Anda di halaman 1dari 19

MAKALAH SUMBER AJARAN ISLAM AGAMA AL-QURAN

oleh: Kelompok II
Ade Fitria Dori( 55104)

FAKULTAS ILMU-ILMU SOSIAL UNIVERSITAS NEGERI PADANG 2011

KATA PENGATAR

Puji syukur atas kehadiran Allah SWT yang telah memberikan rahmat dan aruniaNya yang dilimpahkan kepada kami. Sehingga kami dapat

menyelesaikan tugas makalah ini dari awal hingga akhir. Walaupun penulis menyelesaikan makalah ini dalam bentuk yang sederhana. Makalah ini penulis buat untuk memenuhi tugas mata kuliah Agama Islam. Makalah ini berjudul Sumber Ajaran Agama Islam Al-Quran. Kami membahas mengenai pengertian Al-Quran, Kandungan Al-Quran, Peranan AlQuran, Sejarah pemeliharaan Al-Quran, dan Al-Quran sebagai pedoman hidup. Kami menyadari bahwa hasil makalah ini jauh dari kesempurnaan, untuk itu kami memohon maaf yang sebesar besarnya bila ada kekurangan dan kesalahan dalam penyusunan makalah ini. Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi kita semua.

Terimakasih Padang, Maret 2011

Kelompok II

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL KATA PENGANTAR DAFTAR ISI BAB I PENDAHULUAN A. Pendahuluan B. Latar Belakang C. Tujuan

BAB II ISI a. Pengertian Al-Quran b. Kandungan Al-Quran c. Peranan Al-Quran d. Sejarah Pemeliharaan Al-Quran e. Al-Quran sebagai pedoman hidup

BAB III PENUTUP A. Simpulan

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Untuk memenuhi tugas matakuliah umum Agama Islam mengenai Sumber Ajaran Islam Al-quran. B. Rumusan Masalah Di dalam makalah ini kami membahas Sumber Ajaran Islam meliputi: a. pengertian Al-Quran, b. Kandungan Al-Quran, c. Peranan Al-Quran, d. Sejarah pemeliharaan Al-Quran, dan e. Al-Quran sebagai pedoman hidup. Al-Quran yaitu

B. Tujuan Tujuan dari makalah ini adalah 1. Dapat memberikan manfaat bagi pembaca 2. Memberikan tambahan ilmu pengetahuan bagi pembaca mengenai Sumber Ajaran Islam Al-Quran.

BAB II PEMBAHASAN ISI

SUMBER AJARAN ISLAM AL-QURAN


A. PENGERTIAN AL-QURAN Al-Quran adalah kitab suci agama islam untuk seluruh umat muslim di seluruh dunia dari awal diturunkan hingga waktu penghabisan spesies manusia di dunia baik di bumi maupun di luar angkasa akibat kiamat besar. Secara Bahasa (Etimologi) Merupakan mashdar (kata benda) dari kata kerja Qoro-a ( ) yang bermakna Talaa ([ ) keduanya berarti: membaca], atau bermakna Jamaa (mengumpulkan,

mengoleksi). Anda dapat menuturkan, Qoro-a Qoran Wa Quraanan () sama seperti anda menuturkan, Ghofaro Ghafran Wa Qhufroonan (.) Berdasarkan makna pertama (Yakni: Talaa) maka ia adalah mashdar (kata benda) yang semakna dengan Ism Mafuul, ertinya Matluw (yang dibaca). Sedangkan berdasarkan makna kedua (Yakni: Jamaa) maka ia adalah mashdar dari Ism Faail, ertinya Jaami (Pengumpul, Pengoleksi) kerana ia mengumpulkan/mengoleksi berita-berita dan hukumhukum.* Secara Syariat (Terminologi) Adalah Kalam Allah taala yang diturunkan kepada Rasul dan penutup para Nabi-Nya, Muhammad shallallaahu alaihi wasallam, diawali dengan surat al-Fatihah dan diakhiri dengan surat an-Naas. Allah taala berfirman, Sesungguhnya Kami telah menurunkan al-Quran kepadamu (hai Muhammad) dengan beransur-ansur. (al-Insaan:23)

Dan firman-Nya, Sesungguhnya Kami menurunkannya berupa al-Quran dengan berbahasa Arab, agar kamu memahaminya. (Yusuf:2) Allah taala telah menjaga al-Quran yang agung ini dari upaya merubah, menambah, mengurangi atau pun menggantikannya. Dia taala telah menjamin akan menjaganya sebagaimana dalam firman-Nya, Sesunggunya Kami-lah yang menurunkan al-Quran dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya. (al-Hijr:9) Oleh kerana itu, selama berabad-abad telah berlangsung namun tidak satu pun musuhmusuh Allah yang berupaya untuk merubah isinya, menambah, mengurangi atau pun menggantinya. Allah SWT pasti menghancurkan tabirnya dan membuka tipudayanya. Allah taala menyebut al-Quran dengan sebutan yang banyak sekali, yang menunjukkan keagungan, keberkatan, pengaruhnya dan keuniversalannya serta menunjukkan bahawa ia adalah pemutus bagi kitab-kitab terdahulu sebelumnya. Allah taala berfirman, Dan sesunguhnya Kami telah berikan kepadamu tujuh ayat yang dibaca berulang-ulang dan al-Quran yang agung. (al-Hijr:87) Dan firman-Nya, Qaaf, Demi al-Quran yang sangat mulia. (Qaaf:1) Dan firman-Nya, Maha suci Allah yang telah menurunkan al-Furqaan (al-Quran) kepada hamba-Nya, agar dia menjadi pemberi peringatan kepada seluruh alam (jin dan manusia). (al-Furqaan:1) Sedangkan Sunnah Nabi shallallaahu alaihi wasallam juga merupakan sumber Tasyri (legislasi hukum Islam) sebagaimana yang dikukuhkan oleh al-Quran. Allah taala berfirman, Barangsiapa yang mentaati Rasul itu, sesungguhnya ia telah mentaati Allah. Dan barangsiapa yang berpaling (dari ketaatan itu), maka Kami tidak mengutusmu untuk menjadi pemelihara bagi mereka. (an-Nisa:80)

B. KANDUNGAN AL-QURAN Di dalam surat-surat dan ayat-ayat alquran terkandung kandungan yang secara garis besar dapat kita bagi menjadi beberapa hal pokok atau hal utama beserta pengertian atau arti definisi dari masing-masing kandungan inti sarinya, yaitu sebagaimana berikut ini : 1. Aqidah / Akidah Aqidah adalah ilmu yang mengajarkan manusia mengenai kepercayaan yang pasti wajib dimiliki oleh setiap orang di dunia. Alquran mengajarkan akidah tauhid kepada kita yaitu menanamkan keyakinan terhadap Allah SWT yang satu yang tidak pernah tidur dan tidak beranak-pinak. Percaya kepada Allah SWT adalah salah satu butir rukun iman yang pertama. Orang yang tidak percaya terhadap rukun iman disebut sebagai orang-orang kafir. 2. Ibadah Ibadah adalah taat, tunduk, ikut atau nurut dari segi bahasa. Dari pengertian "fuqaha" ibadah adalah segala bentuk ketaatan yang dijalankan atau dkerjakan untuk mendapatkan ridho dari Allah SWT. Bentuk ibadah dasar dalam ajaran agama islam yakni seperti yang tercantum dalam lima butir rukum islam. Mengucapkan dua kalimah syahadat, sholat lima waktu, membayar zakat, puasa di bulan suci ramadhan dan beribadah pergi haji bagi yang telah mampu menjalankannya. 3. Akhlaq / Akhlak Akhlak adalah perilaku yang dimiliki oleh manusia, baik akhlak yang terpuji atau akhlakul karimah maupun yang tercela atau akhlakul madzmumah. Allah SWT mengutus Nabi Muhammd SAW tidak lain dan tidak bukan adalah untuk memperbaiki akhlaq. Setiap manusia harus mengikuti apa yang diperintahkanNya dan menjauhi laranganNya. 4. Hukum-Hukum Hukum yang ada di Al-quran adalah memberi suruhan atau perintah kepada orang yang beriman untuk mengadili dan memberikan penjatuhan hukuman hukum pada sesama manusia yang terbukti bersalah. Hukum dalam islam berdasarkan Alqur'an ada beberapa jenis atau macam seperti jinayat, mu'amalat, munakahat, faraidh dan jihad.

5. Peringatan / Tadzkir Tadzkir atau peringatan adalah sesuatu yang memberi peringatan kepada manusia akan ancaman Allah SWT berupa siksa neraka atau waa'id. Tadzkir juga bisa berupa kabar gembira bagi orang-orang yang beriman kepadaNya dengan balasan berupa nikmat surga jannah atau waa'ad. Di samping itu ada pula gambaran yang menyenangkan di dalam alquran atau disebut juga targhib dan kebalikannya gambarang yang menakutkan dengan istilah lainnya tarhib. 6. Sejarah-Sejarah atau Kisah-Kisah Sejarah atau kisah adalah cerita mengenai orang-orang yang terdahulu baik yang mendapatkan kejayaan akibat taat kepada Allah SWT serta ada juga yang mengalami kebinasaan akibat tidak taat atau ingkar terhadap Allah SWT. Dalam menjalankan kehidupan sehari-hari sebaiknya kita mengambil pelajaran yang baik-baik dari sejarah masa lalu atau dengan istilah lain ikibar.

7. Dorongan Untuk Berpikir Di dalam al-qur'an banyak ayat-ayat yang mengulas suatu bahasan yang memerlukan pemikiran menusia untuk mendapatkan manfaat dan juga membuktikan kebenarannya, terutama mengenai alam semesta.

C. PERANAN AL-QURAN Dalam usaha untuk mendekatkan diri kita kepada al-Quran, marilah sama-sama kita renungkan beberapa peranan al-Quran kepada manusia: 1. Peringatan kepada seluruh alam. 2. Petunjuk bagi mereka yang inginkannya. 3. Cahaya dari Allah Subhanahu wa Taala. 4. Tali Allah Subhanahu wa Taala yang kukuh. 5. Rugi jika tinggalkan al-Quran dan mencari hidayah melalui sumber lain.

D. SEJARAH PEMELIHARAAN AL-QURAN

Pada permulaan Islam bangsa Arab adalah satu bangsa yang buta huruf , amat sedikit di antara mereka yang pandai menulis dan membaca. Bangsa Arab masih belum mengenal kertas seperti yang sekarang ini, jadi bagi mereka yang dapat menulis dan membaca, biasanya menuliskannya pada benda apa saja yang bisa di tulisi.

Masa Nabi Muhammad s.a.w

Walaupun bangsa Arab pada waktu itu masih buta huruf , tapi mereka mempunyai ingatan yang sangat kuat. Pegangan mereka dalam memelihara dan meriwayatkan syairsyair dari para pujangga, peristiwa-peristiwa yang terjadi dan lain sebagainya adalah dengan hafalan semata. Karena hal inilah Nabi mengambil suatu cara praktis yang selaras dengan keadaan itu dalam menyiarkan dan memelihara Al-Qur'anul Karim. Setiap ayat yang diturunkan, Nabi menyuruh menghafalnya, dan menuliskannya di batu, kulit binatang, pelapah kurma, dan apa saja yang bisa dituliskan. Nabi menerangkan tertib urut ayat ayat itu. Nabi mengadakan peraturan, yaitu Al-Qur'an saja yang boleh dituliskan, selain dari Al- Qur'an, Hadits atau pelajaran-pelajaran yang mereka dengar dari mulut Nabi dilarang untuk dituliskan. Larangan ini dengan maksud agar Al-Qur'an itu terpelihara, jangan dicampur aduk dengan yang lain-lain yang juga didengar dari Nabi.

Nabi menganjurkan agar Al-Qur'an dihafal, selalu dibaca, dan diwajibkannya untuk dibaca ketika sedang melakukan Shalat. Dengan cara demikian, banyaklah orang yang haf al Al-Qur'an. Surat yang satu macam, dihafal oleh ribuan manusia, dan banyak yang hafal seluruh Al-Qur'an. Selain itu, tidak ada satu ayatpun yang tidak dituliskan. Kepandaian menulis dan membaca itu amat dihargai dan Nabi sangat gembira, beliau berkata: "Di Akhirat nanti tiinta ulama- ulama itu akan ditimbang dengan darah syuhada" Dengan demikian terdapat 3 unsur yang dapat memelihara Al-Qur'an yang telah diturunkan, yaitu: 1. Hafalan dari mereka yang haf al Al-Qur'an. 2. Naskah-naskah yang ditulis oleh Nabi

3. Naskah-naskah yang ditulis oleh mereka yang pandai menulis dan membaca untuk mereka masing-masing. Selain itu, sekali dalam setahun, Jibril mengadakan ulangan (repetisi).

Pada waktu itu Nabi diperintah untuk mengulang memperdengarkan Al-Qur'an yang telah diturunkan. Di tahun beliau wafat, ulangan tersebut oleh Jibril sebanyak dua kali. Nabi sendiripun sering mengadakan ulangan terhadap sahabat-sahabatnya di depan muka beliau untuk menetapkan atau membetulkan hafalan atau bacaan mereka. Ketika Nabi waf at, Al-Qur'an tersebut telah sempurna diturunkan dan telah dihafal oleh ribuan manusia, dan telah dituliskan semua ayat ayatnya. Semua ayatnya telah disusun dengan tertib menurut urutan yang ditujikan sendiri oleh Nabi. Mereka telah mendengan AlQur'an itu dari mulut Nabi sendiri berkali-kali dalam Shalat, khutbah, dan pelajaranpelajaran lainnya. Pendek kata Al-Qur'an tersebut telah terjaga dengan baik, dan Nabi telah menjalani satu cara yang sangat praktis untuk memelihara dan menyiarkan AlQuran itu sesuai dengan keadaan bangsa Arab di waktu itu. Suatu hal yang menarik perhatian, ialah Nabi baru waf at dikala Al-Qur'an itu telah cukup diturunkan, dan AlQur'an itu sempurna diturunkan di waktu Nabi telah mendekati masanya untuk kembali ke hadirat Allah S.W.T. Hal ini bukan suatu kebetulan saja, tapi telah diatur oleh yang maha esa.

Masa Abu Bakar Setelah Rasulullah wafat, sahabat baik Anshar maupun Muhajirin sepakat mengangkat Abu Bakar menjadi Khalifah. Pada awal masa pemerintahannya banyak orang-orang Islam yang belum kuat imannya. Terutama di Nejed dan Yaman, banyak yang menjadi murtad, menolak membayar zakat, dan ada pula yang mengaku dirinya sebagai nabi. Hal ini dihadapi oleh Abu Bakar dengan tegas, sehingga ia berkata pada orang-orang tersebut "Demi Allah! Kalau mereka menolak untuk memnyerahkan seekor anak kambing sebagai zakat (seperti apa) yang pernah mereka serahkan kepada Rasulullah, niscaya aku akan memerangi mereka". Maka terjadilah peperangan yang hebat untuk menumpas orangorang murtad dan pengikut nabi palsu tersebut. Diantara peperangan itu yang terkenal adalah peperangan Yamamah. Tentara Islam yang ikut banyak dari para sahabat yang

menghaf al Al-Qur'an. Dalam peperangan ini telah gugur 70 orang penghafal Al-Qur'an. Bahkan sebelumnya telah pula gugur hampir sebanyak itu penghaf al Al-Qur'an lainnya.

Dalam usaha mengumpulkan ayat-ayat Al-Qur'an itu Zaid bin Tsabit bekerja amat teliti. Sekalipun beliau hafal Al-Qur'an seluruhnya, tetapi untuk kepentingan pengumpulan Al-Qur'an yang sangat penting bagi umat Islam itu, masih memandang perlu mencocokkan haf alan atau catatan sahabatsahabat yang lain dengan disaksikan oleh dua orang saksi. Dengan demikian Al-Qur'an seluruhnya telah ditulis oleh Zaid bin Tsabit dalam lembaran-lembaran yang diikat dengan benar, tersusun menurut urutan ayat-ayatnya sebagaimana yang telah ditetapkan oleh Rasulullah, kemudian diserahkan kepada Abu Bakar. Mushaf ini tetap di tangan Abu Bakar sampai beliau waf at, kemudian dipindahkan ke rumah Umar bin Khatab dan tetap di sana selama pemerintahannya. Setelah beliau waf at, Mushaf itu dipindahkan ke rumah Haf sah, puteri Umar, istri Rasulullah sampai masa pengumpulan dan penyusunan Al-Qur'an di masa Khalif ah Utsman.

Membukukan Al-Qur'an di masa Utsman r.a. Di masa Khalifah Utsman bin Affan, pemerintahan mereka telah sampai ke Armenia dan Azarbaiyan di sebelah timur dan Tripoli di sebelah barat. Dengan demikian kelihatanlah bahwa kaum muslimin di waktu itu telah terpencar-pencar di Mesir, Syirtia, Irak, Persia dan Af rika. Kemanapun mereka pergi dan mereka tinggal, Al-Qur'an itu tetap menjadi Imam mereka, diantara mereka banyak yang menghafal Al-Qur'an itu. Pada mereka terdapat naskah-naskah Al-Qur'an, tetapi naskah-naskahyang mereka punya itu tidak sama susunan surat-suratnya. Terdapat juga perbedaan tentang bacaan Al-Qur'an tersebut. Asal mulanya perbedaan tersebut adalah karena Rasulullah sendiripun memberikan kelonggaran kepada kabilah-kabilah Arab yang berada di masanya untuk membaca dan melafazkan Al-Qur'an itu menurut dialek mereka masing-masing. Kelonggaran ini diberikan oleh Nabi supaya mereka menghaf al Al-Qur'an. Tetapi kemudian terlihat tanda-tanda bahwa perbedaan tentang bacaan tersebut bila dibiarkan akan mendatangkan perselisihan dan perpecahan yang tidak diinginkan dalam kalangan kaum Muslimin. Orang yang pertama memperhatikan hal ini adalah seorang sahabat

yang bernama Huzaif ah bin Yaman. Ketika beliau ikut dalam pertempuran menaklukkan Armenia di Azerbaiyan, dalam perjalanan dia pernah mendengan pertikaian kaum Muslimin tentang bacaan beberapa ayat Al-Qur'an, dan pernah mendengan perkataan seorang Muslim kepada temannya: "Bacaan saya lebih baik dari bacaanmu".

Keadaan ini mengagetkannya, maka pada waktu dia telah kembali ke Madinah, segera ditemuinya Utsman bin Affan, dan kepada beliau diceritakannya apa yang dilihatnya mengenai pertikaian kaum Muslimin tentang bacaan Al-Qur'an itu seraya berkata: "Susullah umat Islam itu sebelum mereka berselisih tentang Al-Kitab, sebagai perselisihan Yahudi dan Nasara(Nasrani)". Maka Khalif ah Utsman bin Af f an meminta Haf sah binti Umar lembaran-lembaran AlQur'an yang ditulis di masa Khalifah Abu Bakar yang di simpan olehnya untuk disalin. Oleh Utsman dibentuklah satu panitia yang terdiri dari Zaid bin Tszabit sebagai ketua, Abdullah bin Zubair, Sa'id bin 'Ash dan Abdur Rahman bin Harits bin Hisyam.

Tugas panitia ini adalah membukukan Al-Qur'an dengan menyalin dari lembaranlembaran tersebut menjadi buku. Dalam pelaksanaan tugas ini, Utsman menasehatkan agar: Mengambil pedoman kepada bacaan mereka yang haf al Al-Qur'an. Bila ada pertikaian antara mereka tentang bahasa (bacaan), maka haruslah dituliskan menurut dialek suku Quraisy, sebab Al-Qur'an itu diturunkan menurut dialek mereka. Maka tugas tersebut dikerjakan oleh para panitia, dan setelah tugas selesai, maka lembaranlembaran Al-Qur'an yang dipinjam dari Haf sah itu dikembalikan kepadanya. Al-Qur'an yang telah dibukukan itu dinamai dengan "Al-Mushhaf", dan oleh panitia ditulis lima buah Al Mushhaf , Empat buah diantaranya dikirim ke Mekah, Syiria, Basrah dan Kuf ah, agar di tempat tempat tersebut disalin pula dari masing-masing Mushhaf itu, dan satu buah ditinggalkan di Madinah, untuk Utsman sendiri, dan itulah yang dinamai dengan "Mushhaf Al Imam".

Setelah itu Utsman memerintahkan mengumpulkan semua lembaran-lembaran yang bertuliskan Al- Qur'an yang ditulis sebelum itu dan membakarnya. Maka dari

Mushhaf yang ditulis di zaman Utsman itulah kaum Muslimin di seluruh pelosok menyalin Al-Qur'an itu. Dengan demikian, maka pembukuan Al-Qur'an di masa Utsman memiliki faedah diantaranya: 1. Menyatukan kaum Muslimin pada satu macam Mushhaf yang seragam ejaan tulisannya. 2. Menyatukan bacaan, walaupun masih ada kelainan bacaan, tapi bacaan itu tidak berlawanan dengan ejaan Mushhaf -mushhaf Utsman. Sedangkan bacaan-bacaan yang tidak sesuai dengan ejaan Mushhaf -mushhaf Utsman tidak dibolehkan lagi. 3. Menyatukan tertib susunan surat-surat, menurut tertib urut seperti pada Mushhaf mushhaf sekarang. Di samping itu Nabi Muhammad s.a.w. sangat menganjurkan agar para sahabat menghaf al ayat-ayat Al-Qur'an. Karena itu banyak sahabat-sahabat yang menghaf alnya baik satu surat, ataupun seluruhnya. Kemudian di zaman tabi'ien, tabi'it, tabi'ien dan selanjutnya usaha-usaha menghafal AlQur'an ini dianjurkan dan diberi dorongan oleh para Khalif ah sendiri. Pada zaman sekarang di Mesir, di sekolah-sekolah Awaliyah diwajibkan untuk menghafal Al-Qur'an bila mereka ingin menamatkan pelajaran sekolah awaliyah dan hendak meneruskan pelajarannya ke sekolah-sekolah mualimin, begitu juga di pesantren-pesantren di Indonesia, sehingga Al-Qur'an dapat dihaf al oleh jutaan umat Islam di seluruh dunia. Dengan demikian terbuiktilah firman Allah: "Sesungguhnya Kami telah menurunkan Al-Qur'an, dan sesungguhnya Kami tetap memeliharanya " ( Surat (15) Al Hijr Ayat 9)

D. AL-QURAN SEBAGAI PEDOMAN HIDUP


Dengan kitab itulah Allah menunjuki orang-orang yang mengikuti keridhaan-Nya kejalan keselamatan, dan (dengan kitab itu pula) Allah mengeluarkan orangorang itu dari gelap gulita kepada cahaya yang terang benderang dengan seizinNya, dan menunjuki mereka kejalan yang lurus.(Q.S. Al-Maaidah [5]: 16).

Alkisah, terdapatlah seorang pengembara yang terbangun dari keadaan tidak sadar dan mendapati dirinya di tengah hutan. Dia tidak tahu di mana ia berada, dari mana dia berasal, siapa dia, dan untuk apa dia ada di hutan itu. Yang dia tahu adalah bahwa dia berada di sebuah hutan belantara, dikelilingi belukar lebat, pepohonan, binatang liar, dan tanpa ada seorang manusiapun untuk tempat bertanya. Di sekitar tempat dirinya terbangun, tidak dia menemukan apapun yang bisa mengingatkan dirinya akan asalusulnya, dan kenapa dia ada ditempat itu. Seiring waktu berjalan, dia mencapai titik lelah untuk mencari siapa dirinya, dan kenapa dia berada di tempat itu. Akhirnya, yang lakukan dia dalam keseharian hanyalah bertahan hidup, tanpa tujuan dan arah yang pasti. Hingga suatu ketika datang seseorang yang mengaku sebagai utusan maha raja, yang menerangkan jati dirinya melalui sebuah surat dari sang raja, bahwa dia adalah seorang pangeran, yang berada dari suatu negeri, diutus ke tempat ini untuk mencari harta karun. Buktinya adalah secarik kertas kecil yang diselipkan di bajunya, berisi catatan tentang siapa dia dan misi apa yang dia bawa di hutan. Cerita pengembara di atas, jika dianalogikan atau diandaikan dengan kehidupan kita sebagai manusia ibarat pengembara yang hidup di hutan dunia. Seandainya saja tidak ada utusan yang membawa petunjuk, tentulah kita akan tersesat dan kebingungan dalam mengarungi hidup ini. Sebgaimana mereka yang tidak beriman seperti kaum materialis, atheis, dan hedonis yang hidup dalam kesesatan. Maka bersyukurlah kita yang mendapatkan petunjuk dari utusan Allah yaitu Muhammad SAW, yang menyampaikan kabar gembira, memberi peringatan, dan menerangkan hakikat penciptaan kita di dunia. Bersama Beliau, diturunkanlah Alquran sebagai pedoman hidup. Alquran Sebagai Mukjizat Untuk memperkuat dakwah yang disampaikan, Allah memberikan keistimewaan bagi para rasul yang disebut dengan mukjizat. Bagi seorang Rasul, mukjizat yang satu berbeda dengan yang lain. Biasanya, ada dua macam mukjizat yaitu yang bersifat materi/fisik, dan yang bersifat non materi, namun bisa ditangkap dengan ketajaman akal

dan rasa. Alquran adalah mukjizat Nabi Muhammad SAW yang berupa fisik, akan tetapi juga mengandung mukjizat non-fisik yang luar biasa dibalik teks-teksnya. Maka pantas jika dikatakan bahwa Alquran adalah mukjizat Nabi Muhammad SAW yang terbesar dan tidak dibatasi oleh waktu dan tempat. Secara jelas Alquran telah memperlihatkan kemukjizatannya dalam sejarah manusia. Ketika Alquran dilaksanakan dan diamalkan dengan kesungguhan, maka ia dapat menciptakan peradaban besar yang menguasai dunia dengan keadilan dan kesejahteraan. Lihat saja dulu, ketika Islam mengalami kejayaan, kaum Muslim meletakkan Alquran sebagai landasan bagi setiap hukum dan ilmu, maka seluruh bidang kehidupan mengalami kemajuan yang sangat pesat. Kaum Muslimin bahkan menjadi rujukan para ilmuwan dari negeri lain. Kaum Muslim menjadi guru dunia. Hidayah Alquran Alquran merupakan sumber utama ajaran Islam, di mana di dalamnya terkandung hidayah bagi setiap muslim dalam menjalani kehidupan agar selamat dan memperoleh kebahagiaan di dunia dan akhirat. Ada beberapa macam hidayah Alquran kepada manusia: pertama, mengeluarkan manusia dari kegelapan menuju cahaya Ilahi. Ajaran Alquran membimbing manusia agar keluar dari kegelapan yang berupa kekafiran, kesesatan dan kebodohan menuju cahaya Ilahi yang berupa keimanan, keislaman dan ilmu pengetahuan. Allah SWT berfirman: Alif, laam raa. (Ini adalah) kitab yang kami turunkan kepadamu supaya kamu mengeluarkan manusia dari gelap gulita kepada cahaya terang benderang dengan izin Tuhan mereka, (yaitu) menuju jalan Tuhan Yang Maha Perkasa lagi Maha Terpuji.(Q.S. Ibrahim [14]: 1). Kedua, membimbing kehidupan manusia menuju jalan yang lurus, baik dan adil. Ini dicapai dengan mengikuti ajaran Islam yang shahih dan jalan tauhid yang ditunjukkan Alquran. Allah SWT berfirman: Sesungguhnya Alquran ini memberikan petunjuk kepada jalan yang lebih lurus dan memberi kabar gembira kepada orang-orang mukmin

yang mengerjakan amal shaleh bahwa bagi mereka ada pahala yang besar. (Q.S. AlIsraa [17]: 9). Ketiga, memberi kabar gembira kepada orang-orang beriman dan peringatan kepada orang-orang ingkar (kafir). Alquran menjelaskan bahwa orang-orang yang beriman melalui amal shaleh yang mereka lakukan, akan mendapat pahala berlipat dan akan dibalas dengan kebaikan di dunia dan surga di akhirat. Sebaliknya, orang-orang ingkar akan mendapat balasan buruk diakhirat. Allah SWT berfirman: Sesungguhnya Alquran ini memberikan petunjuk kepada jalan yang lebih lurus dan memberi kabar gembira kepada orang-orang mukmin yang mengerjakan amal shaleh bahw bagi mereka ada pahala yang besar, dan sesungguhnya orang-orang yang tidak beriman kepada kehidupan akhirat, Kami sediakan bagi mereka adzab yang pedih.(Q.S. Al-Israa [17]: 910). Keempat, Alquran menyembuhkan hati manusia dan menebarkan rahmat bagi orang-orang yang beriman. Ia menyembuhkan segala macam penyakit hati, termasuk akhlak tercela. Penyakit hati bersumber dari pemahaman akidah yang salah tentang Allah, malaikat, rasul-rasul, hari akhirat, qadha dan qadar. Kesalahan keyakinan ini membuat hati gelisah, sakit dan bingung. Allah SWT berfirman: Dan kami turunkan dari Alquran suatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman dan Alquran itu tidaklah menmbah kepada orang-orang yang zalim selain kerugian. (Q.S. Al-Israa [17]: 82). Kelima, berisi nasihat dan ibrah (pelajaran). Alquran banyak berisi kisah-kisah penuh hikmah tentang orang-orang terdahulu. Kisah-kisah itu tentu bukan hanya sekedar pemanis dan hiasan Alquran, lebih dari itu, ia adalah pelajaran (ibrah) yang harus diambil oleh umat Islam. Firman Allah SWT: Sesungguhnya pada kisah-kisah mereka itu terdapat pengajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal. Alquran itu bukanlah cerita yang dibuat-buat, akan tetapi membenarkan kitab-kitab yang sebelumnya dan menjelaskan

segala sesuatu dan menjadi petunjuk dan rahmat bagi kaum yang beriman. (Q.S. Yusuf [12]: 111). Alquran Sebagai Pembela di Akhirat Telah bersabda Rasulullah SAW: Belajarlah kamu akan Alquran, di akhirat nanti dia akan datang kepada ahli-ahlinya, yang mana di kala itu orang sangat memerlukannya. Ia akan datang dalam bentuk seindah-indahnya dan ia bertanya, Kenalkah kamu kepadaku? Maka orang yang pernah membaca Alquran menjawab: Siapakah

kamu?Berkata Alquran: Akulah yang kamu cintai dan kamu sanjung, dan engkau juga telah bangun malam untukku dan kamu juga pernah membacaku di waktu siang hari. Kemudian berkatalah orang yang pernah membaca Alquran itu: Adakah kamu Al quran? Alquran lalu mengiyakan dan menuntun orang tersebut menghadap Allah. Orang beriman itu kemudian diberi kerajaan yang kekal di tangan kanan dan kirinya, kemudian dia meletakkan mahkota di atas kepalanya. Pada kedua ayah dan ibunya yang muslim, juga diberi perhiasan yang tidak dapat ditukar dengan dunia walau berlipat ganda, sehingga keduanya bertanya: Dari manakah kami memperoleh ini semua, padahal kami tidak sampai ini? Lalu dijawab: Kamu diberi ini semua karena anak kamu telah mempelajari Alquran. Kelebihan Alquran Alquran memiliki tiga kelebihan yang tidak dimiliki oleh kitab suci lain. Pertama, merupakan kitab suci yang paling banyak dibaca dan dihafalkan oleh manusia sejak dahulu hingga sekarang dalam bahasa aslinya. Dalam catatan rekor dunia guinness, disebutkan bahwa buku non-fiksi yang paling banyak dibaca sepanjang sejarah adalah Bible. Namun, kita tahu, Bible menggunakan bahasa setempat dan telah mengalami banyak perubahan. Sedangkan Alquran, apa yang kita baca darinya saat ini adalah apa yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW tanpa ada perubahan

sedikitpun. Kedua, merupakan kitab suci yang mendapat perhatian sangat besar, baik oleh pemeluknya maupun oleh orang diluar mereka. Banyak ilmuwan non-Muslim yang mengakui Alquran, baik dari segi tata bahasanya maupun kandungannya. Ketiga, bagi seorang mukmin, membaca Alquran akan dapat memperkuat imannya serta kedekatannya kepada Sang Pencipta, dan membaca Alquran termasuk ibadah.

BAB II PENUTUP

Al-Quran adalah kitab suci agama islam untuk seluruh umat muslim di seluruh dunia dari awal diturunkan hingga waktu penghabisan spesies manusia di dunia baik di bumi maupun di luar angkasa akibat kiamat besar. Isi kandungan Al- quran ialah Aqidah / Akidah, Ibadah, Akhlaq / Akhlak, Hukum-Hukum, Peringatan / Tadzkir, SejarahSejarah atau Kisah-Kisah, Dorongan Untuk Berpikir. Kemudian Sejarah

perkembangannya bermula dari Masa Nabi Muhammad s.a.w lalu masa Abu Bakar dan hingga tahap pembukuannya pada masa Ustman. Terdapat 3 unsur yang dapat memelihara Al-Qur'an yang telah diturunkan, yaitu: 1. Hafalan dari mereka yang haf al Al-Qur'an. 2. Naskah-naskah yang ditulis oleh Nabi 3. Naskah-naskah yang ditulis oleh mereka yang pandai menulis dan membaca untuk mereka masing-masing. Selain itu, sekali dalam setahun, Jibril mengadakan ulangan (repetisi).

Demikian makalah ini kami buat semoga bermanfaat, lebih dan kurang kami mohon maaf. Terimakasih.