Anda di halaman 1dari 2

Jian Septian F24090046 Tugas Gender dan Pembangunan Feminisme sebagai filsafat dan gerakan dapat dilacak dalam

sejarah kelahirannya dengan kelahiran Era pencerahan di Eropa yang dipelopori oleh Lady Mary Wortley Montagu dan Marquis de Condoreet. Perempuan di Negara-negara penjajah Eropa memperjuangkan apa yang mereka sebut sebagai universal sisterhood. Sejalan dengan perkembangan feminis di Eropa, ternyata feminis pun berkembang di Asia. Salah satu tokoh feminis dari Asia yakni Kwok Pui Lan.

Kwok Pui Lan adalah seorang perempuan Cina yang dibesarkan di Hongkong. Ia adalah seorang teolog feminis dan teolog agama-agama di Asia. Ia juga merupakan anggota Gereja Anglikan dan memperoleh pendidikan teologinya di Hongkong dan Amerika Serikat. Sekarang ia mengajar di Cambridge, Amerika Serikat. Ia aktif dalam dunia feminis dan menjadi teolog feminis di negaranya. Pemikiran-pemikiran teologisnya ia gunakan dalam pendekatan post-kolonial. Kwok Pui Lan memulai teologi feminis post-kolonialnya dengan melukis ulang identitasnya sebagai perempuan Kristen Cina. Ia bersama perempuan Cina lainnya hidup di dalam tepian sejara dan gereja. Meskipun demikian, Pui Lan melihat tepian sebagai titik berangkat ideal dalam berteologi feminis post-kolonial. Ia melihat tepian secara positif sebagai tempat mengawali perlawanan. Tepian menjauhkannya dari pengaruh negatif teologi yang dikerjakan kelas menengah Barat yang erosentrik. Sedangkan pemikirannya mengenai teologi agama-agama disebut olehnya sebagai teologi post-kolonial tentang perbedaan agama. Sesuai dengan nama post-kolonial yang dipakainya, Pui-lan memulai teologinya dengan menganalisis secara post-kolonial terhadap cara pandang kekristenan terhadap tradisi-tradisi religius yang lain selama ini, khususnya pada periode menguatnya kolonialisme politik Barat yang membawa pengaruh dan perubahan besar pada dunia, baik dunia Barat sendiri maupun dunia Timur yang dikuasai. Pengaruh dan perubahan besar tersebut meliputi semua aspek kehidupan, termasuk aspek religius.

Aruna Gnanadason adalah teolog feminis yang berasal dari India. Ia bekerja sebagai seorang kordinator Women's Programme within Unit III, Justice, Peace and Creation of the World Council of Churches. Teologi feminis yang ia kembangkan di India adalah dalam konteks India melalui gambaran tradisi Shiva di India.

Pemikiran
Dalam tradisi Shiva di India, apabila Yang Mutlak dilihat sebagai laki-laki dan perempuan-Shiva dan Shakti- yang perempuan merupakan asas yang aktif, dinamis. Shakti berarti tenaga, daya kekuatan dan kekuatan feminin. Kekuatan yang dimaksud lebih dari kekuatan ekonomi, politik, sosial, dan kultural, bukan kekuatan mendominasi atau menindas. Pengalaman kehidupan yang tak bersuara, tak berwajah dan tak berdaya perempuan Asia yang mencari kekuatan yang teratur adalah spiritualitas. Usaha perempuan untuk beristirahat melalui budaya diam dan mengubah kesakitan mereka ke dalam kekuatan politik merupakan pengalaman spiritual. Usaha perempuan untuk menarik diri atau keluar dari keadaan tertekan, nyanyian mereka, dan cerita-cerita mereka tentang perjuangan dan pembebasan sangatlah spiritual. Inilah spiritualitas yang mengatakan Ya pada kehidupan dan Tidak pada kematian. Dalam persaudaraan perempuan, dalam solidaritas dengan semua orang lain yang tertindas, dalam kesederhanaan gaya hidup gerakan perempuan, dan dalam komitmen mereka untuk menyembuhkan ciptaan dan dunia yang terluka, perempuan-perempuan mengekspresikan spiritualitas feminis Asia. Di seluruh dunia, perempuan-perempuan mengakui bahwa untuk waktu yang lama mereka tinggal diam saat tubuh dan jiwa mereka menjadi target dari kekerasan. Dunia mengekspresikan keberanian dan perlawanan untuk memberikan tanda-tanda pengharapan bagi mereka. Akan tetapi, gereja di dunia ini hanya tinggal diam mengenai kekerasan melawan perempuan. Isu seperti ini sering ditindak sebagai marginal dan tidak diakui sebagai sebuah isu utama bagi kehidupan gereja dan kesaksian. Dua abad yang lalu, gerakan perempuan masuk ke dalam beberapa dimensi dan tingkat pengalaman kekerasan perempuan dalam masyarakat, misalnya di tempat kerja dan wilayah publik. Kebenaran memperlihatkan bahwa mereka harus diberi kuasa untuk mengakui bahwa mereka membutuhkan untuk tidak menanggung dengan diam pukulan dari masyarakat dehumanisasi bahwa secara sistematik harus mengampuni dan mengesahkan kekerasan. Gerakan ini menciptakan ruang dan iklim bagi para perempuan agar dapat menceritakan kisah intimidasi fisik dan mental serta mengekspresikan kesakitannya.