Seni lukis

Jejak panjang seni lukis modern Indonesia dirintis oleh Raden Saleh, lantas tumbuh dan berkembang sejak era naturalisme-realis Mooi Indie hingga kembalinya gejala Realisme Romantik abad 21. BERBURU Banteng. Itulah judul salah satu lukisan legendaris hasil karya Raden Saleh Syarif Bustaman (1807 – 1880), pelukis pribumi Indonesia yang disebut-sebut sebagai perintis aliran seni lukis modern (modern art) di tanah air. Seni lukis modern ini berjarak dengan seni lukis tradisional yang telah tumbuh dan berkembang berabad-abad sebelumnya. Punya karakter dan ciri khas sendiri. Pembentukan gaya seni rupa, pemilihan tema, pemakaian bahan lukisan serta fungsi kegunaannya berbeda dengan seni lukis tradisional. Raden Saleh melukis dengan maksud mengembangkan bakat seni pribadi atau potensi kreatif-artistik individu seniman, dengan wawasannya sebagai manusia budaya baru yang berpandangan universal.

Seni rupa modern tidak lagi memahat patung nenek moyang dan menatah serta menyinggung tokoh-tokoh pewayangan dalam bermacam-macam bentuknya : wayang beber, kulit, golek, krucil. Pendek kata, seni rupa modern Indonesia sama sekali bersifat baru. Seni lukis modern sesungguhnya dimulai dengan masuknya penjajahan Belanda di Indonesia pada sekitar abad 17. Hanya saja, perintisan seni lukis modern ini bagi bangsa Indonesia berlangsung ”secara tidak sengaja” atau ”tanpa direncanakan” mengingat terjadinya perintisan di tengah-tengah kegelapan dari zaman penjajahan, sebelum adanya kemerdekaan. Dus, ini tentu saja tidak masuk dalam kesadaran budaya mengimgat Indonesia saat itu masih merupakan bangsa terjajah. MASA PERINTISAN Raden Saleh memang perintis seni lukis modern yang kesepian. Lahir dari rahim seorang ibu bernama Mas Adjeng Zarip Hoesen, Raden Saleh sejak kecil telah menampakkan bakat melukis yang kuat. Saat itu dia tinggal di daerah Terbaya, dekat Semarang dan sejak usia 10 tahun, dia diserahkan pamannya, Bupati Semarang, pada orang-orang Belanda atasannya di Batavia. Kegemaran menggambar mulai menonjol sewaktu bersekolah di sekolah rakyat (VolksSchool). Keramahannya bergaul memudahkannya masuk ke lingkungan orang Belanda dan lembaga-lembaga elite Hindia-Belanda. Seorang kenalannya, Prof. Caspar Reinwardt, pendiri Kebun Raya Bogor sekaligus Direktur Pertanian, Kesenian, dan Ilmu Pengetahuan untuk Jawa dan pulau sekitarnya, menilainya pantas mendapat ikatan dinas di departemennya. Kebetulan pula di instansi itu ada pelukis keturunan Belgia, A.A.J Payen yang didatangkan dari Belanda untuk membuat lukisan pemandangan di Pulau Jawa untuk hiasan kantor Departemen van Kolonieen di Belanda. Payen tertarik pada bakat Raden Saleh dan lantas berinisiatif memberikan bimbingan. Payen memang tidak menonjol di kalangan ahli seni lukis di Belanda, namun mantan mahaguru Akademi Senirupa di Doornik, Belanda, ini cukup membantu Raden Saleh mendalami seni lukis Barat dan belajar teknik pembuatannya, misalnya melukis dengan cat minyak. Payen juga mengajak pemuda Saleh dalam perjalanan dinas keliling Jawa mencari model pemandangan

Bupati Majalengka (1852). Usul ini didukung oleh Gubernur Jenderal Van Der Capellen yang memerintah waktu itu (1819-1826) setelah ia melihat karya Raden Saleh. Terkesan dengan bakat luar biasa anak didiknya. Kepiawaian teknik. selama perjalanan ke Belanda Raden Saleh bertugas mengajari Inspektur Keuangan Belanda de Linge tentang adat-istiadat dan kebiasaan orang Jawa. Yang tertinggal ada hasil karyanya.untuk lukisan. Ia pun menugaskan Raden Saleh menggambar tipe-tipe orang Indonesia di daerah yang disinggahi. yang diterapkan dalam karya seni lukis tersebut. terang gelap dan seterusnya. Penguasaan teknik seni lukis masa akhir Renaissance Eropa yang bercorak realistisnaturalistis dengan jiwa romantis itu dilanjutkan oleh generasi pelukis Indonesia sepeninggal Raden Saleh. Namun. Tahun 1829. Dia memang tak mempunyai murid atau kawan yang mampu meneruskan bakat melukisnya. karakter. Payen mengusulkan agar Raden Saleh bisa belajar ke Belanda. Harimau Minum (1863) dan Perkelahian dengan Singa (1870). Berburu Banteng (1851). Penangkapan Pangeran Diponegoro (1857). bentuk.Bahasa Jawa dan Bahasa Melayu. Capellen membiayai Saleh belajar ke Belanda. Yang menarik. Ciri khasnya adalah lebih banyak mengambil tema kehidupan kaum bangsawan dan kehidupan binatang. menjadi perhatian bagi pelukis-pelukis lain di Indonesia. keberangkatannya itu menyandang misi lain. Diantaranya yang masih utuh adalah lukisan berjudul : Seorang tua dan Bola Dunia (1835). nyaris bersamaan dengan patahnya perlawanan Pangeran Diponegoro oleh Jenderal de Kock. Dalam surat seorang pejabat tinggi Belanda untuk Departemen van Kolonieen tertulis. . Ini menunjukkan kecakapan lain Raden Saleh. ada masa kekosongan yang cukup lama sejak wafatnya Raden Saleh pada 23 April 1880 di Bogor.

ERA MOOI INDIE Baru kemudian pada awal abad ke-20. Mereka adalah R Abdullah Suriosubroto (1878-1914). atau sibuk dalam pergerakan nasional. . muncullah sejumlah nama pelukis Indonesia yang dianggap pelanjut Raden Saleh. Tiga pelukis itu hidup berjauhan satu sama lain. Hanya saja. Mereka berkarya tanpa pernah saling bertemu satu sama lain dan kemungkinan juga tidak banyak mengetahui karya satu sama lainnya. Alirannya sungguh berbeda dari para pelukis era Hindia Belanda. Saat itulah sejumlah pelukis pribumi Indonesia sedang belajar di berbagai sekolah. menempa diri dan mulai berkarya secara pribadi. tema yang dilukis mirip yaitu berupaya menampilkan keindahan alam Indonesia. namun terbatas kemampuannya pada pelukisan keindahan alam. Abdullah menetap di Bandung (Jawa Barat). Ketiga pelukis itu lazim disebut masuk dalam mazhab Hindia Molek atau Mooi Indie. Masih sedikit jumlahnya. Hanya saja mereka belum menonjol saat itu. Wakidi (18891979) dan Raden Mas Pirngadi (1875-1936). Mazhab Hindia Molek (1925-1938) ini tumbuh dan berkembang hingga menjelang kedatangan bala tentara Jepang. Wakidi di Padang (Sumatera Barat) sedangkan Pirngadi menetap di Jakarta.

Abdullah sama sekali tidak tertarik dengan dunia pergerakan. Dia berkesempatan belajar di negeri Belanda mengikuti tujuan ayahnya supaya Abdullah menempuh studi kedokteran. Abdullah dan Wakidi nampak lebih produktif maupun berkemampuan dibanding dengan Pirngadi yang tersita oleh pekerjaan rutinnya sebagai ilustrator museum antropologi di Jakarta. dia mengambil jalan hidup berbeda. . Syafei pada tahun 1926. Hasan Basri DT. Mara Karma. perintis pergerakan nasional ”Budi Utomo”. Dalam melukis pemandangan alam.Pelukis R Abdullah Suriosubroto adalah putera Dr Wahidin Sudirohusodo. Zaini. Muslim Saleh. Osmania dan banyak lagi hingga ke tokoh-tokoh muda saat ini. Mukhtar Jaos. tetapi sesuai kenyataannya Abdullah malah belajar seni lukis di Den Haag. Dia memperoleh pendidikan di Kweekschool (Sekolah Pendidikan Guru) yang berdiri sejak 1837 di Bukittinggi. Wakidi yang orang tuanya asal Semarang. Mukhtar Apin. Diantara murid-muridnya terdapat tokoh berkesinambungan yang berkiprah dalam peta seni lukis nasional seperti Baharuddin MS. Ipe Makruf. Sumatera Selatan ini memilih untuk menetap di Sumatera Barat. Tumbijo. Di INS Wakidi ternyata juga disukai dan disenangi puluhan bahkan ratusan murid dan pengikut-pengikutnya. Montingo Busye. Arby Samah. Mengingat kemampuan luar biasa yang dimiliki Wakidi di usia mudanya. Nasjah Jamin. Alimin Tamin. AA Navis. Wakidi (1889-1979) adalah pelukis berusia panjang. setamat disana. Tidak hanya di Kweekschool. namun dia sendiri lahir di Plaju. Syamsul Bahar. Nashar. yang didirikan M. beberapa tahun kemudian Wakidi ditawari menjadi guru di INS Kayutanam. namun pekerjaannya sebagai pelukis aliran realis-naturalis nantinya dilanjutkan oleh puteranya. Abdullah wafat pada 1914. Tetapi berlainan dengan ayahnya. Diantara murid Wakidi tercatat tokoh proklamator Bung Hatta dan mantan Ketua MPRS Jenderal Besar Abdul Haris Nasution. dia memperoleh tawaran menjadi guru lukis dan menggambar untuk membina dan mengasuh anak-anak pribumi yang menempuh pendidikan di Kweekschool. Nuzurlis Koto. Di sekolah inilah Wakidi mendalami pelajaran menggambar dan melukis (1903). Basoeki Abdullah (1915-1993).

Namun setelah dewasa Abdullah yunior ini bertekad melanjutkan garis karya ayahnya. SIM (Seniman Indonesia Muda).M.Adapun Basoeki Abdullah (1915-1993) memang tak pernah melihat wajah sang ayah. orang miskin. Poetera (Poesat Tenaga Rakyat). pemandangan alam dan lukisan binatang. Jadi. Basoeki Abdullah rajin menggelar pameran lukisan di berbagai kota besar di Jawa dengan menampilkan karya-karya potret. Surakarta dan Sri Paku Alam dari Yogyakarta. seperti potret ”Wanita dalam Baju Kurung” dan “Gadis Bermain Gitar”. Dia menyelesaikan studinya di sekolah Katolik Solo untuk kemudian melanjutkan pendidikan seni lukisnya di Academic Voor Beldeende Kunsten sebagaimana mendiang ayahnya. Soedarso. . Affandi Koesoema dan Rustamdji. dengan muncul dan berkembangnya beberapa sanggar seni lukis di Indonesia. S Sudjojono. dan sebagainya. Tampak diantara model lukisan potretnya adalah Gusti Nurul dari Istana Mangkunegaran.tidak lagi terbatas pada keindahan alam. kaum buruh. Para pelukis ini juga merupakan bagian salah satu dari gabungan dalam sanggar-sanggar seni lukis Indonesia. Ada pula nama-nama seperti Lee Man Fong. dia bertindak lebih maju. Selain Basoeki Abdullah. hingga petani. dia pelukis pertama sesudah Raden Saleh yang mampu melukis manusia. maka tema-temanya pun mengalami perkembangan -. Mulailah muncul lukisan yang bersifat kritisrealis yang melukiskan soal-soal kehidupan dan penderitaan rakyat sehari-hari seperti kehidupan orang cacat. Sebagai penganut mazhab Hindia Molek. Hanya saja. Surjo Subanto yang juga berkesempatan belajar di negeri Belanda dengan beberapa karyanya. pengamen. seperti ada yang tergabung dalam sanggar Persagi (Persatuan Ahli Gambar Indonesia 1938-1942). para pelukis lain yang masih meneruskan gaya realisme adalah R. binatang dan potret manusia saja.

Tokoh-tokoh semacam Lee Man Fong. dan pecahnya Perang Asia Timur dengan Jepang sebagai pemenangnya mempengaruhi geliat seni lukis di tanah air. serba enak. Sindudarsono Sudjojono (1913-1986) dan Affandi Koesoema (1907-1990) adalah dua tokoh yang paling menonjol pada masa itu. Paska Sumpah Pemuda. Terutama pada kurun waktu 1935-1939. pengembangan pada teknik melukis sangat diperhatikan pada masa itu. Mazhab Mooi Indie lantas dikecam dan dikritik habis. Henk Ngantung. Pak Djon – begitu panggilan akrabnya – kerap mengecam Basoeki Abdullah . sehingga seni lukis realisme Indonesia makin memiliki identitas pribadi. Ui Tiang Un. terjadilah polemik kebudayaan yang riuh rendah dalam media massa. Imandt. Sudjojono adalah tokoh yang keras dan pemberang. dianggap hanya mengabadikan keindahan alam Indonesia saja dan kurang tanggap terhadap kenyataan di sekitarnya yang tidak semuanya indah. Para pelukis tidak mau ketinggalan dan ikut ambil bagian. dia juga kritikus seni lukis berlidah tajam. Di sisi lain. Jan Frank. Berbeda dengan Affandi yang pendiam.ERA PERSAGI Zaman pergerakan yang ditandai dengan terselenggaranya Sumpah Pemuda 1928. tenang dan damai. Pirngadi. Selain sebagai pelukis. Subanto. Rudolf Bonnet ikut pula berdebat. Siauw Tik Kwie.

Dibentuk 23 Oktober 1938 di salah satu Sekolah Dasar Jakarta di Gang Kaji dan bubar karena dipaksa Jepang pada 1942. dia pun ikut pameran bersama pelukis Eropa di Kunstkring Jakarya. Namun. itu akhirnya lebih memilih jalan hidup sebagai pelukis profesional. Pengikut dan muridnya banyak. Dia sempat mengajar di Taman Siswa. Yudhokusumo. Abdulsalam. Pada 1937. Usia Persagi tidak panjang. Setelah lulus Taman Guru di Perguruan Taman Siswa Yogyakarta. karena hanya melukis perempuan cantik dan pemandangan alam. . kemudian membawanya ke Batavia pada 1925. Dia pun sempat kursus montir sebelum belajar melukis pada RM Pirngadi selama beberapa bulan dan pelukis Jepang Chioji Yazaki di Jakarta. melihat kecerdasan dan bakatnya dan mengangkatnya sebagai anak. Yudhokusumo. Bahkan sebenarnya sedari awal dia lebih mempersiapkan diri menjadi guru para calon pelukis. (Jakarta). bagai air dan api. tempat Djon kecil sekolah. Pak Djon yang memang memulai karirnya sebagai seorang guru sekolah menengah dianggap pionir yang mengembangkan seni lukis modern khas Indonesia. sebagai awal yang mempopulerkan namanya sebagai pelukis. Pak Djon dan Basoeki kemudian dianggap sebagai musuh bebuyutan. Setelah itu. ia menjadi anak asuh. Kritik Pak Djon itu tentu saja membuat berang Basoeki. Djon menamatkan HIS di Jakarta. Batavia. Rameli. Madiun pada 1931. Sumatera Utara. sehingga komunitas seniman. Namun sejak usia empat tahun. Keikutsertaannya pada pameran itu. sejak 1935. ia ditugaskan Ki Hajar Dewantara untuk membuka sekolah baru di Rogojampi. Kemudian SMP di Bandung dan SMA Taman Siswa di Yogyakarta. Sudjojono yang berbakat melukis dan banyak membaca tentang seni lukis modern Eropa. dia mendirikan Persatuan Ahli Gambar Indonesia (Persagi). Namun di luar itu. seorang guru HIS. menjulukinya sebagai Bapak Seni Lukis Indonesia Baru. dan beberapa pelukis yang bekerja untuk bidang reklame di percetakan.sebagai tidak nasionalistis. bersama pelukis Agus Djaja. buruh perkebunan di Kisaran. Pak Djon lahir dari keluarga transmigran asal Pulau Jawa.

Cap Go Meh. serta suasana. Jakarta. dan simpati sehingga Lukisannya tampak yang bersahaja. Sindusisworo. Abdulsalam. Diangkat sebagai Ketua adalah Agus Djaja dengan anggota-anggota L Setijoso. pengusaha Ciputra mempertemukan Pak Djon dan Basuki bersama Affandi dalam pameran bersama di Pasar Seni Ancol. Saptarita Latif. 25 Maret 1985. Pelukis Wakidi di Padang dan Hendrodjasmoro di Yogyakarta merupakan anggota di luar Jakarta. Beberapa bulan sebelum Pak Djon meninggal di Jakarta. . S Tutur. T. Sehingga Menteri P&K Fuad Hassan. Pak Djon menjadi Sekretaris dan sekaligus Juru Bicaranya. Semboyan ekstrim Persagi adalah : Teknik tidak penting. S Sudiardjo. ketika itu. sosok manusia. Pengungsi dan Seko. Rameli. Sindudarsono Sudjojono dan Affandi itu hingga kini dianggap sebagai ikon maestro seni lukis Indonesia. Objek lukisannya lebih menonjol pada pemandangan alam. H Hutagalung. menyebut pameran bersama ketiga raksasa seni lukis itu merupakan peristiwa sejarah yang penting. Yang penting isi jiwa ini tumpahkan di atas kanvas ! Lukisan Sudjojono punya ciri khas kasar. cinta. Syuaib Sastradiwirja.Di Persagi. monumental antara lain berjudul : Di Depan Kelambu Terbuka. Sukirno dan Surono. Ateng Rusy’an. Pemilihan objek itu lebih didasari hubungan batin. goresan dan sapuan bagai dituang begitu saja ke kanvas.B. Ketiga pelukis itu yakni Basoeki Abdullah.

dirasakan Affandi tidak mewakili kondisi . Pada umur 26 tahun. mulai dari HIS. Teknik melukis bentuk bahkan yang cenderung memperindah obyeknya seperti yang dilakukan angkatan Moi India atau India Jelita. yaitu Kartika Affandi. Sebelum mulai melukis. Dalam melukis Affandi melangkah dengan lebih mengutamakan kebebasan berekspresi. Sekitar tahun 30-an. Affandi dan Maryati dikaruniai seorang putri yang nantinya akan mewarisi bakat ayahnya sebagai pelukis. Cirebon. Affandi bergabung dalam kelompok Lima Bandung. gadis kelahiran Bogor. yaitu kelompok lima pelukis Bandung bersama Hendra Gunawan. Dilandasi jiwa kerakyatan. Dia putra dari R.TENTANG AFFANDI Affandi sendiri adalah kelahiran Cirebon pada 1907. Namun. Pekerjaan ini tidak lama digeluti karena Affandi lebih tertarik pada bidang seni lukis. Koesoema. Sudarso dan Wahdi. seorang mantri ukur di pabrik gula di Ciledug. termasuk sejumlah pelukis yunior. pada 1933. Pendidikan formalnya cukup tinggi. Affandi menikah dengan Maryati. Affandi tertarik dengan tema kehidupan masyarakat kecil. Barli. Affandi pernah menjadi guru dan pernah juga bekerja sebagai tukang sobek karcis dan pembuat gambar reklame bioskop di salah satu gedung bioskop di Bandung. Kelompok ini menjadi sebuah sebuah kelompok belajar bersama dan kerja saling membantu sesama pelukis yang ada di Bandung. Kelompok Lima Bandung pimpinan Affandi ini memiliki andil yang cukup besar dalam perkembangan seni rupa di Indonesia. Wahdi adalah salah satu pelukis yang belajar langsung dari Abdullah Suriosubroto. bakat seni lukisnya yang sangat kental mengalahkan disiplin ilmu lain dalam kehidupannya. MULO hingga AMS di jaman Belanda. ayah dari Basoeki Abdullah. dan memang menjadikan namanya tenar sama dengan tokoh bidang lainnya.

Kartono Yudokusumo. Prinsip mazhab Persagi tetap hidup yaitu untuk tidak terlalu menghiraukan teknik lukis. Beberapa tokoh muda pelukis muncul di jaman Jepang yakni Otto Djaja. Raut muka pengemis yang kurus dengan pakaian lusuh. Memang. Affandi lebih tergugah mengungkapkan lewat tumpahan dan goresan warna kusam dan tema kemelaratan. . Humanisme Affandi terlihat juga pada karyanya ”Dia Datang. Baharuddin. Ki Hadjar Dewantara dan K. Mereka inilah yang nantinya menghidupkan sanggar-sanggar lukisan yang menjamur di awal kemerdekaan (1945-1950-an) dan menjadi tempat penghidupan para pelukis. Njoman Ngendon. Affandi sempat berpameran tunggal pada jaman ini.masyarakat dengan kemelaratan akibat penjajahan. Basoeki Abdullah dan Njoman Ngendon digelar pula secara berurutan. Kusnadi. Tema-tema kerakyatan menjadi dominasi dalam karya-karya Affandi. saat jaman penjajahan Jepang (1942-1945). lalu pergi. singkatan dari Poesat Tenaga Rakyat yang dipimpin empat serangkai : Soekarno. dengan izin dan perlindungan dari Pak Djon pada 1943.H. sehingga karyanya yang berjudul ”Pejuang Romusha” (1943) yang menampilkan rakyat dalam kemelaratan tidak disukai penguasa Jepang. Menunggu. selain lebih dahulu berani melukis. Pengamatan Affandi seperti ini menunjukkan keprihatinan jiwanya terhadap penderitaan sesama antara anak bangsa. aspirasinya tetap hidup karena wibawa Pak Djon dan Agus Djaja yang memberikan tuntutan melukis di jaman penjajahan yang singkat namun bengis itu. Setelah itu pameran tunggal karya-karya Kartono Yudhokusumo. Pengamatan terhadap sensitivitas lingkungan diungkapkan secara lugas. namun dari sisa ketegarannya masih bersemangat menjalani kehidupan walaupun dengan mengemis. dan Pergi” (1944). Dengan pengalaman dan melihat kondisi masyarakat yang menderita. kemudian meminta. Mansyur. Dalam karya ini ditampilkan seorang pengemis yang baru datang. Pak Djon selama jaman Jepang diserahi memimpin Bagian Kebudayaan dari Poetera. Harjadi S. Meski Persagi dibubarkan. para pelukis hidup susah seperti kebanyakan rakyat pada umumnya. Hatta.

Di masa revolusi Basoeki Abdullah tidak berada di tanah air. wah. 1 Juni 1945. digelar sayembara melukis. Affandi mendapat tugas membuat poster. Kata-kata itu diambil dari penutup pidato Bung Karno. Pada 6 September 1948 bertempat di Amsterdam sewaktu peringatan penobatan Ratu Belanda. Soedjojono lantas menanyakan kepada Chairil soal itu. Lalu kata-kata apa yang harus ditulis di poster itu? Kebetulan muncul penyair Chairil Anwar. Lahirnya Pancasila. gambar orang yang dirantai tapi rantai itu sudah putus. Itulah hasil karya anak-anak ex Persagi. Sekelompok pelukis siangmalam memperbanyaknya dan dikirim ke daerah-daerah. Para pelukis kemudian beralih kepada potret nyata kehidupan masyarakat kelas bawah dan perjuangan menghadapi penjajah. Usut punya usut. Dia mendalami seni lukis di Eropa. banyak pelukis ikut ambil bagian. Poster itu idenya dari Bung Karno. Dia berhasil keluar sebagai pemenang. Dari manakah Chairil memungut kata-kata itu? Ternyata kata-kata itu biasa diucapkan pelacur-pelacur di Jakarta yang menawarkan dagangannya pada zaman itu ! Wah. Era revolusi kemerdekaan di Indonesia membuat banyak pelukis Indonesia beralih dari tema-tema romantisme menjadi cenderung ke arah tema-tema kerakyatan. Sempat pula dia bermukim di Italia dan Prancis untuk belajar langsung dari para pelukis dengan reputasi dunia. Bisa jadi karena dia merasa terpojok pada serangan-serangan pedas pada karya-karyanya. ayo Bung !” Dan selesailah poster bersejarah itu.ERA REVOLUSI Berakhirnya penjajahan Jepang dan tibanya Hari Kemerdekaan telah menggairahkan kehidupan para pelukis. . maka dengan enteng Chairil ngomong : ”Bung. Yang dijadikan model adalah pelukis Dullah. wah. dan Basoeki Abdullah berhasil mengalahkan 87 pelukis Eropa dan Amerika. Saat itulah. Obyek lukisan yang hanya berhubungan dengan keindahan alam Indonesia dianggap sebagai tema yang kurang cocok dan anti revolusi. Gerbong-gerbong kereta dan tembok-tembok ditulisi antara lain ”Merdeka atau mati !”. Ketika republik ini diproklamasikan 1945.

Sumitro. Trubus. Pelukis Rakyat menggelar pameran pertama dri cabang baru seni rupa Indonesia di pendopo timur Museum Sonobudoyo. Sumitro. S Sudjojono. Terbit pula satu majalah seni rupa dengan nama Prolet Kult. Hendra. Dua tahun kemudian. Malaysia. Dan pada 1948. Suromo. . Pada 1946 berdirilah sanggar Seniman Masyarakat di Yogyakarta dipimpin oleh Affandi sebagai perkumpulan seni lukis pertama yang potensial. Suparto. termasuk S Sudjojono. Pada 1947 sebagian anggota SIM pindah ke Surakarta. Rusli. Trubus dan Sasongko berpisah dari SIM dan bersama dengan anggota baru seperti Kusnadi dan Sudjana Kerton mendirikan perkumpulan bernama Pelukis Rakyat. Di tanah air. Sudarso. Mardian. Bagong Kussudiardja. Affandi. Lantas pada tahun yang sama. Sudiardjo. Kartono Yudhokusumo. namanya diganti menjadi Seniman Indonesia Muda (SIM) dan kali ini pimpinan beralih ke S. Surono. Pameran sebagai hasil melukis bersama digelar pada waktuwaktu tertentu dalam sanggar saja. Oesman Effendi. sejumlah seniman terkemuka dari Jakarta dan Bandung turut juga hijrah. Sajono. Belanda. LEKRA DAN MANIKEBU Rustamadji. Dullah. Harjadi. antara lain karyanya pernah dipamerkan di Bangkok (Thailand). Portugal dan negara-negara lain. Sudjojono. Anggotanya bertambah dengan Trisno Sumardjo. Kusnadi.J. Lebih kurang 22 negara yang memiliki karya lukisan Basoeki Abdullah. pada 1950 sebagian anggotanya seperti Nasjah Djamin. Sudarso. Inggris. Jepang. Saptoto dan C. Basoeki Resobowo. dengan kepindahan ibukota negara ke Yogyakarta. Para pelukis era SIM saat itu adalah Affandi. Wakidjan dan Srihadi. Tidak lama kemudian. Abdulsalam. D Joes dan Zaini. sang Ketua.Basoeki banyak mengadakan pameran tunggal baik di dalam negeri maupun di luar negeri. Saptoto keluar dari Pelukis Rakyat karena tidak suka dengan pengaruh Lekra. Sasongko. Ali bergabung pula dalam Pelukis Rakyat. Hampir separuh hidupnya dihabiskan di luar negeri diantaranya beberapa tahun menetap di Thailand dan diangkat sebagai pelukis istana Raja Bhumibol Adulyadej.

Nasjah Djamin sebelum ke Jogjakarta sendiri sebelumnya di Medan pernah mendirikan Angkatan Seni Rupa Indonesia (ASRI) bersama Hasan Djafar dan Hussein. Perkumpulan seni lukis lain yang sudah berdiri di Yogyakarta sejak 1945. Affandi pernah menjadi salah satu pimpinan dan masuk di bagian seni rupa bersama Basuki Resobowo. Katamsi yang juga banyak melahirkan kader-kader pelukis muda. Selain ASRI. mereka kerap menggelar pameran bersama. Adapun di Bukit Tinggi (Sumatera Barat). SIM dan Pelukis Rakyat mengadakan pameran bersama.A. Adapun di Bandung. misalnya. Pada 1948. Remy Silado. Rubai dan umaryo L. pada 1946 berdiri perkumpulan Seniman Muda Indonesia. Srihadi Sudarsono dan lain-lain. HBS ini berusia panjang. Indrosugondo dan Prawito.E. Meski berbeda perkumpulan. Sekolah Menengah Guru Gambar didirikan di Yogyakarta oleh Djajengasmoro bersama R. Bersama pelukis Sholihin. Navis dan Zanain. Didik Suardi.Lekra atau Lembaga Kebudayaan Rakyat adalah organisasi kebudayaan terbesar yang dekat dengan Presiden Soekarno. Di Surakarta berdiri pula Himpunan Budaya Surakarta (HBS) dengan Ketuanya Dr Moerdowo sejak 1945 dan perkumpulan seni lukis Pelangi yang diketuai Sularko antara 1947 – 1949. .J. dengan Ketua Ismail Daulay. berdiri pula perkumpulan-perkumpulan pelukis lain seperti Jiwa Mukti dan Pancaran Cipta Rasa dengan ketua masing-masing Barli dan Abedy. disingkat SEMI yang diketuai Zetka dengan anggota antara lain A. ada pula perkumpulan pelukis lain di Medan yang diketuai oleh Dr Djulham dengan anggotanya antara lain Tino Sidin. dan sebagainya. bahkan di penghujung tahun 1980-an berusaha direvitalisasi dengan menggelar pameran akbar karya para anggotanya seperti Jeihan. setelah era Affandi dengan kelompok Lima-nya. Tino Sidin ini belakangan hijrah ke Jakarta dan sering siaran di TVRI dalam acara menggambar untuk anak-anak. dengan kegiatan mengadakan kursus menggambar serta pembuatan poster-poster adalah Pusat Tenaga Pelukis Indonesia (PTPI) dengan Ketuanya Djajengasmoro dan anggota-anggota Sindusisworo (ex Persagi). para anggota Pelukis Rakyat yang keluar ini kemudian mendirikan perkumpulan yang ingin terbebas dari Lekra bernama Pelukis Indonesia. Henk Ngantung. Kartono Yudhokusumo mendirikan pula Sanggar Seniman Bandung (SSB). Para anggota HBS kini tersebar di segala penjuru Indonesia.

Sjahri. Sidharta dan Widayat di Yogyakarta. Wen Peor. Ada 100 lebih pelukis tergabung disitu dan aktivitasnya ramai. Siauw Swi Tjing (kemudian merubah nama menjadi Chris Suharso). Anggotanya kebanyakan mahasiswa-mahasiswa Akademi Seni Rupa Indonesia (ASRI). Lie Tjoen Tjay. Di Surabaya. Nashar. Oesman Effendi dan Trisno Sumardjo. . Handrio. Samboja serta Liem Tjoe Ing. Beberapa anggota Yin Hua ikut mewarnai sejarah seni lukis Indonesia. sejumlah pelukis mendirikan Gabungan Pelukis Muda di Madiun dengan Ketuanya Widagdo dan pada 1952 berdiri pula Sanggar Prabangkara di Surabaya dengan Ketuanya Karyono Ys. maraknya perhimpunan pelukis berlanjut dengan berdirinya Pelukis Indonesia Muda (PIM) di bawah pimpinan Gregorius. Selain Lee Man Fong yang karya-karyanya unik karena memiliki dua gaya (Barat dan Chinese Art). Yin Hua pada 1955. pada tahun yang sama. Nasjah Djamin. pelukis dari era sebelum penjajahan Jepang mendirikan organisasi pelukis keturunan Tionghoa. Affandi kembali ke Jakarta dan mendirikan perkumpulan Gabungan Pelukis Indonesia dengan anggota-anggota antara lain Sutiksna. ada pula karya-karya atraktif dari Lim Wasim. Zaini. kini menjadi Fakultas Seni Rupa di Institut Seni Indonesia (ISI).Sementara di Jawa Timur. Seusai revolusi fisik. Pada 1952. Lee Man Fong.

Disusul pada 1959. sehingga era ekspresionisme dimulai. Gerakan yang bertujuan untuk melawan pemaksaan ideologi komunisme membuat pelukis pada masa 1950-an memilih untuk membebaskan karya seni mereka dari kepentingan politik tertentu. ornamental dan didominasi bentuk datar. Dan para pelukis yang mendambakan kebebasan kreatif. Lekra memasukkan gagasan tentang peranan kesenian. Danarto. Kelompok ASRI dan Sanggar Bambu di Jogjakarta serta kubu seni lukis Bandung tentu saja tak menerima realitas ini. dihambat lajunya. Affandi dan Hendra Gunawan soal seni kerakyatan. Desakan dan tekanan Lekra (Lembaga Kebudayaan Rakyat) yang secara resmi mendesak para seniman. dan celakanya Presiden Soekarno membela Lekra. dipakai sebagai corong politik. termasuk seni lukis. budayawan dan pelukis untuk secara agitatif memasukkan cita kerakyatan versi gerakan komunis membuat suasana kebebasan berekspresi sedikit terganggu. Gerakan Manifesto Kebudayaan pun lahir pada 17 Agustus 1963. Arif Sudarsono dan Wardoyo. Sesungguhnya Lekra menunggangi idealisme S Sudjojono. Mereka melawan. Lekra didominasi para pelukis di Jakarta. . Lukisan tidak lagi dianggap sebagai penyampai pesan dan alat propaganda sebagaimana didengungkan Lekra. Yang punya jabatan dan membela manikebu dicopot dari jabatannya. Anggota-anggota Sanggar Bambu antara lain adalah Syahwil. Manifestasi Kebudayaan (Manikebu) itu ditentang sengit oleh Lekra. berdiri pula Sanggar Bambu dengan pimpinan Sunarto Pr dan Mulyadi W. Ini adalah perkumpulan pelukis paling penting pada era 1950-1960-an karena memiliki ciri khas sendiri. Bung Karno menganggap pernyataan tersebut melemahkan semangat revolusi. Seni lukis yang bercita kerakyatan yang sesungguhnya berkonotasi netral dan biasa. namun lebih sebagai sarana ekspresi pembuatnya. dalam perjuangan kelas. Lalu diganyanglah Manikebu. Seni lukis pada saat itu menjadi alat politik kelompok dominan yakni PKI. Sanggar Bambu melahirkan gaya dekoratif pada lukisan dengan garis serba meliuk.

Dullah. Popo Iskandar dan Srihadi Sudarsono. Ini adalah kitab seni rupa yang besar. Dengan begitu. termasuk seni lukis. Karya-karya bagus Abdullah Suriosubroto. Antonio Blanco. Setahun kemudian. tanpa perlu diganggu berbagai agitasi. Juga karya pelukis asing yang pernah memberikan spirit pada dunia seni lukis Indonesia seperti Rudolf Bonnet. Buku tersebut untuk jilid I dan II terbit pada 1956. perjalanan politik Indonesia segera berbalik. Dan yang 1 jilid berisi 167 patung dan porselen koleksi Presiden Soekarno. Hendra Gunawan. Affandi. S Sudjojono. Yang ke 4 berisi 400 lukisan. But Mochtar. ERA ORDE BARU Pada 30 September 1965 meletus Gerakan 30 September. Dan serentak dengan itu. Wakidi ada di sana. pada 1966 sejumlah seniman yang bergabung dalam Grup Sebelas Seniman Bandung muncul dalam pameran besar di Jakarta. Basoeki Abdullah. pelukis istana. Buku babon seni lukis yang dibuat atas dasar perintah Bung Karno itu memuat 384 reproduksi koleksi seni Presiden Soekarno dan disusun oleh Dullah. faham yang meletakkan politik sebagai panglima dalam kesenian. Ada pula karya pelukis kelas dunia seperti Diego Rivera. Pada 1964 buku itu dicetak ulang dengan sejumlah reproduksi karya. Kitab yang diedarkan ke seluruh dunia ini disusun oleh Lee Man Fong. Mereka antara lain adalah Achmad Sadali. yang hingga kini belum ada yang mampu menandinginya. Lekra pun bubar. Para pelukis di berbagai kota kembali menikmati kebebasan menciptanya. sebuah tonggak sejarah seni lukis sempat dilahirkan yaitu terbitnya kitab seni lukis bersejarah berjudul : ”Lukisan-lukisan dan Patungpatung Koleksi Presiden Soekarno”. yang juga salah satu pelukis istana pada masa jabatan berikutnya. Untuk edisi ini jumlah kitab menjadi lima seri.Meski kurun waktu ini penuh kemelut. Seni lukis kembali ke seni lukis. dan jilid III dan IV terbit pada 1959. Buku tersebut amat berarti bagi perkembangan seni lukis Indonesia. Semuanya adalah pengajar Institut . juga terhapuskan. Buku ini berjasa besar sebagai referensi berharga bagi dunia seni lukis. Arie Smit.

Popo Iskandar serta Mustika membuktikan hal itu. Mujitha kesemuanya dari Jogja. dan Erna Pirous. . Imam Bukhori. Padahal. Pada 1969 digelar pameran bersama antara dosen ASRI Jogjakarta bersama dosen Seni Rupa ITB Bandung di Jakarta. Pelukis-pelukis seperti Nashar.Teknologi Bandung (ITB) jurusan Seni Rupa. Budiani. Jakarta dan Bandung ditampilkan di ruang pamer. Realisme. Impresionisme. Zaini dan Oesman Effendi. Sejak itulah pameran demi pameran berlangsung tanpa pernah berhenti. T Sutanto.A. Abas Alibasyah. kubisme semua ada dan ambil bagian. Fadjar Sidik. Sanento Yuliman. D. Sejumlah pengajar perguruan tinggi Seni Rupa juga ingin unjuk gigi. Widayat. Aktivitas kebebasan ekspresi melukis ini terus berlanjut dengan pameran lukisan di Gedung Pola. Banyak pelukis yang mampu berpameran tunggal. November 1968 digelar Pesta Seni di Taman Ismail Marzuki (TIM). Umi Dahlan dan Haryadi Suadi. Edhi Sunarso. Jakarta pada April 1968. Serta yang generasinya di bawah mereka seperti Mustika dan Mulyadi. Rustam Arief. Surealisme. abstraksi. Srihadi Sudarsono. Aliran mereka jauh dari realisme sosial dan mengarah pada kubisme atau abstraksionisme. Tampil saat itu Bagong Kussudiardjo. Kekayaan corak para pelukis makin beragam dan makin berkembang. yang baru saja diresmikan Gubernur DKI Jakarta Ali Sadikin. wakil dari Bandung. sesuai konvensi yang ada di lingkungan komunitas pelukis. Peransi. Kemudian yang lebih muda adalah Kusnadi. maka dia akan segera terangkat sebagai sosok yang lebih menggenggam citra pelukis profesional. Ada 132 lukisan karya pelukis pilihan dari Yogyakarta. Zaini. Suparto. Era 1970-an adalah era kemapanan. Sejumlah nama besar ambil bagian diantaranya Agus Djaja (mantan Ketua Persagi jaman Jepang). bila ada pelukis yang melakukan pameran tunggal. Otto Djaja dan Affandi. Pameran bersama itu tampaknya hendak meredakan pertentangan dan pergulatan seru dua kubu seni lukis antara formalisme modernis ala ITB dan ekspresionisme nasionalis ala ASRI Jogjakarta yang terbentuk diantara mereka pada masa tersebut.

Zaini dan Popo Iskandar menjadi nama-nama pelukis yang menonjol dan terkuat pada era 1970-an. Diantara tokoh-tokohnya adalah Gatot Kusumo.D. Lirisisme pada seni lukis memiliki arti : getar perasaan atau emosi pelukis menjadi subyek utama yang menghidupi kanvas-kanvas. Di Bandung. Muncul sejumlah nama yang amat menjanjikan. Namun karya Nashar. O. Sugeng Santoso dan Anyool Broto juga menciptakan tema seni lukis yang sejalan. Danarto menggebrak di TIM dan sekaligus menciptakan monumen gejala lirisisme versus progresivitas ini dengan pamerannya yang kontroversial. Danarto mengatakan kepada publik bahwa ia . Sedangkan pelukis J Eka Suprihadi. Oesman Effendi dan sebagainya. Yogyakarta maupun Surabaya. Bandung. Wardoyo Sugianto. LIRISISME VERSUS ANTI LIRISISME Akan tetapi dominasi itu mendapat tantangan dari generasi pelukis yang lebih muda. Supono. Pada 1973. Mereka terbawa oleh iklim progresif yang melanda sejumlah perguruan tinggi seni baik di Jakarta. Supono. Pirous. Kelompok ini bernaung di bawah bendera Kelompok Aksera atau Akademi Seni Rupa Surabaya. Zaini dan Popo Iskandar mewakili semangat era 1970-an. Dia menggelar sejumlah kanvas kosong putih tanpa pigura. terutama Nashar dan A. O. Daryono dan Krishna Mustajab. Amang Rahman. Agustinus Sumargo lewat beberapa kali pameran mereka di Solo dan Jogjakarta.Surabaya yang selama ini jarang ambil bagian dalam hiruk pikuk pameran seni lukis mulai bangkit pada era 1970-an. Rajin berpameran dan lukisannya diburu para kolektor. Itulah yang ditampakkan oleh pelukis-pelukis muda seperti Nanik Mirna. Suatmadji dan Abdul Kholim melaju ke seni kolasi dan asemblasi. A. Nashar. seperti karya-karya Srihadi Sudarsono. Tentu banyak yang lain yang juga patut dibicarakan. Gejala yang menonjol dari progresivitas itu adalah munculnya bentuk-bentuk geometris dan matematis pada kanvas-kanvas pelukis muda.H.H. Harsono.D Pirous. Hanya saja. yakni lirisisme dan berkembangnya generasi abstrak dan imajinatif.

atau pameran seni lukis dwi warsa (dua tahunan) di Jakarta mulai digelar Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) pada 1974.memaksudkan karyanya sekaligus sebagai arsitektur. Penetapan pemenang ini akhirnya berujung masalah. rasional dan bahkan juga eksperimentatif tak mendapat tempat. Ris Purwono dan Hardi.D. Popo Iskandar. Pada pameran itu dipajang ratusan lukisan karya pelukis Indonesia untuk dilombakan. karya Widayat berjudul ”Keluarga”. Lirisisme. Fadjar Sidik. Pameran biennale ini juga memilih lima lukisan untuk diangkat sebagai yang terbaik. karya Aming Prayitno dengan judul ”Pohon” serta karya A. Mereka adalah Harsono. Kelima karya dipilih oleh Dewan Juri yang terdiri dari Affandi. karya Abas Alibasyah dengan judul ”Lukisan Wajah”. dekoratifisme. Benturan ini akhirnya melahirkan polarisasi lirisisme dan antilirisisme dalam seni rupa Indonesia. kiblat tradisi dan nasionalitas yang dicanangkan oleh panitia diprotes. Panitia menolak tuduhan tersebut. Sejumlah pelukis muda memprotes karena perwujudan-perwujudan baru yang sifatnya anti-lirisisme. lukisan dan patung. Pirous berjudul ”Tulisan Putih”. . Sejumlah pelukis muda. Penyelenggaraan Biennale. Muncul-lah statemen Desember Hitam yang berisi tudingan bahwa seni lukis Indonesia sudah mati. Bonyong Munni Ardhie. Sanksi dari pimpinan Kampus STSRI ASRI ini mendapat simpati dari berbagai pihak. mahasiswa STSRI ASRI di Jogjakarta mendapat sanksi. Siti Adiyati. Muncullah lima nama dengan lima karya yang dianggap terbaik. Sudjoko. Kusnadi dan Umar Kayam. DKJ dianggap memihak pada seni lukis yang mapan. Kelimanya adalah Karya Irsam berjudul ”Matahari di atas Taman”. Alex Papadimitrou.

I Gusti Ayu Kadek Murniasih dan Agus Suwage. gerak dan waktu dianggap sah sebagai bentuk karya seni rupa. T Sutanto. Pertama. Budi Sulistyo. kebebasan cipta pada pelukis muda nampak lebih lepas. pameran Seni Rupa Baru pada Agustus 1975 di TIM Jakarta. Siti Adiyati dan Jim Supangkat. Dadang Christanto. Nyoman Gunarsa dan Aming Prayitno serta generasi sesudahnya seperti Heri Dono. Wardoyo S. Muryoto Hartoyo. . Sementara perwujudannya seringkali bernada surealistik. seni pemasangan dan seni video. namun ia mengocoknya dalam tema-tema yang sosialistik dan kritis. Bachtiar Zainoel. Mereka adalah Anyool Subroto. Ris Purwana. Tak hanya pelukis yang muncul tetapi juga grafikus dan beberapa pematung. Marida Nasution. Sudarisman. Elemen-elemen ruang. pameran di Gedung Karta Pustaka Jogjakarta berjudul Nusantara-Nusantara yang menampilkan karya-karya berbau sindiran dan karikatural. Nanik Mirna. Ivan Sagita. Haryadi Suadi. Karya-karyanya mengambil titik tolak bentuk realisme. Hal itu terlihat dalam karya pelukis muda Indonesia seperti Tulus Warsito. Suatmaji. Munni Ardhie. Dengan lahirnya seni rupa baru. Selain itu. Pesertanya adalah Samikun. Pandu Sudewo. termasuklah dalam mengeksplorasi efek multimedia. Dede adalah salah seorang eksponen Seni Rupa baru yang paling serius. elemen-elemen gambar dan sebagainya. B. Dan gerakan ini bertahan hingga era 1980 dan 1990-an. Kristiyanto. Nyoman Nuarta. mereka turut melakukan seni persembahan.Setidaknya dua kegiatan digelar. Agustinus Sumargo dan Agus Dermawan T. Dede Eri Supria. Hardi. Harsono. kemunculan Dede Eri Supria di penghujung 1970-an sangat memberikan harapan. Gerakan Seni Rupa baru ini memang menafikan imaji seni lukis konvensional terkait elemen-elemen lukisan. Pada kurun ini. Satyagraha. GERAKAN SENI RUPA BARU Ramai pelukis muda mencari idea baru dalam menghasilkan seni rupa baru. Tisna Sanjaya. I Gusti Bagus Widjaja. dan berjalan sebagai pelukis profesional. Kedua. Dampak gerakan ini memang luar biasa.

Kamso Kholiban. Reputasi Widayat ini juga ditunjukkan oleh beberapa pelukis lain yang melejit di kurun ini seperti Srihadi Sudarsono. Godod Sutejo. Kurnia. urbanisasi. Pande Gde Supada. Agus Kamal. Nisan Kristiyanto. dengan pengungkapan yang dekoratif keprimitifan.S. Nyoman Gunarsa. Hardi. A. Nama-nama pelukis generasi berikutnya juga patut dipuji karena konsistensi mereka dalam berkarya dan menggelar pameran. Ivan Sagito dan tentu saja Dede Eri Supria. Hening Swasona. Widayat adalah salah satu pelukis yang memiliki semangat berkarya yang konstan dan ketangguhan memegang serta mengembangkan gaya. yang mengambil gubahan potretis. Made Djirna. Syahnagra. amat bagus. Ipung Gozali. . Sukamto DS. Karya-karyanya memendam teknik tinggi. Pelukis Widayat lewat pameran tunggalnya pada 1985 dan 1990 menunjukkan bahwa dia adalah salah satu pelukis terkuat di Indonesia setelah Affandi.D. A. Ikhlas Taufik (Tikes). Salim M.Teknik Dede. Karya-karya pelukis yang pernah belajar di STSRI ASRI Jogjakarta ini umumnya berformat besar. seperti Made Wianta. kesederhanaan orang-orang desa bahkan juga problem-problem sepakbola. Pirous dan Amang Rahman. Dan masalah-masalah sosial yang disentuhnya biasanya menggetarkan. seperti kehidupan orang miskin kota.

yang pernah menjamur di berbagai pelosok kampus perguruan tinggi seni sekitar 1993-1996. Ivan mengejutkan dunia seni rupa Indonesia saat mulai berpameran di Singapura. menawarkan tema-tema surealistik yang kaya dengan fantasi. dan ”Performance Art”.3 milyar. seni lukis Indonesia terus berkembang dan muncul pula sejumlah profesi menjanjikan seperti art dealer yang menjadi penghubung antara pelukis dengan pihak gallery. dengan munculnya seni konsep (conseptual art): ”Instalation Art”. Memasuki abad 21. Obyek-obyeknya dia gali dari dunia kampung dan alam pedesaan di Yogyakarta. dengan teknik impasto yang bagus. Johannesburg. . Lukisannya kini banyak diperdagangkan di galeri-galeri besar dunia. Sumur. Amerika Serikat (2003). Tisna Sanjaya (kelahiran 1958). Afrika Selatan (2000) dan terakhir di Red Mill Gallery. Menampilkan seni lukis dalam berbagai ragam bentuk termasuk berkolaborasi dengan seni instalasi. wanita-wanita desa. Dadang Christanto (kelahiran 1957). Mereka juga sering tampil di berbagai galeri luar negeri. Vermont Studio Centre. Kemudian muncul berbagai alternatif semacam ”kolaborasi” sebagai mode 1996/1997. yang bukan lagi sebagai bentuk apresiasi terhadap masyarakat. Itulah dia yang disebut aliran progresif. Bersamaan itu pula seni lukis konvensional dengan berbagai gaya menghiasi galerigaleri. Nama-nama tersebut diantaranya adalah Heri Dono (kelahiran 1960). rumah-rumah di kampung dia olah sedemikian rupa menjadikan unsur-unsur seni lukisnya yang aneh menyimpan greget keseraman. tetapi merupakan bisnis alternatif investasi. pada 2005 ada yang mencapai harga jual hingga Rp 1.Ivan Sagito. I Gusti Ayu Kadek Murniasih (1966 – 2006) dan tentu saja yang paling akhir adalah Agus Suwage (kelahiran 1959). Tak lama kemudian. Kemapanan seni lukis Indonesia memang akhirnya porak-poranda akibat intervensi gagasan post-modernisme yang membuahkan seni alternatif. dia menggelar pameran tunggal di Afrika Selatan tepatnya di The Pretoria Art Museum. Konon karya pelukis yang kini tinggal di daerah Godean Yogyakarta ini. Marida Nasution (kelahiran 1956).

Lanny Andriani.B. 9-15 April 2007. ada kecenderungan bahwa aliran Mooi Indie tetap bertahan. Sukriyal Sadin.Yang menarik. saat lima pelukis muda yakni J. dan Pardoli Fadli berpameran bersama di Boulevard Lounge-Hotel Nikko Jakarta. P. Idran Yusup. Akankah roda jaman berputar kembali ke awal setelah 100 tahun berlalu ? . Iwan Sulistyo. Mereka menampilkan sejumlah lukisan beraliran realisme-romantik. Ini dibuktikan dari pameran pada 2007 lalu.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful