Anda di halaman 1dari 28

Elemen mesin 1 Irbal Fraroza

Teknik Mesin 1

BAB 1
PENDAHULUAN

1.1 Latar belakang
Ulir banyak sekali ditemui pada bagian konstruksi mesin. Dilihat dari fungsinya ulir
bisa dipakai sebagai pengikat dan juga bisa dipakai sebagai penggerak atau pengubah
gaya seperti pada ragum. Ulir banyak sekali membantu di dunia permesinan. Salah satu
contohnya adalah ragum. Ragum berfungsi untuk menjepit benda kerja secara kuat dan
benar, artinya penjepitan oleh ragum tidak boleh merusak benda kerja. Dengan demikian
ragum harus lebih kuat dari benda kerja yang dijepitnya.
Untuk menghasilkan penjepitan yang kuat maka pada mulut ragum/rahangnya
dipasangkan baja berigi sehingga benda kerja dapat dijepit dengan kuat. Rahang-rahang
ragum digerakkan oleh batang ulir yang dipasangkan pada rumah ulir. Apabila batang
ulir digerakkan/diputar searah jarum jam, maka rahang ragum akan menutup,tetapi bila
diputar berlawanan dengan arah jarum jam maka rahang ragum akan membuka.
Untuk itu pada kesempatan ini akan direncanakan sebuah unit ragum dengan ulir
trapesium.

1.2 Maksud dan tujuan
Maksud dan tujuan tugas perencanaan ini adalah
o Untuk merencanakan sebuah unit ragum dengan ulir trapesium
o Memperdalam mahasiswa dengan pengetahuan sistem sambungan berulir.
o Mempelajari kembali perhitungan suatu ragum ulir trapesium dengan data-data
yang sudah ditentukan.
Elemen mesin 1 Irbal Fraroza

Teknik Mesin 2

1.3 Batasan masalah
Pada tugas perencanaan Elemen Mesin 1 ini adalah merencanakan sebuah unit
ragum dengan ulir trapesium. Dalam pembahasan alat penjepit ini masalahnya dapat
berkembang menjadi lebih banyak, untuk itu perlu difokuskan suatu batasan masalah
agar ruang lingkup persoalan menjadi lebih jelas dan lebih spesifik, sehingga pemecahan
masalah dapat dibahas secara spesifik. Pada perencanaan ini hanya membatasi masalah
pada perhitungan komponen ragum dan perencanaan ragum berulir trapesium itu sendiri.

1.4 Sistematika penulisan
Sistematika tugas perencanaan ini, antara lain :

Bab I. PENDAHULUAN
Bab ini menguraikan tentang latar belakang, maksud dan tujuan, batasan
masalah, sistematika penulisan.

Bab II. TEORI PENDUKUNG
Bab ini menguraikan hal umum tentang ulir, bentuk ulir, sambungan, penerusan
gaya dan efisiensi.

Bab III PERHITUNGAN
Bab ini menguraikan tentang data-data yang dibutuhkan pada perhitungan
tentang ragum ulir trapesium perhitungan yang digunakan adalah rumus-rumus
yang terdapat dalam buku rujukan (Daftar Pustaka) terlampir.


Elemen mesin 1 Irbal Fraroza

Teknik Mesin 3

Bab IV. KESIMPULAN
Bab ini menguraikan tentang hasil perancanaan pada ragum ulir trapesium yang
diperoleh dari teori pendukung, data-data yang tersedia, dan hasil perhitungan.
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN















Elemen mesin 1 Irbal Fraroza

Teknik Mesin 4

BAB II
RAGUM, ULIR DAN SAMBUNGAN SEKRUP

2.1 ragum
Apa Itu Ragum (Vise) ?

Ragum, digunakan untuk menjepit benda kerja karna ukuran dan bentuk benda
kerja berbeda-beda, maka di sediakan juga bermacam-macam ragum.


Berdasarkan gerakannya ragum dibagi menjadi 3 jenis yaitu :

1. Ragum biasa (Ordinary Vise)
Ragum ini digunakan untuk menjepit benda kerja yang bentuknya
sederhana dan biasanya hanya digunakan untuk mengefrais bidang datar saja.

2. Ragum berputar (Rotating Vise)
Ragum ini digunakan untuk menjepit benda kerja yang harus
membentuk sudut terhadap spindle. Bentuk ragum ini sama dengan ragum biasa tetapi
pada bagaian bawahnya terdapat alas yang dapat diputar 360
o
.


Elemen mesin 1 Irbal Fraroza

Teknik Mesin 5

3. Ragum universal
Ragum ini mempunyai dua sumbu perputaran, sehingga dapat diatur
letaknya secara datar dan tegak.

Penjepitan oleh ragum tidak boleh merusak benda kerja.Dengan demikian ragum harus
lebih kuat dari benda kerja yang dijepitnya.Untuk menghasilkan penjepitan yang kuat
maka pada mulut ragum/rahangnya dipasangkan baja berigi sehingga benda kerja dapat
dijepit dengan kuat. Rahang-rahang ragum digerakkan oleh batang ulir yang dipasangkan
pada rumah ulir. Apabila batang ulir digerakkan/diputar searah jarum jam, maka rahang
ragum akan menutup,tetapi bila diputar berlawanan dengan arah jarum jam maka rahang
ragum akan membuka.

Pemasangan ragum pada meja kerja harus disesuaikan dengan tinggi pekerja yang akan
bekerja.Sebagai patokan adalah apabila ragum dipasang pada meja kerja, maka tinggi
mulut ragum harus sebatas siku dari pekerja pada posisi berdiri sempurna.

Dalam penjepitan benda kerja tidak diharapkan permukaan benda kerja mengalami
kerusakan atau cacat karena jepitan rahang ragum.Guna mengatasi hal itu, maka pada
saat melakukan penjepitan benda kerja dengan ragum hendaknya rahang ragum dilapisi
dengan pelapis.Pelapis tersebut terbuat dari bahan yang lunak seperti baja lunak,pelat
tembaga,karet pejal dan pelat seng yang tebal











Elemen mesin 1 Irbal Fraroza

Teknik Mesin 6

2.2 Hal Umum Tentang Ulir
Bentuk ulir terjadi bila sebuah lembaran berbentuk segi tiga digulung pada
sebuah silinder, seperti diperlihatkan dalam gambar. Ulir selalu bekerja dalam pasangan
antara ulir luar dan ulir dalam, seperti dalam gambar 2.1. Ulir pengikat pada umumnya
mempunyai profil penampang berbentuk segitiga sama kaki. Jarak antara satu puncak
dengan puncak berikutnya dari profil ulir disebut jarak bagi.
l : Kisar
d
2
: Diameter efektif
| : Sudut kisar


Gambar 2.1 Ulir
[ 2 ]

.

Nama nama bagian ulir
1. Sudut ulir.
2. Puncak ulir luar.
3. Jarak bagi.
4. Diameter inti dari ulir luar.
5. Diameter luar dari ulir luar.
6. Diameter dalam dari ulir dalam
7. Diameter luar dari ulir dalam.
Gambar 2.2 Nama bagian bagian ulir.
[ 2 ]

Ulir disebut tunggal atau satu jalan bila hanya ada satu jalur yang melilit silinder,
dan disebut dua atau tiga jalan bila ada dua atau tiga jalur gambar 2.3. Jarak antara
Elemen mesin 1 Irbal Fraroza

Teknik Mesin 7

puncak-puncak yang berbeda satu putaran dari satu jalur disebut kisar. Jadi, kisar pada
ulir tunggal adalah sama dengan jarak baginya, sedangkan untuk ulir ganda dan tripel,
besarnya kisar berturut-turut sama dengan dua kali dan tiga kali jarak baginya.

a.Ulir tunggal b.Ulir ganda c. Ulir tripel
Gambar 2.3.Ulir tunggal,ulir ganda,ulir tripel.
[ 2 ]


Ulir juga dapat berupa ulir kanan dan ulir kiri, di mana ulir kanan akan bergerak
maju bila diputar searah jarum jam, seperti diperlihatkan dalam gambar 2.4 Umumnya
ulir kanan lebih banyak dipakai.

Gambar 2.4.Ulir kanan dan ulir kiri.
[ 2 ]



Elemen mesin 1 Irbal Fraroza

Teknik Mesin 8

2.3 Bentuk ulir
Bentuk dasar dari ulir adalah garis sekrup gambar 2.5 , terbentuk melalui
penggulungan suatu garis lurus dengan sudut kemiringan kepada suatu silinder dengan
jari-jari r. Dapat dikenali dari konstruksi penggulungannya, yaitu y/x = tan = P/(2r),
dari persamaan bisa dinyatakan kenaikan P dan sudut kenaikan .
Garis sekrup dapat berulir ke kanan, seperti ditunjukkan, dan dipakai di semua
konstruksi mesin atau beralur ke kiri. Dapat juga diatur menjadi beberapa garis sekrup
berjalur sejajar (ulir beralur banyak pada sekrup penggerak).
Pada ulir maka jejak dari tempat titik potong garis sekrup merupakan profil
(segitiga,trapesium,segiempat,setengah lingkaran). Dari ulir yang dinormalisasi dari
konstruksi mesin tabel 2.1 dan tabel 2.2 maka digunakan ulir puncak satu alur dengan
dengan sudut sisi 60
0
untuk sekrup penguatan (gesekannya besar).
Sebagai diameter terpakai d dipakai diameter dari baut ulir, hanya pada ulir pipa
whitworth dinyatakan menurut diameter pipa terluar.

Gambar 2.5. Garis sekrup dan penggulungannya.
[2].

Elemen mesin 1 Irbal Fraroza

Teknik Mesin 9

Profil Bentuk Ukuran



Ulir-ISO
metris
Dan
Ulir halus-
ISO metris


H = 0,86603 P
h P H
8
5
54127 , 0
1
= =

H P h
24
17
61343 , 0
2
= =

6
14434 , 0
H
P R = =

D = d
D
2
= d
2
= d 0,64953 P
D
1
= d 2 H
d
3
= d 1,22687 P
2
3
4
d A
k
t
=
2 3 2
)
2
(
4
d d
A
s
+
=
t


Ulir-DIN
metris
sebelumnya
dan
Ulir halus-
DIN metris
sebelumnya



t = 0,8660 . h
t
1
= 0,6495 . h
d
2
= d t
1

d
1
= d 2t
1

r = 0,1082 .
8
t
h =

Tabel 2.1. Contoh penyebutan : Ulir ISO metrisdan ulir ISO metris.
[1]

Ulir halus digunakan dalam pipa dan poros, dan ditetapkan ulir h
3
atau kenaikan
P yang berhubungan dengan sudut kenaikan adalah kecil ulir beralur banyak digunakan
orang pada sekrup penggerak, kalau dikehendaki efisien atau kenaikan P besar.


Elemen mesin 1 Irbal Fraroza

Teknik Mesin 10

2.4 Sekrup Penggerak

Gambar 2.6. Sekrup penggerak
[ 1 ]
: a) alur dalam rumahnya,
b) mur yang dipasangkan.
Sekrup penggerak mendapat tegangan karena gaya memanjang F dan momen
putar M
t
. Ulir mur dipotong langsung dalam rumahnya atau terbuat dari bahan tuangan,
brons atau besi tuang kelabu yang tahan aus yang dipanaskan seperti spindel yang terbuat
dari baja.
Yang penting untuk pengukuran adalah dengan mempertimbangkan faktor
keausan dari tekanan sisi p yang diizinkan. Dengan tinggi mur m dan kedalaman sisi
terpakai H
1
Tabel 2.1
[ 1 ]
dihasilkan :
p = diizinkan p
mH d
FP
T
s
1 2
t

P
T
= P/i ; i = jumlah alur ulir (ulir yang beralur banyak dengan sudut kenaikan lebih
besar menghasilkan gerakan memanjang lebih cepat),
P
izin
= 5 15 N/mm
2
untuk mur
P
izin
= 3 8 N/mm
2
untuk mur
Elemen mesin 1 Irbal Fraroza

Teknik Mesin 11

(berturut-turut nilai yang kecil untuk kerja terus menerus dan nilai yang besar untuk kerja
yang terputus-putus).
Tegangan tarik, tekan dan puntir menurut gambar 2.6 adalah terdiri dari tegangan
pembanding, tetapi dengan nilai yang diizinkan sebagai berikut :
Ulir trapesium :
v

izin ~
0,2
B
(tegangan meningkat, ~ 0,13
B
(tegangan
berubah-ubah).
Ulir gergaji :
v

izin ~
0,25
B
atau 0,17
B
.
B
, kekuatan tarik dari pengulir :
450 650 N/mm
2
untuk disain yang dikeraskan dan dipoles.

Tabel 2.2. Kedalaman penyekrupan minimal yang berhubungan dengan tinggi mur
minimal h.
[1].

Pasangan Ketinggian minimal m
Sekrup dan mur dari bahan yang sama
dengan ulir kasar
08 d (nilai yang dinormalisasikan untuk
mur menurut DIN 555 dan DIN 934)
Sekrup baja (8.8) dalam GG 1,0 d 1,2 d*
Sekrup baja (10.9) dalam GG 1,2 d 1,4 d*
Sekrup baja dalam Al-murni 2,2 d
Sekrup baja (8.8) dalam campuran Al 1,1 d 1,4 d*
Sekrup baja 88 dalam St 37 1,0 d 1,25 d*
Sekrup baja 109 dalam St 37 1,25 d 1,4 d*




Elemen mesin 1 Irbal Fraroza

Teknik Mesin 12

2.5 Sekrup yang dibebani melintang
Sekrup pas menurut DIN 609,610 (tidak ada kelonggoran pada poros) adalah
seperti keling oleh gaya melintang F
Q
mendapat tegangan geser
a
t pada penampang
melintang poros sepenuhnya A =
4
2
d t
dan tekanan badan
1
:

a
=
n Am
F
i
Q

a izin

1 =
dsn
F
Q

1 izin
dengan n jumlah sekrup, m
i
- jumlah patahan, dan d adalah diameter poros.


Gambar 2.7. Sambungan sekrup yang dibebani melintang : a) sekrup pas, b) sekrup yang
ditembuskan dan menerima gaya melintang melalui gesekan, c) sekrup tembus dan
tabung belah.
[1].

Sekrup tembus ( dengan kelonggaran pada poros) meneruskan gaya melintang
melalui gaya gesekan F
v
, yang ditimbulkan oleh gaya memanjang F
v
dari sekrup.
Dalam konstruksi baja bertingkat sering dipakai sambungan HV (sambungan kekuatan
tinggi) dengan sekrup HV (DIN 6914 sampai 6918, kualitas 10.9), nilai gesekan
dipakai disini 0,45 (0,6) untuk bagian konstruksi dari St 37 ( St 52). Dalam konstruksi
Elemen mesin 1 Irbal Fraroza

Teknik Mesin 13

mesin pada umumnya maka permukaan yang disekrupkan dalam kedudukannya adalah
dikerjakan halus dan tidak bebas lemak, sehingga dipakai nilai gesekan 0,10,15.
Gaya tegangan F
v
yang diperlukan pada suatu keamanan S
R
yang dikehendaki terhadap
luncuran maka diperhitungkan :



Nilai batas : S
R
= 1,25 untuk konstruksi mesin dan konstruksi bertingkat (bagian
konstruksi St 37 atau St 52, S
R
= 1,6 untuk konstruksi jembatan dan konstruksi pesawat
pengangkat (St 37 atau St 52, Fv8FQ (konstruksi mesin, sekrup ditanamkan). Besar
sekrup sekitar dari F
V
= 0,7 .
0,2
. A
S
.
Tegangan yang diizinkan untuk sekrup HV
0.2
900 N/mm
2
.
1 izin
untuk bagian
konstruksi dari St 37 dengan sekrup pas kualitas 4,6 ( DIN 1050) = 280 N/mm
2

dan
untuk St 52 = 420 N/mm
2
dengan sekrup pas kualitas 5,6.
a izin
= 0,5 .
1 izin.

2.6 Penerusan gaya dan efisiensi.
Pada ulir datar dengan = 0
o
menurut gambar 2.8, diberikan pada ulir di
pertengahan diameter sisi d
2
suatu gaya memanjang F dan gaya keliling Fu. Disebabkan
gesekan, maka harus terjadi pada keseimbangan gaya suatu resultan F
R
dalam arah
normal (tegak lurus bidang). Maka F
u
= F . tan dengan tan =
2
d
P
t
.




Elemen mesin 1 Irbal Fraroza

Teknik Mesin 14

Tabel 2.4. Bentuk dari : a) Ulir pipa whitworth, b) ulir bulat, c) ulir trapesium, d) ulir
gergaji.
[1].

Profil Bentuk Ukuran


Ulir
pipa
whitworth

z
P
4 , 25
=
r = 0,137329 P
H = 0,960491 P
H = 0,640327 P

Contoh :
Dengan R
2
1' '

d = D = 20,955
mm
P = 1.814 mm




Ulir
bulat

z
h
40095 , 25
=
t = 1,86603 h
t
1
= 0,5 h
t
2
= 0,08350 h
a = 0,05 h
b = 0,68301 h
r = 0,23851 h
R = 0,25597
R
1
= 0,22105 h
Contoh : Rd30 x 1/8``
dengan
d = 30mm Dan h =
1/8`` = 3,175mm
Elemen mesin 1 Irbal Fraroza

Teknik Mesin 15



Ulir
trapesium



t = 1,866 h
t
1
= 0,5h + a
c = 0,0,25 h
t
2


= 0,5 h + a b
T =

0,5 h + 2a b
Contoh : Tr50x8
Dengan
d = 50mm
Dan h = 8mm



Ulir
gergaji

t = 1,73205 h
t
1
= t
2
+ b
t
2
= 0,75 h
c = 0,26384 h
j = 0,52507 h
j
1
= 0,45698 h
b = 0,11777 h
r = 0,12427 h
contoh : S80x60
Dengan D = 80mm Dan
h = 16mm

Gambar 2.8. Gaya pada sekrup dengan ulir datar, a) dan b) gerakan ke atas, (c)
gerakan ke bawah.
[1].

Elemen mesin 1 Irbal Fraroza

Teknik Mesin 16


Gambar 2.9. Gaya normal pada ulir meruncing.
[1].

Pada peninjauan gesekan dengan angka gesekan = tan maka terjadinya
gerakan permulaan, adalah kalau resultan F
R
pada sudut gesekan terhadap normal
meningkat. Maka : Fu = F . tan ( e),
Untuk menaikkan beban gambar 2.8 b, untuk menurunkan beban gambar 2.8 c.
Untuk ulir meruncing dengan >0 gambar 2.9 maka dalam persamaan di atas
digantikan dengan nilai ' dengan
tan e
`
=
)
2
( cos
tan
|
e
serta
/
=
)
2
cos(
|


Maka untuk gaya gesek selalu arahnya ke bawah ke sisi ulir yang ditentukan oleh
gaya yang bekerja. Ulir yang runcing memberikan juga, pada gaya memanjang yang
sama, suatu gaya gesekan lebih besar dari ulir datar sehingga selalu dipakai untuk sekrup
penguatan. Maka besarnya
Fu = F tan ( e
/
)
Dan untuk momen putarnya
M
T
= Fu .
2
2
d
= F tan (e
/
)
2
2
d
.
Elemen mesin 1 Irbal Fraroza

Teknik Mesin 17

Gaya gesek selalu arahnya berlawanan dengan gaya, juga nilai dari +
menunjukkan pada pengetatan sekrup (pengangkatan beban), menunjukkan pengendoran
sekrup (penurunan beban).
Efisiensi (perbandingan antara kegunaan terhadap pengeluaran) dari gerakan
sekrup (baut + mur) besarnya:
Pada perubahan momen putar menjadi gaya memanjang
=
) ( tan
tan
e' + o
o

Pada perubahan gaya memanjang menjadi momen putar
=
o
o
tan
) ( tan e'

Penghentian sendiri adalah dikehendak dan merupakan tujuan dari sekrup
penguatan, kalau gaya memanjang F tidak dapat menimbulkan momen putar, juga kalau
Fu = F . tan (-
/
)0, yaitu
/
dan
/
0

atau < 0,5. Pada sekrup metris dengan
2,5
o
juga menghasilkan penghentian sendiri, selama nilai kekasaran
/
= tan
/
0,04,
suatu nilai yang dari padanya memberikan keamanan. Juga selama sekrup penguatan
ditegangkan (F > 0), tidak dapat terbuka lepas pada guncangan.

Elemen mesin 1 Irbal Fraroza

Teknik Mesin 18



Gambar. Efisiensi dari sekrup.
[1].










Elemen mesin 1 Irbal Fraroza

Teknik Mesin 19


BAB III
PERHITUNGAN

Merancang sebuah ragum berulir trapesium, dirancang untuk tekanan atau beban 3000
kg. Dengan beban atau tekanan Q = W
0
= 3000 kg dan jika faktor koreksi f
c
= 1,2
[4]
maka beban
yang direncanakan :
W = f
c
x W
0
= 1,2 x 3000 kg
= 3600 kg
Bahan poros berulir dipilih ST.4 yang memiliki :
Tegangan tarik b = 52 kg/mm
Faktor keamanan Sf = 3,5
[1]
Maka tegangan tarik ijin b(ijin) =

= 14,85 kg/mm
III.1 Rancangan Untuk Poros Berulir
Diameter inti ulir (

) yang diperlukan :

=


=


= 17,57 mm

Maka dipilih ukuran poros untuk mesin press ulir trapesium dari tabel 16.4
[1]
:
Diameter dalam dari ulir (

) = 18,5 mm
Elemen mesin 1 Irbal Fraroza

Teknik Mesin 20

Diamter nominal ulir (d) = 24 mm
Jarak bagi (P) = 5 mm
Diameter ujung poros (d
T
) = 0,7 x d = 0,7 x 24 =16,8 mm
Dipilih untuk diameter ujung Poros (d
T
) = 17 mm
Maka diameter rata-rata ulir =

= 21,25 mm
Dan Tan =


= 0.075
Diketahui koefisien gesek ulir ( = 0,12

Torsi yang diperlukan untuk memutar batang ulir :
T
1
= P x



= W ( Tan + Tan ) x


= W [


] x


= 3600 [


] x


= 7526,488 kg.mm
Tegangan tarik akibat beban aksial :


= 13,399 kg/mm
2

Tegangan geser akibat torsi :

= 6,057 kg/mm
2
Elemen mesin 1 Irbal Fraroza

Teknik Mesin 21

Maka :
Tegangan tarik maksimum :

(
=


]
=


]
= 15,8 kg/mm
2
Tegangan geser maksimum :

(
=



= 9,03 kg/mm
2


III.2. Rancangan Untuk Mur
Tekanan pada bantalan dari tabel 16.7
[1]
yaitu :

P
b
= 2,45 kg/mm
2 [1]

Jumlah ulir yang berhubungan dengan poros berulir :
P
b
=



Di mana n adalah jumlah ulir, maka:
n =


= 8 buah ulir
Tinggi mur :
Elemen mesin 1 Irbal Fraroza

Teknik Mesin 22

H = n x P = 8 x 5 = 40 mm
Tebal mur :
t =

= 2,5 mm
Memeriksa tegangan yang terjadi di dalam mur dan baut. Kita tahu bahwa :
Tegangan geser pada baut :

(screw)
=


= 3,09 kg/mm
2
Dan tegangan geser pada mur :

(nut)
=


= 2,39 kg/mm
2
Maka tegangan geser baut
(screw)
dan tegangan geser mur
(nut)
tidak melebihi batas yang
diijinkan, maka rancangan aman.
Diameter dalam mur = D
Diameter luar mur = D
1

= 13,399 kg/mm
2

= 6,057 kg/mm
2
Maka :
(ijin)
=

= 3,82 kg/mm
2

(ijin)
=

= 1,8 kg/mm
2
Untuk Diameter dalam mur (D) :
W =

( D
2
d
o
2
)
(ijin)
=

( D
2
24
2
) 3,82
Elemen mesin 1 Irbal Fraroza

Teknik Mesin 23

Maka ( D
2
24
2
) =



D = = 42,14 mm maka dipilih 42,5 mm
[1]
Diameter luar (D
1
) :
W =

2
D
2
)
(ijin)
=

( D
2
42,5
2
) 1,8
(

2
42,5
2
) =


= 2547,8
D
1
= = 65,98 mm maka dipilih 66 mm
[1]
Ketebalan ukuran penahan mur (a) :
W = . D
1
. a .
Maka a =


= 9,65 mm maka dipilih 10 mm
[1]

III.3. Rancangan Untuk Handle
Diameter bagian kepala atas baut dan mur pada handle (D
3
) :
D
2
= 1,75 x d
o
= 1,75 x 24 = 42 mm maka dipilih 45 mm
Diameter pin yang terpasang di antara baut dan mur untuk handle (D
4)
:
D
3
=

= 11,25 mm, dari tabel l0.1


[1]
maka dipilih ulir baut kasar M 12 dengan :
Diameter inti (d
c
) = 10 mm
Diamter nominal (d) = 12 mm
Jarak bagi (P) = 1.75 mm

Torsi yang timbul akibat gesekan pada puncak baut (T
2
). Asumsi pada keadaan kondisi tekanan
Elemen mesin 1 Irbal Fraroza

Teknik Mesin 24

seragam
[1]
yaitu:
Diketahui : diameter untuk D
2
= 45 mm dan D
3
= 12 mm, maka jari-jari adalah D
2
= 22.5 dan D
3
=
6 mm
T
2
=


1
W [

]
=

x 0,12 x

3600 [

] = 6854,4 kg.mm

(Asumsi
1 =


)
[1]
Maka total torsi yang terjadi pada handle :
T = T
1
+ T
2
= 7526,488 + 6854,4 = 14380,9 kg.mm

Panjang handle yang diperlukan:
Gaya yang dibutuhkan untuk memutar handle (P) adalah 25 kg. Maka

Panjang handle (

) =

=


= 575,236 mm
Maka diambil panjang handle yaitu 575,5 mm
Momen lengkung pada handle adalah :
M = P x L
Handle

= 25 kg x 575,5 mm = 14387,5 kg.mm

Maka tinggi bagian kepala atas baut dan mur pada handle
H = 2 . D = 2 x 22 = 44 mm
Panjang efektif baut untuk mengaitkan :
Asumsi bahwa tinggi pengangkatan baut sebesar 150 mm
[1]
. Maka panjang efekitf baut
L = 150 mm +

tinggi mur = 150 mm +

40 mm = 170 m
Elemen mesin 1 Irbal Fraroza

Teknik Mesin 25

BAB V
KESIMPULAN

Dari perhitungan yang sudah dilakukan di atas, dengan data-data yang tersedia
dan rumus yang didapat dari literature, maka didapat hasil perhitungan sbb :
1. Perhitungan Poros Ulir
[ 3 ]


a. dc ( diameter dalam poros Ulir )


dc = 38 mm = 3,8 cm
do = 46 mm = 4,6 cm
b. Diameter pada mur



2. Rancangan untuk mur
[ 3 ]

a. Diameter dalam dari mur.



b. Diameter luar dari mur.


c. Tebal dari kepala mur






Elemen mesin 1 Irbal Fraroza

Teknik Mesin 26

2. Rancangan untuk lengan dongkrak dan cup
[ 3 ]

a. Diameter kepala dongkrak


b. Tinggi dari cup = 5 cm
c. Lebar dari cup = 1 cm
d. Diameter atas dari cup = 16 cm
e. Diameter pemutar dongkrak.

f. Tinggi kepala dongkrak :


g. Panjang lengan pemutar :


3. Rancangan untuk bodi dongkrak.
[ 3 ]



(



b.
(







Elemen mesin 1 Irbal Fraroza

Teknik Mesin 27






4. Kekuatan komponen
[ 3 ]







Karena ( Mt > Mp ), maka :










Elemen mesin 1 Irbal Fraroza

Teknik Mesin 28


DAFTAR PUSTAKA
1. Ferdinand P.Beer dan E.Russell Johnston .Mekanika Untuk Insinyur Statika .
Erlangga, Jakarta, 1989
2. Ferdinand L.Singer , Andrew Pytel dan Darwin Sebayang .Kekuatan Bahan .
Erlangga, Jakarta 1985
3. Khurmi R.S dan J.K. Gupta. Machine Design . New Dehli S.Chand dan Company
LTD, New Dehli, 1980.
4. Niemen Gustav. Elemen Mesin .Erlangga, Jakarta, 1986
5. Sularso dan Kiyokatsu Suga. Dasar Perencanaan dan Pemilihan Elemen
Mesin . PT Pradnya Paramitha, Jakarta 1985