Anda di halaman 1dari 21

REGULASI KEUANGAN SEKTOR PUBLIK

Dasar Hukum Keuangan Negara


Hak dan Kewajiban Negara
Hak Negara 1. Monopoli mencetak dan mengedarkan uang 2. Memungut sumber-sumber keuangan 3. Memproduksi barang dan jasa yang dapat dinikmati oleh khalayak umum, dan pemerintah dapat memperoleh (kontra-prestasi) sebagai penerimaan negara Kewajiban Negara 1. Melindungi segenap bangsa Indonesia 2. Memajukan kesejahteraan umum 3. Mencerdaskan kehidupan bangsa 4. Ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi, dan keadilan sosial

UUD 1945 Amandemen IV Bab VIII tentang Keuangan Negara pasal 23

Dasar Hukum Keuangan Daerah


UUD 1945 pasal 18 Amandemen IV, meliputi: tujuan pembentukan daerah otonom UU No. 5 thn 1974 ps. 64 tentang Fungsi penyusunan APBD

ASP masuk Era Desentralisasi


Prasarana ASP: Standar akuntansi sektor publik Kode akun, transaksinya direview probabilitasnya untuk konsolidasi & diaudit Jenis buku besar atau G/L, sebagai pusat pencatatan data primer Manual sistem akuntansi pemerintahan

Kesamaan organisasi pemerintahan dengan entitas bisnis


1.

2. 3.

4.

Bagian dari sistem perekonomian, menggunakan sumberdaya, bertransaksi dan membutuhkan Menghadapi masalah keterbatasan sumberdaya Pola manajemen keuangan (mulai dari perencanaan s.d. pengendalian) membutuhkan akuntansi Dalam beberapa hal, menyediakan produk yang sama

Pemerintah Pada demokrasi: eksekutif legislatif yudikatif Indikator kesukesan: mutu layanan & efisiensi Tidak ada hubungan langsung Memliki peran signifikan Layanan kepada masy.

PERBEDAAN Struktur Pemerintahan

Sektor Komersial/Bisnis Staf dan lini bisnis Indikator kesuksesan: laba & return saham

Sifat Sumber Daya

Ada hubungan langsung antara barang atau jasa dengan uang yang dibayarkan Politik internal & masih ada kendali pemegang saham Keuntungan

Proses Politik Tujuan Organisasi

Anggaran sebagai pengendali utama


Pajak, retribusi, pinjaman, laba BUMN Unik, harga hanya utk menutup sebagian biaya & kos barang/jasa

Penggunaan Anggaran
Sumber Pendanaan Penentuan Harga

Anggaran sbg alat perencanaan & pengendali internal


Penjualan barang/jasa Kos produksi dibebankan penuh kepada konsumen

Review Regulasi yang terkait dengan ASP


Regulasi ASP Pra Reformasi Regulasi ASP di Era Reformasi

Paradigma Baru ASP di Era Reformasi

Barang dan Jasa Publik

Barang & Jasa Publik vs Barang & Jasa Swasta

Barang publik : barang kolektif yang seharusnya dikuasai oleh negara atau pemerintah tidak eksklusif Barang swasta : sifatnya eksklusif Barang setengah kolektif, dimiliki oleh swasta atau patungan swasta dengan pemerintah seharusnya tidak boleh eksklusif dan pemerintah ikut menentukan harga jualnya yang biasanya tidak terjangkau rakyat. Misal : sekolah swasta & rumah sakit swasta
pepie diptyana

Konsep pokok barang & jasa publik


Excludability
Excludability tinggi, daya saing rendah Toll Goods (campuran biaya swasta & publik)

Barang swasta

Excludability : kondisi dimana konsumen & produsen bisa memastikan bahwa orang lain tidak memperoleh manfaat dari barang/layanan tersebut

Daya saing
Excludability rendah, daya saing tinggi common pool goods (biaya sektor publik)

Barang publik

pepie diptyana

Daya saing tinggi: jika suatu barang/layanan dipergunakan perseorangan Daya saing rendah: jika suatu barang/layanan dapat dimanfaatkan bersama-sama

Regulasi Keuangan di Indonesia

UU No 22 th 1999 tentang Pemda UU Otoda (pengganti UU No 5 th 1974 Pemerintahan di Daerah) UU No 32 th 2004 (penyempurnaan UU No 22 th 1999)

pepie diptyana

Regulasi Keuangan Sektor Publik Indra Bastian, 2006

Hak dan kewajiban negara


Hak Negara
Monopoli & cetak uang

Kewajiban Negara
Melindungi segenap bangsa Indonesia & seluruh tumpah darah Indonesia Memajukan kesejahteraan umum Mencerdaskan kehidupan bangsa Ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial

Memungkut sumber-sumber keuangan (bea cukai, pajak) Memproduksi barang dan jasa yang dapat dinikmati khalayak umum, dan pemerintah dapat memperoleh (kontra-prestasi) sebagai sumber penerimaan negara

pepie diptyana

Dasar Hukum Keuangan Negara

UUD 1945 Bab VIII ps. 23 (APBN ditetapkan UU. Jika DPR tidak menyetujui, Pemerintah menjalankan anggaran tahun lalu) Pajak, jenis dan harga mata uang, hak keuangan negara, pemeriksanaan keuangan negara, ditetapkan oleh UU. Hasil pemeriksaan diserahkan kepada DPR.

Dasar Hukum Keuangan Daerah

Ps. 18 UUD 1945 Amandemen IV : tujuan pembentukan daerah otonom adalah meningkatkan daya guna penyelenggaraan pemerintahan untuk melayani masyarakat & melaksanakan program pembangunan Daerah otonom : kesatuan masyarakat hukum yg memiliki batas daerah tertentu dan berwenang mengatur serta mengurus kepentingan masyarakat setempat menurut prakarsa sendiri berdasarkan aspirasi masyarakat dalam ikatan NKRI

UU no. 5 tahun 1974, Fungsi penyusunan APBD: Menentukan jumlah pajak daerah Mewujudkan otonomi yang nyata dan bertanggungjawab Memberi isi dan arti tanggungjawab kepada Pemda karena APBD menggambarkan seluruh kebijaksanaan Pemda Melaksanakan pengawasan terhadap Pemda Pemberian kuasa kepada Kepala Daerah untuk melaksanakan KeuDa dalam batas-batas tertentu

Ciri Manajemen KeuDa Prareformasi


Pemda = kepala daerah dan DPRD (UU No. 5 th. 1975, ps 13 (1)) Perhitungan APBD berdiri sendiri, terpisah dari pertajaban kepala daerah (UU no. 6 th. 1975, ps 33) Bentuk Laporan Perhitungan APBD, terdiri dari : Perhitungan APBD ; Nota Perhitungan APBD; dan Perhitungan kas dan pencocokan sisa kas dan sisa perhitungan; Ringkasan perhitungan Pendapatan & Belanja

Pinjaman diperhitungkan sebagai Pendapatan. Kepmendagri No. 903-057 th 1988, sebagai Penerimaan Pembangunan Unsur-unsur penyusunan APBD: pemda (kepala daerah & DPRD), belum melibatkan masyarakat Indikator kinerja Pemda: Perbandingan anggaran & realisasi Perbandingan standar biaya & realisasinya Target & persentase fisik proyek Laporan Keterangan Pertajaban Kepala Daerah & Lap Perhitungan APBD tidak dibahas DPRD, tidak mengandung konsekuensi terhadap masa jabatan Kepala Daerah

Ciri Manajemen KeuDa Era (Pasca) Reformasi


Daerah = propinsi dan kota atau kabupaten (tidak ada lagi Dati I / II) Pemda = kepala daerah beserta perangkat lainnya (Badan Eksekutif) , DPRD adalah Badan Legislatif UU no. 22 th 1999,ps. 14. Perhitungan APBD menjadi satu dengan pertajaban Kepala Daerah (PP No 108 th 2000,ps 5) Laporan pertajaban akhir tahun anggaran : Lap Perhitungan APBD; Nota Perhitungan APBD; Lap Aliran Kas; Neraca Daerah, dilengkapi Penilaian Kinerja (PP No 105 th 2000,ps 38)

Pinjaman Pemda termasuk Penerimaan (belum tentu menjadi hak pemda) Masyarakat masuk dalam unsur penyusunan APBD Indikator kinerja pemda, ditambah dengan standar pelayanan yang diharapkan Lap Pertajaban Kepala Daerah berupa Laporan Perhitungan APBD dibahas oleh DPRD dan mengandung konsekuensi terhadap masa jabatan Kepala Daerah jika 2x ditolak DPRD Menggunakan Akuntansi dalam mengelola KeuDa.

6 Pergeseran Pengelolaan Anggaran Daerah


Vertical accountability menjadi horizontal accountability Traditional budget menjadi performance budget Dari pengendalian & audit keuangan, ke pengendalian dan audit keuangan dan kinerja Lebih menerapkan konsep value for money Penerapan pusat pertajaban (responsibility center) Perubahan sistem akuntansi: Single entry double entry Cash basis modified cash basis

Masa reformasi lanjutan (2004-sekarang)

Kepmendagri No. 29 th 2002 diganti Permendagri No. 13 th 2006 (implementasi PP no. 58 th 2005), ketegasan penggunaan Akuntansi, bukan Pembukuan PP No 24 th 2005 Standar Akuntansi Pemerintahan