Anda di halaman 1dari 3

BAKTERI TERMOFILIK BAB I PENDAHULUAN Latar belakang Penelitian tentang mikroorganisme termofilik saat ini cukup menarik untuk

dilakukan karena sifat termofilik pada sejumlah mikrooganime yang terdapat dialam merupakan suatu fenomena yang sangat menarik karena kemampuannya untuk bertahan hidup pada temperatur yang relatif tinggi, organisme tersebut juga memiliki kemampuan beradaptasi dengan lingkungan.Mikroorgansme termofilik mudah ditemukan pada daerah yang mempunyai aktivitas geotermal seperti daerah gunung berapi, sumber air panas dan tempat cadangan minyak (van den Burg,2003) Mikroorganisme termofilik sangat menarik untuk dikaji karenamempunyai peran penting dalam pengembangan ilmu dasar dan terapan. Dalam bidang bioteknologi mikroorganisme termofilik merupakan sumber enzim yang unik karena tahan terhadap suhu tinggi ( Brock, 1986). Perkembangan teknologi aplikasi enzim menyebabkan penggunaan enzim dalam sekala industri semakin pesat sehingga perlu dicari sumber enzim yang potensial yang merupakan salah satu alternatif untuk menggantikan berbagai proses kimiawi dalam bidang industri (Akhdiya,2005). Umumnya mikroorganisme termofilik dapat menghasilkan enzim-enzim tahan panas sehingga mempunyai aplikasi tinggi(Indrajaya et.al.,2003) Salah satu mikroorganisme termofilik yang menarik untuk diteliti adalah bakteri. Habitat bakteri termofilik tersebar luas di lingkungan seperti sumber air panas. Berdasarkan lokasi sebaran bakteri tersebut, Indonesia merupakan habitat yang baik sebagai sumber bakteri termofilik. Salah satu sumber air panas di Sumatera Utara adalah desa Semangat Gunung Kabupaten Karo. Bakteri termofilik telah diisolasi dari berbagai sumber air panas di Indonesia (Indrajaya et al.,2003) Rosliana P, 2009) Bakteri termofilik memiliki keunggulan lain jika dibandingkan dengan bakteri biasa karena dapat mengurangi resiko kontaminasi. Pemanfaatan bakteri termofilik dalam bidang biokimia adalah sebagai sumber enzim tahan panas. Enzim tahan panas atau enzim termostabil saat ini menjadi perhatian karena enzim ini memiliki beberapa keunggulan dibanding enzim termolabil karena dalam penerapannya umumnya memiliki kestabilan yang lebih tinggi dan ketahanan yang cukup baik terhadap zat-zat kimia serta lebih mudah di isolasi. Pemilihan mikroba sebagai sumber enzim dibanding dengan tanaman ataupun hewan karena mikroba mudah ditumbuhkan. Salah satu enzim termostabil yang banyak digunakan saat ini adalah enzim lipase. Enzim lipase mempunyai peran yang cukup penting dalam berbagai aplikasi industri seperti industri oleokimia, modifikasi lemak, industri tekstil, industri detergen BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Bakteri Bakteri merupakan sel terkecil yang paling sderhana, yang dikenal sebagai prokariotis. Sel prokariotis ini merupakan makhluk yang pertama kali muncul dalam evolusi biologi. Istilah prokariotis diturunkan dari bahasa Yunani karyon yang berari kacang, biji atau inti. Prokariotis berarti pra inti. Pada prokariotis, senyawa genetik ditentukan dalam suatu

badan inti atau badan serupa inti yang agak acak dan tidak dikelilingi oleh membran. (Lehninger, 1991) Berdasarkan struktur dinding selnya, bakteri dibagi menjadi dua kelompok, yaitu bakteri gram positif dan bakteri gram negatif. Bakteri gram positif memiliki dinding sel murein (peptidoglikan) yang relatif tebal, sekitar 15-80 nm dan membran dalam (sitoplasma) setebal kira-kira 8 nm, sementara bakteri gram negatif memiliki dinding sel murein yang lebih tipis sekitar 2 nm dan memiliki membran luar setebal kira-kira 8 nm, yang tidak dimiliki bakteri gram positif, yang sifatnya mampu melewatkan molekul-molekul yang relatif besar di atas 100 Da. Bakteri gram negatif memiliki ruang antara dinding sel dan membran luar yang disebut periplasma.

2.1,1 Klasifikasi Bakteri Sekitar 1500 spesies bakteri telah dipelajari dan diklasifikasikan. Tetapi hal ini mungkin mewakili hanya sebagian kecil persentase jumlah total spesies yang ada. Pada mulanya, organisme ini diklasifikasikan seluruhnya berdasarkan morfologinya. Hanya beberapa spesies yang dikenali dan klasifikasinya merupakan hal yang sederhana, misalnya berdasarkan sifat morfologisnya. Sifat morfologisnya dibangun bardasar ukuran dan bentuk organisme; penyusun sel ; keberadaan atau ketidakadaan dinding kapsul; keberadaan atau ketidakadaan karakteristik granula; reaksi gram dan prosedur pewarnaan yang lain; dan sifat koloninya. Tetapi kemudian klasifikasi hanya berdasarkan morfologinya menjadi tidak cukup dan karakteristik lain diperlukan. Reaksi fisiologi kemudian dierkenalkan sebagai klasifikasi berikutnya. Hal ini termasuk pada reaksi yang behubungan dengan temperatur; kromagenesis atau produksi pigmen; efek perubahan pada reaksi lingkngan dan pertumbuhan bakteri; hubungan dengan oksigen; dan lain-lain. Berikutnya, reasi fisiologi ini mungkin lebih penting dibandingkan dengan perbedaan morfologi dalam klasifikasi bakteri.(Salle, 1961) Salah satu sifat fisiologi bakteri yang menentukan dalam pengklasifikasiannya adalah faktor temperatur. Temperatur yang paling baik pada pertumbuhan bakteri disebut temperatur optimum dimana kecepatan pertumbhan bakteri palin cepat dan menghasilkan sel palig banyak. Temperatur maksimum adalah temperatur paling tinggi dimana pertumbuhan bakteri dapat berlangsung; biasanya temperatur maksimum hanya beberapa derajat di atas temperatur optimum bagi pertumbuhan. Pada temperatur ini, kecepatan pertumbuhan biasanya cepat pada waktu yang singkat tetapi umlah pertumbuhan , jumlah total sel yang dihasilkan tidak sebanyak pada temperatur optimum. Temperatur minimum adalah temperatur terendah dimana pertumbuhan dapat berlangsung. Juga temperatir minimum hanya beberapa derajat dibawah temperatur optimum. Kecepatan pertumbuhan jika temperatur diperendah jauh lebih lambat dibanding pada tempratur optimum.

Berdasarkan temperatur optimumnya bagi perumbuhan, bakteri digolongkan atas tiga bagian, yaitu : a. Bakteri Termofil, temperatur optimumnya 55oC hingga 65oC dan dapat tumbuh pada batas minimum 40oc dan batas maksimum 80oC. b. Bakteri Mesofil, temperatur optimumnya 25oC hingga 40oC dan dapat tumbuh pada batas 5oC hingga 60oC c. Bakteri psikrofil, dapat hidup pada temperatur 0oC hingga 30oC, dengan temperatur optimumnya 10oC hingga 20oC 2.1.2 Bakteri Termofilik

Sejumlah besar genus yang berbeda dari bakteri telah banyak diketahui untuk menjelaskan berbagai perbedaan. Perbedaan ini termanifestasi dalam sebuah genus dan dalam beberapa kasus sampai pada tingkat spesies individunya Hal ini berkaitan dengan kemampuan bakteri untuk beradaptasi hingga kondisi untuk bermultiplikasi serta bagaimana bakteri dapat membentuk koloni pada lingkungan yang berbeda. Salah satu parameter yang baik dan dapat digunakan untuk mngetahui tingkat kemampuan bakteri untuk beradaptasi dan menjelaskan perbedaan bakteri adalah temperatur. Bagaimana bakteri dapat bertahan dan hidup pada suatu temperatur.berkaitan dengan sistim bioloinya. Keadaan lingkungan kimiawi dan fisik dimana bakteri hidup sangat menentukan perkembangbiakan dan pertumbuhannya. Lingkungan alami yang dibutuhkan bakteri termofilik tersebar luas di bumi. Semua lingkungan ini mampu untuk menyediakan kebutuhan makanan bagi bakteri dan kondisi yang sesuai dengan pertumbuhannya (Edwards,1990) Range temperatur pertumbuhan sering kali digunakan untuk mengelompokkan bakteri.Pada umumnya bakteri yang sanggup beradaptasi pada lingkungan bertempeatur 55 C atau lebih dikelompokkan ke dalam termofilik Akhdiya A.2003. Isolasi Bakteri Penghasil enzimProtease Alkalin Termostabil. Balai Penelitian Bioteknologi dan Sumberdaya Genetik Pertanian. Bogor. Brock T D. 1986. Thermophilis: General, Molecular, and Applied Microbiology.Departement of Bacteriology 1550 Linden Drive University of WinconsinMadison, Winconsin 53705 USA.Publ.John Willey &Son. Van der burg B, 2003. Extremophiles as a sourse for novel enzymes. Curr Opinon in Microbiol. 6: 213-318. 2.2. Enzim