg/ 100 ml. Terdapat dua faktor utama yang menentukan kecepatan ekskresi urea adalah konsentrasi urea di dalam plasma dan laju filtrasi glomerulus. Kedua faktor ini meningkatkan ekskresi urea terutama karena beban urea yang memasuki tubulus proksimalis sama dengan hasil kali konsentrasi urea plasma dan laju filtrasi glomerulus. Umumnya, jumlah urea yang keluar melalui tubulus ke dalam urin rata rata sekitar 50 sampai 60 persen beban urea yang memasuki tubulus proksimal. Ekskresi natrium, reabsorpsi natrium dari tubulus proksimal dan lengkung henle disebabkan oleh transpor aktif natrium melalui epitel tubulus proksimal. Natrium yang direabsorpsi menyebabkaan difusi ion negatif melalui membran tersebut, dan reabsorpsi kumulatif ion ion menciptakan suatu tekanan osmotik yang kemudian menggerakkan air melalui membran tersebut. Epitel itu sangat permeabel terhadap air sehingga proporsi ion natrium dan air yang direabsorpsi hampir sama tepat.

10

Transpor Urin Dari ginjal melalui ureter dan masuk ke dalam kandung kemih. Urin yang keluar dari kandung kemih mempunyai komposisi utama yang sama dengan cairan yang keluar dari duktus kolingentes, tidak ada perubahan yang berarti pada komposisi urin tersebut sejak mengalir melalui kaliks renalis dan ureter sampai kandung kemih. Urin mengalir dari duktus kolingentes masuk ke kaliks renalis, meregangkan kaliks renalis dan meningkatkan aktivitas pacemakernya yang kemudian mencetuskan kontraksi peristaltik yang menyebar ke pelvis renalis dan kemudian turun sepanjang ureter dengan demikian mendorong urin dari pelvis renalis ke arah kandung kemih. Dinding ureter terdiri dari otot polos dan dipersarafi oleh saraf simpatis dan parasimpatis seperti juga neuron-neuron pada pleksus intramular dan serat saraf yang meluas diseluruh panjang ureter. Seperti halnya otot polos pada organ visera yang lain, kontraksi peristaltik pada ureter ditingkatkan oleh perangsangan parasimpatis dan dihambat oleh perangsangan simpatis. Ureter memasuki kandung kemih memasuki otot detrusor di daerah trigonum kandung kemih. Normalnya ureter berjalan secara oblique sepanjang beberapa sentimeter menembus kandung kemih. Tonus normal dari otot detrusor pada dinding kandung kemih cenderung menekan ureter, dengan demikian mencegah aliran balik urin dari kandung kemih waktu tekanan di kandung kemih. Setiap gelombang peristaltik yang terjadi sepanjang ureter akan meningkatkan tekanan dalam ureter sehingga bagian yang menembus kandung kemih akan membuka dan memberi kesempatan kandung urin mengalir ke dalam kandung kemih. Panjang ureter yang menembus kandung kemih kurang dari normal, sehingga kontraksi kandung kemih tidak selalu menimbulkan penutupan ureter secara sempurna. Akibatnya, sejumlah urin dalam kandung kemih terdorong ke dalam ureter ini disebut refleks vesikoureteral. Refluks semacam ini dapat menyebabkan pembesaran ureter dan jika parah dapat meningkatkan tekanan kaliks renalis dan struktur-struktur dan di medula renalis yang mengakibatkan kerusakan pada daerah ini. Proses Miksi (Rangsangan Berkemih) Distensi kandung kemih, oleh air kemih akan merangsang stres reseptor yang terdapat pada dinding kandung kemih dengan jumlah 250 cc sudah cukup untuk merangsang berkemih (proses miksi). Akibatnya akan terjadi reflek kontraksi dinding kantung kemih, dan pada saat yang sama terjadi relaksasi spinter internus, diikuti oleh relaksasi spinter eksternus, dan akhirnya terjadi pengosongan kandung kemih. Rangsangan yang menyebabkan kontraksi kandung kemih dan relaksasi spinter internus dihantarkan melalui serabut-serabut para simpatis. Kontaksi sfinger eksternus secaa volunteer bertujuan untuk mencegah atau menghentikan miksi. Kontrol volunter ini hanya dapat terjadi bila saraf-saraf yang menangani kandung kemih uretra medula spinalis dan otak masih utuh. Bila terjadi kerusakan pada saraf saraf tersebut maka akan terjadi inkontinensia urin (kencing keluar 11

terus menerus tanpa disadari) dan retensiurine (kencing tertahan). Persarafan dan peredaran darah vesika urinaria, diatur oleh torako lumbar dan kranial dari sistem persarafan otonom. Torako lumbar berfungsi untuk relaksasi lapisan otot dan kontraksi spinter interna. Peritonium dapat digerakkan membentuk lapisan dan menjadi lurus apabila kandung kemih terisi penuh. Pembuluh darah arteivesikalis superior berpangkal dari umbilikalis bagian distal, vena membentuk anyaman dibawah kandung kemih. Pembuluh limfe berjalan menuju duktuslimfatilis sepanjang arteri umbilikalis. Jadi, refleks mikturisi merupakan sebuah siklus yang lengkap yang terdiri dari : 1. Kenaikan tekanan secara cepat dan progresif. 2. Periode tekanan menetap. 3. Kembalinya tekanan kandung kemih ke nilai tonus basal. Perangsangan atau penghambatan berkemih oleh otak Pusat perangsang dan penghambat kuat dalam batang otak, trutama terletak di ponds, dan beberapa pusat yang terletak di korteks serebal yang terutama bekerja penghambat teteapi dapat menjadi perangsang. Refleks berkemih merupakan dasar penyebab terjadinya berkemih, teteapi pusat yang lebih tinggi normalnya memegang peranan sebagai penegndali akhir dari berkemih sebagai berikut : pusat yang lebih tinggi menjaga secara parsial penghambatan reflex berkemih kecuali jika peristiwa berkemih dikehendaki. Pusat yang lebih tinggi dapat mencegah berkemih, bahkan jika reflex berkemih timbul dengan membuat tonik terus menerus pada sfingter eksternus kandung kemih sampai mendpatkan waktu yang baik untuk berkemih. Jika tiba waktu berkemih, pusat kortikal dapat merangsang pusat berkemih sacral untuk membantu untuk mencetuskan refleks berkemih dan dalam waktu bersamaan menghambat sfingter eksternus kandung kemih sehingga peristiwa berkemih dapat terjadi. Berkemih dibawah keinginan biasanya tercetus dengan berikut : pertama, seseorang secara sadar mengkontraksikan otot-otot abdomennya yang meningkatkan tekanan dalam kandung kemih dan mengakibatkan urin ekstra memasuki leher kandung kemih dan uretra posterior dibawah tekanan sehingga meregangkan dindingnya.

1.3 Urin
Urin adalah cairan sisa yang diekskresikan oleh ginjal keluar dari tubuh melalui proses urinasi. Urin merupakan serum dan bagian yang cair dari darah, yang dibawa oleh arteri ke ginjal dan oleh proses fermentasi diubah menjadi urin. Urin bersifat panas, melarutkan, membersihkan, menghilangkan, menahan proses pembusukkan. 12

A. Kandungan urine Urin terdiri dari 95% air dan kandungan zat terlarut antara lain : 1. Hormon atau katabolite hormon ada secara normal dalam urin. Hormon yang mungkin terdapat dalam urin antara lain gonadotropin, estrogen, androgen, pregnanediol, hormon adrenocortical. 2. Badan keton yang dihasilkan di liver dalam metabolisme lemak dengan jumlah kecil yang terbawa oleh aliran darah menuju ke jaringan untuk oksidasi lebih lanjut. Yang termasuk badan keton ini antara lain aseton, acetoacetic acid, -hydroxybutyric acid. Pada kondisi normal, kurang dari 125 mg setiap harinya dikeluarkan melalui urin. Jumlah yang lebih besar dapat dikarenakan diet tinggi lemak, masa-masa kelaparan atau pembatasan karbohidrat yang parah, dan kehamilan yang normal. 3. Zat buangan nitrogen meliputi urea dari deaminasi protein, asam urat dari katabolisme asam nukleat dan kreatin dari proses penguraian keratin fosfat dalam jaringan otot. 4. Konstituen abnormal meliputi albumin, glukosa, sel darah merah, sejumlah besar badan keton, zat kapur (terbentuk saat zat mengeras dalam tubulus dan dikeluarkan) dan batu ginjal. 5. 6. Elektrolit meliputi ion Na+, Cl-, K+, ammonium sulfat, fosfat, Ca2+, dan Mg2+. Asam hipurat yaitu produk sampingan pencernaan sayuran dan buah.

Urin normal bisa saja mengandung protein dalam jumlah yang terlalu sedikit untuk dapat dideteksi kecuali dengan prosedur yang sangat sensitif. Batas normalnya adalah tidak lebih dari 75 mg sehari dan mengandung serum albumin yang lolos dari filter glomerular, enzim (misalnya pepsin, tripsin, lipase, amilase), dan nukleoprotien serta mucin yang berasal dari saluran urinari bagian bawah. Asam amino dapat disekresikan dalam keadaan bebas maupun bentuk kombinasi dengan senyawa lain. Asam amino bebas normalnya berkisar antara 0,1 0,15 gram sehari. Total asam amino (keadaan bebas, maupun tidak) adalah 0,5 1,0 gram sehari. Glukosa dapat muncul dalam urin dalam jumlah yang kecil selama kehamilan normal, terutama pada bulan-bulan lanjut. Pada individu normal, glukosa bisa diekskresikan melalui urin setelah mengkonsumsi sejumlah besar sukrosa, glukosa, atau bisa juga pati. Zat-zat yang terlarut yang biasanya terdapat di urin antara lain ion Natrium dan Kalium, Urea, Asam urat, Kreatinin, Amoniak, Ion Bikarbonat, dan berbagai macam ion tergantung pada komposisi darah. Penyakit tertentu dapat mengubah komposisi urin secara drastis, dan adanya zat yang tidak normal dalam urin sering membantu diagnosa permasalahan. Zat-zat yang dikatakan tidak normal terdapat dalam urin adalah glukosa, protein darah, sel darah merah, hemoglobin, sel darah putih, dan cairan empedu.

13

B. Fungsi urin Fungsi utama urin adalah utnuk membuang zat sisa seperti racun atau obat-obatan dari dalam tubuh. Anggapan umum menganggap urin sebagai zat yang kotor. Hal ini berkaitan dengan kemungkinan urin tersebut berasal dari ginjal atau saluran kencing yang terinfeksi, sehingga urinnya pun akan mengandung bakteri. Namun jika urin berasal dari ginjal dan slauran kencing yang sehat, secara medis urin sebenarnya cukup steril dan hampir bau yang dihasilkan berasal dari urea. Sehingga bisa dikatakan bahwa urin itu merupakan zat yang steril. Urin dapat menjadi penunjuk dehidrasi. Orang yang tidak menderita dehidrasi akan mengeluarkan urin yang bening seperti air. Penderita dehidrasi akan mengeluarkan urin bewarna kuning pekat atau cokelat. C. Penilaian Hasil Pemeriksaan Urin Sebelum menilai hasil analisa urin, perlu diketahui tentang proses pembentukan urin. Urin merupakan hasil metabolisme tubuh yang dikeluarkan melalui ginjal. Dari 1200 ml darah yang melalui glomeruli permenit akan terbentuk filtrat 120ml per menit. Filtarat tersebut akan mengalami reabsorpsi, difusi, dan ekskresi oleh tubuli ginjal yang akhirnya terbentuk 1 ml urin per menit. Secara umum dapat dikatakan bahwa pemeriksaan urin selain untuk mengetahui kelainan ginjal dan salurannya juga bertujuan untuk mengetahui kelainan-kelainan diberbagai organ tubuh seperti hati, saluran empedu, pankreas, korteks adrenal, uretus, dll. Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi susunan urin Beberpa ha perlu diperhatikan dalam persiapan penderita untuk analisa urin misalnya pada pemeriksaan glukosa urin sebaiknya penderita jangan makan zat reduktor seperti vitamin C. Karena zat tersebut dapat memberikan hasil positif palsu dengan cara redksi dan hasil negatif palsu dengan cara enzimatik. Pada pemeriksaan urobilin, urobilinogen dan bilirubin sebaiknya tidak diberikan obat yang memberi warna pada urin, seperti Vitamin B2 (Riboflavin), Pyridium dan lain-lain. Pada tes kehamilan dianjurkan agar mengurangi minum supaya urin menjadi lebih pekat. Susunan urin tidak banyak berbeda dari hari ke hari, tetapi pada pihak lain mungkn banyak berbeda dari waktu ke waktu sepanjang har, karena itu penting untuk mengambil contoh urin menurut tujuan pemeriksaan. Untuk pemeriksaan urin seperti pemeriksaan protein, glukosa dan sedimen dapat dipergunakan urin sewaktu, ialah urin yang dikeluakan pada waktu yang tidak ditentukan dengan khusus, kaang-kadang bila unsur sedimen tidak ditemukan karena urin- sewaktu terlalu encer, maka dianjurkan memakai urin pagi. Urin pagi ialah urin yang pertama kali dikeluarkan pada pagi hari, urin ini baik untuk pemeriksaan berat jenis, protein sedimen dan tes kehmilan. Pada penderita yng sedang haid atau leucorrhoe untuk mencegh kontaminasi dianjurkan pengambilan contoh urin dengan cara clean voided specimen yait dengan melakukan kateterisasi, 14

punksi suprapubik atau pengambilan urin midstream dimana urin yang pertama keluar tidak ditampung, tapi urin yang keluar kemudian ditampung dan yang terakhir tidk turut ditampung. Pemeriksaan Makroskopik Volume urin Mengukur jumlah urin sangat bermanfaat untuk ikut menentukan adanya ganguan faal ginjal, kelainan dalam kesetimbangan cairan badan dan berguna juga untuk menafsirkan hasil pemeriksaan kuantitatif dan semi kuantitatif dengan urin. Dalam keadaan normal pada orang dewasa akan dibentuk 1200 - 1500 ml urin dalam satu hari. Secara fisiologis maupun patologis volume urin dapat bervariasi, jenis cairan yang masuk dan jenis makanan merupakan faktor yang mempengaruhi pembentukan urin. Mengukur jumlah urin dapat dilakukan dengan: urin 24 jam, urin siang 12 jam dan malam 12 jam, timed specimen pada sesuatu percobaan tertentu urin sewaktu. Urin 24 jam sangat bervariasi pada setiap orang. Hal ini disebabkan karena jumlah urin 24 jam dipengaruhi oleh banyaknya air yang diminum, suhu lingkungan, diet, keadaan fisik dan mental, umur, berat badan, kelamin, makanan, minuman, suhu badan, iklim, aktivitas orang yang bersangkutan serta bahan bahan yang mempunyai efek diuretic (seperti kopi, teh, minuman beralkohol). Jadi jumlah urin 24 jam setiap orang berbeda. Rata rata di daerah tropis jumlah urin yang dihasilkan adalah 800 2500 ml untuk orang dewasa. Sedangkan pada anak anak, diuresisnya 3 4 kali lebih besar daripada orang dewasa. Urin siang 12 jam, 2 4 kali lebih banyak atau besar dibandingkan urin malam, pada keadaan normal. Timed specimen pada sesuatu percobaan tertentu dipakai untuk penetapan kuantitatif urin. Secara fisiologis maupun patofisiologis volume urin dapat bervariasi dan dipengaruhi beberapa faktor antara lain : 1. Jumlah air yang diminum. Apabila jumlah air yang diminum banyak, konsentrasi protein menurun, sehingga tekanan filtrasinya menjadi kurang efektif dan hasilnya urin yang diproduksi meningkat. 2. Makanan, misalnya pada konsumsi makanan yang mengandung banyak protein dan NaCl, urea dan garam yang diekskresikan akan berperan sebagai diuretika. 3. Umur. Pada usia dewasa lebih banyak mengeluarkan urin dibandingkan dengan usia muda (anakanak). 4. Suhu dan iklim. Suhu udara yang dingin menyebabkan pengeluaran urin meningkat, sebaliknya apabila suhu rendah pengeluaran urin rendah. 5. 6. 7. 8. Hormon ADH. Aktivitas yang dilakukan. Jenis kelamin. Luas permukaan dan atau berat badan. Pada kondisi normal, volume urin umummya sekitar 300 ml/m2 permukaan tubuh atau sekitar 500 ml/m2 untuk pria berbobot 70 kg. 15

9.

Penyakit tertentu, misalnya muntah, diare, edema.

10. Emosi. 11. Konsentrasi hormon insulin. Apabila konsentrasinya rendah (misalnya pada penderita kencing manis), maka kadar gula dalam darah tinggi dan akan dikeluarkan melalui tubulus distal, sehingga keberadaan zat gula tersebut akan mengganggu proses reabsorbsi air di dalam tubulus distal karena konsentrasi gula meningkat akibatnya orang yang bersangkutan akan sering mengeluarkan urin. 12. Saraf. Rangsangan pada saraf ginjal akan menyebabkan penyempitan duktus aferen sehingga aliran darah ke glomerulus berkurang dan filtrasi menjadi kurang efektif karena tekanan darah menurun.

Warna urin Warna urin tergantung dari konsentrasi dan sifat bahan yang larut dalam urine. Dalam keadaan normal urin berwarna kuning jernih (kuning muda) hingga kuning pucat (kuning tua). Ini dikarenakan adanya zat warna urin yang disebut urokrom yang terdiri dari uroflavin laktoflavin atau riboflavin; uroprotein/xantoprotein; urotion, dan urobilin. Urokrom merupakan zat yang mengandung S dan merupakan produk oksidasi dari urokromogen yang tak berwarna. Sedangkan urobilin merupakan proses oksidasi urobilinogen yang tak berwarna. Urobilinogen adalah pigmen yang dihasilkan dari penguraian hemoglobin. Perubahan warna urin tidak selalu sebagai indikasi adanya penyakit. Karena warna urin dapat dipengaruhi oleh zat makanan atau obat yang dikonsumsi. Warna urin ditentukan oleh besarnya diuresis. Makin besar diuresis, makin muda warna urin itu. Dengan kata lain, urin yang encer warnanya agak muda, sedangkan yang pekat warnanya kuning tua. Semakin banyak zat yang terlarut di dalam urin, semakin kuning warnanya.

Beberapa sebab warna urin, antara lain :

Warna Urin

Non Patologis Zat Normal dalam Jumlah Besar Penyebab Lain Zat Warna Abnormal Santonin dan PSP Bilirubin (kuning dalam (Kuning kecokelatan)

Patologis Penyebab Lain

Kuning

Urobilin, Urochrom

Kelainan hepar

pada

suasana asam), Riboflavin/B12 (fluoresensi hijau), Makanan (permen)

16

Hijau

Indikan, Akriflavin

Obat (methyleneblue, Evans Blue) -

Kuman (PS. Aeruginosa/B. Pyocyaneus) Kuman (B.Prodigiosu)

Merah

Uroerythrin

Wortel

(karoten), Hemoglobin,

merkuro, prontozil, porfirin, Obat PSP, (santonin, profobilin amidopyrin, BSP,

congored,

makanan tertentu) Cokelat Urobilin Argyrol, teh Bilirubin, hematin, porfobilin Cokelat tua/hitam Indikan Obat (derivat fenol, Darah argyrol) alkapton, melanin Putih susu serupa Fosfat, urat Pus, getah prostat, chylus, lemak, zat-zat bakteri tua, -

mikroba biogenik, protein membeku. yang

Buih urin Buih pada urin normal, berwarna putih yang disebabkan oleh protein yang terkandung di dalam urin. Sedangkan pada urin abnormal, buih berwarna kuning, hal ini disebabkan oleh bilirubun dan phenylazo-diaminopyridin. Kejernihan urin Urin segar biasanya jernih. Akan tetapi, tidak semua macam kekeruhan bersifat abnormal. Urin normalpun akan menjadi agak keruh jika dibiarkan atau didinginkan. Kekeruhan ringan itu disebut nubecula dan terjadi dari lender, sel-sel epitel dan leukosit yang lambat laun mengendap. Penyebab kekeruhan urin mula-mula : 1. Fosfat amorf dan karbonat dalam jumlah besar. Mungkin terjadi sesudah seseorang makan banyak. Kekeruhan itu hilang jika urin diberikan asam asetat encer. Sedimen banyak mengandung banyak kristal fosfat atau karbonat.

17

2.

Bakteri-bakteri. Kekeruhan yang terjadi bukan saja disebabkan oleh berkembangbiaknya kuman, tetapi juga oleh bertambahnya unsur sedimen seperti sel epitel, leukosit, dan sebagainya.

3.

Unsur-unsur sedimen dalam jumlah besar, yaitu : a. b. c. Eritrosit-eritrosit yang menyebabkan urin menjadi keruh dan berwaena serupa air daging. Leukosit. Sel-sel epitel.

4.

Chyrus dan lemak. Urin keruh menyerupai susu encer. Jika kekeruhan disebabkan oleh adanya butir-butir lemak (lipurin). Benda benda koloid. Benda-benda koloid itu tidak nampak pada pemeriksaan mikroskopik dan tidak dapat larut dalam eter.

5.

Sebab-sebab urin menjadi keruh setelah dibiarkan : 1. 2. 3. 4. Nubecula Urat-urat amorf yang terbentuk dalam urin asam dan dingin. Fosfat amorf dan karbonat. Zat-zat ini mengendap dalam urin basa atau urin yang menjadi basa. Bakteri-bakteri.

Bau urin Pada urin normal, umumnya hampir tidak berbau, tetapi beberapa saat setelah meninggalkan tubuh, bakteri akan mengkontaminasi urin dan mengubah zat warna urin sehingga menghasilkan bau yang khas. Bau urin itu disebabkan sebagian oleh asam-asam organik yang mudah menguap. Bau urin juga disebabkan oleh bauh ammoniakal yang disebabkan yang diperoleh dari proses hidrolisis (bakterial) dari urea menjadi amonia. Obat-obatan, sayur-sayuran (contohnya : asparagus, petai, antibiotik, dll) dan berbagai macam penyakit (contohnya : diabetes mellitus) dapat merubah bau urin. Bau yang berlainan dari urin normal dapat disebabkan oleh : 1. Makanan yang mengandung zat atsiri ( jengkol, petai, durian, dan lain-lain). 2. Obat-obatan seperti : terpentin, menthol, rifampisin dan sebagainya. 3. Bau pada ketonurin, bau itu ada dari semula dan menyerupai bau buah-buahan atau bunga setengah layu. 4. Bau amoniak oleh perombakan bakteriil dari ureum. Biasanya terjadi dengan urin yang dibiarkan tanpa pengawet : reaksi urin menjadi basa. Kadang-kadang juga oleh perombakan ureum di dalam kantong kencing oleh infeksi dengan bakteri tertentu. 5. Bau busuk. Kalau ada dari mula-mula mungkin berasal dari perombakan zat-zat protein, umpamanya pada carcinoma dalam saluran kencing.

18

Konsentrasi urin Konsentrasi urin paling tinggi terdapat pada urin pagi hari, yang merupakan penyimpanan urin sepanjang malam, sedangkan konsentrasi urin paling rendah terdapat pada urin setelah meminum banyak cairan. Fiksasi berat jenis atau osmolalitas 300 mmol/L biasanya timbul pada penyakit ginjal kronis yang berat. Urin yang pekat biasanya dihasilkan karena gangguan-gangguan yang berhubungan dengan oligurea, sedangkan urin akan berkonsentrasi rendah pada keadaan poliurea. Meskipun pada penderita diabetes mellitus didapatkan poliurea dengan urin berkonsentrasi tinggi. Tingginya konsentrasi ini diakibatkan ada cukup banyak konsentrasi garam-garam pada urin. Oligurea dengan konsentrasi urin rendah dan osmolalitas rendah banyak diakibatkan oleh nekrosis tubulus akut, sehingga tubulus-tubulus tidak dapat memekatkan filtrat glomerolus. Derajat keasaman (pH) pH urin biasanya sedikit asam, sekitar 5,5-6,5, namun batas-batas normal pH adalah 4,5-7,5. Perubahan metabolisme tubuh dan tipe makanan dapat membuat urin lebih asam atau lebih basa. Urin menjadi lebih asam jika mengkonsumsi makanan yang mengandung protein dalam jumlah besar, sedangkan sayur-sayuran dan buah-buahan dapat menyebabkan urin menjadi lebih basa karena mengandung asam-asam organik yang akan membentuk bikarbonat yang akan menurunkan keasaman urin. Ketika protein yang dikonsumsi terlalu tinggi maka urine akan bersifat asam, karena terjadi kelebihan fosfat dan sulfat yang merupakan hasil metabolism protein. Kondisi demam dan acidos juga akan meningkatkan keasaman urin. Sedangkan urin akan bersifat basa karena terjadi perubahan urea menjadi ammonia. Kebasahan akan meningkat pada kondisi alkalosis. Pemeriksaan pH urin dapat memberi petunjuk ke arah etiologi pada infeksi saluran kencing. Infeksi bakteri E.coli biasanya menghasilkan urin asam, sedangkan infeksi oleh Proteus yang merombak ureum menjadi amoniak menyebabkan urin menjadi basa. Pemeriksaan Mikroskopik Yang dimaksud dengan pemeriksaan mikroskopik urin yaitu pemeriksaan sedimen urin. Ini penting untuk mengetahui adanya kelainan pada ginjal dan salran kemih serta berat ringannya penyakit. Urin yang dipakai ialah urin sewaktu yang segar atau urin yang dikumpulkan dengan pengawet formalin. Pemeriksaan sedimen dilakukan dengan memakai lensa objektif kecil (10X) yang dinamakan lapangan penglihatan kecil atau LPK. Selain itu dipakai lensa objektif besar (40X) yang dinamakn lapangan penglihatan besar atau LPB. Jumlah unsure sedimen bermakna dilaporkan secara semi kuantitatif , yaitu jumlah rata-rata per LPK utuk silinderdan LPB untuk eritrosit dan leukosit. Unsur sedimen yang kurang bermakna seperti epitel atau kristal cukup dilaporkan dengan + (ada), ++(banyak), +++ (banyak sekali). Lazimnya unsur sedimen dibagi atas dua golongan yaitu unsur organikdan tag organic. Unsur organic berasal dari sesuatu organ atau jaringan antara lain epitel, eritrosit, leukosit, silinder, potongan 19

jaringan, sperma, bakteri, parasit dan yang tak organiktidak berasal dari sesuatu organ atau jaringan seperti urat amorf dan Kristal. a. Eritrosit atau leukosit Eritrosit atau leukosit di dalam sedimen urin mungkin terdapat dalam urin wanita yang haid atau berasal dari saluran kemis.dalam keadaan normal tidak dijumpai eritrosit dalam sedimen urin, sedangkan leukosit hanya terdapat 0 5/LPK dan pada wanita dapat pula karena kontaminasi dari genitalia. Adanya eritrosit dalam urin disebut hematuria. Hematuria dapat disebabkan oleh perdarahan dalam saluran kemih., seperti infark ginjal, nephrolithiasis, infeksi saluran kemih dan padapenyakitdengan diatesa hemoragik. Terdapatnya leukosit dalam jumlah banyak di urin disebutpiuria. Keadaan ini sering dijumpai pada infeksi saluran kemih atau kontaminasi dengan secret vagina pada penderita dengan fluor albus.

b. Silinder Silinder adalah endapan protein yang terbentuk di dalam tubulus ginjal, mempunyai matrix berupa glikoprotein (protein Tamm Horsfall) dan kadang-kadang dipermukaannya terdapat leukosit, eritrosit dan epitel. Pembentukan silinder dipengaruhi oleh berbagai factor antara lain osmolalitas, volume, pH, dan adanya glikoprotein yang disekresi oleh tubuli ginjal. Dikenal bermacam-macam silinder yang berhubungan dengan berat ringannya penyakit ginjal. Banyak peneliti setuju bahwa dalam keadaan normal bias didapatkan sedikit eritrosit, leukosit dan silinder hialin. Terdapatnya silinder seluler seperti silinder leukosit, silinder eritrosit, silinder epitel dan sunder berbutir selalu menunjukkan penyakit yang serius. Pada pielonefritis dapat dijumpai silinder leukosit dan pada glomerulonefritis akut dapat ditemukan silinder eritrosit. Sedangkan pada penyakit ginjal yang berjalan lanjut didapat silinder berbutir dan silinder lilin.

c. Kristal Kristal dalam urin tidak ada hubungan langsung dengan batu di dalam saluran kemih. Kristal asam urat, kalsium oksalat, triple fosfat dan bahan amorf merupakan Kristal yang sering ditemukan dalam sedimen dan tidak mempunyai arti, karena Kristal-kristal itu merupakan hasil metabolisme yang normal. Terdapatnya unsure tersebut tergantung dari jenis makanan, banyak makanan, kecepatan metabolisme dan kepekatan urin. Di samping itu mungkin didapatkan Kristal Lain yang berasal dari obat-obatan atau Kristal-kristallain eperti Kristal tirosin, Kristal leusin.

20

d. Epitel Merupakan unsure sedimen organic yang dalam keadaan normal didapatkan dalam sedimen urin. Dalam keadaan patologik jumlah epitel ini dapat meningkat, seperti pada infeksi, radang dan batu dalam saluran kemih. Pada sindrom nefrotik di dalam sedimen urin mungkin didapatkan oval fat bodies. Ini merupakan epitel tubuli ginjal yang telah mengalami degenerasi lemak, dapat dilihat dengan memakai zat warna Sudan II/IV atau diperiksa dengan menggunakan mikroskop polarisasi. Pemeriksaan Kimia Urin Disamping cara konvesional, pemeriksaan kimia urin dapat dilakukan dengan cara yang lebih sederhana dengan hasil cepat, tepat , spesifik dan sensitif yaitu memakai reagens pita. Reagens pita (strip) dari berbagai pabrik telah banyak beredar di Indonesia. Reagens pita ini dapat dipakai untuk pemeriksaan Ph, protein, glukosa, keton, bilirubin, darah, urobilinogen dan nitrit. Untuk mendapatkan hasil pemeriksaan yang optimum, aktivitas reagens harus dipertahankan, pengguna haruslah mengikuti petunjuk dengan tepat, baik mengenai cara penyimpanan, pemakaian reagens pita dan bahan pemeriksaan. Urin dikumpulkan dalam penampung yang bersih dan pemeriksaan baiknya segera dilakukan. Bila pemeriksaan harus ditunda kurang lebih satu jam, sebaiknya urin tersebut disimpan dulu dalam lemari es, dan bila akan dilakukan pemeriksaan, suhu urin disesuaikan dulu dengan suhu kamar. Agar didapatkan hasil yang optimal pada tes nitrit, hendaknya dipakai urin pagi atau urin yang telah berada salam buli-buli minimal selama 4 jam. Untuk pemeriksaan bilirubin, urobilinogen dipergunakan urin segar karena zat-zat ini bersifat labil, pada suhu kamar bila kena cahaya. Bila urin dibiarkan pada suhu kamar, bakteri akan berkembang biak yang menyebabkan Ph menjadi alkali dan menyebabkan hasil positif palsu untuk protein. Pertumbuhan bakteri karena kontaminasi dapat memberikan hasil positif palsu untuk pemeriksaan darah samar dalam urin karena terbentuknya peroksidase dari bakteri. Reagens pita untuk pemeriksaan protein lebih peka terhadap albumin dibandingkan protein lain seperti globulin, hemoglobin, protein Bence Jones dan mukoprotein. Oleh karena itu hasil pemeriksaan proteinuri yang negative tidak dapat menyingkirkan kemungkinan terdapatnya protein tersebut didalam urin. Urin yang terlalu lindi, misalnya urin yang mengandung amonium kuartener dan urin yang terkontaminasi oleh kuman, dapat memberikan hasil positif palsu dengan cara ini. Proteinuria dapat terjadi karena kelainan prerenal, renal dan post-renal. Kelainan pre-renal disebabkan karena penyakit sistematik seperti anemia hemolitik yang disertai hemoglobinuria , mieloma,

makroglobulinemia dan dapat timbul Karen gangguan perfusi glomerulus seperti pada hipertensi dan payah jantung. Proteinuria karena kelainan ginjal dapat disebabkan karena kelainan glomerulus atau

21

tubuli ginjal seperti pada penyakit glomerulunofritis akut atau kronik, sindroma nefrotik, pielonefritis akut atau kronik, nekrosis tubuler akut dan lain-lain. A. Pemeriksaan Glukosa Pemeriksaan glukosa dalam urin dapat dilakukan dengan memakai reagens pita. Selain itu penetapan glukosa dapat dilakukan dengan cara reduksi ion cupri menjadi cupro. Dengan cara reduksi mungkin didapati hasil positif palsu pada urin yang mengandung bahan reduktor selain glukosa seperti : galaktosa, fruktosa, laktosa, pentosa, formalin, glukuronat dan obat-obatan seperti streptomycin, salisilat, vitamin C. Cara enzimatik lebih sensitive dibandingkan dengan cara reduksi. Cara enzimatik dapat mendeteksi kadar glukosa urin sampai 100 mg/dl , sedangkan pada cara reduksi hanya sampai 250 mg/dl. Juga cara ini lebih spesifik untuk glukosa, karena gula seperti galaktosa, laktosa, fruktosa dan pentose tidak bereaksi. Dengan cara enzimatik mungkin didapatkan hasil negative palsu pada urin yang mengandung kadar vitamin C melebihi 75 mg/dl atau benda keton melebihi 40mg/dl. Pada orang normal tidak didapati glukosa dalam urin. Glukosuria dapat terjadi karena peningkatan kadar glukosa dalam darah yang melebihi kapasitas maksimum tubulus untuk mereabsorpsi glukosa seperti pada diabetes mellitus, tirotoksikosis, sindroma cushing,

phaeochromocytoma, peningkatan tekanan intrakranial atau karena ambang rangsang ginjal yang menurun seperti renal glukosuria, kehamilan dan sindroma fanconi.

B. Benda- benda keton dalam urin Terdiri atas aseton, asam asetoasetat dan asam 13-hidroksi butirat. Karena aseton mudah menguap, maka urin yang diperiksa harus segar. Pemeriksaan benda keton dengan reagens pita ini dapat mendeteksi asam asetoasetat lebih dari 5-10 mg/dl, tetapi cara ini kurang peka untuk aseton dan tidak bereaksi dengan asam beta hidroksi butirat. Hasil positif palsu mungkin didapat bila urin mengandung bromsulphthalein, metabolit levedopa dan pengawet 8-hidroksi-quinoline yang berlebihan. Dalam keadaan normal pemeriksaan benda keton dalam urin negative. Pada keadaan puasa yang lama, kelainan metabolisme karbohidrat seperti pada diabetes mellitus, kelainan metabolisme lemak didalam urin didapatkan benda keton dalam jumlah yang tinggi. Hal ini terjadi sebelum kadar benda keton dalam serum meningkat.

C. Pemeriksaan bilirubin dalam urin Berdasarkan reaksi antara garam diazonium dengan bilirubin dalam suasana asam, yang menimbulkan warna biru atau ungu tua. Garam diazonium terdiri dari p-nitrobenzene diazonium dan p-toluene sulfonate sedangkan asam yang dipakai adalah asam sulfo salisilat.

22

Adanya bilirubin 0,05-1 mg/dl urin akan memberikan hasil positif dan keadaan ini menunjukan kelainan hati atau saluran empedu. Hasil positif palsu dapat terjadi bila dalam urin terdapat mefenamic acid, chlor promazine dengan kadar yang tinggi sedangkan negative palsu dapat terjadi bila urin mengandung metabolit pyridium atau serenium.

D. Pemeriksaan urobilinogen Dengan reagens pita perlu urin segar, dalam keadaan normal kadar urobilinogen berkisar antara 0,1-1,0 ehrlich unit per dl urin. Peningkatan ekskresi urobilinogen urin mungkin disebabkan oleh kelainan hati, saluran empedu atau proses hemolisa yang berlebihan didalam tubuh Dalam keadaan normal tidak terdapat darah dalam urin, adanya darah dalam urin mungkin disebabkan oleh perdarahan saluran kemih atau pada wanita yang sedang haid. Dengan pemeriksaan ini dapat dideteksi adanya 150-450 ug hemoglobin per liter urin. Tes ini lebih peka terhadap hemoglobin daripada eritrosit yang utuh sehingga perlu dilakukan pula pemeriksaan mikroskopik urin. Hasil negatif palsu bila urin mengandung vitamin C lebih dari 10 mg/dl. Hasil positif palsu didapatkan bila urin mengandung oksidator seperti hipoclorid atau peroksidase dari bakteri yang berasal dari infeksi saluran kemih atau akibat pertumbuhan kuman yang terkontaminasi. Dalam keadaan normal urin bersifat steril. Adanya bakteriura dapat ditentukan dengan tes nitrit. Dalam keadaan normal tidak terdapat nitrit dalam urin. Tes akan berhasil positif bila terdapat lebih dari 105 mikroorganisme per ml urin. Perlu diperhatikan bahwa urin yang diperiksa hendaklah urin yang telah berada dalam buli-buli minimal 4 jam, sehingga telah terjadi perubahan nitrat menjadi nitrit oleh bakteri. Urin yang terkumpul dalam buli-buli kurang dari 4 jam akan memberikan hasil positif pada 40% kasus. Hasil positif akan mencapai 80% kasus bila urin terkumpul dalam buli-buli lebih dari 4 jam. Hasil yang negative belum dapat menyingkirkan adanya bakteriurea, karena basil negative mungkin disebabkan infeksi saluran kemih oleh kuman yang tidak mengandung reduktase, sehingga kuman tidak merubah nitrat menjadi nitrit. Bila urin yang akan diperiksa berada dalam buli-buli kurang dari 4 jam atau atau tidak terdapat nitrat dalam urin, basil tes akan negative. Kepekaan tes ini berkurang dengan peningkatan berat jenis urin. Hasil negatif palsu terjadi bila urin mengandung vitamin C melebihi 25 mg/dl dan kosentrasi ion nitrat dalam urin kurang dari 0.03 mg/dl.

23

1.4 Gangguan Alat Pengeluaran

1. Diabetes melitus Pada orang sehat air kemihnya tidak mengandung zat yang berguna bagi tubuh, seperti gula dan protein. Bila dalam air kemih seseorang terdapat gula secara berlebihan, berati orang ini menderita penyakit kencing manis atau diabetes mellitus. Ini terjadi karena kekurangan hormon insulin. Penyakit ini sering disebut diabetes insipidus. 2. Batu dalam kandung kencing Dapat terbentuk ditempat atau berasal dari ginjal, masuk kedalam kandung kencing. Karena kandung kencing berkontraksi untuk mengeluarkan air kencing, maka batu tertekan pada trigonum menyebabkan sangat sakit dan infeksi sering menyertai keadaan ini. 3. Infeksi ginjal Dapat ditimbulkan oleh penyakit tuberkulosa atau penyakit panas pada ginjal. 4. Diabetes melitus Pada orang sehat air kemihnya tidak mengandung zat yang berguna bagi tubuh, seperti gula dan protein. Bila dalam air kemih seseorang terdapat gula secara berlebihan, berati orang ini menderita penyakit kencing manis atau diabetes mellitus. Ini terjadi karena kekurangan hormon insulin. Penyakit ini sering disebut diabetes insipidus. 5. Nefritis akut Merupakan serangan mendadak, suhu dan denyut nadi menjadi naik. Air kemih bewarna tua berisi albumin : albuminuria (air kemih berisi albumin), heamturia (air kemih mengandung darah). 6. Uremia Merupakan salah satu istilah yang digunakan untuk melukiskan keadaan racun, disebabkan bahan buangan dari ginjal di dalam darah. Hal ini tampak pada pemeriksaan jumlah ureum yang ada. Sebenarnya ureum itu digunakan untuk menentukan senyawa nitrogen yang bersifta racun. 7. Tumor Wilms Sejenis tumor ganas pada ginjal. Sering terjadi pada anak kecil. Akhir-akhir ini, suatu perawatan telah dikembangkan untuk anak-anak yang menderita kelainan ini. 8. Sindroma nefrotis Merupakan keadaan ginjal, walaupun tidak ada pembuangan, kehilangan sejumlah besar protein khususnya albumin. 9. Pielonefritis Adalah peradangan jaringan ginjal, hal ini dapat akut atau kronis, terjadi pada berbagai penyakit dan sering disertai distitis. Bila akut, terasa sangat sakit dengan kenaikan suhu, menggigil dan muntah-muntah.

24

Faktor-faktor penunjang yang dapat menyebabkan ialah penyumbatan aliran air kemih baik oleh batu, tumor atau penyempitan. Infeksi ini sering menjalar dari kandungan kemih menuju ginjal. Pielonefritis kronis sering merusak sel-sel ginjal, sehingga ginjal tidak berfungsi lagi (gagal ginjal)

1.5 Tujuan Pratikum

A. pemeriksaan fisik Tujuan : Mengamati sifat fisik urin B. Pemeriksaan kimiawi 1. Derajat keasaman (pH) Tujuan : untuk menentukan keasaman urin 2. Uji benedict semikuantitatif Tujuan : menentukan kadar glukosa urin secara semikuantitatif 3. Reaksi heller Tujuan : mengetahui kadungan protein di dalam urin 4. Uji koagulasi Tujuan : mengetahui kandungan protein di dalam urin 5. Uji gerhardt Tujuan : mengetahui adanya asam asetoasetat dalam urin 6. Uji rothera Tujuan : membuktikan adanya badan keton di dalam urin 7. Percobaan kreatinin urin Tujuan : menentukan kreatinin urin sebatas kualitatif 8. Pemeriksaan urobilinogen Tujuan : untuk mengetahui kandungan protein di dalam urin

25

BAB II METODE KERJA

2.1 Pemeriksaan Fisik


Bahan dan alat : Urin Tabung reaksi Beker glass

Prosedur percobaan : 1. Jumlah (volume) Tentukan jumlah/volume urin yang diproduksi selama 24 jam dengan mengalikan jumlah satu kali buang air kecil dengan berapa kali buang air kecil setiap hari. 2. Warna Dilakukan pemeriksaan warna urin untuk menentukan normal atau tidak (nonpatologis atau patologis). 3. Buih Masukkan beberapa ml urin dalam tabung reaksi kemudian dikocok, dan mengamati apa yang terjadi. 4. Kekeruhan Amati urin yang ditampung apakah keruh atau tidak. Tentukan penyebab kekeruhan. 5. Bau Segera setelah diambil, tentukan bau urin. Jangan dibiarkan lama karena akan mempengaruhi hasil.

2.2 Pemeriksaan Kimiawi 1. Derajat keasaman (pH) Bahan dan alat : Urin Tabung reaksi Pengaduk kaca Kertas lakmus atau indikator universal

Prosedur percobaan : 1. Masukkan beberapa tetes urin ke dalam tabung reaksi. 26

2.

Letakkan kertas lakmus atau indikator universal di pucuk pengaduk, dan memasukkan ke dalam tabung reaksi tersebut.

3.

Amati perubahan warna pada kertas lakmus atau indikator universal, untuk menentukan pH.

2. Uji benedict semikuantitatif Bahan dan alat : Urin normal Larutan glukosa 0,3 % Larutan glukosa 1 % Larutan glukosa 5 % Pereaksi benedict

Prosedur percobaan : Pipetkan ke dalam tabung reaksi sebagai berikut : Larutan Pereaksi Benedict Urin Larutan glukosa 0,3 % Larutan glukosa 1 % Larutan glukosa 5 % Uji 2,5 ml 4 tetes Blangko 1 2,5 ml 4 tetes Blangko 2 2,5 ml 4 tetes Blangko 3 2,5 ml 4 tetes

Panaskan dalam penangas air mendidih selama 5 menit atau didihkan di atas api kecil selama 1 menit. Biarkan mendingin perlahan-lahan. Endapan berwarna kuning, hijau atau merah menandakan reaksi positif, sedangkan perubahan warna larutan saja tidak berarti positif.

3. Reaksi Heller Alat dan bahan : Urin Tabung reaksi Larutan asam nitrat pekat

Prosedur percobaan : 1. 2. 3. Masukkan 5 ml asam nitrat pekat. Miringkan tabung reaksi dan tambahkan berlahan-lahan 5 ml urin ke dalam tabung reaksi. Amati yang terjadi, hasil positif ditandai oleh terbentuknya cincin putih di atas lapisan HNO 3 pekat. 27

4.

Lakukan hal yang sama menggunakan sampel yang disediakan.

4. Uji koagulasi Alat dan bahan : Urin Tabung reaksi Rak tabung reaksi Asam asetat 2 %

Prosedur percobaan : 1. 2. 3. 4. 5. Masukkan 5 ml urin jernih, bila perlu disaring dahulu. didihkan, endapan yang terbentuk adalah protein atau fosfat. tambahkan asam asetat 2 % sebanyak 5 tetes. amati yang terjadi. Bila endapan teteap ada menandakan ada protein. lakukan hal yang sama menggunakan sampel yang disediakan.

5. Uji gerhardt Alat dan bahan : Urin Tabung reaksi Rak tabung reaksi FeCl3 10 %

Prosedur percobaan : 1. 2. 3. 4. Masukkan 5 ml urin segar ke dalam tabung reaksi. Tambahkan FeCl3 10 %, saring. Tambahkan beberapa tetes FeCl3 pada fitrat. Reaksi akan positif bila timbul warna merah.

6. Uji Rothera Alat dan bahan : Urin Tabung reaksi Rak tabung reaksi Kristal amonium sulfat Na nitroprusid 5 % Amonium hidroksida pekat

Prosedur percobaan : 1. Masukkan urin sebanyak 5 ml ke dalam tabung reaksi. 28

2. 3. 4. 5. 6.

Tambahkan kristal amonium sulfat sampai jenuh. Tambahkan Na nitroprusid pekat 5 % 2-3 tetes. Tambahkan amonium hidroksida pekat 2-3 tetes. Campur, didiamkan 30 menit. Hasil positif ditandai oleh warna ungu Lakukan hal yang sama menggunakan sampel yang disediakan.

7. Percobaan kreatinin urin Alat dan bahan : Urin Tabung reaksi Rak tabung reaksi Asam pikrat NaOH 10 %

Prosedur percobaan : 1. 2. 3. Masukkan 5 ml urin ke dalam tabung reaksi. Tambahkan 1 ml asam pikrat dan 1 ml NaOH 10 %, Amati warna yang timbul.

8. Pemeriksaan urobilinogen Alat dan bahan : Urin Tabung reaksi Rak tabung reaksi Larutan para dimetil aminobenzaldehid

Prosedur percobaan : 1. 2. Masukkan urin sebanyak 5 ml ke dalam tabung reaksi. Tambahkan 10-12 tetes larutan para dimetil aminobenzaldehid. Campur dan tunggu selama 5 menit. Amati perubahan warna yang terjadi.

3.

29

BAB III HASIL PERCOBAAN

A. Pemeriksaan fisik Jenis Pemeriksaan Volume Warna Buih Kekeruhan 160 ml Kuning jernih Sangat sedikit Jernih, tidak keruh Hasil Keterangan 800 ml/hari Kunig jernih Buih cepat hilang Setelah beberapa lama,

warnanya tetap jernih Setelah didiamkan beberapa

Bau

Tidak berbau

lama, timbul bau khas (pesing)

B. Pemeriksaan kimiawi 1. Derajat Keasaman (pH) Jenis Pemeriksaan Derajat keasaman (pH) Hasil 5 asam Keterangan

2. Uji Benedict semikuantitatif Tabung 1 2 Warna Biru jernih Kuning kehijauan Penafsiran kadar 0 0,5- 1,0 % Larutan : hijau Endapan :kuning kehijauan Larutan : biru kehijauan Endapan : jingga Larutan : jingga Endapan : jingga Keterangan

Jingga

1,0-2,0%

Jingga

1,0-2,0%

30

Jenis pemeriksaan Reaksi heller -tabung 1 -tabung2 Uji koagulasi -tabung1 -tabung2 Uji gerhardt Uji rothera -tabung1 -tabung2

Hasil

Keterangan

Tidak terbentuk cincin putih Terbentuk cincin putih

+ -

Tidak terbentuk endapan Terbentuk endapan Tidak terbentuk warna merah

Tidak adanya badan keton Tidak adanya badan keton Setelah ditambahkan asam

pikrat + NaOH 10% berwarna Uji kreatinin urine + kuning kecoklatan, lalu setelah beberapa saat berubah menjadi merah Awalnya Pemeriksaan urobilinogen + berwarna kuning

terang, lalu berubah menjadi kuning agak coklat.

Keterangan : -tabung1 : urine segar -tabung2 : sampel

31

BAB IV PEMBAHASAN

A. Pemeriksaan fisik Volume Pengukuran volume urin berguna untukmenafsirkan hasil pemeriksaan kuantitatif atau semi kuantitatif suatu zat dalam urin, dan untuk menentukan kelainan dalam keseimbangan cairan badan. Dalam keadaan normal pada orang dewasa akan dibentuk 1200 - 1500 ml urin dalam satu hari. Namun hal tersebut pada setiap orang berbeda-beda dari seorang ke orang lain. Ini dipengaruhi oleh protein dan NaCl yang dikonsumsi urea yang di ekskresi dan garam yang berperan sebagai agen-agen diuretik. Banyak faktor-faktor lainnya yang juga dapat mempengaruhi hal tersebut, antara lain : umur, berat badan, kelamin, makanan dan minuman, suhu badan, iklim, aktivitas orang yang bersangkutan, banyak sedikitnya hormon insulin, penyakit, dan emosi. Penguapan berlebihan dan olahraga yang berlebihan juga dapat menyebabkan berkurangnya volume. Dari sample kami volume urin yang diperoleh sekali berkemih adalah 160 ml dengan frekuensi berkemih 5 6 kali dalam sehari. Dari data tersebut dapat diperoleh volume urin dalam satu harinya 800 ml. Akan tetapi volume urin tiap kali berkemih tidak selalu sama. Biasanya volume urin pada pagi hari sebelum beraktivitas lebih banyak. Dari volume urin pratikan kelompok kami, volumenya kurang dari volume urin normal. Hal ini dikarenakan sebelumnya praktikan telah mengeluarkan urin sebelum praktikum dimulai. Warna Warna urin normal itu berkisaran antara warna kuning jernih (kuning muda) hingga kuning pucat (kuning tua). Pada umumnya warna urin ditentukan oleh besarnya diuresis makin besar diuresisnya makin muda warna urin tersebut. Warna urin tersebut dikarenakan oleh beberapa macam zat warna, terutama urochrom dan urobilin. Urin normal yang dikeluarkan biasanya bening dan bersih. Warna urin yang dihasilkan oleh prarikan kelompok kami adalah kuning jernih, dimana warna urin tersebut masih dalam kisaran normal warna urin. Apabila warna urin berada tidak dalam kisaran warna urin normal/kelainan warna hal tersebut dapat disebabkan karena zat warna yang abnormal/ada dalam jumlah besar, hasil metabolisme abnormal namun juga dapat juga disebabkan dari suatu jenis makanan atau obat yang diberikan kepada orang yang sakit.

32

Buih Bila urin normal dikocok akan timbul buih berwarna putih dan berlangsung tidak lama. Bila buih masih bertahan setelah 10 menit, maka ini menunjukan adanya protein dalam urin. Bila dikocok timbul buih berwarna kuning, menunjukan bahwa urin mengandung bilirubin dan phenylazo diaminopyridin. Indikator buih menjadi positif palsu pada konsentrasi urobilin yang tinggi dan juga oleh obat obatan seperti acriflavine dan pyridium. Pada percobaan kami, urin pratikan yang dikocok menghasilkan sedikit buih berwarna putih yang cepat hilang (kurang dari 10 menit) sehingga dapat dikatakan bahwa urin pratikan yang digunakan dalam kondisi normal. Kekeruhan Urin segar yang normal biasanya jernih. Apabila pada saat pengeluarannya urin dalam kategori keruh sampai sangat keruh, hal tersebut dikarenakan oleh chilus, bakteri, sedimen seperti epitel, leukosit dan eritrositdalam jumlah banyak. Namun, tidak semua kekeruhan bersifat abnormal. Urin normalpun akan menjadi agak keruh jika dibiarkan atau didinginkan. Kekeruhan ringan itu disebut nubecula dan terjadi dari lender, sel-sel epitel dan leukosit yang lambat laun mengendap. Pada percobaan kami, urin yang dihasilkan oleh pratikan adalah jernih dan setelah didiamkan beberapa saat, urin tersebut tetap jernih. Hal ini menunjukkan urin dari pratikan kami berada pada keadaan normal. Bau

Urin normal yang segar biasanya tidak berbau, tetapi beberapa saat setelah meninggalkan tubuh akan menimbulkan bau yang khas (amoniak), dikarenakan bakteri akan mengkontaminasi urin dan mengubah zat warna urin sehingga menghasilkan bau yang khas. Namun bau-bau yang berlainan/abnormal dari urin dapat disebabkan oleh makanan (seperti jengkol, petai), obat-obatan (seperti mentol), bau buah-buahan (seperti padaketonuria). Bau urin yang dihasilkan oleh pratikan kelompok kami, pada saat baru dikeluarkan tidak berbau, namun setelah beberapa saat, bau urinnya menjadi khas (amoniak). Hal ini menunjukkan bahwa urin dari pratikan kelompok kami dalam keadaan normal.

33

B. Pemeriksaan Kimiawi

1. Derajat keasaman (pH) pH urin biasanya sedikit asam, sekitar 5,5-6,5, namun batas-batas normal pH adalah 4,5-7,5. Penetapan pH diperlukan pada gangguan keseimbangan asam basa, kerena dapat memberi kesan tentang keadaan dalam badan. Selain itu penetapan pH pada infeksi saluran kemih dapat memberi petunjuk ke arah etiologi.pH urin yang asam dikarenakan makanan yang mengandung protein dalam jumlah besar dan infeksi bakteri Escherichiacoli. Sedangkan pH urin yang basa disebabkan oleh sayur-sayuran dan buah buahan mengandung asam-asam organik yang akan membentuk bikarbonat dan adanya infeksi oleh kuman Proteus yang dapat merombak ureum menjadi amoniak. Urin dari pratikan kami, setelah diuji dengan menggunakan indikator universal, menunjukkan pH 5, dimana masih dalam kisaran pH urin normal. 2. Uji benedict semikuantitatif Uji benedict dilakukan untuk mengetahui kandungan glukosa dalam urin. Dalam pratiku, sampe urin di uji dengan pereaksi benedict kemuadian dibandingkan dengan larutan glukosa yang juga direaksikan dengan pereaksi benedict. Reagen benedict mengandung ion Cu2+ yang akan direduksi oleh gula menjadi ion Cu+ melalui proses pemanasan sehingga menghasilkan endapan warna coklat atau merah bata. O || RCH + Cu2+ + 2OH
kalor

O || R C OH + Cu2O + H2O

Gula pereduksi

merah bata

Pada sampel urin pratikan kami, ternyata tidak terdapat endapan, hal ini menunjukkan tidak terdapat kadungan glukosa pada urin pratikan kami. Pada penderita diabetes mellitus,
kandungan glukosa dapat di buktikan dengan adanya endapan berwarna, endapan berwarna yang terbentuk menunjukan besarnya kadar glukosa yang ada di dalam urine. Endapan yang ter bentuk pada urine yang mengandung glukosa di sebabkan karena glukosa merupakan gula pereduksi sehingga mereduksi larutan benedict.

34

3. Reaksi Heller Percobaan Heller dilakukan untuk membuktikan adanya protein dalam urin secara kualitatif. Urin dikatakan positif mengandung protein akan membentuk cincin putih setelah direaksikan dengan asam nitrat pekat. Asam nitrat pekat berfungsi untuk memberikan suasana asam pada urin sehingga mengalami denaturasi dan terbentuklah endapan cincin putih pada larutan. Berdasarkan percobaan yang telah kami lakukan maka diperoleh hasil : Pada tabung 1 diisi dengan asam nitrat pekat yang kemudian ditambahkan dengan urin secara perlahan-lahan, tidak terbentuk cincin putih. Pada tabung 2, diisi dengan asam nitrat pekat yang kemudian ditambahkan dengan sampel secara perlahan-lahan, terbentuk cincin putih. Hal ini menyatakan bahwa dalam tabung pertama yang berisi urin tidak terkandung adanya protein sedangkan pada tabung kedua yang berisi sampel mengandung protein. Hal ini sesuai dengan teori yang ada. 4. Uji Koagulasi Percobaan ini juga digunakan untuk mengetahui kandungan protein di dalam urin. Pada percobaan urin dipanaskan pada penangas air setelah beberapa lama akan timbul endapan-endapan seperti awan putih yang mengambang di dalam urin. Endapan-endapan tersebut adalah asam-asam amino yang terdenaturasi karena tubuh mengeluarkan asam amino 150-200 mg dalam sehari. Denaturasi adalah kerusakan pada struktur protein yang terjadi pada struktur sekunder, tersier, kuartener menyebabkan hilangnya aktivitas biologis dari suatu protein dan kelarutannnya berkurang. Dalam uji yang tidak mengandung protein apabila ditambahkan asam asetat akan menghilangkan endapan. Sebaliknya, bahan uji yang mengandung protein apabila ditambahkan asam asetat, maka endapan akan tetap ada. Berdasarkan percobaan yang dilakukan diperoleh hasil : Tabung 1 (berisi urin): setelah dipanaskan, tidak terbentuk endapan. Kemudian ditambahkan asam asetat 2% sebanyak 5 tetes dan tetap tidak menghasilkan endapan. Karena tidak adanya endapan yang terbentuk, maka dikatakan di urin tidak terdapat protein. Tabung 2 (berisi sampel) : setelah dipanaskan, ada endapan yang terbentuk. Kemudian ditambahkan asam asetat 2% sebanyak 5 tetes, endapan yang terbentuk tetap ada. Sehingga dapat dikatakan bahwa terdapat kandungan protein pada sampel tersebut, karena terbentuknya endapan.

35

Dari hasil pengamatan itu membuktikan bahwa pada urin tidak terkandung protein dan pada sampel mengandung protein. Hal ini sesuai berdasarkan teori, dimana bila terbentuknya endapan berwarna putih setelah adanya pemanasan menandakan adanya protein yang terdenaturasi. 5. Uji Gerhardt Pengujian dilakukan dengan menambahkan 5 ml urin dengan FeCl3 10% kemudian disaring. Kemudian ditambahkan beberapa tetes FeCl3. Hasil positif ditunjukkan bila timbulnya warna merah. Uji Gerhardt dilakukan untuk mengetahui ada tidaknya asam asetoasetat di dalam urin. Asetoasetat adalah suatu badan keton yang diekskresikan keluar tubuh. Biasanya badan keton ditemukan pada penderita diabetes melitus. Penderita memiliki kadar gula di dalam darah yang tinggi. Tetapi sel-sel tidak dapat menggunakan gula tersebut karena adanya gangguan pada insulin. Insulin adalah hormon yang berfungsi meningkatkan pengambilan glukosa ke dalam sel. Pada DM tipe I, sel-sel pankreas tidak dapat menghasilkan hormon insulin. Pada DM tipe II, terjadi gangguan produksi insulin sehingga jumlah insulin dalam tubuh tidak mencukupi. Karena itu, sel-sel di dalam tubuh mendapatkan energi dengan alternatif lain yaitu dengan memecah protein atau lemak untuk menghasilkan energi. Asam asetoasetat dihaislkan dari pemecahan lemak di jaringan adipose untuk menghasilkan energi. Pada percoban yang dilakukan, kami mendapatkan hasil negatif yaitu warna tidak berubah (tetap berwarna merah). Hal ini menunjukkan bahwa di dalam urin pratikan tidak terdapat asam asetoasetat, yang berarti bahwa urin dari pratikan tersebut adalah urin yang normal. 6. Uji Rothera Uji ini dilakukan dengan menambahkan kristal amonium sulfat pada 5 ml urin sampai jenuh, lalu ditambahkan 2-3 tetes Na nitroprusid 5%, lalu amonium hidroksida pekat 1-2 tetes, kemudian campu dan didiamkan 30 menit. Hasil positif ditunjukkan dengan warna ungu. Badan-badan keton biasanya ditemukan pada penderita diabetes melitus. Badan keton yang bisa diekskresikan di dalam urin diantaranya adalah aseton dan asam asetoasetat. Pada penderita DM, kadar gula di dalam darah tinggi. Tetapi sel-sel tidak dapat menggunakan gula tersebut karena adanya gangguan pada insulin. Insulin adalah hormon yang berfungsi meningkatkan pengambilan glukosa ke dalam sel. Pada DM tipe I, sel-sel pankreas tidak dapat menghasilkan hormon insulin. Pada DM tipe II, terjadi gangguan produksi insulin sehingga jumlah insulin dalam tubuh tidak mencukupi. Karena itu, sel-sel di dalam tubuh mendapatkan energi dengan alternatif lain yaitu dengan memecah protein atau lemak untuk menghasilkan energi. Badan keton dihasilkan dari pemecahan protein dan lemak untuk menghasilkan energi. Pemecahan lemak akan menghasilkan asam asetoasetat. Sedangkan pemecahan protein akan menghasilkan badan keton lain seperti aseton. 36

O || CH3 C CH3
(Aseton) Adanya badan keton pada urin dapat juga menunjukkan adanya penyakit fenilketonuria. Penyakit ini disebabkan oleh defisiensi / tidak adanya hidroksilase fenilalanin dalam hati.Penyakit ini merupakan penyakit keturunan. Pada pengujian yang dilakukan tidak didapatkan warna ungu. Hasil tersebut menunjukkan hasil yang negatif, berarti tidak ada badan keton di dalam urin praktikan. Dari hasil tersebut menunjukkan bahwa urin praktikan adalah urin yang normal. 7. Uji Kreatinin Urin Pengujian dilakukan dengan menambahkan 5 ml urin dengan 1 ml asam pikrat dan 1 ml NaOH 10 % dan kemudian diamati warna yang ditimbulkan oleh campuran tersebut. Pada pengujian yang dilakukan, terjadi perubahan warna dari kuning menjadi merah. Kreatinin aktif disekresi di dalam urin karena kreatinin merupakan salah satu sampah nitrogen yang merupakan hasil metabolism keratin di dalam sel otot. Proses reabsorbsi di tubulus bergantung pada carrier yang ada pada membran tubulus. Di tubulus hanya ada sedikit carrier yang berfungsi untuk mereabsorbsi kreatinin sehingga kreatinin tetap berada di dalam filtrat dan ditemukan dalam konsentrasi tinggi di dalam urin. Dari hasil tersebut menunjukkan bahwa urin praktikan adalah urin yang normal. 8. Pemeriksaan urobilinogen Pengujian dilakukan dengan menambahkan larutan p-dimetilaminobenzaldehid ke dalam urin, lalu didiamkan selama 5 menit.Apabila hasil menimbulkan warna merah berarti di dalam urin terdapat urobilinogen.Warna merah disebabkan adanya pembentukan senyawa kompleks dari reaksi nukleofilik pada alkohol atau gugus hidroksil pada urobilinogen. Hasil pemeriksaan harus dibaca paling lama 5 menit, karena jika dibiarkan terlalu lama maka warna itu akan menjadi lebih merah lagi. Urobilinogen tidak terdapat di dalam urin. Hal ini dapat dijelaskan dengan memahami proses metabolisme urobilinogen. Urobilinogen berasal dari perombakan hemoglobin sel darah merah yang telah afkir.Sel darah merah yang telah afkir ini kemudian difagosit oleh makrofag.Hemoglobin dipecah menjadi heme (non protein) dan globin (protein).Heme dari hemoglobin diubah menjadi 37

biliverdin dan kemudian diubah lagi menjadi bilirubin yang belum terkonjugasi (tidak larut dalam air).Kemudian bilirubin ini diambil di hepar dan mengalami perubahan menjadi bilirubin terkonjugasi (larut dalam air) oleh aktivitas enzim glukuronil di dalam hepar.Bilirubin ini kemudian disimpan di dalam empedu dan kemudian dikeluarkan ke usus halus. Di dalam usus, bilirubin akan dimetabolisme oleh bakteri usus dan mengalami proses reduksi menjadi sterkobilin dan urobilinogen. Sterkobilin adalah senyawa yang membuat feses kita berwarna kecoklatan. Sebagian urobilinogen (10 - 20 %) akan diserap dari rongga usus dan masuk ke dalam vena porta untuk menjalani siklus enterohepatik. Sebagian lagi akan diserap untuk dikeluarkan melalui ginjal. Urobilinogen (tidak berwarna) mudah mengalami oksidasi dan berubah menjadi urobilin (merupakan pigmen kuning).Urobilin memberi kontribusi terhadap warna dari urin kita.Oleh karena itulah di dalam urin kita seharusnya tidak terdapat urobilinogen. Pada pengujian yang dilakukan terjadi perubahan warna dari warna kuning dan berubah yang di dalam urin praktikan terdapat cincin merah. Hal ini menunjukkan bahwa di dalam urin praktikan terdapat urobilinogen. Hasil ini menunjukkan bahwa urin praktikan adalah urin yang tidak normal.

38

BAB V KESIMPULAN
Dalam menentukan apakah urin kita normal atau tidak kita dapat melihat melalui

pemeriksaan secara fisik dan kimiawi. Faktor-faktor yang mempengaruhi jumlah urin yang dikeluarkan antara lain : hormone ADH, umur, aktifitas, jenis kelamin, suhu atau iklim, berat badan, banyak sedikitnya hormone insulin, penyakit, emosi, asupan cairan. Dalam keadaan normal pada orang dewasa akan dibentuk 1200 - 1500 ml urin dalam satu hari dan pH urin normal 4,5 7,5. Kadar glukosa dalam urin dapat diketahui melalui uji Benedict Untuk mengetahui kadar protein dalam urin digunakan reaksi Heller, uji koagulasi, dan uji urobilinogen. Uji gerhardt dilakukan untuk mengetahui adanya asam asetoasetat dalam urin Uji rothera dilakukan untuk membuktikan adanya badan keton di dalam urin Percobaan kreatinin urin dilakukan untuk menentukan kreatinin urin sebatas kualitatif Dalam percobaan kami,dapat dilihat bahwa urin dari pratikan yang diamati atau diuji : tidak mengandung glukosa tidak mengandung protein tidak mengandung asam asetoasetat tidak mengandung badan keton

39

LAMPIRAN
Uji Benedict Kuantitatif

Reaksi Heller

Uji Koagulasi

40

Uji Gerhardt

Uji kreatin urin dan pemeriksaan urobilinogen

41

DAFTAR PUSTAKA

Kusnawidjaja, Kurnia. 1984. Petunjuk Praktikum BIOKIMIA

Kuchel, Philip W. Schaum Easy Outlines BIOKIMIA. 2006. Erlangga. Jakarta Hawab. 2003. Pengantar Biokimia. Malang. Bayumedia Poedjiaji, Anna. 1994. Dasar-dasar Biokimia. Jakarta. UI-Press. Subroto, L. 1984. Patologi Klinik II. Surabaya : Brata Jaya Press.

Guyton, Arthur. 1990. Fisiologi Manusia dan Mekanisme Penyakit. Jakarta : EGC Hater, H. A, dkk.1979. Biokimia ( Review of physiological Chemistry). Penerbit : Buku Kedokteran. Jakarta. H.Askandar Tjokroprawiro, dkk.Daibetes militus Aspek klinis dan epidemiologi. .Surabaya: Airlangga University Press. Martoharsono, Soeharsono.2006. Biokimia II. Yogyakarta : Gadjah Mada University Press

42