Anda di halaman 1dari 18

TUGAS AGROINDUSTRI

O L E H

SWASTIKA NUSANTARI 100308021

AGROINDUSTRI PERTANIAN PROGRAM STUDI KETEKNIKAN PERTANIAN FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS SUMATERA UTARA 2012

Agroindustri adalah industri/kegiatan pengolahan yang berbasis hasil pertanian bukan hanya menangani komoditi tanaman, tapi telur, daging, ikan, hasil perairan lainnya (kerang, udang, dll). Contohnya pembuatan tempe, nata de coco, pengembang roti, susu, ikan, dll. Teknologi pertanian pada dasarnya adalah penerapan dari ilmu-ilmu teknik pada kegiatan pertanian atau dalam pengertian lain dan lebih luas yaitu suatu penerapan prinsipprinsip matematika dan sains dalam rangka pendayagunaan sumber daya pertanian dan sumber daya alam secara ekonomis untuk kesejahteraan manusia. Pertanian dan pertanian sangatlah tidak dapat dipisahkan untuk zaman sekarang ini. Keduanya jalan bersamaan dalam proses pemenuhan kebutuhan hidup dan peningkatan kesejahtareaan manusia melalui ketahanan pangan dan produk-produk sandang dan papan. Ilmu dan teknologi pertanian secara luas mencakup berbagai penerapan ilmu yang terfokus pada budidaya, pemeliharaan, pemanenan, peningkatan mutu hasil panen, penanganan, pengelolaan dan pengamanan hasil, dan pemasaran hasil sebagai objek formal ilmu pertanian tersebut. Pertanian tersebut terbagi ke dalam tiga generasi. Generasi I yaitu generasi pertanian yang menghasilkan bibit. Generasi II yaitu generasi penghasil komoditas pertanian. Generasi III yaitu generasi yang meningkatkan nilai tambah hasil pertanian atau dengan kata lain agroindustri. Ketiga generasi tersebut tidak dapat berjalan sendiri-sendiri karena ketiganya saling mendukung. Generasi I pertanian menghasilkan bibit bagi pertanian melalui pertanian bibit yang merupakan input bagi generasi II pertanian sehingga menghasilkan suatu komoditi. Sebelum ada pembibitan secara alami komoditi tanaman berkembang biak dan beregenerasi secara alami tanpa ada campur tangan manusia. Peluang menjadi tumbuh dengan baik dipengaruhi oleh rintangan alam kemudian datang manusia yang melihat fenomena ini, maka ikut campur tangan dan timbullah metode-metode baru dalam pembibitan, seperti: a) Mencangkok Mencangkok adalah membuat cabang batang tanaman menjadi berakar.Mencangkok dilakukan pada cabang yang dekat dengan batang.Caranya, sebagian kulit cabang di buang.Cabang itu kemudian dibalut dengan tanah. Pada cabang yang dicangkok akan tumbuh akar. Cabang ini siap ditanam menjadi tanaman baru.Mencangkok biasanya dilakukan pada tanaman yang berkambium.Contohnya, tanaman mangga, jambu air, dan rambutan.

b) Stek Stek dapat dilakukan dengan menanam potongan bagian tumbuhan, bagian yang dipotong dapat berupa batang, daun, atau akar.Oleh karena itu kita mengenal tiga macam stek.Stek batang dapat kita lakukan pada tanaman singkong dan tanaman sirih. Stek daun dapat kita lakukan dengan memotong helaian daun, kemudian menenamnya. Stek daun dapat dilakukan pada tumbuhan cocor bebek dan begonia. Stek akar dapat dilakukan dengan cara memotong bagian akar. Stek akar dapat dilakukan pada tanaman sukun c) Merunduk Merunduk dilakukan pada cabang tanaman yang menjalar, cabang dirundukan dan ditimbun tanah. Akar akan tumbuh dari bagian tanaman yang tertimbun tanah .Apabila akar sudah banyak, cabang dapat dipotong dari induknya. Perkembangbiakan dengan cara merunduk dapat dilakukan pada tanaman alamanda. d) Tempel (Okulasi) Menempel atau okulasi adalah menggabungkan mata tunas suatu tumbuhan pada batang tumbuhan lain. Tumbuhan yang akan ditempeli harus yang kuat. Tempel (okulasi) bertujuan menggabungkan dua tumbuhan berbeda sifatnya. Nantinya, akan dihasilkan tumbuhan yang memiliki dua jenis buah atau bunga e) Sambung (Enten) Menyambung atau mengenten bertujuan menggabungkan dua sifat unggul dari individu yang berbeda.Misalnya, untuk menyokong tumbuhan dibutuhkan jenis tumbuhan yang memiliki akar kuat.Sementara untuk menghasilkan buah atau daun atau bunga yang banyak dibutuhkan tumbuhan yang memiliki produktivitas tinggi.Tumbuhan yang dihasilkan memiliki akar kuat dan produktivitas yang tinggi.Contoh tumbuhan yang bisa disambung adalah tumbuhan yang sekeluarga.Contohnya, tomat dengan terung. Berikut ini adalah gambar proses menyambung.

f) Kultur Jaringan Kultur jaringan adalah suatu metode untuk mengisolasi bagian dari tanaman seperti sekelompok sel atau jaringan yang ditumbuhkan dengan kondisi aseptik, sehingga bagian tanaman tersebut dapat memperbanyak diri tumbuh menjadi tanaman lengkap

kembali.Teknik kultur jaringan memanfaatkan prinsip perbanyakan tumbuhan secara vegetatif. Berbeda dari teknik perbanyakan tumbuhan secara konvensional, teknik kultur jaringan dilakukan dalam kondisi aseptik di dalam botol kultur dengan medium dan kondisi tertentu. Karena itu teknik ini sering kali disebut kultur in vitro. Dikatakan in vitro (bahasa Latin), berarti "di dalam kaca" karena jaringan tersebut dibiakkan di dalam botol kultur dengan medium dan kondisi tertentu Teori dasar dari kultur in vitro ini adalah Totipotensi. Teori ini mempercayai bahwa setiap bagian tanaman dapat berkembang biak karena seluruh bagian tanaman terdiri atas jaringan-jaringan hidup. Oleh karena itu, semua organisme baru yang berhasil ditumbuhkan akan memiliki sifat yang sama persis dengan induknya. Kemudian komoditi yang dihasilkan generasi II pertanian yang meliputi hewan, tumbuhan, dan mikroba dijadikan input bagi generasi III pertanian. Sama halnya dengan Generasi I, tanpa ada campur tangan, komoditi bisa tumbuh, berkembang sendiri kemudian dicampur tangani lagi oleh manusia. Hal ini disebut budidaya. Kemudian muncuk lagi inovasi, cara, metoda, seperti olah tanah, intensifikasi, ekstensifikasi, hidroponik, aeroponik, dan lainnya. Hingga ini juga menjadi agroindustri. Bahkan ada yang menyulap budidaya menjadi agrowisata. Generasi III pertanian yaitu agroindustri untuk diolah menjadi produk yang mempunyai nilai yang lebih tinggi dari generasi-generasi sebelumnya baik dari segi fungsionalnya maupun nilai ekonomisnya. Pada generasi I, menghasilkan bibit pertanian dapat dilakukan dengan berbagai metode dalam ilmu dan teknologi pertanian seperti penyeleksian, persilangan, dan rekayasa genetika. Pertanian generasi II menghasilkan komoditas pertanian dengan melakukan budidaya yang menerapkan segenap ilmu dan teknologi mulai dari penyiapan lahan hingga pemanenan. Untuk generasi agroindustri, teknologi yang diterapkan lebih banyak lagi dan teknologi tersebut saling terintegrasi untuk membangun suatu agroindustri yang baik. Teknologi yang digunakan pada pertanian generasi III ini antara lain, bioteknologi, kimia pangan, teknologi rekayasa proses, teknik dan sistem industri, pengemasan, penyimpanan, distribusi dan transportasi, dan bahkan nanoteknologi.

Bukti kaitan ketiganya saling tidak dapat terlepas yaitu apabila salah satu generasi tidak ada atau tidak berjalan akan mengkerdilkan fungsi generasi lainnya. Misalnya, kegiatan agroindustri yang sangat buruk di suatu negara yang tidak dapat mengangkat potensi komoditas-komoditas pertaniannya ke dalam produk bernilai tinggi akan mematisurikan potensi komoditas yang dihasilkan pertanian generasi II dan kegunaan pertanian generasi I tidak maksimal, dalam arti hanya sebatas penggunaan bibit untuk menghasilkan komoditas, tidak menghasilkan produk, padahal bibit yang dihasilkan (pada generasi I) juga dapat dijadikan input untuk generasi agroindustri yaitu industri bibit yang tentunya disandarkan pada teknologi pertanian bibit dalam pengembangannya. Begitu pula apabila generasi II tidak menghasilkan komoditas pertanian yang berkualitas dan berkuantitas baik, maka generasi agroindustri akan kesulitan mendapat bahan baku industrinya. Hal ini bisa saja dikarenakan generasi I penghasil bibit menghasilkan bibit yang kurang dalam segi kualitas. Terbukti bahwa ketiga generasi tersebut saling mendukung. Ketiga generasi tersebut akan tetap berjalan sejak dan selama pertanian dan ilmu pengetahuan dan teknologi ada di bumi ini.

Serealia
Serealia (Bahasa Inggris: cereal), dikenal juga sebagai sereal atau biji-bijian merupakan sekelompok tanaman yang ditanam untuk dipanen biji/bulirnya sebagai sumber karbohidrat/pati. Di Malaysia disebut sebagai bijirin. Kebanyakan serealia merupakan anggota dari suku padi-padian dan disebut sebagai serealia sejati. Anggota yang paling dikenal dan memiliki nilai ekonomi tinggi, sehingga dikenal sebagai serealia utama adalah padi, jagung, gandum, gandum durum, jelai, haver, dan gandum hitam. Beberapa tanaman penghasil bijian yang bukan padi-padian juga sering disebut serealia semu (pseudocereals); mencakup buckwheat, bayam biji (seed amaranth), dan kinoa.Beberapa serealia juga dikenal sebagai pakanburung berkicau, seperti jewawut dan berbagai jenis milet.Walaupun menghasilkan pati, tanaman seperti sagu, ketela pohon, atau kentang tidak digolongkan sebagai serealia karena bukan dipanen bulir/bijinya. Serealia dibudidayakan secara besar-besaran di seluruh dunia, melebihi semua jenis tanaman lain dan menjadi sumber energi bagi manusia dan ternak. Di sebagian negara berkembang, serealia seringkali merupakan satu-satunya sumber karbohidrat. Jagung, gandum, dan padi secara bersama-sama memenuhi 87% seluruh produksi biji-bijian dunia dan 43% dari kebutuhan kalori pada tahun 2003.[2]

Beberapa serealia lain hanya penting di tempat-tempat tertentu, tetapi tidak dikenal di tempat lain (seningga tidak dimasukkan dalam statistik FAO):

Tef, populer di Ethiopia Zizania (wild rice), ditanam di Amerika Utara Bayam biji, serealia semu kuna, pernah digunakan sebagai makanan pokok oleh Imperium Aztek

Kanyiwa, kerabat dekatkinoa.

Beberapa macam gandum juga telah didomestikasi, bahkan lebih awal daripada gandum biasa, seperti

Gandum spelt, kerabat dekat gandum biasa Einkorn, sejenis gandum dengan satu bulir Emmer, salah satu jenis yang pertama kali dibudidayakan di lembah "bulan sabit yang subur" Gandum durum, satu-satunya jenis gandum tetraploid yang dibudidayakan,

merupakan bahan bakupasta dan semolina. Meskipun setiap spesies memiliki keistimewaan, pembudidayaan semua serealia adalah sama. Semua adalah tanaman semusim; yang berarti satu kali tanam, satu kali panen. Gandum (wheat), rye (gandum hitam, umumnya untuk makanan ternak), triticale, havermut, dan jelai (yang digunakan untuk pembuatan bir), serta spelt (gandum yang cocok untuk dijadikan tepung berkualitas tinggi) adalah serealia musim dingin. Tanaman-tanaman serealia tersebut tumbuh baik di daerah beriklim sedang dan tidak sanggup tumbuh di cuaca panas (kurang lebih 30 C meskipun daya adaptasinya bervariasi tergantung spesies dan varietasnya.Serealia musim tidak memerlukan perlakuan musim dingin (vernalisasi). Jelai dan gandum hitam adalah tahan kondisi ekstrem dan mampu tumbuh di daerah musim dingin yang panjang seperti di wilayah subarktik dan Siberia.Gandum merupakan serealia yang paling populer di daerah iklim sedang dan padi merupakan serealia yang paling populer di daerah tropika.Kebanyakan serealia musim dingin tidak tumbuh di daerah tropis.Beberapa dapat tumbuh di dataran tinggi yang lebih dingin, yang memungkinkan untuk melakukan beberapa kali penanaman dalam setahun. Contoh Serealia

Contoh: Padi, Jagung, Gandum, Sorgum, Oat Struktur biji serealia Pericarp/Kulit biji (1-2%) Endosperm/butir biji (89-94%) Embryo/lembaga (2-3%) Bagian2 biji Pericarp: Pembungkus biji, dinding tebal panjang, terdiri atas epicarp (paling luar), mesocarp (tengah) dan seed coat Aleuron: penyelubung endosperm dan lembaga. Aleuron adalah bag terluar dari endosperm. Di sini terdapat protein dan lipida Embryo: bagian terkecil. Penentu pertumbuhan Beras Sumber karbohidrat utama selain gandum Di Indonesia, beras adalah sumber kalori 60-80% dan sumber protein 45-55% Komposisi kimia beras Karbohidrat Bagian terbanyak dari serealia Terdiri atas pati, pentosan*), selulosa, hemiselulosa dan gula Pada beras pecah: pati 85-95%, pentosan 2-25% dan gula 0,6-1,1% Amilosa**) penentu rasa dan mutu nasi Kadar amilosa makin tinggi, makin pera *)Any of a group of polysaccharides found with cellulose in many woody plants and yielding pentoses on hydrolysis **) Amilosa merupakan polisakarida, polimer yang tersusun dari glukosa sebagai monomernya. Tiap-tiap monomer terhubung dengan ikatan 1,6-glikosidik. Amilosa merupakan polimer tidak bercabang yang bersama-sama dengan amilopektin menjadi komponen penyusun pati.Dalam masakan, amilosa memberi efek keras atau pera bagi pati atau tepung.

Protein Protein dalam biji: Albumin (larut dalam air) Globulin (larut dalam garam) Prolamin (larut dalam alkohol) Blutelin (larut dalam alkali dan asam) Serealia: utama prolamin dan globulin Lemak Lemak tertinggi pada lembaga dan aleuron 80% lemak dalam beras pecah kulit ada di dedak, bekatul Mineral Jumlah banyak: K, S P, Mg, Cl, Na, Ca, Si Jumlah kecil: Fe, Zn, Mn, Cu Vitamin Kandungan vitamin utama pada serealia adalah asam pantotenat (B5), biotin (B7), inositol, vitamin B12 (cyanocobalamin), dan vitamin E (tokoferol). Vitamin ini banyak terdapat pada lapisan aleuron dan selama penggilingan vitamin ini banyak yang hilang. Khusus untuk inositol, sebetulnya bukan vitamin, tapi ada yang menggolongkan sebagai vit B Karakteristik mutu Beras Mutu pasar Mutu pasar ini ditentukan oleh bentuk, ukuran, rupa biji serta mutu giling.Mutu pasar menentukan harga beras dan selalu mempengaruhi mutu masak dan mutu rasa. Berdasarkan ukuran beras dalam standarisasi mutu beras dikenal 4 tipe yaitu : biji sangat panjang (extra long grain) biji panjang (long gran)

biji sedang biji pendek Berdasarkan bentuk dan rasio panjang/lebar, beras dibedakan menjadi 4 yaitu : beras biji lonjong beras biji sedang beras biji agak bulat beras biji bulat Mutu giling tidak dipengaruhi oleh ukuran dan bentuk biji, tetapi lebih ditentukan oleh varietas padi dan kadar air beras. Mutu masak ditentukan oleh suhu gelatinisasi rendah :< 70oC Sedang : 70 74oC Tinggi :>74oC Beras yang mempunyai suhu gelatinisasi lebih tinggi apabila dimasak membutuhkan air dan waktu lebih banyak pada proses pemasakannya. Beras yang mempunyai suhu gelatinisasi tinggi mutunya rendah. Mutu rasa Mutu rasa ditentukan oleh rasio antar amilosa dan amilopektin. Kandungan amilosa mempunyai korelasi negatif terhadap nilai taste panel dari kelekatan, kelunakan, warna dan kilap nasi. Kilap amilosa mempunyai korelasi negatif terhadap jumlah air yang diserap dan pengembangan volume nasi. Mutu rasa yang baik bagi penduduk Indonesia adalah beras dengan kadar amilosa rendah sampai sedang, yaitu 17 23%. Perubahan pasca panen 1. Karbohidrat

Perubahan-perubahan berikut dapat terjadi pada komponen karbohidrat serealia selama penyimpanan, yaitu : hidrolisa pati karena kegiatan enzim amilase berkurangnya gula karena pernafasan terbentuknya bau asam dan bau apek karena kegiatan mikroorganisme reaksi pencoklatan bukan karena enzim Protein Selama penyimpanan Nitrogen total sebagian besar tidak mengalami perubahan, tetapi Nitrogen dari protein sedikit turun. Jumlah total asam amino menunjukkan perubahan yang berarti bila terjadi kerusakan lebih lanjut akibat kegaiatan enzim proteolitik. 3. Lemak Kerusakan lemak dan minyak dalam biji serealia terjadi secara oksidasi, menghasilkan flavour dan bau tengik. Hidrolisa lemak ini dipercepat oleh suhu tinggi, kadar air tinggi dan faktor-faktor lain seperti pertumbuhan kapang. Pada beras akibat aktivitas kapang, hidrolisa lemak lebih cepat dibandingkan dengan hidrolisa protein atau karbohidrat selama penyimpanan. 4. Mineral Mineral jarang hilang atau meningkat selama penyimpanan, kecuali fosfor. Selama penyimpanan kegiatan enzim fitrase melepas fosfat dari asam fitrat menjadi fosfat bebas dan menyebabkan peningkatan nilai gizi. 5. Vitamin Selama penyimpanan akan terjadi : Thiamin (B1) banyak yang rusak, kerusakan dipercepat dengan kadar air dan suhu tinggi Riboflavin (B2) dan piridoksin (B6) sangat sensitif terhadap cahaya Vitamin A turun karena kehilangan karotin

Tokoferol (E) bisa hilang dengan adanya O2, karena O2 mempercepat penurunan tokoferol. Jagung Jagung mengandung karbohidrat sekitar 71 73%, tediri dari pati, sebagian kecil gula dan serat.Pati terutama terdapat pada endosperm, gula pada lembaga dan serat pada kulit.Kandungan protein pada jagung sekitar 10% terdapat pada aleuron, dan 90% pada lembagaKandungan lemak kurang lebih 15% (80% terdapat di lembaga dan sebagian kecil di endosperm). Sebagian besar lemak jagung adalah asam lemak linoleat (50%).Kandungan mineral paling banyak adalah fosfor dan zat besi, sedangkan kalsium terdapat dalam jumlah kecil. Vitamin terutama vitamin B1 dan B2 terdapat pada lembaga dan luar endosperm. Agroindustri Serealia Pangan (food) manusia Pakan (food) tenak Industri : Pakan, kimia, tekstil, kosmetik, dll High Fructose Sugar Alkohol CnH12On C6H12O6 (Fruktosa( C2H5OH CH3COOH

Glukosa High (High Glucose Sugar)

Padi Padi (bahasa latin: Oryza sativa L.) merupakan salah satu tanaman budidaya terpenting dalam peradaban. Meskipun terutama mengacu pada jenis tanaman budidaya, padi

juga digunakan untuk mengacu pada beberapa jenis dari marga (genus) yang sama, yang biasa disebut sebagai padi liar. Padi diduga berasal dari India atau Indocina dan masuk ke Indonesia dibawa oleh nenek moyang yang migrasi dari daratan Asia sekitar 1500 SM. Produksi padi dunia menempati urutan ketiga dari semua serealia, setelah jagung dan gandum.Namun demikian, padi merupakan sumber karbohidrat utama bagi mayoritas penduduk dunia. Hasil dari pengolahan padi dinamakan beras. CIRI-CIRI UMUM PADI Padi termasuk dalam suku padi-padian atau POACEAE (GRAMINAE atau GLUMIFLORAE). Terna semusim,berakar serabut,batang sangat pendek,struktur serupa batang terbentuk dari rangkaian pelepah daun yang saling menopang daun sempurna dengan pelepah tegak,daun berbentuk lanset,warna hijau muda hingga hijau tua,berurat daun sejajar,tertutupi oleh rambut yang pendek dan jarang,bagian bunga tersusun majemuk,tipe malai bercabang,satuan bunga disebut FLORET yang terletak pada satu spikelet yang duduk pada panikula,tipe buah bulir atau kariopsis yang tidak dapat dibedakan mana buah dan bijinya,bentuk hampir bulat hingga lonjong,ukuran 3mm hingga 15mm,tertutup oleh palea dan lemma yang dalam bahasa sehari-hari disebut sekam,struktur dominan padi yang biasa dikonsuksi yaitu jenis ENDUKeanekaragaman budidaya Padi gogo Di beberapa daerah tadah hujan orang mengembangkan padi gogo, suatu tipe padi lahan kering yang relatif toleran tanpa penggenangan seperti di sawah.Di Lombok dikembangkan sistem padi gogo rancah, yang memberikan penggenangan dalam selang waktu tertentu sehingga hasil padi meningkat. Padi rawa Padi rawa atau padi pasang surut tumbuh liar atau dibudidayakan di daerah rawa-rawa. Selain di Kalimantan, padi tipe ini ditemukan di lembah Sungai Gangga. Padi rawa mampu membentuk batang yang panjang sehingga dapat mengikuti perubahan kedalaman air yang ekstrem musiman.

Keanekaragaman tipe beras/nasi Padi pera Padi pera adalah padi dengan kadaramilosa pada pati lebih dari 20% pada berasnya. Butiran nasinya jika ditanak tidak saling melekat.Lawan dari padi pera adalah padi pulen.Sebagian besar orang Indonesia menyukai nasi jenis ini dan berbagai jenis beras yang dijual di pasar Indonesia tergolong padi pulen.Penggolongan ini terutama dilihat dari konsistensi nasinya. Ketan Ketan (sticky rice), baik yang putih maupun merah/hitam, sudah dikenal sejak dulu. Padi ketan memiliki kadar amilosa di bawah 1% pada pati berasnya. Patinya didominasi oleh amilopektin, sehingga jika ditanak sangat lekat. Padi wangi Padi wangi atau harum (aromatic rice) dikembangkan orang di beberapa tempat di Asia, yang terkenal adalah ras 'Cianjur Pandanwangi' (sekarang telah menjadi kultivar unggul) dan 'rajalele'.Kedua kultivar ini adalah varietas javanica yang berumur panjang. Di luar negeri orang mengenal padi biji panjang (long grain), padi biji pendek (short grain), risotto, padi susu umumnya menggunakan metode silsilah. Salah satu tahap terpenting dalam pemuliaan padi adalah dirilisnya kultivar 'IR5' dan 'IR8', yang merupakan padi pertama yang berumur pendek namun berpotensi hasil tinggi. Ini adalah awal revolusi hijau dalam budidaya padi.Berbagai kultivar padi berikutnya umumnya memiliki 'darah' kedua kultivar perintis tadi. Adapun kesalahan dalam penyimpanan padi adalah: Case hardening : terjadi pengerasan pada permukaan bahan sehingga membentuk kerak sehingga air yang ada tidak bisa keluar Chilling injuries Freezing injuries Stalling : kerusakan diakibatkan kesalahan pendinginan : kerusakan diakibatkan kesalahan pembekuan : kesalahan diakibatkan pengolahan/penyimpanan

AGROINDUSTRI HOLTIKULTURA Membangun Agroindustri Holtikultura Agroindustri tutup karena: 1. Kesalahan manajemen 2. Kekurangan bahan baku 3. Kekurangan konsumen 4. Tidak mengenal skala usaha Pertimbangan sebelum membangun agroindustri: 1. Sumber bahan baku 2. Ketersediaan tenaga kerja 3. Lokasi pasar 4. Insentif khusus

Sumber bahan baku: Produk terpencar dan belum diusahakan besar-besaran Kuantitas cukup Kualitas terjamin Ketersediaan tepat waktu Kontinuitas

STRATA AGROINDUSTRI DAN TEKNOLOGI Strata agroindustri terbagi 3 yaitu: 1. Strata I (agroindustri besar) mencakup kegiatan ekspor. 2. Strata II (agroindustri menengah) mencakup kegiatan ekspor dan domestik. 3. Strata III (agroindustri kecil/home industry) mencakup kegiatan

lokal/domestik. Penerapan Teknologi untuk Agroindustri Salah satu kendala dalam pengembangan agroindustri di Indonesia adalah kemampuan mengolah produk yang masih rendah. Hal ini ditunjukkan dengan sebagian besar komoditas pertanian yang diekspor merupakan bahan mentah dengan indeks retensi pengolahan sebesar 71-75%. Angka tersebut menunjukkan bahwa hanya 25-29% produk pertanian Indonesia yang diekspor dalam bentuk olahan. Kondisi ini tentu saja memperkecil nilai tambah yang yang diperoleh dari ekspor produk pertanian, sehingga pengolahan lebih lanjut menjadi tuntutan bagi perkembangan agroindustri di era global ini. Teknologi yang digolongkan sebagai teknologi agroindustri produk pertanian begitu beragam dan sangat luas mencakup teknologi pascapanen dan teknologi proses. Untuk memudahkan, secara garis besar teknologi pascapanen digolongkan berdasarkan tahapannya yaitu, tahap atau tahap sebelum pengolahan, tahap pengolahan dan tahap pengolahan lanjut. Perlakuan pascapanen tahap awal meliputi, pembersihan, pengeringan, sortasi dan pengeringan berdasarkan mutu, pengemasan, transport dan penyimpanan, pemotongan/pengirisan, penghilangan biji, pengupasan dan lainnya. Perlakuan pascapanen tahap pengolahan antara lain, fermentasi, oksidasi, ekstraksi buah, ekstraksi rempah, distilasi dan sebagainya. Sedangkan contoh perlakuan pascapanen tahap lanjut dapat digolongkan ke dalam teknologi proses untuk agroindustri, yaitu penerapan pengubahan (kimiawi, biokimiawi, fisik) pada hasil pertanian menjadi produk dengan nilai ekonomi yang lebih tinggi seperti: 1. Kakao ; lemak kakao,bubuk kakao, produk coklat. 2. Kopi ; Kopi bakar, produk-produk kopi, minuman, kafein. 3. Teh ; Produk-produk teh, minuman kesehatan. 4. Ekstrak/oleoresin ; produk-produk dalam bentuk bubuk atau enkapsulasi.

5. Minyak atsiri ; produk-produk aromaterapi, isolat dan turunan kimia. Produk-produk yang dihasilkan ada yang dapat digunakan secara langsung dari sejak tahap awal, seperti rempah-rempah, sari buah dan lainnya, serta ada pula yang menjadi bahan baku untuk industri lainya, seperti industri makanan, kimia dan farmasi. Pengembangan Agroindustri Pengembangan Agroidustri di Indonesia terbukti mampu membentuk

pertumbuhan ekonomi nasional. Di tengah krisis ekonomi yang melanda Indonesia pada tahun 1997-1998, agroindustri ternyata menjadi sebuah aktivitas ekonomi yang mampu berkontribusi secara positif terhadap pertumbuhan ekonomi nasional. Selama masa krisis, walaupun sektor lain mengalami kemunduran atau pertumbuhan negatif, agroindustri mampu bertahan dalam jumlah unit usaha yang beroperasi. Kelompok agroindustri yang tetap mengalami pertumbuhan antara lain yang berbasis kelapa sawit, pengolahan ubi kayu dan industri pengolahan ikan. Kelompok agroindustri ini dapat berkembang dalam keadaan krisis karena tidak bergantung pada bahan baku dan bahan tambahan impor serta peluang pasar ekspor yang besar. Sementara kelompok agroindustri yang tetap dapat bertahan pada masa krisis adalah industri mie, pengolahan susu dan industri tembakau yang disebabkan oleh peningkatan permintaan di dalam negeri dan sifat industri yang padat karya[3]. Kelompok agroindustri yang mengalami penurunan adalah industri pakan ternak dan minuman ringan. Penurunan industri pakan ternak disebabkan ketergantungan impor bahan baku (bungkil kedelai, tepung ikan dan obat-obatan). Sementara penurunan pada industri makanan ringan lebih disebabkan oleh penurunan daya beli masyarakat sebagai akibat krisis ekonomi. Berdasarkan data perkembangan ekspor tiga tahun setelah krisis moneter 19982000, terdapat beberapa kecenderungan komoditas mengalami pertumbuhan yang positif antara lain, minyak sawit dan turunannya, karet alam, hasil laut, bahan penyegar seperti kakao, kopi dan teh, hortikultuta serta makanan ringan/kering. Berdasarkan potensi yang dimiliki, beberapa komoditas dan produk agroindustri yang dapat dikembangkan pada masa mendatang antara lain, produk berbasis pati, hasil hutan non kayu, kelapa dan turunannya, minyak atsiri dan flavor alami, bahan polimer non karet serta hasil laut non ikan. Dengan demikian, agroindustri merupakan langkah strategis untuk meningkatkan nilai tambah hasil pertanian

melalui pemanfaatan dan penerapan teknologi, memperluas lapangan pekerjaan serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Pada kenyataannya, perkembangan nilai ekspor agroindustri masih relatif lambat dibandingkan dengan subsektor industri lainnya. Hal ini dapat disebabkan oleh beberapa faktor antara lain : 1. Kurang cepatnya pertumbuhan sektor pertanian sebagai unsur utama dalam menunjang agroindustri, di pihak lain juga disebabkan oleh kurangnya pertumbuhan sektor industri yang mendorong sektor pertanian. 2. Pemasaran produk agroindustri lebih dititik beratkan pada pemenuhan pasar dalam negeri. Produk-produk agroindustri yang diekspor umumnya berupa bahan mentah atau semi olah. 3. Kurangnya penelitian yang mengkaji secara mendalam dan menyeluruh berbagai aspek yang terkait dengan agroindustri secara terpadu, mulai dari produksi bahan baku, pengolahan dan pemasaran serta sarana dan prasarana, seperti penyediaan bibit, pengujian dan pengembangan mutu, transportasi dan kelengkapan kelembagaan. 4. Kurangnya minat para investor untuk menanamkan modal pada bidang agroindustri. Tantangan dan harapan bagi pengembangan agroindustri di Indonesia adalah bagaimana meningkatkan keunggulan komparatif produk pertanian secara kompetitif menjadi produk unggulan yang mampu bersaing di pasar dunia. Dalam lingkup perdagangan, pengolahan hasil pertanian menjadi produk agroindustri ditunjukkan untuk meningkatkan nilai tambah komoditas tersebut. Semakin tinggi nilai produk olahan, diharapkan devisa yang diterima oleh negara juga meningkat serta keuntungan yang diperoleh oleh para pelaku agoindustri juga relatif tinggi. Untuk dapat terus mendorong kemajuan agroindustri di Indonesia antara lain diperlukan : 1. Kebijakan-kebijakan agroindustri. 2. Langkah-langkah yang praktis dan nyata dalam memberdayakan para petani, penerapan teknologi tepat guna serta kemampuan untuk memcahkan masalahmasalah yang dihadapi. serta insentif yang mendukung pengembangan

3. Perhatian yang lebih besar pada penelitian dan pembangunan teknologi pascapanen yang tepat serta pengalihan teknologi tersebut kepada sasaran pengguna. 4. Alur informasi yang terbuka dan memadai. 5. Kerjasama dan sinergitas antara perguruan tinggi, lembaga penelitian, petani dan industri. Pembangunan dan pengembangan agroindustri secara tepat dengan dukungan sumberdaya lain dan menjadi strategi arah kebijakan pemerintah diharapkan dapat meningkatkan keberhasilan negara, berdasarkan tolok ukur sebagai berikut[3] : 1. Menghasilkan produk agroindustri yang berdaya saing dan memiliki nilai tambah dengan ciri-ciri berkualitas tinggi. 2. Meningkatkan perolehan devisa dan kontribusi terhadap produk domestik bruto (PDB) nasional. 3. Menyediakan lapangan kerja yang sangat diperlukan dalam mengatasi ledakan penggangguran. 4. Meningkatkan kesejahteraan para pelaku agroindustri baik di kegiatan hulu, utama maupun hilir khususnya petani, perkebunan, peternakan, perikanan dan nelayan. 5. Memelihara mutu dan daya dukung lingkungan sehingga pembangunan agroindustri dapat berlangsung secara berkelanjutan. 6. Mengarahkan kebijakan ekonomi makro untuk memihak kepada sektor pemasok agroindustri.