Seni lukis

Jejak panjang seni lukis modern Indonesia dirintis oleh Raden Saleh, lantas tumbuh dan berkembang sejak era naturalisme-realis Mooi Indie hingga kembalinya gejala Realisme Romantik abad 21. BERBURU Banteng. Itulah judul salah satu lukisan legendaris hasil karya Raden Saleh Syarif Bustaman (1807 – 1880), pelukis pribumi Indonesia yang disebut-sebut sebagai perintis aliran seni lukis modern (modern art) di tanah air. Seni lukis modern ini berjarak dengan seni lukis tradisional yang telah tumbuh dan berkembang berabad-abad sebelumnya. Punya karakter dan ciri khas sendiri. Pembentukan gaya seni rupa, pemilihan tema, pemakaian bahan lukisan serta fungsi kegunaannya berbeda dengan seni lukis tradisional. Raden Saleh melukis dengan maksud mengembangkan bakat seni pribadi atau potensi kreatif-artistik individu seniman, dengan wawasannya sebagai manusia budaya baru yang berpandangan universal.

Seni rupa modern tidak lagi memahat patung nenek moyang dan menatah serta menyinggung tokoh-tokoh pewayangan dalam bermacam-macam bentuknya : wayang beber, kulit, golek, krucil. Pendek kata, seni rupa modern Indonesia sama sekali bersifat baru. Seni lukis modern sesungguhnya dimulai dengan masuknya penjajahan Belanda di Indonesia pada sekitar abad 17. Hanya saja, perintisan seni lukis modern ini bagi bangsa Indonesia berlangsung ”secara tidak sengaja” atau ”tanpa direncanakan” mengingat terjadinya perintisan di tengah-tengah kegelapan dari zaman penjajahan, sebelum adanya kemerdekaan. Dus, ini tentu saja tidak masuk dalam kesadaran budaya mengimgat Indonesia saat itu masih merupakan bangsa terjajah. MASA PERINTISAN Raden Saleh memang perintis seni lukis modern yang kesepian. Lahir dari rahim seorang ibu bernama Mas Adjeng Zarip Hoesen, Raden Saleh sejak kecil telah menampakkan bakat melukis yang kuat. Saat itu dia tinggal di daerah Terbaya, dekat Semarang dan sejak usia 10 tahun, dia diserahkan pamannya, Bupati Semarang, pada orang-orang Belanda atasannya di Batavia. Kegemaran menggambar mulai menonjol sewaktu bersekolah di sekolah rakyat (VolksSchool). Keramahannya bergaul memudahkannya masuk ke lingkungan orang Belanda dan lembaga-lembaga elite Hindia-Belanda. Seorang kenalannya, Prof. Caspar Reinwardt, pendiri Kebun Raya Bogor sekaligus Direktur Pertanian, Kesenian, dan Ilmu Pengetahuan untuk Jawa dan pulau sekitarnya, menilainya pantas mendapat ikatan dinas di departemennya. Kebetulan pula di instansi itu ada pelukis keturunan Belgia, A.A.J Payen yang didatangkan dari Belanda untuk membuat lukisan pemandangan di Pulau Jawa untuk hiasan kantor Departemen van Kolonieen di Belanda. Payen tertarik pada bakat Raden Saleh dan lantas berinisiatif memberikan bimbingan. Payen memang tidak menonjol di kalangan ahli seni lukis di Belanda, namun mantan mahaguru Akademi Senirupa di Doornik, Belanda, ini cukup membantu Raden Saleh mendalami seni lukis Barat dan belajar teknik pembuatannya, misalnya melukis dengan cat minyak. Payen juga mengajak pemuda Saleh dalam perjalanan dinas keliling Jawa mencari model pemandangan

Yang menarik. Tahun 1829. selama perjalanan ke Belanda Raden Saleh bertugas mengajari Inspektur Keuangan Belanda de Linge tentang adat-istiadat dan kebiasaan orang Jawa. keberangkatannya itu menyandang misi lain. nyaris bersamaan dengan patahnya perlawanan Pangeran Diponegoro oleh Jenderal de Kock. Dia memang tak mempunyai murid atau kawan yang mampu meneruskan bakat melukisnya. Ia pun menugaskan Raden Saleh menggambar tipe-tipe orang Indonesia di daerah yang disinggahi. bentuk. yang diterapkan dalam karya seni lukis tersebut. Diantaranya yang masih utuh adalah lukisan berjudul : Seorang tua dan Bola Dunia (1835). menjadi perhatian bagi pelukis-pelukis lain di Indonesia. Ini menunjukkan kecakapan lain Raden Saleh.untuk lukisan. Ciri khasnya adalah lebih banyak mengambil tema kehidupan kaum bangsawan dan kehidupan binatang. Payen mengusulkan agar Raden Saleh bisa belajar ke Belanda. Capellen membiayai Saleh belajar ke Belanda. Harimau Minum (1863) dan Perkelahian dengan Singa (1870).Bahasa Jawa dan Bahasa Melayu. Dalam surat seorang pejabat tinggi Belanda untuk Departemen van Kolonieen tertulis. Namun. Bupati Majalengka (1852). Terkesan dengan bakat luar biasa anak didiknya. Usul ini didukung oleh Gubernur Jenderal Van Der Capellen yang memerintah waktu itu (1819-1826) setelah ia melihat karya Raden Saleh. Penguasaan teknik seni lukis masa akhir Renaissance Eropa yang bercorak realistisnaturalistis dengan jiwa romantis itu dilanjutkan oleh generasi pelukis Indonesia sepeninggal Raden Saleh. Yang tertinggal ada hasil karyanya. Berburu Banteng (1851). . terang gelap dan seterusnya. ada masa kekosongan yang cukup lama sejak wafatnya Raden Saleh pada 23 April 1880 di Bogor. Penangkapan Pangeran Diponegoro (1857). Kepiawaian teknik. karakter.

Mereka berkarya tanpa pernah saling bertemu satu sama lain dan kemungkinan juga tidak banyak mengetahui karya satu sama lainnya. namun terbatas kemampuannya pada pelukisan keindahan alam. tema yang dilukis mirip yaitu berupaya menampilkan keindahan alam Indonesia. Tiga pelukis itu hidup berjauhan satu sama lain. menempa diri dan mulai berkarya secara pribadi. . Mereka adalah R Abdullah Suriosubroto (1878-1914). Mazhab Hindia Molek (1925-1938) ini tumbuh dan berkembang hingga menjelang kedatangan bala tentara Jepang. atau sibuk dalam pergerakan nasional. Wakidi di Padang (Sumatera Barat) sedangkan Pirngadi menetap di Jakarta. Abdullah menetap di Bandung (Jawa Barat). Saat itulah sejumlah pelukis pribumi Indonesia sedang belajar di berbagai sekolah. Hanya saja. Wakidi (18891979) dan Raden Mas Pirngadi (1875-1936). Ketiga pelukis itu lazim disebut masuk dalam mazhab Hindia Molek atau Mooi Indie.ERA MOOI INDIE Baru kemudian pada awal abad ke-20. Alirannya sungguh berbeda dari para pelukis era Hindia Belanda. Hanya saja mereka belum menonjol saat itu. Masih sedikit jumlahnya. muncullah sejumlah nama pelukis Indonesia yang dianggap pelanjut Raden Saleh.

Diantara murid Wakidi tercatat tokoh proklamator Bung Hatta dan mantan Ketua MPRS Jenderal Besar Abdul Haris Nasution. namun dia sendiri lahir di Plaju. Basoeki Abdullah (1915-1993). Wakidi (1889-1979) adalah pelukis berusia panjang. Dia berkesempatan belajar di negeri Belanda mengikuti tujuan ayahnya supaya Abdullah menempuh studi kedokteran. Hasan Basri DT. perintis pergerakan nasional ”Budi Utomo”. dia mengambil jalan hidup berbeda. Nashar. Alimin Tamin. Abdullah sama sekali tidak tertarik dengan dunia pergerakan. Sumatera Selatan ini memilih untuk menetap di Sumatera Barat. tetapi sesuai kenyataannya Abdullah malah belajar seni lukis di Den Haag. Mara Karma. Di INS Wakidi ternyata juga disukai dan disenangi puluhan bahkan ratusan murid dan pengikut-pengikutnya. Nasjah Jamin. Syafei pada tahun 1926. AA Navis. Nuzurlis Koto. Tumbijo. Muslim Saleh. Abdullah wafat pada 1914. dia memperoleh tawaran menjadi guru lukis dan menggambar untuk membina dan mengasuh anak-anak pribumi yang menempuh pendidikan di Kweekschool. Wakidi yang orang tuanya asal Semarang. Ipe Makruf. Montingo Busye.Pelukis R Abdullah Suriosubroto adalah putera Dr Wahidin Sudirohusodo. setamat disana. Zaini. Di sekolah inilah Wakidi mendalami pelajaran menggambar dan melukis (1903). Mengingat kemampuan luar biasa yang dimiliki Wakidi di usia mudanya. beberapa tahun kemudian Wakidi ditawari menjadi guru di INS Kayutanam. Abdullah dan Wakidi nampak lebih produktif maupun berkemampuan dibanding dengan Pirngadi yang tersita oleh pekerjaan rutinnya sebagai ilustrator museum antropologi di Jakarta. Mukhtar Jaos. Tetapi berlainan dengan ayahnya. namun pekerjaannya sebagai pelukis aliran realis-naturalis nantinya dilanjutkan oleh puteranya. yang didirikan M. Dia memperoleh pendidikan di Kweekschool (Sekolah Pendidikan Guru) yang berdiri sejak 1837 di Bukittinggi. Osmania dan banyak lagi hingga ke tokoh-tokoh muda saat ini. Diantara murid-muridnya terdapat tokoh berkesinambungan yang berkiprah dalam peta seni lukis nasional seperti Baharuddin MS. Mukhtar Apin. Syamsul Bahar. Tidak hanya di Kweekschool. . Dalam melukis pemandangan alam. Arby Samah.

dia pelukis pertama sesudah Raden Saleh yang mampu melukis manusia. pemandangan alam dan lukisan binatang. Tampak diantara model lukisan potretnya adalah Gusti Nurul dari Istana Mangkunegaran. Basoeki Abdullah rajin menggelar pameran lukisan di berbagai kota besar di Jawa dengan menampilkan karya-karya potret. Para pelukis ini juga merupakan bagian salah satu dari gabungan dalam sanggar-sanggar seni lukis Indonesia.tidak lagi terbatas pada keindahan alam. Surakarta dan Sri Paku Alam dari Yogyakarta. Surjo Subanto yang juga berkesempatan belajar di negeri Belanda dengan beberapa karyanya. para pelukis lain yang masih meneruskan gaya realisme adalah R. Jadi. pengamen. Sebagai penganut mazhab Hindia Molek. Dia menyelesaikan studinya di sekolah Katolik Solo untuk kemudian melanjutkan pendidikan seni lukisnya di Academic Voor Beldeende Kunsten sebagaimana mendiang ayahnya. hingga petani. Mulailah muncul lukisan yang bersifat kritisrealis yang melukiskan soal-soal kehidupan dan penderitaan rakyat sehari-hari seperti kehidupan orang cacat. . Selain Basoeki Abdullah. Poetera (Poesat Tenaga Rakyat). kaum buruh. Namun setelah dewasa Abdullah yunior ini bertekad melanjutkan garis karya ayahnya. dia bertindak lebih maju. Soedarso. Hanya saja.Adapun Basoeki Abdullah (1915-1993) memang tak pernah melihat wajah sang ayah. Ada pula nama-nama seperti Lee Man Fong. maka tema-temanya pun mengalami perkembangan -. seperti potret ”Wanita dalam Baju Kurung” dan “Gadis Bermain Gitar”. Affandi Koesoema dan Rustamdji. S Sudjojono. dan sebagainya. binatang dan potret manusia saja.M. dengan muncul dan berkembangnya beberapa sanggar seni lukis di Indonesia. seperti ada yang tergabung dalam sanggar Persagi (Persatuan Ahli Gambar Indonesia 1938-1942). SIM (Seniman Indonesia Muda). orang miskin.

Pirngadi. Paska Sumpah Pemuda. Siauw Tik Kwie.ERA PERSAGI Zaman pergerakan yang ditandai dengan terselenggaranya Sumpah Pemuda 1928. dia juga kritikus seni lukis berlidah tajam. Mazhab Mooi Indie lantas dikecam dan dikritik habis. Selain sebagai pelukis. Pak Djon – begitu panggilan akrabnya – kerap mengecam Basoeki Abdullah . dianggap hanya mengabadikan keindahan alam Indonesia saja dan kurang tanggap terhadap kenyataan di sekitarnya yang tidak semuanya indah. serba enak. pengembangan pada teknik melukis sangat diperhatikan pada masa itu. Subanto. Tokoh-tokoh semacam Lee Man Fong. terjadilah polemik kebudayaan yang riuh rendah dalam media massa. Para pelukis tidak mau ketinggalan dan ikut ambil bagian. Ui Tiang Un. Berbeda dengan Affandi yang pendiam. Jan Frank. sehingga seni lukis realisme Indonesia makin memiliki identitas pribadi. Henk Ngantung. dan pecahnya Perang Asia Timur dengan Jepang sebagai pemenangnya mempengaruhi geliat seni lukis di tanah air. Sudjojono adalah tokoh yang keras dan pemberang. Terutama pada kurun waktu 1935-1939. Sindudarsono Sudjojono (1913-1986) dan Affandi Koesoema (1907-1990) adalah dua tokoh yang paling menonjol pada masa itu. Imandt. Di sisi lain. Rudolf Bonnet ikut pula berdebat. tenang dan damai.

ia menjadi anak asuh. Yudhokusumo. Kritik Pak Djon itu tentu saja membuat berang Basoeki.sebagai tidak nasionalistis. Pak Djon yang memang memulai karirnya sebagai seorang guru sekolah menengah dianggap pionir yang mengembangkan seni lukis modern khas Indonesia. Pengikut dan muridnya banyak. Usia Persagi tidak panjang. Madiun pada 1931. Pak Djon lahir dari keluarga transmigran asal Pulau Jawa. bersama pelukis Agus Djaja. buruh perkebunan di Kisaran. itu akhirnya lebih memilih jalan hidup sebagai pelukis profesional. Namun. sejak 1935. Pak Djon dan Basoeki kemudian dianggap sebagai musuh bebuyutan. Namun di luar itu. Setelah itu. ia ditugaskan Ki Hajar Dewantara untuk membuka sekolah baru di Rogojampi. Setelah lulus Taman Guru di Perguruan Taman Siswa Yogyakarta. menjulukinya sebagai Bapak Seni Lukis Indonesia Baru. bagai air dan api. Pada 1937. Keikutsertaannya pada pameran itu. Kemudian SMP di Bandung dan SMA Taman Siswa di Yogyakarta. kemudian membawanya ke Batavia pada 1925. sebagai awal yang mempopulerkan namanya sebagai pelukis. Sumatera Utara. karena hanya melukis perempuan cantik dan pemandangan alam. dia pun ikut pameran bersama pelukis Eropa di Kunstkring Jakarya. (Jakarta). . Djon menamatkan HIS di Jakarta. Bahkan sebenarnya sedari awal dia lebih mempersiapkan diri menjadi guru para calon pelukis. Namun sejak usia empat tahun. melihat kecerdasan dan bakatnya dan mengangkatnya sebagai anak. Dibentuk 23 Oktober 1938 di salah satu Sekolah Dasar Jakarta di Gang Kaji dan bubar karena dipaksa Jepang pada 1942. sehingga komunitas seniman. seorang guru HIS. tempat Djon kecil sekolah. Dia sempat mengajar di Taman Siswa. Abdulsalam. Rameli. Sudjojono yang berbakat melukis dan banyak membaca tentang seni lukis modern Eropa. dia mendirikan Persatuan Ahli Gambar Indonesia (Persagi). dan beberapa pelukis yang bekerja untuk bidang reklame di percetakan. Dia pun sempat kursus montir sebelum belajar melukis pada RM Pirngadi selama beberapa bulan dan pelukis Jepang Chioji Yazaki di Jakarta. Batavia. Yudhokusumo.

Syuaib Sastradiwirja. ketika itu. goresan dan sapuan bagai dituang begitu saja ke kanvas. Pengungsi dan Seko. Sindudarsono Sudjojono dan Affandi itu hingga kini dianggap sebagai ikon maestro seni lukis Indonesia. Sindusisworo. .B. cinta. Rameli. Sukirno dan Surono. Beberapa bulan sebelum Pak Djon meninggal di Jakarta. Pelukis Wakidi di Padang dan Hendrodjasmoro di Yogyakarta merupakan anggota di luar Jakarta. Abdulsalam. Yang penting isi jiwa ini tumpahkan di atas kanvas ! Lukisan Sudjojono punya ciri khas kasar. Semboyan ekstrim Persagi adalah : Teknik tidak penting. dan simpati sehingga Lukisannya tampak yang bersahaja.Di Persagi. Jakarta. monumental antara lain berjudul : Di Depan Kelambu Terbuka. Ateng Rusy’an. Diangkat sebagai Ketua adalah Agus Djaja dengan anggota-anggota L Setijoso. Cap Go Meh. sosok manusia. Objek lukisannya lebih menonjol pada pemandangan alam. Saptarita Latif. menyebut pameran bersama ketiga raksasa seni lukis itu merupakan peristiwa sejarah yang penting. 25 Maret 1985. H Hutagalung. S Sudiardjo. Sehingga Menteri P&K Fuad Hassan. S Tutur. serta suasana. pengusaha Ciputra mempertemukan Pak Djon dan Basuki bersama Affandi dalam pameran bersama di Pasar Seni Ancol. Pemilihan objek itu lebih didasari hubungan batin. Ketiga pelukis itu yakni Basoeki Abdullah. Pak Djon menjadi Sekretaris dan sekaligus Juru Bicaranya. T.

ayah dari Basoeki Abdullah. Teknik melukis bentuk bahkan yang cenderung memperindah obyeknya seperti yang dilakukan angkatan Moi India atau India Jelita.TENTANG AFFANDI Affandi sendiri adalah kelahiran Cirebon pada 1907. yaitu Kartika Affandi. Sekitar tahun 30-an. Cirebon. Affandi bergabung dalam kelompok Lima Bandung. Pendidikan formalnya cukup tinggi. pada 1933. Sebelum mulai melukis. Kelompok ini menjadi sebuah sebuah kelompok belajar bersama dan kerja saling membantu sesama pelukis yang ada di Bandung. termasuk sejumlah pelukis yunior. Kelompok Lima Bandung pimpinan Affandi ini memiliki andil yang cukup besar dalam perkembangan seni rupa di Indonesia. Wahdi adalah salah satu pelukis yang belajar langsung dari Abdullah Suriosubroto. yaitu kelompok lima pelukis Bandung bersama Hendra Gunawan. Dia putra dari R. Sudarso dan Wahdi. bakat seni lukisnya yang sangat kental mengalahkan disiplin ilmu lain dalam kehidupannya. Dilandasi jiwa kerakyatan. seorang mantri ukur di pabrik gula di Ciledug. Pada umur 26 tahun. mulai dari HIS. Affandi tertarik dengan tema kehidupan masyarakat kecil. dirasakan Affandi tidak mewakili kondisi . Affandi menikah dengan Maryati. Barli. Koesoema. MULO hingga AMS di jaman Belanda. gadis kelahiran Bogor. dan memang menjadikan namanya tenar sama dengan tokoh bidang lainnya. Dalam melukis Affandi melangkah dengan lebih mengutamakan kebebasan berekspresi. Affandi pernah menjadi guru dan pernah juga bekerja sebagai tukang sobek karcis dan pembuat gambar reklame bioskop di salah satu gedung bioskop di Bandung. Affandi dan Maryati dikaruniai seorang putri yang nantinya akan mewarisi bakat ayahnya sebagai pelukis. Pekerjaan ini tidak lama digeluti karena Affandi lebih tertarik pada bidang seni lukis. Namun.

H. Affandi lebih tergugah mengungkapkan lewat tumpahan dan goresan warna kusam dan tema kemelaratan. Humanisme Affandi terlihat juga pada karyanya ”Dia Datang. dengan izin dan perlindungan dari Pak Djon pada 1943. Mansyur. Tema-tema kerakyatan menjadi dominasi dalam karya-karya Affandi. Prinsip mazhab Persagi tetap hidup yaitu untuk tidak terlalu menghiraukan teknik lukis. singkatan dari Poesat Tenaga Rakyat yang dipimpin empat serangkai : Soekarno. Setelah itu pameran tunggal karya-karya Kartono Yudhokusumo. Kusnadi. lalu pergi. Pengamatan Affandi seperti ini menunjukkan keprihatinan jiwanya terhadap penderitaan sesama antara anak bangsa. Pak Djon selama jaman Jepang diserahi memimpin Bagian Kebudayaan dari Poetera. kemudian meminta. Harjadi S. Raut muka pengemis yang kurus dengan pakaian lusuh. saat jaman penjajahan Jepang (1942-1945). para pelukis hidup susah seperti kebanyakan rakyat pada umumnya. Baharuddin. . Kartono Yudokusumo. Pengamatan terhadap sensitivitas lingkungan diungkapkan secara lugas. namun dari sisa ketegarannya masih bersemangat menjalani kehidupan walaupun dengan mengemis. Njoman Ngendon. dan Pergi” (1944). Hatta.masyarakat dengan kemelaratan akibat penjajahan. Ki Hadjar Dewantara dan K. selain lebih dahulu berani melukis. Memang. Mereka inilah yang nantinya menghidupkan sanggar-sanggar lukisan yang menjamur di awal kemerdekaan (1945-1950-an) dan menjadi tempat penghidupan para pelukis. Meski Persagi dibubarkan. Affandi sempat berpameran tunggal pada jaman ini. Basoeki Abdullah dan Njoman Ngendon digelar pula secara berurutan. Dengan pengalaman dan melihat kondisi masyarakat yang menderita. Beberapa tokoh muda pelukis muncul di jaman Jepang yakni Otto Djaja. Menunggu. aspirasinya tetap hidup karena wibawa Pak Djon dan Agus Djaja yang memberikan tuntutan melukis di jaman penjajahan yang singkat namun bengis itu. Dalam karya ini ditampilkan seorang pengemis yang baru datang. sehingga karyanya yang berjudul ”Pejuang Romusha” (1943) yang menampilkan rakyat dalam kemelaratan tidak disukai penguasa Jepang.

Para pelukis kemudian beralih kepada potret nyata kehidupan masyarakat kelas bawah dan perjuangan menghadapi penjajah. Kata-kata itu diambil dari penutup pidato Bung Karno. Era revolusi kemerdekaan di Indonesia membuat banyak pelukis Indonesia beralih dari tema-tema romantisme menjadi cenderung ke arah tema-tema kerakyatan. gambar orang yang dirantai tapi rantai itu sudah putus. Sekelompok pelukis siangmalam memperbanyaknya dan dikirim ke daerah-daerah. Lalu kata-kata apa yang harus ditulis di poster itu? Kebetulan muncul penyair Chairil Anwar. Lahirnya Pancasila. Dia berhasil keluar sebagai pemenang. Ketika republik ini diproklamasikan 1945. Yang dijadikan model adalah pelukis Dullah. Dari manakah Chairil memungut kata-kata itu? Ternyata kata-kata itu biasa diucapkan pelacur-pelacur di Jakarta yang menawarkan dagangannya pada zaman itu ! Wah. Obyek lukisan yang hanya berhubungan dengan keindahan alam Indonesia dianggap sebagai tema yang kurang cocok dan anti revolusi. banyak pelukis ikut ambil bagian. Affandi mendapat tugas membuat poster. Usut punya usut. Saat itulah. Pada 6 September 1948 bertempat di Amsterdam sewaktu peringatan penobatan Ratu Belanda. Di masa revolusi Basoeki Abdullah tidak berada di tanah air. 1 Juni 1945. . Poster itu idenya dari Bung Karno. digelar sayembara melukis. wah. wah. Gerbong-gerbong kereta dan tembok-tembok ditulisi antara lain ”Merdeka atau mati !”. Dia mendalami seni lukis di Eropa. maka dengan enteng Chairil ngomong : ”Bung.ERA REVOLUSI Berakhirnya penjajahan Jepang dan tibanya Hari Kemerdekaan telah menggairahkan kehidupan para pelukis. Sempat pula dia bermukim di Italia dan Prancis untuk belajar langsung dari para pelukis dengan reputasi dunia. ayo Bung !” Dan selesailah poster bersejarah itu. Soedjojono lantas menanyakan kepada Chairil soal itu. dan Basoeki Abdullah berhasil mengalahkan 87 pelukis Eropa dan Amerika. Bisa jadi karena dia merasa terpojok pada serangan-serangan pedas pada karya-karyanya. Itulah hasil karya anak-anak ex Persagi.

Pada 1946 berdirilah sanggar Seniman Masyarakat di Yogyakarta dipimpin oleh Affandi sebagai perkumpulan seni lukis pertama yang potensial. Kartono Yudhokusumo. Mardian. Terbit pula satu majalah seni rupa dengan nama Prolet Kult. Belanda. Bagong Kussudiardja. Sajono. Jepang. Abdulsalam. Inggris. Sudjojono. Sumitro. S Sudjojono. Portugal dan negara-negara lain. Saptoto dan C. Dan pada 1948. Dua tahun kemudian. Affandi. Lantas pada tahun yang sama. Pada 1947 sebagian anggota SIM pindah ke Surakarta. namanya diganti menjadi Seniman Indonesia Muda (SIM) dan kali ini pimpinan beralih ke S. termasuk S Sudjojono. Anggotanya bertambah dengan Trisno Sumardjo. Tidak lama kemudian. Pelukis Rakyat menggelar pameran pertama dri cabang baru seni rupa Indonesia di pendopo timur Museum Sonobudoyo. Hampir separuh hidupnya dihabiskan di luar negeri diantaranya beberapa tahun menetap di Thailand dan diangkat sebagai pelukis istana Raja Bhumibol Adulyadej. Trubus. . Dullah. Sudarso. Suromo. antara lain karyanya pernah dipamerkan di Bangkok (Thailand). Hendra. LEKRA DAN MANIKEBU Rustamadji. Malaysia.J. Di tanah air. D Joes dan Zaini. Sumitro. Suparto. Saptoto keluar dari Pelukis Rakyat karena tidak suka dengan pengaruh Lekra. Para pelukis era SIM saat itu adalah Affandi. Surono. Rusli. Wakidjan dan Srihadi. Kusnadi. Ali bergabung pula dalam Pelukis Rakyat. sang Ketua. Pameran sebagai hasil melukis bersama digelar pada waktuwaktu tertentu dalam sanggar saja. Sasongko. Oesman Effendi. Sudiardjo.Basoeki banyak mengadakan pameran tunggal baik di dalam negeri maupun di luar negeri. Basoeki Resobowo. dengan kepindahan ibukota negara ke Yogyakarta. Trubus dan Sasongko berpisah dari SIM dan bersama dengan anggota baru seperti Kusnadi dan Sudjana Kerton mendirikan perkumpulan bernama Pelukis Rakyat. pada 1950 sebagian anggotanya seperti Nasjah Djamin. Lebih kurang 22 negara yang memiliki karya lukisan Basoeki Abdullah. sejumlah seniman terkemuka dari Jakarta dan Bandung turut juga hijrah. Harjadi. Sudarso.

ada pula perkumpulan pelukis lain di Medan yang diketuai oleh Dr Djulham dengan anggotanya antara lain Tino Sidin. Sekolah Menengah Guru Gambar didirikan di Yogyakarta oleh Djajengasmoro bersama R. Remy Silado. pada 1946 berdiri perkumpulan Seniman Muda Indonesia. Henk Ngantung. setelah era Affandi dengan kelompok Lima-nya. misalnya. Kartono Yudhokusumo mendirikan pula Sanggar Seniman Bandung (SSB). disingkat SEMI yang diketuai Zetka dengan anggota antara lain A. Para anggota HBS kini tersebar di segala penjuru Indonesia. Didik Suardi. Indrosugondo dan Prawito. SIM dan Pelukis Rakyat mengadakan pameran bersama. bahkan di penghujung tahun 1980-an berusaha direvitalisasi dengan menggelar pameran akbar karya para anggotanya seperti Jeihan. Selain ASRI. berdiri pula perkumpulan-perkumpulan pelukis lain seperti Jiwa Mukti dan Pancaran Cipta Rasa dengan ketua masing-masing Barli dan Abedy. Adapun di Bandung. Srihadi Sudarsono dan lain-lain. Nasjah Djamin sebelum ke Jogjakarta sendiri sebelumnya di Medan pernah mendirikan Angkatan Seni Rupa Indonesia (ASRI) bersama Hasan Djafar dan Hussein. HBS ini berusia panjang.A. Di Surakarta berdiri pula Himpunan Budaya Surakarta (HBS) dengan Ketuanya Dr Moerdowo sejak 1945 dan perkumpulan seni lukis Pelangi yang diketuai Sularko antara 1947 – 1949. Adapun di Bukit Tinggi (Sumatera Barat). Rubai dan umaryo L. Navis dan Zanain.Lekra atau Lembaga Kebudayaan Rakyat adalah organisasi kebudayaan terbesar yang dekat dengan Presiden Soekarno. Meski berbeda perkumpulan. Affandi pernah menjadi salah satu pimpinan dan masuk di bagian seni rupa bersama Basuki Resobowo. dengan kegiatan mengadakan kursus menggambar serta pembuatan poster-poster adalah Pusat Tenaga Pelukis Indonesia (PTPI) dengan Ketuanya Djajengasmoro dan anggota-anggota Sindusisworo (ex Persagi).J. Pada 1948. Tino Sidin ini belakangan hijrah ke Jakarta dan sering siaran di TVRI dalam acara menggambar untuk anak-anak. mereka kerap menggelar pameran bersama. dan sebagainya. Bersama pelukis Sholihin. Katamsi yang juga banyak melahirkan kader-kader pelukis muda.E. . Perkumpulan seni lukis lain yang sudah berdiri di Yogyakarta sejak 1945. dengan Ketua Ismail Daulay. para anggota Pelukis Rakyat yang keluar ini kemudian mendirikan perkumpulan yang ingin terbebas dari Lekra bernama Pelukis Indonesia.

Anggotanya kebanyakan mahasiswa-mahasiswa Akademi Seni Rupa Indonesia (ASRI). . Di Surabaya.Sementara di Jawa Timur. Siauw Swi Tjing (kemudian merubah nama menjadi Chris Suharso). Nasjah Djamin. Wen Peor. Affandi kembali ke Jakarta dan mendirikan perkumpulan Gabungan Pelukis Indonesia dengan anggota-anggota antara lain Sutiksna. Oesman Effendi dan Trisno Sumardjo. Sjahri. Beberapa anggota Yin Hua ikut mewarnai sejarah seni lukis Indonesia. sejumlah pelukis mendirikan Gabungan Pelukis Muda di Madiun dengan Ketuanya Widagdo dan pada 1952 berdiri pula Sanggar Prabangkara di Surabaya dengan Ketuanya Karyono Ys. ada pula karya-karya atraktif dari Lim Wasim. kini menjadi Fakultas Seni Rupa di Institut Seni Indonesia (ISI). Yin Hua pada 1955. maraknya perhimpunan pelukis berlanjut dengan berdirinya Pelukis Indonesia Muda (PIM) di bawah pimpinan Gregorius. Seusai revolusi fisik. Lee Man Fong. Handrio. Nashar. Samboja serta Liem Tjoe Ing. Sidharta dan Widayat di Yogyakarta. pelukis dari era sebelum penjajahan Jepang mendirikan organisasi pelukis keturunan Tionghoa. Selain Lee Man Fong yang karya-karyanya unik karena memiliki dua gaya (Barat dan Chinese Art). Ada 100 lebih pelukis tergabung disitu dan aktivitasnya ramai. Lie Tjoen Tjay. pada tahun yang sama. Pada 1952. Zaini.

Lekra didominasi para pelukis di Jakarta. budayawan dan pelukis untuk secara agitatif memasukkan cita kerakyatan versi gerakan komunis membuat suasana kebebasan berekspresi sedikit terganggu. . Gerakan yang bertujuan untuk melawan pemaksaan ideologi komunisme membuat pelukis pada masa 1950-an memilih untuk membebaskan karya seni mereka dari kepentingan politik tertentu. Lukisan tidak lagi dianggap sebagai penyampai pesan dan alat propaganda sebagaimana didengungkan Lekra. Mereka melawan. sehingga era ekspresionisme dimulai. dihambat lajunya. Kelompok ASRI dan Sanggar Bambu di Jogjakarta serta kubu seni lukis Bandung tentu saja tak menerima realitas ini. berdiri pula Sanggar Bambu dengan pimpinan Sunarto Pr dan Mulyadi W. termasuk seni lukis. Danarto. namun lebih sebagai sarana ekspresi pembuatnya. Seni lukis yang bercita kerakyatan yang sesungguhnya berkonotasi netral dan biasa. Ini adalah perkumpulan pelukis paling penting pada era 1950-1960-an karena memiliki ciri khas sendiri. dan celakanya Presiden Soekarno membela Lekra. Affandi dan Hendra Gunawan soal seni kerakyatan. dipakai sebagai corong politik. ornamental dan didominasi bentuk datar. Dan para pelukis yang mendambakan kebebasan kreatif. Gerakan Manifesto Kebudayaan pun lahir pada 17 Agustus 1963. Seni lukis pada saat itu menjadi alat politik kelompok dominan yakni PKI. Arif Sudarsono dan Wardoyo. Manifestasi Kebudayaan (Manikebu) itu ditentang sengit oleh Lekra. Sesungguhnya Lekra menunggangi idealisme S Sudjojono. Sanggar Bambu melahirkan gaya dekoratif pada lukisan dengan garis serba meliuk.Disusul pada 1959. dalam perjuangan kelas. Desakan dan tekanan Lekra (Lembaga Kebudayaan Rakyat) yang secara resmi mendesak para seniman. Anggota-anggota Sanggar Bambu antara lain adalah Syahwil. Yang punya jabatan dan membela manikebu dicopot dari jabatannya. Lalu diganyanglah Manikebu. Bung Karno menganggap pernyataan tersebut melemahkan semangat revolusi. Lekra memasukkan gagasan tentang peranan kesenian.

pelukis istana. Pada 1964 buku itu dicetak ulang dengan sejumlah reproduksi karya. Ini adalah kitab seni rupa yang besar. Arie Smit. perjalanan politik Indonesia segera berbalik. tanpa perlu diganggu berbagai agitasi.Meski kurun waktu ini penuh kemelut. Popo Iskandar dan Srihadi Sudarsono. termasuk seni lukis. Buku tersebut amat berarti bagi perkembangan seni lukis Indonesia. ERA ORDE BARU Pada 30 September 1965 meletus Gerakan 30 September. pada 1966 sejumlah seniman yang bergabung dalam Grup Sebelas Seniman Bandung muncul dalam pameran besar di Jakarta. Ada pula karya pelukis kelas dunia seperti Diego Rivera. Kitab yang diedarkan ke seluruh dunia ini disusun oleh Lee Man Fong. Para pelukis di berbagai kota kembali menikmati kebebasan menciptanya. juga terhapuskan. But Mochtar. Buku ini berjasa besar sebagai referensi berharga bagi dunia seni lukis. Mereka antara lain adalah Achmad Sadali. Seni lukis kembali ke seni lukis. Juga karya pelukis asing yang pernah memberikan spirit pada dunia seni lukis Indonesia seperti Rudolf Bonnet. Buku babon seni lukis yang dibuat atas dasar perintah Bung Karno itu memuat 384 reproduksi koleksi seni Presiden Soekarno dan disusun oleh Dullah. Wakidi ada di sana. Lekra pun bubar. faham yang meletakkan politik sebagai panglima dalam kesenian. Karya-karya bagus Abdullah Suriosubroto. Antonio Blanco. yang hingga kini belum ada yang mampu menandinginya. Yang ke 4 berisi 400 lukisan. Buku tersebut untuk jilid I dan II terbit pada 1956. yang juga salah satu pelukis istana pada masa jabatan berikutnya. Dengan begitu. S Sudjojono. Dullah. Dan serentak dengan itu. Setahun kemudian. Untuk edisi ini jumlah kitab menjadi lima seri. Hendra Gunawan. Affandi. Semuanya adalah pengajar Institut . Dan yang 1 jilid berisi 167 patung dan porselen koleksi Presiden Soekarno. sebuah tonggak sejarah seni lukis sempat dilahirkan yaitu terbitnya kitab seni lukis bersejarah berjudul : ”Lukisan-lukisan dan Patungpatung Koleksi Presiden Soekarno”. Basoeki Abdullah. dan jilid III dan IV terbit pada 1959.

November 1968 digelar Pesta Seni di Taman Ismail Marzuki (TIM). Pada 1969 digelar pameran bersama antara dosen ASRI Jogjakarta bersama dosen Seni Rupa ITB Bandung di Jakarta. Aliran mereka jauh dari realisme sosial dan mengarah pada kubisme atau abstraksionisme. Widayat. Rustam Arief. Serta yang generasinya di bawah mereka seperti Mustika dan Mulyadi. Suparto. Edhi Sunarso. Zaini. Ada 132 lukisan karya pelukis pilihan dari Yogyakarta. . Sejumlah nama besar ambil bagian diantaranya Agus Djaja (mantan Ketua Persagi jaman Jepang). Aktivitas kebebasan ekspresi melukis ini terus berlanjut dengan pameran lukisan di Gedung Pola. wakil dari Bandung. Imam Bukhori. Tampil saat itu Bagong Kussudiardjo. Kekayaan corak para pelukis makin beragam dan makin berkembang. D. Jakarta dan Bandung ditampilkan di ruang pamer. Otto Djaja dan Affandi. Mujitha kesemuanya dari Jogja. Impresionisme. T Sutanto. dan Erna Pirous.Teknologi Bandung (ITB) jurusan Seni Rupa. Realisme. abstraksi. Umi Dahlan dan Haryadi Suadi. Sejak itulah pameran demi pameran berlangsung tanpa pernah berhenti. Srihadi Sudarsono. Surealisme. Fadjar Sidik. yang baru saja diresmikan Gubernur DKI Jakarta Ali Sadikin.A. Sejumlah pengajar perguruan tinggi Seni Rupa juga ingin unjuk gigi. Pelukis-pelukis seperti Nashar. Budiani. maka dia akan segera terangkat sebagai sosok yang lebih menggenggam citra pelukis profesional. Peransi. Abas Alibasyah. Banyak pelukis yang mampu berpameran tunggal. Kemudian yang lebih muda adalah Kusnadi. Zaini dan Oesman Effendi. Era 1970-an adalah era kemapanan. sesuai konvensi yang ada di lingkungan komunitas pelukis. Sanento Yuliman. Jakarta pada April 1968. Pameran bersama itu tampaknya hendak meredakan pertentangan dan pergulatan seru dua kubu seni lukis antara formalisme modernis ala ITB dan ekspresionisme nasionalis ala ASRI Jogjakarta yang terbentuk diantara mereka pada masa tersebut. kubisme semua ada dan ambil bagian. Popo Iskandar serta Mustika membuktikan hal itu. Padahal. bila ada pelukis yang melakukan pameran tunggal.

Yogyakarta maupun Surabaya. Di Bandung. Muncul sejumlah nama yang amat menjanjikan. Oesman Effendi dan sebagainya. Lirisisme pada seni lukis memiliki arti : getar perasaan atau emosi pelukis menjadi subyek utama yang menghidupi kanvas-kanvas. seperti karya-karya Srihadi Sudarsono. O. Namun karya Nashar. Amang Rahman. Gejala yang menonjol dari progresivitas itu adalah munculnya bentuk-bentuk geometris dan matematis pada kanvas-kanvas pelukis muda. Sedangkan pelukis J Eka Suprihadi. Daryono dan Krishna Mustajab. O. Mereka terbawa oleh iklim progresif yang melanda sejumlah perguruan tinggi seni baik di Jakarta.D Pirous. Sugeng Santoso dan Anyool Broto juga menciptakan tema seni lukis yang sejalan. Diantara tokoh-tokohnya adalah Gatot Kusumo. Hanya saja. Dia menggelar sejumlah kanvas kosong putih tanpa pigura. Tentu banyak yang lain yang juga patut dibicarakan. Kelompok ini bernaung di bawah bendera Kelompok Aksera atau Akademi Seni Rupa Surabaya. Supono. Bandung. Pirous. LIRISISME VERSUS ANTI LIRISISME Akan tetapi dominasi itu mendapat tantangan dari generasi pelukis yang lebih muda. A. Supono. yakni lirisisme dan berkembangnya generasi abstrak dan imajinatif. Nashar. Pada 1973. Harsono. terutama Nashar dan A. Zaini dan Popo Iskandar mewakili semangat era 1970-an. Zaini dan Popo Iskandar menjadi nama-nama pelukis yang menonjol dan terkuat pada era 1970-an. Danarto menggebrak di TIM dan sekaligus menciptakan monumen gejala lirisisme versus progresivitas ini dengan pamerannya yang kontroversial. Danarto mengatakan kepada publik bahwa ia . Itulah yang ditampakkan oleh pelukis-pelukis muda seperti Nanik Mirna. Wardoyo Sugianto. Agustinus Sumargo lewat beberapa kali pameran mereka di Solo dan Jogjakarta. Suatmadji dan Abdul Kholim melaju ke seni kolasi dan asemblasi.H. Rajin berpameran dan lukisannya diburu para kolektor.D.H.Surabaya yang selama ini jarang ambil bagian dalam hiruk pikuk pameran seni lukis mulai bangkit pada era 1970-an.

Muncul-lah statemen Desember Hitam yang berisi tudingan bahwa seni lukis Indonesia sudah mati. Sudjoko. Sejumlah pelukis muda memprotes karena perwujudan-perwujudan baru yang sifatnya anti-lirisisme. Pameran biennale ini juga memilih lima lukisan untuk diangkat sebagai yang terbaik. DKJ dianggap memihak pada seni lukis yang mapan. dekoratifisme. Bonyong Munni Ardhie. Pirous berjudul ”Tulisan Putih”.D. Panitia menolak tuduhan tersebut. Sanksi dari pimpinan Kampus STSRI ASRI ini mendapat simpati dari berbagai pihak. Ris Purwono dan Hardi. Penyelenggaraan Biennale.memaksudkan karyanya sekaligus sebagai arsitektur. kiblat tradisi dan nasionalitas yang dicanangkan oleh panitia diprotes. Benturan ini akhirnya melahirkan polarisasi lirisisme dan antilirisisme dalam seni rupa Indonesia. Penetapan pemenang ini akhirnya berujung masalah. Kusnadi dan Umar Kayam. Alex Papadimitrou. Mereka adalah Harsono. Pada pameran itu dipajang ratusan lukisan karya pelukis Indonesia untuk dilombakan. Fadjar Sidik. karya Aming Prayitno dengan judul ”Pohon” serta karya A. Popo Iskandar. atau pameran seni lukis dwi warsa (dua tahunan) di Jakarta mulai digelar Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) pada 1974. Siti Adiyati. Kelima karya dipilih oleh Dewan Juri yang terdiri dari Affandi. Kelimanya adalah Karya Irsam berjudul ”Matahari di atas Taman”. rasional dan bahkan juga eksperimentatif tak mendapat tempat. Sejumlah pelukis muda. mahasiswa STSRI ASRI di Jogjakarta mendapat sanksi. Lirisisme. karya Abas Alibasyah dengan judul ”Lukisan Wajah”. karya Widayat berjudul ”Keluarga”. lukisan dan patung. Muncullah lima nama dengan lima karya yang dianggap terbaik. .

Haryadi Suadi. Nyoman Gunarsa dan Aming Prayitno serta generasi sesudahnya seperti Heri Dono. pameran di Gedung Karta Pustaka Jogjakarta berjudul Nusantara-Nusantara yang menampilkan karya-karya berbau sindiran dan karikatural. termasuklah dalam mengeksplorasi efek multimedia. Dede Eri Supria. Pertama. Harsono. Suatmaji. dan berjalan sebagai pelukis profesional. Tisna Sanjaya. Marida Nasution. Kristiyanto. Dan gerakan ini bertahan hingga era 1980 dan 1990-an. namun ia mengocoknya dalam tema-tema yang sosialistik dan kritis. Pada kurun ini. Hal itu terlihat dalam karya pelukis muda Indonesia seperti Tulus Warsito. Nanik Mirna. . mereka turut melakukan seni persembahan. elemen-elemen gambar dan sebagainya. seni pemasangan dan seni video.Setidaknya dua kegiatan digelar. Sementara perwujudannya seringkali bernada surealistik. Tak hanya pelukis yang muncul tetapi juga grafikus dan beberapa pematung. Siti Adiyati dan Jim Supangkat. Dadang Christanto. T Sutanto. kemunculan Dede Eri Supria di penghujung 1970-an sangat memberikan harapan. Munni Ardhie. Pesertanya adalah Samikun. Agustinus Sumargo dan Agus Dermawan T. Mereka adalah Anyool Subroto. Ris Purwana. B. Pandu Sudewo. Dampak gerakan ini memang luar biasa. pameran Seni Rupa Baru pada Agustus 1975 di TIM Jakarta. GERAKAN SENI RUPA BARU Ramai pelukis muda mencari idea baru dalam menghasilkan seni rupa baru. Budi Sulistyo. gerak dan waktu dianggap sah sebagai bentuk karya seni rupa. Sudarisman. I Gusti Bagus Widjaja. Nyoman Nuarta. I Gusti Ayu Kadek Murniasih dan Agus Suwage. Hardi. Dengan lahirnya seni rupa baru. Satyagraha. Wardoyo S. kebebasan cipta pada pelukis muda nampak lebih lepas. Selain itu. Karya-karyanya mengambil titik tolak bentuk realisme. Kedua. Muryoto Hartoyo. Ivan Sagita. Bachtiar Zainoel. Gerakan Seni Rupa baru ini memang menafikan imaji seni lukis konvensional terkait elemen-elemen lukisan. Elemen-elemen ruang. Dede adalah salah seorang eksponen Seni Rupa baru yang paling serius.

Hening Swasona. Agus Kamal. Kamso Kholiban. A. A. Ikhlas Taufik (Tikes). urbanisasi. Made Djirna. Hardi. kesederhanaan orang-orang desa bahkan juga problem-problem sepakbola. amat bagus. Widayat adalah salah satu pelukis yang memiliki semangat berkarya yang konstan dan ketangguhan memegang serta mengembangkan gaya. Dan masalah-masalah sosial yang disentuhnya biasanya menggetarkan. Pande Gde Supada.D. Nyoman Gunarsa. seperti kehidupan orang miskin kota. Reputasi Widayat ini juga ditunjukkan oleh beberapa pelukis lain yang melejit di kurun ini seperti Srihadi Sudarsono. Nama-nama pelukis generasi berikutnya juga patut dipuji karena konsistensi mereka dalam berkarya dan menggelar pameran.S. Salim M. dengan pengungkapan yang dekoratif keprimitifan. Syahnagra. Nisan Kristiyanto. Godod Sutejo. Karya-karyanya memendam teknik tinggi. Karya-karya pelukis yang pernah belajar di STSRI ASRI Jogjakarta ini umumnya berformat besar. Pelukis Widayat lewat pameran tunggalnya pada 1985 dan 1990 menunjukkan bahwa dia adalah salah satu pelukis terkuat di Indonesia setelah Affandi. Sukamto DS. seperti Made Wianta. Ipung Gozali. Pirous dan Amang Rahman. . Kurnia.Teknik Dede. yang mengambil gubahan potretis. Ivan Sagito dan tentu saja Dede Eri Supria.

Ivan mengejutkan dunia seni rupa Indonesia saat mulai berpameran di Singapura. yang pernah menjamur di berbagai pelosok kampus perguruan tinggi seni sekitar 1993-1996. Kemapanan seni lukis Indonesia memang akhirnya porak-poranda akibat intervensi gagasan post-modernisme yang membuahkan seni alternatif. Sumur. I Gusti Ayu Kadek Murniasih (1966 – 2006) dan tentu saja yang paling akhir adalah Agus Suwage (kelahiran 1959). . Johannesburg. Bersamaan itu pula seni lukis konvensional dengan berbagai gaya menghiasi galerigaleri. Nama-nama tersebut diantaranya adalah Heri Dono (kelahiran 1960). dan ”Performance Art”. wanita-wanita desa. rumah-rumah di kampung dia olah sedemikian rupa menjadikan unsur-unsur seni lukisnya yang aneh menyimpan greget keseraman. Tisna Sanjaya (kelahiran 1958). Dadang Christanto (kelahiran 1957). Obyek-obyeknya dia gali dari dunia kampung dan alam pedesaan di Yogyakarta. Amerika Serikat (2003). Kemudian muncul berbagai alternatif semacam ”kolaborasi” sebagai mode 1996/1997. dia menggelar pameran tunggal di Afrika Selatan tepatnya di The Pretoria Art Museum. dengan teknik impasto yang bagus. Tak lama kemudian.3 milyar. yang bukan lagi sebagai bentuk apresiasi terhadap masyarakat. Vermont Studio Centre. Memasuki abad 21. Itulah dia yang disebut aliran progresif. Konon karya pelukis yang kini tinggal di daerah Godean Yogyakarta ini. Lukisannya kini banyak diperdagangkan di galeri-galeri besar dunia. Afrika Selatan (2000) dan terakhir di Red Mill Gallery. Marida Nasution (kelahiran 1956). pada 2005 ada yang mencapai harga jual hingga Rp 1. menawarkan tema-tema surealistik yang kaya dengan fantasi. seni lukis Indonesia terus berkembang dan muncul pula sejumlah profesi menjanjikan seperti art dealer yang menjadi penghubung antara pelukis dengan pihak gallery.Ivan Sagito. dengan munculnya seni konsep (conseptual art): ”Instalation Art”. Mereka juga sering tampil di berbagai galeri luar negeri. tetapi merupakan bisnis alternatif investasi. Menampilkan seni lukis dalam berbagai ragam bentuk termasuk berkolaborasi dengan seni instalasi.

Iwan Sulistyo. Akankah roda jaman berputar kembali ke awal setelah 100 tahun berlalu ? .B. Idran Yusup. dan Pardoli Fadli berpameran bersama di Boulevard Lounge-Hotel Nikko Jakarta. ada kecenderungan bahwa aliran Mooi Indie tetap bertahan. saat lima pelukis muda yakni J. 9-15 April 2007. P. Mereka menampilkan sejumlah lukisan beraliran realisme-romantik.Yang menarik. Lanny Andriani. Sukriyal Sadin. Ini dibuktikan dari pameran pada 2007 lalu.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful