Anda di halaman 1dari 18

PRAKTEK BISNIS KERIPIK TEMPE

Disusun oleh: HANIF WIDIKINASIH INDRA S DYAH KARTIKA R RAKHMAD HIDAYAT G. NIKA H OKY YULIANTO ARIF CANDRA HERMAN WIDIATMOKO IMAM GHOZALI (081510501175) (081510501177) (081510501179) (081510501180) (081510501182) (081510501183) (081510501185) (081510501187) (101510501182)

PROGRAM STUDI AGROTEKNOLOGI

FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS JEMBER 2011

BAB 1. PENDAHULUAN Tempe yang dikenal sejak zaman dahulu, terutama di Pulau Jawa adalah makanan pelengkap makanan pokok berupa makanan sumber protein tinggi yang rendah kolesterol. Harga jual tempe masih rendah berbanding dengan makanan sumber protein lainya, misalnya ikan dan daging ayam. Menurut penelitian pasar, sebagian besar produk tempe masih merupakan konsumsi masyarakat kelas bawah, karena kualitas dan cara pengolahan serta penyalurannya masih tradisional, termasuk dalam sanitasi dan hygienitasnya. Usaha kecil tempe bersifat industri rumah tangga dimana pemilik dan tenaga kerjanya masih mempunyai hubungan keluarga. Cara produksi masih tradisional dengan menggunakan alat produksi sederhana, yang sebagian di buat oleh para pengrajin sendiri maupun oleh bengkel kecil. Tempe adalah makanan yang dibuat dari fermentasi biji-biji kedelai atau beberapa jenis kapang Rihizopus lainnya. seperti Rhizopus oligosporus, R. oryzae, R. stolonifer (kapang roti), atau R. arrhizus. Fermentasi umum menggunakan ragi tempe. Manfaat tempe sangat banyak sekali terutama sebagai sumber protein. Berikut manfaat dari tempe : Mencegah penyakit anemia dan osteoporosis (pengeroposan tulang). Tempe menyediakan cukup mineral, vitamin B12, dan zat besi yang sangat baik dalam pembentukan sel darah merah. Menurunkan kadar kolesterol. Senyawa protein, asam lemak PUFA, serat, niasin, dan kalsium yang terdapat di dalam tempe dapat mengurangi kapasitas kolesterol jahat. Mencegah kangker payudara dan penuaan. Dalam diri tempe terdapat antioksidan Isoflavon yang sangat dibutuhkan untuk menghentikan pembentukan radikan bebas. Selain itu terdapat antioksidan faktor II (6,7,4 trihidroksi isoflavon). Faktor II memiliki sifat antioksidan paling kuat dibandin isoflavon dalam kedelai biasa. Melihat begitu banyaknya manfaat dari tempe, perlu rasanya pengembangan usaha tempe dalam produk yang lain. Salah satunya adalah dengan membuat kripik tempe karena meskipun dalam bentuknya yang lebih tipis. Namun, produk ini akan

membuat tempe menjadi lebih renyah dan dapat dimakan tidak hanya saat makan saja tapi juga dapat dijadikan sebagai makanan ringan serta dapat disajikan dalam beberapa rasa misalnya yang lebih cocok adalah rasa pedas. Hal ini dapat membuat konsumen lebih suka dan simple karena akan lebih enak memakan tempe dengan sambal, rasa pedas itulah yang dapat dijadikan sebagai pengganti dari sambal.

BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA Tempe adalah makanan yang dibuat dari fermentasi terhadap biji kedelai atau beberapa bahan lain yang menggunakan beberapa jenis kapang Rhizopus, seperti Rhizopus oligosporus, Rh. oryzae, Rh. stolonifer (kapang roti), atau Rh. arrhizus. Sediaan fermentasi ini secara umum dikenal sebagai ragi tempe. Kapang yang tumbuh pada kedelai menghidrolisis senyawa-senyawa kompleks menjadi senyawa sederhana yang mudah dicerna oleh manusia. Tempe kaya akan serat pangan, kalsium, vitamin B dan zat besi. Berbagai macam kandungan dalam tempe mempunyai nilai obat, seperti antibiotika untuk menyembuhkan infeksi dan antioksidan pencegah penyakit degeneratif. Secara umum, tempe berwarna putih karena pertumbuhan miselia kapang yang merekatkan biji-biji kedelai sehingga terbentuk tekstur yang memadat. Degradasi komponen-komponen kedelai pada fermentasi membuat tempe memiliki rasa dan aroma khas. Berbeda dengan tahu, tempe terasa agak masam. Rhizopus sp tumbuh baik pada kisaran pH 3,4-6. Pada penelitian semakin lama waktu fermentasi, pH tempe semakin meningkat sampai pH 8,4, sehinggajamur semakin menurun karena pH tinggi kurang sesuai untuk pertumbuhan jamur. Secara umum jamur juga membutuhkan air untuk pertumbuhannya, tetapi kebutuhan air jamur lebih sedikit dibandingkan dengan bakteri. Selain pH dan kadar air yang kurang sesuai untuk pertumbuhan jamur, jumlah nutrien dalam bahan, juga dibutuhkan oleh jamur (Syarief, 1999). Rhizopus oligosporus menghasilkan enzim-enzim protease. Perombakan senyawa kompleks protein menjadi senyawa-senyawa lebih sederhana adalah penting dalam fermentasi tempe, dan merupakan salah satu faktor utama penentu kualitas tempe, yaitu sebagai sumber protein nabati yang memiliki nilai cerna amat tinggi. Kandungan protein yang dinyatakan sebagai kadar total nitrogen memang tidak berubah selama fermentasi. Perubahan terjadi atas kadar protein terlarut dan kadar asam amino bebas. Berdasarkan suatu penelitian, pada tahap fermentasi tempe ditemukan adanya bakteri Micrococcus sp. Bakteri Micrococcus sp. adalah bakteri berbentuk kokus, gram positif, berpasangan tetrad atau kelompok kecil, aerob dan tidak berspora, bisa tumbuh baik pada medium nutrien agar pada suhu

30C dibawah kondisi aerob. Bakteri ini menghasilkan senyawa isoflavon (sebagai antioksidan). Adanya bakteri Micrococcus sp. pada proses fermentasi tempe tidak terlepas dari tahapan pembuatan tempe, yang meliputi: penyortiran, pencucian biji kedelai diruang preparasi, pengupasan kulit, perebusan kedelai, perendaman kedelai, penirisan, peragian, pembungkusan, dan pemeraman. Selain itu faktor lingkungan juga mempengaruhi pertumbuhan bakteri antara lain, waktu, suhu, air, pH, suplai makanan dan ketersediaan oksigen (Syarief, 1999). Tempe banyak dikonsumsi di Indonesia, tetapi sekarang telah mendunia. Kaum vegetarian di seluruh dunia banyak yang telah menggunakan tempe sebagai pengganti daging. Akibatnya sekarang tempe diproduksi di banyak tempat di dunia, tidak hanya di Indonesia. Berbagai penelitian di sejumlah negara, seperti Jerman, Jepang, dan Amerika Serikat. Indonesia juga sekarang berusaha mengembangkan galur (strain) unggul Rhizopus untuk menghasilkan tempe yang lebih cepat, berkualitas, atau memperbaiki kandungan gizi tempe. Beberapa pihak mengkhawatirkan kegiatan ini dapat mengancam keberadaan tempe sebagai bahan pangan milik umum karena galur-galur ragi tempe unggul dapat didaftarkan hak patennya sehingga penggunaannya dilindungi undang-undang (memerlukan lisensi dari pemegang hak paten) (Syarief, 1999). Kandungan nutrisi yang terdapat di dalam tempe sangatlah tinggi. Tempe dapat memenuhi sebagian besar kebutuhan asam amino, seperti tryptophan, threonin, isolusin, valin, dan histidin. Tempe juga mengandung vitamin B12 yang dihasilkan dari aktivitas mikroba dalam proses fermentasi. Jika kita mengonsumsi tempe setiap hari, hal itu dapat memenuhi 62% protein yang dibutuhkan oleh tubuh, 35% riboflavin, 34% magnesium, 108% mangan, dan 46% tembaga. Selain itu, tempe hanya mengandung 3,7 gram lemak jenuh dan kurang dari 329 kilo kalori. Kandungan nilai gizi tempe jauh lebih baik dibandingkan kedelai biasa. Kandungan asam amino bebasnya lebih tinggi 24 kali lipat. Nilai serat, vitamin B kompleks, efisiensi protein, dan nilai asam lemak bebasnya juga lebih baik. Itulah yang menyebabkan tempe berperan sebagai sumber protein sempurna bagi penderita diabetes. Kandungan tinggi seratnya berfungsi mengendalikan kadar gula darah dan mencegah diare pada anak kecil. Kadar zat besinya yang tinggi, yaitu 4 mg/100

gram, menyebabkan tempe dapat mengatasi masalah anemia. Proses fermentasi dalam pembuatan tempe akan mengaktifkan enzim fitase sehingga dapat meningkatkan adsorpsi besi di dalam darah (Riyadi, 1992). Dalam tempe memiliki beberapa kandungan seperti asam lemak, vitamin, mineral, dan anti oksidan. Selama proses fermentasi tempe, terdapat tendensi adanya peningkatan derajat ketidakjenuhan terhadap lemak. Dengan demikian, asam lemak tidak jenuh majemuk (polyunsaturated fatty acids, PUFA) meningkat jumlahnya. Dalam proses itu asam palmitat dan asam linoleat sedikit mengalami penurunan, sedangkan kenaikan terjadi pada asam oleat dan linolenat (asam linolenat tidak terdapat pada kedelai). Asam lemak tidak jenuh mempunyai efek penurunan terhadap kandungan kolesterol serum, sehingga dapat menetralkan efek negatif sterol di dalam tubuh. Dua kelompok vitamin terdapat pada tempe, yaitu larut air (vitamin B kompleks) dan larut lemak (vitamin A, D, E, dan K). Tempe merupakan sumber vitamin B yang sangat potensial. Jenis vitamin yang terkandung dalam tempe antara lain vitamin B1 (tiamin), B2 (riboflavin), asam pantotenat, asam nikotinat (niasin), vitamin B6 (piridoksin), dan B12 (sianokobalamin). Vitamin B12 umumnya terdapat pada produk-produk hewani dan tidak dijumpai pada makanan nabati (sayuran, buah-buahan, dan biji-bijian), namun tempe mengandung vitamin B12 sehingga tempe menjadi satu-satunya sumber vitamin yang potensial dari bahan pangan nabati. Kenaikan kadar vitamin B12 paling mencolok pada pembuatan tempe; vitamin B12 aktivitasnya meningkat sampai 33 kali selama fermentasi dari kedelai, riboflavin naik sekitar 8-47 kali, piridoksin 4-14 kali, niasin 2-5 kali, biotin 2-3 kali, asam folat 4-5 kali, dan asam pantotenat 2 kali lipat. Vitamin ini tidak diproduksi oleh kapang tempe, tetapi oleh bakteri kontaminan seperti Klebsiella pneumoniae dan Citrobacter freundii. Kadar vitamin B12 dalam tempe berkisar antara 1,5 sampai 6,3 mikrogram per 100 gram tempe kering. Jumlah ini telah dapat mencukupi kebutuhan vitamin B12 seseorang per hari. Dengan adanya vitamin B12 pada tempe, para vegetarian tidak perlu merasa khawatir akan kekurangan vitamin B12, sepanjang mereka melibatkan tempe dalam menu hariannya (Sarwono, 1982).

Tempe mengandung mineral makro dan mikro dalam jumlah yang cukup. Jumlah mineral besi, tembaga, dan zink berturut-turut adalah 9,39; 2,87; dan 8,05 mg setiap 100 g tempe. Kapang tempe dapat menghasilkan enzim fitase yang akan menguraikan asam fitat (yang mengikat beberapa mineral) menjadi fosfor dan inositol. Dengan terurainya asam fitat, mineral-mineral tertentu (seperti besi, kalsium, magnesium, dan zink) menjadi lebih tersedia untuk dimanfaatkan tubuh. Di dalam tempe juga ditemukan suatu zat antioksidan dalam bentuk isoflavon. Seperti halnya vitamin C, E, dan karotenoid, isoflavon juga merupakan antioksidan yang sangat dibutuhkan tubuh untuk menghentikan reaksi pembentukan radikal bebas. Dalam kedelai terdapat tiga jenis isoflavon, yaitu daidzein, glisitein, dan genistein. Pada tempe, di samping ketiga jenis isoflavon tersebut juga terdapat antioksidan faktor II (6,7,4-trihidroksi isoflavon) yang mempunyai sifat antioksidan paling kuat dibandingkan dengan isoflavon dalam kedelai. Antioksidan ini disintesis pada saat terjadinya proses fermentasi kedelai menjadi tempe oleh bakteri Micrococcus luteus dan Coreyne bacterium. Penuaan (aging) dapat dihambat bila dalam makanan yang dikonsumsi sehari-hari mengandung antioksidan yang cukup. Karena tempe merupakan sumber antioksidan yang baik, konsumsinya dalam jumlah cukup secara teratur dapat mencegah terjadinya proses penuaan dini. Penelitian yang dilakukan di Universitas North Carolina, Amerika Serikat, menemukan bahwa genestein dan fitoestrogen yang terdapat pada tempe ternyata dapat mencegah kanker prostat dan payudara (Riyadi, 1992). Proses pembuatan tempe melibatkan tiga faktor pendukung, yaitu bahan baku yang dipakai (kedelai), mikroorganisme (kapang tempe), dan keadaan lingkungan tumbuh (suhu, pH, dan kelembaban). Proses ini terdiri atas dua tahap, yaitu tahap persiapan dan tahap pengolahan. A. Tahap Persiapan 1. Pembuatan ragi, ragi tempe sebenarnya adalah kumpulan spora jamur yang tumbuh di atas tempe. Jamur tersebut umumnya terdiri atas empat jenis, yaitu: Rhyzopus olligosporus, Rhyzopus stolonifer, Rhyzopus arrhizus, dan Rhyzopus oryzae. Oleh karena itu, bahan utama dalam pembuatan ragi tempe adalah tempe itu sendiri. Untuk membuat ragi, tempe yang sudah

dipenuhi jamur disayat tipis-tipis, kemudian di jemur. Setelah kering dihaluskan, selanjutnya dicampur dengan tepung campuran tapioka yang sudah ini diayak untuk disangrai dan didinginkan. Terakhir,

memisahkan antara bagian yang halus dan kasar, selanjutnya bagian yang halus siap digunakan sebagai ragi untuk memfermentasi tempe. 2. Penyiapan bahan baku, tahap ini meliputi: pembersihan (sortasi) kedelai, pencucian, perendaman kedelai selama 6-12 jam agar kedelai mengalami pemekaran, dan pencucian kembali serta penirisan, sehingga dihasilkan kedelai basah siap pakai. B. Tahap Pengolahan Pada dasarnya proses pembuatan tempe merupakan proses penanaman mikroba jenis jamur Rhizopus sp pada media kedelai, sehingga terjadi proses fermentasi kedelai oleh ragi tersebut. Hasil fermentasi menyebabkan tekstur kedelai menjadi lebih lunak, terurainya protein yang terkandung dalam kedelai menjadi lebih sederhana, sehingga mempunyai daya cerna lebih baik dibandingkan produk pangan dari kedelai yang tidak melalui proses fermentasi. Masing-masing langkah kerja pada pengolahan kedelai menjadi produk tempe dapat dijelaskan sebagai berikut: 1. Perebusan I yang bertujuan untuk melunakkan, dilanjutkan dengan perendaman menggunakan air perebusnya selama 24 jam, yang bertujuan untuk menurunkan derajat keasaman ditumbuhi jamur (pH 4-5). 2. Kedelai yang telah direndam, ditiriskan dan selanjutnya dikupas, dan dicuci beberapa kali hingga kedelai tidak berbau asam lagi dan kulit kedelai yang tertinggal sesedikit mungkin. 3. Perebusan dilakukan sekali lagi untuk membunuh mikroba yang berperan dalam menurunkan derajat keasaman kedelai, agar tidak mengganggu aktivitas mikroba tempe. Perebusan cukup dilakukan selama 5 menit dalam air mendidih untuk selanjutnya didinginkan. kedelai sehingga dapat diakhiri dengan

4. Kedelai yang telah dingin kemudian ditaburi ragi, dikemas menggunakan daun atau plastik, dan di lakukan pemeraman selama 30 jam dalam ruangan dengan suhu 30 C. Bila diamati, selama proses pembuatan tempe terjadi perubahan materi, yaitu perubahan fisika dan kimia. Perubahan Fisika Kamu telah mengetahui bahwa es yang mencair tidak menghasilkan zat yang baru. Es dan air tersusun atas senyawa yang sama, yaitu H2O. Perbedaan antara es dan air hanya terlihat dari wujudnya saja. Es merupakan air yang berwujud zat padat, sedangkan air berwujud zat cair. Perubahan tersebut merupakan perubahan fisika. Jadi, perubahan fisika ditandai dengan perubahan wujud atau fase zat yang umumnya bersifat sementara dan struktur molekulnya tetap. Apakah contoh perubahan fisika yang lain? Logam besi dipanaskan pada suhu tinggi akan membara, lunak dan mencair. Warnanya pun berubah kemerahan dengan suhu yang sangat panas, namun bila suhunya turun, besi akan kembali seperti semula. Pada perubahan ini, tidak menghasilkan zat baru, sehingga digolongkan perubahan fisika. Perubahan Kimia Ketika kamu membuat api unggun dengan membakar kayu kering, maka akan dihasilkan abu, asap, dan gas. Sama halnya seperti pada kertas yang dibakar, kayu dan abu merupakan dua jenis zat yang sama sekali berbeda. Zat-zat hasil pembakaran tersebut tidak dapat dikembalikan lagi menjadi kayu. Oleh karena kayu yang dibakar menghasilkan zat baru yang sifatnya berbeda dengan zat asalnya, kayu yang dibakar merupakan contoh peristiwa perubahan kimia. Jadi perubahan kimia adalah perubahan materi yang menghasilkan zat yang jenisnya baru. Perubahan kimia disebut juga reaksi kimia. Reaksi kimia adalah peristiwa perubahan kimia dari zat-zat yang bereaksi (reaktan) menjadi zat-zat hasil reaksi (produk). Pada reaksi kimia selalu dihasilkan zat-zat yang baru dengan sifat-sifat yang baru, yang sifat-sifatnya berbeda dari zat sebelumnya. Dalam

kehidupan sehari-hari, banyak reaksi kimia yang terjadi secara alamiah atau yang dibuat manusia. Perubahan kimia yang terjadi pada proses pembuatan tempe adalah pada saat inkubasi. Pada saat itu terjadilah reaksi fermentasi. Proses fermentasi yang dilakukan oleh jamur Rhizopus sp menghasilkan energi. Energi tersebut sebagian ada yang dilepaskan oleh jamur Rhizopus sp sebagai energi panas. Energi panas itulah yang menyebabkan perubahan suhu selama proses inkubasi tempe. Selain terjadi perubahan suhu, selama proses inkubasi tempe permukaan dalam plastik pembungkus tempe (Sarwono, 1982). Tempe juga memiliki beberapa keunggulan seperti sumber antioksidan yang mengandung isoflavon aglikon sebagai pencegah kanker, sumber antibiotik zat antibakteri yang memperkecil peluang infeksi, hipokolesterolemik menurunkan lipid atau lemak dalam darah, sumber vitamin B, mengandung vitamin B12 vitamin tersebut umumnya terdapat dalam produk hewani tapi tidak dijumpai pada makanan nabati, seperti sayuran, buah-buahan, dan biji-bijian, mengandung delapan macam asam amino esensial dan asam lemak tidak jenuh, mengandung serat tinggi, mudah dicerna oleh semua kelompok umur, dari bayi sampai usia lanjut, dan pengolahan kedelai menjadi tempe menurunkan kadar raffinosa dan stakiosa, yang memicu timbulnya gejala flatulensi (Astawan, 1991). juga terjadi perubahan warna, dan munculnya titik-titik air yang dapat diamati pada

BAB 3. METODOLOGI 2.1 a. b. c. d. e. 2.2 a. b. c. 2.3 a. b. c. d. Bahan Tempe Bumbu tempe Minyak goreng Plastik pembungkus Bumbu perasa Alat Pisau Penggorengan Nampan Pembuatan Mengiris tipis tempe kemudian menjemurnya beberapa lama. Setelah agak lama, ambil tempe tersebut. Membumbui tempe lalu menggorengnya. Setelah itu, campur tempe yang telah digoreng dengan

bumbu perasa lalu membungkusnya dengan plastik pembungkus.

BAB 4. ISI Secara umum, tempe merupakan makanan yang selalu hadir dalam menu sehari-hari. Walau selalu dalam bentuk yang sama, tetap saja tempe masih menjadi menu favorit dan selalu dicari. Melihat fenomena ini, maka dapat terlihat bahwa peluang dan prospek untuk bisnis atau usaha dalam hal tempe sangat terbuka dan menguntungkan. Untuk membuat tempe semakin menarik maka perlu dilakukan perubahan bentuk produk tempe itu sendiri. Salah satunya adalah dengan membuat keripik tempe aneka rasa. Selain merubah penampilan, tempe akan dapat dikonsumsi kapan saja. Tidak hanya pada saat makan tapi pada saat senggangpun tempe dapat dinikmati (dalam bentuk keripik tempe). Dalam bentuk keripik, tempe akan terasa lebih renyah namun bila hanya mengandalkan itu saja maka tempe tidak akan terasa lebih enak sehingga perlu adanya rasa dalam keripik tempe tersebut. Dengan adanya rasa pada keripik maka akan menambah daya tarik pada keripik tersebut. Misal keripik tempe berasa pedas, dimana keripik tempe pedas ini akan menarik bagi orang yang suka makan tempe dan beberapa orang yang suka rasa pedas. Peluang inilah yang harus dilihat dan difokuskan untuk membuka peluang yang lebih besar lagi dan untuk menarik konsumen yang lebih banyak. Tidak hanya rasa pedas saja, tetapi keripik ini juga dapat ditambah dengan rasa-rasa lain yang dapat disesuaikan dengan permintaan pasar atau konsumen. Disini, produk akan dibuat seperti keripik-keripik lainnya dan ditempatkan pada bungkus plastic sehingga penjualan produk berupa bungkusan keripik tempe. Untuk pemasarannya dapat dilakukan dengan menitipkan produk ini ke warung makan dan tempet sejenis lainnya. Untuk kegiatan promosi, tidak terlalu diperlukan promosi yang besar karena produk ini dapat lebih efektif hanya dengan lewat mulut kemulut saja. Untuk itu, perlu pemilihan tempat atau warung makan yang pelanggannya banyak namun bukan berupa warung yang besar. Sebab, untuk menembus (memasukkan produk) ke sana akan lebih sulit dan umumnya tidak berhasil bila tidak memiliki koneksi dan faktor lainnya. Untuk itu, lebih mudah bila produk dititipkan di warung makan biasa namun pelanggannya banyak.

Keripik tempe ini dapat dibuat dengan membeli tempe yang sudah jadi ataupun dari tempe yang dibuat sendiri. Tergantung pada kualitas dari tempe tersebut. Bila tempe buatan sendiri memiliki kualitas yang baik atau dapat dikatan lebih baik maka lebih baik menggunakan tempe buatan sendiri. Sebaliknya, bila tempe buatan sendiri tidak memiliki kualitas yang baik maka lebih baik membeli tempe yang memiliki kualitas baik. Kualitas tempe ini akan mempengaruhi rasa dari keripik tempe yang dihasilkan atau dapat dikatakan berbanding lurus. Jika tempe yang digunakan memiliki kualitas yang baik maka keripik tempe yang dihasilkanpun akan lebih enak daripada keripik yang menggunakan tempe yang tidak berkualitas. Hal ini perlu diperhatikan saat sedang melakukan bisnis atau usaha dalam bentuk makanan karena mempertahankan kualitas produk sangat penting untuk mempertahankan konsumen. Sebab, sekali saja konsumen merasa kecewa maka konsumen akan beralih pada produk lain ataupun pada pedagang lain.

Untuk melihat kelayakan usaha atau bisnis ini maka perlu dilakukan analisis usaha produk. Kelayakan ini dapat dilihat dari keuntungan yang diperoleh dan nilai B/C rationya. Hal ini penting karena dalam bisnis, setiap usaha yang dilakukan memiliki nilai dan tidak boleh diabaikan serta dalam berbisnis, tujuan akhir yang ingin dicapai adalah memperoleh keuntungan. Analisis bisnis untuk produk keripik tempe ini adalah sebagai berikut: Tabel Biaya No. 1 2 Rincian Tempe (40 lembar) @Rp. 1.000,Minyak goreng (1,5 kg) @Rp. 5.000,Biaya Produksi Bumbu tempe Plastik pembungkus (100) Bumbu perasa (2 Ons) @Rp. 4.500,Alat Pisau (1) @Rp. 3.000,Total biaya produksi Pendapatan Jenis Biaya (Rp.) 40.000,15.000,10.000,4.500,9.000,3.000,81.500,-

= jumlah produk x harga produk x Rp. 1.500,-

= 100 bungkus = Rp. 150.000, Keuntungan

= pendapatan total biaya produksi = Rp. 150.000 - Rp. 81.500 = Rp 69.500

Parameter kelayakan usaha (BEP / Break Event Point) B/C ratio = pendapatan / pengeluaran = 150000 / 79500 = 1,89

BAB 4. KESIMPULAN Berdasarkan hasil yang diperoleh, dapat disimpulakn bahwa untuk menaikkan nilai bisnis dari tempe adalah dengan membuat olahan lain dengan bahan dasar tempe tersebut. Salah satunya adalah dengan membuat keripik tempe aneka rasa. Dengan perubahan produk ini maka tempe yang semula hanya merupakan makanan yang tersaji pada saat makan saja, kini telah dapat dikonsumsi sebagai makanan ringan berupa kripik. Hal ini semakin menarik karena keripik ini renyah dan dapat disajikan dalam beraneka rasa misal rasa pedas. Selain itu, sebagai suatu bisnis rumah tangga keripik tempe ini terasa menguntungkan karena dapat diperoleh keuntungan 40% dari modal awal. Hal ini didukung dengan permintaan produk tempe yang tidak akan pernah terhenti (selalu ada permintaan) karena tempe merupakan makanan yang paling sering dikonsumsi oleh masyarakat.

DAFTAR PUSTAKA Astawan, M. dan Mita W. 1991. Teknologi pengolahan pangan nabati tepat guna. Jakarta : Akademika Pressindo. Sarwono, B. 1982. Membuat tempe dan oncom. Jakarta : PT. Penebar Swadaya. Syarief, R. 1999. Wacana Tempe Indonesia. Surabaya: Universitas Katolik Widya Mandala Tri Radiyati et.al. 1992. Pengolahan Kedelai. Subang: BPTTG Puslitbang Fisika Terapan LIPI.