P. 1
ABSES OTAK

ABSES OTAK

|Views: 35|Likes:
Dipublikasikan oleh Ana Yesi Santika Sari

More info:

Published by: Ana Yesi Santika Sari on Oct 03, 2012
Hak Cipta:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PPTX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

11/30/2012

pdf

text

original

Oleh : Ana Yesi Santika Sari

0810311016

Preseptor : Dr. Yusri Dianne Jurnalis, Sp.A (K) BAGIAN ILMU KESEHATAN ANAK FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS ANDALAS RSUP DR. M. DJAMIL PADANG 2012

Abses otak adalah terdapatnya timbunan nanah yang terlokalisasi dalam jaringan otak, baik itu disertai pembentukan kapsul ataupun tidak.

Sutomenggolo dkk melaporkan

1986-1989 20 pasien abses otak berusia 1-2 tahun yang dirawat di RS. Dr. Cipto Mangunkusumo

RSUD Dr. Soetomo Soerabaya selama periode 1989-1994 dirawat 45 pasien

24 % meninggal dan 58 % menderita gejala sisa.

pria : wanita 3 : 1, paling lazim antara 4 sampai 8 tahun

Abses otak tersebar rata antara dua hemisfer

80 % kasus terbagi sama antara lobus temporalis, parietalis, dan frontalis.

20% dari kasus, Abses otak pada lobus oksipitalis, serebellum, dan batang otak

Sebagian besar abses otak adalah tunggal, namun 30% adalah multiple dan mungkin melibatkan lebih dari satu lobus.

Berdasarkan bakteri penyebab etiologi • Gram positif : streptokokus, stafilokokus, pneumokokus • Gram negatif : E. Colli, hemofillus influenza, proteus, pseudomonas • B. Fragilis

Organisme aerobik

Organisme anaerobik

Fungi

• kandida, aspergilus, nokardia

Parasit

• E. Hystolitica

fase serebritis dini (1-3 hari)

fase serebritis lambat (4-9 hari)

fase pembentukan kapsul dini (10-13 hari)
fase pembentukan kapsul lambat (hari 14 dan berikutnya)

Penyakit jantung bawaan sianotik dengan pirau kanan ke kiri, terutama pada anak usia lebih 2 tahun
Penyakit kronik misalnya diabetes melitus, sarkoidosis pasien penyakit keganasan (leukemia, limfoma maligna) pasien yang menerima obat imunosupresif untuk waktu lama, kortikosteroid atau sitostatika pasien AIDS

sumber infeksi

• Penyebaran langsung dari fokus yang berdekatan dengan otak • Metastasis berasal dari fokus jauh secara hematogen • Trauma tembus kepala • Pasca operasi kepala • Sumber infeksi tidak diketahui

Menurut volpe ada dua manifestasi mayor abses otak pada neonatus, yaitu :
manifestasi peningkatan tekanan intrakranial yang akut atau subakut (muntah, ubun-ubun cembung, pembesaran ukuran kepala, melebarnya sutura)dan manifestasi serebral fokal yang lebih jarang

Manifestasi akut meningitis bakterial

manifestasi peningkatan tekanan intrakranial manifestasi supurasi intrakranial tanda infeksi tanda lokal jaringan otak

• nyeri kepala • muntah • papil edema • iritabel • Drowsiness atau stupor • tanda rangsangan meningeal • demam • menggigil • leukositosis
• • • • • kejang gangguan saraf kranial afasia ataksia paresis

gambaran klinis

• leukositosis laboratorium • peningkatan laju endap darah.

• gelombang lambat delta voltase tinggi
EEG

Pencitraan

• Radiografi konvensional • CT Scan kepala • MRI

• Manajemen awal  diagnosis segera  pemberian regimen antibiotik yang didasarkan atas kemungkinan penyebab dan organisme yang paling mungkin • Dasar pengobatan mengurangi efek massa dan menghilangkan kuman penyebab

Diperkirakan operasi akan memperburuk keadaan Abses multiple Abses disertai meningitis Abses yang lokasinya sulit dicapai Abses disertai hidrosefalus.

Kortikosteroid

• Steroid hanya digunakan bila terdapat efek massa yang menyebabkan manifestasi neurologis fokal dan penurunan kesadaran.

Pembedahan

• Pembedahan bisa berupa eksisi atau punksi dan aspirasi

mortalitas akan lebih tinggi pada pasien yang menunjukkan perjalanan penyakit yang cepat.

Pasien dalam keadaan koma perioperatif mempunyai prognosis buruk

Pasien dengan gangguan kekebalan mempunyai prognosis buruk

Abses yang bersifat soliter dan supervisial lebih baik dibandingkan dengan yang multipel

Kematian biasanya akibat pecahnya abses ke dalam ventrikel, herniasi atau sepsis.

Sekuele jangka panjang terjadi setidaknya pada 50 % dari penderita yang bertahan hidup dan meliputi hemiparesis, kejang, kelainan saraf kranialis dan masalah belajar dan perilaku

Nama Jenis Kelamin Umur No. RM

•F • Laki-laki • 5 tahun 7 bulan
• 798740

Nyeri kepala berulang sejak 8 bulan sebelum masuk rumah sakit, nyeri dirasakan di seluruh kepala. Nyeri kepala seperti berdenyut-denyut, ketika nyeri kepala menyerang pasien hanya diam dan tidak mampu bicara.

Demam sejak 4 hari sebelum masuk rumah sakit, demam tidak tinggi, hilang timbul, tidak menggigil dan tidak berkeringat.

Muntah sejak 3 hari sebelum masuk rumah sakit, frekuensi kurang lebih 3-4 kali dalam sehari, jumlah kira-kira 5 sendok makan setiap kali muntah, berisi apa yang dimakan dan diminum, muntah menyemprot.

Kejang berulang sejak 3 hari sebelum masuk rumah sakit, frekuensi 3-4 kali dalam sehari, lama kejang kurang lebih 2 menit, jarak antar kejang 1-2 jam, kejang terjadi seluruh tubuh, kedua mata melirik ke atas, seluruh tubuh kaku beberapa detik, kemudian tangan dan kaki pasien kelihatan bergerak seperti menyentak-nyentak,. Setelah kejang pasien tidak sadar. Ini merupakan kejang yang pertama.

Penurunan kesadaran sejak 2 hari sebelum masuk rumah sakit, penurunan kesadaran terjadi setelah kejang berulang

Pasien tidak memiliki riwayat trauma kepala dan tidak mengeluhkan penglihatan ganda atau kabur, tidak sesak nafas dan tidak batuk pilek.

Buang air kecil jumlah dan warna biasa

Buang air besar warna dan konsistensi biasa.

Pasien merupakan pasien rujukan dari RSUD muaro labuah, di kirim ke RSUP Dr. M Djamil dengan keterangan suspek SOL (Space Occupying Lesion) dengan peningkatan TIK (Tekanan Intrakranial) dan telah mendapatkan terapi IVFD Ka EN IB, cefotaxim 2 x 500 mg, luminal maintenance 2 x 25 mg.

Pada saat di IGD pasien telah dilakukan konsul ke bagian mata dengan hasil papil edema, konsultasi ke bagian bedah tetapi belum ada jawaban. Pasien juga telah dilakukan Brain CT scan dengan gambaran Hidrosefalus dan Suspek Tumor Intrakranial

Pasien tidak pernah menderita penyakit seperti ini sebelumnya

Saudara perempuan pasien (kakak) meninggal usia 2 bulan dengan keluhan kejang demam.

Riwayat Kehamilan Ibu Selama hamil ibu tidak pernah menderita penyakit berat, ibu tidak mengkonsumsi obatobatan selama hamil, tidak pernah mendapat penyinaran selama hamil, tidak ada kebiasaan merokok dan minum alkohol dan hamil cukup bulan. Riwayat Persalinan Persalinan di rumah ditolong bidan, lahir spontan, langsung menangis, cukup bulan, berat badan lahir 3500 gram, panjang badan lahir lupa.

Riwayat Makanan dan Minuman Bayi

ASI

• 0 - 15 bulan

Susu formula • 15 bulan - 3 tahun 6 bulan

Bubur susu
Nasi tim

• 2 bulan - 7 bulan • 7 bulan - 1 tahun • 1 tahun - sekarang

Nasi biasa

Anak
Makanan utama Daging Ikan Telur

• 3 kali/hari • 1 kali/minggu • 2 kali/minggu • 7 kali/minggu

Sayur mayur

• 7 kali/minggu

Riwayat Imunisasi

BCG

• 1 bulan • 2 bulan • •-

DPT
Polio

Campak

Hepatitis B • bulan
Kesan Imunisasi dasar tidak lengkap

Riwayat Sosial Ekonomi
• Anak ke dua dari dua bersaudara. Ibu tamatan SMP dengan pekerjaan ibu rumah tangga. Bapak tamatan SD dengan pekerjaan sebagai sopir berpenghasilan Rp. 1.500.000 per bulan.

Riwayat Perumahan dan Lingkungan • Tinggal di rumah kontrakan permanen, sumber air minum dari sumur, jamban di luar rumah (WC umum), pekarangan sempit dan sampah dibuang di belakang rumah • Kesan : hygiene dan sanitasi kurang

Riwayat tumbuh kembang
Pertumbuhan gigi pertama : • 1 tahun

Psikomotor

• Tengkurap • Duduk • Berdiri • Berjalan • Bicara

: 2 bulan : 7 bulan : 12 bulan : 15 bulan : 9 bulan

Kesan : tumbuh kembang normal

Keadaan umum •buruk Kesadaran

•GCS 8 (E2M4V2)

Tekanan Darah •100/60 mmHg Nadi Suhu Pernafasan

•120 x/menit •36,6 0C •20 x/menit

Keadaan Gizi

TB

• 94 cm
• 10 kg • 10/20 x 100 % = 50 % • 94/113 x 100 % = 83,18 % • 10/14 x 100 % = 71,42 %

BB
BB/U TB/U

BB/TB

Edema Sianosis Ikterus Kulit Kepala KGB

• tidak ada • tidak ada • tidak ada • teraba hangat, perfusi baik • bulat, lingkar kepala 51,5 cm (normal standar nelhaus) • tidak teraba pembesaran KGB

Rambut

• hitam, tidak mudah rontok

Mata

• konjungtiva tidak anemis • sklera tidak ikterik • pupil isokor diameter 2 mm • reflek cahaya +/+ normal

Fundusk • papil edema opi • tidak ditemukan kelainan

Telinga

Hidung

• tidak ditemukan kelainan

Tenggorokan

• tonsil T1,T1 tidak hiperemis • faring tidak hiperemis • caries (+)

Gigi dan mulut

Leher

• JVP 5-2 cm H20, kaku kuduk (-)

Paru

• Inspeksi : simetris kiri kanan • Palpasi : fremitus kiri sama dengan kanan • Perkusi : sonor • Auskultasi : vesikuler, rhonki tidak ada, wheezing tidak ada

Jantung

• Inspeksi : iktus tidak terlihat • Palpasi : iktus teraba 1 jari medial LMCS RIC V • Perkusi : batas jantung normal • Auskultasi : bunyi jantung murni, irama teratur, bising tidak ada

Abdomen
• Inspeksi : distensi tidak ada • Palpasi : supel, hepar teraba 1/4-1/4, konsistensi kenyal, pinggir tajam, permukaan rata. Lien tidak teraba. • Perkusi : timpani • Auskultasi : bising usus (+) normal

Punggung
• tidak ada kelainan

Alat kelamin
• tidak diperiksa

Status pubertas
• A1P1G1

• akral hangat, reffilling kapiler baik
Ekstremitas

refleks fisiologis

• +/+

refleks patologis +/+

• Babinski : +/+ • Gordon : +/+ • Openheim : +/+ • Schaffer : +/+ • Chadock : +/+

TRM (Tanda Rangsangan Meningeal)

• Kaku kuduk (-) • brudzinski I (-) • brudzinski II (-) • kernig (-)

Darah
Urin

• Hb • Leukosit • Hitung jenis • Trombosit

: 12,4 gr/dl : 13.700/mm3 : 0/0/2/72/24/2 : 501.000/mm3

• Albumin • Reduksi • Sedimen

:::-

•Suspeks SOL intra kranial •Suspeks Meningitis Diagnosa purulenta Kerja

Penatalaksanaan

• O2 2 Liter/menit • IVFD Ka EN 1B 1050 cc  6 tetes/menit (makro) • MC 8 x 60 cc/ NGT • Cefotaxim 2 x 500 mg • Luminal 2 x 25 mg • Paracetamol 100 mg (bila T > 38,5 0C) • Lasix 1 x 10 mg + KCL 3 x 250 mg • Diamox 3 x 100 mg • Bicnat 3 x 2,5 mmol

RENCANA PEMERIKSAAN

•Cek elektrolit (Na, K, Ca) •GDR •Kultur darah •Brain CT scan

Follow up 11 september 2012
Subjektif • Penurunan kesadaran (+) • Nyeri kepala (+) • Demam (-) • Kejang (-) • Anak belum diberi minum • Muntah (-) • BAK (-)

Objektif • Tampak sakit berat, penurunan kesadaran (GCS = 8, E2M4V2), tekanan darah : 100/60 mmHg, nadi : 100 x/menit, nafas : 20 x/ menit , suhu 36,5 0C • Mata : konjunctiva tidak anemis, sklera tidak ikterik • Thorak
– Paru : vesikuler (+), Rhonki (-), Wheezing (-) – Jantung : bunyi jantung murni, irama teratur, bising tidak ada

• Abdomen : distensi (-), bising usus (+) normal • Ekstremitas : akral hangat, reffilling kapiler baik, refleks fisiologis +/+, refleks patologis +/+

Laboratorium
GDR

•89  dalam batas normal •127  hiponatremia •5  hiperkalemia •9,9  dalam batas normal

Na

K

Ca

Brain CT scan tanpa kontras : Tampak lesi isodens dan hipodens inhomogen, bentuk membulat, batas tegas dengan perifokal edema (+) di lobus frontalis dextra yang mengobliterasi cornu anterior ventrikel lateral dan ventrikel III dan menyebabkan pelebaran ventrikel bilateral Sulci dan Gyri menghilang

Midline shift ringan ke sinistra
Cerebellum, pons, CPA tak tampak lesi patologis
Kesan : Suspeks Abses serebri dengan hidrosefalus obstruksi

Terapi

• O2 1 Liter/menit • IVFD Ka EN 1B 1050 cc  6 tetes/menit (makro) • MC 8 x 60 cc/ NGT • Cefotaxim 2 x 500 mg • Luminal 2 x 25 mg • Paracetamol 100 mg (bila T > 38,5 0C) • Metronidazole 3 x 175 mg • Lasix 1 x 10 mg • Diamox 3 x 100 mg • Bicnat 3 x 2,5 mmol

12 september 2012
Subjektif
• • • • • • • Masih penurunan kesadaran (+) Nyeri kepala (+) Demam (-) Kejang (-) Anak belum diberi minum Muntah (-) BAK (-)

Objektif • Tampak sakit berat, penurunan kesadara (GCS = 8, E2M4V2), tekanan darah : 100/60 mmHg, nadi : 96 x/menit, nafas : 24 x/ menit , suhu 36,8 0C • Mata : konjunctiva tidak anemis, sklera tidak ikterik • Thorak
– Paru : vesikuler (+), Rhonki (-), Wheezing (-) – Jantung : bunyi jantung murni, irama teratur, bising tidak ada

• Abdomen : distensi (-), bising usus (+) normal • Ekstremitas : akral hangat, reffilling kapiler baik, refleks fisiologis +/+, refleks patologis +/+

Terapi • O2 1 Liter/menit • IVFD Ka EN 1B 1050 cc  6 tetes/menit (makro) • MC 8 x 60 cc/ NGT • Cefotaxim 2 x 500 mg • Luminal 2 x 25 mg • Paracetamol 100 mg (bila T > 38,5 0C) • Metronidazole 3 x 175 mg • Lasix 1 x 10 mg • Diamox 3 x 100 mg • Bicnat 3 x 2,5 mmol

13 september 2012

Subjektif • Kesadaran meningkat (+) • Nyeri kepala (+) • Demam (-) • Kejang (-) • Anak belum diberi minum • Muntah (-) • BAK (-)

Objektif • Tampak sakit berat, penurunan kesadara (GCS = 10, E2M5V3), tekanan darah : 100/60 mmHg, nadi : 110 x/menit, nafas : 22 x/ menit , suhu 36,8 0C • Mata : konjunctiva tidak anemis, sklera tidak ikterik • Thorak
– Paru : vesikuler (+), Rhonki (-), Wheezing (-) – Jantung : bunyi jantung murni, irama teratur, bising tidak ada

• Abdomen : distensi (-), bising usus (+) normal • Ekstremitas : akral hangat, reffilling kapiler baik, refleks fisiologis +/+, refleks patologis +/+

Terapi • O2 1 Liter/menit • IVFD Ka EN 1B 1050 cc  6 tetes/menit (makro) • MC 8 x 60 cc/ NGT • Cefotaxim 2 x 500 mg • Luminal 2 x 25 mg • Paracetamol 100 mg (bila T > 38,5 0C) • Metronidazole 3 x 175 mg • Lasix 1 x 10 mg • Diamox 3 x 100 mg • Bicnat 3 x 2,5 mmol

DISKUSI
Telah dilaporkan seorang pasien anak laki-laki, usia 5 tahun 7 bulan dengan diagnosa abses serebri dengan hidrosefalus obstruksi. Diagnosis ditegakkan berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan penunjang

Dari anamnesis didapatkan nyeri kepala berulang sejak 8 bulan sebelum masuk rumah sakit, nyeri dirasakan di seluruh kepala. Nyeri kepala seperti berdenyut-denyut, ketika nyeri kepala menyerang pasien hanya diam dan tidak mampu bicara.

Demam sejak 4 hari sebelum masuk rumah sakit, demam tidak tinggi, hilang timbul, tidak menggigil dan tidak berkeringat.

Muntah sejak 3 hari sebelum masuk rumah sakit, frekuensi kurang lebih 3-4 kali dalam sehari, jumlah kira-kira 5 sendok makan setiap kali muntah, berisi apa yang dimakan dan diminum, muntah menyemprot.

Kejang berulang sejak 3 hari sebelum masuk rumah sakit, frekuensi 3-4 kali dalam sehari, lama kejang kurang lebih 2 menit, jarak antar kejang 1-2 jam, kejang terjadi seluruh tubuh, kedua mata melirik ke atas, seluruh tubuh kaku beberapa detik, kemudian tangan dan kaki pasien kelihatan bergerak seperti menyentak-nyentak,. Setelah kejang pasien tidak sadar. Ini merupakan kejang yang pertama.

Penurunan kesadaran sejak 2 hari sebelum masuk rumah sakit, penurunan kesadaran terjadi setelah kejang berulang. Pasien tidak memiliki riwayat trauma kepala dan tidak mengeluhkan penglihatan ganda atau kabur, tidak sesak nafas dan tidak batuk pilek. Buang air kecil jumlah dan warna biasa.

Buang air besar warna dan konsistensi biasa

Dari pemeriksaan fisik didapatkan keadaan umum tampak sakit berat, pasien penurunan kesadaran GCS 8 (E2M4V2), tekanan darah 100/60 mmHg, nadi 120 x/menit, suhu 36,6 0C, pernafasan 20 x/menit, keadaan gizi kurang, tanda peningkatan TIK positif dan tanda rangsangan meningeal negatif. Hasil pemeriksaan laboratorium darah : hemoglobin 12,4 gr/dl, leukosit 13.700/mm3, hitung jenis 0/0/2/72/24/2, trombosit 501.000/mm3. Urinalisa dalam batas normal. Brain CT scan tanpa kontras kesan Suspeks Abses serebri dengan hidrosefalus obstruksi.

Penatalaksanaan yang diberikan pada pasien ini adalah O2 1 liter/menit, IVFD Ka EN 1B 1050 cc  6 tetes/menit (makro), MC 8 x 60 cc/ NGT, cefotaxim 2 x 500 mg, luminal 2 x 25 mg, paracetamol 100 mg (bila T > 38,5 0C), metronidazole 3 x 175 mg, lasix 1 x 10 mg, diamox 3 x 100 mg dan bicnat 3 x 2,5 mmol.

You're Reading a Free Preview

Mengunduh
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->