Anda di halaman 1dari 9

11

PENELITIAN
HUBUNGAN PENGETAHUAN DENGAN PERILAKU IBU DALAM PEMBERIAN IMUNISASI HEPATITIS B UNIJECT PADA BAYI USIA 0-28 HARI DI PUSKESMAS SUKARAHAYU KABUPATEN SUBANGTAHUN 2011

Emy Salmiyah *, Olis *

ABSTRAK Hasil studi pendahuluan cakupan imunisasi hepatitis B uniject di Puskesmas Sukarahayu baru mencapai 36 bayi = (21,2%), target sampai dengan Maret 2011 =25%. Hasil wawancara diperoleh data: sebanyak 3 orang ibu (30%) dapat memahami pengetahuan imunisasi hepatitis B uniject dengan baik, sedangkan 7 orang ibu lainnya (70%) masih kurang memahami pengertian, manfaat imunisasi hepatitis B uniject.Tujuan penelitian Untuk mendapat gambaran hubungan pengetahuan ibu dengan perilaku ibu dalam pemberian imunisasi hepatitis B uniject pada bayi usia 0-28 hari. Metode Penelitian analitik dengan pendekatan cross sectional. Populasi : semua ibu yang mempunyai bayi usia 0 - 28 hari. sampel menggunakan teknik Proportional sampling, jumlah sampel sebanyak 61 orang. Hasil uji Che Square diperoleh nilai x2 sebesar 14,562 dengan p- value 0,000 (p < 0,05) maka dapat disimpulkan ada hubungan yang bermakna antara tingkat pengetahuan dengan perilaku dalam pemberian imunisasi hepatitis B uniject. Dari analisis lebih lanjut di peroleh nilai OR 9,164 artinya kelompok ibu yang mempunyai bayi usia 0-28 hari dengan kategori pengetahuan tinggi mempunyai peluang untuk memberikan imunisasi pada anaknya sebesar 9,164 kali lebih besar dibanding dengan kelompok ibu yang mempunyai bayi usia 0-28 hari dengan kategori tingkat pengetahuan rendah. Diharapkan pihak Dinas Kesehatan, kordinator program imunisasi, Bidan Desa, Perawat agar lebih meningkatkan pelaksanaan penyuluhan kepada masyarakat, khususnya mengenai

program imunisasi hepatitis B uniject, untuk meningkatkan cakupan program imunisasi.

Kata Kunci

: Pengetahuan , perilaku

Kepustakaan : 21, buku dari tahun 2003-2011

12
PENDAHULUAN Tujuan pembangunan kesehatan adalah peka untuk mengukur derajat kesehatan suatu bangsa yaitu dengan Angka Kematian Bayi (AKB) (http:/gerbang.jabar.jabar.go.id/ (19 Pebruari 2011). Indonesia merupakan negara ASEAN dengan angka kematian bayi tertinngi sebagaimana terlihat dalam tabel berikut inin : Tabel 1 Angka Kematian Bayi (AKB) Tahun 2009 Angka Kematian Bayi (AKB) Tahun No 2009 Negara ASEAN 1 2 3 4 5 6 Indonesia Filipina Vietnam Thailan Malaysia Singapura (AKB) 26,9/1000 26/1000 18/1000 17/1000 5,5/1000 3,0/1000

untuk mewujudkan derajat kesehatan yang optimal, sebagai salah satu dari untuk itu unsur tujuan perlu guna cakupan

kesejahteraan pembangunan ditingkatkan memperluas

umum nasional, berbagai dan

upaya

mendekatkan

pelayanan kesehatan dengan mutu yang lebih baik dan biaya yang terjangkau (Depkes RI:, 2005 : 1). Keberhasilan pembangunan kesehatan sangat dipengaruhi oleh

tersedianya sumber daya manusia yang sehat, terampil dan ahli serta disusun dalam satu program kesehatan dengan

perencanaan terpadu yang didukung oleh data yang lengkap dan akurat (Depkes RI, 2005 : 1) Salah satu strategi pembangunan nasional untuk mewujudkan kesejahteraan masyarakat Indonesia adalah pembangunan nasional berwawasan kesehatan yang berarti setiap upaya program pembangunan positif harus terhadap Berdasarkan data dari Dinas Kesehatan Angka Kematian Bayi (AKB) Jawa Barat masih diatas 40/1000 kelahiran hidup

Sumber : Biro Pusat Statisti (BPS)

mempunyai

kontribusi

terbentuknya lingkungan dan perilaku hidup sehat. Pembangunan kesehatan mengacu kepada Paradigma Sehat yaitu

sedangkan di Kabupaten Subang, Angka Kematian Bayi (AKB) pada tahun 2009 sebanyak 398 jiwa dan tahun 2009 angka kematian bayi sebanyak 180 jiwa. Untuk tingkat Proporsi Jawa Barat urutan angka kematian bayi menurut kelompok umur

pembangunan kesehatan yang memberikan prioritas utama pada upaya peningkatan kesehatan (promotif) dan pencegahan

penyakit (preventif), dibandingkan dengan upaya pelayanan penyembuhan/pengobatan (kuratif) dan pemulihan (rehabilitatif) secara menyeluruh, terpadu dan berkesinambungan (Depkes RI, 2005:1). Indikator yang sangat

tercatat sebagai berikut: kelompok umur 0-7 hari yaitu sebanyak (88%), 0-28 hari

sebanyak (8%), dan pada kelompok umur 29 hari-12 bulan sebanyak (4%). Penyebab

13
langsung kematian bayi di Jawa Barat antara lain BBLR 105 kasus (32%), Asfiksia 94 kasus (28%), Infeksi 9 kasus (3%), dan sebanyak 128 kasus (37%) terdiri dari kasus: RDS (Respiratory Death Syndrom), VLBW, Atresia ani, Multiple Congenita, Menigitis dan Anencephal (Dinas Kesehatan Propinsi Jawa Barat, 2009). Masih tingginya Angka Kematian Bayi (AKB) di Kabupaten Subang tidak terlepas dari masih rendahnya cakupan program imunisasi di Kabupaten Subang, seperti terlihat pada data berikut: selama tahun 2009, pencapaian program imunisasi hepatitis B uniject di Kabupaten Subang adalah 84,3% sedangkan target pencapaian imunisasi hepatitis B METODOLOGI PENELITIAN Penelitian ini merupakan penelitian analitik yaitu survey menggunakan metode Cross sectional dengan tujuan untuk

mengidentifikasi dengan perilaku

hubungan ibu dalam

pengetahuan pemberian

imunisasi hepatitis B pada bayi usia 0 - 7 hari di Puskesmas Sukarahayu Kabupaten

Subang. Waktu penelitian dilakukan dari januari sampai dengan juli 2011. Sampel dalam penelitian ini adalah ibu yang

mempunyai bayi usia 0 - 28 hari sebanyak 61 responden. Teknik pengambilan sampel

menggunakan Proportional sampling. Data yang dikumpulkan adalah data primer yaitu data yang diperoleh langsung dari responden menggunakan kuesioner dan data sekunder yaitu data yang diperoleh dari KMS/KIA. Adapun instrumen penelitian yang digunakan dalam pengambilan angket ibu dan data untuk lembar adalah mengukur observasi

uniject adalah 90%. Puskesmas Sukarahayu yang merupakan salah satu puskesmas dengan tempat perawatan (DTP)di

Kabupaten Subang, merupakan puskesmas dengan angka kematian bayi tertinggi

menggunakan pengetahuan

dibanding dengan puskesamas lainnya (Profil Dinas Kesehatan Kabupaten Subang, 2009). Hal ini terkait dengan masih rendahnya cakupan imunisasi, dimana periode Januari sampai dengan cakupan Maret 2011 pencapaian

partisifasi untuk mengetahui perilaku ibu dalam pemberian imunisasi hepatitis B. Uji validitas dan rehabilitas dilakukan terhadap 15 responden yang tinggal diwilayah kerja Puskesmas Sukarahau Kabupaten Subang. Setelah data dikumpulkan dilakukan

imunisasi hepatitis B uniject di

Puskesmas Sukarahayu Kabupaten Subang, baru mencapai 369 orang (21,2%), dari target Januari sampai dengan Maret 2011 sebesar 25%, dengan jumlah sasaran 156 bayi yang tersebar di empat kelurahan (Laporan rutin program imunisasi Puskesmas Sukarahayu Kabupaten Subang tahun 2011).

pengolahan data mulai dari editing, coding, entry data dan cleaning. Analisa data

menggunakan analisis univariat dan bivariat.

HASIL PENELITIAN Hasil penelitian disajikan dalam bentuk tabel dan narasi, sebagai berikut:

14
1. Analisa Univariat Tabel 2 Distribusi Pengetahuan Ibu Bayi Dalam Pemberian Imunisasi Hepatitis B Uniject Pada Bayi Usia 0 28 Hari di Perilaku Pengetahuan Tinggi Rendah Jumlah Frekuansi 29 32 61 Persentase (%) 47,5 52,5 100,0 Tidak memberikan imunisasi Memberikan imunisasi Jumlah Frekuansi 26 35 Persentase (%) 42,6 57,4 Tabel 3 Distribusi Perilaku Ibu Bayi Dalam

Pemberian Imunisasi Hepatitis B Uniject Pada Bayi Usia 0 28 Hari di

Puskesmas Sukarahayu

Puskesmas Sukarahayu

61

100,0

Pada tabel 4.1 di atas dapat diidentifikasi bahwa 47,5% responden mempunyai

Pada tabel 4.2 dapat diidentifikasi bahwa 42,6% responden tidak memberikan

tingkat pengetahuan kategori tinggi, dan 52,5% rendah. tingkat pengetahuan kategori

imunisasi hepatitis B uniject dan yang memberikan imunisasi hepatitis B uniject sebanyak 57,4%.

2. Analisa Bivariat Tabel 4 Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Hubungan Tingkat Pengetahuan dengan Perilaku Pemberian Imunisasi hepatitis B uniject Perilaku Imunisasi Pengetahuan Tinggi Rendah Jumlah Tidak n % 17,2 5 21 65,6 26 42,6 Memberikan n % 24 82,8 11 34,4 35 57,4 Jumlah OR 95% CI n 29 32 61 % 100 100 100 9,164(2,73730,684) P- Value

0,000

Hasil

analisis

hubungan

antara

tingkat

24 (82,8 %) dari 29 ibu yang mempuyai bayi usia 0-28 hari dengan tingkat pengetahuan kategori tinggi melakukan pemberian

pengetahuan ibu yang mempuyai bayi usia 028 hari dengan perilaku ibu yang mempuyai bayi usia 0-28 hari dalam pemberian

imunisasi hepatitits B uniject. Sedangkan kelompok ibu yang mempuyai bayi usia 0-28

imunisasi hepatitis B uniject diperoleh bahwa;

15
hari dengan tingkat pengetahuan rendah yang melakukan pemberian imunisasi intensitas dan efektifitas program

penyuluhan yang biasa dilakukan, dan para perawat pelaksana sebaiknya

hepatitis B uniject sebanyak 11 (34,4%) dari 32 orang responden. diperoleh nilai x


2

Hasil uji

statistic

melakukan program penyuluhan secara rutin dan terencana termasuk penyuluhan tentang imunisasi hepatitis B uniject. Perbedaan proporsi tingkat pengetahuan seperti tergambar dari hasil penelitian ini tentunya kurang menguntungkan

sebesar 14,562 dengan

P - value = 0, 000 ( p < 0,05 ) maka dapat disimpulkan ada hubungan yang bermakna antara tingkat pengetahuan ibu dengan

perilaku ibu yang mempunyai bayi usia 0-28 hari dalam memberikan imunisasi hepatitis B uniject.. Dari hasil analisis lebih lanjut, diperoleh nilai odds ratio 9,164 artinya kelompok ibu dengan tingkat pengetahuan tinggi mempunyai peluang untuk memberikan imunisasi pada bayinya sebesar 9,164 kali lebih besar dibanding dengan kelompok ibu dengan tingkat pengetahuan rendah (OR = 9,164 dengan 95 % CI : 2,737 30,684). PEMBAHASAN 1. Pengetahuan Responden Hasil penelitian ini memberikan gambaran bahwa proporsi ibu dengan tingkat

mengingat pengetahuan merupakan salah satu aspek penting yang mempengaruhi perilaku seseorang, termasuk perilaku

Responden dalam memberikan imunisasi hepatitis B uniject pada anaknya. Pengetahuan merupakan hasil dari tahu dan terjadi setelah orang melakukan terhadap objek tertentu.

penginderaan

Penginderaan terjadi melalui panca indera manusia, yakni indera penglihatan, indera penciuman, indera pendengaran, rasa dan raba, sebagian besar pengetahuan

manusia diperoleh melalui penglihatan dan pendengaran. Pengetahuan atau kognitif merupakan domain yang sangat penting dalam membentuk perilaku/tindakan

pengetahuan kategori rendah lebih tinggi jika dibanding dengan proporsi ibu dengan tingkat pengetahuan proporsi kategori kategori tinggi. tingkat

seseorang ( Notoatmodjo, 2003 ; 122 ).

Perbedaan

pengetahuan ini, mungkin salah satunya disebabkan belum intensifnya program penyuluhan di Puskesmas Sukarahayu Kabupaten Subang, untuk itu Kepala Puskesmas Sukarahayu Kabupaten

2. Perilaku Responden Pada tabel 3 dapat diidentifikasi bahwa 42,6% responden tidak memberikan

imunisasi hepatitis B uniject dan yang memberikan imunisasi hepatitis B uniject sebanyak 57,4%. Berdasarkan batasan perilaku dari Skiner Perilaku kesehatan adalah suatu respon seseorang

Subang sebaiknya mengambil kebijakan dan meningkatkan untuk pengawasan lebih serta

supervisi

meningkatkan

16
(organisme) terhadap stimulus atau objek yang berkaitan dengan sakit dan penyakit, sistem pelayanan kesehatan, makanan, minuman serta lingkungan. Dari batasan itu perilaku kesehatan dapat diklasifikasikan menjadi 3 kelompok, yaitu : perilaku pemeliharaan kesehatan (health maintenanc), penggunaan pelayanan Perilaku sistem kesehatan, pencarian atau atau dan dalam pemberian imunisasi hepatitis B uniject pada bayi usia 0- 28 hari di Puskesmas Sukarahau Kabupaten

Subang tahun 2011. Hasil penelitian ini sejalan dengan

pendapat Sumadi (1994), yang dikutif oleh Depkes RI (1996), menyatakan bahwa sebagian besar penyebab

fasilitas perilaku

kegagalan dalam pencegahan penyakit lebih banyak disebabkan oleh faktor ketidaktahuan mengenai penyakit dan cara pencegahan penyakit tersebut.

pencarian pengobatan (health seeking behavior), dan Perilaku kesehatan

lingkungan ( Notoatmodjo, 2003 ; 116 ). 3. Hubungan pengetahuan ibu dengan perilaku ibu yang mempunyai bayi usia 0-28 hari dalam pemberian imunisasi hepatitis B uniject. Pada tabel 4 nampak bahwa pada kelompok ibu yang mempunyai bayi usia 0-28 hari dengan tingkat pengetahuan kategori tinggi proporsi ibu yang bayinya pada

(Notoatmodjo,S. 2003; 124), Pengetahuan atau kognitif merupakan domain yang sangat penting dalam

membentuk perilaku/tindakan seseorang. Dalam penelitian ini, pengetahuan

ibu/orang tua tentang imunisasi hepatitis B uniject akan membentuk penilaian orang tua tersebut untuk melakukan pemberian imunisasi hepatitis B uniject pada anaknya. Oleh karena itu

memberikan mencapai

imunisasi 82,8%,

pada

pengetahuan predisposisi

merupakan yang penting

komponen walaupun

sedangkan

kelompok ibu yang mempunyai bayi usia 0-7 hari dengan tingkat pengetahuan kategori rendah, proporsi ibu yang 0-28 hari yang pada anaknya

peningkatan pengetahuan tidak selalu menyebabkan terjadinya perubahan

perilaku tetapi peningkatan pengetahuan mempunyai dengan dengan hubungan yang positif Dimana

mempunyai bayi usia memberikan imunisasi

perubahan adanya

perilaku.

hanya mencapai 34,4%. Setelah dianalisis lebih lanjut diketahui bahwa nilai P value 0,000 (p < 0,05) sehingga dapat disimpulkan bahwa ada hubungan yang signifikan antara tingkat pengetahuan ibu dengan perilaku ibu

peningkatan

pengetahuan, maka terjadi perubahan perilaku akan lebih cepat. Begitupun terkait dengan pencegahan hepatitis B, dengan tingkat pengetahuan orang tua yang lebih baik tentang imunisasi

17
hepatitis B uniject, maka akan melalui penyuluhan memakan waktu yang lama tetapi perubahan yang dicapai akan bersifat langgeng karena berdasarkan pada kesadaran mereka sendiri dan bukan karena paksaan. Meskipun

meningkatkan upaya orang tua dalam memberikan imunisasi hepatitis B uniject pada anaknya. Bagian yang tak kalah penting dari pelaksanan program

imunisasi di puskesmas sesuai dengan peran dan fungsi perawat adalah

pengetahuan bukan merupakan satusatunya faktor yang berpengaruh

pendidikan kesehatan dan penyuluhan tentang program imunisasi pada orang tua/ibu yang memiliki anak balita dengan tujuan untuk meningkatkan pengetahuan dan membentuk sikap positif agar mau memberikan imunisai pada anaknya

terhadap perilaku pemberian imunisasi hepatitis B uniject, namun pengetahuan merupakan domain yang sangat penting untuk terbentuknya perilaku seseorang (Notoatmodjo, 2003). SIMPULAN 1. Pengetahuan ibu yang mempunyai bayi usia 0-28 hari dalam pemberian imunisasi hepatitis B uniject diwilayah kerja

sehingga angka kesakitan Penyakit yang Dapat Dicegah Dengan Imunisasi (PD3I) dapat terus dturunkan termasuk angka kesakitan penyakit hepatitis B,

Pengetahuan tentang imunisasi hepatitis B bisa didapat dari pendidikan kesehatan (penyuluhan), media massa, media cetak seperti : brosur, leaflet, buku, majalah dan lain-lain. Pengetahuan merupakan hasil dari tahu dan ini terjadi setelah orang melakukan penginderaan terhadap suatu objek tertentu (Notoatmodjo, S. 2003 123). Dengan memberikan informasi tentang pengertian, tujuan/manfaat, jadual dan cara pemeberian serta efek samping yang mungkin imunisasi timbul hepatitis setelah B pemberian akan pada orang

Puskesmas Sukarahayu termasuk kategori tingkat pengetahuan rendah (52,5%) 2. Perilaku ibu yang mempunyai bayi usia 028 hari dalam hepatitis B pemberian uniject imunisasi kerja

diwilayah

Puskesmas Sukarahayu tidak memberikan imunisasi hepatitis B uniject ( 42,6%) 3. Hasil analisis hubung an antara tingkat pengetahuan ibu dengan perilaku ibu dalam pemberian imunisasi hepatitis B uniject pada bayi usia 0-28 hari didapatkan nilai P value 0,000 (p < 0,05) sehingga pada penelitian ini dapat disimpulkan bahwa terdapat, ibu hubungan dengan antara perilaku

uniject dan

menimbulkan akhirnya akan

kesadaran

pengetahuan

menyebabkan

pemberian imunisasi hepatitis B uniject Dari hasil analisis lebih lanjut, diperoleh nilai odds ratio (OR) 9,164 artinya

berprilaku sesuai dengan pengetahuan yang dimilikinya. Perubahan perilaku

kelompok ibu dengan tingkat pengetahuan

18
tinggi mempunyai imunisasi peluang pada untuk anaknya meningkatkan prinsip-prinsip pemahamannya penyuluhan tentang kepada

memberikan

sebesar 9,164 kali lebih besar dibanding dengan kelompok ibu dengan tingkat pengetahuan rendah (OR = 9,164 dengan 95 % CI : 2,737 30,684).

masyarakat sehingga mampu memberikan penyuluhan tentang imunisasi secara

efektif sehingga pemahaman masyarakat tentang imunisasi Hepatitis B uniject dapat terus ditingkatkan yang akan berdampak pada peningkatan perilaku pemberian

SARAN 1.

imunisasi pada anaknya.

Bagi

Kepala

Dinas

Kesehatan * Penulis merupakan staf pengajar STIKes Budi Luhur


Kabupaten

Kabupaten Subang

Kepala

Dinas

Kesehatan

Subang agar mengambil kebijakan terkait penyelenggaraan pengarahan bagi pelatihan petugas dan imunisasi

puskesmas tentang pentingya penyuluhan/ pendidikan kesehatan tentang imunisasi bagi masyakat dan Bagi Kepala

Puskesmas Subang Agar

Sukarahayu senantiasa

Kabupaten melakukan

pengawasan program imunisasi setiap triwulan, melaksanakan supervisi ke

posyandu setiap triwulan, meningkatkan pelaksanaaan penyuluhan oleh petugas kesehatan puskesmas/ Bidan desa pada waktu pelayanan posyandu khususnya tentang imunisasi hepatitis B uniject dan pembinaan kader posyandu melalui

lokakarya mini yang rutin dilkananakan setiap triwulan sekali.

2. Bagi Perawat Pelaksana Para perawat khususnya yang bekerja di Puskesmas Sukarahayu diharapkan dapat

19

DAFTAR PUSTAKA Dinas Kesehatan Kabupaten Subang, (2009). Profil Dinas Kesehatan Kabupaten Subang. Taidak diterbitkan, Subang. Elektronik Jurnal, (2005). Pembangunan Kesehatan perlu terus dipacu, diakses tanggal 19 Pebruari 2011, Sumber dari http://www.depkes.com/ (------, Maksum, http//http yarirblog.spotcom.blogspot.com 2009 diakses tanggal 20 Pebruari 2011). Hastono, S. P. (2001) Analisis Data, FKM-UI Notoatmodjo, S. (2003). Metode Penelitian Kesehatan, Edisi Revisi, Jakarta, RINEKA CIPTA. ______ (2003). Pendidkan Dan Perilaku Kesehatan, Jakarta, PT RINEKA CIPTA. ________(2004). Ilmu Kesehatan Masyarakat, Jakarta, RINEKA CIPTA. Riduwan,(2005). Belajar Mudah Penelitian untuk Guru-Karyawan dan Peneliti Pemula, Bandung, ALPABETA. Sugiyono, (2003). Metodologi Penelitian Administrasi, Bandung, ALFABETA. Supadi, S., Pramono, D. (2003). Statistika Kesehatan, Yogyakarta, Penerbit Fakultas Kedokteran UGM. Walgito, B. (2003). Psikologi Sosial, Edisi Revisi, Yogyakarta, Penerbit ANDI. ----------,http:/www.hupelita.com/baca.php .id=58166 (19 Pebruari 2011).

Ahmad, H. (2007). Menkes minta daerah daerah tak terlantarkan, Elektronik Jurnal, di akses tanggal 19 Pebruari 2011, sumber dari http://www.hupelika.com/baca.php?id =58166. Alimul Hidayat, A.(2003), Riset keperawatan dan teknik penulisan ilmiah, Edisi 1, Jakarta Salemba Medika. Anwar, A. (Elektrik Jurnal, 2003), Memahami Paradigma Baru Pendidikan Nasional Dalam Undang-Undang SISDIKNAS, poksi VI FPG PPA RI, 2003, diakses 20 Pebruari 2011 sumber dari http/:www.SISDIKNAS.com/ Arikunto, S. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Paraktek, Edisi Revisi 4 Jakarta, RINEKA CIPTA. Budiarto, E. (2003), Pengantar Epidemiologi, Edisi 2, Jakarta, PT EGC. ______(2004), Metodologi Kedoteran, Jakarta, PT EGC. Penelitian

Depkes RI, (2005). Pedoman Penyelengaraan Imunisasi, Jakarta. Ditjen PPM & PL, Depkes RI, (2002). Pedoman Penggunaan Iniject Hepatitis B, Jakarta Pusat. Ditjen PP & PL dan Pusdiklat SDM Kesehatan, Depkes RI, (2006). Modul PelatihanTenaga Pelaksana Imunisasi Puskesmas.