Anda di halaman 1dari 27

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Al-Quran merupakan wahyu yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW dan
merupakan kalamullah yang mutlak kebenarannya, berlaku sepanjang zaman dan
mengandung ajaran dan petunjuk tentang berbagai hal yang berkaitan dengan kehidupan
manusia di dunia dan akhirat kelak. Ajaran dan petunjuk tersebut amat dibutuhkan oleh
manusia dalam mengarungi kehidupannya.
Namun demikian al-Quran bukanlah kitab suci yang siap pakai dalam arti berbagai
konsep yang dikemukakan al-Quran tersebut, tidak langsung dapat dihubungkan dengan
berbagai masalah yang dihadapi manusia. Ajaran al-Quran tampil dalam sifatnya yang
global, ringkas dan general sehingga untuk dapat memehami ajaran al-Quran tentang
berbagai masalah tersebut, mau tidak mau seseorang harus melalui jalur tafsir sebagimana
yang dilakukan oleh para ulama.
Islam merupakan agama yang punya perhatian besar kepada ilmu pengetahuan. Islam
sangat menekankan umatnya untuk terus menuntut ilmu. Dalam agama-agama lain selain
Islam kita tidak akan menemukan bahwa wahyu pertama yang diturunkan adalah perintah
untuk belajar.
Ayat pertama yang diturunkan Allah adalah Surat Al-Alaq, di dalam ayat itu Allah
memerintahan kita untuk membaca yang merupakn salah satu proses belajar. Dalam
menuntut ilmu tidak mengenal waktu, dan juga tidak mengenal gender. Pria dan wanita
punya kesempatan yang sama untuk menuntut ilmu. Sehingga setiap orang, baik pria maupun
wanita bisa mengembangkan potensi yang diberikan oleh Allah Swt kepada kita sehingga
potensi itu berkembang dan sampai kepada kesempurnaan yang diharapkan. Karena itulah,
agama menganggap bahwa menuntut ilmu itu termasuk bagian dari ibadah. Ibadah tidak
terbatas kepada masalah shalat, puasa, haji, dan zakat. Bahkan menuntut ilmu itu dianggap
sebagai ibadah yang utama, karena dengan ilmulah kita bisa melaksanakan ibadah-ibadah
yang lainnya dengan benar. Imam Jafar As-Shadiq pernah berkata: Aku sangat senang dan
sangat ingin agar orang-orang yang dekat denganku dan mencintaiku, mereka dapat belajar
agama, dan supaya ada di atas kepala mereka cambuk yang siap mencambuknya ketika ia
bermalas-malasan untuk menuntut ilmu agama.
Dan kami membahas mengenai Kewajiban belajar dalam Islam dan beberapa hal di atas lah
yang kiranya melatarbelakangi pembuatan makalah ini.
.
B. Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalah makalah ini, adalah:
1. Ayat mana saja yang berkaitan dengan kewajiban belajar dalam Islam?
2. Apa nilai tarbawi dari beberapa ayat tersebut?

C. Tujuan
Dan adapun tujuan dari makalah yang kami buat ini, dengan merujuk pada rumusan
kami diatas yaitu:
1. Mengetahui beberapa ayat yang berkaitan dengan kewajiban belajar dalam Islam
2. Mengambil nilai-nilai tarbawi yang berada dalam beberapa ayat tersebut

D. Metode Pembahasan
Metode pembahasan makalah ini menggunakan studi pustaka. Yang mana kami
mengambil beberapa materi yang berhubungan dengan pembahasan dari beberapa sumber
seperti buku, tafsir, atau internet.
E. Sistematika Penulisan
Adapun sistematika penulisan makalah ini yaitu:
BAB I Pendahuluan: latar belakang, rumusan masalah, tujuan, metode pembahasan, dan
sistematika penulisan.
BAB II ; Kewajiban dan keutamaan belajar; Kewajiban Belajar dalam Al Quran: tafsir Q.S.
Al Alaq: 1-5; Q.S. Al-Taubat: 122; Q.S. Al-Muzammil: 20; dan Q.S. Muhamad: 24 dan nilai-
nilai tarbawi dari ayat ayat tersebut
BAB III Penutup: kesimpulan.



BAB II
KEWAJIBAN BELAJAR DALAM AL QURAN

Al-quran merupakan sumber ilmu utama bagi umat manusia. Di dalam Al-quran
terdapat banyak ilmu yang akan menuntun hidup manusia ke jalan yang benar dan di ridhoi
Alloh. Oleh karenanya di dalam Al-quran terdapat banyak keterangan (ayat) yang
menyatakan akan pentingnya belajar, karena ilmu dalam Islam yang merupakan salah satu
tamayyuz (kekhasan) bagi ummatnya menjadi sesuatu yang sangat urgen yang harus dimiliki
oleh ummat ini.
A. Kewajiban dan keutamaan menuntut ilmu (Belajar)
Kebodohan adalah salah satu sebab utama seseorang terjerumus ke dalam
kemaksiatan dan kefasikan, bahkan ke dalam kemusyrikan atau kekafiran. Syeikhul Islam
Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata: Kebaikan anak Adam adalah dengan iman dan amal
shalih, dan tidaklah mengeluarkan mereka dari kebaikan, kecuali dua perkara Pertama,
Kebodohan, kebalikan dari ilmu, sehingga orang-orangnya akan menjadi sesat.Kedua,
Mengikuti hawa-nafsu dan syahwat, yang keduanya ada di dalam jiwa. Sehingga orang-
orang akan mengikuti hawa-nafsu dan dimurkai (oleh Allah). (Majmu Fatawa 15/242).
Demikian juga orang-orang yang beribadah kepada Allah dengan kebodohan, maka
sesungguhnya mereka lebih banyak merusak daripada membangun.
Oleh karena bahaya penyakit kebodohan yang begitu besar, maka agama memberikan
resep obat untuk menghilangkan penyakit tersebut. Yaitu mewajibkan para pemeluknya
untuk menuntut ilmu. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:


Menuntut ilmu merupakan kewajiban atas setiap muslim.
[HR. Ibnu Majah, no:224, dishahihkan oleh Syeikh Al-Albani di dalam Shahih Ibni Majah]
Demikian juga Alloh Taala memerintahkan kepada umat untuk bertanya kepada
ulama

Maka tanyakanlah olehmu kepada orang-orang yang


berilmu, jika kamu tiada mengetahui. (QS. 21:7). Dan yang dimaksudkan ilmu di sini adalah
ilmu syari, ilmu yang diwahyukan Allah kepada Rasul-Nya, dan diwariskan kepada para
ulama pewaris para Nabi.
Dan sesungguhnya keutamaan seorang alim atas ahli ibadah seperti keutamaan bulan
purnama daripada seluruh bintang-bintang. Dan sesungguhnya para ulama itu pewaris para
Nabi. Para Nabi itu tidak mewariskan dinar dan dirham, tetapi mewariskan ilmu. Barangsiapa
yang mengambilnya maka dia telah mengambil bagian yang banyak. [HR. Abu Dawud
no:3641, dan ini lafazhnya; Tirmidzi no:3641; Ibnu Majah no: 223; Ahmad 4/196; Darimi no:
1/98. Dihasankan Syeikh Salim Al-Hilali di dalam Bahjatun Nazhirin 2/470, hadits no: 1388]
Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullah berkata: Telah diketahui bahwa
ilmu yang diwariskan oleh para Nabi adalah ilmu syariat Allah Azza wa Jalla, bukan
lainnya. Sehinga para Nabi tidaklah mewariskan ilmu tekhnologi dan yang berkaitan
dengannya kepada manusia. [Kitabul ilmi, hal: 11, karya Syeikh Al-Utsaimin]
Namun hal ini bukan berarti bahwa ilmu dunia itu terlarang atau tidak berfaedah. Bahkan
ilmu dunia yang dibutuhkan oleh umat juga perlu dipelajari dengan niat yang baik.
Beliau juga berkata: Yang kami maksudkan adalah ilmu syari, yaitu: ilmu yang
yang diturunkan oleh Allah kepada Rasul-Nya, yang berupa penjelasan-penjelasan dan
petunjuk. Maka ilmu yang mendapatkan pujian dan sanjungan hanyalah ilmu wahyu, ilmu
yang diturunkan oleh Allah. [Kitabul ilmi, hal: 11, karya Syeikh Al-Utsaimin]

Rosululloh SAW bersabda:


Semoga Allah mengelokkan wajah seseorang yang telah mendengar perkataanku, lalu dia
menyampaikannya. Terkadang orang yang membawa fiqih (ilmu; pemahaman; hadits Nabi)
bukanlah ahli fiqih. Terkadang orang yang membawa fiqih membawa kepada orang yang
lebih fiqih (faham) darinya. [HR. Ibnu Majah no:230, dan ini lafazhnya; Ahmad 5/183; Abu
Dawud no: 3660; dan lainnya]
Imam Ibnu Abdil Barr rahimahullah berkata: Beliau menamakan perkataan beliau
dengan nama ilmu, bagi orang yang merenungkan dan memahaminya. [Jami Bayanil Ilmi
Wa Fadhlihi]
Oleh karena itu, istilah ilmu tidaklah dikehendaki oleh Allah dan Rasul-Nya kecuali
terhadap ayat-ayat Al-Quran, sunnah Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, atau
kesepakatan seluruh umat terhadap suatu perkara yang menghilangkan perselisihan, dan apa-
apa yang dapat mendekatkan kepadanya. [Diambil dari perkataan Syeikh Salim Al-Hilali di
dalam kitab Bahjatun Nazhirin 2/461]
Inilah kewajiban kita, kaum muslimin, baik terpelajar atau awam. Kita wajib mengetahui dan
memahami apa-apa yang diperintahkan oleh Allah dan apa-apa yang Dia larang.


Keutamaan menuntut ilmu:
a. Allah memudahkan jalan ke sorga bagi orang yang menuntut ilmu.
b. Malaikat membentangkan sayap-sayap mereka karena ridha terhadap thalibul ilmi.
c. Seorang alim dimintakan ampun oleh siapa saja yang ada di langit dan di bumi, dan
oleh ikan-ikan di dalam air.
d. Keutamaan seorang alim atas ahli ibadah seperti keutamaan bulan purnama daripada
seluruh bintang-bintang.
http://engge.wordpress.com/

B. Q.S. Al-'Alaq: 1-5
#-.t&( #-!ve u/ve7 /e--(O _ {=v,t #-}MET,~, {=v,t .
t=v,~ Be( #-.t&( c #-{u..tH uu/7 /e--9.)o=vO |t=+O,
#-!ve _ Bt- #-}MET,~, |t=+O, e t\|>oA| 9oO(
Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang Menciptakan; dia telah menciptakan
manusia dari segumpal darah; bacalah, dan Tuhanmulah yang Maha pemurah; yang
mengajar (manusia) dengan perantaran kalam; dia mengajar kepada manusia apa yang
tidak diketahuinya.

1. Sekilas tentang surat Al `alaq 1-5
Para mufasirin bersepakat bahwa surat Al `Alaq: 1-5 ini merupakan permulaan surat pertama
yang di turunkan kepada nabi Muhammad saw ketika beliu bertahanus di gua hira.
Sebagaimana salah satu hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad bin Hanbal dari Aisyah
berkata:
Wahyu yang pertama kali diturunkan kepada Rasulullah saw adalah mimpi yang benar
dalam setiap tidur beliau. Beliau tidak pernah bermimpi selain mimpi itu datang seperti
terbitnya fajar. Kemundian setelah itu, beliau lebih suka menyepi, sehingga ia pergi ke gua
hira untuk bertahanus (beribadah) di dalamnya pada malam-malam tertentu. Kemudian
beliau pulang kepada khadijah dan meminta bekal sebagamana biasanya sehingga dating
kepadanya kebenaran (Al Quran) di gua hira tersebut. Malaikat (Jibril) dating kepadanya
dan berkata: Bacalah! Rasulullah menjawab: Saya tidak bisa membaca Beliau berkata:
Lalu dia memegang dan mendekap saya sampai habis tenagaku, kemudian kemudian
melepasku seraya berkata: Bacalah! Rasulullah menjawab: Saya tidak bisa membaca
Beliau berkata: Lalu dia memegang dan mendekap saya yang kedua sampai habis
tenagaku, kemudian melepasku seraya berkata: Bacalah! Rasulullah menjawab: Saya
tidak bisa membaca Beliau berkata: Lalu dia memegang dan mendekap saya yang ketiga
sampai habis tenagaku, kemudian Ia melepasku seraya berkata: Bacalah! sampai ayat ke
lima QS Al `Alaq. (Ibnu Katsir: 597)

2. Analisis kata Qara`a dalam surat Al-alaq dan Al-quran
a. Analisis beberapa ayat yang merupakan muradif kata qara`a
Kata berarti membaca (Al Munawir: 1997). Adapun kata-kata dalam Al Quran yang
menggunakan kata yang di bentuk dari kata tersebut terdapat delapan ayat yang memuat kata
tersebut. Dengan berbagai bentuk, seperti dalam bentuk fiil madli, isim amar, maupun
masdar.
Akan tetapi sebagaimana kita ketahui bahwa ada beberapa kata yang merupakan muradif dari
kata dalam Al Quran, yaitu dan

yang diartikan membaca menurut terjemahan


Departemen Agama.
Dan dari delapan perintah yang berbentuk fiil amar yang mempunyai arti Bacalah! (dalam
terjemahan digital quran) lima diantaranya menggunakan kata yang dibentuk dari , yaitu:
1. Al Israa`: 14
2. Al Haqqah: 19
3. Al Muzzammil: 20
4. Al `Alaq: 1 dan 3
Sedangkan yang lainya menggunakan kata yang dibentuk dari dari kata dasar dan .
Ada yang menarik yang harus kita kaji, kenapa Allah lebih banyak menggunakan kata
untuk memerintahkan ummatnya untuk membaca?. Oleh karena itu, maka kami akan coba
menganalisis beberapa yang terkait dengan kata tersebut, yang salah satunya adalah objek
bacaan ketika kata tersebut yang digunakan.
b. Analsis objek bacaan (qara`a)
Objek bacaan kata qara`a menurut beberapa tafsir adalah ayat qauliyyah maupun qauniyyah
Allah swt. Sehingga kata tersebut lebih umum dari pada kata-kata yang lainnya untuk
digunakan untuk memerintah membaca yang tidaklah lain adalah salah satu proses belajar.
Qauliyyah adalah ayat Allah yang tersurat dalam Al Quran, sedangkan ayat Qauniyyah
adalah ayat Allah yang tersirat di alam semesta. Sebagaimana kita temukan bahwa kata
dalam Al Quran mempunyai maf`ul bih Al Quran/Al Kitab atau selain dari itu. Sedangkan
kedua kata yang merupakan muradif dari kata tersebut lebih di gunakan untuk ayat Qauliyyah
(Al Quran), diantaranya: Al Baqarah: 44,113,121; An Nissa: 125; Al Bayyin: 2; Al
Muzzammil: 4, dan seterusnya.

c. Membaca merupakan salahsatu proses belajar
Membaca tidak bisa di pungkiri bahwa membaca adalah salah satu proses belajar. Bahkan
peritah itu merupakan perintah yang pertama kali diturunkan oleh Allah swt dari sekian
banyak perintah yang terdapat dalam Al Quran. Ketika kita menganggap membaca
merupakan salah satu proses belajar, maka tidak lain bahwa ayat pertama serta empat ayat
yang diturunkan bersamanya adalah perintah untuk belajar. Ditambah lagi bahwa membaca
mempunyai arti yang luas maupun yang sempit. Karena tidak bisa dipungkiri bahwa
membaca mempunyai dua objek sebagaimana yang telah disampaikan diatas. Ketika kita
sepakati bahwa membaca merupakan salah satu proses belajar, maka perintah membaca dari
beberapa ayat al Quran khususnya dua ayat perintah dalam QS Al `Alaq mengindikasikan
bahwa ayat tersebut adalah perintah untuk belajar.

d. Adab-adab belajar (membaca)
Setelah menganalisis kata pertama dalam QS. Al `Alaq:1 tersebut, maka ayat
selanjutnya adalah dengan menyebut nama tuhanmu. Hasil analisis bahwa kata-kata
selanjutnya setelah setelah kata adalah menerangkan akan adab-adab membaca (belajar).
Dan ini sejalan dengan firman Allah SWT:
#-9.)^|'u#|t ot&(N, (o-eo# Be, /e--! (o--(It\e] #-9+O
#-9.:o~ V
apabila kamu membaca Al Quran hendaklah kamu meminta perlindungan kepada Allah
dari syaitan yang terkutuk
Adapun dalam sebuah hadits akan kepentingan dalam menyebut nama Allah ketika
akan memulai sesuatu kalam maupun suatu pekerjaan yang salah satunya meliputi belajar,
Rasulullah saw bersaba:

- - )

) ( )

e. Beberapa Hal yang menjadi pertanyaan dalam Q.S. Al `Alaq 1-5
a. Perintah untuk membaca kepada Nabi yang umiy
b. Objek bacaan ini adalah dengan menyebut nama Tuhan yang di idlofatkan kepada
mukhatab (Muhammad)
c. Kata kholaqo Sifat untuk Tuhan yang telah menciptakan serta menjadi badal dari
nama Allah, nama yang menghidupkan, mematikan dan selain dari itu
d. Menciptakan insan dengan kekhususan penciptaannya (perintah dalam surat ini
khusus kepada manusia yang bisa berbicara dan berfikir tidak termasuk hayawan
secara umum)
e. Menciptakan insan dari `alaq serta tidak disebutkan tahap sebelumnya seperti `alaqah,
nutfah, atau penciptaan nabi adam dari tanah
f. Pengulangan perintah
g. Mengajar dengan pelantara Qalam
h. Mengajarkan insan dengan yang tidak diketahuinya (maa lam yalam)

C. Q.S. At Taubah: 122

(122)
Tidak sepatutnya bagi mukminin itu pergi semuanya (ke medan perang). Mengapa tidak
pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam
pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila
mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya. (QS. At
Taubah ayat 122).
1. Asbabun Nuzul surat At-taubah ayat 122
Ibnu Abu Hatim mengetengahkan sebuah hadis melalui Ikrimah yang menceritakan, bahwa
ketika diturunkan firman-Nya berikut ini, yaitu, "Jika kalian tidak berangkat untuk
berperang, niscaya Allah menyiksa kalian dengan siksa yang pedih." (Q.S. At-Taubah 39).
Tersebutlah pada saat itu ada orang-orang yang tidak berangkat ke medan perang, mereka
berada di daerah badui (pedalaman) karena sibuk mengajarkan agama kepada kaumnya.
Maka orang-orang munafik memberikan komentarnya, "Sungguh masih ada orang-orang
yang tertinggal di daerah-daerah pedalaman, maka celakalah orang-orang pedalaman itu."
Kemudian turunlah firman-Nya yang menyatakan, "Tidak sepatutnya bagi orang-orang yang
mukmin itu pergi semuanya (ke medan perang)." (Q.S. At-Taubah 122). Ibnu Abu Hatim
mengetengahkan pula hadis lainnya melalui Abdullah bin Ubaid bin Umair yang
menceritakan, bahwa mengingat keinginan kaum Mukminin yang sangat besar terhadap
masalah jihad, disebutkan bahwa bila Rasulullah SAW. mengirimkan pasukan perang, maka
mereka semuanya berangkat. Dan mereka meninggalkan Nabi SAW. di Madinah bersama
dengan orang-orang yang lemah. Maka turunlah firman Allah SWT. yang paling atas tadi
(yaitu surah At-Taubah ayat 122).

2. Makna tersirat dari surat A-taubah ayat 122
Dalam ayat diatas Allah menyeru untuk pergi berjihad dimedan laga, namun Allah juga
menyeru kepada kaum mukminin untuk tidak pergi seluruhnya dalam medan laga (perang)
tetapi hendaknya sebagian dari kaum mukminin itu tinggal untuk belajar memperdalam ilmu
tentang agama, sehingga saat jihad telah usai dan sebagian besar kaumnya pulang dari medan
jihad akan tetap ada sebagian dari kaum itu yang mengingatkan dan menyeru mereka akan
Allah dan hukum-hukum Allah SWT.
Dapat kita pahami ayat tersebut diatas telihat betapa indahnya dan matangnya Allah
merencanakan sebuah strategi dan regenerasi organisasi dalam satu masyarakat. Mari kita
lihat kembali ayat tersebut;
Tidak sepatutnya bagi mukminin itu pergi semuanya (ke medan perang), mengandung
pengertian pergilah kalian berjihad namun tinggalkanlah sebagian dari kalian untuk menjaga
keamanan wilayah kalian, menjaga generasi kalian, dan menjaga agama dan garis
kepemimpinan kalian sebab bila dari kalian semua maju ke medan laga dan takdir Allah
SWT. terjadi bahwa kalian semua gugur syahid di jalan Allah dalam pertempuran tersebut,
maka siapakah yang akan melanjutkan perjuangan kalian?. Untuk apa kalian pergi berjihad
semuanya bila tidak ada penerus tujuan kalian dari jihad kalian?.
Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk
memperdalam pengetahuan mereka tentang agama, sepenggal ayat ini (meneruskan ayat
diatas) mengandung pengertian, bahwa tinggalkanlah sebagian dari golongan kalian (maupun
sebagian dari generasi muda) untuk tetap melestarikan ayat-ayat Allah SWT. (dengan cara
belajar ilmu agama). Mengapa yang dipilih oleh Allah SWT. adalah ilmu tentang agama?
Mengapa tidak jenis ilmu yang lainnya?, mengapa bukan ilmu sains, mengapa bukan ilmu
matematika, ilmu sosial, dan atau ilmu-ilmu lainnya? Mengapa Allah memilih ilmu Agama?.
Agama adalah dasar dari semua ilmu atau bisa dikatakan agama adalah dasar dari semua
akhlak yang baik didunia ini. Melalui Agama (tepatnya melalui kitabulloh Nya), Allah swt
mengajarkan pada manusia bagaimana harus bersikap sesuai dengan akhlak Allah swt bukan
akhlak kita. Terutama untuk seorang pemimpin ilmu agama mutlak diperlukan dalam dia
mewujudkan kekuasaan kepemimpinannya.
Agama adalah (seharusnya dan semestinya) tempat awal dan akhir (rujukan/referensi)
dari semua ilmu yang ada dimuka bumi Allah ini. Bagaimana caranya untuk
mempelajarinya?, dengan Kitabullah (Al Quran) Al Quran adalah metode terbaik dalam
belajar agama dan Al Quran adalah miskroskop batin untuk memperbaiki kualitas diri
(secara batiniah dan dhohiriah).
Sungguh dalam Islam mereka yang tekun mencari ilmu lebih dihargai daripada
mereka yang beribadah sepanjang masa. Kelebihan ahli ilmu, al-alim daripada ahli ibadah, al
abid, adalah seperti kelebihan Muhammad atas orang Islam seluruhnya. Di kalangan kaum
muslimin hadits ini sangat popular sehingga mereka memandang bahwa mencari ilmu
merupakan bagian integral dari ibadah.
Dalam Islam, nilai keutamaan dari pengetahuan keagamaan berikut penyebarannya
tidak pernah diragukan lagi. Nabi menjamin bahwa orang yang berjuang dalam rangka
menuntut ilmu akan diberikan banyak kemudahanoleh Tuhan menuju surga. Para pengikut
atau murid Nabi telah berhasil meneruskan dan menerapkan ajaran tentang semangat
menuntut dan mencari ilmu. Motivasi religius ini juga bisa ditemukan dalam tradisi Rihla.
Suatu tradisi ulama yang disebut al rihla fi talab al ilm Suatu perjalanan dalam rangka
mencari ilmuadalah bukti sedemikian besarnya rasa keingintahuan dikalangan para ulama.
Rihla, tidak hanya merupakan tradisi ulama, tapi juga merupakan kebutuhan untuk
menuntut ilmu dan mencari ilmu yang didorong oleh nilai nilai religius. Hadits hadits
Nabi mebuktikan suatu hubungan tertentu : Seseorang yang pergi mencari ilmu dijalan Allah
hingga ia kembali, ia memeperoleh pahala seperti orang yang berperang menegakkan agama.
Para malaikat membentangkan sayap kepadanya dan semua makhluk berdoa untuknya
termasuk ikan dan air.
Islam secara mutlaq mendorong para pengikutnya untuk menuntut ilmu sejauh
mungkin, bahkan sampai ke negeri Cina. Nabi menyatakan bahwa jauhnya letak suatu Negara
tidaklah menjadi masalah, sebagai ilustrasi unik terhadap kemuliaan nilai ilmu pengetahuan.
Siapapun sepakat hadits Nabi yang berbunyi Utlub al ilm walau kana bi al shin,
menekankan betapa pentingnya mencari ilmu lebih lebih ilmu agama yang dikategorikan
Imam Ghozali sebagai fardlu ain.
Disamping Hadits Nabi yang berkenaan dengan al- shin nabi juga menyinggung
tentang al yahud yang mana dikisahkan bahwa Nabi menyuruh sekretarisnya untuk
mempelajari kitab al Yahud sebagai proteksi diri dari penipuan kaum yahudi. Dari kedua
hadits tersebut diungkapkan untuk memberi penekananan bahwa terdapat hubungan simbiosis
antara ilmu pengetahuan dan dengan kemajuan serta ketahanan peradapan Islam.

3. Tatkala kaum Mukminin dicela oleh Allah bila tidak ikut ke medan perang kemudian
Nabi SAW. mengirimkan pasukannya, akhirnya mereka berangkat ke medan perang
semua tanpa ada seorang pun yang tinggal, maka turunlah firman-Nya berikut ini:
(Tidak sepatutnya bagi orang-orang yang mukmin itu pergi) ke medan perang
(semuanya. Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan) suatu kabilah (di antara
mereka beberapa orang) beberapa golongan saja kemudian sisanya tetap tinggal di
tempat (untuk memperdalam pengetahuan mereka) yakni tetap tinggal di tempat
(mengenai agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka
telah kembali kepadanya) dari medan perang, yaitu dengan mengajarkan kepada
mereka hukum-hukum agama yang telah dipelajarinya (supaya mereka itu dapat
menjaga dirinya) dari siksaan Allah, yaitu dengan melaksanakan perintah-Nya dan
menjauhi larangan-Nya. Sehubungan dengan ayat ini Ibnu Abbas r.a. memberikan
penakwilannya bahwa ayat ini penerapannya hanya khusus untuk pasukan-pasukan,
yakni bilamana pasukan itu dalam bentuk detasemen (peleton pasukan) lantaran Nabi
saw. tidak ikut. Sedangkan ayat sebelumnya yang juga melarang seseorang tetap
tinggal di tempatnya dan tidak ikut berangkat ke medan perang, maka hal ini
pengertiannya tertuju kepada bila Nabi saw. berangkat ke suatu peperangan.
Dalam surat At-Taubah ayat 122 diatas menjelaskan tentang suatu kaum yang mana sebagian
dari kaum tersebut diperintahkan untuk mencari ilmu dan sebagian yang lain diperintahkan
untuk berjihad di jalan Allah, karena sesungguhnya berjihad itu merupakan fardhu kifayah
bagi manusia. Makna dari fardhu kifayah tersebut adalah apabila dalam sebuah kaum atau
Negara yang mana sebagian diantara mereka pergi melaksanakan jihad, maka dosa yang
lainnya akan hilang, salah satunya adalah jihad tadi, menegakkan kebenaran, menegakan
hukum, memisahkan yang berseteru dan sebagainya. Dan fardhu 'ain adalah kewajiban yang
harus dilaksanakan oleh setiap muslim yang baligh dan berakal, seperti : shalat, zakat dan
puasa.
Adapun sebagian kecil dari mereka yang kembali setelah mencari ilmu, mereka wajib
untuk untuk memberikan pengetahuan dan berdakwah kepada orang lain karena mencari ilmu
itu mengajak orang menuju jalan yang lurus. Menuntut ilmu merupakan keutamaan yang
paling besar dan memiliki kedudukan yang paling mulia, sebagaimana hadits Rasul yang
diriwayatkan oleh Muslim : "Barang siapa yang Allah kehendaki menjadi baik maka dia akan
difahamkan oleh agama". Dan diriwayatkan pula oleh Imam Turmudzi dari Abi Darda : "Aku
mendengar Rasulullah SAW bersabda : "Barang siapa menjalani suatu jalan untuk menuntut
ilmu, maka dianugerahi Allah kepadanya jalan ke syurga, dan sesungguhnya malaikat-
malaikat merebahkan sayap-sayapnya karena ridha untuk orang yang mencari ilmu, dan
sesungguhnya orang yang berilmu akan dia mohon ampunkan baginya oleh makhluk yang
ada dilangit dan dibumi, dan keutamaan orang yang berilmu dan orang yang beribadah tanpa
ilmu bagaikan keutamaan bulan purnama diantara bintang-bintang, dan sesungguhnya ulama
itu pewaris para nabi, dan para nabi itu tidak mewariskan dinar ataupun dirham akan tetapi
mereka mewariskan ilmu, dan barang siapa yang diwarisi ilmu maka ia akan mendapatkan
keuntungan yang banyak".
Belajar mempunyai peranan yang penting dalam kehidupan. Dengan belajar orang
jadi pandai, ia akan mengetahui terhadap segala sesuatu yang dipelajarinya. Tanpa belajar,
orang tidak akan mengetahui sesuatu pun, disamping belajar dapat untuk menambah ilmu
pengetahuan baik teori maupun praktrk, belajar juga dinilai sebagai ibadah kepada Allah.
Orang yang belajar sungguh-sungguh disertai niat ikhlas ia akan memperoleh pahala yang
banyak. Belajar juga dinilai sebagai suatu perbuatn yang dapat mendatangkan ampunan dari
Allah S.W.T. orang yang belajar dengan niat ikhlas kepada Allah diampuni dosanya.

D. Surat Al-Muzammil Ayat 20
Pada surat al-Muzammil ayat 20, lafadz yang secara langsung berkaitan dengan
perintah belajar yaitu firman Allah :


Karena itu bacalah apa yang mudah (bagimu) dari Al Quran
Imam ath-Thobari (2000:23:698) menafsirkan bahwa ayat tersebut bermakna
"Bacalah pada waktu malam Alquran yang dipandang mudah olehmu dalam shalat kalian".




Pada ayat tersebut dengan tegas Allah memerintahkan kepada para hambanya untuk
belajar dengan lafadz iqro'u yang artinya bacalah oleh kalian. Lebih lanjut Imam ath-Thobari
menjelaskan bahwa ini merupakan keringanan Allah kepada hambanya untuk melaksanakan
kewajiban yang dibebankan kepada mereka, yaitu membaca sesuatu yang dipandang mudah.
Ayat tersebut memberikan indikasi bahwa dalam proses pembelajaran yang
diantaranya dilakukan dengan proses membaca harus mulai dari yang mudah, tidak
memberatkan. Hal ini sesuai dengan karakteristik hukum Islam yaitu memberikan
kemudahan dan tidak menyusahkan. Juga sesuai dengan kehendak Allah kepada hambanya
yaitu, hendak memberi kemudahan dan tidak menginginkan kesulitan. Allah berfirman dalam
surat al-Baqoroh ayat 185 ;


Allah hendak memberikan kemudahan bagi kalian dan tidak hendak memberikan kesulitan.
Selain itu, dalam hadits Bukhori (1994:1:28) no 69 Nabi juga memberikan isyarat untuk
selalu memberikan kemudahan, yaitu :


Dari Anas, dari Nabi saw, beliau bersabda, hendaklah kalian mempermudah, janganlah
mempersulit, berilah kabar gembira, dan janganlah membosankan.

E. Q.S. Muhammad: 24


Maka Apakah mereka tidak memperhatikan Al Quran ataukah hati mereka terkunci?
Menurut Ibnu Jarir ath-Thobari (2000:22:179) dan As'ad Haumid (tt:1:4448) khitob
tadabbur pada ayat ini adalah orang-orang munafiq. Pada ayat ini Allah swt mengajukan
pertanyaan kepada orang-orang munafiq. Pertanyaan yang sebenarnya tidak membutuhkan
jawaban, tetapi pertanyaan disini menunjukan teguran atau cegahan. Wahbah Zuhaili (1990 :
26 : 121), Mahmud bin Abdurrahim Shofi (1418 H:26:229) dan Ashobuni (tt : 3 : 227)
menjelaskan bahwa dari aspek balaghoh ayat ini adalah istifham taubikhi, yang artinya
pertanyaaan yang bermakna teguran, yaitu teguran kepada mereka agar tidak mengabaikan isi
kandungan Alquran. Sementara itu Muhammad Sayyid Thantawi (tt : 1 : 3895) menyatakan
bahwa ayat ini adalah istifham lil inkar wa jazr, yang artinya pengingkaran dan larangan.
Berdasarkan pemaparan para mufassir tersebut, dapat disimpulkan bahwa tidak setiap
pertanyaan itu membutuhkan jawaban, tetapi ada pertanyaan yang bersifat larangan,
diantaranya pertanyaan pada ayat ini. Kita dilarang untuk tidak metadaburi Alquran, itu
artinya kita diperintah untuk mentadaburi Alquran.
Ibnu Katsir (1999 : 7 : 320) juga Ahmad Muhammad Syakir (2008 : 3 : 286) memberi
penjelasan bahwa pada ayat tersebut Allah swt memerintahkan untuk mentadaburi dan
memahami Alquran serta merupakan larangan berpaling dari Alquran. Muhammad Fuad
Abdul Baqi (tt : 320) mencatat ayat lain yang memiliki makna yang sama dengan ayat ini,
yaitu pada surat an-Nisa ayat 82 dengan redaksi sebagai berikut :


Maka Apakah mereka tidak memperhatikan Al Quran? kalau kiranya Al Quran itu bukan
dari sisi Allah, tentulah mereka mendapat pertentangan yang banyak di dalamnya.

Pada ayat tersebut anjuran belajar diungkakan dengan lafadz tadabbur. Ar-Roghib al-
Asfahani (2008 : 185) menerangkan bahwa makna tadabbur atau tadbir adalah
yaitu pertimbangan atau pemikiran atas baik buruk akibat akhir dari sesuatu perkara.
Makna ini diperkuat oleh Isma'il Haqqi (tt:13:245), menurut beliau tadabbur adalah
memikirkan akhir dan akibat dari suatu perkara, maksudnya mengamati dan memikirkan
nasihat dan larangan Alquran sehingga tidak terjerumus kepada perbuatan maksiat. Menurut
al-Qothon (tt:3:245) tadabbur adalah memahami dan memikirkan maknanya. Al-Baghowi
(1997:7:286) dan Tsa'alabi (tt:1:2087) menafsirkan tadabbur adalah memahami nasihat dan
hukum-hukum Alquran. Sementara itu Wahbah Zuhaili (1418 H:26:121) mengartikan
tadabbur adalah memahami dan memikirkan Alquran untuk memperhatikan nasihat dan
larangan agar tidak terkena pada perbuata ma'siat.
Menurut Imam as-Sa'di (2000 : 1 : 788) tujuan mentadaburi Alquran itu adalah
1. Menunjukan kepada kebaikan
2. Mencegah dari kejahatan
3. Memenuhi hati dengan iman dan keyakinan
4. Menyampaikan kepada harapan yang tinggi
5. Mencapai jalan untuk mencapai Allah, surga dan terhindar dari adzab
6. Mengenal Rab, nama, sifat dan kebaikannya
7. Rindu terhadap pahala yang besar
8. Takut terhadapa siksaan yang menyakitkan
Pada ayat tersebut Allah memberikan anjuran kepada kita untuk belajar dengan lafadz
tadabbur. Sebagaimana dijelaskan oleh para muafassir, tadabbur itu adalah memikirkan
akibat dari akhir suatu perkara. Dengan demikian, dalam belajar bukan hanya untuk
mendapatkan pengetahuan semata tanpa ada pengamalannya, tetapi harus memperhatikan
dampak yang dihasilkan ketika kita tidak mengamalkan ilmu yang telah dipelajari selama
dalam proses pembelajaran.

D. Irob
a. Surat Al-alaq 1-5

(1)

(2)
:
( )

.. ( )
( )

( ) .
: ... .
: ( ) ( ).
: ( )

2.
__________
(1) .
(2) ( )

.
[ (96): 3 5]

(3)

(4)

(5)
:
( ) ( ) 1 ( )

) ( )
2.
: ... .
: .
:

( ).
:

).
: ... () 3.
__________
(1) ..

.
(2)

.
(3) () .


b. Surat At-taubah ayat 122

(122)
:
( ) ( ) 1 ( )
( ) ( ) (

)
.
( )

.
( ) ( )

( ) ( )


- - ( ) ()
()

( ) ( )
(

) ( )

) ( )
( ) (

) ( ) () .
(

( ).
( )

.
()

( ) ( )

.. ( )

( ) ( )
- - () ( ) 1.
: ... 2.
: ...

() .
: .. .
:

...

() .
: ...

() .
: ... .
:

.
: .

c. Surat Muzammil ayat 20

(20)
:
( )

( ) ( ) ( ).

..)

.
( ) ( ) 1 ( )

( )
( )

( ) ()


2 ( ) ( )

( ).

( ...)

.
( )

()

( ) 1
( ) ( )

( ) ( )


( ) ( )

( ) ( )

( ) ..

( ..)

.
( ) (

( )
2 ( )

()

( )

) ( ) 3 ( )

( ) 4 ( )
5 ( ) ( ) .. ( ) ..
:

...

.
: ...

.
: ...

.
__________
(1)

.
(2) . ( )
.
(3)

().
(4)

( ).
(5)

( )

.
:

...

.
:

...

).
: ...

1.
: ...

()

.
: ...

..
: ...

: .
:

...

().
: ... ( ) ...

.
: ...

()

.
: ...

( ).
: ...

.
: ...

( ) .
: ...

2.
:

( )

() .
: ... .
: ... .
:

...

.
: ...

.
: ... .
:

...

.
__________
1.

. [.....]
(2) : .


d. Surat Muhammad ayat 24

(24)
:
( )

( ) -

- () () (
)

( ).
:

...

...-

-.
: ...

.














BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Al-Quran sebagai sumber ilmu telah memberikan banyak penerangan kepada kita semua akan
kewajiban dan keutamaan menaci ilmu (Belajar). Alloh dan Rosuululloh telah
memerintahkan kita semua untuk mencari ilmu, dan sepenting-pentingnya ilmu adalah ilmu
agama. Karena orang-orang yang beribadah kepada Allah dengan kebodohan, maka
sesungguhnya mereka lebih banyak merusak daripada membangun.
Namun hal ini bukan berarti bahwa ilmu dunia itu terlarang atau tidak berfaedah. Bahkan
ilmu dunia yang dibutuhkan oleh umat juga perlu dipelajari dengan niat yang baik.
Dan berikut nilai-nilai tarbawi yang dapat disimpulkan dari ayat-ayat yang telah di bahas di
atas diantaranya:
a. Membaca merupakan salah satu proses belajar;
b. Membaca (belajar) harus di niatkan dengan ikhlas hanya karena Allah swt semata
dengan mengucapkan bismillah salahsatunya;
c. Manusia adalah makhluk yang diciptakan dari sesuatu yang rendah, namun dengan
ilmu akan menjadi mulia;
d. Pentingnya belajar, sehingga proses belajar pada hakikatnya adalah perlu diulang-
ulang;
e. Pada hakikatnya segenap ilmu yang kita pelajari adalah dari Allah swt.













29