Anda di halaman 1dari 4

http://www.femina.co.id/archive/main/serial/serial_detail.asp?

id=171&views=13

BERLIDAH CERDAS
Memasuki tahun 2005, Bondan makin dekat dengan dunia kuliner Awalnya, PT Unilever meminta Bondan memikirkan program untuk memopulerkan Pusaka Kuliner Nusantara, yang menjadi visi Komunitas Jalansutra. Waktu itu, ia mengusulkan sebuah program multimedia yang melibatkan pers cetak, radio, dan televisi. Tetapi, rupanya mereka hanya berminat untuk program televisi. Maka, lahirlah acara Bango Cita Rasa Nusantara (BCRN), dan saya diminta menjadi pembawa acaranya. Saya juga heran, acara itu disukai orang. Wajah saya kan tidak sekeren Adjie Massaid atau Jason Tedjasukmana, ha...ha...ha..., ujar Bondan, yang ternyata juga gemar bercanda. Ia juga sekaligus mematahkan anggapan bahwa menjadi presenter TV harus muda dan tampan/cantik. Pengetahuannya tentang makanan memberikan manfaat bagi banyak orang. Lidahnya cerdas, kata seniman Butet Kartaredjasa (46), yang pernah akrab dengan Bondan. Bertiga dengan sosiolog yang juga penikmat makanan, almarhum Umar Kayam, Bondan dan Butet sempat rajin mencicipi aneka makanan bersama. Bahkan, komentar mak nyus yang populer itu, diakui Bondan, ditirunya dari Umar Kayam. Untuk menggambarkan makanan yang sangat enak, Mas Kayam kerap memakai istilah mak nyus, sebuah ungkapan umum di Yogya. Dalam pembicaraan sehari-hari juga begitu. Suatu kali, ketika syuting, terlepaslah kata mak nyus dari mulut saya. Ternyata, pemirsa menyukainya. Matur nuwun, Mas Kayam, ungkap Bondan, tulus. Kecerdasan lidah Bondan juga diungkapkan Camelia (28), Associate Producer Wisata Kuliner. Pak Bondan pandai mewawancarai pemilik restoran dan bisa mengungkapkannya kepada penonton dengan sangat menarik. Padahal, saya tidak memberikan naskah, dan pengambilan gambar pun jarang diulang, ucap Camelia. Namun, setelah 15 bulan menjadi presenter BCRN, Bondan memutuskan mundur karena alasan prinsip. Namun, tak lama kemudian ia kembali dihubungi Trans TV. Saya diminta tampil setiap hari di acara Wisata Kuliner, kata Bondan, yang sudah menyelesaikan lebih dari 500 episode dalam tiga tahun terakhir. Padahal, syuting yang dilalui Bondan sama sekali tak mudah. Dalam sehari bisa berpindah lokasi hingga 10 tempat. Di Singapura, kami bahkan pernah syuting di 16 lokasi sepanjang hari. Wah, kami semua sudah tak mampu makan lagi, meskipun cuma icip-icip. Tetapi, Pak Bondan tetap konsisten, dan syuting berjalan lancar, ungkap Camelia. Jika syuting di luar kota, di mana hanya ada penginapan seadanya, Bondan juga tak pernah protes. Hanya satu yang membuat Bondan marah, yaitu bila menyangkut ketepatan waktu. Di mana pun, kami selalu diminta tepat waktu. Syuting di luar kota, kami harus siap pukul 7. Demikian juga ketika kami di Eropa, pukul 7 tepat kami harus sudah berangkat syuting, lanjut Camelia, yang juga berupaya keras mengurangi jumlah kru. Menurut Bondan, kru yang terlalu banyak tapi tidak efektif, hanya membuat sempit lokasi syuting. Camelia juga memuji kondisi fisik Bondan yang selalu prima (hanya asam urat yang

menjadi kendala kesehatannya). Kondisi itu diupayakan Bondan dengan melakukan olahraga jalan kaki setiap pagi. Juga dengan melakukan detoksifikasi selama beberapa hari, dengan hanya minum jus buah dan air putih, setelah seminggu syuting. Cara lain, setiap kali icip-icip makanan, ia tidak pernah menghabiskan seluruh makanan yang dihidangkan. Bondan yang tidak pernah mencela makanan yang dicobanya, dinilai positif oleh Butet. Itu menunjukkan sikapnya yang arif. Bondan sudah dipercaya penonton, sehingga ucapannya yang ne-gatif bisa merugikan restoran yang dikunjunginya, kata Butet. Di layar kaca Bondan selalu tampil santai dan akrab, mengomentari setiap makanan dengan ungkapan khas. Seperti, Pedesnya sopan, gurihnya nendang. Bumbunya cakep, berminyak. Sesekali secara tak sengaja Bondan menunjukkan wawasannya, dengan menambahkan komentar tentang bahan makanan atau daerah yang dikunjungi, Menyangkut hal itu, Bondan berkomentar, ia tak bermaksud menjadi kritikus, melainkan berusaha mencari setiap kelebihan dari restoran yang dikunjunginya. Karena itulah, ia kerap mendapat telepon yang penuh dengan luapan kegembiraan, dari para pemilik restoran yang dimunculkan di acara Wisata Kuliner. Bahkan, pernah ada seorang pemilik restoran yang melaporkan, restoran miliknya langsung diserbu orang sampai hampir roboh. Bondan juga menaruh perhatian besar pada kuliner daerah. Ia memiliki obsesi agar orang mau berburu makanan-makanan khas daerah. Kuliner Nusantara adalah bagian dari kekuatan pariwisata. Mungkin Semarang bisa dijelajahi dalam satu-dua hari. Namun, bila Anda juga menikmatinya dari sisi kuliner, liburan Anda di Semarang pasti bisa lebih panjang lagi, ujar Bondan.

CANGGUNG DI ANTARA PENGGEMAR


Di luar dugaannya sendiri, kesuksesan Wisata Kuliner ternyata membuat Bondan menjadi selebriti. Tiba-tiba saja, ke mana pun ia pergi, para wanita memintanya berfoto bersama. Jujur saja, saya amat canggung menjadi selebriti. Apalagi, pada dasarnya saya private man. Namun, saya juga orang yang mudah beradaptasi, jadi semua itu bisa saya atasi, ujar Bondan, yang menolak berfoto jika penggemarnya hanya memanggil-manggil dengan se-butan mak nyus, tanpa mendatangi dirinya dengan sikap sopan. Namun, hal-hal seperti itu tidak membuat Yvonne, istrinya, cemburu. Saya bahkan sering menyarankan agar Bondan bersikap lebih ramah kepada penggemarnya, ungkap Yvonne, yang sesekali masih berbahasa Inggris ini, sambil tertawa. Gwen, putri Bondan, juga sempat terheran-heran melihat antusiasme penggemar ayahnya. Namun, saya memang salut pada Papa. Ia tertantang mencoba berbagai profesi, dan selalu berhasil, ucap ibu dua anak, yang kini juga muncul sebagai presenter pendamping di Wisata Kuliner edisi Jumat. Ternyata, Bondan tak hanya populer di kalangan wanita. Para gay pun memujanya. Saya beberapa kali ditelepon dan dikirimi e-mail mesra oleh sejumlah gay, lanjut Bondan, tertawa. Biasanya, ia lantas menjelaskan kondisi sebenarnya. Namun, jika penggemarnya itu ngotot, dengan tegas ia akan melarang orang tersebut untuk

menghubunginya lagi. Menurut Bondan, sampai saat ini, orang sering kali menganggap tempat pria bukanlah di dunia kuliner. Padahal, banyak pria yang sukses di industri kuliner, ungkapnya. Namun, ia juga berpendapat, saat memasak, pria memang berbeda dengan wanita. Namun, justru di saat kebanjiran penggemar, Bondan malah berniat mundur. Selain kegiatan syuting yang menyita waktu, ia juga merasa sudah waktunya untuk menyerahkan tongkat estafet. Alasan lain, Lebih terhormat mundur di saat masih disukai orang daripada terpaksa mundur. Itu sudah pernah saya lakukan, ketika saya menjadi konsultan manajemen, ujar Bondan, serius. Namun, lagi-lagi, bukan berarti ia akan berdiam diri. Ia masih punya obsesi lain, yaitu membuat program mengembangkan diri. Bangsa kita makin tidak mengindahkan aturan dan sopan santun. Padahal, dulu kita dididik dengan budaya ketimuran. Bangsa kita juga kurang mampu berkompetisi dengan bangsa lain, karena kualitas SDM-nya tidak maksimal. Karena itu, dibutuhkan pelatihan sumber daya manusia yang bisa meningkatkan kualitas setiap individu, ungkap Bondan, bersemangat. Namun, ia ingin program yang dicita-citakannya itu tidak dijual seharga jutaan rupiah, seperti halnya pelatihan sejumlah motivator terkenal. Ia juga berharap bisa menggunakan kekuatan media massa. Persis seperti dakwah yang selama ini ada di radio dan televisi. Namun, yang ini sejenis dakwah non-agama, untuk pengembangan diri, ungkap pemeluk Kristiani ini. Di sela-sela kesibukannya (syuting dan menulis biografi dua tokoh terkenal), Bondan terus berusaha mewujudkan impiannya itu, antara lain dengan menyusun modul-modul. Atau, di saat menunggu pertemuan dengan tiga anak dan enam cucu tercinta, yang rutin menginap di rumahnya di Sentul, yang memang cocok untuk liburan. Selain itu, setahun sekali Bondan juga merancang acara jalan-jalan dengan keluarga besarnya. Tak jarang, pria romantis ini juga memberikan kejutan pada Yvonne. Misalnya, dengan mengajak sang istri jalan-jalan ke berbagai tempat dan tentu saja-- mencoba aneka makanan. Saat melakukan wawancara terakhir dengan femina, ia sedang bersiap-siap pelesir ke Medan bersama istrinya.

http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/27964/3/Chapter%20II.pdf 0. Culinary tourism (wisata kuliner) merupakan relatif baru di dunia industri pariwisata, buktinya tampak dimana wisata kuliner mulai berkembang sejak tahun 2001, dimana seorang Erik Wolf selaku Presiden Ikatan Wisata Kuliner Internasional mengesahkan di atas selembar kertas putih mengenai lahirnya Ikatan tersebut
Universitas Sumatera Utara

10 (Internatioal Culinary Tourism Association). Sepanjang tahun 2001, perakademian pariwisata di seluruh dunia telah mengadakan penelitian

yang lebih serius akan wisata kuliner. Namun demikian, badan penelitian sangat khawatir kalau penemuan tersebut merupakan suatu jalan untuk jalannya usaha dunia. Nyatanya, seorang peneliti Lucy Long, dari Universitas Bowling Green di Ohio (USA) yang pertama kali mencetuskan kata kata wisata kuliner di tahun 1998. Kemudian di tahun 2001 di bawah kepemimpinan kelompok industri penasihat, Erik Wolf menemukan International Culinary Tourism Association (ICTA). ICTA terbentuk setiap tahunnya dengan sejumlah anggota dan dirancang dengan berbagai penawaran akan beragam program mengenai kuliner. Pada tahun 2006, ICTA menciptakan sebuah Institut Wisata Kuliner Internasional, yang mengutamakan pendidikan dan pelatihan akan berbagai program yang ada di dalam komponen ICTA. Kemudian, di awal tahun 2007, mulai menyediakan beberapa solusi untuk pengembangan wisata kuliner untuk menghadapi meningkatnya jumlah permintaan akan industri ini bagi petunjuk dan kepemimpinan dalam pengembangan dan pemasaran wisata kuliner. Wisata kuliner dapat diartikan sebagai suatu pencarian akan pengalaman kuliner yang unik dan selalu terkenang dengan beragam jenis, yang sering dinikmati dalam setiap perjalanan , akan tetapi bisa juga kita menjadi wisatawan kuliner di rumah sendiri. (Culinary Tourism is defined as the pursuit of unique and memorable
Universitas Sumatera Utara

11 culinary experience of all kinds, often while travelling, but one can also be a culinary tourist at home.) Wisata kuliner tidak termasuk ke dalam wisata pertanian. Meskipun di dalamnya masakan terdapat unsur pertanian. Pertanian dan masakan merupakan satu hubungan yang tak mungkin dapat dipisahkan, namun tetap merupakan dua kata yang sangat berbeda. Wisata pertanian (agritourism) merupakan bagian dari wisata pedesaan (rural tourism), sedangkan santapan / masakan (cuisine) merupakan bagian dari dari wisata budaya (cultural tourism), dan sebagai masakan maka ia merupakan manifestasi/wujud dari budaya itu. Wisata kuliner (culinary tourism), meliputi berbagai pengalaman akan beragam kuliner. Wisata kuliner melebihi dari tuntunan makan malam dan restoran akhir pekan. Akan tetapi wisata kuliner meliputi beberapa unsur yaitu : kursus memasak, buku panduan memasak dan toko-toko penjual perkakas dapur, tur kuliner (culinary tours) dan pemandu wisata, media kuliner dan buku panduan, pemborong makanan untuk pesta/katering, penyalur anggur (wineries), pengusaha dan penanam tumbuhan pangan, atraksi kuliner seperti festival jajanan yang diadakan suatu produk usaha swasta (Kecap Bango) di Merdeka Walk di bulan ramadhan lalu (dalam Introduction to Culinary Tourism).

http://digilib.petra.ac.id/viewer.php? page=12&submit.x=12&submit.y=17&submit=next&qual=high&submitval=next&fname= %2Fjiunkpe%2Fs1%2Fmpar%2F2011%2Fjiunkpe-ns-s1-2011-35405038-19221-kuliner-chapter2.pdf