Anda di halaman 1dari 3

www.paksalam.wordpress.

com

Page |1

ISTIHSAN
A. PENGERTIAN

: : .
Istihsan menurut bahasa : Menganggap baik sesuatu. Menurut istilah : Beralihnya pemikiran seorang mujtahid dari tuntutan kiyas yang nyata kepada kias yang samar atau dari hukum umum kepada pengecualian karena ada kesalahan pemikiran yang kemudian memenangkan perpindahan itu. Istihsan adalah sumber hukum yang banyak dipakai dalam terminologi dan istinbath hukum oleh dua Imam Madzhab, yaitu Imam Malik dan Imam Abu Hanifah. Bahkan Imam Malik menilai pemakaian istihsan merambah 90 % dari seluruh Ilmu Fiqh. Imam Ibnu Araby membuat definisi hampir sama dengan Hanafy, yaitu Istihsan adalah memilih meninggalkan dalil, dan mengambil rukhsoh dengan hukum sebaliknya, karena dalil itu berlawanan dengan dalil lain pada sebagian kasus tertentu, ia membagi istihsan menjadi 4 macam: 1. Meninggalkan dalil karena urf 2. Meninggalkan dalil karena ijma 3. Meninggalkan dalil karena maslahat, dan 4. Meninggalkan dalil karena untuk meringankan dan menghindarkan masyaqat B. MACAM ISTIHSAN ( )

.: .:
Istihsan dibagi menjadi dua macam, 1. Mengunggulkan kias yang tersembunyi atau kias yang nyata dengan suatu dalil Contoh: Ulama Fiqh kelompok Hanafi menyebutkan bahwa orang yang mewakafkan tanah sawahnya maka hak pengairan, minum, dan jalan termasuk wakaf secara istihsan. Sedangkan menurut kias, hal-hal tersebut tidak termasuk kecuali disebutkan dalam nash, seperti jual beli. Adapun bentuk istihsannya: tujuan wakaf adalah oarang yang diberi hak wakaf dapat memanfaatkan barang yang diwakafkan.

www.paksalam.wordpress.com

Page |2

Kias yang nyata adalah menyamakan wakaf contoh diatas dengan jual beli, karena sama-sama mengeluarkan hak milik dari pemiliknya. Sedangkan kias yang tersembunyi adalah menyamakan wakaf tersebut dengan sewa-menyewa. 2. Mengecualikan sebagian hukum umum dengan suatu dalil. Contoh: Syara melarang jual beli atau aqad pada barang yang tidak ada di tempat aqad berlangsung. Tetapi secara istihsan diperbolehkan pesan-memesan, sewa-menewa, muzaroah (bagi hasil dari hasil tanah antara pemilik dengan penggarap), dan meminta pekerjaan. Semua adalah aqad. Sedangkan yang diaqadi tidak ada pada waktu aqad. Alasan istihsan adalah kebutuhan dan saling kenal mengenal diantara mereka. Imam Asy-Syarkasyi dalam kitabnya Al-Mabsuth menyimpulkan, bahwa istihsan ialah menghindarkan kesulitan demi kemudahan, sebab kemudahan merupakan unsur pokok atau prinsip dalam agama. Firman Allah:


Artinya: Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. C. Kekuatan Istihsan sebagai hujjah ()

: .
Diantara orang-orang yang berhujjah dengan istihsan adalah mayoritas kelompok Hanafi. Mereka beralasan: pengambilan dalil dengan istihsan adalah mengambil dalil dengan kias yang samar yang mengalahkan kias yang nyata atau menerangkan kias atas kias yang lainyang menentangnya karena kepentingan umum dengan cara mengecualikan sebagian dari hukum umum. Dan semua itu adalah pengambilan dalil yang benar. D. Alasan Ulama Yang Tidak Berhujjah Dengan Istihsan Sanggahan Imam Syafii terhadap Istihsan. Imam Syafii membatalkan dalil Istihsan, karena itu beliau menulis dalam pasal tersendiri dalam kitabnya Al-Umm dengan judul Ibthalul Istihsan (pembatalan dalil istihsan). 1. 2. Syariat adalah nash dan kandungan nash (acuan kepada nash) melalui qiyas. Banyak ayat yang memerintahkan agar taat kepada Allah dan Rasul-Nya, melarang mengikuti hawa nafsu dan memerintahkan ketika terjadi pertentangan agar kembali kepada kitabullah.

www.paksalam.wordpress.com

Page |3

59: -
3. 4. Nabi Muhammad tidak pernah memberikan fatwa dengan jalan istihsan. Nabi Muhammad tidak berkenan terhadap sahabat yang pergi ke daerah lain dan memberi fatwa dengan jalan istihsan. Beliau mengecam perbuatan sebagian sahabat yang membakar seorang musyrik yang berlindung di sebuah pohon. 5. 6. Istihsan tidak memiliki batasan yang jelas, tidak pula memiliki kriteria yang bisa dijadikan standar untuk membedakan antara haq dan bathil, sebagaimana halnya qiyas. Seandainya istihsan boleh dipakai oleh seorang mujtahid, sementara ia tidak berpegang pada nash atau mengacu pada nash, tetapi berpegang pada akal semata, niscaya istihsan boleh dilakukan oleh orang yang tidak memehami Al-Quran dan Hadits.

--oOo--