Anda di halaman 1dari 3

Issue Globalisasi dan Batasan Kebudayaan Oleh: Annisa Dwi Marifah/ Fakultas Ilmu Keperawatan/ 1006759454 Mata Kuliah:

Pengantar Antropologi Keyakinan sederhana dan kuat tentang globalisasi adalah termampatkannya jarak dan waktu, bahkan karena keduanya dikatakan pula bahwa ide-idepun termampatkan. Globalisasi pada hakikatnya adalah suatu proses dari gagasan yang dimunculkan, kemudian ditawarkan untuk diikuti oleh bangsa lain yang akhirnya sampai pada suatu titik kesepakatan bersama dan menjadi pedoman bersama bagi bangsa-bangsa di seluruh dunia (Edison dkk, 2005). Lodge (1993) mengetengahkan pengertian globalisasi yang lebih menekankan kepada dimensi kedekatan antarnegara bangsa yang didorong oleh informasi, perdagangan, dan modal, serta dipercepat dengan kemajuan teknologi. Seorang pakar komunikasi yakni Alwi Dahlan (1996) mengatakan bahwa proses globalisasi berjalangan dengan sangat cepat, sehingga mendorong perubahan para lembaga, pranata, dan nilai-nilai sosial budaya (social and culture values). Dampak lebih lanjut globalisasi menyebabkan terjadinya perubahan tingkahlaku, seperti gaya hidup (life style) dan struktur masyarakat menuju kearah kesamaan (convergence) global yang dapat menembus batas-batas etnik, agama, daerah, wilayah, bahkan negara. Seorang ahli sejarah yaitu Sartono Kartodirdjo (1993) memaknai globalisasi yang ditinjau dari sudut pandang sejarah. Beliau menegaskan bahwa terdapat persitiwa-peristiwa dalam sejarah dunia yang meninggalkan proses globalisasi antara lain : Ekspansi eropa dengan navigasi dan perdagangan; Revolusi industri yang mendorong percarian pasaran hasil industri; Pertumbuhan kolonialisme dan imperialisme; Pertumbuhan kapitalisme; Pada masa pasca Perang Dunia II meningkatlah telekomunikasi dan transportasi mesin jet.

Berdasarkan telaahan tentang pengertian globalisasi sebagaimana dikemukakan di atas, selanjutnya dapat ditegaskan bahwa globalisasi merupakan sebuah proses mendunianya sebuah

kebudayaan, baik disengaja maupun tidak, yang dapat memberikan pengaruh kepada sikap dan perilaku manusia dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara, terutama tersedianya fasiliras media komunikasi dan informasi serta transportasi, yang dapat memperpendek atau memperdekat jarak-jarak batas territorial antaregara di belahan dunia ini. Globalisasi yang terjadi dalam berbagai aspek kehidupan masyarakat, baik dalam level nasional, regional, maupun internasional, dipastikan akan membawa sejumlah dampak atau akibat yang terjadi. Intensitas dampak dalam setiap level tersebut, sudah barang tentu tidak sama, hal ini disangat dipengaruhi oleh sikap mental masyarakatnya dalam menerima atau menolak globalisasi tersebut. Mochtar Masoed (1998) mengemukakan adanya tiga posisi negara atau bangsa dalam menanggapi atau mereaksi terhadap masalah global, yaitu (a) zero-sum nationalism, (b) laissezfaire cosmopolitanisme, dan (c) positive-economic nationalism. Berikut ketiganya dijelaskan secara lebih rinci. Zero-Sum Nationalism, yakni posisi yang menginginkan agar pemerintah mengutamakan kepentingan nasional, sekalipun hal itu dapat merugikan kepentingan negara lain. Sementara itu, Laissez-faire cosmopolitanism, menginginkan pemerintah harus minggir dari arena ekonomi nasional maupun internasional. Sedangkan possitive economic nationalism, menghendaki agar setiap negara memikul tanggungjawab untuk meningkatkan secara optimal kemampuan anggota masyarakatnya sehingga mencapai kehidupan yang produktif, tetapi pada saat bersamaan, kerjasama dengan negara-negara lain harus lebih ditingkatkan untuk menjamin agar peningkatan itu tidak merugikan bangsa-bangsa lainnya. Tanggapan secara individu akan issue globalisasi dan batasan kebudayaan Arus globalisasi saat ini telah menimbulkan pengaruh terhadap perkembangan budaya bangsa Indonesia. Derasnya arus informasi dan telekomunikasi menimbulkan kecenderungan yang mengarah terhadap memudarnya nilai-nilai pelestarian budaya. Kita sering mendengar anak muda mengunakan bahasa Indonesia yang dicampur dengan bahasa inggris seperti OK, No problem dan Yes bahkan kata-kata makian (umpatan) sekalipun yang sering kita dengar di filmfilm barat, sering diucapkan dalam kehidupan sehari-hari. Kata-kata ini disebarkan melalui media TV dalam film-film, iklan, dan sinetron bersamaan dengan disebarkannya gaya hidup dan fashion . Gaya berpakaian remaja Indonesia yang dulunya menjunjung tinggi norma kesopanan telah berubah seiring perkembangan zaman. Ada kecenderungan bagi remaja putri di kota-kota

besar memakai pakaian minim dan ketat yang memamerkan bagian tubuh tertentu. Bisa jadi budaya perpakaian minim ini dianut dari film-film dan majalah-majalah luar negeri yang ditransformasikan kedalam sinetron-sinetron Indonesia. Derasnya arus informasi, yang juga ditandai dengan hadirnya internet, turut serta menyumbang bagi perubahan cara berpakaian. Pakaian mini dan ketat telah menjadi trend di lingkungan anak muda. Salah satu keberhasilan penyebaran kebudayaan Barat ialah meluasnya anggapan bahwa ilmu dan teknologi yang berkembang di Barat merupakan suatu yang universal. Masuknya budaya barat (dalam kemasan ilmu dan teknologi) tanpa filter yang baik. Pada sisi inilah globalisasi telah merasuki berbagai sistem nilai sosial dan budaya Timur (termasuk Indonesia ) sehingga terbuka pula issue dampak globalisasi dengan batasan-batasan kebudayaan. Daftar Pustaka Alwi Dahlan. M. 1996. Globalisasi Wawasan, Komunikasi, dan Informasi : Tantangan Akademisi Masa Depan. Jakarta : BP-7 Pusat Edison dkk. (2005). Kewarganegaraan. Jakarta: Bumi Akasara