Anda di halaman 1dari 9

UJIAN AKHIR SEMESTER (TAKE HOME) MATA KULIAH AKUNTANSI DAN KEUANGAN SYARIAH

Disusun oleh: Brenda Tiffani (0910230052 / CA)

JURUSAN AKUNTANSI FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS UNIVERSITAS BRAWIJAYA MALANG 2012

NAMA NIM MATA KULIAH KELAS DOSEN

: BRENDA TIFFANI : 0910230052 : AKUNTANSI DAN KEUANGAN SYARIAH : CA : Achmad Zaky, MSA.,Ak.,SAS

SOAL KONSEP
Gambar A

Ilustrasi dalam gambar A ini biasa terjadi jika kita membeli sepeda motor di dealer dengan sistem kredit. Transaksi semacam ini merupakan contoh dari akad HAWALAH karena terjadi pengalihan piutang dari dealer kepada bank atau perusahaan finance. Dealer selaku pihak yang memiliki piutang (muhal) meminta bank (muhal alaih) untuk mengambil alih piutangnya sehingga nantinya klien (muhil) akan membayar utangnya kepada bank (muhal alaih) bukan lagi kepada dealer (muhal). Transaksi ini merupakan transaksi yang mulia karena didalamnya ada unsur tolong menolong untuk meringankan beban klien dengan menanggung terlebih dahulu utangnya. Namun transaksi seperti yang ada dalam ilustrasi menjadi salah,

hawalah tidak seharusnya dicampuradukkan dengan transaksi jual beli, selain itu transaksi ini melanggar syariat karena beberapa hal berikut : 1. Klien dituntut untuk membayar motor tersebut dengan harga yang lebih mahal dibanding jika dia membeli dengan cara tunai. Jadi misalnya kalau beli tunai dia cuma harus bayar 12juta, kalau belinya kredit klien harus membayar 15juta kepada bank. Hal ini jelas bahwa ada riba di dalam akad ini karena ada tambahan harga yang harus dibayar oleh klien, dan hal ini dilarang dalam syariat. 2. Klien harus membayar uang jaminan atau uang muka yang sifatnya tidak dapat diambil apabila jual beli dibatalkan. Hal ini juga tidak sesuai dengan prinsip syariah. 3. Bank membeli motor dari dealer dan membayar harga motor tersebut namun motor tersebut tidak sampai ditangan bank selaku pembeli, bank hanya melakukan perjanjian jual beli tanpa menerima barangnya. Jadi sama saja bank menjual motor kepada klien padahal dia belum memegang fisik motornya. Salah satu buktinya adalah surat kepemilikan motor tersebut bukan atas nama bank melainkan nama klien. Hal ini melanggar prinsip syariah karena terdapat unsur gharar didalamnya. 4. Dalam jual beli kredit seperti yang digambarkan dalam ilustrasi diatas, biasanya apabila klien tidak sanggup membayar cicilan maka motor akan disita dan angsuran yang telah disetorkan tidak dapat diambil kembali, jadi seakan-akan angsuran yang dibayarkan tersebut dianggap uang sewa atas motor tersebut. 5. Dalam pembayaran angsuran motor, sistemnya adalah terdapat pembayaran pokok dan bunga, di bulan-bulan awal pembayaran bunga akan lebih besar daripada pokok sehingga saat klien berniat untuk melunasi motor tersebut sebelum tanggal jatuh tempo, pokok yang harus dibayarkan masih sangat besar. Selain itu juga jika angsuran dilunasi lebih awal klien diahruskan untuk membayar biaya lebih kepada dealer. Dari aspek akuntansi hawalah sama dengan pengalihan piutang dari satu pihak ke pihak yang lain. Namun mungkin jika merujuk dari ilustrasi diatas, jurnal yang dicatat akan ada dua, yakni jurnal pengalihan utang piutang, dan juga jurnal jual beli (murabahah). Dari pihak bank (muhal alaih) akan mengambil alih piutang dari dealer (muhal) sehingga untuk penagihan piutang nantinya akan dilakukan oleh muhal alaih selaku penerima pengalihan piutang. Klien (muhil) membayar utangnya bukan kepada muhil melainkan kepada bank

(muhal alaih). Klien (muhil) juga harus melakukan pencatatan pengalihan utang karena awalnya dia berhutang kepada dealer, hal ini bisa dilihat dengan penyerahan uang muka kepada dealer namun kemudian hutangnya beralih menjadi ke bank. Jika klien ditengahtengah angsuran gagal bayar, maka dibuat penyisihan piutang dan aset disita oleh pihak bank untuk dilelang. Pengakuan aset oleh klien dilakukan pada saat klien telah memberikan uang muka (down payment). Aset dicatat oleh klien sebesar jumlah utang (seharga motor kredit). Utang kepada dealer dicatat sebesar harga motor kredit dikurangi uang muka yang telah diberikan. Dealer mencatat kas sebesar uang muka yang diberikan klien, piutang dicatat sebesar harga tunai motor dikurangi uang muka yang telah diberikan. Penjualan dicatat sebesar harga tunai motor. Pada saat pengalihan piutang, bank membayar kas sebesar harga tunai motor dikurangi uang muka yang telah diterima oleh dealer. Dealer menerima kas sebesar kas yang dikeluarkan dealer. Klien mencatat pengalihan piutang dari dealer ke bank. Pada saat pembayaran cicilan, klien membayar kas dan mengkredit piutangnya sejumlah angsuran yang ditetapkan. Dealer mencatat kas sejumlah kas yang dikeluarkan klien dan mengkredit piutang sebesar amortisasi piutang, sisanya dicatat sebagai pendapatan bunga.
Dealer Kas Piutang Penjualan HPP xxx xxx xxx No Entry xxx Persediaan Barang Dagang xxx Pengalihan piutang kepada bank Piutang xxx xxx Kas xxx Pembayaran cicilan Kas xxx Piutang xxx Pendapatan bunga xxx Bank Pembelian motor oleh klien Klien Aset xxx Kas Utang-Dealer

xxx xxx

Kas Piutang

xxx

Utang Dealer Utang Bank

xxx xxx

No Entry

Utang-Bank Kas

xxx xxx

GAMBAR B

Ilustrasi pada gambar B menunjukkan transaksi akad MURABAHAH yakni jual beli motor antar pihak pembeli dan pihak penjual dimana pihak pembeli mengetahui dan menyepakati harga pokok penjualan dan margin keuntungan yang diminta. Murabahah dalam ilustrasi ini termasuk dalam kategori murabahah dengan pesanan karena sebelum akad murabahah terjadi, pembeli menyebutkan barang seperti apa yang hendak dia beli. Jadi awalnya klien mendatangi bank dan mengutarakan maksudnya untuk membeli sebuah motor, kemudian bank membeli sebuah motor sesuai dengan yang diminta oleh klien kepada dealer secara tunai atas nama bank, bukan atas nama klien. Setelah itu motor yang dibeli oleh bank disimpan oleh bank sebagai persediaan. Klien lalu mendatangi bank dan membeli motor tersebut dengan cara mencicil (kredit), bank dapat mengambil keuntungan dengan mengambil margin dari penjualan motor tersebut kepada klien. Jadi misalnya bank membeli motor di dealer 12juta, maka bank dapat menjualnya pada klien seharga 13juta. margin keuntungan dan harga pokok penjualan harus diketahui dan disepakati oleh kedua belah pihak, baik dari pihak bank maupun klien. Akad ini sudah benar menurut prinsip syariah karena tidak ada riba. Tambahan harga jual motor kepada klien bukanlah termasuk riba, melainkan margin keuntungan yang jumlahnya telah disepakati oleh pihak pembeli dan pihak penjual. Uang muka yang diberikan

kepada pihak bank juga biasanya digunakan sebagai bukti keseriusan pembeli dan akan mengurangi jumlah angsuran yang harus dibayar. Transaksi ini sama seperti jual beli pada umumnya, hanya saja mungkin transaksi jual beli dilakukan dua kali. Antara bank dengan dealer, dan bank dengan klien. Bank menerima keuntungan dari margin yang telah disepakati dan bukan dari pendapatan bunga. jadi nanti tidak ada pendapatan bunga. jika terjadi gagal bayar, maka aset akan dilelang dan uang hasil lelang akan digunakan untuk melunasi angsuran, sisanya diserahkan kepada klien. Dealer menerima kas sejumlah harga tunai motor. Bank membayar motor dan mencatatnya sebagai persediaan. Bank kemudian menjual motor ke klien secara kredit sehingga terdapat piutang yang diakui. Piutang dicatat sebesar harga motor + margin keuntungan yang disepakati dikurangi uang muka yang telah diserahkan klien. Penjualan dicatat sebesar harga motor + margin keuntungan. Klien mengakui aset pada saat dia telah menyerahkan uang muka (down payment). Karena pembayaran dilakukan secara kredit maka klien mencatat utang bank sebesar harga yang telah disepakati dikurangi uang muka yang telah disetorkan. Pada saat pembayaran cicilan utang bank didebet sejumlah utang dibagi jangka waktu kredit. Tidak ada pendapatan bunga yang diakui oleh bank
Dealer Kas xxx Penjualan xxx Persediaan Barang Dagang Bank Pembelian motor oleh bank Persediaan xxx Kas xxx Klien

xxx

HPP

xxx Penjualan motor ke klien Kas xxx Piutang xxx Murabahah Penjualan HPP xxx Persediaan Pembayaran cicilan Kas xxx Piutang

Aset Murabahah xxx Kas xxx xxx Utang-Bank Kas xxx xxx Utang Bank xxx xxx

xxx

SOAL KASUS AKUNTANSI


Keterangan Modal Kas Modal Non Kas Nisbah Keuntungan Nisbah Kerugian Tn.Andrea Rp. 200.000.000,-60 % 40%* Tn. Pirlo Rp. 300.000.000,-40% 60%*

Keterangan : * nisbah kerugian dihitung berdasarkan modal yang disetorkan Nisbah Kerugian Tn. Andrea : (Rp. 200.000.000/Rp. 500.000.000)*100% Nisbah Kerugian Tn. Pirlo : (Rp. 300.000.000/ Rp. 500.000.000)*100%

1. Akad yang paling tepat untuk menggambarkan usaha Tn. Andrea dan Tn. Pirlo adalah akad MUSYARAKAH. Alasannya karena kedua mitra berkontribusi baik dalam modal maupun kerja. Keuntungan dari usaha ini dibagikan sesuai dengan nisbah yang disepakati kedua mitra pada saat akad, sedangkan kerugian akan ditanggung para mitra sesuai dengan proporsi modal yang disetorkan. Usaha Tn. Andrea dan Tn. Pirlo merupakan jenis Syirkah Inan yaitu bentuk kerja sama dimana posisi dan komposisi pihak-pihak yang terlibat didalamnya adalah tidak sama, baik dalam hal modal maupun pekerjaan. Tanggung jawab para mitra berbeda dalam pengeolaan usaha. Setiap mitra bertindak sebagai kuasa (agen) dari kemitraan tersebut tetapi bukan merupakan penjamin bagi mitra usaha lainnya. Namun demikian, kewajiban terhadap pihak ketiga adalah sendiri-sendiri, tidak ditanggung secara bersama.

Transaksi (dalam ribuan rupiah) 1 Januari 2012 Tn. Andrea menyetorkan modal sebesar Rp. 200.000.000 Tn. Pirlo menyetorkan modal sebesar Rp. 300.000.000 31 April 2012 Perusahaan memperoleh keuntungan Rp 20.000.000 Keuntungan dibagikan secara tunai Kas Kas

Mitra Aktif (Tn. Andrea) Inv estasi Musyarakah Rp. 200.000.000

Mitra Pasif (Tn. Pirlo) Inv estasi Musyarakah Rp. 300.000.000 Kas

Perusahaan/Mitra Aktif Rp. 500.000.000 Dana Syirkah Temporer - Tn.

Rp. 200.000.000

Kas

Rp. 300.000.000

Andrea Dana Syirkah Temporer - Tn. Pirlo

Rp. 200.000.000 Rp. 300.000.000 Rp 20.000.000

Rp. 12.000.000 Pendapatan bagi hasil Rp. 12.000.000

Kas Pendapatan bagi hasil (20.000.000* 40%) Piutang pendapatan

Rp. 8.000.000 Rp. 8.000.000

Kas Pendapatan yang belum dibagikan Beban Bagi Hasil Kas

Rp 20.000.000 Rp 20.000.000 Rp 20.000.000 Rp 10.000.000

(20.000.000* 60%) Piutang pendapatan

31 September 2012 Perusahaan memperoleh keuntungan Rp 10.000.000

bagi hasil Pendapatan bagi hasil (10.000.000* 60%)

Rp. 6.000.000 Rp. 6.000.000

bagi hasil Pendapatan bagi hasil (10.000.000* 40%)

Rp. 4.000.000 Rp. 4.000.000

Kas Pendapatan yang belum dibagikan Beban Bagi Hasil Utang bagi hasil

Rp 10.000.000 Rp 10.000.000 Rp 10.000.000 Rp 10.000.000

1 Oktober 2012

Kas Piutang pendapatan bagi

Rp. 6.000.000

Kas Piutang pendapatan bagi

Rp. 4.000.000

Utang bagi hasil

Pembayaran Bagi Hasil 31 November 2012 Perusahaan rugi Rp. 40.000.000 31 Desember 2012 Perusahaan Untung Rp 20.000.000 Keuntungan dibagikan secara tunai Akad berakhir, modal diserahkan Kas

hasil Kerugian Penyisihan kerugian

Rp. 6.000.000 Rp 16.000.000 Rp 16.000.000 Rp 196.000.000 Rp 16.000.000 Rp 12.000.000 Rp. 200.000.000 Kas

hasil Kerugian Penyisihan kerugian

Rp. 4.000.000 Rp 24.000.000 Rp 24.000.000 Rp 284.000.000 Rp 24.000.000 Rp 8.000.000 Rp. 300.000.000

Kas NO ENTRY

Rp 10.000.000

Dana Syirkah Temporer Beban Bagi Hasil Penyisihan kerugian Kas

Rp. 500.000.000 Rp 20.000.000 Rp. 40.000.000 Rp 480.000.000

Penyisihan kerugian Pendapatan bagi hasil* Inv estasi Musyarakah

Penyisihan kerugian Pendapatan bagi hasil* Inv estasi Musyarakah

*20.000.000*60%

*20.000.000*40%