Anda di halaman 1dari 115

POKOK – POKOK MATERI PERKULIAHAN

PSIKOLOGI PENDIDIKAN
Arwin Zoelfatas

BAB I PSIKOLOGI PENDIDIKAN DAN PERILAKU

A. Tujuan :
Setelah mempelajari Bab ini, diharapkan Anda dapat :
1. Mendefinisikan psikologi dan psikologi pendidikan
2. Mengidentifikasi kebutuhan-kebutuhan individu, indikator-indikator motivasi, bentuk-
bentuk konflik, bentuk-bentuk perilaku salah-suai dan taksonomi perilaku individu.
3. Menjelaskan psikologi pendidikan sebagai ilmu, arti penting psikologi pendidikan bagi
guru, peranan dan pengaruh pendidikan terhadap perubahan dan perkembangan perilaku
individu.
4. Menguraikan mekanisme pembentukan perilaku menurut pandangan behaviorisme dan
holistik.

B. Pokok Bahasan
1. Pengertian Psikologi Pendidikan.
2. Perilaku Individu.
3. Taksonomi Perilaku Individu.
4. Pengaruh Pendidikan terhadap Perubahan Perilaku dan Pribadi Individu.

C. Intisari Bacaan
1. Pengertian Psikologi Pendidikan
Secara etimologis, psikologi berasal dari kata “psyche” yang berarti jiwa atau nafas
hidup, dan “logos” atau ilmu. Dilihat dari arti kata tersebut seolah-olah psikologi
merupakan ilmu jiwa atau ilmu yang mempelajari tentang jiwa. Jika kita mengacu pada
salah satu syarat ilmu yakni adanya obyek yang dipelajari, maka tidaklah tepat jika kita
mengartikan psikologi sebagai ilmu jiwa atau ilmu yang mempelajari tentang jiwa, karena
jiwa merupakan sesuatu yang bersifat abstrak dan tidak bisa diamati secara langsung.
Berkenaan dengan obyek psikologi ini, maka yang paling mungkin untuk diamati dan
dikaji adalah manifestasi dari jiwa itu sendiri yakni dalam bentuk perilaku individu
dalam berinteraksi dengan lingkungannya. Dengan demikian, psikologi kiranya dapat
diartikan sebagai suatu ilmu yang mempelajari tentang perilaku individu dalam
berinteraksi dengan lingkungannya.
Psikologi terbagi ke dalam dua bagian yaitu psikologi umum (general phsychology)
yang mengkaji perilaku pada umumnya dan psikologi khusus yang mengkaji perilaku
individu dalam situasi khusus, diantaranya :
 Psikologi Perkembangan; mengkaji perilaku individu yang berada dalam proses
perkembangan mulai dari masa konsepsi sampai dengan akhir hayat.
 Psikologi Kepribadian; mengkaji perilaku individu khusus dilihat dari aspek – aspek
kepribadiannya.
 Psikologi Klinis; mengkaji perilaku individu untuk keperluan penyembuhan (klinis)
 Psikologi Abnormal; mengkaji perilaku individu yang tergolong abnormal.
 Psikologi Industri; mengkaji perilaku individu dalam kaitannya dengan dunia
industri.
 Psikologi Pendidikan; mengkaji perilaku individu dalam situasi pendidikan
Disamping jenis – jenis psikologi yang disebutkan di atas, masih terdapat berbagai jenis
psikologi lainnya, bahkan sangat mungkin ke depannya akan semakin terus berkembang,
sejalan dengan perkembangan kehidupan yang semakin dinamis dan kompleks.
Psikologi pendidikan dapat dikatakan sebagai suatu ilmu karena didalamnya telah
memiliki kriteria persyaratan suatu ilmu, yakni :

 Ontologis; obyek dari psikologi pendidikan adalah perilaku-perilaku individu yang


terlibat langsung maupun tidak langsung dengan pendidikan, seperti peserta didik,
pendidik, administrator, orang tua peserta didik dan masyarakat pendidikan.
 Epistemologis; teori-teori, konsep-konsep, prinsip-prinsip dan dalil – dalil psikologi
pendidikan dihasilkan berdasarkan upaya sistematis melalui berbagai studi
longitudinal maupun studi cross sectional, baik secara pendekatan kualitatif maupun
pendekatan kuantitatif.
 Aksiologis; manfaat dari psikologi pendidikan terutama sekali berkenaan dengan
pencapaian efisiensi dan efektivitas proses pendidikan.
Dengan demikian, psikologi pendidikan dapat diartikan sebagai salah satu cabang
psikologi yang secara khusus mengkaji perilaku individu dalam konteks situasi
pendidikan dengan tujuan untuk menemukan berbagai fakta, generalisasi dan teori-teori
psikologi berkaitan dengan pendidikan, yang diperoleh melalui metode ilmiah tertentu,
dalam rangka pencapaian efektivitas proses pendidikan.
Pendidikan memang tidak bisa dilepaskan dari psikologi. Sumbangsih psikologi terhadap
pendidikan sangatlah besar. Kegiatan pendidikan, khususnya pada pendidikan formal,
seperti pengembangan kurikulum, Proses Belajar Mengajar, sistem evaluasi, dan layanan
Bimbingan dan Konseling merupakan beberapa kegiatan utama dalam pendidikan yang di
dalamnya membutuhkan psikologi.
Pendidikan sebagai suatu kegiatan yang di dalamnya melibatkan banyak orang,
diantaranya peserta didik, pendidik, adminsitrator, masyarakat dan orang tua peserta
didik. Oleh karena itu, agar tujuan pendidikan dapat tercapai secara efektif dan efisien,
maka setiap orang yang terlibat dalam pendidikan tersebut seyogyanya dapat memahami
tentang perilaku individu sekaligus dapat menunjukkan perilakunya secara efektif.
Guru dalam menjalankan perannya sebagai pembimbing, pendidik dan pelatih bagi para
peserta didiknya, tentunya dituntut memahami tentang berbagai aspek perilaku dirinya
maupun perilaku orang-orang yang terkait dengan tugasnya,--terutama perilaku peserta
didik dengan segala aspeknya--, sehingga dapat menjalankan tugas dan perannya secara
efektif, yang pada gilirannya dapat memberikan kontribusi nyata bagi pencapaian tujuan
pendidikan di sekolah.
Di sinilah arti penting Psikologi Pendidikan, dengan memahami psikologi pendidikan,
seorang guru melalui pertimbangan-pertimbangan psikologisnya diharapkan dapat : (a)
merumuskan tujuan pembelajaran, (b) memilih strategi atau metode pembelajaran, (c)
memilih alat bantu dan media pembelajaran yang tepat, (d) memberikan bimbingan atau
bahkan memberikan konseling kepada peserta didiknya, (e) memfasilitasi dan memotivasi
belajar peserta didik, (f) menciptakan iklim belajar yang kondusif, (g) berinteraksi secara
bijak dengan peserta didiknya, (h) menilai hasil pembelajaran, dan (i) dapat
mengadministrasikan pembelajaran secara efektif dan efisien.
Selain itu, dengan memahami Psikologi Pendidikan para guru juga dapat memahami dan
mengembangkan diri-pribadinya untuk menjadi seorang guru yang efektif dan patut
diteladani.
Penguasaan guru tentang psikologi pendidikan merupakan salah satu kompetensi yang
harus dikuasai guru, yakni kompetensi pedagogik. Muhibbin Syah (2003) mengatakan
bahwa diantara pengetahuan-pengetahuan yang perlu dikuasai guru dan calon guru adalah
pengetahuan psikologi terapan yang erat kaitannya dengan proses belajar mengajar
peserta didik.
2. Perilaku Individu
Salah satu tugas utama guru adalah berusaha mengembangkan perilaku peserta didiknya.
Dalam hal ini, Abin Syamsuddin Makmun (2003) menyebutkan bahwa tugas guru antara
lain sebagai pengubah perilaku peserta didik (behavioral changes). Oleh karena itu itu,
agar perilaku peserta didik dapat berkembang optimal, tentu saja seorang guru
seyogyanya dapat memahami tentang bagaimana proses dan mekanisme terbentuknya
perilaku para peserta didiknya. Untuk memahami perilaku individu dapat dilihat dari dua
pendekatan, yang saling bertolak belakang, yaitu: (1) behaviorisme dan (2) holistik atau
humanisme. Kedua pendekatan ini memiliki implikasi yang luas terhadap proses
pendidikan, baik untuk kepentingan pembelajaran, pengelolaan kelas, pembimbingan
serta berbagai kegiatan pendidikan lainnya. Di bawah ini akan diuraikan mekanisme
pembentukan perilaku dilihat dari kedua pendekatan tersebut dengan merujuk pada
tulisan Abin Syamsuddin Makmun (2003).
a. Mekanisme Pembentukan Perilaku Menurut Aliran Behaviorisme
Behaviorisme memandang bahwa pola-pola perilaku itu dapat dibentuk melalui
proses pembiasaan dan penguatan (reinforcement) dengan mengkondisikan atau
menciptakan stimulus-stimulus (rangsangan) tertentu dalam lingkungan.
Behaviorisme menjelaskan mekanisme proses terjadi dan berlangsungnya perilaku
individu dapat digambarkan dalam bagan berikut :

S R atau S O R

S = stimulus (rangsangan); R = Respons (perilaku, aktivitas) dan O=organisme


(individu/manusia).
Karena stimulus datang dari lingkungan (W = world) dan R juga ditujukan
kepadanya, maka mekanisme terjadi dan berlangsungnya dapat dilengkapkan seperti
tampak dalam bagan berikut ini :

W S O R W

Yang dimaksud dengan lingkungan (W = world) di sini dapat dibagi ke dalam dua
jenis yaitu :

(1) Lingkungan objektif (umgebung=segala sesuatu yang ada di sekitar individu dan
secara potensial dapat melahirkan S).
(2) Lingkungan efektif (umwelt=segala sesuatu yang aktual merangsang organisme
karena sesuai dengan pribadinya sehingga menimbulkan kesadaran tertentu pada
diri organisme dan ia meresponsnya)
Perilaku yang berlangsung seperti dilukiskan dalam bagan di atas biasa disebut
dengan perilaku spontan.
Contoh : seorang mahasiswa sedang mengikuti perkuliahan Psikologi Pendidikan di
ruangan kelas yang terasa panas, secara spontan mahasiswa tersebut mengipas-
ngipaskan buku untuk meredam kegerahannya.
Ruangan kelas yang panas merupakan lingkungan (W) dan menjadi stimulus (S)
bagi mahasiswa tersebut (O), secara spontan mengipaskan-ngipaskan buku
merupakan respons (R) yang dilakukan mahasiswa. Merasakan ruangan tidak terasa
gerah (W) setelah mengipas-ngipaskan buku.
Sedangkan perilaku sadar dapat digambarkan sebagai berikut:

W S Ow R W

Contoh : ketika sedang mengikuti perkuliahan Psikologi Pendidikan di ruangan kelas


yang terasa agak gelap karena waktu sudah sore hari ditambah cuaca mendung, ada
seorang mahasiswa yang sadar kemudian dia berjalan ke depan dan meminta ijin
kepada dosen untuk menyalakan lampu neon yang ada di ruangan kelas, sehingga di
kelas terasa terang dan mahasiswa lebih nyaman dalam mengikuti perkuliahan.
Ruangan kelas yang gelap, waktu sore hari, dan cuaca mendung merupakan
lingkungan (W), ada mahasiswa yang sadar akan keadaan di sekelilingnya (Ow), --
meski di ruangan kelas terdapat banyak mahasiswa namun mereka mungkin tidak
menyadari terhadap keadaan sekelilingnya--. berjalan ke depan, meminta ijin ke
dosen, dan menyalakan lampu merupakan respons yang dilakukan oleh mahasiswa
yang sadar tersebut (R), suasana kelas menjadi terang dan mahasiswa menjadi lebih
menyaman dalam mengikuti perkuliahan merupakan (W).
Sebenarnya, masih ada dua unsur penting lainnya dalam diri setiap individu yang
mempengaruhi efektivitas mekanisme proses perilaku yaitu receptors (panca indera
sebagai alat penerima stimulus) dan effectors (syaraf, otot dan sebagainya yang
merupakan pelaksana gerak R).
Selengkapnya mekanisme perilaku sadar dapat digambarkan sebagai berikut :

Ow

W S r e R W

Dengan mengambil contoh perilaku sadar tadi, bagan di atas dapat dijelaskan bahwa
mahasiswa yang sadar (Ow) mungkin merasakan penglihatannya (receptor) menjadi
tidak jelas, sehingga tulisan dosen di papan tulis tidak terbaca dengan baik.
Menggerakkan kaki menuju ke depan, mengucapkan minta izin kepada dosen, tangan
menekan saklar lampu merupakan effector.
b. Mekanisme Pembentukan Perilaku Menurut Aliran Holistik (Humanisme)
Holistik atau humanisme memandang bahwa perilaku itu bertujuan, yang berarti
aspek-aspek intrinsik (niat, motif, tekad) dari dalam diri individu merupakan faktor
penentu untuk melahirkan suatu perilaku, meskipun tanpa ada stimulus yang datang
dari lingkungan. Holistik atau humanisme menjelaskan mekanisme perilaku individu
dalam konteks what (apa), how (bagaimana), dan why (mengapa). What (apa)
menunjukkan kepada tujuan (goals/incentives/ purpose) apa yang hendak dicapai
dengan perilaku itu. How (bagaimana) menunjukkan kepada jenis dan bentuk cara
mencapai tujuan (goals/incentives/pupose), yakni perilakunya itu sendiri. Sedangkan
why (mengapa) menunjukkan kepada motivasi yang menggerakan terjadinya dan
berlangsungnya perilaku (how), baik bersumber dari diri individu itu sendiri
(motivasi instrinsk) maupun yang bersumber dari luar individu (motivasi ekstrinsik).
Secara skematik rangkaian, proses dan mekanisme terjadinya perilaku menurut
pandangan Holistik, dapat dijelaskan dalam bagan berikut :

Aktivitas yang Tujuan


Kebutuhan Dorongan dilakukan dihayati
dirasakan (motivation) (Instrumental (goals/
(felt needs) behavior) incentive)
Berdasarkan bagan di atas tampak bahwa terjadinya perilaku individu diawali dari
adanya kebutuhan. Setiap individu, demi mempertahankan kelangsungan dan
meningkatkan kualitas hidupnya, akan merasakan adanya kekurangan-kekurangan
atau kebutuhan-kebutuhan tertentu dalam dirinya. Dalam hal ini, Maslow
mengungkapkan jenis-jenis kebutuhan-individu secara hierarkis, yaitu: (1) kebutuhan
fisiologikal, seperti : sandang, pangan dan papan; (2) kebutuhan keamanan, tidak
dalam arti fisik, akan tetapi juga mental, psikologikal dan intelektual; (3) kebutuhan
kasih sayang atau penerimaan; (4) kebutuhan prestise atau harga diri, yang pada
umumnya tercermin dalam berbagai simbol-simbol status; dan (5) kebutuhan
aktualisasi diri. Tingkatan kebutuhan tersebut dapat diragakan seperti tampak dalam
gambar berikut ini :

SELF ACTUALIZATION

ESTEEM NEEDS
LOVE NEEDS
SAFETY NEEDS
PHYSIOLOGICAL NEEDS

Sementara itu, Stranger (Nana Syaodih Sukmadinata,2005) mengetengahkan empat


jenis kebutuhan individu, yaitu:
(1) Kebutuhan berprestasi (need for achievement), yaitu kebutuhan untuk
berkompetisi, baik dengan dirinya atau dengan orang lain dalam mencapai
prestasi yang tertinggi.
(2) Kebutuhan berkuasa (need for power), yaitu kebutuhan untuk mencari dan
memiliki kekuasaan dan pengaruh terhadap orang lain.
(3) Kebutuhan untuk membentuk ikatan (need for affiliation), yaitu kebutuhan untuk
mengikat diri dalam kelompok, membentuk keluarga, organisasi ataupun
persahabatan.
(4) Kebutuhan takut akan kegagalan (need for fear of failure), yaitu kebutuhan untuk
menghindar diri dari kegagalan atau sesuatu yang menghambat
perkembangannya.
Kebutuhan-kebutuhan tersebut selanjutnya menjadi dorongan (motivasi) yang
merupakan kekuatan (energi) seseorang yang dapat menimbulkan tingkat persistensi
dan entusiasmenya dalam melaksanakan suatu aktivitas, baik yang bersumber dari
dalam diri individu itu sendiri (motivasi intrinsik) maupun dari luar individu
(motivasi ekstrinsik).
Jika kebutuhan yang serupa muncul kembali maka pola mekanisme perilaku itu akan
dilakukan pengulangan (sterotype behavior), sehingga membentuk suatu siklus, yang
dapat digambarkan sebagai berikut :
Motif

Rasa puas Perilaku


atau kecewa Instrumental

Tujuan
Berkaitan dengan motif individu, untuk keperluan studi psikologis, motif individu
dapat dikelompokkan ke dalam 2 golongan, yaitu :
1. Motif primer (basic motive dan emergency motive); menunjukkan kepada motif
yang tidak pelajari, dikenal dengan istilah drive, seperti : dorongan untuk makan,
minum, melarikan diri, menyerang, menyelamatkan diri dan sejenisnya.
2. Motif sekunder; menunjukkan kepada motif yang berkembang dalam individu
karena pengalaman dan dipelajari, seperti : takut yang dipelajari, motif-motif
sosial (ingin diterima, konformitas dan sebagainya), motif-motif obyektif dan
interest (eksplorasi, manipulasi. minat), maksud dan aspirasi serta motif
berprestasi.
Untuk memahami motivasi individu dapat dilihat dari indikator-indikatornya, yaitu :
(1) durasi kegiatan; (2) frekuensi kegiatan; (3) persistensi pada kegiatan; (4)
ketabahan, keuletan dan kemampuan dalam mengahadapi rintangan dan kesulitan; (5)
devosi dan pengorbanan untuk mencapai tujuan; (6) tingkat aspirasi yang hendak
dicapai dengan kegiatan yang dilakukan; (7) tingkat kualifikasi prestasi atau produk
(out put) yang dicapai dari kegiatan yang dilakukan; (8) arah sikap terhadap sasaran
kegiatan.
Dalam diri individu akan didapati sekian banyak motif yang mengarah kepada tujuan
tertentu. Dengan beragamnya motif yang terdapat dalam individu, adakalanya
individu harus berhadapan dengan motif yang saling bertentangan atau biasa disebut
konflik.
Bentuk-bentuk konflik tersebut diantaranya adalah :
1. Approach-approach conflict; jika individu dihadapkan pada dua motif atau lebih
dan semua alternatif motif sama-sama kuat, dikehendaki serta bersifat positif.
2. Avoidance-avoidance conflict; jika individu dihadapkan pada dua motif atau
lebih dan semua alternatif motif sama-sama kuat namun tidak dikehendaki dan
bersifat negatif.
3. Approach-avoidance conflict; jika individu dihadapkan pada dua motif atau
lebih, yang satu positif dan dikehendaki dan yang lainnya motif negatif serta
tidak dikehendaki namun sama kuatnya.
Jika seorang individu dihadapkan pada bentuk-bentuk motif seperti dikemukakan di
atas tentunya dia akan mengalami kesulitan untuk mengambil keputusan dan sangat
mungkin menjadi perang batin yang berkepanjangan.
Dalam pandangan holistik, disebutkan bahwa dalam rangka memenuhi kebutuhan
dalam dirinya, setiap aktivitas yang dilakukan individu akan mengarah pada tujuan
tertentu. Dalam hal ini, terdapat dua kemungkinan, tercapai atau tidak tercapai tujuan
tersebut. Jika tercapai tentunya individu merasa puas dan memperoleh keseimbangan
diri (homeostatis). Namun sebaliknya, jika tujuan tersebut tidak tercapai dan
kebutuhannya tidak terpenuhi maka dia akan kecewa atau dalam psikologi disebut
frustrasi. Reaksi individu terhadap frustrasi akan beragam bentuk perilakunya,
bergantung kepada akal sehatnya (reasoning, inteligensi). Jika akal sehatnya berani
mengahadapi kenyataan maka dia akan lebih dapat menyesuaikan diri secara sehat
dan rasional (well adjustment). Namun, jika akal sehatnya tidak berfungsi
sebagaimana mestinya, perilakunya lebih dikendalikan oleh sifat emosinalnya, maka
dia akan mengalami penyesuaian diri yang keliru (maladjusment).
Bentuk perilaku salah suai (maldjustment), diantaranya : (1) agresi marah; (2)
kecemasan tak berdaya; (3) regresi (kemunduran perilaku); (4) fiksasi; (5) represi
(menekan perasaan); (6) rasionalisasi (mencari alasan); (7) proyeksi (melemparkan
kesalahan kepada lingkungan); (8) sublimasi (menyalurkan hasrat dorongan pada
obyek yang sejenis); (9) kompensasi (menutupi kegagalan atau kelemahan dengan
sukses di bidang lain); (10) berfantasi (dalam angan-angannya, seakan-akan ia dapat
mencapai tujuan yang didambakannya).
Di sinilah peran guru untuk sedapat mungkin membantu para peserta didiknya agar
terhindar dari konflik yang berkepanjangan dan rasa frustasi yang dapat
menimbulkan perilaku salah-suai. Sekaligus juga dapat memberikan bimbingan untuk
mengatasinya apabila peserta didik mengalami konflik yang berkepanjangan dan
frustrasi.
Untuk lebih jelasnya, di bawah ini akan dikemukakan contoh terbentuknya perilaku
berdasarkan pendekatan holistik.
Contoh 1 :
Karena gagal mengikuti mengikuti testing pada salah satu Fakultas di Perguruan
Tinggi ternama melalui jalur UMPTN (frustration), dan setelah mempertimbangkan
segala sesuatunya (moralitas), secara sukarela Arjuna memutuskan untuk
melanjutkan pada salah program studi yang ada di FKIP UNIKU (sublimasi).
Ketika mengikuti perkuliahan Psikologi Pendidikan yang merupakan salah satu mata
kuliah yang wajib diikuti para mahasiswa, sejak awal dia sudah menyadari bahwa dia
kekurangan pengetahuan, sikap dan keterampilannya dalam bidang Psikologi
Pendidikan sehingga dia menyadari Psikologi Pendidikan merupakan kebutuhan bagi
dirinya (need felt) dalam rangka mencapai tujuan-tujuannya (goals/incentives).
Untuk tujuan jangka pendeknya, dengan berbekal kesadaran diri bahwa dia memiliki
potensi dalam bidang psikologi pendidikan, dia berharap dapat memperoleh
kemampuan baru berupa pengetahuan, sikap dan keterampilan yang berhubungan
dengan psikologi pendidikan, yang diperolehnya dari setiap pertemuan tatap muka
dengan dosen.
Tujuan jangka menengah, pada akhir semester dia berharap lulus mata kuliah
Psikologi Pendidikan dengan mendapatkan nilai A (kebutuhan harga diri). Selain itu,
nanti pada saat mengikuti Program Praktek Lapangan (PPL), dia berharap dapat
melaksanakannya dengan sebaik-baiknya. Sedangkan tujuan yang ingin dicapai untuk
jangka panjang, dia benar-benar berharap dapat menjadi guru yang efektif dan
kompeten.
Keinginan dan tujuan untuk memperoleh pengetahuan dan keterampilan dalam
bidang psikologi pendidikan, memperoleh kesuksesan belajar dengan mendapatkan
nilai A, memperoleh kesuksesan dalam mengikuti Program Praktek Lapangan (PPL),
keinginan menjadi guru yang efektif dan kompeten kemudian berkembang menjadi
dorongan yang kuat dalam dirinya (motivasi intrinsik)
Pada saat mengikuti perkuliahan Psikologi Pendidikan dia senantiasa aktif bertanya
dan mengemukakan pendapatnya tentang materi yang disampaikan, membaca dan
mengkaji buku-buku psikologi pendidikan yang diwajibkan dan dianjurkan oleh
dosen. Setiap tugas yang diberikan diselesaikan dengan sebaik-baiknya dan tepat
waktu. Dia juga sangat menyukai diskusi tentang psikologi pendidikan dengan
teman-temannya di luar kelas (perilaku instrumental).
Berkat aktivitas dan kesungguhannya dalam mengikuti perkuliahan Psikologi
Pendidikan, dia memperoleh pengetahuan yang luas, sikap yang positif dan memiliki
keterampilan yang bisa dibanggakan dalam menerapkan prinsip-prinsip psikologi.
Pada akhir semester, dia memperoleh nilai terbaik di kelasnya, pada saat PPL dia
termasuk mahasiswa praktikan yang disukai oleh peserta didiknya, bahkan kepala
sekolahnya meminta dia untuk menjadi guru di sekolah menjadi tempat prakteknya.
Setelah dia selesai kuliah dia menjadi guru di sebuah sekolah, para peserta didik
sangat menyenangi dia karena dia sangat dekat dan akrab dengan peserta didiknya.
Begitu juga, rekan-rekan seprofesinya sangat hormat dan kagum atas kinerjanya
sebagai guru. Pada saat mengikuti lomba pemilihan guru berprestasi tingkat
kabupaten, dia berhasil meraih sebagai juara pertama.
Dia sangat mensyukuri atas segala keberhasilannya, baik ketika selama menjadi
mahasiswa maupun setelah menjadi guru (homeostatis). Bagi dirinya, Perkuliahan
Psikologi Pendidikan telah mendasari dia menjadi seorang yang sukses.
Contoh 2 :
Astrajingga rekan seangkatan Arjuna. Dia bercita-cita menjadi seorang ekonom,
karena gagal mengikuti mengikuti testing pada Fakultas Ekonomi di Perguruan
Tinggi ternama melalui jalur UMPTN (frustration), kemudian dia dipaksa orang
tuanya untuk melanjutkan pada salah satu program studi di FKIP UNIKU (motivasi
ekstrinsik/substitusi), sehingga selama kuliah, dia belum menemukan apa tujuan
kuliahnya.
Dia tidak begitu berminat mengikuti perkuliahan mata kuliah kependidikan,
termasuk mata kuliah Psikologi Pendidikan (kurang merasakan adanya kebutuhan
dan kekurangan motivasi). Pikirannya selalu terganggu bahwa seolah-olah dia
sedang kuliah pada Fakutas Ekonomi di Perguruan Tinggi yang diidam-idamkannya
dan dia merasa seolah-olah bakal menjadi Ekonom (fantasi). Dia sering tidak masuk
kuliah, sekalipun dia masuk kuliah hanya sebatas takut dimarahi oleh dosen yang
bersangkutan dan takut dinyatakan tidak lulus (kebutuhan rasa aman). Tugas-tugas
yang diberikan dosen pun jarang dikerjakan, kalaupun dikerjakan hanya alakadarnya
dan selalu telat disetorkan. Dia dihadapkan pada perang batin antara terus
melanjutkan studi yang tidak sesuai dengan cita-citanya atau keluar dari kuliah
dengan resiko orang tua akan marah besar terhadap dirinya (conflict).
Selama satu semester mengikuti perkuliahan Psikologi Pendidikan, dia hanya
memperoleh sebagian kecil saja pengetahuan, sikap dan keterampilan tentang
psikologi pendidikan dan pada akhirnya dia dinyatakan tidak lulus dan terpaksa
harus mengikuti remedial. Sambil menangis (regresi), dia menyalahkan dosen bahwa
dosennya tidak becus mengajar (proyeksi).
3. Taksonomi Perilaku Individu
Kalau perilaku individu mencakup segala pernyataan hidup, betapa banyak kata yang
harus dipergunakan untuk mendeskripsikannya. Untuk keperluan studi tentang perilaku
kiranya perlu ada sistematika pengelompokan berdasarkan kerangka berfikir tertentu
(taksonomi).Dalam konteks pendidikan, Bloom mengungkapkan tiga kawasan (domain)
perilaku individu beserta sub kawasan dari masing-masing kawasan, yakni :
a. Kawasan Kognitif; yaitu kawasan yang berkaitan aspek-aspek intelektual atau
berfikir/nalar.

1) Pengetahuan (knowledge);
Pengetahuan merupakan aspek kognitif yang paling rendah tetapi paling
mendasar. Dengan pengetahuan individu dapat mengenal dan mengingat kembali
suatu objek, ide prosedur, konsep, definisi, nama, peristiwa, tahun, daftar, rumus,
teori, atau kesimpulan. Dilihat dari objek yang diketahui (isi) pengetahuan dapat
digolongkan sebagai berikut :
a) Mengetahui sesuatu secara khusus; terdiri dari :
 Mengetahui terminologi yaitu berhubungan dengan mengenal atau
mengingat kembali istilah atau konsep tertentu yang dinyatakan dalam
bentuk simbol, baik berbentuk verbal maupun non verbal.
 Mengetahui fakta tertentu yaitu mengenal atau mengingat kembali
tanggal, peristiwa, orang tempat, sumber informasi, kejadian masa lalu,
kebudayaan masyarakat tertentu, dan ciri-ciri yang tampak dari keadaan
alam tertentu.
b) Mengetahui tentang cara untuk memproses atau melakukan sesuatu.
 Mengetahui kebiasaan atau cara mengetengahkan ide atau pengalaman
 Mengetahui urutan dan kecenderungan yaitu proses, arah dan gerakan
suatu gejala atau fenomena pada waktu yang berkaitan.
 Mengetahui penggolongan atau pengkategorisasian. Mengetahui kelas,
kelompok, perangkat atau susunan yang digunakan di dalam bidang
tertentu, atau memproses sesuatu.
 Mengetahui kriteria yang digunakan untuk mengidentifikasi fakta,
prinsip, pendapat atau perlakuan.
 Mengetahui metodologi, yaitu perangkat cara yang digunakan untuk
mencari, menemukan atau menyelesaikan masalah.
 Mengetahui hal-hal yang universal dan abstrak dalam bidang tertentu,
yaitu ide, bagan dan pola yang digunakan untuk mengorganisasi suatu
fenomena atau pikiran.
 Mengetahui prinsip dan generalisasi
 Mengetahui teori dan struktur.

2) Pemahaman (comprehension)
Pemahaman atau dapat dijuga disebut dengan istilah mengerti merupakan
kegiatan mental intelektual yang mengorganisasikan materi yang telah diketahui.
Temuan-temuan yang didapat dari mengetahui seperti definisi, informasi,
peristiwa, fakta disusun kembali dalam struktur kognitif yang ada. Temuan-
temuan ini diakomodasikan dan kemudian berasimilasi dengan struktur kognitif
yang ada, sehingga membentuk struktur kognitif baru. Tingkatan dalam
pemahaman ini meliputi :

a) translasi yaitu mengubah simbol tertentu menjadi simbol lain tanpa


perubahan makna. Misalkan simbol dalam bentuk kata-kata diubah menjadi
gambar, bagan atau grafik;

b) interpretasi yaitu menjelaskan makna yang terdapat dalam simbol, baik


dalam bentuk simbol verbal maupun non verbal. Seseorang dapat dikatakan
telah dapat menginterpretasikan tentang suatu konsep atau prinsip tertentu
jika dia telah mampu membedakan, memperbandingkan atau
mempertentangkannya dengan sesuatu yang lain. Contoh sesesorang dapat
dikatakan telah mengerti konsep tentang “motivasi kerja” dan dia telah dapat
membedakannya dengan konsep tentang ”motivasi belajar”; dan

c) Ekstrapolasi; yaitu melihat kecenderungan, arah atau kelanjutan dari suatu


temuan. Misalnya, kepada siswa dihadapkan rangkaian bilangan 2, 3, 5, 7,
11, dengan kemapuan ekstrapolasinya tentu dia akan mengatakan bilangan
ke-6 adalah 13 dan ke-7 adalah 19. Untuk bisa seperti itu, terlebih dahulu
dicari prinsip apa yang bekerja diantara kelima bilangan itu. Jika ditemukan
bahwa kelima bilangan tersebut adalah urutan bilangan prima, maka
kelanjutannnya dapat dinyatakan berdasarkan prinsip tersebut.
3) Penerapan (application)
Menggunakan pengetahuan untuk memecahkan masalah atau menerapkan
pengetahuan dalam kehidupan sehari-hari. Seseorang dikatakan menguasai
kemampuan ini jika ia dapat memberi contoh, menggunakan,
mengklasifikasikan, memanfaatkan, menyelesaikan dan mengidentifikasi hal-hal
yang sama. Contoh, dulu ketika pertama kali diperkenalkan kereta api kepada
petani di Amerika, mereka berusaha untuk memberi nama yang cocok bagi alat
angkutan tersebut. Satu-satunya alat transportasi yang sudah dikenal pada waktu
itu adalah kuda. Bagi mereka, ingat kuda ingat transportasi. Dengan pemahaman
demikian, maka mereka memberi nama pada kereta api tersebut dengan iron
horse (kuda besi). Hal ini menunjukkan bagaimana mereka menerapkan konsep
terhadap sebuah temuan baru.

4) Penguraian (analysis);
Menentukan bagian-bagian dari suatu masalah dan menunjukkan hubungan
antar-bagian tersebut, melihat penyebab-penyebab dari suatu peristiwa atau
memberi argumen-argumen yang menyokong suatu pernyataan.
Secara rinci Bloom mengemukakan tiga jenis kemampuan analisis, yaitu :
a) Menganalisis unsur :
 Kemampuan melihat asumsi-asumsi yang tidak dinyatakan secara
eksplisit pada suatu pernyataan
 Kemampuan untuk membedakan fakta dengan hipotesa.
 Kemampuan untuk membedakan pernyataan faktual dengan pernyataan
normatif.
 Kemampuan untuk mengidentifikasi motif-motif dan membedakan
mekanisme perilaku antara individu dan kelompok.
 Kemampuan untuk memisahkan kesimpulan dari pernyataan-pernyataan
yang mendukungnya.
b) Menganalisis hubungan

 Kemampuan untuk melihat secara komprehensif interrelasi antar ide


dengan ide.
 Kemampuan untuk mengenal unsur-unsur khusus yang membenarkan
suatu pernyataan.
 Kemampuan untuk mengenal fakta atau asumsi yang esensial yang
mendasari suatu pendapat atau tesis atau argumen-argumen yang
mendukungnya.
 Kemampuan untuk memastikan konsistensinya hipotesis dengan
informasi atau asumsi yang ada.
 Kemampuan untuk menganalisis hubungan di antara pernyataan dan
argumen guna membedakan mana pernyataan yang relevan mana yang
tidak.
 Kemampuan untuk mendeteksi hal-hal yang tidak logis di dalam suatu
argumen.
 Kemampuan untuk mengenal hubungan kausal dan unsur-unsur yang
penting dan yang tidak penting di dalam perhitungan historis.

c) Menganalisis prinsip-prinsip organisasi

 Kemampuan untuk menguraikan antara bahan dan alat


 Kemampuan untuk mengenal bentuk dan pola karya seni dalam rangka
memahami maknanya.
 Kemampuan untuk mengetahui maksud dari pengarang suatu karya tulis,
sudut pandang atau ciri berfikirnya dan perasaan yang dapat diperoleh
dalam karyanya.
 Kemampuan untuk melihat teknik yang digunakan dalam meyusun suatu
materi yang bersifat persuasif seperti advertensi dan propaganda.

5) Memadukan (synthesis)
Menggabungkan, meramu, atau merangkai berbagai informasi menjadi satu
kesimpulan atau menjadi suatu hal yang baru. Kemampuan berfikir induktif dan
konvergen merupakan ciri kemampuan ini. Contoh: memilih nada dan irama dan
kemudian manggabungkannya sehingga menjadi gubahan musik yang baru,
memberi nama yang sesuai bagi suatu temuan baru, menciptakan logo organisasi.

6) Penilaian (evaluation)
Mempertimbangkan, menilai dan mengambil keputusan benar-salah, baik-buruk,
atau bermanfaat – tak bermanfaat berdasarkan kriteria-kriteria tertentu baik
kualitatif maupun kuantitatif. Terdapat dua kriteria pembenaran yang digunakan,
yaitu :
a) Pembenaran berdasarkan kriteria internal; yang dilakukan dengan
memperhatikan konsistensi atau kecermatan susunan secara logis unsur-
unsur yang ada di dalam objek yang diamati.
b) Pembenaran berdasarkan kriteria eksternal; yang dilakukan berdasarkan
kriteria-kriteria yang bersumber di luar objek yang diamati., misalnya
kesesuaiannya dengan aspirasi umum atau kecocokannya dengan kebutuhan
pemakai.
b. Kawasan Afektif; yaitu kawasan yang berkaitan aspek-aspek emosional, seperti
perasaan, minat, sikap, kepatuhan terhadap moral dan sebagainya.

1) Penerimaan (receiving/attending)
Kawasan penerimaan diperinci ke dalam tiga tahap, yaitu :
a) Kesiapan untuk menerima (awareness), yaitu adanya kesiapan untuk
berinteraksi dengan stimulus (fenomena atau objek yang akan dipelajari),
yang ditandai dengan kehadiran dan usaha untuk memberi perhatian pada
stimulus yang bersangkutan.
b) Kemauan untuk menerima (willingness to receive), yaitu usaha untuk
mengalokasikan perhatian pada stimulus yang bersangkutan.
c) Mengkhususkan perhatian (controlled or selected attention). Mungkin
perhatian itu hanya tertuju pada warna, suara atau kata-kata tertentu saja.

2) Sambutan (responding)
Mengadakan aksi terhadap stimulus, yang meliputi proses sebagai berikut :
a) Kesiapan menanggapi (acquiescene of responding). Contoh : mengajukan
pertanyaan, menempelkan gambar dari tokoh yang disenangi pada tembok
kamar yang bersangkutan, atau mentaati peraturan lalu lintas.
b) Kemauan menanggapi (willingness to respond), yaitu usaha untuk melihat
hal-hal khusus di dalam bagian yang diperhatikan. Misalnya pada desain atau
warna saja.
c) Kepuasan menanggapi (satisfaction in response), yaitu adanya aksi atau
kegiatan yang berhubungan dengan usaha untuk memuaskan keinginan
mengetahui. Contoh kegiatan yang tampak dari kepuasan menanggapi ini
adalah bertanya, membuat coretan atau gambar, memotret dari objek yang
menjadi pusat perhatiannya, dan sebagainya.

3) Penghargaan (valuing)
Pada tahap ini sudah mulai timbul proses internalisasi untuk memiliki dan
menghayati nilai dari stimulus yang dihadapi. Penilaian terbagi atas empat tahap
sebagai berikut :
a) Menerima nilai (acceptance of value), yaitu kelanjutan dari usaha
memuaskan diri untuk menanggapi secara lebih intensif.
b) Menyeleksi nilai yang lebih disenangi (preference for a value) yang
dinyatakan dalam usaha untuk mencari contoh yang dapat memuaskan
perilaku menikmati, misalnya lukisan yang memiliki yang memuaskan.
c) Komitmen yaitu kesetujuan terhadap suatu nilai dengan alasan-alasan
tertentu yang muncul dari rangkaian pengalaman. Komitmen ini dinyatakan
dengan rasa senang, kagum, terpesona. Kagum atas keberanian seseorang,
menunjukkan komitmen terhadap nilai keberanian yang dihargainya.

4) Pengorganisasian (organization)
Pada tahap ini yang bersangkutan tidak hanya menginternalisasi satu nilai
tertentu seperti pada tahap komitmen, tetapi mulai melihat beberapa nilai yang
relevan untuk disusun menjadi satu sistem nilai. Proses ini terjadi dalam dua
tahapan, yakni :
a) Konseptualisasi nilai, yaitu keinginan untuk menilai hasil karya orang lain,
atau menemukan asumsi-asumsi yang mendasari suatu moral atau kebiasaan.
b) Pengorganisasian sistem nilai, yaitu menyusun perangkat nilai dalam suatu
sistem berdasarkan tingkat preferensinya. Dalam sistem nilai ini yang
bersangkutan menempatkan nilai yang paling disukai pada tingkat yang amat
penting, menyusul kemudian nilai yang dirasakan agak penting, dan
seterusnya menurut urutan kepentingan.atau kesenangan dari diri yang
bersangkutan.

5) Karakterisasi (characterization).
Karakterisasi yaitu kemampuan untuk menghayati atau mempribadikan sistem
nilai Kalau pada tahap pengorganisasian di atas sistem nilai sudah dapat disusun,
maka susunan itu belum konsisten di dalam diri yang bersangkutan. Artinya
mudah berubah-ubah sesuai situasi yang dihadapi. Pada tahap karakterisasi,
sistem itu selalu konsisten. Proses ini terdiri atas dua tahap, yaitu :
a) Generalisasi, yaitu kemampuan untuk melihat suatu masalah dari suatu sudut
pandang tertentu.
b) Karakterisasi, yaitu mengembangkan pandangan hidup tertentu yang
memberi corak tersendiri pada kepribadian diri yang bersangkutan.

c. Kawasan Psikomotor; yaitu kawasan yang berkaitan dengan aspek-aspek


keterampilan yang melibatkan fungsi sistem syaraf dan otot (neuronmuscular
system) dan fungsi psikis. Kawasan ini terdiri dari : (a) kesiapan (set); (b) peniruan
(imitation); (c) membiasakan (habitual); (d) menyesuaikan (adaptation) dan (e)
menciptakan (origination)
1) Kesiapan yaitu berhubungan dengan kesediaan untuk melatih diri tentang
keterampilan tertentu yang dinyatakan dengan usaha untuk melaporkan
kehadirannya, mempersiapkan alat, menyesuaikan diri dengan situasi, menjawab
pertanyaan.
2) Meniru adalah kemampuan untuk melakukan sesuai dengan contoh yang
diamatinya walaupun belum mengerti hakikat atau makna dari keterampilan itu.
Seperti anak yang baru belajar bahasa meniru kata-kata orang tanpa mengerti
artinya.
3) Membiasakan yaitu seseorang dapat melakukan suatu keterampilan tanpa harus
melihat contoh, sekalipun ia belum dapat mengubah polanya.
4) Adaptasi yaitu seseorang sudah mampu melakukan modifikasi untuk disesuaikan
dengan kebutuhan atau situasi tempat keterampilan itu dilaksanakan.
5) Menciptakan (origination) di mana seseorang sudah mampu menciptakan sendiri
suatu karya.
Sementara itu, Abin Syamsuddin Makmun( 2003) memerinci sub kawasan ini
dengan tahapan yang berbeda, yaitu :

1) Gerakan refleks (reflex movements). Basis semua perilaku bergerak atau respons
terhadap stimulus tanpa sadar, misalnya : melompat, menunduk, berjalan, dan
sebagainya.
2) Gerakan dasar biasa (Basic fundamental movements) yaitu gerakan yang muncul
tanpa latihan tapi dapat diperhalus melalui praktik, yang terpola dan dapat
ditebak.
3) Gerakan Persepsi (Perceptual abilities) yaitu gerakan sudah lebih meningkat
karena dibantu kemampuan perseptual.
4) Gerakan fisik (Physical Abilities) yaitu gerakan yang menunjukkan daya tahan
(endurance), kekuatan (strength), kelenturan (flexibility) dan kegesitan.
5) Gerakan terampil (skilled movements) yaitu dapat mengontrol berbagai
tingkatan gerak secara terampil, tangkas, dan cekatan dalam melakukan gerakan
yang sulit dan rumit (kompleks).
6) Gerakan indah dan kreatif (Non-discursive communication) yaitu
mengkomunikasikan perasan melalui gerakan, baik dalam bentuk gerak estetik:
gerakan-gerakan terampil yang efisien dan indah maupun gerak kreatif: gerakan-
gerakan pada tingkat tertinggi untuk mengkomunikasikan peran.

4. Peranan dan Pengaruh Pendidikan terhadap Perubahan dan Perkembangan


Perilaku
Pendidikan memang sejak zaman dahulu kala menjadi salah satu bentuk usaha manusia
dalam rangka mempertahankan keberlangsungan eksistensi kehidupan maupun budaya
manusia itu sendiri.
Bagi kalangan behaviorisme, pendidikan dipahami sebagai sebagai alat pembentukan
watak, alat pelatihan keterampilan, alat mengasah otak, serta media untuk meningkatkan
keterampilan. Sementara kalangan humanisme, pendidikan lebih diyakini sebagai suatu
media atau wahana untuk menanamkan nilai-nilai moral dan ajaran keagamaan, atau
sebagai wahana untuk memanusiakan manusia, serta wahana untuk pembebasan manusia.
Penyelenggaraan pendidikan selanjutnya menjadi kewajiban kemanusiaan dalam rangka
mempertahankan kehidupannya. Melihat begitu pentingnya pendidikan bagi umat
manusia, banyak peradaban manusia yang “mewajibkan” masyarakatnya untuk tetap
menjaga keberlangsungan pendidikan.
Yang menjadi persoalan, sejauhmanakah pendidikan dapat mempengaruhi perubahan dan
perkembangan perilaku individu. Bagaimana pula kontribusi individu itu sendiri terhadap
perubahan dan perkembangan perilakunya.
Dengan menggunakan konsep dasar psikologis, khususnya dalam pandangan
behaviorisme, pendidikan pada hakekatnya merupakan usaha conditioning (penciptaan
seperangkat stimulus) yang diharapkan dapat menghasilkan pola-pola perilaku
(seperangkat respons) tertentu, yang dimanifestasikan dalam bentuk perubahan dan
perkembangan perilaku, baik dalam aspek kognitif, afektif, maupun psikomotor.
Seberapa besar tingkat atau derajat perubahan dan perkembangan perilaku yang dicapai
melalui usaha – usaha conditioning dikenal dengan istilah prestasi belajar atau hasil
belajar (achievement).Dengan demikian, menurut pandangan behaviorisme, arah dan
kualifikasi perubahan dan perkembangan perilaku akan sangat bergantung pada faktor S
(conditioning).
Sementara itu, dalam pandangan humanisme bahwa justru organisme atau individu itu
sendiri yang memegang peranan penting dalam suatu proses belajar atau proses
pendidikannya. Pada dasarnya individu sejak lahir sudah dibekali potensi-potensi tertentu,
terutama potensi intelektual, selanjutnya dengan bantuan atau tanpa bantuan orang lain,
individu yang bersangkutan berupaya aktif mengembangkan segenap potensi yang
dimilikinya melalui interaksi dengan lingkungannya, termasuk lingkungan sekolah.
Sehingga potensi yang semula masih bersifat laten (terpendam) dapat diaktualisasikan
menjadi prestasi.
Jika kita amati dari kedua pandangan tersebut tampak ada hal yang kontras. Menurut
pandangan behaviorisme hasil belajar individu merupakan hasil reaktif dari lingkungan.
Sedangkan dalam pandangan humanisme, hasil belajar individu merupakan hasil dari
upaya aktif dan pro-aktifnya terhadap lingkungan. Dengan adanya perbedaan pandangan
tersebut menyebabkan pula terjadinya perbedaan-perbedaan dalam pendekatan dan teknis
proses pendidikan. Walaupun demikian, harus diakui bahwa kedua pandangan tersebut
memiliki peranan penting dan memberikan kontribusi terhadap perubahan dan
perkembangan pribadi atau perilaku individu.
Secara skematik, pengaruh fungsional pendidikan terhadap perubahan dan perkembangan
perilaku, dapat dijelaskan dalam bagan berikut ini :

P = f (S,O)

P= person (pribadi, perilaku) f = function (fungsi)


S=stimulus (pendidikan/belajar) O=organisme
Contoh :
Untuk memiliki pengetahuan, sikap dan keterampilan tentang Psikologi Pendidikan (P),
seorang mahasiswa (O) dengan segala karakteristiknya (kondisi fisik, bakat, minat,
motivasi, hasil belajar sebelumnya serta karakteristik lainnya) mengikuti kegiatan belajar
Psikologi Pendidikan. Melalui interaksi belajar mengajar yang disepakati dengan Dosen,
dia memperoleh sejumlah pengalaman belajar, misalnya melalui: diskusi dengan teman,
membaca dan mengkaji buku-buku yang relevan, mengobservasi perilaku di kelas,
bahkan melakukan penelitian, maka pada akhirnya, dia mendapatkan pengetahuan, sikap
dan memiliki keterampilan baru tentang psikologi pendidikan, baik untuk kepentingan
diri-pribadi sehari-hari maupun dalam rangka mempersiapkan diri untuk menjadi guru
kelak di kemudian hari.
Dengan demikian, kiranya bisa dipahami bahwa perubahan perilaku atau diperolehnya
kemampuan individu, disamping dihasilkan melalui kegiatan pendidikan (belajar) juga
dipengaruhi oleh faktor internal dari individu itu sendiri.

D. Latihan
Soal :
Pilihan Ganda :
Pilihlah salah satu jawaban yang menurut Anda paling tepat, dengan cara memberikan tanda
silang (X) !
2. Psikologi pendidikan dapat diartikan sebagai :
1) Ilmu Jiwa
2) Ilmu yang mempelajari tentang perilaku peserta didik .
3) Ilmu yang mempelajari perilaku individu dalam situasi pendidikan.
4) a, b, dan c benar
3. Beberapa persyaratan ilmu yang sudah dipenuhi oleh Psikologi Pendidikan, kecuali :
a. Memiliki obyek yang jelas yaitu perilaku individu yang terlibat dalam pendidikan.
b. Konsep dan teori Psikologi Pendidikan diperoleh berdasarkan upaya yang sistematis,
baik melalui pendekatan kuantitatif maupun kualitatif.
c. Menjadi pedoman bagi para pendidik dalam mengembangkan proses pendidikan.
d. Memberikan manfaat untuk kepentingan efektivitas dan efisiensi pendidikan.
4. Arti penting Psikologi Pendidikan bagi guru adalah :
a. Guru dapat menjalankan peran tugas dan fungsinya secara efektif dan efisien
b. Guru dapat merencanakan pembelajaran dengan sebaik-baiknya
c. Guru dapat melaksanakan pembelajaran secara efektif.
d. Guru dapat menilai peserta didiknya secara efisien.
5. Mekanisme terbentuknya perilaku sadar menurut pandangan Behaviorisme
a. W S Ow R W
b. S R
c. S O R
d. WS O R W
6. Di bawah ini merupakan jenis-jenis kebutuhan individu yang dikemukakan oleh Maslow,
kecuali :
a. Kebutuhan akan prestasi.
b. Kebutuhan akan harga diri.
c. Kebutuhan akan rasa aman.
d. Kebutuhan akan aktualisasi diri.
7. Konflik yang dialami jika individu dihadapkan pada dua motif atau lebih dan semua
alternatif motif sama-sama kuat namun tidak dikehendaki dan bersifat negatif.
a. Approach- avoidance conflict
b. Approach-approach conflict
c. Avoidance-avoidance conflict
d. a, b , dan c benar

8. Di bawah ini merupakan indikator untuk mengetahui tingkat motivasi individu.


a. durasi, frekuensi dan persistensi kegiatan.
b. ketabahan, keuletan dan kemampuan dalam mengahadapi rintangan dan kesulitan.
c. tingkat kualifikasi prestasi atau produk (out put) yang dicapai dari kegiatan yang
dilakukan dan arah sikap terhadap sasaran
kegiatan.
d. a, b, dan c benar
9. Reaksi frustasi individu atas kegagalan dalam mencapai tujuan dan tidak terpenuhinya
kebutuhan individu dengan cara mencari kambing hitam.
a. agresi
b. regresi
c. fiksasi
d. proyeksi
10. Di bawah ini merupakan kemampuan yang berkaitan dengan perilaku kawasan afektif.
a. evaluasi
b. Non-discursive communication
c. characterization by value or value complex
d. a, b dan c benar
11. Dapat menyimpulkan, menghubungkan, menggabungkan merupakan indikator atau kata
kerja operasional untuk mengukur perubahan perilaku dalam aspek :
a. application
b. analysis
c. synthesis
d. evaluation
Uraian
1. Jelaskan peranan dan pengaruh pendidikan terhadap perubahan dan perkembangan
perilaku individu !
2. Uraikan dan berikan gambaran secara skematik tentang mekanisme pembentukan
perilaku dan pribadi individu menurut aliran holistik !
BAB II KERAGAMAN INDIVIDU DALAM KECAKAPAN DAN
KEPRIBADIAN
A. T
ujuan :
Setelah mempelajari Bab ini, diharapkan Anda dapat :
1. Mendefinisikan kecakapan nyata, kecakapan potensial, kecerdasan (inteligensi), dan
kepribadian
2. Mengidentifikasi tentang indikator kecerdasan, ukuran kecerdasan, ciri-ciri keberbakatan,
aspek-aspek kepribadian.
3. Menjelaskan tentang teori-teori kecerdasan dan pengukuran kecerdasan.
4. Menganalis faktor-faktor yang mempengaruhi timbulnya keragaman dalam kecakapan
dan kepribadian.

B. Pokok Bahasan
1. Keragaman Individu dalam Kecakapan dan Kepribadian.
2. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Timbulnya Keragaman dalam Kecakapan dan
Kepribadian.

C. Intisari Bacaan
1. Keragaman Individu dalam Kecakapan dan Kepribadian

Dalam melaksanakan tugasnya, seorang guru mungkin akan dihadapkan dengan puluhan
atau bahkan ratusan peserta didiknya, dengan masing-masing karakateristik yang
dimilikinya.
Di antara sekian banyak karakteristik yang dimiliki peserta didik, yang penting dan perlu
diketahui guru adalah berkenaan dengan kecakapan dan kepribadian peserta
didiknya.Dari segi kecepatan belajar, ada peserta didik yang menunjukkan cepat dalam
menangkap pelajaran, namun sebaliknya ada juga yang sangat lambat. Dari segi
kepribadian, guru akan berhadapan dengan ciri-ciri kepribadian para peserta didiknyanya
yang khas atau unik.
Berhadapan dengan peserta didik yang memiliki kecepatan belajar dan memiliki ciri-ciri
kepribadian yang positif, guru mungkin akan menganggap seolah-olah tidak ada
hambatan. Namun ketika berhadapan dengan peserta didik yang lambat dalam belajar
atau ciri-ciri kepribadian yang negatif, adakalanya guru dibuat frustrasi. Ujung-ujungnya
dia langsung saja akan menyimpulkan bahwa peserta didiklah yang salah. Peserta didik
dianggap kurang rajin, bodoh, malas, kurang sungguh-sungguh dan sebagainya.
Jika saja guru tersebut dapat memahami tentang keragaman individu, belum tentu dia
akan langsung menarik kesimpulan bahwa peserta didiklah yang salah. Terlebih dahulu
mungkin dia akan mempelajari latar belakang sosio-psikologis peserta didiknya, sehingga
akan diketahui secara akurat kenapa peserta didik itu lambat dalam belajar, selanjutnya
dia berusaha untuk menemukan solusinya dan menetukan tindakan apa yang paling
mungkin bisa dilakukan agar peserta didik tersebut dapat mengembangkan perilaku dan
pribadinya secara optimal.
Membicarakan tentang keragaman individu secara luas dan mendalam sebetulnya sudah
merupakan kajian tersendiri yaitu dalam bidang Psikologi Diferensial. Untuk kepentingan
pengetahuan guru dalam memahami peserta didiknya, di bawah ini akan diuraikan dua
jenis keragaman individu yaitu keragaman dalam kecakapan dan kepribadian.
a. Keragaman Individu dalam Kecakapan
Kecakapan individu dapat dibagi kedalam dua bagian yaitu kecakapan nyata (actual
ability) dan kecakapan potensial (potential ability).
Kecakapan nyata (actual ability) yaitu kecakapan yang diperoleh melalui belajar
(achivement atau prestasi), yang dapat segera didemonstrasikan dan diuji sekarang.
Misalkan, setelah selesai mengikuti proses perkuliahan (kegiatan tatap muka di
kelas), pada akhir perkuliahan mahasiswa diuji oleh dosen tentang materi yang
disampaikannya (tes formatif). Ketika mahasiswa mampu menjawab dengan baik
tentang pertanyaan dosen, maka kemampuan tersebut merupakan atau kecakapan
nyata (achievement).
Sedangkan kecakapan potensial merupakan aspek kecakapan yang masih terkandung
dalam diri individu dan diperoleh dari faktor keturunan (herediter). Kecakapan
potensial dapat dibagi ke dalam dua bagian yaitu kecakapan dasar umum (inteligensi
atau kecerdasan) dan kecakapan dasar khusus (bakat atau aptitudes).
C.P. Chaplin (1975) memberikan pengertian inteligensi sebagai kemampuan
menghadapi dan menyesuaikan diri terhadap situasi baru secara cepat dan efektif.
Pada awalnya teori inteligensi masih bersifat unidimensional (kecerdasan tunggal),
yakni hanya berhubungan dengan aspek intelektual saja, seperti teori inteligensi
yang dikemukakan oleh Charles Spearman (1904) dengan teori “Two Factors”-nya.
Menurut pendapatnya bahwa inteligensi terdiri dari kemampuan umum yang diberi
kode “g” (genaral factor) dan kemampuan khusus yang diberi kode “s” (specific
factor).
Selanjutnya, Thurstone (1938) mengemukakan teori “Primary Mental Abilities”,
bahwa inteligensi merupakan penjelmaan dari kemampuan primer, yaitu : (1)
kemampuan berbahasa (verbal comprehension); (2) kemampuan mengingat
(memory); (3) kemampuan nalar atau berfikir (reasoning); (4) kemampuan tilikan
ruangan (spatial factor); (5) kemampuan bilangan (numerical ability); (6)
kemampuan menggunakan kata-kata (word fluency); dan (7) kemampuan mengamati
dengan cepat dan cermat (perceptual speed).
Sementara itu, J.P. Guilford mengemukakan bahwa inteligensi dapat dilihat dari tiga
kategori dasar atau “faces of intellect”, yaitu :
1. Operasi Mental (Proses Befikir)
a. Cognition (menyimpan informasi yang lama dan menemukan informasi yang
baru).
b. Memory Retention (ingatan yang berkaitan dengan kehidupan sehari-hari).
c. Memory Recording (ingatan yang segera).
d. Divergent Production (berfikir melebar=banyak kemungkinan jawaban/
alternatif).
e. Convergent Production (berfikir memusat= hanya satu kemungkinan
jawaban/alternatif).
f. Evaluation (mengambil keputusan tentang apakah suatu itu baik, akurat, atau
memadai).
2. Content (Isi yang Dipikirkan)
a. Visual (bentuk konkret atau gambaran).
b. Auditory.
c. Word Meaning (semantic).
d. Symbolic (informasi dalam bentuk lambang, kata-kata atau angka dan notasi
musik).
e. Behavioral (interaksi non verbal yang diperoleh melalui penginderaan,
ekspresi muka atau suara).
3. Product (Hasil Berfikir)
a. Unit (item tunggal informasi).
b. Kelas (kelompok item yang memiliki sifat-sifat yang sama).
c. Relasi (keterkaitan antar informasi).
d. Sistem (kompleksitas bagian saling berhubungan).
e. Transformasi (perubahan, modifikasi, atau redefinisi informasi).
f. Implikasi (informasi yang merupakan saran dari informasi item lain).
Belakangan ini banyak orang menggugat tentang kecerdasan intelektual
(unidimensional), yang konon dianggap sebagai anugerah yang dapat mengantarkan
kesuksesan hidup seseorang. Pertanyaan muncul, bagaimana dengan tokoh-tokoh
dunia, seperti Mozart dan Bethoven dengan karya-karya musiknya yang
mengagumkan, atau Maradona dan Pele sang legenda sepakbola dunia,. Apakah
mereka termasuk juga orang-orang yang genius atau cerdas ? Dalam teori kecerdasan
tunggal (uni-dimensional), kemampuan mereka yang demikian hebat ternyata tidak
terakomodasikan. Maka muncullah, teori inteligensi yang berusaha mengakomodir
kemampuan-kemampuan individu yang tidak hanya berkenaan dengan aspek
intelektual saja. Dalam hal ini, Howard Gardner (1993), mengemukakan teori
Multiple Inteligence, dengan aspek-aspeknya sebagai tampak dalam tabel di bawah
ini:

INTELIGENSI KEMAMPUAN INTI


Kepekaan dan kemampuan untuk
1. Logical – Mathematical mengamati pola-pola logis dan bilangan
serta kemampuan untuk berfikir rasional.
Kepekaan terhadap suara, ritme, makna
2. Linguistic kata-kata, dan keragaman fungsi-fungsi
bahasa.
Kemampuan untuk menghasilkan dan
3. Musical mengapresiasikan ritme. Nada dan bentuk-
bentuk ekspresi musik.
Kemampuan mempersepsi dunia ruang-
4. Spatial visual secara akurat dan melakukan
tranformasi persepsi tersebut.
Kemampuan untuk mengontrol gerakan
5. Bodily Kinesthetic tubuh dan mengenai objek-objek secara
terampil.
Kemampuan untuk mengamati dan
6. Interpersonal merespons suasana hati, temperamen, dan
motivasi orang lain.
Kemampuan untuk memahami perasaan,
7. Intrapersonal kekuatan dan kelemahan serta inteligensi
sendiri.
Kecakapan potensial seseorang hanya dapat dideteksi dengan mengidentifikasi
indikator-indikatornya. Jika kita perhatikan penjelasan tentang aspek-aspek
inteligensi dari teori-teori inteligensi di atas, maka pada dasarnya indikator
kecerdasan akan mengerucut ke dalam tiga ciri yaitu : kecepatan (waktu yang
singkat), ketepatan (hasilnya sesuai dengan yang diharapkan) dan kemudahan (tanpa
menghadapi hambatan dan kesulitan yang berarti) dalam bertindak.
Dengan indikator-indikator perilaku inteligensi tersebut, para ahli mengembangkan
instrumen-instrumen standar untuk mengukur perkiraan kecakapan umum
(kecerdasan) dan kecakapan khusus (bakat) seseorang. Alat ukur inteligensi yang
paling dikenal dan banyak digunakan di Indonesia ialah Tes Binet Simon -- walaupun
sebetulnya menurut hemat penulis alat ukur tersebut masih terbatas untuk mengukur
inteligensi atau bakat persekolahan (scholastic aptitude), belum dapat mengukur
aspek – aspek inteligensi secara keseluruhan (multiple inteligence). Selain itu, ada
juga tes intelegensi yang bersifat lintas budaya yaitu Tes Progressive Metrices (PM)
yang dikembangkan oleh Raven.
Dari hasil pengukuran inteligensi tersebut dapat diketahui seberapa besar tingkat
integensi (biasa disebut IQ = Intelligent Quotient yaitu ukuran kecerdasan dikaitkan
dengan usia seseorang.
Rumus yang biasa digunakan untuk menghitung IQ seseorang adalah :

MA (Mental Age)
IQ= 100 x
CA (Chronological Age)

Di bawah ini disajikan norma ukuran kecerdasan dikaitkan dengan usia seseorang.

IQ KATEGORI PERSENTASE
> 140 Jenius (Genius) 0.25 %
130-139 Sangat Unggul (Very Superior) 0.75 %
120-129 Unggul (Superior) 6%
110-119 Diatas rata-rata (High Average) 13 %
90-109 Rata-rata (Average) 60 %
80 - 89 Dibawah Rata-Rata (Low Average) 13 %
70 - 79 Bodoh (Dull) 6%
50 - 69 Debil (Moron) 0.75 %
25 - 49 Imbecil 0.20 %
< 25 Idiot 0.05 %
Selain menggunakan instrumen standar, seorang guru pada dasarnya dapat pula
mendeteksi dan memperkirakan inteligensi peserta didiknya, melalui pengamatan
yang sistematis tentang indikator – indikator kecerdasan yang dimiliki para peserta
didiknya, yaitu dengan cara memperhatikan kecenderungan kecepatan ketepatan,
dan kemudahan peserta didik dalam dalam menyelesaikan tugas-tugas yang diberikan
dan mengerjakan soal-soal pada saat ulangan atau ujian, sehingga pada akhirnya akan
diketahui kelompok peserta didik yang tergolong cepat (upper group), rata-rata
(midle group) dan lambat (lower group) dalam belajarnya.
Untuk mengukur bakat seseorang, dapat menggunakan beberapa instrumen standar,
diantaranya : DAT (Differential Aptitude Test), SRA-PMA (Science Research Action
– Primary Mental Ability), FACT (Flanagan Aptitude Calassification Test).
Alat tes ini dapat mengungkap tentang : (1) pemahaman kata; (2) kefasihan
mengungkapkan kata; (3) pemahaman bilangan; (4) tilikan ruangan; (5) daya ingat;
(6) kecepatan pengamatan; (7) berfikir logis; dan (8) kecakapan gerak.
Perlu dicatat bahwa pengukuran tersebut, baik menggunakan instrumen standar atau
hanya berdasarkan pengamatan sistematis guru bukanlah bersifat memastikan tingkat
kecerdasan atau bakat seseorang namun hanya sekedar memperkirakan (prediksi)
saja, untuk kepentingan pengembangan diri. Begitu juga kecerdasan atau bakat
seseorang bukanlah satu-satunya faktor yang menentukan tingkat keberhasilan atau
kesuksesan hidup seseorang.
Dalam rangka Program Percepatan Belajar (Accelerated Learning), Balitbang
Depdiknas (1986) telah mengidentifikasi ciri-ciri keberbakatan peserta didik dilihat
dari aspek kecerdasan, kreativitas dan komitmen terhadap tugas, yaitu:

1. Lancar berbahasa (mampu mengutarakan pikirannya);


2. Memiliki rasa ingin tahu yang besar terhadap ilmu pengetahuan;
3. Memiliki kemampuan yang tinggi dalam berfikir logis dan kritis
4. Mampu belajar/bekerja secara mandiri;
5. Ulet menghadapi kesulitan (tidak lekas putus asa);
6. Mempunyai tujuan yang jelas dalam tiap kegiatan atau perbuatannya
7. Cermat atau teliti dalam mengamati;
8. Memiliki kemampuan memikirkan beberapa macam pemecahan masalah;
9. Mempunyai minat luas;
10. Mempunyai daya imajinasi yang tinggi;
11. Belajar dengan dan cepat;
12. Mampu mengemukakan dan mempertahankan pendapat;
13. Mampu berkonsentrasi;
14. Tidak memerlukan dorongan (motivasi) dari luar.
b. Keragaman Individu dalam Kepribadian
Para ahli tampaknya masih sangat beragam dalam memberikan rumusan tentang
kepribadian, tergantung sudut pandang masing-masing. Dalam suatu penelitian
kepustakaan yang dilakukan oleh Gordon W. Allport (Calvin S. Hall dan Gardner
Lindzey, 2005) menemukan hampir 50 definisi tentang kepribadian yang berbeda-
beda. Berangkat dari studi yang dilakukannya, akhirnya dia menemukan satu
rumusan tentang kepribadian yang dianggap lebih lengkap. Menurut pendapat dia
bahwa kepribadian adalah organisasi dinamis dalam diri individu sebagai sistem
psiko-fisik yang menentukan caranya yang unik dalam menyesuaikan diri terhadap
lingkungannya. Kata kunci dari pengertian kepribadian adalah penyesuaian diri.
Scheneider (1964) mengartikan penyesuaian diri sebagai “suatu proses respons
individu baik yang bersifat behavioral maupun mental dalam upaya mengatasi
kebutuhan-kebutuhan dari dalam diri, ketegangan emosional, frustrasi dan konflik,
serta memelihara keseimbangan antara pemenuhan kebutuhan tersebut dengan
tuntutan (norma) lingkungan.
Sedangkan yang dimaksud dengan unik bahwa kualitas perilaku itu khas sehingga
dapat dibedakan antara individu satu dengan individu lainnya. Keunikannya itu
didukung oleh keadaan struktur psiko-fisiknya, misalnya konstitusi dan kondisi fisik,
tampang, hormon, segi kognitif dan afektifnya yang saling berhubungan dan
berpengaruh, sehingga menentukan kualitas tindakan atau perilaku individu yang
bersangkutan dalam berinteraksi dengan lingkungannya.
Untuk menjelaskan tentang kepribadian individu, terdapat beberapa teori kepribadian
yang sudah banyak dikenal, diantaranya : teori Psikoanalisa dari Sigmund Freud,
teori Analitik dari Carl Gustav Jung, teori Sosial Psikologis dari Adler, Fromm,
Horney dan Sullivan, teori Personologi dari Murray, teori Medan dari Kurt Lewin,
teori Psikologi Individual dari Allport, teori Stimulus-Respons dari Throndike, Hull,
Watson, teori The Self dari Carl Rogers dan sebagainya.
Sementara itu, Abin Syamsuddin (2003) mengemukakan tentang aspek-aspek
kepribadian, yang di dalamnya mencakup :
a. Karakter; yaitu konsekuen tidaknya dalam mematuhi etika perilaku, konsiten
tidaknya dalam memegang pendirian atau pendapat.
b. Temperamen; yaitu disposisi reaktif seorang, atau cepat lambatnya mereaksi
terhadap rangsangan-rangsangan yang datang dari lingkungan.
c. Sikap; sambutan terhadap objek yang bersifat positif, negatif atau ambivalen
d. Stabilitas emosi; yaitu kadar kestabilan reaksi emosional terhadap rangsangan
dari lingkungan. Seperti mudah tidaknya tersinggung, marah, sedih, atau putus
asa
e. Responsibilitas (tanggung jawab), kesiapan untuk menerima resiko dari tindakan
atau perbuatan yang dilakukan. Seperti mau menerima resiko secara wajar, cuci
tangan, atau melarikan diri dari resiko yang dihadapi.
f. Sosiabilitas; yaitu disposisi pribadi yang berkaitan dengan hubungan
interpersonal. Seperti : sifat pribadi yang terbuka atau tertutup dan kemampuan
berkomunikasi dengan orang lain.
Setiap individu memiliki ciri-ciri kepribadian tersendiri, mulai dari yang
menunjukkan ciri-ciri kepribadian yang sehat sampai dengan ciri-ciri kepribadian
yang tidak sehat. Dalam hal ini, Elizabeth Hurlock (Syamsu Yusuf, 2003)
mengemukakan ciri-ciri kepribadian yang sehat atau tidak sehat, sebagai berikut :

KEPRIBADIAN YANG TIDAK


KEPRIBADIAN YANG SEHAT
SEHAT
1. Mampu menilai diri sendiri secara 1. Mudah marah
realistik 2. Menunjukkan kekhawatiran dan
2. Mampu menilai situasi secara kecemasan
realistik 3. Sering merasa tertekan (stress
3. Mampu menilai prestasi yang atau depresi)
diperoleh secara realistik 4. Bersikap kejam
4. Menerima tanggung jawab 5. Ketidakmampuan untuk
5. Kemandirian menghindar dari perilaku
6. Dapat mengontrol emosi menyimpang
7. Berorientasi tujuan 6. Kebiasaan berbohong
8. Berorientasi keluar (ekstrovert) 7. Hiperaktif
9. Penerimaan sosial 8. Bersikap memusuhi semua bentuk
10. Memiliki filsafat hidup otoritas
11. Berbahagia 9. Senang mengkritik/ mencemooh
10. Sulit tidur
11. Kurang rasa tanggung jawab
12. Sering mengalami pusing kepala
13. Kurang memiliki kesadaran untuk
mentaati ajaran agama
14. Pesimis
15. Kurang bergairah
Berdasarkan uraian diatas kita dapat memahami bahwa ketika seorang guru berhadapan
dengan peserta didiknya di kelas, dia dihadapkan dengan sejumlah keragaman kecakapan
dan kepribadian yang dimiliki para peserta didiknya. Oleh karena itu, seyogyanya guru
dapat memperlakukan peserta didik dan mengembangkan strategi pembelajaran, dengan
memperhatikan aspek perbedaan atau keragaman kecakapan dan kepribadian yang
dimiliki peserta didiknya. Sehingga peserta didik dapat mengembangkan diri sesuai
dengan kecepatan belajar dan karakteristik perilaku dan kepribadiannya masing-masing.
2. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Timbulnya Keragaman dalam Kecakapan dan
Kepribadian
Timbulnya keragaman dalam kecakapan dan kepribadian dipengaruhi oleh bebagai
faktor. Kendati demikian, para ahli sepakat bahwa pada dasarnya keragaman dalam
kecakapan dan kepribadian dipengaruhi oleh tiga faktor utama, yaitu :
a. Herediter; pembawaan sejak lahir atau berdasarkan keturunan yang bersifat kodrati,
seperti : konstitusi dan struktur fisik, kecakapan potensial (bakat dan kecerdasan).
Seberapa kuat pengaruh keturunan sangat bergantung pada besarnya kualitas gen
yang dimiliki oleh orang tuanya (ayah atau ibu). Berdasarkan percobaannya dengan
cara mengawinkan bunga merah dengan bunga putih, Gregor Mendel mengemukakan
pandangannya, bahwa : (1) tiap-tiap sifat (traits) makhluk hidup itu dikendalikan
oleh keturunan; (2) tiap-tiap pasangan faktor keturunan menentukan bentuk alternatif
sesamanya, dan satu dari pada pasangan alternatif itu memegang pengaruh besar; dan
(3) pada waktu proses pembentukan sel-sel kelamin, pasangan faktor keturunan itu
memisah, dan tiap-tiap sel kelaminnya menerima salah satu faktor dari pasangan
keturunan itu. Hasil percobaan Mendel ini menjelaskan kepada kita bahwa faktor
keturunan memegang peranan penting bagi perilaku dan pribadi individu.
Beberapa asas tentang keturunan di bawah ini akan memberikan gambaran
pembanding kepada kita tentang apa-apa yang diturunkan dari orang tua kepada
anaknya :
1. Asas Reproduksi
Menurut asas ini bahwa kecakapan (achievement) dari masing-masing ayah atau
ibunya tidak dapat diturunkan kepada anak-anaknya. Sifat-sifat atau ciri-ciri
perilaku yang diturunkan orang tua kepada anaknya hanyalah bersifat
reproduksi, yaitu memunculkan kembali mengenai apa yang sudah ada pada hasil
perpaduan benih saja, dan bukan didasarkan pada perilaku orang tua yang
diperolehnya melalui hasil belajar atau hasil berinteraksi dengan lingkungannya.
2. Asas Variasi
Bahwa penurunan sifat pembawaan dari orang tua kepada anak-anaknya akan
bervariasi, baik mengenai kuantitas maupun kualitasnya. Hal ini disebabkan
karena pada waktu terjadinya pembuahan komposisi gen berbeda-beda, baik
yang berasal dari ayah maupun ibu. Oleh karena itu, akan didapati beberapa
perbedaan sifat dan ciri-ciri perilaku individu dari orang yang bersaudara,
walaupun berasal dari ayah dan ibu yang sama, sehingga mungkin saja kakaknya
lebih banyak menyerupai sifat dan ciri-ciri perilaku ayahnya sedangkan adiknya
lebih banyak menyerupai sifat dan ciri-ciri perilaku ibunya atau sebaliknya.
3. Asas Regresi Filial
Terjadi pensurutan sifat atau ciri perilaku dari kedua orangtua pada anaknya
yang disebabkan oleh gaya tarik-menarik dalam perpaduan pembawaan ayah dan
ibunya, sehingga akan didapati sebagian kecil dari sifat-sifat ayahnya dan
sebagian kecil pula dari sifat-sifat ibunya. Sedangkan perbandingannya mana
yang lebih besar antara sifat-sifat ayah dan ibunya ini sangat tergantung kepada
daya kekuatan tarik menarik dari pada masing-masing sifat keturunan tersebut.
4. Asas Jenis Menyilang
Menurut asas ini bahwa apa yang diturunkan oleh masing-masing orang tua
kepada anak-anaknya mempunyai sasaran menyilang jenis. Seorang anak
perempuan akan lebih banyak memilki sifat-sifat dan tingkah laku ayahnya,
sedangkan bagi anak laki-laki akan lebih banyak memilki sifat pada ibunya.
5. Asas konformitas
Berdasarkan asas konformitas ini bahwa seorang anak akan lebih banyak
memiliki sifat-sifat dan ciri-ciri tingkah laku yang diturunkan oleh kelompok
rasnya atau suku bangsanya.Misalnya, orang Eropa akan menyerupai sifat-sifat
dan ciri-ciri tingkah laku seperti orang-orang Eropa lainnya dibandingkan dengan
orang-orang Asia.
b. Environment; lingkungan tempat di mana individu itu berada dan berinteraksi, baik
lingkungan fisik maupun lingkungan sosio-psikologis, termasuk didalamnya adalah
belajar.
Terhadap faktor lingkungan ini ada pula yang menyebutnya sebagai empirik yang
berarti pengalaman, karena dengan lingkungan itu individu mulai mengalami dan
mengecap alam sekitarnya. Manusia tidak bisa melepaskan diri secara mutlak dari
pada pengaruh lingkungan itu, karena lingkungan itu senantiasa tersedia di
sekitarnya.
Sejauh mana pengaruh lingkungan itu bagi diri individu, dapat kita ikuti pada uraian
berikut :
1. Lingkungan membuat individu sebagai makhluk sosial
Yang dimaksud dengan lingkungan pada uraian ini hanya meliputi orang-orang
atau manusia-manusia lain yang dapat memberikan pengaruh dan dapat
dipengaruhi, sehingga kenyataannya akan menuntut suatu keharusan sebagai
makhluk sosial yang dalam keadaan bergaul satu dengan yang lainnya.
Terputusnya hubungan manusia dengan masyarakat manusia pada tahun-tahun
permulaan perkembangannya, akan mengakibatkan berubahnya tabiat manusia
sebagai manusia. Berubahnya tabiat manusia sebagai manusia dalam arti bahwa
ia tidak akan mampu bergaul dan bertingkah laku dengan sesamanya.
Dapat kita bayangkan andaikata seorang anak manusia yang sejak lahirnya
dipisahkan dari pergaulan manusia sampai kira-kira berusia 10 tahun saja,
walaupun diberinya cukup makanan dan minuman, akan tetapi serentak dia
dihadapkan kepada pergaulan manusia, maka sudah dapat dipastikan bahwa dia
tidak akan mampu berbicara dengan bahasa yang biasa, canggung pemalu dan
lain-lain. Sehingga kalaupun dia kemudian dididik, maka penyesuaian dirinya itu
akan berlangsung sangat lambat sekali.
2. Lingkungan membuat wajah budaya bagi individu
Lingkungan dengan aneka ragam kekayaannya merupakan sumber inspirasi dan
daya cipta untuk diolah menjadi kekayaan budaya bagi dirinya. Lingkungan
dapat membentuk pribadi seseorang, karena manusia hidup adalah manusia yang
berfikir dan serba ingin tahu serta mencoba-coba terhadap segala apa yang
tersedia di alam sekitarnya.
Lingkungan memiliki peranan bagi individu, sebagai :
a. Alat untuk kepentingan dan kelangsungan hidup individu dan menjadi alat
pergaulan sosial individu. Contoh : air dapat dipergunakan untuk minum atau
menjamu teman ketika berkunjung ke rumah.
b. Tantangan bagi individu dan individu berusaha untuk dapat
menundukkannya. Contoh : air banjir pada musim hujan mendorong
manusia untuk mencari cara-cara untuk mengatasinya.
c. Sesuatu yang diikuti individu. Lingkungan yang beraneka ragam senantiasa
memberikan rangsangan kepada individu untuk berpartisipasi dan
mengikutinya serta berupaya untuk meniru dan mengidentifikasinya, apabila
dianggap sesuai dengan dirinya. Contoh : seorang anak yang senantiasa
bergaul dengan temannya yang rajin belajar, sedikit banyaknya sifat rajin dari
temannya akan diikutinya sehingga lama kelamaan dia pun berubah menjadi
anak yang rajin.
d. Obyek penyesuaian diri bagi individu, baik secara alloplastis maupun
autoplastis. Penyesuaian diri alloplastis artinya individu itu berusaha untuk
merubah lingkungannya. Contoh : dalam keadaan cuaca panas individu
memasang kipas angin sehingga dikamarnya menjadi sejuk. Dalam hal ini,
individu melakukan manipulation yaitu mengadakan usaha untuk
memalsukan lingkungan panas menjadi sejuk sehingga sesuai dengan
dirinya. Sedangkan penyesuaian diri autoplastis, penyesusian diri yang
dilakukan individu agar dirinya sesuai dengan lingkungannya. Contoh :
seorang juru rawat di rumah sakit, pada awalnya dia merasa mual karena bau
obat-obatan, namun lama-kelamaan dia menjadi terbiasa dan tidak menjadi
gangguan lagi, karena dirinya telah sesuai dengan lingkungannya.

c. Maturity; kematangan yang mengacu pada tahap-tahap atau fase-fase perkembangan


yang dijalani individu. Kematangan pada awalnya merupakan hasil dari adanya
perubahan-perubahan tertentu dan penyesuaian struktural pada diri individu, seperti
adanya kematangan jaringan-jaringan tubuh, otot, syaraf dan kelenjar. Kematangan
seperti ini disebut kematangan biologis. Kematangan terjadi pula pada aspek-aspek
psikis, seperti : kemampuan berfikir, emosi, sosial, moral, dan kepribadian, religius.
Kematangan aspek psikis ini diperlukan adanya latihan dan belajar tertentu.
Ketiga faktor tersebut di atas dapat dibuat formulasi sebagai berikut :

P= f (H.E.M)

P= Pribadi atau perilaku


f = fungsi
H= Herediter (pembawaan)
E=Environment (lingkungan, termasuk belajar)
M=Maturity (tingkat kematangan)

D. Latihan
Soal :
Pilihan Ganda
Pilihlah salah satu jawaban yang menurut Anda paling tepat, dengan cara memberikan tanda
silang (X) !
1. Kecakapan khusus individu yang merupakan hasil pembawaan.
a. Achievement
b. Aptitude
c. Inteligensi
d. Kepribadian

2. Untuk mengenali tingkat kecerdasan peserta didiknya, seorang guru dapat melakukan
pengamatan dengan melihat indikator sebagai berikut :
a. hasil belajar yang diperoleh peserta didik, terutama dalam mata pelajaran Matematika
dan bahasa Inggris
b. kecepatan ketepatan, dan kemudahan peserta didiknya dalam menyelesaikan tugas-
tugas yang diberikan dan mengerjakan soal-soal pada saat ulangan atau ujian.
c. cara berbicara dan bertindak peserta didik sehari-hari.
d. a, b dan c benar.
3. Inteligensi merupakan penjelmaan dari : (1) kemampuan berbahasa (verbal
comprehension); (2) kemampuan mengingat (memory); (3) kemampuan nalar atau
berfikir (reasoning); (4) kemampuan tilikan ruangan (spatial factor); (5) kemampuan
bilangan (numerical ability); (6) kemampuan menggunakan kata-kata (word fluency); dan
(7) kemampuan mengamati dengan cepat dan cermat (perceptual speed). Merupakan teori
inteligensi :

a. Two Factors
b. Primary Mental Abilities
c. Multiple Intlelligence
d. a, b, dan c benar
4. Intelligence Quotient (IQ) merupakan ukuran tingkat kecerdasan seseorang dibandingkan
dengan :
a. kemampuan
b. usia
c. prestasi belajar
d. a, b, dan c benar
5. Berdasarkan hasil test kecerdasan, siswa X memperoleh ukuran kecerdasan (IQ) sebesar
135. Hasil ini menunjukkan bahwa siswa X memiliki kecerdasan tergolong :
a. Very Superior
b. Superior
c. Genius
d. Di atas rata-rata
6. Di bawah ini merupakan ciri-ciri keberbakatan dalam rangka percepatan belajar
(accelerated learning), kecuali :
a. tidak memerlukan dorongan (motivasi) dari luar.
b. selalu memperoleh peringkat pertama di kelas
c. memiliki kemampuan memikirkan beberapa macam pemecahan masalah.
d. mampu belajar/bekerja secara mandiri.
7. Di bawah ini merupakan aspek-aspek kepribadian menurut Abin Syamsuddin Makmun :
a. karakter dan temperamen stabilitas emosi
b. sikap dan stabilitas emosi
c. responsibilitas dan sosiabilitas
d. a, b, dan c benar
8. Disposisi reaktif seorang, atau cepat lambatnya mereaksi terhadap rangsangan-
rangsangan yang datang dari lingkungan.
a. karakter
b. temperamen
c. stabilitas emosi
d. sikap dan stabilitas emosi
9. Terjadi pensurutan sifat atau ciri perilaku dari kedua orangtua pada anaknya yang
disebabkan oleh gaya tarik-menarik dalam perpaduan pembawaan ayah dan ibunya.
a. Asas Reproduksi
b. Asas Variasi
c. Asas konformitas
d. Asas Jenis Menyilang
10. Penyesuaian diri yang dilakukan individu dengan berusaha merubah lingkungannya.
a. alloplastis
b. autoplastis
c. mal-adjusment
d. well-adjusment
Uraian
1. Jelaskan tentang teori Multiple Inteligensi menurut Howard Gardner !
2. Jelaskan bagaimana cara mengukur kecerdasan seseorang ?
3. Jelaskan bahwa faktor herediter, lingkungan dan kematangan dapat mempengaruhi
terhadap timbulnya keragaman dalam kecakapan dan kepribadian !
BAB III PERKEMBANGAN INDIVIDU

A. Tujuan :
Setelah mempelajari Bab ini, diharapkan Anda dapat :
1. Mendefinisikan perkembangan, tugas perkembangan individu dan masa remaja.
2. Mengidentifikasi ciri-ciri umum perkembangan, prinsip-prinsip perkembangan, dan
model pentahapan perkembangan individu.
3. Menjelaskan tahapan perkembangan individu berdasarkan pendekatan didaktis.
4. Menjelaskan tentang aspek-aspek perkembangan individu, aspek-aspek perkembangan
perilaku dan pribadi pada masa remaja, serta problema yang dihadapi pada masa remaja.
5. Menguraikan tugas-tugas perkembangan individu pada masa bayi kanak-kanak, dan
remaja.

B. Pokok Bahasan
1. Pengertian Perkembangan.
2. Ciri-Ciri Umum Perkembangan Individu
3. Model Pentahapan Perkembangan.
4. Aspek – Aspek Perkembangan Individu.
5. Tugas – Tugas Perkembangan Individu
6. Perkembangan Pada Masa Remaja

C. Intisari Bacaan
1. Pengertian Perkembangan
Perkembangan dapat diartikan sebagai perubahan yang sistematis, progresif dan
berkesinambungan dalam diri individu sejak lahir hingga akhir hayatnya atau dapat
diartikan pula sebagai perubahan – perubahan yang dialami individu menuju tingkat
kedewasaan atau kematangannya.
Yang dimaksud dengan sistematis adalah bahwa perubahan dalam perkembangan itu
bersifat saling kebergantungan atau saling mempengaruhi antara satu bagian dengan
bagian lainnya, baik fisik maupun psikis dan merupakan satu kesatuan yang harmonis.
Contoh : kemampuan berbicara seseorang akan sejalan dengan kematangan dalam
perkembangan intelektual atau kognitifnya. Kemampuan berjalan seseorang akan seiring
dengan kesiapan otot-otot kaki. Begitu juga ketertarikan seorang remaja terhadap jenis
kelamin lain akan seiring dengan kematangan organ-organ seksualnya.
Progresif berarti perubahan yang terjadi bersifat maju, meningkat dan meluas, baik
secara kuantitatif (fisik) mapun kualitatif (psikis). Contoh : perubahan proporsi dan
ukuran fisik (dari pendek menjadi tinggi dan dari kecil menjadi besar); perubahan
pengetahuan dan keterampilan dari sederhana sampai kepada yang kompleks (mulai dari
mengenal huruf sampai dengan kemampuan membaca buku).
Berkesinambungan artinya bahwa perubahan pada bagian atau fungsi organisme itu
berlangsung secara beraturan atau berurutan. Contoh : untuk dapat berdiri, seorang anak
terlebih dahulu harus menguasai tahapan perkembangan sebelumnya yaitu kemampuan
duduk dan merangkak.
Lebih jauh lagi, Syamsu Yusuf (2003) memerinci, beberapa prinsip perkembangan
individu, yaitu :
a. Perkembangan merupakan proses yang tidak pernah berhenti.
b. Semua aspek perkembangan saling berhubungan.
c. Perkembangan terjadi pada tempo yang berlainan.
d. Setiap fase perkembangan mempunyai ciri khas.
e. Setiap individu normal akan mengalami tahapan/fase perkembangan.
f. Perkembangan mengikuti pola atau arah tertentu.
Yelon dan Winstein (Syamsu Yusuf, 2003) mengemukakan tentang arah atau pola
perkembangan sebagai berikut :
1. Cephalocaudal & proximal-distal (perkembangan manusia itu mulai dari kepala
ke kaki dan dari tengah (jantung, paru dan sebagainya) ke samping (tangan).
2. Struktur mendahului fungsi.
3. Diferensiasi ke integrasi.
4. Dari konkret ke abstrak.
5. Dari egosentris ke perspektivisme.
6. Dari outer control ke inner control.
2. Ciri-Ciri Umum Perkembangan Individu
Perkembangan individu mempunyai ciri-ciri umum sebagai berikut :
a. Terjadinya perubahan dalam aspek :
1. Fisik; seperti : berat dan tinggi badan.
2. Psikis; seperti : berbicara dan berfikir.
b. Terjadinya perubahan dalam proporsi.
1. Fisik; seperti : proporsi tubuh anak berubah sesuai dengan fase
perkembangannya.
2. Psikis; seperti : perubahan imajinasi dari fantasi ke realistis.
c. Lenyapnya tanda-tanda yang lama.
1. Fisik; seperti: rambut-rambut halus dan gigi susu, kelenjar thymus dan kelenjar
pineal.
2. Psikis; seperti : lenyapnya masa mengoceh, perilaku impulsif.
d. Diperolehnya tanda-tanda baru.
1. Fisik; seperti : pergantian gigi dan karakteristik sex pada usia remaja, seperti
kumis dan jakun pada laki dan tumbuh payudara dan menstruasi pada wanita,
tumbuh uban pada masa tua.
2. Psikis; seperti berkembangnya rasa ingin tahu, terutama yang berkaitan dengan
sex, ilmu pengetahuan, nilai-nilai moral dan keyakinan beragama.
3. Model Pentahapan Perkembangan Individu
Memperhatikan kompleksitas dari sifat perkembangan individu, maka untuk kepentingan
studi para ahli telah mencoba mengembangkan model pentahapan (stages) mengenai
proses perkembangan. Para ahli mengemukakan pendapat tentang model – model
petahapan yang beragam, yang secara garis besarnya dapat dikelompokkan ke dalam tiga
pendekatan yaitu pendekatan biologis, didaktis, dan psikologis. Di bawah ini disajikan
tabel tentang model tahapan perkembangan yang dikemukakan oleh beberapa ahli.

Nama Ahli Tahapan Waktu


Masa Kanak-Kanak 0-7 th
Aristoteles Masa Anak Sekolah 7-14 th
Masa Remaja 14-21 th
Masa Usia Pra Sekolah 0- 6 th
Masa Usia Sekolah Dasar 6-12 th
Syamsu Yusuf
Masa Usia Sekolah Menengah 12-18 th
Masa Usia Mahapeserta didik 18- 25 th
Tahap I Masa Asuhan 0-2 th
Tahap II Masa Pendidikan Jasmani dan latihan Panca 2-12 th
Rosseau Indera
Tahap III Masa Pendidikan Akal 12-15 th
Tahap IV Masa Pendidikan Watak dan Agama 15-20 th
Fullungs (Pengisisian) I 0-3 th
Streckungs (Rentangan) I 3-7 th
Kretschmer
Fullungs (Pengisisian) II 7-13 th
Streckungs (Rentangan)II 13-20th
Pranatal 9 bln-280 hr
Infancy (orok) 10 hr-14 hr
Babyhood (bayi) 2 mng -2 th
Childhood (kanak-kanak) 2 th-remaja
Adolesence/puberty (masa remaja):
Elizabeth Hurlock - Pre Adolesence 11-13 th
- Early Adolesence 16-17 th
- Late Adolesence 18-21 th
Adulthood (masa dewasa) 21-25 th
Middle age (tengah baya) 25-30 th
Old Age (masa tua) 30- wafat
Sensori-motor 0-2 th
Pra-operasional : 2-7 th
- Pre-konseptual 2-4 th
Piaget
- Intuitif 4-7 th
Konkret -Operasional 7-11 th
Formal - operasional 11-15 th

Loevenger sebagaimana dikemukakan oleh Sunaryo dkk (2003) mengemukakan tentang


fase-fase perkembangan individu beserta ciri-cirinya, yaitu :
Tahap Ciri – Ciri
1. Identitas diri terpisah dari orang lain
2. Bergantung pada lingkungan
Impulsif
3. Beorientasi hari ini
4. Individu tidak menempatkan diri sebagai penyebab perilaku
1. Peduli terhadap kontrol dan keuntungan yang dapat diperoleh dari
berhubungan dengan orang lain
2. Mengikuti aturan secara oportunistik dan hedonistik
Perlindungan Diri
3. Berfikir tidak logis dan stereotip
4. Melihat kehidupan sebagai “zero-sum game”
5. Cenderung menyalahkan dan mencela orang lain
1. Peduli terhadap penampilan diri
2. Berfikir sterotip dan klise
3. Peduli akan aturan eksternal
4. Bertindak dengan motif dangkal
5. Menyamakan diri dalam ekspresi emosi
Konformistik
6. Kurang introspeksi
7. Perbedaan kelompok didasarkan ciri-ciri eksternal
8. Takut tidak diterima kelompok
9. Tidak sensitif terhadap keindividualan
10. Merasa berdosa jika melanggar aturan
1. Bertindak atas dasar nilai internal
2. Mampu melihat diri sebagai pembuat pilihan dan pelaku tindakan
3. Mampu melihat keragaman emosi, motif. Dan perspektif diri
Seksama 4. Peduli akan hubungan mutualistik
5. Memiliki tujuan jangka panjang
6. Cenderung melihat peristiwa dalam konteks sosial
7. Berfikir lebih kompleks dan atas dasar analisis
1. Peningkatan kesadaran invidualitas
2. Kesadaran akan konflik emosional antara kemandirian dengan
ketergantungan
3. Menjadi lebih toleran terhadap diri sendiri dan orang lain
Individualistik 4. Mengenal eksistensi perbedaan individual
5. Mampu bersikap toleran terhadap pertentangan dalam kehidupan
6. Membedakan kehidupan internal dan kehidupan luar dirinya
7. Mengenal kompleksitas diri
8. Peduli akan perkembangan dan masalah-masalah sosial
Otonomi 1. Memiliki pandangan hidup sebagai suatu keseluruhan
2. Bersikap realistis dan obyektif terhadap diri sendiri maupun orang lain
3. Peduli akan paham abstrak, seperti keadilan sosial.
4. Mampu mengintegrasikan nilai-nilai yang bertentangan
5. Peduli akan self fulfillment
6. Ada keberanian untuk menyelesaikan konflik internal
7. Respek terhadap kemandirian orang lain
8. Sadar akan adanya saling ketergantungan dengan orang lain
9. Mampu mengekspresikan perasaan dengan penuh keyakinan dan
keceriaan

Dengan memperhatikan fase dan ciri-ciri perkembangan di atas, Sunaryo, dkk. telah
mengembangkan suatu instrumen untuk melacak tugas-tugas perkembangan individu.
Yang dikenal dengan sebutan Inventori Tugas Perkembangan (ITP).
Selanjutnya, dengan merujuk pada pemikiran Syamsu Yusuf (2003), di bawah ini
dikemukakan tahapan perkembangan individu dengan menggunakan pendekatan didaktis:
a. Masa Usia Pra Sekolah
Masa Usia Pra Sekolah terbagi dua yaitu (1) Masa Vital dan (2) Masa Estetik
1. Masa Vital; pada masa ini individu menggunakan fungsi-fungsi biologis untuk
menemukan berbagai hal dalam dunianya. Untuk masa belajar pada tahun
pertama dalam kehidupan individu , Freud menyebutnya sebagai masa oral
(mulut), karena mulut dipandang sebagai sumber kenikmatan dan merupakan alat
untuk melakukan eksplorasi dan belajar.Pada tahun kedua anak belajar berjalan
sehingga anak belajar menguasai ruang, mulai dari yang paling dekat sampai
dengan ruang yang jauh. Pada tahun kedua umunya terjadi pembiasaan terhadap
kebersihan. Melalui latihan kebersihan, anak belajar mengendalikan impuls-
impuls atau dorongan-dorongan yang datang dari dalam dirinya.
2. Masa Estetik; dianggap sebagai masa perkembangan rasa keindahan. Anak
bereksplorasi dan belajar melalui panca inderanya. Pada masa ini panca indera
masih sangat peka.
b. Masa Usia Sekolah Dasar
Masa Usia Sekolah Dasar disebut juga masa intelektual, atau masa keserasian
bersekolah pada umur 6-7 tahun anak dianggap sudah matang untuk memasuki
sekolah. Masa Usia Sekolah Dasar terbagi dua, yaitu : (a) masa kelas-kelas rendah
dan (b) masa kelas tinggi.
Ciri-ciri pada masa kelas-kelas rendah(6/7 – 9/10 tahun) :
1. Adanya korelasi positif yang tinggi antara keadaan jasmani dengan prestasi
2. Sikap tunduk kepada peraturan-peraturan permainan tradisional.
3. Adanya kecenderungan memuji diri sendiri
4. Membandingkan dirinya dengan anak yang lain
5. Apabila tidak dapat menyelesaikan suatu soal, maka soal itu dianggap tidak
penting.
6. Pada masa ini (terutama usia 6 – 8 tahun) anak menghendaki nilai angka rapor
yang baik, tanpa mengingat apakah prestasinya memang pantas diberi nilai baik
atau tidak.
Ciri-ciri pada masa kelas-kelas tinggi (9/10-12/13 tahun) :
1. Minat terhadap kehidupan praktis sehari-hari yang konkret
2. Amat realistik, rasa ingin tahu dan ingin belajar
3. Menjelang akhir masa ini telah ada minat kepada hal-hal atau mata pelajaran
khusus sebagai mulai menonjolnya bakat-bakat khusus
4. Sampai usia 11 tahun anak membutuhkan guru atau orang dewasa lainnya untuk
menyelesaikan tugas dan memenuhi keinginannya. Selepas usia ini pada
umumnya anak menghadapi tugas-tugasnya dengan bebas dan berusaha untuk
menyelesaikannya
5. Pada masa ini anak memandang nilai (angka rapor) sebagai ukuran tepat
mengenai prestasi sekolahnya.
6. Gemar membentuk kelompok sebaya untuk bermain bersama. Dalam permainan
itu mereka tidak terikat lagi dengan aturan permainan tradisional (yang sudah
ada), mereka membuat peraturan sendiri.
c. Masa Usia Sekolah Menegah
Masa usia sekolah menengah bertepatan dengan masa remaja, yang terbagai ke
dalam 3 bagian yaitu :
1. masa remaja awal; biasanya ditandai dengan sifat-sifat negatif, dalam jasmani dan
mental, prestasi, serta sikap sosial,
2. masa remaja; pada masa ini mulai tumbuh dorongan untuk hidup, kebutuhan akan
adanya teman yang dapat memahami dan menolongnya. Pada masa ini sebagai
masa mencari sesuatu yang dipandang bernilai, pantas dijunjung dan dipuja.
3. masa remaja akhir; setelah remaja dapat menentukan pendirian hidupnya, pada
dasarnya telah tercapai masa remaja akhir dan telah terpenuhi tugas-tugas
perkembangan pada masa remaja, yang akan memberikan dasar bagi memasuki
masa berikutnya yaitu masa dewasa.
d. Masa Usia Kemahasiswaan (18,00-25,00 tahun)
Masa ini dapat digolongkan pada masa remaja akhir sampai masa dewasa awal atau
dewasa madya, yang intinya pada masa ini merupakan pemantapan pendirian hidup.
4. Aspek- Aspek Perkembangan Individu
a. Perkembangan Fisik
Perkembangan fisik individu mencakup aspek-aspek :
1. Perkembangan anatomis; adanya perubahan kuantitatif pada struktur tulang,
indeks tinggi dan berat badan, proporsi tinggi kepala dengan tinggi garis
keajegan badan secara secara keseluruhan.
2. Perkembangan fisiologis; ditandai dengan adanya perubahan secara kualitatif,
kuantitaif dan fungsional dari sistem kerja biologis, seperti konstraksi otot-otot,
peredaran darah dan pernafasan, persyarafan, sekresi kelenjar dan pencernaan.
Laju perkembangan berjalan secara berirama, pada masa bayi dan kanak-kanak
perubahan fisik sangat pesat, pada usia sekolah menjadi lambat, mulai masa remaja
terjadi amat mencolok. Kemudian, pada permulaan masa remaja akhir bagi wanita
dan penghujung masa remaja akhir bagi pria, laju per- kembangan menurun sangat
lambat bahkan menjadi mapan.
b. Perkembangan Perilaku Psikomotorik
Perkembangan psikomotorik memerlukan adanya koordinasi fungsional antara
neuronmuscular system (sistem syaraf dan otot) dan fungsi psikis (kognitif, afektif,
konatif).
Dua prinsip utama dalam perkembangan psikomotorik, yaitu : (1) bahwa
perkembangan itu berlangsung dari yang sederhana kepada yang kompleks, dan (2)
dari yang kasar dan global (gross bodily movements) kepada yang halus dan spesifik
dan terkoordinasikan (finely coordinated movements).
Loree dalam Abin Syamsuddin (2003) mengatakan bahwa ada dua macam perilaku
psikomotorik utama yang bersifat universal harus dikuasai oleh setiap individu pada
masa bayi atau masa kanak-kanak yaitu berjalan (walking) dan memegang benda
(prehension). Kedua jenis keterampilan ini menjadi dasar bagi perkembangan
keterampilan yang lebih kompleks untuk bermain (playing) dan bekerja (working).
c. Perkembangan Bahasa
Kemampuan berbahasa merupakan kemampuan yang membedakan antara manusia
dengan hewan. Melalui bahasa, manusia, mengkodifikasikan, mencatat, menyimpan,
mengekspresikan dan mengkomunikasikan berbagai informasi, baik dalam bentuk
lisan, tulisan, gambar, lukisan gerak - gerik, dan mimik serta simbol ekspresif
lainnya. Perkembangan bahasa dimulai dengan masa meraban, bicara monolog,
haus nama-nama, gemar bertanya yang tidak selalu harus dijawab, membuat
kalimat sederhana, dan bahasa ekspresif dengan belajar menulis, membaca dan
menggambar permulaan.
d. Perkembangan Perilaku Kognitif
Dengan menggunakan hasil pengukuran tes inteligensi yang mencakup General
Information and Verbal Analogies, Jones dan Conrad (Loree,1970) menunjukkan
bahwa laju perkembangan inteligensi berlangsung sangat pesat sampai masa remaja,
setelah itu kepesatannya berangsur menurun.
Puncak perkembangan pada umumnya tercapai di penghujung masa remaja akhir.
Perubahan-perubahan amat tipis sampai usia 50 tahun, dan setelah itu terjadi plateau
(mapan) sampai dengan usia 60 tahun selanjutnya berangsur menurun.
Dengan berpatokan kepada hasil tes IQ, Bloom (1964) mengungkapkan prosentase
taraf perkembangan sebagai berikut :
Usia Perkembangan
1 tahun Sekitar 20 %
4 tahun Sekitar 50 %
8 tahun Sekitar 80 %
13 tahun Sekitar 92 %

Secara kualitatif perkembangan perilaku kognitif diungkapkan oleh Piaget, sebagai


berikut :
1. Tahap Sensori-Motor (0-2)
Inteligensi sensori-motor dipandang sebagai inteligensi praktis (practical
intelligence), yang berfaedah untuk belajar berbuat terhadap lingkungannya
sebelum mampu berfikir mengenai apa yang sedang ia perbuat. Inteligensi
individu pada tahap ini masih bersifat primitif, namun merupakan inteligensi
dasar yang amat berarti untuk menjadi fondasi tipe-tipe inteligensi tertentu yang
akan dimiliki anak kelak. Sebelum usia 18 bulan, anak belum mengenal object
permanence. Artinya, benda apapun yang tidak ia lihat, tidak ia sentuh, atau
tidak ia dengar dianggap tidak ada meskipun sesungguhnya benda itu ada.
Dalam rentang 18 - 24 bulan barulah kemampuan object permanence anak
tersebut muncul secara bertahap dan sistematis.
2. Tahap Pra Operasional (2 – 7)
Pada tahap ini anak sudah memiliki penguasaan sempurna tentang object
permanence. Artinya, anak tersebut sudah memiliki kesadaran akan tetap
eksisnya suatu benda yang harus ada atau biasa ada, walaupun benda tersebut
sudah ia tinggalkan atau sudah tak dilihat, didengar atau disentuh lagi. Jadi,
pandangan terhadap eksistensi benda tersebut berbeda dengan pandangan pada
periode sensori motor, yakni tidak bergantung lagi pada pengamatannya belaka.
Pada periode ditandai oleh adanya egosentris serta pada periode ini
memungkinkan anak untuk mengembangkan diferred-imitation, insight learning
dan kemampuan berbahasa, dengan menggunakan kata-kata yang benar serta
mampu mengekspresikan kalimat-kalimat pendek tetapi efektif.
3. Tahap konkret-operasional (7-11)
Pada periode ditandai oleh adanya tambahan kemampuan yang disebut system of
operation (satuan langkah berfikir) yang bermanfaat untuk mengkoordinasikan
pemikiran dan idenya dengan peristiwa tertentu ke dalam pemikirannya sendiri.
Pada dasarnya perkembangan kognitif anak ditinjau dari karakteristiknya sudah
sama dengan kemampuan kognitif orang dewasa. Namun masih ada keterbatasan
kapasitas dalam mengkoordinasikan pemikirannya. Pada periode ini anak baru
mampu berfikir sistematis mengenai benda-benda dan peristiwa-peristiwa yang
konkret.
4. Tahap formal-operasional (11 - dewasa)
Pada periode ini seorang remaja telah memiliki kemampuan mengkoordinasikan
baik secara simultan maupun berurutan dua ragam kemampuan kognitif yaitu :
a. Kapasitas menggunakan hipotesis
Kemampuan berfikir mengenai sesuatu khususnya dalam hal pemecahan
masalah dengan menggunakan anggapan dasar yang relevan dengan
lingkungan yang dia respons dan kapasitas menggunakan prinsip-prinsip
abstrak.
b. Kapasitas menggunakan prinsip-prinsip abstrak
Kemampuan untuk mempelajari materi-materi pelajaran yang abstrak secara
luas dan mendalam.
e. Perkembangan Perilaku Sosial
Sejak individu dilahirkan ke muka bumi ini ia telah mulai belajar tentang keadaan
lingkungan sosialnya. Pada awalnya, ia mempelajari segala yang terjadi dalam
lingkungan keluarga. Ia mencoba meniru, mengidentifikasi dan mengamati segala
sesuatu yang ditampilkan orang tua dan anggota keluarga lainnya. Selanjutnya ia
mempelajari keadaan-keadaan di luar rumah, baik yang menyangkut nilai, norma,
dan kebiasaan-kebiasaan yang ada dalam masyarakat. Akhirnya, ia menyadari bahwa
dirinya merupakan bagian dari masyrakat dan dituntut untuk berperilaku sesuai
dengan tuntutan masyarakat. Proses tersebut biasa disebut sosialisasi. Kagan (1972)
mengartikan sosialisasi sebagai: “…the process by which the child is integrated into
the society throgh exposure to the actions and opnions of older members of the
society”. Sementara itu Gilmore (1974) mengemukakan bahwa “…socialization is
the process whereby an individual is prepared or trainned to participate in his
environment”.
Dari kedua pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa sosialisasi pada intinya
merupakan upaya mempersiapkan individu untuk dapat berperilaku sesuai dengan
lingkungan sosialnya.
Krech et. al. (1962) mengemukan bahwa untuk memahami perilaku sosial individu,
dapat dilihat dari ciri-ciri respons interpersonalnya, yang dibagi ke dalam tiga
kategori :

1. Kecenderungan peranan (role disposition); ciri-ciri respons interpersonal yang


merujuk kepada tugas dan kewajiban dari posisi tertentu.
2. Kecenderungan sosiometrik (sociometric disposition); ciri-ciri respons
interpersonal yang bertalian dengan kesukaan, kepercayaan terhadap individu
lain.
3. Kecenderungan ekspresif (expressive disposition); ciri-ciri respons interpersonal
yang bertautan dengan ekspresi diri, dengan menampilkan kebiasaan-kebiasaan
khasnya (particular fashion).
Sementara itu, Buhler (Abin Syamsuddin Makmun, 2003) mengemukakan tahapan
dan ciri-ciri perkembangan perilaku sosial individu sebagaimana dapat dilihat dalam
tabel berikut :

Tahap Ciri-Ciri
Kanak-Kanak Awal ( 0 – 3 ) Segala sesuatu dilihat berdasarkan pandangan
Subyektif sendiri
Kritis I ( 3 - 4 )
Pembantah, keras kepala
Trozt Alter
Kanak – Kanak Akhir ( 4 – 6 )
Masa Subyektif Menuju Mulai bisa menyesuaikan diri dengan aturan
Masa Obyektif
Anak Sekolah ( 6 – 12 )
Membandingkan dengan aturan – aturan
Masa Obyektif
Kritis II ( 12 – 13 )
Perilaku coba-coba, serba salah, ingin diuji
Masa Pre Puber
Remaja Awal ( 13 – 16 )
Mulai menyadari adanya kenyataan yang
Masa Subyektif Menuju
berbeda dengan sudut pandangnya
Masa Obyektif
Remaja Akhir ( 16 – 18 ) Berperilaku sesuai dengan tuntutan
Masa Obyektif masyarakat dan kemampuan dirinya
f. Perkembangan Moralitas
Ketika individu mulai menyadari bahwa ia merupakan bagian dari lingkungan sosial
dimana ia berada, bersamaan itu pula individu mulai menyadari bahwa dalam
lingkungan sosialnya terdapat aturan-aturan, norma-norma/nilai-nilai sebagai dasar
atau patokan dalam berperilaku. Keputusan untuk melakukan sesuatu berdasarkan
pertimbangan norma yang berlaku dan nilai yang dianutnya itu disebut moralitas.
Dalam hal ini, Kohlberg mengemukakan tahapan perkembangan moralitas individu,
sebagaimana tampak dalam tabel berikut :
Tingkat Tahap
1. Orientasi terhadap kepatuhan dan hukuman
Pre Conventional (0 – 9)
2. Relativistik hedonism
3. Orientasi mengenai anak yang baik
Conventional (9 – 15) 4. Mempertahankan norma-norma sosial dan
otoritas
5. Orientasi terhadap perjanjian antara dirinya
Post Conventional ( > 15 ) dengan lingkungan sosial
6. Prinsip etis universal

g. Perkembangan Penghayatan Keagamaan


Dengan melalui pertimbangan fungsi afektif, kognitif, dan konatifnya, pada saat-saat
tertentu, individu akan meyakini dan menerima tanpa keraguan bahwa di luar dirinya
ada sesuatu kekuatan yang maha Agung yang melebihi apa pun, termasuk dirinya.
Penghayatan seperti itu disebut pengalaman keagamaan (religious experience)
(Zakiah Darajat, 1970). Brightman (1956) menjelaskan bahwa penghayatan
keagamaan tidak hanya sampai kepada pengakuan atas kebaradaan-Nya, namun juga
mengakui-Nya sebagai sumber nilai-nilai luhur yang abadi yang mengatur tata
kehidupan alam semesta raya ini. Oleh karena itu, manusia akan tunduk dan berupaya
untuk mematuhinya dengan penuh kesadaran dan disertai penyerahan diri dalam
bentuk ritual tertentu, baik secara individual maupun kolektif, secara simbolik
maupun dalam bentuk nyata kehidupan sehari-hari.
Abin Syamsuddin (2003) menjelaskan tahapan perkembangan keagamaan
sebagaimana tampak dalam tabel berikut ini :

Tahapan Ciri-Ciri
Sikap reseptif meskipun banyak bertanya
Pandangan ke-Tuhan-an yang dipersonifikasi
Masa
Kanak-Kanak Penghayatan secara rohaniah yang belum mendalam
Hal ke-Tuhan-an dipahamkan secara ideosyncritic (menurut
khayalan pribadinya)
Sikap reseptif yang disertai pengertian
Pandangan ke-Tuhan-an yang diterangkan secara rasional
Penghayatan secara rohaniah semakin mendalam, melaksanakan
kegiatan ritual diterima sebagai keharusan moral
Sikap negatif disebabkan alam pikirannya yang kritis melihat realita
orang – orang beragama yang hypocrit (pura-pura)
Masa Sekolah Pandangan ke-Tuhan-an menjadi kacau, karena beragamnya aliran
Masa paham yang saling bertentangan
Remaja Awal Penghayatan rohaniahnya cenderung skeptik, sehingga banyak yang
Masa enggan melaksanakan ritual yang selama ini dilakukan dengan
penuh kepatuhan
Remaja Akhir
Sikap kembali ke arah positif, bersamaan dengan kedewasaan
intelektual bahkan akan agama menjadi pegangan hidupnya
Pandangan ke-Tuhan-an dipahamkannya dalam konteks agama yang
dianut dan dipilihnya
Penghayatan rohaniahnya kembali tenang setelah melalui proses
identifikasi dan merindu puja, ia dapat membedakan antara agama
sebagai doktrin atau ajaran manusia
h. Perkembangan Perilaku Konatif
Perilaku konatif merupakan perilaku yang berhubungan dengan motivasi atau faktor
penggerak perilaku seseorang yang bersumber dari kebutuhan-kebutuhannya. Freud
(Di Vesta & Thompson dalam Abin Syamsuddin,2003) mengemukakan tentang
tahapan-tahapan perkembangan perilaku yang berhubungan obyek pemuasan
psychosexual, sebagaimana tampak dalam tabel berikut ini :

Daerah
Cara Pemuasan Sasaran Pemuasan
Sensitif
A. MASA BAYI DAN KANAK-KANAK (INFANCY PERIOD)
Pre Genital
Infantile Sexuality
Period
Oral Stage Mulut dan benda
Early Oral Menghisap ibu jari Mulut sendiri, memilih dan
memasukkan benda kemulut
Late Oral Menggigit, merusak dengan mulut Memilih benda dan digigitnya
secara sadis
Anal Stage Dubur dan benda

Early Anal Memilih benda dan


Memeriksa dan memainkan duburnya menyentuhnya/memasukkan
ke dubur
Late Anal Memainkan dan memperhatikan duburnya
Early Genital Menyentuh, memegang, melihat, Ditujukan kepada orang
Period (phalic menunjukkan alat kelaminnya tuanya (oediphus atau electra
stage) phantaties)
B. MASA ANAK SEKOLAH (LATENCY PERIOD)
No New Zone Represi
(tidak ada Reaksi formasi Berkembangnya perasaan–
daerah sensitif Sublimasi dan kecen- derungan kasih perasaan sosial
baru) sayang
C. MASA REMAJA (ADOLESENCE PERIOD)
Late Genital
Period
Hidup kembali Menyenangi diri sendiri
daerah sensitif Mengurangi cara-cara waktu masa kanak- (narcisism) atau objeck
waktu masa kanak oediphus-nya
kanak-kanak Objek pemuasannya mungkin
Akhirnya, siap diri sendiri/sejenis
Munculnya cara orang dewasa (homosexual) atau lain jenis
berfungsinya
memperoleh pemuasan (heterosexual)
alat kelamin
i. Perkembangan Emosional
Aspek emosional dari suatu perilaku, pada umumnya selalu melibatkan tiga variabel,
yaitu : (1) rangsangan yang menimbulkan emosi (stimulus); (2) perubahan–
perubahan fisiologis yang terjadi pada individu; dan (3) pola sambutan. Yang
mungkin dirubah dan dipengaruhi adalah variabel yang kesatu (stimus) dan yang
ketiga (respons), sedangkan variabel yang kedua merupakan yang tidak mungkin
dirubah karena terjadinya pada individu secara mekanis. Terdapat dua dimensi
emosional yang sangat penting untuk dipahami yaitu : (1) senang – tidak senang
(suka-tidak suka); dan (2) intensitasnya (kuat-lemah). Bridges (Loree, 1970)
menjelaskan proses perkembangan dan diferensiasi emosional pada anak-anak,
sebagai berikut :

Usia Ciri-Ciri
Bayi dilengkapi kepekaan umum terhadap rangsangan – rangsangan
Pada saat dilahirkan
tertentu (bunyi, cahaya, temperatur)
Kesenangan dan kegembiraan mulai didefinisikan dari emosi orang
0 - 3 bln
tuanya
Ketidaksenangan berdiferensiasi ke dalam kemarahan, kebencian dan
3 – 6 bln
ketakutan
9 – 12 bln Kegembiraan berdiferensiasi ke dalam kegairahan dan kasih sayang
Kecemburuan mulai berdiferensiasi ke dalam kegairahan dan kasih
18 bulan pertama
sayang
2 th Kenikmatan dan keasyikan berdiferensiasi dari kesenangan
Ketidaksenangan berdiferensiasi di dalam rasa malu, cemas dan
5 th kecewa sedangkan kesenangn berdiferensiasi ke dalam harapan dam
kasih sayang

j. Perkembangan Kepribadian
Meskipun kepribadian seseorang itu relatif konstan, namun dalam kenyataannya
sering ditemukan bahwa perubahan kepribadian dapat dan mungkin terjadi, terutama
dipengaruhi oleh faktor lingkungan dari pada faktor fisik.
Erikson dalam Nana Syaodih Sukmadinata, 2005 mengemukakan tahapan
perkembangan kepribadian dengan kecenderungan yang bipolar :

1. Masa bayi (infancy) ditandai adanya kecenderungan trust – mistrust. Perilaku


bayi didasari oleh dorongan mempercayai atau tidak mempercayai orang-orang
di sekitarnya. Dia sepenuhnya mempercayai orang tuanya, tetapi orang yang
dianggap asing dia tidak akan mempercayainya. Oleh karena itu kadang-kadang
bayi menangis bila di pangku oleh orang yang tidak dikenalnya. Ia bukan saja
tidak percaya kepada orang-orang yang asing tetapi juga kepada benda asing,
tempat asing, suara asing, perlakuan asing dan sebagainya. Kalau menghadapi
situasi-situasi tersebut seringkali bayi menangis.

2. Masa kanak-kanak awal (early childhood) ditandai adanya kecenderungan


autonomy – shame, doubt. Pada masa ini sampai-batas-batas tertentu anak sudah
bisa berdiri sendiri, dalam arti duduk, berdiri, berjalan, bermain, minum dari
botol sendiri tanpa ditolong oleh orang tuanya, tetapi di pihak lain dia ga telah
mulai memiliki rasa malu dan keraguan dalam berbuat, sehingga seringkali minta
pertolongan atau persetujuan dari orang tuanya.

3. Masa pra sekolah (Preschool Age) ditandai adanya kecenderungan initiative –


guilty. Pada masa ini anak telah memiliki beberapa kecakapan, dengan
kecakapan-kecakapan tersebut dia terdorong melakukan beberapa kegiatan, tetapi
karena kemampuan anak tersebut masih terbatas adakalanya dia mengalami
kegagalan. Kegagalan-kegagalan tersebut menyebabkan dia memiliki perasaan
bersalah, dan untuk sementara waktu dia tidak mau berinisatif atau berbuat.

4. Masa Sekolah (School Age) ditandai adanya kecenderungan industry–inferiority.


Sebagai kelanjutan dari perkembangan tahap sebelumnya, pada masa ini anak
sangat aktif mempelajari apa saja yang ada di lingkungannya. Dorongan untuk
mengatahui dan berbuat terhadap lingkungannya sangat besar, tetapi di pihak lain
karena keterbatasan-keterbatasan kemampuan dan pengetahuannya kadang-
kadang dia menghadapi kesukaran, hambatan bahkan kegagalan. Hambatan dan
kegagalan ini dapat menyebabkan anak merasa rendah diri.

5. Masa Remaja (adolescence) ditandai adanya kecenderungan identity – Identity


Confusion. Sebagai persiapan ke arah kedewasaan didukung pula oleh
kemampuan dan kecakapan–kecakapan yang dimilikinya dia berusaha untuk
membentuk dan memperlihatkan identitas diri, ciri-ciri yang khas dari dirinya.
Dorongan membentuk dan memperlihatkan identitas diri ini, pada para remaja
sering sekali sangat ekstrim dan berlebihan, sehingga tidak jarang dipandang oleh
lingkungannya sebagai penyimpangan atau kenakalan. Dorongan pembentukan
identitas diri yang kuat di satu pihak, sering diimbangi oleh rasa setia kawan dan
toleransi yang besar terhadap kelompok sebayanya. Di antara kelompok sebaya
mereka mengadakan pembagian peran, dan seringkali mereka sangat patuh
terhadap peran yang diberikan kepada masing-masing anggota.

6. Masa Dewasa Awal (Young adulthood) ditandai adanya kecenderungan intimacy


– isolation. Kalau pada masa sebelumnya, individu memiliki ikatan yang kuat
dengan kelompok sebaya, namun pada masa ini ikatan kelompok sudah mulai
longgar. Mereka sudah mulai selektif, dia membina hubungan yang intim hanya
dengan orang-orang tertentu yang sepaham. Jadi pada tahap ini timbul dorongan
untuk membentuk hubungan yang intim dengan orang-orang tertentu, dan kurang
akrab atau renggang dengan yang lainnya.

7. Masa Dewasa (Adulthood) ditandai adanya kecenderungan generativity –


stagnation. Sesuai dengan namanya masa dewasa, pada tahap ini individu telah
mencapai puncak dari perkembangan segala kemampuannya. Pengetahuannya
cukup luas, kecakapannya cukup banyak, sehingga perkembangan individu
sangat pesat. Meskipun pengetahuan dan kecakapan individu sangat luas, tetapi
dia tidak mungkin dapat menguasai segala macam ilmu dan kecakapan, sehingga
tetap pengetahuan dan kecakapannya terbatas. Untuk mengerjakan atau mencapai
hal – hal tertentu ia mengalami hambatan.

8. Masa hari tua (Senescence) ditandai adanya kecenderungan ego integrity –


despair. Pada masa ini individu telah memiliki kesatuan atau intregitas pribadi,
semua yang telah dikaji dan didalaminya telah menjadi milik pribadinya. Pribadi
yang telah mapan di satu pihak digoyahkan oleh usianya yang mendekati akhir.
Mungkin ia masih memiliki beberapa keinginan atau tujuan yang akan
dicapainya tetapi karena faktor usia, hal itu sedikit sekali kemungkinan untuk
dapat dicapai. Dalam situasi ini individu merasa putus asa. Dorongan untuk terus
berprestasi masih ada, tetapi pengikisan kemampuan karena usia seringkali
mematahkan dorongan tersebut, sehingga keputusasaan acapkali menghantuinya.
Kedelapan tahapan perkembangan kepribadian dapat digambarkan dalam tabel
berikut ini :
Developmental Stage Basic Components
Infancy Trust vs Mistrust
Early childhood Autonomy vs Shame, Doubt
Preschool age Initiative vs Guilt
School age Industry vs Inferiority
Adolescence Identity vs Identity Confusion
Young adulthood Intimacy vs Isolation
Adulthood Generativity vs Stagnation
Senescence Ego Integrity vs Despair

k. Perkembangan Karier
Perkembangan karier sangat erat kaitannya dengan pekerjaan seseorang.
Keberhasilan seseorang dalam suatu pekerjaan bukanlah sesuatu yang diperoleh
secara tiba-tiba atau secara kebetulan, namun merupakan suatu proses panjang dari
tahapan perkembangan karier yang dilalui sepanjang hayatnya, mulai dari usaha
memperoleh kesadaran karier, eksplorasi karier, persiapan karier hingga sampai pada
penempatan kariernya.

Tylor & Walsh (1979) menyebutkan bahwa kematangan karier individu diperoleh
manakala ada kesesuaian antara perilaku karier dengan perilaku yang diharapkan
pada umur tertentu. Adapun yang dimaksud dengan perilaku karier yaitu segenap
perilaku yang ditampilkan individu dalam usaha menyiapkan masa depan untuk
memperoleh kematangan kariernya.
Selanjutnya, berkenaan dengan tahapan perkembangan karier, Zunker (Popon Sy.
Arifin,1983) mengemukakan lima tahapan perkembangan karier individu,
sebagaimana tampak dalam tabel berikut ini :
Tahap Ciri-Ciri Usia
Development of capacity, attitudes,
Growth interest, and needs associated with self (birth -14 or 15)
concept
Tentative phase in which choices are
Exploratory (15 – 24)
narrowed but not finalized
Trial and stabilization trhough work
Establishment (25 – 44)
experiences
A continual adjustment process to
Maintenance (45 – 64)
improve working position and situation
Preretirement consideration, work out
Decline (65 - …)
put, and eventual retirement.

5. Tugas – Tugas Perkembangan Individu


Salah satu prinsip perkembangan bahwa setiap individu akan mengalami fase
perkembangan tertentu, yang merentang sepanjang hidupnya fase-fase perkembangan
tersebut dapat dilihat dalam gambar berikut ini :

Masa Dewasa :
Masa Tua
Tengah Baya
Masa Dewasa Awal
Masa Remaja (Adolesence) :
(1) Late Adolesence (18 – 21 th)
(2) Early Adolesence (16 – 17 th)
(3) Pre Adolesence (11 – 13 th)
Masa Kanak-Kanak (2 th – Remaja)
Masa Bayi (2 Minggu s.d. 2 th)
Masa Orok (10 –14 hari)
Masa Konsepsi (Pranatal) (0-9 bln)

Pada setiap fase perkembangan menuntut untuk tertuntaskannya tugas-tugas


perkembangan. Tugas–tugas perkembangan ini berkenaan dengan sikap, perilaku dan
keterampilan yang seyogyanya dikuasai sesuai dengan usia atau fase perkembangannya.
Havighurst (1961) memberikan pengertian tugas-tugas perkembangan bahwa : “ A
developmental task is a task which arises at or about a certain period in the life of the
individual, succesful achievement of which leads to his happiness and to success with
later task, while failure leads to unhappiness in the individual, disaproval by society,
difficulty with later task.
Tugas perkembangan bersumber pada faktor – faktor : (1)
kematangan fisik; (2) tuntutan masyarakat secara kultural; (3) tuntutan dan dorongan
dan cita-cita individu iru sendiri; dan (4) norma-norma agama.
Pendidikan sebagai upaya sadar untuk mengantarkan individu mencapai kedewasaan.
Yang dimaksud dengan kedewasaan adalah dapat terpenuhinya tugas-tugas
perkembangan, sehingga dapat bertindak wajar sesuai dengan tingkat usianya. Oleh
karena itu segenap proses pendidikan seyogyanya diarahkan untuk tercapainya tugas-
tugas perkembangannya para peserta didik.
Di bawah ini dikemukakan tugas-tugas perkembangan dari setiap fase menurut
Havighurst.
a. Tugas Perkembangan Masa Bayi dan Kanak-Kanak Awal (0,0–6.0)
1. Belajar berjalan pada usia 9.0 – 15.0 bulan.
2. Belajar memakan makan padat.
3. Belajar berbicara.
4. Belajar buang air kecil dan buang air besar.
5. Belajar mengenal perbedaan jenis kelamin.
6. Mencapai kestabilan jasmaniah fisiologis.
7. Membentuk konsep-konsep sederhana kenyataan sosial dan alam.
8. Belajar mengadakan hubungan emosional dengan orang tua, saudara, dan orang
lain.
9. Belajar mengadakan hubungan baik dan buruk dan pengembangan kata hati.
b. Tugas Perkembangan Masa Kanak-Kanak Akhir dan Anak Sekolah (6,0-12.0)
1. Belajar memperoleh keterampilan fisik untuk melakukan permainan.
2. Belajar membentuk sikap yang sehat terhadap dirinya sendiri sebagai makhluk
biologis.
3. Belajar bergaul dengan teman sebaya.
4. Belajar memainkan peranan sesuai dengan jenis kelaminnya.
5. Belajar keterampilan dasar dalam membaca, menulis dan berhitung.
6. Belajar mengembangkan konsep-konsep sehari-hari.
7. Mengembangkan kata hati.
8. Belajar memperoleh kebebasan yang bersifat pribadi.
9. Mengembangkan sikap yang positif terhadap kelompok sosial.
c. Tugas Perkembangan Masa Remaja (12.0-21.0)
1. Mencapai hubungan yang lebih matang dengan teman sebaya.
2. Mencapai peran sosial sebagai pria atau wanita.
3. Menerima keadaan fisik dan menggunakannya secara efektif.
4. Mencapai kemandirian emosional dari orang tua dan orang dewasa lainnya.
5. Mencapai jaminan kemandirian ekonomi.
6. Memilih dan mempersiapkan karier.
7. Mempersiapkan pernikahan dan hidup berkeluarga.
8. Mengembangkan keterampilan intelektual dan konsep-konsep yang diperlukan
bagi warga negara.
9. Mencapai perilaku yang bertanggung jawab secara sosial.
10.Memperoleh seperangkat nilai sistem etika sebagai petunjuk/pembimbing dalam
berperilaku.
d. Tugas Perkembangan Masa Dewasa Awal
1. Memilih pasangan.
2. Belajar hidup dengan pasangan.
3. Memulai hidup dengan pasangan.
4. Memelihara anak.
5. Mengelola rumah tangga.
6. Memulai bekerja.
7. Mengambil tanggung jawab sebagai warga negara.
8. Menemukan suatu kelompok yang serasi.
Sementara itu, Depdiknas (2003) memberikan rincian tentang tugas perkembangan masa
remaja untuk usia tingkat SLTP dan SMTA, yang dijadikan sebagai rujukan Standar
Kompetensi Layanan Bimbingan dan Konseling di sekolah, yaitu :

a. Tugas Perkembangan Tingkat SLTP


1. Mencapai perkembangan diri sebagai remaja yang beriman dan bertaqwa kepada
Tuhan Yang Maha Esa.
2. Mempersiapkan diri, menerima dan bersikap positif serta dinamis terhadap
perubahan fisik dan psikis yang terjadi pada diri sendiri untuk kehidupan yang
sehat.
3. Mencapai pola hubungan yang baik dengan teman sebaya dalam peranannya
sebagai pria atau wanita.
4. Memantapkan nilai dan cara bertingkah laku yang dapat diterima dalam
kehidupan sosial yang lebih luas.
5. Mengenal kemampuan bakat, dan minat serta arah kecenderungan karier dan
apresiasi seni.
6. Mengembangkan pengetahuan dan keterampilan sesuai dengan kebutuhannya
untuk mengikuti dan melanjutkan pelajaran dan atau mempersiapkan karier serta
berperan dalam kehidupan masyarakat.
7. Mengenal gambaran dan sikap tentang kehidupan mandiri secara emosional,
sosial dan ekonomi.
8. Mengenal sistem etika dan nilai-nilai sebagai pedoman hidup sebagai pribadi,
anggota masyarakat dan minat manusia.
b. Tugas Perkembangan Peserta didik SLTA
1. Mencapai kematangan dalam beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha
Esa
2. Mencapai kematangan dalam hubungan teman sebaya, serta kematangan dalam
perannya sebagai pria dan wanita.
3. Mencapai kematangan pertumbuhan jasmaniah yang sehat
4. Mengembangkan penguasaan ilmu, teknologi, dan kesenian sesuai dengan
program kurikulum, persiapan karir dan melanjutkan pendidikan tinggi serta
berperan dalam kehidupan masyarakat yang lebih luas.
5. Mencapai kematangan dalam pilihan karir
6. Mencapai kematangan gambaran dan sikap tentang kehidupan mandiri secara
emosional, sosial, intelektual dan ekonomi.
7. Mencapai kematangan gambaran dan sikap tentang berkehidupan berkeluarga,
bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.
8. Mengembangkan kemampuan komunikasi sosial dan intelektual serta apresiasi
seni.
9. Mencapai kematangan dalam sistem etika dan nilai.

6. Perkembangan Pada Masa Remaja


a. Pengetian dan Makna Masa Remaja
Fase remaja merupakan masa perkembangan individu yang sangat penting. Harold
Alberty (1957) mengemukakan bahwa masa remaja merupakan suatu periode dalam
perkembangan yang dijalani seseorang yang terbentang sejak berakhirnya masa
kanak-kanak sampai dengan awal masa dewasa. Conger berpendapat bahwa masa
remaja merupakan masa yang amat kritis yang mungkin dapat merupakan the best of
time and the worst of time.
Para ahli umumnya sepakat bahwa rentangan masa remaja berlangsung dari usia 11-
13 tahun sampai dengan 18-20 th (Abin Syamsuddin, 2003). Pada rentangan periode
ini (sekitar 6 – 7 th) terdapat beberapa indikator perbedaan yang signifikan, baik
secara kuantitatif maupun kualitatif. Oleh karena itu, para ahli mengklasikasikan
masa remaja ini ke dalam dua bagian yaitu: (1) remaja awal (11-13 th s.d. 14-
15 th); dan (2) remaja akhir (14-16 th s.d.18-20 th).
Kita menemukan berbagai tafsiran dari para ahli tentang masa remaja :
1. Freud menafsirkan masa remaja sebagai suatu masa mencari hidup seksual yang
mempunyai bentuk yang definitif.
2. Charlotte Buhler menafsirkan masa remaja sebagai masa kebutuhan isi-mengisi.
3. Spranger memberikan tafsiran masa remaja sebagai masa pertumbuhan dengan
perubahan struktur kejiwaan yang fundamental.
4. Hofmann menafsirkan masa remaja sebagai suatu masa pembentukan sikap-
sikap terhadap segala sesuatu yang dialami individu.
5. G. Stanley Hall menafsirkan masa remaja sebagai masa storm and drang (badai
dan topan).
b. Karakteristik Perilaku dan Pribadi Pada Masa Remaja
Dengan merujuk pada berbagai ciri-ciri dari aspek perkembangan individu
sebagaimana telah dikemukakan terdahulu, di bawah ini disajikan berbagai
karakteristik perilaku dan masa remaja, yang terbagi ke dalam bagian dua kelompok
yaitu remaja awal (11-13 s.d. 14-15 tahun) dan remaja akhir (14-16 s.d. 18-20 tahun)
meliputi aspek : fisik, psikomotor, bahasa, kognitif, sosial, moralitas, keagamaan,
konatif, emosi afektif dan kepribadian.

Remaja Awal Remaja Akhir


(11-13 Th s.d.14-15 Th) (14-16 Th.s.d.18-20 Th)
Fisik
1. Laju perkembangan secara umum 1. Laju perkembangan secara umum
berlangsung pesat. kembali menurun, sangat lambat.
2. Proporsi ukuran tinggi dan berat badan 2. Proporsi ukuran tinggi dan berat badan
sering- kali kurang seimbang. lebih seimbang mendekati kekuatan
orang dewasa.
3. Siap berfungsinya organ-organ
3. Munculnya ciri-ciri sekunder (tumbul bulu
reproduktif seperti pada orang dewasa.
pada pubic region, otot mengembang pada
bagian – bagian tertentu), disertai mulai
aktifnya sekresi kelenjar jenis kelamin
(menstruasi pada wanita dan day dreaming
pada laki-laki.
Psikomotor
1. Gerak – gerik tampak canggung dan kurang 1. Gerak gerik mulai mantap.
terkoordinasikan.
2. Aktif dalam berbagai jenis cabang 2. Jenis dan jumlah cabang permainan
permainan. lebih selektif dan terbatas pada
keterampilan yang menunjang kepada
persiapan kerja.
Bahasa
1. Berkembangnya penggunaan bahasa sandi 1. Lebih memantapkan diri pada bahasa
dan mulai tertarik mempelajari bahasa asing tertentu yang dipilihnya.
asing.
2. Menggemari literatur yang bernafaskan dan 2. Menggemari literatur yang bernafaskan
mengandung segi erotik, fantastik dan dan mengandung nilai-nilai filosofis,
estetik. ethis, religius.
Perilaku Kognitif
1. Proses berfikir sudah mampu 1. Sudah mampu meng-operasikan kaidah-
mengoperasikan kaidah-kaidah logika kaidah logika formal disertai kemampuan
formal (asosiasi, diferen-siasi, komparasi, membuat generalisasi yang lebih bersifat
kausalitas) yang bersifat abstrak, meskipun konklusif dan komprehensif.
relatif terbatas.
2. Kecakapan dasar intelektual menjalani laju 2. Tercapainya titik puncak kedewasaan
perkembangan yang terpesat. bahkan mungkin mapan (plateau) yang
suatu saat (usia 50-60) menjadi deklinasi.
3. Kecakapan dasar khusus (bakat) mulai 3. Kecenderungan bakat tertentu mencapai
menujukkan kecenderungan-kecende- titik puncak dan kemantapannya
rungan yang lebih jelas.
Perilaku Sosial
1. Diawali dengan kecenderungan ambivalensi 1. Bergaul dengan jumlah teman yang lebih
keinginan menyendiri dan keinginan bergaul terbatas dan selektif dan lebih lama
dengan banyak teman tetapi bersifat (teman dekat).
temporer.
2. Adanya kebergantungan yang kuat kepada 2. Kebergantungan kepada kelompok
kelompok sebaya disertai semangat sebaya berangsur fleksibel, kecuali
konformitas yang tinggi. dengan teman dekat pilihannya yang
banyak memiliki kesamaan minat.
Moralitas
1. Adanya ambivalensi antara keinginan bebas 1. Sudah dapat memisahkan antara sistem
dari dominasi pengaruh orang tua dengan nilai – nilai atau normatif yang universal
kebutuhan dan bantuan dari orang tua. dari para pendukungnya yang mungkin
dapat ber-buat keliru atau kesalahan.
2. Dengan sikapnya dan cara berfikirnya yang 2. Sudah berangsur dapat menentukan dan
kritis mulai menguji kaidah-kaidah atau menilai tindakannya sendiri atas norma
sistem nilai etis dengan kenyataannya dalam atau sistem nilai yang dipilih dan
perilaku sehari-hari oleh para dianutnya sesuai dengan hati nuraninya.
pendukungnya.
3. Mengidentifikasi dengan tokoh moralitas 3. Mulai dapat memelihara jarak dan batas-
yang dipandang tepat dengan tipe idolanya. batas kebebasan- nya mana yang harus
dirundingkan dengan orang tuanya.
Perilaku Keagamaan
1. Mengenai eksistensi dan sifat kemurahan 1. Eksistensi dan sifat kemurah-an dan
dan keadilan Tuhan mulai dipertanyakan keadilan Tuhan mulai dipahamkan dan
secara kritis dan skeptis. dihayati menurut sistem kepercayaan
atau agama yang dianutnya.
2. Penghayatan kehidupan keagamaan sehari- 2. Penghayatan kehidupan keagamaan
hari dilakukan atas pertimbangan adanya sehari-hari mulai dilakukan atas dasar
semacam tuntutan yang memaksa dari luar kesadaran dan pertimbangan hati
dirinya. nuraninya sendiri secara tulus ikhlas
3. Masih mencari dan mencoba menemukan 3. Mulai menemukan pegangan hidup
pegangan hidup
Konatif, Emosi, Afektif dan Kepribadian
1. Lima kebutuhan dasar (fisiologis, rasa 1. Sudah menunjukkan arah kecenderungan
aman, kasih sayang, harga diri dan tertentu yang akan mewarnai pola dasar
aktualisasi diri) mulai menunjukkan arah kepribadiannya.
kecenderungannya
2. Reaksi-reaksi dan ekspresi emosionalnya 2. Reaksi-reaksi dan ekspresi emosinalnya
masih labil dan belum terkendali seperti tampak mulai terkendali dan dapat
pernya-taan marah, gembira atau menguasai dirinya.
kesedihannya masih dapat berubah-ubah
dan silih berganti dalam yang cepat
3. Kecenderungan-kecenderungan arah sikap 3. Kecenderungan titik berat ke arah sikap
nilai mulai tampak (teoritis, ekonomis, nilai tertentu sudah mulai jelas seperti
estetis, sosial, politis, dan religius), meski yang akan ditunjukkan oleh
masih dalam taraf eksplorasi dan mencoba- kecenderungan minat dan pilihan karier
coba. atau pendidikan lanjutannya; yang juga
akan memberi warna kepada tipe
kepribadiannya.
4. Merupakan masa kritis dalam rangka meng- 4. Kalau kondisi psikososialnya menunjang
hadapi krisis identitasnya yang sangat secara positif maka mulai tampak dan
dipengaruhi oleh kondisi psiko-sosialnya, ditemukan identitas kepriba-diannya
yang akan membentuk kepribadiannnya. yang relatif definitif yang akan mewarnai
hidupnya sampai masa dewasa.

c. Problema pada Masa Remaja


Masa remaja ditandai dengan adanya berbagai perubahan, baik secara fisik maupun
psikis, yang mungkin saja dapat menimbulkan problema tertentu bagi si remaja.
pabila tidak disertai dengan upaya pemahaman diri dan pengarahan diri secara tepat,
bahkan dapat menjurus pada berbagai tindakan kenakalan remaja dan kriminal.
Problema yang mungkin timbul pada masa remaja diantaranya :
1. Problema berkaitan dengan perkembangan fisik dan motorik.
Pada masa remaja ditandai dengan adanya pertumbuhan fisik yang cepat.
Keadaan fisik pada masa remaja dipandang sebagai suatu hal yang penting,
namun ketika keadaan fisik tidak sesuai dengan harapannya (ketidaksesuaian
antara body image dengan self picture) dapat menimbulkan rasa tidak puas dan
kurang percaya diri. Begitu juga, perkembangan fisik yang tidak proporsional.
Kematangan organ reproduksi pada masa remaja membutuhkan upaya
pemuasan dan jika tidak terbimbing oleh norma-norma dapat menjurus pada
penyimpangan perilaku seksual.
2. Problema berkaitan dengan perkembangan kognitif dan bahasa.
Pada masa remaja awal ditandai dengan perkembangan kemampuan intelektual
yang pesat. Namun ketika, si remaja tidak mendapatkan kesempatan
pengembangan kemampuan intelektual, terutama melalui pendidikan di sekolah,
maka boleh jadi potensi intelektualnya tidak akan berkembang optimal. Begitu
juga masa remaja, terutama remaja awal merupakan masa terbaik untuk
mengenal dan mendalami bahasa asing. Namun dikarenakan keterbatasan
kesempatan dan sarana dan pra sarana, menyebabkan si remaja kesulitan untuk
menguasai bahasa asing. Tidak bisa dipungkiri, dalam era globalisasi sekarang
ini, penguasaan bahasa asing merupakan hal yang penting untuk menunjang
kesuksesan hidup dan karier seseorang. Namun dengan adanya hambatan dalam
pengembangan ketidakmampuan berbahasa asing tentunya akan sedikit-banyak
berpengaruh terhadap kesuksesan hidup dan kariernya. Terhambatnya
perkembangan kognitif dan bahasa dapat berakibat pula pada aspek emosional,
sosial, dan aspek-aspek perilaku dan kepribadian lainnya.
3. Problema berkaitan dengan perkembangan perilaku sosial, moralitas dan
keagamaan.
Masa remaja disebut pula sebagai masa social hunger (kehausan sosial), yang
ditandai dengan adanya keinginan untuk bergaul dan diterima di lingkungan
kelompok sebayanya (peer group). Penolakan dari peer group dapat
menimbulkan frustrasi dan menjadikan dia sebagai isolated dan merasa rendah
diri. Namun sebaliknya apabila remaja dapat diterima oleh rekan sebayanya dan
bahkan menjadi idola tentunya ia akan merasa bangga dan memiliki kehormatan
dalam dirinya. Problema perilaku sosial remaja tidak hanya terjadi dengan
kelompok sebayanya, namun juga dapat terjadi dengan orang tua dan dewasa
lainnya, termasuk dengan guru di sekolah. Hal ini disebabkan pada masa remaja,
khususnya remaja awal akan ditandai adanya keinginan yang ambivalen, di satu
sisi adanya keinginan untuk melepaskan ketergantungan dan dapat menentukan
pilihannya sendiri, namun di sisi lain dia masih membutuhkan orang tua,
terutama secara ekonomis. Sejalan dengan pertumbuhan organ reproduksi,
hubungan sosial yang dikembangkan pada masa remaja ditandai pula dengan
adanya keinginan untuk menjalin hubungan khusus dengan lain jenis dan jika
tidak terbimbing dapat menjurus tindakan penyimpangan perilaku sosial dan
perilaku seksual. Pada masa remaja juga ditandai dengan adanya keinginan untuk
mencoba-coba dan menguji kemapanan norma yang ada, jika tidak terbimbing,
mungkin saja akan berkembang menjadi konflik nilai dalam dirinya maupun
dengan lingkungannya.
4. Problema berkaitan dengan perkembangan kepribadian, dan emosional.
Masa remaja disebut juga masa untuk menemukan identitas diri (self identity).
Usaha pencarian identitas pun, banyak dilakukan dengan menunjukkan perilaku
coba-coba, perilaku imitasi atau identifikasi. Ketika remaja gagal menemukan
identitas dirinya, dia akan mengalami krisis identitas atau identity confusion,
sehingga mungkin saja akan terbentuk sistem kepribadian yang bukan
menggambarkan keadaan diri yang sebenarnya. Reaksi-reaksi dan ekspresi
emosional yang masih labil dan belum terkendali pada masa remaja dapat
berdampak pada kehidupan pribadi maupun sosialnya. Dia menjadi sering
merasa tertekan dan bermuram durja atau justru dia menjadi orang yang
berperilaku agresif. Pertengkaran dan perkelahian seringkali terjadi akibat dari
ketidakstabilan emosinya.
Selain yang telah dipaparkan di atas, tentunya masih banyak problema keremajaan
lainnya. Timbulnya problema remaja dipengaruhi oleh berbagai faktor, baik internal
maupun eksternal. Agar remaja dapat terhindar dari berbagai kesulitan dan problema
kiranya diperlukan kearifan dari semua pihak. Upaya untuk memfasilitasi perkembangan
remaja menjadi amat penting. Dalam hal ini, peranan orang tua, sekolah, serta
masyarakat sangat diharapkan.

D. Latihan
Soal :
Pilihan Ganda :
Pilihlah salah satu jawaban yang menurut Anda paling tepat, dengan cara memberikan tanda
silang (X) !
1. Perubahan dalam perkembangan itu bersifat saling kebergantungan atau saling
mempengaruhi antara satu bagian dengan bagian lainnya.
a. Perkembangan bersifat progresif.
b. Perkembangan bersifat sistematis
c. Perkembangan berkesinambungan.
d. a, b dan c benar
2. Di bawah ini merupakan ciri-ciri umum perkembangan individu, kecuali :
a. Terjadinya perubahan dalam proporsi.
b. Diperolehnya tanda-tanda baru
c. Setiap individu menjadi lebih matang.
d. Lenyapnya tanda-tanda yang lama.
3. Ahli yang mengelompokkan tahapan perkembangan berdasarkan pendekatan didaktis.
a. Rosseau
b. Kretschmer
c. Piaget
d. Elizabeth Hurlock
4. Menurut Lovenger, tahapan perkembangan tertinggi untuk siswa tingkat SMTA, yaitu :
a. Konformistik
b. Seksama
c. Individualistik
d. Otonomi
5. Perkembangan fisik yang sangat pesat terjadi pada masa :
a. bayi (0-2 th), kanak-kanak (2-7 th) dan sekolah (7-12 th).
b. bayi (0-2 th), kanak-kanak (2-7 th) dan remaja (12-20 th).
c. kanak-kanak (2-7 th) dan remaja (12-20 th)
d. bayi (0-2 th) dan remaja (12-20 th).
6. Perkembangan psikomotorik utama yang harus dikuasai pada masa bayi dan masa kanak-
kanak :
a. Merangkak dan memegang
b. Memegang dan berjalan
c. Berjalan dan berbicara
d. Memegang dan berbicara
7. Pola urutan perkembangan bahasa adalah :
a. Meraban, bicara monolog, gemar bertanya, bahasa ekspresif, haus nama-nama.
b. Meraban, bicara monolog, gemar bertanya, haus nama-nama,. membuat kalimat
sederhana, bahasa ekspresif.
c. Meraban, bicara monolog, haus nama-nama, gemar bertanya, membuat kalimat
sederhana, dan bahasa ekspresif.
d. Meraban, bicara monolog, gemar bertanya, bahasa ekspresif, haus nama-nama,
membuat kalimat sederhana.
8. Kemampuan kognitif anak sudah sama dengan kemampuan kognitif orang dewasa,
namun masih ada keterbatasan kapasitas dalam mengkoordinasikan pemikirannya.
a. Tahap Sensori-Motor
b. Tahap Pra-Operasional
c. Tahap Konkret-Operasional
d. Tahap Formal-Operasional
9. Perkembangan perilaku sosial yang ditandai dengan usaha untuk membandingkan aturan
– aturan, terjadi pada masa :
a. Kanak-Kanak Awal (0–3 th)
b. Kanak – Kanak Akhir (4–6 th)
c. Anak Sekolah (6–12 th)
d. Remaja Awal (13–16 th)
10. Tahap perkembangan moralitas yang ditandai dengan orientasi mengenai anak yang baik
dan mempertahankan norma-norma sosial dan otoritas.

a. Pre Conventional
b. Conventional
c. Post Conventional
d. Non Conventional
11. Perkembangan penghayatan keagamaan pada masa kanak-kanak ditandai oleh adanya :
a. Sikap negatif yang disebabkan melihat realita orang – orang beragama yang hypocrit
(pura-pura).
b. Hal ke-Tuhan-an dipahamkan secara ideosyncritic.
c. Pandangan ke-Tuhan-an yang kacau, karena beragamnya aliran paham yang saling
bertentangan.
d. Penghayatan rohaniah yang skeptik, sehingga enggan melaksanakan ritual.
12. Perkembangan emosi pada usia 0-3 bulan ditandai oleh adanya :
a. Kesenangan dan kegembiraan mulai didefinisikan dari emosi orang tuanya.
b. Kepekaan umum terhadap rangsangan – rangsangan tertentu (bunyi, cahaya,
temperatur)
c. Ketidaksenangan berdiferensiasi ke dalam kemarahan, kebencian dan ketakutan.
d. Kegembiraan berdiferensiasi ke dalam kegairahan dan kasih sayang.
13. Perkembangan kepribadian yang ditandai oleh adanya dorongan untuk membentuk dan
memperlihatkan identitas diri, terjadi pada masa :
a. Infancy
b. Early Childhood
c. Pre-Schoolage
d. Adolescence.
14. Perkembangan karier yang ditandai oleh adanya proses penyesuaian yang
berkesinambungan untuk meningkatkan posisi dalam pekerjaan, terjadi pada tahap:
a. Growth
b. Exploratory
c. Establishment
d. Maintenance
15. Perkembangan fisik pada masa remaja awal ditandai oleh adanya:
a. Laju perkembangan secara umum berlangsung pesat.
b. Proporsi ukuran tinggi dan berat badan seringkali kurang seimbang.
c. Munculnya ciri-ciri sekunder (tumbul bulu pada pubic region, otot mengembang
pada bagian – bagian tertentu), disertai mulai aktifnya sekresi kelenjar jenis kelamin
(menstruasi pada wanita dan day dreaming pada laki-laki.
d. a, b, dan c benar
16. Perkembangan perilaku motorik pada masa remaja awal ditandai oleh adanya :
a. Aktif dalam berbagai jenis cabang permainan.
b. Jenis dan jumlah cabang permainan lebih selektif.
c. Gerak gerik mulai mantap.
d. a, b, dan c benar.
17. Perkembangan perilaku sosial pada masa remaja awal ditandai oleh adanya :
a. Bergaul dengan jumlah teman yang lebih terbatas dan selektif dan lebih lama (teman
dekat).
b. Kebergantungan yang kuat kepada kelompok sebaya disertai semangat konformitas
yang tinggi.
c. Menarik diri dari lingkungan sosialnya.
d. Berupaya mempelajari norma-norma yang berlaku di lingkungan sosialnya.
18. Perkembangan perilaku moralitas pada masa remaja akhir ditandai oleh adanya :
a. Mengidentifikasi dengan tokoh moralitas yang dipandang tepat dengan tipe idolanya.
b. Sudah dapat memisahkan antara sistem nilai – nilai atau normatif yang universal dari
para pendukungnya yang mungkin dapat ber-buat keliru atau kesalahan..
c. Adanya ambivalensi antara keinginan bebas dari dominasi pengaruh orang tua
dengan kebutuhan dan bantuan dari orang tua.
d. Dengan sikap dan cara berfikirnya yang kritis mulai menguji kaidah-kaidah atau
sistem nilai etis dengan kenyataannya dalam perilaku sehari-hari oleh para
pendukungnya.
19. Ciri-ciri Perkembangan perilaku keagamaan pada masa remaja awal, kecuali :
a. Mengenai eksistensi dan sifat kemurahan dan keadilan Tuhan mulai dipertanyakan
secara kritis dan skeptis.
b. Penghayatan kehidupan keagamaan sehari-hari dilakukan atas pertimbangan adanya
semacam tuntutan yang memaksa dari luar dirinya.
c. Penghayatan secara rohaniah yang belum mendalam.
d. Masih mencari dan mencoba menemukan pegangan hidup.
20. Di bawah ini merupakan ciri perkembangan konatif pada masa remaja awal.
a. Lima kebutuhan dasar (fisiologis, rasa aman, kasih sayang, harga diri dan aktualisasi
diri) mulai menunjukkan arah kecenderungannya.
b. Reaksi-reaksi dan ekspresi emosionalnya masih labil dan belum terkendali seperti
pernya-taan marah, gembira atau kesedihannya masih dapat berubah-ubah dan silih
berganti dalam yang cepat.
c. Kecenderungan-kecenderungan arah sikap dan nilai mulai tampak (teoritis,
ekonomis, estetis, sosial, politis, dan religius), meski masih dalam taraf eksplorasi
dan mencoba-coba.
d. Masa kritis dalam rangka menghadapi krisis identitasnya yang sangat dipengaruhi
oleh kondisi psiko-sosialnya, yang akan membentuk kepribadiannnya.
Uraian
1. Apa yang dimaksud dengan tugas perkembangan ?
2. Jelaskan tugas-tugas perkembangan individu pada masa remaja ! Bagaimana
implikasinya terhadap pendidikan ?
3. Jelaskan problema-problema yang terjadi pada masa remaja ! dan bagaimana pula peran
orang tua, guru serta masyarakat dalam upaya mencegah timbulnya berbagai prolema
pada remaja ?

BAB IV PROSES BELAJAR MENGAJAR


A. Tujuan :
Setelah mempelajari Bab ini, diharapkan Anda dapat :
1. Mendefinisikan belajar dan pengelolaan kelas.
2. Mengidentifikasi ciri-ciri belajar, bentuk-bentuk perubahan perilaku sebagai hasil belajar,
pendekatan - pendekatan pembelajaran, masalah-masalah dalam pengelolaan kelas.
3. Menjelaskan secara skematik tentang perubahan perilaku dan pribadi yang terjadi dari
proses belajar, peran dan kompetensi guru.
4. Menerapkan berbagai pendekatan dalam mengatasi masalah pengelolaan kelas.

B. Pokok Bahasan
1. Hakekat Belajar.
2. Teori-Teori Pokok Belajar.
3. Pembelajaran
4. Peran dan Kompetensi Guru
5. Pengelolaan Kelas.

C. Intisari Bacaan

1. Hakekat Belajar
Belajar merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi dan berperan penting dalam
pembentukan pribadi dan perilaku individu. Nana Syaodih Sukmadinata (2005)
menyebutkan bahwa sebagian terbesar perkembangan individu berlangsung melalui
kegiatan belajar. Lantas, apa sesungguhnya belajar itu ?
Di bawah ini disampaikan tentang pengertian belajar dari para ahli :
 Moh. Surya (1997) : “belajar dapat diartikan sebagai suatu proses yang dilakukan
oleh individu untuk memperoleh perubahan perilaku baru secara keseluruhan,
sebagai hasil dari pengalaman individu itu sendiri dalam berinteraksi dengan
lingkungannya”.
 Witherington (1952) : “belajar merupakan perubahan dalam kepribadian yang
dimanifestasikan sebagai pola-pola respons yang baru berbentuk keterampilan, sikap,
kebiasaan, pengetahuan dan kecakapan”.
 Crow & Crow dan (1958) : “ belajar adalah diperolehnya kebiasaan-kebiasaan,
pengetahuan dan sikap baru”.
 Hilgard (1962) : “belajar adalah proses dimana suatu perilaku muncul perilaku
muncul atau berubah karena adanya respons terhadap sesuatu situasi”
 Di Vesta dan Thompson (1970) : “ belajar adalah perubahan perilaku yang relatif
menetap sebagai hasil dari pengalaman”.
 Gage & Berliner : “belajar adalah suatu proses perubahan perilaku yang yang
muncul karena pengalaman”
Dari beberapa pengertian belajar tersebut diatas, kata kunci dari belajar adalah
perubahan perilaku. Dalam hal ini, Moh Surya (1997) mengemukakan ciri-ciri dari
perubahan perilaku, yaitu :
a. Perubahan yang disadari dan disengaja (intensional).
Perubahan perilaku yang terjadi merupakan usaha sadar dan disengaja dari individu
yang bersangkutan.
Begitu juga dengan hasil-hasilnya, individu yang bersangkutan menyadari bahwa
dalam dirinya telah terjadi perubahan, misalnya pengetahuannya semakin bertambah
atau keterampilannya semakin meningkat, dibandingkan sebelum dia mengikuti suatu
proses belajar. Misalnya, seorang mahasiswa sedang belajar tentang psikologi
pendidikan. Dia menyadari bahwa dia sedang berusaha mempelajari tentang
Psikologi Pendidikan. Begitu juga, setelah belajar Psikologi Pendidikan dia
menyadari bahwa dalam dirinya telah terjadi perubahan perilaku, dengan
memperoleh sejumlah pengetahuan, sikap dan keterampilan yang berhubungan
dengan Psikologi Pendidikan.
b. Perubahan yang berkesinambungan (kontinyu).
Bertambahnya pengetahuan atau keterampilan yang dimiliki pada dasarnya
merupakan kelanjutan dari pengetahuan dan keterampilan yang telah diperoleh
sebelumnya. Begitu juga, pengetahuan, sikap dan keterampilan yang telah diperoleh
itu, akan menjadi dasar bagi pengembangan pengetahuan, sikap dan keterampilan
berikutnya. Misalnya, seorang mahasiswa telah belajar Psikologi Pendidikan tentang
“Hakekat Belajar”. Ketika dia mengikuti perkuliahan “Strategi Belajar Mengajar”,
maka pengetahuan, sikap dan keterampilannya tentang “Hakekat Belajar” akan
dilanjutkan dan dapat dimanfaatkan dalam mengikuti perkuliahan “Strategi Belajar
Mengajar”.
c. Perubahan yang fungsional.
Setiap perubahan perilaku yang terjadi dapat dimanfaatkan untuk kepentingan hidup
individu yang bersangkutan, baik untuk kepentingan masa sekarang maupun masa
mendatang. Contoh : seorang mahasiswa belajar tentang psikologi pendidikan, maka
pengetahuan dan keterampilannya dalam psikologi pendidikan dapat dimanfaatkan
untuk mempelajari dan mengembangkan perilaku dirinya sendiri maupun
mempelajari dan mengembangkan perilaku para peserta didiknya kelak ketika dia
menjadi guru.

d. Perubahan yang bersifat positif.


Perubahan perilaku yang terjadi bersifat normatif dan menujukkan ke arah kemajuan.
Misalnya, seorang mahasiswa sebelum belajar tentang Psikologi Pendidikan
menganggap bahwa dalam dalam Prose Belajar Mengajar tidak perlu
mempertimbangkan perbedaan-perbedaan individual atau perkembangan perilaku
dan pribadi peserta didiknya, namun setelah mengikuti pembelajaran Psikologi
Pendidikan, dia memahami dan berkeinginan untuk menerapkan prinsip – prinsip
perbedaan individual maupun prinsip-prinsip perkembangan individu jika dia kelak
menjadi guru.
e. Perubahan yang bersifat aktif.
Untuk memperoleh perilaku baru, individu yang bersangkutan aktif berupaya
melakukan perubahan. Misalnya, mahasiswa ingin memperoleh pengetahuan baru
tentang psikologi pendidikan, maka mahasiswa tersebut aktif melakukan kegiatan
membaca dan mengkaji buku-buku psikologi pendidikan, berdiskusi dengan teman
tentang psikologi pendidikan dan sebagainya.
f. Perubahan yang bersifat pemanen.
Perubahan perilaku yang diperoleh dari proses belajar cenderung menetap dan
menjadi bagian yang melekat dalam dirinya. Misalnya, mahasiswa belajar
mengoperasikan komputer, maka penguasaan keterampilan mengoperasikan
komputer tersebut akan menetap dan melekat dalam diri mahasiswa tersebut.
g. Perubahan yang bertujuan dan terarah.
Individu melakukan kegiatan belajar pasti ada tujuan yang ingin dicapai, baik tujuan
jangka pendek, jangka menengah maupun jangka panjang. Misalnya, seorang
mahasiswa belajar psikologi pendidikan, tujuan yang ingin dicapai dalam panjang
pendek mungkin dia ingin memperoleh pengetahuan, sikap dan keterampilan tentang
psikologi pendidikan yang diwujudkan dalam bentuk kelulusan dengan memperoleh
nilai A. Sedangkan tujuan jangka panjangnya dia ingin menjadi guru yang efektif
dengan memiliki kompetensi yang memadai tentang Psikologi Pendidikan. Berbagai
aktivitas dilakukan dan diarahkan untuk mencapai tujuan-tujuan tersebut.
h. Perubahan perilaku secara keseluruhan.
Perubahan perilaku belajar bukan hanya sekedar memperoleh pengetahuan semata,
tetapi termasuk memperoleh pula perubahan dalam sikap dan keterampilannya.
Misalnya, mahasiswa belajar tentang “Teori-Teori Belajar”, disamping memperoleh
informasi atau pengetahuan tentang “Teori-Teori Belajar”, dia juga memperoleh
sikap tentang pentingnya seorang guru menguasai “Teori-Teori Belajar”. Begitu juga,
dia memperoleh keterampilan dalam menerapkan “Teori-Teori Belajar”.
Belajar merupakan suatu proses, terjadinya perubahan perilaku diperoleh tidak secara
tiba-tiba, tetapi melalui berbagai tahapan dan kegiatan yang harus ditempuh individu. Di
Vesta dan Tompson dalam Abin Syamsuddin (2003:157) menggambarkan perubahan
perilaku atau pribadi yang terjadi dari suatu proses belajar seperti tampak dalam bagan
berikut:

Perilaku/Pribadi Perilaku/Pribadi
sebelum belajar Pengalaman, Praktik, setelah belajar
(Pre Learning) Latihan (Post Learning)
X=0 (Learning
Experience) X = (X+1) = 1
Y=1 Y = (Y+1) = 2
Z= 1 Z = (Z-1) = 0

Contoh 1 :
Mahasiswa X belajar akan mempelajari tentang “Teori-Teori Belajar” dalam perkuliahan
Psikologi Pendidikan pada semester 1. Pada awalnya dia tidak memiliki pengetahuan,
sikap dan keterampilan tentang “Teori-Teori Belajar” (Pre learning), namun setelah dia
membaca dan mengkaji buku dan berlatih mempraktekan “Teori-Teori Belajar” dalam
kegiatan simulasi (Learning Experience), maka dalam dirinya telah bertambah
kemampuannya, dengan bertambah pengetahuan, sikap keterampilannya tentang “Teori-
Teori Belajar” (Post Learning).
Contoh 2 :
Mahasiswa Y akan mempelajari tentang “Metode-Metode Pembelajaran”, dalam
perkuliahan Strategi Belajar Mengajar pada semester 2. Pada semester 1 dia telah
menguasai tentang “Teori-Teori Belajar” yang akan mendasari penguasaan “Metode-
Metode Pembelajaran” (Pre Learning). Setelah dia membaca dan mengkaji buku dan
berlatih mempraktekan “Metode-Metode Pembelajaran” dalam kegiatan simulasi
(Learning Experience), maka kemampuannya akan meningkat, dengan bertambah
pengetahuan, sikap keterampilannya tentang “Metode-Metode Pembelajaran” (Post
Learning).
Contoh 3 :
Mahasiswa Z memiliki kebiasaan merokok yang ingin dihilangkannya, lalu dia datang
meminta bantuan dari konselor yang ada di kampus (PreLearning). Kemudian oleh
konselor dia dilatih untuk menghilangkan kebiasaan merokoknya,-- menggunakan teknik-
teknik konseling tertentu-. Dengan tekun dan penuh kesungguhan dia mengikuti apa-apa
yang harus dilakukan untuk menghilangkan kebiasaan merokoknya (Learning
Experience). Akhirnya, dia dapat berhasil menghilangkan kebiasaan merokoknya (Post
Learning).
Belajar terjadi karena adanya sesuatu yang mendorong (motivasi) dan ada suatu tujuan
yang ingin dicapai. Seberapa kuat motivasi belajar yang dimiliki individu, --khususnya
motif berprestasi-- dan seberapa kuat komitmen individu terhadap tujuan belajarnya akan
menentukan kualitas perubahan perilaku belajarnya. Misalnya, seorang mahasiswa dalam
mengikuti perkuliahan Psikologi Pendidikan, dia memiliki motivasi yang sangat kuat
untuk menjadi yang terbaik (the best) di kelasnya. Begitu juga, dia memiliki komitmen
yang kuat serta memiliki tujuan-tujuan yang ingin dicapainya secara jelas, maka sangat
mungkin mahasiswa tersebut akan memperoleh prestasi belajar yang tinggi dalam mata
kuliah Psikologi Pendidikan
Belajar juga merupakan bentuk pengalaman kehidupan melalui situasi nyata. Dalam
belajar, individu memperoleh pengalaman langsung melalui pengalaman indrawi yang
memungkinkan mereka memperoleh pengetahuan dari melihat, mendengar,
meraba/menjamah, mencicipi, dan mencium. Selain itu, dalam belajar individu juga
memperoleh berbagai pengalaman sosial melalui interaksi dengan lingkungan sosialnya.
Misalnya, mahasiswa dalam mengikuti perkuliahan Psikologi Pendidikan ingin
memperoleh pengetahuan tentang “Keterampilan Pengelolaan Kelas”, lalu dia bersama-
sama kawan-kawannya melakukan observasi langsung ke kelas. Dia dapat mengamati
langsung bagaimana guru mempraktekkan berbagai pendekatan dalam mengatasi
masalah-masalah yang muncul dalam pengelolaan kelas. Selain itu, dia juga memperoleh
pengalaman bagaimana bekerjasama dengan temannya dan berkomunikasi dengan orang
lain.
Menurut Gagne (Abin Syamsuddin Makmun, 2003), perubahan perilaku yang merupakan
hasil belajar dapat berbentuk :

a. Informasi verbal; yaitu penguasaan informasi dalam bentuk verbal, baik secara
tertulis maupun tulisan, misalnya pemberian nama-nama terhadap suatu benda,
definisi, dan sebagainya.
b. Kecakapan intelektual; yaitu keterampilan individu dalam melakukan interaksi
dengan lingkungannya dengan menggunakan simbol-simbol, misalnya: penggunaan
simbol matematika. Termasuk dalam keterampilan intelektual adalah kecakapan
dalam membedakan (discrimination), memahami konsep konkrit, konsep abstrak,
aturan dan hukum. Ketrampilan ini sangat dibutuhkan dalam menghadapi pemecahan
masalah.
c. Strategi kognitif; kecakapan individu untuk melakukan pengendalian dan
pengelolaan keseluruhan aktivitasnya. Dalam konteks proses pembelajaran, strategi
kognitif yaitu kemampuan mengendalikan ingatan dan cara – cara berfikir agar
terjadi aktivitas yang efektif. Kecakapan intelektual menitikberatkan pada hasil
pembelajaran, sedangkan strategi kognitif lebih menekankan pada pada proses
pemikiran.
d. Sikap; yaitu hasil pembelajaran yang berupa kecakapan individu untuk memilih
macam tindakan yang akan dilakukan. Dengan kata lain. Sikap adalah keadaan dalam
diri individu yang akan memberikan kecenderungan vertindak dalam menghadapi
suatu obyek atau peristiwa, didalamnya terdapat unsur pemikiran, perasaan yang
menyertai pemikiran dan kesiapan untuk bertindak.
e. Kecakapan motorik; ialah hasil belajar yang berupa kecakapan pergerakan yang
dikontrol oleh otot dan fisik.
Sementara itu, Moh. Surya (1997) mengemukakan bahwa hasil belajar akan tampak
dalam :
a. Kebiasaan; seperti : peserta didik belajar bahasa berkali-kali menghindari
kecenderungan penggunaan kata atau struktur yang keliru, sehingga akhirnya ia
terbiasa dengan penggunaan bahasa secara baik dan benar;
b. Keterampilan; seperti : menulis dan berolah raga yang meskipun sifatnya motorik,
keterampilan-keterampilan itu memerlukan koordinasi gerak yang teliti dan
kesadaran yang tinggi;
c. Pengamatan; yakni proses menerima, menafsirkan, dan memberi arti rangsangan
yang masuk melalui indera-indera secara obyektif sehingga peserta didik mampu
mencapai pengertian yang benar;
d. Berfikir asosiatif; yakni berfikir dengan cara mengasosiasikan sesuatu dengan lainnya
dengan menggunakan daya ingat;
e. Berfikir rasional dan kritis yakni menggunakan prinsip-prinsip dan dasar-dasar
pengertian dalam menjawab pertanyaan kritis seperti “bagaimana” (how) dan
“mengapa” (why);
f. Sikap yakni kecenderungan yang relatif menetap untuk bereaksi dengan cara baik
atau buruk terhadap orang atau barang tertentu sesuai dengan pengetahuan dan
keyakinan;
g. Inhibisi (menghindari hal yang mubazir);
h. Apresiasi (menghargai karya-karya bermutu);
i. Perilaku afektif yakni perilaku yang bersangkutan dengan perasaan takut, marah,
sedih, gembira, kecewa, senang, benci, was-was dan sebagainya.
Sedangkan menurut Bloom, perubahan perilaku yang terjadi sebagai hasil belajar
meliputi perubahan dalam kawasan (domain) kognitif, afektif dan psikomotor, beserta
tingkatan aspek-aspeknya. (lihat tentang taksonomi perilaku individu pada Bab I)

2. Teori-Teori Pokok Belajar


Jika menelaah literatur psikologi, kita akan menemukan banyak teori belajar yang
bersumber dari aliran-aliran psikologi.Namun dalam kesempatan ini hanya akan
dikemukakan lima jenis teori belajar saja, yaitu: (a) teori behaviorisme; (b) teori belajar
kognitif menurut Piaget; (4) teori pemrosesan informasi dari Gagne, dan (5) teori belajar
gestalt.
a. Teori Behaviorisme
Sebagaimana telah dikemukakan pada Bab II bahwa behaviorisme merupakan salah
satu pendekatan untuk memahami perilaku individu. Behaviorisme memandang
individu hanya dari sisi fenomena jasmaniah, dan mengabaikan aspek – aspek
mental. Dengan kata lain, behaviorisme tidak mengakui adanya kecerdasan, bakat,
minat dan perasaan individu dalam suatu belajar. Peristiwa belajar semata-mata
melatih refleks-refleks sedemikian rupa sehingga menjadi kebiasaan yang dikuasai
individu.
Beberapa hukum belajar yang dihasilkan dari pendekatan behaviorisme ini,
diantaranya :
1. Connectionism ( S-R Bond) menurut Thorndike.
Dari eksperimen yang dilakukan Thorndike terhadap kucing menghasilkan
hukum-hukum belajar, diantaranya:
a. Law of Effect; artinya bahwa jika sebuah respons menghasilkan efek yang
memuaskan, maka hubungan Stimulus - Respons akan semakin kuat.
Sebaliknya, semakin tidak memuaskan efek yang dicapai respons, maka
semakin lemah pula hubungan yang terjadi antara Stimulus- Respons.
b. Law of Readiness; artinya bahwa kesiapan mengacu pada asumsi bahwa
kepuasan organisme itu berasal dari pemdayagunaan satuan pengantar
(conduction unit), dimana unit-unit ini menimbulkan kecenderungan yang
mendorong organisme untuk berbuat atau tidak berbuat sesuatu.
c. Law of Exercise; artinya bahwa hubungan antara Stimulus dengan Respons
akan semakin bertambah erat, jika sering dilatih dan akan semakin
berkurang apabila jarang atau tidak dilatih.
2. Classical Conditioning menurut Ivan Pavlov
Dari eksperimen yang dilakukan Pavlov terhadap seekor anjing menghasilkan
hukum-hukum belajar, diantaranya :
a. Law of Respondent Conditioning yakni hukum pembiasaan yang dituntut.
Jika dua macam stimulus dihadirkan secara simultan (yang salah satunya
berfungsi sebagai reinforcer), maka refleks dan stimulus lainnya akan
meningkat.
b. Law of Respondent Extinction yakni hukum pemusnahan yang dituntut. Jika
refleks yang sudah diperkuat melalui Respondent conditioning itu
didatangkan kembali tanpa menghadirkan reinforcer, maka kekuatannya akan
menurun.
3. Operant Conditioning menurut B.F. Skinner
Dari eksperimen yang dilakukan B.F. Skinner terhadap tikus dan selanjutnya
terhadap burung merpati menghasilkan hukum-hukum belajar, diantaranya :
a. Law of operant conditining yaitu jika timbulnya perilaku diiringi dengan
stimulus penguat, maka kekuatan perilaku tersebut akan meningkat.
b. Law of operant extinction yaitu jika timbulnya perilaku operant telah
diperkuat melalui proses conditioning itu tidak diiringi stimulus penguat,
maka kekuatan perilaku tersebut akan menurun bahkan musnah.
Reber (Muhibin Syah, 2003) menyebutkan bahwa yang dimaksud dengan
operant adalah sejumlah perilaku yang membawa efek yang sama terhadap
lingkungan. Respons dalam operant conditioning terjadi tanpa didahului oleh
stimulus, melainkan oleh efek yang ditimbulkan oleh reinforcer. Reinforcer itu
sendiri pada dasarnya adalah stimulus yang meningkatkan kemungkinan
timbulnya sejumlah respons tertentu, namun tidak sengaja diadakan sebagai
pasangan stimulus lainnya seperti dalam classical conditioning.
4. Social Learning menurut Albert Bandura
Teori belajar sosial atau disebut juga teori observational learning adalah sebuah
teori belajar yang relatif masih baru dibandingkan dengan teori-teori belajar
lainnya. Berbeda dengan penganut Behaviorisme lainnya, Bandura memandang
Perilaku individu tidak semata-mata refleks otomatis atas stimulus (S-R Bond),
melainkan juga akibat reaksi yang timbul sebagai hasil interaksi antara
lingkungan dengan skema kognitif individu itu sendiri. Prinsip dasar belajar
menurut teori ini, bahwa yang dipelajari individu terutama dalam belajar sosial
dan moral terjadi melalui peniruan (imitation) dan penyajian contoh perilaku
(modeling). Teori ini juga masih memandang pentingnya conditioning. Melalui
pemberian reward dan punishment, seorang individu akan berfikir dan
memutuskan perilaku sosial mana yang perlu dilakukan.
Sebetulnya masih banyak tokoh-tokoh lain yang mengembangkan teori belajar
behavioristik ini, seperti : Watson yang menghasilkan prinsip kekerapan dan prinsip
kebaruan, Guthrie dengan teorinya yang disebut Contiguity Theory yang
menghasilkan Metode Ambang (the treshold method), metode meletihkan (The
Fatigue Method) dan Metode rangsangan tak serasi (The Incompatible Response
Method), Miller dan Dollard dengan teori pengurangan dorongan.
b. Teori Belajar Kognitif menurut Piaget
Dalam bab sebelumnya telah dikemukan tentang aspek aspek perkembangan kognitif
menurut Piaget yaitu tahap (1) sensory motor; (2) pre operational; (3) concrete
operational dan (4) formal operational. Menurut Piaget, bahwa belajar akan lebih
berhasil apabila disesuaikan dengan tahap perkembangan kognitif peserta didik.
Peserta didik hendaknya diberi kesempatan untuk melakukan eksperimen dengan
obyek fisik, yang ditunjang oleh interaksi dengan teman sebaya dan dibantu oleh
pertanyaan tilikan dari guru. Guru hendaknya banyak memberikan rangsangan
kepada peserta didik agar mau berinteraksi dengan lingkungan secara aktif, mencari
dan menemukan berbagai hal dari lingkungan.
Implikasi teori perkembangan kognitif Piaget dalam pembelajaran adalah :
1. Bahasa dan cara berfikir anak berbeda dengan orang dewasa. Oleh karena itu
guru mengajar dengan menggunakan bahasa yang sesuai dengan cara berfikir
anak.
2. Anak-anak akan belajar lebih baik apabila dapat menghadapi lingkungan dengan
baik. Guru harus membantu anak agar dapat berinteraksi dengan lingkungan
sebaik-baiknya.
3. Bahan yang harus dipelajari anak hendaknya dirasakan baru tetapi tidak asing.
4. Berikan peluang agar anak belajar sesuai tahap perkembangannya.
5. Di dalam kelas, anak-anak hendaknya diberi peluang untuk saling berbicara dan
diskusi dengan teman-temanya.
c. Teori Pemrosesan Informasi dari Robert Gagne
Asumsi yang mendasari teori ini adalah bahwa pembelajaran merupakan faktor yang
sangat penting dalam perkembangan. Perkembangan merupakan hasil kumulatif dari
pembelajaran. Menurut Gagne bahwa dalam pembelajaran terjadi proses penerimaan
informasi, untuk kemudian diolah sehingga menghasilkan keluaran dalam bentuk
hasil belajar. Dalam pemrosesan informasi terjadi adanya interaksi antara kondisi-
kondisi internal dan kondisi-kondisi eksternal individu. Kondisi internal yaitu
keadaan dalam diri individu yang diperlukan untuk mencapai hasil belajar dan proses
kognitif yang terjadi dalam individu. Sedangkan kondisi eksternal adalah rangsangan
dari lingkungan yang mempengaruhi individu dalam proses pembelajaran.
Menurut Gagne tahapan proses pembelajaran meliputi delapan fase yaitu, (1)
motivasi; (2) pemahaman; (3) pemerolehan; (4) penyimpanan; (5) ingatan kembali;
(6) generalisasi; (7) perlakuan dan (8) umpan balik.
d. Teori Belajar Gestalt
Gestalt berasal dari bahasa Jerman yang mempunyai padanan arti sebagai “bentuk
atau konfigurasi”. Pokok pandangan Gestalt adalah bahwa obyek atau peristiwa
tertentu akan dipandang sebagai sesuatu keseluruhan yang terorganisasikan. Menurut
Koffka dan Kohler, ada tujuh prinsip organisasi yang terpenting yaitu :

1. Hubungan bentuk dan latar (figure and gound relationship); yaitu menganggap
bahwa setiap bidang pengamatan dapat dibagi dua yaitu figure (bentuk) dan latar
belakang. Penampilan suatu obyek seperti ukuran, potongan, warna dan
sebagainya membedakan figure dari latar belakang. Bila figure dan latar bersifat
samar-samar, maka akan terjadi kekaburan penafsiran antara latar dan figure.
2. Kedekatan (proxmity); bahwa unsur-unsur yang saling berdekatan (baik waktu
maupun ruang) dalam bidang pengamatan akan dipandang sebagai satu bentuk
tertentu.
3. Kesamaan (similarity); bahwa sesuatu yang memiliki kesamaan cenderung akan
dipandang sebagai suatu obyek yang saling memiliki.
4. Arah bersama (common direction); bahwa unsur-unsur bidang pengamatan yang
berada dalam arah yang sama cenderung akan dipersepsi sebagi suatu figure atau
bentuk tertentu.
5. Kesederhanaan (simplicity); bahwa orang cenderung menata bidang
pengamatannya bentuk yang sederhana, penampilan reguler dan cenderung
membentuk keseluruhan yang baik berdasarkan susunan simetris dan keteraturan;
dan
6. Ketertutupan (closure) bahwa orang cenderung akan mengisi kekosongan suatu
pola obyek atau pengamatan yang tidak lengkap.
Terdapat empat asumsi yang mendasari pandangan Gestalt, yaitu:
1. Perilaku “Molar“ hendaknya banyak dipelajari dibandingkan dengan perilaku
“Molecular”. Perilaku “Molecular” adalah perilaku dalam bentuk kontraksi otot
atau keluarnya kelenjar, sedangkan perilaku “Molar” adalah perilaku dalam
keterkaitan dengan lingkungan luar. Berlari, berjalan, mengikuti kuliah, bermain
sepakbola adalah beberapa perilaku “Molar”. Perilaku “Molar” lebih mempunyai
makna dibanding dengan perilaku “Molecular”.
2. Hal yang penting dalam mempelajari perilaku ialah membedakan antara
lingkungan geografis dengan lingkungan behavioral. Lingkungan geografis
adalah lingkungan yang sebenarnya ada, sedangkan lingkungan behavioral
merujuk pada sesuatu yang nampak. Misalnya, gunung yang nampak dari jauh
seolah-olah sesuatu yang indah. (lingkungan behavioral), padahal kenyataannya
merupakan suatu lingkungan yang penuh dengan hutan yang lebat (lingkungan
geografis).
3. Organisme tidak mereaksi terhadap rangsangan lokal atau unsur atau suatu
bagian peristiwa, akan tetapi mereaksi terhadap keseluruhan obyek atau
peristiwa. Misalnya, adanya penamaan kumpulan bintang, seperti : sagitarius,
virgo, pisces, gemini dan sebagainya adalah contoh dari prinsip ini. Contoh lain,
gumpalan awan tampak seperti gunung atau binatang tertentu.
4. Pemberian makna terhadap suatu rangsangan sensoris adalah merupakan suatu
proses yang dinamis dan bukan sebagai suatu reaksi yang statis. Proses
pengamatan merupakan suatu proses yang dinamis dalam memberikan tafsiran
terhadap rangsangan yang diterima.
Aplikasi teori Gestalt dalam proses pembelajaran antara lain :

1. Pengalaman tilikan (insight); bahwa tilikan memegang peranan yang penting


dalam perilaku. Dalam proses pembelajaran, hendaknya peserta didik memiliki
kemampuan tilikan yaitu kemampuan mengenal keterkaitan unsur-unsur dalam
suatu obyek atau peristiwa.
2. Pembelajaran yang bermakna (meaningful learning); kebermaknaan unsur-unsur
yang terkait akan menunjang pembentukan tilikan dalam proses pembelajaran.
Makin jelas makna hubungan suatu unsur akan makin efektif sesuatu yang
dipelajari. Hal ini sangat penting dalam kegiatan pemecahan masalah, khususnya
dalam identifikasi masalah dan pengembangan alternatif pemecahannya. Hal-hal
yang dipelajari peserta didik hendaknya memiliki makna yang jelas dan logis
dengan proses kehidupannya.
3. Perilaku bertujuan (pusposive behavior); bahwa perilaku terarah pada tujuan.
Perilaku bukan hanya terjadi akibat hubungan stimulus-respons, tetapi ada
keterkaitannya dengan dengan tujuan yang ingin dicapai. Proses pembelajaran
akan berjalan efektif jika peserta didik mengenal tujuan yang ingin dicapainya.
Oleh karena itu, guru hendaknya menyadari tujuan sebagai arah aktivitas
pengajaran dan membantu peserta didik dalam memahami tujuannya.
4. Prinsip ruang hidup (life space); bahwa perilaku individu memiliki keterkaitan
dengan lingkungan dimana ia berada. Oleh karena itu, materi yang diajarkan
hendaknya memiliki keterkaitan dengan situasi dan kondisi lingkungan
kehidupan peserta didik.
5. Transfer dalam Belajar; yaitu pemindahan pola-pola perilaku dalam situasi
pembelajaran tertentu ke situasi lain. Menurut pandangan Gestalt, transfer
belajar terjadi dengan jalan melepaskan pengertian obyek dari suatu konfigurasi
dalam situasi tertentu untuk kemudian menempatkan dalam situasi konfigurasi
lain dalam tata-susunan yang tepat. Judd menekankan pentingnya penangkapan
prinsip-prinsip pokok yang luas dalam pembelajaran dan kemudian menyusun
ketentuan-ketentuan umum (generalisasi). Transfer belajar akan terjadi apabila
peserta didik telah menangkap prinsip-prinsip pokok dari suatu persoalan dan
menemukan generalisasi untuk kemudian digunakan dalam memecahkan masalah
dalam situasi lain. Oleh karena itu, guru hendaknya dapat membantu peserta
didik untuk menguasai prinsip-prinsip pokok dari materi yang diajarkannya.

3. Pembelajaran.
Belajar tidak hanya berlangsung sekolah saja, namun juga dilaksanakan di rumah maupun
masyarakat. Misalnya, seorang anak perempuan memiliki keterampilan bagaimana cara
mencuci piring, memasak, menyeterikan baju, sopan santun berhadapan dengan orang
tua dan sebagainya, biasanya lebih banyak diperoleh dari pengalaman belajarnya di
rumah.
Orang tua memiliki keterbatasan dalam menjalankan fungsinya sebagai pendidik di
rumah, sementara tuntutan kehidupan yang harus dipenuhi individu semakin tinggi, maka
kegiatan belajar di sekolah dijadikan pilihan untuk mengembangkan perilaku dan pribadi
individu dalam rangka memenuhi berbagai tuntutan kehidupan.
Berbeda dengan kegiatan belajar di rumah, kegiatan belajar yang berlangsung di sekolah
lebih bersifat formal, disengaja dan direncanakan, dengan bimbingan guru atau pendidik
lainnya. Kegiatan belajar di sekolah ditandai dengan adanya interaksi antara atau
pendidik dengan peserta didik, atau peserta didik dengan peserta didik untuk mencapai
tujuan belajar yang telah ditetapkan. Interaksi pendidikan seperti itu biasa disebut
pembelajaran.
Bentuk-bentuk kegiatan belajar yang dilakukan peserta didik di sekolah sangat ditentukan
oleh pendekatan-pendekatan pembelajaran yang diberikan oleh guru. Secara garis
besarnya, terdapat dua pendekatan pembelajaran, yaitu :
a. Pendekatan Ekspositorik adalah pendekatan yang bisa dijadikan pedoman dalam
memilih metode yang sifatnya penyampaian informasi, termasuk metode ceramah
dan sejenisnya. Pendekatan ini lebih berpusat kepada guru dan pada umumnya guru
bertindak sebagai sumber informasi yang utama.

b. Pendekatan Heuristik yaitu yang bisa dijadikan pedoman dalam memilih metode
yang sifatnya praktek, termasuk discovery-inquiry, eksperimen, observasi dan
sejenisnya. Pendekatan ini lebih menekankan kepada aktivitas siswa dan guru lebih
banyak berperan sebagai fasilitator, motivator dan pembimbing untuk kepentingan
belajar peserta didiknya.

4. Peran dan Kompetensi Guru


Efektivitas dan efisien belajar individu di sekolah sangat bergantung kepada peran dan
kompetensi guru. Abin Syamsuddin (2003) mengemukakan bahwa dalam pengertian
pendidikan secara luas, seorang guru yang ideal seyogyanya dapat berperan sebagai :
a. konservator (pemelihara) sistem nilai yang merupakan sumber norma kedewasaan;
b. inovator (pengembang) sistem nilai ilmu pengetahuan;
c. transmitor (penerus) sistem-sistem nilai tersebut kepada peserta didik;
d. transformator (penterjemah) sistem-sistem nilai tersebut melalui penjelmaan dalam
pribadinya dan perilakunya, dalam proses interaksi dengan sasaran didik;
e. organisator (penyelenggara) terciptanya proses edukatif yang dapat
dipertanggungjawabkan, baik secara formal (kepada pihak yang mengangkat dan
menugaskannya) maupun secara moral (kepada sasaran didik, serta Tuhan yang
menciptakannya).
Sedangkan dalam pengertian pendidikan yang terbatas, Abin Syamsuddin dengan
mengutip pemikiran Gage dan Berliner, mengemukakan peran guru dalam proses
pembelajaran peserta didik, yang mencakup :

a. Guru sebagai perencana (planner) yang harus mempersiapkan apa yang akan
dilakukan di dalam proses belajar mengajar (pre-teaching problems).;
b. Guru sebagai pelaksana (organizer), yang harus dapat menciptakan situasi,
memimpin, merangsang, menggerakkan, dan mengarahkan kegiatan belajar mengajar
sesuai dengan rencana, di mana ia bertindak sebagai orang sumber (resource person),
konsultan kepemimpinan yang bijaksana dalam arti demokratik & humanistik
(manusiawi) selama proses berlangsung (during teaching problems).
c. Guru sebagai penilai (evaluator) yang harus mengumpulkan, menganalisa,
menafsirkan dan akhirnya harus memberikan pertimbangan (judgement), atas tingkat
keberhasilan proses pembelajaran, berdasarkan kriteria yang ditetapkan, baik
mengenai aspek keefektifan prosesnya maupun kualifikasi produknya.
Selanjutnya, dalam konteks proses belajar mengajar di Indonesia, Abin Syamsuddin
menambahkan satu peran lagi yaitu sebagai pembimbing (teacher counsel), di mana guru
dituntut untuk mampu mengidentifikasi peserta didik yang diduga mengalami kesulitan
dalam belajar, melakukan diagnosa, prognosa, dan kalau masih dalam batas
kewenangannya, harus membantu pemecahannya (remedial teaching).
Di lain pihak, Moh. Surya (1997) mengemukakan tentang peranan guru di sekolah,
keluarga dan masyarakat. Di sekolah, guru berperan sebagai perancang pembelajaran,
pengelola pembelajaran, penilai hasil pembelajaran peserta didik, pengarah pembelajaran
dan pembimbing peserta didik. Sedangkan dalam keluarga, guru berperan sebagai
pendidik dalam keluarga (family educator). Sementara itu di masyarakat, guru berperan
sebagai pembina masyarakat (social developer), penemu masyarakat (social inovator),
dan agen masyarakat (social agent).
Lebih jauh, dikemukakan pula tentang peranan guru yang berhubungan dengan aktivitas
pengajaran dan administrasi pendidikan, diri pribadi (self oriented), dan dari sudut
pandang psikologis. Dalam hubungannya dengan aktivitas pengajaran dan administrasi
pendidikan, guru berperan sebagai :
a. Pengambil inisiatif, pengarah, dan penilai pendidikan;
b. Wakil masyarakat di sekolah, artinya guru berperan sebagai pembawa suara dan
kepentingan masyarakat dalam pendidikan;
c. Seorang pakar dalam bidangnya, yaitu menguasai bahan yang harus diajarkannya;
d. Penegak disiplin, yaitu guru harus menjaga agar para peserta didik melaksanakan
disiplin;
e. Pelaksana administrasi pendidikan, yaitu guru bertanggung jawab agar pendidikan
dapat berlangsung dengan baik;
f. Pemimpin generasi muda, artinya guru bertanggung jawab untuk mengarahkan
perkembangan peserta didik sebagai generasi muda yang akan menjadi pewaris masa
depan; dan
g. Penterjemah kepada masyarakat, yaitu guru berperan untuk menyampaikan berbagai
kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi kepada masyarakat.
Di pandang dari segi diri-pribadinya (self oriented), seorang guru berperan sebagai :

a. Pekerja sosial (social worker), yaitu seorang yang harus memberikan pelayanan
kepada masyarakat;
b. Pelajar dan ilmuwan, yaitu seorang yang harus senantiasa belajar secara terus
menerus untuk mengembangkan penguasaan keilmuannya;
c. Orang tua, artinya guru adalah wakil orang tua peserta didik bagi setiap peserta didik
di sekolah;
d. model keteladanan, artinya guru adalah model perilaku yang harus dicontoh oleh
mpara peserta didik; dan
e. Pemberi keselamatan bagi setiap peserta didik. Peserta didik diharapkan akan merasa
aman berada dalam didikan gurunya.
Dari sudut pandang secara psikologis, guru berperan sebagai :
a. Pakar psikologi pendidikan, artinya guru merupakan seorang yang memahami
psikologi pendidikan dan mampu mengamalkannya dalam melaksanakan tugasnya
sebagai pendidik;
b. seniman dalam hubungan antar manusia (artist in human relations), artinya guru
adalah orang yang memiliki kemampuan menciptakan suasana hubungan antar
manusia, khususnya dengan para peserta didik sehingga dapat mencapai tujuan
pendidikan;
c. Pembentuk kelompok (group builder), yaitu mampu mambentuk menciptakan
kelompok dan aktivitasnya sebagai cara untuk mencapai tujuan pendidikan;
d. Catalyc agent atau inovator, yaitu guru merupakan orang yang yang mampu
menciptakan suatu pembaharuan bagi membuat suatu hal yang baik; dan
e. Petugas kesehatan mental (mental hygiene worker), artinya guru bertanggung jawab
bagi terciptanya kesehatan mental para peserta didik.
a. Sementara itu, Doyle sebagaimana dikutip oleh Sudarwan Danim (2002)
mengemukan dua peran utama guru yaitu menciptakan keteraturan (establishing
order) dan memfasilitasi proses belajar (facilitating learning). Yang dimaksud
keteraturan di sini mencakup hal-hal yang terkait langsung atau tidak langsung
dengan proses pembelajaran, seperti : tata letak tempat duduk, disiplin peserta didik
di kelas, interaksi peserta didik dengan sesamanya, interaksi peserta didik dengan
guru, jam masuk dan keluar untuk setiap sesi mata pelajaran, pengelolaan sumber
belajar, pengelolaan bahan belajar, prosedur dan sistem yang mendukung proses
pembelajaran, lingkungan belajar, dan lain-lain.
Sejalan dengan tantangan kehidupan global, peran dan tanggung jawab guru pada masa
mendatang akan semakin kompleks, sehingga menuntut guru untuk senantiasa melakukan
berbagai peningkatan dan penyesuaian kemampuan profesionalnya. Guru harus harus
lebih dinamis dan kreatif dalam mengembangkan proses pembelajaran peserta didik.
Guru di masa mendatang tidak lagi menjadi satu-satunya orang yang paling well
informed terhadap berbagai informasi dan pengetahuan yang sedang tumbuh,
berkembang, berinteraksi dengan manusia di jagat raya ini. Di masa depan, guru bukan
satu-satunya orang yang lebih pandai di tengah-tengah peserta didiknya.
Jika guru tidak memahami mekanisme dan pola penyebaran informasi yang demikian
cepat, ia akan terpuruk secara profesional. Kalau hal ini terjadi, ia akan kehilangan
kepercayaan baik dari peserta didik, orang tua maupun masyarakat. Untuk menghadapi
tantangan profesionalitas tersebut, guru perlu berfikir secara antisipatif dan proaktif.
Artinya, guru harus melakukan pembaruan ilmu dan pengetahuan yang dimilikinya
secara terus menerus. Disamping itu, guru masa depan harus paham penelitian guna
mendukung terhadap efektivitas pengajaran yang dilaksanakannya, sehingga dengan
dukungan hasil penelitiaan guru tidak terjebak pada praktek pengajaran yang menurut
asumsi mereka sudah efektif, namum kenyataannya justru mematikan kreativitas para
peserta didiknya. Begitu juga, dengan dukungan hasil penelitian yang mutakhir
memungkinkan guru untuk melakukan pengajaran yang bervariasi dari tahun ke tahun,
disesuaikan dengan konteks perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang sedang
berlangsung.
Untuk meningkatkan profesionalisme guru di Indonesia, pemerintah telah menetapkan
Undang-Undang No 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen, yang di dalamnya
mengatur berbagai hal yang berkaitan dengan profesi guru, diantaranya adalah berkenaan
dengan kualifikasi, kompetensi, sertifikasi dan remunerasi guru. Berkenaan dengan
kompetensi guru, dalam Undang-Undang tersebut dikemukakan empat jenis kompetensi
yang harus dikuasai guru yaitu :
a. Kompetensi pedagogik yaitu merupakan kemampuan dalam pengelolaan peserta
didik yang meliputi:
1. pemahaman wawasan atau landasan kependidikan;
2. pemahaman terhadap peserta didik;
3. pengembangan kurikulum/silabus;
4. perancangan pembelajaran;
5. pelaksanaan pembelajaran yang mendidik dan dialogis;
6. evaluasi hasil belajar; dan
7. pengembangan peserta didik untuk mengaktualisasikan berbagai potensi yang
dimilikinya.
b. Kompetensi kepribadian yaitu merupakan kemampuan kepribadian yang :
1. mantap;
2. stabil;
3. dewasa;
4. arif dan bijaksana;
5. berwibawa;
6. berakhlak mulia;
7. menjadi teladan bagi peserta didik dan masyarakat;
8. mengevaluasi kinerja sendiri; dan
9. mengembangkan diri secara berkelanjutan.
c. Kompetensi sosial yaitu merupakan kemampuan pendidik sebagai bagian dari
masyarakat untuk :
1. berkomunikasi lisan dan tulisan;
2. menggunakan teknologi komunikasi dan informasi secara fungsional;
3. bergaul secara efektif dengan peserta didik, sesama pendidik, tenaga
kependidikan, orangtua/wali peserta didik; dan
4. bergaul secara santun dengan masyarakat sekitar.
d. Kompetensi profesional merupakan kemampuan penguasaan materi pembelajaran
secara luas dan mendalam yang meliputi:
1. konsep, struktur, dan metoda keilmuan/teknologi/seni yang menaungi/ koheren
dengan materi ajar;
2. materi ajar yang ada dalam kurikulum sekolah;
3. hubungan konsep antar mata pelajaran terkait;
4. penerapan konsep-konsep keilmuan dalam kehidupan sehari-hari; dan
5. kompetisi secara profesional dalam konteks global dengan tetap melestarikan
nilai dan budaya nasional,
Sementara itu, Raka Joni sebagaimana dikutip oleh Suyanto dan Djihad Hisyam (2000)
mengemukakan tiga jenis kompetensi yang seyogyanya dimiliki guru, yaitu :
a. Kompetensi profesional; memiliki pengetahuan yang luas dari bidang studi yang
diajarkannya, dapat memilih dan menggunakan berbagai metode mengajar di dalam
proses belajar mengajar yang diselenggarakannya.
b. Kompetensi kemasyarakatan; mampu berkomunikasi, baik dengan peserta didik,
sesama guru, maupun masyarakat luas.
c. Kompetensi personal; memiliki kepribadian yang mantap dan patut diteladani.
Dengan demikian, seorang guru akan mampu menjadi seorang pemimpin yang
menjalankan peran : ing ngarso sung tulada, ing madya mangun karsa, tut wuri
handayani.
Dengan jumlah yang berbeda namun esensinya sama, Moh. Surya (1997)
mengetengahkan lima jenis kompetensi guru, meliputi :
a. Kompetensi profesional, yaitu berbagai kemampuan yang diperlukan untuk dapat
mewujudkan dirinya sebagai guru profesional . Kompetensi profesional meliputi
aspek kepakaran atau keahlian dalam bidangnya yaitu penguasaan bahan yang harus
diajarkannya beserta metodenya, rasa tanggung jawab akan tugasnya, dan rasa
kebersamaan dengan sejawat guru lainnya.
b. Kompetensi sosial, yaitu kemampuan yang diperlukan oleh seorang guru agar
berhasil dalam berhubungan dengan orang lain. Dalam kompetensi sosial ini
termasuk keterampilan interaksi sosial dan melaksanakan tanggung jawab sosial.
c. Kompetensi personal, yaitu kualitas kemampuan pribadi seorang guru yang
diperlukan agar dapat menjadi guru yang baik. Kompetensi personal ini mencakup
kemampuan pribadi yang berkenaan dengan pemahaman diri, penerimaan diri,
pengarahan diri, dan perwujudan diri.
d. Kompetensi intelektual, yaitu penguasaan berbagai ilmu pengetahuan yang
berhubungan dengan tugasnya sebagai guru.
e. Kompetensi spiritual, yaitu kualitas keimanan dan ketaqwaan sebagai seorang yang
beragama.
Sebagai pembanding, National Board for Profesional Teaching Skill (NBPTS)
merumuskan standar kompetensi bagi guru di Amerika, yang menjadi dasar bagi guru
untuk mendapatkan sertifikasi guru, dengan rumusan What Teachers Should Know and
Be Able to Do, di dalamnya terdiri dari lima proposisi utama, yaitu:
a. Teachers are Committed to Students and Their Learning :
1. Penghargaan guru terhadap perbedaan individual peserta didik.
2. Pemahaman guru tentang perkembangan belajar peserta didik.
3. Perlakuan guru terhadap seluruh peserta didik secara adil, dan
4. Misi guru dalam memperluas cakrawala berfikir peserta didik.
b. Teachers Know the Subjects They Teach and How to Teach Those Subjects to
Students :
1. Apresiasi guru tentang pemahaman materi mata pelajaran untuk dikreasikan,
disusun dan dihubungkan dengan mata pelajaran lain.
2. Kemampuan guru untuk menyampaikan materi pelajaran,
3. Mengembangkan usaha untuk memperoleh pengetahuan dengan berbagai cara
(multiple path).
c. Teachers are Responsible for Managing and Monitoring Student Learning :
1. Penggunaan berbagai metode dalam pencapaian tujuan pembelajaran.
2. Menyusun proses pembelajaran dalam berbagai setting kelompok (group
setting), kemampuan untuk memberikan ganjaran (reward) atas keberhasilan
peserta didik.
3. Menilai kemajuan peserta didik secara teratur, dan
4. Kesadaran akan tujuan utama pembelajaran.
d. Teachers Think Systematically About Their Practice and Learn from Experience :
1. Guru secara terus menerus menguji diri untuk memilih keputusan-keputusan
terbaik.
2. Guru meminta saran dari pihak lain dan melakukan berbagai riset tentang
pendidikan untuk meningkatkan praktek pembelajaran.
e. Teachers are Members of Learning Communities:
1. Guru memberikan kontribusi terhadap efektivitas sekolah melalui kolaborasi
dengan kalangan profesional lainnya.
2. Guru bekerja sama dengan tua orang peserta didik.
3. Guru dapat menarik keuntungan dari berbagai sumber daya masyarakat.
Mengutip pemikiran Davis dan Margareth A. Thomas dalam bukunya Effective Schools
and Effective Teachers, Suyanto dan Djihad Hisyam (2000) memaparkan tentang
beberapa kemampuan guru yang mencerminkan guru yang efektif, yaitu mencakup :
a. Kemampuan yang terkait dengan iklim kelas, seperti :
1. Memiliki kemampuan interpersonal, khususnya kemampuan untuk menunjukkan
empati, penghargaan kepada peserta didik, dan ketulusan.
2. Memiliki hubungan baik dengan peserta didik
3. Secara tulus menerima dan memperhatikan peserta didik.
4. Menunjukkan minat dan enthusias yang tinggi dalam mengajar.
5. Mampu menciptakan atmosfer untuk bekerja sama dan kohesivitas dalam
kelompok.
6. Melibatkan peserta didik dalam mengorganisasikan dan merencanakan kegiatan
pembelajaran.
7. Mampu mendengarkan peserta didik dan menghargai hak peserta didik untuk
berbicara dalam setiap diskusi; dan
8. Mmeminimalkan friksi-friksi di kelas jika ada.
b. Kemampuan yang terkait dengan strategi manajemen, seperti:
1. Memiliki kemampuan secara rutin untuk mengahadapi peserta didik yang tidak
memiliki perhatian, suka menyela, mengalihkan pembicaraan, dan mampu
memberikan transisi dalam mengajar.
2. Mampu bertanya atau memberikan tugas yang memerlukan tingkatan berfikir
yang berbeda.
c. Kemampuan yang terkait dengan pemberian umpan balik dan penguatan
(reinforcement), yaitu :
1. Mampu memberikan umpan balik yang positif terhadap respon peserta didik.
2. Mampu memberikan respon yang membantu kepada peserta didik yang lamban
belajar.
3. Mampu memberikan tindak lanjut terhadap jawaban yang kurang memuaskan.
4. Mampu memberikan bantuan kepada peserta didik yang diperlukan.
d. Kemampuan yang terkait dengan peningkatan diri, antara lain:
1. Mampu menerapkan kurikulum dan metode mengajar secara inovatif.
2. Mampu memperluas dan menambah pengetahuan metode-metode pengajaran.
3. Mampu memanfaatkan perencanaan kelompok guru untuk menciptakan metode
pengajaran.

5. Pengelolaan Kelas
Dalam uraian di atas telah disinggung bahwa salah satu keterampilan yang harus dimiliki
guru adalah keterampilan dalam mengelola kelas. Pengelolaan kelas merupakan hal yang
berbeda dengan pengelolaan pembelajaran. Pengelolaan pembelajaran lebih menekankan
pada kegiatan perencanaan, pelaksanaan, evaluasi dan tindak lanjut dalam suatu
pembelajaran. Sedangkan pengelolaan kelas lebih berkaitan dengan upaya-upaya untuk
menciptakan dan mempertahankan kondisi yang optimal bagi terjadinya proses belajar
(pembinaan rapport, penghentian perilaku peserta didik yang menyelewengkan perhatian
kelas, pemberian ganjaran, penyelesaian tugas oleh peserta didik secara tepat waktu,
penetapan norma kelompok yang produktif), didalamnya mencakup pengaturan orang
(peserta didik) dan fasilitas.
Terdapat dua macam masalah pengelolaan kelas, yaitu :

a. Masalah Individual :
1. Attention getting behaviors (pola perilaku mencari perhatian).
2. Power seeking behaviors (pola perilaku menunjukkan kekuatan)
3. Revenge seeking behaviors (pola perilaku menunjukkan balas dendam).
4. helplessness (peragaan ketidakmampuan).

b. Masalah Kelompok :
1. Kelas kurang kohesif, karena alasan jenis kelamin, suku, tingkatan sosial
ekonomi, dan sebagainya.
2. Penyimpangan dari norma-norma perilaku yang telah disepakati sebelumnya.
3. Kelas mereaksi secara negatif terhadap salah seorang anggotanya.
4. “Membombong” anggota kelas yang justru melanggar norma kelompok.
5. Kelompok cenderung mudah dialihkan perhatiannya dari tugas yang tengah
digarap.
6. Semangat kerja rendah atau semacam aksi protes kepada guru, karena
menganggap tugas yang diberikan kurang fair.
7. Kelas kurang mampu menyesuakan diri dengan keadaan baru.
Berangkat dari teori-teori belajar sebagaimana telah dikemukakan terdahulu, terdapat
beberapa pendekatan yang dapat dilakukan dalam pengelolaan kelas, yaitu :
a. Behavior - Modification Approach (Behaviorism Apparoach)
Asumsi yang mendasari penggunaan pendekatan ini adalah bahwa perilaku “baik”
dan “buruk” individu merupakan hasil belajar. Upaya memodifikasi perilaku dalam
mengelola kelas dilakukan melalui pemberian positive reinforcement (untuk
membina perilaku positif) dan negative reinforcement (untuk mengurangi perilaku
negatif).
b. Socio-Emotional Climate Approach (Humanistic Approach)
Asumsi yang mendasari penggunaan pendekatan ini adalah bahwa proses belajar
mengajar yang baik didasari oleh adanya hubungan interpersonal yang baik antara
peserta didik - guru dan atau peserta didik – peserta didik dan guru menduduki posisi
penting bagi terbentuknya iklim, sosio-emosional yang baik.
Dalam hal ini, Carl A. Rogers mengemukakan pentingnya sikap tulus dari guru
(realness, genuiness, congruence); menerima dan menghargai peserta didik sebagai
manusia (acceptance, prizing, caring, trust) dan mengerti dari sudut pandangan
peserta didik sendiri (emphatic understanding).
Sedangkan Haim C. Ginnot mengemukakan bahwa dalam memecahkan masalah,
guru berusaha untuk membicarakan situasi, bukan pribadi pelaku pelanggaran dan
mendeskripsikan apa yang ia lihat dan rasakan; serta mendeskripsikan apa yang perlu
dilakukan sebagai alternatif penyelesaian.
Hal senada dikemukakan William Glasser bahwa guru seyogyanya membantu
mengarahkan peserta didik untuk mendeskripsikan masalah yang dihadapi;
menganalisis dan menilai masalah; menyusun rencana pemecahannya; mengarahkan
peserta didik agar committed terhadap rencana yang telah dibuat; memupuk
keberanian menanggung akibat “kurang menyenangkan”; serta membantu peserta
didik membuat rencana penyelesaian baru yang lebih baik.
Sementara itu, Rudolf Draikurs mengemukakan pentingnya Democratic Classroom
Process, dengan memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk dapat memikul
tanggung jawab; memperlakukan peserta didik sebagai manusia yang dapat secara
bijak mengambil keputusan dengan segala konsekuensinya; dan memberi
kesempatan kepada peserta didik untuk menghayati tata aturan masyarakat.
c. Group Process Approach
Asumsi yang mendasari penggunaan pendekatan ini adalah bahwa pengalaman
belajar berlangsung dalam konteks kelompok sosial dan tugas guru adalah membina
dan memelihara kelompok yang produktif dan kohesif. Richard A. Schmuck &
Patricia A. Schmuck menegemukakan prinsip – prinsip dalam penerapan pendekatan
group proses, yaitu : (a) mutual expectations; (b) leadership; (c) attraction (pola
persahabatan); (c) norm; (d) communication; (d) cohesiveness

D. Latihan :
Soal :
Pilihan Ganda

1. Di bawah ini merupakan hakekat belajar, kecuali :


a. Belajar sebagai usaha untuk memperoleh pengetahuan.
b. Belajar merupakan usaha individu, dari tidak tahu menjadi tahu.
c. Belajar merupakan usaha individu memperoleh perubahan perilaku.
d. Belajar merupakan kegiatan individu di sekolah untuk memperoleh pengetahuan
2. Di bawah ini merupakan ciri-ciri perubahan perilaku dari kegiatan belajar :
e. Perubahan yang bersifat intensional, kontinyu, positif, dan permanen
f. Perubahan yang bersifat fungsional, bertujuan dan terarah,
g. Perubahan yang bersifat aktif dan menyeluruh.
h. a, b dan c benar
3. Keterampilan individu dalam melakukan interaksi dengan lingkungannya dengan
menggunakan simbol-simbol merupakan bentuk perubahan perilaku dalam :
a. Informasi verbal
b. Kecakapan intelektual
c. Strategi kognitif
d. Sikap dan kecakapan motorik
4. Jika sebuah respons menghasilkan efek yang memuaskan, maka hubungan Stimulus -
Respons akan semakin kuat. Sebaliknya, semakin tidak memuaskan efek yang dicapai
respons, maka semakin lemah pula hubungan yang terjadi antara Stimulus- Respons.
a. Law of Effect
b. Law of Readiness
c. Law of Exercise
d. Law of Respondent Conditioning
5. Teori belajar yang menganggap pentingnya imitation dan modelling dalam belajar.
a. Connectionism (S-R Bond)
b. Classical Conditioning
c. Social Learning
d. Operant Conditioning
6. Implikasi teori perkembangan kognitif Piaget dalam pembelajaran adalah :
a. Pentingnya reinforcement dalam pembentukan perilaku individu
b. Bahasa dan cara berfikir anak berbeda dengan orang dewasa.
c. Dalam proses pembelajaran, hendaknya peserta didik memiliki kemampuan tilikan
yaitu kemampuan mengenal keterkaitan unsur-unsur dalam suatu obyek atau
peristiwa.
d. a, b, dan c benar.
7. Materi yang diajarkan hendaknya memiliki keterkaitan dengan situasi dan kondisi
lingkungan kehidupan peserta didik merupakan salah satu aplikasi dalam pembelajaran
yang dihasilkan dari teori belajar :
a. Behaviorisme
b. Gestalt
c. Kognitif
d. Pemrosesan Informasi
8. Pendekatan pembelajaran yang dianggap paling sesuai untuk pembentukan kompetensi
peserta didik, adalah :
a. Ekspositorik
b. Heuristik
c. Discovery
d. Inquiry
9. Dapat menciptakan situasi belajar, memimpin, merangsang, menggerakkan, dan
mengarahkan kegiatan belajar mengajar merupakan peran guru sebagai :
a. Perencana Pembelajaran
b. Pelaksana Pembelajaran
c. Evaluator Pembelajaran
d. Fasilitator Pembelajaran
10. Kompetensi guru yang berhubungan dengan pemahaman perkembangan peserta didik,
merencanakan, melaksanakan dan mengevaluasi pembelajaran.
a. Kompetensi akademik
b. Kompetensi personal
c. Kompetensi pedagogik
d. Kompetensi sosial
Uraian
1. Apa yang dimaksud dengan pengelolaan kelas ?
2. Jelaskan secara skematik tentang perubahan perilaku dan pribadi yang terjadi dari proses
belajar !.
3. Sebagai guru, apa yang akan dilakukan jika di kelas menemukan:
a. siswa yang sedang asyik ngobrol dengan temannya.
b. para siswa kurang kompak dan selalu berisik.

BAB V BIMBINGAN DAN KONSELING DI SEKOLAH

A. Tujuan :
Setelah mempelajari Bab ini, diharapkan Anda dapat :
1. Mendefinisikan bimbingan dan konseling.
2. Mengidentifikasi fungsi, prinsip, asas, jenis layanan dan kegiatan pendukung bimbingan
dan konseling.
3. Menjelaskan peran kepala sekolah dan guru mata pelajaran dalam Bimbingan dan
Konseling, orientasi baru, prosedur umum bimbingan dan konseling. bimbingan terhadap
peserta didik bermasalah, proses konseling.
4. Menerapkan teknik – teknik dalam konseling.
5. Menganalisis kasus dan mengatasi masalah yang dihadapi peserta didik.

B. Pokok Bahasan
1. Konsep Dasar Bimbingan dan Konseling.
2. Peran Kepala Sekolah dan Guru Mata Pelajaran dan Wali Kelas dalam Bimbingan dan
Konseling.
3. Kegiatan Layanan dan Pendukung Bimbingan dan Konseling.
4. Prosedur Umum Bimbingan dan Konseling.
5. Bimbingan terhadap Peserta Didik Bermasalah.
6. Proses dan Teknik Konseling.
C. Intisari Bacaan
1. Konsep Dasar Bimbingan dan Konseling
a. Pengertian Bimbingan dan Konseling
Bimbingan merupakan terjemahan dari guidance yang didalamnya terkandung
beberapa makna. Sertzer & Stone (1966) menemukakan bahwa guidance berasal
kata guide yang mempunyai arti to direct, pilot, manager, or steer (menunjukkan,
menentukan, mengatur, atau mengemudikan). Sedangkan menurut W.S. Winkel
(1981) mengemukakan bahwa guidance mempunyai hubungan dengan guiding : “
showing a way” (menunjukkan jalan), leading (memimpin), conducting (menuntun),
giving instructions (memberikan petunjuk), regulating (mengatur), governing
(mengarahkan) dan giving advice (memberikan nasehat).
Penggunaan istilah bimbingan seperti dikemukakan di atas tampaknya proses
bimbingan lebih menekankan kepada peranan pihak pembimbing. Hal ini tentu saja
tidak sesuai lagi dengan arah perkembangan dewasa ini, dimana pada saat ini klien
lah yang justru dianggap lebih memiliki peranan penting dan aktif dalam proses
pengambilan keputusan serta bertanggungjawab sepenuhnya terhadap keputusan
yang diambilnya.
Untuk memahami lebih jauh tentang pengertian bimbingan, di bawah ini
dikemukakan pendapat dari beberapa ahli :

 Miller (I. Djumhur dan Moh. Surya, 1975) mengartikan bimbingan sebagai
proses bantuan terhadap individu untuk mencapai pemahaman diri yang
dibutuhkan untuk melakukan penyesuaian diri secara maksimum di sekolah,
keluarga dan masyarakat.
 Peters dan Shertzer (Sofyan S. Willis, 2004) mendefiniskan bimbingan sebagai :
the process of helping the individual to understand himself and his world so that
he can utilize his potentialities.
 United States Office of Education (Arifin, 1978) memberikan rumusan
bimbingan sebagai kegiatan yang terorganisir untuk memberikan bantuan secara
sistematis kepada peserta didik dalam membuat penyesuaian diri terhadap
berbagai bentuk problema yang dihadapinya, misalnya problema kependidikan,
jabatan, kesehatan, sosial dan pribadi. Dalam pelaksanaannya, bimbingan harus
mengarahkan kegiatannya agar peserta didik mengetahui tentang diri pribadinya
sebagai individu maupun sebagai anggota masyarakat.
 Jones et.al. (1970) mengemukakan : “guidance is the help given by one person
to another in making choice and adjusment and in solving problem.
 I. Djumhur dan Moh. Surya, (1975) berpendapat bahwa bimbingan adalah suatu
proses pemberian bantuan yang terus menerus dan sistematis kepada individu
dalam memecahkan masalah yang dihadapinya, agar tercapai kemampuan untuk
dapat memahami dirinya (self understanding), kemampuan untuk menerima
dirinya (self acceptance), kemampuan untuk mengarahkan dirinya (self direction)
dan kemampuan untuk merealisasikan dirinya (self realization) sesuai dengan
potensi atau kemampuannya dalam mencapai penyesuaian diri dengan
lingkungan, baik keluarga, sekolah dan masyarakat.
 Dalam Peraturan Pemerintah No. 29 Tahun 1990 tentang Pendidikan Menengah
dikemukakan bahwa “Bimbingan merupakan bantuan yang diberikan kepada
peserta didik dalam rangka menemukan pribadi, mengenal lingkungan, dan
merencanakan masa depan”.
 Prayitno, dkk. (2003) mengemukakan bahwa bimbingan dan konseling adalah
pelayanan bantuan untuk peserta didik, baik secara perorangan maupun
kelompok agar mandiri dan berkembang secara optimal, dalam bimbingan
pribadi, bimbingan sosial, bimbingan belajar, dan bimbingan karier, melalui
berbagai jenis layanan dan kegiatan pendukung, berdasarkan norma-norma yang
berlaku.
Dari beberapa pendapat di atas, tampaknya para ahli masih beragam dalam
memberikan pengertian bimbingan, kendati demikian kita dapat melihat adanya
benang merah, bahwa :

 Bimbingan merupakan upaya untuk memberikan bantuan kepada individu atau


peserta didik.. Bantuan dimaksud adalah bantuan yang bersifat psikologis.

 Tercapainya penyesuaian diri, perkembangan optimal dan kemandirian


merupakan tujuan yang ingin dicapai dari bimbingan.
Dari pendapat Prayitno, dkk. yang memberikan pengertian bimbingan disatukan
dengan konseling merupakan pengertian formal dan menggambarkan
penyelenggaraan bimbingan dan konseling yang saat ini diterapkan dalam sistem
pendidikan nasional.
Keberadaan layanan bimbingan dan konseling dalam sistem pendidikan di Indonesia
dijalani melalui proses yang panjang, sejak kurang lebih 40 tahun yang lalu. Selama
perjalanannya telah mengalami beberapa kali pergantian istilah, semula disebut
Bimbingan dan Penyuluhan (dalam Kurikulum 84 dan sebelumnya), kemudian pada
Kurikulum 1994 dan Kurikulum 2004 berganti nama menjadi Bimbingan dan
Konseling. Akhir-akhir ini para ahli mulai meluncurkan sebutan Profesi Konseling,
meski secara formal istilah ini belum digunakan.
Untuk kepentingan penulisan ini, penulis akan menggunakan istilah Bimbingan dan
Konseling sesuai dengan istilah formal yang saat ini dipergunakan dalam sistem
pendidikan nasional.
b. Orientasi Baru Bimbingan dan Konseling
Pada masa sebelumnya (atau mungkin masa sekarang pun, dalam prakteknya masih
ditemukan) bahwa penyelenggaraan Bimbingan dan Konseling cenderung bersifat
klinis-therapeutis atau menggunakan pendekatan kuratif, yakni hanya berupaya
menangani para peserta didik yang bermasalah saja. Padahal kenyataan di sekolah
jumlah peserta didik yang bermasalah atau berperilaku menyimpang mungkin hanya
satu atau dua orang saja. Dari 100 orang peserta didik paling banyak 5 hingga 10
(5% - 10%). Selebihnya, peserta didik yang tidak memiliki masalah (90% -95%)
kerapkali tidak tersentuh oleh layanan bimbingan dan konseling. Akibatnya,
bimbingan dan konseling memiliki citra buruk dan sering dipersepsi keliru oleh
peserta didik, guru bahkan kepala sekolah. Ada anggapan bimbingan dan konseling
merupakan “polisi sekolah”, tempat menangkap, merazia, dan menghukum para
peserta didik yang melakukan tindakan indisipliner. Anggapan lain yang keliru bahwa
bimbingan dan konseling sebagai “keranjang sampah” tempat untuk menampung
semua masalah peserta didik, seperti peserta didik yang bolos, terlambat SPP,
berkelahi, bodoh, menentang guru dan sebagainya. Masalah-masalah kecil seperti itu
dapat diantisipasi dan diatasi oleh para guru mata pelajaran atau wali kelas dan tidak
perlu diselesaikan oleh guru pembimbing.
Mengingat keadaan seperti itu, kiranya perlu adanya orientasi baru bimbingan dan
konseling yang bersifat pengembangan atau developmental dan pencegahan
pendekatan preventif. .
Sofyan. S. Willis (2004) mengemukakan landasan-landasan filosofis dari orientasi
baru bimbingan dan konseling, yaitu :
1. Pedagogis; artinya menciptakan kondisi sekolah yang kondusif bagi
perkembangan peserta didik dengan memperhatikan perbedaan individual
diantara peserta didik.
2. Potensial, artinya setiap peserta didik adalah individu yang memiliki potensi
untuk dikembangkan, sedangkan kelemahannya secara berangsur-angsur akan
diatasinya sendiri.
3. Humanistik-religius, artinya pendekatan terhadap peserta didik haruslah
manusiawi dengan landasan ketuhanan. peserta didik sebagai manusia dianggap
sanggup mengembangkan diri dan potensinya.
4. Profesional, yaitu proses bimbingan dan konseling harus dilakukan secara
profesional atas dasar filosofis, teoritis, yang berpengetahuan dan
berketerampilan berbagi teknik bimbingan dan konseling.
Dengan adanya orientasi baru ini, bukan berarti upaya-upaya bimbingan dan
konseling yang bersifat klinis ditiadakan, tetapi upaya pemberian layanan bimbingan
dan konseling lebih dikedepankan dan diutamakan yang bersifat pengembangan dan
pencegahan. Dengan demikian, kehadiran bimbingan dan konseling di sekolah akan
dapat dirasakan manfaatnya oleh seluruh peserta didik, tidak hanya bagi peserta didik
yang bermasalah saja.
c. Fungsi Bimbingan dan Konseling
Dengan orientasi baru Bimbingan dan konseling terdapat beberapa fungsi yang
hendak dipenuhi melalui pelaksanaan kegiatan bimbingan dan konseling. yaitu:
1. Pemahaman; menghasilkan pemahaman pihak-pihak tertentu untuk
pengembangan dan pemacahan masalah peserta didik meliputi : (a) pemahaman
diri dan kondisi peserta didik, orang tua, guru pembimbing; (2) lingkungan
peserta didik termasuk di dalamnya lingkungan sekolah; dan keluarga peserta
didik dan orang tua; lingkungan yang lebih luas, informasi pendidikan,
jabatan/pekerjaan, dan sosial budaya/terutama nilai-nilai oleh peserta didik.
2. Pencegahan; menghasilkan tercegahnya atau terhindarnya peserta didik dari
berbagai permasalahan yang timbul dan menghambat proses perkembangannya.
3. Pengentasan; menghasilkan terentaskannya atau teratasinya berbagai
permasalahan yang dialami peserta didik.
4. Advokasi; menghasilkan kondisi pembelaaan terhadap pengingkaran atas hak-
hak dan/atau kepentingan pendidikan.
5. Pemeliharaan dan pengembangan; terpelihara dan terkembangkannya berbagai
potensi dan kondisi positif peserta didik dalam rangka perkembangan dirinya
secara mantap dan berkelanjutan.
d. Prinsip-Prinsip Bimbingan dan Konseling :
Sejumlah prinsip mendasari gerak langkah penyelenggaraan kegiatan bimbingan dan
konseling. Prinsip-prinsip ini berkaitan dengan tujuan, sasaran layanan, jenis layanan
dan kegiatan pendukung, serta berbagai aspek operasionalisasi pelayanan bimbingan
dan konseling.
Prinsip-prinsip tersebut adalah :
1. Prinsip-prinsip yang berkenaan dengan sasaran layanan; (a) melayani semua
individu tanpa memandang usia, jenis kelamin, suku, agama dan status sosial; (b)
memperhatikan tahapan perkembangan; (c) perhatian adanya perbedaan individu
dalam layanan.
2. Prinsip-prinsip yang berkenaan dengan permasalahan yang dialami individu; (a)
menyangkut pengaruh kondisi mental maupun fisik individu terhadap
penyesuaian pengaruh lingkungan, baik di rumah, sekolah dan masyarakat
sekitar, (b) timbulnya masalah pada individu oleh karena adanya kesenjangan
sosial, ekonomi dan budaya.
3. Prinsip-prinsip yang berkenaan dengan program pelayanan Bimbingan dan
Konseling; (a) bimbingan dan konseling bagian integral dari pendidikan dan
pengembangan individu, sehingga program bimbingan dan konseling
diselaraskan dengan program pendidikan dan pengembangan diri peserta didik;
(b) program bimbingan dan konseling harus fleksibel dan disesuaikan dengan
kebutuhan peserta didik maupun lingkungan; (c) program bimbingan dan
konseling disusun dengan mempertimbangkan adanya tahap perkembangan
individu; (d) program pelayanan bimbingan dan konseling perlu diadakan
penilaian hasil layanan.
4. Prinsip-prinsip yang berkenaan dengan tujuan dan pelaksanaan pelayanan; (a)
diarahkan untuk pengembangan individu yang akhirnya mampu secara mandiri
membimbing diri sendiri; (b) pengambilan keputusan yang diambil oleh klien
hendaknya atas kemauan diri sendiri; (c) permasalahan individu dilayani oleh
tenaga ahli/profesional yang relevan dengan permasalahan individu; (d) perlu
adanya kerja sama dengan personil sekolah dan orang tua dan bila perlu dengan
pihak lain yang berkewenangan dengan permasalahan individu; dan (e) proses
pelayanan bimbingan dan konseling melibatkan individu yang telah memperoleh
hasil pengukuran dan penilaian layanan.
e. Asas-Asas Bimbingan dan Konseling
Penyelenggaraan layanan dan kegiatan pendukung bimbingan dan konseling selain
dimuati oleh fungsi dan didasarkan pada prinsip-prinsip tertentu, juga dituntut untuk
memenuhi sejumlah asas bimbingan. Pemenuhan asas-asas bimbingan itu akan
memperlancar pelaksanaan dan lebih menjamin keberhasilan layanan/kegiatan,
sedangkan pengingkarannya akan dapat menghambat atau bahkan menggagalkan
pelaksanaan, serta mengurangi atau mengaburkan hasil layanan/kegiatan bimbingan
dan konseling itu sendiri.
Betapa pentingnya asas-asas bimbingan konseling ini sehingga dikatakan sebagai
jiwa dan nafas dari seluruh kehidupan layanan bimbingan dan konseling. Apabila
asas-asas ini tidak dijalankan dengan baik, maka penyelenggaraan bimbingan dan
konseling akan berjalan tersendat-sendat atau bahkan terhenti sama sekali.
Asas- asas bimbingan dan konseling tersebut adalah :
1. Asas Kerahasiaan (confidential); yaitu asas yang menuntut dirahasiakannya
segenap data dan keterangan peserta didik (klien) yang menjadi sasaran
layanan, yaitu data atau keterangan yang tidak boleh dan tidak layak diketahui
orang lain. Dalam hal ini, guru pembimbing (konselor) berkewajiban
memelihara dan menjaga semua data dan keterangan itu sehingga kerahasiaanya
benar-benar terjamin,
2. Asas Kesukarelaan; yaitu asas yang menghendaki adanya kesukaan dan
kerelaan peserta didik (klien) mengikuti/ menjalani layanan/kegiatan yang
diperuntukkan baginya. Guru Pembimbing (konselor) berkewajiban membina
dan mengembangkan kesukarelaan seperti itu.
3. Asas Keterbukaan; yaitu asas yang menghendaki agar peserta didik (klien)
yang menjadi sasaran layanan/kegiatan bersikap terbuka dan tidak berpura-pura,
baik dalam memberikan keterangan tentang dirinya sendiri maupun dalam
menerima berbagai informasi dan materi dari luar yang berguna bagi
pengembangan dirinya. Guru pembimbing (konselor) berkewajiban
mengembangkan keterbukaan peserta didik (klien). Agar peserta didik (klien)
mau terbuka, guru pembimbing (konselor) terlebih dahulu bersikap terbuka dan
tidak berpura-pura. Asas keterbukaan ini bertalian erat dengan asas kerahasiaan
dan dan kekarelaan.
4. Asas Kegiatan; yaitu asas yang menghendaki agar peserta didik (klien) yang
menjadi sasaran layanan dapat berpartisipasi aktif di dalam
penyelenggaraan/kegiatan bimbingan. Guru Pembimbing (konselor) perlu
mendorong dan memotivasi peserta didik untuk dapat aktif dalam setiap
layanan/kegiatan yang diberikan kepadanya.
5. Asas Kemandirian; yaitu asas yang menunjukkan pada tujuan umum bimbingan
dan konseling; yaitu peserta didik (klien) sebagai sasaran layanan/kegiatan
bimbingan dan konseling diharapkan menjadi individu-individu yang mandiri,
dengan ciri-ciri mengenal diri sendiri dan lingkungannya, mampu mengambil
keputusan, mengarahkan, serta mewujudkan diri sendiri. Guru Pembimbing
(konselor) hendaknya mampu mengarahkan segenap layanan bimbingan dan
konseling bagi berkembangnya kemandirian peserta didik.
6. Asas Kekinian; yaitu asas yang menghendaki agar obyek sasaran layanan
bimbingan dan konseling yakni permasalahan yang dihadapi peserta
didik/klien dalam kondisi sekarang. Kondisi masa lampau dan masa depan
dilihat sebagai dampak dan memiliki keterkaitan dengan apa yang ada dan
diperbuat peserta didik (klien) pada saat sekarang.
7. Asas Kedinamisan; yaitu asas yang menghendaki agar isi layanan terhadap
sasaran layanan (peserta didik/klien) hendaknya selalu bergerak maju, tidak
monoton, dan terus berkembang serta berkelanjutan sesuai dengan kebutuhan
dan tahap perkembangannya dari waktu ke waktu.
8. Asas Keterpaduan; yaitu asas yang menghendaki agar berbagai layanan dan
kegiatan bimbingan dan konseling, baik yang dilakukan oleh guru pembimbing
maupun pihak lain, saling menunjang, harmonis dan terpadukan. Dalam hal ini,
kerja sama dan koordinasi dengan berbagai pihak yang terkait dengan
bimbingan dan konseling menjadi amat penting dan harus dilaksanakan sebaik-
baiknya.
9. Asas Kenormatifan; yaitu asas yang menghendaki agar segenap layanan dan
kegiatan bimbingan dan konseling didasarkan pada norma-norma, baik norma
agama, hukum, peraturan, adat istiadat, ilmu pengetahuan, dan kebiasaan –
kebiasaan yang berlaku. Bahkan lebih jauh lagi, melalui segenap
layanan/kegiatan bimbingan dan konseling ini harus dapat meningkatkan
kemampuan peserta didik (klien) dalam memahami, menghayati dan
mengamalkan norma-norma tersebut.
10. Asas Keahlian; yaitu asas yang menghendaki agar layanan dan kegiatan
bimbingan dan konseling diselnggarakan atas dasar kaidah-kaidah profesional.
Dalam hal ini, para pelaksana layanan dan kegiatan bimbingan dan konseling
lainnya hendaknya tenaga yang benar-benar ahli dalam bimbingan dan
konseling. Profesionalitas guru pembimbing (konselor) harus terwujud baik
dalam penyelenggaraaan jenis-jenis layanan dan kegiatan bimbingan dan
konseling dan dalam penegakan kode etik bimbingan dan konseling.
11. Asas Alih Tangan Kasus; yaitu asas yang menghendaki agar pihak-pihak yang
tidak mampu menyelenggarakan layanan bimbingan dan konseling secara tepat
dan tuntas atas suatu permasalahan peserta didik (klien) kiranya dapat mengalih-
tangankan kepada pihak yang lebih ahli. Guru pembimbing (konselor)dapat
menerima alih tangan kasus dari orang tua, guru-guru lain, atau ahli lain.
Demikian pula, sebaliknya guru pembimbing (konselor), dapat mengalih-
tangankan kasus kepada pihak yang lebih kompeten, baik yang berada di dalam
lembaga sekolah maupun di luar sekolah.
12. Asas Tut Wuri Handayani; yaitu asas yang menghendaki agar pelayanan
bimbingan dan konseling secara keseluruhan dapat menciptakan suasana
mengayomi (memberikan rasa aman), mengembangkan keteladanan, dan
memberikan rangsangan dan dorongan, serta kesempatan yang seluas-luasnya
kepada peserta didik (klien) untuk maju.

2. Peranan Kepala Sekolah, Guru Mata Pelajaran dan Wali Kelas dalam Bimbingan
dan Konseling
Dalam kurikulum 2004, secara tegas dikemukakan bahwa : “Sekolah
berkewajiban memberikan bimbingan dan konseling kepada siswa yang menyangkut
tentang pribadi, sosial, belajar, dan karier”. Dengan adanya kata “kewajiban”, maka
setiap sekolah mutlak harus menyelenggarakan bimbingan dan konseling.
Keberhasilan penyelenggaraan bimbingan dan konseling di sekolah, tidak lepas dari
peranan berbagai pihak di sekolah. Selain Guru Pembimbing atau Konselor sebagai
pelaksana utama, penyelenggaraan Bimbingan dan konseling di sekolah, juga perlu
melibatkan kepala sekolah , guru mata pelajaran dan wali kelas.
Kepala sekolah selaku penanggung jawab seluruh penyelenggaraan pendidikan di sekolah
memegang peranan strategis dalam mengembangkan layanan bimbingan dan konseling di
sekolah.
Secara garis besarnya, peran, tugas dan tanggung jawab kepala sekolah, sebagai berikut :
a. Mengkoordinir segenap kegiatan yang diprogramkan dan berlangsung di sekolah,
sehingga pelayanan pengajaran, latihan, dan bimbingan dan konseling merupakan
suatu kesatuan yang terpadu, harmonis, dan dinamis.
b. Menyediakan prasarana, tenaga, dan berbagai kemudahan bagi terlaksananya
pelayanan bimbingan dan konseling yang efektif dan efisien.
c. Melakukan pengawasan dan pembinaan terhadap perencanaan dan pelaksanaan
program, penilaian dan upaya tidak lanjut pelayanan bimbingan dan konseling.
d. Mempertanggungjawabkan pelaksanaan pelayanan bimbingan dan konseling Di
sekolah kepada Dinas Pendidikan yang menjadi atasannya.
e. Menyediakan fasilitas, kesempatan, dan dukungan dalam kegiatan kepengawasan
yang dilakukan oleh Pengawas Sekolah Bidang BK.
Sedangkan, peran, tugas dan tanggung jawab guru-guru mata pelajaran dalam
bimbingan dan konseling adalah :
a. Membantu memasyarakatkan pelayanan bimbingan dan konseling kepada siswa
b. Membantu Guru Pembimbing mengidentifikasi siswa-siswa yang memerlukan
layanan bimbingan dan konseling, serta pengumpulan data tentang siswa-siswa
tersebut.
c. Mengalihtangankan siswa yang memerlukan pelayanan bimbingan dan konseling
kepada Guru Pembimbing
d. Menerima siswa alih tangan dari Guru Pembimbing, yaitu siswa yang menuntut Guru
Pembimbing memerlukan pelayanan pengajar /latihan khusus (seperti pengajaran/
latihan perbaikan, program pengayaan).
e. Membantu mengembangkan suasana kelas, hubungan guru-siswa dan hubungan
siswa-siswa yang menunjang pelaksanaan pelayanan pembimbingan dan konseling.
f. Memberikan kesempatan dan kemudahan kepada siswa yang memerlukan
layanan/kegiatan bimbingan dan konseling untuk mengikuti /menjalani
layanan/kegiatan yang dimaksudkan itu.
g. Berpartisipasi dalam kegiatan khusus penanganan masalah siswa, seperti konferensi
kasus.
h. Membantu pengumpulan informasi yang diperlukan dalam rangka penilaian
pelayanan bimbingan dan konseling serta upaya tindak lanjutnya.
Sebagai pengelola kelas tertentu dalam pelayanan bimbingan dan konseling, Wali Kelas
berperan :
a. membantu Guru Pembimbing melaksanakan tugas-tugasnya, khususnya di kelas yang
menjadi tanggung jawabnya;
b. membantu Guru Mata Pelajaran melaksanakan peranannya dalam pelayanan
bimbingan dan konseling, khususnya dikelas yang menjadi tanggung jawabnya;
c. membantu memberikan kesempatan dan kemudahan bagi siswa, khususnya dikelas
yang menjadi tanggung jawabnya, untuk mengikuti/menjalani layanan dan/atau
kegiatan bimbingan dan konseling;
d. berpartisipasi aktif dalam kegiatan khusus bimbingan dan konseling, seperti
konferensi kasus; dan
e. mengalihtangankan siswa yang memerlukan layanan bimbingan dan konseling
kepada Guru Pembimbing.
Berkenaan peran guru mata pelajaran dan wali kelas dalam bimbingan dan konseling,
Sofyan S. Willis (2005) mengemukakan bahwa guru-guru mata pelajaran dalam
melakukan pendekatan kepada siswa harus manusiawi-religius, bersahabat, ramah,
mendorong, konkret, jujur dan asli, memahami dan menghargai tanpa syarat.
3. Kegiatan Layanan dan Pendukung Bimbingan dan Konseling
Kegiatan layanan merupakan kegiatan dalam rangka memenuhi fungsi-fungsi bimbingan
dan konseling. Sedangkan kegiatan pendukung merupakan kegiatan untuk menopang
terhadap keberhasilan layanan yang diberikan.
Dalam perspektif kebijakan pendidikan nasional saat ini terdapat tujuh jenis layanan dan
lima kegiatan pendukung. Namun sangat mungkin ke depannya akan semakin
berkembang, baik dalam jenis layanan maupun kegiatan pendukung. Para ahli bimbingan
di Indonesia saat ini sudah mulai meluncurkan dua jenis layanan baru yaitu layanan
konsultasi dan layanan mediasi. Namun, kedua jenis layanan ini belum dijadikan sebagai
kebijakan formal dalam sistem pendidikan.
Untuk lebih jelasnya, di bawah ini akan diuraikan tujuh jenis layanan dan lima kegiatan
pendukung bimbingan dan konseling yang saat ini diterapkan dalam pendidikan nasional.
a. Kegiatan Layanan Bimbingan dan Konseling
1. Layanan Orientasi; Layanan orientasi merupakan layanan yang memungkinan
peserta didik memahami lingkungan baru, terutama lingkungan sekolah dan
obyek-obyek yang dipelajari, untuk mempermudah dan memperlancar
berperannya peserta didik di lingkungan yang baru itu, sekurang-kurangnya
diberikan dua kali dalam satu tahun yaitu pada setiap awal semester. Tujuan
layanan orientasi adalah agar peserta didik dapat beradaptasi dan menyesuaikan
diri dengan lingkungan baru secara tepat dan memadai, yang berfungsi untuk
pencegahan dan pemahaman.
2. Layanan Informasi; merupakan layanan yang memungkinan peserta didik
menerima dan memahami berbagai informasi (seperti : informasi belajar,
pergaulan, karier, pendidikan lanjutan). Tujuan layanan informasi adalah
membantu peserta didik agar dapat mengambil keputusan secara tepat tentang
sesuatu, dalam bidang pribadi, sosial, belajar maupun karier berdasarkan
informasi yang diperolehnya yang memadai. Layanan informasi pun berfungsi
untuk pencegahan dan pemahaman.

3. Layanan Pembelajaran; merupakan layanan yang memungkinan peserta didik


mengembangkan sikap dan kebiasaan belajar yang baik dalam menguasai materi
belajar atau penguasaan kompetensi yang cocok dengan kecepatan dan
kemampuan dirinya serta berbagai aspek tujuan dan kegiatan belajar lainnya,
dengan tujuan agar peserta didik dapat mengembangkan sikap dan kebiasaan
belajar yang baik. Layanan pembelajaran berfungsi untuk pengembangan.
4. Layanan Penempatan dan Penyaluran; merupakan layanan yang memungkinan
peserta didik memperoleh penempatan dan penyaluran di dalam kelas, kelompok
belajar, jurusan/program studi, program latihan, magang, kegiatan ko/ekstra
kurikuler, dengan tujuan agar peserta didik dapat mengembangkan segenap
bakat, minat dan segenap potensi lainnya. Layanan Penempatan dan Penyaluran
berfungsi untuk pengembangan.

5. Layanan Konseling Perorangan; merupakan layanan yang memungkinan peserta


didik mendapatkan layanan langsung tatap muka (secara perorangan) untuk
mengentaskan permasalahan yang dihadapinya dan perkembangan dirinya.
Tujuan layanan konseling perorangan adalah agar peserta didik dapat
mengentaskan masalah yang dihadapinya. Layanan Konseling Perorangan
berfungsi untuk pengentasan dan advokasi.
6. Layanan Bimbingan Kelompok; merupakan layanan yang memungkinan
sejumlah peserta didik secara bersama-sama melalui dinamika kelompok
memperoleh bahan dan membahas pokok bahasan (topik) tertentu untuk
menunjang pemahaman dan pengembangan kemampuan sosial, serta untuk
pengambilan keputusan atau tindakan tertentu melalui dinamika kelompok,
dengan tujuan agar peserta didik dapat memperoleh bahan dan membahas pokok
bahasan (topik) tertentu untuk menunjang pemahaman dan pengembangan
kemampuan sosial, serta untuk pengambilan keputusan atau tindakan tertentu
melalui dinamika kelompok. Layanan Bimbingan Kelompok berfungsi untuk
pemahaman dan Pengembangan

7. Layanan Konseling Kelompok; merupakan layanan yang memungkinan peserta


didik (masing-masing anggota kelompok) memperoleh kesempatan untuk
pembahasan dan pengentasan permasalahan pribadi melalui dinamika kelompok,
dengan tujuan agar peserta didik dapat memperoleh kesempatan untuk
pembahasan dan pengentasan permasalahan pribadi melalui dinamika kelompok.
Layanan Konseling Kelompok berfungsi untuk pengentasan dan advokasi.
b. Kegiatan Pendukung Bimbingan dan Konseling
Untuk menunjang kelancaran pemberian layanan-layanan seperti yang telah
dikemukakan di atas, kiranya perlu dilaksanakan berbagai kegiatan pendukung
Dalam hal ini, terdapat lima jenis kegiatan pendukung bimbingan dan konseling,
yaitu :
1. Aplikasi Instrumentasi Data; merupakan kegiatan untuk mengumpulkan data dan
keterangan tentang peserta didik, tentang lingkungan peserta didik dan
lingkungan lainnya, yang dapat dilakukan dengan menggunakan berbagai
instrumen, baik tes maupun non tes, dengan tujuan untuk memahami peserta
didik dengan segala karakteristiknya dan memahami karakteristik lingkungan.
2. Himpunan Data; merupakan kegiatan untuk menghimpun seluruh data dan
keterangan yang relevan dengan keperluan pengembangan peserta didik.
Himpunan data diselenggarakan secara berkelanjutan, sistematik, komprehensif,
terpadu dan sifatnya tertutup.
3. Konferensi Kasus; merupakan kegiatan untuk membahas permasalahan peserta
didik dalam suatu pertemuan yang dihadiri oleh pihak-pihak yang dapat
memberikan keterangan, kemudahan dan komitmen bagi terentaskannya
permasalahan klien. Pertemuan konferensi kasus bersifat terbatas dan tertutup.
Tujuan konferensi kasus adalah untuk memperoleh keterangan dan membangun
komitmen dari pihak yang terkait dan memiliki pengaruh kuat terhadap klien
dalam rangka pengentasan permasalahan klien.
4. Kunjungan Rumah; merupakan kegiatan untuk memperoleh data, keterangan,
kemudahan, dan komitmen bagi terentaskannya permasalahan peserta didik
melalui kunjungan rumah klien. Kerja sama dengan orang tua sangat diperlukan,
dengan tujuan untuk memperoleh keterangan dan membangun komitmen dari
pihak orang tua/keluarga untuk mengentaskan permasalahan klien.
5. Alih Tangan Kasus; merupakan kegiatan untuk untuk memperoleh penanganan
yang lebih tepat dan tuntas atas permasalahan yang dialami klien dengan
memindahkan penanganan kasus ke pihak lain yang lebih kompeten, seperti
kepada guru mata pelajaran atau konselor, dokter serta ahli lainnya, dengan
tujuan agar peserta didik dapat memperoleh penanganan yang lebih tepat dan
tuntas atas permasalahan yang dihadapinya melalui pihak yang lebih kompeten.
4. Prosedur Umum Bimbingan dan Konseling
Secara umum, prosedur bimbingan dan konseling dapat ditempuh melalui prosedur
seperti tampak dalam bagan berikut :

Datang Sendiri/Dicari Identifikasi Kasus


Informasi yang Ada/Dicari Identifikasi Masalah

Informasi yang Ada/Dicari Diagnosis

Informasi yang Ada/Dicari Prognosis

Remedial/Referal

Evaluasi/Follow Up

a. Identifikasi kasus; merupakan upaya untuk menemukan peserta didik yang diduga
memerlukan layanan bimbingan dan konseling. Robinson dalam Abin Syamsuddin
Makmun (2003) memberikan beberapa pendekatan yang dapat dilakukan untuk
mendeteksi peserta didik yang diduga mebutuhkan layanan bimbingan dan konseling,
yakni :
1. Call them approach; melakukan wawancara dengan memanggil semua peserta
didik secara bergiliran sehingga dengan cara ini akan dapat ditemukan peserta
didik yang benar-benar membutuhkan layanan konseling.
2. Maintain good relationship; menciptakan hubungan yang baik, penuh keakraban
sehingga tidak terjadi jurang pemisah antara guru pembimbing dengan peserta
didik. Hal ini dapat dilaksanakan melalui berbagai cara yang tidak hanya terbatas
pada hubungan kegiatan belajar mengajar saja, misalnya melalui kegiatan ekstra
kurikuler, rekreasi dan situasi-situasi informal lainnya.
3. Developing a desire for counseling; menciptakan suasana yang menimbulkan ke
arah penyadaran peserta didik akan masalah yang dihadapinya. Misalnya dengan
cara mendiskusikan dengan peserta didik yang bersangkutan tentang hasil dari
suatu tes, seperti tes inteligensi, tes bakat, dan hasil pengukuran lainnya untuk
dianalisis bersama serta diupayakan berbagai tindak lanjutnya.
4. Melakukan analisis terhadap hasil belajar peserta didik, dengan cara ini bisa
diketahui tingkat dan jenis kesulitan atau kegagalan belajar yang dihadapi
peserta didik.
5. Melakukan analisis sosiometris, dengan cara ini dapat ditemukan peserta didik
yang diduga mengalami kesulitan penyesuaian sosial
b. Identifikasi Masalah; langkah ini merupakan upaya untuk memahami jenis,
karakteristik kesulitan atau masalah yang dihadapi peserta didik. Dalam konteks
Proses Belajar Mengajar, permasalahan peserta didik dapat berkenaan dengan aspek :
(1) substansial – material; (2) struktural – fungsional; (3) behavioral; dan atau (4)
personality. Untuk mengidentifikasi masalah peserta didik, Prayitno dkk. telah
mengembangkan suatu instrumen untuk melacak masalah peserta didik, dengan apa
yang disebut Alat Ungkap Masalah (AUM). Instrumen ini sangat membantu untuk
mendeteksi lokasi kesulitan yang dihadapi peserta didik, seputar aspek : (1) jasmani
dan kesehatan; (2) diri pribadi; (3) hubungan sosial; (4) ekonomi dan keuangan; (5)
karier dan pekerjaan; (6) pendidikan dan pelajaran; (7) agama, nilai dan moral; (8)
hubungan muda-mudi; (9) keadaan dan hubungan keluarga; dan (10) waktu
senggang.
c. Diagnosis; upaya untuk menemukan faktor-faktor penyebab atau yang
melatarbelakangi timbulnya masalah peserta didik. Dalam konteks Proses Belajar
Mengajar faktor-faktor yang penyebab kegagalan belajar peserta didik, bisa dilihat
dari segi input, proses, ataupun out put belajarnya. W.H. Burton membagi ke dalam
dua bagian faktor – faktor yang mungkin dapat menimbulkan kesulitan atau
kegagalan belajar peserta didik, yaitu : (1) faktor internal; faktor yang besumber dari
dalam diri peserta didik itu sendiri, seperti : kondisi jasmani dan kesehatan,
kecerdasan, bakat, kepribadian, emosi, sikap serta kondisi-kondisi psikis lainnya;
dan (2) faktor eksternal, seperti : lingkungan rumah, lingkungan sekolah termasuk
didalamnya faktor guru dan lingkungan sosial dan sejenisnya.
d. Prognosis; langkah ini untuk memperkirakan apakah masalah yang dialami peserta
didik masih mungkin untuk diatasi serta menentukan berbagai alternatif
pemecahannya, Hal ini dilakukan dengan cara mengintegrasikan dan
menginterpretasikan hasil-hasil langkah kedua dan ketiga. Proses mengambil
keputusan pada tahap ini seyogyanya terlebih dahulu dilaksanakan konferensi kasus,
dengan melibatkan pihak-pihak yang kompeten untuk diminta bekerja sama
menangani kasus - kasus yang dihadapi.
e. Remedial atau referal (Alih Tangan Kasus); jika jenis dan sifat serta sumber
permasalahannya masih berkaitan dengan sistem pembelajaran dan masih masih
berada dalam kesanggupan dan kemampuan guru atau guru pembimbing, pemberian
bantuan bimbingan dapat dilakukan oleh guru atau guru pembimbing itu sendiri.
Namun, jika permasalahannya menyangkut aspek-aspek kepribadian yang lebih
mendalam dan lebih luas maka selayaknya tugas guru atau guru pembimbing sebatas
hanya membuat rekomendasi kepada ahli yang lebih kompeten.
f. Evaluasi dan Follow Up; cara manapun yang ditempuh, evaluasi atas usaha
pemecahan masalah seyogyanya dilakukan evaluasi dan tindak lanjut, untuk melihat
seberapa pengaruh tindakan bantuan (treatment) yang telah diberikan terhadap
pemecahan masalah yang dihadapi peserta didik.
Berkenaan dengan evaluasi bimbingan dan konseling, Depdiknas telah memberikan
kriteria-kriteria keberhasilan layanan bimbingan dan konseling yaitu :
1. Berkembangnya pemahaman baru yang diperoleh peserta didik berkaitan dengan
masalah yang dibahas;
2. Perasaan positif sebagai dampak dari proses dan materi yang dibawakan melalui
layanan, dan
3. Rencana kegiatan yang akan dilaksanakan oleh peserta didik sesudah
pelaksanaan layanan dalam rangka mewujudkan upaya lebih lanjut pengentasan
masalah yang dialaminya.
Sementara itu, Robinson dalam Abin Syamsuddin Makmun (2003) mengemukakan
beberapa kriteria dari keberhasilan dan efektivitas layanan yang telah diberikan, yaitu
apabila:
1. Peserta didik telah menyadari (to be aware of) atas adanya masalah yang
dihadapi.
2. Peserta didik telah memahami (self insight) permasalahan yang dihadapi.
3. Peserta didik telah mulai menunjukkan kesediaan untuk menerima kenyataan diri
dan masalahnya secara obyektif (self acceptance).
4. Peserta didik telah menurun ketegangan emosinya (emotion stress release).
5. Peserta didik telah menurun penentangan terhadap lingkungannya
6. Peserta didik mulai menunjukkan kemampuannya dalam mempertimbangkan,
mengadakan pilihan dan mengambil keputusan secara sehat dan rasional.
7. Peserta didik telah menunjukkan kemampuan melakukan usaha –usaha
perbaikan dan penyesuaian diri terhadap lingkungannya, sesuai dengan dasar
pertimbangan dan keputusan yang telah diambilnya.
5. Bimbingan terhadap Peserta Didik Bermasalah
Bimbingan terhadap peserta didik bermasalah tetap menjadi perhatian bimbingan dan
konseling, namun perlu diingat bahwa tidak semua masalah peserta didik harus ditangani
oleh Guru Pembimbing (konselor). Dalam hal ini, Sofyan S. Willis (2004)
mengemukakan tingkatan masalah berserta mekanisme dan petugas yang menanganinya,
sebagaimana dalam bagan berikut :

Ringan Semua Guru/Wali Kelas

Masalah peserta
Sedang Guru Pembimbing
didik

Berat Alih Tangan Kasus

a. Masalah (kasus) ringan, seperti : membolos, malas, kesulitan belajar pada bidang
tertentu, berkelahi dengan teman sekolah, bertengkar, minum minuman keras tahap
awal, berpacaran, mencuri kelas ringan. Kasus ringan dibimbing oleh wali kelas dan
guru dengan berkonsultasi kepada kepala sekolah (konselor/guru pembimbing) dan
mengadakan kunjungan rumah.
b. Masalah (kasus) sedang, seperti : gangguan emosional, berpacaran, dengan
perbuatan menyimpang, berkelahi antar sekolah, kesulitan belajar, karena gangguan
di keluarga, minum minuman keras tahap pertengahan, mencuri kelas sedang,
melakukan gangguan sosial dan asusila. Kasus sedang dibimbing oleh guru
pembimbing (konselor), dengan berkonsultasi dengan kepala sekolah,
ahli/profesional, polisi, guru dan sebagainya. Dapat pula mengadakan konferensi
kasus.
c. Masalah (kasus) berat, seperti : gangguan emosional berat, kecanduan alkohol dan
narkotika, pelaku kriminalitas, peserta didik hamil, percobaan bunuh diri,
perkelahian dengan senjata tajam atau senjata api. Kasus berat dilakukan referal
(alihtangan kasus) kepada ahli psikologi dan psikiater, dokter, polisi, ahli hukum
yang sebelumnya terlebih dahulu dilakukan kegiatan konferensi kasus.
6. Proses Konseling dan Teknik-Teknik Konseling
Dari beberapa jenis layanan Bimbingan dan Konseling yang diberikan kepada peserta
didik, tampaknya untuk layanan konseling perorangan perlu mendapat perhatian lebih.
Karena layanan yang satu ini boleh dikatakan merupakan ciri khas dari layanan
bimbingan dan konseling.
Dalam prakteknya, memang strategi layanan bimbingan dan konseling harus terlebih
dahulu mengedepankan layanan – layanan yang bersifat pencegahan dan pengembangan,
namun tetap saja layanan yang bersifat pengentasan pun masih diperlukan. Oleh karena
itu, guru maupun konselor seyogyanya dapat menguasai proses dan berbagai teknik
konseling, sehingga bantuan yang diberikan kepada peserta didik dalam rangka
pengentasan masalahnya dapat berjalan secara efektif dan efisien.
a. Proses Konseling
Secara umum, proses konseling terdiri dari tiga tahapan yaitu: (1) tahap awal (tahap
mendefinisikan masalah); (2) tahap inti (tahap kerja); dan (3) tahap akhir (tahap
perubahan dan tindakan).
1. Tahap Awal
Tahap ini terjadi dimulai sejak klien menemui konselor hingga berjalan sampai
konselor dan klien menemukan masalah klien. Pada tahap ini beberapa hal yang
perlu dilakukan, diantaranya :
a. Membangun hubungan konseling yang melibatkan klien (rapport).
Kunci keberhasilan membangun hubungan terletak pada terpenuhinya asas-
asas bimbingan dan konseling, terutama asas kerahasiaan, kesukarelaan,
keterbukaan; dan kegiatan.
b. Memperjelas dan mendefinisikan masalah.
Jika hubungan konseling sudah terjalin dengan baik dan klien telah
melibatkan diri, maka konselor harus dapat membantu memperjelas masalah
klien.
c. Membuat penaksiran dan perjajagan
Konselor berusaha menjajagi atau menaksir kemungkinan masalah dan
merancang bantuan yang mungkin dilakukan, yaitu dengan membangkitkan
semua potensi klien, dan menentukan berbagai alternatif yang sesuai bagi
antisipasi masalah.
d. Menegosiasikan kontrak
Membangun perjanjian antara konselor dengan klien, berisi :
1. Kontrak waktu, yaitu berapa lama waktu pertemuan yang diinginkan oleh
klien dan konselor tidak berkebaratan.
2. Kontrak tugas, yaitu berbagi tugas antara konselor dan klien.
3. Kontrak kerjasama dalam proses konseling, yaitu terbinanya peran dan
tanggung jawab bersama antara konselor dan konseling dalam seluruh
rangkaian kegiatan konseling.
2. Tahap Inti (Tahap Kerja)
Setelah tahap Awal dilaksanakan dengan baik, proses konseling selanjutnya
adalah memasuki tahap inti atau tahap kerja. Pada tahap ini terdapat beberapa hal
yang harus dilakukan, diantaranya :
a. Menjelajahi dan mengeksplorasi masalah klien lebih dalam.
Penjelajahan masalah dimaksudkan agar klien mempunyai perspektif dan
alternatif baru terhadap masalah yang sedang dialaminya. Konselor
melakukan reassessment (penilaian kembali), bersama-sama klien meninjau
kembali permasalahan yang dihadapi klien.
b. Menjaga agar hubungan konseling tetap terpelihara.
Hal ini bisa terjadi jika :
1. Klien merasa senang terlibat dalam pembicaraan atau waancara
konseling, serta menampakan kebutuhan untuk mengembangkan diri dan
memecahkan masalah yang dihadapinya.
2. Konselor berupaya kreatif mengembangkan teknik-teknik konseling yang
bervariasi dan dapat menunjukkan pribadi yang jujur, ikhlas dan benar –
benar peduli terhadap klien.
c. Proses konseling agar berjalan sesuai kontrak.
Kesepakatan yang telah dibangun pada saat kontrak tetap dijaga, baik oleh
pihak konselor maupun klien.
3. Tahap Akhir (Tahap Tindakan)
Pada tahap akhir ini terdapat beberapa hal yang perlu dilakukan, yaitu :
a. Konselor bersama klien membuat kesimpulan mengenai hasil proses
konseling
b. Menyusun rencana tindakan yang akan dilakukan berdasarkan kesepakatan
yang telah terbangun dari proses konseling sebelumnya.
c. Mengevaluasi jalannya proses dan hasil konseling (penilaian segera).
d. Membuat perjanjian untuk pertemuan berikutnya
Pada tahap akhir ditandai beberapa hal, yaitu ;
a. Menurunnya kecemasan klien
b. Perubahan perilaku klien ke arah yang lebih positif, sehat dan dinamis.
c. Pemahaman baru dari klien tentang masalah yang dihadapinya.
d. Adanya rencana hidup masa yang akan datang dengan program yang jelas.
b. Teknik-Teknik Konseling
Dalam konseling perorangan terdapat dua jenis teknik yang biasa dilakukan, yaitu :
(1) teknik umum dan (2) teknik khusus.
1. Teknik Umum
Teknik umum merupakan teknik konseling yang lazim digunakan dalam tahapan-
tahapan konseling dan merupakan teknik dasar konseling yang harus dikuasai
oleh konselor. Untuk lebih jelasnya, di bawah ini akan disampaikan beberapa
jenis teknik umum, diantaranya :
a. Perilaku Attending
Perilaku attending disebut juga perilaku menghampiri klien yang mencakup
komponen kontak mata, bahasa tubuh, dan bahasa lisan. Perilaku attending
yang baik dapat :
1. Meningkatkan harga diri klien.
2. Menciptakan suasana yang aman
3. Mempermudah ekspresi perasaan klien dengan bebas.
Contoh perilaku attending yang baik :
1. Kepala : melakukan anggukan jika setuju
2. Ekspresi wajah : tenang, ceria, senyum
3. Posisi tubuh : agak condong ke arah klien, jarak antara konselor dengan
klien agak dekat, duduk akrab berhadapan atau berdampingan.
4. Tangan : variasi gerakan tangan/lengan spontan berubah-ubah,
menggunakan tangan sebagai isyarat, menggunakan tangan untuk
menekankan ucapan.
5. Mendengarkan : aktif penuh perhatian, menunggu ucapan klien hingga
selesai, diam (menanti saat kesempatan bereaksi), perhatian terarah pada
lawan bicara.
Contoh perilaku attending yang tidak baik :
1. Kepala : kaku
2. Muka : kaku, ekspresi melamun, mengalihkan pandangan, tidak melihat
saat klien sedang bicara, mata melotot.
3. Posisi tubuh : tegak kaku, bersandar, miring, jarak duduk dengan klien
menjauh, duduk kurang akrab dan berpaling.
4. Memutuskan pembicaraan, berbicara terus tanpa ada teknik diam untuk
memberi kesempatan klien berfikir dan berbicara.
5. Perhatian : terpecah, mudah buyar oleh gangguan luar.
b. Empati
Empati ialah kemampuan konselor untuk merasakan apa yang dirasakan
klien, merasa dan berfikir bersama klien dan bukan untuk atau tentang klien.
Empati dilakukan sejalan dengan perilaku attending, tanpa perilaku
attending mustahil terbentuk empati.
Terdapat dua macam empati, yaitu :
a. Empati primer, yaitu bentuk empati yang hanya berusaha memahami
perasaan, pikiran dan keinginan klien, dengan tujuan agar klien dapat
terlibat dan terbuka.
Contoh ungkapan empati primer :
” Saya dapat merasakan bagaimana perasaan Anda”.
” Saya dapat memahami pikiran Anda”.
” Saya mengerti keinginan Anda”.
b. Empati tingkat tinggi, yaitu empati apabila kepahaman konselor
terhadap perasaan, pikiran keinginan serta pengalaman klien lebih
mendalam dan menyentuh klien karena konselor ikut dengan perasaan
tersebut. Keikutan konselor tersebut membuat klien tersentuh dan
terbuka untuk mengemukakan isi hati yang terdalam, berupa perasaan,
pikiran, pengalaman termasuk penderitaannya.
Contoh ungkapan empati tingkat tinggi :
”Saya dapat merasakan apa yang Anda rasakan, dan
saya ikut terluka dengan pengalaman Anda itu”.

c. Refleksi
Refleksi adalah teknik untuk memantulkan kembali kepada klien tentang
perasaan, pikiran, dan pengalaman sebagai hasil pengamatan terhadap
perilaku verbal dan non verbalnya. Terdapat tiga jenis refleksi, yaitu :
1. Refleksi perasaan, yaitu keterampilan atau teknik untuk dapat
memantulkan perasaan klien sebagai hasil pengamatan terhadap perilaku
verbal dan non verbal klien.
Contoh :
” Tampaknya yang Anda katakan adalah ....”
” Barangkali Anda merasa....”
” Hal itu rupanya seperti ...(kiasan)”
” Adakah yang Anda maksudkan...”
2. Refleksi pikiran, yaitu teknik untuk memantulkan ide, pikiran, dan
pendapat klien sebagai hasil pengamatan terhadap perilaku verbal dan non
verbal klien.
Contoh :
” Tampaknya yang Anda katakan...”
” Barangkali yang akan Anda utarakan adalah...”
” Adakah yang Anda maksudkan...”
3. Refleksi pengalaman, yaitu teknik untuk memantulkan pengalaman-
pengalaman klien sebagai hasil pengamatan terhadap perilaku verbal dan
non verbal klien.
Contoh :
” Tampaknya yang Anda katakan suatu...”
” Barangkali yang akan Anda utarakan adalah...”
” Adakah yang Anda maksudkan peristiwa...”
d. Eksplorasi
Eksplorasi adalah teknik untuk menggali perasaan, pikiran, dan pengalaman
klien. Hal ini penting dilakukan karena banyak klien menyimpan rahasia
batin, menutup diri, atau tidak mampu mengemukakan pendapatnya. Dengan
teknik ini memungkinkan klien untuk bebas berbicara tanpa rasa takut,
tertekan dan terancam.
Seperti halnya pada teknik refleksi, terdapat tiga jenis dalam teknik
eksplorasi, yaitu :
1. Eksplorasi perasaan, yaitu teknik untuk dapat menggali perasaan klien
yang tersimpan.
Contoh :
” Bisakah Anda menjelaskan apa perasaan bingung yang dimaksudkan
....”
” Saya kira rasa sedih Anda sangat mendalam. Dapat Anda kemukakan
lebih lanjut ?”
2. Eksplorasi pikiran, yaitu teknik untuk menggali ide, pikiran, dan
pendapat klien.
Contoh :
” Saya yakin Anda dapat menjelaskan lebih lanjut ide Anda tentang
sekolah sambil bekerja”
” Saya kira pendapat Anda mengenai hal itu baik. Dapatkah Anda
menguraikannya lebih lanjut ?
3. Eksplorasi pengalaman, yaitu keterampilan atau teknik untuk menggali
pengalaman-pengalaman klien.
Contoh :
” Saya terkesan dengan pengalaman yang Anda lalui Namun saya ingin
memahami lebih jauh tentang pengalaman tersebut dan pengaruhnya
terhadap pendidikan Anda”
e. Menangkap Pesan (Paraphrasing)
Menangkap Pesan (Paraphrasing) adalah teknik untuk menyatakan kembali
esensi atau initi ungkapan klien dengan teliti mendengarkan pesan utama
klien, mengungkapkan kalimat yang mudah dan sederhana, biasanya ditandai
dengan kalimat awal : adakah atau nampaknya, dan mengamati respons klien
terhadap konselor.
Tujuan paraphrasing adalah : (1) untuk mengatakan kembali kepada klien
bahwa konselor bersama dia dan berusaha untuk memahami apa yang
dikatakan klien; (2) mengendapkan apa yang dikemukakan klien dalam
bentuk ringkasan ; (3) memberi arah wawancara konseling; dan (4)
pengecekan kembali persepsi konselor tentang apa yang dikemukakan klien.
Contoh dialog :
Klien : ” Itu suatu pekerjaan yang baik, akan tetapi saya tidak
mengambilnya. Saya tidak tahu mengapa demikian ? ”
Konselor : ” Tampaknya Anda masih ragu.”
f. Pertanyaan Terbuka (Opened Question)
Pertanyaan terbuka yaitu teknik untuk memancing siswa agar mau berbicara
mengungkapkan perasaan, pengalaman dan pemikirannya dapat digunakan
teknik pertanyaan terbuka (opened question). Pertanyaan yang diajukan
sebaiknya tidak menggunakan kata tanya mengapa atau apa sebabnya.
Pertanyaan semacam ini akan menyulitkan klien, jika dia tidak tahu alasan
atau sebab-sebabnya. Oleh karenanya, lebih baik gunakan kata tanya
apakah, bagaimana, adakah, dapatkah.
Contoh :
” Apakah Anda merasa ada sesuatu yang ingin kita bicarakan ? ”
” Bagaimana perasaan Anda saat ini ?”
” Dapatkah Anda mengemukakan hal itu lebih lanjut ?”
g. Pertanyaan Tertutup (Closed Question)
Dalam konseling tidak selamanya harus menggunakan pertanyaan terbuka,
dalam hal-hal tertentu dapat pula digunakan pertanyaan tertutup, yang
harus dijawab dengan kata Ya atau Tidak atau dengan kata-kata singkat.
Tujuan pertanyaan tertutup untuk : (1) mengumpulkan informasi; (2)
menjernihkan atau memperjelas sesuatu; dan (3) menghentikan pembicaraan
klien yang melantur atau menyimpang jauh.
Contoh dialog :
Klien : ”Saya berusaha meningkatkan prestasi dengan mengikuti
belajar kelompok yang selama ini belum pernah saya
lakukan”.
Konselor : ”Biasanya Anda menempati peringkat berapa ? ”.
Klien : ” Empat ”
Konselor : ” Sekarang berapa ? ”
Klien : ” Sebelas ”
h. Dorongan minimal (Minimal Encouragement)
Dorongan minimal adalah teknik untuk memberikan suatu dorongan
langsung yang singkat terhadap apa yang telah dikemukakan klien.Misalnya
dengan menggunakan ungkapan : oh..., ya...., lalu..., terus....dan...
Tujuan dorongan minimal agar klien terus berbicara dan dapat mengarah agar
pembicaraan mencapai tujuan. Dorongan ini diberikan pada saat klien akan
mengurangi atau menghentikan pembicaraannya dan pada saat klien kurang
memusatkan pikirannya pada pembicaraan atau pada saat konselor ragu atas
pembicaraan klien.
Contoh dialog :
Klien : ” Saya putus asa... dan saya nyaris... ”
(klien menghentikan pembicaraan)
Konselor : ” ya...”
Klien : ” nekad bunuh diri”
Konselor : ” lalu...”
i. Interpretasi
Yaitu teknik untuk mengulas pemikiran, perasaan dan pengalaman klien
dengan merujuk pada teori-teori, bukan pandangan subyektif konselor,
dengan tujuan untuk memberikan rujukan pandangan agar klien mengerti dan
berubah melalui pemahaman dari hasil rujukan baru tersebut.
Contoh dialog :
Klien : ” Saya pikir dengan berhenti sekolah dan memusatkan
perhatian membantu orang tua merupakan bakti saya pada
keluarga, karena adik-adik saya banyak dan amat
membutuhkan biaya.”
Konselor : ” Pendidikan tingkat SMA pada masa sekarang adalah
mutlak bagi semua warga negara. Terutama hidup di kota
besar seperti Anda. Karena tantangan masa depan makin
banyak, maka dibutuhkan manusia Indonesia yang berkualitas.
Membantu orang tua memang harus, namun mungkin
disayangkan jika orang seperti Anda yang tergolong akan
meninggalkan SMA”.
j. Mengarahkan (Directing)
Yaitu teknik untuk mengajak dan mengarahkan klien melakukan sesuatu.
Misalnya menyuruh klien untuk bermain peran dengan konselor atau
menghayalkan sesuatu.
Klien : ” Ayah saya sering marah-marah tanpa sebab. Saya tak
dapat lagi menahan diri. Akhirnya terjadi pertengkaran
sengit.”
Konselor : ” Bisakah Anda mencobakan di depan saya, bagaimana sikap
dan kata-kata ayah Anda jika memarahi Anda.”
k. Menyimpulkan Sementara (Summarizing)
Yaitu teknik untuk menyimpulkan sementara pembicaraan sehingga arah
pembicaraan semakin jelas. Tujuan menyimpulkan sementara adalah untuk :
(1) memberikan kesempatan kepada klien untuk mengambil kilas balik dari
hal-hal yang telah dibicarakan; (2) menyimpulkan kemajuan hasil
pembicaraan secara bertahap; (3) meningkatkan kualitas diskusi; (4)
mempertajam fokus pada wawancara konseling.
Contoh :
” Setelah kita berdiskusi beberapa waktu alangkah baiknya jika simpulkan
dulu agar semakin jelas hasil pembicaraan kita. Dari materi materi
pembicaraan yang kita diskusikan, kita sudah sampai pada dua hal:
pertama, tekad Anda untuk bekerja sambil kuliah makin jelas; kedua,
namun masih ada hambatan yang akan hadapi, yaitu : sikap orang tua
Anda yang menginginkan Anda segera menyelesaikan studi, dan waktu
bekerja yang penuh sebagaimana tuntutan dari perusahaan yang akan Anda
masuki.”
l. Memimpin (leading)
Yaitu teknik untuk mengarahkan pembicaraan dalam wawancara konseling
sehingga tujuan konseling .
Contoh dialog :
Klien :” Saya mungkin berfikir juga tentang masalah
hubungan dengan pacar. Tapi bagaimana ya?”
Konselor : ” Sampai ini kepedulian Anda tertuju kuliah kuliah
sambil bekerja. Mungkin Anda tinggal merinci kepedulian
itu. Mengenai pacaran apakah termasuk dalam kerangka
kepedulian Anda juga ?”
m. Fokus
Yaitu teknik untuk membantu klien memusatkan perhatian pada pokok
pembicaraan. Pada umumnya dalam wawancara konseling, klien akan
mengungkapkan sejumlah permasalahan yang sedang dihadapinya. Oleh
karena itu, konselor seyogyanya dapat membantu klien agar dia dapat
menentukan apa yang fokus masalah. Misalnya dengan mengatakan :
” Apakah tidak sebaiknya jika pokok pembicaraan kita berkisar dulu soal
hubungan Anda dengan orang tua yang kurang harmonis ”.
Ada beberapa yang dapat dilakukan, diantaranya :
1. Fokus pada diri klien.
Contoh :
” Tanti, Anda tidak yakin apa yang akan Anda lakukan ”.
” Tampaknya Anda berjuang sendirian”
2. Fokus pada orang lain.
Contoh :
” Roni, telah membuat kamu menderita, Terangkanlah tentang dia dan
apa yang telah dilakukannya ?”

3. Fokus pada topik.


Contoh :
” Pengguguran kandungan ? Kamu memikirkan aborsi ? Pikirkanlah
masak-masak dengan berbagai pertimbangan”.
4. Fokus mengenai budaya.
Contoh:
” Mungkin budaya menyerah dan mengalah pada laki-laki harus
diatas sendiri oleh kaum wanita. Wanita tak boleh menjadi
obyek laki-laki.”
n. Konfrontasi
Yaitu teknik yang menantang klien untuk melihat adanya inkonsistensi antara
perkataan dengan perbuatan atau bahasa badan, ide awal dengan ide
berikutnya, senyum dengan kepedihan, dan sebagainya. Tujuannya adalah :
(1) mendorong klien mengadakan penelitian diri secara jujur; (2)
meningkatkan potensi klien; (3) membawa klien kepada kesadaran adanya
diskrepansi; konflik, atau kontradiksi dalam dirinya.
Penggunaan teknik ini hendaknya dilakukan secara hati-hati, yaitu dengan :
(1) memberi komentar khusus terhadap klien yang tidak konsisten dengan
cara dan waktu yang tepat;(2) tidak menilai apalagi menyalahkan; (3)
dilakukan dengan perilaku attending dan empati.
Contoh dialog :
Klien : ” Saya baik-baik saja”.
(suara rendah, wajah murung, posisi tubuh gelisah).”
Konselor :” Anda mengatakan baik-baik saja, tapi kelihatannya ada yang
tidak beres”
”Saya melihat ada perbedaan antara ucapan dengan
kenyataan diri ”.
o. Menjernihkan (Clarifying)
Yaitu teknik untuk menjernihkan ucapan-ucapan klien yang samar-samar,
kurang jelas dan agak meragukan. Tujuannya adalah : (1) mengundang klien
untuk menyatakan pesannya dengan jelas, ungkapan kata-kata yang tegas,
dan dengan alasan-alasan yang logis, (2) agar klien menjelaskan, mengulang
dan mengilustrasikan perasaannya.
Contoh dialog :
Klien : ” Perubahan yang terjadi di keluarga saya membuat saya
bingung. Saya tidak mengerti siapa yang menjadi pemimpin di
rumah itu.”
Konselor : ”Bisakah Anda menjelaskan persoalan pokoknya ? Misalnya
peran ayah, ibu, atau saudara-saudara Anda.”
p. Memudahkan (facilitating)
Yaitu teknik untuk membuka komunikasi agar klien dengan mudah berbicara
dengan konselor dan menyatakan perasaan, pikiran, dan pengalamannya
secara bebas
Contoh :
” Saya yakin Anda akan berbicara apa adanya, karena saya akan
mendengarkan dengan sebaik-baiknya.”
q. Diam
Teknik diam dilakukan dengan cara attending, paling lama 5 – 10 detik,
komunikasi yang terjadi dalam bentuk perilaku non verbal. Tujuannya adalah
(1) menanti klien sedang berfikir; (2) sevagai protes jika klien ngomong
berbelit-belit; (3) menunjang perilaku attending dan empati sehingga klien
babas bicara.
Contoh dialog :
Klien :”Saya tidak senang dengan perilaku guru itu”
Konselor :”..............” (diam)
Klien :” Saya..harus bagaimana.., Saya.. tidak tahu..
Konselor :”..............” (diam)
r. Mengambil Inisiatif
Teknik ini dilakukan manakala klien kurang bersemangat untuk berbicara,
sering diam, dan kurang parisipatif. Konselor mengajak klien untuk
berinisiatif dalam menuntaskan diskusi. Teknik ini bertujuan : (1) mengambil
inisiatif jika klien kurang semangat; (2) jika klien lambat berfikir untuk
mengambil keputusan; (3) jika klien kehilangan arah pembicaraan.
Contoh:
” Baiklah, saya pikir Anda mempunyai satu keputusan namun masih belum
keluar. Coba Anda renungkan kembali”.
s. Memberi Nasehat
Pemberian nasehat sebaiknya dilakukan jika klien memintanya. Walaupun
demikian, konselor tetap harus mempertimbangkannya apakah pantas untuk
memberi nasehat atau tidak. Sebab dalam memberi nasehat tetap dijaga agar
tujuan konseling yakni kemandirian klien harus tetap tercapai.
Contoh respons konselor terhadap permintaan klien :
” Apakah hal seperti ini pantas saya untuk memberi nasehat Anda ? Sebab,
dalam hal seperti ini saya yakin Anda lebih mengetahuinya dari pada saya.”
t. Pemberian informasi
Sama halnya dengan nasehat, jika konselor tidak memiliki informasi
sebaiknya dengan jujur katakan bahwa dia mengetahui hal itu. Kalau pun
konselor mengetahuinya, sebaiknya tetap diupayakan agar klien
mengusahakannya.
Contoh :
” Mengenai berapa biaya masuk ke Universitas Pendidikan Indonesia, saya
sarankan Anda bisa langsung bertanya ke pihak UPI atau Anda berkunjung
ke situs www.upi.com di internet”.
u. Merencanakan
Teknik ini digunakan menjelang akhir sesi konseling untuk membantu agar
klien dapat membuat rencana tindakan (action), perbuatan yang produktif
untuk kemajuan klien.
Contoh :
” Nah, apakah tidak lebih baik jika Anda mulai menyusun rencana yang baik
berpedoman hasil pembicaraan kita sejak tadi ”
v. Menyimpulkan
Teknik ini digunakan untuk menyimpulkan hasil pembicaraan yang
menyangkut : (1) bagaimana keadaan perasaan klien saat ini, terutama
mengenai kecemasan; (2) memantapkan rencana klien; (3) pemahaman baru
klien; dan (4) pokok-pokok yang akan dibicarakan selanjutnya pada sesi
berikutnya, jika dipandang masih perlu dilakukan konseling lanjutan.
2. Teknik-Teknik Khusus
Dalam konseling, di samping menggunakan teknik-teknik umum, dalam hal-hal
tertentu dapat menggunakan teknik-teknik khusus. Teknik-teknik khusus ini
dikembangkan dari berbagai pendekatan konseling, seperti pendekatan
Behaviorisme, Rational Emotive Theraphy, Gestalt dan sebagainya
Di bawah disampaikan beberapa teknik – teknik khusus konseling, yaitu :
a. Latihan Asertif
Teknik ini digunakan untuk melatih klien yang mengalami kesulitan untuk
menyatakan diri bahwa tindakannya adalah layak atau benar. Latihan ini
terutama berguna di antaranya untuk membantu individu yang tidak mampu
mengungkapkan perasaan tersinggung, kesulitan menyatakan tidak,
mengungkapkan afeksi dan respon posistif lainnya. Cara yang digunakan
adalah dengan permainan peran dengan bimbingan konselor. Diskusi-diskusi
kelompok juga dapat diterapkan dalam latihan asertif ini.
b. Desensitisasi Sistematis
Desensitisasi sistematis merupakan teknik konseling behavioral yang
memfokukskan bantuan untuk menenangkan klien dari ketegangan yang
dialami dengan cara mengajarkan klien untuk rileks. Esensi teknik ini adalah
menghilangkan perilaku yang diperkuat secara negatif dan menyertakan
respon yang berlawanan dengan perilaku yang akan dihilangkan. Dengan
pengkondisian klasik respon-respon yang tidak dikehendaki dapat
dihilangkan secara bertahap. Jadi desensitisasi sistematis hakekatnya
merupakan teknik relaksi yang digunakan untuk menghapus perilaku yang
diperkuat secara negatif biasanya merupakan kecemasan, dan ia menyertakan
respon yang berlawanan dengan perilaku yang akan dihilangkan.
c. Pengkondisian Aversi
Teknik ini dapat digunakan untuk menghilangkan kebiasaan buruk. Teknik
ini dimaksudkan untuk meningkatkan kepekaan klien agar mengamati respon
pada stimulus yang disenanginya dengan kebalikan stimulus tersebut.
Stimulus yang tidak menyenangkan yang disajikan tersebut diberikan secara
bersamaan dengan munculnya perilaku yang tidak dikehendaki
kemunculannya. Pengkondisian ini diharapkan terbentuk asosiasi antara
perilaku yang tidak dikehendaki dengan stimulus yang tidak menyenangkan.
d. Pembentukan Perilaku Model
Teknik ini dapat digunakan untuk membentuk Perilaku baru pada klien, dan
memperkuat perilaku yang sudah terbentuk. Dalam hal ini konselor
menunjukkan kepada klien tentang perilaku model, dapat menggunakan
model audio, model fisik, model hidup atau lainnya yang teramati dan
dipahami jenis perilaku yang hendak dicontoh. Perilaku yang berhasil
dicontoh memperoleh ganjaran dari konselor. Ganjaran dapat berupa pujian
sebagai ganjaran sosial.
e. Permainan Dialog
Teknik ini dilakukan dengan cara klien dikondisikan untuk mendialogan dua
kecenderungan yang saling bertentangan, yaitu kecenderungan top dog dan
kecenderungan under dog, misalnya :
1. Kecenderungan orang tua lawan kecenderungan anak.
2. Kecenderungan bertanggung jawab lawan kecenderungan masa bodoh.
3. Kecenderungan “anak baik” lawan kecenderungan “anak bodoh”.
4. Kecenderungan otonom lawan kecenderungan tergantung.
5. Kecenderungan kuat atau tegar lawan kecenderungan lemah.
Melalui dialog yang kontradiktif ini, menurut pandangan Gestalt pada
akhirnya klien akan mengarahkan dirinya pada suatu posisi di mana ia berani
mengambil resiko. Penerapan permainan dialog ini dapat dilaksanakan
dengan menggunakan teknik “kursi kosong”.
f. Latihan Saya Bertanggung Jawab
Merupakan teknik yang dimaksudkan untuk membantu klien agar mengakui
dan menerima perasaan-perasaannya dari pada memproyeksikan perasaannya
itu kepada orang lain.
Dalam teknik ini konselor meminta klien untuk membuat suatu pernyataan
dan kemudian klien menambahkan dalam pernyataan itu dengan kalimat :
“...dan saya bertanggung jawab atas hal itu”.
Misalnya :
“Saya merasa jenuh, dan saya bertanggung jawab atas kejenuhan itu”
“Saya tidak tahu apa yang harus saya katakan sekarang, dan saya
bertanggung jawab atas ketidaktahuan itu”.
“Saya malas, dan saya bertanggung jawab atas kemalasan itu”
Meskipun tampaknya mekanis, tetapi menurut Gestalt akan membantu
meningkatkan kesadaraan klien akan perasaan-perasaan yang mungkin
selama ini diingkarinya.
g. Bermain Proyeksi
Proyeksi :
 Memantulkan kepada orang lain perasaan-perasaan yang dirinya sendiri
tidak mau melihat atau menerimanya
 Mengingkari perasaan-perasaan sendiri dengan cara memantulkannya
kepada orang lain.
Sering terjadi, perasaan-perasaan yang dipantulkan kepada orang lain
merupakan atribut yang dimilikinya. Dalam teknik bermain proyeksi
konselor meminta kepada klien untuk mencobakan atau melakukan hal-hal
yang diproyeksikan kepada orang lain.
h. Teknik Pembalikan
Gejala-gejala dan perilaku tertentu sering kali mempresentasikan pembalikan
dari dorongan-dorongan yang mendasarinya. Dalam teknik ini konselor
meminta klien untuk memainkan peran yang berkebalikan dengan perasaan-
perasaan yang dikeluhkannya.
Misalnya : konselor memberi kesempatan kepada klien untuk memainkan
peran “ekshibisionis” bagi klien pemalu yang berlebihan.
i. Bertahan dengan Perasaan
Teknik ini dapat digunakan untuk klien yang menunjukkan perasaan atau
suasana hati yang tidak menyenangkan atau ia sangat ingin menghindarinya.
Konselor mendorong klien untuk tetap bertahan dengan perasaan yang ingin
dihindarinya itu.
Kebanyakan klien ingin melarikan diri dari stimulus yang menakutkan dan
menghindari perasaan-perasaan yang tidak menyenangkan. Dalam hal ini
konselor tetap mendorong klien untuk bertahan dengan ketakutan atau
kesakitan perasaan yang dialaminya sekarang dan mendorong klien untuk
menyelam lebih dalam ke dalam tingkah laku dan perasaan yang ingin
dihindarinya itu.
Untuk membuka dan membuat jalan menuju perkembangan kesadaran
perasaan yang lebih baru tidak cukup hanya mengkonfrontasi dan
menghadapi perasaan-perasaan yang ingin dihindarinya tetapi membutuhkan
keberanian dan pengalaman untuk bertahan dalam kesakitan perasaan yang
ingin dihindarinya itu.
j. Home work assigments,
Teknik yang dilaksanakan dalam bentuk tugas-tugas rumah untuk melatih,
membiasakan diri, dan menginternalisasikan sistem nilai tertentu yang
menuntut pola perilaku yang diharapkan. Dengan tugas rumah yang
diberikan, klien diharapkan dapat mengurangi atau menghilangkan ide-ide
dan perasaan-perasaan yang tidak rasional dan tidak logis, mempelajari
bahan-bahan tertentu yang ditugaskan untuk mengubah aspek-aspek
kognisinya yang keliru, mengadakan latihan-latihan tertentu berdasarkan
tugas yang diberikan. Pelaksanaan home work assigment yang diberikan
konselor dilaporkan oleh klien dalam suatu pertemuan tatap muka dengan
konselor. Teknik ini dimaksudkan untuk membina dan mengembangkan
sikap-sikap tanggung jawab, kepercayaan pada diri sendiri serta kemampuan
untuk pengarahan diri, pengelolaan diri klien dan mengurangi
ketergantungannya kepada konselor.
k. Adaptive
Teknik yang digunakan untuk melatih, mendorong, dan membiasakan klien
untuk secara terus-menerus menyesuaikan dirinya dengan perilaku yang
diinginkan. Latihan-latihan yang diberikan lebih bersifat pendisiplinan diri
klien.

l. Bermain peran
Teknik untuk mengekspresikan berbagai jenis perasaan yang menekan
(perasaan-perasaan negatif) melalui suatu suasana yang dikondisikan
sedemikian rupa sehingga klien dapat secara bebas mengungkapkan dirinya
sendiri melalui peran tertentu.
m. Imitasi
Teknik untuk menirukan secara terus menerus suatu model perilaku tertentu
dengan maksud menghadapi dan menghilangkan perilakunya sendiri yang
negatif.

D. Latihan :
Soal :

1. Di bawah ini merupakan pengertian bimbingan dan konseling, kecuali :


a. Bimbingan dan konseling merupakan proses bantuan terhadap individu untuk
mencapai pemahaman diri yang dibutuhkan untuk melakukan penyesuaian diri secara
maksimum di sekolah, keluarga dan masyarakat.
b. Bimbingan dan konseling merupakan bantuan yang diberikan kepada peserta didik
dalam rangka menemukan pribadi, mengenal lingkungan, dan merencanakan masa
depan.
c. Bimbingan dan konseling merupakan upaya untuk membantu mengatasi masalah-
masalah yang dihadapi peserta didik.
d. Bimbingan dan konseling merupakan layanan bantuan untuk peserta didik, baik
secara perorangan maupun kelompok agar mandiri dan berkembang secara optimal,
dalam bimbingan pribadi, bimbingan sosial, bimbingan belajar, dan bimbingan karier,
melalui berbagai jenis layanan dan kegiatan pendukung, berdasarkan norma-norma
yang berlaku.
2. Fungsi bimbingan dan konseling yang menghasilkan kondisi pembelaaan terhadap
pengingkaran atas hak-hak dan/atau kepentingan pendidikan.
a. Pemahaman dan pencegahan
b. Pengembangan
c. Advokasi
d. Pengentasan
3. Prinsip bimbingan dan konseling berkenaan dengan sasaran layanan
a. Pengambilan keputusan yang diambil oleh klien hendaknya atas kemauan diri sendiri
b. Bimbingan dan konseling melayani semua individu tanpa memandang usia, jenis
kelamin, suku, agama dan status sosial.
c. Program bimbingan dan konseling harus fleksibel dan disesuaikan dengan kebutuhan
peserta didik maupun lingkungan.
d. Bimbingan dan konseling diarahkan untuk pengembangan individu yang akhirnya
mampu secara mandiri membimbing diri sendiri.
4. Di bawah ini merupakan beberapa asas yang harus dipenuhi dalam layanan bimbingan
dan konseling,
a. kerahasiaan, sukarela, keterbukaan, keahlian
b. kegiatan, kemandirian, kekinian, kedinamisan, keterpaduan
c. kenormatifan, alih tangan kasus, tut wuri handayani
d. a, b, dan c benar
5. Layanan bimbingan dan konseling yang memiliki fungsi pemahaman dan pencegahan.
a. Orientasi dan Informasi
b. Konseling Perorangan dan Konseling Kelompok
c. Pembelajaran dan Bimbingan Kelompok
d. Penempatan
6. Jenis layanan yang memungkinan peserta didik mendapatkan layanan langsung tatap
muka untuk mengentaskan permasalahan yang dihadapinya dan perkembangan dirinya.
a. Orientasi
b. Informasi
c. Konseling Perorangan
d. Pembelajaran
7. Bimbingan dan konseling merupakan pekerjaan ilmiah. Oleh karena itu, setiap layanan
yang diberikan kepada peserta didik hendaknya didukung oleh :
a. Petugas bimbingan yang profesional
b. Data yang lengkap dan memadai
c. Bekerja sama dengan kalangan profesional lainnya
d. a, b, dan c benar
8. Tujuan dilaksanakan kegiatan konferensi kasus.
a. Mencari cara yang terbaik guna menyelamatkan kepentingan dan nama baik klien
maupun sekolah.
b. Memperoleh keterangan yang lebih lengkap tentang klien dan membangun komitmen
dari para peserta konferensi dalam rangka pengentasan masalah klien.
c. Membangun komitmen dari para peserta konferensi dalam rangka penegakan
disiplin sekolah.
d. a, b, dan c benar
9. Kegiatan pendukung yang dilakukan guru atau konselor, apabila kasus yang ditangani
berada diluar kemampuan atau kewenangannya.
a. Kunjungan rumah
b. Konferensi kasus
c. Alih tangan kasus
d. Aplikasi instrumentasi data
10. Penanganan peserta didik yang menunjukkan permasalahan atau perilaku menyimpang
tingkat ringan, seperti bolos, berkelahi dengan teman, dapat dilakukan oleh :
a. Guru pembimbing/konselor
b. Guru dan wali kelas
c. Polisi
d. a, b dan c benar
11. Upaya untuk menemukan faktor-faktor penyebab atau yang melatarbelakangi timbulnya
masalah peserta didik.
a. Identifikasi kasus
b. Diagnosis
c. Prognosis
d. Treatment
12. Di bawah ini merupakan hal-hal yang perlu dilakukan pada tahap awal konseling, kecuali
a. Membangun hubungan konseling yang melibatkan klien (rapport).
b. Memperjelas dan mendefinisikan masalah.
c. Menjelajahi dan mengeksplorasi masalah klien lebih.
d. Membuat penaksiran dan perjajagan
13. Contoh ungkapan penggunaan teknik konfrontasi :
a. ”Saya yakin Anda akan berbicara apa adanya, karena saya akan mendengarkan
dengan sebaik-baiknya.”
b. ”Anda mengatakan baik-baik saja, tapi kelihatannya ada yang tidak beres”.
c. ” Saya kira rasa sedih Anda sangat mendalam. Dapat Anda kemukakan lebih
lanjut ? ”
d. ”Saya dapat memahami pikiran Anda”.
14. Teknik konseling dengan menghilangkan perilaku yang diperkuat secara negatif dan
menyertakan respon yang berlawanan dengan perilaku yang akan dihilangkan.
a. Aversi
b. Desensitisasi
c. Latihan asertif
d. Pembentukan Perilaku Model
15. Teknik untuk mengekspresikan berbagai jenis perasaan yang menekan (perasaan-
perasaan negatif) melalui suatu suasana yang dikondisikan sedemikian rupa sehingga
klien dapat secara bebas mengungkapkan dirinya sendiri melalui peran tertentu.
a. Imitasi
b. Permainan dialog
c. Bermain peran
d. Home work assigments
Uraian
1. Jelaskan orientasi baru bimbingan dan konseling !
2. Jelaskan peran Kepala Sekolah dan Guru Mata Pelajaran dalam Bimbingan dan
Konseling !
3. Mengapa guru pembimbing (konselor) perlu menjaga kerahasiaan data klien ?
4. Analisis Kasus :
Fulan seorang siswa kelas XI SMA Negeri 1 Nunjauh Disana. Ketika dia masih duduk di
bangku kelas VIII SMP, dia telah menjadi anak yatim dan semenjak itu dia hidup
bersama dengan kakek-neneknya, dengan kondisi ekonomi yang pas-pasan. Sementara
itu, sang ibu sudah satu tahun ini pergi merantau ke Malaysia menjadi TKI di sana namun
jarang memberi khabar apalagi memberi kiriman uang untuk anaknya.

Berdasarkan catatan absensi yang ada di wali kelas, pada semester yang lalu dia sering
tidak masuk sekolah, tanpa alasan yang jelas. Selama bulan Februari 2006, tercatat sudah
tujuh hari dia tidak masuk kelas. Padahal ketika masih duduk di kelas X kehadirannya
termasuk bagus. Berdasarkan informasi dari rekan sekelasnya, bahwa jika dia tidak
masuk kelas, dia suka nongkrong di terminal. Bahkan Andi, kawan sekelasnya, pernah
menyaksikan dia dalam keadaan teler di terminal dan sempat meminta paksa uang
kepadanya.

Dalam buku Laporan Pendidikan semester yang lalu, prestasi belajarnya sungguh sangat
tidak memuaskan, hampir terjadi pada semua mata pelajaran, kecuali untuk Mata
Pelajaran Kesenian, prestasinya malah jauh berada di atas kawan-kawannya. Ketika dia
masih duduk dibangku SD, dia pernah meraih predikat sebagai Siswa Berprestasi se-
Kecamatan Nunjauh Disana dan pernah menjadi Juara Pertama Lomba Nyanyi Anak-
Anak se- Kabupaten Nun Jauh Disana.

Melihat kondisi demikian, jika dibiarkan tentunya Fulan sangat beresiko tinggi untuk
tidak naik kelas bahkan mungkin dikeluarkan dari sekolah.

Tugas :

Tuntaskan kasus tersebut di atas dengan memperhatikan dan menggunakan prinsip-


prinsip dan prosedur bimbingan dan konseling !
DAFTAR PUSTAKA
Abin Syamsuddin Makmun. 2003. Psikologi Pendidikan. Bandung : PT Rosda Karya Remaja.
Calvin S. Hall & Gardner Lidzey (editor A. Supratiknya). 2005. Teori-Teori Psiko Dinamik (Klinis) :
Jakarta : Kanisius
Chaplin, J.P. (terj. Kartini Kartono).2005. Kamus Lengkap Psikologi. Jakarta : P.T. Raja Grafindo Persada.
Depdiknas, 2004. Dasar Standarisasi Profesi Konseling. Jakarta : Bagian Proyek Peningkatan Tenaga
Akdemik Dirjen Dikti
--------- 2003. Pedoman Penyelenggaraaan Program Percepatan Belajar SD, SMP dan SMA. Jakarta :
Dirjen Dikdasmen.
E. Mulyasa. 2003. Kurikulum Berbasis Kompetensi. Konsep,Karakteristik dan Implementasi.Bandung : P.T.
Remaja Rosdakarya.
---------. 2004. Implementasi Kurikulum 2004; Panduan Pembelajaran KBK. Bandung : P.T. Remaja
Rosdakarya.
Gendler, Margaret E..1992. Learning & Instruction; Theory Into Practice. New York : McMillan
Publishing.
H.M. Arifin. 2003. Teori-Teori Konseling Agama dan Umum. Jakarta. PT Golden Terayon Press.
Hurlock, Elizabeth B. 1980. Developmental Phsychology. New Yuork : McGraw-Hill Book Company
Moh. Surya. 1997. Psikologi Pembelajaran dan Pengajaran. Bandung PPB - IKIP Bandung.
Muhibbin Syah. 2003. Psikologi Belajar. Jakarta : PT Raja Grafindo.
Nana Syaodih Sukmadinata. 2005. Landasan Psikologi Proses Pendidikan. Bandung : P.T. Remaja
Rosdakarya.
National Board for Professional Teaching Standards. 2002 . Five Core Propositions. NBPTS Home Page.
<http://www.nbpts.org/ standards/fivecore.html>. (Accessed, 31 Oct 2002).
Prayitno, dkk. 2004. Pedoman Khusus Bimbingan dan Konseling, Jakarta : Depdiknas.
----------, dkk. 2004. Panduan Kegiatan Pengawasan Bimbingan dan Konseling, Jakarta : Rineka Cipta.
Sofyan S. Willis. 2004.Konseling Individual; Teori dan Praktek. Bandung : Alfabeta
Sudarwan Danim. 2002. Inovasi Pendidikan : Dalam Upaya Meningkatkan Profesionalisme Tenaga
Kependidikan. Bandung : Pustaka Setia.
Sugiharto.(2005. Pendekatan dalam Konseling (Makalah). Jakarta : PPPG
Sumadi Suryabrata. 1984. Psikologi Kepribadian. Jakarta : Rajawali.
Sunaryo Kartadinata.2003. Inventori Tugas Perkembangan. Bandung : Lab. PPB-UPI Bandung
Suyanto dan Djihad Hisyam. 2000. Refleksi dan Reformasi Pendidikan Indonesia Memasuki Millenium
III. Yogyakarta : Adi Cita.
Syamsu Yusuf LN. 2003. Psikologi Perkembangan Anak dan Remaja.. Bandung : PT Rosda Karya
Remaja.

www.puskur.go.id.