Anda di halaman 1dari 40

Oksigenisasi

Ns.Isnadi Agus,S.Kep.

Anatomi paru -paru

Fisiologi Pernafasan
Introduction Respirasi Internal in the cell by mitokondria Eksternal Ventilasi Difussi Transportasi

Fungsi respirasi
Menyediakan O2 dan membuang CO2 Membuang panas dan uap air Meningkatkan darah balik ( venous retrun) Keseimbangan asam basa Mengahasilkan suara, menagis, tertawa, mencium Pertahanan tubuh

untuk lebih memehami proses pada paru

Perlu dibahas proses fisiologi pernapasan meliputi : Ventilasi Pertukaran gas Pengangkutan O2 dan CO2 Pengaturan pernafasan

Memahami proses pernafasan yang normal

Proses patologi dan gangguan pernafasan akan mudah dipahami

Pernafasan ekstra dan intra seluler respirasi adalah pertukaran oksigen ( O2 ) dan karbon dioksida ( CO2 ) antara manusia dan lingkungan sekitar { respirasi ekstra seluler } Respirasi Intra seluler adalah proses pembakaran / kimiawi zat makan ( karbohidrat,protein, lemak ) dengan oksigen menjadi energi , disertai pembentukan CO2 dan H2O. Udara ( gas ) pernafasan Pada ketinggian permukaan laut tekanan udara adalah 1 atm = 760 mmHg, terutama terdiri dari nitrogen dan oksigen ( 21%). Bila seseorang menghirup udara , maka udara inspirasi akan segera jenuh dengan uap air pada suhu 37C dan P H2O adalah 47 mmHg. Maka tekanan partial Oksigen ( pIO2 ) adalah 21% x ( 760-47)mmHg = 150 mmHg.

Regulasi pernafasan berbeda dengan jantung, pusat pengaturan pernafasan terletak di medula batang otak dan beberapa subcenter yang secara ritmik mengatur pernafasan pusat pernafasan tetap bekerja bila seseorang tertidur atau tidak sadar Cortek cerebri mempunyai pengaruh Pernafasan dapt pula dilakukan secara sadar menurut perintah

Perubahan Ph didalam darah dideteksi oleh sekelompok sel khusus di central Chemoreseptor dan juga sel-sel khusus diaorta dan karotis

Contoh bila kadar CO2 meningkat maka ventilasi akan dirangsang untuk bertambah dan sebaliknya

Proses pernapasan

Proses pernapasan pada manusia terdiri dari 5 proses / tahapan Ventilasi : pertukaran udara pernapasan antara paru dan udara sekitar. Perfusi paru . Aliran Mixed venous blood kesirkulasi paru kekapiler paru dan kembalinya darah mengandung oksigen ke atrium kiri. Pertukuaran gas di paru pertukaran O2 dan CO2 melewati membran alveoli kapiler dalam paru Transport gas dan pemakainnya, darah yg mengandung O2 diangkut dari ventrikel kiri ke jaringan tepi dan mengangkut Co2 yang dihasilkan diperifer kembali keatrium Regulasi ventilasi, pengaturan / kontrol asam basa darah dan tekanan gas ( O2 dan CO2 ) dengan menaikan dan menurunkan ventilasi

ventilasi
Pada waktu inspirasi, otot interkostalis ( ekstrenal ) dan diagfrahma berkontraksi mendorong viscera perut kebawah dan menarik dinding thorak kedepan dan kesamping

sehingga memperbesar isi thorak sehingga menghasilkan tekanan sub atmosferik didalam alveoli dan udara masuk kedalam paru. sifat elastik dan recoil dari paru memegang peranan penting ,juga tekanan negatif dalam pleura

Setelah proses inspirasi selesai, fase ekspirasi dimuali : karena perbedaan Perbedaan tekanan berakhir Sifat elastic recoil paru

Menyebabkan naiknya tekanan pada paru / alveoli dan udara mengalir keluar Proses ekspirasi dalam keadaan normal / tenang berlangsung pasif tanpa peranan otot pernapasan

Mekanisme pernafasan
Udara cendrung bergerak dari tekanan tinggi ke tekanan rendah ( gradien tekanan) 3 takanan pada pernafasan ( ventilasi ) Tekanan atmosfir ( barometrik ) : tekanan yang ditimbulkan oleh oleh berat udara di atm terhadap benda dipermukaan bumi ( 760 mmHg) Tekanan intra alveolus ( tek Intrapulmonalis ) Tekanan intraplura ( tek Intrathorakal ) 756 mmHg saat istirahat ( -4 mmHg)

Saat inspirasi rangsangan s.frenikus tek intraalveolar turun 1 mmHg ( 759 mmHg ) tekanan intrapleura turun sampai 754 mmHg. Saat ekspirasi Tekanan intraalvolar sampai 761 mmHg tekanan intra pleura 758 mmhg.

Pulmonary Volume dan kapasitas

volume tidal ( VT ) adalah jumlah udara yang keluar masuk paru pada pernafasan biasa ( 500 cc ) Volume Cadangan Inspirasi ( Inspiratory Reserve Volume / IRV ) : jumlah udara yang dapat dikeluarkan melebihi pernafasan biasa dengan cara ekspirasi dalam ( 1800 cc ) Volume cadangan ekspirasi ( Ekspiratory reserve volume / ERV ) : volume udara yang dapat dikeluarkan melebihi pernafasan biasa Kapasitas Vital ( Vital Kapacity ) : jumlah udara yang dapat keluar masuk paru dengan pernafasan dalam ( 4100 cc ) VC = TV + IRV + ERV

Volume residu ( residual volume / RV ) jumlah udara yang tidak dapat dikeluarkan dari paru walaupun telah dilakukan pernafasan dalam ( Volume udara yang tersisa ) 1200cc Kapasitas total paru ( total Lung capacity / TLC ) : jumlah semua udara total dalam paru ( 5300 ml TLC = TV + IRV + ERV + RV

Proses ventilasi dipengaruhi oleh

Kepatenan jalan nafas tidak ada sumbatan pd jalan nafas akibat penumpukan sputum, obstruksi, muntahan, atau benda asing, edema atau spasme jalan nafas. Kemampuan pengembangan paru-paru secara normal pengembangan paru ditentukan oleh adanya surfaktan dan perbedaan tekanan paru. surfaktan adalah cairan yang berfungsi menurunkan tegangan pada permukaan alvolus sehingga memudahkan pengembangan paru. perbedaan tek antara udara luar dengan tek intra alveolar dan intra pleura menyebabkan udara mengalir kedalam atau keluar paru.

Keadaan otot pernafasan yang baik yaitu otot utama pernafasan ( diagfragma dan innterkostalis ) serta otot tambahan pernafasan lainnya dapat menyebabkan mengembang dan mengempisnya paru secara bergantian. Perbandingan volume paru yang normal. Ditentukan oleh posisi, pada berbanding volume dan kapasitas paru lebih kecil akibat dari penekanan abdomen pada diagfragma dan peningkatan volume darah paru pada posisi berbaring. Perlu diperhitungkan pula ruang rugi adanya ruang rugi , pada kondisi normal 150 cc udara yang dihirup tidak berguna untuk proses pertukaran gas.

Proses Difusi Proses pertukaran gas selalu terjadi pada paru karena adanya udara residu dan aliran kapiler yang terus menerus dipengaruhi oleh : Suhu , semakin tinggi suhu makin cepat pergerakan molekul udara sehingga pertukaran gas meningkat. Ketebalan membaran : baik karena kerusakan alveolus ataupun kerena penumpukan cairan dialvolus dapat mengurangi pergerakan O2 dan CO2 Beda kosentrasi gas : semakin tinggi kosentrasi gas yang dihisap semakin banyak pertukaran gas terjadi Daya larut gas

a.

b.

c.

d.

Perfusi paru Sangat ditentukan dengan kondisi hemodinamika tubuh : antara lain curah jantung, kelancaran aliran darah dan kadar Hb pasien sehingga O2 dapat dihantarkan keseluruh tubuh serta dapat mengangkut CO2 dari seluruh jaringan tubuh ke paru.

Kontrol / Pengaturan pernafasan


Pusat pengaturan pernafasan di MO dan Pons dipengaruhi oleh berbagai rangsangan antara lain Rangsangan kima yang merupakan pengaturan utama pernafasan. Rangsangan kimia adalah faktor utama pengendalian dan pengaturan kecepatan serta kedalaman pernafasan,reseptor kimia tubuh dirangsang oleh perubahan tek co2, O2 dan pH akan merangsang reseptor tersebut mengirimkan impuls kepusat pernafasan untuk merangsang peningkatkan ventilasi : meningkatkan kecepatan dan kedalaman pernafasan ( hiperventilasi ) Hiperventilasi adalah kompensasi tubuh untuk mengeluarkan CO2 sehingga kadar pH akan kembali normal.selain kompensasi melalui ginjal.

a.

b.

Rangsangan non kimia yaitu rangsangan otonom, somatik, aktivitas, emosi.

Istilah sistem pernafasan Dyspnea : susah bernafas Hyperpnea : pernafasan dalam sebagai stadium permulaan dyspnea Apnea : pernapasan berhenti Pernafasan cheyne stokes : pernafasan yang mulamula dangkal, makin lama makin dalam sampai maksimal kemudian dangkal lagi sampai akhirnya berhenti Pernafasan kusmaul : pernafasan yang cepat dan dalam Pernafasan biot ; pernafasan yang tidak teratur Asphyxia : mati lemas karena kekurangan oksigen Hypoksia ; kadar oksigen dalam jaringan yang rendah.

Perubahan didalan fungsi pernafasan

Fungsi pernafasan dapat berubah disebabkan oleh gangguan : Pergerakan udara keluar masuk dadi dalam paru / yang menyebabkan ventilasi a;lveoli tidak adekuat Yang menurunkan difusi gas melalui membran alveolidan kapiler paru Yang menurunkaan transport O2 dari paru kejaringan.

Hipoxia

Kondisi penurunan oksigen didalam tubuh sampai pada jaringan . Hiposia dapat terjadi karena defesiensi pengantaran oksigen atau penggunan oksigen diseluler Hipoksia disebabkan Penurunan kadar Hb dan penurunan kapasitar darah yang membawa O2 Penurunan kadar O2 yang diinspirasi Ketidak mampuan jaringan untuk mengambil O2 dari darah Ex Keracunan Penurunan difusi O2 dari alveoli ke darah ex pneumonia Perfusi darah yang mengandung O2 dijaringan yang buruk ex : syok Kerusakan ventilasi : seperti trauma dada

Tanda dan gejala hipoksia Gelisah, rasa takut, ansietas, disorientasi,penurunan kemampuan untuk berkosentarsi. Penurunan tingkat kesadaran,peningkatan keletihan, pusing ,perubahan prilakuk, peningkatan frekuensi nadi Peningkatan frekuensi pernafasan dan kedalamnya Peningkatan tekanan darah Pucat ,sianosis, clubingg sesak napas.

hipoventilasi adalah keadaan seseorang tidak dapat mempertahankan ventilasi alveolar yang cukup sehingga terjadi kenaikan co2 dalam darah (hypercarbia) dalam darah. Bila ventilasi alveolar menurun makan pco2 akan meningkat penyebab hipoventilasi : penyakit yang menggaguan otot pernafasn, obat 2 atau anastesi,atelektasis,ppom.

Tanda dan gejala hipoventilasi Pusing, nyeri kepala ( dapat dirasakan didaerah oksipetal pada saat terjaga ) Letergi, disorientasi, distrimia jantung, ketidak seimbangan elektrolit, konvulsi, koma henti jantung. Tanda dan gejala hiperventilasi Takikardia Napas pendek, nyeri dada, pusing, sakit kepala ringan, disorientasi, paretesia, baal pada ekstremitas. Tinitus, penglihatan kabur, disorientasi, tetani.

Pengakajian oksigenisasi
Pengkajian oksigenisasi meliputi ; status riwayat kesehatan, pemeiksaan fisik, pulse oksimetry dan diagnostik tes, Riwayat keperawatan meliputi ; Apakah perubahan dalam pola nafas spt: pernafasan dangkal, sulit dalam bernafas sehingga membutuhkan posisi untuk bernafas, pernafasan cepat atau lambat

History of respiratory disease Apakah klien mempunyai riwayat batuk,alergi, asma, tuberkulosis, bronkitis, pneumonia, empiaema. Bagaimana frekuensi terjadinya,berapa lama dan bagaimana pengobatannya. Apakah sering kontak dengan polutan kardiovaskuler problems Apakah mempunyai riwayat penyakit jantung, atau gangguan sirkulasi darah spt anemia, hipertensi,penyakit jantung. Life style Apakah klien merokok, berapa banyak,jika kkien sudah berhenti berapa lama ? Batuk klien : apakah produktif dan berapa lama batuk yang dialami klien. Sputumnya apakah produktif, jumlahnya, warna sputum

1.

2.

3.

OBSERVASI Observasi penampilan umum klien sebelum memulai pemeriksaan sistem pernafasan yang lebih rinci adanya tanda-tanda berikut ini : ( Ali: 1994 ) Dispne ; perhatikan apakah terdapat tanda-tanda dispne pada waktu istirahat, respirasi rate yang abnormal, penggunaan otot-otot bantu Pola nafas abnormnal: pernafasan cheyne Stoke, pernafasan kussmaul, hiperventilasi, pernafasan biot, pernafasan apnestik. Sianosis sentral: amati adanya sianosis sentral pada lidah atau mukosa sianosis sentral dapat terjadi akibat penyakit paru yang cukup berat untuk menimbulkan ketidak seimbangan ventilasi perfusi.

4. Batuk amati bagaimana sifatnya batuknya, apakah produktif atau tidak produktif. 5. Sputum : observasi jumlah dan jenis sputum ( purulen, mukoid, atau mukopurulent ). Volume sputum yang besar dan purulent menunjukan kemingkinan bronkihitis.Sekresi yang berbusa dan merah muda dari trakea menunjukan adanya edema paru. Sputum yang berwanrna gelap dan berbau menunujkan adanya abses paru. Hemoptisis menunjukan tanda penyakit yang gawat. 6. Stridor : adalah bunyi serak atau bunyi mengi yang paling keras pada inspirasi. Hal ini dapat disebabkan oleh adanya obstruksi laring,trakea atau jalan nafas yang besar oleh benda asing, tumor atau infalmasi. Ini adalah tanda yang memerlukan perhatian yang mendesak. 7. Suara serak ; dengarkan suara serak akibat adanya kelumpuhan saraf laringeus rekuren yang berkaitan dengan karsinoma paru atau karsinoma lung. Tetapi penyebab paling sering adalah laringitis.

Pemeriksaan fisik system pernafasan


Inspeksi: 1. Kepala dan leher : bau nafas, sputum, pulse lips breathing, cyanosis bibir, adanya penggunaan otot-otot pernafasan seperti fleksi otot sternocloidomastoides, diaporesis, pernafasan cuping hidung, jejas pada leher, deviasi trakea, peningkatan JVP ( edema paru dan tension pneumotorak ) 2. Bentuk dan ukuran dada :ukuran diameter anterior posterior dan trasversal dapat ditemuka ; a) Barel chest pada klien empisema yang ditandai dengan peningkatan diameter anterior posterior b) funnel chest : dada menjorok kedalam pada bagian bawah sternum pada klien. c) Pigeon chest ( pectus carinatum ) : dada tampak menyerupai dada burung yang disebabkan oleh ricketsia, yang ditandai oleh ada depresi dua bagian yaitu bagian bawah serta sternum yang menonjol . catatan pergerakan dada yang dapat terlihat seperti adanya ketidak simetrisan pada dinding dada yang biasa terjadi pada klien dengan trauma dada atau falil chest. lihat juga adanya jejas, tumor dan hematome serta penggunaan otot-otot bantu pernafasan retaraksi interkostal serta jenis pernafasan ( perut dan dada )
A.

3. Kaji jenis pernafasan abnormal, meliputi : a. Cheynestoke b. Kussmaul c. Hiperventilasi d. Tachipnoe e. Dsypnoe f. Hypoventilasi ( bradipnoe ) g. Ortopnea h. apnea

Palapasi Trachea : palpasi adanya masa, kripitasi, pinympangan trachea dari garis tengan ( deviasi trachea ) Dada : palpasi kesimetrisan pengembangan dada, tektur kulit pulsasi, kripitasi, empisema subcutis, massa, kehilangan kelenturan ( tendeness ), nyeri, bengkak, taktile fremitus atau vokal fremitus adalah fibrasi pada dinding dada yang dihasilkan oleh vokalisasi.peningkatan fremitus,terjadi karena adanya cairan atau masa seperti pada penumonia, tumor dan diatas efusse pleura, sedangkan penurunan fremitus terjadi pada effuse pleura atau atelektasis. Pekusi : perkusi dilakukan untuk mengkaji adanya suara rensonan hypersonor, dullness, tymphani dan flat. Auskultasi : dengarkan adanya perubahan bunyi nafas berupa penurunan atau hilang. Disamping itu kaji adanya bunyi whezing, reles dan ronchi. Wheezing terjadi pada pasien dengan obstruksi jalan nafas yang disebabkan oleh benda asing atau tumor, PPOK, rales dibagi menjadi 3 bagian yaitu fine, medium, coarse.