Anda di halaman 1dari 15

SEJARAH ILMU HUKUM DUNIA MAKALAH

Diajukan untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah Hukum Bisnis

Disusun Oleh : Ahmad Yusuf (2011174 ) Derry Caesarrio Saputra (201117484) Gina Kartika Sari ( 2011174 ) Laksmi Anindya (2011174 ) Purwanto (2011174 )

PROGRAM STUDI AKOMODASI DAN KATERING JURUSAN HOSPITALITI SEKOLAH TINGGI PARIWISATA BANDUNG BANDUNG
2012-2013

BAB I 1.1. Definisi Ilmu hukum


Ilmu hukum adalah pengetahuan mengenai masalah yang bersifat manusiawi, pengetahuan tentang yang benar dan tidak benar menurut harkat kemanusiaan Ilmu yang formal tentang hukum positif sintesa ilmiah tentang asas- asasyang pokok dari hukum Ilmu hukum adalah nama yang diberikan kepada suatu cara untu mempelajari hukumsuatu penyelidikan yang bersifat abstrak,umum dan teorotis, yang berusaha mengungkapkan asas asas yang pokok dari hukum. Teori ilmu hukum menyangkut pemikiran mengenai hukum atas dasar yang paling luas. Suatu diskusi teoritis yang umuj mengenai hukum dan asas asas sebagai lawan dari studi mengenaiperaturan peraturan hukum yang konkrit Ilmu hukum berarti setiap pemikiran yang teliti dan berbobot mengenai semua tingkat kehidupan hukum, asal pemikiran itu menjangkau keluar batas pemecahan terhadap suatu problem yang konkrit, jadi ilmu ilmu hukum meliputi semua macam generalisasi yang jujur dan dipikirkan masak masak di bidang hukum ( Satjipto Rahardjo, 1982)

BAB II

2.1 Timbulnya Ilmu Hukum


Awal mula timbulnya ilmu hukum berawal dari tradisi peradaban barat. Peradaban barat bersumber kepada peradaban Yunani dimana negara dipandang lebih penting dari semua organisasi yang dibuat oleh manusia. Dalam peradaban Barat hukum dipandang sebagai prinsip sentral kehidupan. Peristiwa itu terjadi tidak lama setelah tahun 1200 SM yaitu bermula sejak Dorian yang datang dari utara menduduki pusat kekuasaan Mysia (sebuah daerah di Asia kecil). Mereka tidak membawa pola pemerintahan mereka, sehingga mereka mendirikan negara-negara kota yang dalam bahasa Yunani disebut Polis (dari kata polis inilah timbul kata policy, politics dan police yang semuanya berkaitan dengan polis atau negara). Menurut telaah Surya Prakash Sinha dalam buku ini disebutkan bahwa ada empat tahap perkembangan pikiran Yunani, yaitu: Pikiran Herois, mendasarkan pemikiran pada pengalaman-pengalaman konkret secara fisik dan memperkayanya dengan fantasi dan mitos-mitos. Pikiran Visioner, yaitu mencari sesuatu dengan membuat tertib melalui penggabungan antara dunia gagasan dan dunia indra, hal itu terungkap melalui puisis dan drama. Pikiran Teoritis, yaitu melihat sesuatu dengan menggunakan kekuatan analitis. Pikiran Rasional, merujuk kepada tertib akal sebagaimana yang dikemukakan oleh Plato (429-348 SM) dan Aristoteles (384-322 SM). Hal ini mengkonsepsikan 3 hal : Logos, yaitu instrumen untuk mendapatkan keniscayaan dan keadilan dengan cara memikirkan dan mendiskusikan isu yang ada. Arte, yaitu nilai manusia sebagai mahluk berpikir. Metron, yaiut konsep ukuran dan proporsi untuk menghindari hubris atau sesuatu yang melampaui batas.

Ketiga hal tersebut menjadikan manusia memiliki kemampuan untuk berpikir, kebebasan untuk memilih, dan kemampuan untuk membuat putusan. Karena manusia hidup untuk diri sendiri dan bukan untuk orang lain, maka timbulah individualisme. Individualisme menyebabkan adanya independensi negara yang warganya memiliki hak-hak secara hukum dan politik yang tertuang di dalam the rule of law. Hukum menyediakan sarana bagi pelaksanaan hak-hak tersebut sehingga dijadikan prinsip sentral dalam organisasi sosial.

2.2 Hukum Romawi Hukum Romawi yang menjadi acuan hukum Barat sebenarnya bersumber pada Corpus Iuris Civilis hasil kodifikasi Kaisar Iustininanius. Guarnerius telah melakukan studi yang sistematis terhadap hukum Romawi sebagai suatu sarana untuk menghilangkan kebingungan dalam hukum lokal Eropa. Ia mulai mengajar di Universitas Bologna di Italia pada tahun 1087. Saat itu dipandang sebagai saat timbulnya studi hukum secara sistematis sebagai suatu pengetahuan karena pada saat itu hukum diajarkan sebagai suatu yang terpisah dari politik dan agama. Pada saat itu, aturan-aturan dan putusan-putusan mengenai sengketa dipelajari dan diterangkan dalam kerangka prinsip-prinsip umum. Para lulusan universitas ini kemudian bekerja sebagai konsultan, hakim, advokat, administrator, dan perancang undang-undang. Sejak diajarkan hukum secara sistematis di universitas-universitas di Eropa, hukum dipisahkan dari politik, kebiasaan masyarakat dan agama. Yang diajarkan secara sistematis untuk pertama kalinya di universitas-universitas itu bukan hukum yang sedang berlaku di dunia barat saat itu. Yang diajarkan adalah hukum yang tertuang dalam naskah kuno yang terdapat di perpustakaan Italia dan dapat digunakan untuk mengatur hubungan dalam hidup bermasyarakat dan menghadapi masalah-masalah yang terjadi pada akhir abad sebelas. Naskah itu merupakan salinan dari koleksi yang hebat bahan-bahan hukum yang dikompilasi oleh Kaisar Romawi Iustinianus sekitar tahun 534 M. Hukum Romawi yang dikompilasi oleh Kaisar Romawi Iustinianus di Konstantinopel merupakan suatu hukum yang sangat berkembang yang berbeda dengan hukum rakyat Germania. Akan tetapi, Hukum Romawi sebagai suatu sistem hukum, berlakunya sangat terbatas di Eropa Barat ketika karya Iustinianusitu diketemukan di Italia. Yang berlaku saat itu ialah hukum yang dibuat oleh raja-raja Germania dan Franka. Dikarenakan Hukum Romawi merupakan suatu sistem hukum yang merefleksikan suatu peradaban yang tinggi enam abad sebelumnya, maka dapat dipahami kalau Hukum Romawi itu kemudian menjadi objek studi hukum secara sistematis untuk pertama kalinya. Di samping diketemukannya karya Iustinianus sekitar tahun 1080, terdapat dua unsur lagi yang perlu dalam studi hukum secara pertama kali. Pertama adalah penggunaan metode analisis dan sintesis yang diterapkan kepada naskah-naskah hukum atau biasa disebut sebagai metode skolastik. Yang kedua, adalah adanya pengajaran di universitas yang menggunakan metode itu. Ketiga unsur itu merupakan akar dalam studi hukum. Naskah Iustinianusterdiri dari empat bagian, yaitu : Caudex, yaitu aturan-aturan dan putusan-putusan yang dibuat oleh para kaisar sebelum Iustinianus. Novellae , yaitu aturan hukum yang diundangkan oleh Kaisar Iustinianussendiri. Instituti , suatu buku ajar kecil yang dimaksudkan untuk pengantar bagi mereka yang baru belajar hukum. Digesta , yang merupakan sekumpulan besar pendapat para yuris Romawi mengenai ribuan proposisi hukum yang berkaitan dengan bukan saja hak milik, testamen, kontrak,

perbuatan melanggar hukum, dan cabang-cabang hukum dalam ruang lingkup yang saat ini disebut sebagai hukum perdata tetapi juga yang berkaitan dengan hukum pidana, hukum tata negara, dan cabang-cabang hukum yang mengatur warga negara Romawi. Dari keempat naskah itu, yang paling penting adalah Digesta yang juga disebut Pandactea. Digesta bersama-sama dengan Caudex, Novellae, dan Instituti disebut sebagai Corpus Iuris Civilis. Corpus Iuris Civilis ternyata mencerminkan gagasan budaya Romawi. Hal itu disebabkan di satu pihak karya Iustinianusitu tidak dirasakan asing bagi masyarakat Eropa Barat mengingat karya itu merupakan kompilasi dari Hukum Romawi klasik sehingga sesuai dengan Vol-ksgeist masyarakat Eropa. Selain itu tidak dapat diabaikan peranan para Glossator dan Commentator yang mengolah karya itu untuk disesuaikan dengan situasi yang ada pada saat itu. Glossator yang merupakan para dosen di Fakultas Hukum Universitas Bologna mempunyai tugas utama yaitu mempelajari makna Corpus Iuris Civilis. Kurikulum fakultas hukum abad XII yang utama adalah mempelajari teks Digesta. Dosen membaca dan mengoreksi bahasa teks yang ditulis tangan. Karena teks yang dibaca itu sangat sukar dipahami, teks itu perlu dijelaskan. Untuk itu mereka melakukan glossir, yaitu memberi keterangan kata demi kata dan baris demi baris. Dengan memberi ilustrasi mengenai makna dari suatu paragraf tertentu. Pada abad XIII, glossator digantikan oleh oleh commentator yang bekerja atas dasardasar yang diletakkan oleh para glossator. Glossa, yaitu hasil kegiatan glossir oleh dosen didiktekan dan disalin oleh mahasiswa. Oleh karena itulah makin lama makin panjang sehingga glossa tersebut memiliki kekuatan hukum yang sama dengan naskah yang di glossir. Pada sekitar tahun 1520, Glossa Ordinaria merupakan karya resmi pada Digesta secara keseluruhan. Glossa terdiri dari beberapa jenis. Beberapa disebut notabilia, yaitu ringkasan isi naskah yang doglossir. Lainnya disebut brocardica yang merupakan pernyataan mengenai prinsip hukum yang bersifat umumdidasarkan pada bagian teks yang di glossir. Di samping itu, para dosen akan melakukan anotasi terhadap teks itu melalui klasifikasi yang disebut distinctiones. Yaitu memulai dengan suatu terminologi atau konsep yang bersifat luas dan membaginya menjadi berbagai bagian yang selanjutnya dibagi lagi menjadi beberapa sub bagian sampai ke hal-hal yang mendetail. Akhirnya, di samping membuat distinctiones, para dosen tersebut juga mengajukan questiones dengan menguji doktrin yang luas itu untuk diterapkan kepada masalah tertentu. Di samping membaca teks-teks dan glossa dan menganalisis kedua hal itu melalui distinctiones dan questiones, kurikulum di Universitas Bologna meliputi juga disputatio, yaitu suatu diskusi mengenai isu hukum dalam bentuk sengketa antara dua mahasiswa di bawah bimbingan seorang dosen atau antara dosen dan mahasiswa. Seiring berjalannya waktu, kurikulum di Universitas Bologna, Paris, Oxford, dan universitas-universitas laindi Eropa diperluas bukan hanya yang terdapat pada Corpus Iuris Civilis saja, melainkan juga meliputi hukum Kanonik yang ditetapkan oleh Paus dan Dewan, yang kemudian dikenal sebagai metode skolastik. Metode ini yang pertama kali dikembangkan pada awal 1100-an berpangkal pada pra-anggapan mengenai otoritas absolut buku-buku tertentu

yang dipandang berisi doktrin-doktrin yang lengkap dan terintegrasi. Namun demikian, mereka juga menduga adanya lubang-lubang maupun kontradiksi. Oleh karena itulah mereka lalu membuat argumen-argumen yang dapat menutupi lubang-lubang itu dan menyelesaikan kontradiksi-kontradiksi itu. Metode ini disebut dialectica, yaitu mencari titik temu dari dua hal yang bertentangan. Istilah dialectica dalam bahasa Latin merupakan adaptasi dari istilah Yunani dialektike yang artinya suatu diskusi dan penalaran melalui dialog sebagai suatu metode investigasi intelektual yang dikembangkan pada masa Socrates, Plato, dan Aristoteles. Dari sejarah perkembangan ilmu hukum tersebut dapat dikemukakan tiga hal. Pertama, ilmu hukum lahir sebagai suatu ilmu terapan. Berkaitan dengan hal itu, kode Iustinianusdiajarkan secara sistematis pada abad XI. Pada saat itu, di Italia dan Perancis Selatan terdapat dua pola kehidupan bermasyarakat, yaitu agraris dan perdagangan. Hal ini menimbulkan masalah-masalah baru. Oleh karena itulah diperlukan pemecahan baru. Dalam hal inilah kemudian ditengok karya Iustinianus yang tidak asing bagi budaya Eropa meskipun karya itu dibuat enam abad sebelumnya. Kedua, ilmu hukum mempelajari aturan-aturan yang ditetapkan oleh penguasa, putusan-putusan yang diambil dari sengketa yang timbul, dan doktrin-doktrin yang dikembangkan oleh ahli hukum.Hal ini terlihat dari kurikulum yang dibuat di Universitas Bologna tempat diajarkannya hukum secara sistematis untuk pertama kalinya. Kurikulum itu bersumber dari empat karya Iustinianus, yaitu Caudex, Novelle, Institusi, dan Disgeta, yang kesemuanya disebut sebagai Corpus Iuris Civilis. Ketiga, metode yang digunakan di dalam ilmu hukum adalah penalaran. Dengan penalaran dilakukan analisis dan sintesis. Cara menggunakan metode demikian juga disebut dialectica. Dari metode ini dapat dihasilkan prinsip-prinsip hukum yang bersifat umum. Gereja katolik dan sistem hukum sekuler yang dikembangkan oleh kerajaan-kerajaan di Eropa yang biasanya dibuat atas bimbingan para yuris lulusan Universitas Bologna. Metode pengajaran di Fakultas Hukum Universitas Bologna dan universitas-universitas lain di dunia Barat pada abad XII dan XIII merupakan suatu metode baru tentang analisis dan sintesis

2.4 Sejarah Hukum Internasional & Perkembangannya


Hukum Internasional Modern sistem hkm. Yg mengatur hub. Antara negara2 a/ masy. Intl Perjanjian Perdamaian WESTPHALIA -> mrpk kelahiran sistem Hkm modern. ISI DARI PERJ. WESTPHALIA : 1. Mengakhiri Perang selama 30 thn. di Eropa dan meneguhkan perubahan dalam dunia politik karena perang 2. Perj. Wesphalia mengakhiri usaha Kaisar Romawi Suci 3. Hub. Antara negara2 dilepaskan dari persoalan hub. Kegerejaan dan didasarkan atas kepent. Nas. Negara masing-masing. 4. Kemerdekaan negara Belanda, Swiss dan Jerman yang diakui dlm Perj. Westphalia Intl

2.3.1 Ciri2 Masy. Eropa berdasarkan Perj. WESTPHALIA : 1. Hub. Nasional yg 1 dgn yg lainnya didasar atas kemerdekaan dan persamaan derajat. 2. Hub. Antara negara2 berdasar atas hkm yg banyak mengambil alih pengertian lembaga hkm Perdata dan Hkm. Romawi 3. Negara mrpk 1-an teritorial yg berdaulat 4. Tidak adanya Mahkamah Intl dan kekuatan polisi Intl untuk memaksakan ditaatinya ketentuan Hkm Intl 5. Negara mengakui adanya Hkm. Intl sbg hkm yg mengatur hub. Antar negara ttp menekankan peranan yg besar bagi negara dalam kepatuhannya thd hkm ini 6. Masy. Negara-negara tidak mengakui kekuasaan diatas mereka spt seorang Kaisar pd zaman abad pertengahan dan Paus sbg Kepala Gereja.

7. Anggapan thd perang yg dgn lunturnya segi2 keagamaan beralih dr anggapan mengenai doktrin ttg Ajaran Perang Suci kearah ajaran yg menganggap perang sbg salah 1 cara penggunaan kekerasan.

2.5 Hukum Internasional


Hukum Internasional modern sebagai suatu sistem hukum yang mengatur hubungan antara negara-negara, lahir dengan kelahiran masyarakat Interansional yang didasarkan atas negaranegara nasional. Sebagai titik saat lahirnya negara-negara nasional yang modern biasanya diambil saat ditandatanganinya Perjanjian Perdamaian Westphalia yang mengakhiri Perang Tiga Puluh Tahun di Eropa. Dahulu kala sudah banyak hukum hukum yang mengatur perjanjian antar kerajaan kerajaan dan antar bangsa bangsa.

Dalam lingkungan kebudayaan sIndia Kuno telah terdapat kaedah dan lembaga hukum yang mengatur hubungan antar kasta, suku-uku bangsa dan raja-raja yang diatur oleh adat kebiasaan. Menurut Bannerjce, adat kebiasaan yang mengatur hubungan antara raja-raja dinamakan Desa Dharma. Pujangga yang terkenal pada saat itu Kautilya atau Chanakya.Penulis buku Artha Sastra Gautamasutra salah satu karya abad VI SM di bidang hukum.

Dalam hukum kuno mereka antara lain Kitab Perjanjian Lama, mengenal ketentuan mengenai perjanjian, diperlakukan terhadap orang asing dan cara melakukan perang.Dalam hukum perang masih dibedakan (dalam hukum perang Yahudi ini) perlakuan terhadap mereka yang dianggap musuh bebuyutan, sehingga diperbolehkan diadakan penyimpangan ketentuan perang.

Lingkungan kebudayaan Yunani.Hidup dalam negara-negara kita.Menurut hukum negara kota penduduk digolongkan dalam 2 golongan yaitu orang Yunani dan orang luar yang dianggap sebagai orang biadab (barbar). Masyarakat Yunani sudah mengenal ketentuan mengenai perwasitan (arbitration) dan diplomasi yang tinggi tingkat perkembangannya. Sumbangan yang berharga untuk Hukum Internasional waktu itu ialah konsep hukum alam yaitu hukum yang berlaku secara mutlak dimanapun juga dan yang berasal dari rasion atau akal manusia.

Hukum Internasional sebagai hukum yang mengatur hubungan antara kerajaan-kerajaan tidak mengalami perkembangan yang pesat pada zaman Romawi. Karena masyarakat dunia merupakan satu imperium yaitu imperium roma yang menguasai seluruh wilayah dalam lingkungan kebudayaan Romawi. Sehingga tidak ada tempat bagi kerajaan-kerajaan yang terpisah dan dengan sendirinya tidak ada pula tempat bagi hukum bangsa-bangsa yang mengatur hubungan antara kerajaan-kerajaan. Hukum Romawi telah menyumbangkan banyak sekali asas atau konsep yang kemudian diterima dalam hukum Internasional ialah konsep seperti occupatio servitut dan bona fides. Juga asas pacta sunt servanda merupakan warisan kebudayaan Romawi yang berharga. Setelah masa kerajaan Romawi, dimulai lah zaman abad pertengahan dunia Barat dikuasai oleh satu sistem feodal yang berpuncak pada kaisar sedangkan kehidupan gereja berpuncak pada Paus sebagai Kepala Gereja Katolik Roma. Masyarakat Eropa waktu itu merupakan satu masyarakat Kristen yang terdiri dari beberapa negara yang berdaulat dan Tahta Suci, kemudian sebagai pewaris kebudayaan Romawi dan Yunani.

Di samping masyarakat Eropa Barat, pada waktu itu terdapat 2 masyarakat besar lain yang termasuk lingkungan kebudayaan yang berlaianan yaitu Kekaisaran Byzantium dan Dunia Islam. Kekaisaran Byzantium sedang menurun mempraktekan diplomasi untuk mempertahankan supremasinya. Oleh karenanya praktek Diplomasi sebagai sumbangan yang terpenting dalam perkembangan Hukum Internasional dan Dunia Islam terletak di bidang Hukum Perang.

Perjanjian Damai Westphalia terdiri dari dua perjanjian yang ditandatangani di dua kota di wilayah Westphalia, yaitu di Osnabrck (15 Mei 1648) dan di Mnster (24 Oktober 1648). Kedua perjanjian ini mengakhiri Perang 30 Tahun (1618-1648) yang berlangsung di Kekaisaran Suci Romawi dan Perang 80 Tahun (1568-1648) antara Spanyol dan Belanda. Perdamaian Westphalia dianggap sebagai peristiwa penting dalam sejarah Hukum Internasional modern, bahkan dianggap sebagai suatu peristiwa Hukum Internasional modern yang didasarkan atas negara-negara nasional. Sebabnya adalah :

1. Selain mengakhiri perang 30 tahun, Perjanjian Westphalia telah meneguhkan perubahan dalam peta bumi politik yang telah terjadi karena perang itu di Eropa . 2. Perjanjian perdamaian mengakhiri untuk selama-lamanya usaha Kaisar Romawi yang suci. 3. Hubungan antara negara-negara dilepaskan dari persoalan hubungan kegerejaan dan didasarkan atas kepentingan nasional negara itu masing-masing. 4. Kemerdekaan negara Belanda, Swiss dan negara-negara kecil di Jerman diakui dalam Perjanjian Westphalia.

Perjanjian Westphalia meletakkan dasar bagi susunan masyarakat Internasional yang baru, baik mengenai bentuknya yaitu didasarkan atas negara-negara nasional (tidak lagi didasarkan atas kerajaan-kerajaan) maupun mengenai hakekat negara itu dan pemerintahannya yakni pemisahan kekuasaan negara dan pemerintahan dari pengaruh gereja. Dasar-dasar yang diletakkan dalam Perjanjian Westphalia diperteguh dalam Perjanjian Utrech yang penting artinya dilihat dari sudut politik Internasional, karena menerima asas keseimbangan kekuatan sebagai asas politik internasional.

Setelah perjanjian tersebut dilakukan maka asas politik internasional atau lebih dikenal sebagai hukum internasional memiliki pengertian hukum yang mengatur aktivitas entitas

berskala internasional. Pada awalnya, Hukum Internasional hanya diartikan sebagai perilaku dan hubungan antar negara namun dalam perkembangan pola hubungan internasional yang semakin kompleks pengertian ini kemudian meluas sehingga hukum internasional juga mengurusi struktur dan perilaku organisasi internasional dan, pada batas tertentu, perusahaan multinasional dan individu.

Jadi, menurut Mochtar kusumaatmaja hukum internasional adalah keseluruhan kaidah dan asas yg mengatur hubungan yg melintasi batas negara antara Negara dan negara, Negara dan subjek

hukum internasional, antar subjek hukum internasional. Sedangkan menurut J.G.S Starke, hukum internasional adalah kumpulan hukum yg terdiri dari asas yg ditaati dalam hub antar Negara.

Selain hukum internasional ada juga hukum yang dikenal sebagai hukum dunia yang dipengaruhi analogi dengan Hukum Tata Negara (constitusional law), hukum dunia merupakan semacam negara (federasi) dunia yang meliputi semua negara di dunia ini. Negara dunia secara hirarki berdiri di atas negara-negara nasional. Tertib hukum dunia menurut konsep ini merupakan suatu tertib hukum subordinasi. 2.6 Teori Plato (Hukum Sebagai Sarana Keadilan) Dengan mengambil inti ajaran kebijaksanaan Sokrates, Plato sang murid, juga mengaitkan hukum dengan kebijaksanaan dalam teorinya tentang hukum. Akan tetapi ia tidak menempatkan kebijaksanaan dalam konteks mutu pribadi individu warga polis. Sebaliknya, ia mengaitkan kebijaksanaan dengan tipe ideal Negara polis di bawah pimpinan kaum aristokrat. Dasar perbedaan tersebut terletak pada perbedaan asumsi tentang peluang kesempurnaan pada manusia. Bagi Socrates, secara individual manusia dimungkinkan mencapai kesempurnaan jiwa secara swasembada. Sedangkan Plato tidak percaya pada tesis gurunya tersebut. Bagi Plato kesempurnaan individu hanya mungkin tercipta dalam konteks negara di bawah kendali para guru moral, para pimpinan yang bijak, para mitra bestari, yakni kaum aristokrat. Menurut Popper, model Plato tersebut merupakan kerajaan orang yang paling bijak dan menyerupai dewa. Secara riil, Plato merumuskan teorinya tentang hukum, demikian: (i) Hukum merupakan tatanan terbaik untuk menangani dunia fenomena yang penuh situasi ketidakadilan, (ii) Aturan-aturan hukum harus dihimpun dalam satu kitab, supaya tidak muncul kekacauan hukum, (iii) Setiap UU harus didahului preambule tentang motif dan tujuan UU tersebut. Manfaatnya adalah agar rakyat dapat mengetahui dan memahami kegunaan menaati hukum, (iv) Tugas hukum adalah membimbing para warga (lewat UU) pada suatu hidup yang saleh dan sempurna, (v) Orang yang melanggar UU harus dihukum. Tapi itu bukan balas dendam. Karena pelanggaran adalah suatu penyakit intelektual manusia karena kebodohan. Cara mendidik itu adalah lewat hukuman yang bertujuan memerbaiki sikap moral para penjahat. Jika penyakit itu tidak dapat disembuhkan, maka orang itu harus dibunuh.

2.7 Teori Aristoteles (Hukum Itu Rasa Sosial-Etis) Aristoteles mengaitkan teorinya tentang hukum dengan perasaan sosial-etis yang bukanlah bawaan alamiah manusia sempurna versi Socrates, bukan pula mutu kaum terpilih (aristocrat) model Plato. Perasaan sosial-etis ada dalam konteks individu sebagai warga Negara (polis). Berdiri sendiri lepas dari polis, seorang individu tidak saja bakal menuai bencana, tetapi juga akan cenderung lard an tak terkendai karena bawaan alamiah Dionysian-nya. Oleh sebab itu, hukum seperti halnya polis, merupakan wacana yang diperlukan untuk mengarahkan manusia ada nilai-nilai moral yang rasional. Inti manusia moral yang rasional menurut Aristoteles adalah memandang kebenaran (theoria, kontemplasi) sebagai keutamaan hidup (summum bonum). Dalam rangka ini, manusia dipandu dua pemandu, yakni akal dan moral. Akal (rasio, nalar) memandu pada pengenalan hal yang benar dan yang salah secara nalar murni, serta serentak memastikan mana barang-barang materi yang dianggap baik bagi hidupnya. Jadi akal memiliki dua fungsi, yaitu teoritis dan praksis. Untuk yang pertama, Aristoteles menggunakan kata Sophia yang menunjuk pada kearifan. Untuk yang kedua digunakan akta phronesis yang dalam terminologi Skolatik abad pertengahan disebut prudentia (prudence). Moral sendiri menurut Aristoteles, memandu manusia untuk memilih jalan tengah antara dua ekstrim yang berlawanan, termasuk dalam menentukan keadilan. Moral memandu pada sikap moderat, sikap yang dalam bahasa sansekerta disebut dengan purata kencana. Dalam konstruksi filosofis mahluk moral yang rasional inilah, Aristoteles menyusun teorinya tentang hukum. Karena hukum menjadi pengarah manusia pada nilai-nilai moral yang rasional, maka ia harus adil. Keadilan hukum identik dengan keadilan umum, yang ditandai dengan hubungan yang baik antara satu sama lain, tidak mengutamakan kepentingan pribadi tapi juga tidak mengutamakan kepentingan pihak lain, serta ada kesamaan. Di sini tampak kembali apa yang menjadi dasar teori Aristoteles, yakni perasaan sosial-etis. Tidak mengherankan jika formulasinya tentang keadilan bertumpu pada tiga sari hukum alam yang dianggapnya sebagai prinsip keadilan utama, yaitu: Honeste vivere, alterum non laedere, suum quique tribuere (hidup secara terhormat, tidak mengganggu orang lain, dan memberi kepada tiap orang bagiannya). 2.7 Teori Neo-Kantian Ciri khas pemikir Neo-Kantian adalah, mencari suatu pengertian transedental tentang hukum, yaitu sifat normatifnya.Neo-kantian merupakan reaksi terhadap positivisme. Neo-kantian menolak tredo positivisme yang terlampau empiristis. Neo kantian sendiri, terbagi dalam dua varian. Pertama, aliran Marburg yang memberi perhatian pada penalaran logis (menurut logika ilmu alam) dalam teorisasinya. Kedua, aliran Baden yang cenderung memberi perhatian pada nilai-nilai, dan atas refleksi tentang ilmu-ilmu kultural.

2.7.1

Teori Rudolf Stammler(Hukum Itu Normatif, Karena Kehendak Yuridis)

Mengenai teorinya tentang kemauan, Stammler beranjak dari asumsi tindakan bertujuan. Katanya : orang mau berbuat sesuatu, pasti untuk mengejar suatu tujuan. Jadi tujuan menentukan perbuatan. Bagi Stammler, perbuatan merupakan materi dari kemauan, sedangkan tujuan adalah bentuk. Kata Stammler, apa yang dikehendaki manusia dalam kehidupan sosial adalah hidup bersama yang teratur. Untuk menjamin hidup (bersama) yang teratur itu, dibutuhkan perbuatan, yakni peraturan segala yang terdapat dalam kehidupan bersama tersebut. Dalam teori Stammler, jelas kiranya bahwa hidup bersama yang teratur, menghendaki adanya hukum sebagai penjamin keteraturan. Kehendak akan hukum itulah yang oleh Stammler disebut kehendak yuridis. Hukum merupakan kehendak yuridis manusia. Kehendak itu memicu kesadaran bersama (bukan orang perorang) suatu masyarakat manusia untuk membentuk peraturan-peraturan hukum. Kata Stammler tanpa hubungan-hubungan yuridis yang mengikat semua tiap orang, maka kehidupan akan cenderung ditentukan mau dan caranya orang per orang. Kehidupan seperti ini, lambat laun akan mengarah kepada kekacauan sehingga manciderai cita-cita kehidupan berama, yakni hidup damai dan teratur. 2.7.2 Teori Hans Kelsen (Hukum Itu Normatif karena Grundnorm)

Kelsen bertolak dari dualisme Kant antara bentuk dan materi. Kelsen mengamini perbedaan antara bidang ada (sein) dan bidang harus (sollen) sebagai suatu unsur dari pengetahuan manusia. Bidang sein berhubungan dengan alam dan fakta, sedangkan bidang sollen justru berkaitan dengan kehidupan manusia. Menurut Hart, secara umum pengertian Austin memang tepat, sebab benarlah bahwa pemerintah yang disebut hukum, dikeluarkan oleh seorang yang berkuasa dan bahwa perintah-perintah itu biasanya ditaati. 2.7.3 Teori Gustav Radbruch (Hukum Itu Normatif, Karena Nilai Keadilan)

Dalam mengkonstruksi teorinya, Radbruch bertolak dari tesis mashab Baden yakni kebudayaan. Bagi Radbruch yang mengikuti Lask, kebudayaan itu adalah nilai-nilai manusia. Baik pengetahuan, seni, moralitas maupun hukum adalah bagian dari kebudayaan. Menurut Radbruch gagasan hukum sebagai gagasan kultural tidak bisa formal. Sebaliknya, ia terarah pada rechtsidee yakni keadilan. Tuntutan akan keadilan dan kepastian menurut Radbruch merupakan bagian-bagian yang tetap dari hukum. Sedangkan finalitas mengandung unsur raltivitas karena tujuan keadilan untuk menumbuhkan nilai kebaikan bagi manusia, lebih sebagai suatu nilai etis dalam hukum.

BAB III PENUTUP

3.1

KESIMPULAN

Dari uraian diatas maka dapat penulis simpulkan bahwa salah satu kegunaan sejarah hukum adalah untuk mengungkapkan fakta-fakta hukum tentang masa lampau dalam kaitannya dengan masa kini. Hal di atas merupakan suatu proses, suatu kesatuan, dan satu kenyataan yang diahadapi, yang terpenting bagi ahli sejarah data dan bukti tersebut adalah harus tepat, cenderung mengikuti pentahapan yang sistematis, logika, jujur, kesadaran pada diri sendiri dan imajinasi yang kuat. Sejarah hukum dapat memberikan pandangan yang luas bagi kalangan hukum, karena hukum tidak mungkin berdiri sendiri, senantiasa dipengaruhi oleh berbagai aspek kehidupan lain dan juga mempengaruhinya. Hukum masa kini merupakan hasil perkembangan dari hukum masa lampau, dan hukum masa kini merupakan dasar bagi hukum masa mendatang. Sejarah hukum akan dapat melengkapi pengetahuan kalangan hukum mengenai hal-hal tersebut.

DAFTAR PUSTAKA

- Dr. Soedjono Dirjosisworo,S.H. , PENGANTAR ILMU HUKUM, Hal 159 s/d 160 - Prof.Dr. Peter Mahmud Marzuki,SH.,MS.,LL.M , PENGANTAR ILMU HUKUM , Penerbit, Prenada Media Group, 2008, Hal 211 dan 333 Ishaq.2009.Dasar-Dasar Ilmu hukum.jakarta.Sinar Grafika - Soeroso, R., 2002, Pengantar Ilmu Hukum, Jakarta: Sinar Grafika, h.3-9