Anda di halaman 1dari 4

KATA PENGANTAR Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa yang telah melimpahkan rahmat d an hidayahnya, sehingga

penyusun dapat menyelesaikan makalah ini dengan baik. Ma kalah yang berjudul Persekutuan Hukum Adat penyusun susun untuk memenuhi tugas mat a kuliah Hukum Adat, serta untuk memperdalam ilmu pengetahuan mengenai persekutu an hukum adat dan jenis persekutuan hukum adat. Dalam kesempatan ini, penyusun mengucapkan terima kasih kepada pih ak- pihak yang telah mendukung pembuatan makalah ini dari awal hingga ak hir, yaitu : 1. Ibu Setiati Widihastuti, M.Hum., selaku dosen pembimbing mata kuliah Huk um Adat yang telah memberikan bimbingan, sehingga penyusun dapat menyusun makala h dengan baik. 2. Kedua orang tua penyusun yang telah membantu serta memberikan motiv asi dan semangat kepada penyusun dalam menyelesaikan makalah ini. 3. Teman-teman di Jurusan Pendidikan Kewarganegaraan dan Hukum serta dilua r komunitas Pendidikan Kewarganegaraan yang selalu mendukung dan memberikan semangat sehingga penyusun dapat menyelesaikan makalah dengan baik. Penyusun menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari kesempurnaan, oleh k arena itu penyusun mengharapkan kritik dan saran yang membangun agar makal ah ini dapat lebih baik dan berguna untuk masa depan. Yogyakarta, 29 September 2012 Penyusun

DAFTAR ISI KATA PENGANTAR i DAFTAR ISI ii BAB 1 PENDAHULUAN 1 A. Latar Belakang Masalah 1 B. Rumusan Masalah.. 2 C. Maksud dan Tujuan 2 BAB 2 PEMBAHASAN 1. Dasar Pembentuk Masyarakat Hukum Ada ... 2. Bentuk Masyarakat Hukum Adat .. 4 BAB 3 1. PENUTUP Kesimpulan

DAFTAR PUSTAKA

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

Dalam masyarakat hukum adat ini yang di bicarakan adalah tentang masalah membent uk masyarakat hukum adat dan bentuk masyarakat hukum adat tersebut. Dalam masyar akat hukum adat terdapat beberapa faktor dan beberapa persekutuan hukum adat. Ma nusia sebagai subjek hukum dalam pembentukan masyarakat hukum adat, di lihat dar i segi tersebut bahwa setiap manusia baik laki-laki atau perempuan memiliki kedu dukan yang sama sebagai subjek hukum dalam masyarakat hukum adat, karena setiap manusia dalam hukum adat adalah pendukung atau pembawa hak dan kewajiban. Persek utuan hukum Genealogis yaitu persekutuan hukum yang dibentuk dari orang-orang ya ng memiliki garis keturunan / clan yang sama. Persekutuan Hukum Teritorial yaitu persekutuan hukum yang dibentuk dari orang-orang yang bertempat tinggal dalam l ingkungan atau wilayah yang sama. B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang tersebut, maka dapat dirumuskan sebagai berikut: 1. Apa saja persekutuan dan dasar pembentukan persekutuan hukum adat? 2. Perbandingan persekutuan hukum adat itu sendiri?

C.

Maksud dan Tujuan

Maksud dan tujuan penyusunan makalah adalah untuk memahami dan mengkaji tentang permasalahan persekutuan hukum adat yang ada di Indonesia, terutama mengenai pe rsekutuan hukum adat. BAB II PEMBAHASAN A. DASAR YANG MEMBENTUK MASYARAKAT HUKUM ADAT Mengenai masyarakat hukum adat, secara teoritis pembentukkannya disebabkan karen a adanya factor ikatan yang mengikat masing-masing anggota masyarakat hukum adat . Faktor ikatan yang membentuk masyarakat hukum adat secara teoritis adalah: 1. Factor Genealogis (keturunan) yang di maksud dengan hal keturunan dalam hukum adat yaitu terikat pada hubungan keturunan dalam ikatan pertalian daerah d an kekerabatan. 2. Factor Teritorial (wilayah) yang di maksud dengan teritorial adalah peng ikat utama anggota kelompoknya adalah daerah kelahiran dan menjalani kehidupan b ersama ditempat yang sama. B. BENTUK MASYARAKAT HUKUM ADAT Berdasarkan kedua faktor ikatan di atas, kemudian tertbentuklah masyarakat hukum adat, yang dalam studi hukum adat disebut tiga tipe utama persekutuan hukum ada t yang dalam studi hukum adat disebut: 1. Persekutuan hukum genealogis 2. Persekutuan hukum territorial 3. Persekutuan hukum genealogis-teritorial, yang merupakan penggabungan dua persekutuan hukum di atas Kejelasan dari masing-masing bentuk masyarakat hukum adat di atas adalah sebagai berikut: a) Persekutuan Hukum Genealogis Pada persekutuan hukum (masyarakat hukum) genealogis dasar pengikat utama anggot

a kelompok adalah persamaan dalam keturunan, artinya anggota-anggota kelompok it u terikat karena merasa berasal dari nenek moyang yang sama. Masyarakat hukum genealogis ini dapat di bedakan dalam dua macam yaitu yang bers ifat: 1. Masyarakat yang patrilineal Pada masyarakat yang patrilinial ini susunan masyarakatnya ditarik menurut garis keturunan dari Bapak (garis laki-laki), sedangkan garis keturunan Ibu di singki rkan. Yang termasuk kedalam masyarakat patrilinial ini misalnya marga genealogis orang Batak yang mudah dikenal dari nama marga-marga mereka seperti Sinaga, Simat upang, Situmorang, Pandiangan, Nainggolan, Pane, Aritonang, Siregar, dan sebagai nya. Masyarakat yang patrilinial ini terdapat juga di Nusa Tenggara (Timor), Mal uku, dan Irian Jaya. 2. Masyarakat yang Matrilineal

Pada masyarakat yang matrilineal, dimana susunan masyarakatnya ditarik menurut g aris keturunan Ibu (garis perempuan), sedangkan garis keturunan Bapak disingkirk an. Yang termasuk ke dalam masyarakat matrilineal ini adalah mayarakat Minangkab au. Masyarakat matrilineal ini tidak mudah dikenal karena mereka jarang sekali m enggunakan nama-nama keturunan sukunya secara umum. Suku dalam masyarakat Minang kabau sama dengan marga dalam masyarakat Batak. Oleh karena itu, suku di sini diar tikan bukanlah dalam arti suku bangsa, satu turunan menurut matriarchat (matriline al). Pada mulanya suku pada masyarakat Minangkabau ada empat yaitu: a. Koto b. Piliang c. Bodi d. Chainago kemudian suku Koto dan Piliang digabungkan menjadi lareh Koto piliang kemudian suk u Bodi dan Chaniago di gabungkan menjadi lareh Bodi Chaniago. 3. Masyarakat yang Bilateral atau Parental

Pada masyarakat yang bilateral atau parental, susunan masyarakatnya ditarik dari garis keturunan orang tuanya yaitu Bapak dan Ibu bersama-sama sekaligus. Jadi h ubungan kekerabatan antara pihak Bapak dan pihak Ibu berjalan seimbang atau seja jar, masing-masing anggota kelompok masuk kedalam klan Bapak dan klan Ibu, seper ti terdapat di Mollo(Timor) dan banyak lagi di Melanesia. Tetapi kebanyakan sifa tnya terbatas dalam beberapa generasi saja seperti di kalangan masyarakat Aceh, Melayu, Kalimantan, Jawa dan Sulawesi. Masyarakat Bilateral di bagi menjadi dua, yaitu: a. Somah Keluarga inti atau batih, yakni kesatuan sosial terkecil, terdiri dari ayah, ibu dan anak (juga kadang-kadang nenek). Sedangkan Koenjaraningrat mengungkap bahwa keluarga inti adalah terdiri dari seorang Suami, seorang Istri dan anak-anak me reka yang belum kawin. Anak tiri dan anak angkat yang resmi mempunyai hak dan we wenang yang kurang lebih sama dengan anak kandungnya. b. Rumpun Masyarakat yang masih satu suku atau orang yang masih satu keturunan, tanpa penc amuran dari lain suku. Misalnya rumpun Melayu, orang melayu yang memilki keturu nan dari kedua orangtuanya yang ber-suku melayu juga. b) Persekutuan Hukum Teritorial Mengenai persekutuan hukum territorial yang dimaksudkan di atas, dasar pengikat utama anggota kelompoknya adalah daerah kelahiran dan menjalani kehidupan bersa

ma ditempat yang sama. Persekutuan hukum teritorial ini di bedakan ke dalam tiga macam yaitu: a. Persekutuan Desa (dorp) Termasuk dalam persekutuan desa seperti desa orang jawa, yang merupakan suatu te mpat kediaman bersama di dalam daerahnya sendiri termasuk beberapa pedukuhan yan g terletak disekitarnya yang tunduk pada perangkat desa yang berkediaman di pusa t desa. b. Persekutuan Daerah (streek) Termasuk persekutuhan daerah seperti kesatuan masyarakat nagari di minangkabau, mar ga di sumatera selatan dan Lampung, negorij di Minahasa, dan Maluku, di masa lampau yang merupakan suatu daerah kediaman bersama dan menguasai tanah hak ulayat ber sama yang terdiri dari beberapa dusun atau kampung dengan satu pusat pemerintaha n adat bersama. c. Persekutuan dari beberapa Desa Termasuk perserikatan desa adalah apabila di antara beberapa desa atau marga yan g terletak berdampingan yang masing-masing berdiri sendiri mengadakan perjanjian kerja sama untuk mengatur kepentingan bersama, misalnya kepentingan dalam menga tur pemerintahan adat bersama, pertahanan bersama, kehidupan ekonomi, pertanian dan pemasaran bersama. c) Persekutuan Hukum Genealogis-Teritorial Berikutnya mengenai persekutuan hukum genealogis-teritorial dasar pengikat utam a anggota kelompoknya adalah dasar persekutuan hukum genealogis dan teritorial. Jadi, pada persekutuan hukum ini, para anggotanya bukan saja terikat pada tempat kediaman daerah tertentu tetapi juga terikat pada hubungan keturunan dalam ikat an pertalian daerah dan atau kekerabatan. BAB III KESIMPULAN

DAFTAR PUSTAKA Taneko, Soleman B., Hukum Adat, Bandung: Eresco, 1987 Hilman Hadikusumo, Pengantar Ilmu Hukum Adat Indonesia, Bandung: Mandar Maju, 19 92 Soekanto, Menindjau Hukum Adat Indonesia, Djakarta: Soeroengan, 1958