Anda di halaman 1dari 40

Media Informasi dan Aspirasi Masyarakat

Warta Bahari
Edisi 69 / 2012

Komitmen Pemerintah Kota Tegal Melindungi Hak-Hak Anak

Tegal Kota Layak Anak:

Pemkot Tegal Raih Opini Wajar Tanpa Pengecualian

Walikota Tegal H. Ikmal Jaya, SE, Ak. sedang mencoba alat uji kadar lemak tubuh pada acara pencanangan Pos Bimbingan Terpadu Penyakit Tidak Menular (Posbindu TPM) di Kelurahan Margadana

Ny. Rosalina Ikmal Jaya sebagai Ibu Siswa bagi para siswa SUPM Tegal ikut terharu dan memberikan restu kepada salah seorang siswa yang diwisuda

Editorial
Kehadiran anak-anak dalam masyarakat kita hingga saat ini belum dipandang secara penuh oleh sebagian besar kita, orang dewasa. Diakui kehadirannya, namun tidak semua hak-haknya terapresiasi. Bahwa anak yang merupakan elemen masyarakat terlemah dalam struktur masyarakat kita, acap kali tidak terlindungi. Sistem pembangunan yang memperhitungkan kepentingan anak pun masih jauh panggang dari api. Sebagai contoh, lihat saja bagaimana fasilitas umum yang dibangun, baik oleh pemerintah maupun pengusaha, belum banyak berfikir tentang kebutuhan anak. Itu semua menunjukkan bahwa orientasi pembangunan secara umum masih memposisikan manusia dewasa sebagai subyek dan obyek pembangunan. Tidak ada yang menyangkal bahwa anak adalah cikal bakal penerus kita, yang akan tumbuh dewasa memegang tongkat estafet kehidupan di dunia. Interaksi orang dewasa dan lingkungan di sekitarnya akan dominan membentuk sikap dan perilaku anak di masa datang. Sayangnya bahwa ritme kehidupan yang makin keras, membentuk sejumlah perilaku orang dewasa yang makin membahayakan anak-anak. Atas nama pemenuhan kebutuhan ekonomi, orang dewasa kerap mengakibatkan anak-anak di sekitarnya terluka secara fisik maupun psikis. Di sisi penyebaran informasi pun, anak-anah mudah terpapar hal-hal buruk melalui berbagai media. Dari siaran televisi saja misalnya, dengan gampang anak-anak bisa menyaksikan bagaimana orang dewasa melakukan perbuatan kurang baik, bahkan amoral. Berita kejahatan, korupsi, perbuatan asusila dan sejumlah perilaku negatif lainnya, menggenapi pengetahuan anak-anak tentang bagaimana perilaku yang telah kita perbuat. Dari sisi hiburan, juga hampir semuanya memanjakan hasrat orang dewasa. Bukankah ini menunjukkan bahwa kita sebagai orang dewasa sudah sangat keterlaluan dengan meniadakan keberadaan anak-anak? Dan kalau kita akhirnya sadar dengan kehadiran anak-anak, berarti harus ada pengakuan eksistensi hak-hak mereka yang harus ditunaikan. Sebagai orang dewasa, sudah waktunya bagi kita tidak melulu berpikir tentang kebutuhan kita, keinginankeinginan kita sebagai orang dewasa, hingga abai keinginan dan kebutuhan anak. Posisikan mereka sebagai bagian yang berhak menempati dunia ini. Perhatikan dan penuhi sekiranya keinginan mereka baik untuk mereka, tumbuh kembang dan lingkungan mereka. Anak-anak yang baik akan tumbuh dari lingkungan dan pendampingan orang dewasa yang baik. Jika sekiranya kita berharap bahwa mereka akan menjadi orang-orang yang lebih bijak dari kita dalam mengelola kehidupan, maka mulailah dari sekarang untuk bersikap bijak kepada mereka. AKB

Pojok Kang Bahar . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 4 Warta Utama


- Tegal Kota Layak Anak: Komitmen Pemerintah Kota Tegal Melindungi Hak Anak-Anak . . . . . . . . . . . . . . . 5 - Perincian Kota Layak Anak dan Ramah Anak . . . . . . . . . . 8 - Forum Anak Tegal: Wadah Untuk Mendengar Aspirasi Anak-anak Kota Tegal . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 12

Warta Khusus
- Pemkot Tegal Raih Opini Wajar Tanpa Pengecualian. . . 14 - Menilik Kalender Wisata Religi di Kota Tegal . . . . . . . . . . 16

Pendidikan
- Meningkatkan Hasil Belajar Matematika Melalui Strategi Pembelajaran Gabungan Dua Kekuatan (The Power of Two) di SMP N 10 Tegal . . . . . . . . . . . . . . . . . 18

Lensa Bahari . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 20 Varia Legislatif


- Walikota Tegal Diminta Berikan Data Mutasi Aset . . . . . 22

Lintas Kota . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 24 Opini


- Hilangnya Lagu Anak-Anak . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 28

Wira Usaha
- Kafe Gaul Jalan Kartini Kawasan Favorit Anak Muda . . 30

Renungan
- Membaca Gerakan Radikalisme di Daerah dan Eksistensi NKRI . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 32

Potensi Usaha
- Melirik Potensi Ayam Arab di Kota Tegal Peluang Usaha Memenuhi Kebutuhan Telur Lokal. . . . . 34

Delik
- Operasi Patuh Candi Ciptakan Kamseltibcarlantas . . . . 36 - Razia Penyakit Masyarakat Selama Bulan Ramadhan . . 37

English Corner
- Mudik . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 38

MEDIA INFORMASI DAN ASPIRASI MASYARAKAT


Penerbit: Bagian Hubungan Masyarakat dan Protokol Setda Kota Tegal l Walikota Tegal, Ikmal Jaya, SE, Akt, Pembina: Wakil Walikota Tegal, Habib Ali Zaenal Abidin, SE l Penasehat: Sekretaris Daerah Kota Tegal, Edhy Pranowo, SH,MM. l Pemimpin Redaksi/Penanggung Jawab: Kabag Humas dan Protokol, Drs. Markus Wahyu Priyono l Redaktur Pelaksana: Kasubag Dokumentasi dan Publikasi, Rita Marlianawati, M.Si l Isi: Kasubag Pemberitaan Redaktur l Lay Out Berdasarkan SK Walikota Tegal No. 481/155.A/2011, tanggal 21 Nopember 2011 l& Setting: Sri Hartati, A.Md., Slamet Akbari l Staf Redaksi: Roniyanto N, A.Md., Tomi, A.Md., Imon Dwi BA, S.Sos l Fotografer: Edhy Purnomo l Sirkulasi: Waryanti, Turah Untung, Tatik Danayati, Aman Sucipto l Keuangan: Fatimatus Zahro Bagian Bagian l Administrasi Umum: Ida Krisdianti, SIP lRedaksi: Bagian Hubungan Masyarakat dan Protokol Setda Kota Alamat Tegal, Jalan Ki Gede Sebayu no. 12 Tegal - 52123, Telp/Fax. (0283) 355137-355138 Pswt. 202. lbulan sekali Terbit 2 l Percetakan: CV. SINAR KENCANA JAYA, SEMARANG.

PEMERINTAH KOTA TEGAL

Redaksi menerima sumbangan naskah baik dalam bentuk artikel, opini, wawancara ataupun foto. Jika diperlukan, redaksi berhak mengubah atau mengedit tanpa menghilangkan esensinya. Tulisan maksimal 3 halaman folio spasi rangkap (dobel) atau 4000-6000 karakter, dialamatkan pada redaksi: Bagian Hubungan Masyarakat dan Protokol Setda Kota Tegal, Jalan Ki Gede Sebayu no.12 Tegal Telp.: (0283) 355137-355138, Pswt. 122 atau e-mail: humaskotategal@yahoo.com

WARTA BAHARI, Edisi 69/2012

Pojok Kang Bahar

TEGA L KOT A LAYA K ANA K

PAUD BINA ANAK

POLIKLINIK ANAK

TEGAL KOTA LAYAK ANAK Kuwe berarti Kota Tegal memperhatikna anak-anak nang segala aspek, terutama nang aspek kesejahteraane

Aku jadi terlindungi...!

Info
Tahun ini, meski awal Ramadhan bagi umat muslim Indonesia berbeda, namun semua pihak sama-sama menghormati dan bertoleransi atas perbedaan itu...
Jarene perbedaan kuwe rakhmat, pan ngawali puasane tanggal 20 apa 21 ya pada bae benere, sing salah ya sing ora puasa

Cuti bersama dalam rangka Idul Fitri bagi PNS telah ditetapkan pemerintah, jadi tidak ada alasan untuk membolos menikmati lebaran lebih lama
PNS kuwe kudu bisa dadi conto sing apik nggo masyarakat, termasuk disiplin manjing kerja ... hak karo kewajiban kudu seimbang

WARTA BAHARI, Edisi 69/2012

Warta Utama

Tegal Kota Layak Anak:

Komitmen Pemerintah Kota Tegal Melindungi Hak-Hak Anak


Anak dapat dikatakan salah satu asset bangsa. Dengan asset yang cukup besar ini kiranya menjadi kewajiban pemerintah untuk menjadikan anak sebagai manusia yang berkualitas.
Oleh : Imon Ajianto

ak-hak anak sebagai asset bangsa perlu dilindungi karena adanya keterbatasan kemampuan sebagai anak, sebagaimana telah ditetapkan oleh konvensi PBB Hak Anak tahun 1989. Untuk mewujudkan tumbuh dan berkembang, salah satu faktor yang cukup penting adalah ketersediaan infrastruktur yang dapat memfasilitasi hak anak. Hal ini merupakan salah satu kewajiban bagi pemerintah untuk menyediakan fasilitas tersebut. Untuk itu perlu kiranya pemerintah membuat upaya nyata berkaitan dengan isu hak anak ke dalam perencanaan dan pembangunan. Dengan gambaran fenomena tersebut, agar dapat mengimplementasikan konvensi hak-hak anak secara realistis, maka perlu adanya konsep perlindungan anak yang diintegrasikan ke dalam program pembangunan kota. Dalam hal ini pemerintah telah mulai mengimplementasikan ke dalam suatu konsep pengembangan Kota Layak Anak (selanjutnya disingkat KLA), dimana mekanisme pelaksanaannya digabungkan ke dalam kerangka kerja institusi yang ada. Perwujudan KLA selain dilatarbelakangi hal tersebut, ada beberapa permasalahan yang harus diselesaikan berkaitan dengan anak. Antara lain ditinjau dari beberapa aspek, seperi aspek sosiologi, dimana perlu kondisi yang kondusif bagi tumbuh kembang anak, terutama dalam kehidupan keluarga, teman sebaya, masyarakat, media massa dan politik. Kemudian pada kehidupan keluarga terja-

di pelunturan nilai-nilai kekeluargaan, merenggangnya hubungan antara anak dan orang tua, anak dengan anak dan antar keluarga atau tetangga. Serta sikap permisif terhadap nilai-nilai sosial yang selama ini telah dianut mulai ditinggalkan. Selanjutnya dari aspek antropologis karena telah memudarnya nilai-nilai kebersamaan paguyuban, dan kekerabatan merupakan faktor yang membuat menurunnya nilai-nilai yang selama ini memberikan rasa nyaman bagi anak dalam masyarakat. Perubahan global juga mengancam tata nilai, agama, sosial dan budaya lokal. Ditinjau dari aspek perlindungan dengan terbatasnya tempat yang aman bagi anak dan masih banyaknya anak yang menjadi korban kekerasan, pelecehan, diskriminasi dan perlakuan salah. Sedangkan dari aspek kelembagaan yakni kebijakan, program dan kegiatan pembangunan anak masih parsial dan segmentatif dan belum semua SKPD menempatkan pembangunan anak sebagai prioritas. Pengertian KLA Sebagian besar masyarakat Kota Tegal mungkin belum begitu familiar dan mengerti mengenai apa itu KLA. Bahkan PNS sebagai aparatur pemerintah masih banyak yang bertanya apa itu KLA.

Dapat dijelaskan disini, tujuan pemerintah dalam pengembangan KLA adalah membangun inisiatif untuk merealisasikan Program Nasional Bagi Anak Indonesia (PNBAI) 2015, dengan mengutamakan hak-hak anak ke dalam perencanaan pembangunan kota. Inisiatif ini mengarahkan pada transformasi Konvensi PBB tentang Hak-hak Anak dari kerangka hukum ke dalam definisi, strategi dan intervensi pembangunan seperti kebijakan, institusi dan program yang ramah anak. Hal ini juga sesuai dengan ketentuan PERMEN No. 11 Tahun 2011. Yakni KLA adalah kabupaten/kota yang mempunyai sistem pembangunan berbasis hak anak melalui pengintegrasian komitmen dan sumberdaya pemerintah, masyarakat dan dunia usaha yang terencana secara menyeluruh dan berkelanjutan dalam kebijakan, program dan kegiatan untuk menjamin terpenuhinya hak anak. Sebagai sebuah kota, idealnya memiliki sistem pembangunan kota yang mengintegrasikan komitmen dan sumber daya pemerintah, masyarakat dan dunia usaha yang terencana secara menyeluruh dan berkelanjutan dalam kebijakan, program dan kegiatan untuk pemenuhan hak-hak anak. Sehingga dapat diperoleh pemahaman dan inisiatif dari pemerintah kota yang mengarah pada upaya transformasi Konvensi Hak Anak (KHA). Mulai dari ke-

Foto dari internet

WARTA BAHARI, Edisi 69/2012

Warta Utama

Tegal Kota Layak Anak: Komitmen Pemerintah Kota Tegal Melindungi Hak-Hak Anak
Sementara hasil workshop yang dilakukan Bapermas KB, disebutkan Cahyani, semua SKPD telah memberikan perhatian yang besar kita meminta kerja sama masing-masing SKPD. Namun ada beberapa titik kelemahan yang menjadi kendala Kota Tegal menuju KLA. Disebutkan Cahyani, kendala tersebut terletak pada pengadministrasian. Padahal evaluasi dari sebuah KLA dimulai dari tahap-tahap administrasi. Setiap tahun pihaknya mengisi kuesioner evaluasi dan dikirimkan ke pemerintah pusat. Tetapi dalam evaluasi itu dapat disimpulkan adanya administrasi yang lemah. Padahal administrasi merupakan kartu As bagi KLA. Dicontohkan Cahyani, misalnya di kota Tegal sudah ada Peraturan Daerah (Perda) yang mengatur setiap anak yang baru lahir wajib mempunyai akta kelahiran. Perda ini menjadi point besar juga bagi Kota Tegal, ungkap Cahyani. Namun data dari Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil (Disdukcapil) Kota Tegal, kata Cahyani, saat evaluasi hanya menyebutkan angkanya sudah mencapai 93 persen. Padahal dari penilaian evaluasi untuk KLA, angka 75 persen saja sudah sangat bagus bagi daerah untuk memenuhi syarat KLA. Tetapi apa yang membuktikan angka itu, mereka tidak punya data. Misalnya data yang langsung menyajikan berapa jumlah anak laki-lakinya, jumlah anak perempuan dan usia anak saat mendapatkan akte kelahiran, terang Cahyani. Disebutkan Cahyani, Kota Tegal sudah banyak responsif terhadap anak. Misalnya Dinas Pendidikan, dimana banyak lomba PAUD telah diadakan. Tetapi dalam administrasi lemah. Seperti pendokumentasian kegiatan seperti itu tidak ada. Oleh karena administrasi merupakan hal terpenting, maka Cahyani menghimbau setiap SKPD yang mengadakan kegiatan responsif anak untuk mengadministrasikan kegiatan tersebut dengan baik. Mulai dari dokumentasinya hingga laporannya. Seperti yang dilakukan kami, yang sebelumnya agak terlewatkan. Namun saat ini sudah mulai mengumpulkan kegiatan-kegiatan. Ini satu bentuk pengadministrasian terhadap kegiatan yang reponsif anak. Itu salah satu daya dukungnya, kata Cahyani. Bahkan disebutkan Cahyani, pihaknya siap dipanggil untuk mendokumentasikan kalau ada lomba atau kegiatan yang melibatkan atau berbau anak. Saya diundang,

Foto dari internet


rangka hukum ke dalam definisi, strategi dan intervensi pembangunan dalam bentuk kebijakan sampai ke program dan kegiatan pembangunan yang ditujukan untuk pemenuhan hak-hak anak pada suatu wilayah kota. Dengan berprinsip non diskriminasi, KLA menempatkan kepentingan yang terbaik untuk anak, hak untuk hidup, kelangsungan hidup dan perkembangan dan penghargaan terhadap pendapat anak. Kondisi Anak Kota Tegal Nasib anak-anak Kota Tegal sebagai asset Kota Tegal saat ini belum dapat dikatakan baik. Menurut Kepala Bidang Pemberdayaan Perempuan dan Anak, Badan Pemberdayaan Masyarakat, Perempuan dan KB Kota Tegal, Siti Cahyani, potret anak Kota Tegal dapat dilihat dari dua sudut. Pertama, keterwakilan siswa Kota Tegal dalam kepengurusan Forum Anak yang telah dibentuk pada tahun 2010 oleh Bapermas Perempuan dan KB Kota Tegal. Pengurus Forum Anak merupakan perwakilan siswa dari seluruh sekolah di Kota Tegal. Ternyata kesimpulannya dengan melihat keterwakilan anak-anak sekolah tersebut, anak Kota Tegal belum baik. Karena banyak pengurusnya merupakan siswa yang tinggal di daerah luar Kota Tegal. Dengan pengurus Forum Anak yang tidak tinggal di Kota Tegal, tahun kemarin kepengurusan Forum Anak Kota Tegal tidak bisa terpilih untuk duduk dalam kepengurusan di Tingkat Provinsi. Karena pengurus Forum Anak di tahun lalu banyak tinggal di luar Kota Tegal tetapi bersekolah di Kota Tegal. Seperti Mejasem yang dekat dengan Kota Tegal tetapi bukan wilayah Kota Tegal, ungkap Cahyani yang menyebut hal tersebut sebagai ancaman bagi eksistensi Forum Anak Kota Tegal. Untuk itu, tahun ini Cahyani hanya mengijinkan pengurus forum anak adalah anak yang tinggal di Kota Tegal. Sehingga wakil yang dikirimkan dari sekolah didata ulang, bagi yang tidak tinggal di Kota Tegal tidak dijadikan pengurus. Mereka akan memperkuat siapa, karena mereka akan unjuk kebolehan mewakili kabupaten/kota masing-masing. Sehingga di forum anak masih dibutuhkan banyak perjuangannya, kata Cahyani. Kedua, masih banyaknya anak kota Tegal yang bekerja di perusahaan maupun lahan pekerjaan lainnya. Hal ini dapat dilihat ketika turun ke perkampungan, dimana kondisinya masih memprihatinkan. Seperti bisa dilihat di Kelurahan Tegalsari, masih banyak orang tua yang menyuruh anak bekerja di kapal dan berlayar. Sementara data dari BAPPEDA Kota Tegal, di Kota Tegal diperkirakan terdapat 17.000 lebih anak miskin. Namun Cahyani menyebutkan, data tersebut belum final dan perlu penelitian yang mendalam untuk mengetahui jumlah pastinya. KLA Kota Tegal Di kota Tegal, upaya menuju sebuah Kota Layak Anak akan dilaksanakan di tahun 2012 ini. Pencanangan Kota Tegal sebagai KLA diharapkan dilaksanakan sebelum akhir tahun 2012. Badan Pemberdayaan Perempuan dan Keluarga Berencana (Bapermas KB) Kota Tegal pun telah melaksanakan Sosialisasi Kota Layak Anak, Persiapan Menuju Kota Layak Anak dan Workshop Kota Layak Anak di Pendopo Ki Gede Sebayu Kota Tegal Selasa dan Rabu tanggal 5-6 Juni lalu. Sosialisasi ini melibatkan seluruh Kepala SKPD, tokoh masyarakat dan LSM. Agar mereka mempunyai pandangan yang baik terhadap apa itu yang disebut KLA. Sehingga Pemerintah Kota Tegal memiliki perhatian lebih besar dan hal ini akan berakibat baik terhadap nasib anak sendiri.

WARTA BAHARI, Edisi 69/2012

Tegal Kota Layak Anak: Komitmen Pemerintah Kota Tegal Melindungi Hak-Hak Anak
saya dokumentasikan. Itu upaya saya sekarang, tuturnya. Bahkan contoh dengan hal simple seperti adanya papan belajar di rumah, misalnya papan jam belajar di rumahrumah atau sekolahan, jika kemudian hal tersebut didokumentasikan, dapat menjadi bukti bahwa Kota Tegal ramah terhadap anak. Perlu Langkah Sinergi Kota Tegal sudah lebih baik dan sudah responsif terhadap kebutuhan anak. Untuk itu kelemahan dalam administrasi perlu dibenahi secepatnya. Selain itu untuk menuju KLA, Pemerintah Kota Tegal juga memerlukan langkah sinergi antar SKPD. Diperlukan gerak dan laju yang sama diantara stake holder. Dengan dimulai upaya dari political will para pemegang jabatan. Hal ini karena belum ada bukti tertulis atau autentik bahwa ada komitmen atau nota kesepakatan bersama dari semua pemegang jabatan politik maupun pemerintah atau stake holder. Upaya kami bisa mensinergikan antar SKPD dan memperkuat dari bawah serta berusaha membuat komitmen bersama. Itu yang menjadi evaluasi terpenting, tutur Cahyani. Hal tersebut juga telah dilaksanakan oleh kabupaten yang berdekatan dengan kota Tegal sehingga pencanangan Kota Layak Anak dapat dilaksanakan secepatnya. Hal yang dilakukan kabupaten tersebut, pertama adalah melakukan pembentukan komitmen bersama. Mereka membuat nota kesepakatan bersama dan dilakukan tanda tangan bersama stake holder. Setelah itu selesai, mereka berusaha menyusun peraturan bupati, penyusunan perencanan anggaran dan kegiatan masingmasing SKPD harus responsif terhadap gender dan anak. Kemudian dalam proses pembangunan mulai dari perencanaan sampai selesainya pembangunan itu melibatkan peran anak. Misalnya dalam Musyawarah Rencana Pembangunan (Musrenbang) itu harus ada forum anak yang dilibatkan. Di Kota Tegal, diakui Cahyani dalam musyawarah tersebut, saat ini belum melibatkan anak. Walaupun yang akan dibangun itu untuk kepentingan anak juga. Di tingkat kelurahan bahkan kecamatan kita belum pernah melibatkan forum anak dalam kegiatan Musrenbang, tuturnya. Menurut Cahyani, langkah selanjutnya yang sedang dilaksanakan adalah menyusun konsep nota kesepakatan yang akan diajukan ke Walikota. Dikatakannya, paling tidak setelah ada kesepakatan dari eksekutif baru kemudian akan dimajukan ke tingkat legislatif. Bulan Juli kami targetkan ada kesepakatan bersama antara semua pemangku jabatan dengan pemilik anggaran. Sekarang sedang pembuatan proposal di Bagian Hukum dan Organisasi, ungkap Cahyani. Selain itu hasil workshop KLA lalu, Dinas Sosial Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Disosnakertrans) Kota Tegal telah menyusun peraturan yang mengatur anak-anak yang dipekerjakan sebagai buruh, tentang jam kerja pekerja anak dan kesejahteraan pekerja anak. Ini tiga Perwal yang tengah dipersiapkan Dinsosnakertrans yang sangat mendukung proses Kota Layak Anak, kata Cahyani. Mengenai pencanangan Kota Tegal Menuju KLA sebenarnya akan direncanakan pada bulan Oktober. Tetapi ternyata ada wacana bahwa pencanangan itu sebatas pengumuman atau woro-woro saja terhadap masyarakat Kota Tegal. Sehingga akan kita upayakan ajukan pencanangannya pada bulan Juli ini, kata Cahyani. Percepatan pencanangan KLA tersebut juga didasarkan pada dua alasan. Pertama, Surat Edaran dari Gubernur kepada kabupaten/kota agar ada upaya percepatan paling tidak percepatan menuju Kota Layak Anak. Kedua, untuk mendukung penuh statement Walikota Tegal saat pembu-

Warta Utama
berdayaan Masyarakat Berprespektif Gender yang isinya pelatihan-pelatihan dan peningkatan keterampilan masyarakat. Kita harus mengatakan bahwa kita akan menuju KLA, pintanya. Dukungan Pemkot Tegal Dukungan Pemerintah Kota Tegal dalam upaya pencanangan Kota Tegal sebagai KLA, sudah banyak dilakukan. Walikota Tegal H Ikmal Jaya, S.E., Ak. usai membuka Sosialisasi KLA: Persiapan Menuju Kota Tegal Kota Layak Anak mengatakan sebenarnya Kota Tegal telah banyak memperhatikan anak. Mulai dari pendidikannya, kesehatannya dan lain-lain, yang semuanya jika digabungkan dan dirangkum, maka Kota Tegal sudah dapat dikatakan sebagai Kota Layak Anak. Dengan Kota Layak Anak, apa yang menjadi hak-hak anak itu bisa diterima oleh mereka. Namun untuk menuju kota layak Anak dan ramah anak, Kota Tegal memerlukan tahapan-tahapan. Disebutkan Ikmal Jaya, pada saat ini Kota Tegal masih pada tahap Pratama. Oleh karena itu usaha menuju KLA masih perlu dipacu lagi. Dalam setiap tahap pembangunan ramah terhadap anak, membutuhkan komitmen, partisipasi dan peran aktif seluruh pemangku kepentingan dalam pelaksanaan kota layak anak, meliputi pemerintah, dunia usaha dan masyarakat. Sisi yang perlu dipersiapkan kota layak anak secara sistematis, berkait dengan dukungan politis dan anggaran, sedang sisi lain adalah program aksi yang menyangkut perencanaan dan implementasi terhadap pembangunan responsif anak-anak agar betul-betul terwujud. Upaya yang dilakukan untuk meningkatkan pemahaman dan mengarustamaan hak anak masih menghadapi kendala. Oleh karena itu, Ikmal meminta para pemangku kepentingan, Kepala SKPD perlu memperhatikannya. Ditambahkan Ikmal Jaya, Pemkot Tegal memiliki tanggung jawab yang harus dilakukan, agar anak-anak kelak dapat menjadi anak yang berakhlak mulia, berbudi pekerti luhur, sehat jasmani dan rohani, serta tumbuh dan berkembang dengan baik mencapai kedewasaan, berkarakter tangguh, bertanggung jawab dan mandiri. Contohnya, tanggung jawab terhadap pekerja anak. Ikmal mengatakan Pemkot Tegal akan berupaya mengurangi pekerja anak secara bertahap. Karena masih
Bersambung ke halaman 15

kaan Sosialisasi KLA, bahwa Walikota memberikan dukungan penuh pencanangan KLA. Kalau yang memegang kuncinya sudah ngendikan seperti itu, rasanya kita tambah lebih bersemangat, kata Cahyani. Upaya sosialisasi Tegal Menuju KLA, juga gencar dilakukan Bapermas Perempuan dan KB Kota Tegal. Saat ini Cahyani meminta jajarannya di Bapermas Perempuan dan KB ketika datang di rapat apapun untuk dapat mensosialisasikan mengenai KLA kepada masyarakat. Dapat dicontohkan Program Pem-

WARTA BAHARI, Edisi 69/2012

Warta Utama
Perencanaan

Kota Layak Anak

& Ramah Anak

Berikan mereka kasih sayangmu, tapi jangan sodorkan bentuk pikiranmu, Sebab mereka ada alam pikiran tersendiri Patut kau berikan rumah untuk raganya,? Tapi tidak untuk jiwanya,? Sebab jiwa mereka adalah penghuni rumah masa depan, yang tiada dapat kau kunjungi meski dalam mimpi Kau boleh berusaha menyerupai mereka,? Namun jangan membuat mereka menyerupaimu. Sebab kehidupan tidak pernah berjalan mundur, Pun tidak tenggelam di masa lampau Kaulah busur, dan anak-anakmulah? Anak panah yang meluncur.? Sang Pemanah Maha Tahu sasaran bidikan keabadian Dia merentangmu dengan kekuasaan-Nya, Hingga anak panah itu melesat, jauh serta cepat.? Meliuklah dengan suka cita dalam rentangan tangan Sang Pemanah,? Sebab Dia mengasihi anak-anak panah yang melesat laksana kilat, sebagaimana pula dikasihiNya busur yang mantap. (Khalil Gibran, Anakmu Bukan Milikmu)

Oleh: Turah Untung

ukilan syair Khalil Gibran ini menggambarkan betapa dunia anak adalah dunia merdeka, penuh harapan. Hanya saja orang dewasa sebagai perentang busur, sering membidikkan anak panah dalam titik pikiran orang dewasa sebagai sasaran. Bagaimanakah potret anak-anak Indonesia? Atau lebih mengerucut potret anak-anak di kota Tegal? Jika orang dewasa tengah berbicara tentang hakhak anak, pada umumnya mereka lebih banyak terfokus pada aspek legalitas dari anak-anak secara resmi dalam piagam maupun dalam undang-undang. Sudah cukup lama orang dewasa meratifikasi konvensi Persatuan Bangsa-Bangsa (PBB) tentang hak anak. Namun pada kenyata-

annya senjang masih menganga antara subtansi dan ketentuan legal dengan realitas kondisi dan posisi anak dalam kehidupan sosial. Kota Layak Anak (KLA) sebetulnya adalah sebuah jawaban untuk mendekatkan anak dalam partisipasi pembangunan. Walaupun amat sulit untuk melibatkan, paling tidak dengan mendengarkan suara anak ketika dalam proses pengambilan keputusan di segala tingkatan. Menurut Judith Ennew dalam bukunya Anak-Anak Membangun Kesadaran Kritis mengatakan bahwa kebanyakan orang dewasa memiliki kecenderungan merasa was-was, cemas, takut bahkan lebih ekstrem memiliki sikap curiga atau tepatnya waspada berlebih ketika memandang partisipasi anak. Karena orang dewasa meletakkan argumennya bahwa anak-anak harus

dilindungi, atau tafsir melindungi ini memiliki kenyataan lain pembatasan hak anak. Secara konsepsi kota layak anak adalah memberikan tempat proporsional bagi anak dalam akses pembangunan atau kota yang ramah anak. Apa itu Kota yang Ramah Anak? Kota ramah anak adalah kota yang menjamin pemenuhan terhadap hakhak anak. Hak-hak anak tersebut, antara lain: dalam pemenuhan terhadap identitas diri, sebuah kota yang ramah anak harus membuka akses seluas-luasnya bagi anak untuk mendapatkan kemudahan layanan administrasi. Dalam hal ini Pemerintah Kota Tegal telah menjamin anak-anak yang dilahirkan di kota Tegal untuk mendapatkan sertifikat kelahiran gratis.

WARTA BAHARI, Edisi 69/2012

Perencanaan Kota Layak Anak dan Ramah Anak

Warta Utama
tersebut bermain di jalan yang ramai dengan lalu lintas yang sangat membahayakan keselamatan. Perencanaan Kota yang Ramah Anak Bagaimana perencanaan kota yang ramah anak? Menurut UU Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang, perencanaan adalah suatu proses untuk menentukan struktur dan pola ruang. Untuk lingkup perkotaan, pembentukan struktur ruang dilakukan dengan menetapkan hirarki bagi penyediaan ruang publik. Pada skala perkotaan dilayani oleh ruang publik yang disediakan oleh pemerintah kota, yang meliputi: taman kota pada skala metropolitan sampai dengan kota. Pada tingkat lingkungan permukiman (RT/RW) sebaiknya juga tersedia ruang terbuka, berupa lapangan bermain anak dan taman lingkungan. Kota ramah anak adalah yang juga memiliki prasarana pergerakan yang ramah bagi anak. Dalam pengertian ini, anak dapat menggunakan pedestrian dan angkutan umum yang tidak mengancam keselamatan anak. Selain itu, jalan-jalan yang padat dengan lalu lintas dilengkapi dengan jembatan penyeberangan tersedia, atau pembatas pada area-area yang sering dikunjungi anak, seperti taman kota dan sekolahsekolah. Mobilitas anak di dalam kota harus mampu menciptakan rasa aman melalui perancangan kawasan yang melindungi anak dari kejahatan, seperti pengawasan dari orang dewasa setiap saat. Partisipasi dalam proses perencanaan juga perlu melibatkan anak-anak melalui Forum Anak. Anak-anak dapat memberikan kontribusi, kalaupun tidak secara langsung anak memberikan aspirasinya, minimal pemangku kebijakan memiliki sense terhadap aspirasi mereka. Untuk anak-anak yang mendekati remaja, barangkali anak-anak ini telah memiliki pendapat mandiri terkait keinginan maupun visi mereka terhadap arah pembangunan kotanya. Akan tetapi, diperlukan kehatian-hatian untuk menggali aspirasi anak disesuaikan dengan tingkat perkembangan mereka, melalui teknik yang accessible bagi anak. Kota Layak Anak merupakan konsep kota yang mempunyai sistem pembangunan berbasis hak anak. Paling tidak ada enam syarat sebuah kota

Pemenuhan terhadap kesehatan dan jaminan sosial diwujudkan sejak anak di dalam kandungan. Artinya, sang Ibu yang sedang mengandung mendapatkan kesempatan seluasluasnya untuk mengakses layanan kesehatan. Bahkan bagi keluarga, termasuk anak-anak yang ada di kota Tegal berhak mendapatkan layanan kesehatan dasar gratis di Puskesmas. Dengan demikian, sebetulnya melalui program Tegal Sehat, layanan kesehatan dasar mudah didapatkan. Sekolah-sekolah negeri di kota Tegal, meskipun dengan kondisi yang tidak sama kualitasnya, telah memberi akses luas bagi anak-anak untuk mendapatkan pendidikan layak. Akselerasinya terlihat dari adanya program Tegal Cerdas. Kota yang ramah anak jelas mengurangi kemungkinan adanya diskriminasi dalam pendidikan, Pemkot Tegal dalam hal ini melalui program Sekolah Gratis untuk menuntaskan Wajar 12 tahun, bahkan Sekolah Gratis SMA/SMK bagi penduduk miskin. Partisipasi anak untuk mengikuti sekolah semakin tinggi menjadi penting dalam kota yang ramah anak. Anak memperoleh kemungkinan-kemungkinan untuk menyampaikan kebutuhan terhadap layanan pendidikan dan kesehatan yang menjadi haknya. Perencanaan kota memang belum optimal melibatkan anak terutama dalam menentukan arah perencanaan kota. Karena selama ini ada anggapan, bahwa suara anak telah diwakili oleh orang tua mereka. Selain itu, perwakilan anak di lembaga legislatif, selama ini secara formal tidak ada, karena anak tidak memiliki hak pilih. Dalam berbagai rentang kecerdasan anak, perencana kota yang dapat mendekati anak melalui berbagai teknik perencanaan yang disesuaikan. Dalam hal ini, anak dijadikan sebagai salah satu informan dan stake holder bagi arah rencana kota. Di beberapa negara Eropa

mencoba menjajagi pendapat anak mengenai kota mereka dengan mengajak mereka menggambar atau mengekspresikan gagasan mereka terhadap visi kota. Di kota Tegal sendiri, sekarang telah terbentuk Forum Anak Tegal Bahari (FANTRI), sebagai lembaga komunikasi anak untuk membentuk responsi terhadap pembangunan kota Tegal. Sulitnya Menemukan Ruang bagi Anak Rasionalisasi terhadap pemanfaatan ruang kota dalam bentuk efisiensi pemanfaatan karena mahalnya lahan di perkotaan, menyebabkan penyediaan untuk sarana bermain tidak menjadi prioritas. Padahal anak juga memiliki hak beristirahat dan memanfaatkan waktu luang, bergaul, bermain, berkreasi, dan berekreasi. Secara tegas disebutkan UU Perlindungan Anak bahwa pemerintah berperan memberi dukungan terhadap penyediaan sarana dan prasarana ruang publik, misalnya sekolah, lapangan bermain, lapangan olahraga, dan tempat rekreasi. Kebijakan pemerintah kota Tegal dalam hal ini terus berupaya mendorong adanya ruang publik hijau yang dapat digunakan untuk ruang bermain dan dorongan Pemkot Tegal terhadap permukiman baru untuk memberikan ruang publik hijau yang dapat digunakan untuk lapangan bermain anak. Meskipun nantinya ketika digunakan untuk bermain, anak-anak harus bersaing dengan orang dewasa juga menggunakannya untuk berkumpul dan berolahraga. Setidaknya keberadaan ruang publik hijau ini dapat digunakan untuk aktivitas fisik dan mengasah kemampuan bersosialisasi. Meskipun pada kondisi berbeda di permukiman kumuh, anak-anak bermain di berbagai ruang kosong yang tersedia, baik halaman rumah, pinggiran sungai, dan jalan. Tidak jarang, anakanak

WARTA BAHARI, Edisi 69/2012

Warta Utama
dianggap layak anak. Syarat itu antara lain penguatan kelembagaan, hak sipil dan kebebasan anak, lingkungan keluarga dan pengasuhan alternatif, kesehatan dasar dan kesejahteraan, pendidikan dan pemanfaatan waktu luang anak, serta perlindungan khusus. Gambaran paling nyata kota layak anak adalah adanya ketersediaan fasilitas anak di tempat-tempat publik. Bagi

Perencanaan Kota Layak Anak dan Ramah Anak

Foto dari internet

Pemerintah kota Tegal sendiri sebagai kota yang tengah menuju kota layak anak, meskipun belum kentara gambaran sebagai kota layak anak. Sebagaimana dituturkan oleh Dr. Yusqon M.Pd, Pada saat ini untuk mewujudkan kota layak anak, yang perlu dilakukan Pemkot Tegal adalah banyak-banyak melakukan sosialisasi. Instrumentasi melalui Perda sebagai legalitas, operasionalnya membuat program aksi ke publik untuk menyuarakan slogan kota layak anak agar menjadi branded yang mudah diingat dan diikuti. Dukungan komitmen dan sumber daya pemerintah, masyarakat dan dunia usaha mulai diarahkan untuk mewujudkan kota layak anak. Dikaitkan dengan beberapa program pembangunan pemerintah daerah. Barangkali termasuk dukungan komitmen legislatif (DPRD) berupa dukungan politis, dan eksekutif sebagai pemberi dukungan penganggaran. Kemudian, di lapangan harus ada gugus tugas dalam program ini. Sebagai seorang pendidik, Yusqon menuturkan konsep kota layak anak secara aplikatif dapat dilakukan di sekolah, karena tempat ini banyak dilakukan interaksinya dengan anak, melalui peran guru dalam membangun komunikasi yang lebih luas dengan anak didiknya, Guru Wali kelas misalnya dapat

menggunakan waktu istirahat untuk membangun komunikasi intens dengan anak asuhnya, berbicara banyak hal di dalam kelas atau di taman sekolah. Sentuhan artistik dapat pula dibangun dengan warna gedung sekolah yang lebih hidup untuk menumbuhkan atmosfir kreatifitas anak, misalnya untuk ruang perpustakaan dengan setting meja kursi yang menarik ala cafe dan dinding bercat cerah dan bergambar. Hal seperti ini telah ia lakukan di TBM Sakila Kerti yang dikelolanya, dengan melakukan upaya edukasi yang ramah anak. Bahkan ia sengaja memberikan pembelajaran pada anak-anak terminal untuk suka membaca dan melalui kegiatan positif lain. Demikian penegasan dari figur Pendidik yang memiliki motto hidup memberikan perhatian kepada orang lain, maka kita akan bersama mereka. Atau ingin terus berguna bagi orang lain. Sosialisasi kota layak anak telah dilakukan, juga akan dicanangkan sebagai agenda pembangunan kota Tegal sebagai kota menuju kota layak anak. Upaya terlihat nyata melalui spanduk Kota Tegal menuju Kota Layak Anak. Partisipasi perusahaan susu IndoMilk yang memasang spanduk tersebut di jalan utama seperti di perempatan lampu merah Kejambon dan di tempat publik lain seperti hotel. Selain itu pembuatan leaflet juga dilakukan untuk memasyarakatkan dan publikasi kota layak anak. Sosialisasi juga dilakukan ke berbagai lapisan masyarakat. Upaya ini untuk memberikan gambaran nyata potret kota Tegal sebagai kota ramah anak. Kendala dalam tata ruang di kota Tegal memang agak susah mendapat ruang publik yang bisa digunakan anak untuk ajang bermain dan berinteraksi sosial secara nyaman, sokongan atmosfir ruang publik yang ramah anak belum optimal terbentuk, taman-taman kota masih miskin nuansa anak, tak adanya patung-patung hewan yang menjadi kecintaan anak ataupun tersedia fasilitas cuci tangan bagi anakanak, serta tong-tong sampah yang terpisah antara sampah organisanoganis yang mudah dijangkau oleh anak. Anak-anak sulit mencari tempat bermain karena lahan terbatas. Dengan tata ruang terbatas ini terasa kurang ramah anak, Taman Poci misal-

nya yang sedianya dapat menjadi ajang bermain anak sekarang tersita oleh dasaran PKL. Semestinya DPU dan Diskimtaru dapat membangun taman bermain baru atau menjaga yang telah ada, ujar Sujilah, seorang pendidik saat bincang dengan Warta Bahari. Pada bagian lain sebetulnya Pemerintah Kota Tegal telah berusaha membangun komitmen meningkatkan pembangunan berbasis anak. Salah satunya indikator yang paling kelihatan adalah sejumlah program Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak. Melalui sejumlah program ini telah dilakukan, sebetulnya semua komponen merupakan pembangunan ramah anak. Hanya saja, kelemahan kita adalah kegiatan responsi anak ini belum terdokumentasi secara baik, kelemahan kita adalah aspek teradministrasinya kegiatan responsi anak, demikian tegas Siti Cahyani ketika ditemui Warta Bahari saat bertandang ke ruang kerjanya. Hal lain legal formal berupa nota kesepakatan antar pemangku kebijakan untuk mensukseskan kota layak anak belum dilakukan. Nota kesepakatan ini perlu dilakukan agar menjadi komitmen pijakan kebijakan SKPD-SKPD. Salah satunya, agar kegiatan dan programnya berbasis hak anak, dapat dilakukan secara terintegrasi apabila ada nota kesepakatan. Sinergi antara pemerintah, badan usaha, dan masyarakat dalam program pemenuhan hak anak berkelanjutan. Jadi program bukan hanya pendekatan, tetapi menggerakkan semua komponen untuk bergandengan tangan untuk anak, ujar Siti Cahyani. Dalam upaya mempercepat keluarga berkualitas, mempersiapkan dan memelihara kesehatan tumbuh kembang balita, pemerintah kota Tegal telah membentuk sejumlah program bina keluarga, salah satunya Bina Keluarga Balita yang ada di Kelurahan. Bidang Bina Keluarga Balita (BKB) menjadi bagian pos pengembangan balita atau pos daya. Program ini bertujuan bukan hanya untuk meningkatkan keterampilan orang tua, dan keluarga, juga menopang tumbuh kembang anak melalui rangsangan fisik, motorik, kecerdasan, sosial dan sebagainya. Sebagaimana dituturkan Aminudin, seorang petugas Puskesmas Pembantu Debong Kulon, program bina keluarga adalah salah satu bentuk dukungan

10

WARTA BAHARI, Edisi 69/2012

Perencanaan Kota Layak Anak dan Ramah Anak

Warta Utama
tentang perlindungan anak sebagaimana amanat UU Nomor 23 Tahun 2003 tentang Perlindungan Anak," tandasnya. Melalui forum Musrenbang, hendaknya aspirasi anak dapat tertampung, karena pembangunan bukan hanya untuk kepentingan orang dewasa, anak-anak pun memerlukan. Selama ini, perencanaan kota berkesan absen terhadap pemenuhan hak-hak anak. Ada anggapan bahwa hak anak, telah dipenuhi oleh orang tua yang berkewajiban untuk membesarkan dan memelihara mereka. Tidak terkecuali bagi perencana kota yang selama ini berkutat dalam kepentingan publik. Seperti juga Program penyediaan infrastruktur ibu dan anak perlu mendapatkan perhatian, terutama untuk menumbuhkan anak-anak yang sehat dan berkualitas. Disamping itu, akses bagi anak-anak untuk kegiatan rekreasi, bermain, dan lain-lain harus terjamin dalam rencana kota yang ramah anak. Pada prinsipnya kota yang ramah anak adalah kota yang memungkinkan anak untuk menggunakan waktu luangnya secara leluasa bagi pengembangan ekspresinya. Hal ini akan memungkinkan, apabila semua memiliki visi pembangunan yang ramah anak. Kapan kota Tegal dapat dikategorikan sebagai ramah anak? Berpulang pada kesungguhan kita semua. ***

masyarakat yang bisa dikembangkan sebagai penopang kota layak anak. Ia menjelaskan, BKB bertujuan agar keluarga memberikan prioritas utama balitanya agar tercipta keseimbangan pertumbuhan balita dan anak. Orang tua harus menyadari bahwa anak sebagai manusia yang memiliki hak yang harus dipenuhi sesuai konferensi hak anak yang diratifikasi dengan Keputusan Presiden No 36 tahun 1990, dan UU Perlindungan Anak nomor 23 tahun 2002. Ada 4 prinsip yang diakui yaitu: non disikriminasi, prinsip kepentingan terbaik untuk anak, prinsip hak dasar dan kelangsungan hidup anak, dan penghargaan pendapat anak. Pada saat ini kota Tegal masih dalam tahap menuju pratama kota layak anak, sehingga masih harus digenjot lagi untuk membuktikan konsistensi dalam mewujudkan hal-hal yang berkaitan dengan pemenuhan hak-hak anak dan kebutuhan atas anak-anak di Kota Tegal. Guna melihat sejauh mana Kota Tegal mewujudkan Kota Layak Anak sesuai dengan indikator yang ditetapkan, dan mengintegrasikan komitmen dan sumber daya yang ada, antara program dan kegiatan yang telah dilakukan selama ini dalam menjamin terpenuhinya hak anak. Sebetulnya dari sektor pendidikan kota Tegal telah mendukung penuh menuju Kota Layak Anak, dalam hal pendidikan Kota Tegal

telah berhasil menerapkan Wajar 12 tahun, terdapatnya PAUD di seluruh kelurahan di kota Tegal, angka melek huruf sebesar 98,92% menandakan semakin kecil warga Kota Tegal yang buta huruf. Pembangunan berbasis anak telah menyentuh bagi anak-anak miskin melalui program Tegal Sehat dan Tegal Cerdas. Sasaran pembangunan menyangkut pendidikan dan kesehatan ini sejalan dengan misi pemerintah Kota Tegal yakni mewujudkan masyarakat yang cerdas dan sehat sebagai salah satu indikator kebutuhan dasar anak. Menurut Cahyani, KLA bukan hanya mengadakan sumber daya yang memadai, tetapi juga sumber dana pemenuhan infrastruktur, dan ini perlu dukungan SKPD lain. Dirinya menambahkan, sosialisasi yang telah dilakukan perlu ditindaklanjuti dengan pencanangan dan program aksi melalui gugus tugas semua SKPD agar dapat berhasil. Secara hirarkis juga dibentuk forum komunikasi kecamatan layak anak dan kelurahan layak anak, yang digerakkan secara berjenjang dan didukung tokoh masyarakat dan unsur pemuda. Yang terpenting bagaimana memberikan kesempatan masyarakat, utamanya mendorong segenap elemen masyarakat untuk berpartisipasi merumuskan kebijakan pemerintah

Ilustrasi dari internet

WARTA BAHARI, Edisi 69/2012

11

Warta Utama

Forum Anak Tegal


Wadah Untuk Mendengar Aspirasi Anak-Anak Kota Tegal
Anak adalah titipan yang maha kuasa, maka sudah sepantasnya para orangtua wajib memelihara sebagai bentuk kepedulian dan rasa tanggung jawab kepada Tuhan Yang Maha Esa. Anak juga merupakan generasi penerus yang akan menjadi pemimpin di masa yang akan datang.
Oleh : Kafandi

Forum Anak Tegal (FANTRI): sebuah pengakuan eksistensi hak anak

ebagaimana kita ketahui, era modern dan perkembangan teknologi yang cepat, telah berdampak positif dan negatif bagi perkembangan anak. Dampak negatif banyak diterima anak-anak, karena kurangnya perhatian orang tua atau pihak terkait. Oleh karena itu, sudah sepantasnya para orang tua dan pemerintah, wajib memberikan bimbingan dan pengajaran yang baik agar anak bisa tumbuh, sesuai hak dan kewajibannya. Kota Tegal yang memiliki jumlah penduduk lebih kurang 250 ribu jiwa, hampir 40 persennya adalah anakanak. Sesuai dengan peraturan dunia, anak-anak adalah orang yang berusia dibawah 18 tahun. Dengan jumlah yang cukup besar ini, maka pendidikan anak harus menjadi prioritas utama. Pemerintah Kota Tegal sendiri, memiliki program yang cukup bagus bagi pendidikan anak-anak yakni program Tegal Cerdas yang dicanangkan pada tahun 2011 yang lalu. Program ini, menitikberatkan pada pemberian kebebasan bagi anak-anak usia sekolah atau anak usia dini, untuk dapat menikmati layanan pendidikan yang sesuai dengan kemampuan atau berbiaya murah. Bahkan anak dari keluarga tidak mampu, segala biaya pendidikannya digratiskan karena setiap tahun pemerintah menyiapkan anggaran lebih kurang 4,8 milyar rupiah. Dengan adanya program Tegal Cerdas, Pemerintah Kota Tegal telah menunjukkan bukti keseriusannya dalam pengembangan pendidikan ge-

nerasi muda. Namun pemerintah tidak harus fokus pada satu hal saja yaitu sisi akademis namun juga perlu memberi perhatian pada sisi lainnya. Antara lain, nilai moral pada masa anak-anak harus lebih diutamakan, karena setiap anak memiliki pemikiran yang berbeda antara satu dengan yang lainnya. Salah satu langkah awal pembentukan moral dan kreatifitas diri adalah memberikan ruang seluas-luasnya kepada anak untuk berekspresi dalam upaya mengisi pembangunan, khususnya di Kota Tegal. Dalam menyalurkan usulan atau ide kreatif, anak memerlukan wadah yang dikhususkan bagi usia mereka melalui sebuah forum. Menurut Kepala Bidang Pemberdayaan Masyarakat Perempuan dan Anak Badan Pemberdayaan Masyarakat Perempuan dan Keluarga Berencana (BPMPKB), Siti Cahyani, M.Si, Pemerintah Kota Tegal telah membentuk sebuah wadah yang dinamakan Forum Anak Tegal (FAT). Forum memiliki arti dan manfaat yang luas, dimana nantinya anak usia pelajar SMP dan SMA atau dibawah usia 18 tahun akan memiliki tempat penyaluran ide kreatif atau keinginan dalam rangka membangun Kota Tegal. Selain itu Forum Anak Tegal tidak sekedar bagian dari program Kota Tegal sebagai Kota Layak Anak (KLA), sebagaimana tindak lanjut Program Indonesia Layak Anak 2015. Sebelum Forum Anak Tegal terbentuk, keinginan anak-anak kota Tegal memberikan sumbangsih nyata bagi pembangunan dan kemajuan

kota sudah ada sejak 3 tahun lalu. Bahkan sebelum Program KLA tahun 2012 disosialisasikan. Dengan begitu, peran anak dalam pembangunan tidak serta merta muncul di tahun 2012, namun saat itu belum terorganisasi baik, sehingga belum bisa memberikan sesuatu yang berharga. Tetapi pada tahun ini, Forum Anak Tegal akan dikukuhkan sebagai wadah bagi anak-anak dan remaja kota Tegal untuk berprestasi sesuai dengan keinginan dan kemampuannya. Sebelum menapaki lebih lanjut pada sebuah kegiatan berorganisasi. Berbagai program sudah dirancang oleh Pemerintah Kota Tegal yakni dengan menggelar kegiatan latihan dasar (Latsar) kepemimpinan. Latsar sendiri dilaksanakan pada tanggal 25 hingga 26 Juni 2012 dengan bentuk pelatihan kegiatan Out Bound di Obyek Wisata Guci. Melalui pelatihan ini, 50 anak-anak usia pelajar SMP dan SMA digembleng dengan berbagai kegiatan dan diberikan wawasan mengenai pengetahuan berorganisasi, kemandirian, dan tanggung jawab. Hal ini dimaksudkan, agar anak-anak yang mengikuti Latsar Kepemimpinan sudah memiliki bekal yang kuat untuk mengembangkan Forum Anak Tegal di wilayah kecamatan masing-masing. Forum Anak Tegal rencananya akan dibentuk di beberapa wilayah kecamatan dan anak-anak yang sudah mengikuti latsar akan dijadikan koordinator dengan pembinaan dan pengawasan langsung dari Bapermas dan KB Kota Tegal.

12

WARTA BAHARI, Edisi 69/2012

Forum Anak Tegal: Wadah Untuk Mendengar Aspirasi Anak-Anak Kota Tegal

Warta Utama

Perkembangan Forum Anak Mengenai Forum Anak, Pemerintah Kota Tegal terus meningkatkan kegiatan-kegiatan Forum Anak yang ada. Melalui forum anak, akan dilakukan sosialisasi di kelurahan-kelurahan dan kecamatan dengan tujuan agar masyarakat tahu dan memiliki mindset sama mengenai hak dan perlakuan anak. Forum anak yang didirikan dua tahun lalu, tidak boleh dibiarkan begitu saja. Perlu pembinaan secara terus menerus. Apalagi pengurus Forum Anak dengan berkembangnya waktu sudah berinteraksi dengan Forum Anak dari kabupaten/kota lain. Di tingkat Provinsi juga diikutsertakan di Forum Anak Provinsi serta mengikuti reorganisasi forum anak tingkat provinsi. Mereka jadi bertambah wawasan, akhirnya memiliki ide-ide bagaimana mengaktifkan, menggiatkan forum anak dan untuk mengeksiskan forum anak. Salah satunya seperti saat jam pelajaran kosong usai pembagian raport dan pembagian ijazah, forum anak mengadakan kegiatan. Mereka berfikir mengapa tidak bermain bersama teman-teman di SLB, dimana mereka adalah anak-anak berkebutuhan khusus. Tercetusnya ide semacam itu, bukanlah ide yang ditahan-tahan. Begitu mereka ingin kesana mendadak, ya akhirnya kita ikuti, kata Cahyani. Kegiatan itu mendapat respon yang positif dari guru SLB yang kemudian mengikutsertakan anak yang berkebutuhan khusus dan memiliki potensi untuk duduk dalam kepengurusan di Forum Anak, sehingga kemudian diikutkan dalam LDK Forum Anak di Waduk Cacaban pada 27 Juni 2012 lalu. Dalam kepengurusan Forum Anak terdapat 50 anak perwakilan masingmasing sekolah dan panti asuhan. Dari jumlah itu nantinya dipilih sebanyak 15 anak untuk menjadi pengurus forum anak wilayah Kota Tegal. Sebelumnya 50 anak tersebut dipilah-pilah dalam empat kecamatan berdasarkan tempat tinggalnya. Sisanya yang tidak menjadi pengurus kota akan dipilih menjadi pengurus kecamatan masing-masing 5 anak dan satu koordinator tiap kelurahan. Bapermas Perempuan dan KB melakukan fasilitasi untuk pembentukan pengurus tingkat kelurahan dan kecamatan. Harapannya di tingkat kelurahan ada anak-anak yang masuk menjadi pengurus lagi. Kalau ada anak yang berkebutuh-

an khusus ikut dalam kepengurusan Forum Anak, merupakan satu grade point bagi sebuah kota. Itu menurut Child Fund milik Persatuan BangsaBangsa, tutur Cahyani. Forum Anak bisa diikutkan dalam rapat pembangunan tingkat kelurahan. Anak bisa ikut sehingga bisa mengutarakan perlu dibangun apa di kelurahan. Mungkin tingkat selanjutnya tidak mengikuti rapat, tetapi suaranya dapat dibawa sampai tingkat kota dalam musyawarah pembangunan. Konsentrasi anak di kota Tegal banyak di kecamatan Tegal Timur. Sementara di Margadana dan Tegal Selatan belum banyak yang menunjukkan eksistensinya. Sementara pilot project kelurahan ramah anak dan sekolahan ramah anak akan dikonsentrasikan di Tegal Selatan dan Margadana. Kita fasilitasi sampai tingkat kelurahan. Anakanak dari kecamatan Margadana dan Tegal Selatan, karena sekolah yang dimintai data tidak mengirim, maka kita datangi anak panti asuhan yang tinggalnya di sana. Atau anak yang bersekolah di kecamatan lain dimasukkan ke koordinator sesuai dengan kecamatan mereka tinggal, jelas Cahyani. Disebutkan Cahyani, Forum Anak pada 2013 merencanakan kegiatan Jambore anak-anak tingkat kelurahan di Alun-Alun Kota Tegal. Setiap kelurahan mengirimkan satu kelompok, sehingga ada 27 kelompok. Kegiatan yang dilaksanakan adalah lomba-lomba dan outbond. Tujuannya untuk ajang mempersatukan dan silaturahmi antar anggota Forum Anak. Sebagai langkah keseriusan Pemerintah Kota Tegal mengkondisikan Forum Anak Tegal sebagai bagian suksesnya program Tegal Kota Layak Anak, te-

lah dibuktikan dengan rencana pembuatan Nota Kesepahaman dan Pakta Integritas antara Walikota dengan SKPD di lingkungan Pemerintah Kota Tegal dan lembaga atau instansi lain di luar Pemerintah. Melalui Pakta Integritas ini, seluruh instansi pemerintah atau non pemerintah diberikan tanggung jawab melakukan pembinaan anak-anak di kota Tegal. Peran-peran tersebut dijabarkan dalam kegiatan di masing-masing SKPD yang berorientasi pada tanggung jawab pembinaan kepada anak. Saat ini beberapa SKPD di jajaran Pemerintah Kota Tegal sudah melaksanakan kegiatan tersebut, seperti yang dilakukan Dinas Sosial dalam kegiatan pembinaan anak jalanan; Kantor Kesatuan Kebangsaan Politik dan Perlindungan Masyarakat dengan kegiatan pemberantasan Narkoba; Dinas Pendidikan serta dinas-dinas lainnya yang masih memiliki fungsi dan peranan terhadap pembinaan anak. Namun dalam pencapaian Kota Tegal sebagai Kota Layak Anak yang rencananya akan dicanangkan sebelum akhir 2012 ini, program yang dilakukan oleh Pemerintah Kota Tegal bukan hanya sekedar kegiatan rutin saja, tetapi lebih pada pencapaian hasil yang sesuai dengan keinginan anak itu sendiri. Forum Anak Tegal diharapkan bisa menjadi jembatan kuat menyalurkan segala masalah dan keinginan anak, agar bisa direspon positif oleh lembaga-lembaga pengambil kebijakan. Pada saatnya nanti, program yang akan dilakukan Pemerintah Kota Tegal, tidak hanya menyentuh keinginan masyarakat dewasa saja, tetapi juga anak-anak. ***

Berbagi keceriaan dengan anak-anak berkebutuhan khusus

WARTA BAHARI, Edisi 69/2012

13

Warta Khusus

Pemkot Tegal Raih Opini

Wajar Tanpa Pengecualian

Penyerahan berkas Laporan Hasil Pemeriksaan (LHP) Badan Pemeriksa Keuangan Republik Indonesia (BPK RI) ke Pemerintah Kota Tegal

Gantungkanlah cita-citamu setinggi langit, begitulah kirakira pesan yang sering disampaikan orang-orang tua kepada anak-anaknya. Cita-cita adalah suatu impian dan harapan seseorang akan masa depannya, dalam meraih citacitanya dibutuhkan kerja keras, mungkin ini analogi yang cocok bagi Pemerintah Kota Tegal, dalam mendapatkan Opini Wajar Tanpa Pengecualian.
Oleh: Tomi, A.Md

emerintah Kota Tegal berhasil meraih Opini Wajar Tanpa Pengecualian terkait penyampaian Laporan Keuangan Pemerintah Daerah tahun 2011 (Rabu, 9/5). Opini Wajar Tanpa Pengecualian (WTP) atau Unqualified Opinion artinya laporan keuangan telah disajikan secara wajar dalam semua hal yang material, posisi keuangan (neraca), hasil usaha atau laporan realisasi anggaran, Laporan Arus Kas sesuai dengan prinsip akuntansi yang berlaku umum. Penjelasan laporan keuangan juga telah disajikan secara memadai, informatif dan tidak menimbulkan penafsiran yang menyesatkan. Memang, bukan hal yang mudah mendapatkan opini WTP ini. Agar Laporan Keuangan Pemerintah Daerah (LKPD) dapat memperoleh opini WTP dari BPK RI,

Pemerintah Daerah harus menerapkan suatu sistem pengendalian intern yang kuat untuk menyakinkan tercapainya proses dan hasil kegiatan yang dinginkan, dengan penilaian risiko serta pemilihan metode tata kelola yang tepat, yang mampu meyakinkan dapat dikendalikannya proses dan diperolehnya hasil kegiatan yang mampu meningkatkan kegunaan dan keandalan informasi baik keuangan dan non keuangan. Dengan Pemkot Tegal telah berhasil meraih hal yang dicita-citakan, yakni WTP dari BPK RI, karenanya Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (Kemenpan RB), memasukkan Kota Tegal dalam wilayah zona integritas dan bakal dijadikan Wilayah Bebas Korupsi (WBK).

14

WARTA BAHARI, Edisi 69/2012

Pemkot Tegal Raih Opini Wajar Tanpa Pengecualian

Warta Khusus
Sambungan dari halaman 7

Seperti yang disampaikan Walikota Tegal, Ikmal Jaya dalam konferensi pers bersama wartawan media cetak, elektronik dan TV di Saung Strawbery, seusai memperoleh opini WTP bahwa Kemenpan RB akan secara terus menerus memantau dan menilai kinerja Pemkot Tegal dalam kurun waktu 6 bulan, terhitung sejak Maret 2012 lalu. Sehingga kurang lebihnya bulan Agustus, apabila lolos penilaian, maka Kota Tegal ditetapkan sebagai WBK. Jajaran Pemkot Tegal patut bangga karena menurut Ikmal, semua ini merupakan hasil kerja keras seluruh pihak, terkait Laporan Hasil Pemeriksaan (LHP) BPK RI. Ada beberapa hal yang menarik untuk dicermati ketika Pemkot Tegal berhasil meraih opini WTP. Pertanyaan yang muncul adalah, kenapa Pemkot bisa mendapatkan opini WTP, padahal di Kota Tegal masih ada permasalahan Pasar Pagi dan Tunjangan Komunikasi Informasi (TKI) anggota DPRD. Terkait dengan pertanyaan diatas, Walikota Ikmal Jaya menjelaskan bahwa pada 2010 lalu, kedua item yakni permasalahan pasar pagi dan tunjangan komunikasi informasi tersebut belum dimunculkan dalam laporan keuangan, sehingga LHP-nya Wajar Dengan Pengecualian (WDP). Namun setelah ketetapan hukumnya ada, Pemkot memunculkannya dalam laporan keuangan. Hal inilah yang membuat Pemkot meraih WTP. Sebab dalam laporan sudah tidak ada lagi yang disembunyikan. Ikmal menambahkan jika arahan tersebut juga tidak lepas dari bimbingan BPK. Syarat Zona Integritas Dengan diraihnya opini WTP, semakin memantapkan Kota Tegal sebagai zona integritas oleh Kemenpan RB. Dimana syarat untuk menjadi itu antara lain nilai LAKIP-nya minimal C, dan Kota Tegal memperoleh nilai sudah CC atau C+. Kemudian laporan keuangannya harus WDP, sedang Kota Tegal telah WTP serta seluruh aparaturnya menandatangani Pakta Integritas. Semua persyaratan telah terpenuhi, sehinga dalam waktu 6 bulan sejak bulan Maret lalu, Pemkot akan dinilai dan dipantau. Penilainya dari berbagai unsur, mulai Kemenpan RB, KPK, BPK, lembaga independen termasuk Ombudsman. Jika itu lolos maka Kota Tegal akan ditetapkan sebagai Kota

dengan Wilayah Bebas Korupsi (WBK). Penilaian tidak hanya berhenti disitu, namun akan dilanjut hingga akhirnya bisa ditetapkan menjadi Wilayah Bersih dan Melayani (WBM). Apabila sudah WBM, maka Kota Tegal menjadi percontohan bagi daerah-daerah lain di Indonesia. Pemkot Tegal juga telah melakukan penandatangan pakta integritas yang telah ditandatangani seluruh aparatur pemerintah pada bulan Maret 2012 lalu. Isinya antara lain dalam kinerjanya patuhi peraturan perundang-undangan yang berlaku. Tidak akan laksanakan KKN, serta mempertanggungjawabkan atas pelaksanaan tugasnya. Mengenai opini WTP, itu menunjukkan ketaatan pemerintah daerah dalam pengelolaan keuangannya. Jadi Pemkot secara materi dianggap taat, mulai dari penetapan APBD yang tepat waktu. Laporan keuangannya juga demikian, informasi ke masyarakat terkait laporan keuangannya juga tepat waktu. Saat audit pendahuluan BPK, semua SKPD cepat dalam menyediakan data. Audit yang dilakukan oleh BPK ada 2, yakni pendahuluan dan audit. Dan diantara atau di tengah-tengah waktu antara pendahuluan dan audit, inspektorat harus membuat review. Dan setelah audit, sepekan kemudian berdasarkan review tersebut Inspektorat menyelesaikan tugasnya. Ini semua jadi catatan penilaian-penilain itu. Jadi secara materi Pemkot sudah sangat memenuhi syarat standar akuntansi pemerintah. ***

Warta Utama
Tegal Kota Layak Anak: Komitmen Pemerintah Kota Tegal Melindungi Hak-Hak Anak
banyaknya pekerja anak dibawah umur yang dieksploitasi oleh perusahaan-perusahaan. Kemudian anak tersebut akan diberdayakan dan dilindungi sehingga mendapatkan hak-haknya dengan baik. Mengenai anak yang dieksploitasi dengan pekerjaan, kita akan kurangi secara bertahap. Jika saat ini ada pekerja di bawah umur, nantinya berkurang secara bertahap. Tidak mungkin langsung seketika karena perusahaan belum siap dan anak juga belum siap, karena masalah pekerjaan ini bukan sesuatu yang gampang, ungkap Ikmal Jaya. Dalam aturan, anak dibawah umur dilarang untuk bekerja. Namun ada perbedaan umur anak antara UU Perlindungan Anak dengan UU Ketenagakerjaan. Minimal pekerja untuk UU Perlindungan Anak adalah 18 tahun sedangkan UU Ketenagakerjaan adalah 16 tahun. Dengan perlakuan hak dan kewajiban pekerja di bawah umur berbeda dibandingkan dengan pekerja dewasa, tutur Ikmal Jaya. Hingga saat ini Pemkot Tegal sudah banyak memperhatikan apa yang menjadi hak anak dari umur 0-18 tahun. Sementara jika masih ada anak-anak yang dieksploitasi, baik untuk pekerjaan atau dieksploitasi oleh hal-hal yang tidak baik, Pemkot Tegal akan berusaha untuk melindunginya. Sehingga anak akan mendapatkan hak-hak mereka seperti pendidikan, kesehatan, kesempatan bermain serta hak-hak lainnya. ***

Segenap Redaksi

Warta Bahari
mengucapkan

Selamat Hari Raya

Idul Fitri

1 Syawal 1433 H.

Mohon maaf lahir dan batin

WARTA BAHARI, Edisi 69/2012

15

Warta Khusus
Pariwisata merupakan salah satu daya tarik suatu wilayah, demikian juga di Kota Tegal. Dengan adanya daya tarik wisata, Kota Tegal memiliki nilai lebih dibanding daerah sekitarnya. Daya tarik wisata yang ada di Kota Tegal diantaranya wisata belanja seperti Pasar Pagi, Pasar Malam serta Mal-Mal yang selalu ramai dikunjungi masyarakat kota Tegal dan kota-kota di sekitarnya. Ada juga wisata edukasi atau sejarah berupa bangunanbangunan bersejarah seperti Kantor Pos, Monumen Yos Sudarso, Stasiun Kota, Gedung Birau, Gedung Lanal dan Monumen Bahari. Wisata Kuliner yang mampu menjadi daya tarik wisatawan untuk berkunjung ke kota Tegal melalui kuliner-kuliner dengan citarasa khas Kota Tegal. Beberapa kawasan kuliner yang layak dikunjuangi antara lain Tegal Laka-laka, Pasar Senggol, Pokanjari dan Kafe-kafe atau resto yang tersebar di Kota Tegal.
Oleh: Roniyanto N, A.Md

Menilik Kalender

Wisata Religi di Kota Tegal


rahan di kecamatan Margadana Kota Tegal. Hal itu dimaksudkan sebagai langkah awal dari berbagai aktivitas yang akan dilakukan oleh warga Kota Tegal. Ritual ini memang sudah menjadi tradisi atau adat masyarakat yang sebagian besar berprofesi sebagai petani. Sedekah bumi dilakukan sebagai wujud syukur masyarakat terhadap hasil alam yang mereka peroleh, serta bentuk doa agar masyarakat terhindar bencana. Dalam ritual sedekah bumi biasanya ada nasi tumpeng dikelilingi lauk-pauk atau ambeng yang disediakan untuk siapapun yang ikut merayakan dengan cara berebut ambeng. Menurut cerita, kenapa ambeng itu tidak dibagi rata karena dulu ada kejadian dalam ritual tersebut. Dikisahkan dulu sekelompok penghuni di Margadana orangnya gundul-gundul. Ketika sedang melaksanakan ritual sedekah bumi, ambeng yang akan dibagikan itu direbut oleh para orang gundul tersebut. Sehingga nasinya berceceran kemana-mana. Dan masyarakat yang tidak mendapatkannya memunguti nasi yang tercecer tersebut. Nasi tersebut pada jaman dahulu dikatakan bisa menyembuhkan penyakit. Hingga sekarang jika perayaan sedekah bumi dilaksanakan, ketika ambeng sudah dikeluarkan masyarakat sekitar seperti kesurupan oleh orang gundul-gundul itu. Sehingga secara sepontan pasti ambeng direbut dan nasinya berserakan kemana-mana. Dan nasi tersebut juga dipercaya bertuah. Pawai Rolasan Kemudian ada Pawai Rolasan yang dilaksanakan umat Islam pada tanggal 12 bulan Robiul Awal untuk memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW. Pawai ini digagas oleh KH Muhklas, salah satu tokoh agama di Kota Tegal pada zaman perjuangan. Rolasan itu sendiri berasal dari bahasa Jawa yang berarti Duabelasan atau tiap tanggal 12. Maksudnya adalah peringatan kelahiran Nabi Muhammad SAW yang jatuh pada tanggal 12 Rabiul Awal atau Maulud.

berisi sesaji berupa kepala kerbau, buahbuahan, minuman ringan dan makanan. Pawai diikuti ratusan peserta mulai anakanak hingga dewasa dan dimeriahkan atraksi drumband, balo-balo, rebana, buraq, organ tunggal dan kereta kelinci. Rombongan biasanya melalui rute jalan Brawijaya, jalan Blanak, jalan Piere Tendean, jalan S Parman, jalan Proklamasi, jalan Veteran, jalan A Yani, jalan KH Man-

selain semua wisata tersebut, ada juga kegiatan ritual keagamaan dan budaya atau dikenal dengan sebutan wisata religi. Wisata religi bisa diartikan sebagai kegiatan wisata ke tempat yang memiliki makna khusus bagi umat beragama, biasanya berupa tempat ibadah, makam ulama atau situs-situs kuno yang memiliki kelebihan. Wisata Budaya dan religi di Kota Tegal antara lain Sedekah Laut, Pawai Rolasan, Kirab Toa Pe Kong, Khaul Hadad dan Sedekah Bumi. Sedekah Laut Sedekah Laut sudah lama menjadi tradisi masyarakat pesisir/nelayan di Kota Tegal pada kalender jawa bulan Suro atau bulan Muharram kalender Islam. Sedekah laut merupakan ungkapan rasa syukur nelayan di Kota Tegal kepada Tuhan yang Maha Esa karena telah diberi rezeki tangkapan ikan yang bagus tiap tahunnya dan ke depan berharap diberi hasil lebih baik, serta keselamatan saat melaut. Kegiatan sedekah laut merupakan kegiatan yang dinantikan nelayan. Kegiatan ini menjadi ajang mempersatukan nelayan. Sehari sebelum upacara larung sedekah laut, acara dimeriahkan dengan pawai ancak dari pelabuhan menuju balai kota. Ancak sendiri berupa rumah-rumahan

syur dan finish di Pendapa Ki Gede Sebayu, Balai Kota Tegal. Perayaan larung sesaji laut tersebut merupakan puncak dari tradisi perayaan sedekah laut yang diadakan rutin setahun sekali dan selalu dimeriahkan dengan berbagai kesenian lokal seperti tarian balobalo, rolasan, serta toa pek kong, jaipong, dan pagelaran wayang golek. Perayaan larung sedekah laut tersebut berlangsung selama dua hari untuk menghibur masyarakat umum terutama para nelayan di wilayah Kota Tegal yang berjumlah sekitar 12.000 orang. Selain sebagai ungkapan rasa syukur atas karunia yang diberikan Tuhan, tradisi sedekah laut juga sebagai ajang silaturahmi serta mempererat kerukunan antar nelayan. Karena selama ini para nelayan jarang bertemu dan berkumpul bersama sebab keseharian mereka lebih banyak dilakukan di tengah laut mencari ikan. Sedekah Bumi Selanjutnya adalah acara rutin tahunan Sedekah Bumi yang digelar setiap Bulan Sura kalender Jawa di beberapa kelu-

16

WARTA BAHARI, Edisi 69/2012

Menilik Kalender Wisata Religi di Kota Tegal

Warta Khusus
Islam yang memiliki kharisma. Kedatangan beliau untuk berdakwah di kota Tegal menjadi berkah tersendiri bagi masyarakat Kota Tegal. Hingga akhir hayatnya Habib Muhammad bin Thohir al Hadad berdakwah di kota Tegal dan dimakamkan di kompleks pemakaman Kauman (Makam Al Haddad) yang terletak di Kelurahan Kraton, Tegal Barat. Setiap bulan Syaban diadakan Khaul untuk mengenang Habib Muhammad bin Thohir al Hadad. Habib Muhammad bin Thohir Al Haddad (1838-1885) dikenal sebagai ulama yang dermawan. Apabila berkunjung ke sebuah kota, bukan beliau yang menjadi tamu, tetapi justru yang dikunjunginya yang menjadi tamunya dengan menjamu mereka. Habib Muhammad adalah cucu Habib Abdullah bin Alwi Al Haddad, Shohib Ratib; lahir di Gaidun, Hadramaut, Yaman pada tahun 1838 M. Beliau belajar agama pada kakeknya dan ulama Hadramaut, hingga dikenal sebagai ulama besar. Dalam perjalanan hidupnya, Habib Muhammad juga sukses sebagai saudagar. Bila berkunjung ke suatu tempat, beliau membawa 40 pembantunya untuk memikul berbagai keperluan yang digunakan menjamu penduduk setempat. Ketika berumur 47 tahun, beliau bersama dua anaknya berkunjung ke Indonesia. Selama 45 hari, beliau berdakwah dan berdagang di berbagai kota. Namun kemudian beliau jatuh sakit dan meninggal di kota Tegal pada 18 Rajab tahun 1885 M. Beliau dimakamkan di pemakaman Kauman, yang kelak disebut Makam Al Haddad. Sedangkan kedua anaknya, yakni Habib Alwi bin Muhammad Al Haddad (1299 H- 1373 H) dimakamkan di Kramat, Empang, Kota Bogor dan adiknya Al-Habib Husein bin Muhammad Al Haddad (1302 H-1376 H) sebagian besar hidupnya dihabiskan untuk berdakwah di Tuban dan Jombang, Jawa Timur, tetapi pada akhir usianya, beliau dimakamkan di samping makam ayahandanya di kota Tegal. Upacara-upacara keagamaan dan budaya ini ke depan akan menjadi potensi-potensi lokal yang bisa diangkat, jika mampu dikelola dengan baik oleh masyarakat dan pemerintah kota Tegal. Dengan pengelolaan berbagai potensi wisata yang ada, diharapkan bisa menjadi daya tarik bagi wisatawan dari luar kota untuk mengunjungi Kota Tegal sehingga Kota Tegal nantinya bisa menjadi sebuah kota tempat tujuan wisata. ***

Kegiatan yang dilaksanakan rutin setiap tahun ini biasanya berlangsung meriah. Antusias masyarakat untuk meramaikan malam Maulid Nabi Muhammad SAW dari tahun ke tahun juga terus meningkat. Terbukti dengan diikuti oleh beberapa peserta pawai yang berasal dari luar kota Tegal seperti, Pemalang, dan kabupaten Tegal. Setiap rute yang dilewati peserta pawai, selalu dipadati masyarakat yang ingin menyaksikan langsung acara tersebut. Rombongan peserta pawai berangkat dari Alun-alun Kota Tegal. Setelah itu, peserta melalui rute jalan KH Dahlan - RA Kartini - Pangeran Diponegoro - Ahmad Yani - Setia Budi - Kaligung, dan berakhir di Masjid KH Mukhlas kelurahan Panggung. Dalam kegiatan itu, para peserta menampilkan sejumlah atraksi, seperti marching band, rebana, pawai obor, calung dan sebagainya. Perayaan Sejit Kong Co Ceng Gwan Cin Kun di Klenteng Tek Hay Kiong Perayaan Sejit Kong Co Ceng Gwan Cin Kun adalah upacara yang dilakukan etnis Tionghoa. Sejit itu hari besar. Ceng Gwan Cin Kun merupakan dewa yang membersihkan hawa jahat. Dewa ini diarak atau dikirab bersama dewa lainnya untuk mengusir kejahatan di Kota Tegal dan muka bumi atau sebagai ruwat bumi. Sejit merupakan acara perayaan untuk Dewa Ceng Gwan Cin Kun. Ruwatan ini dilaksanakan setiap tahun pada 23 bulan 5 penanggalan Imlek. Kegiatannya melalui gelar upacara seremoni budaya gotong Toa Pe Kong, yang sudah berlangsung selama ratusan tahun di Kota Tegal. Kota Tegal merupakan daerah yang melahirkan Tek Hay Cin Jin. Gelar Cin Jin atau manusia sejati didapat di Kota Tegal. Karena itu Kota Tegal dinyatakan sebagai Dung Tian Fu Tie (tanah kemakmuran). Di Jawa hanya ada 2 tanah kemakmuran, yakni Tegal dan Banyuwangi. Dengan

adanya Tek Hay Cin Jin, dibangunlah Klenteng Tek Hay Kiong di kota Tegal. Ini merupakan sejarah yang terjadi pada zaman kekaisaran dulu. Disebelah kanan Tek Hay Cin Jin ada Malaikat Bumi dan sebelah kirinya Ceng Gwan Cin Kun/Han Guang Ta. Han itu artinya mengandung, sedangkan Guang Sinar dan Ta artinya besar. Jadi Han Guang Ta adalah sinar pencerahan yang sangat besar. Sehingga Ceng Gwan Cin Kun merupakan dewa yang membersihkan hawa jahat. Perayaan Sejit Kong Co Ceng Gwan Cin Kun merupakan kegiatan rutin tahunan, diikuti 34 utusan dari klenteng se Indonesia Seperti Semarang, Surabaya, Bandung, Jakarta dan lainnya. Mereka mengarak atau mengirab Kong Co di sepanjang Jalan Veteran dan A Yani. Sebelum dilaksanakan kirab, sebelumnya sekitar pukul 18.00 WIB dilakukan sembayang tujuh bintang di altar.

Untuk memeriahkan perayaan ini, penyelenggara menghadirkan Tangsin, yakni atraksi menegangkan yang dilakukan oleh 4 orang anggota Tangsin. Atraksi yang dipertunjukkan adalah berjalan diatas bara api sepanjang kurang lebih 9 meter. Kemudian para anggota Tangsin berdiri dan duduk dengan tumpuan bilah-bilah pisau tajam yang dipasang pada tandu. Diharapkan dengan gelaran tersebut, hawa jahat yang ada di Kota Tegal dan muka bumi dapat disingkirkan sehingga semua umat dapat hidup dengan damai dan rukun. Jumlah kejahatan di muka bumi juga semakin bekurang. Khaul Haddad Kompleks Makam Al-Haddad juga salah satu tempat di Kota Tegal yang banyak menarik umat Islam. Kebanyakan mereka yang mendatangi tempat ini bertujuan berziaroh ke makam Habib Muhammad bin Thohir al Hadad. Beliau adalah tokoh

WARTA BAHARI, Edisi 69/2012

17

Pendidikan

Meningkatkan Hasil Belajar Matematika


Melalui Strategi Pembelajaran Gabungan Dua Kekuatan (The Power of Two) di SMP N 10 Tegal

Siswa-siswi tengah melakukan kegiatan strategi pembelajaran gabungan dua kekuatan (The Power of Two)
erdasarkan fakta tersebut maka penulis melakukan beberapa analisa awal atas fakta tersebut, antara lain: kurangnya minat siswa dalam memperhatikan penjelasan guru tentang himpunan; siswa kurang berani untuk menanyakan hal-hal yang belum diketahui mengenai materi pelajaran; tingkat penguasaan materi pelajaran himpunan masih rendah; kurangnya siswa dalam latihan menyelesaikan soal-soal; kurangnya bimbingan kepada siswa yang mengalami kesulitan; penjelasan yang disampaikan guru kurang sistematis; motivasi guru kurang membangkitkan minat siswa untuk menanyakan hal-hal yang belum diketahui mengenai materi pelajaran; guru dalam memberikan tugas latihan kurang memadai. Penulis selanjutnya melakukan penelitian mengenai hal ini dengan menyodorkan rumusan masalah: Apakah Strategi Pembelajaran Gabungan Dua Kekuatan (The Power of Two) dapat meningkatkan hasil belajar matematika pada materi Himpunan siswa kelas VII C semester 2 SMP Negeri 10 Tegal tahun 2012? Adapun tujuan penelitian ini adalah: Untuk meningkatkan hasil belajar matematika pada materi Himpunan melalui Strategi Pembelajaran Gabungan Dua Kekuatan (The Power of Two) siswa kelas VII C semester 2 SMP Negeri 10 Tegal tahun 2012.

Pada pembelajaran matematika di kelas VII C SMP N 10 Tegal, ditemukan kurangnya keaktifan siswa dalam menyelesaikan soalsoal matematika khususnya materi himpunan. Hal ini mengakibatkan nilai ratarata kelas menjadi rendah. Dari nilai hasil belajar 32 siswa kelas VII C nilai rataratanya adalah 44.84 dengan perincian, yang mendapat nilai diatas tuntas atau sama dengan KKM (KKM Matematika = 70) hanya 11siswa (34 %), sisanya masih dibawah KKM. Kebanyakan siswa di baah KKM (66 %) belum dapat menyelesaikan soal pada materi himpunan.
Oleh : Sugiharini, M.Pd.*)

Strategi Pembelajaran Gabungan Dua Kekuatan (The Power of Two) Strategi Pembelajaran Gabungan Dua Kekuatan (The Power of Two) dilakukan untuk meningkatkan belajar kolaboratif dan mendorong kepentingan dan keuntungan sinergi dari dua kekuatan, karena itu dua kepala tentu lebih baik daripada satu. (Silberman,2001:153). Prosedur Strategi Pembelajaran Gabungan Dua Kekuatan (The Power of Two) dilakukan dengan cara-cara berikut: 1. Berilah peserta didik satu atau lebih pertanyaan yang membutuhkan refleksi dan pikiran. 2. Mintalah peserta didik untuk menjawab pertanyaan sendiri-sendiri. 3. Setelah mereka melengkapi jawabannya, bentuklah kedalam pasangan dan mintalah mereka untuk berbagi (sharing) jawabannya dengan yang lain. 4. Mintalah pasangan tersebut membuat jawaban baru untuk masing-masing pertanyaan dengan memperbaiki respon masing-masing individu. 5. Ketika semua pasangan selesai menulis jawaban baru, bandingkan jawaban dari masing-masing pasangan kepasangan yang lain. Subyek penelitian adalah siswa SMP Negeri 10 Tegal Kelas VII C Semester 2 tahun 2012 dengan jumlah 32 siswa yang

18

WARTA BAHARI, Edisi 69/2012

Meningkatkan Hasil Belajar Matematika

Pendidikan
Melalui evaluasi terhadap pembelajaran siklus I dan siklus II ternyata menunjukkan hasil yang lebih baik. Sesuai dengan kajian teori bahwa Strategi Pembelajaran Gabungan Dua Kekuatan (The Power of Two) dilakukan untuk meningkatkan belajar kolaboratif dan mendorong kepentingan dan keuntungan sinergi dari dua kekuatan, karena itu dua kepala tentu lebih baik daripada satu sehingga terbukti bahwa Strategi Pembelajaran Gabungan Dua Kekuatan (The Power of Two) dapat meningkatkan hasil belajar matematika materi himpunan siswa kelas VII C semester 2 SMPN 10 Tegal tahun 2012. Pada siklus I diperoleh hasil belajar siswa dengan rata-rata nilai 71.78, dan terdapat 18 siswa atau 56% tuntas dan 14 siswa belum tuntas atau 43%. Pada siklus II diperoleh rata-rata nilai hasil belajar siswa sebesar 76.56, dan 23 siswa tuntas atau 72% dan 9 siswa belum tuntas atau 28%. Melalui penelitian tindakan kelas ini dapat disimpulkan bahwa Strategi Pembelajaran Gabungan Dua Kekuatan (The Power of Two) dapat meningkatkan hasil belajar matematika materi himpunan siswa kelas VII C semester 2 SMPN 10 Tegal tahun 2012. Untuk meningkatkan hasil belajar siswa guru atau peneliti diharapkan lebih meningkatkan keterampilan mengelola sistem pembelajaran di kelas dengan strategi yang variatif dan inovatif. *** DAFTAR PUSTAKA

terdiri 12 siswa laki-laki dan 20 siswa perempuan. Alat Pengumpulan Data yang digunakan adalah dengan tes yaitu untuk mengukur hasil belajar siswa. Sumber data dalam penelitian ini berupa nilai hasil belajar siswa (tes tertulis) siswa kelas VIIC Semester 2 pada siklus I dan siklus II. Teknik pengumpulan datanya melalui tes tertulis. Tes digunakan untuk mengetahui dan mengukur seberapa besar hasil belajar matematika siswa, mengukur keberhasilan dan efisiensi pembelajaran yang dilakukan. Tes dilakukan pada akhir pembelajaran siklus I dan siklus II. Indikator Hasil Belajar siswa: (a) nilai rata-rata evaluasi tiap siklus yang dihasilkan minimal 70 ; (b) siswa mencapai nilai lebih atau sama dengan 70 sebanyak 70% dari jumlah siswa dalam kelas. Desain penelitian ini menggunakan Kemmis dan Taggart dengan tahapan perencanaan, tindakan dan pengamatan serta refleksi untuk setiap siklus. Hasil Penelitian 1. Siklus I Berdasarkan tahap perencanaan yang telah disiapkan, selanjutnya peneliti melaksanakan kegiatan pembelajaran yaitu melaksanakan tindakan, pengamatan serta mengadakan ulangan harian. Pada awal pelajaran peneliti membuka pelajaran, menanyakan materi pelajaran pertemuan yang lalu, kemudian menanyakan kesiapan pembelajaran yang akan dipelajari pada kegiatan ini. Dan pada saat kegiatan pembelajaran, siswa tampak antusias, aktif hingga akhir siklus I. Grafik distribusi frekwensi hasil belajar siswa siklus 1 bisa dilihat berikut ini: Grafik 1. Distribusi Frekuensi Hasil Belajar Siswa Siklus 1

pembelajaran pada siklus 2 yaitu: 1. Memacu siswa agar dalam berdiskusi dikekompok belajar ditingkatkan 2. Memotivasi siswa agar keaktifan dalam diskusi kelompok lebih efektif 3. Memotivasi siswa agar nilai hasil belajar meningkat. 2. Siklus II Siklus II dilaksanakan berdasarkan hasil refleksi pada siklus I. Pada awal pelajaran, peneliti membuka pelajaran, menanyakan materi pelajaran pertemuan yang lalu, menanyakan siswa yang hadir, menanyakan siswa yang tidak hadir, menanyakan mengapa tidak hadir, kemudian menanyakan kesiapan pembelajaran yang akan dipelajari pada kegiatan siklus II ini. Pada saat kegiatan pembelajaran, siswa lebih antusias, lebih aktif, lebih serius hingga akhir siklus II. Selanjutnya pada akhir siklus II peneliti menganalisis nilai tes hasil belajar siswa dan mendiskripsikan hasil belajar siswa dengan grafik distribusi frekuensi hasil belajar siswa siklus II adalah sebagai berikut:

Perolehan rata-rata nilai hasil belajar siswa siklus I dan siklus II adalah sebagai berikut: Grafik 3. Distribusi Frekuensi Hasil Belajar Siswa Siklus I dan Siklus II

Berdasarkan hasil pengamatan terhadap kondisi pembelajaran siklus 1 ditemukan beberapa hal yang perlu dijadikan perhatian dan perlu adanya perubahan

Dari grafik tersebut diperoleh ratarata nilai hasil belajar siklus I adalah 71.78 dan rata-rata nilai hasil belajar siklus II adalah 76.56. Hal ini berarti ada peningkatan dari siklus I ke siklus II.

- Anonim, 2000, Beberapa Model Pembelajaran dan Strategi Mengajar dalam Pembelajaran Matematika, Depdiknas, Jakarta. - Anonim, 2002, Model-model Pembelajaran, Depdiknas, Jakarta. - Dimyati dan Mudjiono. 1996. Belajar dan Pembelajaran. Rineka Cipta, Jakarta. - M. Nur. 2000. Pembelajaran Kooperatif, Pusat Sain san Matematika Sekolah. PPs Universitas Negeri Surabaya, Surabaya. - Rahadi. 2003. Media Pembelajaran Direktorat Tenaga Kependidikan. - Sanjaya, Wina. 2006. Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses Pendidikan. Jakarta : Kencana Prenada Media. - Silberman, Mel. 2001. Active Learning 101 Strategi Pembelajaran Aktif. Yogyakarta: Yappendis. * Penulis adalah Guru SMPN 10 Tegal

WARTA BAHARI, Edisi 69/2012

19

Lensa Bahari

Walikota Tegal H. Ikmal Jaya, SE, Ak. didampingi Sekda Kota Tegal, H. Edy Pranowo SH, MM dan Ketua DPRD Kota Tegal H. Edi Suripno, SH memukul gong menandai pembukaan Grand Final Sinok Sitong Tahun 2012

Penampilan 20 finalis Sinok Sitong Kota Tegal Tahun 2012 di halaman Pendopo Ki Gede Sebayu Kota Tegal

Mas Igedhen Kosim dan Kumala Zulhijah terpilih menjadi Sinok Sitong Tegal tahun 2012

Walikota Tegal H. Ikmal Jaya, SE, Ak dan istri Ny. Rosalina Ikmal Jaya bersama Sinok Sitong tahun 2012 terpilih

Walikota Tegal Diminta Berikan

Data Mutasi Aset


ermintaan data mutasi asset itu disampaikan H Harun Abdi Manaf, juru bicara fraksi Partai Amanat Nasional Peduli Rakyat Nasional (FPANPRN). Fraksi PAN Peduli Rakyat meminta Walikota melengkapi dokumen LKPj APBD Kota Tegal tahun 2011 dengan ikhtisar mutasi aset sebagai akibat realisasi APBD Kota Tegal tahun 2011. Menurut Harun, ikhtisar mutasi aset itu sebagai rekonsiliasi neraca dan catatan atas laporan keuangan sebagai bagian dalam pembahasan LKPJ APBD tahun 2011 di alat kelengkapan DPRD. Ihktisar mutasi asset sangat diperlukan karena sebagaimana dilaporkan oleh Walikota dalam catatan atas Laporan Keuangan pada Sub Bab Aset tetap masih memerlukan rincian lebih lanjut. Hal senada juga disampaikan Fraksi Partai Keadilan sejahtera (FPKS). Menurut Juru Bicara Fraksi Rofi'i Ali, aset adalah sumber daya ekonomi milik pemerintah yang dapat digunakan untuk kepentingan umum tetapi bisa diukur dengan satuan materi baik uang atau sejarah dan budaya lainnya. Oleh karena itu fraksi PKS meminta walikota memberikan data mutasi aset dari tahun 2008 hingga 2012. Dalam kesempatan itu juga, Fraksi PKS meminta Walikota menjelaskan mengenai tukar guling tanah milik Pemkot Tegal dengan pihak swasta dalam rapat dengar pendapat yang bersifat terbuka sebagai bentuk pertanggungjawaban terhadap publik yang ingin mengetahui penjelasan resmi atas hal tersebut. Pemkot juga diminta menekan pratek pungli yang terjadi di jajaran pemerintahan. Karena ada aduan dari warga kurang mampu. Diharapkan Walikota bertindak tegas karena mencoreng citra pemerintah. Berkaitan mengenai tahapan seleksi rekrutmen direktur PDAM Kota Tegal, Fraksi PKS menanyakan sejauh mana upaya Pemkot Tegal dalam proses rekruitmen calon Direktur PDAM sehingga diperoleh Direktur PDAM yang mumpuni. Hal senada mengenai perekrutan

H. Harun Abdi Manaf

DPRD Kota Tegal meminta Walikota Tegal memberikan data mutasi aset akibat realisasi APBD Kota Tegal Tahun 2011. Hal ini disampaikan fraksi fraksi DPRD dalam Rapat Paripurna dengan agenda Penyampaian Pemandangan Umum Fraksi Terhadap Penjelasan Walikota tentang Laporan Keterangan Pertanggungjawaban (LKPj) pelaksanaan APBD Kota Tegal tahun 2011, Rabu (20/6) di Ruang Rapat Paripurna Kompleks DPRD Kota Tegal.
Oleh : Roniyanto

Direktur PDAM juga dipertanyakan juru bicara Fraksi Partai Golkar Kun Harjanti. Selain hal tersebut juga diminta penyelesaian Kolam Renang Samudra agar segera bisa dimanfaatkan masyarakat dan para pelajar yang ada di kota Tegal. Permintaaan data aset juga disampaikan Fraksi Partai Golkar. Menurut Fraksi Partai Golkar, Walikota juga harus menjelaskan ke publik mengenai tukar guling aset tanah Bokong Semar. Fraksi Partai Kebangkitan Bangsa (FPKB) memberikan apresiasi atas kenaikan perolehan Pendapatan Daerah Tahun 2011. Pendapatan Derah dianggarkan sebesar Rp 535,939 miliar tercapai sebesar Rp 547,717 miliar adalah angka yang bagus. Senada dengan FPKB, Fraksi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (FPDIP) melaui juru bicaranya Kusnendro juga memberikan apresiasi kepada Pemkot Tegal yang telah melakukan upaya semaksimal mungkin dalam mengelola APBD Tahun 2011. Untuk belanja daerah, yang dianggarkan sebesar Rp 624,891 miliar terealisasi sebesar Rp 572,009 miliar atau sekitar dari anggaran perubahan 91,54 %. Sedangkan Pendapatan Derah dianggarkan sebesar Rp 535,939 miliar tercapai sebesar Rp 547,717 miliar atau 2,20 % pencapaiannya dari target. Kusnendro menyampaikan dari setiap pelaksanaan APBD setiap tahun harus bisa menjadi bahan evaluasi bagi Pemkot Tegal. Hal ini dilakukan agar ke depan kegiatan tersebut bisa lebih baik, lebih terencana dan tentunya benar-benar bisa bermanfaat untuk masyarakat Kota Tegal dan benarbenar pula dibutuhkan oleh masyarakat juga. FPDI juga memberikan apresiasi kepada Pemkot Tegal yang dinilai telah bisa menyajikan Laporan Keuangan untuk Tahun 2011 secara wajar dalam semua hal yang material sehingga atas kondisi tersebut bisa mendapatkan laporan hasil pemeriksaan (LHP) yang disertai opini yang diterima adalah opini Wajar Tanpa Pengecualian (Unqualified Opinion).

22

WARTA BAHARI, Edisi 69/2012

Walikota Tegal Diminta Berikan Data Mutasi Aset

Sementara juru bicara Fraksi Demokrat (FPD) Khurotul Jannah, menyampaikan, dalam penyajian dan penyusunan laporan keuangan Pemkot Tegal perlu terus disempurnakan sehingga dapat mempertahankan opini yang sudah diraih. Disampaikan juga FPD juga mendukung upaya Pemkot Tegal dalam menggali potensi Pendapatan Asli Daerah (PAD) yang memang sangat diperlukan. Namun perlu diingat dalam melaksanakannya harus sesuai dengan asas kerakyatan, sehingga tidak semata-mata upaya menaikkan PAD tanpa melihat kemampuan masyarakat wajib retribusi. Menanggapi Penyampaian Pemandangan Umum Fraksi Terhadap Penjelasan Walikota tentang Laporan Keterangan Pertanggungjawaban (LKPj) pelaksanaan APBD Kota Tegal tahun 2011, Walikota Tegal, Ikmal Jaya SE.AK (25/6) dalam Rapat Paripurna Jawaban Wali Kota atas Pemandangan Umum Fraksi-Fraksi DPRD tentang Laporan Keterangan Pertanggungjawaban (LKPj) pelaksanaan APBD Kota Tegal tahun 2011 menjelaskan terkait permintaan data mutasi asset tanah akan disampaikan melaui SKPD terkait pada saat pembahasan dengan alat kelengkapan DPRD. Terhadap ikhtisar mutasi aset dijelaskan Walikota bahwa penambahan dan pengurangan aset tahun anggaran 2011 telah tercantum dalam Raperda Pertanggungjawaban Pelaksanaan APBD Kota Tegal Tahun Anggaran 2011 pada lampiran IV Bab CALK yaitu

penjelasan pos-pos laporan keuangan dan lampiran 1.7. Laporan realisasi anggaran yaitu daftar realisasi penambahan dan pengurangan aset tetap daerah yang menjelaskan penambahan dan pengurangan aset yang meliputi: tanah, peralatan dan mesin, gedung dan bangunan, jalan, irigasi dan jaringan, konstruksi dalam pengerjaan dan aset tetap lainnya. Tentang proses tukar guling tanah milik Pemkot Tegal dengan pihak swasta, tahap awal sudah dilakukan konsultasi melalui rapat kerja dengan DPRD pada tanggal 3 November 2011 yang kesimpulannya antara lain proses tukar menukar dapat dilanjutkan, sehingga diambil kebijakan untuk melanjutkan proses tersebut. Selanjutnya akan diberikan penjelasan kepada DPRD sesuai mekanisme yang berlaku. Terkait adanya pungutan pungli, Ikmal meminta agar disampaikan kepada Walikota disertai dengan informasi yang lengkap. Dalam hal rekruitmen calon direktur PDAM, Pemkot Tegal berupaya untuk memperoleh Direktur PDAM yang profesional, kapabel dan memiliki kemampuan untuk dapat meningkatkan kinerja. Untuk itu saya berpedoman pada Peraturan Daerah Kota Tegal Nomor 4 Tahun 2011 tentang PDAM Kota Tegal, terutama Pasal 22 yang mengatur persyaratan calon direktur PDAM. Pada proses rekruitmen ini Pemkot Tegal telah memberi kesempatan seluas-luasnya kepada professional

yang memenuhi persyaratan untuk menjadi calon direktur. Untuk itu telah dilakukan pengumuman tentang rekruitmen tersebut secara terbuka di Harian Radar Tegal, Suara Merdeka dan website Pemkot Tegal (www.tegalkota. go.id) pada tanggal 3 April 2012. Tahapan seleksi administrasi dan hasilnya telah diumumkan pada tanggal 14 Mei 2012. Peserta yang telah dinyatakan lulus sekelsi administrasi selanjutnya mengikuti seleksi uji kompetensi, uji pesikologi dan tes medis yang dilaksanakan tanggal 29 Mei sampai 2 Juni 2012 oleh tim ahli yang sudah ditunjuk. Saat ini telah sampai pada tahap pelaksanaan paparan visi dan misi calon Direktur PDAM. Direncanakan pertengahan Juli 2012 sudah ditetapkan Direktur PDAM Periode Tahun 20122016. Perihal pemanfaatan Kolam Renang Samudra, saat ini sedang dilaksanakan proses lelang calon investor pembangunan Kolam Renang Samudra dengan berpedoman pada Permendagri Nomor 17 Tahun 2007 tentang Pedoman Teknis Pengelolaan Barang Milik Daerah dan Perda Kota Tegal Nomor 17 Tahun 2008 tentang Pengelolaan Barang Milik Daerah. Mengenai perlunya pencatatan aset tetap yang tertib dan mamadai disertai dengan bukti yang akurat, telah dilakukan sesuai prosedur dan ketentuan yang berlaku, yaitu berpedoman pada Permendagri Nomor 17 Tahun 2007 tentang Pedoman Teknis Pengelolaan Barang Milik Daerah. Dalam pelaksanaannya, pencatatan aset senantiasa dilakukan rekonsiliasi data antar SKPD, selain hal tersebut juga dilakukan sosialisasi kepada SKPD melalui pengurus barang. Walikota menambahkan, laju pertumbuhan ekonomi Kota Tegal tahun 2011 tetap menunjukkan tren positif, yaitu mencapai 4,02%. Pendapatan perkapita masyarakat Kota Tegal juga memperlihatkan pertumbuhan yang cukup baik, yaitu sebesar 6,97% dari Rp 10,96 juta pada tahun sebelumnya menjadi Rp 11,71 juta atau meningkat Rp 763.144,-. Capaian pendapatan perkapita tersebut melampaui kabupaten tetangga seperti Kabupaten Tegal, Brebes dan Pemalang yang pada umumnya berada pada kisaran Rp 7 juta sampai Rp 9 juta per tahunnya. ***

WARTA BAHARI, Edisi 69/2012

23

Lintas Kota
enumbuhkan minat baca kepada anak bisa dilakukan berbagai cara, salah satunya seperti yang dilakukan oleh Kantor Arsip dan Perpustakaan Daerah (Arpusda) Kota Tegal dengan mengadakan Lomba Bercerita bagi pelajar tingkat SD/MI se Kota Tegal, yang dilaksanakan Rabu (30/5) di kantor Arpusda. Menurut Kepala Kantor Arpusda, Sri Musri Harini, SH saat ini minat baca di kalangan pelajar masih menjadi masalah bersama, tidak semua pelajar gemar membaca dan mampu memilih bacaan yang baik. Oleh karena itu pihaknya merasa perlu mendorong membudayakan gemar membaca pada pelajar dengan menggelar lomba bercerita. Lebih jauh Harini mengatakan, kegemaran membaca pada satuan pendidikan atau sekolah bisa dilakukan dengan mengembangkan dan memanfaatkan perpustakaan sebagai sarana dalam proses pembelajaran. Sementara menurut ketua panitia lomba, Basuki, animo peserta lomba sebenarnya banyak, namun pihaknya hanya membatasi masing-masing UPPD mengirimkan 10 peserta. Jadi pada lomba kali ini jumlah peserta ada 40 peserta. Lomba yang diselenggarakan selama dua hari ini mensyaratkan cerita yang dibawakan peserta merupakan cerita rakyat yang berasal dari pulau Jawa. Masing-

Galakkan Gemar Membaca Dengan Lomba Bercerita


Salah seorang peserta Lomba Bercerita sedang unjuk kebolehan
masing peserta diberikan waktu selama 15 menit untuk bercerita serta diperbolehkan membawa alat pendukung cerita. Salah satu juri dalam lomba tersebut, Nuryanto Aji mengatakan sebagian besar penampilan peserta sudah bagus, namun yang sering menjadi kendala bagi beberapa peserta yaitu metode yang mereka gunakan untuk bercerita adalah dengan cara menghafal, sehingga ketika peserta lupa saat mereka tampil, akan terlihat kaku. Aji menjelaskan bahwa penilaian lomba menitik beratkan pada penampilan, teknik bercerita, penguasaan materi, dan skill. *** (tomi)

Pelaksanaan TMMD Sengkuyung Tahap I Mampu Menghemat Biaya Pembangunan Fisik


pelaksanaan TNI Manunggal Membangun Desa (TMMD) Sengkuyung tahap I tahun 2012 di wilayah Kelurahan Tunon, Kota Tegal yang dilaksanakan selama 21 hari, mulai tanggal 23 Mei sampai dengan 12 Juni 2012 tenyata bisa menghemat biaya hingga Rp. 84 juta. Hal ini disampaikan oleh perwira pelaksana TMMD Sengkuyung tahap I tahun 2012, Kapten (CZI) Dono Susilo dalam laporannya saat upacara penutupan TMMD di halaman Kantor Kelurahan Tunon, Selasa (12/6) lalu. Disampaikan Dono, pelaksanaan TMMD sengkuyung ini telah menyelesai-

kan pembangunan fisik berupa pembangunan saluran air sepanjang 568 m dengan lebar 0,60 m dan tinggi 0,70 m serta saluran air Kali Siwerna sepanjang 91 m dengan lebar 0,90 m dan tinggi 0,90 m. Dari pembangunan fisik tersebut jika diborongkan bisa menelan anggaran Rp. 289 juta, sementara dengan pelaksanaan TMMD, anggaran yang dikeluarkan hanya Rp. 205 juta, yang berarti dengan pelaksanaan pelaksanaan TMMD ini bisa menghemat Rp. 84 juta. Anggaran tersebut berasal dari APDB I sejumlah Rp. 105 juta dan dari APBD II sejumlah Rp. 100 juta.

Walikota Tegal, Ikmal Jaya, SE, Ak yang bertindak sebagai Inspektur upacara saat membacakan sambutan Gubernur Jawa Tengah mengatakan, bahwa TMMD merupakan sarana untuk mendekatkan TNI dengan rakyat, dengan perwujudan pembangunan fisik dan nonfisik. Melalui TMMD rakyat tidak akan mudah terprovokasi oleh ancaman terorisme dan bisa mendeteksi dini tentang pengaruh teroris. Dalam sambutan tertulisnya Gubernur mengharapkan, melalui kegiatan TMMD, ke depan kegiatan yang akan dilaksanakan akan lebih baik lagi dan bisa ditingkatkan kinerjanya, dengan tepat sasaran dan tepat manfaat. Pelaksanaan mendatang, TMMD agar diusahakan lebih sengkuyung dan bisa bermanfaat bagi masyarakat. Gubernur juga berpesan agar hasil pembangunan TMMD ini bisa dipelihara dan dijaga dengan baik oleh masyarakat. *** (tomi)

24

WARTA BAHARI, Edisi 69/2012

alikota Tegal Ikmal Jaya menandatangani Nota Kesepahaman Pelaksanaan Program Sanitasi Perkotaan Berbasis Masyarakat (SPBM) Urban Sanitation and Rural Infrastructure (USRI) tahun 2012-2014 antara Pemerintah Kota Tegal dengan Direktorat Jendral Cipta Karya Kementrian Pekerjaan Umum Republik Indonesia yang ditandatangani oleh direktur Jendral Cipta Karya Budi Yuwono P, di Pendopo Kantor Kementrian PU, Selasa (29/5) Jakarta Selatan. Program Sanitasi Perkotaan Berbasis Masyarakat (SPBM) merupakan salah satu komponen Program Urban Sanitation and Rural Infrastructure (USRI) yang diselenggarakan sebagai program pendukung PNPM-Mandiri. Program ini bertujuan untuk menciptakan dan meningkatkan kualitas kehidupan masyarakat, baik secara individu maupun kelompok untuk turut berpartisipasi memecahkan berbagai permasalahan yang terkait pada upaya peningkatan kualitas kehidupan, kemandirian dan kesejahteraan masyarakat. Sementara Walikota Tegal Ikmal Jaya, sesaat setelah menandatangani MoU mengatakan, dengan ditandatanganinya MoU ini menunjukkan Pemkot Tegal punya tekad membenahi dan memperbaiki sanitasi perkotaan Tegal, sehingga ke depannya akan semakin baik dan dapat meningkatkan derajat kesehatan masyarakat dalam hal sanitasi perkotaan, dari mulai pembuangan limbah keluarga saluran sampai pengolahan limbah industri. Menurut Ikmal daerah-daerah yang menandatangani MoU ini adalah daerahdaerah yang mempunyai kepedulian besar terhadap masalah sanitasi. Mereka telah mengalokasikan lebih dari 2% dari total APBD untuk kegiatan sanitasi dan daerah-daerah tersebut juga sudah memiliki Strategi Sanitasi Kota (SSK). Kota Tegal sendiri merupakan salah satu anggota Asosiasi Kabupaten/Kota Peduli Sanitasi. Sementara menurut Dirjen Cipta Karya Budi Yuwono P, Kabupaten/Kota yang telah menandatangani MoU tersebut, berarti mempunyai komitmen yang besar terhadap masalah sanitasi. Oleh karena itu setelah penandatanganan ini pemerintah Kab/ Kota bisa mengajukan bantuan pembuatan MCK komunal, dengan syarat menyediakan lahan dan dana operasional setelah MCK tersebut jadi. Budi Yuwono mengatakan jika per-

Pemkot Tegal Tandatangani MoU Sanitasi Perkotaan Berbasis Masyarakat

Walikota Tegal H. Ikmal Jaya, SE, Ak menandatangani MoU Sanitasi Perkotaan


syaratan itu sudah terpenuhi maka pihaknya segera mencairkan dana sebesar 35 juta untuk masing-masing lokasi MCK Komunal. Dari target 1.350 lokasi untuk jangka waktu lima tahun, target tahun ini bisa menyelesaikan 500 lokasi yang pembangunannya akan dimulai pada bulan Mei. Tahun depan juga ditargetkan 500 lokasi dengan jumlah anggaran yang disediakan untuk tahun ini sebesar Rp. 175 Miliyar. Selain dengan Pemerintah Kota Tegal, Direktorat Jendral Cipta Karya Kementrian Pekerjaan Umum juga melakukan penandatanganan MoU dengan 34 Kabupaten/Kota se Indonesia, di lima provinsi. Ada beberapa poin menarik untuk diperhatikan setelah penandatangan MoU, yakni Pemkot Tegal artinya telah sepakat bahwa pelayanan sanitasi merupakan tugas dan tanggung jawab Pemerintah Daerah. Hal ini ditegaskan kembali dengan komitmen dan dukungan Pemkot terhadap Program Nasional SPBM USRI sebagai salah satu upaya meningkatkan akses sanitasi dasar masyarakat dan sekaligus peningkatan perilaku hidup bersih dan sehat, serta memecahkan berbagai permasalahan yang terkait pada upaya peningkatan kualitas kehidupan, kemandirian dan kesejahteraan masyarakat. Sedangkan tujuan dari nota kesepahaman ini adalah memahami tugas dan tanggung jawab serta kewenangan masing-masing pihak, dalam rangka peningkatan akses sanitasi dasar masyarakat dalam rangka mendukung upaya pengurangan angka kemiskinan serta percepatan pencapaian target Millenium Development Goals (MDGs) bidang sanitasi melalui Program SPBM tahun 2012-2014. *** (tomi)

WARTA BAHARI, Edisi 69/2012

25

Lintas Kota

Tiga SMK Kota Tegal Raih Sertifikat ISO 9001


iga SMK Kota Tegal raih Sertifikat ISO 9001 tahun 2008. Ketiga SMK tersebut adalah SMK Negeri 1, SMK YPT dan SMK PGRI. Sertifikat ISO diserahkan secara simbolis oleh tiga lembaga sertifikasi kepada Walikota Tegal Ikmal Jaya, Kamis (24/5) di Aula SMK 1 Tegal. Walikota dalam kesempatan itu mengatakan, dengan diterimanya sertifikat ISO untuk ketiga SMK di kota Tegal ini menunjukan bahwa tahun pencanangan program Tegal cerdas 2011 sampai sekarang ini terus ada akselerasi ada pemantapan. Ini berarti bahwa layanan sekolah kepada siswa-siswanya akan semakin baik, karena telah mempunyai standar minimal ISO. Sampai saat ini sudah ada 7 SMK di kota Tegal yang menerapkan ISO 9001

tahun 2008, yakni SMK 1, SMK 2, SMK 3, SMK YPT, SMK PGRI, SMK Dinamika dan SMK Muhammadiyah. Pemerintah Kota akan terus mendorong kepada sekolahsekolah di Kota Tegal untuk terus meningkatkan mutu pelayanan dan kualitasnya sehingga sekolah-sekolah yang ada di Kota Tegal nantinya bisa mendapatkan sertifikat ISO 9001 tahun 2008. Sementara perwakilan dari ketiga lembaga sertifikasi (Delta Pass Internasional, United Registar of Systems dan IAPMA R & T) Subardi menyampaikan, manfaat yang didapat dari penerapan standar mutu pelayanan adalah terciptanya pelayanan prima, efisiensi, kepastian hukum pelayanan dan transparansi yang kesemuanya merupakan pilar dalam pelaksanaan prinsip-prinsip Good Governance. Subardi

mengatakan dalam iklim pasar bebas ini kita dituntut untuk melakukan peningkatan kualitas pelayanan, termasuk di dalamnya SMK sebagai lembaga pendidikan. Dan SMK Negeri 1, SMK YPT dan SMK PGRI telah melakukan langkah yang tepat dengan memilih system manajemen mutu ISO 9001 tahun 2008. Dalam kesempatan itu Kepala SMK 1 Drs. Bejo M.Pd, sebagai salah satu penerima sertifikat ISO 9001, menjelaskan bahwa di tahun anggaran 2011 SMK 1 mendapatkan kucuran dana dari pusat sebesar 30 Juta sebagai dana fasilitasi sertifikat ISO, kemudian SMK 1 menindaklanjuti dengan melaksanakan proses tahapantahapan untuk mendapatkan sertifikat ISO dengan melakukan identifikasi, aplikasi dan modifikasi dengan bimbingan dari lembaga bimbingan yang sudah dipilih sebelumya. Dan pada bulan Pebruari 2012 SMK N 1 resmi memperoleh sertifikat ISO 9001 tahun 2008. Bejo berharap setelah mendapat ISO 9001, SMK N 1 bisa menindaklanjuti dengan lebih meningkatkan kualitas layanan pendidikan dan menjadi sekolah yang bisa diterima dan dicintai masyarakat. *** (tomi)

Walikota Tegal H. Ikmal Jaya, SE, Ak. menerima sertifikat ISO 9001:2008 dari perwakilan Lembaga Sertifikasi untuk 3 SMK di Kota Tegal

26

WARTA BAHARI, Edisi 69/2012

Lintas Kota
enggugah minat masyarakat untuk mengunjungi museum bukan perkara mudah. Memanfaatkan museum sebagai tempat belajar dan rekreasi adalah salah satu tujuan dari sosialisasi yang diadakan oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Jawa Tengah. Sosialisasi tersebut dilakukan di tiga daerah, yaitu di Kab. Demak, Kab.Banyumas dan Kota Tegal. Hal tersebut disampaikan Kasi Pelayanan dan Tata Pameran Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Jawa Tengah Dra. Himawati, MT saat pembukaan Ceramah III Permuseuman bagi Generasi Muda: Memanfaatkan Museum Sebagai Tempat Belajar dan Rekreasi, yang berlangsung di ruang rapat Lt. II Kantor Sekretariat, Selasa (19/6) dan diikuti oleh pelajarpelajar SMA/SMK/MA beserta guru pendamping. Himawati mengatakan menurutnya generasi muda yang kurang mencintai museum dikarenakan kurangnya pemahaman pengetahuan akan budaya bangsanya. Di Jawa Tengah terdapat 46 museum, sebagian besar adalah museum khusus yakni museum yang memiliki satu jenis koleksi saja. Pada dasarnya setiap tahun terjadi peningkatan kunjungan masyarakat ke museum. Sementara ini yang sering berkunjung ke museum adalah pelajar, dari TK, SD dan SMP sedangkan dari pelajar SMA dan perguruan tinggi cenderung masih kurang. Sementara untuk kunDra. Himawati, MT jungan masyarakat umum atau keluarga, biasanya dilakukan di akhir pekan. Untuk menarik minat pengunjung Himawati mencontohkan museum yang dikelolanya, yaitu museum Ronggo Warsito Semarang sendiri tetap buka pada hari Sabtu dan Minggu, hal ini dilakukan untuk menjaring pengunjung dari kategori masyarakat umum atau keluarga yang biasa berkunjung pada libur akhir pekan. Melalui acara ini Himawati ingin

Museum Sebagai Sarana Belajar

memperkenalkan museum dan koleksinya sebagai sumber belajar pada para pelajar dan generasi muda agar tertanam jiwa apresiasi dalam rangka menumbuhkembangkan sikap suka dan peduli akan peninggalan budaya bangsa, serta memberi kesempatan untuk menambah wawasan serta pengetahuan tentang budaya bangsa melalui koleksi-koleksi yang dimiliki museum. Permasalahan yang sering dihadapi selama ini adalah banyaknya koleksi yang dimiliki museum tidak diimbangi dengan anggaran yang ada. Perawatan bendabenda museum membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Anggaran yang kecil membuat perawatan barang-barang koleksi kurang maksimal. Di museum Ronggowarsito terdapat 59.000 koleksi, sehingga dengan anggaran yang terbatas maka perawatan dilakukan secara berkala, bertahap dan bergantian. Untuk sebuah museum, idealnya harus didukung pendanaan yang cukup dan jangan terlalu banyak diisi koleksi yang berupa replika atau tiruan, sebab hal ini akan mengurangi daya tarik masyarakat untuk mengunjungi museum tersebut. Usaha menarik minat pengunjung adalah dengan melakukan sosialisasi-

sosialisasi untuk memberi pemahaman dan pengetahuan tentang museum. Selain itu yang tak kalah penting adalah koleksi yang dimiliki harus yang asli. Himawati berharap dengan dilakukan sosialisasi ini bisa lebih menggerakkan kecintaan generasi muda akan budaya yang dimiliki bangsa dengan menjadikan museum sebagai tempat untuk belajar. Sementara dalam kesempatan yang sama Kepala Dinas Pemuda Olahraga dan Budaya dan Pariwisata, Ir. M. Wahyudi mengatakan permasalahan klasik yang dialami sebagian besar museum adalah bagaimana menarik minat masyarakat mengunjungi museum, sehingga menjadi tugas kita bersama untuk menggairah kan kembali minat masyarakat menjadikan museum sebagai tempat untuk belajar. *** Ir. M. Wahyudi (tomi)

WARTA BAHARI, Edisi 69/2012

27

Opini

Hilangnya

Lagu Anak-Anak
Nyiur hijau, di tepi pantai. Siar siur, daunnya melambai. Padi mengembang, kuning meraya. Burung-burung, bernyanyi gembira. Tanah airku, tumpah darahku. Tanah yang subur, kaya makmur. Tanah Airku, tumpah darahku. Tanah yang indah, permai nyata.
Oleh: Joshua Igho

yair lagu Tanah Airku ciptaan Maladi tersebut mengingatkan saya sewaktu masih duduk di bangku Sekolah Dasar (SD). Melalui lagu tersebut, imajinasi saya diajak berlayar berkeliling bumi Indonesia yang indah agung. Pepohonan hijau melambaikan kedamaian. Sawah luas menghamparkan berlaksa-laksa harapan. Dan laut biru menyimpan berjuta-juta kemakmuran. Saya sangat kagum dengan pencipta lagunya yang telah menyusun deretan melodi meliuk-liuk indah, memiliki tingkat kesulitan cukup tinggi. Syair dengan kedalaman maknanya pun mampu menyihir pikiran. Bagi anak-anak seusia saya (waktu itu), yang ada dalam benak hanyalah kebanggaan terhadap negeri Indonesia. Selain Tanah Airku, guru kelas saya juga mengajarkan lagu seperti Ibu Pertiwi, Tidurlah Intan, Ambilkan Bulan Bu, Indonesia Pusaka, Pahlawan Merdeka, dan lain-lain. Masih lekat pula dalam ingatan saya, pada era 70 sampai dengan 80-an, setiap pekan TVRI menayangkan acara Ayo Menyanyi. Para penampil diambilkan dari artis cilik yang sedang tenar, atau dari sanggar-sanggar berprestasi. Meski durasinya hanya 30 menit dan bukan siaran langsung, karena TVRI selalu menayangkan penuh kesetiaan, acara tersebut benarbenar ditunggu oleh anak-anak. Ya, melalui televisi hitam putih berukuran 14 inchi yang gambarnya kadang lebih mirip koloni semut perang itu saya nongkrong di depan televisi, menikmati penampilan Adi Bing Slamet, Cicha Koeswoyo, Diana Papilaya, Dina Mariana, Vien Isharyanto, atau Yoan Tanamal. Hingga dekade 90-an silam, saat Joshua Suherman, Sherina, Tasya, Trio Kwek-kwek, dan Agnes Monica masih berjaya sebagai penyanyi cilik, anak-anak seusia para

penyanyi itu masih dimanjakan oleh lagu-lagu manis. Setiap pagi RCTI dan SCTV masih sudi menayangkan lagu-lagu anak-anak. Dan, Kak Seto (Dr. Seto Mulyadi, ketua Komnas Anak) dengan lagunya Si Komo, atau AT Mahmud dengan lagunya Libur Telah Tiba merupakan pencipta lagu yang memberikan kontribusi besar bagi perkembangan dunia anak-anak. Namun apa yang terjadi pada masa sekarang? Hanya terpaut sekitar 10 tahun saja, blantika musik anak-anak sudah mengalami lompatan cukup jauh. Televisi dan radio dipenuhi lagu-lagu orang dewasa. Dari genre pop, lagu-lagu semacam Kekasih Gelapku (Ungu), Ketahuan (Matta), Teman Tapi Mesra (Ratu) mengajak anak-anak berpikir layaknya orang dewasa. Simak saja reffrain lagu Ketahuan berikut ini:

Foto dari internet

28

WARTA BAHARI, Edisi 69/2012

Hilangnya Lagu Anak-Anak

Opini
mereka. Hal tersebut dapat ditengarai dari jenis lagu yang dibawakan para penampil, hampir semuanya lagu orang dewasa. Akhirnya, kita tidak dapat melihat letak itikad baik stasiun televisi, melainkan eksploitasi anakanak demi mengejar rating acara yang ujungujungnya keuntungan. Hari gini mana ada televisi yang mau rugi? Mencermati kondisi memprihatinkan ini, sudah sepantasnyalah pemerintah memulai menggalakkan kembali lagu anak-anak dengan memberdayakan para pencipta lagu. Tema-tema sosial, kekayaan alam, pendidikan, agama, kearifan lokal, dan keluarga perlu diangkat dalam penciptaan lagu-lagu tersebut. Setelah itu, diproduksi secara masal dalam format audio atau audio/visual, dan dibagikan ke sekolahsekolah. Maka tak menutup kemungkinan, pendidikan dasar yang diharapkan menjadi cikal-bakal penerus bangsa ini dapat ikut menyelamatkan kehancuran. Jadi, selama orang tua tidak berperan sebagai Badan Sensor Televisi bagi anak-anak, dan stasiun televisi hanya mencari keuntungan semata-mata, ancaman hilangnya lagu anak-anak sudah di depan mata. (*) *) Joshua Igho, pemerhati masalah seni-budaya

O oh kamu ketahuan pacaran lagi/dengan si dia teman baikku. Sementara dari genre dangdut ada Kucing Garong, Cucakrawa, Bokong Gatel, Prapatan Celeng, atau Putri Panggung. Dalam setiap penampilan, baik di layar kaca maupun di tengah publik, selalu menonjolkan goyangan penyanyinya yang seronok, menantang syahwat. Hiburan yang semestinya hanya boleh dikonsumsi oleh kalangan usia dewasa, itu menjadi menu sehari-hari yang juga disantap oleh anak-anak. Kita tidak menampik, di antara hiruk-pikuk peredaran lagu seronok dan bertema percintaan (perselingkuhan) yang membahayakan bagi perkembangan anak, terselip pula lagu cukup mendidik seperti yang dirilis Ada Band (duet bersama Gita Gutawa) berjudul Yang Terbaik Bagimu atau Melly Goeslaw dengan lagunya Bunda dan Kupu-kupu. Namun akan muncul pertanyaan, apakah tiga lagu tersebut sanggup menghadapi kepungan si Kucing Garong, Bokong Gatel, Putri Panggung, Prapatan Celeng, Cucakrawa, Ketahuan, dan Kekasih Gelapku? Dengan amat berat hati saya tidak berani memasang taruhan kemenangan, apalagi filter anakanak zaman sekarang sudah bocor. Tanpa bimbingan orang tua, mereka lebih tertarik pada goyangan penyanyi daripada mengapresiasi kualitas melodi dan syair lagu. Memang, arus globalisasi tak dapat kita bendung. Agar tidak ketinggalan zaman, kita perlu mengikuti lompatan modernitas. Maraknya sajian hiburan di televisi atau mudahnya akses internet yang menyediakan beragam informasi tak disangkal merupakan bagian dari denyut kehidupan abad ini. Namun jika tidak dibarengi dengan pemantauan ketat terhadap anak-anak, tidak menutup kemungkinan dapat berakibat buruk bagi kehidupan mereka kelak. Di sinilah peran orang tua dipertaruhkan. Seperti kita tahu, regulasi dari pemerintah perihal jenis acara yang ditayangkan belum sepenuhnya memenuhi kriteria dan diindahkan oleh penyelenggara siaran televisi. Semisal program yang bertanda boleh dilihat oleh semua usia, nyata-nyata isinya masih rawan ditonton oleh anak-anak. Melesunya blantika musik anak-anak akibat tenggelamnya gairah para pencipta lagu menghasilkan lagu anak-anak dewasa ini sebenarnya ditangkap oleh beberapa stasiun televisi dalam bentuk kompetisi seperti AFI Junior (Indosiar, kini sudah tidak tayang) atau Idola Cilik (RCTI). Acara itu dipandang bermanfaat untuk mencari dan memandu bakat menyanyi bagi anak-anak. Namun sayangnya, kemasan yang disajikan masih saja memaksa anak-anak untuk menjadi dewasa, bukan apa adanya sesuai perkembangan pikiran

Foto dari internet

WARTA BAHARI, Edisi 69/2012

29

Wirausaha

Kafe Gaul Jalan Kartini


Kawasan Favorit Anak Muda
Seiring perkembangan zaman, Kota Tegal kini semakin gemerlap dan maju. Pelaku pembangunan banyak melibatkan para investor baik lokal maupun luar daerah sehingga semakin meramaikan kota yang terkenal dengan Warung Tegalnya. Berbagai fasilitas perdagangan dan perbankan mulai dari pembangunan kawasan bisnis perdagangan, resto hingga perbankan turut menggerakkan roda perekonomian masyarakat kota Tegal. Tak jarang, warga kota Tegal yang merantau lama di luar kota saat pulang ke kampung halaman tercengang karena banyak perubahan yang terjadi.
Oleh : Cahya Kamandhanu

Shelter Cafe

alan-jalan protokol dalam kota sudah semakin disesaki kendaraan bermotor maupun tempat-tempat usaha yang menawarkan berbagai pilihan dari mulai kuliner, warnet, komputer, seluler, fashion sampai caf-caf yang menjadi tempat berkumpulnya anak muda. Tak dipungkiri, perkembangan zaman dan teknologi turut andil membentuk pola pergaulan anakanak sekarang. Dahulu anak-anak cenderung berkumpul di lapangan di sekitar tempat tinggalnya untuk bermain kelereng, layang-layang dan permainan anak-anak lainnya. Namun sekarang dengan pesatnya teknologi informasi membuat anak-anak muda lebih tenggelam dalam kecanggihan alat-alat komunikasi modern seperti internet, smartphone, laptop dan sejenisnya. Semakin majunya teknologi informasi ternyata bisa menjadi pendukung peluang usaha khususnya untuk menarik minat pengunjung di tempat-tempat usaha yang didirikan. Tak jarang tempat-tempat usaha yang kini meramaikan kota Tegal dilengkapi teknologi wifi/hot spot. Selain untuk mengikuti perkembangan zaman, fasilitas wifi dinilai efektif menarik pengunjung yang sebagian besar anak muda, seperti ter-

lihat di sepanjang jalan RA Kartini Kota Tegal. Jalan Kartini yang kerap dilintasi warga kini sudah semakin ramai dengan berdirinya tempat-tempat usaha kuliner berkonsep caf atau resto. Dari mulai Shelter Caf, Luget Caf dan Rumah Makan Mangkuk Panas digemari anak-anak muda kota Tegal. Mereka berkumpul di kafe-kafe atau resto di sepanjang jalan Kartini sekedar untuk kongkow-kongkow atau memang untuk menikmati sajian kuliner. Hampir setiap sore dan saat malam minggu tiba, deretan kendaraan bermotor terparkir di depan kafe. Terlebih saat digelarnya event-event musik untuk promo produk atau event yang dikemas dalam acara nonton bareng, hampir sebagian besar anak muda memadati tempat duduk kafe. Fredi Yulian, pemilik Shelter Kafe tidak menyangka Kafe yang dibangunnya 11 bulan lalu mendapat respon baik dari pengunjung yang sebagian besar anak muda. Kafe yang dibuka dengan tata letak bangunan bertingkat terbuka memanjakan pengunjung dengan pemandangan keramaian jalan Kartini. Hampir setiap sore hari dan di

akhir pekan, Shelter Kafe ramai dikunjungi anak muda yang hanya sekedar ingin ngobrol sembari menikmati makanan dan minuman atau pengunjung yang ingin menikmati fasilitas hot spot area, menjelajah dunia maya tanpa harus membayar atau gratis. Pada awalnya, pria dengan panggilan akrab Pegy ini memilih jalan Kartini Kota Tegal karena letaknya strategis dan banyak dilalui orang. Awal membuka usahanya, Shelter Kafe dikemas dengan konsep keluarga atau tidak mengkhususkan bagi anak muda. Pasalnya, selain menyajikan makanan ringan juga menawarkan sajian menu makan besar andalan seperti Sop Sirip Hiu, Hiu Rica-rica dan Hiu Goreng. Tetapi pada kenyataannya menu yang banyak digemari sampai sekarang adalah sajian minuman es, jus dan makanan ringan seperti roti bakar, kentang goreng yang harganya pas di kantong anak muda. Selain dilengkapi fasilitas hot spot, juga menawarkan warung internet (warnet) bagi pengunjung yang menginginkan akses internet lebih cepat. Terkadang untuk menarik pengunjung, sesekali di kafenya digelar event nonton bareng pertandingan sepakbo-

30

WARTA BAHARI, Edisi 69/2012

Kafe Gaul Jalan Kartini, Kawasan Favorit Anak Muda

Wirausaha
berdiri dua lantai ini memberikan suasana lesehan bagi konsumen. Pasalnya, di lantai dua Luget Kafe dikonsep dengan suasana lesehan, sedangkan untuk lantai dasar dengan tempat duduk dan meja.

la dengan layar lebar atau event-event live musik. Menurut suami dari Ria Mareta ini, rata-rata anak muda yang datang ke kafenya lantaran tempatnya yang nyaman atau sebutan anak muda sekarang "Cozy". Meski demikian, Pegy tetap memberikan larangan keras bagi pengunjung yang sebagian besar anak muda berpasang-pasangan ataupun beramai-ramai yang ingin melakukan tindakan di luar batas, seperti membawa minuman keras atau bermesraan. Bagus, warga Randugunting salah satu konsumen langganan di Shelter Kafe mengungkapkan hampir semua menu yang ada di Shelter Cafe pernah dicobanya. Awalnya, Bagus hanya ingin sekedar mampir dan mencicipi beberapa menu yang ditawarkan, salah satunya adalah menu es dan jus yang digemarinya. Namun karena tempatnya yang nyaman dan strategis, ditambah dengan fasilitas hotspot membuat anak muda yang menggemari kuliner ini merasa betah dan akhirnya kerap mengunjungi Shelter Kafe. Dalam seminggu bisa 2 sampai 3 kali datang ke Shelter, baik sendiri ataupun bersama teman-temannya. Sementara alasan Farah Dibah, pemilik Rumah Makan Mangkuk Panas yang juga berada di jalan Kartini sama, karena letaknya strategis dan ramai

masakan segar dan panas. Salah satu menu andalannya yakni Bakso Malang dan Iga Bakar. Menurut Farah, konsep rumah makannya sebagaimana pada umumnya rumah makan yang mengedepankan konsep family (keluarga). Mengingat tata letak RM Mangkuk Panas sudah terkonsep rumah makan yang sebenarnya bukan kafe. Namun, dari sekian banyak konsumen, sebagian besar merupakan anak muda dan remaja dewasa yang ingin menikmati sensasi sajian hot (panas) dan segar. Rumah makan yang setiap hari buka mulai pukul 10.00 sampai 22.00 ramai dikunjungi saat waktu makan siang tiba dan sore hari. Saat siang hari kebanyakan remaja dewasa kantoran bersama rekan-rekan kerjanya. Hal sama juga disampaikan Supriyono, selaku Manager Luget Kafe yang juga berada di jalan Kartini Kota Tegal. Alasan memilih jalan Kartini karena banyak masyarakat yang melintas dan cenderung didominasi anak muda maupun pelajar. Meski di sepanjang jalan Kartini sudah berdiri berbagai tempat usaha, namun Pria dengan panggilan akrab Priyo ini tetap optimis menjalankan bisnisnya di Luget Kafe. Terbukti baru 4 bulan dibuka, Luget Kafe ramai dikunjungi konsumen yang sebagian besar anak-anak muda.

Luget Resto Cafe


Untuk menarik konsumen yang rata-rata anak muda, selain menu yang merakyat, juga menawarkan fasilitas hot spot area, TV LCD dan pojok fashion yang menawarkan kaos-kaos khas Tegal. Jika musim pertandingan bola, maka setiap seminggu sekali menggelar event nonton bareng. Kafe yang dibuka setiap hari dari pukul 10.00 sampai 24.00 ramai dikunjungi setiap sore dan malam minggu. Untuk tetap menjaga rasa nyaman dan aman, Priyo memberikan larangan keras bagi konsumen yang membawa makanan dan minuman dari luar. Priyo juga tak pernah menganggap kafe dan tempat usaha lain di sepanjang jalan Kartini sebagai saingannya. Sebab, baginya rejeki sudah diberikan masing-masing. Priyo juga merasa senang kawasan jalan Kartini sekarang menjadi ramai anak muda. Alumni SMA 1 tahun 2004 ini menceritakan bahwa di masanya jalan Kartini tidak seramai kini. Seiring perkembangan teknologi dan trend, anak muda sekarang lebih menyukai tempat-tempat yang nyaman, menawarkan sajian dengan harga terjangkau dan lengkap dengan fasilitas pendukung seperti hot spot ataupun event-event yang digelar. Priyo berharap kawasan jalan Kartini Kota Tegal bisa menjadi daya tarik tersendiri dan menjadi kawasan seperti di kota-kota besar yakni seperti kawasan Malioboro di Yogyakarta ataupun seperti kawasan Dago di Bandung. ***

Shelter Cafe
arus kendaraan yang melintas. Paling tidak banyak warga yang melintas dan tahu akan keberadaan tempat-tempat sajian kuliner disepanjang jalan Kartini, dan memunculkan rasa penasaran hingga akhirnya datang dan mencoba. Sesuai dengan nama usahanya, RM Mangkuk Panas yang telah berdiri setahun lamanya, menyajikan masakanMenurut Priyo, walaupun Luget Kafe nampak seperti kafe kelas menengah ke atas namun terbuka untuk semua kalangan karena sajian yang ditawarkan merupakan sajian merakyat dengan harga terjangkau. Beberapa diantaranya yang banyak diminati konsumen seperti tempe mendoan, teh moci, es, jus dan somay ikan. Kafe yang

WARTA BAHARI, Edisi 69/2012

31

Renungan

Membaca Gerakan Radikalisme di Daerah


dan Eksistensi NKRI
Apakah ada dari kita orang yang suka ketinggalan, tidak turut berjuang pada waktu-waktu ini, dan kemudian ia mengalami keadaan sebagaimana yang disebutkan Allah ketika memberi sifat kepada kaum munafik yang tidak suka ikut berjuang bersama Rasulullah........ Demikianlah, maka sesungguhnya pendirian umat adalah bulat untuk mempertahankan kemerdekaan dan membela kedaulatannya dengan segala kekuatan dan kesanggupan yang ada pada mereka, tidak akan surut seujung rambut pun. Barang siapa memihak kepada kaum penjajah dan condong kepada mereka, maka berarti memecah kebulatan umat dan mengacau barisannya.... .maka barang siapa yang memecah pendirian umat yang sudah bulat, pancunglah leher mereka dengan pedang siapa pun orangnya itu.. (Hadratus Syaikh Hasyim Asyari dalam Resolusi Jihad 1946)
Oleh: Abdul Ghofur
Gambar dari internet

Hadratus Syaikh Hasyim Asyari

utipan ini layak untuk dijadikan prolog sekilah catatan ini. Saya begitu simpatik akan jiwa besar tokoh, ulama serta anak bangsa yang bernama Hasyim Asyari ini. Layaklah bagi kita untuk membaca ulang sebuah sejarah yang begitu panjang tentang kondisi bangsa Indonesia ini. Negara dan Bangsa ini sedang menghadapi satu persoalan yang tak kecil dan sepele. Saya mengatakan persoalan kebangsaan karena permasalahan ini tidak hanya menyangkut urusan kulit saja, tetapi urusan idelogi dan pemahaman elemen serta anak bangsa ini dalam memandang negara yang bernama Indonesia. Pasca Reformasi, seolah bangsa ini tersingkap baju hingga auratnya. Tersingkap oleh rakyatnya sendiri yang mendalami euforia kebebasan dan kemudahan berekspresi dan bertindak. Senada dengan itu, gerakan sekelompok anak bangsa ini yang menginginkan konsepsi serta sistem kebangsaan dan kenegaraan atas nama indentitasnya tak kunjung usai. Apakah atas nama identitas nama, golongan hingga atas nama TUHAN. Euforia itu tidak saja mengarah kepada sebuah kemajuan. Tetapi euforia ini mengarah kepada perubahan sikap, norma atau pemahaman seseorang mendalami sesuatu di sekelilingnya termasuk orang lain. Seiring dengan arus modernisasi

yang mengarah kepada liberalasi ini, tanpa disadari kita dihinggapi penyakit bawaannya. Salah satunya adalah watak egoistis. Kita merasa bahwa diri kita yang paling benar dalam segala aspek. Di sisi lain, kita memiliki sikap mudah menyalahkan orang lain. Dalam realitas sehari-hari, berbagai muncul pemberitaan konflik antar masyarakat yang mengarah kepada konflik horisontal. Atas nama kelompok, golongan, suku, agama, komponen bangsa ini dengan semangat saling serang, menyakiti hingga menganiaya. Apakah ia orang awam hingga para elit bangsa ini. Lantas, pola hidup demikian sangat berkaitan dengan cara seseorang mendalami agamanya. Sebagaimana kita ketahui bersama bangsa Indonesia adalah bangsa yang berketuhanan yang maha Esa. Tetapi, bangsa ini bukan bangsa yang menjadikan firman Tuhan sebagai legitimasi formal dalam kebernegaraan. Dalam bahasa lain, bukan negara agama. Apakah negara Islam atau negara Lain. Dus, alih-alih menjalankan ajaran agama, kini gerakan sekelompok orang mengatasnamakan Islam melakukan tindakan teror, hingga makar demi misi mereka. Oleh karena itu, makalah ini akan mengupas secara singkat, bagaimana Gerakan Radikalisme Keberagamaan muncul di daerah, atau di Brebes sendiri. Serta, bagaimana efek terhadap

keutuhan dan eksistensi Negara Kesatuan Republik Indonesia yang digagas oleh founding fathers bangsa ini? Sikap Radikal dalam Sejarah Umat Islam Jauh sebelum opini dunia tentang terorisme Islam muncul ke permukaan, kita pernah mendengar sebutan fundamentalisme Islam. Dalam bahasa Arab, fundamentalisme atau alushuliyyah berarti mendasar atau disiplin dalam menjalankan kewajiban agama. Muslim fundamental adalah seorang muslim yang sangat disiplin dalam menjalankan ajaran Islam, seperti salat lima waktu secara berjamaah atau menghindari sesuatu yang tidak jelas kehalalannya. Dalam konteks itu, umat Islam diserukan untuk melaksanakan ajaran agamanya secara fundamental. Radikalisme dalam bahasa Arab disebut syiddah al-tanatu. Artinya keras, eksklusif, berpikiran sempit, rigid, serta memonopoli kebenaran. Muslim radikal adalah orang Islam yang berpikiran sempit, kaku dalam memahami Islam, serta bersifat eksklusif dalam memandang agama-agama lainnya. Kelompok Islam radikal muncul sejak terbunuhnya Khalifah Usman bin Affan, menyusul kemudian Ali bin Abi Thalib yang dilakukan oleh umat Islam sendiri. Saat itu, Islam radikal diwakili oleh kelompok Khawarij.

32

WARTA BAHARI, Edisi 69/2012

Membaca Gerakan Radikalisme di Daerah dan Eksistensi NKRI

Renungan
ca: nilai-nilai agama), seperti shalat, puasa, zakat, haji, nilai-nilai kejujuran, keadilan, kebenaran, dan sebagainya. Bentuk ketiga, al-qital fi sabilillah, berpegang di jalan Allah, artinya jika ada komunitas yang memusuhi kita dengan segala argumentasi yang dibenarkan agama, maka kita baru dibenarkan berperang sesuai dengan rambu-rambu yang ditetapkan Allah. Bentuk keempat, dafu dlararul mashumin musliman kana au dzimmiyyan, yakni mencukupi kebutuhan dan kepentingan orang yang harus ditanggung (oleh pemerintah) baik itu yang muslim maupun kafir dzimmi (termasuk orang kristiani, majusi, yahudi serta pemelukpemeluk agama lainnya yang bukan menjadi musuh). Cara pemenuhan kebutuhan tersebut ditambahkan mushannif Ianah, dengan mencukupi sandang, pangan dan papan. NKRI Sudah Islami Rasulullah SAW tidak mengajarkan konsepsi sebuah negara. Rasulullah SAW mencontohkan sebuah teladan kehidupan yang adil, sejahtera, damai dalam tatanan masyarakat di Madinah. Konsepsi Khilafah yang dilakukan setelah Rasulullah Wafat adalah Khilafah (pengganti) Rasulullah SAW. Artinya, kehidupan berbangsa dan bernegara berdasarkan UUD 1945 dan Pancasila yang dirumuskan oleh para pendiri bangsa ini sudah sangat Islami, tidak ada yang bertentangan dengan pilar-pilar yang diajarkan Rasulullah SAW melalui konsep Mabadi Khairil Ummah. Segala tindakan sekelompok orang yang mengatasnamakan Islam untuk merongrong NKRI sejatinya merongrong pribadinya sebagai seorang muslim yang meneladani Rasulullah SAW. Wallahualam Bi Shawab. ***

Gejala kemunculan radikalisme Islam sesungguhnya ditengarai ada sejak Nabi Muhammad masih hidup. Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dikisahkan, ketika di daerah Jaranah Nabi Muhammad membagikan fai atau harta rampasan perang dari wilayah Thaif dan Hunain, tiba-tiba seorang sahabat yang bernama Dzul-Khuwaishirah dari Bani Tamim melayangkan protes kepada beliau. Bersikap adillah, wahai Muhammad! Nabi Muhammad pun dengan tegas menjawab, Celaka kamu! Tidak ada orang yang lebih adil dari aku. Karena apa yang kami lakukan berdasar petunjuk Allah! Setelah Dzul-Khuwaishirah pergi, Nabi Muhammad bersabda, Suatu saat akan muncul sekelompok kecil dari umatku yang membaca Alquran, namun tidak mendapatkan substansinya. Mereka itu sejelek-jeleknya makhluk di dunia ini. Hadis sahih di atas kemudian terbukti setelah Nabi Muhammad wafat. Pada 35 H, Khalifah Usman bin Affan terbunuh secara mengenaskan oleh sekelompok umat Islam yang ekstrem. Peristiwa itu kemudian terulang pada masa Khalifah Ali bin Abi Thalib yang juga terbunuh oleh kalangan ekstrem dari umat Islam. Komunitas ekstrem tersebut sungguh pun pada mulanya bernuansa politik, tetapi perkembangan selanjutnya dirajut dalam sebuah ideologi yang dikenal dengan faham Khawarij. Hal yang menarik, saat Khalifah Ali bin Abi Thalib masih hidup, kelompok ekstrem Khawarij itu memvonis kafir Khalifah Ali bin Abi Thalib atas dasar kesalahan beliau yang membenarkan arbitrase atau tahkim dengan Muawiyah. Soalnya, bagi Khawarij, yang berlaku adalah doktrin laa hukma illa Allah bahwa arbitrase itu hanya milik Allah. Khalifah Ali bin Abi Thalib pun menangkis diplomasi mereka dengan kata-kata singkat, Untaian kata yang benar, namun tendensius dan mengarah pada yang batil. Sementara itu, Islam yang harmonis dapat dibuktikan dari peristiwa Fath Makkah (pembebasan Kota Makkah) oleh umat Islam yang dipimpin langsung Nabi Muhammad. Kota Makkah dibebaskan setelah puluhan tahun dijadikan markas kegiatan orang-orang musyrik. Saat umat Islam mengalami suasana euforia atas keberhasilannya

menguasai kota tersebut, ada sekelompok kecil sahabat Nabi yang berpawai dalam kota dengan meneriakkan slogan al-yaum yaumul malhamah (hari ini adalah hari pertumpahan darah). Slogan itu dimaksudkan sebagai upaya balas dendam mereka atas kekejaman orang-orang musyrik Makkah kepada umat Islam selama puluhan tahun. Gejala tidak sehat tersebut dengan cepat diantisipasi oleh Nabi Muhammad dengan melarang beredarnya slogan itu dan menggantinya dengan slogan yang lebih ramah dan penuh kasih: alyaum yaumul marhamah (hari ini adalah hari penuh belas kasih). Akhirnya, peristiwa pembebasan Kota Makkah dapat terwujud tanpa insiden berdarah. Meluruskan Makna Jihad Untuk memperluas wacana kita dalam diskursus jihad, dapat kita rujuk kepada salah satu kitab yang selaku dikaji di pesantren-pesantren, yakni kitab Iana-tut Thalibin Syarh Fathul Muin. Muallif kitab tersebut dengan bahasa sederhana mengemukakan suatu tabir yang memiliki makna dan implikasi luar biasa. Menurutnya al-jihadu fardhlu kifayatin marratan fi kulli aam, bahwa jihad itu hukumnya fardhlu kifayah dalam setiap tahun. Kemudian ditambahkan pula, dalam bentuk jihad itu ada empat macam, pertama, itsbatu wujuudillah; kedua, iqamatu syariatiilah, ketiga qital fi sabilillah dan keempat dafu dlararil mashumin, musliman kana au dzimmiyyan. Bentuk jihad pertama adalah itsbatu wujudillah, yaitu menegaskan eksistensi Allah Swt di muka bumi, seperti dengan melantunkan adzan, takbir serta bermacam-macam dzikir dan wirid. Bentuk kedua adalah iqamatu syariatillah, menegakkan syariat Allah (ba-

Foto dari internet

WARTA BAHARI, Edisi 69/2012

33

Potensi Usaha
Ayam arab merupakan jenis ayam dalam kategori buras (bukan ras). Ayam arab, merupakan keturunan dari ayam Brakel KrielSilver (Galus Turcicuspada) dari Belgia; keberadaannya di Indonesia karena dibawa oleh orang-orang Indonesia yang datang dari Saudi Arabia. Ciri khasnya adalah warna putih mengkilap di sepanjang leher, punggung putih berbintik hitam, bulu sayap hitam bergaris putih dan bulu ekor dominan hitam bercampur putih.
Oleh: Nuridin, S.Pt. *)

Melirik Potensi

Ayam Arab
di Kota Tegal
cukup tinggi. Pemeliharaan ayam arab ini relatif mudah, biasanya umur 4,5 bulan sudah mulai bertelur. Pakan yang digunakan dari masa awal DOC hingga 2 bulan biasanya menggunakan pakan starter BR1, kemudian setelah itu bisa disesuaikan dengan pakan self mix seperti layaknya pakan untuk ayam petelur hingga masa bertelur tiba. Sama halnya dengan ayam jenis petelur lainnya, ayam arab cukup sensitif dengan respon pakan, jika kualitas pakan rendah, sangat mudah sekali baginya untuk stress dan mengalami penurunan produksi. Oleh karena itu manejemen pakan dalam ternak ayam arab harus diberi perhatian yang cukup besar. Ayam arab termasuk jenis petelur tipe ringan dibawah 1.880 gr per ekor. Kebutuhan pakan 70 gram/ekor/hari untuk tujuan penghasil telur konsumsi, sedangkan untuk penghasil telur tetas 80100 gram/ekor/hari, ini dimaksudkan agar diperoleh telur yang besar. Konsumsi pakan umumnya maksimal 100 gr/ekor/hari. Dengan adanya batasan pemberian ransum ini maka sebaiknya para peternak memperhatikan penyusunan ransum yang tepat sesuai kebutuhan, karena kelebihan ransum dapat menyebabkan ayam menjadi gemuk dan menurunkan

Peluang Usaha Memenuhi Kebutuhan Telur Lokal


dari total berat telur. Warna kerabang telur sangat bervariasi yakni putih, kekuningan dan cokelat. Teknik Pemeliharaan Ayam Arab Petelur Kebanyakan untuk peternak lama yang ingin mengembangkan jumlah populasi ayam arab memulainya dari memelihara DOC. Hal ini dikarenakan biaya yang dikeluarkan tidak langsung besar. Sehingga pengembangan populasi ini ditanggung sedikit demi sedikit oleh populasi dari ayam yang sudah berproduksi. Selain untuk menghemat biaya produksi, juga untuk menjamin bahwa kualitas ayam bisa dipastikan bagus. Berbeda dengan para peternak lama, peternak pemula biasanya merasa kurang yakin jika memulai usaha peternakan ayam ini dengan memelihara dari DOC. Kebanyakan para peternak pemula ini langsung membeli ayam remaja atau pulletnya. Hal ini wajar saja, karena peternak pemula tentu akan takut resiko kematian ayam jika pemeliharaan dimulai dari DOC. Selain itu, para peternak pemula cenderung ingin segera mendapatkan keuntungan dari hasil ternaknya. Hal ini dikarenakan pemeliharaan ayam dari DOC sampai remaja memiliki resiko kematian yang

da 2 tipe ayam arab yang dikembangkan, yaitu Silver dan Gold. Ayam Silver, memiliki corak bulu putih mengkilap, kepala putih perak, bulu punggung dan sayap hitam berbintik putih dan bulu ekor dominan hitam ada putihnya sedikit. Ayam Gold, memiliki corak bulu cokelat muda, kepala dominan cokelat muda, bulu sayap dan punggung hitam berbintik kuning, dan ekor dominan hitam ada kekuningan sedikit. Dari penampilan tubuhnya, tinggi ayam arab dewasa mencapai 35 cm dengan bobot 1,5-2 kg. Kepalanya mempunyai jengger berbentuk tunggal dan bergerigi. Ayam ini berbulu tebal. Ayam arab betina dewasa tingginya mencapai 25 cm dengan bobot 1,0-1,5 kg. Kepalanya berjengger tipis, bergerigi. Badannya berbulu tebal. Ayam arab mulai bertelur pada umur sekitar 4,5 bulan, dan mencapai puncak produksi pada umur 8 bulan, dengan ratarata mencapai 80-90%. Masa produktif ayam arab hingga umur 2 tahun, setelah umur 2 tahun umumnya produktivitas ayam mulai menurun. Ayam arab memiliki kemampuan bertelur yang tinggi yaitu sekitar 190-250 butir/ekor/tahun, dengan berat telur 42,3 gram/butir. Kuning telur lebih besar volumenya, mencapai 53,2%

34

WARTA BAHARI, Edisi 69/2012

Melirik Potensi Ayam Arab di Kota Tegal

Potensi Usaha
mendapatkan bantuan senilai Rp 150 juta, antara lain terdiri dari ayam yang dipelihara, pakan ayam, vitamin, jamu, kandang dan peralatan ternak. Pengembangan ayam arab juga dimaksudkan untuk menyediakan keterampilan kerja dan usaha produktif bagi tenaga kerja penganggur atau setengah penganggur. Diharapkan upaya tersebut akan meningkatkan perekonomian dan kesejahteraan masyarakat. Wakil Ketua Kelompok Ayam Melati, Kelurahan Krandon, Hadi Sucipto, mengatakan, pengembangan ayam arab di wilayahnya melibatkan sekitar 20 orang. Umur ayam yang dipelihara sekitar 5-6 bulan. Dari 300 ekor ayam yang dipelihara, sebanyak 296 ekor ayam merupakan ayam betina, sedangkan 4 ekor merupakan ayam pejantan. Saat ini, sebagian ayam sudah mulai bertelur. Dari 296 ekor ayam, telur yang dihasilkan mencapai 60 ekor per hari. Telur tersebut dijual pada sejumlah pedagang dan sejumlah supermarket seharga Rp 1.200 per butir hingga Rp 2.000 per butir. Pemerintah berharap, budidaya jenis ayam arab tersebut bisa berjalan lancar, sehingga memberikan manfaat ekonomi bagi anggota kelompok. Selain itu, pembudidayaan ayam arab yang ada di Kota Tegal bisa menjadi salah satu alternatif untuk memenuhi kebutuhan telur lokal. Dari 20 anggota kelompok yang terlibat dalam budidaya ayam tersebut, sebagian besar berasal dari warga yang sebelumnya tidak memiliki pekerjaan. *** *) Penulis adalah staf Bidang Peternakan Dinas Kelautan dan Pertanian Kota Tegal.

produksi telur. Ransum untuk ayam berproduksi pada komposisi yang baik adalah dengan kandungan protein 17% dan energinya 2850 kkal/kg; akan menghasilkan produksi telur yang baik untuk daerah tropis. Perhitungan kandungan ransum dapat dilakukan secara sederhana dengan membandingkan komposisi antara pakan sumber protein dan sumber karbohidrat. Pakan ayam arab terdiri atas konsentrat petelur dengan kandungan protein 17%, jagung giling dan dedak dengan rasio 3:2:1. Jika ransum yang tersedia hanya dedak dan konsentrat (pabrik) maka komposisi 3:1 sudah mendekati kandungan nutrisi (protein dan energi) di atas. Selain makanan, hal lain yang penting untuk diperhatikan adalah minuman untuk ayam arab. Minuman idealnya diberikan dengan wadah tersendiri. Untuk menambah produktivitas telur ayam arab, pada minuman biasanya ditambahkan egg stimulant. Pemeliharaan ayam Arab petelur bisa dilakukan dengan kandang sistem terbatas atau sistem battery, yaitu ayam dikandangkan satu persatu. Kandang dibuat dengan ukuran: panjang 25 cm, lebar 35 cm, tinggi belakang 28 cm dan tinggi depan 35 cm. Sistem battery lebih hemat tempat dan memudahkan pemeliharaan dan mengontrol ayam agar tidak terjangkit penyakit. Hal-hal lain yang krusial dan perlu mendapat perhatian serius adalah mengenai kesehatan, sanitasi kandang, dan berbagai feed additif, guna mendapatkan hasil yang maksimal. Ayam arab lebih tahan terhadap serangan penyakit dibanding dengan ayam ras dan ayam buras lainnya, namun bukan berarti kebal. Untuk menjaga kekebalan tubuh, ayam arab juga membutuhkan vaksinasi sejak ayam keluar dari cangkang telur hingga ayam yang sudah dewasa. Vaksinasi harus diberikan demi menghindari virus Marek. Ini sejenis penyakit yang menyerang hati ayam. Jenis penyakit lain yang sering menyerang ayam arab antara lain: Newcastle Desease (ND) atau tetelo, pesau sampar, dan avian influenza. Avian influenza sendiri merupakan penyakit yang disebabkan oleh virus dan sangat mematikan. Selain itu, pembudidaya ayam arab juga harus menjaga kebersihan kandang. Tiga kali seminggu kandang harus disemprot dengan desinfektan. Suhu kandang harus diperhatikan, yakni antara 27 derajat Celcius sampai 30 derajat Celcius.

Idealnya, kandang harus punya suhu 27 derajat Celcius. Kelembaban kandang yang dibutuhkan 60% sampai 80%. Produksi telur juga bisa dipengaruhi oleh faktor luar lainnya. Seperti ayam petelur lainnya ayam arab memiliki sifat mudah stress, terhadap suara gaduh atau kehadiran orang asing di dekatnya. Untuk menjaga agar produktivitasnya tetap tinggi diusahakan agar ayam-ayam terhindar dari hal-hal yang bisa membuat stress. Pada sistem pemeliharaan secara intensif, bisa diantisipasi dengan pemagaran keliling pada kandang. Diupayakan agar tidak sembarang orang bisa memasuki atau mendekat di sekitar kandang, terutama pada saat ayam-ayam sedang berproduksi. Pengembangan Ayam Arab di Kota Tegal Ayam arab pada masa sekarang ini agaknya mulai menjadi alternatif usaha yang menjanjikan. Dengan kemampuan produksi telur yang tinggi dan pemeliharaan yang relatif mudah, maka banyak peternak mulai melirik untuk membudidayakan ayam arab sebagai ayam petelur, tak ketinggalan pula bagi peternak di Kota Tegal. Peternak di Kota Tegal, Jawa Tengah, mulai mengembangkan budidaya ayam arab yang dinilai memiliki sejumlah keunggulan. Budidaya jenis ayam tersebut dilakukan Kelompok Ayam Melati, Kelurahan Krandon, Kecamatan Margadana, serta kelompok peternak di Kelurahan Tunon, Kecamatan Tegal Selatan, Kota Tegal. Ayam arab yang dikembangkan di wilayah tersebut berasal dari bantuan pemerintah pusat, melalui program penempatan dan perluasan kesempatan kerja (PPKK). Jumlah ayam arab yang dikembangkan dua kelompok tersebut sekitar 600 ekor, atau masing-masing 300 ekor untuk setiap kelompok. Dipilihnya ayam arab sebagai jenis ayam yang dikembangkan pada dua kelompok tersebut, karena ayam jenis itu dinilai memiliki beberapa keunggulan. Selain kadar proteinnya tinggi, ayam itu juga bisa menghasilkan telur secara terusmenerus, selama 2 tahun. Rasa telur yang dihasilkan juga gurih, seperti halnya telur ayam kampung. Dan yang jelas, dipilihnya jenis ayam tersebut, karena memang usulan dari penerima bantuan. Dalam mengembangkan jenis ayam arab tersebut, masing-masing kelompok

WARTA BAHARI, Edisi 69/2012

35

Delik

Operasi Patuh Candi


Ciptakan Kamseltibcarlantas
apolres Tegal Kota AKBP Haryadi Mukhtas SIK Msi melalui Kabag Ops Kompol Kristanto Budi Nursetya S.Sos menjelaskan pelaksanaan kegiatan operasi patuh candi dilakukan serentak di seluruh daerah jajaran kepolisian. "Tujuannya adalah memberikan kepatuhan pada warga demi terwujudnya Kamseltibcarlantas," ujar Kristanto. Operasi Patuh Candi tidak terfokus pada penegakan hukum, namun fifty-fifty. "Artinya 50 persen penegakan hukum dalam penertiban lalu lintas sistem operasi hunting dan 50 persen lagi berupa tindakan preventif seperti pemasangan spanduk, penyuluhan kelompok masyarakat dan pengaturan anggota di jalan langsung," lanjut Kristanto. Sebelumnya Polres Tegal Kota juga telah menggelar Operasi Citra Polantas Simpatik Candi. Hal ini ditujukan untuk memberikan kepatuhan masyarakat pada aturan hukum demi terciptanya Kamseltibcarlantas. Operasi Citra Polantas Simpatik Candi tidak seratus persen dilakukan dengan penegakan hukum, namun tindakan preventif dengan telah dipasangnya ratusan spanduk, imbauan rawan kecelakaan lalu lintas dan waspada aksi kejahatan di sejumlah titik jalan Kota Tegal. Sementara itu pelaksanaan Operasi Patuh Candi dilaksanakan dalam upaya persiapan Operasi Ketupat Candi menghadapi arus mudik lebaran. Diharapkan dengan digelarnya operasi ini dapat me-

Polres Tegal Kota menggelar Operasi Patuh Candi yang berlangsung tanggal 4 Juli 2012 sampai tanggal 17 Juli 2012. Operasi ini dilakukan untuk menumbuhkan semangat masyarakat kota Tegal agar patuh terhadap aturan hukum demi terciptanya Keamanan, Keselamatan, Ketertiban, Kelancaran Lalu Lintas atau (Kamseltibcarlantas).
Oleh: Yulianto

nekan tindak kriminalitas serta kecelakaan lalu lintas di wilayah hukum Polres Tegal Kota. Sementara untuk menghadapi bulan suci ramadhan serta lebaran 2012, Polres Tegal Kota telah menggelar giat Operasi Penyakit Masyarakat (PEKAT) dan memonitor peredaran minuman keras salah satunya dengan merazia keberadaan minuman keras di sejumlah toko. Razia dilakukan jajaran Polres Tegal Kota di sejumlah toko, pembuat miras oplosan yang wilayah kota Tegal. Dari hasil razia perdana pada pekan kemarin, Polres Tegal Kota berhasil menyita 371 botol dengan berbagai jenis dan merk diantaranya anggur putih, kolesom, anggur merah, vodka, topi miring termasuk miras oplosan seperti brangkal. Ratusan botol miras disita dari sejumlah toko dan rumah warga diduga pengoplos miras yang sudah menjadi titik target polisi. Kristanto mengatakan razia dilakukan guna mengantisipasi tindak kejahatan yang disebabkan oleh pengaruh minuman keras dan menciptakan situasi kondusif kota Tegal menjelang bulan Ramadhan. "Razia akan dilakukan secara rutin dengan melibatkan semua anggota termasuk reskrim, narkoba, sabhara serta semua anggota polsek" ujar Kristanto. Diharapkan operasi ini bisa menekan angka kriminalitas dan premanisme sehingga tercipa Kota Tegal yang aman dan kondusif. ***

Walikota Tegal Ikmal Jaya, SE,Ak. secara simbolis mengawali pemusnahan miras dengan memecahkan botol miras

36

WARTA BAHARI, Edisi 69/2012

Delik
Sedikitnya 16 orang terjaring razia Penyakit Masyarakat oleh tim anggota gabungan Dinas Sosial Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kota Tegal, dibantu anggota Denpom, Pomal, Polres Tegal Kota dan Satpol PP Kota Tegal. 16 orang terjaring razia di beberapa tempat berbeda yakni di Obyek wisata PAI Kota Tegal dan beberapa hotel melati.

Razia Penyakit Masyarakat


Oleh: Yulianto

Selama Bulan Ramadhan

Sepasang remaja terjaring razia di Pantai Alam Indah


azia dilakukan Sabtu malam (14/7) pukul 20.00 WIB dengan menjajaki wilayah obyek wisata Pantai Alam Indah (PAI). Dalam razia petugas berpencar untuk menyusuri tempat yang diduga sebagai ajang mesum. Di PAI petugas berhasil mendapati sejumlah pasangan yang tidak bisa menunjukkan identitas resmi mereka sebagai pasangan yang sah. Dirasa hasil belum memuaskan, razia kembali dilanjutkan dengan menyusuri keberadaan pasangan mesum yang menginap di beberapa hotel kelas melati. Kembali saat melakukan razia petugas mendapati beberapa pasangan mesum terdapat sedang menginap tanpa membawa identitas resmi yang menunjukkan jika mereka adalah pasangan suami istri. Razia akhirnya berhenti pada pukul 02.00 Minggu dini hari. Dari razia menjelang bulan Ramadhan petugas hanya berhasil menggaruk 16 orang yang terdiri dari pasangan mesum dan pasangan remaja yang semuanya tidak bisa menunjukkan kartu identitas. "Kegiatan ini dalam rangka menjelang

bulan Ramdahan dengan target kita sebenarnya para pekerja sex komersial (PSK). Tetapi kali ini sepertinya hasil kurang maksimal, dan diduga razia kali ini bocor terlebih dahulu," ujar Kepala Dinsosnakertrans Kota Tegal Sumito SIP. Karena hanya pasangan mesum dan pasangan remaja pacaran, maka mereka yang terkena razia hanya diminta menghadirkan keluarganya. Selain itu mereka juga harus menandatangani surat pernyataan serta diberi pembinaan. Sumito juga menambahkan rencananya razia akan terus digalakkan hingga memasuki bulan Ramadhan. Hal ini dilakukan agar bulan suci Ramadhan di Kota Tegal berjalan kondusif sehingga umat Islam bisa khusyuk menjalankan ibadah puasa. Tidak hanya Dinsosnakertrans Kota Tegal, jajaran Polres Tegal Kota juga melakukan hal serupa untuk meminimalisir tindak kriminal saat bulan Ramadhan, termasuk memberantas penyakit masyarakat seperti judi togel. Kamis (12/7) Unit Resmob dan Unit III Sat Reskrim Polres Tegal Kota berhasil

menggerebek peredaran Judi Toto Gelap atau TOGEL. Kur Bin Ops Sat Reskrim Ipda Belnas Palipadang SE, yang memimpin operasi penggerebek-an berhasil menangkap dua tersangka yakni Slamet Riyadi (37) warga Jl. Kolo-nel Sudiarto Gang VII RT 8/4 yang me-rupakan pengecer Togel, serta Kustino (59) yang kerap menjadi pengepul Togel. "Kedua tersangka ditangkap di tempat berbeda, tersangka Slamet Riyadi ditangkap dirumahnya dengan barang bukti berupa handphone serta uang Rp. 550.000," ujar Belnas. Kini tersangka sudah meringkuk di sel tahanan Polres Tegal Kota, sementara anggota tim dari Unit Resmob masih mencari bandar yang sudah dikantongi identitasnya. Pemberantasan judi Togel juga merupakan target utama untuk mengkondusifkan wilayah kota Tegal saat bulan suci Ramadhan sehingga masyarakat berpuasa secara khidmat dan tidak merasa terganggu dengan segala bentuk tindakan kriminal termasuk judi jenis apapun. ***

WARTA BAHARI, Edisi 69/2012

37

English Corner

Mudik
A few days later, the mass media news began to highlight the activities of people going home before the Eid al-Fitr. Travelers continued to flood the terminal, station, port, to the airport. So where did actually the term of mudik come from? Nobody can answer this question acurately. Based on Kamus Umum Bahasa Indonesia WJS Poewadarminta (1976), mudik is known as going home to the village along with the coming of the Eid al-Fitr. Ilustrasi: dari internet
By: Yolla Pamela

heres no mudik tradition in Islamic Ways. After fasting for a month, Moslems only have to spend their wealth for alms or zakat fitrah and do The Eid al-Fitr Praying on the ground of Mosque. Moslems may also not do fasting in the first and second day of Eid al-Fitr. However, some people interpretate of the meaning of Eid is a return to origins. So that the nomads in big cities, back to their hometown or do mudik. Indonesian itself is a descendant of Melanesia, the combination Clan of Greece and China. They are known as a floater. They spread to various places to find the source of livelihood. At the time which is considered as good months, they will visit the family at home. Usually they come home to perform a ritual or religious beliefs. While according to Umar Kayam, at first mudik was the primordial tradition of farming community in Java. Mudik had been existed since long time before the kingdom of Majapahit periode. At the time of the Majapahit kingdom, a tradition of mudik conducted by the royal family. This activity was originally

used to clean the cemetery or graves of ancestors, they also prayed for the Gods in Khayangan. Tradition is intended that the nomads were save in looking for fortune and their family at home were free from troubles. However, the influence of Islam to the Land of Java makes this tradition gradually eroded, as it is considered shirk. Even so, the opportunity to return home once a year is up by moments of Eid. So, no wonder most people are going home Java has always found time for a pilgrimage and clean the graves. Now, by the development of technology, there are already a phone, internet, until the teleconference that facilitates communication remotely. However, although the cost of communication via phone and internet is affordable, people feel the mudik tradition is no longer replaceable. According to Ari Sudjito (Sociologist Of Gajahmada University), there are some things that cause the technology can not replace the tradition of mudik. One of them, because the technology has not become a fundamental part of the culture in Indonesia, espe-

cially in rural communities. So that the nomads are willing to jostle in line the ticket, take the train just after arriving back home before the holiday. However, that does not mean the tradition of homecoming can not be lost. Homecoming tradition could be lost, but in a relatively long time. There are at least four things that the goal of going home and it is difficult to be replaced by technology. First, look for a blessing to stay in touch with parents, relatives, and neighbors. Second, psychological therapy. Most migrants who work in big cities utilize widths for refreshing moments of daily work routines. So when returning to work, the condition is fresh again. Third, remembering the origin. Many migrants who already have children, by mudik they can introduce the homecoming of their origin. And the last, is to show off. Many of the migrants do mudik to show people in their village that they have bacome success person in bBig City. So, it is difficult to eliminate the tradition of mudik in Indonesia. And this is okay as long as people can do good management in mudik.

38

WARTA BAHARI, Edisi 69 /2012

Walikota Tegal H. Ikmal Jaya, SE, Ak. beserta jajaran Forum Komunikasi Pimpinan Daerah (Forkopinda) mengecek pintu air muara Sungai Kemajong.

Wakil Walikota Tegal H. Habib Ali ZA, SE, meninjau pembangunan Rusunawa di Kecamatan Tegal Barat