Anda di halaman 1dari 29

REFERAT DEPARTEMEN SARAF AFASIA

Penulis : Patricia Gabrielle T J 07120080063

Penguji : dr. Hj. Sasmoyohati, Sp.S Pendamping Penguji : dr. Dwi S

DEPARTEMEN SARAF RSPAD GATOT SOEBROTO JAKARTA

Kata Pengantar Puji dan syukur saya ucapkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena atas berkat dan bimbingan-Nya sajalah karya tulis dengan judul Afasia ini dapat disusun dan diselesaikan tepat pada waktunya. Terima kasih saya ucapkan kepada Dr. Sasmoyohati,Sp.S dan Dr. Dwi S., selaku penguji yang telah memberikan kesempatan dan pengarahan dalam pembuatan makalah ini. Tujuan utama dari makalah ini tak lain ialah untuk melengkapi ujian ahkir. Di samping itu penulis berharap tulisan ini dapat menambah wawasan bagi setiap pembaca terutama masyarakat umum dimana penyakit afasia ini sering dijumpai namun kurang diperhatikan. Penulis menyadari bahwa tulisan ini tidak luput dari berbagai kesalahan, baik kecil maupun hal yang membingungkan, baik di dalam penyusunan kalimat maupun di dalam teorinya,

mengingat keterbatasan dari sumber referensi yang diperoleh penulis serta keterbatasan penulis. Oleh karena itu, penulis membutuhkan kritik dan saran dari segenap pembaca. Semoga karya tulis ini bermanfaat bagi semua pihak.

Jakarta, Mei 2012

Penulis

ii

Daftar Isi Kata Pengantar................................................................................................................................ii Daftar Isi........................................................................................................................................iii BAB I

PENDAHULUAN..........................................................................................................................1 Latar belakang.............................................................................................................................1 BAB II.............................................................................................................................................2 TINJAUAN PUSTAKA.................................................................................................................2 Pengertian....................................................................................................................................2 Fisiologi berbicara......................................................................................................................2 Sejarah.........................................................................................................................................5 Etiopatofisiologi .........................................................................................................................8 Epidemiologi...............................................................................................................................9 Klasifikasi...................................................................................................................................9 Gejala Afasia.............................................................................................................................13 Diagnosis...................................................................................................................................16 Penatalaksanaan........................................................................................................................22 Prognosis .................................................................................................................................23 BAB III..........................................................................................................................................24 iii

PENUTUP.....................................................................................................................................24 Kesimpulan...............................................................................................................................24 DAFTAR PUSTAKA...................................................................................................................25

iv

BAB I PENDAHULUAN Latar belakang Afasia adalah gangguan atau ketidakmampuan dalam berbahasa yang disebabkan oleh gangguan pada otak, dimana gangguan tersebut bukan merupakan penyakit yang herediter, tidak disebabkan oleh gangguan pendengaran, gangguan pengleihatan, atau kelemahan motorik. Di Amerika, afasia banyak dijumpai pada 20% penderita stroke. Namun tidak menutup kemungkinan, afasia juga terjadi pada mereka yang mengalami cedera otak, tumor, dan terutama pasien neurodegeneratif. Afasia seringkali masih disalahdiagnosiskan atau dianggap remeh, karena afasia seringkali hanya merupakan penyakit penyerta dari sebuah penyakit yang lebih nyata. Padahal, diagnosis afasia merupakan hal yang penting karena membutuhkan terapi yang khusus. Afasia dapat memperburuk kualitas hidup pasien karena pada afasia pasien menjadi kesulitan untuk memahami lingkungan sekitarnya dan pasien tidak dapat mengekspresikan dirinya, membuat pasien seolah terisolasi dari lingkungannya. Pasien dengan ketidakmampuan untuk mengerti lingkungan dan mengekspresikan diri juga memberikan sebuah waspada kepada dokter yang menangani karena setiap penyakit yang terdapat pada pasien menjadi tiak dapat terdiagnosis dengan baik dan dokter tidak dapat mengedukasi pasien dalam proses terapi. Untuk itu, pemahaman akan afasia adalah poin yang penting bagi setiap tenaga medis. Melalui tulisan ini diharapkan kewaspadaan masyarakat terhadap afasia dapat meningkat dan penderita afasia dapat diterapi spesifik sedini mungkin.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA Pengertian Afasia adalah gangguan atau ketidakmampuan dalam berbahasa yang disebabkan oleh gangguan pada otak, dimana gangguan tersebut bukan merupakan penyakit yang herediter, tidak disebabkan oleh gangguan pendengaran, gangguan pengleihatan, atau kelemahan motorik. Afasia tidak meliputi kelainan perkembangan berbahasa atau disfasia, gangguan motorik berbahasa seperti gagap, apraksia berbahasa, atau disartria, dan bukan gangguan berbahasa yang diakibatkan oleh gangguan berpikir seperti pada pasien skizofrenia. Fisiologi berbicara Pada korteks serebri ada beberapa daerah luas yang tidak termasuk dalam pembagian area sensorik-motorik primer dan sekunder pada umumnya. Area tersebut dinamakan area asosiasi karena menerima dan menganalisis sinyal-sinyal secara bersamaan dari berbagai regio baik dari korteks motorik maupun korteks sensorik dan juga dari struktur subkortikal. Area asosiasi yang paling penting diantaranya area asosiasi parieto-oksipito-temporal, area asosiasi prefrontal, dan area asosiasi limbik. Area asosiasi parieto-oksipito-temporal terletak dalam ruang kortikal parietal dan oksipital yang besar yang dibatasi oleh korteks somatosensorik bagian anterior, korteks pengelihatan bagian posterior, dan korteks pendengaran bagian lateral. Area ini memberi tafsiran derajat tinggi untuk mengartikan sinyal-sinyal dari seluruh area sensorik sekitarnya. Area asosiasi parieto-oksipito-temporal ini memiliki sub area fungsionalnya sendiri. Area utama untuk pemahaman bahasa disebut area Wernicke dan terletak di belakang korteks auditorik primer pada bagian posterior girus temporalis di lobus temporalis. Regio 2

ini merupakan regio yang paling penting di seluruh otak untuk fungsi intelektual yang lebih tinggi karena hampir semuanya didasarkan pada bahasa. Pada bagian posterior area pemahaman bahasa, terutama terletak di regio anterolateral pada lobus oksipitalis, terdapat area asosiasi pengelihatan yang mencerna informasi pengelihatan dari kata-kata yang dibaca ke dalam area Wernicke, yakni area pemahaman bahasa. Girus yang disebut girus angularis diperlukan untuk mengartikan kata-kata yang diterima secara visual. Bila area ini tidak ada, seseorang masih dapat memiliki pemahaman bahasa yang sangat baik dengan cara mendengar tetapi tidak dengan cara membaca. Di daerah paling lateral dari lobus oksipitalis anterior dan lobus temporalis posterior terdapat area untuk memberi nama suatu objek. Nama-nama ini terutama dipelajari melalui input pendengaran sedangkan sifat fisik suatu objek dipelajari terutama melalui input visual. Selanjutnya nama-nama penting untuk pemahaman bahasa visual dan pendengaran dimana fungsi yang dilakukan oleh area Wernicke terletak tepat di superior regio penamaan auditoris dan di anterior dari area pemrosesan kata visual. Area asosiasi prefrontal fungsinya berkaitan erat dengan korteks motorik untuk merencanakan pola-pola yang kompleks dan berurutan dari gerakan motorik. Untuk membantu fungsi tersebut, area ini menerima input melalui berkas subkortikal masif dari serabut-serabut saraf yang menghubungkan area asosiasi parieto-oksipito-temporal dengan area asosiasi prefrontal. Melalui berkas ini, korteks prefrontal menerima banyak informasi sensorik yang belum dianalisis, khususnya informasi mengenai keserasian tubuh secara spasial yang diperlukan untuk merencanakan gerakan-gerakan yang efektif. Kebanyakan output dari area prefrontal ini masuk ke dalam sistem pengatur motorik yang berjalan melalui bagian kaudatus dari lintasan umpan balik ganglia basalis-talamus guna melakukan

perencanaan motorik yang menghasilkan banyak komponen rangsangan gerakan yang berurutan dan bersifat paralel. Regio khusus pada korteks frontalis yang disebut area Broca memiliki lintasan saraf untuk pembentukan kata. Area ini sebagian terletak di korteks prefrontal bagian posterior lateral dan sebagian lagi terletak di area premotorik. Di area ini rancanfan dan pola motorik untuk menyatakan kata-kata atau bahkan kalimat pendek dicetuskan dan dilaksanakan. Area ini bekerja sama dengan area Wernicke di korteks asosiasi temporal. Area asosiasi somatik, visual, dan auditorik semuanya saling bertemu satu sama lain di bagian posterior lobus temporalis superior. Daerah pertemuan dari berbagai area interpretasi sensorik ini terutama berkembang pada sisi otak yang dominan (sisi kiri pada hampir semua orang yang bertangan kanan). Area ini sangat berperan pada fungsi pemahaman otak yang lebih tinggi (fungsi luhur) dalam setiap bagian korteks serebri. Fungsi ini disebut intelegensia. Oleh karena itu, daerah ini sering disebut dengan berbagai nama yang menyatakan bahwa area tersebut memiliki kepentingan menyeluruh. Namun area ini lebih dikenal dengan nama area Wernicke sesuai dengan nama penemunya. Perangsangan listrik area Wernicke pada seseorang yang sadar kadang-kadang menimbulkan pikiran yang sangat kompleks. Hal ini terutama terjadi apabila elektroda perangsangnya dimasukkan cukup dalam di otak sehingga mencapai area talamus yang berkaitan dengan area Wernicke. Dengan alasan ini dianggap bahwa aktivasi area Wernicke dapat memanggil kembali pola ingatan yang rumit, yang melibatkan lebih dari satu modalitas sensorik, walaupun sebagian besar ingatan individual disimpan di daerah mana saja. Hal ini dianggap sesuai dengan kepentingan area Wernicke dalam menginterpretasikan arti yang rumit dari bermacam-macam pengalaman sensorik.

Girus angularis merupakan bagian lobus parietalis posterior yang paling inferior, terletak tepat di belakang area Wernicke dan di sebelah posterior bergabung dengan area visual lobus oksipitalis. Bila daerah ini mengalami kerusakan sedangkan area Wernicke di lobus temporalis tetap utuh, pasien masih dapat menginterpretasikan pengalaman auditoriknya namun rangkaian pengalaman visual yang berjalan dari korteks visual ke area Wernicke benar-benar terhambat. Oleh karena itu pasien mungkin masih mampu melihat kata-kata dan bahkan tahu mengenai kata-kata itu tetapi tidak dapat menginterpretasikan arti dari kata-kata itu. Keadaan ini disebut disleksia atau buta kata-kata (word blindness)

Sejarah Proses identifikasi area otak yang terlibat dalam kemampuan berbahasa dimulai pada tahun 1861 ketika seorang ahli bedah saraf dari Prancis, Paul Broca, meneliti otak dari seorang pasien yang telah meninggal dengan kelainan yang tidak umum pada saat itu. Sekalipun pasien dapat mendengar dan memahami kata-kata dan tidak ada kelemahan pada otot menggerak mulut dan bibirnya yang mungkin mengganggu kemampuan berbicaranya, pasien tidak mampu mengucapkan 1 kalimat utuh. Satu-satunya frase yang dapat ia ucapkan ialah Tan yang merupakan bagian dari namanya sendiri.

Paul Broca

Otak Tn. Tan yang telah diotopsi

Ketika Broca mengotopsi otak Tan, ia mendapati adanya lesi pada korteks frontalis bagian inferior kiri. Selanjutnya Broca mempelajari 8 pasien lain dengan defisit kemampuan berbicara yang serupa dimana ditemukan pula pada otak pasien-pasien tersebut sebuah lesi pada lobus frontalis kiri. Hal ini menuntun Broca untuk membuat satu pernyataan yang terkenal yakni kita berbicara menggunakan hemisfer kiri dan untuk mengidentifikasi, untuk yang pertama kalinya, keberadaan pusat bahasa pada bagian posterior lobus frontalis kiri. Hal ini merupakan area pertama pada otak yang berhasil diidentifikasi kaitannya dengan kemampuan berbahasa. 10 tahun kemudian, Carl Wernicke, seorang ahli saraf Jerman, menemukan bagian lain dari otak yang terlibat dalam pemahaman bahasa di bagian posterior lobus temporalis kiri. Pasien dengan lesi di bagian ini dapat berbicara namun pembicaraan tersebut tidak koheren dan tidak memiliki makna.

Observasi Wernicke dikonfirmasi oleh berbagai pihak sejak saat ini. Saat ini para ahli saraf menyetujui bahwa di sulkus lateralis yang biasa dikenal dengan fisura sylvii pada bagian otak hemisfer kiri didapati adanya sebuah sirkuit neuronal yang terlibat baik dalam pemahaman maupun proses produksi kata-kata. Pada ujung frontal dari sirkuit ini terdapat area Broca yang berkaitan dengan produksi kata-kata untuk diucapkan atau pusat output dari bahasa. Pada ujung yang lain yakni di superior posterior lobus temporalis terdapat area Wernicke yang berkaitan dengan pemahaman kata-kata yang telah didengar atau merupakan pusat input bahasa. Broca area dan Wernicke area dihubungkan oleh sebuah kumpulan besar serabut saraf yang disebut fasikulus arkuata.

Sirkuit bahasa ditemukan pada hemisfer kiri pada 90% pasien yang tidak kidal dan 70% pada pasien yang kidal. Bahasa merupakan salah satu fungsi yang dilakukan secara asimetris pada otak. Sirkuit ini juga ditemukan di lokasi yang sama pada pasien buta yang menggunakan bahasa sandi. Dari hal tersebut dapat diambil kesimpulan bahwa sirkuit ini tidak spesifik dengan bahasa yang terucap maupun terlihat namun secara luas berkaitan dengan modalitas berbahasa setiap individu.

Etiopatofisiologi Proses berbicara melibatkan dua stadium utama aktivitas mental : pembentukan buah pikiran untuk diekspresikan berikut memilih kata-kata yang akan digunakan, kemudian mengatur motorik vokalisasi dan kerja yang nyata dari vokalisasi itu sendiri. Pembentukan buah pikiran dan bahkan pemilihan kata-kata merupakan fungsi area asosiasi sensorik otak. Bila area Wernicke pada hemisfer dominan seorang dewasa mengalami kerusakan, normalnya pasien akan kehilangan hampir seluruh fungi intelektual yang berhubungan dengan bahasa atau imbolisme verbal seperti kemampuan membaca, kemampuan memecahkan perhitungan matematika, dan bahkan kemampuan untuk berpikir melalui problem yang logis. Bila area Wernicke mengalami kerusakan yang parah, pasien mungkin masih dapat mendengar dengan sempurna dan bahkan masih dapat mengenali kata-kata namun tetap tak mampu menyusun kata-kata ini menjadi suatu pikiran yang logis. Demikian juga, pasien masih mampu membaca kata-kata tertulis namun tidak mampu mengenali gagasan yang disampaikan. Oleh karena itu pasien yang mengalami afasia Wernicke atau afasia global tidak mampu memformulasikan buah pikirannya untuk dikomuikasikan. Atau bila lesinya tidak terlalu parah, pasien masih mampu memformulasikan pikirannya namun tak mampu menyusun kata-kata yang sesuai secara berurutan dan bersama-sama untuk mengekspresikan pikirannya. Kadang pasien mampu menentukan apa yang ingin dikatakannya namun tak dapat mengatur sistem vokalnya untuk menghasilkan kata-kata selain suara ribut. Efek ini disebut afasia motorik yang disebabkan oleh kerusakan pada area bicara Broca di regio fasial prefrontal dan premotorik korteks serebri. Oleh karena itu, pola keterampilan motorik yang dipakai untuk mengatur laring, bibir, mulut, sistem respirasi, dan otot-otot lainnya yang dipakai untuk bicara dimulai dari daerah ini. 8

Afasia dapat terjadi karena degenerasi atau kerusakan pada otak yang melibatkan hemisfer serebri kiri. Kebanyakan afasia dan kelainan yang berkaitan diakibatkan oleh stroke, kerusakan pada bagian kepala, tumor serebri, atau penyakit degeneratif. Neuroanatomi dari komprehensi dan produksi bahasa merupakan proses yang kompleks meliputi input auditori dan pengkodean bahasa di lobus temporalis superior, analisis di lobus parietalis, dan ekspresi di lobus frontalis, turun melalui traktus kortikobulbaris menuju kapsula interna dan batang otak, dengan efek modulasi dari basal ganglia dan serebelum. Sindroma afasia didefinisikan sebagai gangguan dalam mengekspresikan, merepetisi, dan komprehensi bahasa. Gejala ini secara otomatis dikaitkan dengan gangguan pada hemisfer serebri kiri. Pasien dapat merasa kesulitan dalam mengeluarkan kata-kata, dalam mengerti kata-kata, dalam merepetisi, dan dalam membaca maupun mendengar kata-kata dalam berbagai modalitas. Epidemiologi Di Indonesia, data epidemiologi penduduk yang menderita afasia tidak diketahui. Data insidensi di Amerika Serikat pun terbatas. Namun berdasarkan data tersebut, stroke merupakan penyebab tersering dari afasia. Dikatakan dari 20% pasien stroke terdapat pula afasia. Di setiap tahunnya, terdapat sekitar 170.000 kasus afasia baru yang berkaitan dengan stroke. Jumlah pasien dengan gangguan berbahasa yang diakibatkan oleh trauma otak, tumor otak, maupun lesi lain pada otak tidak sepenuhnya diketahui. Penyebab tersering kedua dari afasia ialah penyakit degeneratif seperti alzeimer atau demensia dengan prevalensi alzeimer per tahun di Amerika ialah 5.000.000 kasus. Klasifikasi Ada dua klasifikasi pada afasia. Pertama afasia diklasifikasikan berdasarkan manifestasi klinik, dan yang kedua berdasarkan distribusi anatomi dari lesi. 9

Berdasarkan manifestasi klinis nya, afasia dibedakan menjadi : Afasia wernicke

Pemahaman terganggu terutama pada bahasa yang didengar dan dilihat, baik untuk 1 kata maupun pada 1 kalimat utuh. Bahasa dapat diucapkan dengan lancar namun sangat parafasik dan sirkumlokusius. Kecenderungan kesalahan parafasik sangat tinggi hingga terkadang disebut neologisme, yang disebut juga jargon afasia. Pembicaraan biasanya mengandung banyak kata sifat namun sedikit mengandung kata benda atau kata kerja. Pembicaraan banyak, namun tanpa arti. Penggunaan bahasa tubuh tidak banyak membantu komunikasi. Pasien tampak mengerti bahwa pembicaraannya tidak dapat dimengerti oleh orang lain sehingga pasien tampak marah dan tidak sabar ketika pemeriksa tidak dapat mengerti maksud dari pembicaraannya. Pada pasien dengan afasia wernicke dapat disertai dengan agitasi motorik dan perilaku paranoid. Pasien dengan afasia wernicke tidak dapat mengekspresikan pemikiran mereka melalui kata-kata yang sesuai dan tidak dapat memahami arti dari setiap kata yang masuk. Lesi ini terletak di area wernicke. Etiologi paling sering dari afasia wernicke adalah emboli dari arteri serebri media. Etiologi lain bisa berasal dari perdarahan intraserebral, trauma kepala berat, dan tumor. Adanya hemianopia kanan atau quadrantanopia superior dan pendataran sudut nasolabial kanan dapat mempertegas adanya lesi di area wernicke. Afasia broca Pembicaraan tidak lancar, memerlukan usaha, dan banyak diinterupsi oleh jeda yang dibuat pasien dalam rangka mencari kata-kata, serta seringkali pasien juga menderita disartria. Pengeluaran kata-kata sangat terbatas sehingga terkadang pasien hanya mau menjawab dengan kata ya atau tidak. Penamaan benda dan kemampuan merepetisi 10

terganggu. Meski begitu, pemahaman bahasa masih intak kecuali untuk kalimat yang sulit yang diucapkan dengan suara yng pelan atau tanpa intonasi. Kemampuan membaca juga dipertahankan namun seskali pasien kesulitan membaca kata imbuhan atau tatabahasa yang rumit. Terkadang, sekalipun pasien menderita disartria, pasien dapat bernyanyi dengan baik. Hal inilah yang sedang diuji coba dalam terapi afasia broca. Defisit neurologis yang sering menyertai meliputi kelemahan pada wajah bagian kanan, hemiparesis atau hemiplegia, dan buccofasial apraksia. Penyebab paling sering ialah infark yang disebabkan oleh sumbatan pada arteri serebri media. Afasia global Pengeluaran kata tidak lancar dan pemahaman juga terganggu. Penamaan, repetisi, membaca, dan menulis juga terganggu. Sindrom ini menyatakan adanya disfungsi dari broca dan wernicke. Sindrom ini juga dapat menjadi gejala awal dari afasia wernicke yang kemudian berkembang menjadi afasia wernicke yang klasik. Afasia Konduktif Pengeluaran kata-kata lancar namun parafasik, pemahaman bahasa masih baik, namun repetisi sangat terganggu. Penamaan dan pemulisan juga sangat terganggu. Jika pasien diminta untuk membaca dengan suara keras, pasien akan mengalami kesulitan, namun pasien dapat mengerti apa yang dibacanya. Afasia transkortikal motorik Ciri-ciri yang nampak pada afasia transkortikal motorik menyerupai afasia broca namun repetisi masih baik dan pasien cenderung menghindari penggunaan tata bahasa. Pemeriksaan neurologis lain biasanya normal. Lesi pada afasia transkortikal motorik biasanya melibatkan area perbatasan antara arteri serebri anterior dan media. 11

Afasia transkortikal sensori Afasia transkortikal sensori dicirikan dengan gejala yang menyerupai afasia wernicke namun repetisi masih dapat dilakukan dengan baik. Pada afasia ini lesi memutuskan area bahasa dari area asosiasi temporoparietal selain area khusus bahasa.

Afasia terisolasi Sindrom yang langka ini melibatkan dua transkortikal afasia. Pemahaman pasien sangat terganggu dan tidak ada arti dalam setiap kata yang diucapkan oleh pasien. Pasien dapat menjadi ekolalia, mengindikasikan adanya mekanisme repetisi yang masih intak. Lesi biasanya mengenai area sekitar frontal, parietal, dan temporal namun tidak mengenai area broca maupun wernicke.

Afasia anomik Pada afasia jenis ini, fungsi yang terganggu yakni penamaan. Artikulasi, pemahaman, dan repetisi masih baik namun pasien tidak dapat menyebutkan nama dari benda-benda dan pasien kesulitan dalam mengeja kata-kata. Seringkali output bahasa pasien parafasik, sirkumlokusius, dan tidak bermakna. Kelancaran bahasa terganggu ketika pasien berusahan menyebutkan nama benda-benda. Afasia anomik banyak ditemui pada kasus trauma kepala, ensefalopati metabolik, dan penyakit alzheimer.

Sindrom Gerstmann's Sindrom gerstmann meliputi kombinasi dari akalkulia, disgrafia, anomia jari, dan ketidakmampuan membedakan kiri dan kanan. Untuk itu, pada pembuatan diagnosis sindrom gertmann, penting untuk melihat apakah pasien dapat membedakan posisi kiri dan kanan. Sindrom gertmann biasanya diakibatkan kerusakan pada lobus parietalis inferior hemisfer serebri sinistra. 12

Pada klasifikasi afasia berdasarkan distribusi anatomi dari lesi, afasia dibedakan atas : Sindrom afasia perisylvii : Meliputi Afasia broca, afasia wernicke, dan afasia konduksi Sindrom afasia daerah perbatasan : Meliputi afasia transkortikal motorik, afasia transkortikal sensorik, dan transkortikal campuran Sindrom afasia subkortikal : Meliputi afasia talamik dan afasia striatal Sindrom afasia non-lokalisata : Meliputi afasia gnomik dan afasia global.

Satu lagi klasifikasi afasia yang jarang digunakan, yakni yang merujuk pada linguistik. Afasia pada klasifikasi ini dibedakan atas: Afasia sintaktik Afasia semantik Afasia pragmatik Afasia jargon Afasia global

Gejala Afasia Gejala afasia Tipe Afasia Pembicaraan Komprehensia Repetisi Gejala berkaitan Broca Tidak lancar, Tetap baik Terganggu Kelemahan pada Frontal tangan wajah dan suprasylvian bagian yang Lokasi lesi

butuh banyak usaha dalam

berbicara, 13

Tipe Afasia

Pembicaraan

Komprehensia Repetisi

Gejala berkaitan

yang Lokasi lesi

kurangnya suku kurangnya output namun dapat mencetuskan ide Wernicke Lancar, berbicara, artikulasi baik, tapi tanpa arti fasih Sangat terganggu Tidak dapat kata,

kanan

Hemi-

atau Temporal,

quadrantanopia, infrasylvian

dilakukan tidak ada paresis termasuk girus angular dan

supramarginal Konduksi Lancar Baik Tidak dapat dilakukan Global Sedikit, lancar tidak Sangat terganggu Tidak dapat dilakukan Hemiplegia Biasanya tidak Supramarginal atau

dapat dilakukan gyrus insula

Sebagian besar perisylvian atau lesi pada terpisah frontal

dan temporal Transkortikal Tidak lancar motorik Baik Sangat baik Bervariasi Anterior superior Broca 14 atau area

Tipe Afasia

Pembicaraan

Komprehensia Repetisi

Gejala berkaitan

yang Lokasi lesi

Transkortikal Lancar sensori

Tidak dilakukan

dapat Sangat baik

Bervariasi

Area di sekitar Wernicke

seperti halnya pada Wernicke Tuli murni kata Sedikit parafasik atau normal Terganggu Terganggu Quadrantanopia Bilateral (atau

atau tidak ada bagian kiri saja) sama sekali bagian superior temporal gyrus tengah

Buta

kata Normal

tapi Normal dapat

Normal

Hemianopia kanan;

Girus kalkarina tidak dan girus

murni (aleksia tidak

tanpa agrafia) bersuara keras

dapat membaca angularis tulisan sendiri tangan

Mutisme kata Tak (afemia) tapi

bersuara Normal mampu

Tidak ada Tidak ada

Sebagian area Broca

dari

menulis Anomic afasia Kesulitan mencari katakata Normal Normal Bervariasi Lobus temporalis bagian dalam

Afasia Karakteristik respon dari pasien dengan afasia pada lokasi lesi yang spesifik 15

(Pasien diminta menyebutkan kata chair) Tipe afasia dan lokasi lesi Afasia motorik (Area Broca) Afasia sensori (area Wernicke) Afasia sensori (area 40, 41, and 42; Afasia konduktif) Anomik (Girus angularis) "Saya tahu apa itu . . . saya punya banyak di rumah." Gejala pada pasien "Tssair" "Stool" atau "choss" (neologisme) "Flair . . . err, swair . . . tair."

Diagnosis Anamnesis Afasia muncul secara mendadak pada pasien dengan stroke atau cedera kepala. Pasien dengan penyakit neurodegeneratif atau lesi tumor dapat menderita afasia secara perlahan. Tanda-tanda awal yang mencirikan lesi atau defisit yang berasal dari area korteks atau jaras yang berdekatan dengan posisi area berbahasa harus diwaspadai. Tanda-tanda tersebut meliputi hemianopia, defisit dari fungsi motorik maupun sensori, atau defisit neurobehavioral seperti alexia, agrafia, akalkulia, atau apraksia. Pada pasien harus ditanyakan riwayat kejang atau episode afasia sebelumnya. Terkadang, sekalipun insidensinya rendah, afasia dapat diakibatkan oleh ensefalitis herpes simpleks. Ciri dari penyakit ini meliputi riwayat demam, kejang, nyeri kepala, dan perubahan perilaku. Riwayat nyeri kepala baik akut maupun kronik dapat menjadi petunjuk penting untuk mendiagnosa kondisi tertentu seperti tumor otak maupun malformasi arteri vena. Pada pasien harus ditanyakan tentang riwayat gangguan pada memori atau riwayat gangguan dalam melakukan kegiatan sehari-hari karena gangguan berbahasa bisa hanya 16

merupakan satu bagian dari kondisi neurodegeneratif yang menyeluruh seperti demensia. Perlu ditanyakan juga apakah pasien kidal atau tidak, riwayat hipertensi, perdarahan otak sebelumnya, penyakit jantung, penyakit vaskular otak, atau amiloid angiopati. Pemeriksaan berbicara spontan Langkah pertama dalam menilai berbahasa adalah mendengarkan bagaimana pasien berbicara spontan atau bercerita. Pasien dapat diminta untuk menceritakan hal-hal yang terjadi dalam waktu dekat, misalnya bagaimana ia sampai dirawat di rumah sakit. Yang dinilai ialah apakah bicaranya pelo, cadel, tertegun, diprosodik (irama, ritme, intonasi terganggu) dan apakah ada afasia, kesalahan sintaks, salah menggunakan kata, dan perseverasi. Parafasia ialah kegiatan mensubstitusi kata. Ada dua jenis parafasia. Parafasia semantik atau verbal berarti mensubstitusi satu kata dengan kata yang lainnya. Parafasia fonemik berarti mensubstitusi suatu bunyi dengan bunyi lain yang biasanya berbunyi cukup mirip. Pemeriksaan kelancaran berbicara Seseorang disebut lancar berbicara bila bicara spontannya lancar, tanpa terbata-bata. Kelancaran berbcara verbal ini merupakan refleksi dari efisiensi menemukan kata. Bila kemampuan ini diperiksa secara khusus dapat dideteksi masalah berbahasa yang ringan pada lesi otak yang ringan atau demensia dini. Defek yang ringan dapat dideteksi melalui tes kelancaran, menemukan kata yaitu jumlah kata tertentu yang dapat diproduksi selama jangka waktu yang terbatas. Sebagai contoh pasien diminta untuk menyebutkan sebanyak-banyaknya nama jenis hewan atau menyebutkan kata-kata yang 17

dimulai dengan huruf tertentu selama jangka waktu satu menit. Tidak lupa pula kesalahan yang timbul dicatat untuk melihat adanya parafasia atau tidak. Usia merupakan salah satu faktor yang berpengaruh secara bermakna dalam pemeriksaan ini. Orang normal di bawah usia 69 tahun mampu menyebutkan kira-kira 20 nama hewan dengan baik. Kemampuan ini menurun pada orang berusia sekitar 70 tahun (17 nama) dan terus menurun seiring dengan bertambahnya usia. Pada usia 85 tahun, skor 10 mungkin merupakan batas normal bawah. Orang normal umumnya dapat menyebutkan 36-60 kata yang berawalan dengan huruf tertentu, tergantung dari tingkat intelegensi, usia, dan tingkat pendidikan. Kemampuan yang hanya sampai 12 kata atau kurang untuk setiap huruf merupakan petunjuk adanya penurunan kelancaran berbicara verbal namun perlu diperhatikan pada pasien dengan tingkat pendidikan yang tidak lebih dari sekolah menengah pertama. Pemeriksaan pemahaman (komprehensi) bahasa lisan Pemeriksaan pemahaman bahasa lisan seringkali sulit dinilai. Pemeriksaan klinis pada pasien rawat inap yang biasa dilakukan di samping tempat tidur pasien dapat memberikan hasil yang menyesatkan. Langkah yang digunakan untuk mengevaluasi pemahaman secara klinis meliputi cara konversasi, suruhan, pertanyaan tertutup (ya atau tidak), dan menunjuk. o Konversasi : Dengan mengajak pasien bercakap-cakap dapat dinilai kemampuannya dalam memahami pertanyaan dan suruhan yang diberikan olh pemeriksa o Suruhan : Serentetan suruhan, mulai dari yang sederhana (satu langkah) sampai pada yang sulit dapat digunakan untuk menilai kemampuan pasien dalam 18

memahami perintah. Mula-mula pasien dapat disuruh bertepuk tangan, kemudian tingkat kesulitan dinaikkan misalnya mengambil benda dan meletakkan benda tersebut pada lokasi yang lain. Perlu diperhatikan bahwa perintah tipe ini tidak dapat dilakukan pada pasien dengan kelemahan motorik dan apraksia. Pasien juga dapat diminta untuk menunjuk ke beberapa benda, mula-mula satu benda dan ditingkatkan menjadi sebuah perintah berantai untuk menunjuk ke beberapa benda secara berurutan. Pasien dengan afasia mungkin hanya mampu menunjuk sampai 1-2 objek saja. o Ya atau Tidak : Kepada pasien dapat juga diberikan pertanyaan tertutup dengan bentuk jawaban ya atau tidak. Mengingat kemungkinan salah adalah 50%, jumlah pertanyaan yang diberikan minimal 6 pertanyaan misalnya Apakah anda bernama Budi?, Apakah AC di ruangan ini mati?, Apakah ini Rumah Sakit?, Apakah di luar sedang hujan?, Apakah saat ini malam hari?. o Menunjuk : Pasien diminta untuk menunjuk mulai dari benda yang mudah dipahami kemudian berlanjut ke benda yang lebih sulit. Contohnya : tunjukkan lampu kemudian tunjukkan gelas yang ada di samping televisi. Pemeriksaan sederhana ini dapat dilakukan di samping tempat tidur pasien. Sekalipun kurang mampu menilai kemampuan pemahaman dengan baik sekali, pemeriksaan ini dapat memberikan gambaran kasar mengenai gangguan serta beratnya. Pemeriksaan repetisi Kemampuan mengulang dinilai dengan menyuruh pasien mengulang mula-mula kata yang sederhana (satu patah kata) kemudian ditingkatkan menjadi banyak (satu kalimat). Pemeriksa harus memperhatikan apakah pada tes repetisi ini didapatkan parafasia, salah tatabahasa, kelupaan, atau penambahan. Orang normal umumnya dapat mengulang 19

kalimat yang mengandung 19 suku kata. Banyak pasien afasia mengalami kesulitan dalam mengulang, namun ada juga yang menunjukkan kemampuan yang baik dalam mengulang, bahkan lebih baik daripada berbicara spontan. Bila kemampuan mengulang terpelihara, maka kelainan patologis sangat mungkin tidak berada di area perisylvii. Umumnya daerah ekstrasylvian yang terlibat dalam kasus afasia tanpa defek repetisi terletak di daerah perbatasan vaskuler (watershed area) Pemeriksaan menamai dan menemukan kata Kemampuan menamai objek merupakan salah satu dasar fungsi berbahasa. Hal ini sedikit-banyak terganggu pada semua penderita afasia. Dengan demikian, semua tes yang dilakukan untuk menilai afasia mencakup penilaian terhadap kemampuan ini. Kesulitan menemukan kata erat kaitannya dengan kemampuan menyebut nama (menamai) atau disebut anomia. Penilaian harus mencakup kemampuan pasien menyebutkan nama objek, bagian dari objek, bagian tubuh, warna, dan bila perlu gambar geometrik, simbol matematik, atau nama dari suatu tindakan. Dalam hal ini, perlu digunakan benda-benda yang sering digunakan sampai ke benda-benda yang jarang ditemui atau digunakan. Banyak penderita afasia yang masih mampu menamai objek yang sering ditemui atau digunakan dengan cepat dan tepat, namun lamban dan tertegun dengan melukiskan kegunaannya atau parafasia pada objek yang jarang dijumpainya. Bila pasien tidak mampu atau sulit menamai, dapat dibantu dengan memberikan suku kata pemula atau dengan menggunakan kalimat penuntun. Yang penting ialah sampainya pasien kepada kata yang dibutuhkan, yakni kita nilai kemampuan pasien dalam menamai objek. Ada pula pasien yang mengenal objek dan mampu melukiskan kegunaannya namun tidak dapat menamainya. 20

Pertama-tama terangkan kepada pasien bahwa ia akan disuruh menyebutkan nama beberapa objek juga warna dan bagian dari objek tersebut. Kita dapat menilai dengan memperlihatkan misalnya arloji, bolpoin, kaca mata, kemudian bagian dari arloji, lensa kaca mata. Objek atau gambar yang dapat digunakan misalnya meja, kursi, lampu, pintu, jendela. Bagian dari tubuh misalnya mata, hidung, gigi, ibu jari, lutut. Warna misalnya merah, biru, hijau, kuning, kelabu. Bagian dari objek contohnya jarum jam, sol sepatu, kepala ikat pinggang, bingkai kaca mata. Perhatikanlah apakah pasien dapat menyebutkan nama objek dengan cepat atau lamban, atau tertegun, atau menggunakan sirkumlokusi, parafasia, neologisme, dan apakah ada perseverasi. Di samping menggunakan objek, dapat pula digunakan gambar objek. Bila pasien tidak mampu menyebutkan nama objek, perlu diperhatikan apakah pasien dapat memilih nama objek tersebut dari beberapa pilihan nama objek. Pada pemeriksaan ini perlu digunakan kurang lebih 20 nama objek sebelum menentukan bahwa tidak didapatkan gangguan. Pemeriksaan sistem bahasa Evaluasi sistem bahasa harus dilakukan secara sistematis. Perlu diperhatikan bagaimana pasien berbicara spontan, komprehensi, repetisi, maupun menamai. Selain itu kemampuan membaca dan menulis harus dinilai pula. Tidak lupa evaluasi dilakukan untuk memeriksa sisi otak mana yang dominan dengan melihat penggunaan tangan. Dengan melakukan penilaian yang sistematis biasanya dalam waktu yang singkat dapat diidentifikasi adanya afasia serta jenisnya. Pasien yang afasia selalu agrafia dan sering aleksia, untuk itu pemeriksaan membaca dan menulis dapat dipersingkat. Namun pada pasien yang tidak afasia, pemeriksaan membaca dan menulis harus dilakukan sepenuhnya karena aleksia, agrafia, atau keduanya dapat terjadi secara terpisah. 21

Pemeriksaan penggunaan tangan Penggunaan tangan dan sisi otak yang dominan mempunyai kaitan yang erat. Sebelum menilai bahasa perlu ditanyakan pada pasien apakah ia kidal atau menggunakan tangan kanan. Banyak orang kidal telah diajarkan untuk menulis dengan tangan kanan, oleh karena itu observasi cara menulis saja tidak cukup untuk mennetukan apakah ia seorang yang kidal atau kandal. Pasien dapat juga diminta memperagakan gerakan tangan yang digunakan untuk memegang pisau, melempar bola, dan sebagainya.

Penatalaksanaan Penatalaksanaan pada pasien afasia bergantung pada penyebab dari sindrom afasia itu sendiri. Penanganan terhadap stroke akut seperti pemberian rTPA pada pasien stroke iskemik, terapi intervensi intra-arterial, stenting dan endarterectomy karotid, atau kontrol dari tekanan darah dapat meringankan defisit yang dialami. Pembedahan pada subdural hematoma atau tumor serebri juga memberikan hasil yang cukup memuaskan. Pada afasia yang disebabkan oleh infeksi seperti herpes simpleks dapat diberikan terapi antivirus. Terapi berbicara dan berbahasa merupakan terapi utama dalam afasia. Waktu dan teknik pelaksanaan intervensi pada pasien afasia bervariasi luas karena penelitian yang dilakukan sangat minim. Namun dalam beberapa penelitian telah terbukti bahwa teapi berbicara dan berbahasa dapat meningkatkan prognosis pasien afasia. Kesulitan yang dialami pasien dalam menjalani terapi ini sangat beragam karena berbeda dari individu ke individu. Beberapa hal yang hasur diperhatikan saat melakukan terapi pada pasien afasia : Banyak pasien afasia menderita depresi oleh karena itu pasien afasia memerlukan dukungan psikologis. Ketepatan diagnosis, terapi, dan dukungan emosional dapat sangat berguna bagi pasien. 22

Terdapat beberapa teknik terapi khusus untuk pasien dengan masalah artikulasi, masalah kosa kata, minimnya ilmu kalimat, dan kurangnya intonasi. Dalam kata lain, terapi pada pasien afasia dapat divariasi agar sesuai dengan kebutuhan pasien

Terapi farmaka pada afasia masih bersifat eksperimental. Penggunaan dopaminerjik, cholinerjik, dan obat-obatan stimulan belum memberikan hasil yang jelas. Namun penggunaan terapi farmaka sebagai pendamping dari terapi berbicara telah menunjukkan hasil yang baik.

Teknologi baru yang dinamakan stimulasi magnetik transkranial sedang diuji coba pada pasien afasia dan sejauh ini menunjukkan hasil yang baik.

Prognosis Prognosis pada pasien afasia sangat bergantung pada penyebabnya. Pada afasia yang disebabkan oleh stroke, penanganan utama stroke dan kesembuhannya sangat berpengaruh terhadap kesembuhan dari afasia itu sendiri. Menginat penyembuhan dari stroke memakan waktu lama dan biasanya meninggalkan bekas defisit neurologis, kesembuhan afasia dari pasien stroke sangat tidak menentu. Pada pasien afasia yang disebabkan oleh infeksi herpes simpleks misalnya, kesembuhan dapat segera terjadi dengan memberikan terapi antiviral yang sesuai.

23

BAB III PENUTUP Kesimpulan Afasia merupakan penyakit penyerta dari berbagai penyakit neurologis lain seperti stroke, cedera kepala, tumor otak, dan penyakit neurodegeneratif. Dengan gejala kurangnya pemahaman bahasa dan ketidakmampuan dalam mengungkapkan kata-kata, afasia sangat berpengaruh bagi kualitas hidup pasien. Afasia dapat mempersulit baik diagnosis maupun terapi dari berbagai penyakit lain karena minimnya komunikasi yang dapat dilakukan bagi pasien. Diagnosis dini dari afasia sangat penting untuk memulai terapi afasia baik bagi pasien maupun pendamping pasien agar defisit yang dialami tidak makin berat. Untuk itu, seorang dokter harus dapat mendiagnosa afasia dengan tepat, baik dari segi pembuatan diagnosis afasia maupun dari segi mengklasifikasikan afasia tersebut karena setiap jenis afasia dapat membutuhkan penatalaksanaan yang berbeda. Sebelum itu, seorang dokter harus dapat melakukan pemeriksaan diagnosis afasia dengan tepat, yakni meliputi anamnesa, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan penunjang untuk melihat penyebab dan lokasi lesi afasia. Terapi utama dari afasia adalah terapi berbicara. Terapi ini biasa dilakukan oleh tenaga rehabilitasi medik dan dipantau oleh ahli syaraf. Tingkat kebrhasilan dari terapi ini sangat bergantung kepada penyebab dari afasia itu sendiri. Oleh karena itu, afasia tidak boleh dibiarkan serta tidak boleh diterapi tunggal melainkan biasanya digunakan terapi kombinasi.

24

DAFTAR PUSTAKA Barrett, Kim E, Susan M Barman, Scott Boitano, dan Heddwen Brooks. Ganong's Review of Medical Physiology. United States of America: McGraw Hill, 2010. Guyton, Arthur C, dan John E Hall. Textbook of Medical Physiology. Singapore: Elsevier, 2008. Howard, Kirshner. Medscape Reference. 26 Januari 2012.

http://emedicine.medscape.com/article/1135944-clinical#showall (diakses Mei 28, 2012). Longo, Dan L, Anthony S Fauci, Dennis L Kasper, dan Stephen L Hauser. Harrison's Principles of Internal Medicine. United States of America: McGraw Hill, 2012. Lumbantobing, S M. Neurologi Klinik : Pemeriksaan Fisik dan Mental. Jakarta: Balai Penerbit FKUI, 2010. Research, Canadian Institute of Health. Canadian Institute of Health Research - Institute of Neuroscience, Mental Health, adn Addiction. Juni 2010.

http://thebrain.mcgill.ca/flash/d/d_10/d_10_cr/d_10_cr_lan/d_10_cr_lan.html (diakses Mei 28, 2012). Ropper, Allan H, dan Martin A Samuels. Adams and Victor's Principles of Neurology. United States of America : McGraw Hill, 2009. Simon, Roger P, A David Greenberg, dan J Michael Aminoff. Lange : Clinical Neurology 7e. United States of America: McGraw Hill, 2009.

25