Anda di halaman 1dari 19

II PEMBAHASAN 2.1. Definisi dan Klasifikasi Muroami berasal dari bahasa jepang muro dan ami.

Ami artinya jaring sedangkan muro dalah sebangsa ikan carangidae. Didaearah Makasar para nelayan menyebutnya sebagai pukat rapo-rapo yaitu jaring yang digunakan untuk menangkap ikan ekor kuning (Suban dan Barus 1989). Berdasarkan klasifikasi alat tangkap menurut Von Brandt (1984) muroami termasuk dalam drive-in-net. Muroami adalah alat penangkapan ikan berbentuk kantong yang terbuat dari jaring dan terdiri dari 2 (dua) bagian sayap yang panjang, badan dan kantong jaring (cod end). Pemasangannya dengan cara menenggelamkan muroami yang dipasang menetap menggunakan jangkar. Pada setiap ujung bagian sayap serta di sisi atas kedua bagian sayap dan mulut jaring dipasang pelampung bertali panjang. Untuk menarik jaring ke arah belakang,

menggunakan sejumlah perahu/kapal yang diikatkan pada bagian badan dan kantong jaring. Muroami dipasang di daerah perairan karang untuk menangkap ikan-ikan karang 2. 2. Konstruksi Alat Penangkapan Ikan Kontruksi muroami terdiri dari bagian-bagian sebagai berikut : a. Bagian jaring, yang terdiri dari kaki panjang, kaki pendek, dan kantong (dengan ukuran kantong cukup besar dan dapat memuat 3 ton ikan). b. Pelampung, terdiri dari pelampung-pelampung kecil yang berada pada tali ris atas dari kaki, yang merupakan pelampung tetap. Juga terdapat pelampung dari bola gelas dan bambu yang biasanya hanya digunakan pada saat oprasi penangkapan.

c. Pemberat, terdapat pada bagian bawah kaki (ris bawah) dan bagain bawah mulut kantong (bibir bawah) yang terbuat dari batu. Pada waktu jaring digunakan, pada bagian depan kaki masih dilengkapi jangkar. (subani 1989 dan gunarso 1985). Parameter utama dalam alat ini adalah terdapat kantong tempat ikan tertangkap. Semakin besar kantong maka akan semakin banyak ikan yang dihasilkan dalam penangkapan.

Gambar 1. Muroami 2. 3. Kelengkapan Unit Penangkapan Ikan 2. 3.1 Kapal Dalam pengoprasian muroami diperlukan 3-5 buah perahu, dimana sebuah perahu diantaranya berfungsi untuk membawa kantong, dan dua perahu lainnya untuk membawa sayap/kaki jaring masing-masing satu buah. Adapun dua buah perahu lainnya untuk membawa atau mengantar tenaga-tenaga penggiring (penghalau) ikan ke temapt dimana ikan berada. .(Ribka ruji raspati 2008).

2.3.2 Nelayan Jumlah nelayan yang mengoprasikan muroami antara 20-24 orang. Seorang diantaranya berperan sebagai fishing master yang disebut tonaas dan bertugas untuk memimpin jalannya penangkapan dan seorang sebagai penjaga atau pemegang kedua ujung kantong bila nanti jaring telah dipasang. Satu atau dua orang sebagai penjaga kantong bagian belakang. Empat sampai enam orang sebagai tukang penyelam, dan yang lain adalah sebagai pengusir ikan yang akan ditangkap (Subani dan barus 1989). 2.3.3 Alat bantu Alat bantu yang digunakan dalam pengoprasian alat tangkap ini diantaranya adalah selang sepanjang 100 meter, mesin kompresor sebagai penyuplai udara melalui selang penyelam, serok untuk memindahkan hasil tangkapan dari kantong setelah hauling kedalam palkah. keranjang plastik untuk menyimpan hasil tangkapan, serta peralatan penyelamatan yang dipakai oleh penyelam seperti sepatu, masker, dan regulator atau morfis. (Ribka ruji raspati 2008). Selain itu alat bantu yang digunakan adalah Penggiring, terbuat dari tali yang panjangnya kurang lebih 25 m yang pada salah satu ujungnya diikatkan pelampung bambu, sedangkan ujung lainnya diikatkan gelang-gelang besi atau disebut kecrek. Pada sepanjang tali ini juga dilengkapi dengan daun nyiur atau kain putih ( Bisa dilihat pada gambar 2). Jumlah alat penggiring ini disesuaikan dengan jumlah nelayan yang nantinya bertugas sebagai penggiring kerah jaring atau memaksa ikan meninggalkan tempat persembunyiannya. Subani 1989 dan gunarso (1985).

Atractor

Pemberat

Gambar 2. Penggiring 2. 4. Metode Pengoperasian Muroami Menurut Subani dan Barus 1989 proses pengoprasian muroami adalah sebagai berikut : 1. Mengetahui dan dapat memperkirakan adanya kawanan ikan yang dilakukan oleh beberapa nelayan dengan cara menyelam dengan menggunakan kacamata air. 2. Mengetahui keadaan arus air antara lain kemungkinan adanya arus atas dan bawah serta mengenai kekuatan arus. Kekuatan arus skala sedang adalah yang paling baik untuk pemasangan atau penanaman jaring. 3. Pemasangan jaring delakukan demikian rupa sehingga membentuk huruf V dan letak ujung depan kaki yang pendek harus berada di tempat

dangkal dimana karang berada, sedangkan ujung kaki panjang diletakkan ditempat dalam. 4. Penggiringan segera dilakukan setelah pemasangan kantong yaitu dengan mengambil tempat anatara - 1/3 dari bagian ujung kaki yang belakang.

Gambar 3. Skema Pengoperasian Muroami

Gambar 4. Suplay Udara ke selang dari perahu yang membawa Kompresor Muroami umumnya dioprasikan satu hari atau one day fishing. Satu unit penangkapan muroami rata-rata melakukan 2-3 kali setting dalam satu hari penangkapan. Muroami biasanya berangkat sekitar pukul 6-7 pagi, satu jam setelah pemberangkatan penyelam mengamati daerah penangkapan dimana muroami akan dioprasikan. Setelah mendaptkan lokasi, kapal yang memuat jaring dan palkah mulai menempatkan jangkar, kemudian para penyelam memasang jaring pelari dan jaring kantong pada kedalaman sekitar 5 hingga 35 m. Proses ini memakan waktu sekitar 40 menit. Faktor yang cukup penting dalam pengoprasian muroami adalah arus yang membantu jaring kantong dapat terbuka secara sempurna. Penyelam naik kekapal yang memuat kompresor hookah setelah pemasangan jaring selesai dan bersiap melakukan penyelaman tahap kedua. Tahap ini termasuk di dalamnya adalah proses penggiringan. Lama waktu penggiringan sangat bervariasi antara 10-40 menit, pada selang kedalamanya 5-35 m. Interval waktu antara penyelaman cukup pendek, sekitar

10 menit. Penyelam mengangkat jaring kantong ke permukaan secepat mungkin, setelah ikan digiring kedalam jaring kantong. Kemudian penyelam kembali masuk kedalam perairan untuk jaring pelari. Proses pelepasan jaring pelari ini biasanya memakan waktu sekitar 20 menit. (Ribka ruji raspati 2008). 2. 5. Daerah Penangkapan Simbolon (2005) diacu dalam Sondita dan Solihin (2006) menyatakan bahwa daerah penangkapan ikan adalah wilayah perairan tempat berkumpulnya ikan, dimana oprasi penangkapan dapat dilakukan dengan alat tangkap tertentu secara produktif dan menguntungkan. Daerah penangkapan ikan dengan menggunakan alat penangkap muroami adalah di perairan karang pada kedalamnan anatara 10-25 m yang letak dasar lautnya tidak terlalau miring. Berdasarkan penelitian Marnane et al (2004), jaring muroami dipasang di sekitar terumbu karang dengan kedalaman sekitar 10 hingga 20 m dan penyelam memulai penggiringan pada kisaran 5 hingga 35 m. Menurut Subani Dan Barus (1989) muroami dioprasikan di daerah jakarta (Kep. Seribu), Sulawesi Selatan (Kep. Spermende), Kep. Sapeken, dan lombok. 2. 6. Hasil Tangkapan Hasil tangkapan utama dari alat tangkap ini adalah ikan ekor kuning (Caesio cuning). Selain ikan tersebut alat ini juga menangkap jenis ikan karang lainnya yang merupakan hasil tangkapan sampingan seperti ikan penjalu (Caesio coerulaureus), pisang-pisang (C.Chrysononus), sunglir (Elagatis bipinnulatus), selar kuning (Caranx leptolepis), dan kuwe macan (Caranx spp.) (Subani dan Barus 1989).

Gambar 5. Caesino Cuning ( Yellow Tail Fish ) Menurut Marnane MJ ( 2004 ), ikan yang tertangkap oleh muroami di wilayah kepulauan karmuin jawa adalah ikan ekor kuning. Namun dari data hasil penelitian ini, persentase tangkapan ikan ekor kuning hanya sebesar 27,61% dari seluruh total tangkapan ikan (Gambar 6). Hal ini menunjukkan bahwa masa depan perikanan ekor kuning mungkin tidak akan bertahan lama dan muro-ami tampaknya juga menguras lebih ikan-ikan jenis lain.

Gambar 6. Persentase hasil tangkapan muroami di Karimun Jawa

Komposisi hasil tangkapan ikan muroami dari seluruh family Caesionidae bahkan masih belum mencapai setengah dari total seluruh tangkapan (43,63%)

10

adahal selain ekor kuning (C. cuning), jenis ikan tangkapan lain yang termasuk dalam family Caesionidae adalah Caesio caerulaurea dan Pterocaesio lativittata (pisang- pisang). Kedua jenis ikan ini tidak termasuk ke dalam jenis ikan target utama muroami walaupun berasal dari satu family dengan C. cuning. Rata-rata sebanyak 6,76 kg ekor kuning tertangkap per hari dari penggunaan muroami di Karimunjawa selama pengamatan pada bulan September 2003. Keterangan lisan dari penduduk setempat menyatakan bahwa hasil tangkapan ekor kuning pada awal beroperasinya muro-ami di Karimunjawa bulan Januari 2003 jauh lebih besar daripada data hasil tangkapan pada bulan September. Penurunan ini mungkin disebabkan oleh pengurangan upaya tangkap karena pengaruh musim barat. Walaupun tidak ada data akurat yang menyatakan bahwa penurunan stok ekor kuning merupakan penyebab berkurangnya hasil tangkapan, namun perlu dilakukan pengawasan terhadap tingkat penangkapan spesies ikan ini demikian juga dengan perlunya peraturan pengelolaan yang menuju pemanfaatan sumber daya ekor kuning yang berkelanjutan.

Gambar 7. Komposisi famili ikan hasil tangkapan muroami

Selain Caesionidae, muro-ami juga sangat efisien dalam menangkap ikan target dari famili Carangidae, Scaridae, Sphyraenidae, dan Lutjanidae. Scaridae (kelompok ikan kakatua) merupakan kelompok ikan karang yang sangat penting

11

karena peranannya di dalam bio-erosi dan perputaran daur hidup alga pada ekosistem terumbu karang.

2.7. Dampak Muroami 2.7.1. Dampak Terhadap Ekosistem Berbeda dengan jenis-jenis alat tangkap lain yang dioperasikan di daerah terumbu karang, muroami secara langsung memberikan dampak kerusakan terhadap terumbu karang. Dalam satu kelompok operasi muroami terdapat 1 hingga 5 orang penyelam yang berpotensi menimbulkan kerusakan sehingga potensi kerusakan yang terjadi dengan mengandakan 11,6 cm2 dengan jumlah penyelam yang ada. Angka tersebut adalah potensi kerusakan dari penyelam muroami dan tidak mencakup kerusakan yang diakibatkan oleh aktivitas lain seperti pemasangan dan pengangkatan jaring. Tingkat kerusakan karang rata-rata di Kepulauan Karimunjawa secara keseluruhan dibandingkan dengan kerusakan yang diakibatkan oleh hanya satu orang penyelam saja. Kerusakan karang yang disebabkan oleh seorang penyelam muro-ami selama proses penggiringan sebesar 11,4 cm2 dalam setiap 1 m2 karang hidup, atau sekitar 0,12% kerusakan. Nilai ini hampir sama dengan rata-rata kerusakan karang (10,3 cm2 dalam setiap 1 m2 karang hidup) yang disebabkan oleh aktivitas manusia di seluruh Kepulauan Karimunjwa. Hal ini menunjukkan bahwa satu penyelam muroami berpotensi menimbulkan kerusakan yang relatif sebanding dengan kerusakan yang disebabkan oleh keseluruhan aktivitas (jangkar, kapal, kerusakan oleh manusia). Aktivitas penangkapan menggunakan Muroami lebih banyak dilakukan dibawah air yang disertai oleh proses pemasangan jaring, penggiringan, dan pengangkatan ikan. Selama proses-proses tersebut, nelayan penyelam tidak

12

hanya berenang tetapi juga berjalan diatas karang sehingga menyebabkan kerusakan karang. Hal tersebut terutama terjadi jika operasi penangkapan dilakukan diatas hamparan karang yang didominasi oleh karang bercabang dan karang meja yang sangat mudah rusak. Tali penggiring sering menyebabkan kerusakan jika tersangkut pada karang .

(a)

(b)

Gambar 8. Pengrusakan Karang, a) Terinjak Penggiring, b) Tersangkut Tali

Dalam proses penggiringan ikan, para penyelam juga menggunakan alat tambahan yang berfungsi untuk menakuti ikan. Alat tersebut berupa cincin-cincin yang terbuat dari besi (Gambar 9). Pada prosesnya cincin-cincin tersebut digunakan dengan cara memukulmukulkannya pada dasar perairan/karang dengan tujuan menghalau/menakuti ikan-ikan yang bersembunyi di dalam lubang atau celah-celah karang.

13

Gambar 9. Cincin penghalau yang digunakan penyelam muroami

Faktor lain penyebab kerusakan adalah jaring. Hal tersebut disebabkan karena jaring ditempatkan di dasar perairan dan diikatkan langsung pada karang (Gambar 10)

Gambar 10. Pengrusakan karang oleh jaring 2.7.2 Dampak Terhadap Nelayan

Sugeng 2004 menjelaskan bahwa menyelam dengan kompresor ban adalah kegiatan yang sangat berbahaya, dan termasuk tindakan yang mematikan karena:

14

Pertama, Tekanan udara yg masuk ke paru2-paru tidak terukur (paru2 kita terbiasa menghisap udara dgn tekanan normal 1 atm). Pada tubuh manusia terdapat rongga-rongga udara dan apabila untuk menyelam akan mengalami tekanan langsung yang dapat berpengaruh terhadap rongga-rongga tersebut. Rongga tersebut yaitu kulit (jika memakai dry suit), lubang telinga dan telinga tengah, sinus, gigi, paru-paru, dan saluran pencernaan.

Ketidakseimbangan tersebut akan menyebabkan barotrauma yang dapat berupa squeeze, kerusakan organ, atau minimal menimbulkan rasa sakit dan rasa tidak nyaman. Squeeze adalah pengerutan jaringan tubuh akibat dari tidak dapatnya jaringan tubuh menyamakan tekanan atau equalisasi. Kecelakaan akibat tekanan ini disebabkan oleh berbagai faktor seperti : 1) Mask Squeeze Terjadi pada saat penyelam lupa mengeluarkan udara ke dalam masker pada saat equalisasi sehingga terbentuk tekanan negatif pada ruangan masker. Hal ini mengakibatkan kapiler darah di muka rusak dan menyebabkan pendarahan ke dalam kulit (ecchymosis) dan pendarahan konjungtiva. 2) Squeeze Lubang Telinga Terjadi karena adanya udara yang terperangkap di dalam lubang telinga. Udara tersebut dapat terperangkap karena Serumen (kotoran telinga), Earplug (tidak boleh dipakai dalam penyelaman), Hood atau penutup kepala, Wet suit/dry suit yang menutup telinga. Hal ini menyebabkan terbentuknya ruang bertekanan negatif sehingga dapat menyebabkan hal yang sama. Gejala meliputi sakit pada telinga, pembengkakan, kemerahan kulit lubang telinga. Pada kasus yang parah dapat terjadi robek gendang telinga. 3) Squeeze Sinus (Barosinusitis) Mekanismenya sama dengan squeeze lain. Jika pada saat turun ke dalam. Jika terdapat sumbatan pada saluran sinus akan menyebabkan sinus 15

squueze. Sumbatan ini disebabkan oleh Sinusitis (infeksi/alergi) dimana pembengkakan jaringan menyebabkan penyumbatan saluran ke hidung, Rhinitis (hay fever), prosesnya sama dengan sinusitis, Polip, yaitu pertumbuhan jaringan kecil yang dapat menutupi saluran sinus. Polip terdapat pada rongga hidung, Lipatan jaringan yang berlebihan dan Sumbatan oleh lendir yang mengering. Gejalanya yaitu rasa sakit di wajah, kening, atau pipi selama menyelam. Tipe yang jarang yaitu reverse sinus squeeze yang terjadi pada saat naik ke permukaan. Kondisi ini diakibatkan karena tingginya tekanan udara dalam sinus. Ini biasanya terjadi pada penyelam yang mengalami infeksi saluran pernapasan atas atau alergi berat yang minum obat dekongestan (mengurangi produksi cairan) sesaat sebelum menyelam, tetapi efek obat tersebut hilang setelah menyelam di kedalaman. Pencegahan barosinusitis atau squeeze sinus yaitu dengan tidak menyelam pada saat terkena infeksi saluran napas atas atau hal-hal lain yang dapat mengakibatkan penutupan saluran sinus. 4) Squeeze Gigi (Barodontalgia) Nama lainnya yaitu aerodontalgia. Kondisi ini disebabkan karena adanya gas yang terperangkap di dalam gigi atau struktur sekitar gigi. Adanya gas akan mengakibatkan terbentuknya tekanan negatif atau positif di dalam ruangan yang terbatas. Hal ini akan merangsang struktur sensitif gigi danmengakibatkan rasa sakit. Barodontalgia dapt disebabkan berbagai kondisi seperti adanya Karies (karang gigi) pada penyelam, restorasi gigi (penambalan gigi), luka di daerah mulut, pencabutan gigi yang belum lama, abses periodontal (kumpulan nanah dekat jaringan gigi), terapi pada akar gigi. Jika terdapat sekumpulan udara tertangkap di gigi pada tekanan permukaan laut, tekanan di luar gigi akan meningkat pada penyelaman, maka gigi akan pecah ke arah dalam, dan ruangnya akan terisi darah. Kebalikannya, jika kumpulan udara terbentuk selama di kedalaman, jika bergerak ke permukaan 16

volumenya akan meningkat sesuai hukum Boyle yang mengakibatkan gigi pecah ke arah luar. Untuk mencegah barodontalgia, setiap penyelam harus menunda penyelaman sedikitnya 24 jam setelah terapi/tindakan pada gigi. 5) Squeeze Telinga Tengah (Barotitis Media) Tingkat kejadian squeeze telinga tengah sangat tinggi sekitar 40 % dialami oleh para penyelam. Hal ini terjadi jika terdapat sumbatan yang menghalangi equalisasi rongga di telinga tengah yang disebabkan oleh tersumbatnya saluran tuba eustachius. Tersumbatnya saluran tuba eustachius dapat disebabkan oleh Infeksi saluran napas atas, allergi, rokok, polip, dan trauma wajah yang dialami sebelumnya. Namun dapat juga terjadi jika penyelam lupa melakukan equalisasi dengan cara Manuver Valsava dan Frenzel. 6) Barotrauma Telinga Dalam Merupakan barotrauma yang sangat serius karena akan menyebabkan ketulian permanen. Barotaruma ini jarang terjadi. Trauma ini terjadi karena perbedaan tekanan yang bermakna antara telinga tengah dan telinga dalam. Hal ini disebabkan terlalu kuatnya manuver Valsava atau turun ke dalam terlalu cepat. Gejalanya utama yaitu berdenging, vertigo, dan tuli. Dapat juga disertai rasa penuh pada telinga, mual dan muntah, berkeringat, dan pucat. Gejala ini bisa timbul segera setelah trauma atau dapat berkembang dalam 1 jam, tergantung aktivitas penyelam selama dan sesudah penyelaman. 7) Alternobaric Vertigo Merupakan barotaruma yang sangat jarang. Terjadi pada saat naik ke permukaan yang disebabkan karena perubahan tekanan tiba-tiba pada telinga tengah yang menyebabkan perangsangan ke telinga dalam dan menyebabkan vertigo. Vertigo ini hanya sebentar dan tidak memerlukan penanganan dapat membuat penyelam panik, yang dapat mengakibatkan tenggelam, kerusakan 17

paru, atau emboli udara, atau trauma lain yang sangat serius. Gejalanya yaitu kehilangan orientasi terhadap sekeliling dan tiba-tiba mual sekali. Selain itu penyelaman dengan menggunakan kompresor ban,

keselamatan nyawa penyelam yang dibawah permukaan laut tergantung kesehatan dan kestabilan mesin kompresor yang di atas kapal. Sedikit saja operator mesin kompresor lalai, maka akan berakibat fatal bagi penyelam.

Kedua,

Lama

penyelaman

tidak

terukur,

penyelaman

harus

menggunakan tabel waktu yg sudah standar, berapa lama penyelaman, berapa waktu untuk safety stop dan berapa waktu istirahat sebelum penyelaman berikut harus terukur. Dalam tataran praktis nelayan justru lebih cenderung mengukur target hasil tangkapan. Waktu penyelaman bukanlah ukuran nelayan, asal dirasa tubuhnya masih mampu memburu ikan di dalam sana maka nelayan akan terus bekerja sampai target hasil tangkapan terpenuhi. Hal ini tentu saja mengingat raman dan perlengkapan yang diperlukan nelayan ini juga cukup mahal jika dibandingkan dengan nelayan pancing. Ketiga, dalam setiap penyelaman harus ada safety stops, dimana kita harus berhenti di kedalaman tertentu sebelum naik ke permukaan sambil "melepaskan" nitrogen yg terhisap ke dalam aliran darah. Tanpa melakukan ini maka kandungan nitrogen dalam darah akan sangat tinggi. Meskipun nelayan kompresor ban tahu tentang teori ini, tapi kadang kal dihadapkan pada problem gangguan kehabisan nafas. Suatu contoh misalnya, penyelam merasa udara yang dihirup semakin tipis atau tidak ada sama sekali karena selang terlipat, macet atau matinya mesin pemompa. Dalam keadaan ini, penyelam akan naik kepermukaan secara cepat. Kesalahan prosedur penyelaman inilah yang dikenal dengan nitrogen narcosys. Nitrogen narcosys ini jika tidak dipahami sejak awal akan menjadi bahaya, karena yg terkena akan mengalami halusinasi berat di 18

kedalaman air. Tetapi kadang kala yang terjadi masyarakat Karimunjawa menghubungkan keadaan ini dengan hal-hal yang berbau mistis. Seperti Ketemu air dingin akhirnya kaki atau tangan kram, ketemu binatang-binatang aneh, Istana dan penghuninya lengkap dengan perabotan yang masih utuh. Padahal sebetulnya itu semua adalah penyakit Nitrogen narcosys karena zatnya dingin dan bikin mabuk seperti habis minum arak, kepala pusing dan bisa pingsan. Pada penyelam kompresor ban, udara yang masuk ke tabung tidak terfilter dengan baik sehingga terjadi CO2 pun bercampur bersama udara, bahkan termasuk gas yang dihasilkan asap mesin kompresor. Jika permukaan konsentrasi dengan CO2 5-6 % maka dapat mengakibatkan sesak napas, napas cepat, dan pusing. Pada kadar 10 %, tekanan darah turun menyebabkan pingsan. Bila kadar 12-14 % terjadi depresi pernapasan dan saraf pusat yang mengakibatkan kematian. Keracunan CO2 kerentanan terhadap narkosis nitrogen, keracunan oksigen dan penyakit dekompresi karena menyebabkan pelebaran pori pembuluh darah. Gejalanya yaitu konsentrasi berkurang, kontrol otot menurun dan fungsi motorik terganggu, serta kelelahan lalu pingsan. Selain itu pengaruh tekanan sewaktu muncul ke permukaan dapat juga mengakibatkan pengembangan paru melewati batas, Pulmonary Barotrauma of Ascent (Pulmonary OverPressurization Syndrome) atau POPS. Pengembangan melewati batas pada paru-paru dapat terjadi pada penyelam yang menyelam yang melewati tekanan lebih, dengan menahan napas tiba-tiba muncul di permukaan yang lebih rendah, yang akan memecahkan alveoli (ingat hukum Boyle). Gelembung akibat pecahnya alveoli bergerak ke bagian tubuh lain dan gejalanya tergantung dari lokasi dan volume udara yang masuk. Manifestasinya yaitu mediastinal emphysema, subcutaneous emphysema, pneumothorax, dan emboli udara.

19

Biasanya penyelam melakukan hal ini karena kehabisan udara, panik, mengalami bouyancy positif secara tiba-tiba seperti melepas sabuk pemberat atau inflasi BC secara cepat. Manifestasi pengembangan paru yang melewati batas yang paling sering yaitu mediastinal emphysema. Gelembung dari paru-paru yang pecah, masuk ke rongga antara paru-paru di dekat jantung dan tenggorokan. Gejalanya yaitu sakit di daerah dada karena udara menekan jantung, sesak napas, atau sakit pada saat makan. Dapat pula pingsan. Jika gelembung-gelembung udara bergerak naik ke daerah leher, di bawah kulit di sekitar leher, kalau dipegang maka kulit terasa pecah. Gejalanya yaitu sakit dan sulit bernapas pada bagian yang terkena, napas pendek dan cepat, udara dapat menekan jantung dan pembuluh darah menyebabkan kebiruan. Jarang sekali terjadi, jika terjadi berarti paru-paru pecah, seperti meletus dan gelembung udara langsung memenuhi rongga udara antara paru-paru dan selaput paru (pleura) Gejalanya yaitu sakit dada, karena udara menekan paruparu yang terkena. Dalam kasus yang parah dapat terjadi tension pneumothorax, yaitu pneumothorax yang sangat besar dan membuat paru-paru yang terkena kolaps karena tekanan yang tinggi. Ini merupakan keadaan darurat. Gejalanya yaitu sakit dada yang berat, pengembangan dada tidak sama yaitu paru yang terkena agak tertinggal, dan adanya penekanan ke trakea menjadi tidak lurus. Biasanya terjadi penekanan jantung sehingga cepat pingsan. Penyelam kompresor ban sangat rawan terhadap kasus emboli udara yakni pecahnya dinding alveoli yang menyebabkan udara masuk dalam peredaran darah, akibatnya terjadi penyumbatan peredaran darah oleh gelembung-gelembung udara langsung dari paru-paru.Misalnya, jika penyelam 20

naik ke permukaan dari 100 FSW, udara dalam paru mengembang 4 kali volume awal. Jika tidak dikeluarkan, maka menekan paru dan alveoli pecah bersaamaan dengan pecahnya pembuluh darah. Udara terbawa ke kapiler paru dan dibawa ke ventrikel kiri, kemudian di pompa kesuluruh tubuh lewat arteri. Adanya kumpulan udara dalam arteri akan membentuk sumbatan sehingga jaringan kekurangan oksigen. Jika otak mengalami hal tersebut maka akan berakibat kematian. Gejalanya yaitu lemas, pusing, kelumpuhan/ kelemahan yang hebat, gangguan penglihatan, nyeri dada, kejang-kejang dan pingsan, terkadang disertai busa bercampur darah di mulut. Berbeda dengan emboli udara, Decompression sickness terjadi dimana terbentuknya gelembung udara di dalam darah tanpa mengalami pecahnya alveoli paru. Gejalanya lambat dibanding emboli, karena gas ini terbentuk di pembuluh darah yang menyebabkan matinya sel-sel di jaringan secara perlahan.

Keempat, lamanya penyelaman, kedalaman dan kestabilan kedalaman harus direncanakan secara seksama sebelum dilakukan penyelaman.

Penyelaman menggunaka kompresor ban juga sangat rentan terkena keracunan oksigen. Meskipun oksigen merupakan gas yang dibutuhkan tubuh untuk metabolisme. Tapi bila campuran gas yang dihirup terdiri dari O2 20 % maka oksigen yang terpakai oleh tubuh adalah hanya 4 % nya sedangkan 16 % dihembuskan. Meskipun dibutuhkan oleh tubuh, peningkatan tekanan parsial oksigen menyebabkan keracunan. Sesuai dengan hukum Dalton, tekanan yang tinggi pada penyelaman meningkatkan tekanan parsial oksigen. Oleh karena itu jangan menyelam terlalu dalam dan gunakan udara biasa yang bersih bukan O2 murni.

21