Anda di halaman 1dari 4

INDIKATOR HIPERTENSI

No. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33

Nama Pasikem Kardem Tarnuji Saltini Wiriameja Nasilem Ritem Mitem Ratem Winarto Satiem Kasitem Sutini Sartem Warsiti Karlem Widem Karlem Citra Wireja Sungeb Ratem Sunarni Turinem Tasem Darmo Kusmini Saraji Kaswanto Mahindi Karisem Sawitem Kasinem Rakiwen

Stress Ya Tidak

Makanan Asin T Ya V V

Minyak jelantah
Y T Y

OR T

Rokok Y T

Alcohol Y T

V V V

V V V V V V V V V V V

v V V V v V V V V V

v v v v v v v v v

indikator hipertensi
Alcohol Kurang 6% Olahraga 13% Stress 14%

Jelantah 29%

Konsumsi Asin 38%

Berdasarkan data demografi penduduk desa Pegalongan yang dijadikan responden dalam praktek lapangan kami, didapatkan bahwa lebih banyak responden penduduk wanita dibandingkan penduduk pria. Hal ini dapat dikorelasikan dengan tingginya penderita hipertensi yang juga merupakan penduduk wanita. Selain daripada faktor jumlah penduduk yang didominasi oleh wanita, wanita juga memiliki beberapa faktor resiko yang memang lebih sering terjadi pada wanita. Salah satu diantaranya adalah obesitas yaitu kegemukan dan kadar lemak tubuh berlebihan terutama yang berada di jaringan bawah kulit atau lemak yang menumpuk di jaringan perut yang biasa terjadi pada wanita karena konsumsi makanan berlemak secara berlebihan dan kurangnya olahraga atau aktivitas fisik lain. (Singh, Paramjit, 2011). Obesitas dapat dikorelasikan dengan tinggi rendahnya resiko hipertensi karena berdasarkan data, sebagian besar penduduk desa Pegalongan jarang melakukan aktivitas fisik seperti berolahraga, juga konsumsi makanan yang digoreng dengan minyak. Kandungan lemak yang berlebih akan menekan kapasitas ruang dari pembuluh darah sehingga terjadi penyempitan pembuluh darah, lemak juga dapat menyumbat pembuluh darah yang disebut dengan Arterosklerosis dan berujung pada hipertensi. Berdasarkan survey yang kami lakukan dalam praktek lapangan di desa Pegalongan didapatkan juga hubungan antara hipertensi dan faktor resiko lain yang

mempengaruhinya. Faktor resiko yang berpengaruh terhadap penyakit hipertensi antara lain yaitu kebiasaan tidak baik seperti merokok, kurangnya olahraga atau aktivitas fisik lainnya, konsumsi makanan yang mengandung lemak berlebihan, serta terlalu sering menggunakan minyak bekas atau jelantah dalam memasak makanan sehari-hari. Dari berbagai faktor resiko yang sudah dijabarkan di atas, dapat diambil prosentase dari faktor resiko penyebab hipertensi. Faktor resiko yang paling tinggi pengaruhnya dalam menyebabkan penyakit hipertensi yaitu konsumsi makanan asin sebanyak 38% dari keseluruhan responden. Pengaruh asupan garam terhadap hipertensi terjadi melalui peningkatan volume plama, curah jantung dan tekanan darah. Konsumsi garam yang dianjurkan tidak lebih dari 6 gram/hari yang setara dengan 110 mmol natrium atau 2400 mg/hari (Irza, 2009). Asupan natrium yang tinggi dapat menyebabkan tubuh meretensi cairan sehingga meningkatkan volume darah. Sedangkan pada urutan kedua yang paling berpengaruh adalah akibat dari konsumsi minyak jelantah sebanyak 28%. Pada urutan ketiga, stress menempati faktor resiko pada warga di desa Pegalongan, stress dapat diakibatkan oleh karena fungsi keluarga yang kurang maksimal, banyak anggota keluarga yang selain bekerja sebagai petani, bekerja juga di luar kota, seperti misalnya Purwokerto atau Cilacap, sehingga tidak sedikit keluarga yang tidak memiliki banyak waktu untuk bersama. Hubungan antara stress dengan Hipertensi, diduga melalui aktivasi saraf simpatis. Saraf simpatis adalah saraf yang bekerja pada saat kita beraktivitas, saraf parasimpatis adalah saraf yang bekerja pada saat kita tidak beraktivitas. Peningkatan aktivitas saraf simpatis dapat meningkatkan tekanan darah secara intermitten (tidak menentu). Apabila stress berkepanjangan, dapat mengakibatkan tekanan darah menetap tinggi. Pada urutan keempat, kebiasaan masyarakat desa Pegalongan yang kurang berolahraga turut berperan aktif dalam tingginya angka penderita hipertensi, sebanyak 13%, seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya, aktivitas fisik yang rendah dapat menyebabkan penumpukan lemak di pembuluh darah sehingga darah dipaksa melalui diameter pembuluh darah yang mengecil sementara volume darah yang harus melalui pembuluh tersebut tetap konstan sehingga terjadilah kenaikan tekanan darah atau hipertensi.

Terakhir, presentasi terkecil diduduki oleh kebiasaan mengkonsumsi alkohol pada sebagian masyarakat desa Pegalongan, yakni sebanyak 6%. Alkohol bersifat meningkatkan aktivitas saraf simpatis karena dapat merangsang sekresi Corticotropin Releasing Hormone (CRH) yang berujung pada peningkatan tekanan darah. Sebenarnya ada program di desa Pegalongan dimana para lansia diberikan beberapa fasilitas kesehatan antara lain pemeriksaan kesehatan tiap bulan dan olahraga senam bersama yang dilakukan setiap bulan pada minggu kedua. Namun sebagian besar penduduk di desa Pegalongan yang dijadikan responden terutama yang berpendidikan kurang tinggi, mereka kurang peduli dengan kesehatan sehingga tidak sedikit yang mengatakan malas dalam mengikuti kegiatan senam tersebut. Hal ini mungkin disebabkan oleh kurangnya pendidikan dan kesadaran akan pentingnya olahraga dalam mencegah hipertensi selain beberapa faktor resiko yang lebih berpengaruh lainnya.

Irza, Syukraini. 2009. Analisis Faktor Resiko Hipertensi Pada Masyarakat Nagari Bungo Tanjung, Sumatera Barat. Fakultas Farmasi Universitas Sumatera Utara