Anda di halaman 1dari 6

Nama NPM

: A.A.A. NANDA SARASWATI : 1006736116

Tugas Individu III Mata Kuliah Hukum Kebijakan Lingkungan

Prinsip Hukum Lingkungan Internasional


Lluis Paradell-Trius
Pengantar : Saat ini, perhatian dunia internasional sedang focus pada prinsip-prinsip hukum lingkungan internasional. Status hukum prinsip-prinsip tersebut pun diberdebatkan, khususnya tentang sustainable development atau pembangunan berkelanjutan. Definsi, status maupun peran pembangunan berkelanjutan ini masih ambigu. Ada yang menanggap pembangunan berkelanjutan ini sebagai hukum kebiasaan internasional dan ada yang menganggap hanya sebagai aturan atau norma yang masih berkembang. Alasan Pembentukan dan Penggunaan Prinsip : 1. Perlunya peraturan hukum lingkungan internasional yang mengatur tentang aspek social, ekonomi dan lingkungan. Hal ini membutuhkan norma yang disebut dengan prinsip yang merupakan dasar dalam kasus dan situasi yang berbeda. Maka tidak mengejutkan bila hukum internasional tentang pembangunan berkelanjutan (termasuk aspek social, ekonomi, dan lingkungan) telah di atur dalam United Nations Conference on Environmental and Develpoment 1992 (UNCED), United Nations Framework Convention on Climate Change, dan Biodiversity Convention. 2. Meluasnya persepsi tentang krisis lingkungan oleh masyarakat internasional dan perlunya solusi. Dalam hal negosiasi dan ratifikasi, Negara-negara cenderung lebih cepat menerima prinsip karena sifatnya yang fleksibel. Prinsip juga sering memfasilitasi pengambilan keputusan agar tidak membuang-buang waktu namun

juga tidak mengurangi niat Negara untuk menghormati standard dan tujuan hukum lingkungan tersebut. 3. Alasan ketiga adalah karena sebuah prinsip dapat menyelesaikan masalah-masalah lingkungan yang belum pasti. Dalam kekosongan hukum atau kewajiban, prinsip hadir dan dapat memberikan kemungkinan-kemungkinan tentang parameter yang harus dilakukan Negara dalam menghadapi isu lingkungan. Status Prinsip yang belum pasti : Seperti yang telah disebutkan diatas bahwa sampai saat ini belum ada kepastian mengenai status sebuah prinsip dalam hukum lingkungan internasional. Hal ini disebabkan oleh karena prinsip itu dapat diambil dari sumber hukum internasional manapun, terutama dari soft law, dimana soft law sendiri masih ambigu, seperti Deklarasi Rio dan Deklarasi Stockholm. Banyak pendapat yang menyatakan bahwa karena sifatnya yang soft, maka tidak bisa dikatakan mengikat. Alan Boyle mengatakan bahwa : Rules merupakan hard law yaitu aturan yang jelas dan komitmen terhadapnya spesifik, sementara prinsip merupakan soft law. Namun bukan berarti prinsip tidak memiliki akibat apapun, karena masih dapat dipertimbangkan. Kesulitan lain adalah mengidentifikasi kebiasaan hukum internasional itu sendiri. Apakah kebiasaan hukum interanasional itu dianggap sebagai praktek umum yang diterima sebagai hukum? Apakah sebuah prinsip cukup hard untuk dikatakan sebagai kebiasaan hokum internasionl? Hal inipun masih dapat diperdebatkan. Fungsi, Akibat dan Peran Prinsip Fungsi dari sebuah prinsip akan jelas hanya apabila diaplikasikan dalam kasus. Ada ahli hokum atau para sarjana yang berpendapat bahwa kewajiban hukum merupakan prinsip hukum. Philippe Sands berpendapat bahwa aturan itu mengikat. Prinsip adalah kebenaran yang umum, yang menuntun perilaku kita, yang merupakan dasar atas tindakan-tindakan kita. Bin Cheng berpendapat bahwa aturan merupakan perumusan subuah prinsip, yang bertujuan untuk menciptakan keadilan dalam setiap kasus.

Bodansky berpendapat bahwa tidak seperti pragaraf dalam preambul, prinsip berwujud sebagai peraturan dalam undang-undang, namun standarnya lebih umum daripada komitmen. Untuk itu, prinsip (seperti dalam hal rules) mungkin memiliki arti hukum dan otoritas berdasarkan norma, namun (berbeda dengan rules) prinsip tidak secara langsung menentukan prilaku, tetapi berperan sebagai alasan atau pertimbangan sebuah pengambilan keputusan. Peran prinsip: 1. Memberikan parameter yang dapat mempengaruhi keputusan pengadilan; 2. Menetapkan batasan, memberikan arahan dan menentukan penyelesaian terhadap prinsip lain atau aturan yang sedang berada dalam konflik; 3. Memfasilitasi proses pembuatan keputusan intenasional seperti pembentukan hukum kebiasaan internasional; 4. Memberikan arahan kepada pengadilan dalam proses menginterpretasikan suatu aturan atau kewajiban. Pembentukan dan Identifikasi Prinsip : Repetisi merupakan sebuah factor penting dalam proses pembentukan sebuah prinsip. Resolusi dan deklarasipun secara perlahan menciptakan prinsip-prinsip. Seperti dalam prinsi 21 Deklarasi Stockholm yang menciptakan hak berdaulat sebuah Negara untuk mengeksplorasi sumber dayanya dengan tanggung jawab untuk menjamin bahwa kegiatan tersebut tidak menimbulkan kerugian kepada Negara lain. Perkembangan prinsip tanggung jawab untuk tudak menimbulkan kerugian ini dapat ditemui dalam Kasus Trail Smelter dan dalam instrument internasional lainnya serta telah didukung dengan praktek Negara-negara. Saat ini prinsip tersebut telah di terima sebagai hukum kebiasaan internasional. Contoh lain adalah prinsip pencegahan yang diatur dalam Deklarasi Stockholm, UNEP, 1982 World Charter for Nature dan keputusan ICJ dalam kasus Gabcikovo-Nagymaros. Kemudian prinsipgood neighbourliness yang diatur dalam UNEP, UNGR, OCED, Deklarasi Rio dan Stockholm. Prinsip non discrimination dalam OCED dan UNCLOS. Prinsip yang saat ini sedang berkembang adalah

pembangunan berkelanjutan yang diatur dalam sejumlah instrument internasional seperti WECD 1987 dan Deklarasi Rio. Kesimpulan : Prinsip berperan penting dalam hukum lingkungan internasional. Prinsip memberikan jalan tengah terbaik antara kekosongan hukum dan kerumitan karena terlalu banyaknya hukum. Meskipun sifatnya merupakan soft law namun prinsip berkontribusi besar seperti ikut berperan dalam proses pembuatan hukum tentang pembentukan hukum kebiasaan internasional.

Komentar dan Pendapat : 1. Pierre-Marie Dupuy1, berpendapat sama dengan Lluis Paradell-Trius bahwa repetisi merupakan sebuah factor penting dalam proses pembentukan sebuah prinsip.Soft law harus dipahami sebagai tujuan yang ingin dicapai di masa yang akan dating dan bukan merupakan kewajiban yang actual, merupakan suatu petunjuk dan bukan kewajiban yang mutlak. Namun, petunjuk tersebut dapat membantu proses opinion juris sebuah Negara yang nantinya akan berperan penting dalam proses pembentukan hukum kebiasaan internasional. 2. International Court of Justice (ICJ) dalam kasus Gabcikovo-Nayymaros menyatakan bahwa : a. Istilah sustainable development atau pembangunan berkelanjutan memiliki fungsi atau peranan hukum; b. Sustainable development tersebut merupakan sebuah konsep dan bukan merupakan sebuah hukum ataupun prinsip; c. Sebagai sebuah konsep, pembangunan berkelanjutan memiliki aspek procedural maupun substantive.

Pierre-Marie Dupuy, Profesor of Law, University of Paris and Visiting Profesor, University of Michigan Law School, Soft Law and the International Law of the Environment, 1990

3. Judge

Weeramantry2,

berpendapat

bahwa

pembangunan

berkelanjutan

merupakan hukum kebiasaan internasional yang juga sebuah konsep yang telah di akui oleh komunitas internasional. Menurutnya, pembangunan berkelanjutan merupakan bagian dari hukum internasional modern, baik karena adanya kebutuhan, maupun karena konsep ini berperan penting dalam penyelesaian sengketa lingkungan. 4. Winfried Lang3, berpendapat bahwa sebuah prinsip, meskipun mereka adalah bagian dari hukum yang merupakan aturan umum yang memberi petunjuk terhadap perilaku Negara-negara, namun tidak dapat diterapkan secara langsung. Pelanggaran terhadap sebuah prinsip tidak dapat dipertentangkan atau digugat dalam mahkamah internasional atau peradilan internasional kecuali mereka prinsip tersebut dibuat dan diatur dalam peraturan yang lebih kuat. Namun terlepas dari permasalahan di atas seperti status hukum dari sebuah prinsip, tidak dapat disangkal bahwa prinsip merupakan alat yang sangat penting, meskipun masih berada dalam wilayah abu-abu. 5. Owen McIntyre4, berpendapat bahwa pembangunan berkelanjutan sudah menjadi hukum kebiasaan internasional. Prinsip-prinsip dalam hukum lingkungan internasional, baik yang diatur dalam perjanjian internasional maupun dalam bentuk soft law dapat dianggap sebagai due diligence. 6. Alfred Verdross5, berpendapat bahwa yang membedakan proses pembentukan prinsip dalam hukum internasional dengan hukum kebiasaan internasional adalah dalam hukum kebiasaan internasional, opinion juris terlihat dalam praktek Negara tersebut, sementara sebuah prinsip itu lahir ketika adanya pengakuan oleh Negara-negara dengan atau diluar Majelis Umum. 7. Mirjam van Harmelen, Matthijs S. van Leeuwen and Tanja de Vette 6, berpendapat bahwa meskipun soft law tidak mengikat, namun aturan tersebut
2

Phillippe Sands, International Courts and the Application of the Concept of Sustainable Development, 1999
3 4

Winfried Lang, The United Nation Principles and International Environmental Law, 1995

Owen McIntyre, The Role of Customary Rules and Principle of International Environmental Law in the Protection of Shared International Freshwater Resource
5

Katia Boustany, The Development of Nuclear Law-Making or the Art of Legal "Evasion," 61 NUCLEAR L. BULL. 39, 42 (1998) (quoting Alfred Verdross, Les principes giniraux de droit dans le syst&me des sources du droit international, in MILANGES GUGGENHEIM 521, 526 (1968)).

merupakan kewajiban yang kuat dari Negara-negara dan organisasi internasional dan prinsip-prinsip tersebut akan di taati dan dihormati oleh komuntas internasional. Kekuatan hukum soft law juga tidak boleh diremehkan begitu saja karena fakta menunjukkan bahwa prinsip-prinsip yang tertuang dalam resolusi dan deklarasi tersebut berevolusi menjadi hukum kebiasaan internasional. Dan karena jumlahnya yang terus meningkat, sangat mungkin bahwa di masa yang akan datang menjadi bagian dari hukum internasional, meskipun tidak dituangkan dalam bentuk konvensi. Menurut pendapat saya sendiri, aturan hukum yang disebut sebagai soft law tersebut, meskipun kekuatan hukumnya tidak mengikat, di dalam faktanya sangat diperhatikan untuk dijadikan landasan ketentuan hukum nasional maupun internasional. Meskipun status daripada prinsip-prinsip dalam hukum lingkungan internasional, seperti konsep pembangunan berkelanjutan masih diperdebatkan hingga saat ini, yaitu apakah merupakan hukum kebiasaan internasional atau tergolong perjanjian internasional, namun peran konsep ini sangat penting untuk proses pembentukan hukum yang akan datang. Hal ini terlihat jelas dengan adanya pertumbuhan sejumlah perjanjian internasional yang menempatkan prinsip-prinsip tersebut sebagai tujuan di dalam preambulnya. Pengakuan dari sejumlah Negara saat ini ditambah dengan praktek Negara yang semakin berkembang menunjukan bahwa prinsip-prinsip hukum lingkungan internasional tersebut, seperti sustainable development, perlahan-lahan sedang dalam proses perkembangan menjadi hukum kebiasaan international.

Mirjam van Harmelen, Matthijs S. van Leeuwen and Tanja de Vette, International law of Sustainable Development : Legal Aspects of Environmental Security on the Indonesian Island of Kalimantan, 2005