Anda di halaman 1dari 7

Amuk Bahasa Sinetron

Oleh Adrian Jourdan Muslim Pemerhati Masalah Bahasa

Bahasa Indonesia yang masih kolot lantas melahirkan penutur atau penulis yang memakai bahasa gado-gado. Dalam sebuah kalimat, umpamanya, tertera rupa-rupa istilah asing. Idiom tersebut sesungguhnya bukan sekedar gagah-gagahan. Selain aksentuasi, juga membantu agar orang lebih paham. Bahasa menunjukkan bangsa. Petuah itu seolah mengilustrasikan masyarakat Indonesia. Dewasa ini, tabiat bangsa Indonesia suka melanggar hukum. Sebagai tamsil, di suatu ruangan tertera kalimat: Dilarang Merokok. Biarpun ada larangan, namun, yang merokok tetap berjubel. Bahkan, sempat-sempatnya ia bertanya: Boleh Merokok di sini? Rasanya, bukan orang Indonesia jika tidak senang melanggar. Selain manusianya, juga bahasa Indonesia doyan menafikan kaidah. Di zaman Orde Baru, bahasa dipakai buat mengintimidasi. Kelompok yang tidak sejalan dengan Orde Baru diteriaki dengan jargon-jargon menakutkan. Ada orang, misalnya, menjalani litsus (penelitian khusus) gara-gara dituduh anggota OTB (organisasi tanpa bentuk).

Akronim yang pernah disematkan ke orang yang berbeda pendapat dengan penguasa ialah cekal (cegah dan tangkal). Dengan begitu, orang yang bersangkutan repot berekspresi lantaran tidak diperkenankan masuk atau keluar dari wilayah Indonesia. Sistem pemerintahan totaliter Soeharto memang gemar memunculkan banyak akronim. Elemen tersebut dilakukan sebagai siasat dalam menistakan lawan-lawan politik. Di sisi lain, akronim banyak diproduksi buat mengaburkan makna suatu konsep. Hingga, daya kritis masyarakat mengalami status koma. Orde Baru pun melarang kritik. Boleh mengeritik asal kritik membangun. Padahal, di mana-mana tidak ada kritik membangun. Kritik selalu mengusik perasaan. Kritik membangun artinya dilarang mencela apa saja yang dikerjakan oleh Orde Baru. Syukurlah, kini bahaya laten Orde Baru sudah tereliminasi sejak Mei 1998. Dialek Betawi Bahasa Melayu yang dibaptis sebagai bahasa Indonesia dianggap perekat bangsa. Pada 1920-an, alat komunikasi ala Melayu telah akrab dalam pergaulan serta perdagangan. Hatta, beberapa pemuda mencetuskan bahasa Melayu sebagai bahasa persatuan pada 28 Oktober 1928.

Di masa sekarang ada dorongan agar bahasa Indonesia dimutakhirkan. Alhasil, masyarakat efektif menyerap hasil teknologi. Di sisi lain, kecenderungan yang menimpa bahasa nasional yakni modernisasi dengan meninggalkan nilai, kaidah dan aturan. Bahasa Indonesia yang diperjuangkan para pemuda pada 1928, kini mengalami erosi. Bahasa nasional rupanya tak tahan terhadap perubahan. Akibatnya, bahasa Indonesia bersalin rupa secara vulgar seiring kehadiran televisi swasta. Perkara senada pernah menimpa Negeri Tirai Bambu. Satu dasawarsa silam di Hongkong, anak-anak muda dibanjiri bahasa Inggris. Kalau sesama remaja bersua, maka, mereka saling mengingatkan supaya kao. Istilah itu maksudnya call alias menelepon. Di kalangan ABG (anak baru gede) Tiongkok, berderak istilah Hongkong ku. Ku dicopot dari cool yang artinya hebat, keren atau bagus. Sekarang bahasa Indonesia bersolek seronok tak karuan. Semua lantaran sinetron. Pemain-pemain sinetron yang notabene dibesarkan di Jakarta ikut memasarkan dialek Betawi (Jakarta). Kini, masyarakat sudah akrab mendengar kalimat-kalimat yang tidak pernah diajarkan di sekolah-sekolah. Frasa yang biasa terdengar antara lain: I love banget, gue kan udah bilang, wow, keren abezz.

Kemudian: gapapa deh maupun udah waktunya jadi pinter. Ada lagi seperti: lu kok gitu sih, ngobrol kok ribet atau pede aja lagi!. Remaja yang bersumpah malahan bergumam: swear deh atau sumpeh lo. Sebuah SMA di Makassar mengedarkan kupon bazar. Kalimatnya berbunyi: mo ngadain bazaart ampe pagi. So pasti kamu ma temen-temen kamu happy. So langsung tancap gas aja dech! Dari pada bete. Untaian kalimat ala sinetron tersebut, mungkin dicap bernuasa gaul kendati belepotan. Arkian, bahasa sinetron yang mewakili kawula muda bisa dipastikan turut memudarkan derajat bahasa Indonesia sebagai perekat bangsa. Apalagi, bahasa sinetron telah menjalar ke manamana. Tidak Gaul Bahasa Jakarta sudah merasuk ke anak-anak maupun remaja. Warga ibu kota patut berbangga sekaligus menghaturkan terima kasih kepada televisi swasta. Sebab, lewat sinetron, maka, bahasa Jakarta menggerayangi anak muda. Pada 1997, sebuah lomba cerita pendek diadakan untuk siswa SMA. Di luar dugaan, ternyata hampir 80 persen menggunakan bahasa Jakarta. Padahal, peserta diikuti

dari seluruh wilayah di Indonesia. Bila sepuluh tahun silam angka pemakaian bahasa Jakarta mencapai 80 persen, berarti dapat dibayangkan suasana sekarang. Buku-buku teenlit atau sastra jerawat yang doyan dibaca remaja bisa dipastikan memakai bahasa Jakarta. Rasanya bahasa Jakarta itulah bahasa Indonesia yang menjadi media interaksi antarmanusia. Jerih-payah guru di sekolah bagai tak berbekas. Sinetron lebih lihai mengajarkan bahasa dibandingkan guru di kelas. Gemuruh-riuh bahasa sinetron diduga akibat bahasa Indonesia dinilai kaku, kuno serta tidak gaul. Bahasa Indonesia kurang klop digunakan di sinetron. Pasalnya, bahasa nasional tidak filmis. Di samping itu, bahasa Indonesia tergolong miskin. Jumlah istilah bahasa Indonesia belum layak dibanggakan. Di sisi lain, kalimat-kalimat di media cetak sering panjang bak rel kereta api. Bahasa Indonesia secara intra dan ekstra sistemik belum cukup kuat. Goyahnya pemakaian bahasa Indonesia muskil dipungkiri. Karena, banyak orang berpendidikan ikut mempengaruhi pemakaian bahasa Indonesia. Mereka yang pernah belajar di luar negeri lebih percaya diri berbahasa Inggris. Dengan demikian, tanpa disadari

bahasa nasional luntur di hati warga Nusantara. Tidak mustahil bahasa Indonesia bakal wassalam dari bumi Pertiwi lantaran bahasa Inggris, sinetron serta Facebook. Jang Anang Bahasa Indonesia yang masih kolot lantas melahirkan penutur atau penulis yang memakai bahasa gado-gado. Dalam sebuah kalimat, umpamanya, tertera rupa-rupa istilah asing. Idiom tersebut sesungguhnya bukan sekedar gagah-gagahan. Selain aksentuasi, juga membantu agar orang lebih paham. Sebagai contoh, istilah komputer seperti mouse. Alat yang dinamakan mouse tidak ditemukan terjemahannya dalam bahasa Indonesia. Memang acap dipakai istilah tetikus, namun, kurang afdal serta tak populer. Lalu istilah bullying, juga tidak ada. Bullying yang asal katanya dari bull (sapi jantan), diterjemahkan sesuai konteks. Ada yang mengartikan menggertak, memeras atau menyakiti secara fisik. Jika tak ada padanannya, niscaya orang akan memanfaatkan istilah asing. Hingga, bahasa Indonesia tidak ubahnya sepotong ular, sepotong belut. Istilah asing memang tak buruk. Apalagi, kalau sekedar bercanda antarsesama makhluk wicara. Orang kadang bertanya, apa bahasa Mandarinnya robek. Jawabnya: compang-camping. Terus bahasa Tiongkoknya setengah mati tentu sam pek ping san.

Apa yang dikatakan masyarakat Sulawesi Selatan bila mengucapkan "jam enam makan malam". Jawabnya: "jang anang makang malang". Nasinya dengan apa, daeng? Dengang ikang.*** Tribun Timur Lebih Interaktif, Lebih Akrab