Anda di halaman 1dari 7

TUGAS PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER (PKPA) LOKASI PRODUKSI FARMASI ANTISEPTIKA DAN DESINFEKTAN

Disusun oleh: Kelompok I

PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER PERIODE APRIL-MEI RSUP Dr. SARDJITO YOGYAKARTA 2012

ANTISEPTIKA DAN DESINFEKTAN

A. Pengertian Antiseptika dan Desinfektan Antiseptika adalah zat atau senyawa kimia yang digunakan untuk membunuh atau menghambat pertumbuhan mikroorganisme pada jaringan hidup, seperti permukaan kulit, dan membran mukosa. Sedangkan desinfektan adalah zat atau senyawa kimia yang digunakan untuk membunuh atau menghambat pertumbuhan mikroorganisme pada benda mati (Tjay & Kirana, 2002). B. Persyaratan Ideal Antiseptika dan Desinfektan Persyaratan yang ideal untuk suatu senyawa kimia sebagai antiseptika adalah sebagai berikut: 1. Mulai kerjanya cepat dan bertahan lama 2. Memiliki spektrum yang luas terhadap kuman, jamur, spora, virus, dan protozoa 3. Toksisitas serta daya absorpsinya pada kulit dan selaput lendir rendah 4. Tidak merangsang kulit dan selaput lendir 5. Daya kerja tidak berkurang dengan adanya zat organik Sedangkan persyaratan yang ideal untuk desifektan adalah sebagai berikut: 1. Memiliki spektrum yang luas 2. Toksisitasnya rendah 3. Bau tidak merangsang 4. Daya absorbsinya rendah 5. Tidak korosif terhadap alat yang didesinfeksi (Tjay & Kirana, 2002). C. Penggolongan Antiseptika dan Desinfektan Antiseptika digolongkan menjadi 9 jenis, yaitu sebagai berikut: 1. Turunan alkohol

Alkohol merupakan zat yang memiliki aktivitas antimikroba sepktrum luas dalam membunuh bakteri, virus, dan jamur, tetapi tidak bersifat sporisidal. Mekanisme kerja alkohol dengan cara mendenaturasi protein dengan jalan dehidrasi dan juga melarutkan lemak (Sulistyaningsih, 2010). Kadar antiseptik alkohol yang paling baik adalah 70-90%, dan yang biasa dipakai sebagai antiseptik kulit yaitu yang memiliki kandungan 70%, dengan kandungan 70% tersedia cukup molekul air yang akan mempercepat proses penguapan juga mempercepat proses penetrasi ke jaringan. Penggunaan alkohol 70% merupakan konsentrasi yang baik sebagai antiseptik kulit. Contohnya: Etanol Isopropil alkohol Normal-propil (Ascenzi, 1996). 2. Turunan amidin dan guanidin Turunan amidin dan guanidin berupa klorheksidin mempunyai efek antibakteri dengan mengganggu sel membran bakteri dan menyebabkan presipitasi dari isi sel bakteri. Klorheksidin bersifat spektrum luas dan bekerja lebih efektif terhadap bakteri gram positif daripada gram negatif. Penggunaan klorheksidin tidak menimbulkan efek toksik, bahkan bila digunakan pada bayi baru lahir sekalipun, karena penyerapan pada kulit minimal. Bila digunakan pada mata dapat menyebabkan kerusakan pada kornea mata. Contohnya: Klorheksidin (Ascenzi, 1996). 3. Zat warna Zat perwarna tertentu yang biasa digunakan untuk pewarnaan bakteri mempunyai daya bakteriostatis. Daya kerja ini biasanya selektif terhadap bakteri gram positif, walaupun beberapa khamir dan jamur telah dihambat

atau dimatikan, bergantung pada konsentrasi zat pewarna tersebut. Mekanisme zat warna sebagai antiseptik diperkirakan berkombinasi dengan protein atau mengganggu mekanisme reproduksi sel bakteri. Sehingga menghambat pertumbuhan dari bakteri tersebut. Contohnya: Turunan akridin (akrilavin) Turunan trifenil metan (gentian violet, malachite green) (Suzer, 2008). 4. Halogen dan halogenofor Iodium tingtur telah lama digunakan sebagai antiseptik kulit sebelum prosedur operasi. Bersifat relatif lebih aman dan bekerja cepat, tapi tidak dianjurkan untuk mencuci tangan sehari-hari karena menyebabkan iritasi pada kulit (Sulistyaningsih, 2010). Iodofor merupakan produk yang digunakan sebagai antiseptik tangan sebelum prosedur pembedahan. Iodofor bersifat kompleks terdiri dari iodin dan povidon. Kombinasi tersebut meningkatkan kelarutan dari iodin. Aktivitas iodofor sama dengan iodin yaitu dengan penetrasi dinding sel bakteri, oksidasi, dan mengganti kandungan bakteri dengan iodin bebas. Iodin dan iodofor mempunyai spektrum luas dalam membunuh bakteri baik gram positif maupun negatif. Contohnya: Iodin Iodofor (povidon-iodin) (Ascenzi, 1996). 5. Senyawa merkuri Senyawa merkuri memiliki khasiat sebagai bakteriostatik dan fungistatik. Mekanisme kerjanya adalah dengan pembentukan kompleks dengan protein, presipitasi, dan blockade dari enzim sulfhidril. Daya kerjanya dihambat oleh zat-zat organis. Senyawa merkuri saat ini sudah tidak digunakan lagi, namun merkurokrom (larutan dalam air 5-10%) kadangkadang masih digunakan dalam bedah plastik yang berguna untuk

mempercepat keringnya luka dan pembentukan kerak (granulasi) (Tjay &Rahardja, 2002). Contohnya: Merkurokrom 6. Senyawa fenol Fenol penggunaannya terbatas dikarenakan efeknya yang korosif, efek toksik dan efek kardiogeniknya. Derivat fenol seperti o-fenilfenol, obenzil-p-klorofenol memiliki efek samping yang lebih minimal disbanding fenol. Senyawa fenol bekerja dengan menghancurkan dinding sel dan membran sel bakteri, mengendapkan (presipitasi) protein, dan inaktivasi enzim. Senyawa fenol bersifat bakterisidal, fungisidal, namun tidak bersifat sporisidal. Contohnya: Fenol o-fenilfenol o-benzil-p-klorofenol Timol Eugenol Polikresulen (Suzer, 2008). 7. Senyawa amonium kuartener Kelompok ini terdiri atas sejumlah besar senyawa yang empat substituennya mengandung karbon, terikat secara kovalen pada atom nitrogen. Benzalkonium klorida merupakan salah satu yang sering digunakan, bersifat bakteriostatik dan bakterisid tergantung pada konsentrasi yang digunakan. Pada umumnya, lebih efektif terhadap bakteri gram positif daripada bakteri gram negatif. Contohnya: Benzalkonium klorida (Suzer, 2008). 8. Senyawa perak

Senyawa perak memiliki khasiat sebagai bakterisid kuat. Larutan dengan konsentrasi 0,1% mampu membunuh bakteri hanya dalam beberapa detik. Senyawa perak bersifat kaustik (membakar) dan astringensia, disamping juga meninggalkan noda-noda hitam di kulit. Perak nitrat dulu banyak digunakan dalam tetes mata dan sebagai profilaksis terhadap gonore pada bayi yang baru lahir. Tetapi, karena dapat menyebabkan conjungtivitis, sekarang perak nitrat sudah tidak digunakan lagi, dan diganti dengan antibiotika. Contohnya: Perak nitrat (Tjay & Kirana, 2002). 9. Heksetidin (bactidol) Antibakteri dan antijamur pada membran mukosa. Merupakan derivat pirimidin yang berkhasiat terhadap bakteri gram positif dan gram negatif. Biasanya digunakan sebagai larutan 0,1% dalam etanol 9% dalam obat kumur untuk antiseptik mulut pada stomatitis dan gingivitis. Heksetidin tidak boleh diminum, kerjanya bertahan selama 10-12 jam. Desinfektan digolongkan menjadi 3 jenis, yaitu sebagai berikut: 1. Turunan aldehid Turunan aldehid yang sering digunakan sebagai desinfektan adalan formaldehida. Konsentrasi formaldehida 1-10% efektif untuk membunuh mikroorganisme dalam 1-6 jam. Mekanisme formaldehid adalah dengan menggabungkan dan mengendapkan (presipitasi) protein. Formaldehida terlalu iritan untuk digunakan pada jaringan, sehingga penggunaannya secara luas hanya sebagai desinfektan untuk instrumen (peralatan). Glutaraldehida sebagai larutan alkali 2% dalam isopropanol 70% (pH 7,58,5) dapat digunakan sebagai desinfektan untuk instrumen (peralatan). Glutaraldehida membunuh mikroorganisme dalam 10 menit. Contohnya: Formaldehida Glutaraldehida

(Suzer, 2008). 2. Turunan klorofor Kloramin T merupakan senyawa yang melepaskan klorin. Klorin merupakan oksidator kuat dan desinfektan yang telah secara luas digunakan. Konsentrasi kurang dari 5 ppm dapat membunuh bakteri vegetatif, sedangkan konsentrasi 5000 ppm jika diperlukan dapat digunakan untuk membunuh spora. Biasa digunakan untuk proses desinfeksi tumpahan darah. Contohnya: Kloramin T (Suzer, 2008). 3. Senyawa pengoksidasi Hidrogen peroksida memiliki aktivitas yang tinggi dalam membunuh bakteri, bersifat spektrum luas terhadap bakteri, spora, virus, dan jamur ketika digunakan pada konsentrasi yang sesuai. Hidrogen peroksida konsentrasi 10-25% bersifat sebagai sporisidal. Contohnya: Hidrogen peroksida Benzoil peroksida (Suzer, 2008).

Referensi: Ascenzi, J. M., 1996, Handbook of Disinfectants and Antiseptics, available at http://books.google.com/books. diakses tanggal 10 mei 2012. Sulistyaningsih, R., 2010, Uji Kepekaan Beberapa Sediaan Antiseptik terhadap Bakteri Staphylococcus aureus dan Staphylococcus aureus Resistensi Metisilin (MRSA), Fakultas Farmasi Universitas Padjadjaran, Jatinangor. Suzer, O., 2008, Disinfectants and Antiseptics, available at http://www.ctf.edu. tr/farma/onersuzer/pdf/ing/05_Dysinfectant_B.pdf, diakses tanggal 10 Mei 2012. Tjay, T. H & Kirana, R., 2002, Obat-Obat Penitng; Khasiat, Penggunaan dan Efek-Efek Sampingnya Edisi Kelima, PT ELex Media Komputindo, Jakarta.