Anda di halaman 1dari 26

ASUHAN KEPERAWATAN BBLR

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

Dalam beberapa dasawarsa ini perhatian terhadap janin yang mengalami gangguanpertumbuhan dalam kandungan sangat meningkat.Hal ini disebabkan masih tingginya angka kematian perinatal neonatal karena masih banyak bayi yang dilahirkan dengan berat badan lahir rendah. (Mochtar, 1998 ). Sejak tahun 1961 WHO telah mengganti istilah premature baby dengan low birth weight baby ( bayi dengan berat lahir rendah = BBLR ), karena disadari tidak semua bayi dengan berat badan kurang dari 2500 gr pada waktu lahir bukan bayi premature. Menurut data angka kaejadian BBLR di Rumah sakit Dr. Cipto Mangunkusumo pada tahun 1986 adalah 24 %. Angka kematian perinatal di rumah sakit dan tahun yang sama adalah 70 % dan 73 % dari seluruh kematian di sebabkan oleh BBLR ( Prawirohardjo, 2005 ). Melihat dari kejadian terdahulu BBLR sudah seharusnya menjadi perhatian yang mutlak terhadap para ibu yang mengalamai kehamilan yang beresiko karena dilihat dari frekuensi BBLR di Negara maju berkisar antara 3,6 10,8 %, di Negara berkembang berkisar antara 10 43 %. Dapat di dibandingkan dengan rasio antara Negara maju dan Negara berkembang adalah 1 : 4 ( Mochtar, 1998 ). Kematian perinatal pada bayi berat badan lahir rendah 8 kali lebih besar dari bayi normal pada umur kehamilan yang sama. Kalaupun bayi menjadi dewasa ia akan mengalami gangguan pertumbuhan, baik fisik maupun mental. Prognosis akan lebih buruk lagi bila berat badan makin rendah. Angka kematian yang tinggi terutama disebabkan oleh seringnya dijumpai kelainan komplikasi neonatal seperti asfiksia, aspirasi pneumonia, perdarahan intrakranial, dan hipoglikemia. Bila bayi ini selamat kadang-kadang dijumpai kerusakan pada syaraf dan akan terjadi gangguan bicara, IQ yang rendah, dan gangguan lainnya.

1.1 TUJUAN PENULISAN Adapun yang menjadi tujuan penulisan adalah: 1. Untuk mengetahui pengertian BBLSR dengan kasus asfiksia. 2. Untuk mengetahui penyebab BBLSR dengan kasus asfiksia. 3. Untuk mengetahui komplikasi yang ditimbulkan oleh BBLSR pada Neonatus dan juga perjalanan penyakit tersebut. 4. Untuk mengetahui tentang penatalaksanaan dan perawatan pada bayi BBLSR dengan asfiksia. 5. Untuk memenuhi tugas praktek Program Profesi Ners Stase Keperawatan Maternitas.

1.2 MANFAAT PENULISAN Adapun manfaat yang diharapkan dari penulisan ini adalah: 1. Sebagai bahan informasi bagi mahasiswa dalam penetalaksanaan bayi BBLSR dengan asfiksia pada Neonatus. 2. Sebagai sumber referensi untuk kemajuan perkembangan ilmu Keperawatan, khususnya Keperawatan bayi baru lahir.

BAB II TINJAUAN TEORITIS


A. PENGERTIAN Berat badan lahir rendah adalah bayi baru lahir dengan berat badan pada saat kelahiran kurang dari 2500 gr atau lebih rendah ( WHO, 1961 ).Berat badan lahir rendah adalah bayi baru lahir yang berat badannya pada saat kelahiran kurang dari 2500 gr sampai dengan 2499 gr. Menurut Hanifa Wiknjosastro (2002) asfiksia neonatorum didefinisikan sebagai keadaan dimana bayi tidak dapat segera bernafas secara spontan dan teratur setelah lahir. Asfiksia Neonatus adalah suatu keadaan dimana saat bayi lahir mengalami gangguan pertukaran gas dan transport O2 dan kesulitan mengeluarkan CO2 (Markum, 2000). Asfiksia adalah kurangnya oksigen dalam darah dan meningkatnya kadar karbon dioksida dalam darah serta jaringan (Kamus saku kep. Edisi 22). Asfiksia Neonatorum adalah suatu keadaan bayi baru lahir yang gagal bernafas secara spontan dan teratur segera setelah lahir, sehingga dapat menurunkan O2 dan mungkin meningkatkan C02 yang menimbulkan akibat buruk dalam kehidupan lebih lanjut (Medicine and linux.com).

B. Etiologi BBLR dan Asfiksia 1. Etiologi BBLR a. Faktor ibu (resti). b. faktor penyakit (toksimia gravidarum, trauma fisik). c. faktor usia : < 20 tahun. d. faktor ibu : riwayat kelahiran prematur sebelumnya, perdarahan ante partum, malnutrisi, kelainan uterus, hidramnion, penyakit jantung/penyakit kronik lainnya, hipertensi, umur ibu kurang dari 20 tahun atau lebih dari 35 tahun, jarak dua kehamilan yang terlalu dekat, infeksi, trauma dan lain-lain. e. Faktor janin : cacat bawaan, kehamilan ganda, hidramnion, ketuban pecah dini. f. Keadaan sosial ekonomi yang rendah. g. Kebiasaan : pekerjaan yang melelahkan, merokok.

2.

Etiologi Asfiksia Etiologi secara umum dikarenakan adanya gangguan pertukaran gas atau

pengangkutan O2 dari ibu ke janin, pada masa kehamilan, persalinan atau segera setelah lahir, penggolongan penyebab kegagalan pernafasan pada bayi terdiri dari :

1. Faktor Ibu a. Hipoksia ibu Oksigenasi darah ibu yang tidak mencukupi akibat hipoventilasi selama anestesi, penyakit jantung sianosis, gagal pernafasan, keracunan karbon monoksida, tekanan darah ibu yang rendah.

b. Gangguan aliran darah uterus Mengurangnya aliran darah pada uterus akan menyebabkan berkurangnya pengaliran oksigen ke plasenta dan kejanin. Hal ini sering ditemukan pada : Ganguan kontraksi uterus, misalnya hipertoni, hipotoni atau tetani uterus akibat penyakit atau obat. Hipotensi mendadak pada ibu karena perdarahan. Hipertensi pada penyakit akiomsia dan lain-lain.

2.

Faktor plasenta Pertukaran gas antara ibu dan janin dipengaruhi oleh luas dan kondisi plasenta.

Asfiksia janin akan terjadi bila terdapat gangguan mendadak pada plasenta, misalnya: Plasenta tipis Plasenta kecil Plasenta tak menempel Solusio plasenta Perdarahan plasenta

3. Faktor fetus Kompresi umbilikus akan mengakibatkan terganggunya aliran darah dalam pcmbuluh darah umbilikus dan menghambat pertukaran gas antara ibu dan janin. Gangguan aliran darah ini dapat ditemukan pada keadaan : tali pusat menumbung, tali pusat melilit leher kompresi tali pusat antar janin dan jalan lahir dan lain-lain.

4.

Faktor Neonatus

Depresi pusat pernapasan pada bayi baun lahir dapat terjadi karena : Pemakaian obat anestesia/analgetika yang berlebihan pada ibu secara langsung dapat menimbulkan depresi pusat pernafasan janin. Trauma yang terjadi pada persalinan, misalnya perdarah intrakranial. Kelainan konginental pada bayi, misalnya hernia diafrakmatika atresia / stenosis saluran pernafasan, hipoplasia paru dan lain-lain. 5. Faktor persalinan Partus lama Partus tindakan (Medicine and linux.com DAN Pediatric.com)

B. PATOFISIOLOGI Pernafasan spontan bayi baru lahir bergantung kepada kondisi janin pada masa kehamilan dan persalinan. Proses kelahiran sendiri selalu menimbulkankan asfiksia ringan yang bersifat sementara pada bayi (asfiksia transien), proses ini dianggap sangat perlu untuk merangsang kemoreseptor pusat pernafasan agar lerjadi Primary gasping yang kemudian akan berlanjut dengan pernafasan. Bila terdapat gangguaan pertukaran gas/pengangkutan O2 selama kehamilan persalinan akan terjadi asfiksia yang lebih berat. Keadaan ini akan mempengaruhi fugsi sel tubuh dan bila tidak teratasi akan menyebabkan kematian. Kerusakan dan gangguan fungsi ini dapat reversibel/tidak tergantung kepada berat dan lamanya asfiksia. Asfiksia yang terjadi dimulai dengan suatu periode apnu (Primany apnea) disertai dengan penurunan frekuensi jantung selanjutnya bayi akan memperlihatkan usaha bernafas (gasping) yang kemudian diikuti oleh pernafasan teratur.

Pada penderita asfiksia berat, usaha bernafas ini tidak tampak dan bayi selanjutnya berada dalam periode apnu kedua (Secondary apnea). Pada tingkat ini ditemukan bradikardi dan penurunan tekanan darah. Disamping adanya perubahan klinis, akan terjadi pula G3 metabolisme dan pemeriksaan keseimbangan asam basa pada tubuh bayi. Pada tingkat pertama dan pertukaran gas mungkin hanya menimbulkan asidoris respiratorik, bila G3 berlanjut dalam tubuh bayi akan terjadi metabolisme anaerobik yang berupa glikolisis glikogen tubuh , sehingga glikogen tubuh terutama pada jantung dan hati akan berkuang.asam organik terjadi akibat metabolisme ini akan menyebabkan tumbuhnya asidosis metabolik. Pada tingkat selanjutnya akan terjadi perubahan kardiovaskuler yang disebabkan oleh beberapa keadaan diantaranya hilangnya sumber glikogen dalam jantung akan mempengaruhi fungsi jantung terjadinya asidosis metabolik akan mengakibatkan menurunnya sel jaringan termasuk otot jantung sehinga menimbulkan kelemahan jantung dan pengisian udara alveolus yang kurang adekuat akan menyebabkan akan tingginya resistensinya pembuluh darah paru sehingga sirkulasi darah ke paru dan kesistem tubuh lain akan mengalami gangguan. Asidosis dan gangguan kardiovaskuler yang terjadi dalam tubuh berakibat buruk terhadap sel otak. Kerusakan sel otak yang terjadi menimbulkan kematian atau gejala sisa pada kehidupan bayi selanjutnya (Medicine and linux.com)

C. KLASIFIKASI KLINIK NILAI APGAR DAN BBLR : 1. Klasifikasi Asfiksia a. Asfiksia berat ( nilai APGAR 0-3) Memerlukan resusitasi segera secara aktif, dan pemberian oksigen terkendali. Karena selalu disertai asidosis, maka perlu diberikan natrikus bikarbonat 7,5% dengan dosis 2,4 ml per kg berat badan, dan cairan glucose 40%1-2 ml/kg berat badan, diberikan via vena umbilikalis.

b. Asfiksia sedang (APGAR 4-6) memerlukan resusitasi dan pemberian oksigen sampai bayi dapat bernafas kembali. c. Bayi normal atau asfiksia ringan ( nilai APGAR 7-9). d. Bayi normal dengan nilai APGAR 10 Asfiksia berat dengan henti jantung, dengan keadaan bunyi jantung menghilang setelah lahir, pemeriksaan fisik yang lain sama dengan asfiksia berat. Pediatric.com

2. Klasifikasi BBLR Primaturitas murni. a. Masa gestasi kurang dari 37 minggu dan berat badannya sesuai dengan masa gestasi. b. Dismaturitas. c. BB bayi yang kurang dari berat badan seharusnya, tidak sesuai dengan masa gestasinya. d. BBLR dibedakan menjadi : BBLR : berat badan lahir 1800-2500 gram BBLSR : berat badan lahir < 1500 gram BBLER : berat badan lahir ekstra rendah < 1000 gr E. PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK 1. Analisa gas darah ( PH kurang dari 7,20 ). 2. Penilaian APGAR Score meliputi (Warna kulit, frekuensi jantung, usaha nafas, tonus otot dan reflek). 3. Pemeriksaan EEG dan CT-Scan jika sudah timbul komplikasi. 4. Pengkajian spesifik/ 5. Pemeriksaan fungsi paru/ 6. Pemeriksaan fungsi kardiovaskuler/ (Pediatric.com) F. MANIFESTASI KLINIS Asfiksia biasanya merupakan akibat dari hipoksi janin yang menimbulkan tanda: - DJJ lebih dari 1OOx/mnt/kurang dari lOOx/menit tidak teratur - Mekonium dalam air ketuban pada janin letak kepala - Apnea - Pucat - Sianosis - Penurunan terhadap stimulus. (Medicine and linux.com)

G. PENATALAKSANAAN KLINIS 1. Tindakan Umum a. Bersihkan jalan nafas. Kepala bayi dileakkan lebih rendah agar lendir mudah mengalir, bila perlu digunakan larinyoskop untuk membantu penghisapan lendir dari saluran nafas yang lebih dalam.Saluran nafas atas dibersihkan dari lendir dan cairan amnion dengan pengisap lendir, tindakan ini dilakukan dengan hati- hati tidak perlu tergesa- gesa atau kasar. Penghisapan yang dilakukan dengan ceroboh akan timbul penyulit seperti: spasme laring, kolap paru, kerusakan sel mukosa jalan nafas. Pada asfiksia berat dilakukan resusitasi kardiopulmonal. b. Rangsang reflek pernafasan. Dilakukan setelah 20 detik bayi tidak memperlihatkan bernafas dengan cara memukul kedua telapak kaki menekan tanda achiles. Bayi yang tidak memperlihatkan usaha bernafas selama 20 detik setelah lahir dianggap telah menderita depresi pernafasan. Dalam hal ini rangsangan terhadap bayi harus segera dilakukan. Pengaliran O2 yang cepat kedalam mukosa hidung dapat pula merangsang reflek pernafasan yang sensitive dalam mukosa hidung dan faring. Bila cara ini tidak berhasil dapat dilakukan dengan memberikan rangsangan nyeri dengan memukul kedua telapak kaki bayi. c. Mempertahankan suhu tubuh. Pertahankan suhu tubuh agar bayi tidak kedinginan, karena hal ini akan memperburuk keadaan asfiksia.Bayi baru lahir secara relative banyak kehilangan panas yang diikuti oleh penurunan suhu tubuh. Penurunan suhu tubuh akan mempertinggi metabolisme sel sehingga kebutuhabn oksigen meningkat. Perlu diperhatikan agar bayi mendapat lingkungan yang hangat segera setelah lahir. Jangan biarkan bayi kedinginan (membungkus bayi dengan kain kering dan hangat), Badan bayi harus dalam keadaan kering, jangan memandikan bayi dengan air dingin, gunakan minyak atau baby oil untuk membersihkan tubuh bayi. Kepala ditutup dengan kain atau topi kepala yang terbuat dari plastik (Medicine and linux.com DAN Pediatric.com).

2.

Tindakan khusus a. Asfiksia berat Berikan O2 dengan tekanan positif dan intermiten melalui pipa endotrakeal. dapat

dilakukan dengan tiupan udara yang telah diperkaya dengan O2. Tekanan O2 yang diberikan tidak 30 cm H 20. Bila pernafasan spontan tidak timbul lakukan message jantung dengan ibu jari yang menekan pertengahan sternum 80 100 x/menit.

b. Asfiksia sedang/ringan Pasang relkiek pernafasan (hisap lendir, rangsang nyeri) selama 30-60 detik. Bila gagal lakukan pernafasan kodok (Frog breathing) 1-2 menit yaitu : kepala bayi ektensi maksimal beri O2 1-2 1/mnt melalui kateter dalam hidung, buka tutup mulut dan hidung serta gerakkan dagu ke atas-bawah secara teratur 20 x/menit Penghisapan cairan lambung untuk mencegah regurgitasi (Medicine and linux.com).

H.

THERAPI CAIRAN PADA BAYI BARU LAHIR DENGAN ASFIKSIA

1.

Tujuan Pemberian Cairan untuk Bayi Baru Lahir dengan asfiksia a. Mengembalikan dan mempertahankanKeseimbangan airan b. Memberikan obat obatan c. Memberikan nutrisi parenteral

2.

Keuntungan dan kerugian therapy Cairan Keuntungan : a. Efek therapy segera tercapai karena penghantaran obat ketempat target berlangsung cepat b. Absorbsi total, memungkinkan dosis obat lebih tepat dan therapy lebih dapat diandalkan c. Kecepatan pemberian dapat dikontrol sehingga efek therapy dapat dipertahankan maupun dimodifikasi

d. Ras sakit dan iritasi obat- obat tertentu jika diberikan intramuscular dan subkutan dapat dihindari e. Sesuai untuk obat yang tidak dapat diabsorpsi dengan rute lain karena molekul yang besar, iritasi atau ketidakstabilan dalam traktus gastrointestinal.

Kerugian : 1. Resiko toksisitas/anapilaktik dan sensitivitas tinggi

2.

Komplikasi tambahan dapat timbul : Kontaminasi mikroba melalui sirkulasi Iritasi vaskuler ( spt phlebitis ) Inkompabilitas obat dan interaksi dari berbagai obat tambahan.

3.

Peran Perawat terhadap Therapi Cairan pada bayi baru lahir dengan asfiksia 1. Memastikan tidak ada kesalahan maupun kontaminasi cairan infuse maupun kemasannya. 2. Memastikan cairan infuse diberikan secara benar (pasien, jenis cairan, dosis, cara pemberian dan waktu pemberian) 3. Memeriksa kepatenan tempat insersi 4. Monitor daerah insersi terhadap kelainan 5. Mengatur kecepatan tetesan sesuai dengan program 6. Monitor kondisi dan reaksi pasien

BAB III TINJAUAN KASUS PENGKAJIAN

1. Pengumpulan Data a. Identitas klien Nama Usia Jenis Kelamin Ruang/kamar No. Reg Diagnosa medik Dr. penanggung jawab Tanggal masuk Tanggal pengkajian Apgar skor : By. Y : 7 hari : Perempuan : Peristi/Dahlia : 407221 : BBLSR dengan Asfiksia Berat : dr. S Sp A : 5-12-2008 Pukul 07.15 WIB : 13-12-2008 Pukul 08.00 WIB : 3 (Asfiksia Berat)

b. Identitas penanggung jawab Nama Umur Pekerjaan Pendidikan Hub dengan klien Alamat rumah Masalah utama Riwayat Penyakit Sekarang : Pada saat dikaji tanggal 13 Desember 2008 Jam 08.00 Wib, bayi tampak sesak nafas dengan respirasi 76 x/menit. Sesak berkurang jika posisi bayi semi ekstensi dan terpasang O2 Sungkup 5 liter/menit ditandai dengan menurunnya retraksi rongga dada dan sesak tampak bertambah dengan posisi bayi fleksi ditandai dengan peningkatan PCH. : Tn. A : 35 tahun : Wiraswasta an : SMA : Anak : Pecabean RT 04/01 Kec. Pangkah Kab. Tegal : Sesak nafas

Riwayat Penyakit Dahulu : Bayi lahir pada 5 12 2008 Pukul 07.15 WIB di Ruang Mawar RSUD Kardinah Tegal melalui persalinan spontan dengan gravidarum II, APGAR SCORE pada menit pertama 3, menit ke 5 nilainya 3 dan pada menit ke 10 nilainya 3, berat badan 1400 gram, panjang badan 38 cm dan air ketuban berwarna jernih. Dan ibu klien mengatakan riwayat kehamilan dan persalinan anak pertama prematur.

Riwayat penyakit keluarga : Keluarga klien mengatakan bahwa keluarganya tidak mempunyai penyakit infeksi menular (Misalnya TB), penyakit kardiovaskuler (Hipertensi), dan penyakit keturunan (DM/Asma). Riwayat kehamilan persalinan sebelumnya adalah prematur dan tidak ada riwayat kehamilan gemeli (Kembar). Genogram

Riwayat Psikologis : Keluarga klien mengatakan khawatir dengan keadaan bayinya, ekspresi wajah ayahnya tampak cemas, dan bertanya-tanya mengenai kondisi bayinya ketika menjenguk bayinya di ruang perawatan. Data Sosial Ekonomi : Kepala keluarga adalah ayah klien, sekaligus penangung jawab perekonomian, keputusan diambil oleh ayah dan ibu klien secara musyawarah.

A. PENGKAJIAN FISIK : 1. Keadaan umum Keadaan umum : Klien tampak lemah Lingkar kepala : 26 cm Lingkar Dada : 28 cm Lingkar Perut : 25 cm Panjang Badan : 38 cm Berat badan lahir : 1400 gr BB saat dikaji : 1200 gr Lingkar lengan atas : 5 cm

2. Vital Sign 3. Kepala Bentuk kepala normochepal, rambut tipis lurus dengan warna rambut hitam, tidak terdapat benjolan, tidak ada lesi, keadaan sutura sagitalis datar, tidak ada nyeri tekan, terdapat lanugo disekitar wajah. 4. Mata Bentuk mata simetris, tidak terdapat kotoran, bulu mata belum tumbuh, sklera tidak ikterik. 5. Telinga Bentuk simetris, tidak terdapat serumen, tidak terdapat benjolan dan lesi, tulang telinga lunak, tulang kartilago tidak mudah membalik/lambat, terdapat lanugo. 6. Hidung Bentuk hidung normal, PCH positif, terpasang O2 sungkup 5 liter/menit, terpasang NGT, keadaan hidung bersih, tidat terdapat polip dan benjolan. 7. Mulut Bentuk bibir simetris, tidak terdapat labio palato skizis, tidak terdapat stomatitis, mukosa bibir tampak pucat dan terdapat jamur sisa sisa pemberian PASI. 8. Dada Bentuk dada cekung, bersih, terdapat retraksi (pada dinding epigastrium), RR 76x/menit, suara nafas Vesikuler, Cor BJ I BJ II terdengar jelas, tidak terdapat bunyi jantung tambahan (BJ III), tidak terdapat kardiomegali, palpasi nadi radialis brakhialis dan karotis teraba lemah dan ireguler. 9. Punggung Keadaan punggung bersih, terdapat banyak lanugo, tidak terdapat tandatanda dekubitus/ infeksi. P : 138 x/menit RR : 76 x/menit T : 39,1 0C

10. Abdomen Bentuk abdomen datar, BU 10 x/menit, lingkar perut 25 cm, tidak terdapat hepatomegali, turgor kulit kurang elastis ditandai dengan kulit kembali ke bentuk semula lebih dari 2 detik. 11. Umbilikus Tidak ada kelainan dan tanda-tanda infeksi tali pusat, warna merah muda, bau tidak ada, tali pusat sudah terlepas. 12. Genitalia Labia mayor belum menutupi labia minor, Anus paten ditandai dengan bayi sudah BAB, mekoniun sudah keluar dan warna terlihat hitam dan konsistensi lembek. 13. Integumen Struktur kulit halus dan tipis, merah pucat (Pale Pink), lapisan lemak tipis pada jaringan kulit, keriput, tidak ada ruam merah (Skin rash). Lanugo tersebar diseluruh permukaan tubuh. 14 . Tonus Otot Gerakan bayi kurang aktif, bayi bergerak apabila diberi rangsangan.

15. Ekstrimitas Atas : Bentuk simetris, jari-jari tangan lengkap, akral dingin tidak terdapat benjolan dan lesi. Bawah : Bentuk simetris, jari-jari kaki lengkap, akral dingin, terpasang IVFD D5 NS Mikro drip di kaki sebelah kanan dengan 10 tetes/menit, tidak terdapat benjolan dan lesi. Udema Sianosis

16. Refleks Moro : Moro ada ditandai dengan cara dikejutkan secara tiba-tiba dengan respon bayi terkejut tapi lemah (sedikit merespon) Menggenggam : Refleks genggam positif tetapi lemah ditandai dengan respon bayi menggenggam telunjuk pengkaji tetapi lemah. Menghisap : Menghisap lemah ditandai dengan bayi mau menghisap dot tetapi daya hisap masih lemah. Rooting : Rooting positif tapi masih lemah ditandai dengan kepala bayi mengikuti stimulus yang di tempelkan yang disentuhkan di daerah bibir bawah dagu hanya tetapi bayi hanya mengikuti setengah dari stimulus tersebut. Babynski : Refleks babinsky positif ditandai dengan semua jari hiper ekstensi dengan jempol kaki dorsi pleksi ketika diberikan stimulus dengan menggunakan ujung bolpoint pada telapak kaki. 17. Therapy Efotax 2 x 100 mg Antibiotik iv Gentamicine 3 x 5 mg Antibiotik iv Aminophiline 3 x 5 mg Bronkodilator iv Dexamethasone 3 x 1/3 ampul Kortikosteroid iv Sanmol 2 x 0.2 cc Antipiretik parenteral Sorbital 30 mg Antikompulsif iv (Jika perlu) IVFD D5 NS Mikro drip 9 tts/menit iv

18. Laboratorium WBC 10.0 103/mm3 4.0/11.0 103/mm3 HGB 13,3 g/dl 11.0/18.8 g/dl HCT 36,9 % 35.0/55.0 % PLT 235 103/mm3 150/400 103/mm3 MPV 107 Fl 6.0/10.0 Fl

B. DATA IBU Nama : Ny. Y Usia : 32 tahun Pekerjaan : IRT Pendidikan : SMA Status Kehamilan : G2 P2 A0 usia kehamilan 29 minggu HPHT : 10 Mei 2008 HPL : 17 Februari 2009 Riwayat Persalinan : Persalinan spontan, P2 A0 Riwayat Kesehatan : Kehamilan prematur kurang bulan Lama Persalinan : 8 jam 45 menit, Kala I : 7 jam, Kala II : 15 Menit, Kala III 30 menit, kala IV 1jam setelah plasenta lahir. Riwayat ANC : Trimester 1 : 1 kali di bidan Trimester 2 : 1 kali Trimester 3 (usia kehamilan 7 bulan ): 2 kali di bidan Obat obatan : Obat warung Riwayat Kehamilan, Persalinan dan Masa Nifas dahulu No Jk Umur Usia kehamilan Penolong BBL Nifas Masalah Ket 1. 2 hari 28 minggu Bidan 1200 gr Normal 40 hari BBLSR Meninggal 2. 7 hari 29 minggu Bidan 1400 gr Normal BBLSR Hidup Riwayat menstruasi ibu : Haid pertama : 12 tahun Siklus : 28 hari teratur Volume/banyaknya : 2 x ganti balutan Lama haid : 5 hari

C. ANALISA DATA No Data Fokus Etiologi Masalah 1. Ds: Do:


Bayi tampak sesak nafas RR 76 x/Menit Terlihat retraksi pada dinding epigastrium PCH + Terpasang O2 sungkup (5 liter / menit) Ujung ekstrimitas teraba dingin BBLSR

Imaturitas sistem pernafasan Usaha nafas bayi tidak maksimal (A.S : 3) CO2 meningkat (Hiperkapneu) Gangguan pertukaran gas GG. Pertukaran O2 2. Ds: Do: S : 39,1 0C/Anal Leukosit 10. 103/mm3 Struktur kulit halus dan tipis Bayi di simpan dalam inkubator Imaturitas jaringan lemak pada subkutan Mekanisme penguapan panas (E,R,K,K) Gangguan suhu tubuh (Hipertermi) GG. Thermoregulasi : Hypertermi

3. Ds : Do : NGT terpasang IVFD D5 NS Mikro drip 10tts/menit PASI 12x 5 7,5 cc/hari Refleks hisap lemah dan menelan lemah BB lahir 1400 gr BB saat dikaji 1200 gr Imaturitas sistim pencernaan

Motilitas usus rendah Daya mencerna dan mengabsorpsi makanan berkurang Pengosongan lambung bertambah Distensi abdomen Kerja otot spingter kardio esophagus berkurang Intake nutrisi kurang dari kebutuhan Gangguan pemenuhan kebutuhan nutrisi : kurang dari kebutuhan tubuh

4. Ds :
Keluarga klien mengatakan khawatir dengan keadaan bayinya

Do :
Ekspresi wajah ayahnya tampak cemas Ayah klien sering bertanya-tanya mengenai kondisi bayinya ketika menjenguk

bayinya di ruang perawatan. BBLSR

Hospitalisasi Perawatan ekstra di ruang perinatologi Bonding Attachment tidak terjadi Koping keluarga in efektif Cemas Gangguan rasa aman : Cemas Orang tua

5.

Ds Do:
Terpasang NGT IVFD D5 NS Mikro drip10tts/menit di ekstrimitas bawah dextra S : 39,1 0 C Oedem pada ektremitas bawah dextra yang terpasang infus Leukosit 10. 103/mm3

Imaturitas sistem imunologi Rendahnya kadar Ig G ( gammaglobulin ) Penurunan antibodi dan daya tahan fagositosis belum matur Invasi bakteri kuman patogen,selang infus/NGT Resiko tinggi terjadi infeksi Resiko tinggi terjadi infeksi

D. DIAGNOSA KEPERAWATAN 1. Gangguan pertukaran O2 berhubungan dengan Imaturitas sistem pernafasan 2. Gangguan Thermoregulasi Hipertermi berhubungan dengan cairan yang diperoleh/sediaan cairan dalam tubuh bayi 3. Gangguan pemenuhan nutrisi : kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan Imaturitas sistem pencernaan 4. Gangguan rasa aman : Cemas Orang tua berhubungan dengan proses hospitalisasi 5. Resiko tinggi terjadi infeksi berhubungan dengan imaturitas sistem imunologi

E. PRIORITAS DIAGNOSA KEPERAWATAN 1. Gangguan pertukaran O2 berhubungan dengan Imaturitas sistem pernafasan 2. Gangguan Thermoregulasi: Hipertermi berhubungan dengan cairan yang diperoleh/sediaan cairan dalam tubuh bayi 3. Gangguan pemenuhan nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan Imaturitas sistem pencernaan 4. Gangguan rasa aman : Cemas Orang tua berhubungan dengan proses hospitalisasi 5. Resiko tinggi terjadi infeksi berhubungan dengan imaturitas sistem imunologi

F. NURSING CARE PLANNING (NCP)

Nama : By. Y No Medrek : 407221 Umur : 7 hari Dx Medis : BBLSR + Asfiksia No Diagnosa keperawatan Tujuan Intervensi Rasional

1. Gangguan pertukaran O2 berhubungan dengan Asfiksia. Ditandai dengan : Ds: Do:


Bayi tampak sesak RR 76 x/Menit Terlihat retraksi pada dinding epigastrium PCH + Terpasang O2 sungkup (5 liter / menit) Setelah dilakukan tindakan keperawatan

selama 3 x 24 jam diharapkan gangguan pertukaran O2 kembali normal dengan kriteria hasil : Nafas spontan O2 tidak terpasang PCH negatif Frekuensi nafas normal 30 60 x/menit. Sianosis negatif.

a. Atur posisi kepala bayi sedikit ekstensi b. Therapi O2 sesuai kebutuhan c. Monitor irama, kedalaman frekuensi pernafasan bayi d. Monitor saturasi O2 tiap 2 jam e. Kolaborasi pemberian obat bronchodilator sesuai kebutuhan Posisi kepala sedikit ekstensi bertujuan untuk membuka jalan nafas dan mempermudah pengaliran O2 atau oksigenasi Suplai O2 diberikan bertujuan untuk mempertahankan kadar O2 dalam jaringan. Mengetahui perubahan yang terjadi apakah pernafasan dalam batas normal atau terjadi gangguan.

Saturasi O2 dilakukan bertujuan untuk mengetahui kadar O2 dalam jaringan apakah dalam batas normal atau terjadi gangguan. Obat bronkodilator berfungsi untuk membantu menurunkan sesak.

2. Gangguan Thermoregulasi Hipertermi berhubungan dengan cairan yang diperoleh/sediaan cairan dalam tubuh bayi Ditandai dengan : Ds: Do:
S : 39,1 0C/Anal Kadar leukosit 10. 103/mm3 Struktur kulit halus dan tipis Bayi di simpan dalam inkubator Setelah dilakukan tindakan keperawatan

selama 3 x 24 jam diharapkan suhu tubuh bayi dalam batas normal kriteria hasil : Suhu tubuh dalam batas normal 36.50 C 37.50C Bayi tidak rewel Bayi bisa tidur Kadar leukosit dalam batas normal 4.0 11.0 103/mm3 Sekresi keringat tidak nampak.

a. Atur suhu inkubator sesuai dengan keadaan bayi. b. Observasi TTV c. Kompres bayi dengan kasa yang telah dibasahi dengan air hangat d. Kolaborasi pemberian obat antipiretik Pengaturan suhu inkubator bertujuan untuk mencegah bayi hipertermi dan menurunkan suhu bayi Observasi TTV ditegakan untuk mengetahui apakah bayi mengalami gangguan atau masih dalam keadaan batas normal Kompres air hangat adalah mempercepat penurunan suhu bayi. Pemberian antipiretik berfungsi untuk menurunkan suhu tubuh.

3. Gangguan pemenuhan nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan Imaturitas sistem pencernaan ditandai dengan : Ds : Do :
NGT terpasang IVFD D5 NS Mikro drip 10 tts/menit. PASI 12x 5 7,5 cc/hari Refleks hisap lemah dan menelan lemah BB lahir : 1400 gr BB saat dikaji : 1200 gr Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3 x 24 jam

kebutuhan cairan dan elektrolit dapat terpenuhi dengan kriteria : Turgor kulit elastis Tidak terjadi penurunan BB Produksi urine 1 -2 ml / kg BB / jam. Retensi cairan normal a. Kaji reflek hisap dan menelan bayi b. Timbang BB / hari dengan timbangan yang sama c. Beri ASI atau PASI tiap 2 jam jika tidak terjadi retensi d. Lakukan Oral hygiene e. Kolaborasi pemberian cairan sesuai kebutuhan Reflek hisap dan menellan pada bayi menandakan bayi sudah dapat di berikan asupan peroral Status nutrisi teridentifikasi f. g. ASI PASI sebagai nutrisi utama pada bayi Mencegah terjadinya kebasian sisa makanan dan terjadinya pertumbuhan jamur h. Keseimbangan cairan yang diberikan sesuai dengan kebutuhan

4. Gangguan rasa aman : Cemas Orang tua berhubungan dengan tidak terjadinya Bonding Attachment ditandai dengan : Ds :
Keluarga klien mengatakan khawatir dengan keadaan bayinya

Do :
Ekspresi wajah ayahnya tampak cemas Ayah klien terus bertanya-tanya mengenai kondisi bayinya ketika menjenguk

bayinya di ruang perawatan Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3 x 24 jam diharapakan orang tua tidak cemas lagi dengan kriteria : Orang tua tampak tenang Orang tua kooperatif Tidak bertanya-tanya tentang keadaan penyakit anaknya Orang tua suadah bertemu dengan bayinya.

a. Kaji tingkat kecemasan keluarga klien b. kaji tingkat pengetahuan keluarga tentang penyakit yang diderita bayinya c. Beri penjelasan tentang keadaan bayinya d. Beri waktu keluarga untuk mengungkapkan perasaannya Mengetahui derajat kecemasan yang diderita oleh keluarga dan memudahkan dalam memberikan intervensi Memudahkan perawat untuk melakukan komunikasi terapeutik dalam proses keperawata Menambah pengetahuan dengan memberikan informasi tentang keadaan yang dialami oleh bayi Mengetahui tigkat kecemasan yang dialami oleh keluarga Resiko tinggi terjadi infeksi berhubungan dengan imaturitas sistem imunologi

Terpasang NGT IVFD 10 tetes/menit Kadar leukosit 10.103/mm3 S : 39,1 0 C Oedem pada ektremitas yang terpasang alat tindakan medis Setelah

dilakukan tindakan keperawatan selama 3 x 24 jam infeksi tidak terjadi dengan kriteria : Tidak terjadi tanda-tanda infeksi Kadar leukosit dalam batas normal 4.0 11.0 103/mm3 Suhu dalam batas normal 36,5o C 37,5 o C 1. Kaji tanda tanda infeksi 2. Observasi TTV 3. Perawatan NGT 4. Perwatan IVFD 5. Kolaborasi pemberian antibiotik

a. Tanda-tanda infeksi diantaranya dolor, kalor, rubor, tumor dan fungsio laesa. b. Untuk mengetahui keadaan umum bayi apakah terjadi gangguan atau dalam batas-batas normal c. Mencegah infeksi d. Antibiotik berfungsi untuk mematikan invasi bakteri penyebab infeksi

DAFTAR PUSTAKA Betz, L C dan Sowden, L A. 2002. Keperawatan Pediatri Edisi 3. Jakarta : EGC. Friedman, 1998. Keperawatan Keluarga. Jakarta : EGC. Gaffar, Jumadi. L.O. 1999. Pengantar Keperawatan Profesional. Jakarta : EGC. Garna, Heri.dkk. 2000. Pedoman Diagnosis dan Terapi Ilmu Kesehatan Anak Edisi Ke dua.Bandung : FKU Padjadjaran. Irianto, Kus. Drs. 2004. Struktur Dan Fungsi Tubuh Manusia Untuk Paramedis. Bandung : Yrama Widya. Laksman, Hendra, T. Dr. 2003. Kamus Kedokteran. Jakarta : Djambaran. Mansjoer, Arif, dkk. 2001. Kapita Selekta Kedokteran Edisi ketiga Jilid 1. Jakarta : EGC. Markum. 1998. Ilmu Kesehatan Anak, Buku Ajar Jilid 1, Bagian Kesehatan Anak , Fakultas UI, Jakarta. Ngastiyah. 1997. Perawatan Anak Sakit. Jakarta : EGC. Prawirohardjo, Sarwono, DR. dr. SpOG 2005, ILMU KEBIDANAN. Jakarta YBP-SP Shelov, Steven P dan Hannemann, Robert E. 2004. Panduan Lengkap Perawatan Bayi Dan Balita. The American Academy Of Pediatrics. Jakarta : ARCAN. Staf Pengajar Ilmu Kesehatan Anak. 2002. Ilmu Kesehatan Anak 1. Jakarta : FKUI. Supartini, Yupi, S.Kep, MSc. 2004. Buku Ajar Konsep Dasar Keperawatan Anak. Jakarta : EGC. Tambayong, Jan. Dr. 2000. Patofisiologi Untuk Keperawatan. Jakarta : EGC.

WWW.Medicine and linux.com WWW. Pediatric.com