Anda di halaman 1dari 2

Abyatar Hugo Baskoro 11320100002 Jurusan Biologi Mata Kuliah Character Development

Pada tanggal 27 november, saya bersama dengan kelompok saya, Archipelago melakukan kegiatan service learning ke daerah Salembaran. Kami berangakat dengan 2 buah mobil ke daerah tangerang. Di sana kami mengunjungi sebuah sekolah di daerah Desa Salembaran. Sekolah yang kami kunjungi merupakan sekolah dasar kristen. Segera setelah kami tiba di sekolah tersebut, kami langsung disambut oleh anakanak yang sedang bermain di taman sekolah. Sepertinya mereka cukup senang atas kedatangan kami. Saya bertugas sebagai juru dokumentasi dalam kunjungan service learning ini, jadi saya hanya akan menjadi partisipan pasif yang mendokumentasikan kegiatan secara candid. Selanjutnya secara bergiliran anggota kelompok archipelago menyampaikan presentasi tentang love dan honesty secara santai namun serius. Disela-sela presentasi kami melibatkan anak-anak dengan cara membuat games supaya tidak membosankan. Setelah semua acara selesai maka tiba saatnya makan siang bersama. Anak-anak tampak sangat menikmati hidangan yang telah kami siapkan. Entah kenapa saya jadi ikut bahagia melihat anak-anak yang makan dengan lahap. Setelah acara makan selesai maka anak-anak pergi ke luar kelas untuk mencuci tangan dan tiba-tiba hal yang sangat kreatif terjadi mereka mulai perang air dengan menyemprotkan air dari kamar mandi sehingga semua menjadi basah. Dari petaka satu berlanjut ke petaka kedua. Setelah semuanya basah mereka kembali masuk ke kelas dan alhasil kelas pun menjadi kotor karena lumpur. Lalu anak-anak dengan polos membersihkan kembali kelasnya. Kesan saya selama service learning ini adalah banyak hal yang mengejutkan dan tak terlupakan. Banyak respon dari anak-anak yang tak terduga. Seperti saat salah satu anggota archipelago mengatakan, Nanti kalau kalian suka bohong, hidungnya bisa panjang seperti pinokio lho! dengan spontan salah satu dari anak-anak tersebut membalas, Ah! Engga koq! Itu cuma isu doank kak!. Saya spontan langsung tertawa saat mendengar kata isu, saya tak mengira kata-kata itu akan keluar dari mulut seorang anak kelas 5 SD. Dan juga pada saat awal-awal saya datang, saya melihat semua anak-anak disitu lucu dan menggemaskan. Dan kesan itu langsung hilang setelah semuanya masuk kelas dan mendengarkan presentasi kami. Mereka sangat ribut dan liar. Awalnya saya agak emosi melihat mereka yang kurang bisa diatur. Tapi setelah saya menenangkan diri dan mencoba membayangkan bila saya adalah anak kelas 5 SD, maka mungkin saya sama liarnya dengan mereka.

Pelajaran yang saya dapatkan dari service learning ini adalah saya bersyukur mempunyai orang tua yang bisa mendidik saya sehingga bisa merubah saya dari sifat liar masa kecil saya sampai bisa menjadi tahu sopan santun seperti sekarang ini. Terus terang saja selama ini saya agak menyangsikan sikap teman-teman saya, terutama dalam berinteraksi dengan orang yang lebih tua. Menurut saya kadang ucapan mereka tidak dipikir dan sangat tidak sopan. Entah ini mungkin standar kesopanan saya yang terlalu tinggi atau memang jaman sekarang sudah tidak ada pembatasan umur lagi, saya tidak tahu. Tapi yang pasti saya akan tetap mempertahankan standar kesopanan saya, lebih baik dibilang terlalu sopan daripada tidak sopan. Toh saya juga tidak peduli apa kata orang, yang pasti Tuhan tahu bahwa saya berbuat benar. Orang tua saya selalu menanamkan bagaimana saya harus bertutur kata yang sopan kepada orang yang lebih tua. Sebelum saya mengeluarkan katakata, saya harus berpikir sekarang ini dengan siapa saya berbicara, apakah lebih tua, lebih muda. Saya harus berpikir setidaknya dua kali sebelum saya berbicara. Semua ini saya lakukan karena saya selalu diajarkan agar sebisa mungkin orang tidak menjadi sakit hati atau tersinggung karena perkataan saya. Sekalipun orang tersebut sakit hati dan telah memaafkan saya, pasti tetap ada bekas. Orang tua saya sangat menekankan agar saya jangan sampai membuat orang sakit hati. Pelajaran utama yang saya dapatkan dari service learning kali ini adalah saya bersyukur mempunyai 2 orang tua yang begitu hebat. Papa saya, adalah seorang yang sangat keras dan demokratis. Beliau keras dalam hal prinsip seperti agama dan tata krama seperti yang telah saya sebutkan di atas. Namun walaupun keras, beliau juga sangat demokratis. Bukan model orang tua yang kolot dan tidak mau mendengarkan pendapat orang. Prinsip demokratis beliau adalah beliau mengajarkan apa yang yang beliau mau kita miliki, dan mau diapakan pengetahuan yang telah beliau berikan, itu terserah kita. Walaupun keluarga saya adalah keluarga jawa, namun papa saya sangat open-minded. Sepanjang saya bisa mempertahankan argumen saya dan bersikap masuk akal, maka pendapat saya akan diterima. Dan tentu saja dalam berargumen saya diajarkan berargumen yang baik dengan tidak emosi. Hal ini membiasakan saya berkomunikasi dengan orang yang lebih tua sehingga saya tahu sopan terhadap orang yang lebih tua. Yang kedua adalah mama saya. Mungkin karena pembawaan papa saya yang open-minded, maka mama saya juga ikut open-minded. Mama saya pernah bercerita bahwa awal-awal pernikahan dengan papa, mama saya banyak sakit hati karena papa selalu mengungkapkan pendapatnya tetapi mama masih mbendol mburi. Mama saya masih suka menahan pendapat sampai papa menjelaskan bahwa komunikasi yang baik adalah komunikasi terbuka, dimana kita harus mengeluarkan semua pendapat kita, mendengarkan semua pendapat orang lain, dan menyimpulkan keputusan bersama yang saling menguntungkan. Saya sungguh bersyukur mempunyai orang tua seperti itu. Memang benar bahwa Tuhan telah memilihkan orang tua yang cocok untuk saya.