Anda di halaman 1dari 10

BAB I PENDAHULUAN

Mata adalah organ fotosensitif yang kompleks dan berkembang lanjut yang memungkinkan analisis cermat tentang bentuk, intensitas cahaya, dan warna yang dipantulkan obyek. Mata terletak di dalam struktur tengkorak yang melindunginya, yaitu orbita. Setiap mata terdiri atas 3 lapis konsentris yaitu lapisan luar terdiri atas sklera dan kornea, lapisan tengah juga disebut lapisan vaskular atau traktus uveal yang terdiri dari koroid, korpus siliar dan iris, serta lapisan dalam yang terdiri dari jaringan saraf yaitu retina.(4) Pterygium adalah pertumbuhan berbentuk sayap pada konjungtiva bulbi, kelainan ini berupa pertumbuhan segitiga horizontal dari jaringan abnormal yang invasi ke kornea dari regio kantus pada konjungtiva bulbi . Berpotensi menjadi penyebab kebutaan pada pertumbuhan pterygium yang lanjut, memerlukan tindakan pembedahan untuk memperbaiki penglihatan.(1) Distribusi pterygium tersebar di dunia tetapi sering pada daerah panas, beriklim kering. Prevalensi pada daerah ekuator kira-kira 22% dan kurang dari 2% di daerah lintang diatas 40. (1) Masalah klinis yang menjadi tantangan adalah tingginya frekuensi pterygium rekurendan pertumbuhan yang agresif pada pterygium rekuren. Selain itu pterygium menimbulkan keluhan kosmetik dan berpotensi mengganggu penglihatan pada stadium lanjut yang memerlukan tindakan operasi untuk rehabilitasi penglihatan. (1) Pada referat ini, saya akan menguraikan definisi dari pterygium itu sendiri, epidemiologi, gejala klinis, penatalaksanaan sampai prognosa. Sangat diharapkan dengan adanya referat ini, akan membantu teman-teman sejawat dalam pemahaman dan penatalaksanaan terhadap pterygium.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA


A. DEFINISI
Pterygium adalah penebalan konjungtiva bulbi yang berbentuk segitiga, mirip daging yang menjalar ke kornea.(2)

Menurut Prof. Dr. H. Sidarta Ilyas, Sp.M, pterygium merupakan suatu pertumbuhan fibrovaskular konjungtiva yang bersifat invasif dan degeneratif.(3)

Asal kata pterygium adalah dari bahasa Yunani, yaitu Pteron yang artinya wing atau sayap. (1)

B. EPIDEMIOLOGI
Di Amerika Serikat, kasus pterygium sangat bervariasi tergantung pada lokasi geografisnya. Di daratan Amerika serikat, Prevalensinya berkisar kurang dari 2% untuk daerah di atas 400 lintang utara sampai 5-15% untuk daerah garis lintang 280-360. Hubungan ini terjadi untuk tempat-tempat yang prevalensinya meningkat dan daerah-daerah elevasi yang terkena penyinaran ultraviolet untuk daerah di bawah garis lintang utara ini.(4) Prevalensi pterygium meningkat dengan umur, terutama dekade ke 2 dan 3. Pasien dibawah umur 15 tahun jarang terjadi pterrygium. Insiden tinggi pada umur 20-49 tahun. Rekuren lebih sering pada umur muda daripada umur tua. Laki-laki 4 kali lebih resiko dari perempuan dan berhubungan dengan merokok, pendidikan rendah dan riwayat exposure lingkungan diluar rumah. (1)

C. ETIOLOGI(4)
Penyebab pterigium belum dapat dipahami secara jelas, diduga merupakan suatu neoplasma radang dan degenerasi. Namun, pterigium banyak terjadi pada mereka yang banyak menghabiskan waktu di luar rumah dan banyak terkena panas terik matahari. Faktor resiko terjadinya pterigium adalah tinggal di daerah yang banyak terkena sinar matahari, daerah yang berdebu, berpasir atau anginnya besar. Penyebab paling umum adalah exposure atau sorotan

berlebihan dari sinar matahari yang diterima oleh mata. Ultraviolet, baik UVA ataupun UVB, dan angin (udara panas) yang mengenai konjungtiva bulbi berperan penting dalam hal ini. Selain itu dapat pula dipengaruhi oleh faktor2 lain seperti zat allegen, kimia dan zat pengiritasi lainnya. Pterigium Sering ditemukan pada petani, nelayan dan orang-orang yang tinggal di dekat daerah khatulistiwa. Jarang menyerang anak-anak. Faktor Resiko(1) 1. Radiasi ultra violet Faktor resiko utama timbulnya pterygium adalah exposure sinar matahari. Sinar matahari diabsorbsi oleh kornea dan konjungtiva menghasilkan kerusakan sel dan proliferasi sel. Letak lintang, waktu diluar rumah, penggunaan kacamata dan topi juga merupakan faktor penting 2. Faktor Genetik Beberapa kasus dilaporkan sekelompok anggota keluarga dengan pterygium dan berdasarkan penelitian case control menunjukkan riwayat keluarga dengan pterygium, kemungkinan diturunkan autosom dominan. 3. Faktor lain Iritasi kronik atau inflamasi terjadi pada area limbus atau perifer kornea merupakan pendukung terjadinya teori keratitis kronik dan terjadinya limbal defisiensi dan saat ini merupakan teori baru patogenesis dari pterygium. Kelembapan yang rendah dan trauma kecil dari bahan partikel tertentu, dry eye dan virus papiloma juga penyebab dari pterygium

D. PATOFISIOLOGI(4)
Patofisiologi pterygium ditandai dengan degenerasi elastotik kolagen dan ploriferasi fibrovaskular, dengan permukaan yang menutupi epithelium, Histopatologi kolagen abnormal pada daerah degenerasi elastotik menunjukkan basofilia bila dicat dengan hematoksin dan eosin. Jaringan ini juga bisa dicat dengan cat untuk jaringan elastic akan tetapi bukan jaringan elastic yang sebenarnya, oleh karena jaringan ini tidak bisa dihancurkan oleh elastase. Secara histopalogis ditemukan epitel konjungtiva irreguler kadang-kadang berubah menjadi gepeng. Pada puncak pteregium, epitel kornea menarik dan pada daerah ini membran bowman menghilang. Terdapat degenerasi stauma yang berproliferasi sebagai jaringan granulasi yang penuh pembulih darah. Degenerasi ini menekan kedalam kornea serta merusak membran bauman dan stoma kornea bagian atas.

E. DIAGNOSIS(1)(4)
Mata iritatatif, merah dan mungkin menimbulkan astigmatisme Kemunduran tajam penglihatan akibat pteregium yang meluas ke kornea (Zone Optic) Dapat diserati keratitis Pungtata, delen (Penipisan kornea akibat kering) dan garis besi yang terletak di ujung pteregium. (4) Pterygium di bagi menjadi 3 bagian yaitu : body, apex (head) dan cap. Bagian segitiga yang meninggi pada pterygium dengan dasarnya kearah kantus, disebut body, sedangkan bagian atasnya disebut apex dan kebelakang disebut cap. Subepitelial cap atau halo timbul pada tengah apex dan membentuk batas pinggir pterygium. Pterygium berdasarkan perjalanan penyakit dibagi 2 tipe yaitu 1. Progresif pterygium : tebal dan vaskular dengan beberapa infiltrat di kornea didepan kepala pterygium (disebut cap dari pterygium) 2. Regesif pterygium : tipis, atrofi, sedikit vaskular. Akhirnya menjadi membentuk membentuk membran tetapi tidak pernah hilang.

Pterygium dapat ke dalam beberapa tipe 1. Tipe I : meluas kurang 2 mm dari kornea atau deposit besi dapat dijumpai pada epitel kornea dan kepala pterygium. Lesi sering asimptomatis meskipun sering mengalami inflamasi ringan. Pasien yang memakai kontak dapat menalami keluhan lebih cepat. 2. Tipe II : menutupiu kornea sampai 4 mm dapat primer atau rekuren setelah operasi, berpengaruh dengan tear film dan menimbulkan astigmatisme 3. Tipe III : mengenai kornea lebih dari 4 mm dan mengganggu aksis visual. Leesi yang luas khususnya pada kasus rekuren dapat berhubungan dengan fibrosis subkonjungtiva yang meluas ke fornik dan biasanya memnyebabkan gangguan pergerakan bola mata.

Pterygium dibagi dalam 4 derajat 1. Derajat 1 : Jika pterygium hanya terbatas pada limbus kornea 2. Derajat 2 : Jika pterygium sudah melewati limbus kornea tetapi tidak lebih dari 2mm melewati kornea.

3. Derajat 3 : Jika pterygium sudah melebihi derajat 2 tetapi tidak melebihi pinggiran pupil mata, dalam keadaan cahaya normal (pupil dalam keadaan normal sekitar 3-4 mm) 4. Derajat 4 : Jika pertumbuhan pterygium sudah melewati pupil sehingga mengganggu penglihatan

Pterygium dibagi berdasarkan terlihatnya pembuluh darah episklera di pterygium dan harus diperiksa dengan slitlamp : 1. T1 (atrofi) : pembuluh darah episcleral jelas terlihat 2. T2 (intermediate) : pembuluh darah episclera sebagian terlihat 3. T3 (fleshy, opaque) : pembuluh darah tidak jelas.

F. DIAGNOSIS BANDING(1)
Secara klinis, pterygium dapat dibedakan dengan pinguekula dan pseudopterygium. Pada pinguekula, bentuknya kecil, meninggi, massa kekuningan berbatasan dengan limbus pada konjungtiva bulbi di fissura interpalpebra dan kadang-kadang terinflamasi. Pinguekula sering pada iklim sedang tropis dan angka kejadian sama pada laki-laki dan perempuan. Exposure sinar ultraviolet bukan faktor resiko penyebab pinguekula. Berbeda dengan pterygium, pseudopterygium merupakan akibat inflamasi permukaan okular sebelumnya seperti trauma, trauma kimia, konjungtivitis sikatrik, trauma bedag atau ulkus perifer kornea. Untuk menidentifikasi pseudopterygiu, cirinya tidak melekat pada limbus korne. Probing dengan muscle hook dapat dengan mudah melewati bagian bawah pseudopterygium pada limbus, dimana hal ini tidak dapat dilakukan pada pterygium. Pada Pterygium tidak didapatkan bagian head, cap dan body dan pseudopterygium cenderung keluar dari ruang interpalpebra fissure yang berbeda dengan true pterygium

G. PENATALAKSANAAN(1)(4)
Keluhan fotofobia dan mata merah dari pterygium ringan sering ditangan dengan menghindari asap dan debu. Beberapa obat topikal seperti lubrikans, vasokonstriktor dan kortikostreroid digunakan secara aman untuk menghilangkan gejala jika digunakan secara benar

terutama pada derajat 1 dan 2 atau tipe 1. Untuk mencegah progresifitas, beberapa peneliti menganjurkan penggunaan kacamata pelindung ultraviolet. Indikasi untuk eksisi pterygium termasuk ketidaknyamanan yang menetap, ganggauan penglihatan, ukurannya >3-4 mm dan pertumbuhan yang progresif menuju tengah kornea atau visual axis dan adanya gangguan pergerakan bola mata.(1) Tindakan Operatif(4) Tindakan pembedahan adalah suatu tindak bedah plastik yang dilakukan bila pterygium telah mengganggu penglihatan. Pterygium dapat tumbuh menutupi seluruh permukaan kornea atau bola mata. Tindakan operasi, biasanya bedah kosmetik, akan dilakukan untuk mengangkat pterygium yang membesar ini apabila mengganggu fungsi penglihatan atau secara tetap meradang dan teriritasi. Paska operasi biasanya akan diberikan terapi lanjut seperti penggunaan sinar radiasi B atau terapi lainnya. Jenis Operasi pada Pterygium antara lain : 1. Bare Sklera Tidak dilakukan untuk pterygium progresif karena dapat terjadi granuloma granuloma diambil kemudian digraft dari amnion. 2. Subkonjungtiva Pterygium setelah diambil kemudian sisanya dimasukkan/disisipkan di bawah konjungtiva bulbi jika residif tidak masuk kornea 3. Graft Pterygium setelah diambil lalu di-graf dari amnion/selaput mukosa mulut/konjungtiva forniks.

Tindakan pembedahan untuk eksisi pterygium biasanya bisa dilakukan pada pasien rawat jalan dengan menggunakan anastesi topikal ataupun lokal, bila diperlukan dengan memakai sedasi. Perawatan pasca operasi, mata pasien biasanya merekat pada malam hari, dan dirawat memakai obat tetes mata atau salep mata antibiotika atau antiinflamasi.(1)

Operasi pterigium : dari kiri, pterygium sebelum di ekstirpasi, pterygium post op hari 1, dan post op 1 bulan kemudian(5)

Eksisi pterygium bertujuan untuk mencapai keadaan normal, gambaran permukaan bola mata yang licin. Teknik bedah yang sering digunakan untuk mengangkat pterygium menggunakan piasau yang datar untuk mendiseksi pterygium ke arah limbus. Walaupun memisahkan pterygium dengan bare schlera ke arah bawah pada limbus lebih disukai. Namun ini tidak penting untuk memisahkan pterygium jaringan tenon dengan secara berlebihan di daerah medial, karena kadang-kadang dapat timbul pendarahan oleh karena trauma yang tidak sengaja di daerah jaringan otot. Setelah eksisi, kauter sering digunakan untuk mengontrol pendarahan.(1) Beberapa pilihan untuk menutup luka termasuk (1) 1. Bare sclera : tidak ada jahitan atau benang absorbable digunakan untuk melekatkan konjungtiva ke superficial sclera di depan insersi rectus Medialis, meninggalkan suatu daerah sclera terbuka (teknik ini tingkat rekuren 40-50%) 2. Simple closure : Pinggir dari konjungtiva yang bebas dijahit bersama (efektif jika hanya defek konjungtiva sangat kecil) 3. Sliding Flap : Suatu insisi bentuk L dibuat sekitar luka untuk membentuk flap konjungtiva , untuk menutup luka. 4. Rotational Flap :Insisi bentuk U dibuat di sekitar luka untuk membentuk lidah dari conjunctiva yang diputar untuk menutup luka. 5. Konjungtiva Graft : suatu free graft biasanya dari konjungtiva superior. Di eksisi sesuai dengan besar luka dan kemudian dipindahkan dan di jahit. 6. Amnion Membran Transplantasi : mengurangi frekwensi rekuren pterygium , menurangi fibrosis atau scar pada permukaan bola mata dan penelitian baru mengungkapakan menekan TGF-B pada konjungtiva dan pterygium . Pemberian mytomicin C dan beta irradiation dapat diberika untuk mengurangi rekuren tetapi jarang digunakan. 7. Lamellar Keratoplasty, excimer laser Phototherapy keratectomy dan terbaru menggunakan gabungan angiostatic steroid. Untuk mencegah terjadinya kekambuhan setelah operasi, dikombinasikan dengan pemberian (2)

1.

Mitomycin C 0,02% tetes mata (sitostatika) : 2x1 tetes/hari selama 5 hari bersamaan dengan pemberian dexametasone 0,1% : 4x1 tetes/hari kemudian tapperring off sampai 6 minggu.

2.

Mitomycin C 0,04% (0,4 mg/ml) : 4x1 tetes/hari selama 14 hari, diberikan bersamaan dengansalep mata dexamethasone Terapi Medikamentosa (4)

a.

Pemakaian air mata artifisial (obat tetes topikal untuk membasahi mata) untuk membasahi permukaan okular dan untuk mengisi kerusakan pada lapisan air mata.

Nama obat

Dosis dewasa Dosis anak-anak Kontra indikasi Interaksi Untuk ibu hamil Perhatian

Merupakan obat tetes mata topikal atau air mata artifisial (air mata penyegar, Gen Teal (OTC)air mata artifisial akan memberikan pelumasan pada permukaan mata pada pasien dengan permukaan kornea yang tak teratur dan lapisan permukaan air mata yang tak teratur. Keadaan ini banyak terjadi pada keadaan pterygium. 1 gtt empat kali sehari dan prn untuk irritasi Berikan seperti pada orang dewasa Bisa menyebabkan hipersensitivitas Tak ada (tak pernah dilaporkan ada interaksi ) Derajat keamanan A untuk ibu hamil Bila gejala masih ada dan terus berlanjut pemakaiannya

b. Salep untuk pelumas topikal suatu pelumas yang lebih kental pada permukaan okular

Nama obat

Dosis obatnya Dosis anak-anak Kontra indikasi Interaksi Untuk ibu hamil Perhatian

Salep untuk pelumas mata topikal (hypotears,P.M penyegar (OTC). Suatu pelumas yang lebih kental untuk permukaan mata. Sediaan ini cenderung menyebabkan kaburnya penglihatan sementara; oleh karena itu bahan ini sering dipergunakan pada malam hari. Pergunakan pada cul de sac inferior pada mata yang terserang. Hs Sama dengan dewasa Bisa menyebabkan hipersensitivitas Tidak ada terjadinya

Tingkat keamanan A untuk ibu hamil Karena menyebabkan penglihatan sementara kabur

c.

Obat tetes mata anti inflamasi , untuk mengurangi inflamasi pada permukaan mata dan jaringan okular lainnya. Bahan kortikosteroid akan sangat membantu dalam penatalaksanaan pterygium yang inflamasi dengan mengurangi pembengkakan jaringan yang inflamasi pada permukaan okular di dekat jejasnya. Nama obat Prednisolon asetat (Pred Forte 1%) suatu suspensi kortikosteroid topikal yang dipergunakan untuk mengu-rangi inflamasi mata. Pemakaian obat ini harus dibatasi untuk mata dengan inflamasi yang sudah berat yang tak bisa disembuhkan dengan pelumas topikal lain.

Dosis dewasa

1 gtt empat kali sehari pada mata yang terserang, biasanya hanya 1- 2 minggu dengan terapi yang terus menerus

Dosis anak-anak

Tidak boleh dipergunakan untuk anak-anak oleh

karena kasus pterygia sangat jarang pada anak-anak

Kontra indikasi

Pasien dengan riwayat kasus herpes simpleks keratitis dentritis atau glaukoma steroid yang responsif.

Interaksi

Tak ada laporan interaksi

Tingkat keamanan B, biasanya aman akan tetapi Kehamilan kegunaannya harus di perhitungkan dengan resiko yang di akibatkan

Perhatian Bisa diserap secara sistemik akan tetapi efek samping sistemik biasanya tak diketemukan pada pasien yang mempergunakan obat tetes mataprednisolon asetat topikal , yang bisa diekskresi pada ASI yang sedang menyusui.

Obat tetes mata anti inflamasi , untuk mengurangi inflamasi pada permukaan mata dan jaringan okular lainnya. Bahan kortikosteroid akan sangat membantu dalam penatalaksanaan pterygium yang inflamasi dengan mengurangi pembengkakan jaringan yang inflamasi pada permukaan okular di dekat jejasnya.