Anda di halaman 1dari 17

Makalah

Penerapan Kolaborasi Pendidikan dan Praktik antar Profesi Kesehatan

Oleh : Diyan Pradana

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN MUHAMMADIYAH BANJARMASIN TAHUN 2012

KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Allah SWT yang tiada pernah terputus rahmat dan karunia-Nya. Sholawat serta salam teruntuk baginda Nabi dan Rasul kita Muhammad SAW kepada keluarganya, para sahabat, dan sampailah pada kita sebagai pengikutnya. Alhamdulillah berkat bantuan dari semua pihak, akhirnya kami dapat menyelesaikan makalah mengenai Penerapan Kolaborasi Pendidikan dan Praktik antar Profesi Kesehatan ini untuk memenuhi salah satu persayaratan pendaftaran keikutsertaan LKMM Nasional VI ILMIKI diselenggarakan di Universitas diponegoro Semarang. Penulis menyadari bahwa dalam pembuatan makalah ini, masih terdapat banyak kekurangan yang harus diperbaiki. Dengan demikian, Penulis mangharapkan kritik dan saran dari pembaca. Semoga makalah ini dapat bermanfaat khususnya bagi penulis dan umumnya bagi para pembaca guna menambah pembendaharaan ilmu pengetahuan. Semoga dengan amal dan usaha kita untuk menggali ilmu pengetahuan di ridhoi dan dimudahkan oleh Allah SWT.

Banjarmasin, 17 Agustus 2012

Penulis

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar belakang Tim pelayanan kesehatan interdisiplin merupakan sekolompok

profesional yang mempunyai aturan yang jelas, tujuan umum dan berbeda keahlian. Tim akan berfungsi baik jika terjadi adanya konstribusi dari anggota tim dalam memberikan pelayanan kesehatan terbaik. Anggota tim kesehatan meliputi : pasien, perawat, dokter, fisioterapi, pekerja sosial, ahli gizi, manager, dan apoteker. Oleh karena itu tim kolaborasi hendaknya memiliki komunikasi yang efektif, bertanggung jawab dan saling menghargai antar sesama anggota tim. Proses sinergi dan pemahaman antar profesi dapat dibangun sejak caloncalon tenga professional ini duduk dibangku kuliah. Melakukan aktifitas bersama untuk menyelesaikan suatu masalah yang dapat dilihat dari berbagai macam perspektif profesi akan meningkatkan kesadaran diri tentang keterbatasan profesi, meningkatkan pemahaman arti pentingya kerja tim profesi dan pada akhirnya memunculkan perasaan penghargaan antar anggota tim kesehatan. Saat ini peraturan yang jelas tertulis hanyalah rumah sakit pendidikan untuk dokter dan dokter gigi, sementara profesi lain tidak diatur. Pertanyaanya adalah, apakah akan tercipta generasi dokter yang baik jika tenaga kesehatan lain di dalam rumah sakit tidak diatur untuk menciptakan sistem pelayanan kesehatan rumah sakit yang lebih baik, Siapakah yang bisa dijadikan contoh peran kolaborasi professional dalam melayani pasien, Bila dokter memiliki keunggulan dalam menegakan diagnosa penyakit, bukankah farmasi lebih tahu tentang pilihan obat yang paling tepat, Bukankah perawat yang lebih tahu tentang respon akibat penyakit dan pengobatanya.

Sebagai seorang kolaborator, perawat melakukan kolaborasi dengan klien, pper group serta tenaga kesehatan lain. Kolaborasi yang dilakukan dalam praktek di lapangan sangat penting untuk memperbaiki. Agar perawat dapat berperan secara optimal dalam hubungan kolaborasi tersebut, perawat perlu menyadari akuntabilitasnya dalam pemberian asuhan keperawatan dan meningkatkan otonominya dalam praktik keperawatan. Faktor pendidikan merupakan unsur utama yang mempengaruhi kemampuan seorang profesional untuk mengerti hakikat kolaborasi yang berkaitan dengan perannya masingmasing, kontribusi spesifik setisp profesi, dan pentingnya kerja sama. Setiap anggota tim harus menyadari sistem pemberian asuhan kesehatan yang berpusat pada kebutuhan kesehatan klien, bukan pada kelompok pemberi asuhan kesehatan. Kesadaran ini sangat dipengaruhi oleh pemahaman setiap anggota terhadap nilai-nilai profesional. yaitu melakukan sharing perencanaan, pengambilan keputusan, pemecahan masalah, membuat tujuan dan tanggung jawab, melakukan kerja sama dan koordinasi dengan komunikasi terbuka. Dilain pihak seorang perawat akan berfikir; apa masalah pasien ini, Bagaimana pasien menanganinya,, bantuan apa yang dibutuhkannya, Dan apa yang dapat diberikan kepada pasien?. Perawat dididik untuk mampu menilai status kesehatan pasien, merencanakan intervensi, melaksanakan rencana, mengevaluasi hasil dan menilai kembali sesuai kebutuhan. Para pendidik menyebutnya sebagai proses keperawatan. Inilah yang dijadikan dasar argumentasi bahwa profesi keperawatan didasari oleh disiplin ilmu yang membantu individu sakit atau sehat dalam menjalankan kegiatan yang mendukung kesehatan atau pemulihan sehingga pasien bisa mandiri. Perbedaan antara dokter dan perawat dalam upaya kolaboratif terlihat cukup mencolok. Dokter dapat menentukan atau memandang kolaborasi dalam perspektif yang berbeda dari perawat. Mungkin dokter berpikir bahwa kerjasama tersirat dalam tindak lanjut sehubungan dengan mengikuti perintah /instruksi dari pada saling partisipasi dalam pengambilan keputusan. Meskipun komunikasi merupakan komponen yang diperlukan, itu saja tidak

cukup untuk memungkinkan kolaborasi terjadi. Gaya maupun cara berkomunikasi juga berpengaruh terhadap efektivitas komunikasi. Pelaksanaan instruksi dokter oleh perawat dipandang sebagai kolaborasi oleh dokter sedangkan perawat merasa mereka sedang diperintahkan untuk melakukan sesuatu. Kemungkinan kedua adalah bahwa perawat tidak merasa nyaman menantang dokter dengan memberikan sudut pandang yang berbeda.. Atau, mungkin input yang perawat berikan tidak dihargai atau ditindak lanjuti, sehingga interaksi tersebut tidak dirasakan oleh perawat sebagai kolaborasi.

1.2 Tujuan Penulisan 1. Tujuan umum Setelah penulisan makalah ini penulis memahami hubungan perawat dan dokter serta profesi kesehatan lainnya. 2. Tujuan khusus Setelah penulisan makalah ini penulis dapat : a. Memahami tentang kolaborasi antara perawat dengan profesi kesehatan yang lain b.Gambaran kinerja tenaga kesehatan dilahan praktik c. peran perawat terhadap kolaborasi d. Kesenjangan antara profesi keperawat dengan dokter e. Penerapan hubungan antara perawat pasien, perawat dan perawat, perawat profesi lain dan perawatan dengan masyarakat. f. Memahami etika hubungan tim keperawatan g. Memahami hubungan perawat dengan dokter.

BAB II LANDASAN TEORI

2.1 Landasan teori Kolaborasi adalah suatu proses dimana praktisi keperawatan atau perawat klinik bekerja dengan dokter untuk memberikan pelayanan kesehatan dalam lingkup praktek profesional keperawatan, dengan pengawasan dan supervisi sebagai pemberi petunjuk pengembangan kerjasama atau mekanisme yang ditentukan oleh peraturan suatu negara dimana pelayanan diberikan. Perawat dan dokter merencanakan dan mempraktekan bersama sebagai kolega, bekerja saling ketergantungan dalam batas-batas lingkup praktek dengan berbagi nilainilai dan pengetahuan serta respek terhadap orang lain yang berkontribusi terhadap perawatan individu, keluarga dan masyarakat. 2.2 Definisi perawat Perawat adalah seseorang yang telah lulus pendidikan perawat baik di dalam maupun di luar negeri sesuai dengan ketentuan peraturan perundangundangan yang berlaku. Jadi dari pengertian perawat tersebut dapat artikan bahwa seorang dapat sebagai dikatakan sebagai perawat dan mempunyai dapat tanggungjawab perawat manakala yang bersangkutan

membuktikan bahwa dirinya telah menyelesaikan pendidikan perawat baik diluar maupun didalam negeri yang biasanya dibuktikan dengan ijazah atau surat tanda tamat belajar. Dengan kata lain orang disebut perawat bukan dari keahlian turun temurun, malainkan dengan memalui jenjang pendidikan perawat.( Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 1239/MenKes/SK/XI/2001 tentang Registrasi dan Praktik Perawat pada pasal 1 ayat 1) 2.3 Definisi dokter

Secara operasional, definisi Dokter adalah seorang tenaga kesehatan (dokter) yang menjadi tempat kontak pertama pasien dengan dokternya untuk menyelesaikan semua masalah kesehatan yang dihadapi tanpa memandang jenis penyakit, organologi, golongan usia, dan jenis kelamin, sedini dan sedapat mungkin, secara menyeluruh, paripurna, bersinambung, dan dalam koordinasi serta kolaborasi dengan profesional kesehatan lainnya, dengan menggunakan prinsip pelayanan yang efektif dan efisien serta menjunjung tinggi tanggung jawab profesional, hukum, etika dan moral. Layanan yang diselenggarakannya adalah sebatas kompetensi dasar kedokteran yang diperolehnya selama pendidikan kedokteran. Perasaan saling tergantung (interdependensi) untuk kerja sama dan bekerja sama. Bekerja bersama dalam suatu kegiatan dapat memfasilitasi kolaborasi yang baik. Kerjasama mencerminkan proses koordinasi pekerjaan agar tujuan atau target yang telah ditentukan dapat dicapai. Selain itu, menggunakan catatan klien terintegrasi dapat merupakan suatu alat untuk berkomunikasi anatar profesi secara formal tentang asuhan klien. Untuk hasil akhir asuhan kesehatan dapat dioptimalkan.

BAB III

PEMBAHASAN

3.1 Kolaborasi Dalam Profesi Kesehatan Proses sinergi dan pemahaman antar profesi dapat dibangun sejak caloncalon tenga professional ini duduk dibangku kuliah. Melakukan aktifitas bersama untuk menyelesaikan suatu masalah yang dapat dilihat dari berbagai macam perspektif profesi akan meningkatkan kesadaran diri tentang keterbatasan profesi, meningkatkan pemahaman arti pentingya kerja tim profesi dan pada akhirnya memunculkan perasaan penghargaan antar anggota tim kesehatan. Saat ini peraturan yang jelas tertulis hanyalah rumah sakit pendidikan untuk dokter dan dokter gigi, sementara profesi lain tidak diatur. Pertanyaanya adalah, apakah akan tercipta generasi dokter yang baik jika tenaga kesehatan lain di dalam rumah sakit tidak diatur untuk menciptakan sistem pelayanan kesehatan rumah sakit yang lebih baik, Siapakah yang bisa dijadikan contoh peran kolaborasi professional dalam melayani pasien, Bila dokter memiliki keunggulan dalam menegakan diagnosa penyakit, bukankah farmasi lebih tahu tentang pilihan obat yang paling tepat, Bukankah perawat yang lebih tahu tentang respon akibat penyakit dan pengobatanya. Ronde bersama di rumah sakit, diskusi kasus dan pengelolaan kasus bersama akan sangat bermanfaat bukan hanya untuk profesi atau mahasiswa kesehatan namun juga untuk pasien. Dengan kerjasama, duplikasi pemeriksaan dan wawancara serta duplikasi tindakan akan dapat dihindarkan. Melalui kerja tim, pemeriksaan dan tindakan serta monitoring data penting tidak akan terlewatkan. Dari kegiatan ini calon-calon profesioanal tahu bagaimana menjadikan pelayanan yang efektif dan efisien yang berfokus pada kebutuhan

pasien. Kebutuhan pembelajaran dilakukan tetap dalam koridor beneficiency dan non maleficiency.

Setiap profesi tenaga kesehatan memiliki keunggulan yang tidak bisa digantikan oleh profesi lain. Namun dalam beberapa area, setiap profesi memiliki kemiripan dan kedekatan hubungan yang luar biasa yang sering dikenal sebagai area abu-abu atau gray area. Pada wilayah ini setiap profesi merasa memiliki kemampuan dan hak untuk menjalankan praktek profesionalnya. Sehingga area abu menjadi daerah yang diperebutkan. Paradigma perebutan wilayah seperti ini harus dirubah menjadi paradigma baru yang lebih konstruktif, yaitu menjadikan daerah abu-abu menjadi area of common interest. Area yang menjadi perhatian bersama para profesi karena besarnya magnitude area itu dan resiko dampak yang juga luar biasa sehingga harus ditangani bersama. Area ini bila tidak ditangani dapat menimbulkan potensi bahaya penyakit dan bahaya social yang sangat besar bagi masyarakat. Contoh masalah ini adalah persalinan normal, imunisasi dan vaksinasi serta pengobatan rutin masyarakat. Bila karena suatu hal profesi kesehatan lain tidak ada dan profesi kesehatan lainya tidak diperkenankan menangani masalah ini, maka dimanakah nurani para hamba-hamba kesehatan, Apakah persalinan bisa ditunda, Apakah hanya demam tinggi dan diare yang tidak spesifik harus dirujuk hingga 45 kilometer atau ditunda hingga dua hari, Bila kesepakatan antar profesi tenaga kesehatan dalam menangani area of common interest ini dapat dilakukan dengan baik, kehidupan bersama profesi-profesi kesehatan akan lebih mulia dan dimuliakan oleh masyarakat.

3.2 Komponen Dalam Kolaborasi Pelayanan Kesehatan Tim pelayanan kesehatan interdisiplin merupakan sekolompok

profesional yang mempunyai aturan yang jelas, tujuan umum dan berbeda keahlian. Tim akan berfungsi baik jika terjadi adanya konstribusi dari anggota tim dalam memberikan pelayanan kesehatan terbaik. Anggota tim kesehatan meliputi : pasien, perawat, dokter, fisioterapi, pekerja sosial, ahli gizi, manager, dan apoteker. Oleh karena itu tim kolaborasi hendaknya memiliki komunikasi yang efektif, bertanggung jawab dan saling menghargai antar sesama anggota tim. Pasien secara integral adalah anggota tim yang penting. Partisipasi pasien dalam pengambilan keputusan akan menambah kemungkinan suatu rencana menjadi efektif. Tercapainya tujuan kesehatan pasien yang optimal hanya dapat dicapai jika pasien sebagai pusat anggota tim. Perawat sebagai anggota membawa persfektif yang unik dalam interdisiplin tim. Perawat memfasilitasi dan membantu pasien untuk mendapatkan pelayanan kesehatan dari praktek profesi kesehatan lain. Perawat berperan sebagai penghubung penting antara pasien dan pemberi pelayanan kesehatan. Dokter memiliki peran utama dalam mendiagnosis, mengobati dan mencegah penyakit. Pada situasi ini dokter menggunakan modalitas pengobatan seperti pemberian obat dan pembedahan. Mereka sering berkonsultasi dengan anggota tim lainnya sebagaimana membuat referal pemberian pengobatan. Kolaborasi menyatakan bahwa anggota tim kesehatan harus bekerja dengan kompak dalam mencapai tujuan. Elemen penting untuk mencapai kolaborasi yang efektif meliputi kerjasama, asertifitas, tanggung jawab, komunikasi, otonomi dan koordinasi seperti skema di bawah ini.

Dasar-dasar kompetensi koaborasi : a. b. c. d. e. Komunikasi Respek dan kepercayaan Memberikan dan menerima feed back Pengambilan keputusan Manajemen konflik Komunikasi sangat dibutuhkan daam berkolaborasi karena kolaborasi membutuhkan pemecahan masalah yang lebih kompleks, dibutuhkan komunikasi efektif yang dapat dimengerti oleh semua anggota tim. Pada dasar kompetensi yang lain, kualitas respek dapat dilihat lebih kearah honor dan harga diri, sedangkan kepercayaan dapat dilihat pada mutu proses dan hasil. Respek dan kepercayaan dapat disampaikan secara verbal maupu non verbal serta dapat dilihat dan dirasakan dalam penerapannya sehari-hari.Feed back dipengaruhi oleh persepsi seseorang, pola hubungan, harga diri, kepercayaan diri, kepercayaan, emosi, lingkungan serta waktu, feed back juga dapat bersifat negatif maupun positif. Dalam melakukan kolaborasi juga akan melakukan manajemen konflik, konflik peran umumnya akan muncul dalam proses. Untuk menurunkan konflik maka masing-masing anggota harus memahami peran dan fungsinya, melakukan klarifikasi persepsi dan harapan, mengidentifikasi kompetensi, mengidentifikasi tumpang tindih peran serta melakukan negosiasi peran dan tanggung jawabnya.

3.3 Keberhasilan Kolaborasi Perawat Dalam Pelayanan Kesehatan Menurut Hanson & Spross, 1996 terwujudnya suatu kolaborasi tergantung pada beberapa kreiteria yaitu: 1. 2. Adanya rasa saling percaya dan menghormati. Saling memahami dan menerima keilmuan masing-masing.

3. 4. 5. 6.

Memiliki citra diri positif. Memiliki kematangan profesional yang setara (yang timbul dari pendidikan dan pengalaman. Mengakui sebagai mitra kerja bukan bawahan. Keinginan untuk bernegosiasi

Kolaborasi dapat berjalan dengan baik jika : a. Semua profesi mempunyai visi dan misi yang sama b. Masing-masing profesi mengetahui batas-batas dari pekerjaannya c. Anggota profesi dapat bertukar informasi dengan baik d. Masing-masing profesi mengakui keahlian dari profesi lain yang tergabung dalam tim.

Model Praktek Kolaborasi : a. Interaksi Perawat-Dokter, dalam persetujuan pratek. b. Kolaborasi Perawat Dokter, dalam memberikan pelayanan. c. Tim Interdisiplin atau komite.

Pemahaman mengenai prinsip kolaborasi dapat menjadi kurang berdasar jika hanya dipandang dari hasilnya saja. Pembahasan bagaimana proses kolaborasi itu terjadi justru menjadi point penting yang harus disikapi. Bagaimana masing-masing profesi memandang arti kolaborasi harus dipahami oleh kedua belah pihak sehingga dapat diperoleh persepsi yang sama. Penerapan hubungan antara perawat dan profesi lain yang memiliki bidang kesehatan yang saling berketergantungan satu sama lain misalnya

seorang dokter pasti membutuhkan, perawat, apoteker dan lain-lain , yang saling berkaitan satu sama lain. Selain penerapan-penerapan dengan perawat dan profesi lain, perawat juga harus menerapkan hubungan antara perawat dan masyarakat Perawat mengemban tugas tanggung jawab bersama masyarakat untuk memprakarsai dan medukung berbagai kegiatan dalam memenuhi kebutuhan kesehatan masyarakat.dan tetap menghargai privasi yang ada dalam masyarakat berupa Privasi pasien. Menghargai harkat martabat pasien,Sopan santun dalam pergaulan,saling menghormati, saling membantu, peduli terhadap lingkung.

3.2 Kolaborasi Antara Dokter Dan Perawat Pada saat ini berkembang paradigma baru dalam upaya pemberian palayanan kesehatan yang bermutu dan konfrehensif, tentu hal ini dipicu ketika WHO pada tahun 1984 mendefinisikan sehat yang meliputi sehat fisik,sehat psikis,sehat sosial, dan sehat spiritual. Dulu orang memandang masing masing berdiri sendiri, hanya sedikit keterkaitan antara satu sama lainnya. Oleh karena itu penanganan kesehatan pada umumnya akan melibatkan berbagai elemen disiplin ilmu yang saling menunjang. Hubungan dokter dan perawat dalam pemberian asuhan kesehatan kepada pasien merupakan hubungan kemitraan ( partnership) yang lebih mengikat dimana seharusnya terjadi harmonisasi tugas, peran dan tanggung jawab dan sistem yang Terbuka.Sebagaimana American Medical Assosiasi ( AMA ), 1994, menyebutkan kolaborasi yang terjadi antara dokter dan perawat dimana mereka merencanakan dan praktek bersama sebagai kolega, bekerja saling ketergantungan dalam batasan-batasan lingkup praktek mereka dengan

berbagai nilai nilai yang saling mengakui dan menghargai terhadap setiap orang yang berkontribusi untuk merawat individu, keluarga dan masyarakat. Apabila kolaborasi antara dokter dan perawat berjalan sebagaimana dimaksudkan tentu berdampak langsung terhadap pasien, karena banyak aspek positif yang dapat dihasilkan tetapi pada kenyataannya terutama dalam praktek banyak hambatan kolaborasi antara dokter dan perawat sehingga kolaborasi sulit tercipta.

3.4 Hambatan Kolaborasi Dokter dan Perawat a. Dominasi Kekuasan Dari pengamatan penulis terutama dalam praktek Asuhan Keperawatan perawat belum dapat melaksanakan fungsi kolaborasi dengan baik khususnya dengan dokter walaupun banyak pekerjaan yang seharusnya dilakukan dokter dikerjakan oleh perawat, walaupun kadang tidak ada pelimpahan tugasnya dan wewenang. Hal ini karena masih banyaknya dokter yang memandang bahwa perawat merupakan tenaga vokasional. Degradasi keperawatan ke posisi bawahan dalam hubungan kolaborasi perawat-dokter, secara empiris hal ini menunjukkan bahwa dokter berada di tengah proses pengambilan keputusan dan perawat melaksanakan keputusan tersebut. Pada tahun 1968, psikiater Leonard Stein menggambarkan hubungan perawat-dokter pada kenyataanya perawat menjadi pasif. b. Perbedaan Tingkat Pendidikan/Pengetahuan Perbedaan tingkat pendidikan dan pengetahuan dokter dan perawat secara umum masih jauh dari harapan hal ini dapat berdampak pada interprestasi terhadap masalah kesehatan pasien yang berbeda, tentu juga akan berdampak pada mutu asuhan yang diberikan.

c. Komunikasi Komunikasi dibutuhkan untuk mewujudkan kolaborasi yang efektif, bertanggung jawab dan saling menghargai antar kolaborator, catatan kesehatan pasien akan menjadi sumber utama komunikasi yang secara terbuka dapat dipahami sebagai pemberi informasi dari disiplin profesi untuk pengambilan keputusan. Kesenjangan tingkat pendidikan dan pengetahuan akan menghambat proses komunikasi yang efektif. d. Cara Pandang Perbedaan antara dokter dan perawat dalam upaya kolaboratif terlihat cukup mencolok. Dokter dapat menentukan atau memandang kolaborasi dalam perspektif yang berbeda dari perawat. Mungkin dokter berpikir bahwa kerjasama tersirat dalam tindak lanjut sehubungan dengan mengikuti perintah /instruksi dari pada saling partisipasi dalam pengambilan keputusan. Meskipun komunikasi merupakan komponen yang diperlukan, itu saja tidak cukup untuk memungkinkan kolaborasi terjadi. Gaya maupun cara berkomunikasi juga berpengaruh terhadap efektivitas komunikasi. Pelaksanaan instruksi dokter oleh perawat dipandang sebagai kolaborasi oleh dokter sedangkan perawat merasa mereka sedang diperintahkan untuk melakukan sesuatu. Kemungkinan kedua adalah bahwa perawat tidak merasa nyaman menantang dokter dengan memberikan sudut pandang yang berbeda.. Atau, mungkin input yang perawat berikan tidak dihargai atau ditindak lanjuti, sehingga interaksi tersebut tidak dirasakan oleh perawat sebagai kolaborasi.

BAB IV PENUTUP

4.1 Kesimpulan Setiap profesi tenaga kesehatan memiliki keunggulan yang tidak bisa digantikan oleh profesi lain. Namun dalam beberapa area, setiap profesi memiliki kemiripan dan kedekatan hubungan yang luar biasa yang sering dikenal sebagai area abu-abu atau gray area. Pada wilayah ini setiap profesi merasa memiliki kemampuan dan hak untuk menjalankan praktek profesionalnya. Sehingga area abu menjadi daerah yang diperebutkan. Paradigma perebutan wilayah seperti ini harus dirubah menjadi paradigma baru yang lebih konstruktif, yaitu menjadikan daerah abu-abu menjadi area of common interest. Area yang menjadi perhatian bersama para profesi karena besarnya magnitude area itu dan resiko dampak yang juga luar biasa sehingga harus ditangani bersama. Area ini bila tidak ditangani dapat menimbulkan potensi bahaya penyakit dan bahaya social yang sangat besar bagi masyarakat 4.2 Saran 1. Untuk Pendidikan: Perlu adanya sosialisasi praktik kolaborasi dan managed care diantara tim kerja kesehatan atau profesi kesehatan mulai dari situasi pendidikan. 2. Untuk Rumah sakit: Untuk meningkatkan mutu pelayanan keperawatan kesehatan perlu adanya peningkatan pendidikan perawat dan komunikasi yang baik ke pasien maupun antar tim kerja, dan untuk meningkatkan praktik kolaborasi perlu adanya komitmen bersama antara pemimpin (struktural) dan fungsional (profesi kesehatan), dimana pimpinan dapat mengadopsi managed care dan mensosialisasikan serta dapat diterapkan pada pelayanan.

Daftar Pustaka

Departemen kesehatan RI (2004). Profile Indonesia 2004. Ismani, Nila.2001. Etika Keperawatan. Jakarta: Widia Medika http://bankdata.depkes.go.id/Profil/Indo04/ http://chairulums.wordpress.com/2009/06/30/hubungan-perawat-dokter/ http://www.kompas.com/kompas-cetak/0705/14/humaniora/3531067.htm. http://www.kompas.com/ver1/Kesehatan/0711/01/184756.htm ( 14 Mei 2008). Rachmawati, Evy. 2007 Keterjangkauan Pelayanan Kesehatan Masih Rendah. www. Kompas.com/kompas-cetak/ 2001. Diskusi Era Baru: Perawat Ingin Jadi Mitra Dokter. www.nursingworld. Canon. 2005. New Horizons for Collaborative Partnership. www. Nursingworld. Gardner. 2005. Ten Lessons in Collaboration.