Anda di halaman 1dari 26

LAPORAN PRAKTIKUM TEKNOLOGI NON STERIL

SEDIAAN SIRUP

Kelompok 2B Panji Faisal Resti Andriani Perdana Ria Ayi Kurniasih Uli Sulhiyyah Waode Elshy Manuar 09012040 09012045 09012046 09012050 09012052

SEKOLAH TINGGI TEKNOLOGI INDUSTRI DAN FARMASI BOGOR 2012


KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kepada Allah Yang Maha Esa karena atas berkat rahmatNyalah kami dapat menyusun dan menyelesaikan laporan praktikum mata kuliah teknologi non steril yang berjudul sediaan sirup.

Kami menyadari bahwa makalah yang kami susun ini masih jauh dari sempurna oleh sebab itu kami sangat mengharapkan saran dan kritik yang bersifat membangun. Kami harap laporan ini dapat bermanfaat bagi semua pihak.

Akhir kata kami mohon maaf apabila terdapat kesalahan yang disengaja maupun yang tidak disengaja.

Bogor, April 2012

Penyusun

BAB I

PENDAHULUAN I.1 Dasar Teori A. Sediaan Sirup Sirup adalah cairan yang kental dan tinggi, namun hampir tidak memiliki kadar gula terlarut yang kecenderungan disebabkan untuk oleh

memiliki sirup

mengendapkan kristal. Viskositas (kekentalan)

banyaknya ikatan hidrogen antara gugus hidroksil (OH) pada molekul gula terlarut dengan molekul air yang melarutkannya. Secara teknik maupun dalam dunia ilmiah, istilah sirup juga sering digunakan untuk menyebut cairan kental, umumnya residu, yang mengandung zat terlarut selain gula. Untuk meningkatkan kadar gula terlarut, biasanya sirup dipanaskan. Larutan sirup menjadi super-jenuh. Sirup juga sering digunakan pada dunia obat-obatan, kuliner serta minuman. Dalam Farmakope Indonesia edisi III,Sirup adalah sediaan cair berupa larutan yang mengandung sakarosa. Kecuali dinyatakan lain,kadar

sakarosa,C12H22O11, tidak kurang dari 64,0% dan tidak lebih dari 66,0%. Sirup adalah sediaan pekat dalam air dari gula atau perngganti gula dengan atau tanpa penambahan bahan pewangi dan zat obat (Ansel, 1989) Sirup adalah larutan oral yang mengandung sukrosa atau gula lain yang berkadar tinggi (sirop simpleks adalah sirop yang hampir jenuh dengan sukrosa). Kadar sukrosa dalam sirop adalah 64-66% , kecuali dinyatakan lain (Syamsuni, 2007). Sirop adalah larutan pekat gula atau gula lain yang cocok yang di dalamnya ditambahkan obat atau zat wewangi, merupakan larutan jerni berasa manis. Dapat ditambahkan gliserol, sorbitol, atau polialkohol yang lain dalam jumlah sedikit, dengan maksud selain untuk menghalangi pembentukan hablur sakarosa, juga dapat meningkatkn kelarutan obat (Anonim, 1978).

Komponen sirup

Sebagian besar sirup-sirup mengandung komponen-komponen berikut didamping air murni dan semua zat-zat obat yang ada: Gula, biasanya sukrosa atau pengganti gula igunakan untuk memberi rasa manis dan kental. Pengawet anti mikroba. Diantara pengawet-penagawet yang umum digunakan sediaan sirup dengan konsentrasi lazim yang efektif adalah : asam benzoat (0,10,2 %), natrium benzoat (0,1-0,2 %) dan berbagi campuran metil,profil,dan butil paraben (total 0,1 %). Sering kali alkohol digunakan dalam pembuatan sirup untuk membantu kelarutan bahan-bahan yang larut dalam alkohol, tetapi secara normal alkohol tidak ada dalm produk akhir dalm jumlah yang dianggap cukup sebagai pengawet (15-20 %).

Pembau dan Pewarna. Untuk menambah daya tarik sirup, umumnya digunakan zat pewarna yang berhubungan dengan pemberi rasa yang digunakan ( misalnya hijau untuk rasa permen, coklat untuk rasa coklat dan sebaginya). Pewarna yang digunakan umum larut dalam air, tidak bereaksi dengan komponen lain dari sirup, dan warna stabil pada kisaran pH dan dibawah cahaya yang intensif sirup tersebut mungkin menjadi enounter selama masa penyimpanan.

Perasa. Hampir semua sirup disedapkan dengan pemberi rasa buatan atau bahan-bahan yang berasal dari alam seperti minyak-minyak menguap (contoh : minyak jeruk), vanili dan lain-lainnya. Untuk membuat sirup jamin yang sedap rasanya. Karena sirup adalah sediaan air, pemberi rasa ini harus mempunyai kelarutan dalam air yang cukup. Akan tetapi, kadang-kadang sejumlah kecill alkohol ditambahkan kesirup untuk menjamin kelangsungan kelarutan dari pemberi rasa yang kelarutannya dalam air buruk.

Biasanya untuk

untuk

sirup

yang

dibuat

dalam

perdagangan,mengandung kelarutan,kental,dan stabilisator. Jenis Jenis Sirup Ada 3 macam sirup, yaitu : 1. Sirup simpleks 2. Sirup obat

pelarut-pelarut

khusus,pembantu

: mengandung 65% gula dengan larutan nipagin 0,25% b/v. : mengandung 1 jenis obat atau lebih dengan atau tanpa zat tambahan dan digunakan untuk pengobatan.

3. Sirup pewangi

: tidak mengandung obat tetapi mengandung zat pewangi atau zat penyedap lain. Tujuan pengembangan sirup ini adalah untuk menutupi rasa tidak enak dan bau obat yang tidak enak.

Keuntungan 1. Sesuai untuk pasien yang sulit menelan (pasien usia lanjut, parkinson, anak - anak). 2. Dapat meningkatkan kepatuhan minum obat terutama pada anak - anak karena rasanya lebih enak dan warna lebih menarik. 3. Sesuai untuk yang bersifat sangat higroskopis dan deliquescent. Kerugian 1. Tidak semua obat ada di pasaran bentuk sediaan sirup. 2. Sediaan sirup jarang yang isinya zat tunggal, pada umumnya campuran/kombinasi beberapa zat berkhasiat yang kadang-kadang sebetulnya tidak dibutuhkan oleh pasien. Sehingga dokter anak lebih menyukai membuat resep puyer racikan individu untuk pasien. 3. Tidak sesuai untuk bahan obat yang rasanya tidak enak misalnya sangat pahit (sebaiknya dibuat kapsul), rasanya asin (biasanya dibentuk tablet effervescent).

4. Tidak bisa untuk sediaan yang sukar larut dalam air (biasanya dibuat suspense atau eliksir). Eliksir kurang disukai oleh dokter anak karena mengandung alcohol, suspense stabilitasnya lebih rendah tergaantung ormulasi dan suspending egent yang digunakan. 5. Tidak bisa untuk bahan obat yang berbentuk minyak (oily, biasanya dibentuk emulsi yang mana stabilitas emulsi lebih rendah dan tergantung formulasi serta emulsifying agent yang digunakan). 6. Tidak sesuai untuk bahan obat yang tidak stabil setelah dilarutkan (biasanya dibuat sirup kering yang memerlukan formulasi khusus, berbentuk granul, stabilitas setelah dilarutkan haInya beberapa hari). 7. Harga relatif mahal karena memerlukan formula khusus dan kemasan yang khusus pula. Inkompabilitas dan Pengetasannya Inkompabilitas merupakan interaksi yang terjadi secara fisik atau kimia suatu bahan obat yang tidak dapat bercampur dengan obat lainnya, umumnya terjadi di luar tubuh. Definisi lain menyebutkan interaksi ini terjadi di luar tubuh (sebelum obat diberikan) antara bahan obat yang tidak dapat dicampur (inkompatibel). Pencampuran obat yang inkompatibel menyebabkan terjadinya interaksi langsung secara fisik atau kimiawi, yang hasilnya mungkin terlihat sebagai pembentukan endapan, perubahan warna atau mungkin juga tidak terlihat. Interaksi ini biasanya mengakibatkan inaktivasi obat. Stabilitas Sediaan Sirup Stabilitas Kimia Stabilitas kimia adalah kemampuan suatu produk untuk bertahan dalam batas yang ditetapkan sepanjang periode penyimpanan dan penggunaan, sifat kimia dan karakteristiknya sarna dengan yang dimilikinya pada saat dibuat. Stabilitas kimia pada sediaan sirup dilakukan untuk mempertahankan keutuhan kimiawi dan potensiasi yang tertera pada etiket dalam batas yang dinyatakan dalam spesifikasi.

Uji stabilitas kimia sediaan sirup : 1. Identifikasi 2. Penetapan Kadar Stabilitas Fisika Stabilitas fisika adalah tidak terjadinya perubahan sifat fisik dari suatu produk selama waktu penyimpanan. Stabilitas fisika pada sediaan sirup dilakukan untuk mempertahankan keutuhan fisik meliputi perubahan warna, perubahan rasa, perubahan bau, perubahan tekstur atau penampilan. Uji stabilitas fisika sediaan sirup : 1. Organoleptik seperti bau, rasa, warna 2. pH 3. Berat jenis 4. Viskositas 5. Kejernihan larutan 6. Volume terpindahkan 7. Kemasan, meliputi etiket, brosur, wadah, peralatan pelengkap seperti sendok, no. batch dan leaflet. Stabilitas Mikrobiologi Stabilitas mikrobiologi suatu sediaan adalah keadaan di mana sediaan bebas dari mikroorganisme atau tetap memenuhi syarat batas mikroorganisme hingga batas waktu tertentu. Stabilitas mikrobiologi pada sediaan sirup untuk menjaga atau mempertahankan jumlah dan menekan pertumbuhan mikroorganisme yang terdapat dalam sediaan sirup hingga jangka waktu tertentu yang diinginkan. Uji stabilitas mikrobiologi sediaan sirup :

1. Jumlah cemaran mikroba ( uji batas mikroba ), untuk sediaan oral (sirup, tablet, granul, sirup kering, granul) dan rektal : Total bakteri aerob : Tidak lebih dari 10.000 CFU / gram atau ml. Total jamur/fungi : Tidak lebih dari 100 CFU / gram atau ml 2. 3. Escherichia coli, staphyloccocus : negatif

Uji efektivitas pengawet Untuk sediaan antibiotik dilakukan Penetapan Antibiotik secara Mikrobiologi

Stabilitas Farmakologi Stabilitas farmakologi pada sediaan sirup dilakukan untuk menjamin identitas, kekuatan, kemurnian,dan parameter kualitas lainnya dalam kurun waktu tertentu sehingga efek terapi tidak berubah selarna usia guna sediaan sirup. Uji stabilitas farmakologi sediaan sirup : 1. Pemerian : warna, bau, rasa 2. Identifikasi 3. Penetapan Kadar Stabilitas Toksikologi Stabilitas toksikologi sediaan sirup dilakukan untuk menguji kemampuan suatu produk untuk bertahan dalam batas yang ditetapkan sepanjang periode penyimpanan dan penggunaan, sifat dan karakteristiknya sarna dengan yang dimilikinya pada saat dibuat sehigga tidak terjadi peningkatan bermakna dalam toksisitas selama usia guna.

Uji stabilitas farmakologi sediaan sirup :

1. Pemerian : warna, bau, rasa 2. Identifikasi 3. Penetapan Kadar Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Stabilitas Sediaan Sirup 1. Faktor Internal Formulasi Kemasan atau wadah primer 2. Faktor Eksternal Suhu pH Pelarut Kelembaban Intensitas Cahaya Ketidakstabilan dan Cara Menstabilkan Pada Sediaan Sirup 1. Sediaan sirup mengandung air dan gula sehingga merupakan media yang sangat baik bagi pertumbuhan mikroorganisme sehingga harus ditambahkan pengawet. Pengawet yang dapat digunakan antara lain nipagin dan nipasol dengan perbandingan 0,18 : 0,02 (nipagin bersifat fungistatik dan nipasol bersifat bakteriostatik) kombinasi ini efektif untuk pencegahan terjadinya pertumbuhan bakteri dan jamur. 2. Zat aktif stabil pada pH tertentu oleh karena itu diperlukan dapar untuk mempertahankan pH sediaan sirup. Dapar yang biasa digunakan antara lain : dapar sitrat, dapar fosfat, dapar asetat.

3. Dalam sediaan sirup ada senyawa yang peka terhadap cahaya, maka digunakan botol berwarna coklat. 4. Rasa sirup yang kurang menyenangkan dapat diberi pemanis dan perasa agar penggunaannya lebih nyaman. 5. Untuk zat aktif yang mudah teroksidasi dalam sediaan sirup ditambahkan antioksidan. Contohnya : asam askorbat, asam sitrat. 6. Untuk mencegah caplocking karena sirupus simplek maka ditambahkan sorbitol/gliserin/propilenglikol 10% (sebagai pengental). 7. Sediaan cair biasanya bersifat voluminous pada saat disimpan sehingga perlu dikemas pada wadah yang sesuai.

B. Monografi 1. Isoniazid (INH) Pemerian : hablur putih atau tidak berwarna atau serbuk halus putih, tidak berbau, perlahan-lahan dipengaruhi oleh udara dan cahaya. Kelarutan : mudah larut dalam air, agak sukar larut dalam etanol, sukar larut dalam kloroform dan dalam eter. Isoniazid ( Laniazid , Nydrazid ), sebagai isonicotinylhydrazine ( INH ), merupakan lini pertama juga merupakan senyawa dalam dikenal organik yang pencegahan dan

antituberkulosis obat

pengobatan. Ini pertama kali ditemukan pada tahun 1912, dan kemudian pada tahun 1951 itu ditemukan efektif terhadap TBC dengan yang menghambat asam mycolic (lilin mantel). Isoniazid tidak pernah digunakan sendiri untuk mengobati TB aktif karena resistensi cepat berkembang. Isoniazid juga

memiliki antidepresan efek, dan itu adalah salah satu antidepresan yang pertama kali ditemukan. Isoniazid juga dapat digunakan dalam pengobatan dari BCGoma . Senyawa ini pertama kali disintesis di awal abad 20, tetapi aktivitas terhadap tuberculosis pertama kali dilaporkan pada awal 1950-an dan tiga perusahaan farmasi mencoba dengan kegagalan untuk secara bersamaan paten obat (yang paling menonjol yang Roche, yang diluncurkan mereka

versi, Rimifon , di 1952). Dengan diperkenalkannya isoniazid, obat untuk TBC pertama kali dianggap wajar. Isoniazid tersedia dalam tablet, sirup, dan bentuk injeksi (diberikan intramuskular atau intravena). Isoniazid tersedia di seluruh dunia, tidak mahal dan umumnya ditoleransi dengan baik. Hal ini dibuat dari asam isonikotinat , yang diproduksi dari 4-methylpyridine. Mekanisme kerja Isoniazid merupakan prodrug dan harus diaktifkan oleh enzim katalase

peroksidase-bakteri yang dalam M. TBC disebut katG. katG pasangan yang asil isonikotinat dengan NADH untuk membentuk isonikotinat asil-NADH

kompleks. Kompleks ini mengikat erat pada reduktase enoyl-protein pembawa asil dikenal sebagai InhA, sehingga menghalangi substrat enoyl-ACPM alam dan aksi sintase asam lemak . Proses ini menghambat sintesis asam mycolic , diperlukan untuk mikobakteri dinding sel. Berbagai radikal diproduksi oleh aktivasi katG dari Isoniazid, termasuk oksida nitrat, yang juga telah terbukti penting dalam aksi lain prodrug antimycobacterial PA-824. Isoniazid adalah bakterisida untuk cepat-

membagi mikobakteri tetapi bakteriostatik jika mycobacterium lambat tumbuh Isoniazid menghambat sistem P450. Metabolisme Isoniazid mencapai konsentrasi terapeutik dalam serum, cairan

serebrospinal (CSF), dan dalam granuloma caseous. Isoniazid dimetabolisme di hati melalui asetilasi . Ada dua bentuk dari enzim yang bertanggung jawab untuk asetilasi, sehingga beberapa pasien memetabolisme obat lebih cepat dari yang lain. Oleh karena itu, paruh adalah bimodal dengan puncak pada 1 jam dan 3 jam pada populasi AS. Metabolit akan dikeluarkan melalui urin. Dosis biasanya tidak harus disesuaikan jika terjadi gagal ginjal . Dosis Dosis standar isoniazid pada orang dewasa adalah 5 mg / kg / hari (maks 300 mg setiap hari). Ketika diresepkan sebentar-sebentar (dua kali atau tiga kali seminggu) dosisnya adalah 15 mg / kg (maks 900 mg setiap hari). Pasien dengan

bersihan obat yang perlahan (melalui asetilasi seperti dijelaskan di atas) mungkin memerlukan dosis yang dikurangi untuk menghindari toksisitas . Dosis yang dianjurkan untuk anak-anak adalah 8 sampai 12 mg / kg / hari. Efek samping Efek samping termasuk ruam , abnormal tes fungsi hati , hepatitis , anemia sideroblastic , anion ringansistem saraf gap asidosis pusat (SSP) metabolik tinggi , neuropati perifer ,

efek, interaksi

obat mengakibatkan

peningkatan fenitoin (Dilantin) atau disulfiram (Antabuse) tingkat dan keras kejang ( status epileptikus ). Neuropati perifer dan SSP efek berkaitan dengan penggunaan isoniazid dan disebabkan piridoksin (vitamin B 6 ) penipisan, tetapi jarang terjadi pada dosis 5 mg/kg. Orang dengan kondisi neuropati yang umum (misalnya, diabetes , uremia , alkoholisme , malnutrisi , HIV -infeksi), serta hamil wanita dan orang yang kejang gangguan, dapat

diberikanpyridoxine (vitamin B 6 ) (10-50 mg / hari) dengan isoniazid. Hepatotoksisitas dari INH adalah dengan kelompok nitrogen dalam struktur kimianya, seperti yang dimetabolisme di hati dan akan dikonversi ke sebuah molekul amonium, yang menyebabkan hepatitis. Hepatotoksisitas dapat dihindari dengan pemantauan klinis dekat pasien, untuk lebih spesifik, mual, muntah, sakit perut, dan nafsu makan. Isoniazid dimetabolisme oleh hati terutama oleh asetilasidan dehydrazination. N-

acetylhydrazine metabolit diyakini bertanggung jawab atas efek hepatotoksik terlihat pada pasien yang diobati dengan isoniazid. Tingkat asetilasi secara genetik ditentukan.Sekitar 50% dari kulit hitam dan Kaukasia inactivators lambat; mayoritas Inuit dan orang Asia inactivators cepat. Waktu paruh dalam asetilator cepat adalah 1 sampai 2 jam, sedangkan pada asetilator lambat itu adalah 2 sampai 5 jam. Penghapusan adalah umumnya tidak tergantung dari fungsi ginjal, namun paruh mungkin berkepanjangan dalam penyakit hati. Tingkat asetilasi belum terbukti secara signifikan mengubah efektivitas isoniazid. Namun, asetilasi lambat dapat menyebabkan konsentrasi darah lebih tinggi dengan administrasi kronis obat, dengan peningkatan risiko

toksisitas. Asetilasi cepat mengarah ke tingkat darah lebih tinggi dari acetylisoniazid metabolit toksik dan dengan demikian untuk peningkatan reaksi toksik - hepatitis yang 250 kali lebih umum dari pada asetilator lambat.Isoniazid dan metabolitnya diekskresikan dalam urin dengan 75 sampai 95% dari dosis diekskresikan dalam 24 jam. Sejumlah kecil juga diekskresikan dalam air liur, dahak, dan feses. Isoniazid dihilangkan dengan hemodialisis dan dialisis peritoneal.

Sakit kepala, kurang konsentrasi, penurunan berat badan, memori miskin, dan depresi semuanya telah dikaitkan dengan penggunaan isoniazid. Semua pasien dan pekerja kesehatan harus menyadari efek samping yang serius, terutama jika berpikir bunuh diri atau perilaku yang diduga. INH diketahui mengurangi sitokrom P450 dan dalam teori

mempromosikan

kemanjuran

Kontrasepsi. Terapi

sering

dikombinasikan

dengan Rifampisin . Rifampisin meningkatkan enzim P450 dan dapat mengurangi efektivitas kontrasepsi. Cara alternatif pengendalian kelahiran harus digunakan saat mengambil obat ini. Sebagai p450 diperlukan untuk sintesis porfirin defisiensi yang mengarah pada pembentukan heme miskin di sel darah merah awal mengarah ke anemia sideroblastic.

2. Propilen glikol Pemerian : cairan kental, jernih, tidak berwarna, rasa khas, praktis tidak berbau, menyerap air pada udara lembab. Kelarutan : dapat bercampur dengan air, dengan aseton, dan dengan kloroform, larut dalam eter dan dalam beberapa minyak esensial, tetapi tidak dapat bercampur dengan minyak lemak. Propylene glycol juga disebut 1,2-propanadiol atau propana-1 ,2-diol , adalah senyawa organik (suatu diol atau double alkohol ) dengan rumus

C3H8O2 atau HO-CH 2 -CHOH-CH3 . Ini adalah tidak berwarna, tidak berbau

hampir,

jelas,

cairan

kental

dengan

rasa

sedikit

manis, higroskopis dan larutdengan air , aseton , dan kloroform. Senyawa ini kadang-kadang disebut -propilen glikol untuk

membedakannya dari isomer yang propana-1 ,3-diol HO-(CH 2 ) 3 -OH, juga disebut -propilen glikol. Toksisitas akut lisan dari propilen glikol sangat rendah, dan jumlah besar dibutuhkan untuk menyebabkan kerusakan kesehatan pada manusia jelas; propilen glikol dimetabolisme dalam tubuh manusia menjadi asam

piruvat (bagian normal dari proses metabolisme glukosa, mudah diubah menjadi energi ), asam asetat (ditangani oleh etanol-metabolisme), asam laktat (asam yang normal umumnya berlimpah selama pencernaan), dan propionaldehida (zat yang sangat beracun). toksisitas Serius umumnya hanya terjadi pada konsentrasi plasma lebih dari 1 g / L, yang membutuhkan asupan yang sangat tinggi selama waktu yang relatif singkat. Ini akan hampir mustahil untuk mencapai tingkat beracun dengan mengkonsumsi makanan atau suplemen, yang mengandung paling banyak 1 g / kg PG . Kasus keracunan propilen glikol biasanya berhubungan dengan baik pemberian intravena tidak tepat atau konsumsi disengaja dalam jumlah besar oleh anak-anak. Potensi jangka panjang Toksisitas oral juga rendah. Dalam satu studi, tikus diberi pakan yang mengandung sebanyak 5 PG% dalam pakan selama 104 minggu dan mereka tidak menunjukkan efek sakit jelas. Karena toksisitas rendah lisan kronis, propilen glikol telah diklasifikasikan oleh AS Food and Drug Administration sebagai " umumnya diakui aman "(GRAS) untuk digunakan sebagai aditif makanan langsung. Kontak dengan propilen glikol pada dasarnya tidak menyebabkan iritasi pada kulit. propilen glikol ternyata dapat minimal mengiritasi mata, dan dapat menghasilkan konjungtivitis sementara sedikit (mata pulih setelah terkena akan dihapus). Paparan kabut dapat menyebabkan iritasi mata, serta iritasi saluran pernafasan atas. Menghirup uap propilen glikol muncul untuk menyajikan tidak ada bahaya yang signifikan dalam aplikasi biasa. Namun, pengalaman manusia sebagai

yang terbatas menunjukkan bahwa menghirup kabut propilen glikol dapat menyebabkan iritasi pada beberapa individu. Beberapa penelitian telah menyarankan bahwa propilen glikol tidak digunakan dalam aplikasi dimana inhalasi paparan atau kontak mata manusia dengan kabut semprotan materi-materi ini mungkin , seperti kabut untuk produksi teater atau solusi antibeku untuk stasiun mencuci darurat mata. Propilen glikol tidak menyebabkan sensitisasi dan menunjukkan tidak ada bukti menjadi karsinogen atau menjadi genotoksik. Tanggapan negatif terhadap pemberian intravena obat yang menggunakan PG sebagai eksipien telah terlihat di sejumlah orang, terutama dengan dosis besar daripadanya. Responses mungkin termasuk "hipotensi, bradikardia. QRS dan T kelainan pada EKG, aritmia, henti jantung, hyperosmolality serum, asidosis laktat, dan

hemolisis". Persentase yang tinggi (12% menjadi 42%) dari disuntikkan langsung- propilen glikol dihilangkan / dikeluarkan dalam urin berubah tergantung pada dosis, dengan sisanya muncul di glukuronat formnya. Kecepatan filtrasi ginjal menurun dengan meningkatnya dosis, yang mungkin karena propilen glikol yang bius ringan / SSP-depresan-sifat sebagai sebuah alkohol. Dalam satu kasus, pemberian melalui IV dari nitrogliserin PGditangguhkan ke tua pria mungkin disebabkan koma dan asidosis. Menurut sebuah studi 2010 oleh Universitas Karlstad , konsentrasi PGEs, propilen glikol dan eter glikol di udara dalam ruangan, udara terutama kamar tidur, telah dikaitkan dengan peningkatan risiko pernapasan banyak dan gangguan kekebalan tubuh pada anak-anak, termasuk asma , demam , eksim , dan alergi, dengan peningkatan risiko mulai dari 50% sampai 180%. Konsentrasi ini telah dikaitkan dengan penggunaan cat berbasis air dan berbasis air pembersih.

3. Na-CMC Karboksimetil selulosa (CMC) atau gusi selulosa adalah selulosa turunan dengan kelompok karboksimetil (-CH 2 -COOH) terikat untuk beberapa hidroksil kelompok dari glukopiranosa monomer yang membentuk selulosa

tulang punggung . Hal ini sering digunakan sebagai natrium garam , natrium karboksimetil selulosa. CMC digunakan dan dalam ilmu makanan sebagai viskositas pengubah berbagai produk

atau pengental , termasuk es

untuk menstabilkan emulsi dalam tambahan makanan, ia

krim . Sebagai

memiliki sejumlah

E E466. Ini juga merupakan konstituen dari banyak non-produk makanan, seperti KY Jelly , pasta gigi , obat pencahar , diet pil, air berbasis cat , deterjen , tekstil ukuran dan berbagai kertas produk. Hal ini digunakan terutama karena memiliki tinggi viskositas , tidak beracun, dan hypoallergenic. Dalam deterjen digunakan sebagai polimer suspensi tanah dirancang untuk deposit ke kapas dan kain selulosa lainnya menciptakan penghalang bermuatan negatif ke tanah dalam larutan pencuci. CMC digunakan sebagai pelumas nonvolatil tetes mata ( air mata buatan ). Kadang-kadang metil selulosa (MC) yang digunakan, tetapi non-polar metilkelompok (-CH 3 ) tidak menambahkan kelarutan atau reaktivitas kimia pada selulosa dasar. Setelah reaksi awal campuran yang dihasilkan menghasilkan sekitar 60% CMC ditambah garam 40% ( natrium klorida dan natrium glikolat ).Produk ini adalah CMC disebut Teknis yang digunakan dalam deterjen. Proses pemurnian lebih lanjut digunakan untuk menghilangkan garam-garam ini untuk

menghasilkan CMC murni yang digunakan untuk makanan, farmasi dan pasta gigi (odol) aplikasi. Sebuah peralihan "semi-murni" kelas juga diproduksi, biasanya digunakan dalam aplikasi kertas. CMC juga digunakan dalam obat-obatan sebagai agen penebalan. CMC juga digunakan dalam industri pengeboran minyak sebagai bahan lumpur pemboran, di mana ia bertindak sebagai pengubah viskositas dan agen retensi air. Poli-anionik selulosa atau PAC berasal dari CMC dan juga digunakan dalam praktek ladang minyak. Karboksimetil selulosa yang tidak larut microgranular digunakan sebagai resin pertukaran-kation dalam pertukaran ion kromatografi untuk pemurnian protein. Agaknya tingkat derivatisasi jauh lebih rendah sehingga sifat kelarutan dari selulosa microgranular dipertahankan sambil menambahkan yang cukup

negatif karboksilat kelompok dibebankan untuk mengikat protein bermuatan positif. CMC juga digunakan dalam paket es untuk membentuk campuran eutektik mengakibatkan titik beku lebih rendah dan kapasitas pendinginan karena itu lebih daripada es. Aqueous solusi CMC juga telah digunakan untuk membubarkan nanotube karbon. Diperkirakan bahwa molekul CMC panjang membungkus sekitar nanotube, yang memungkinkan mereka untuk terdispersi dalam air.

4. Syrupus simplex Sirupus simpleks (Jerman: "Sirup Sederhana") disebut di sektor farmasi, persiapan air murni dan gula. Ada sejumlah aturan produksi dalam farmakope atau koleksi resep, yang mewakili tapi akhirnya sebuah komposisi akhir dari sekitar 36 bagian air gula dan 64 bagian. Jumlah yang telah ditentukan gula yang dimasukkan ke dalam wadah yang sesuai dengan jumlah yang tepat dari air dan dipanaskan sampai

mendidih. Para sirup sekitar 120 detik dari titik didih awalcairan diharapkan untuk dimasak. Proses perebusan berfungsi tidak hanya solusi lengkap gula kristal, tetapi juga penghancuran protein sisa gula, dengan pembentukan busa sedikit diamati, yang menghilang setelah waktu memasak yang

ditentukan. Mungkin ada reaksi dari bebas gugus amino dari protein ( struktur peptida ) dengan kelompok aldehida gula datang, tetapi hal ini dapat diakui oleh semburat kuning sedikit sirup didinginkan ( reaksi Maillard ). Dalam alat memasak tertimbang segera dengan air panas ditambahkan ke jumlah dihitung dan kemudian segera dituangkan ke dalam wadah yang sesuai. Isi dari 64 wt -% gula dan air 36% diperlukan, misalnya, dengan rumus "formulasi standar SR". Beberapa aturan memerlukan penambahan bahan pengawet , seperti PHB -ester atau penambahan alkohol sebelumnya. Pada kadar gula terlalu rendah selama penyimpanan adalah fermentasi atau pertumbuhan jamur digunakan. Dengan kandungan gula lebih tinggi setelah pendinginan, kristalisasi dapat mengambil tempat gula.

Sebagai cairan pembawa untuk sirup lain, seperti sirup buah atau untuk produksi sirup batuk. Sirup jadi harus pada suhu kamar, disimpan yaitu sekitar 15-25 C. Pada suhu terlalu rendah, misalnya di lemari es, gula akan disimpan dalam bentuk Kandiskristallen dan memulai pertumbuhan kristal.

5. Nipagin Methylparaben , juga metil paraben , salah satu paraben , adalah pengawet dengan rumus kimia CH3(C6H4 (OH)COO). Ini adalah metil ester darip -

hidroksibenzoat asam. Methylparaben adalah agen anti-jamur sering digunakan dalam berbagai kosmetik dan produk perawatan pribadi. Hal ini juga digunakan sebagai pengawet makanan dan memiliki nomor E E218. Methylparaben umumnya digunakan sebagai fungisida

di Drosophila Media makanan. Penggunaan Methylparaben dikenal untuk memperlambat Drosophila tingkat pertumbuhan pada tahap larva dan pupa. Methylparaben diproduksi secara alami ditemukan dalam buah dan beberapa, terutama blueberry, bersama dengan paraben lain. Tidak ada bukti bahwa methylparaben atau propylparabens berbahaya pada konsentrasi yang biasanya digunakan dalam perawatan tubuh atau kosmetik. Metil

danpropylparaben dianggap umumnya diakui sebagai aman (GRAS) untuk makanan dan pelestarian antibakteri kosmetik. Metil adalah mudah

dimetabolisme oleh bakteri tanah umum, sehingga benar-benar biodegradable. Methylparaben mudah diserap dari saluran pencernaan atau melalui kulit. Hal ini dihidrolisis untuk p -hidroksibenzoat dan cepat diekskresikan dalam urin tanpa terakumulasi dalam tubuh. studi toksisitas akut menunjukkan bahwa metil yang praktis tidak beracun oleh kedua oral dan parenteral . administrasi pada hewan Dalam sebuah populasi dengan kulit normal, methylparaben praktis tidak menyebabkan iritasi dan non-sensitif, namun reaksi alergi paraben tertelan telah dilaporkan. Metil tidak karsinogenik, mutagenik , teratogenik atau embriotoksik, di samping itu, adalah negatif dalam uji uterotrophic.

Studi menunjukkan bahwa metil diterapkan pada kulit dapat bereaksi dengan UVB, yang menyebabkan penuaan kulit meningkat dan kerusakan DNA.

BAB II METODE KERJA


II.1. CARA KERJA Tablet vitamin B6 di gerus halus. Diambil bahan- bahan sesuai kebutuhan. Na CMC dikembangkan dalam air panas 80o C sampai larut, disisihkan. INH, nipagin dan B6 diaduk homogen, dilarutkan dalam air secukupnya. Dimasukkan campuran INH, nipagin dan B6 ke dalam larutan Na CMC. Diaduk homogen. Kemudian ditambahkan propilen glikol, sirupus simplex, flavour dan pewarna secukupnya. Ad sampai 100 ml. Sediaan ini diamati selama 1 minggu untuk mengetahui kestabilan sediaan.

II.2. Alat Dan Bahan Alat Bunsen Gelas kimia 500 ml Kaki tiga Kasa Thermometer Pipet tetes MortIr Bahan INH 100 MG Nipagin 1% Propilen glikol 15% Na cmc 1 % Sirup simpleks 10 %

BAB III DATA DAN EVALUASI DATA


KELOMPOK 2 B Waktu Gambar Keterangan Gambar 1 Formula 1 dengan konsentrasi Na CMC 0%. Gambar 2 Formula 2 dengan konsentrasi Na CMC 1% Gambar 3 Formula 3 dengan konsentrasi Na CMC 1,5% 1 2 3 volume sediaan 100 ml

Hari pertama

Hari kedua

sediaan mulai mengendap dengan volume endapan 42 ml

Hari ketiga

sediaan semakin mengendap dengan volume 41 ml

Hari ketujuh

endapan menjadi 38 ml

Kelompok 1B Hari pertama pembuatan Hari kedua Hari ketiga Kelompok 3B Hari pertama Hari kedua Hari ketujuh : ada dua fase fase bawah = putih susu dan fase atas = keruh : ada dua fase fase bawah = 93 mL dan fase atas = 7 mL : ada dua fase fase bawah = 100 mL dan fase atas = 5 mL : tinggi endapan 10 cm : tinggi endapan 8 cm : tinggi endapan tetap yaitu 8 cm

BAB IV PEMBAHASAN
Pada praktikum kali ini dilakukan pembuatan sediaan sirup. Zat aktif yang digunakan adalah INH dan B6. Sedangkan sebagai zat tambahan digunakan nipagin sebagai pengawet yaitu menghambat pertumbuhan bakteri pada sediaan, Na CMC sebagai emulgator , Propilen glikol sebagai pelarut, sirupus simplex sebagai pemanis dan sebagai flavour digunakan rasa anggur dan pewarna digunakan warna merah. Langkah pertama pada pembuatan sediaan sirup ini yaitu dikembangkan Na CMC menggunakan air panas dengan suhu 80o C karena Na CMC lebih larut dalam air panas. Na CMC ini di simpan. Selanjutnya, INH, nipagin dan B6 diaduk hingga homogen dan ditambahkan air secukupnya. Campuran ini dimasukkan ke dalam Na CMC yang telah dikembangkan. Setelah itu, dimasukkan propilen glikol, flavour sirupus simplex dan pewarna. Diaduk hingga homogen ad sampai 100 ml dengan aquades. Penambahan B6 pada sediaan ini, bertujuan untuk mencegah efek samping dari INH yaitu menyebabkan anemia dan neuritis perifer (gangguan pada saraf tepi). Fungsi B6 disini sebagai penambah darah. Percobaan ini menggunakan 3 variasi formula yang dibedakan dari persentase bahan Na CMC antara lain 0% pada formula 1, 1% pada formula 2 dan 1,5% pada formula 3. Pada formula 1, sirup sangat cepat mengendap dibanding dengan formula 2 dan 3. Hal itu dikarenakan tidak adanya emulgator (Na CMC). Pada formula 2, sirup lebih cepat mengendap dibanding formula 3. Pada formula 3, sirup paling lama mengendap dibanding formula 1 dan 2. Pada Praktikum ini terjadi kesalahan karena tidak larutnya zat aktif pada sediaan yang seharusnya sirup tetapi menjadi suspensi. Hal ini mungkin dikarenakan bahan INH yang digunakan bukan bahan baku melainkan sudah dalam bentuk tablet sehingga bahan- bahan seperti bahan pengisi, penyalut dll ikut tercampur dalam sediaan yang dibuat.

BAB V SIMPULAN DAN SARAN

V.1 SIMPULAN Dari pembahasan di atas, dapat disimpulkan bahwa penambahan konsentrasi Na CMC berpengaruh pada kestabilan sediaan sirup. Semakin rendah konsentrasi Na CMC, maka semakin cepat pula sedimen terbentuk. V.2 SARAN Dalam pembuatan sirup, sebaiknya digunakan bahan baku jangan menggunakan sediaan jadi. Karena dapat mempengaruhi kestabilan sediaan sirup.

DAFTAR PUSTAKA

filzahazny.wordpress.com/2009/03/18/sirup/ belongtomahsumi.blogspot.com/2011/06/sirup.htm id.wikipedia.org/wiki/Sirup www.artikata.com/arti-167943-sirup.html pharmacyhaluoleo.blogspot.com/2011/07/sediaan-sirup.html antometa208.blogspot.com/2011/08/stabilitas-sediaan-sirup.html http://antometa208.blogspot.com/2011/08/stabilitas-sediaan-sirup.html