Anda di halaman 1dari 350

BRR NAD - Nias

Laporan Akhir ini merupakan laporan tahap penyelesaian dalam rangkaian kegiatan PENYUSUNAN RENCANA TATA RUANG WILAYAH KABUPATEN BIREUEN DAN KAWASAN PERMUKIMAN UTAMA yang merupakan kerjasama antara Pemerintah Propinsi Nanggroe Aceh Darussalam, Dinas Perkotaan dan Permukiman cq. SKS BRR Tata Ruang, Lingkungan, Pemantauan dan Evaluasi PT. Artama Interkonsultindo bekerjasama dengan Manfaat NAD dengan CV. Triple C.

Laporan Akhir ini memaparkan (BUKU I PENYUSUNAN RENCANA TATA RUANG WILAYAH (RTRW) dengan Penyusunan Action Plan. Kami ucapkan terima kasih kepada semua pihak yang turut membantu dalam penyelesaian pekerjaan ini. KABUPATEN BIREUEN) kebijakan kebijakan yang terkait Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Bireuen, Rencana

yang ada, Gambaran Umum, Fakta dan Analisis Kecamatan yang diprioritaskan serta

Banda Aceh ,

Mei 2006

PT. Artama Interkonsultindo CV. Triple - C

PT. ARTAMA INTERKONSULTINDO

BRR NAD - Nias

PENYUSUNAN RENCANA TATA RUANG WILAYAH KABUPATEN BIREUEN PROVINSI NANGGROE ACEH DARUSSALAM

BRR NAD - Nias

1.1. LATAR BELAKANG


Gempa bumi yang diikuti gelombang Tsunami pada tanggal 26 Desember 2004 dan gempa susulan pada tanggal 28 Maret 2005, telah meluluhlantahkan sebagian besar wilayah provinsi Nanggroe Aceh Darussalam (NAD) dan Kepulauan Nias Provinsi Sumatera Utara, dengan korban lebih dari dua ratus ribu jiwa meninggal dan menyisakan kerusakan fisik yang luar biasa. Oleh karena itu, wilayah ini harus direncanakan dan ditata kembali mengikuti kaidah-kaidah dan norma-norma yang ada dengan memasukan aspek mitigasi terhadap bencana alam dalam rangka meminimalkan resiko di kemudian hari dengan memberikan kesempatan masyarakat untuk berpartisipasi langsung dalam proses perencanaan dan implementasinya. Dalam rangka percepatan proses penanganan bencana dan dampak luar biasa yang ditimbulkan tersebut, Pemerintah mengeluarkan Perpu No. 2 Tahun 2005 untuk membentuk Badan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Wilayah dan Kehidupan Masyarakat Provinsi NAD dan Kepulauan Nias Provinsi Sumatera Utara (disingkat BRR NAD-Nias), serta mengeluarkan Perpres No. 30 Tahun 2005 tentang Rencana Induk Rehabilitasi dan Rekonstruksi Wilayah dan Kehidupan Masyarakat NAD dan Kepulauan Nias Provinsi Sumatera Utara. Rencana Induk ini merupakan acuan bagi proses perencanaan, pelaksanaan serta pengendalian dan evaluasi pelaksanaan rehabilitasi dan rekonstruksi di wilayah provinsi NAD dan Kepulauan Nias. Dalam konteks penataan ruang, telah dikeluarkan beberapa arahan yang termuat dalam Rencana Induk pada Buku Utama Rencana Rehabilitasi dan Rekonstruksi. Dalam buku ini dijelaskan bahwa tujuan penataan ruang wilayah Aceh dan Nias adalah membangun kembali wilayah, kota, kawasan dan lingkungan permukiman yang rusak akibat bencana gempa dan tsunami, sehingga masyarakat dapat segera melakukan aktivitasnya dalam kondisi yang lebih baik dan aman dari bencana. Kebijakan dan strategi penataan ruang dan pertanahan, memberikan gambaran konsep dan skenario penataan ruang, dan memberikan arahan pola serta struktur tata ruang wilayah Provinsi NAD, serta Kabupaten/kota di Wilayah Provinsi NAD dan di Kepulauan Nias. Secara umum, arahan pola dan struktur tata ruang wilayah ini perlu dijabarkan lagi ke dalam bentuk Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kabupaten/Kota dan Rencana Tata Ruang yang lebih detail.

LAPORAN AKHIR

I- 1

BRR NAD - Nias


Sebagaimana dijelaskan pada pasal 22 ayat 3 UU No. 24 Tahun 1992 tentang Penataan Ruang, RTRW Kabupaten/Kota ini akan menjadi pedoman untuk : (a) Perumusan kebijaksanaan pokok pemanfaatan ruang di wilayah kabupaten/kota; (b) Mewujudkan keterpaduan, keterkaitan dan keseimbangan perkembangan antarwilayah kabupaten/kota serta keserasian antar sektor; (c) pengarahan lokasi investasi yang dilaksanakan pemerintah atau masyarakat; (d) penyusunan rencana rinci (detail) tata ruang di kabupaten/ kota; (e) Pelaksanaan pembangunan dalam memanfaatkan ruang bagi kegiatan pembangunan. Salah satu Kabupaten di provinsi NAD yang perlu disiapkan RTRW Kabupatennya adalah Kabupaten Bireuen. Secara geografis, Kabupaten Bireuen memiliki posisi strategis, karena terletak pada koridor pantai Timur Sumatera (merupakan wilayah yang relatif lebih maju dibandingkan dengan wilayah Tengah dan koridor Pantai Barat), serta berhadapan langsung dengan Selat Malaka yang merupakan jalur pelayaran internasional yang padat. Kerusakan pada wilayah Kabupaten Bireuen paska bencana gempa dan tsunami, terutama terjadi pada wilayah-wilayah di sekitar pesisir pantai, antara lain Kecamatan Samalanga dan Kecamatan Gandapura yang tergolong cukup parah. Untuk mempercepat proses rehabilitasi dan rekonstruksi di Kabupaten Bireuen, maka BRR NAD-Nias merasa perlu untuk menyiapkan RTRW Kabupaten Bireuen dan Kawasan Permukiman Utamanya, sebagai acuan spasial bagi kegiatan rehabilitasi dan rekonstruksi, serta kegiatan pengembangan sosial-ekonomi dan pembangunan wilayah yang berkelanjutan. Dalam prosesnya, penyusunan RTRW Kabupaten Bireuen dan Kawasan Permukiman Utama ini dilaksanakan secara bertahap, dimana untuk Tahap-1 diarahkan untuk proses identifikasi permasalahan tata ruang kabupaten, dan penyusunan Rencana Tindak (Action Plan) pada kecamatan prioritas yang terkena dampak bencana tsunami secara langsung atau tidak langsung, yang meliputi : penentuan prioritas bagi perencanaan tata ruang kampung (Village Plan) untuk program rekonstruksi perumahan/pemukiman, dan penentuan prioritas Kecamatan untuk pelaksanaan program rekonstruksi kecamatan, serta identifikasi potensi dan permasalahan mendesak dan penyusunan Rencana Tindak (Action Plan) rehabilitasi dan rekonstruksi pada kawasan permukiman utama (kawasan perkotaan) Bireuen.
LAPORAN AKHIR

I- 2

BRR NAD - Nias

1.2. MAKSUD, TUJUAN dan SASARAN


1.2.1. MAKSUD Maksud pekerjaan ini adalah membantu menyusun acuan bagi Pemerintah Kabupaten Bireuen dalam melaksanakan program-program pembangunan sebagai wujud operasionalisasi dari Rencana Induk Rehabilitasi dan Rekonstruksi NAD-Nias. 1.2.2. TUJUAN Tujuan pekerjaan ini adalah menyusun RTRW Kabupaten Bireuen dan Kawasan Permukiman Utama untuk Tahap-1, 1. Review RTRW Kabupaten yang ada, identifikasi permasalahan tata ruang kabupaten, serta penyusunan Rencana Tindak (Action Plan) pada kecamatan prioritas yang terkena dampak bencana tsunami secara langsung atau tidak langsung, yang meliputi : penentuan prioritas bagi perencanaan tata ruang kampung (Village Plan) untuk program rekonstruksi perumahan/ pemukiman, dan penentuan kecamatan, 2. Review Rencana Tata Ruang Kota yang ada, perumusan rencana strategis pengembangan kota, identifikasi potensi dan permasalahan mendesak, serta penyusunan Rencana Tindak (Action Plan) rehabilitasi dan rekonstruksi pada kawasan permukiman utama (kawasan perkotaan) Bireuen. 1.2.3. SASARAN Sasaran yang hendak dicapai dalam pekerjaan ini adalah sebagai berikut : 1) Teridentifikasinya permasalahan tata ruang, dan isu-isu pembangunan jangka panjang Kabupaten Bireuen, disertai rekomendasi kebutuhan dalam penyusunan RTRW Kabupaten Bireuen (Tahap II). 2) Teridentifikasinya permasalahan tata ruang, serta tersusunnya Rencana Tindak (Action Plan) pada kecamatan prioritas, yang terkena dampak bencana tsunami secara langsung atau tidak langsung, mencakup : penentuan prioritas bagi perencanaan tata ruang kampung (Village Plan) untuk program rekonstruksi
LAPORAN AKHIR

prioritas

Kecamatan

untuk

pelaksanaan

program

rekonstruksi

I- 3

BRR NAD - Nias


perumahan/pemukiman, dan penentuan prioritas Kecamatan untuk pelaksanaan program rekonstruksi kecamatan. 3) Teridentifikasinya potensi dan permasalahan mendesak, serta tersusunnya Konsep, Strategi, dan Rencana Tindak (Action Plan) Rehabilitasi dan Rekonstruksi pada kawasan permukiman utama (perkotaan) Bireuen.

1.3. RUANG LINGKUP


1.3.1. RUANG LINGKUP WILAYAH STUDI Lingkup Wilayah Umum Studi (WUS) meliputi seluruh wilayah Administrasi Kabupaten Bireuen, seluas +1.901,21 Km2 dan terdiri dari 17 Kecamatan. Sedangkan Wilayah Efektif Studi (WES) meliputi kecamatan prioritas (meliputi 9 kecamatan) yang terkena dampak bencana tsunami secara langsung atau tidak langsung, serta kawasan permukiman utama (kawasan perkotaan) Bireuen yang menjadi ibukota Kabupaten Bireuen. 1.3.2. RUANG LINGKUP KEGIATAN Ruang lingkup kegiatan dalam pekerjaan ini adalah sebagai berikut : A. RTRW KABUPATEN : 1) Review Rencana Tata Ruang Wilayah yang telah pernah ada. 2) Indentifikasi masalah Tata Ruang Kabupaten dan menyusun pemecahan masalahmasalah (Jalan Keluar) sesuai prioritas jangka pendek dan mengindentifikasi siapa yang mengerjakan apa dan kapan (Who does what and when). 3) Identifikasi masalah Tata Ruang pada minimal 6 Kecamatan di setiap Kabupaten, dengan prioritas kecamatan yang terkena tsunami Iangsung ataupun tidak langsung. 4) Pemilihan/penetapan 6 Kecamatan tersebut harus mendapat persetujuan dari Pemda Kabupaten yang bersangkutan. 5) Penyusunan Rencana Tindak (Action Plan) untuk 6 Kecamatan tersebut, mencakup penentuan prioritas bagi perencanaan tata ruang kampung (Village
LAPORAN AKHIR

I- 4

BRR NAD - Nias


Plan) untuk rekonstruksi perumahan/pemukiman dan penentuan prioritas Kecamatan untuk dilaksanakannya Kecamatan Reconstruction plan. 6) Rekomendasi kebutuhan Rencana Tata Ruang Wilayah Jangka Panjang Tahap II. 7) Identifikasi isu-isu pembangunan jangka panjang yang memerlukan penelitian atau rencana yang effektif dalam Rencana Tata Ruang Jangka Panjang (Tahap II). B. TATA RUANG KAWASAN PEMUKIMAN UTAMA 1) Review RTRW yang pernah ada dan merekomendasikan rencana strategis pengembangan kota untuk masa yang akan datang seperti : o Rencana Struktur Tata Ruang o Rencana Pola Pemanfaatan Ruang o Rencana Sistim Jaringan Transportasi o Rencana Arah Pengembangan Kota 2) Identifikasi potensi dan masalah mendesak dalam wilayah pemukiman utama (perkotaan) dan rencana (concept plans) pemecahan masalah tersebut. 3) Rencana Tindak (Action Plan) Rehabilitasi dan Rekonstruksi berdasarkan konsep yang telah disepakati oleh Pemda dan masyarakat dalam hal sebagai berikut: a. Penentuan prioritas rehabilitasi dan rekonstruksi pengembangan Daerah Rawa dan pantai. b. Penentuan prioritas rehabilitasi dan rekonstruksi bidang Pengendalian Banjir dan Pengaman Pantai. c. Penentuan prioritas rehabilitasi dan rekonstruski bidang Irigasi. d. Penentuan prioritas rehabilitasi dan rekonstruksi bidang Peningkatan Kualitas ]asa Ketenagalistrikan. e. Penentuan prioritas rehabiltasi dan rekonstruski bidang Rehabilitasi dan Rekonstruksi Jalan Propinsi, Kabupaten dan Kecamatan. f. Penentuan prioritas rehabilitasi dan rekonstruksi bidang Pemeliharaan, Rehabilitasi, Transportasi. g. Penentuan prioritas rehabilitasi dan rekonstruksi bidang Pengembangan Sistem Pelayanan Air Minum dan Air Limbah.
LAPORAN AKHIR

Peningkatan

dan

Pembangunan

Sarana

dan

Prasarana

I- 5

BRR NAD - Nias


h. Penentuan prioritas rehabilitasi dan rekonstruski bidang Peningkatan Sarana dan Prasarana Pemerintah. i. Penentuan prioritas rehabilitasi dan rekonstruksi bidang Pengembangan Perumahan dan Permukiman. j. Penentuan prioritas rehabilitasi dan rekonstruksi bidang Pendidikan dan Kesehatan. k. Penentuan prioritas rehabilitasi dan rekonstruksi bidang Pemberdayaan Ekonomi, Dunia Usaha dan Investasi. l. Penentuan prioritas rehabilitasi dan rekonstruksi bidang Agama, Sosial dan Budaya. 1.3.3. RUANG LINGKUP SUBSTANSI Ruang lingkup substansi pekerjaan ini, antara lain meliputi : 1. Kebijakan Rekonstruksi Desa dan Kota (Urban and Village) a. Memampukan mereka yang paling menderita karena bencana sebagai pemangku inti dengan menghargai mereka atas apa yang mereka punya seperti tata nilai, harapan-harapan dan kebutuhan-kebutuhannya; b. Merehabilitasi kondisi sosial-ekonomi dan struktur sistem permukiman; c. Memperbaiki kerusakan dan memproteksi aset masyarakat yang tersisa; d. Memastikan aspek keselamatan dan masyarakat dan asetnya dan bencana (gempa dan tsunami) di kemudian hari; e. Menciptakan lingkungan tempat tinggal lebih baik; f. Mengarahkan rekonstruksi permukiman secara cepat, terpadu, dan costeffective; 2. Strategi Rekonstruksi a. Perencanaan dan rekonstruksi dapat dibuat/dilakukan secara simultan; b. Mengembangkan/membangun kota/desa yang secara ekologi mampu bertahan terhadap bencana tsunami;

LAPORAN AKHIR

I- 6

BRR NAD - Nias


c. Mencegah relokasi/resettlement, meminimalkan perubahan pada densitas, hirarki, dan struktur kota serta land use; d. Revitalisasi tempat-tempat kegiatan sosial-ekonomi; e. Rehabilitasi prasarana dan fasilitas; f. Menghindarkan pengalihan kepemilikan lahan, konsolidasi lahan dan

memperlambat kembali ke area dekat pantai; g. Zoning delineation dan zoning code direncanakan dengan melibatkan masyarakat yang menjadi korban bencana. 3. Rencana Mitigasi a. Kenapa kerusakan dan korban begitu besar : planning background Tidak ada peringatan dini; Tempat ketinggian untuk tempat penyelamatan (escape hill/facilities) tidak mudah dijangkau dan bahkan tidak terrsedia; Jalan tidak dirancang sebagai jalur penyelamatan (escape road) sehingga menjadi congested pada saat bencana terjadi serta menjadikan mereka terjebak dalam bottle necks, Bongkahan sisa bangunan (soild debris/wreckages) yang terbawa gelombang tsunami hampir tidak tertahan dan menghantam segala yang ada di depannya dan bahkan manusia yang mengakibatkan kerusakan yang hebat dan korban yang banyak; Banyak bangunan hancur oleh gempa sebelum tsunami datang.

b. Bagaimana memitigasi bencana tsunami Menyiapkan bangunan/fasilitas penyelamatan (Escape Hills/ Facilities EH/ F) dalam kota. Besar luasnya EH/F tergantung pada desain kapasitas jumlah orang yang akan ditampung, dengan catatan 1 m2/orang; Tinggi EH/F tergantung pada tinggi maksimum gelombang tsunami yang pernah terjadi pada kawasan itu. Semakin jauh dan pantai tinggi EH/F semakin berkurang (rendah); dengan pantai;

LAPORAN AKHIR

I- 7

BRR NAD - Nias


Semakin dekat ke pantai, semakin cepat waktu yang diperlukan untuk mencapai EH/F semakin jauh dan pantai, semakin sedikit kebutuhan adanya EH/P, EH lebih disukai berupa bukit alamiah atau tanah urugan berupa bukit kecil dan dapat digunakan juga sebagai jalur hijau atau taman atau penggunaan lainnya yang ramah lingkungan; Mengidentifikasi kawasan yang aman (safe areas ~ SA) dan jangkauan tsunami sebelumnya. Menanam pepohonan sebagai sabuk penahan tsunami pada beberapa bagian desa dan kota, berupa: Bakau (mangroves) di sepanjang pantai; Sabuk pepohonan sebagai batas desa di setiap desa; Sabuk pepohonan sebagai batas kecamatan di setiap kecamatan (sub district); -- Sabuk pepohonan sebagai hutan kota pada setiap kota. Mengembangkan jalur evakuasi /jalur penyelamatan menuju EH/F dan SA. Merencanakan kembali hirarki dan pola jaringan jalan yang ada; membangun jalan baru menuju EH/Fdan SA; Memastikan desain jalan baru sebagai jalur/rute penyelamatan mampu memfasilitasi proses evakuasi orang dalam jumlah besar untuk mencapai EH/Fdan SA dalam durasi waktu yang telah ditetapkan. Building Codes Untuk gempa; Untuk tsunami. Sistem peringatan dini (Early warning system) Pengetahuan tradisional; Teknologi baru/modern. Kesadaran masyarakat melalui: Perencanaan partisipatif; Pelatihan; Pendidikan kepada anak-anak melalui jalur formal seperti di sekolah.

LAPORAN AKHIR

I- 8

BRR NAD - Nias

4. Memadukan Rencana Mitigasi dengan Rencana Rekonstruksi a. Perencanaan dari Atas (Top-Down Planning) Prosedur : Pendekatan perencanaan partisipasif yang difokuskan pada daerah yang paling parah akibat bencana dengan bekerjasama dengan pimpinan masyarakat dan stakeholders lainnya. Substansi/materi perencanaan: Memperkirakan kerusakan kawasan budidaya (terbangun dan tidak terbangun) dan non budidaya terutama pada pusat-pusat kegiatan (sosial, ekonomi, lingkungan/geomorfologi, perumahan, infrastruktur, fasilitas, dli); Menganalisis sistem perkotaan termasuk untuk urban services

(drainase/sewage/sampah/sanitasi) : Mengevaluasi pengaruh kerusakan pada perubahan rona ruang wilayah dan rencana tata ruang wiiayah; Memformulasikan cara / situasi agar kegiatan sosekbud (perkotaan) tetap dapat berjalan; Menganalisis struktur ruang didasarkan pada pendekatan superimpose: Rencana tata ruang yang ada; Kondisi sebelum tsunami; Kondisi setelah tsunami. Memantapkan skenario mitigasi untuk seluruh wilayah; Memberikan muatan-muatan spasial sebagai driving forces untuk penataan ruang; Menyusun dan menyiapkan indikator makro (indikator sosekbud) yang ingin dicapai dalam penataan dan pemanfaatan ruang (tingkat kualitas hidup : pertumbuhan ekonomi, PDRB/kapita, income/kapita, HDI, KPI, aksesibilitas, dli);

LAPORAN AKHIR

I- 9

BRR NAD - Nias


Menyiapkan skenario keseimbangan pertumbuhan (komposisi sosekbud : status sosek vs ekonomi makro wilayah, lapangan kerja, pendidikan, dll) termasuk menyiapkan strategi untuk mengakomodasikan sektor informal (semua yang sulit diatur seperti KS, ojek, dll) untuk memampukan tata ruang dapat menyerap angkatan kerja dan sekaligus membuka kesempatan kerja dalam rangka men-generate ekonomi; Aplikasikan konsep aksesibilitas untuk menciptakan efisiensi penggunaan ruang dan energi (better accessibility rather than unilmited mobility dalam bentuk compact city, TOO, join development, super block, zero movement approach);

Memformulasikan skenario rekonstruksi untuk seluruh wilayah; Menyusun struktur konseptual rekonstruksi wilayah; b. Perencanaan dari Bawah (Bottom-Up Planning) Prosedur : Pendekatan perencanaan partisipasif yang difokuskan pada daerah yang paling parah akibat bencana dengan bekerjasama dengan masyarakat yang terkena bencana. Perencana tata ruang memfasilitasi masyarakat dengan ide, konsep, analisis, dan solusi teknis; Mengawali kegiatan perencanaan dan penataan gampong/desa; Memadukan beberapa rencana desa menjadi rencana sub kecamatan (sub-district plan) yang merupakan interface untuk menuju skala rencana wilayah lebih tinggi (kabupaten/kota); Memadukan beberapa rencana sub kecamatan (sub-district plan) menjadi rencana kecamatan (district plan). Substansi materi perencanaan: Memperkirakan kerusakan desa/sub-kecamatan/kecamatan (sosial,

ekonomi, geo-morfologi, perumahan, infrastruktur, fasilitas); Menganalisis sistem desa/sub-kecamatan/kecamatan:


LAPORAN AKHIR

I- 10

BRR NAD - Nias


Mengevaluasi pengaruh kerusakan pada perubahan rona ruang permukiman/perumahan wilayah dan rencana tata ruang wilayah; Memformulasikan cara/situasi agar kegiatan sosekbud (desa/subkecamatan/kecamatan) tetap dapat berjalan; Menganalisis struktur ruang didasarkan pada pendekatan superimpose: Rencana tata ruang yang ada; Kondisi sebelum tsunami; kondisi setelah tsunami. Memantapkan rencana mitigasi untuk desa/sub-kecamatan /kecamatan dalam Site Plan (village plan) yang juga telah mengakomodasi kebutuhan ruang untuk urban services (drainase/sewage/sampahl sanitasi); Memformulasikan skenario rekonstruksi untuk desa/sub-kecamatan/ kecamatan; Mengembangkan sistem rekonstruksi dan struktur ruang desa/

subkecamatan/kecamatan (termasuk tata guna lahan utama); Menyusun program rekonstruksi: Infrastruktur; Utilitas; Perumahan dan fasilitas perkotaan; Lingkungan alam; EHIF jalur/rute penyelamatan, jalur hijau, Building Codes dan sistem peringatan dm1 ; Urban Designs. Mengintegrasikan perencanaan dari-Bawah dan dari-Atas Memadukan beberapa rencana kecamatan (district plan) menjadi rencana rekonstruksi kabupaten ; Mengintegrasikan rencana rekonstruksi kabupaten dengan struktur konseptual rekonstruksi kabupaten untuk memformulasikannya menjadi RUTR wilayah kabupaten paska tsunami.

LAPORAN AKHIR

I- 11

BRR NAD - Nias


1.3.4. ANALISIS BENCANA Analisa bencana dibutuhkan sebagai dasar bagi penataan ruang. Kondisi alam dapat dikategorikan menjadi : potensi, kendala, dan limitasi alam. Potensi adalah kawasan yang dapat dioptimalkan sesuai dengan kebutuhan, kendala adalah kawasan yang dapat dikembangkan dengan prasyarat-prasyarat tertentu mengingat adanya kondisi alam yang tidak mendukung pengembangan secara optimal. Sedangkan limitasi alam adalah kawasan yang benar-benar perlu dibatasi penggunaannya mengingat kondisi alam yang sangat tidak mendukung untuk optimalisasinya. Analisa bencana yang perlu dilakukan meliputi antara lain: Kondisi sebelum tsunami; Bentang alam; Ketinggian; Kontur ketinggian; Unit bentang alam; Struktur geologi; Pengaruh tsunami; Jangkauan kerusakan akibat gempa dan tsunami; Zona kerusakan; Arah terjangan gelombang; Aspek fisik bentang alam; Karakteristik fisik bentang alam; Zona fisik bentang alam; Orientasi struktur kota. Ruang lingkup arahan penataan ruang wilayah kabupaten/kota berisi arahan yang bersifat umum, terdiri atas: Kondisi fisik wilayah pasca bencana; Skenario penataan ruang; Strategi penataan ruang; Arahan struktur dan pola pemanfaatan ruang.

LAPORAN AKHIR

I- 12

BRR NAD - Nias

1.4 METODOLOGI DAN PENDEKATAN


Pada dasarnya terdapat 2 (dua) dua pola pendekatan yang akan digunakan konsultan untuk pelaksanaan pekerjaan ini yaitu : 1) Pendekatan Konseptual Yaitu pola-pikir pendekatan yang bersifat konseptual menyangkut

kebijaksanaan, strategi, kerangka filosofi, atau konsep dasar yang akan digunakan konsultan dalam merumuskan, memilih, dan menetapkan strategi dan rencana tindak (action plan) pada kecamatan prioritas Kabupaten Bireuen dan pada kawasan permukiman utama (perkotaan) Bireuen. 2) Pendekatan Kronologis / Implementatif Yaitu pola pikir pendekatan yang berpedoman dan mengacu pada lingkup pekerjaan dikaitkan dengan mekanisme / proses atau urutan/ kronologis pelaksanaan kegiatan dalam pekerjaan ini.

1.4.1 PENDEKATAN KONSEPTUAL Terdapat cukup banyak pendekatan konseptual yang akan menjadi acuan dalam pekerjaan ini. Adapun yang akan dijelaskan berikut ini hanya merupakan pendekatan utama yang penting diperhatikan dalam pelaksanaan pekerjaan ini. Pada dasarnya, pendekatan utama berikut merupakan pendekatan yang saling terkait erat dan berhubungan, sehingga dalam implementasinya akan digunakan dalam satu kesatuan kerangka pendekatan. A. Pendekatan Top Down - Bottom Up/ Participation Planning Pada intinya, pendekatan ini bertujuan untuk mengakomodasikan perpaduan proses pendekatan dari atas (Top-Down approach) dan bawah (Bottom-Up approach Participatory Planning approach). Perencanaan Program merupakan hasil bersama dimana dalam prosesnya

memadukan/ mengkombinasikan dua arah, baik proses dari-bawah-ke-atas dan juga proses dari-atas-ke-bawah, serta sesuai dengan peraturan perundangan yang

LAPORAN AKHIR

I- 13

BRR NAD - Nias


berlaku, antara lain hukum pertanahan. Kontribusi dari atas ke bawah adalah tersedianya struktur konseptual wilayah Kabupaten. Sedangkan proses perencanaan dan pembangunan skala desa, sub kecamatan, dan kecamatan dibuat bersama masyarakat (dari bawah ke atas). Dengan demikian pertimbangan makro dan mikro dapat diakomodasi secara proporsional dalam tata ruang wilayah paska bencana. Proses perencanaan yang dilakukan berprinsip Repair & Better-Off (atau Build Back Better- B3) yang dilaksanakan dengan tahapan sebagal berikut:
1)

Rekonstruksi bagian yang rusak: Desa Up: Partisipasi Masyarakat & Mitigasi

Kecamatan

Kabupaten/Kota;

Bottom-

2) 3) 4)

Review eksisting RTRW Kabupaten ; Integrasikan ke duanya;

Top-Down: indikator makro & aksesibilitas

Revitalisasi RTRW Kabupaten hasil integrasi menjadi RTRW 2005-2015 (2020) yang telah memasukkan mitigasi bencana.

B. Pendekatan Manfaat Ekonomi Ganda (Multiplier Effects Approach) Dalam mengidentifikasi, memilih, dan merumuskan strategi dan rencana tindak (action plan), perlu dipertimbangkan perihal manfaat setiap rencana yang diusulkan. Pertimbangan manfaat ekonomi ganda (multiplier effects approach) merupakan pendekatan atau kriteria yang penting diperhatikan di sini. Dalam pendekatan ini suatu rencana tindak dinilai prioritasnya, dimana yang memberikan manfaat ekonomi ganda merupakan prioritas yang paling tinggi. Dengan demikian, suatu rencana tindak yang dipilih tidak hanya memberikan manfaat hanya sesaat dengan jangkauan lokal saja, tetapi diharapkan dapat memberi manfaat yang berkelanjutan dengan jangkauan luas, sehingga akan terus bergulir bagaikan bola salju (snow bowling) yang semakin lama manfaatnya akan semakin membesar. Pemilihan rencana tindak sangat menentukan seberapa jauh efek ekonomi ganda itu akan terjadi. Berdasarkan pendekatan ini, maka setiap rencana tindak akan dipilih berdasarkan kriteria pioritas manfaat ekonomi ganda.

LAPORAN AKHIR

I- 14

BRR NAD - Nias

C. Pendekatan Sumber Daya (Resources Base Approach) Pendekatan sumber daya (resources base approach) merupakan suatu pendekatan yang mengandalkan ketersediaan sumber daya atau potensi wilayah setempat yang dapat digunakan atau perlu didukung pengembangannya melalui suatu rencana tindak atau program. Umumnya hal ini jarang diperhatikan oleh pihak-pihak yang menentukan dalam perencanaan. Akibatnya adalah ketika suatu program itu dilaksanakan dan dioperasikan, secara ekonomi tidak memberikan nilai tambah yang berarti bagi wilayah atau kawasan setempat. Hal ini tentu bertentangan dengan pendekatan manfaat ekonomi ganda. D. Pendekatan Manajemen Interaksi Sebagai Dasar Mekanisme Perumusan Program Pembangunan Desa-desa Prioritas di Kabupaten Bireuen Dalam mekanisme penyusunan rencana tindak atau program pada kecamatan prioritas dan kawasan permukiman utama Bireuen, prosesnya perlu menyentuh seluruh pelaku yang terkait sesuai dengan tugas dan peran yang dibawanya. Untuk itu, proses penyusunan program ini akan dilakukan melalui pendekatan yang integratif (Integrative System) dilihat dari cakupan substantifnya, dan partisipatif (Participative Process) dilihat dari mekanisme pelaksanaannya. Yang perlu dicatat adalah bahwa proses kegiatan penyusunan rencana tindak ini menerima masukan dari 2 (dua) sumber utama, yakni : 1. Hasil analisis tim konsultan terhadap kebutuhan penanganan wilayah. 2. Usulan Rencana dan Program yang berasal dari setiap pelaku (stakeholders) terkait. Masukan inilah yang kemudian diolah, untuk dicarikan optimasinya melalui kaidahkaidah integrasi kebijakan perencanaan dan sinkronisasi kelayakan program.

1.4.2 PENDEKATAN KRONOLOGIS/IMPLEMENTATIF Secara kronologis, pekerjaan ini akan dibagi ke dalam 8 (delapan) tahap kegiatan utama (lihat gambar 1.1), sebagai berikut : Tahap-1 Tahap-2
LAPORAN AKHIR

Konfirmasi Isu Pokok Studi, Pengumpulan Data dan Survai Lapangan,


I- 15

BRR NAD - Nias


Tahap-3 Tahap-4 Tahap-5 Tahap-6 Tahap-7 Tahap-8 Review RTRW Kabupaten dan RUTR Kota Bireuen Identifikasi Permasalahan dan Isu Pembangunan Jangka Panjang Kabupaten Bireuen, Analisis Kebutuhan Penanganan Kecamatan Prioritas Kabupaten Bireuen, Analisis Kebutuhan Penanganan Kawasan Permukiman Utama (Perkotaan) Bireuen, Penyusunan Rencana Tindak (Action Plan) Rehabilitasi dan Rekonstruksi Kecamatan Prioritas Kabupaten Bireuen, Penyusunan Rencana Tindak (Action Plan) Rehabilitasi dan Rekonstruksi Kawasan Permukiman Utama (Perkotaan) Bireuen. Dari tiap tahapan di atas, akan dibagi lagi dalam beberapa kegiatan dan sub-sub kegiatan yang diperlukan guna menyelesaikan dan mencapai tujuan dan sasaran pekerjaan sebagai berikut : Tahap - 1 : Konfirmasi Isu Pokok Studi, meliputi : Kegiatan A1 Konfirmasi Isu Pokok Studi Kegiatan A2 Penyusunan Rencana Kerja Terinci Tahap - 2 : Pengumpulan Data dan Survai Lapangan, meliputi : Kegiatan B1 Persiapan Survai Lapangan Kegiatan B2 Koordinasi dan Pengumpulan Data di Tingkat Provinsi Kegiatan B3 Koordinasi dan Pengumpulan Data di Tingkat Kabupaten Kegiatan B4 Koordinasi dan Pengumpulan Data di Kecamatan-kecamatan Prioritas dan Kawasan Permukiman Utama Tahap - 3 : Review RTRW Kabupaten Bireuen dan RUTR Kota Bireuen, meliputi : Kegiatan C1 Review RTRW Kabupaten Bireuen Kegiatan C2 Review RUTR Kota Bireuen Tahap - 4 : Identifikasi Permasalahan dan Isu Pembangunan Jangka Panjang Kabupaten Bireuen, meliputi : Kegiatan D1 Identifikasi Kondisi dan Permasalahan Umum Kabupaten Bireuen

LAPORAN AKHIR

I- 16

BRR NAD - Nias

Gambar 1.1 Bagan Alir Pekerjaan

LAPORAN AKHIR

I- 17

BRR NAD - Nias

Kegiatan D2 Identifikasi Isu Pembangunan Jangka Panjang Kabupaten Bireuen Tahap - 5 : Analisis Kebutuhan Penanganan Kecamatan Prioritas Kabupaten Bireuen, meliputi : Kegiatan E1 Pemilihan Perencanaan Kegiatan E2 Identifikasi Kondisi dan Permasalahan Kecamatan Prioritas Kegiatan E3 Analisis Kebutuhan Penanganan Kecamatan Prioritas Tahap - 6 : Analisis Kebutuhan Penanganan Kawasan Permukiman Utama (Perkotaan) Bireuen, meliputi : Kegiatan F1 Penetapan Delineasi Kawasan Permukiman Utama (Perkotaan) Bireuen Kegiatan F2 Identifikasi Kondisi dan Permasalahan Kawasan Kegiatan F3 Analisis Kebutuhan Penanganan Kawasan Tahap - 7 : Penyusunan Rencana Tindak (Action Plan) Rehabilitasi dan Rekonstruksi Kecamatan Prioritas Kabupaten Bireuen, meliputi : Kegiatan G1 Perumusan Konsep dan Strategi Pengembangan Kawasan Kegiatan G2 Penyusunan Rencana Tindak (Action Plan) Rehabilitasi dan Rekonstruksi Kecamatan Prioritas Kabupaten Bireuen Kegiatan G3 Penyusunan Rekomendasi Kebutuhan Dalam Penyusunan RTRW Kabupaten Bireuen (Tahap II) Tahap - 7 : Penyusunan Rencana Tindak (Action Plan) Rehabilitasi dan Rekonstruksi Kawasan Permukiman Utama (Perkotaan) Bireuen, meliputi : Kegiatan H1 Perumusan Konsep dan Rencana Strategis Pengembangan Kota Kegiatan H2 Penyusunan Rencana Tindak (Action Plan) Rehabilitasi dan Rekonstruksi Kawasan Permukiman Utama (Perkotaan) Bireuen Kegiatan H3 Penyusunan Rekomendasi Kebutuhan Dalam Penyusunan RUTR Kota Bireuen (Tahap II) Kecamatan Prioritas dan Delineasi Kawasan

LAPORAN AKHIR

I- 18

BRR NAD - Nias

A. Tahap-1 : Konfirmasi Isu Pokok Studi Kegiatan A1 Konfirmasi Isu Pokok Studi Sebagai langkah awal dalam pelaksanaan pekerjaan ini, akan dilakukan konfirmasi kepada pihak Pemberi Tugas tentang isu-isu pokok pekerjaan ini, menyangkut : materi, tujuan, sasaran, lingkup kegiatan, serta filosofi dan kerangka kerja (framework) dari studi ini. Kegiatan A2 Penyusunan Rencana Kerja Terinci Berdasarkan hasil konfirmasi terhadap isu pokok studi, selanjutnya dalam kegiatan ini akan disusun metode dan rencana kerja secara lebih rinci yang akan dibahas bersama Pihak Pemberi Tugas, untuk disepakati bersama, dan untuk selanjutnya metode dan rencana kerja tersebut akan digunakan sebagai acuan (gudelines) dalam pelaksanaan seluruh rangkaian kegiatan dalam pekerjaan ini. B. Tahap-2 : Pengumpulan Data dan Survai Lapangan Kegiatan B1 Persiapan Survai Sebelum dilakukan survai pengumpulan data, dalam kegiatan ini terlebih dahulu akan dilakukan proses persiapan survai, meliputi : 1. Penyusunan kebutuhan data dan informasi yang diperlukan secara rinci, mencakup nama, jenis, skala, lingkup, dan periode data. 2. Penyusunan metode pengumpulan data dan sumber-sumber data, 3. Penyusunan jadwal terinci pelaksanaan survai, 4. Penyiapan peralatan dan perlengkapan survai. 5. Penyiapan akomodasi, dll. Kegiatan B2 Koordinasi dan Pengumpulan Data di Tingkat Provinsi Kegiatan survai akan di awali oleh kegiatan koordinasi dan pengumpulan data sekunder di tingkat Provinsi. Koordinasi dilakukan guna menginformasikan kepada pihak Pemda Provinsi NAD tetang pekerjaan yang sedang dilaksanakan, disamping untuk memperoleh masukan yang diperlukan dalam perencanaan wilayah studi. Adapun data sekunder yang dikumpulkan di tingkat Provinsi, antara lain meliputi :
LAPORAN AKHIR

I- 19

BRR NAD - Nias

1. Data Kebijakan dan Rencana Terkait di Tingkat Nasional dan Provinsi, meliputi : Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional (RTRWN), Rencana Tata Ruang Wilayah Pulau Sumatera, Rencana Tata Ruang Wilayah Provinsi Sumatera Utara, Sistranas, Sistrawilprov, Rencana KAPET, Segitiga Pertumbuhan (SIJORI, IMS-GT), RENSTRA dan PROPEDA Provinsi, Rencana Induk Rehabilitasi dan Rekonstruksi Nias, Program Prioritas BRR NAD-Nias, dlsb. 2. Data Kondisi Umum Wilayah, meliputi data : wilayah administratif, geografi, topografi, geologi tata lingkungan, penggunaan lahan, kawasan konservasi, kependudukan, perekonomian, budaya, adat-istiadat masyarakat, dll. 3. Data Prasarana dan Sarana Wilayah, meliputi data : prasarana dan sarana transportasi (jaringan jalan, angkutan umum dan terminal, pelabuhan, bandar udara), prasarana dan sarana pengairan, dan prasarana wilayah lainnya. Koordinasi di tingkat provinsi akan dilakukan melalui Bappeda Provinsi. Sedangkan instansi sumber data di tingkat Provinsi, antara lain meliputi : 1. Bappeda Provinsi 2. BRR NAD-Nias 3. Dinas PU Provinsi 4. Dinas Perhubungan Provinsi 5. BPS Provinsi Kegiatan B3 Koordinasi dan Pengumpulan Data di Tingkat Kabupaten Setelah dilakukan koordinasi dan pengumpulan data di tingkat Provinsi, selanjutnya dalam kegiatan ini akan dilakukan koordinasi dan pengumpulan data di tingkat Kabupaten. Koordinasi di tingkat Kabupaten dilakukan guna menyinergikan format pekerjaan yang ditetapkan oleh pihak Pemberi Tugas terhadap kebutuhankebutuhan yang ada daerah, disamping unuk memperoleh masukan tentang berbagai isu permasalahan yang ada di wilayah Kabupaten Bireuen, kecamatankecamatan prioritas yang perlu segera ditangani, serta delineasi kawasan permukiman utama (perkotaan) Bireuen. Adapun kegiatan pengumpulan data di tingkat Kabupaten adalah berupa data sekunder, antara lain meliputi :

LAPORAN AKHIR

I- 20

BRR NAD - Nias

1. Data Kebijakan dan Rencana Terkait di Tingkat Kabupaten, meliputi : Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten, RENSTRA dan PROPEDA Kabupaten, Program Prioritas Kabupaten dan program-program definitif (committed). 2. Data Kondisi Fisik dan Lingkungan, meliputi data : wilayah administratif, geografi, topografi, geologi tata lingkungan, sumber daya alam, daerah rawan bencana (gempa, banjir dan longsor), penggunaan lahan, kawasan konservasi, dll. 3. Data Kondisi Sosial-Ekonomi dan Budaya, meliputi data : kependudukan, perekonomian, sosial budaya, adat-istiadat masyarakat, dll. 4. Data Prasarana dan Sarana Wilayah, meliputi data : prasarana dan sarana transportasi (jaringan jalan, angkutan umum dan terminal, pelabuhan, bandar udara), sarana sosial-ekonomi (pasar, sekolah, rumah sakit, dan fasilitas umum lainnya), prasarana lingkungan (air bersih, drainase, pengolahan sampah, sanitasi), prasarana telekomunikasi dan energi (listrik dan telepon). Koordinasi di tingkat Kabupaten akan dilakukan melalui Bappeda Kabupaten. Sedangkan instansi sumber data di tingkat Kabupaten, antara lain meliputi : 1. Bappeda Kabupaten 2. BRR NAD-Nias Perwakilan Lhokseumawe 3. Dinas PU Kabupaten 4. Dinas Perhubungan Kabupaten 5. Dinas Pertanian 6. Dina Perkebunan dan Kehutanan 7. Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten 8. BKPMD 9. Dinas Kelautan dan Pesisir 10. BPS Kabupaten Kegiatan B4 Koordinasi dan Pengumpulan Data di Kecamatan-kecamatan Prioritas dan Kawasan Permukiman Utama Dalam kegiatan ini dilakukan koordinasi dan pengumpulan data di kecamatankecamatan prioritas dan kawasan permukiman utama (berdasarkan masukan dari Pemda Kabupaten). Koordinasi dilakukan guna memperoleh masukan tentang

LAPORAN AKHIR

I- 21

BRR NAD - Nias


berbagai isu permasalahan yang ada di kecamatan prioritas, serta isu permasalahan pada kawasan permukiman utama. Adapun data yang dikumpulkan di kecamatan prioritas dan kawasan permukiman utama, meliputi : data sekunder dan data primer. Data sekunder yang dikumpulkan dari Kantor Kecamatan, antara lain meliputi data : penggunaan lahan, status dan harga lahan, kependudukan, perekonomian, permukiman, bangunan, prasarana dan sarana yang ada, serta data program/proyek-proyek pembangunan baik yang sedang berjalan (on-going), committed, maupun yang masih berupa usulan. Sedangkan data primer dikumpulkan melalui : 1. Survai Pengamatan Situasi dan Permasalahan pada kawasan perencanaan. Survai ini dilakukan untuk memperoleh gambaran secara rinci tentang kondisi, situasi dan permasalahan yang ada di kecamatan prioritas dan kawasan permukiman utama, meliputi : kondisi penggunaan lahan, permukiman, pusatpusat pelayanan, berikut berbagai permasalahan yang ada, khususnya pada pada lokasi-lokasi yang diusulkan untuk ditangani/diprogramkan (berdasarkan masukan dari Daerah). Dalam survai ini juga akan dilakukan pengambilan gambar video (video shooting) tentang kondisi dan permasalahan yang ada di kecamatan prioritas dan kawasan permukiman utama. 2. Survai Wawancara kepada Stakeholders terkait, antara lain meliputi : masyarakat umum (petani dan nelayan), penghuni barak-barak dan tenda-tenda pengungsi, tokoh masyarakat, tokoh agama, tokoh adat, para pengusaha, dan pihak terkait lainnya, guna memperoleh berbagai informasi tentang kondisi dan permasalahan yang ada saat ini, berikut aspirasinya dalam rangka pembangunan kecamatan prioritas dan kawasan permukiman utama di masa mendatang. Disamping survai wawancara, disini juga akan dilakukan penjaringan aspirasi masyarakat tentang permasalahan yang ada dan usulan program penanganannya melalui Forum FGD (Focus Group Discussion) di setiap kecamatan prioritas.

LAPORAN AKHIR

I- 22

BRR NAD - Nias


C. Tahap - 3 : Review RTRW Kabupaten Bireuen dan RUTR Kota Bireuen Kegiatan C1 Review RTRW Kabupaten Bireuen Dalam kegiatan ini dilakukan review/peninjauan kembali terhadap RTRW Kabupaten Bireun yang telah disusun sebelumnya (2002 2011), mencakup aspek-aspek berikut : 1. Kelengkapan data; 2. Metodologi yang digunakan; 3. Kelengkapan isi rencana dan peta rencana; 4. Tinjauan terhadap pemanfaatan rencana; 5. Tinjauan pengendalian; 6. Kelembagaan; 7. Aspek legalitas; 8. Proses penyusunan rencana. Evaluasi tersebut pada dasarnya untuk menilai tingkat kesahihan rencana, pengaruh faktor eksternal, dan simpangan rencana sebagaimana dijelaskan dalam Pedoman Peninjauan Kembali RTRW Kabupaten dan digunakan sebagai masukan bagi penentuan langkah-langkah perbaikan rencana. Kegiatan C2 Review RUTR Kota Bireuen Sama dengan kegiatan sebelumnya, dalam kegiatan ini dilakukan

review/peninjauan kembali terhadap RUTR Kota Bireun yang telah disusun sebelumnya, mencakup aspek-aspek yang sama dengan kegiatan sebelumnya. D. Tahap - 4 : Identifikasi Permasalahan dan Isu Pembangunan Jangka Panjang Kabupaten Bireuen Kegiatan D1 Identifikasi Kondisi dan Permasalahan Umum Kabupaten Bireuen Kondisi dan permasalahan umum wilayah Kabupaten Bireuen yang dikaji di sini, terdiri dari kajian wilayah eksternal (regional), dan wilayah internal.

LAPORAN AKHIR

I- 23

BRR NAD - Nias

1. Kajian Wilayah Eksternal (Regional) Kajian ini dilakukan untuk melihat peran, kedudukan, dan keterkaitan Kabupaten Bireun dengan wilayah eksternal baik dalam lingkup provinsi NAD, maupun Nasional (berdasarkan data-data yang dikumpulkan di tingkat provinsi). Secara garis besar kajian regional antara lain, meliputi : a. Kajian Ekosistem Wilayah, untuk melihat kedudukan Kabupaten dalam Sistem Wilayah Pembangunan Nasional, Pulau Sumatera dan Provinsi NAD, dalam Struktur Tata Ruang Wilayah Nasional, Pulau Sumatera dan Provinsi Sumatera Utara, terkait juga dengan sistem kota-kota, Kawasan Andalan, KAPET, Segitiga Pertumbuhan SIJORI, dll.). b. Kajian Ekonomi Regional, untuk melihat peran, share, dan keterkaitan sektor-sektor ekonomi Kabupaten Bireuen dengan wilayah eksternal, terkait juga dengan pola pergerakan barang dan modal. c. Kajian Terhadap Sistem Transportasi Nasional dan Regional terkait. d. Kajian Terhadap Wilayah Rawan Bencana Gempa dan Tsunami. e. Kajian Pengaruh Wilayah Eksternal terhadap prospek perkembangan Kabupaten Bireuen, mencakup kajian pengaruh dari potensi dan permasalahan yang ada wilayah eksternal, termasuk kebijakan dan rencana di tingkat Nasional dan Provinsi terhadap prospek perkembangan Kabupaten Bireuen. 2. Kajian Wilayah Internal Kabupaten Bireuen Kajian ini dilakukan untuk melihat kondisi dan permasalahan umum yang ada di wilayah internal Kabupaten Bireuen, mencakup kajian terhadap seluruh data-data yang dikumpulkan di tingkat Kabupaten, termasuk kajian terhadap Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kabupaten yang ada, berikut kebutuhan peninjauan kembali terhadap RTRW tersebut.

LAPORAN AKHIR

I- 24

BRR NAD - Nias

Kegiatan D2 Identifikasi Isu Pembangunan Jangka Panjang Kabupaten Bireuen Dari hasil identifikasi kondisi dan permasalahan di atas, selanjutnya dalam kegiatan ini diidentifikasi isu-isu pembangunan jangka panjang Kabupaten Bireuen yang diperlukan sebagai dasar pertimbangan dalam penyusunan rekomendasi kebutuhan dalam penyusunan RTRW Kabupaten Bireuen (Tahap II). E. Tahap - 5 : Analisis Kebutuhan Penanganan Kecamatan Prioritas Kabupaten Bireuen Kegiatan E1 Pemilihan Kecamatan Prioritas dan Delineasi Kawasan Perencanaan Dalam kegiatan ini dilakukan pemilihan kecamatan prioritas Kabupaten Bireuen, dengan jumlah kecamatan yang dipilih minimal 6 (enam) kecamatan. Dengan mengacu pada Kerangka Acuan Kerja (TOR), maka kriteria yang digunakan untuk memilih kecamatan prioritas, adalah sebagai berikut : 1. Kecamatan yang terkena dampak tsunami secara langsung atau tidak langsung, dimana kecamatan yang paling parah terkena dampak semakin prioritas untuk ditangani. 2. Terdapat rencana strategis daerah atau program prioritas daerah yang akan dilaksanakan di kecamatan bersangkutan. Dalam pemilihan kecamatan prioritas, akan digunakan metode pembobotan pada setiap parameter kriteria yang digunakan, sehingga dari hasil penilaian ini akan dapat diidentifikasi urutan prioritas dari setiap kecamatan yang ada. Selanjutnya setelah kecamatan-kecamatan prioritas ini teridentifikasi dan mendapat persetujuan dari Pemda, konsultan akan melakukan delineasi kawasan perencanaan, melalui pemilihan desa-desa prioritas pada kecamatan terpilih dengan menggunakan kriteria dan metode yang sama. Kegiatan E2 Identifikasi Kondisi dan Permasalahan Kecamatan Prioritas Dengan mengacu pada hasil pemilihan dan delineasi kawasan perencanaan, serta hasil pengumpulan data sekunder dan data primer di Kecamatan Prioritas,
LAPORAN AKHIR

I- 25

BRR NAD - Nias


dalam kegiatan ini dilakukan identifikasi kondisi dan permasalahan yang ada di kawasan perencanaan, yang secara garis besar meliputi aspek : daya dukung fisik dan lingkungan, sosial-ekonomi dan budaya, permukiman dan bangunan, serta prasarana dan sarana, dan tata ruang. Selanjutnya, berbagai permasalahan yang ada tersebut, dievaluasi guna mengetahui permasalahan mendesak (prioritas) pada setiap aspek yang perlu segera ditangani. Kegiatan E3 Analisis Kebutuhan Penanganan Kecamatan Prioritas Dengan mengacu pada hasil identifikasi permasalahan mendesak sebelumnya, serta arahan dalam Rencana Induk Rehabilitasi dan Rekonstruksi NAD-Nias, dalam kegiatan ini dilakukan analisis kebutuhan penanganan dari setiap permasalahan mendesak yang ada. Secara garis besar, analisis ini meliputi : 1. Analisis Pengembangan Sosial-Ekonomi dan Budaya Analisis ini ditujukan guna mengidentifikasi kebutuhan penanganan masalah sosial, ekonomi dan budaya yang mendesak, serta merumuskan kerangka pengembangan sosial-ekonomi dan budaya, atau sistem kegiatan kawasan perencanaan di masa mendatang. Analisis ini antara lain meliputi: analisis kebutuhan pengembangan sumber daya manusia, analisis proyeksi penduduk, kebutuhan pengembangan ekonomi kawasan, jenis kegiatan dan sektor-sektor uggulan, proyeksi investasi, kebutuhan pengembangan budaya, dll. 2. Analisis Penataan Ruang Analisis ini ditujukan guna mengidentifikasi kebutuhan penanganan masalah tata ruang yang mendesak, serta merumuskan kerangka penataan ruang dari sistem kegiatan yang akan dikembangkan di masa mendatang (dari hasil analisis sebelumnya). Analisis ini antara lain meliputi : analisis kesesuaian lahan kawasan lindung dan budidaya, analisis kebutuhan lahan pengembangan kegiatan budidaya, analisis pengelolaan kawasan lindung dan kawasan budidaya (termasuk kebutuhan penanganan masalah lingkungan), analisis penataan struktur ruang, dan pusat-pusat pelayanan, analisis pembagian unit-unit lingkungan, analisis pengelolaan kawasan perkotaan, perdesaan, tertentu, dll.
LAPORAN AKHIR

I- 26

BRR NAD - Nias

3. Analisis Pengembangan Permukiman dan Pengelolaan Bangunan Analisis ini ditujukan guna mengidentifikasi kebutuhan penanganan masalah permukiman dan bangunan yang mendesak, serta merumuskan kerangka pengembangan permukiman pada kawasan perencanaan di masa mendatang. Analisis ini antara lain meliputi : analisis kebutuhan rehabilitasi dan rekonstruksi permukiman yang terkena dampak tsunami, analisis kebutuhan unit rumah dan lahan pengembangan baru (untuk relokasi atau memenuhi permintaan di masa mendatang), analisis kesesuaian lahan untuk permukiman (dapat dari hasil analisis sebelumnya), pengembangan pusatpusat permukiman, analisis tata letak dan tata bangunan kawasan permukiman, dll. 4. Analisis Pengembangan Prasarana dan Sarana Analisis ini ditujukan guna mengidentifikasi kebutuhan penanganan masalah pelayanan prasarana dan sarana yang mendesak, serta kebutuhan pengembangan prasarana dan sarana kawasan perencanaan di masa mendatang. Secara garis besar analisis ini meliputi : analisis kebutuhan rehabilitasi dan rekonstruksi prasarana dan sarana yang terkena dampak tsunami secara langsung atau tidak langsung, serta analisis kebutuhan pengembangan prasarana dan sarana dalam rangka memenuhi permintaan di masa mendatang. Adapun jenis prasarana dan sarana yang dikaji di sini antara lain meliputi prasarana dan sarana : transportasi, pengendalian banjir dan pengaman pantai, pengairan (irigasi), air bersih dan air limbah, pemerintahan, sosial dan ekonomi (perdagangan, pendidikan, kesehatan, peribadatan, olahraga, taman, rekreasi, dan budaya), telekomunikasi dan energi (listrik).

LAPORAN AKHIR

I- 27

BRR NAD - Nias


F. Tahap - 6 : Analisis Kebutuhan Penanganan Kawasan Permukiman Utama (Perkotaan) Bireuen Kegiatan F1 Penetapan Delineasi Kawasan Permukiman Utama (Perkotaan) Bireuen Dalam kegiatan ini dilakukan delineasi Kawasan Permukiman Utama

(perkotaan) Bireuen. Secara garis besar, delineasi kawasan permukiman utama (perkotaan) Bireuen ditetapkan berdasarkan : 1. Kriteria dan pengertian Kawasan Perkotaan yang ada (versi BPS, dll). 2. Perkiraan Arah Pengembangan Kawasan Perkotaan di masa mendatang, berdasarkan kajian terhadap kecenderungan perkembangan yang ada, daya dukung fisik dan lingkungan, serta isu pembangunan perkotaan yang ada. 3. Masukan dari pihak Pemda Kabupaten Bireuen. Kegiatan F2 Identifikasi Kondisi dan Permasalahan Kawasan Dengan mengacu pada hasil delineasi kawasan permukiman utama (perkotaan) Bireuen, serta hasil pengumpulan data sekunder dan data primer di kawasan tersebut, dalam kegiatan ini dilakukan identifikasi kondisi dan permasalahan yang ada di kawasan perkotaan Bireuen, meliputi aspek : daya dukung fisik dan lingkungan, sosial (demografi), ekonomi, budaya, permukiman dan bangunan, serta prasarana dan sarana kota. Kegiatan F3 Analisis Kebutuhan Penanganan Kawasan Berdasarkan hasil identifikasi kondisi dan permasalaan yang ada pada kawasan perkotaan Bireuen, serta arahan dalam Rencana Induk Rehabilitasi dan Rekonstruksi NAD-Nias, dalam kegiatan ini dilakukan analisis kebutuhan penanganan dari setiap permasalahan mendesakan yang ada. Secara umum analisis yang dilakukan disini meliputi aspek yang sama dengan yang telah dijelaskan untuk kecamatan prioritas, yakni meliputi : analisis pengembangan sosial-ekonomi dan budaya, penataan ruang, pengembangan permukiman dan pengelolaan bangunan, serta pengembangan prasarana dan sarana kota.

LAPORAN AKHIR

I- 28

BRR NAD - Nias


G. Tahap - 7 : Penyusunan Rencana Tindak (Action Plan) Rehabilitasi dan Rekonstruksi Kecamatan Prioritas Kabupaten Bireuen Kegiatan G1 Perumusan Konsep dan Strategi Pengembangan Kawasan Konsep dan strategi pengembangan kawasan perencanaan di Kecamatan Prioritas dirumuskan berdasarkan hasil analisis kebutuhan penanganan kecamatan prioritas, arah kebijaksanaan dan rencana yang termuat dalam Rencana Induk Rehabilitasi dan Rekonstruksi NAD-Nias dan RTRW Kabupaten Bireun, serta masukan dari pihak Pemberi Tugas. Adapun konsep dan strategi pengembangan yang dirumuskan di sini, antara lain meliputi : 1. Visi, Misi dan Konsep Dasar Pengembangan, (termasuk konsep penataan ruang kawasan perencanaan). 2. Strategi Pengembangan Kawasan, meliputi : a. Strategi Pengembangan Sosial Ekonomi dan Budaya, mencakup : strategi pengembangan sumber daya manusia, alokasi penduduk, strategi pengembangan ekonomi, sektor-sektor uggulan, dan investasi, serta strategi pengembangan budaya. b. Strategi Penataan Ruang, meliputi : strategi pengelolaan kawasan lindung dan kawasan budidaya (termasuk pengelolaan lingkungan), strategi penataan ruang kegiatan, pusat-pusat pelayanan, dan pembagian unit-unit lingkungan, serta strategi pengelolaan kawasan perkotaan, perdesaan, dan tertentu. c. Strategi Pengembangan Permukiman dan Pengelolaan Bangunan, meliputi : strategi rehabilitasi dan rekonstruksi permukiman yang terkena dampak tsunami, serta strategi pengembangan permukiman secara keseluruhan (peruntukan kawasan permukiman, strategi penyediaan lahan permukiman, kebutuhan jumlah unit rumah, tipe rumah, pusat-pusat permukiman, tata letak dan tata bangunan, pengaturan KDB dan KLB, strategi pembiayaan pembangunan, organisasi pembangunan, pentahapan pembangunan, dll).

LAPORAN AKHIR

I- 29

BRR NAD - Nias

d. Strategi Pengembangan Prasarana dan Sarana, meliputi : strategi

rehabilitasi dan rekonstruksi prasarana dan sarana yang terkena dampak tsunami, serta strategi pengembangan prasarana dan sarana secara keseluruhan lahan, (strategi peningkatan pelayanan, strategi penyediaan pentahapan prasarana dan sarana, proses penyiapan yang diperlukan, penyediaan strategi pembiayaan, organisasi pembangunan, pembangunan, dll). Kegiatan G2 Penyusunan Rencana Tindak (Action Plan) Rehabilitasi dan Rekonstruksi Kecamatan Prioritas Kabupaten Bireuen Berdasarkan Konsep dan Strategi Pengembangan yang telah dirumuskan sebelumnya, dalam kegiatan ini dilakukan penyusunan Rencana Tindak (Action Plan) Pembangunan Lima Tahun pada kawasan perencanaan di kecamatan prioritas, yang dijabarkan lagi ke dalam program tahunan. Adapun materi data dan informasi rekomendasi rencana tindak (action plan) atau program yang disusun di sini, secara garis besar meliputi : 1. Nama Program, 2. Lokasi Program, 3. Tujuan dan Sasaran Program, 4. Jadwal Pelaksanaan (Time Schedule), 5. Sumber Dana Program, 6. Institusi/Pihak Pengelola Progam. Adapun jenis program-program yang diusulkan di sini, dapat meliputi : program fisik (konstruksi) berikut program penyiapannya (perencanaan umum, studi kelayakan, AMDAL, penyusunan detail desain), serta program-program non-fisik, seperti : program penyuluhan, pendampingan masyarakat, pengembangan kelembagaan dll. Kegiatan G3 Penyusunan Rekomendasi Kebutuhan Dalam Penyusunan RTRW Kabupaten Bireuen (Tahap II) Dengan mengacu pada hasil seluruh rangkaian kegiatan sebelumnya, serta hasil review RTRW Kabupaten Bireuen yang ada saat ini (2002-2011), dalam kegiatan
LAPORAN AKHIR

I- 30

BRR NAD - Nias


ini dirumuskan rekomendasi kebutuhan untuk penyusunan RTRW Kabupaten Bireuen (Tahap II) yang antara lain meliputi : kebutuhan pengembangan proses perencanaan yang komprehensif melibatkan para stake holders, penajaman teknik analisa, menjaring issue pembangunan, ekonomi, sosial dan budaya pada masa pasca gempa bumi dan tsunami, dll. H. Tahap - 7 : Penyusunan Rencana Tindak (Action Plan) Rehabilitasi dan Rekonstruksi Kawasan Permukiman Utama (Perkotaan) Bireuen Kegiatan H1 Perumusan Konsep dan Rencana Strategis Pengembangan Kota Konsep dan rencana strategis pengembangan kawasan perkotaan Bireuen dirumuskan berdasarkan hasil analisis kebutuhan penanganan kawasan perkotaan Bireuen, arah kebijaksanaan dan rencana yang termuat dalam Rencana Induk Rehabilitasi dan Rekonstruksi NAD-Nias dan RTRW Kabupaten Bireun, serta masukan dari pihak Pemberi Tugas. Secara garis besar, konsep dan rencana strategis pengembangan yang dirumuskan di sini, meliputi : 1. Visi, Misi dan Konsep Dasar Pengembangan, (termasuk konsep penataan ruang kawasan perencanaan). 2. Strategi Pengembangan Kota, meliputi aspek yang sama dengan yang telah dijelaskan pada strategi pengembangan kecamatan prioritas Kabupaten Bireuen, yakni meliputi strategi : pengembangan sosial ekonomi dan budaya, penataan ruang, pengembangan permukiman dan pengelolaan bangunan, serta pengembangan prasarana dan sarana kota. 3. Rencana Strategis Pengembangan Kota, untuk masa mendatang, meliputi : a. Rencana Struktur Tata Ruang b. Rencana Pola Pemanfaatan Ruang c. Rencana Sistim Jaringan Transportasi d. Rencana Arah Pengembangan Kota

LAPORAN AKHIR

I- 31

BRR NAD - Nias

Kegiatan H2 Penyusunan Rencana Tindak (Action Plan) Rehabilitasi dan Rekonstruksi Kawasan Permukiman Utama (Perkotaan) Bireuen Berdasarkan Konsep dan Rencana Strategis Pengembangan yang telah

dirumuskan sebelumnya, dalam kegiatan ini dilakukan penyusunan Rencana Tindak (Action Plan) Pembangunan Lima Tahun pada kawasan permukiman utama (perkotaan) Bireuen, yang dijabarkan lagi ke dalam program tahunan. Adapun materi data dan informasi rekomendasi rencana tindak (action plan) atau program yang disusun di sini, meliputi aspek yang sama dengan yang telah dijelaskan untuk kecamatan prioritas Kabupaten Bireuen. Kegiatan H3 Penyusunan Rekomendasi Kebutuhan Dalam Penyusunan RUTR Kota Bireuen (Tahap II) Dengan mengacu pada hasil seluruh rangkaian kegiatan sebelumnya, serta hasil review RUTR Kota Bireuen yang ada saat ini, dalam kegiatan ini dirumuskan rekomendasi kebutuhan untuk penyusunan RUTR Kota Bireuen (Tahap II) yang meliputi aspek yang hampir sama dengan yang telah dijelaskan untuk penyusunan RTRW Kab. Bireuen (Tahap II)

1.5 SISTEMATIKA LAPORAN AKHIR


Laporan Akhir ini terdiri dari 2 (dua) buku, yakni : Buku I Buku II : Review RTRW Kab. Bireuen dan Rencana Tindak Kecamatan Prioritas Kab. Bireuen : Review RUTR Kota Bireuen dan Rencana Tindak Kawasan Permukiman Utama (Perkotaan) Bireuen Adapun buku ini adalah merupakan Buku I, yang berisi 4 (empat) bab pokok bahasan, meliputi : BAB I PENDAHULUAN Bab ini menguraikan tentang latar belakang, maksud dan tujuan, sasaran, hasil yang diharapkan, metodologi , dan sistematika laporan.

LAPORAN AKHIR

I- 32

BRR NAD - Nias


BAB II REVIEW RTRW KABUPATEN BIREUEN Bab II berisi tentang review atau peninjauan kembali terhadap RTRW Kabupaten yang sudah ada (2002-2011), tinjauan kebijakan dan rencana yang ada, serta gambaran umum wilayah Kabupaten Bireuen. BAB III RENCANA TINDAK (ACTION PLAN) KECAMATAN PRIORITAS KABUPATEN BIREUEN Berisi tentang pemilihan kecamatan prioritas, metode dan proses penyusunan rencana tindak (action plan) kecamatan prioritas dan penetapan urutan prioritas desa untuk village planning, konsep dan strategi pengembangan Kecamatan Prioritas, serta pembahasan tentang kondisi dan permasalahan yang ada, dan rencana tindak (action plan) untuk masing-masing kecamatan terpilih. BAB IV PENUTUP Bab ini berisi tentang berbagai kesimpulan dari hasil studi ini dan rekomendasi untuk penyusunan RTRW Kabupaten Bireuen (Tahap II).

LAPORAN AKHIR

I- 33

BRR NAD - Nias

PENYUSUNAN RENCANA TATA RUANG WILAYAH KABUPATEN BIREUEN PROVINSI NANGGROE ACEH DARUSSALAM

BRR NAD - Nias

2.1.

EVALUASI TIPOLOGI PENINJAUAN KEMBALI RTRW KAB. BIREUEN

2.1.1. UMUM A. Perlunya Peninjauan Kembali Sesuai dengan Keputusan Menteri Permukiman dan Prasarana Wilayah no. 327/KPTS/M/2002 tanggal 12 Agustus 2002, tentang Pedoman Peninjauan Kembali RTRW Kabupaten, disebutkan bahwa peninjauan kembali suatu RTRW Kabupaten diperlukan apabila terjadi ketidaksesuaian dan/atau simpangan antara rencana dengan kenyataan yang terjadi di lapangan baik karena faktor internal maupun faktor eksternal. 1. Faktor Eksternal Faktor-faktor eksternal yang dapat mempengaruhi perlunya peninjauan kembali, adalah : a. Adanya perubahan dan/atau penyempurnaan peraturan dan/atau rujukan sistem penataan ruang. b. Adanya perubahan kebijaksanaan pemanfaatan ruang dan/atau sektoral dari tingkat provinsi maupun kabupaten yang berdampak pada pengalokasian kegiatan pembangunan yang memerlukan ruang berskala besar. c. Adanya ratifikasi kebijaksanaan global yang mengubah paradigma sistem pembangunan dan pemerintahan serta paradigma perencanaan tata ruang. d. Adanya perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang cepat dan seringkali radikal dalam hal pemanfaatan sumberdaya alam meminimalkan kerusakan lingkungan. e. Adanya bencana alam yang cukup besar sehingga mengubah struktur dan pola pemanfaatan ruang, dan memerlukan relokasi kegiatan budidaya maupun lindung yang ada demi pembangunan pasca bencana. 2. Faktor Internal Beberapa faktor internal yang mempengaruhi perlunya peninjauan kembali adalah: a. Rendahnya kualitas RTRW Kab. yang dipergunakan untuk penertiban perizinan lokasi pembangunan, sehingga kurang dapat mengoptimalisasi perkembangan
LAPORAN AKHIR

II- 1

BRR NAD - Nias


dan pertumbuhan aktivitas sosial ekonomi yang cepat dan dinamis. Rendahnya kualitas ini dapat disebabkan karena tidak diikutinya proses teknis dan prosedur kelembagaan perencanaan tata ruang. b. Terbatasnya pengertian dan komitmen aparatur yang terkait dengan tugas penataan ruang, mengenai fungsi dan kegunaan RTRW Kab. dalam pelaksanaan pembangunan, serta lemahnya kemampuan aparatur yang berwenang dalam pengendalian pemanfaatan ruang. c. Adanya perubahan atau pergeseran nilai/norma dan tuntutan hidup yang berlaku di dalam masyarakat. d. Terjadinya perubahan prioritas pembangunan dan perkembangan kawasan atau sektor yang tidak dipertimbangkan sebelumnya. e. Terjadinya simpangan-simpangan besar dalam struktur dan pola pemanfaatan ruang wilayah. Dengan mengacu pada pedoman di atas, maka secara umum perlunya peninjauan kembali RTRW Kabupaten Bireuen didasarkan pada pertimbangan sebagai berikut : 1. Faktor Eksternal : a. Terdapatnya rujukan baru dalam penyusunan RTRW Kabupaten, yang disahkan dalam bentuk SK Menteri Permukiman dan Prasarana Wilayah tertanggal 12 Agustus 2002, sementara RTRW Kabupaten Bireun yang ada saat ini (2002 2011) disusun pada tahun 2001 atau sebelum dikeluarkannya pedoman. b. Adanya perubahan paradigma perencanaan tata ruang untuk wilayah Provinsi NAD dan Nias dengan menambahkan penekanan pada aspek mitigasi bencana, rehabilitasi dan rekonstruksi fisik dan ekonomi wilayah secara cepat, tepat, dan terarah, pasca terjadinya bencana gempa dan tsunami di wilayah NAD-Nias. c. Terjadinya perubahan struktur dan pola pemanfaatan ruang di wilayah provinsi NAD pasca terjadinya bencana gempa dan tsunami, sehingga memerlukan relokasi kegiatan budidaya maupun lindung yang ada demi pembangunan pasca bencana.
LAPORAN AKHIR

II- 2

BRR NAD - Nias


2. Faktor Internal : a. Rendahnya kualitas dan kemutahiran data dan RTRW Kabupaten Bireuen yang ada. Hal ini antara lain dapat dilihat dari : Peta-peta dasar dan Peta-peta rencana yang kurang akurat (tidak berbasis peta GIS), Peta wilayah administrasi Kecamatan tidak akurat, dan saat ini telah terjadi pemekaran beberapa kecamatan yang ada di Kabupaten Bireuen dari semula berjumlah 10 kecamatan menjadi 17 kecamatan (lihat bagian Terminologi). b. Terdapatnya perubahan prioritas pembangunan, dan pengembangan kawasan yang tidak dipertimbangkan sebelumnya, seperti adanya rencana kawasan industri di Batee Geulungku, rencana Pelabuhan di Kec. Simpang Mamplam, pengembangan industri bio-diesel di Kec. Juli, rencana perumahan kaum dhuafa di Kec. Peulimbang, dll. B. Tipologi Peninjauan Kembali RTRW Kabupaten Sesuai dengan pedoman yang ada, terdapat 8 (delapan) jenis/tipologi peninjauan kembali RTRW Kabupaten, sebagai berikut : 1. Tipologi A : RTRWK sah, simpangan kecil, faktor eksternal tetap. 2. Tipologi B : RTRWK sah, simpangan kecil, faktor eksternal berubah. 3. Tipologi C : RTRWK sah, simpangan besar, faktor eksternal berubah. 4. Tipologi D : RTRWK sah, simpangan besar, faktor eksternal tetap. 5. Tipologi E : RTRWK tidak sah, simpangan kecil, faktor eksternal berubah. 6. Tipologi F : RTRWK tidak sah, simpangan kecil, faktor eksternal tetap. 7. Tipologi G : RTRWK tidak sah, simpangan besar, faktor eksternal berubah. 8. Tipologi H : RTRWK tidak sah, simpangan besar, faktor eksternal tetap. Untuk menentukan tipologi peninjauan kembali RTRW Kabupaten diperlukan penilaian (evaluasi) terhadap 3 (tiga) aspek, meliputi : kelengkapan dan kesahan RTRW Kabupaten yang ada, evaluasi simpangan yang terjadi, serta evaluasi perubahan faktor eksternal.

LAPORAN AKHIR

II- 3

BRR NAD - Nias

2.1.2. EVALUASI KELENGKAPAN DAN KESAHAN RTRW KABUPATEN BIREUEN (2002 2011) A. Kriteria Kelengkapan dan Kesahan RTRW Kabupaten Sesuai dengan pedoman yang ada, kriteria kelengkapan dan kesahan RTRW Kabupaten, meliputi : 1. Kelengkapan dan keabsahan data; 2. Kelengkapan dan relevansi metoda dan hasil analisis; 3. Kelengkapan konsep dan strategi pemanfaatan ruang wilayah kabupaten; 4. Kelengkapan Muatan Produk Rencana 5. Kesuaian prosedur penyusunan RTRWK; 6. Kesahan produk RTRWK. B. Evaluasi Kelengkapan dan Keabsahan Data Mengingat sampai saat ini konsultan belum memperoleh buku Fakta dan Analisa dari Rencana Tata Ruang Kabupaten Bireuen yang ada saat ini (2002 - 2011), maka konsultan tidak dapat mengevaluasi tentang kelengkapan dan keabsahan dari data pokok yang digunakan untuk penyusunan rencana tata ruang terdahulu. C. Evaluasi Kelengkapan dan Relevansi Metode Analisis Sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya, sampai saat ini konsultan belum

memperoleh buku Fakta dan Analisa dari Rencana Tata Ruang Kabupaten Bireuen yang ada saat ini (2002 - 2011), maka konsultan tidak dapat mengevaluasi tentang metode analisis yang digunakan untuk penyusunan rencana tata ruang terdahulu. D. Evaluasi Rumusan Strategi Pemanfaatan Ruang Kabupaten Evaluasi ini dilakukan dengan cara membandingkan antara kriteria kelengkapan dan keabsahan rumusan strategi pemanfaatan ruang Kabupaten dalam buku Pedoman Peninjauan Kembali RTRW Kabupaten, terhadap muatan buku Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Bireun (2002 - 2011) tentang rumusan strategi pemanfaatan ruang kabupaten. Secara garis besar hasil dari evaluasi ini dapat dilihat pada Tabel 2.1.

LAPORAN AKHIR

II- 4

BRR NAD - Nias

Tabel 2.1 Evaluasi Rumusan Strategi Pemanfaatan Ruang Kabupaten


No. 1 2 Muatan Rumusan Tujuan pemanfaatan Ruang Rumusan masalah pembangunan kabupaten dan keterkaitannya dengan masalah pemanfaatan ruang; Perumusan konsep dan strategi pengembangan tata ruang kabupaten; Penjabaran strategi pengembangan tata ruang kabupaten ke dalam langkah-langkah: - Strategi pengelolaan kawasan lindung dan budidaya; Strategi pengelolaan perkotaan dan kws. tertentu; kws.perdesaan, V V V Yang ada adalah strategi pengembangan pusat-pusat pertumbuhan Yang ada masih berupa kebijakan Yang ada masih berupa kebijakan dan norma-norma V Ada Tidak Ada V Keterangan

Strategi pengemb. sistem kegiatan pembangunan, serta sistem permukiman perdesaan dan perkotaan; Strategi pengembangan sarana dan prasarana wilayah; Strategi pengembangan kawasan prioritas; Strategi pemanfaatan ruang; Strategi pengendalian pemanfaatan ruang. V V

V V

Sumber : Hasil Analisis

E. Evaluasi Kelengkapan Muatan Produk Rencana Evaluasi ini dilakukan dengan cara membandingkan antara kriteria kesahan produk rencana dalam buku pedoman, terhadap muatan buku Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Bireun (2002 - 2011) tentang Rencana pemanfaatan ruang kota. Secara garis besar hasil dari evaluasi ini dapat dilihat pada Tabel 2.2. F. Evaluasi Prosedur Penyusunan Rencana Evaluasi ini dilakukan dengan cara membandingkan antara kriteria kesesuaian prosedur penyusunan rencana yang telah dijelaskan sebelumnya, terhadap informasi yang diperoleh tentang prosedur penyusunan Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Bireun (2002 - 2011). Secara garis besar hasil dari evaluasi ini dapat dilihat pada Tabel 2.3.

LAPORAN AKHIR

II- 5

BRR NAD - Nias

Tabel 2.2 Evaluasi Muatan Produk Rencana


No. 1 2 Muatan Tujuan pemanfaatan Ruang Rencana Struktur Pemanfaatan Ruang : a. Rencana Sistem Kegiatan Pembangunan; b. Rencana sistem permukiman perkotaan dan perdesaan; c. Rencana sistem prasarana wilayah yang terdiri dari: i) Rencana sistem prasarana transportasi; ii) Rencana sistem prasarana energi / listrik; iii) Rencana sistem prasarana pengelolaan; iv) Rencana sistem prasarana lingkungan; v) Rencana sistem prasarana lainnya 3 Rencana pola pemanfaatan ruang. V V V cukup jelas V V V cukup jelas cukup jelas sampah, dan air limbah air bersih V V Ada Tidak Ada V Keterangan

Sumber : Hasil Analisis

Tabel 2.3 Evaluasi Prosedur Penyusunan Rencana


No. 1 Ketentuan Disusun berdasarkan Pedoman Penyusunan Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten yang berlaku Melibatkan seluruh Tim Koordinasi Penataan Ruang Wilayah Kabupaten, serta masyarakat dan pakar termasuk swasta; Melalui suatu proses konsensus dan musyawarah dari semua pihak dan mengalokasikan ruang sesuai dengan arahan dan rencana tata ruang yang lebih tinggi. Ya Tidak V Keterangan Berdasarkan lama Pedoman yang

Tim koordinasi hanya Dinas/ Instansi terkait Namun pihak masyarakat dan swasta tidak dilibatkan

Sumber : Hasil Analisis

G. Kesimpulan Berdasarkan seluruh hasil evaluasi yang telah dijelaskan sebelumnya, dapat disimpulkan sebagai berikut: 1. Pada dasarnya hasil evaluasi terhadap rumusan strategi pemanfaatan ruang kota dapat dikatakan tidak lengkap dan tidak sah, karena strategi tidak dirumuskan secara jelas dan lengkap. Beberapa strategi dirumuskan dalam II- 6

LAPORAN AKHIR

BRR NAD - Nias


bentuk kebijaksanaan dasar yang sebagian besar hanya memuat kriteriakriteria dan standar-standar umum perencanaan tata ruang. 2. Adapun hasil evaluasi terhadap muatan produk rencana, secara garis besar dapat dikatakan lengkap dan sah, walaupun masih banyak kekurangan dari aspek kuantifikasi dari rencana. 3. Demikian pula dari hasil evaluasi prosedur penyusunan rencana, secara garis besar dapat dikatakan tidak sesuai, karena proses penyusunannya tidak melibatkan masyarakat dan swasta, serta tidak melalui suatu proses konsensus dari semua pihak (stake holders), yang menjadi paradigma baru dari proses penyusunan rencana tata ruang. 4. Untuk evaluasi terhadap kelengkapan data dan metode analisis masih belum dapat dilakukan, mengingat buku Fakta dan Analisis sampai saat ini masih belum tersedia. 5. Dari keseluruhan hasil evaluasi terhadap buku Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Bireuen (2002 - 2011), konsultan cenderung menilai bahwa produk rencana tata ruang terdahulu tidak lengkap dan tidak sah, karena cukup banyaknya muatan rencana yang tidak lengkap sebagaimana telah dijelaskan di atas. Hal ini, juga dikarenakan produk rencana terdahulu disusun sebelum dikeluarkannya Pedoman Penyusunan Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten yang disahkan dalam Keputusan Menteri Permukiman dan Prasarana Wilayah no. 327/KPTS/M/2002 tanggal 12 Agustus 2002. 2.1.3 EVALUASI SIMPANGAN RTRW KABUPATEN BIREUN (2002 2011) Terdapat 2 (dua) hal yang dievaluasi tentang simpangan yang terjadi dalam pelaksanaan RTRW Kabupaten Bireuen (2002-2011) meliputi: evaluasi terhadap simpangan Rencana Struktur Tata Ruang Kabupaten, serta evaluasi terhadap simpangan Rencana Pemanfaatan Ruang Kabupaten. A. Evaluasi Simpangan Rencana Struktur Tata Ruang Kabupaten Secara keseluruhan, penyimpangan yang terjadi saat ini terhadap Rencana Struktur Tata Ruang Kabupaten Bireuen (2002 2011) masih tergolong kecil, mengingat
LAPORAN AKHIR

II- 7

BRR NAD - Nias


penyimpangan yang terjadi hanya ada di wilayah pesisir yang merupakan wilayah yang terkena dampak tsunami. Namun diperkirakan dalam waktu dekat akan terjadi penyimpangan yang cukup besar, sehubungan: 1. Keperluan relokasi kegiatan budidaya khususnya pada wilayah pesisir yang cukup parah terkena dampak bencana tsunami. 2. Adanya isu dan keinginan dari Pemda Kabupaten Bireuen untuk mengembangkan beberapa kawasan strategis, meliputi : 1. Kawasan Industri Batee Geulungku di Kec. Pandrah, dan Simpang Mamplam, 2. Pelabuhan Samudera di Meunasah Mamplam, 3. Pengembangan Sumber Daya Air Bersih di Batu Ilie, Kec. Samalanga. 4. Pelabuhan Pendaratan Ikan (PPI) di Kec. Peudada, 5. Industri Bio-Diesel di Teupin Manee, Kec. Juli, 6. Industri Alat Pertanian di Kuta Blang, 7. Perumahan Kaum Dhuafa seluas 1.250 ha, di Kec.Peulimbang 8. Perluasan Kota Bireuen yang ada saat ini, meliputi 5 (lima) kecamatan, yakni : Kec. Kota Juang, Jeumpa, Kuala, Peusangan, dan Juli. Hal ini menyimpang dari rencana wilayah pembangunan dalam RTRW Kab. Bireuen saat ini (2002 2011) yang membagi 2 (dua) Satuan Wilayah Pengembangan (SWP) pada lokasi rencana perluasan kota Bireuen, yakni SWP I dengan pusat pengembangan di kota Bireuen, dan SWP II dengan pusat pengembangan di Matang Geulumpang Dua. 3. Terjadinya pemekaran Kecamatan di Kabupaten Bireuen, dari semula berjumlah 10 kecamatan menjadi 17 kecamatan, dimana hal ini akan berpengaruh terhadap pola struktur ruang kabupaten. 4. Dalam rangka mewujudkan keinginan untuk perluasan kota Bireuen, Pemda Kab. Bireuen telah merencanakan pembangunan jalan Lingkar Selatan dan Lingkar Utara kota. Berdasarkan informasi yang diperoleh dan hasil pengamatan di lapangan, rencana jalan Lingkar Utara Kota saat ini adalah merupakan jalan Kabupaten dengan lebar +/- 4 m, tipe perkerasan aspal, dan kondisi sedang. Sedangkan rencana jalan lingkar Selatan saat ini adalah merupakan jalan Desa, dengan lebar +/- 4m, dan tipe perkerasan sebagian adalah Sirtu dan sebagian

LAPORAN AKHIR

II- 8

BRR NAD - Nias


lagi masih merupakan jalan tanah. Dari kondisi ini dapat disimpulkan bahwa rencana pembangunan jalan Lingkar Utara dan Selatan ini akan terealisasi dalam kurun waktu yang tidak lama, dimana hal ini nantinya akan menyebabkan semakin besarnya penyimpangan terhadap rencana struktur tata ruang kabupaten yang ada. B. Evaluasi Simpangan Rencana Pemanfaatan Ruang Kabupaten Adalah cukup sulit untuk mengevaluasi simpangan Rencana Pemanfaatan Ruang Kabupaten Bireuen secara kuantitatif, mengingat sangat terbatasnya data yang tersedia terutama Peta Penggunaan Lahan yang akurat dan up to date. Adapun berdasarkan hasil pengamatan di lapangan, simpangan pemanfaatan ruang yang terjadi, antara lain meliputi: 1. Banyaknya kawasan perumahan, tambak-tambak, sarana dan prasarana

permukiman yang rusak paska bencana tsunami, khususnya pada kawasan sekitar pesisir, serta adanya relokasi beberapa kawasan permukiman, pembangunan barak-barak penampung pengungsi, yang semua itu jelas menyebabkan terjadinya penyimpangan terhadap Rencana Pola Pemanfataan Ruang Kabupaten yang ada. Secara kasar, penyimpangan yang terjadi diperkirakan lebih besar dari 25%. 2. Dengan adanya isu tentang rencana strategis Kabupaten yang telah dijelaskan sebelumnya, serta rencana pembangunan jalan Lingkar Utara dan Selatan kota Bireuen, apabila telah terealisasi tentunya akan menyebabkan perkembangan pemanfaatan ruang yang akan semakin memperbesar penyimpangan terhadap rencana pola pemanfaatan ruang kabupaten yang ada.

2.1.4 EVALUASI PERUBAHAN FAKTOR EKSTERNAL Secara umum, perubahan faktor eksternal yang terjadi dan akan berpengaruh terhadap validitas RTRW Kabupaten Bireuen yang ada saat ini, antara lain meliputi : 1. Terdapatnya rujukan baru dalam penyusunan RTRW Kabupaten, yang disahkan dalam bentuk SK Menteri Permukiman dan Prasarana Wilayah tertanggal 12

LAPORAN AKHIR

II- 9

BRR NAD - Nias


Agustus 2002, sementara RTRW Kabupaten Bireun yang ada saat ini (2002 2011) disusun pada tahun 2001 atau sebelum dikeluarkannya pedoman. 2. Khusus untuk wilayah provinsi NAD (termasuk Kabupaten Bireuen) terdapat rujukan baru untuk penyusunan RTRW Kabupaten, yaitu : Rencana Induk Rehabilitasi dan Rekonstruksi NAD-Nias yang disahkan dalam Perpres No. 30 Tahun 2005, sementara RTRW Kabupaten Bireun yang ada saat ini (2002 2011) disusun pada tahun 2001 atau sebelum dikeluarkannya rujukan baru ini. 3. Adanya perubahan paradigma perencanaan tata ruang untuk wilayah Provinsi NAD dan Nias dengan menambahkan penekanan pada aspek mitigasi bencana, rehabilitasi dan rekonstruksi fisik dan ekonomi wilayah secara cepat, tepat, dan terarah, pasca terjadinya bencana gempa dan tsunami di wilayah NAD-Nias. 4. Faktor eksternal lain, yang berubah dengan kondisi tahun 2001 (saat disusunnya RTRW Kab. Bireuen yang lama) adalah adanya kesepakatan MOU perdamaian antara GAM dan Pemerintah Indonesia, serta terbentuknya UU Otonomi Khusus untuk Provinsi NAD yang menyebabkan semakin kondusifnya iklim investasi di Kab. Bireuen, dan semakin terbukanya peluang Pemerintah Kabupaten untuk mengatur strategi pembangunan daerahnya.

2.1.5 PENENTUAN TIPOLOGI PENINJAUAN KEMBALI RTRW KABUPATEN BIREUEN Dengan mengacu pada 8 (delapan) tipologi peninjauan kembali RTRW Kabupaten yang termuat dalam buku Pedoman Peninjauan Kembali Rencana Tata Ruang Kabupaten (lihat sub bab 2.1.1), serta hasil evaluasi keseluruhan yang telah dijelaskan sebelumnya, maka dapat disimpulkan bahwa tipologi peninjauan kembali yang akan dilakukan dalam pekerjaan ini, termasuk dalam Tipologi G, yakni: RTRW Kab. tidak sah, simpangan besar, faktor eksternal berubah. Dengan demikian, sesuai dengan pedoman yang ada, maka RTRW Kabupaten Bireuen yang ada saat ini (2002 2011) perlu dilakuan REVISI TOTAL, dengan melakukan pemutahiran data, analisis, dan rencana, sehingga dapat tersusun RTRW Kabupaten Bireuen yang baru.

LAPORAN AKHIR

II- 10

BRR NAD - Nias

2.2 KEBIJAKAN DAN RENCANA YANG ADA 2.2.1 KEBIJAKAN DAN RENCANA TERKAIT DI TINGKAT NASIONAL
2.2.1.1 RTRWN Rencana tata ruang wilayah merupakan bentuk rencana untuk mewujudkan keseimbangan pengembangan antar wilayah, mensinegikan kepentingan lintas sektor, dan lintas wilayah administrasi, antara pusat-daerah dalam bentuk struktur dan pola pemanfaatan ruang wilayah dengan tetap menjaga kelestarian lingkungan. Sistem nasional mencakup 4 (empat) komponen meliputi : Pengembangan kawasan prioritas yang meliputi kawasan andalan, kawasan tertentu (kawasan perbatasan), kawasan tertinggal, kawasan andalan laut, dan pulau-pulau kecil; Pengembangan pusat-pusat permukiman (kota); Pengembangan jaringan prasarana (jalan, kereta api, penyebrangan, transportasi laut dan udara, energi dan telekomunikasi) antar kawasan dan antar pusat permukiman (kota); Pengembangan pengelolaan sumber daya air dan prioritas satuan wilayah sungai (bencana alam, sistem ketahanan pangan nasional). Pengembangan wilayah dilakukan selaras dan saling menguatkan dengan

pembangunan daerah, mengingat pembangunan daerah merupakan bagian integral dari pembangunan nasional yang terpadu dengan pembangunan sektoral dalam rangka mengupayakan pemerataan pembangunan antar daerah. Arahan kebijakan pembangunan daerah PJP II adalah sebagai berikut: Memacu pemerataan pembangunan di seluruh wilayah tanah air, daerah dan kawasan yang kurang berkembang (seperti Kawasan Timur Indonesia, daerah terpencil dan daerah perbatasan) dan hasil-hasil dalam rangka meningkatkan kesejahteraan rakyat. Meningkatkan prakarsa dan peran serta aktif masyarakat

LAPORAN AKHIR

II- 11

BRR NAD - Nias

Meningkatkan pendayagunaan potensial daerah secara optimal dan terpadu dalam mengisi otonomi daerah.

Rencana tata ruang wilayah nasional merupakan strategi dan arahan kebijaksanaan pemanfaatan ruang wilayah Negara meliputi: 1. Tujuan nasional dari pemanfaatan ruang untuk peningkatan kesejahteraan masyarakat 2. Struktur dan pola pemanfaatan ruang wilayah nasional 3. Kriteria dan pola pemanfaatan ruang lindung, kawasan budidaya dan kawasan tertentu Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional (RTRWN) merupakan acuan bagi penataan ruang daerah tingkat bawahnya dan menjadi pedoman bagi pemerintah pusat, pemerintah daerah serta masyarakat untuk mengarahkan lokasi dan memanfaatkan ruang, sekaligus menjadi acuan pembangunan jangka panjang dalam kurun waktu 25 tahun, dimana untuk Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam telah ditetapkan beberapa pusat pertumbuhan wilayah meliputi 3 (tiga) kawasan andalan dengan sektor unggulan sebagai sektor penggerak pertumbuhan ekonomi wilayah masingmasing kawasan andalan. Kawasan andalan ini didukung oleh sumberdaya alam yang tersedia dan keberadaan sisitem transportasi baik darat, laut dan udara pada masing-masing kawasan tersebut. Selain itu ditetapkan pula prioritas pengembangan kawasan andalan di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam. Program pembangunan kawasan andalan di Provinsi Nanggoe Aceh Darussalam terdapat pada jalan pantai timur dimulai dari perbatasan Aceh-Sumatera Utara melalui Lholseumawe sampai Banda Aceh. Kemudian jalur pantai barat mulai dari perbatasan Aceh-Sumatera Utara melalui Tapaktuan-Meulaboh sampai Banda Aceh dan jalur jalan tengah provinsi mulai dari perkotaan Aceh-Sumatera Utara melalui Kutacane-Takengon sampai Banda Aceh. Disamping itu pelabuhan laut utama yang dapat mendukung dan berperan sebagai pengembangan kawasan andalan adalah Pelabuhan Malahayati di Kabupaten Aceh Besar, Pelabuhan Krueng Geukeuh di Lhokseumawe dan Pelabuhan Meulaboh di Kawasan pantai barat. Secara keseluruhan arahan RTRWN untuk Pulau Sumatera, sebagai wilayah makro yang terkait dengan studi ini, mencakup pengembangan kawasan andalan darat, sektor
LAPORAN AKHIR

II- 12

BRR NAD - Nias


unggulan, kawasan andalan laut, sistem kota, dan outlet pendukung, disajikan pada Tabel 2.4. Tabel 2.4 Kawasan Andalan, Sektor Unggulan, Sistem Kota dan Outlet Pendukung di Pulau Sumatera (Arahan RTRWN)
NO 1 PROVINSI / KAWASAN ANDALAN SEKTOR UNGGULAN KAWASAN ANDALAN LAUT YANG TERKAIT KOTA DALAM KAWASAN PKN NANGROE ACEH. DARUSSALAM Kw.Banda Aceh dsk pertanian pariwisata Industri Kw.Lhokseumawe dsk industri pertanian pertambangan perikanan perkebunan Kw.Pantai Barat pertanian Selatan perikanan pertambangan perkebunan SUMATERA UTARA Kw. Perkotaan Industri Metropolitan Mebidang perkebunan perdagangan pariwisata peternakan pertanian Kw.Pematang Siantar perkebunan dsk pertanian Industri pariwisata Kw.Rantau Prapat - perkebunan Kisaran kehutanan pertanian perikanan Industri Kw. Tapanuli dsk perkebunan pertambangan pertambangan pertanian industri pariwisata perkebunan Sektor unggulan: - Perikanan - Pertambangan - Perdagangan PKW Sabang Kw. Andalan Laut. Lhokseumawe Sektor unggulan: - Perikanan - Pertambangan Kw. Andalan Laut. Lhokseumawe Lhokseumawe Langsa Sektor unggulan: - Perikanan - Pertambangan Sabang, Banda Aceh Kr. Aceh S.Iskandar MudaLhok-Seumawe Banda Aceh WS YANG MELAYANI PELABUHAN BANDAR UDARA

Blang Lancang Langsa Banda Aceh Kr. Pase Sigli Woyla-Lambesi Lampulo

Takengon Meulaboh Kr. Seunagan Kr. Tripa Kr. Kluet

Kw. Andalan Laut. Lhokseumawe PERKOTAAN Tebingtinggi Belawan MEDAN Belumai Kota inti: Medan Kota Satelit: Sidikalang - Lubuk Pakam - Binjai - Kota Lainnya P. Siantar

Belawan Labuhan Bilik

Medan / Polonia

Tanjung Balai Kuala Tanjung Sibolga P. Tello Bahbolon

Balige Kw. Andalan Laut. Selat Malaka dsk Sektor Unggulan: - Perikanan - Pertambangan Rantau Prapat S. Bilah

Kisaran

Kw. Andalan Laut. Nias dsk Sektor Unggulan: - Perikanan -Pertambangan - Pariwisata Kw. Andalan Laut. Nias dsk Sektor Unggulan: - Perikanan -Pertambangan - Pariwisata

Sibolga P.Sidempuan

Kw. Nias dsk

Gunung Sitoli Natal

LAPORAN AKHIR

II- 13

BRR NAD - Nias

NO 3

PROVINSI / KAWASAN ANDALAN

SEKTOR UNGGULAN

KAWASAN ANDALAN LAUT YANG TERKAIT

KOTA DALAM KAWASAN PKN PKW Pariaman

WS YANG MELAYANI

PELABUHAN

BANDAR UDARA

SUMATRA BARAT Kw.Padang Pariaman industri dsk perikanan pertanian pariwisata Kw.Agam-Bukit Tinggi perkebunan (PLTA Kuto Panjang) pariwisata pertanian Kw. Mentawai dsk pertanian perikanan

Kw. Solok dsk (Danau pertambangan Kembar Diatas/DibawahPIP Danau Sngkarak- pertanian Lubuk Alung- Ketaping) perkebunan pariwisata Industri RIAU Kw.Pekanbaru dsk industri perkebunan pertanian pertambangan

Kw. Andalan Laut. Siberut dsk Sektor unggulan: -Perikanan -Pariwisata Kw. Andalan Laut. Siberut dsk Sektor unggulan: -Perikanan -Pariwisata Kw. Andalan Laut. Siberut dsk Sektor unggulan: -Perikanan -Pariwisata Kw. Andalan Laut. Siberut dsk Sektor unggulan: -Perikanan -Pariwisata

Mentawai-

Padang

B. Anai B. Bingir B. Kuranji

Teluk Bayur Pantai Sikokop Bungus

Tabing/ Padang

Mentawai-

Bukittinggi

Kampar

Mentawai-

Muarasiberut

Mentawai-

Sawahlunto

Indragiri

Kw. Andalan Laut. Selat Malaka dsk Sektor Unggulan: - Perikanan - Pertambangan

Pekanbaru

Bangkinang

S. Siak

Pekan Baru Dumai Kuala Enok Tembilahan Pasir Panjang Perawang Pulau Sambu Selat Panjang Batu Ampar Bengkalis Tarempa

S. Syarif Qasim Simpang Tiga Pinang Kampai Sei Selari Japura Tempuling P.Asir Pangarayan

Siak Sri S. Kampar Indrapura

Kw.Duri-Dumai dsk

industri perkebunan perikanan

Kw. Andalan Laut. Batam dsk Sektor Unggulan: - Perikanan - Pertambangan - Pariwisata Kw. Andalan Laut. Batam dsk Sektor Unggulan: - Perikanan - Pertambangan -Pariwisata

Dumai

Bengkalis Bagan Siapi-api

S. Rokon

perkebunan Kw.Rengat-Kuala Enok- Tl.Kuantan-Pkl. Kerinci pertanian industri kehutanan Kw. Ujung Batu-Bagan industri migas Batu perkebunan KEPULAUAN RIAU Kw. Zona Batam -Tj. pertanian Pinang dsk kelautan pariwisata industri Kw. Natuna dsk Pertambangan Perikanan

Tembilahan Rengat Taluk Kuantan Pangk. Kerinci Pasir Pangarayan

B. Kuantan S. Duku Sri Bintan

Batam

Kw. Andalan Laut Natuna dsk - Perikanan - Pertambangan - Pariwisata Jambi

Tanjung S. Duriangkang Pinang Tj. Balai Karimun Daik Lingga Dabo P. Singkep Terempa

Batam

Hang Nadim

Tj. Balai Karimun Kijang Tanjung Pinang Udang Natuna Pulau Kijang Sekupang T. Punggur Nongsa Pulau Buluh Jambi Muara Sabak

JAMBI Kw. Andalan Laut. Batam dsk Kw. Muara Bulian / perkebunan Timur Jambi dsk tanaman pangan Sektor Unggulan:

Kuala Tungkal Batanghari Pangabuan

Sultan Thaha

LAPORAN AKHIR

II- 14

BRR NAD - Nias

NO

PROVINSI / KAWASAN ANDALAN

SEKTOR UNGGULAN

KAWASAN ANDALAN LAUT YANG TERKAIT

KOTA DALAM KAWASAN PKN PKW Muara Bulian

WS YANG MELAYANI

PELABUHAN Kuala Tungkal Pangkal Balam

BANDAR UDARA

pertambangan - Perikanan industri - Pertambangan perikanan - Pariwisata pariwisata Kw. Muara Bungo dsk perkebunan tanaman pangan kehutanan SUMATERA SELATAN Kw. Muara Enim dsk pertanian pertambangan perkebunan Kw. Lubuk Linggau dsk pertanian perkebunan industri Kw. Palembang dsk pertanian; industri pertambangan perikanan kehutanan BENGKULU Kw.Bengkulu dsk pertanian industri perkebunan perikanan pariwisata pertanian perkebunan perikanan industri pariwisata

Muarabungo Sarolangon

Batanghari Batang Maringin

Muara Enim

S. Musi

Lahat Baturaja Prabumulih Lubuk Linggau S. Musi

Palembang Plaju Kertapati

- Sm.Badarud-Din Palembang

Kw. Andalan Laut. Bangka Sektor Unggulan: -Perikanan -Pariwisata

Palembang Sekayu Kayuagung

S. Musi

Kw. Andalan Laut. Bengkulu Sektor Unggulan: - Perikanan - Pariwisata

Bengkulu Muko-Muko

A. Hitam A. Bengkulu

Bengkulu-Pulau Fatmawati/ Baai Sungai Liat Bengkulu

Kw. Manna dsk

Manna

Air Manna

BANGKA BELITUNG Kw. Bangka pertanian perkebunan industri pariwisata pertanian perkebunan industri pariwisata

Kw. Andalan Laut. Bangka Sektor Unggulan: - Perikanan -Pariwisata Kw. Andalan Laut. Bangka Sektor Unggulan: - Perikanan - Pariwisata Kw. Andalan Laut. Krakatau dsk Bandar Lampung Sektor Unggulan: - Perikanan - Pertambangan - Pariwisata

Pangkal Pinang Muntok

S. Baturusa

Pangkal Balam Pangkal Pinang Sungai Liat /Bangka Tanjung Pandan

Kw. Belitung

Tanjung Pandan Manggar

10 LAMPUNG Kw. Bandar Lampung- perkebunan Metro pariwisata industri tanaman pangan perikanan Kw. M e s u j i dsk pertanian perkebunan agroindustri peternakan

Metro Kalianda Kota Agung

W. Kasibung

Panjang

Branti/ B. Lampung

W. Seputih Bakauheni W. Sekampung Kota Agung

Menggala

Kw. Kotabumi dsk Kw Liwa-Krui

pertanian perkebunan pertanian perkebunan

Kotabumi Liwa

W. Tulang Bawang W. Sindang W. Mesuji W. Kanan W. Kiri W. Komring Semangko Way Rarem

LAPORAN AKHIR

II- 15

BRR NAD - Nias

2.2.1.2

RTR PULAU SUMATERA

A. Arahan Penataan Ruang Wilayah Pulau Sumatera Pengembangan wilayah di pulau Sumatera juga lebih difokuskan pada

pengembangan titik-titik simpul/pusat kegiatan dalam konteks pengembangan wilayah secara makro, serta arahan penataan ruang pulau Sumatera, seperti disajikan pada gambar 2.1 dan 2.2. B. Strategi Pengembangan Sistem Transportasi Dukungan transportasi dalam perwujudan rencana pengembangan ruang wilayah Sumatera dirumuskan ke dalam strategi spasial pengembangan sistem jaringan transportasi sebagai berikut : 1. Pengembangan transportasi untuk mendukung pengembangan sentra produksi pangan, sentra produksi perkebunan, serta sentra produksi sumberdaya alam lainnya yang dikaitkan dengan simpul-simpul/pusat-pusat pengembangannya: a. Pengembangan Pelabuhan Belawan, Lhokseumawe, Tanjung Balai Karimun, Dumai, Natuna, Kualatungkal, Panjang pada Sub Wilayah Dataran Rendah Pantai Timur, dan lintas penyeberangan DumaiBatam, BatamNatuna, Nias Sibolga, SiberutPadang dan Enggano Bengkulu di Sub Wilayah Pulau-Pulau Kecil, untuk mendukung sentra-sentra produksi dalam 11 kawasan andalan laut yang dikaitkan dengan 17 kota pantai sebagai pusat-pusat pengembangan processing (di Sub Wilayah Dataran Rendah Pantai Timur) dan agro-industri (di Sub Wilayah Pesisir Pantai Barat). b. Pengembangan jaringan jalan Lintas Timur di Sub Wilayah Dataran Rendah Pantai Timur, Lintas Tengah di Sub Wilayah Pegunungan Bukit Barisan, Lintas Barat di Sub Wilayah Pesisir Pantai Barat, dan feeder-road, serta jaringan kereta api Lintas Barat, Lintas Timur serta Lintas Tengah dan feeder di Sumatera bagian selatan, untuk mendukung sentra produksi dalam 31 kawasan andalan di darat yang dikaitkan dengan 50 simpul-simpul/kota-kota pengembangannya.

LAPORAN AKHIR

II- 16

BRR NAD - Nias

Gambar 2.1 Pola Pemanfaatan Ruang 2023 (RTR P Sumatera)

LAPORAN AKHIR

II- 17

BRR NAD - Nias

Gambar 2.2 Peta Struktur Ruang 2023 (RTR P Sumatera)

LAPORAN AKHIR

II- 18

BRR NAD - Nias

2. Pengembangan transportasi untuk mendukung pengembangan keterkaitan antar pusat pengembangan kawasan andalan (darat dan laut): a. Pengembangan jalur Lintas Pantai Timur untuk mendukung pengembangan keterkaitan antar 10 PKN dan 14 PKW sebagai pusat-pusat pengembangan 12 kawasan andalan, dari Bandar Lampung Metro Kayu Agung Palembang Jamb Rengat Pekanbaru Dumai Rantau Prapat Medan Langsa Lhokseumawe Banda Aceh. b. Pengembangan jalur Lintas Pantai Barat untuk mendukung pengembangan keterkaitan antar 2 PKN dan 6 PKW sebagai pusat-pusat pengembangan 8 kawasan andalan, dari Bandar Lampung Liwa Bengkulu Painan Padang Sibolga Tapaktuan Meulaboh Banda Aceh. c. Pengembangan jalur Lintas Tengah untuk mendukung pengembangan keterkaitan antar 2 PKN dan 15 PKW sebagai pusat-pusat pengembangan 6 kawasan andalan, dari Bandar Lampung Metro Kotabumi Baturaja Lahat Lubuk Linggau Muara Bungo Sijunjung Solok Bukittinggi Padang Sidempuan Tarutung Sidikalang Kutacane Takengon Bireun. Jalan lintas Timur menghubungkan Bandar Lampung Metro Kayu Agung Palembang Jambi Rengat Pekanbaru Dumai Rantau Prapat Medan Langsa Lhokseumawe Banda Aceh. d. Pengembangan lintas penyeberangan: Dumai Batam untuk mendukung keterkaitan Dumai (pusat Kws. DuriDumai dsk.) dengan Batam (pusat Kws. Zona Batam-Tanjung Pinang dsk.) Batam Natuna untuk mendukung keterkaitan Batam (pusat Kws. Zona Batam-Tanjung Pinang dsk.) dengan Singkawang (pusat KL. Natuna dsk.) Nias Sibolga untuk mendukung keterkaitan Gunungsitoli (pusat Kws. Nias dsk.) dengan Sibolga (pusat KL. Nias dsk.) Siberut Padang untuk mendukung keterkaitan KL. Siberut dsk. dengan Kws. Padang Pariaman dsk. e. Pengembangan feeder-road Meulaboh Lhokseumawe, Tapaktuan

Lhokseumawe, Sibolga Belawan, Pematang Bandar Belawan, Sipirok


LAPORAN AKHIR

II- 19

BRR NAD - Nias


Belawan, Kaban Jahe Belawan, Tarutung Belawan, Padang Kubu Bukittinggi Dumai, Muaro Dumai, Kampar Dumai, Bengkulu Jambi Kuala Tungkal, Baturaja Kayu Agung Palembang, Sekayu Palembang, Lahat Prabumulih Palembang, Manna Palembang, dan Arga Makmur Palembang, untuk mendukung keterkaitan pengembangan wilayah di Pantai Barat Tengah Pantai Timur. f. Jaringan kereta api lintas utama: Bandar Lampung Muara Enim, Tebingtinggi Palembang, Jambi Muarabungo Muaro, Muarabungo Pekanbaru Dumai Lubukpakam Medan Lhokseumawe Banda Aceh, Padang Padang Panjang; dan lintas kedua: Bandar Lampung Kotabumi Palembang Muaratembesi, Jambi Rengat Pekanbaru, Kuala Enok Rengat Taluk, Tebingtinggi Curup Muarabungo, Bengkulu Curup, Bengkulu Padang Bukittinggi Padangsidempuan Sibolga Meulaboh Banda Aceh, Padangsidempuan Rantau Prapat, untuk mendukung keterkaitan antar pusat kegiatan/pusat pengembangan kawasan dan antara pusat kegiatan/pusat pengembangan kawasan dengan outlet (pelabuhan dan atau bandar udara) di Pantai Barat, Pantai Timur dan di Sumatera bagian Selatan. 3. Pengembangan antar pulau: a. Pengembangan jalur Lintas Pantai Barat yang merupakan bagian Trans Asia Highway, untuk mendukung keterkaitan dan kerjasama ekonomi dengan negara tetangga. b. Pemantapan penyeberangan dari Bakauheni ke Jawa (melalui Merak, Propinsi Banten). c. Pengembangan pelabuhan dan peningkatan keterkaitan dan orientasinya ke pasar global dengan memanfaatkan jalur ALKI1. Pelabuhan yang akan dikembangkan dapat dilihat pada Tabel 2.5. transportasi antar pulau dan ekspor untuk mendukung

pengembangan komoditi unggulan yang berorientasi ekspor dan perdagangan

LAPORAN AKHIR

II- 20

BRR NAD - Nias

Tabel 2.5 - Pengembangan Pelabuhan di Pulau Sumatera


Provinsi NAD Hubungan Internasional Internasional Lhokseumawe, Sabang, Malahayati, Kuala Langsa, Susoh Sibolga, Tg. Balai Asahan, Kuala Tanjung Pelabuhan Laut Nasional Calang, Idi, Kuala Beukah, Sinabang, Tapak Tuan

Sumut

Belawan *

Riau

Batu Ampar, Kabil, Nongsa, Sekupang, Pekanbaru, Tg. Pinang, Bagan Siapiapi, Tg. Balai Karimun, Tembilahan, Dabo Singkep, Siak Sri Indrapura

Sumbar Jambi Bengkulu BangkaBelitung Sumsel Lampung Muara Sabak/Jambi Pulau Baai Pangkal Balam Boom Baru/ Palembang Panjang

Barus, Kurau/Selatialang, Lahewa, Leidong, Pangkalan Dodek, Pangkalan Susu, Pantai Cermin, Pulau Kampai, Pulau Telo, Sei Berombang, Sikarakara, Sirombu, Tg. Beringin, Tg. Pura, Tg. Tiram, Teluk Dalam, Tg. Sarang Elang Anoa Natuna, Batu Panjang, Bengkalis, Kakap Natuna, Kuala Enok, Kuala Gaung, Lagoi, Matak, Moro, Pasir Panjang, Pulau Halang, Panipahan, Pulau Sambu, Ranai, Rengat, Sei Kolak Kijang, Sei Gunung, Selat Panjang,Senayang, Serasan,Sinaboi, Sungai Pakning, Tg. Batu, Tg. Medana, Tg. Uban, Tarempa Sikakap, Siuban, Muara Padang, Muara Siberut, Air Bangis Talang Duku, Kuala Mendahara, Kuala Tungkal, Nipah Panjang Linau/Bintuhan Binyu, Manggar, Muntok, Tg. Pandan, Toboali

Kota Agung, Teluk Betung, Labuan Maringgai, Bakauheni * = Selain memenuhi kriteria volume barang, perlu memenuhi syarat teknis terutama kedalaman minimal

LAPORAN AKHIR

II- 21

BRR NAD - Nias

Tabel 2.6 Pengembangan Bandar Udara di Pulau Sumatera


Provinsi NAD Pusat Penyebaran Bukan Pusat Penyebaran Banda Aceh (Sultan Iskandar Muda), Meulaboh (Cut Nyak Dien), Sinabang (Lasekon), Tapak Tuan (Teuku Cut Ali), Sabang (Maimun Saleh) Medan (Polonia) Gunung Sitoli (Biruna), Parapat (Sidira), Sibolga (Pinangaon), Padang Sidempuan (Aek Godang), Siborong-borong (Silangit), Kepulauan Nias (Pulaupulau Batu) Sipora (Rokot) Tg. Pinang (Kijang), Rengat (Japura), Pasir Pangairan (Pasir Pangairan), Tg Balai Karimun (Serbati), Singkep (Dabo)

Sumatera Utara

Sumatera Barat Riau

Padang (Tabing) Pekanbaru (Sultan Syarif Kasim II), Batam (Hang Nadim)

BangkaBelitung Jambi Bengkulu Sumatera Selatan Lampung Palembang (S.M Badaruddin II)

Pangkal Pinang (Depati Amir), Tg. Pandan (Hj.AS. Hanadjoeddin/Buluh Tumbang) Jambi (Sultan Thaha), Kerinci (Depati Parbo) Bengkulu (Fatmawati Soekarno/Padang Kemiling), Muko-muko (Muko-muko) Lubuk Linggau (Lubuk Linggau)

Lampung (Raden Inten II/Branti)

2.2.1.3 KERJASAMA EKONOMI REGIONAL (IMT-GT) A. Kebijakan Kerjasama Ekonomi Regional Indonesia-Malaysia-Thailand Growth Triangle (IMT-GT) Guna meningkatkan pertumbuhan ekonomi di suatu negara, maka beberapa negara/kawasan seperti halnya Indonesia telah menetapkan konsep Outward Looking dalam perencanaan pembangunan. Hal ini timbul dari kesadaran bahwa tidak ada satupun negeri akan mencapai tingkat pertumbuhan yang diharapkan tanpa mempertimbangkan kerjasama regional negara lain.

LAPORAN AKHIR

II- 22

BRR NAD - Nias


Kesadaran terhadap pentingnya kerjasama regional antar kawasan/negara telah melahirkan berbagai bentuk kerjasama baik bilateral, multilateral, regional maupun internasional. Pada beberapa tahun ke belakang sejak makin gencarnya liberalisasi perdagangan, trend kegiatan pembangunan di beberapa kawasan negara Asia diwarnai dengan pembentukan kawasan kerjasama ekonomi regional seperti Kawasan Perdagangan Bebas (Free Trade Area), segitiga pertumbuhan (Growth Triangle), atau Export Processing Zone (EPZ).Segitiga pertumbuhan (Growth Triangle) merupakan kesempatan diantara negara bertetangga untuk mengembangkan kerjasama saling menguntungkan dalam bidang investasi yang merupakan sumber pengelompokan regional. Dengan banyaknya negara-negara terikat pada pengelompokkan dan konsentrasi ekonomi secara sub-regional, maka kerjasama sub-regional menjadi sangat penting untuk memanfaatkan peluang ekonomi internasional dan memudahkan mencapai keberhasilan dalam persaingan yang tajam. Dalam konsteks regional Indonesia, meliputi berbagai zona yang berbeda dengan karakteristik yang sangat bervariasi sebagai contoh di bagian Utara Indonesia ada kerjasama bilateral IMT-GT (Indonesia-Malaysia-Thailang Growt Triangle), ke bagian Selatan terdapat kerjasama regional SIJORI (Singapura-Johor-Riau). Di Kawasan Indonesia Bagian Timur dibentuk kerjasama bilateral BIMP-EAGA (Brunei Darussalam-Indonesia-Malaysia-Philippines East ASEAN Growth Area). Secara garis besar tujuan kerjasama bilateral ini adalah untuk mengaktifkan simpul-simpul pertumbuhan di masing-masing kawasan/negara, agar dapat mendorong pertumbuhan di negara-negara tersebut. Kerja sama IMT-GT dilakukan untuk mengusahakan komplementaritas sumber daya yang dimiliki ketiga sub-wilayah ini. Masing-masing sisi atau sudut mempunyai keunggulannya sendiri. Untuk Sumatera bagian utara, Medan dengan fasilitas yang sudah dimilikinya dapat menjadi andalan bagi pengembangan pusat pertumbuhan ekonomi sub-wilayah ini. Transportasi udara dan lautnya sudah melintasi batas negara menuju ke negaranegara lain. Medan sudah perlu didukung kawasan sekitarnya untuk mengembangkan dirinya lebih lanjut.

LAPORAN AKHIR

II- 23

BRR NAD - Nias


Kedekatan geografi, budaya dan sejarah diharapkan dapat mendukung kegiatan ekonomi lintas batas dalam jangkauan dan skala yang lebih besar. Peresmian hubungan Medan dan Penang menjadi kota kembar di tahun 1984 menjurus ke arah kegiatan IMTGT sejak tahun 1991. Peresmian IMT-GT baru dilakukan dalam pertemuan menteri di Langkawi pada bulan Juli 1993.Kerjasama IMT-GT melibatkan empat negara bagian Semenanjung Malaysia Utara, lima Provinsi Thailand Selatan dan semula dua Provinsi di Indonesia Bagian Barat kemudian menjadi lima semenjak tahun 2001. Manfaat yang hendak dipetik Indonesia dari kerjasama dalam rangka IMT-GT ialah mempercepat pertumbuhan ekonomi melalui berbagai pengurangan dan penghapusan bermacam ragam rintangan (trade and non-trade barrier), membuka peluang bagi pemanfaatan sumber daya alam dan manusia dengan memanfaatkan keunggulan Malaysia dan Thailand; dan meningkatkan saling pengertian dan hubungan yang serasi diantara masyarakat di perbatasan tiga negara sehingga dapat menjamin kelanjutan stabilitas dan keamanan di sub-wilayah ini. Bagi Malaysia, berkurangnya tenaga kerja dan lahan di sektor perkebunan kelapa sawit memerlukan relokasi atau perluasan kegiatan ekonomi ke sub-wilayah di seberangnya. Lima Provinsi di Sumatera ini merupakan daerah yang dekat dan yang memungkinkan relokasi atau perluasan itu. Dengan relokasi ini Malaysia Utara dapat mengkhususkan diri pada pengembangan industri manufaktur dan pelayanan jasa untuk mendukung pengembangan sub-wilayah ini. Hal ini juga dilakukan untuk memperluas daerah dukung industri elektronika. Adanya kerjasama kawasan tersebut, maka Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam diharapkan menjadi salah satu gerbang kerjasama tersebut. Untuk itu beberapa kebijakan telah ditempuh sebagai berikut : 1. Menetapkan Lhokseumawe sebagai pintu gerbang pengembangan perindustrian. 2. Menetapkan Aceh Barat sebagai pintu gerbang pengembangan pertanian. 3. Menetapkan Banda Aceh sebagai basis perindustrian dan perdagangan 4. Menetapkan Sabang sebagai pusat kepariwisataan.

LAPORAN AKHIR

II- 24

BRR NAD - Nias

Gambar 2.3 IMT-GT

LAPORAN AKHIR

II- 25

BRR NAD - Nias

2.2.1.4

SISTEM TRANSPORTASI NASIONAL (SISTRANAS)

A. Transportasi Darat Jaringan transportasi darat antar kota ingin diwujudkan dalam jangka panjang pada skala nasional, ditampilkan dalam koridor-koridor sebagai berikut : Lintas Utara. Lintas Tengah; Lintas Selatan; Lintas Utara - Selatan;

A.1 Transportasi Jalan Arah pengembangan jaringan transportasi jalan primer dalam peranannya sebagai unsur penunjang diarahkan untuk ditingkatkan kemampuan dan daya dukungnya sesuai dengan beban lalu lintas terutama yang melayani dan menghubungkan pusat kegiatan nasional, pusat kegiatan wilayah serta kawasan-kawasan andalan yang cepat berkembang. Pembangunan jalan tol bebas hambatan yang mendukung sistem transportasi cepat, dikembangkan bersama-sama antara pemerintah dan swasta dengan tetap memperhatikan alternatif yang memadai terpadu dengan moda transportasi darat lainnya sesuai dengan besaran kota, fungsi kota, dan hirarki fungsional kota dengan mempertimbangkan karakteristik dan keunggulan karakterisitk moda, perkembangan teknologi, pemakaian energi, lingkungan dan tata ruang. Untuk tarif angkutan sepenuhnya diserahkan kepada mekanisme pasar. A.2 Transportasi Jalan Rel Pembangunan jaringan transportasi jalan rel di Pulau Sumatera diarahkan untuk angkutan barang masal jarak jauh. Untuk itu diperlukan kesatuan jaringan transportasi jalan rel di Prov. Sumatera Utara, Prov. Sumatera Barat, Prov. Sumatera Selatan, Prov. Lampung kemudian dihubungkan dengan penyeberangan kereta api agar menyatu dengan sistem jaringan jalan rel di P. Jawa. Untuk pulau besar lainnya seperti di. Jawa, Kalimantan, dan P. Sulawesi diarahkan untuk perkeretaapian khusus sebagai bagian. yang tidak terpisahkan dari pembangunan. sektornya masing-masing. II- 26

LAPORAN AKHIR

BRR NAD - Nias

Disadari bahwa untuk mewujudkan sistem jaringan. jalan rel sebagaimana diuraikan di muka membutuhkan dana yang sangat besar. Untuk itu, investasi pembangunan, perkeretaapian diarahkan dengan mengikutsertakan swasta, baik swasta nasional maupun swasta asing. Beberapa skema yang termasuk dalam usulan Rencana Induk Perkeretaapian Sumatra akan mempersiapkan satu jaringan jalan kereta api yang rinci di Pulau Sumatra, serta melayani seluruh provinsi dengan menyediakan barang yang penting. Faktor-faktor yang mempengaruhi : Strategi Lokasi : Strategis Strategi Lokasi : Komersial Intergrasi antar moda angkutan (Effisiensi) Pendanaan yang dapat membiayai Keamanan dan Integritas Nas Pengembangan Wilayah Dampak Lingkungan Kemampuan untuk dapat beroperasi

Pengembalian finansial yang relatif rendah sulit untuk menarik partisipasi sektor swasta biaya. B. Transportasi Perkotaan Pengembangan transportasi di wilayahperkotaan diarahkan untuk transportasi masal serta keterpaduan antar jaringan transportasi jalan dengan transportasi jalan rel atau transportasi sungai dan danau sesuai dengan karakterisfik geografis wilayah dan pengembangan kota. Kemudian untuk jaringan pelayanan angkutan dengan kendaraan umum diarahkan sesuai dengan karakteristik kota. C. Transportasi Laut Rencana pengembangan Pelabuhan utama dan pelabuhan pengumpan sampai tahun 2018 yang direncanakan adalah:
LAPORAN AKHIR

dalam

pembangunan

prasarana.

Sementara

pengembalian

ekonomi

kemungkinannya hanya dalam jumlah yang sangat kecil, dikarenakan tingginya total

II- 27

BRR NAD - Nias

TABEL 2.7 - Pelabuhan Utama Primer


Sekunder
Belawan Panjang Tanjung Emas Tanjung Perak Bitung Ujung Pandang

Tersier
Lhokseumawe Dumai Teluk Bayur Palembang Benoa Pontianak Balikpapan Samarinda Ambon Sorong Pekanbaru Tanjung Pinang Banjarmasin Jayapura Gresik Cirebon Sampit Kendari Anggek Kuala Enok Karianau Nunukan Kumai

Batam Tanjung Priok Biak

Tabel 2.8 - Pelabuhan Pengumpan


Pelabuhan Pengumpan Regional Kruing Raya Kuala Langsa Sibolga Kuala Tanjung Jambi Bengkulu Pangkal Batam Tegal Meneng Lembar Maumere Tarakan Pantoloan Ternate Dili Fakfak Merauke Manokwari Luwuk Pare-pare Ende Bima Gunung Sitoli Tanjung Balai Bengkalis Air Bangis Kuala Tungkal Taboali Juwawa Pasuruan Badas Kalabahi Sintete Gorontalo Bau-bau Tual Dobo Banyu Pangkal Pinang Tanjung Pandan Muara Sabak Wahai Sarmi Serui Amahai Larat

Lokal Mangole Leuiwi Labuha Bobong Sedanau Selat Lampah Ranai Daro Singkep Letung Tarempa Enggano Pulau Tello Siberut Siuban Sikakap Bintuhan Seumeume Pangkal Bun Ketapang Kedawang Toli-toli Poso Ampenan Banggai

LAPORAN AKHIR

II- 28

BRR NAD - Nias

Bagian yang terbesar dari pendanaan rencana pengembangan pelabuhan harus datang dari sumber Pemerintah, dalam bentuk dana hibah atau sejenisnya. Mengacu kepada Undang-Undsang No. 22 dan 25, kemungkinannya beberapa Daerah diharapkan dapat menyediakan sebagian besar dana untuk biaya tersebut, dan kontribusi dari Pemerintah Pusat hanya terbatas 2.2.1.5 PENGEMBANGAN KAPET SABANG Dalam GBHN telah diamanatkan bahwa untuk menciptakan suatu pola pembangunan yang berwawasan nusantara perlu diciptakan suatu keseimbangan pembangunan antara wilayah seperti yang telah dilakukan melalui pendekatan pembangunan dengan menciptakan pusat-pusat pertumbuhan (Growth Center) yaitu mengembangkan kerjasama ekonomi regional IMT-GT. Bentuk kerjasama yang terjalin melalui IMT- GT telah mendudukan Sabang sebagai pointer di Wilayah bagian barat Sumatera yang di harapkan mampu menumbuhkan kawasan lainnya. Dalam upaya memacu dan meningkatkan pembangunan di Provinsi Nanggoe Aceh Darussalam dan mendukung kerjasama ekonomi bilateral tersebut,maka telah di tetapkan beberapa kawasan pengembangan ekonomi trerpadu yang salah satunya adalah KAPET Sabang yang berpusat di Kota Sabang. Penentuan suatu kawasan andalan menjadi KAPET telah diatur dalam surat Keputusan Presiden No.89 tahun 1996 yang kemudian diubah dengan surat keputusan Presiden No. 9 tahun 1998.Dalam perkembangan dua tahun kemudian mengingat potensi dan peran Pelabuhan Sabang yang cukup signifikan dijadikan sebagai pusat aktivitas dan pusat percepatan dan pertumbuhan wilayah Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam, maka pada tahun 2000 direposisi KAPET Sabang menjadi Kawasan Perdagangan Bebas dan Kawasan Pelabuhan Bebas tentang pengembangan Pulau Sabang menjadi daerah perdagangan bebas melalui intruksi Presiden No 2 tahun 2000 tentang pengembangan Pulau Sabang menjadi Daerah Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas serta Undang-undang No 37 tahun 2000 tentang Penetapan Peraturan Pemerintah pengganti Undang-Undang No.2 Tahun 2000 tentang Kawasan Perdagangan dan Pelabuhan Bebas Sabang menjadi UndangUndang. Kawasan Pengembangan Ekonomi Terpadu (KAPET) sabang telah II- 29

LAPORAN AKHIR

BRR NAD - Nias


ditetapkan dengan Keputusan Presiden Republik Indonesia No.171 tahun 1998 yang menetapkan Kota Sabang di Wilayah Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam sebagai Pusat Kawasan Pengembangan Ekonomi Terpadu (KAPET). Kapet Sabang meliputi seluruh Kota Sabang dan sebagian wilayah Kabupaten Aceh Besar, terdiri dari dari beberapa pulau diantaranya: Kota Sabang dengan luas 119 Km terdiri dari Pulau Weh,Pulau Rubiah, Pulau Klah, Pulau Seulako dan Pulau Nasi dan Pulau Teunom. Berdasarkan Surat Gubernur Provinsi Nanggoe Aceh Darussalam No.193/30591 tanggal 2 September 2001 KAPET Sabang diubah menjadi KAPPET Bandar Aceh Darussalam dengan luas 55.390 Km. Cakupan wilayah KAPET Bandar Aceh Darussalam meliputi Aceh Besar, Piddie, Bireuen, Aceh Utara dan Aceh Timur dengan Hiterland wilayah tengah dan barat/selatan Aceh yang telah dihubungkan dengan berfungsinya jaringan jalan dari pantai barat/selatan melalui wilayah tengah ke pantai timur Aceh. Lingkup wilayah KAPET Bandar Aceh Darussalam adalah: 1. Kota Banda Aceh, meliputi seluruh kecamatan dalam Kota Banda Aceh 2. Kabupaten Aceh Besar, Meliputi: a. Kecamatan Lhokngan/leupang b. Kecamatan Darussalam c. Kecamatan Kuta Baro d. Kecamatan Peukan Bada e. Kecamatan Seulimeum f. Kecamatan Mesjid Raya 3. Kabupaten Pidie, meliputi: a. Kecamatan Batee b. Kecamatan Padang Tiji c. Kecamatan Muara Tiga d. Kecamatan Kota Sigli Pelaksanaan pembangunan dan Pengelolaan KAPET Sabang dilakukan oleh Badan Pengelola KAPET Sabang yang terdiri dari unsur Pemerinath Pusat.Pemerintah
LAPORAN AKHIR

II- 30

BRR NAD - Nias


Provinsi dan pemerinath Kab/kota. Badan ini bertugas mengendalikan dan mengawasi kegiatan pembangunan di wilayah KAPET Sabang berdasarkan rencana induk pengembangan yang ditetapkan oleh tim pengarah sesuai dengan Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional dan Rencana Tata Ruang Wilayah Provinsi. 2.2.1.6 RENCANA INDUK REHABILITASI DAN REKONSTRUKSI NAD-NIAS A. Kebijaksanaan Pemanfaatan Struktur dan Pola Tata Ruang Provinsi NAD Secara prinsip, kebijaksanaan pemanfaatan struktur dan pola tata ruang dimaksudkan untuk restorasi dan rehabilitasi pemanfaatan struktur dan pola tata ruang provinsi NAD. Karena itu, kebijaksanaan penataan ruang paska-gempa dan paska-tsunami provinsi NAD dalam pemanfaatan struktur dan pola tata ruang meliputi: 1. Pusat Permukiman/Kota-kota di Pantai Barat akan dipertahankan untuk menjaga keseimbangan pertumbuhan anatara wilayah Timur-Barat dan wilayah Tengah dan ditunjang oleh pusat-pusat pertumbuhan skala lebih kecil yaitu Sigli, Bireuen, Singkil, Tapak Tuan, Blangpidie, Calang di kawasan pantai, dan wilayah pengaruhnya Blangkejeren dan Jantho. 2. Kota-kota Perairan (Waterside Cities) akan dikembangkan dengan

mempertimbangkan aspek local terutama yang berkaitan dengan perlindungan risiko gempa dan tsunami dan dengan konservasi dan zona pengaman (buffer zones) yang difungsikan sebagai fasilitas proteksi. 3. Jaringan jalan akan direhabilitasi untuk menjaga interkoneksi antar-kota-kota di Pantai Barat dan Pantai Timur, atau antar kedua wilayah, dan memacu pengembangan dan pemerataan wilayah-wilayah: Meulaboh-Calang-LamnoBanda Aceh Jantho-Sigli-Bireun ke Lhokseumawe. Aceh Jaya, yang lainnya Lhok Jalan baru direncanakan dibangun menghubungkan kawasan-kawasan terisolir Aceh Barat/Meulaboh dan Kruet-Calang-Teunom-Woyla-Meulaboh memanfaatkan jalan perkebunan sawit dan meningkatkan jalan perdesaaan , membuka kembali raus jalan Jantho-Lamno; jalan Beureunun- Geumpang-Tutut Meulaboh, Ladia Galaska Simpang Peut-Jeuram-Beutong Ateuh-Takengon, jalan lintas barat Meulaboh-Tapaktuan-Bakongan;
LAPORAN AKHIR

Jantho-Lamno; Calang-TangseII- 31

BRR NAD - Nias


Beureunun; Teunom-Sarah Raya-Geumpang;Teunom-Sarah Raya-Woyla; and Calang-Geumpang. 4. Fasilitas penyeberangan ke pulau-pulau kecil (antara lain pulau-pulau

Weh,Sabanng dan Simeuleu) akan dioperasikan untuk mobilisasi penduduk dan pengembangan ekonomi wilayah. 5. Bandar Udara akan diperbaiki dan dioperasikan: Bandara-bandara Sultan Iskandar Muda, Cut Nyak Dien, Teuku Cut Ali. 6. Pelabuhan laut akan diperbaiki dan dioperasikan: Sabang, Malahayati, Calang, Meulaboh, Kuala Langsa, Singkil, dan Lhokseumawe. Akan diputuskan lokasi pengganti terminal ferry Uleu-lhee setelah studi kelayakan teknisnya diselesaikan. 7. Rehabilitasi interkoneksi sistem jaringan kelistrikan Banda Aceh-Sigli-BireunLhokseumawe dan Meulaboh-Calang-Takengon. 8. Perbaikan kawasan Industri, kawasan perdagangan, kawasan tanaman pangan dan perkebunan, serta kawasan pantai di Malahayati; 9. Rehabilitasi jaringan penyediaan sumber air (antara lain saluran irigasi, DAS,dan pantai) untuk memenuhi ketersediaan air baku dan air bersih. 10. Rehabilitasi dan rekonstruksi kawasan konservasi (Tengah) antara lain kawasan ekosistem Leuser, hutan lindung dan kawasan konservasi (buffer zone dan hutan kota) sepanjang koridor pantai dengan menyiapkan zona pengaman pantai dalam bentuk vegetasi dan struktur bangunan proteksi pantai. 11. Diusahakan menghindarkan/menjauhkan lokasi permukiman dari kawasan konservasi seperti di kawasan mukim gajah yang tersebar di Pucok, Alue Raya, Blang Dalam & Lhok Kuala, Lamje, Kr. Batee Mirah, Kr. Alue Ceuroloup, Kr. Buerieng, Can. Kaking Ungoh Batee, batas Tutut, kawasan Uteun Cut, Panga, Panga-Teunom, dan Lageun. Lhoknga, Lhokseumawe, dan Lasikin, Maimun Saleh, Malikussaleh, dan

LAPORAN AKHIR

II- 32

BRR NAD - Nias


Gambar 2.4 - Arahan Rencana Tata Ruang Provinsi NAD

B. Kebijaksanaan Pemanfaatan dan Pola Tata Ruang Kabupaten/Kota B.1 Sistem Kota (City System) 1. Minimasi perubahan struktur, hirarki, kepadatan dan penggunaan lahan yang ada. 2. Meningkatkan jalan yang ada dan membangun jalan baru sebagai jalur penyelamtan (escape routes). 3. Rehabilitasi/rekonstruksi kawasan kota dampak tsunami. 4. Memperbaiki aksesibilitas kota-kota melalui laut dan udara untuk maksud evakuasi, distribusi logistic dan rehabilitasi kota/kawasan.

LAPORAN AKHIR

II- 33

BRR NAD - Nias


B.2 Struktur Tata Ruang Kota (City Spatial Structure) 1. Menjaga struktur tata ruang kota yang ada meliputi keseluruhan kawasan kota. 2. Rehabilitasi struktur tata ruang kota yang ada. 3. Mengembangkan kota-kota dan kawasan tahan bencana. 4. Memanfaatkan daerah aliran sungai sebagai suatu struktur kota. 5. Meningkatkan fungsi dan peran ruang (spaces) structural yang penting. B.3 Kawasan Non-Budidaya (Non-Cultivation Areas) 1. Kawasan konservasi (Conservation areas) a. Rehabilitasi dan reboisasi hutan kawasan konservasi dampak tsunami. b. Konservasi dan melindungi kawasan hutan terbatas, hutan kota dan hutan bakau dan memfungsikannya sebagai fasilitas proteksi dan pertahanan terhadap tsunami. c. mengembangkan dan memperluas jalur hijau yang berfungsi sebagai pertahanan terhadap bencana dan sebagai konservasi alam. d. Memanfaatkan jalur hijau dan bukit penyelamat (escape hills) untuk ruang terbuka hijau. 2. Kawasan Pantai (Coastal Areas) Memperbaiki/mengembalikan fungsi dan penggunaan lahan kawasan pantai dengan menggunakan prinsip mitigasi bencana. 3. Kawasan Sungai (River Areas) Menstrukturkan kawasan sungai dengan menggunakan prinsip mitigasi bencana. B.4 Kawasan Budidaya (Cultivation Areas) 1. Kawasan Permukiman (Settlement Areas) a. Rekonstruksi permukiman dan fasilitas perkotaan terkena bencana. b. Melengkapi permukiman yang ada dengan fasilitas mitigasi bencana. c. Membangun bangunan penyelamat/rumah susun di permukiman penduduk padat. d. Mengembangkan kawasan permukiman baru. 2. Kawasan Bersejarah (Historic Areas) Konservasi dan revitalisasi tapak-tapak warisan sejarah yang tersisa.
LAPORAN AKHIR

II- 34

BRR NAD - Nias


C. Arahan Pemanfaatan Ruang Kabupaten/Kota Arahan pemanfaatan ruang kabupaten/kota dimaksudkan untuk memberikan kepada pemerintah setempat beberapa alternative konsep pemanfaatan ruang sebagai rujukan dalam menyiapkan atau merevisi rencana struktur tata ruang dan menyiapkan rencana struktur tata ruang yang lebih rinci, seperti RDTR Kota, Rencana Tata Bangunan, dan Rencana Lingkungan. Arahan telah dirumuskan dengan mempertimbangkan 16 (enam belas) kebijaksanaan struktur tata ruang, yaitu: (1) menciptakan kehidupan yang aman dan lebih baik; (2) memberikan kebebasan pada masyarakat memilih bermukim; (3) melibatkan kelompok masyarakat dalam pengelolaan bencana; (4) memberi perhatian pada ciri budaya dan keagamaan; (5) pendekatan partisipasi terhadap penataan ruang; (6) mitigasi bencana; (7) perencanaan struktur tata ruang mengkombinasikan pendekatan dari-atas dan pendekatan dari-bawah (top-down dan bottom-up approaches); (8) mengembalikan peranan pemerintah setempat; (9) melindungi hak masyarakat sipil; (10) mempercepat proses administrasi tanah; (11) mengatur ganti rugi; (12) revitalisasi kegiatan ekonomi; (13) memperbaiki daya dukung lingkungan; (14) memperbaiki sumberdaya alam dan system kelembagaan lingkungan; (15) rehabilitasi struktur dan pola tata ruang; dan (16) membangun kembali kota-kota. D. Arahan Pemanfaatan Ruang Kabupaten Bireun Arahan pemanfaatan Ruang Kabupaten Bireuen ditetapkan dalam peta zonasi Kabupaten Bireuen. Secara lengkap arahan ini akan dijelaskan pada Bab 4 tentang analisis kesesuaian lahan di kawasan perencanaan. E. Arahan Zonasi Fisik Pedoman Pembangunan Bangunan Gedung (Building Code) Provinsi NAD & Nias, Departemen Pekerjaan Umum Lingkup pengaturan pedoman pembangunan bangunan rumah tinggal sederhana & bangunan gedung di wilayah Provinsi NAD dan Sumut meliputi Persyaratan Tata Bangunan dan Lingkungan, Persyaratan Keandalan, dan Tata Laksana penyelenggaraan bangunan rumah tinggal sederhana & bangunan gedung. Pembagian zonasi fisik pada masing-masing kabupaten/kota berbeda-beda sesuai dengan karakteristik lingkungan dan tingkat kerusakan akibat bencana tsunami. II- 35

LAPORAN AKHIR

BRR NAD - Nias


Arahan zonasi fisik dan Persyaratan Tata Bangunan dan Lingkungan (Peruntukan dan Intensitas Bangunan) dibagi menjadi 4 (empat) zonasi, yaitu (Tabel 3.6): Zona I: untuk pemukiman nelayan dan perkotaan yang sangat terbatas dengan arahan Kepadatan Bangunan Sangat Rendah; Zona II: untuk permukiman kota yang terbatas dengan arahan Kepadatan Bangunan Rendah; Zona III: untuk perumahan dan permukiman baru, permukiman lama, dengan arahan Kepadatan Bangunan Sedang; Zona IV: untuk perumahan dan permukiman baru, permukiman lama, dengan arahan Kepadatan Bangunan Tinggi. Arahan Zonasi Fisik Bangunan Gedung untuk Kabupaten Bireuen sesuai wilayahnya, hanya diarahkan dari Zona I sampai pada Zona III Tabel 2.9 - Arahan Zonasi Fisik Bangunan Gedung (Building Code)
Pembagian Zonasi ZONA I ZONA II ZONA III ZONA IV

Arahan Zonasi Fisik NAD & NIAS

Zonasi Fisik

Peruntukan Bangunan

Permukiman nelayan dan perkotaan yang sangat terbatas dengan arahan Kepadatan Bangunan Sangat Rendah Permukiman nelayan, permukiman perkotaan yang terbatas, (jumlah penduduk <31 orang/Ha), bangunan yang mendukung kegiatan wisata pantai, informasi, penelitian, perlindungan pantai, pelabuhan, dan industri perikanan

Permukiman kota yang terbatas dengan arahan Kepadatan Bangunan Rendah

Perumahan dan permukiman baru, permukiman lama, dengan arahan Kepadatan Bangunan Sedang Permukiman berkepadatan sedang, (jumlah penduduk 51 - 75 orang/Ha), bangunan pendukung kegiatan komersial, pendidikan, kesehatan, peribadatan, perdagangan, sosial dan pemerintahan, (pelayanan di tingkat kecamatan/subpu sat pelayanan kota)

Permukiman nelayan, petani, perkotaan berkepadatan rendah, (jumlah penduduk 31 - 50 orang/Ha), bangunan pendukung kegiatan komersial, kesehatan (gampong)

Perumahan dan permukiman baru, permukiman lama, dengan arahan Kepadatan Bangunan Tinggi Permukiman berkepadatan tinggi, (jumlah penduduk 75 100 orang/Ha), bangunan pendukung kegiatan komersial, pendidikan, kesehatan, peribadatan, perdagangan, sosial dan pemerintahan, (pelayanan di tingkat kota)

LAPORAN AKHIR

II- 36

BRR NAD - Nias

Pembagian Zonasi

ZONA I

ZONA II

ZONA III

ZONA IV

Persyaratan Tata Bangunan dan Lingkungan NAD & NIAS

Peruntukan lokasi

Permukiman nelayan terbatas, permukiman pedesaan terbatas pada kawasan budidaya pertanian, serta bangunanbangunan yang mendukung kegiatan hutan produksi, pertambangan, pariwisata pantai, kawasan lindung pantai, , pelabuhan, industri perikanan, dan cagar budaya. Permukiman yang semula telah ada di zona ini tidak boleh diperluas, namun boleh ditingkatkan kualitasnya.

Permukiman nelayan dan petani terbatas. Tidak disarankan untuk kegiatan komersial atau kegiatan sosial lainnya terutama untuk daerah yang mempunyai jarak 5 Km dari garis pantai.

Permukiman, bangunan komersial, fasilitas pendidikan, kesehatan, ibadah, perdagangan, sosial dan pemerintahan dengan pelayanan skala gampong/kelurah an dan kecamatan

Permukiman, bangunan komersial, fasilitas umum dan pemerintahan dengan pelayanan skala kota.

Permukiman yang semula telah ada di zona ini tidak boleh diperluas, namun boleh ditingkatkan kualitasnya.

Intensitas Bangunan

KDB < 15%

KDB: 15% - 30% (rumah tinggal), max. 50% (bangunan gedung) KLB : max. 0,6 (rumah tinggal) sesuai fungsi (bangunan gedung) GSB: pada sepanjang pantai, sungai, tepi danau, waduk, mata air dan sungai yang terpengaruh pasang surut air laut;

KLB : max. 0,3 (rumah tinggal) sesuai fungsi (bangunan gedung) GSB: pada sepanjang pantai, sungai, tepi danau, waduk, mata air dan sungai yang terpengaruh pasang surut air

Permukiman yang semula telah ada ditingkatkan kualitasnya, tidak boleh diperluas/dikemb angkan/ditambah baru hingga menjadi kepadatan tinggi. Bangunan komersial dapat diperluas dengan persyaratan bangunan dan lingkungan yang ketat dengan mempertahankan nilai-nilai cagar budaya KDB: 30% - 50% (rumah tinggal), max. 60% (bangunan gedung) KLB : max. 1,5 (rumah tinggal), maksimum 2,4 (bangunan gedung) GSB: pada sepanjang pantai, sungai, tepi danau, waduk, mata air dan sungai yang terpengaruh

Permukiman dapat diperluas dengan persyaratan bangunan dan lingkungan yang ketat sesuai dengan perencanaan tata ruang di tiap-tiap daerah

KDB: maksimum 60% (rumah tinggal), max. 75% (bangunan gedung) KLB : max. 1,8 (rumah tinggal), maksimum 3,0 (bangunan gedung) GSB: pada sepanjang pantai, sungai, tepi danau, waduk, mata air dan sungai yang terpengaruh

LAPORAN AKHIR

II- 37

BRR NAD - Nias

Pembagian Zonasi

ZONA I

ZONA II

ZONA III

ZONA IV

laut; jalan, rel kereta api, dan jaringan listrik tegangan tinggi, mengikuti ketentuan perundangan yang berlaku Jarak bebas bangunan terhadap utilitas kota sesuai ketentuan di dalam RTRW Kabupaten/Kota setempat Jarak bebas bangunan terhadap batas persil: sesuai ketentuan RDTR Kota atau RTBL setempat Jarak bebas antar bangunan gedung sesuai ketentuan RDTR Kota atau RTBL setempat Jumlah lantai rumah tinggal maksimum 2 lantai Arahan Zonasi Fisik Kabupaten Bireuen Zonasi peruntukan kawasan terbangun kepadatan sangat rendah

jalan, rel kereta api, dan jaringan listrik tegangan tinggi, mengikuti ketentuan perundangan yang berlaku Jarak bebas bangunan terhadap utilitas kota sesuai ketentuan di dalam RTRW Kabupaten/Kota setempat Jarak bebas bangunan terhadap batas persil: sesuai ketentuan RDTR Kota atau RTBL setempat Jarak bebas antar bangunan gedung sesuai ketentuan RDTR Kota atau RTBL setempat Jumlah lantai bangunan gedung maksimum 4 lantai Zonasi peruntukan kawasan terbangun kepadatan rendah

pasang surut air laut; jalan, rel kereta api, dan jaringan listrik tegangan tinggi, mengikuti ketentuan perundangan yang berlaku Jarak bebas bangunan terhadap utilitas kota minimal sama dengan sempadan bangunannya Jarak bebas bangunan terhadap batas persil: sesuai ketentuan RDTR Kota atau RTBL setempat Jarak bebas antar bangunan gedung sesuai ketentuan RDTR Kota atau RTBL setempat

Zonasi peruntukan kawasan terbangun kepadatan sedang

pasang surut air laut; jalan, rel kereta api, dan jaringan listrik tegangan tinggi, mengikuti ketentuan perundangan yang berlaku Jarak bebas bangunan terhadap utilitas kota minimal sama dengan sempadan bangunannya Jarak bebas bangunan terhadap batas persil: sesuai ketentuan RDTR Kota atau RTBL setempat Jarak bebas antar bangunan gedung sesuai ketentuan RDTR Kota atau RTBL setempat Jumlah lantai bangunan gedung maksimum 4 lantai n/a

2.2.2

KEBIJAKAN DAN RENCANA TERKAIT DI TINGKAT PROVINSI

2.2.2.1 PROPEDA DAN RENSTRA PROVINSI NAD A. Program Pembangunan Daerah (PROPEDA) A.1 Bidang Politik, Hukum, Keamanan dan Ketertiban 1. Pergerakan supremasi hukum secara konsistensi untuk menjamin kepastian hukum dan menghargai hak azasi manusia.

LAPORAN AKHIR

II- 38

BRR NAD - Nias


2. Pertemuan saresehan dan tetap muka dengan segenap komponen masyarakat, sasaranya adalah terciptanya harmonisasi dari seluruh komponen yang ada di masyarakat. 3. Peningkatan peran aktif tokoh masyarakat, ulama dan para pemuda bergabung dalam PAM swakarsa dalam upaya pengamanan lingkungan, sasaranya masyarakat berjalan normal. A.2 Bidang Ekonomi 1. Pengadaan lapangan kerja 2. Pengadaan bantuan peralatan industri kecil dan rumah tangga 3. Pengembangan usaha kecil menengahan dan sektor informal 4. Peningkatan ketrampilan pengusaha kecil dan pengerajin 5. Pembangunan Prasarana ekonomi 6. Pengembangan agrobisnis dan agroindustri A.3 Bidang Sumberdaya Alam dan Lingkungan 1. Mengelola sumber daya alam, memelihara daya dukunganya agar bermanfaat bagi peningkatan kesejahteraan rakyar dari generasi ke generasi. 2. Mendayagunakan sumber daya alam untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat dengan memperhatikan kelestarian fungsi dan keseimbangan lingkungan hidup, pembangunan yang berkelanjutan,kepentingan ekonomi dan budaya masyarakat lokal sera penataan ruang yang pengususahaanya diatur Undang-Undang. 3. Meningkatkan pemanfaatan potensi sumber daya alam dan lingkungan hidup dengan melakukan konservasi, rehabilitasi dan penghematan pengunanaan dengan menetapkan teknologi ramah lingkungan. 4. Melaksanakan konservasi dan pengelolaan kawasan Taman nasional, Hutan, Suaka Marga Satwa, Rawa Singkil dan Trumon, Taman Buru Cagar Budaya dan Cagar Alam untuk melindungi keanekaragaman hayati dan kekayaan plasma nutfah daerah.

LAPORAN AKHIR

II- 39

BRR NAD - Nias


5. Menetapkan kebijakan-kebijakan melalui indiakator-indikator yang

memungkinkan pelestarian kemampuan keterbaharuan dalam pengelolaaan sumber daya lam yang dapat diperbaharui untuk mencegah kerusakan yang dapat diperbaharui untuk mencegah kerusakan yang tidak dapat balik. 6. Membangun perekonomian yang berlandasan sumber daya yang ada di daerah dan semaklsimal mungkin mengali potensi yang sudah ada dalam masyarakat tanpa mengabaikan kelestariann alam dan lingkungan dalam pengelolaan sumber daya alam. 7. Meningkat peran dan fungsi lembaga Bappedalda dan Lembaga Sosial Masyarakat (LSM) yang bergerak dibidang lingkungan dalam pengelolaan sumber daya alam. 8. Meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai pentingnya lingkungan hidup dalam kehidupan manusia. A.4 Bidang Kesejahteraan dan Ketahanan Budaya 1. Pemanfaatan kualitas pelayanan sosial sehingga mampu menjangkau seluruh lapoisan masyarakat yang bermanfaat yang bermasalah sosial 2. Pembinaan dan pengembangan potensi dan sumber daya kesejahteraan sosial dengan demikian partisipasi swasta sangat diharapkan 3. Peningkatan bantuan dan rehabilitasi sosial baik yang bersumber dari pemerintah mauppun masyarakat 4. Perlindungan dan jaminan kesejahteraan sosial, kebijakan ini diarahkan pada pemberian perlindungan kepad anak, wanita dan lanjut usia dari tindakan dan pemberlakuan kekerasan 5. Pembinaan dan pengembangan meningkatkan kesejahteraan 6. Peningkatan usaha penggalian, pergerakan dan pemberdayagunakan potensi dan sumber dana keperdulian peran serta masyarakat dalam upaya-upaya kepekaan mereka dalam penanganan

dan

LAPORAN AKHIR

II- 40

BRR NAD - Nias


7. Penataan peraturan perundang-undangan dan atau peraturan daerah bidang kesejahtera dan untuk melandasi seluruh gerak langkah usaha pembangunan kesejahteran sosial 8. Pemantapan, pengawasan dan pengendlian yang di harapkan akan lebih berkualitas sehingga mampu mengamankan pelaksanaan program pembangunan sosial B. Rencana Strategi Pembangunan Daerah (RENSTRA) Untuk menentukan arah pelaksanaan program dan kegiatan secara operasional maka perlu memetapkan strategi pembangunan Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam sebagai berikut: 1. Peningkatan peran Pemerintah Daerah secara produktif dalam mengembangan berbagai pendekatan dialog kultural untuk mencapai mufakat diantara berbagai komponen yang bertikai 2. Penegakan supremasi hukum dan Hak Azasi Manusia (HAM) untuk menciptan iklim dan kondisi daerah yang konduktif 3. Penangulangan dampak konflik secara konperhensip terutama pembangunan kembali prasarana dan secara umum dan masyarakat yang dibakar/rusak dan pemberdayaan masyarakat korban konflik 4. Memulihkan citra aparat hukum dan Pemerintah Daerah melalui peningkatan kemampuan serta meningkatkann kesadaran dan tanggungjawab dalam pelaksanaan tugas untuk memberikan pelayanan prima yang bersih dari KKN sesuai dengan tuntutan ajaran islam 5. Pelaksanaan keisimewaan Aceh mencakup pembangunan bidang pendidikan, agama, adat dan peran ulama secara nyata. 6. Peningkatan profesionalisme, akuntanbilitas dan sistem kerja instansi dan aparat pemerintahan daerah dalam rangka menciptakan pemerintahan Darussalam yang bersih dan baik serta penyelenggaran otonomi khusus Provinsi Nanggroe Aceh

LAPORAN AKHIR

II- 41

BRR NAD - Nias


7. Pembangunan ekonomi daerah baik secara makro maupun mikro dalam upaya pemberdaya ekonomi rakyat 8. Pengembangan prasarana dan sarana transportasi yang dapat menunjang pertumbuhan ekonomi rakyat dalam kawasan-kawasan prioritas (Kawasan Free Port Sabang, Banda Aceh dan sekitarnya, Lhokseumawe dan sekitarnya, pantai barat/selatan dan sekitarnya). C. RTRW Provinsi NAD C.1 Kebijakan Struktur Dan Pola Pemanfaatan Ruang Kebijakan struktur dan pola pemanfaatan ruang provinsi : diarahkan untuk mengembalikan dan merehabilitasi struktur dan pola pemanfaatan ruang wilayah provinsi NAD. Untuk itu kebijakan penataan ruang wilayah provinsi NAD pasca gempa dan tsunami yang berupa pola dan struktur pemanfaatan ruang adalah sebagai berikut :
1)

Pusat permukiman/kota-kota di Pantai Barat tetap dipertahankan untuk menjaga keseimbangan pertumbuhan antar wilayah (Barat-Timur) dan Wilayah Tengah serta didukung pusat-pusat pertumbuhan skala lebih kecil : adalah Sigh, Bireuen, Singkil, Tapak Tuan, Blangpidie, Calang di wilayah pesisir dan Blangkejeren dan Jantho di Wilayah Pedalaman.

2)

Kota-kota Tepi Air dikembangkan dengam memperhatikan juga aspke-aspek lokal terutama keterkaitan dengan rawan Gempa dan Tsunami dengan kawasan konservasi dan penyangga yang berfungsi lindung.

3)

Jaringan jalan di rehabilitasi untuk menjaga keterkaitan antar kota-kota

di

Pantai Barat, Pantai Timur atau keterkaitan kedua wilayah, serta mendorong perkembangan dan pemerataan wilayah : Meulaboh Calang-Lamno- Banda Aceh Janhot Sigli Bireun hingga Lhokseumawe dan Rehabilitasi dan pembangunan jalan baru (dalam kaitan pembangunan jalan rusuk/pengumpan) yang menghubungkan daerah terisolir Aceh Barat/Meulaboh dan Aceh Jaya antara lain : Lhok KruetCalang-Teunom-Woyla-Meulaboh dengan memanfaatkan jalan perkebunan Sawit dan peningkatan jalan desa; membuka kembali ruas jalan janhot-lamno; BeureununGeumpang-Tutut-Meulaboh, jalan Ladia Galaska Simpang Peut-Jeuram II- 42

LAPORAN AKHIR

BRR NAD - Nias


Beutong Ateuh-Takengon, ruas jalan lintas Barat Meulaboh-Tapaktuan, Bakongan; Calang-Tangse-Beureunun; Teunom-Sarah RayaGeumpang; Teunom-Sarah RayaWoyla dan Calang-Geumpang.
4)

Penyebrangan ke pulau-pulau kecil (a.l : Pulau Weh dan Simeuleu) difungsikan kembali untuk mobilisasi penduduk dan perkembangan ekonomi wilayah.

5)

Fungsionalisasi dan peningkatan Bandar Udara (Bandar Udara Sultan Iskandar Muda, Cut Nyak Dien, Lasikin, Maimun Saleh, Malikussaleh, dan Teuku Cut Au). Bandar udara di pantai barat-selatan dapat didarati pesawat terbang hercules untuk evakuasi dan supply logistik jenis

6)

Fungsionalisasi dan peningkatan pelabuhan laut (Sabang, Malahayati, Calang, Meulaboh, Kuala Langsa, Singkil dan Lhokseumawe). Lokasi pelabuhan penyebrangan pengganti Uleu-thee ditentukan setelah melakukan studi kelayakan teknis terlebih dahulu (Pelabuhan di Calang akan dikembangkan sebagai pelabuhan utama di pantai barat Aceh, Pelabuhan Sabang akan dikembangkan sebagai gateway, Pelabuhan Uleu-Lhee direhabilitasi dan dikembangkan)

7)

Rehabilitasi Sistem jaringan listrik terkonsentrasi untuk Banda Aceh Sigli-BireuenLhokseumawe dan Meulaboh-Calang-Takengon.

8)

Perbaikan kawasan budidaya industri di lhoknga, Lhokseumawe, dan Malahayati; perdagangan, pertanian pangan dan perkebunan dan pesisir kelautan

9)

Rehabilitasi jaringan sumberdaya air Cal : Saluran irigasi, alur sungai, dan pantai untuk mendukung ketersediaan air baku dan air minum.

10)

Rehabilitasi dan rekonstruksi untuk fungsionalisasi kawasan berfungsi lindung konservasi (bagian tengah) antara lain kawasan ekosistem leuser, hutan lindung, dan lindung binaan (buffer zone dan hutan kota) di sepanjang pantai melalui penyiapan area penyangga (buffrer zone) pantai baik berupa vegetasi atau bangunan.

11)

Kawasan permukiman diupayakan tidak berada di kawasan lindung, seperti wilayah kehidupan gajah yang semakin langka populasinya, antara lain di Desa Pucok, Alue Raya, Blang Dalam dan Lhok Kuala, Lamje, Kr. Batee Mirah, Kr. Alue

LAPORAN AKHIR

II- 43

BRR NAD - Nias


Ceuroloup, Kr. Beurieng, Can. Kaking Ungoh Batee, perbatasan Tutut, Kawasan Uteun Cut, Panga, Pang-Teunom dan Lageun C.2 Arahan Struktur Ruang Provinsi NAD Arahan struktur ruang provinsi menggambarkan rencana pengembangan sistem kota dan rencana pengembangan infrastruktur wilayah adalah sebagai berikut :
1)

Setiap daerah kabupaten/kota mendapat akses yang sama, dengan adanya jalan provinsi (arteri)

2)

Jalan Provinsi (arteri) yang menghubung kota-kota di seluruh NAD akan membuka akses secara lebih terbuka dan diharapkan menjadi daya tarik dan daya dorong berbagai upaya pengembangan wilayah NAD

3)

Wilayah pesisir dengan kemudahan adanya jalan darat dan laut yang memberikan alternatif moda yang dapat digunakan.

4)

Beberapa pusat pertumbuhan yang diharapkan menjadi daya tarik ekonomi utama untuk wilayah NAD yaitu Banda Aceh, Sabang, Meulaboh, Langsa dan Lhokseumawe yang tersebar di daerah pesisir dan Takengon di Wilayah Pedalaman.

5)

Beberapa pusat pertumbuhan yang diharapkan menjadi daya tarik ekonomi skala lebih kecil adalah sigh, Bireuen, Singkil, Tapak Tuan, Blangpidie, Calang di wilayah pesisir; dan Blangkejeren dan Jantho di wilayah pedalaman.

2.2.3
2.2.3.1

KEBIJAKAN DAN RENCANA DI TINGKAT KABUPATEN


RENCANA TATA RUANG WILAYAH (RTRW) KABUPATEN BIREUEN 2002 - 2011

Rumusan RTRW Kabupaten Bireuen sesuai dengan lingkup kajian dan kedalaman materi meliputi pengelolaan kawasan lindung dan kawasan budidaya, pengelolaan kawasan perkotaan, perdesaan dan kritis, sistem kegiatan pembangunan dan sistem pemukiman perkotaan/perdesaan, sistem prasarana wilayah serta pengembangan kawasan yang diprioritaskan.

LAPORAN AKHIR

II- 44

BRR NAD - Nias

Gambar 2.5 - Peta Pola dan Struktur NAD

LAPORAN AKHIR

II- 45

BRR NAD - Nias

Gambar 2.6 Peta kawasan Lindung NAD

LAPORAN AKHIR

II- 46

BRR NAD - Nias


A. Rencana Pemanfaatan Kawasan Lindung dan Budidaya Kegiatan fungsional yang diatur dalam pemanfaatan ruang di wilayah Kabupaten Bireuen meliputi dua penggunaan utama yaitu Kawasan Lindung dan Kawasan Budidaya. Kawasan Budidaya yang dimaksudkan merupakan kawasan yang diperkenankan pemanfaatannya bagi kegiatan budidaya. A.1 Kawasan Lindung Deliniasi Kawasan Lindung di wilayah Kabupaten Bireuen dilakukan berdasarkan Keppres No. 32 Tahun 1990 tentang Pengelolaan Kawasan Lindung, dengan tujuan untuk mengurangi resiko kerusakan lingkungan hidup sebagai dampak dari pembangunan itu sendiri. Luas Kawasan Lindung di Kabupaten Bireuen adalah seluas 22.893 Hektar atau 12,04 % dari luas wilayah secara keseluruhan. 1. Kawasan yang Memberikan Perlindungan Dibawahnya. Hutan Lindung adalah kawasan yang memiliki sifat khas yang mampu memberikan perlindungan kepada kawasan sekitar maupun bawahnya sebagai pengatur tata air, pencegahan banjir, erosi dan memelihara kesuburan tanah. Kawasan Hutan Lindung di Kabupaten Bireuen adalah seluas 18.134 Hektar. Dibandingkan dengan luas kawasan lindung secara keseluruhan, proporsi kawasan hutan lindung ini adalah sebesar 79,21 %. Kawasan hutan lindung tersebar pada bagian selatan Kecamatan Samalanga, Pandrah, Peudada, Juli dan Peusangan. Kebijaksanaan pemanfaatan ruang di kawasan ini ditentukan berdasarkan tujuan pemanfaatannya yaitu mencegah terjadinya bencana dan menjaga kelestarian kawasan. Kebijaksanaan tersebut antara lain : Pengendalian kegiatan budidaya yang telah ada. Pengembalian fungsi kawasan hutan yang mengalami kerusakan. Pemantauan terhadap kegiatan yang diperbolehkan pada hutan lindung (seperti penelitian dan eksplorasi mineral/air tanah) agar tidak mengganggu fungsi lindung.

LAPORAN AKHIR

II- 47

BRR NAD - Nias


2. Kawasan yang memberikan Perlindungan Setempat a. Kawasan Sempadan Pantai Sempadan Pantai merupakan kawasan di sepanjang pantai yang berfungsi mempertahankan kelestarian fungsi pantai dari gerusan, abrasi dan intrusi air laut. Di wilayah Kabupaten Bireuen, kawasan sempadan pantai membentang di sepanjang pantai utara yang ditetapkan sebesar 200 meter dari titik selisih antara pasang surut air laut ke darat. Luas kawasan sempadan pantai yang ditetapkan sebagai bagian dari kawasan lindung adalah seluas 1.172 Hektar. b. Kawasan Sempadan Sungai Kawasan Sempadan Sungai adalah kawasan sepanjang kiri kanan sungai yang berfungsi mempertahankan kelestarian fungsi sungai. Luas kawasan sempadan sungai di wilayah Kabupaten Bireuen adalah sebesar 3.586 Hektar atau 15,66 % dari luas kawasan lindung secara keseluruhan. Luas sempadan sungai yang dimaksudkan diatas hanya sungai-sungai besar saja. Kebijaksanaan pemanfaatan ruang diutamakan bagi perlindungan kawasan sempadan sungai meliputi : Pencegahan kegiatan budidaya disepanjang sungai yang dapat

mengganggu atau merusak kualitas air, kondisi fisik dan dasar sungai serta alirannya. Pengendalian kegiatan yang telah ada disekitar sungai. Pengamanan Daerah Aliran Sungai.

c. Kawasan Cagar Budaya Pelestarian Cagar Budaya dimaksudkan untuk melindungi kekayaan budaya bangsa, berupa peninggalan-peninggalan sejarah, bangunan arkeologi, monumen nasional dan keragaman bentuk geologi yang berguna untuk pengembangan ilmu pengetahuan dari ancaman kepunahan. Peninggalan bersejarah di Kabupaten Bireuen cukup banyak untuk dapat dikembangkan menjadi obyek wisata. Peninggalan tersebut antara lain Makam Syuhada 44,

LAPORAN AKHIR

II- 48

BRR NAD - Nias


Rumah Adat dan makam Tgk.Cik Awe Geutah, Musium Panglima T.Hamzah, Tugu Perjuangan Batee Like dsb. Kawasan ini tidak dapat dituangkan dalam peta rencana pemanfaatan ruang, karena skala peta yang tidak memungkinkan untuk mencantumkannya. Untuk itu diperlukan kajian khusus terhadap obyek-obyek yang dapat dikembangkan sebagai kawasan cagar budaya, terutama pada rencana tata ruang yang lebih detail. Sebagai pedoman umum dalam perlindungan, pemeliharaan, pengelolaan dan pemanfaatannya dapat mengacu kepada UU No. 5 Tahun 1992 tentang Benda Cagar Budaya A.2 Kawasan Budidaya Luas kawasan budidaya di wilayah Kabupaten Bireuen adalah seluas 167.228 Hektar atau 87,96 %. 1. Kawasan Budidaya Pertanian a. Rencana Peruntukan Lahan Basah Rencana pengembangan lahan sawah di Kabupaten Bireuen berada hampir di setiap kecamatan yang berada di kawasan pantai dan kawasan tengah. Luas areal persawahan yang direncanakan adalah seluas 24.954 Hektar atau 13,13 % dari luas keseluruhan wilayah kabupaten. Arahan kebijaksanaan Pengembangan kegiatan Pertanian Lahan Basah di Kabupaten Bireuen adalah : Mempertahankan areal sawah beririgasi teknis yang telah ada. Perluasan areal persawahan melalui peningkatan produktivitas lahan tidur, baik secara pompanisasi maupun pembuatan cek dam (bendungan) baru. Pengembangan dan peningkatan penyediaan prasarana pengairan. Usaha penanggulangan banjir.

LAPORAN AKHIR

II- 49

BRR NAD - Nias


b. Rencana Peruntukan Tanaman Lahan Kering Komoditas yang biasa dikembangkan pada kawasan lahan kering ini pada umumnya adalah jenis palawija dan holtikultura. Luas wilayah Kabupaten Bireuen yang direncanakan untuk pengembangan lahan kering adalah seluas 25.879 Hektar atau 13,61 % dari luas wilayah Kabupaten Bireuen. Lokasi pengembangan pertanian lahan kering tersebar diseluruh kecamatan. Arahan kebijaksanaan dalam pemanfaatan ruang untuk kawasan tanaman lahan kering antara lain : Pengembangan kawasan potensial untuk pertanian pangan lahan kering. Pengelolaan tanaman holtikultura dengan system agribisnis.

c. Rencana Peruntukan Lahan Tanaman Perkebunan Arahan kebijaksanaan dalam pengembangan kegiatan perkebunan dapat dilakukan antara lain : Pengembangan kesesuaiannya. Dalam pengelolaannya, baik perkebunan besar maupun perkebunan rakyat harus disertai dengan penerapan teknik konservasi tanah dan air. Perkebunan yang berada disekitar kawasan lindung diupayakan dalam bentuk agroforestri dan pola PIR. d. Rencana Peruntukan Lahan Hutan Produksi Berdasarkan UU No. 41 tersebut, maka luas kawasan hutan produksi yang meliputi hutan produksi terbatas, produksi tetap dan produksi konversi adalah seluas 41.071 Hektar atau 21,60 % dari luas wilayah Kabupaten Bireuen. Alokasi kawasan hutan produksi tersebar pada bagian selatan wilayah Kabupaten Bireuen. 2. Kawasan Budidaya Non Pertanian a. Kawasan Pertambangan / Penggalian Kawasan pertambangan dan penggalian dikembangkan pada lokasi sumber bahan baku atau bahan galian yang layak untuk dieksploitasi tanpa merubah
LAPORAN AKHIR

wilayah

perkebunan

sesuai

dengan

potensi

dan

II- 50

BRR NAD - Nias


fungsi lindung suatu kawasan. Lokasi pengembangan lahan pertambangan dan penggalian non logam di Kab. Bireuen yaitu : Andesit di Kr.Simpo (Kec.Juli), Cot Mata Ie (Kec.Jeumpa) dan Semadan (Kec.Samalanga) Batu pasir di Blang Cirih dan Kr.Gunci (Kec.Peusangan), Gle Beureulang (Kec.Jeunib), Cot Mata Ie (Kec.Jeumpa), Kr.Peudada (Kec.Peudada) serta Semadan dan Meurah (Kec.Samalanga). Pasir sungai dan kerikil di Krueng Peudada (Kec.Peudada). Sirtu di Kr.Gunci (Kec.Peusangan), Kec.Peudada dan Samalanga. Batu kali di Kec.Jeumpa, Peudada dan Samalanga. Koral di Kec.Peusangan, Makmur dan Peudada. Batu apung di Kec.Samalanga. Batu kapur di Kec. Peusangan dan Samalanga.

b. Kawasan Industri Arahan kebijaksanaan dalam pemanfaatan ruang untuk kawasan industri adalah : Penataan ruang untuk zona industri yang berorientasi pasar diarahkan disepanjang Bireuen dan Matang Glumpangdua. Penyediaan prasarana pendukung. Pengembangan kawasan perindustrian di wilayah perkotaan dan sentrasentra industri kecil. c. Rencana Pengembangan Kawasan Pariwisata Obyek wisata di kelompokkan menjadi obyek wisata alam dan obyek wisata budaya. Obyek wisata alam, berupa Kr.Batee Ilek (di Kec.Samalanga), Kr.Simpo (di Kec.Jeumpa), Panorama Cot Panglima dan Irigasi Teupin Mane (di Kec.Juli), Air Terjun Ciraceuk (di Kec.Pandrah), Pantai Reuleng Manyang (di Kec.Samalanga) dan Pantai Ujong Blang Bireuen (di Kec.Jeumpa).

LAPORAN AKHIR

II- 51

BRR NAD - Nias

Obyek wisata Budaya berupa makam, tugu, rumah adapt dan mesjid yang mempunyai nilai histories yang tersebar di seluruh kecamatan. Diantaranya adalah Rumah Adat dan Makam Tgk.Awe Geutah di Kecamatan Peusangan.

d. Rencana Pengembangan Kawasan Militer Dalam upaya pengamanan daerah yang merupakan bagian dari strategi pertahanan dan keamanan daerah, wilayah yang diarahkan berdasarkan RTRP (Rencana Tata Ruang Propinsi) dan Kebijaksanaan Militer adalah disekitar Batee Geulungku, Kecamatan Samalanga. B. Rencana Pengembangan Sistem Pusat-Pusat Permukiman Perkotaan Pengarahan sistem hirarki kota-kota di wilayah Kabupaten Bireuen ditentukan oleh beberapa pertimbangan yaitu : Kebijaksanaan yang telah ditetapkan baik struktur tata ruang Propinsi Nanggroe Aceh Darussalam maupun Pola Dasar Pembangunan Daerah dan Repelita Kabupaten. Berdasarkan atas penilaian ukuran besarnya kota (massa kota), indeks jumlah dan pertumbuhan penduduk, indeks centralitas serta tingkat kemudahan pelayanan (aksesibilitas). Mencerminkan adanya pusat-pusat permukiman yang berfungsi sebagai pusat pemasaran dan pelayanan sosial yang hirarkis. Kota sebagai pusat permukiman (pusat pelayanan/pusat simpul) tersebut harus berorientasi pasar atau mempunyai kelengkapan fasilitas social-ekonomi dalam jumlah yang relative lebih banyak dan jumlah penduduk yang banyak. C. Rencana Pengembangan Sistem Perwilayahan Wilayah Kabupaten Bireuen dibagi menjadi 4 (empat) SWP yaitu : 1) SWP I, meliputi wilayah Kecamatan Peudada, Jeumpa dan Juli dengan pusat pengembangannya di Kota Bireuen. Satuan pengembangan pada SWP ini diarahkan untuk :

LAPORAN AKHIR

II- 52

BRR NAD - Nias


a. budidaya tambak, di Kecamatan Jeumpa b. Pengembangan perkebunan di Kecamatan Peudada dan Juli c. Tanaman pangan (lahan kering dan lahan basah) di Kecamatan Peudada, Jeumpa dan Juli d. Industri Perdagangan dan Jasa di Kecamatan Jeumpa. 4. SWP II, meliputi wilayah Kecamatan Peusangan dan Jangka dengan pusat pengembangannya di Kota Matang Glumpang Dua. Satuan pengembangan pada SWP ini diarahkan untuk : a. Penangkapan ikan dan budidaya tambak di Kecamatan Jangka b. Penggaraman di Kecamatan Jangka c. Tanaman pangan lahan basah di Kecamatan Peusangan dan Jangka d. Hutan Produksi di Kecamatan Peusangan e. Industri, Perdagangan dan Jasa di Kecamatan Peusangan. 3. SWP III, meliputi wilayah Kecamatan Samalanga, Simpang Mamplam, Pandrah dan Jeunib dengan pusat pengembangannya di Kota Jeunib. Satuan pengembangan pada SWP ini diarahkan untuk : a. Penangkapan ikan di Kecamatan Samalanga. b. Budidaya tambak d Kecamatan Samalanga, Pandrah dan Jeunib. c. Penggaraman di Kecamatan Peusangan. d. Tanaman pangan lahan basah di Kecamatan Samalanga, Pandrah dan Jeunib. e. Pengembangan perkebunan di Kecamatan Samalanga, Pandrah dan Jeunib. f. Hutan produksi di Kecamatan Pandrah dan Jeunib. 4. SWP IV, meliputi wilayah Kecamatan Gandapura, Kutablang dan Makmur dengan pusat pengembangannya di Kota Geurogok. Satuan pengembangan pada SWP ini diarahkan untuk : a. Penangkapan ikan dan budidaya tambak di Kecamatan Gandapura. b. Tanaman pangan lahan basah di Kecamatan Gandapura. c. Tanaman pangan lahan kering di Kecamatan Gandapura dan Makmur.

LAPORAN AKHIR

II- 53

BRR NAD - Nias

2.3

GAMBARAN UMUM WILAYAH KABUPATEN BIREUEN

2.3.1. TINJAUAN REGIONAL A. Umum Secara geografis wilayah Kabupaten Bireuen memiliki posisi strategis, karena terletak di : 1. Kawasan pantai Timur pulau Sumatera yang merupakan kawasan cepat berkembang di pulau Sumatera, dibandingkan dengan kawasan tengah dan kawasan pantai Barat Sumatera. 2. Berdekatan dengan kota pusat pertumbuhan Lhokseumawe dan Medan yang merupakan Pusat Kegiatan Nasional (PKN). Disamping itu, di kota Medan juga terdapat Pelabuhan dan Bandar Udara Internasional. Adapun waktu tempuh antara kota Bireuen dengan kota Lhokseumawe hanya sekitar 45 menit perjalalan, sedangan dengan kota Medan sekitar 8 9 jam perjalanan. 3. Berhadapan langsung dengan Selat Malaka yang merupakan jalur pelayaran perdagangan internasional yang padat. 4. Dilintasi oleh jalan Nasional Lintas Timur (Jalintim) Sumatera, yang merupakan jalur perdagangan yang padat di Pulau Sumatera. Di masa mendatang, Jalintim Sumatera pada ruas antara Medan sampai Bandar Lampung direncanakan untuk dikembangkan sebagai jalan internasional Trans Asia dan Trans Asean. B. Kedudukan Dalam Struktur Ruang Wilayah Nasional dan Regional Dalam struktur ruang wilayah Nasional dan Regional yang termuat dalam Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional (RTRWN, dalam Rancangan PP Pengganti PP No.47 Tahun 1997) dan Raperpres Rencana Tata Ruang Pulau Sumatera, Kabupaten Bireuen termasuk dalam Kawasan Andalan Nasional Lhokseumawe, dengan sektor unggulan yang dikembangkan di kawasan andalan ini meliputi sektor : industri, pertanian, pertambangan, perikanan dan perkebunan. Dalam rencana ini kota Lhokseumawe ditetapkan sebagai Pusat Kegiatan Nasional, dengan kota Pusat Kegiatan Wilayah (PKW) adalah kota Takengon dan Langsa, sedangkan kota Bireun
LAPORAN AKHIR

II- 54

BRR NAD - Nias


adalah kota PKL (Pusat Kegiatan Lokal) yang berorientasi langsung ke kota PKN Lhokseumawe. C. Kedudukan Dalam Sistem Transportasi Nasional dan Regional Jalan utama di Kabupaten Bireun yang menghubungkan antara sebagian besar kotakota kota-kota kecamatan yang ada, meliputi : Sp. Samalanga, Mamplam, Pandrah Kandeh, Jeunieb, Peulimbang, Peudada, Blang Bladeh, kota Bireun, Matang Geulumpang Dua, dan Geurughok, adalah bagian dari sistem jaringan jalan Nasional yang menghubungkan antara kota Banda Aceh-Lhokseumawe-Medan, dengan fungsi Arteri Primer. Dalam sistem IRMS, ruas jalan Nasional yang melintasi Kabupaten Bireuen, meliputi : ruas Bts. Cabdin Pidie-Bireuen (No. 01.003.2) dan ruas BireuenLhokseumawe (No. 01.004), dimana berdasarkan data yang ada memiliki volume LHR (Lalu-lintas Harian Rata-rata) cukup besar (+/- 3.500 kendaraan/hari). Disamping jalan Nasional, Kabupaten Bireuen juga dilintasi oleh jalan Provinsi yang menghubungkan antara kota Bireuen-Teupin Mane-menuju Takengon dengan fungsi Kolektor Primer, dan memiliki volume LHR sedang (+/- 1.500 kendaraan/hari), yakni ruas Bireuen-Bts. Aceh Tengah (No. 01.011.1), serta jalan provinsi ruas Sp.Samalanga-Salamalanga (No ruas 01.040). Apabila dikaitkan dengan konsep pengembangan struktur ruang nasional seperti dijelaskan sebelumya, terlihat bahwa Kabupaten Bireuen terletak pada jalur lintasan yang penting antara kota Banda Aceh (PKW) Lhokseumawe (PKN) Medan (PKN) Takengon (PKW) dengan titik simpul terletak di kota Bireuen. Hal ini menjadikan kota-kota di sepanjang jalan Nasional dan jalan Provinsi di Kabupaten Bireun menjadi sangat potensial untuk berkembang, baik sebagai kota transyt maupun sebagai kota tujuan. Melalui media jaringan jalan utama tersebut di atas, Kabupaten Bireuen juga memiliki aksesibilitas yang cukup tinggi ke beberapa Pelabuhan dan Bandar Udara baik Nasional maupun Internasional, meliputi : 1. Pelabuhan Internasional (Utama Sekunder) Lhokseumawe dan Bandar Udara Malikul Saleh, Lhokseumawe, dengan jarak +/- 44,1 Km dari kota Bireuen, atau waktu tempuh +/- 45 menit perjalanan.
LAPORAN AKHIR

II- 55

BRR NAD - Nias

Gambar 2.7 Tinjauan Regional Kabupaten Bireuen

LAPORAN AKHIR

II- 56

BRR NAD - Nias

2. Pelabuhan Internasional (Utama Sekunder) Belawan, dan Bandar Udara Internasional, Polonia Medan, dengan jarak +/- 407,8 Km dari kota Bireuen, atau waktu tempuh +/- 8 9 jam perjalanan. 3. Pelabuhan Nasional Malahayati, Aceh Besar, dan Bandar Udara Nasional Sultan Iskandar Muda, Banda Aceh, dengan jarak perjalanan +/- 201,8 Km dari kota Bireun, atau waktu tempuh +/- 5 6 jam perjalanan. D. Satuan Wilayah Sungai (SWS) dan DAS Terkait Kabupaten Bireuen dilintasi oleh Satuan Wilayah Sungai (SWS) kritis, yakni SWS Pase-Peusangan. Daerah Aliran Sungai (DAS) Peusangan merupakan Daerah Aliran Sungai yang memiliki lahan kritis luas, tingkat erosi tinggi, dan terdapat tekanan penduduk yang besar, serta melintasi 2 (dua) kecamatan yang ada di Kabupaten Bireuen, yakni : kecamatan Peusangan, dan kec. Peusangan Selatan. DAS Peusangan merupakan satu kesatuan rangkaian yang terkait dengan Sub DAS nya yaitu Sub DAS Krueng Peudada, Krueng Jeunieb, Krueng Juli. DAS Krueng Peusangan berhulu di dataran tinggi Bukit Barisan dan bermuara di Selat Malaka berikut juga sub DAS nya yang berfungsi menampung air hujan, sumber-sumber air dan menyimpannya di daerah dataran tinggi ( punggung bukit ) yang merupakan tempat sumber air yang berada di wilayah selatan Kabupaten Bireuen dengan ketinggian 1.000 m di atas permukaan air laut. E. Wilayah Rawan Gempa dan Tsunami E.1 Wilayah Rawan Gempa Di tinjau dari Struktur Tatanan Geologi Tektonik Regional, pulau Sumatra dari arah barat laut melalui pulau Jawa sampai di Indonesia Bagian Timur merupakan jalur magmatik dan jalur busur luar dari rangkaian gunung berapi aktif dan di bagian pantai barat terdapat Trench (Palung). Daerah kabupaten Bireuen adalah daerah yang berpotensi rawan terhadap kegempaan dengan skala 6 7 skala richter.

LAPORAN AKHIR

II- 57

BRR NAD - Nias

Gambar 2.8 Sebaran Kawasan Rawan Gempa di Pulau Sumatera

Kabupaten Bireun

Sumber : Departemen ESDM, 2005.

E.2 Tsunami Gelombang Tsunami yang terjadi tanggal 26 Desember 2004 yang bergerak dari arah barat laut dari arah pusat gempa dengan kekuatan 8,6 skala richter berdampak pada daerah sekitar Aceh di bagian timur atau pantai timur. Wilayah Kabupaten Bireuen termasuk yang terkena dampak dari hantaman gelombang tsunami. Gempa tersebut di sebabkan dari adanya tumbukan (Subduction) dari tiga rangkaian lempeng tektonik dunia yaitu lempeng Samudra Pasifik yang Bergerak kearah Barat, Lempeng Samudra Hindia ( Benua Australia ) yang bergerak ke arah Utara dan Lempeng Eurasia yang bergerak kearah Timur. Negara Indonesia termasuk dalam daerah tumbukan lempeng Eurasia. Sebagian besar daerah pesisir Bireuen diterjang gelombang tsunami dengan ketinggian gelombang mencapai 2 3 m yang merupakan dataran rendah dengan ketinggian rata- rata di bawah 10 m dari pula oleh topografi dasar permukaan air laut dan di sebabkan laut perairan bireuen yang cukup dalam, dimana

daerah sekitar pantai ke arah Timur mencapai 20 m dan arah Barat lebih dalam II- 58

LAPORAN AKHIR

BRR NAD - Nias


mencapai 40 m yaitu perairan sekitar Samalanga dan Simpang Mamplam. Gelombang tsunami cenderung melemah bila kedalaman laut semakin landai ke arah darat. Faktor lain yang memperparah kerusakan adalah tidak adanya zona penyangga alamiah yaitu komunitas hutan magrove yang dapat menahan laju gelombang tsunami ke arah darat. 2.3.2 KONDISI FISIK DAN LINGKUNGAN A. Wilayah Administrasi Kabupaten Bireuen adalah pemekaran dari Kabupaten Aceh Utara, yang dibentuk melalui UU 48/1999 tanggal 4 Oktober 1999. Luas wilayah Kabupaten Bireuen adalah sekitar 1.901,21 Km2, dan sebelum tahun 2004 terdiri dari 10 kecamatan, sedangkan pada tahun 2005 dimekarkan menjadi 17 kecamatan. Adapun batas wilayah Kabupaten Bireuen adalah sebagai berikut : Tabel 2.10 Nama dan Luas Kecamatan di Kabupaten Bireuen
No. 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. 12. 13. 14. 15. 16. 17. Kecamatan Samalanga Pandrah Jeunieb Peudada Jeumpa Juli Peusangan Jangka Gandapura Makmur Simpang Mamplam Peulimbang Kota Juang Kuala Peusangan Siblah Krueng Pensangan Selatan Kuta Blang Kabupaten Bireuen Luas (Km2) 149,31 127,18 154,82 245,26 182,57 76,11 51,47 105,76 75,57 36,97 166,09 209,22 91,94 17,38 82,13 78,64 50,79 1.901,21 Luas (Ha) 14.931 12.718 15.482 24.526 18.257 7.611 5.147 10.576 7.557 3.697 16.609 20.922 9.194 1.738 8.213 7.864 5.079 190.121 Proporsi (%) 7,85 6,69 8,14 12,90 9,60 4,00 2,71 5,56 3,98 1,94 8,74 11,00 4,84 0,91 4,32 4,14 2,67 100,00 Ibukota Kecamatan Samalanga Pandrah Kandeh Jeunieb Peudada Blang Blahdeh Teupin Mane Matang Geulumpang Dua Jangka Geureugok Ulee Gle Simpang Mamplam Peulimbang Kota Bireun Cot Batee Uteun Gathom Londaneuh Kuta Blang

Sumber : - Bireun Dalam Angka Tahun 2004 - Analisis Peta

Sebelah Utara berbatasan dengan selat malaka Sebelah Selatan dengan Aceh Tengah/Gayo Lues BT = 960 39` 57.6 LU = 040 57` 14.4
LAPORAN AKHIR

II- 59

BRR NAD - Nias


Sebelah Barat dengan Kabupaten Pidie BT = 960 20` 56.4 LU = 050 14` 33.6 Sebelah Timur dengan Kabupaten Aceh Utara BT = 960 52` 22.8 LU = 050 8` 6 Untuk lebih jelasnya wilayah administrasi Kabupaten Bireun lihat Gambar 2.9 B. Topografi (Ketinggian dan Kemiringan) Semakin tinggi letak suatu wilayah dari permukaan laut maka secara umum komoditi yang dapat diusahakan untuk berproduksi secara maksimal sangat terbatas. Apabila dipaksakan untuk membudidayakan pada kondisi yang demikian akan mengakibatkan erosi dan memperbesar air permukaan sehingga menimbulkan tanah-tanah kritis dan mempengaruhi debit air. Berdasarkan kelas ketinggian maka Kabupaten Bireuen didominasi kelas ketinggian 25-500 meter di atas permukaan laut yaitu seluas 234.931 Hektar (45,97 %). Sedangkan kelas ketinggian yang paling rendah jumlahnya adalah ketinggian lebih dari 1.000 meter di atas permukaan laut yaitu hanya 10.296 Ha atau 5,42 % dari luas keseluruhan wilayah Kabupaten Bireuen (lihat gambar 2.10) Kemiringan lahan di wilayah Kabupaten Bireuen sangat bervariasi yaitu dari datar sampai bergunung. Sebagian besar merupakan wilayah yang datar dengan kemiringan 0

8 % yaitu sebesar 69.268,81 Hektar (36,43 %) yang terdapat pada

bagian utara wilayah Kabupaten Bireuen. Sedangkan wilayah yang agak berbukit dengan kemiringan 16

25 % merupakan jumlah yang terkecil yaitu seluas

13.818,69 Hektar (7,27 %) (lihat gambar 2.11). C. Hidrologi Dalam menunjang berbagai kegiatan seperti pertanian, industri, rumah tangga dan lain sebagainya, sumber daya air yang dapat dimanfaatkan di wilayah Kabupaten Bireuen yaitu :

LAPORAN AKHIR

II- 60

BRR NAD - Nias

Gambar 2.9 Peta Wilayah Administrasi Kabupaten Bireuen

LAPORAN AKHIR

II- 61

BRR NAD - Nias

Gambar 2.10 Peta Ketinggian Tanah Kabupaten Bireuen

LAPORAN AKHIR

II- 62

BRR NAD - Nias

Gambar 2.11 Peta Kemiringan Tanah Kabupaten Bireuen

LAPORAN AKHIR

II- 63

BRR NAD - Nias

6)

Perairan Terbuka Perairan terbuka yang dapat dimanfaatKan di wilayah ini adalah sungai, yang semuanya berhulu di dataran tinggi bukit barisan dan bermuara ke Selat Malaka. Terdapat 1 buah Daerah Aliran Sungai (DAS) yang cukup besar yaitu DAS Krueng Peusangan sedangkan sub das lainnya, diantaranya Krueng Peudada, Krueng Pandrah, dan Krueng Jeunieb. Jika dilihat bentuk pola alirannya, maka sungai-sungai yang mengalir di wilayah ini berbentuk sub pararel di bagian hulu hal ini karena wilayah yang bergunung sehingga pola aliran yang terbentuk mengikuti lereng dari suatu jalur pegunungan, sedangkan pada bagian hilir berbentuk linier. Keadaan sungai-sungai tersebut sebagian ada yang sudah terkena erosi yang mengakibatkan lingkungan rusak dan rawan bahaya banjir. Banjir ini disebabkan karena terjadinya penggundulan hutan di wilayah hulu sungai.

7)

Waduk Irigasi Potensi sumber daya air lainnya yang dapat dimanfaatkan yaitu berupa waduk dan irigasi yang terdapat di wilayah Kabupaten Bireuen. Terdapat 5 waduk yang berfungsi sebagai penyatu dari beberapa aliran sungai di wilayah ini untuk kebutuhan irigasi. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada Tabel 4.3. Tabel 2.11 - Sungai sungai, Catchment, Luas Irigasi dan Kebutuhan Air Di Kabupaten Bireuen
Luas Irigasi Kebutuhan AIr Irigasi PU (l/dt/Ha) 1.50 1.50 1.50 1.38 1.38 7.26 Irigasi Non PU (l/dt/Ha) 1.88 1.88 1.88 1.85 1.85 9.34 Jumlah Kebutuhan Air (l/dt) 2,820.00 1,507.50 708.00 8,496.66 1,186.80 14,718.96 Debit Min (l/dt) Max (l/dt) Irigasi PU Jumlah (unit) Irigasi Non PU Hektar

No.

Sungai

Catchment Area (Km2)

1. 2. 3. 4. 5.

Kr.Salamanga Kr.Pandrah Kr.Jeunieb Kr.Peusangan Kr.Peudada KABUPATEN BIREUEN

190.00 103.00 57.00 2.27 436.00 788.27

1.52 0.82 0.46 24.50 4.14 31.44

381.90 381.90

5.00 5.00

388.00 388.00

Sumber : Dinas Pengairan Kabupaten Aceh Utara

LAPORAN AKHIR

II- 64

BRR NAD - Nias


D. Daya Dukung Tanah D.1 Jenis Tanah Jenis Tanah di Kabupaten Bireuen terdiri dari tanah Aluvial, Hidromorf kelabu, Podsolik Merah Kuning, Latosol, Komplek PMK Latosol dan Litosol serta Komplek Renzina dan Litosol. Di bagian utara wilayah ini di dominasi oleh jenis tanah Aluvial dan Hidromorf Kelabu, sedangkan pada bagian selatan wilayah ini di dominasi oleh jenis tanah Latosol, Komplek PMK Latosol dan Litosol serta Komplek Renzina dan Litosol. Jenis tanah ini mempunyai pengaruh yang cukup kuat terhadap kesesuaian tanaman yang dapat dikembangkan. Jenis tanah Aluvial dan Latosol umumnya relatif subur dan pada tanah tersebut sesuai untuk pengernbangan pertanian, jenis tanah Podsolik Merah Kuning sesuai untuk tanaman perkebunan atau tahunan. Sedangkan jenis tanah Litosol mempunyai sifat yang mudah tererosi dan mempunyai kedalaman efektif yang dangkal sehingga mempunyai resiko erosi yang tinggi (lihat Tabel 2.12 dan gambar 2.12). Tabel 2.12 - Jenis Tanah Di Kabupaten Bireuen
No. Kecamatan Jenis Tanah

1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. 12. 13. 14. 15. 16. 17.

Samalanga Pandrah Jeunib Peudada Jeumpa Juli Peusangan Jangka Gandapura Makmur Simpang Mamplam Peulimbang Kota Juang Kuala Peusangan Siblah Krueng Pensangan Selatan Kuta Blang

Aluvial, Hidromorf Kelabu, Podsolik Merah Kuning Aluvial, Hidromorf Kelabu, Podsolik Merah Kuning Aluvial, Hidromorf Kelabu, Podsolik Merah Kuning Aluvial, Hidromorf Kelabu, Podsolik Merah Kuning Aluvial, Hidromorf Kelabu, Podsolik Merah Kuning Podsolik Merah Kuning, Latosol Aluvial, Hidromorf Kelabu, Podsolik Merah Kuning Aluvial, Hidromorf Kelabu Aluvial, Hidromorf Kelabu Hidromorf Kelabu, Podsolik Merah Kuning Aluvial, Hidromorf Kelabu, Podsolik Merah Kuning Aluvial, Hidromorf Kelabu, Podsolik Merah Kuning Aluvial, Hidromorf Kelabu, Podsolik Merah Kuning, Latosol Aluvial Podsolik Merah Kuning, Latosol Podsolik Merah Kuning, Latosol Aluvial, Hidromorf Kelabu

Sumber : Data Pokok Kabupaten Aceh Utara, Tahun 1996

LAPORAN AKHIR

II- 65

BRR NAD - Nias


Gambar 2.12 Peta Jenis Tanah

LAPORAN AKHIR

II- 66

BRR NAD - Nias


D.2 Kedalaman Efektif Kedalaman efekif tanah mempunyai pengaruh yang besar terhadap pertumbuhan tanaman karena berhubungan dengan kemungkinan akar tanaman menembus lapisan tanah. Makin dalam tanah maka semakin baik untuk media pertumbuhan tanaman. Tanah di wilayah Kabupaten Bireuen secara umum telah mengalami proses perkembangan yang berlanjut secara intensif sehingga menyebabkan terbentuknya tapisan tanah yang datar. Tanah dengan kedalaman efektif tebih dari 90 cm merupakan yang tebih dominan ditemukan dengan luas sekitar 103.175,00 Hektar atau 54,27 % dari luas keseluruhan Kabupaten Bireuen. Sedangkan kedalaman 60

90 m merupakan yang terkecil dijumpai yaitu sekitar 4,98 % dari tuas keseluruhan Kabupaten Bireuen yaitu seluas 9,475,00 Hektar (lihat Tabel 2.13 dan gambar 2.13). Tabel 2.13 - Luas Wilayah Berdasarkan Kedalaman Efektif Tanah Di Wilayah Kabupaten Bireuen Tahun 2001
No. 1. 2. 3. 4 5 6. 7. 8. 9. 10. Kecamatan Samalanga Pandrah Jeunib Peudada Jeumpa Juli Peusangan Jangka Gandapura Makmur Luas Wilayah Menurut Kedalaman Efektif Tanah >90 cm 60 90 cm 30 60 cm Hektar 2,750.00 8,702.94 3,397.06 18,183.00 12,107.00 14,833.00 24,266.00 8,133.00 4,800.00 6,003.00 % 7.34 97.42 19.01 46.46 100.00 100.00 78.55 100.00 62.14 90.23 Hektar 5,900.00 2,925.00 650.00 % 19.10 37.86 9.77 Hektar 34,721.00 230.06 14,469.94 20,950.00 6,375.00 725.00 % 92.66 2.58 80.99 53.54 2.35 Luas Wilayah (Hektar) 37,471.00 8,933.00 17,867.00 39,133.00 12,107.00 21,208.00 30,891.00 8,133.00 7,725.00 6,653.00

KABUPATEN BIREUEN

103,175.00

54.27

9,475.00

4.98

77,471.00

40.75

190,121.00

Sumber : Data Pokok Pembangunan Kabupaten Aceh Utara Tahun 1996

D.3 Tekstur Tanah Penyusun tekstur tanah berkaitan erat dengan kemampuan memberikan zat hara untuk tanaman, ketegasan tanah, perambatan panas, perkembangan akar tanaman dan pengolahan tanah. Berdasarkan perbandingan tanah dapat dibedakan menjadi tiga jenis yaitu halus, sedang dan kasar. Makin kasar atau makin halus tekstur tanah maka kualitasnya makin menurun, karena kemampuan meresap air kurang baik.
LAPORAN AKHIR

II- 67

BRR NAD - Nias


Gambar 2.13 Peta Kedalaman Efektif Tanah

LAPORAN AKHIR

II- 68

BRR NAD - Nias


Tekstur tanah di wilayah Kabupaten Bireuen sebagian besar mempunyai tekstur sedang yaitu seluas 137.855,05 Ha atau 72,51 % dan tekstur halus 39.319,81 Ha (20,68 %). Sedangkan tekstur kasar hanya sebagian kecil yang terdapat dibagian utara dan selatan wilayah ini dengan luas sekitar 12.946,14 Ha (6,81 %). E. Daerah Rawan Bencana
8)

Erosi Erosi tanah adalah peristiwa hilangnya lapisan tanah atas karena aliran air atau angin. Di Kabupaten Bireuen, potensi erosi cenderung terjadi pada bagian tengah wilayah ini sebagai imbas dari peralihan penggunaan hutan untuk berbagai kegiatan. Sedangkan banjir yang terjadi di beberapa tempat di wilayah Kabupaten Bireuen disebabkan terjadinya penggundulan hutan di hulu sungai, pendangkalan di muaramuara sungai dan kurangnya jaringan drainase sehingga terjadi genangan. Banjir di wilayah ini secara umum terjadi di sekitar pesisir utara wilayah Kabupaten Bireuen meliputi Kecamatan Jeumpa dan Jangka.

9)

Abrasi Abrasi pantai terutama terjadi pada wilayah yang sempadan pantainya telah dimanfaatkan untuk berbagai kegiatan budidaya. Abrasi ini terjadi dari mulai Kuala Peudada Kecamatan Peudada, Pantai Kuala Raja Kecamatan Jeumpa sampai ke wilayah pesisir Kecamatan Jangka. Selain terjadi abrasi, sebagian wilayah di pantai utara Kabupaten Bireuen terkena intrusi air laut. Hal ini terjadi di sepanjang pantai Kecamatan Samalanga sampai Kecamatan Jangka. akibat penebangan hutan bakau untuk dialihkan fungsinya menjadi kawasan tambak. Hal ini akan berdampak buruk bagi kesehatan penduduk karena tanah di sekitarnya akan mengalami proses salinisasi.

10)

Pemanasan Global (Global Warming) dan Tsunami Naiknya suhu permukaan bumi ( Pemanasan Global ) berdampak pada naiknya permukaan laut rata rata ( Sea Level Rise ). Fenomena naiknya temperatur suhu global ini disebabkan Gas Rumah Kaca ( Green House Gasses ) yang dihasilkan dari Meningkatnya Laju Industrialisasi, Laju Trasportasi dan Pemukiman serta Penggundulan Hutan. Faktor lain yang menyebabkan

LAPORAN AKHIR

II- 69

BRR NAD - Nias


pemanasan global adalah menipisnya lapisan Ozon di kutub. Intergovermental Panel On Climat Change (IPCC) menyimpulkan bahwa akibat dari aktifitas manusia yang melebihi daya dukung lingkungan global, maka telah terjadi kenaikan suhu muka bumi sebesar 0,2-0,5 derajat celcius setiap 10 tahun. Pemanasan global ini akan mengakibatkan kenaikan tinggi muka air laut sebagai konsekwensi mancairnya es di kutub dan pemuaian massa air laut.berbagai studi yang dihimpun oleh IPPC memperlihatkan bahwa telah terjadi kenaikan muka air laut sebesar 1-2 m dalam 100 th terakhir. Skenario naiknya permukaan air laut yang dikeluarkan oleh IPPC-1990, disebutkan adanya tiga skenario kenaikan permukakan air laut yaitu Rendah 31cm di th 2100, Rata-Rata 66 cm di th 2100 cm dan Tinggi 110 cm di th 2100 dengan asumsi kondisi suhu permukaan bumi konstan, beberapa studi yang dilakukakn untuk di Indonesia menggunakan skenario moderat yang kenaikannya sebesar +/- 60 cm hingga abad 21.

Gambar 2.14

Berdasarkan dari skenario IPPC dapat disimpulkan bahwa seluruh daerah pesisir pantai yang meliputi desa tambak dan desa pantai akan tergenang di saat

LAPORAN AKHIR

II- 70

BRR NAD - Nias


pasang dan banjir di saat hujan yang dapat menimbulkan kerusakan dan kehancuran wilayah, sarana dan prasarana yang cukup serius di th 2100, untuk lebih jelasnya lihat tabel : 2.14 dan 2.15
Tabel 2.14 : Kota - kota di Pulau Sumatera yang diperkirakan terkena dampak kenaikan muka air laut (sea level rise) dan banjir
No 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7.

Kota Provinsi
Nanggro Aceh Sumut Riau DKI Jakarta Jabar Jateng Jawa Timur

PKN
- Lhoksumawe Batam Jakarta

PKW
Lhoksumawe Kekasi Cirebon Bangkalan

PKL
Tebingtinggi Lubuk Pakam Dumai Tanggerang Lamongan Gresik Sidoarjo Sampit Sangguminasa Takalar marosa -

Kota Pantai

Semarang Surabaya

8. 9. 10. 11.

Kalbar Kalteng Sulsel Papua

Pontianak Makasar Timika

Pare-pare -

Pare-pare -

Sumber : Review RTRWN, 2002

Tabel : 2.15 Skenario Dampak Global Warming di Pesisir Pantai Kab Bireuen Th 2100 Kecamatan Samalanga S Mamplam Padrah Jeunib Peulimbang Peudada Jeumpa Kuala Peusangan Jangka Gandapura 1 x x x x x x x x x x Potensi Kerusakan 2 3 4 x x x x x x x x x x x x x Wilayah Pesisir,Sarana dan 5 6 7 8 9 x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x Prasarana 10 11 x x x x x x x x x x x x x 12 x x x x x x x x x x

Sumber : Diolah dan Analisis, IPCC (1990) Skenario A Keterangan ( X ) Daerah Kerusakan 1 4 7 10 Abrasi Mangrove Intrusi Air Laut Perikanan Laut danTambak 2 5 8 11 Terumbu Karang Pemukiman penduduk Sedimentasi Transportasi Jalan 3 6 9 12 Estuari PPI dan TPI Eksploitasi sumber daya pesisir Banjir

LAPORAN AKHIR

II- 71

BRR NAD - Nias

F. Penggunaan Lahan Berdasarkan sebarannya, pola penggunaan lahan di Kabupaten Bireuen terbagi atas tiga wilayah yaitu wilayah pantai, wilayah tengah dan wilayah pedalaman. Wilayah pantai di dominasi kegiatan tambak dan sawah, wilayah tengah kegiatan perdagangan dan jasa serta sawah dan wilayah pedalaman kegiatan dominan pertanian tanaman pangan, perkebunan dan kehutanan. F.1 Penggunaan Lahan Eksisting Penggunaan lahan di Kabupaten Bireuen tahun 2004, terdiri dari sawah seluas 22.948 Ha (12,07%), pekarangan seluas 16.625 Ha (8,74%), tegalan/kebun seluas 21.216 Ha (11,16%), ladang/humus seluas 36.309 Ha (19,10%), padang rumput seluas 3.030 Ha (1,59%), hutan rakyat seluas 14.405 Ha (7,58%), hutan negara seluas 20.105 Ha (10,57 %), perkebunan seluas 43.166 Ha (22,70%), rawa-rawa seluas 564 Ha (0,30%), tambak seluas 5.059 Ha (2,66 %), kolam/empang seluas 51 Ha (0,04%) dan sisanya digunakan untuk penggunaan lainnya seluas 6.643 Ha (3,49%). Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel 2.16 dan gambar 2.15.
Tabel 2.16 Luas dan Penggunaan Lahan Di Kabupaten Bireuen Tahun 2004
No 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. 12. Jenis Penggunaan Lahan Sawah Pekarangan Tegalan / Kebun Ladang / Humus Padang Rumput Hutan Rakyat Hutan Negara Perkebunan Rawa rawa Tambak Kolam / Empang Lain - lain Jumlah Luas (Ha) 22.948 16.625 21.216 36.309 3.030 14.405 20.105 43.166 564 5.059 51 6.643 190.121 Persentase (%) 12,07 8,74 11,16 19,10 1,59 7,58 10,57 22,70 0,30 2,66 0,04 3,49 100,00

Sumber : Bireuen Dalam Angka, 2004

F.2 Pola Permukiman Jika dilihat perbandingan jumlah penduduk dengan luas wilayah masih relatif rendah. Konsentrasi penduduk berada di sepanjang jalan utama yang menghubungkan Propinsi D.I. Aceh dengan Ibukota Provinsi Sumatera Utara. Pola permukiman penduduk di
LAPORAN AKHIR

II- 72

BRR NAD - Nias

Gambar 2.15 Peta Penggunaan Lahan

LAPORAN AKHIR

II- 73

BRR NAD - Nias

Kabupaten Bireuen berbentuk linier (garis lurus) dan mengelompok. Pola linier cenderung mengikuti pola jalur jalan, sedangkan pola mengelompok cenderung terdapat di wilayah bagian pedalaman (transmigrasi). Sepanjang jalan utama tersebut berkembang juga kegiatan perdagangan dan jasa sehingga membentuk pusat- pusat pertumbuhan. Gambar 2.16 Foto Citra Landsat Kab. Bireuen Tahun 2004

Arah ke PKN Banda Aceh

Arah ke PKN Medan

G. Wilayah Kelautan dan Pesisir di Kabupaten Bireuen G.1 Kelautan ( Oceanologi ) Lautan di sini merupakan satu kesatuan dari permukaan, kolom air sampai ke dasar dan bawah dasar laut. Adapun batas wilayah lautan dimulai dari batas yurisdiksi di darat (diukur dari rata-rata pasang tinggi atau rendah) sampai ke laut lepas sejauh klaim negara yang bersangkutan. Konvensi Hukum Laut PBB 1982 (UNCLOS 1982) memberikan dasar hukum bagi negara-negara pantai untuk
LAPORAN AKHIR

Arah ke Takengon

II- 74

BRR NAD - Nias


menentukan batasan lautan sampai ZEE dan landas kontinen. Dengan dasar itu, suatu negara memiliki wewenang untuk mengeksploitasi sumber daya yang ada di zona tersebut, terutama perikanan, minyak, gas bumi dan berbagai macam bahan tambang lainnya. Pembahasan masalah kelautan, memang masih ada ketidakjelasan perbedaan antara wilayah pesisir (coastal) dengan wilayah lautan (oceanic). Para ahli oseanografi dengan persepsi global terhadap masalah kelautan, biasanya menganggap seluruh area yang ada dalam batas paparan benua sebagai wilayah pesisir. Sedangkan para pengelola wilayah pesisir biasanya menganggap seluruh area di luar batas wilayah laut teritorial (3 sampai 12 mil laut) sebagai wilayah laut. Cara termudah untuk membedakan antara program pengelolaan pantai dengan program pengelolaan lautan adalah dengan melihat apakah program tersebut mencakup wilayah teresterial. Wilayah teresterial merupakan seluruh daratan yang terdapat di dalam batas garis rata-rata pasang tinggi. Gambar 2.17 Keberadaan Batas-batas dalam Pesisir dan Laut

Dengan demikian, yang membedakan antara program pengelolaan lautan dengan pengelolaan wilayah pesisir adalah pada ruang lingkup pengelolaannya. Program pengelolaan wilayah pesisir mencakup kawasan daratan sampai laut pesisir,
LAPORAN AKHIR

II- 75

BRR NAD - Nias


sedangkan pengelolaan lautan hanya meliputi pengelolaan wilayah laut di luar paparan benua. Untuk dapat merencanakan dan mengelola kegiatan pembangunan sumber daya pesisir dan lautan secara optimal dan lestari, perlu pemahaman yang memadai tentang karakteristik, struktur dan dinamika dari kedua ekosistem tersebut. Ekosistem laut dapat dipandang dari dimensi horizontal dan vertikal Secara horizontal, laut dapat dibagi menjadi dua, yaitu laut pesisir (zona neritik) yang meliputi daerah paparan benua, dan laut lepas (lautan atau zona oseanik). Pemintakatan atau zonasi (zonation) perairan laut dapat pula dilakukan atas dasar faktor-faktor fisik dan penyebaran, komunitas biotanya. Sedangkan pembagian wilayah laut secara vertikal dilakukan berdasarkan intensitas cahaya matahari yang memasuki kolom perairan, mencakup zona fotik dan zona afotik. Perairan laut Kabupaten Bireuen mempunyai bentuk topografi dasar laut yang semakin dalam ke laut lepas ( utara ) dari garis pantai, dan secara umum mempunyai bentuk topografi dasar laut yang hampir sama mulai dari Kecamatan Samalanga di sebelah Barat sampai dengan kecamatan Gandapura disebelah Timur dan sekaligus merupakan batas wilayah laut dan pesisir kabupaten Bireuen. Arus permukaan yang bergerak secara periodik berdasarkan musim barat dan timur yang lazim sama dengan kondisi perairan laut di Indonesia. Pasang surut atau naiknya dan turunnya permukaan air laut mempunyai tabiat Harian Ganda yaitu dalam satu hari terjadi dua kali air pasang dan dua kali air surut dengan kondisi parameter Salinitas air laut ( kadar garam ) 35 0/00. Perairan laut kabupaten Bireuen yang berhadapan langsung dengan Selat Malaka merupakan perairan yang sangat strategis karena merupakan jalur pelayaran internasional yang terpadat didunia, sebagai lintasan kapal-kapal Internasional dari Benua Afrika Benua Asia Benua Amerika dan arah sebaliknya. Perairan laut Bireuen mempunyai tingkat keamanan terpadu dengan Geopolitiknya karena berhadapan dengan tapal batas laut Negara Malaysia di Utara dan dan Negara Thailand, Terhadap Potensi Penangkapan Ikan Secara Ilegal, Penyelundupan, Perompakan kapal, Pencemaran Laut bila terjadi kecelakaan, kapal-kapal yang buang sauh / limbah dilaut.

LAPORAN AKHIR

II- 76

BRR NAD - Nias


Selain diterapkannya prinsip Zona Ekonomi Esklusif ( ZEE ) 200 mil dan Zona

Tambahan ( Contigues Zone ) 24 mil di luar peraiaran teritorial 12 mil ( UU No 20 Tahun 1990, Kewenangan Propinsi di Wilayah Laut 12 Mil Laut, di ukur dari garis pantai dan Kewenangan Kabupaten 4 mil laut. Garis pantai yang dimaksud adalah garis pantai pada saat air rendah surut rendah. UNCLOS 1992 dan UU No 6 1996 Tentang Perairan Indonesia ). telah menambah berdaulat atas sumber daya alam maupun Yuridiski atas Perlindungan Lingkungan, Pelaksanaan Ilmiah Kelautan, Pembangunan Anjungan, Instalasi dan pulau pulau buatan di laut. Letak Geografis Garis Pantai Perairan Kabupaten Bireuen : 05o 13 00 LU 96o 20 30 BT 05o 14 00 LU 96o 55 30 BT

Dengan batas batas adminstrasi sebagai berikut sebelah Timur berbatasan dengan Kabupaten Aceh Utara, Sebelah Barat berbatasan dengan Kabupaten Pidie. Panjang garis pantai Kabupaten Bireuen 80 KM dengan luas Wilayah Perairan Teritorial Kabupaten 592,640 KM2 dan Luas Perairan Teritorial Propinsi 1.779.920 KM2 dengan kewenanagan masing - masing. Dengan demikian luas Wilayah Kabupaten Bireuen 2.493,85 KM2 meliputi Wilayah Darat dan Laut. Untuk lebih jelasnya Lihat
Tabel : 2.17 dan Tabel : 2.18.

Tabel : 2.17 Panjang dan Luas Laut Kewenangan Perairan Kab. Bireuen
Kabupaten / Kota Bireuen Panjang Garis Pantai ( KM ) 80 Luas Laut Kewenangan Kab / Kota 4mil Propinsi 12 mil (KM2) (KM2) 592,640 1.779.920

Sumber : Hasil Analisis, UU No 20 th 1999, UU No 6 th 1996PP


P

Tabel : 2.18 Luas Wilayah Darat dan Laut Kabupaten Bireuen


Kabupaten / Kota Bireuen Luas Wil Darat (KM2) 1.901,21 Luas Wil Laut (KM2) 592,64 Total (KM2) 2.493,85

Sumber : Hasil Analisis, , UU No 20 th 1999, UU No 6 th 1996PPP

LAPORAN AKHIR

II- 77

BRR NAD - Nias

G.2 Pesisir ( Coastel Area ) Mengenai batasan daerah pesisir sampai saat ini belum ada ketentuan mengenai batasan daerah pantai tersebut. Daerah pesisir adalah daerah bertemunya batasan daratan dan batasan lautan, Di dalam Pengelolaan Sumber Daya Wilayah Pesisir dan Kelautan Secara Terpadu dijelaskan bahwa difinisi wilayah pesisir yang digunakan di Indonesia adalah daerah pertemuan antara darat dan laut, dimana kearah darat wilayah pesisir meliputi bagian daratan baik kering maupun terendam air yang masih di pengaruhi sifat-sifat laut seperti pasang surut, angin laut dan perembesan air asin, sedangkan batasan kearah laut meliputi bagian laut yang masih dipengaruhi oleh proses alami yang terjadi di darat seperti adanya sedimentasi dan aliran air tawar maupun yang disebabkan oleh kegiatan manusia di darat seperti penggundulan hutan dan pencemaran Soegiharto (1976). Dalam Rapat kerja MREP ( Marine Resource Evaluation and Planing atau Perencanaan dan Evaluasi Sumberdaya Kelautan,1994) di tetapkan bahwa batasan ke arah laut wilayah pesisir untuk kepentingan praktis dalam proyek MREP adalah sesuai batas laut yang terdapat dalam peta Lingkungan Pantai Indonesia Dengan skala 1 : 50.000 yang telah diterbitkan Bakosurtanal, Sedangkan batas ke arah darat adalah mencakup batas administrasi seluruh desa pantai yang tergolong dalam wilayah pesisir MREP. Pesisir pantai Kabupaten Bireuen terbentang luas mulai dari Kecamatan Samalanga di sebelah Barat sampai dengan Kecamatan Gandapura di sebelah Timur dengan panjang 80 km. Umumnya daerah pesisir kabupaten Bireuen dimanfaatkan oleh masyarakat setempat sebagai tempat Pemukiman Nelayan, Perikanan Tambak, Pembenihan Udang, Pangkalan Pendaratan Ikan (PPI), Tempat Pelelangan Ikan (TPI), Tanaman Kelapa yang tersebar disepanjang pesisir pantai, Wisata Bahari dan juga sebagai sarana transportasi darat seperti jalan raya. Lebih Jelasnya lihat Gambar : 2.18.

LAPORAN AKHIR

II- 78

BRR NAD - Nias

Gambar 2.18 Gambaran Umum Penggunaan Lahan Pesisir Kab. Bireuen

Pada saat terjadinya bencana alam gempa yang disusul terjadinya gelombang tsunami 26 Desember 2004, daerah pesisir pantai yang paling parah terkena dampak dari hantaman gelombang tsunami tersebut. Dari 17 kecamatan yang ada di Kabupaten Bireuen, 11 kecamatan yang berbatasan langsung dengan laut dan pesisir pantai, dan 112 desa atau 20,29 %, termasuk desa pesisir dengan luas wilayah daerah pesisir 24.845 Ha ( 13,07 % ) . Kecamatan tersebut adalah ; Kecamatan Samalanga, Simpang Mamplam, Padrah, Jeunieb, Peulimbang, Peudada, Jeumpa, Kuala, Jangka, Kuta Blang, Gandapura. Untuk Kecamatan Peusangan tidak berbatasan langsung dengan laut, tetapi enam desanya termasuk dalam desa pesisir. Secara garis besar luas wilayah Bireuen dapat di bagi tiga wilayah, yaitu wilayah darat 66,26 %, wilayah laut 23,76 % wilayah pesisir 9,98 % . Untuk lebih jelasnya lihat gambar : 2.19. dan

LAPORAN AKHIR

II- 79

BRR NAD - Nias

Gambar : 2.19 - Luas Wilayah Darat, Laut dan Pesisir Bireuen

P esisir 9,98 % Darat 66,26 % Laut 23,76 %

G.3 Potensi Sumber Daya Hayati i). Ekosistem Hutan Bakau ( Mangrove ) Komunitas hutan Mangrove sebagai daerah penyanggah ( Buffer Zone ) di daerah sepanjang pesisir pantai kabupaten Bireuen hampir tidak dijumpai / Tandus, hanya di daerah Kecamatan Samalanga di Desa Pineung Siribee dan Kampung Baro. Hutan mangrove banyak tumbuh dan hidup di daerah pesisir yang bermanfaat sebagai daerah Ekosistim Pesisir atau berkembang biaknya beberapa Biota laut karena banyak mengandung unsur hara ( Nutrien ) yang melimpah bagi kehidupan Biota laut dan sebagai tempat memijah, Pelindung atau Penahan gelombang air laut yang menyebabkan terjadinya Abrasi pantai dan menahan atau mengurangi efek gelombang Tsunami yang bergerak ke arah pesisir pantai, daerah penyanggah (Buffer Zone) atau penetralisir pencemaran air laut dan sebagai Daerah Resapan Intrusi Air Laut. Di daerah timur pesisir pantai Kab Bireuen tepatnya Kecamatan Kuala, Desa Ujung Blang dan Kuala Raja terdapat komunitas hutan mangrove hasil dari rehabilitasi. untuk lebih jelasnya Lihat Tabel 2.19

LAPORAN AKHIR

II- 80

BRR NAD - Nias


Tabel 2.19 : Kondisi Komunitas Hutan Mangrove di Pesisir Perairan Bireuen
Potensi Ekosisitim Hutan Mangrove Kecamatan
Baik (Ha) Rusak Ringan (Ha) Rusak Berat (Ha) Tandus Luasan (Ha) Hasil Rehabilitasi Tahun Jlm Btg Jenis Pohon

Samalanag S. mamplam Jeunieb Peulimbang Jeumpa Peudada Kuala Jangka Kuta Blang Gandapura

1,00 -

x x x x x x x x x x

1,5 -

2004 -

15.000 -

Bakau bakau -

Sumber : Dinas Kelautan dan Perikanan Kab Bireuen, 2005

ii). Ekosistim Terumbu Karang ( Coral Reef )

Komunitas Terumbu Karang dapat dipertimbangkan seperti Hutan Tropika di laut. Di Wilayah Perairan Kabupaten Bireuen dapat ditemui di perairan laut kecamatan Simpang Mamplam di desa Ulee Kareung, Blang Panyah dan Calok, umumnya terumbu karang hidup di perairan dangkal yang mempunyai kandungan oksigen tinggi, jernih dan bebas dari partikel karena sedimentasi. Umumnya nelayan menebar perangkap jaring di sekitar terumbu karang yang merupakan tempat biota laut untuk mencari makan, berlindung, berkembang biak dan tempat bagi beberapa jenis ikan yang bukan asli dari terumbu karang (non reef species) untuk mencari mangsa di sekitar terumbu karang. Terumbu Karang sendiri merupakan koloni binatang dengan laju pertumbuhan antara 0,1 cm/tahun untuk karang masif dan 10 cm/tahun untuk karang cabang.
iii). Ekosistim Estuaria

Ekosisitim

Estuaria

yang

kaya

akan

ke

anekaragaman

hayati

dengan

karakteristiknya air payaunya yang disebabkan dari percapuran ( Mixing ) air laut yang bersalinitas (kadar garam) dan air darat yang tawar,beberapa jenis biota laut yang memanfaatkan daerah ini sebagai tempat memijah dan mengasuh anaknya Estuaria sangat rentan terhadap pencemaran lingkungan, di daerah muara sungai
LAPORAN AKHIR

II- 81

BRR NAD - Nias


samalanga nelayan setempat menebar jaring perangkap didepan pintu masuk TPI Samalanga, di kabupaten Bireuen terdapat 23 Estuaria.
iv). Ekosistim Padang Lamun ( Sea Gress )

Ekosisitim Padang Lamun merupakan produsen primer beberapa jenis biota laut di perairan laut dangkal Bireuen. Produktifitas padang lamun sangat tinggi, dapat mencapai lebih dari 5.000 GramCal / M2 / Tahun. untuk Nelayan umumnya memanfatkan daerah ini mencari ikan Dengan menyebar jaring

perangkap. Ikan Baronang, Udang, Bibit Kerapu, Kepiting (Rajungan) memanfatkan daerah ini untuk mencari makan dan berkembang biak. Tempat tumbuhnya biasanya adalah dasar pasir, pasir berlumpur, lumpur dan kerikil karang.
v). Ekosistim Pantai Pasir

Sepanjang pesisir pantai Kab. Bireuen umumnya subtrat dasarnya adalah pasir. Berbagai Crustacea / Kepiting membutuhkan ekosisitim pantai pasir ini sebagai tempat berkembang biak ( bertelur dan menetas ).
vi). Sumber Daya Perikanan

Potensi sumber daya perikanan di Kabupaten Bireuen meliputi perikanan tangkap dan budidaya perikanan tambak.
1. Perikanan Tangkap

Produksi perikanan tangkap nelayan kab Bireuen dalam kurun waktu 2000 sampai dengan 2003 mencapai 60.990,41 ton dengan beberapa jenis ikan baik yang pelagis maupun Demersial dihasilkan oleh nelayan diantaranya ikan Tongkol, Cakalang, Tuna, Tengiri, Bawal, Kembung, Kakap, Cucut, Pari, Udang dll, Pangkalan Pendaratan Ikan (PPI) dan Tempat Pelelengan Ikan (TPI) sebagai tempat akhir dari nelayan untuk menjual hasil tangkapan nya, diantaranya PPI
Jeunieb, PPI Jangka, PPI Peudada. Dermaga PPI Peudada adalah yang terbesar

dengan

sarana dan prasarana yang cukup, termasuk tempat pembuatan Es,

SPBU,TPI, Balai Pelatihan Nelayan. PPI Jeunib dan PPI Jangka Kondisinya perlu

LAPORAN AKHIR

II- 82

BRR NAD - Nias


pembenahan Begitu juga Tempat Tempat Pelelengan Ikan diataranya TPI Samalanga, TPI Jeunieb, TPI Kuala Raja, TPI Jangka dan direncanakan akan dibangun beberapa lagi yaitu TPI Gandapura, TPI Peulimbang dan TPI Simpang Mamplam.
2. Budi Daya Perikanan Tambak

Produksi budi daya Perikanan Tambak di kabupaten Bireuen dalam kurun waktu tahun 2000 sampai dengan 2003 mencapai 29.406,01 ton, dalam kurun waktu tersebut luas areal tambak bertambah 551 Ha. hasil dari budi daya tersebut adalah Udang, Bandeng, Kepiting Bakau, Kakap Putih dll.
G.4. Potensi Sumber Daya Non Hayati i). Pasir Besi

Pasir Besi yang umumnya berwarna hitam terdiri dari mineral Magnetit

dan

Ilminit, banyak ditemukan di pesisir pantai kab Bireuen tepatnya di daerah Mon Keulayu, Kecamatan Gandapura dengan kadar mineral Ferum ( Fe ) 68 %, Pasir Besi banyak digunakan sebagai bahan dasar logam besi dan sebagai mineral pencampuran dalam industri semen.
G.5. Potensi Jasa Kelautan i) Wisata Bahari

Obyek Wisata Bahari Kuala Raja Kecamatan Kuala adalah satu-satunya yang ada di pesisir pantai Kabupaen Bireuen, dengan morfologi pantai yang umumnya berpasir dan perairannya yang masih bersih dapat menarik Investor dalam mengelolanya .
G.6 Permasalahan Pesisir Pantai i). Abrasi

Abrasi Pantai di wilayah pesisir perairan Kabupaten Bireuen terbentang sepanjang pesisir pantai Bireuen dari kecamatan Samalanag sampai Gandapura, Abrasi pantai di perairan Bireuen sudah sangat memprihatinkan kerena banyak rumah dan tempat pembenihan udang di sekitar pantai sudah terabrasi.

LAPORAN AKHIR

II- 83

BRR NAD - Nias


ii). Akresi

Akresi tanah timbul adalah di sebabkan sedimentasi yang di pengaruhi oleh arus pasang surut yang membawa material oleh adanya Abrasi di suatu tempat,daerah yang terakresi dapat ditemui di pesisir Kecamatan Gandapura dan dapat dijumpai di pintu masuk peraiaran Pelabuhan PPI Peudada dan PPI Jeniueb yang membentuk tanah timbul dan berpindah tempat karena pengaruh musim ( Barat dan Timur ).
iii). Kerusakan Hutan Bakau ( Mangrove )

Komunitas penyanggah sepanjang

hutan daerah pesisir

mangrove sekitarnya pantai Kab.

sebagai (Buffer Bireuen

kawasan Zone) di kondisi

mangrove sudah sangat memperihatinkan dan jarang dijumpai. Sebagian tumbuh hanya kelompok kecil mangrove yang jumlahnya kecil di banding dengan luas daerah pesisir Bireuen. Kerusakan kawasan juga disebabkan adanya degradasi lingkungan yaitu perluasan kawasan menjadi daerah Pemukiman dan pertambakan budi daya udang dan sektor lainnya dalam kurun waktu Tahun 2000 sampai dengan 2003 luas tambak bertambah 551 ha dari 4.549,5 ha di tahun 2000 .
iv). Sedimentasi

Sedimentasi di sepanjang perairan Kabupaten Bireuen relatip kecil, umumnya hanya di muara-muara sungai, hal ini sebabkan karena adanya transformasi sedimen dari sungai-sungai akibat dari aktifitas kegiatan di darat dan banjir. Sungai yang bermuara di kab. Bireuen dapat dilihat dalam tabel 2.20. Di kanan kiri muara sungai banyak terjadi erosi, hasil endapan dari erosi tersebut sebagian diendapkan ke laut dan sebagian di muara sungai sehingga terjadi pendangkalan di pintu masuk muara seperti Bottle Neck atau penyempitan di daerah muara yang dimanfatkan untuk alur alur keluar masuknya perahu nelayan di Dermaga Pangkalan Pendaratan Ikan (PPI) yang sebagian besar berada di sekitar muara. Penyempitan di muara sungai tersebut juga menyebabkan Banjir di sekitarnya.

LAPORAN AKHIR

II- 84

BRR NAD - Nias


Tabel : 2.20 Sungai-Sungai Yang Bermuara di Laut Perairan Bireuen
Kondisi Kecamatan
Samalanga

Rencana Pengerukan ( X )
2005 2006 x x x x 5 2007 x x 2 2008 x 1 2009 x x x x 4

Kuala / Muara
K.Sukon K.Samalanga K.Arongan K.Surien K.Tambue K.Cangkoy K.Padrah K.Jeunieb K.Nalan K.peulimbang K.Peudada K.Bugeng K.Kukue K.Juempa K.Krueg Juli K. Raja K.Jangka K.Paon K.Ceurape K.Lapang K.Monkeurayu K.abu K.Bugeng Jumlah

2000 Dangkal Baik Dangkal Dangkal Dangkal Dangkal Dangkal Normal Dangkal Normal Dangkal Dangkal Dangkal Dangkal Dangkal Dangkal Dangkal Normal Dangkal Dangkal -

2005 Dangkal Dangkal Dangkal Dangkal Dangkal Dangkal Dangkal Dangkal Dangkal Dangkal Dangkal Dangkal

Padrah Jeunieb Peulimbang Peudada

Juempa

Jangka

Gandapura

Sumber : Data Analisis, Dinas Kelautan dan Perikanan 2000,2005

2.3.3 SOSIAL EKONOMI A. Jumlah dan Kepadatan Penduduk

Jumlah penduduk wilayah Kabupaten Bireuen pada tahun 2003 (Sebelum Tsunami) sebesar 361.182 jiwa dan pada tahun 2005 (Setelah Tsunami) sebesar 356.931 jiwa. Jumlah penduduk pada tahun 2005 yang terbesar terdapat di Kecamatan Kota Juang sebesar 43.077 jiwa dan terkecil di Kecamatan Pandrah sebesar 6.668 jiwa. Kepadatan penduduk terbesar terdapat di Kecamatan Kuala sebesar 908,98 jiwa per km2 dan terkecil di Kecamatan Pandrah sebesar 52.43 jiwa per km2. Konsentrasi penduduk di wilayah Kabupaten Bireuen cenderung di wilayah bagian tengah, khususnya di Kecamatan Kota Juang yaitu mencapai 12,07 % dari jumlah penduduk Kabupaten Bireuen. Hal ini terjadi sebagai akibat letak wilayah/kotanya yang sangat strategis, sehingga banyaknya penduduk pendatang. Selain itu Kota Bireuen telah lebih dulu berkembang dibandingkan dengan kota-kota lainnya.
LAPORAN AKHIR

II- 85

BRR NAD - Nias


Tabel 2.21 - Jumlah Penduduk dan Kepadatan Penduduk Kabupaten Bireuen Menurut Kecamatan Tahun 2005
Luas Wilayah (Km) 149,31 166,09 127,18 154,82 209,22 245,26 76,11 182,57 91,94 17,38 105,76 51,47 78,64 82,13 36,97 75,57 50,79 1.901,21 Jumlah Penduduk 23,390 20,107 6,668 19,421 8,980 24,196 23,840 28,592 43,077 15,798 24,730 42,102 13,071 10,391 13,375 19,321 19,872 356,931 Kepadatan Penduduk (Jiwa/km) 156,65 121,06 52,43 125,44 42,92 98,65 313,23 156,61 468,53 908,98 233,83 817,99 166,21 126,52 361,78 255,67 391,26 187,74

No

Kecamatan

KK

1 Samalanga 2 Simpang Mamplang 3 Pandrah 4 Jeunieb 5 Plimbang 6 Peudada 7 Juli 8 Jeumpa 9 Kota Juang 10 Kuala 11 Jangka 12 Peusangan 13 Peusangan Selatan 14 Peusangan Siblah Krueng 15 Makmur 16 Gandapura 17 Kuta Blang Kabupaten Bireuen
Sumber : Podes 2005, BPS

5,351 4,936 1,691 4,489 2,135 5,515 5,515 8,049 9,164 3,328 5,178 9,445 2,987 2,529 3,038 4,373 4,102 81,953

Tabel 2.22 - Perkembangan Penduduk Kabupaten Bireuen Tahun 1999-2003 (Sebelum Tsunami)
NO. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 KABUPATEN/KOTA Samalanga Simpang Mamplam Pandrah Jeunieb Plimbang Peudada Juli Jeumpa Kota Juang Kuala Jangka Peusangan Peusangan Selatan Psn. Sblah Krueng Makmur Gandapura Kuta Blang Kabupaten Bireuen JUMLAH PENDUDUK (JIWA) 1999 41.958 36.990 22.850 107.161 84.287 13.524 36.581 343.351 2000 42.241 7.527 29.682 23.025 25.984 82.360 22.893 61.734 13.530 36.844 345.820 2001 41.843 7.592 29.809 23.305 26.573 85.153 23.195 62.014 13.647 36.947 350.078 2002 45.635 7.654 30.171 23.580 26.733 87.447 23.758 63.083 13.833 37.176 359.070 2003 45.953 7.715 30.472 23.597 24.859 87.884 23.949 63.606 13.961 39.186 361.182 DISTRIBUSI RATA-RATA (%) 12,37 2,17 8,93 6,61 7,40 25,58 6,66 19,02 3,89 10,61 100,00

Sumber : Kabupaten Bireuen dalam Angka Tahun 2003, BPS Kabupaten Bireuen
LAPORAN AKHIR

II- 86

BRR NAD - Nias


Tabel 2.23 - Perkembangan Penduduk Kabupaten Bireuen Tahun 2004-2005 (Setelah Tsunami)
NO. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 KABUPATEN/KOTA Samalanga Simpang Mamplam Pandrah Jeunieb Plimbang Peudada Juli Jeumpa Kota Juang Kuala Jangka Peusangan Peusangan Selatan Peusangan Siblah Krueng Makmur Gandapura Kuta Blang Kabupaten Bireuen JUMLAH PENDUDUK (JIWA) 2004 23.780 20.714 7,341 18.885 9.099 21.662 24.761 27.832 41.820 14.800 24.726 42.977 11.705 9.194 12.975 20.458 19.157 351.856 2005 23,390 20,107 6,668 19,421 8,980 24,196 23,840 28,592 43,077 15,798 24,730 42,102 13,071 10,391 13,375 19,321 19,872 356.931 DISTRIBUSI RATA-RATA (%) 6,66 5.76 1,98 5,40 2,55 6,47 6,86 7,96 11,98 4,32 6,98 12,00 3,50 2,76 3,72 5,61 5,51 100,00

Sumber : Kabupaten Bireuen dalam Angka Tahun 2005, BPS Kabupaten Bireuen

B. Pertumbuhan Penduduk

Selama 5 (lima) tahun terakhir rata-rata pertumbuhan penduduk di Kabupaten Bireuen rata-rata sebesar 1,28 % per tahun. Pertumbuhan penduduk terbesar terdapat di Kecamatan Samalanga yaitu sebesar 2,37 % per tahun, sedangkan di Kecamatan Peusangan terjadi penurunan penduduk sebesar -5,94 % per tahun. Lihat
Tabel 2.24. C. Jumlah Penduduk Berdasarkan Kelompok Umur

Berdasarkan komposisi penduduk Kabupaten Bireuen pada Tahun 2004 menurut kelompok umur, terlihat bahwa usia produktif (15 - 54 Tahun) lebih besar dibandingkan dengan penduduk usia non produktif. Jumlah penduduk produktif sebesar 188.016 jiwa (51,55 %) dan Jumlah penduduk non Produktif sebesar 176.676 jiwa (48,45 %). Besarnya jumlah penduduk produktif menunjukkan besarnya jumlah tenaga kerja yang tersedia. Lihat Tabel 2.25

LAPORAN AKHIR

II- 87

BRR NAD - Nias


Tabel 2.24 - Laju Pertumbuhan Penduduk Per Kecamatan Di Kabupaten Bireuen Tahun 1999 2003
Laju Pertumbuhan Penduduk No Kecamatan 1999/2000 2000/2001 0.67 -19.76 0.77 -23.14 -26.76 0.04 0.72 0.72 -0.94 0.86 0.43 1.21 2.27 3.39 1.31 0.45 0.86 0.28 1.23 2001/2002 9.06 0.82 1.21 1.18 0.60 2.69 2.43 1.72 1.36 0.62 2.57 2002/2003 0.70 0.80 1.00 0.07 -7.01 0.50 0.80 0.83 0.93 5.41 0.59 Distribusi Rata-Rata (%) 2.37 0.83 -4.28 0.81 -1.38 -4.14 1.51 -5.94 0.80 1.76 1.28

1 Samalanga 2 Simpang Mamplang 3 Pandrah 4 Jeunieb 5 Plimbang 6 Peudada 7 Juli 8 Jeumpa 9 Kota Juang 10 Kuala 11 Jangka 12 Peusangan 13 Peusangan Selatan 14 Peusangan Siblah Krueng 15 Makmur 16 Gandapura 17 Kuta Blang Kabupaten Bireuen

Tabel 2.25 - Jumlah Penduduk Menurut Kelompok Umur Di Kabupaten Bireuen Tahun 2004
No Kelompok Umur 1 00-04 2 05-09 3 10-14 4 15-19 5 20-24 6 25-29 7 30-34 8 35-39 9 40-44 10 45-49 11 50-54 12 55-59 13 >60 Jumlah Jumlah Penduduk (Jiwa) 43,169 49,808 47,187 41,885 32,628 28,963 24,801 19,883 15,525 13,516 10,815 6,457 17,018 364,692 Prosentase (%) 1,211 1,339 1,321 1,176 9,22 8,22 7,08 5,73 4,53 3,98 3,24 2,05 4,94 100,00

Sumber : Data Statistik Kab. Bireuen Tahun 2004

LAPORAN AKHIR

II- 88

BRR NAD - Nias


D. Jumlah Penduduk Berdasarkan Mata Pencaharian

Berdasarkan komposisi penduduk menurut lapangan usaha pada Tahun 2004, sebagian besar penduduk Kabupaten Bireuen bekerja di sektor pertanian yang mencapai 128.494 jiwa (65,55 %), disusul sektor konstruksi sebanyak 7.266 (3,71 %), Perdagangan sebesar 6.464 jiwa (3,30 %), serta selebihnya bekerja disektor jasa, angkutan, buruh dan lain sebagainya.
Tabel 2.26 - Jumlah Penduduk Menurut Lapangan Pekerjaan Di Kabupaten Bireuen Tahun 2004
No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 Jenis Pekerjaan Pertanian Pertambangan Industri Listrik Konstruksi Perdagangan Pengangkutan Keuangan dan Perbankan Jasa Pegawai Negeri TNI dan Polri Lain-lain JUMLAH Jumlah Penduduk (Jiwa) 128.494 1.935 5.876 671 72.66 6.464 1.962 421 1.627 4.399 171 36.752 196.038 Prosentase (%) 65.66 0.99 3.00 0.34 3.71 3.30 1.00 0.21 0.83 2.24 0.09 18.75 100.00

Sumber : Data Statistik Kab. Bireuen Tahun 2004

E. Struktur Ekonomi

Secara sektoral, perekonomian Kabupaten Bireuen di dominasi oleh sektor pertanian, yang memberikan kontribusi terhadap PDRB Kabupaten Bireuen (berdasarkan harga berlaku pada tahun 2002) sebesar 65,35 %, kemudian disusul oleh sektor perdagangan, hotel dan restoran sebagai penyumbang kedua terbesar yaitu sebesar 13,29 %. Dilihat dari perkembangannya, kontribusi sektor pertanian mengalami penurunan cukup signifikan. Hal yang sama juga terjadi untuk sektor pengangkutan dan komunikasi, jasajasa, industri pengolahan, listrik dan air minum, serta sektor bangunan/kontruksi. Sedangkan kontribusi sektor perdagangan, hotel dan restoran serta sektor keuangan, persewaan dan jasa perusahaan mengalami peningkatan walaupun relatif kecil. Pada

LAPORAN AKHIR

II- 89

BRR NAD - Nias


tabel 2.27, dapat dilihat perbandingan struktur ekonomi Kabupaten Bireuen dan

Provinsi NAD atas dasar harga berlaku (ADHB) Tahun 1999 - 2002.
Tabel 2.27 - Perbandingan Struktur Ekonomi Kabupaten Bireuen Dan Provinsi NAD Menurut Lapangan Usaha Atas Dasar Harga Berlaku (ADHB) Tahun 1999 2002
Lapangan Usaha (1) 1. Pertanian 2. Pertambangan dan Penggalian 3. Industri Pengolahan 4. Listrik dan Air Minum 5. Bangunan 6. Perdagangan, hotel dan Restoran 7. Pengangkutan dan Komunikasi 8. Keuangan, Persewaan dan Jasa Perusahaan 9. Jasa-jasa
Sumber : BPS Kabupaten Bireuen

1999 (3) 66.22 1.25 1.88 0.27 3.08 12.46 8.16 0.38 6.31

Kabupaten Bireuen 2000 2001 (4) (5) 65.25 65.10 1.37 1.52 1.81 1.73 0.25 0.26 2.84 2.60 12.80 13.12 8.10 8.06 1.36 1.63 6.21 5.79

2002 (6) 65.35 1.65 1.67 0.25 2.38 13.29 8.09 1.89 5.44

Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam 1999 2000 2001 2002 (8) (9) (10) (11) 57.15 56.89 57.08 56.44 1.12 1.11 1.10 1.11 10.83 10.83 10.08 10.39 0.35 0.32 0.32 0.31 4.50 4.51 4.43 4.51 10.83 11.09 11.21 11.47 8.92 8.79 8.71 8.91 0.95 1.36 2.14 1.90 5.36 5.08 4.93 4.96

Besarnya kontribusi yang disumbangkan oleh sektor pertanian tidak terlepas dari dukungan kelima sub sektornya yaitu sub sektor tanaman pangan, perkebunan, peternakan, kehutanan, dan perikanan. Pada tahun 2002 sub sektor pertanian yang paling menonjol adalah sub sektor tanaman pangan yang memberi kontribusi terhadap PDRB Kabupaten Bireuen sebesar 25,68 % dan terhadap sektor pertanian sebesar 39,29 %, diikuti oleh sub sektor perikanan yang memberi kontribusi terhadap PDRB Kab. Bireuen sebesar 18,00 % dan terhadap sektor pertanian 27,54 %.
Tabel 2.28 - Distribusi Persentase Sektor Pertanian Menurut Sub Sektor Atas Dasar Harga Berlaku Tahun 2001 2002
Lapangan Usaha Tanaman bahan makanan Tanaman perkebunan Peternakan Kehutanan Periknan Pertanian
Sumber : BPS Kabupaten Bireuen

Terhadap PDRB Bireuen 2001 26.94 4.11 16.77 0.88 16.40 65,10 2002 25.68 3.94 16.89 0.85 18.00 65,25

Terhadap sektor Pertanian 2001 41,38 6,31 25,77 1,35 25,19 100,00 2002 39.29 6.03 25.84 1.30 27.54 100,00

Dari uraian singkat diatas dapat diketahui bahwa ada beberapa sektor yang kurang mendorong pertumbuhan PDRB Kabupaten Bireuen secara keseluruhan. Pada tabel di
LAPORAN AKHIR

II- 90

BRR NAD - Nias


bawah ini dapat dilihat gambaran mengenai hubungan antara peranan sektoral dengan laju pertumbuhan menurut sektor.
Tabel 2.29 - Hubungan Antara Peranan Sektoral Dengan Laju Pertumbuhan PDRB Kabupaten Bireuen Tahun 2002
LAJU PERTUMBUHAN Di atas rata-rata PDRB (2,26%) >10% PERANAN TERHADAP TOTAL PDRB 1-9 % - Pengangkutan dan Komunikasi - Keuangan Persewaan dan Jasa Perusahaan - Pertambangan dan Penggalian - Industri Pengolahan - Bangunan dan Konstruksi - Jasa-jasa <1%

Di bawah rata-rata PDRB (2,26%)

- Pertanian - Perdagangan, hotel dan restoran -

- Listrik dan air minum

Sumber : BPS Kabupaten Bireuen

Dari tabel tersebut diperoleh gambaran bahwa sektor yang berperan besar (diatas 10%) dan tumbuh dibawah rata-rata PDRB Kabupaten Bireuen adalah sektor pertanian serta sektor perdagangan, hotel dan restoran. Berikutnya sektor yang berperan menengah ke bawah, namun laju pertumbuhannya diatas rata-rata PDRB Kabupaten Bireuen adalah sektor pengangkutan dan komunikasi serta sektor keuangan, persewaan dan jasa perusahaan.
F. Potensi Perekonomian

Potensi perekonomian sektoral di Kabupaten Bireuen terdiri dari pertanian tanaman pangan, perkebunan, perikanan, peternakan, kehutanan, perindustrian, pertambangan dan pariwisata.
Tanaman Pangan :

Pengembangan pertanian tanaman pangan di Kabupaten Bireuen diprioritaskan pada bagian Barat wilayah ini sebagai sentral pengembangan komoditi tanaman pangan, meliputi padi sawah, palawija dan sayur-sayuran. Hal ini didukung oleh agroklimat, tingkat kesuburan tanah dan tingkat aksesibiltasnya.

LAPORAN AKHIR

II- 91

BRR NAD - Nias

Tanaman padi merupakan jenis tanaman yang dihasilkan oleh setiap kecamatan di wilayah Kabupaten Bireuen. Produksi padi terbesar pada tahun 1999 dihasilkan oleh Kecamatan Jeumpa yaitu sebesar 12.277,67 ton atau mencapai 28,33 % dari jumlah keseluruhan produksi. Adapun tanaman palawija yang dihasilkan di Kabupaten Bireuen terdiri dari jagung, kedelai, ubi jalar, ubi kayu, kacang tanah, tomat, terong, cabe, kacang panjang dan kacang hijau. Dari kesemuanya itu, kedelai merupakan yang paling dominan dengan produksi 58.233,92 ton dan yang memberikan kontribusi produksi terendah adalah terong yaitu sebesar 32,03 ton.
Tanaman Buah-buahan :

Budidaya tanaman buah-buahan di Kabupaten Bireuen secara umum tersebar di wilayah bagian tengah dan selatan Wilayah Kabupaten Bireuen dengan jenis giri matang, pisang, durian, rambutan, langsat dan mangga. Dari kesemua jenis buahbuahan tersebut, pisang merupakan tanaman yang paling luas diusahakan yaitu 732 Hektar dengan produksi 4.590 ton. Sedangkan Sawo merupakan jenis yang paling sedikit diusahakan yaitu seluas 68 Hektar dengan produksi sebesar 158,50 ton.
Perkebunan :

Areal

perkebunan

di

Kabupaten

Bireuen

cenderung

berada

di

wilayah

pengembangan pedalaman/pegunungan. Perkebunan terdiri dari perkebunan rakyat dan perkebunan swasta. Jenis tanaman perkebunan yang menjadi komoditi andalan Kabupaten Bireuen adalah kakao, pinang dan kelapa hybrida. Tanaman perkebunan rakyat yang diusahakan di Wilayah Kabupaten Bireuen terdiri dari kelapa, kelapa sawit, pinang, kakao, kemiri, kopi dan kapuk. Dari kesemuanya itu, kelapa merupakan tanaman yang paling dominan diusahakan oleh rakyat dengan produksi 35.674,45 ton atau mencapai 79,98 % dari keseluruhan produksi tanaman perkebunan dan yang paling sedikit adalah tanaman kapuk dengan kontribusi produksi sebesar 0,96 % atau 426,10 ton.
Perikanan :

Sebagian Wilayah Kabupaten Bireuen berada di wilayah pantai sehingga perikanan yang berkembang dominannya tambak dan perikanan laut. Tambak yang tersebar di
LAPORAN AKHIR

II- 92

BRR NAD - Nias


sepanjang pantai Utara mempunyai luas sekitar 5.194,18 Ha dengan tingkat produksi aebesar 3.817,10 ton.
Peternakan :

Kegiatan peternakan yang berkembang masih bersifat perorangan dengan jenis hewan ternaknya sapi, kerbau, kambing dan jenis ternak unggas lainnya. Pada Tahun 2004 jumlah populasi sapi sebesar 129.763 ekor, kerbau sebanyak 16.647 ekor, kambing sebanyak 77.839 ekor, domba sebanyak 20.659 ekor, kuda sebanyak 14 ekor, ayam sebanyak 496.158 ekor dan itik sebanyak 191.710 ekor. Kegiatan peternakan ini tersebar di setiap kecamatan di Wilayah Kabupaten Bireuen.
Kehutanan :

Sebagian wilayah Kabupaten Bireuen adafah hutan sehingga mempunyai pengaruh yang cukup besar terhadap kelestarian lingkungan. Sebaran wilayah yang mempunyai potensi kehutanan di Kabupaten Bireuen tersebar pada wilayah bagian selatan yang berbatasan dengan Kabupaten Pidie dan Aceh Tengah meliputi. Kecamatan Samalanga dan Pandrah.
Pertambangan dan Energi :

Jenis bahan tambang yang banyak tersebar di wilayah Kabupaten Bireuen adalah dari kelompok bahan tambang galian C berupa andesit, batu pasir, pasir sungai, kerikil, sirtu, koral, batu apung dan sebagainya yang banyak dimanfaatkan untuk pembangunan. Bahan tambang ini tersebar hampir di tiap kecamatan dalam wilayah Kabupaten Bireuen.
Pariwisata :

Obyek-obyek wisata di Kabupaten Bireuen antara dapat dikelompokkan menjadi tiga bagian yaitu wisata alam, wisata budaya dan wisata pantai. Objek wisata alam yang terdapat di Kabupaten Bireuen yang telah teridentifikasi dan dapat dikembangkan terdiri dari 8 objek diantaranya Pemandian Krueng Batee llik, Pemandian Krueny Simpo, Panorama Cot Panglima, lrigasi Teupin Mane, Paya Kareueng, Irigasi Pante Lhong, Air Terjun Ciraceuk dan Paya Nie. Objek wisata ini banyak dikunjungi masyarakat yang berasal dari kota Lhokseumawe dan sekitarnya.

LAPORAN AKHIR

II- 93

BRR NAD - Nias

Sementara wisata budaya terdiri dari 15 objek diantaranya Tugu Perjuangan Batee llik, Rumah Adat dan Makam Tgk. Awe Geutah, Mesjid Kuta Blang dan peninggalan sejarah lainnya. Sedangkan wisata pantai yang baru teridentifikasi meliputi Pantai Reuleng Manyang di Calok Kecamatan Samalanga dan Pantai Ujong Blang di Kecamatan Jeumpa.
Perdagangan :

Kabupaten Bireuen mempunyai potensi besar dibidang perdagangan karena letaknya yang sangat strategis di persimpangan jalan menuju ke Kabupaten Aceh Tengah. Sehingga secara otomatis, kebutuhan penduduk sebagian Wilayah Kabupaten Aceh Tengah di suplai dari Kota Bireuen. Dengan demikian perkembangan sektor perdagangan di Wilayah Kabupaten Bireuen di masa-masa yang akan datang menjadi suatu sektor ekonomi yang sangat potensial untuk pendapatan wilayah ini. Dengan berkembangnya sektor perdagangan, maka akan menstimulasi perkembangan sektor-sektor lainnya sebagai dampak dari pengaruh perkembangan sektor perdagangan dan jasa.
G. Pertumbuhan Ekonomi

Tingkat pertumbuhan ekonomi di Kabupaten Bireuen yang secara keseluruhan dihitung dari PDRB merupakan rata-rata tertimbang dari tingkat pertumbuhan sektoralnya. Apabila sebuah sektor mempunyai kontribusi besar dan pertumbuhannya melambat, maka dalam hal ini akan menghambat tingkat pertumbuhan secara keseluruhan. Sebaliknya apabila sebuah sektor mempunyai kontribusi yang besar terhadap totalitas perekonomian, maka apabila sektor tersebut mempunyai tingkat pertumbuhan tinggi, maka sektor tersebut otomatis akan menjadi pemicu pertumbuhan ekonomi secara keseluruhan. Pada tahun 1999 perekonomian Kabupaten Bireuen mulai menunjukkan peningkatan walaupun pertumbuhannya masih -0,56 %, namun bila dibandingkan dengan laju pertumbuhan ekonomi Provinsi NAD yang -1,33 %, perekonomian Kabupaten Bireuen relatif lebih baik. Peningkatan ini terus berlanjut hingga tahun 2002, dimana pertumbuhan ekonomi Kabupaten Bireuen sudah mencapai 2,26 %, sedangkan pada tahun yang sama pertumbuhan ekonomi Provinsi NAD relatif lebih baik yaitu 3,16 %.

LAPORAN AKHIR

II- 94

BRR NAD - Nias

Tabel 2.30 - PDRB Kabupaten Bireuen Menurut Lapangan Usaha Atas Dasar Harga Konstan Tahun 1993 2002 (Jutaan Rupiah)
LAPANGAN USAHA (1) 1.PERTANIAN 1.1. Tanaman Bahan Makanan 1.2. Tanaman Perkebunan 1.3. Peternakan 1.4. Kehutanan 1.5. Perikanan 2.PERTAMBANGAN DAN PENGGALIAN 2.1. Pertambangan Minyak dan Gas 2.2. Penggalian dan Penggaraman 3.INDUSTRI PENGOLAHAN 3.1. Industri Migas 3.2. Industri tanpa Migas 3.3. Industri Kecil dan Rumah Tangga 4.LISTRIK DAN AIR MINUM 4.1. Listrik 4.2. Air Minum 5.BANGUNAN/KONTRUKSI 6.PERDAGANGAN, HOTEL DAN RESTORAN 6.1. Perdagangan 6.2. Restoran/Rumah Makan 6.3. Hotel 7.PENGANGKUTAN DAN KOMUNIKASI 7.1. Pengangkutan Jalan Raya (Darat) 7.2. Pengangkutan Laut, Sungai dan Danau 7.3. Pengangkutan Udara 7.4. Jasa Penunjang Angkutan 7.5. Komunikasi 8.KEUANGAN, PERSEWAAN DAN JASA PERUSAHAAN 8.1. Bank 8.2. Lembaga Keuangan Tanpa Bank' 8.3. Jasa Penunjang Keuangan 8.4. Sewa Bangunan 8.5. Jasa Perusahaan 9.JASA-JASA 9.1. Pemerintahan Umum 9.2. Sosial Kemasyarakatan 9.3. Hiburan, Rekreasi dan Kebudayaan 9.4. Perorangan dan Rumah Tangga PDRB BERLAKU *) Angka Diperbaiki **) Angka Sementara 1993 1999 2000 (2) (3) (4) 233.573,76 274.784,49 276.860,71 142.601,74 119.354,24 120.113,12 7.413,97 14.164,18 13.461,63 18.574,88 47.259,05 48.819,07 4.096,27 4.764,10 4.260,15 60.886,90 89.242,92 90.206,74 4.590,50 8.033,41 7.888,81 4.590,50 8.033,41 7.888,81 14.958,56 15.750,72 15.639,57 900,95 1.251,05 1.158,93 14.057,61 14.499,67 14.480,64 1.281,93 2.236,84 2.251,61 1.271,66 2.219,47 2.232,52 10,27 17,37 19,09 42.354,07 34.192,34 34.353,04 60.833,11 74.902,94 74.812,76 56.235,76 66.935,11 67.102,45 4.208,51 7.346,19 7.203,67 388,84 621,64 506,64 34.469,93 78.879,45 79.803,00 26.998,37 52.766,13 63.556,18 125,02 105,34 106,72 7.346,54 16.007,98 16.140,10 14.298,17 9.207,72 13.242,74 4.288,06 -2.789,40 1.134,42 291,54 423,65 431,45 8.532,38 10.571,78 10.671,15 1.186,19 1.001,69 1.005,72 69.453,98 74.030,86 72.684,93 69.232,66 73.447,38 72.077,35 136,56 430,20 446,60 35,21 72,16 70,76 49,55 81,12 90,22 475.814,01 572.018,77 577.537,17 2001*) (5) 280.079,80 120.954,21 13.613,43 49.653,50 4.139,15 91.719,51 7.926,11 7.926,11 15.744,24 1.149,83 14.594,41 2.318,42 2.297,32 21,10 34.436,48 75.249,68 67.619,37 7.220,13 410,18 80.638,93 63.934,91 108,01 16.596,01 17.498,26 5.262,75 438,21 10.786,03 1.011,27 73.730,44 73.101,19 460,06 71,16 98,03 587.622,36 2002**) (6) 285.194,20 122.824,35 13.835,12 50.535,39 4.106,86 93.892,48 8.042,69 8.042,69 15.807,68 1.162,97 14.644,71 2.368,22 2.346,26 21,96 34.851,92 76.185,60 68.561,59 7.234,13 389,88 83.355,53 65.086,19 110,10 18.159,24 20.112,30 7.707,28 449,94 10.931,36 1.023,72 74.962,49 74.320,91 469,66 70,61 101,31 600.880,63

Sumber : BPS Kabupaten Bireuen

LAPORAN AKHIR

II- 95

BRR NAD - Nias


Tabel 2.31 - Pertumbuhan PDRB Kabupaten Bireuen dan Provinsi NAD (Non Migas) Atas Dasar Harga Konstan 1993, Tahun 1999 2002
Kabupaten Bireuen Lapangan Usaha 1999 (1) (2) -1,42 -7,12 0,80 12,55 -21,99 -2,54 5,00 3305,35 0,64 -0,56 2000 (3) 0,76 -1,80 -0,71 0,66 0,47 0,12 1,17 43,82 -1,82 0,96 2001 (4) 1,16 0,47 0,67 2,97 0,,24 0,58 1,05 32,13 1,44 1,75 2002 (5) 1,83 1,47 0,40 2,15 1,21 1,24 3,37 14,94 1,67 2,26 1999 (6) 0,65 -2,68 15,68 5,09 -18,73 -3,38 4,43 -356,32 0,52 -1,33 2000 (7) 1,51 -3,61 -11,21 -8,10 2,19 -1,17 4,38 51,58 1,30 0,52 2001 (8) 0,39 3,56 -4,57 0,85 3,54 2,89 3,63 29,65 1,55 1,56 2002 (9) 2,76 3,49 3,48 -1,31 4,00 4,47 5,31 -6,75 2,30 3,16 Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam

1 . Pertanian 2 . Pertambangan dan Penggalian 3 . Industri Pengolahan 4 . Listrik dan Air Minum 5 . Bangunan/Kontruksi 6 . Perdagangan, hotel dan Restoran 7 . Pengangkutan dan Komunikasi 8 . Keuangan, Persewaan dan Jasa Perusahaan 9 . Jasa-jasa PDRB
Sumber : BPS Kabupaten Bireuen

H. PDRB Per Kapita dan Pendapatan Regional Per Kapita

Produk Domestik Regional Bruto Per Kapita merupakan hasil bagi antara PDRB dengan jumlah penduduk pertengahan tahun, sedangkan Pendapatan Regional Per Kapita diperoleh dari hasil bagi anatara Produk Domestik Regional Netto (PDRN) atas biaya faktor produksi (PDRB yang telah dikurangi penyusutan dan pajak tak langsung) dengan penduduk pertengahan tahun. Pada tahun 2002 PDRB per kapita Kabupaten Bireuen berdasarkan atas dasar harga berlaku (ADHB) senilai 5,40 juta rupiah atau mengalami kenaikan sebesar 12,07 % dibandingkan tahun 2001 yang senilai 4,82 juta rupiah. Begitu pula halnya dengan pendapatan regional per kapita pada tahun 2002 naik sebesar 12,42 % senilai 4,85 juta rupiah. Sementara dibandingkan dengan Provinsi NAD, PDRB Provinsi NAD pada tahun 2002 hanya sebesar 4,69 juta rupiah sedangkan pendapatan per kapitanya hanya sebesar 4,28 juta rupiah. Jika dilihat PDRB per kapita Kabupaten Bireuen berdasarkan atas dasar harga konstan (ADHK) 1993, pada tahun 2002 senilai 1,72 juta rupiah atau mengalami kenaikan sebesar 0,75 % dibandingkan tahun 2001 yang senilai 1,71 juta rupiah. Begitu pula halnya dengan pendapatan regional per kapita pada tahun 2002 naik sebesar 0,88 % senilai 1,48 juta rupiah. Sementara dibandingkan dengan Provinsi

LAPORAN AKHIR

II- 96

BRR NAD - Nias


NAD, PDRB Provinsi NAD pada tahun 2002 hanya sebesar 1,53 juta rupiah sedangkan pendapatan per kapitanya hanya sebesar 1,34 juta rupiah.
Tabel 2.32 - Perbandingan PDRB Per Kapita Kabupaten Bireuen dan Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam
Tahun (1) ADHB 1999 2000 2001 2002 ADHK 1999 2000 2001 2002 Kabupaten Bireuen Nilai (Rupiah) Pertumbuhan (% (2) (3) 3.760.938,68 4.265.910,35 4.819.275,74 5.400.977,39 1.655.988,36 1.698.284,09 1.710.715,89 1.723.558,15 23,50 13,43 12,97 12,07 -2,28 1,94 0,73 0,75 Provinsi Nanggroe Aceh Darussalan Nilai (Rupiah) Pertumbuhan (% (4) (5) 3.288.455,75 3.722.343,38 4.152.931,18 4.685.488,35 1.464.035,57 1.520.628,18 1.495.346,81 1.533.737,37 21,96 13,19 11,57 12,85 -2,98 3,87 -1,65 2,57

Sumber : BPS Kabupaten Bireuen

Tabel 2.33 - Perbandingan Pendapatan Regional Per Kapita Kabupaten Bireuen dan Provinsi NAD Tahun 1999 2002
Tahun (1) ADHB 1999 2000 2001 2002 ADHK 1999 2000 2001 2002 Kabupaten Bireuen Nilai (Rupiah) Pertumbuhan (% (2) (3) 3.433.594,11 3.857.666,84 4.318.119,13 4.854.588,64 1.463.489,23 1.472.560,41 1.462.938,02 1.475.756,88 24,02 12,35 11,94 12,42 -3,38 0,62 0,65 0,88 Provinsi Nanggroe Aceh Darussalan Nilai (Rupiah) Pertumbuhan (% (4) (5) 2.972.320,90 1.369.548,30 3.784.660,85 4.284.817,07 1.287.663,79 1.333.494,76 1.309.052,94 1.339.983,69 22,75 13,36 12,32 13,22 -2,93 3,56 -1,83 2,36

Sumber : BPS Kabupaten Bireuen

2.4

ISU PERMASALAHAN TATA RUANG KABUPATEN BIREUEN

Berdasarakan data yang dikumpulkan serta masukan dari Pemda Kabupaten Bireuen, terdapat beberapa isu permasalahan tata ruang yang ada di Kabupaten Bireuen sebagai berikut :

LAPORAN AKHIR

II- 97

BRR NAD - Nias

1. Dengan mengacu pada hasil review RTRW Kab. Bireuen yang ada saat ini disimpulkan bahwa RTRW Kabupaten Bireuen saat ini memerlukan revisi secara menyeluruh. 2. Dalam rangka meminimasi dampak tsunami di Kabupaten Bireuen di masa mendatang, maka konsep Rencana Tata Ruang Kabupaten Bireuen, khususnya pada wilayah pesisir, perlu memberi penekanan khusus pada aspek mitigasi bencana. 3. Dari aspek lingkungan dan sumber daya alam, permasalahan yang mendesak adalah : a. Adanya indikasi kerusakan kawasan resapan dan tangkapan air (catchment
area) di wilayah hulu dari beberapa sungai yang ada, antara lain meliputi :

S. Peudada, S. Peusangan, S. Padrah dan S. Jeunieb. Hal ini telah mengakibatkan sering terjadinya banjir pada wilayah hilir khususnya di musim hujan, serta erosi sungai yang menyebabkan terjadinya sedimentasi
pada muara sungai, yang paling parah terjadi di S. Peusangan.

b. Kerusakan

hutan

mangrove

yang

sudah

sangat

memprihatinkan,

disebabkan oleh perluasan kawasan permukiman dan areal pertambakan di pesisir, yang mengakibatkan abrasi pantai dan dampak ikutan lainnya. c. Adanya potensi sumber daya air bersih yang cukup besar di S. Batuilie, yang dapat dimanfaatkan, antara lain untuk : pemenuhan kebutuhan air bersih masyarakat, perluasan sistem jaringan irigasi, penyediaan air bersih untuk rencana kws. Industri Batee Geulungku, dan rencana Pelabuhan di Simpang Mamplam. d. Adanya potensi pasir besi di Mon Kelayu yang belum dimanfaatkan secara optimal. 4. Dari aspek sosial-ekonomi, permasalahan yang mendesak adalah sebagai berikut : a. Perlunya mendorong realisasi beberapa rencana strategis Kabupaten
Bireuen (lihat gambar 2.20), meliputi : pengembangan kws. Industri Batee

Geulungku, pengembangan pelabuhan di Simpang Mamplam, pengembangan


LAPORAN AKHIR

II- 98

BRR NAD - Nias

Gambar 2.20 Rencana Strategis Kabupaten Bireuen

LAPORAN AKHIR

II- 99

BRR NAD - Nias

industri bio-diesel di Teupin Manee, pengembangan industri alat pertanian di Kuta Blang, pengembangan industri pengolahan pasir besi di Mon Keulayu, dan pengembangan Pasar Hewan di Geurughok, antara lain melalui : promosi kepada investor, penyiapan kebijakan dan peraturan pendukung, serta penyediaan prasarana dan sarana yang memadai. b. Perlunya pengembangan SDM yang dapat mendukung pengembangan
sumber daya alam dan perekonomian di Kab. Bireuen, antara lain : melalui

pengembangan lembaga-lembaga pendidikan keterampilan sesuai dengan kebutuhan yang ada. c. Perlunya pengembangan potensi sektor pertanian yang ada di kabupaten
Bireun saat ini, antara lain melalui : upaya intensifikasi dan ekstensifikasi,

pengembangan bibit unggul, dll, khususnya pada kawasan sentra produksi pertanian Gandapura. d. Perlunya merehabilitasi areal pertambakan yang rusak paska tsunami, dan
pengebangan potensi pertambakan Kabupaten Bireuen, sehingga dapat

yang

terdapat

di

Kecamatan

Samalanga,

Peusangan

dan

memberikan kontribusi yang signifikan terhadap PDRB daerah. e. Potensi perikanan dan kelautan yang ada di Kab. Bireuen, dengan
komoditas andalan ikan cakalang dan tuna, juga perlu didorong lagi pengembangannya, antara lain melalui : pemberian fasilitas kredit lunak

bagi

nelayan

untuk

pemilikan

perahu

motor

dan

perlengkapannya,

pembangunan Pelabuhan Pendaratan Ikan (PPI), pembangunan TPI (Tempat Pelelangan Ikan), serta pemberian subsidi BBM kepada nelayan sesuai kebutuhan. 5. Dari aspek prasarana dan sarana, permasalahan yang mendesak adalah : a. Perlunya rehabilitasi dan rekonstruksi parasarana dan sarana yang rusak
akibat dampak tsunami, dimana untuk tahap pertama diusulkan pada desa-desa yang terkena dampak tsunami pada kecamatan prioritas.

LAPORAN AKHIR

II- 100

BRR NAD - Nias

b. Perlunya meningkatkan kinerja prasarana dan sarana transportasi, dalam rangka mengingkatkan aksesibilitas antara kota Bireuen sebagai ibukota Kabupaten dengan :

Pusat-pusat kegiatan di wilayah eksternal (kota Banda Aceh, Medan, dan Takengon), Kota-kota kecamatan yang ada, Rencana kawasan industri Batee Geulungku dan rencana Pelabuhan di Simpang Mamplam, Kawasan Industri Bio Diesel di Teupin Manee, dan industri alat pertanian di Kuta Blang, Sentra produksi pertanian di Kec. Samalanga, Peusangan, dan Gandapura, Lokasi PPI dan TPI yang ada, sentra produksi perikanan tambak, Pasar Hewan di Geurughok, dan lokasi pasir besi di Mon Kelayu.

c. Perlunya memprioritaskan program pengembangan prasarana dan sarana


transportasi di Kabupaten Bireuen, karena dengan terbukanya akses antara

pusat-pusat kegiatan (termasuk pusat kecamatan), sentra-sentra produksi, lokasi bahan baku, kawasan industri pengolahan, pasar, dan outlet (Pelabuhan, Bandar Udara), diharapkan akan dapat menjadi stimulan untuk mengenerate perkembangan wilayah dan pertumbuhan ekonomi di Kab. Bireuen.

LAPORAN AKHIR

II- 101

BRR NAD - Nias

PENYUSUNAN RENCANA TATA RUANG WILAYAH KABUPATEN BIREUEN PROVINSI NANGGROE ACEH DARUSSALAM

BRR NAD - Nias

3.1

PEMILIHAN KECAMATAN PRIORITAS

3.1.1. KRITERIA KECAMATAN PRIORITAS Kriteria yang digunakan untuk pemilihan kecamatan prioritas untuk penyusunan Rencana Tindak (Action Plan) Kecamatan (Kecamatan Reconstruction Plan) di Kabupaten Bireuen adalah mengacu pada arahan dalam Kerangka Acuan Kerja (TOR), yakni : kecamatan yang terkena dampak tsunami, dengan klasifikasi kerusakan : rusak berat, rusak sedang, dan rusak ringan. Semakin banyak jumlah desa yang terkena dampak tsunami pada suatu kecamatan, dan semakin berat tingkat kerusakan akibat dampak tsunami, maka kecamatan bersangkutan semakin prioritas untuk ditangani. 3.1.2. PEMILIHAN KECAMATAN PRIORITAS Dengan menggunakan metode pembobotan terhadap kriteria yang telah dijelaskan sebelumnya, serta menggunakan data Podes 2005 (dari BRR NAD-Nias), maka dapat diperoleh urutan prioritas dari setiap kecamatan yang ada di Kabupaten Bireuen, seperti disajikan pada tabel berikut : Tabel 3.1 Pemilihan Kecamatan Prioritas Kabupaten Bireuen
No. 1 Nama Kecamatan SAMALANGA Jumlah Desa 30 11 5 21 1 15 1 16 2 30 1 5 2 15 4 33 1 8 21 Tingkat Kerusakan Akibat Tsunami Tidak Rusak Rusak Sedang Rusak Berat Tidak Rusak Rusak Ringan Rusak Sedang Rusak Berat Tidak Rusak Rusak Ringan Tidak Rusak Rusak Ringan Rusak Sedang Rusak Berat Tidak Rusak Rusak Sedang Tidak Rusak Rusak Ringan Rusak Sedang Tidak Rusak Bobot 0 2 3 0 1 2 3 0 1 0 1 2 3 0 1 0 1 2 0 Score 0 22 15 0 1 30 3 0 2 0 1 10 6 0 4 0 1 16 0 Total Nilai Kecamatan 37 Urutan Prioritas 2

SIMPANG MAMPLAM

34

3 4

PANDRAH JEUNIB

2 17 4.a

5 6

PEULIMBANG PEUDADA

4 17

7 4.b

JULI

LAPORAN AKHIR

III - 1

BRR NAD - Nias

No. 8 JEUMPA

Nama Kecamatan

Jumlah Desa 28 7 1 22 16 1 2 1 21 3 21 56 5 6 19 19 26 34 3 1 39

Tingkat Kerusakan Akibat Tsunami Tidak Rusak Rusak Sedang Rusak Berat Tidak Rusak Tidak Rusak Rusak Ringan Rusak Sedang Rusak Berat Tidak Rusak Rusak Ringan Rusak Sedang Tidak Rusak Rusak Ringan Rusak Sedang Tidak Rusak Tidak Rusak Tidak Rusak Tidak Rusak Rusak Sedang Rusak Berat Tidak Rusak

Bobot 0 2 3 0 0 1 2 3 0 1 2 0 1 2 0 0 0 0 2 3 0

Score 0 14 3 0 0 1 4 3 0 3 42 0 5 12 0 0 0 0 6 3 0

Total Nilai Kecamatan 17

Urutan Prioritas 4.c

9 10

KOTA JUANG KUALA

0 8

8 6

11

JANGKA

45

12

PEUSANGAN

17

4.d

13 14 15 16

PEUSANGAN SELATAN PEUSANGAN SIBLAH KRUENG MAKMUR GANDA PURA

0 0 0 9

8 8 8 5

17

KUTA BLANG

Sumber : Hasil Analsis

Dari tabel di atas, terlihat bahwa terdapat 4 (empat) kecamatan yang memiliki nilai yang sama pada urutan prioritas ke-4. Disamping itu, berdasarkan usulan atau masukan dari Bappeda Kabupaten Bireuen juga terdapat 2 (dua) kecamatan lagi yang perlu diprioritaskan, karena terdapat program prioritas Kabupaten, yakni : kecamatan Gandapura dan Kuala. Dengan demikian, berdasarkan hasil penilaian di atas, sekaligus menampung keinginan pihak Pemda Kabupaten, maka ditetapkan 9 (sembilan) kecamatan prioritas Kabupaten Bireuen, sebagai berikut : 1. Kecamatan Jangka, 2. Kecamatan Samalanga, 3. Kecamatan Simpang Mamplam, 4. Kecamatan Jeunib, 5. Kecamatan Peudada, 6. Kecamatan Jeumpa, 7. Kecamatan Peusangan, 8. Kecamatan Gandapura, 9. Kecamatan Kuala.

LAPORAN AKHIR

III - 2

BRR NAD - Nias

GAMBAR 3.1 Peta Delineasi Kawasan Perencanaan

LAPORAN AKHIR

III - 3

BRR NAD - Nias

3.2

PROSES DAN METODE PENYUSUNAN RENCANA TINDAK (ACTION PLAN) KECAMATAN PRIORITAS DAN PENETAPAN URUTAN PRIORITAS DESA UNTUK VILLAGE PLANNING

3.2.1 PROSES DAN METODE PENYUSUNAN RENCANA TINDAK (ACTION PLAN) KECAMATAN PRIORITAS Penyusunan rencana tindak (action plan) kecamatan prioritas dilakukan melalui serangkaian proses kegiatan (lihat gambar 3.2) sebagai berikut : 1. Identifikasi Permasalahan Yang Ada pada Kecamatan Terpilih Dalam kegiatan ini dilakukan pengumpulan data kawasan perencanaan, meliputi data-data yang telah dijelaskan secara rinci pada Bab I (sub bab 1.4.2). Kemudian dari data-data tersebut selanjutnya diolah dalam rangka mengidentifikasi kondisi dan permasalahan yang ada di kawasan perencanaan, yang secara garis besar meliputi aspek : daya dukung fisik dan lingkungan, sosial-ekonomi dan budaya, permukiman dan bangunan, serta prasarana dan sarana, dan tata ruang. Selanjutnya, berbagai permasalahan yang ada tersebut, dievaluasi guna mengetahui permasalahan mendesak (prioritas) pada setiap aspek yang perlu segera ditangani. 2. Analisis Kebutuhan Program Penanganan Secara garis besar, analisis ini meliputi : a. Analisis Pengembangan Sosial-Ekonomi dan Budaya Analisis ini ditujukan guna mengidentifikasi kebutuhan penanganan masalah sosial, ekonomi dan budaya yang mendesak, serta merumuskan kerangka pengembangan sosial-ekonomi dan budaya, atau sistem kegiatan kawasan perencanaan di masa mendatang. Analisis ini antara lain meliputi: analisis kebutuhan pengembangan sumber daya manusia, analisis proyeksi penduduk, kebutuhan pengembangan ekonomi kawasan, jenis kegiatan dan Kawasan Perencanaan di

LAPORAN AKHIR

III - 4

BRR NAD - Nias

Gambar 3.2 Bagan Alir Proses Penyusunan Rencana Tindak (Action) Plan di 9 Kecamatan Terpilih

LAPORAN AKHIR

III - 5

BRR NAD - Nias

sektor-sektor uggulan, proyeksi investasi, kebutuhan pengembangan budaya, dll. b. Analisis Penataan Ruang Analisis ini ditujukan guna mengidentifikasi kebutuhan penanganan masalah tata ruang yang mendesak, serta merumuskan kerangka penataan ruang dari sistem kegiatan yang akan dikembangkan di masa mendatang (dari hasil analisis sebelumnya). Analisis ini antara lain meliputi : analisis kesesuaian lahan kawasan lindung dan budidaya, analisis kebutuhan lahan pengembangan kegiatan budidaya, analisis pengelolaan kawasan lindung dan kawasan budidaya (termasuk kebutuhan penanganan masalah lingkungan), analisis penataan struktur ruang, dan pusat-pusat pelayanan, analisis pembagian unit-unit lingkungan, analisis pengelolaan kawasan perkotaan, perdesaan, tertentu, dll. c. Analisis Pengembangan Permukiman dan Pengelolaan Bangunan Analisis ini ditujukan guna mengidentifikasi kebutuhan penanganan masalah permukiman dan bangunan yang mendesak, serta merumuskan kerangka pengembangan permukiman pada kawasan perencanaan di masa mendatang. Analisis ini antara lain meliputi : analisis kebutuhan rehabilitasi dan rekonstruksi permukiman yang terkena dampak tsunami, analisis kebutuhan unit rumah dan lahan pengembangan baru (untuk relokasi atau memenuhi permintaan di masa mendatang), analisis kesesuaian lahan untuk permukiman (dapat dari hasil analisis sebelumnya), pengembangan pusatpusat permukiman, analisis tata letak dan tata bangunan kawasan permukiman, dll. d. Analisis Pengembangan Prasarana dan Sarana Analisis ini ditujukan guna mengidentifikasi kebutuhan penanganan masalah pelayanan prasarana dan sarana yang mendesak, serta kebutuhan pengembangan prasarana dan sarana kawasan perencanaan di masa mendatang. Secara garis besar analisis ini meliputi : analisis kebutuhan rehabilitasi dan rekonstruksi prasarana dan sarana yang terkena dampak tsunami secara langsung atau tidak langsung, serta analisis
LAPORAN AKHIR

III - 6

BRR NAD - Nias


kebutuhan pengembangan prasarana dan sarana dalam rangka memenuhi permintaan di masa mendatang. Adapun jenis prasarana dan sarana yang dikaji di sini antara lain meliputi prasarana dan sarana : transportasi, pengendalian banjir dan pengaman pantai, pengairan (irigasi), air bersih dan air limbah, pemerintahan, sosial dan ekonomi (perdagangan, pendidikan, kesehatan, peribadatan, olahraga, taman, rekreasi, dan budaya), telekomunikasi dan energi (listrik). Dalam analisis ini digunakan Pedoman Keputusan Standar Menteri Pelayanan Minimal dan Bidang Penataan Ruang, No. Perumahan dan Permukiman dan Pekerjaan Umum yang termuat dalam Permukiman Prasarana Wilayah 534/KPTS/M/2001 (disajikan pada Lampiran). 3. Perumusan Konsep dan Strategi Pengembangan Kawasan Konsep dan strategi pengembangan kawasan perencanaan di Kecamatan Prioritas dirumuskan berdasarkan hasil analisis kebutuhan penanganan kecamatan prioritas, arah kebijaksanaan dan rencana yang termuat dalam Rencana Induk Rehabilitasi dan Rekonstruksi NAD-Nias dan RTRW Kabupaten Bireun, serta masukan dari pihak Pemberi Tugas. Adapun konsep dan strategi pengembangan yang dirumuskan di sini, antara lain meliputi : a. Visi, Misi dan Konsep Dasar Pengembangan, (termasuk konsep penataan ruang kawasan perencanaan). b. Strategi Pengembangan Kawasan, meliputi : Strategi Pengembangan Sosial Ekonomi dan Budaya, mencakup : strategi pengembangan sumber daya manusia, alokasi penduduk, strategi pengembangan ekonomi, sektor-sektor uggulan, dan investasi, serta strategi pengembangan budaya. Strategi Penataan Ruang, meliputi : strategi pengelolaan kawasan lindung dan kawasan budidaya (termasuk pengelolaan lingkungan), strategi penataan ruang kegiatan, pusat-pusat pelayanan, dan pembagian unit-unit lingkungan, serta strategi pengelolaan kawasan perkotaan, perdesaan, dan tertentu.

LAPORAN AKHIR

III - 7

BRR NAD - Nias

Strategi Pengembangan Permukiman dan Pengelolaan Bangunan, meliputi : strategi rehabilitasi dan rekonstruksi permukiman yang terkena dampak tsunami, serta strategi pengembangan permukiman secara keseluruhan (peruntukan kawasan permukiman, strategi penyediaan lahan permukiman, kebutuhan jumlah unit rumah, tipe rumah, pusatpusat permukiman, tata letak dan tata bangunan, pengaturan KDB dan KLB, strategi pembiayaan pembangunan, organisasi pembangunan, pentahapan pembangunan, dll). Strategi Pengembangan Prasarana dan Sarana, meliputi : strategi rehabilitasi dan rekonstruksi prasarana dan sarana yang terkena dampak tsunami, serta strategi pengembangan prasarana dan sarana secara keseluruhan lahan, (strategi peningkatan pelayanan, strategi penyediaan pentahapan prasarana dan sarana, proses penyiapan yang diperlukan, penyediaan strategi pembiayaan, organisasi pembangunan, pembangunan, dll. Secara lengkap hasil rumusan konsep dan strategi pengembangan di 9 (sembilan) kecamatan terpilih disajikan pada sub bab 3.3. 4. Penyusunan Draft Rencana Tindak (Action Plan) Kecamatan Prioritas Secara garis besar Draft Rencana Tindak (Action Plan) Kecamatan Prioritas dirumuskan berdasarkan : a. Hasil identifikasi permasalahan dan analisis kebutuhan program penanganan kecamatan prioritas yang telah dijelaskan sebelumnya. b. Konsep dan Strategi Pengembangan yang telah dirumuskan sebelumnya, c. Hasil kompilasi dan evaluasi usulan program dari : Pemda Kabupaten Bireun (Dinas-dinas/Instansi terkait), Pemerintah Kecamatan terpilih (9 kecamatan), Buku Rencana Program hasil Musrenbang Kabupaten Bireun, Lembaga NGO (Non Government Organization) Lokal dan Internasional yang memberikan bantuan di Kabupaten Bireuen,
LAPORAN AKHIR

III - 8

BRR NAD - Nias

5. Sosialisasi Draft Rencana Tindak (Action Plan) dan Pelaksanaan FGD di Kecamatan Terpilih Berdasarkan hasil penyusunan Draft Rencana Tindak (Action Plan) yang telah dijelaskan sebelumnya, selanjutnya dilakukan sosialisasi draft rencana tindak kepada masyarakat (perwakilan masyarakat) yang ada di kecamatan terpilih. Sosialisasi ini ditujukan guna menyepakati draft rencana tindak yang telah disusun sebelumnya, melalui pelaksanaan forum diskusi FGD (Focus Group Discussion) di setiap Kecamatan. Dalam hal ini konsultan telah merencanakan pelaksanaan sosialisasi dan FGD di Kecamatan terpilih pada tanggal 15 sampai 20 Mei 2006. Namun pada tahap persiapan pelaksanaan sosialisasi ini, konsultan mendapat informasi dan tanggapan baik dari pihak Pemda Kabupaten maupun dari pihak kecamatan, bahwa pelaksanaan FGD dengan melibatkan masyarakat yang ada di Kabupaten Bireuen sulit dilaksanakan, karena pihak kecamatan dan masyarakat telah berulang kali melaksanakan FGD yang dilakukan oleh beberapa lembaga NGO dan dijanjikan berbagai program bantuan, namun sampai saat ini belum ada realisasinya. Sebagai solusinya, pihak Pemda Kabupaten Bireun (Bappeda Kabupaten) memberikan bahan buku usulan program dari hasil penjaringan aspirasi masyarakat melalui FGD yang telah dilaksanakan oleh Pemda Kabupaten Bireun bekerjasama dengan Lembaga NGO dari Perancis pada tahun 2005. Selanjutnya konsultan, menggabungkan bahan Draft Rencana Tindak (Action Plan) yang telah disusun sebelumnya dengan bahan usulan program dari hasil penjaringan aspirasi masyarakat (melalui FGD) yang pernah dilakukan tahun 2005, menjadi Draft Rencana Tindak yang baru (telah dimutahirkan). Dalam rangka cross check atau validitas terhadap Draft Rencana Tindak yang baru ini, konsultan melakukan survai wawancara (kuestioner) secara langsung kepada masyarakat di kecamatan terpilih. Secara garis besar survai ini dilakukan untuk mengetahui : a. Kesesuaian Draft Rencana Tindak (Action Plan) yang baru terhadap aspirasi masyarakat.
LAPORAN AKHIR

III - 9

BRR NAD - Nias

b. Kelengkapan dan kekurangan dari Draft Daftar (List) Rencana Tindak (Action Plan) yang baru terhadap Aspirasi Mayarakat. c. Tingkat kepentingan (prioritas) dari setiap jenis program yang diusulkan dalam Daftar (List) yang ada. d. Saran-saran dari masyarakat yang penting diperhatikan dalam rangka pelaksanaan pembangunan di Kecamatan terpilih. Survai wawancara (kuestioner) kepada masyarakat di kecamatan terpilih dilaksanakan pada tanggal 22 sampai 27 Mei 2006. Dalam survai ini diambil 10 (sepuluh) sampel responden untuk setiap kecamatan. Adapun hasil dari survai ini adalah sebagai berikut : a. Bahwa sebagian besar responden (79 %) menyatakan bahwa Daftar Rencana Tindak yang telah diusulkan telah sesuai dengan aspirasi masyarakat, sisanya 17 % responden menyatakan bahwa sebagian besar usulan program telah sesuai, dan hanya 4 % responden yang menyatakan bahwa hanya sebagian kecil usulan program yang telah sesuai. b. Sebanyak 10 % responden menambahkan usulan program lainnya yang dianggap penting namun tidak termuat dalam Daftar yang ada. c. Bahwa sebagian besar responden (71 %) menyatakan bahwa jenis program yang paling prioritas adalah program jalan, selanjutnya berturut-turut adalah program rehabilitasi rekonstruksi perumahan yang terkena dampak tsunami, program pembangunan sarana air bersih dan sanitasi, program pembangunan sarana pendidikan dan kesehatan, program penyediaan listrik, program pemberdayaan ekonomi, masyarakat miskin, petani dan nelayan, program penanganan banjir dan pengamanan pantai, program pembangunan sarana dan prasarana irigasi, serta terakhir adalah program pembangunan sarana dan prasarana pemerintahan kecamatan. d. Bahwa sebagian besar responden (79 %) tidak mengisi saran-saran dalam pelaksanaan pembangunan kecamatan, dan hanya 21 % yang mengisi saransaran. Dari hasil pengisian saran-saran ini, sebagian besar responden menyatakan bahwa pelaksanaan pembangunan yang dilakukan di

LAPORAN AKHIR

III - 10

BRR NAD - Nias


kecamatan bersangkutan perlu : melibatkan masyarakat setempat dalam pelaksanaannya, memperhatikan adat-istiadat dan budaya setempat, memanfaatkan semaksimal mungkin ketersediaan sumber daya (SDA dan SDM) setempat yang ada. 6. Penyusunan dan Penetapan Rencana Tindak (Action Plan) Kecamatan Terpilih Selanjutnya dengan menambahkan dan mempertimbangkan aspirasi masyarakat dari hasil pelaksanaan survai wawancara (kuestioner) yang telah dijelaskan sebelumnya, maka disusun Rencana Tindak (Action Plan) untuk 9 (sembilan) kecamatan terpilih yang akan disajikan dalam pembahasan masing-masing kecamatan (sub bab 3.4 sampai 3.12). 3.2.2 PROSES DAN METODE PENETAPAN DESA PRIORITAS UNTUK VILLAGE PLANNING A. Kriteria Penilaian Prioritas Desa Dalam rangka menetapkan desa-desa prioritas, dimana hal ini terkait dengan keperluan untuk perencanaan Desa (Village Planning), maka berikut ini dirumuskan tentang kriteria prioritas desa. Secara garis besar, kriteria prioritas desa ditetapkan mengacu pada : 1. Potensi dan Permasalahan yang ada di setiap Desa. 2. Konsep Dasar dan Strategi Pengembangan Kecamatan Prioritas yang telah dijelaskan pada sub bab sebelumnya. 3. Aspirasi Pemda dan Masyarakat. Dengan mengacu pada 3 (tiga) hal di atas selanjutnya dirumuskan aspek-aspek dan indikator penilaian yang digunakan untuk penilaian prioritas desa, sebagai berikut : 1. Aspek Kerusakan Dampak Tsunami, dengan indikator yang digunakan adalah klasifikasi kerusakan, meliputi : Rusak Berat, Rusak Sedang, Rusak Ringan, dan Tidak Rusak. Klasifikasi kerusakan yang digunakan mengacu pada data dan terminologi yang dikeluarkan oleh BRR NAD-Nias.

LAPORAN AKHIR

III - 11

BRR NAD - Nias

2. Aspek Sosial-Ekonomi, dengan indikator yang digunakan meliputi : a. Jumlah Penduduk Tahun Terakhir. b. Persentase jumlah KK Miskin Tiap Desa. 3. Aspek Ketersediaan Prasarana Utama, dengan indikator yang digunakan meliputi: a. Kemampuan roda-4). b. Jenis permukaan jalan terluas pada desa ybs. (tanah, diperkeras pelayanan prasarana jalan terhadap kendaraan roda-4

dari/menuju ke desa ybs. (dapat atau tidak dapat dijangkau oleh kendaraan

/kerikil/batu), aspal beton). c. Ketesediaan jaringan listrik (tersedia atau tidak tersedia). 4. Aspek Kebutuhan dan Aspirasi Masyarakat, dengan indikator yang digunakan adalah jumlah kebutuhan biaya penanganan (rencana tindak) setiap desa. B. Pemilihan dan Penetapan Desa Prioritas Untuk Village Planning Dengan mengacu pada kriteria dan indikator penilaian prioritas desa yang telah dijelaskan sebelumnya, serta dengan menggunakan basis data Podes Tahun 2005 (Sumber : BRR NAD-Nias), selanjutnya dilakukan perhitungan dan penilaian prioritas desa. Dalam penilaian ini, bobot dari setiap indikator yang digunakan dianggap sama, dengan range nilai setiap indikator antara 0 10. Secara rinci perhitungan dalam penilaian prioritas desa disajikan pada Lampiran. Adapun Tabel hasil pemilihan desa prioritas dari 9 (sembilan) kecamatan terpilih disajikan dalam pembahasan masing-masing kecamatan (sub bab 3.4 sampai 3.12).

3.3

KONSEP DAN STRATEGI PENGEMBANGAN

3.3.1 KONSEP DASAR PENGEMBANGAN Konsep dasar pengembangan Kecamatan prioritas, dirumuskan berdasarkan hasil identifikasi kondisi dan permasalahan yang ada di kecamatan prioritas yang akan disajikan dalam pembahasan masing-masing kecamatan (sub bab 3.4 sampai 3.12),
LAPORAN AKHIR

III - 12

BRR NAD - Nias


serta mengacu pada Rencana Induk Rehabilitasi dan Rekonstruksi NAD-Nias, dan standar-standar perencanaan yang ada. Adapun rumusan konsep dasar pengembangan kecamatan prioritas adalah sebagai berikut : 1. Bahwa kecamatan prioritas yang sebagian besar berada di wilayah pesisir merupakan daerah yang rawan terhadap bencana tsunami, terutama untuk Kecamatan Samalanga dan Kecamatan Jangka. Sesuai dengan arahan sistem zonasi Kabupaten Bireuen dalam Rencana Induk Rehabilitasi dan Rekonstruksi, kawasan perencanaan pada kecamatan prioritas, termasuk dalam : a. Zona I, yaitu zona pantai dan perikanan, dengan kegiatan utama adalah zona penyangga (buffer zone), zona budidaya perikanan tangkap dan perikanan budidaya, dengan kegiatan pendukung berupa pelabuhan perikanan, serta pengembangan pelabuhan rakyat Kuala Radja, Pelabuhan Kawasan Industri Batee Geulumpu dan Pelabuhan Perikanan Peudada sebagai alternatif percepatan aksesibilitas perekonomian Kabupaten Bireuen. b. Zona II, yaitu zona permukiman terbatas, meliputi kawasan di sepanjang jalur jalan nasional ke arah Zona Pantai. Zona ini dikembangkan untuk permukiman terbatas dan budidaya pertanian, serta memperhatikan konstruksi bangunan (pemerintah dan masyarakat) yang tahan terhadap gempa dan tsunami. 2. Dengan mengacu pada arahan di atas, maka konsep dasar pengembangan kawasan permukiman di kecamatan prioritas dilakukan sebagai berikut : a. Untuk Zona I : Sedapat mungkin tidak dilakukan pengembangan perumahan baru. Program rehabilitasi dan rekonstruksi kawasan permukiman yang rusak paska bencana tsunami pada zona ini dilakukan secara selektif, apabila alternatif relokasi kawasan permukiman sulit dilakukan, karena berbagai kendala yang ada. Pada daerah-daerah permukiman yang telah ada, dan lokasi program rehabilitasi dan rekonstruksi kawasan permukiman perlu dilengkapi

LAPORAN AKHIR

III - 13

BRR NAD - Nias


dengan jalur-jalur penyelamatan (escape roads) dan bukit-bukit

penyelamatan (escape hills). Lihat gambar 3.3 dan 3.4. Gambar 3.3 - Sketsa Model Escape Road

Gambar 3.4 - Sketsa Model Escape Hill

LAPORAN AKHIR

III - 14

BRR NAD - Nias

b. Untuk Zona II : Pengembangan perumahan baru dilakukan secara terbatas, yakni pada daerah-daerah yang relatif aman terhadap bencana tsunami (desa-desa yang tidak terkena kerusakan paska tsunami tahun 2004. Konstruksi bangunan baru harus memperhatikan kriteria bangunan yang tahan terhadap gempa dan tsunami. 3. Mengembangkan sabuk hijau pada kawasan lindung setempat di kawasan perencanaan kecamatan prioritas, meliputi : Kawasan Sempadan Pantai, Sempadan
Sungai, Kawasan Sekitar Mata Air, dan Kawasan Sekitar Danau/Waduk, dimana kriteria dan arahannya diatur dalam Keppres No. 32 Tahun 1990, sebagai berikut :

a. Sempadan Pantai, adalah daratan sepanjang tepian pantai yang lebarnya proporsional dengan bentuk dan kondisi fisik pantai sekurang-kurangnya 100 m dari titik pasang tertinggi ke arah darat. Untuk kawasan perencanaan, pengembangan sabuk hijau pengaman pantai ini diarahkan berupa pengembangan ekosistem hutan bakau (mangrove). b. Sempadan Sungai : Sekurang-kurangnya 5 m di sebelah luar sepanjang kaki tanggul di luar kawasan perkotaan dan 3 m di sebelah luar sepanjang kaki tanggul di dalam kawasan perkotaan; Sekurang-kurangnya 100 m di kanan kiri sungai besar dan 50 meter di kanan kiri sungai kecil yang tidak bertanggul di luar kawasan perkotaan; Sekurang-kurangnya 10 m dari tepi sungai untuk yang mempunyai kedalaman tidak lebih dari 3 m; Sekurang-kurangnya 15 m dari tepi sungai untuk sungai yang mempunyai kedalaman lebih dari 3 m sampai dengan 20 m; Sekurang-kurangnya 30 m dari tepi sungai untuk sungai yang mempunyai kedalaman lebih dari 20 m; Sekurang-kurangnya 100 m dari tepi sungai untuk sungai yang terpengaruh oleh pasang surut air laut, dan berfungsi sebagai jalur hijau.

LAPORAN AKHIR

III - 15

BRR NAD - Nias

c. Kawasan Sekitar Mata Air, adalah kawasan dengan radius sekurangkurangnya 200 m di sekitar mata air. d. Kawasan Sekitar Danau/Waduk, adalah daratan sepanjang tepian waduk dan situ yang lebarnya proporsional dengan bentuk dan kondisi fisik waduk dan situ sekurang-kurangnya 50 m dari titik pasang tertinggi ke arah darat. 4. Pengamanan dan Penanggulangan abrasi pantai dengan proteksi bangunan pantai (sea wall, bulkheald, revretment) untuk daerah-daerah yang sudah kritis terhadap abrasi pantai. 5. Pengendalian banjir melalui pengerukan pada daerah-daerah muara sungai yang terindikasi mengalami penyempitan / pendangkalan. 6. Pengamanan dan Penanggulangan akresi (tanah timbul) di daerah muara dengan proteksi bangunan pantai (jetti). 7. Mengembangkan kegiatan budidaya pertanian tanaman pangan dan perkebunan pada kawasan sentra produksi pertanian di kecamatan Samalanga, Peusangan dan Gandapura, terutama pada area yang termasuk zona II. 8. Mengembangkan kegiatan budidaya perikanan dan pertambakan pada area yang termasuk Zona I, dengan tetap memperhatikan konsep pengembangan sabuk hijau pengaman pantai berupa pengembangan ekosistem mangrove. 9. Mendorong perwujudan rencana strategis Kabupaten Bireun, meliputi : rencana pengembangan kawasan industri Bate Geulungku, dan rencana pelabuhan di Kec. Simpang Mamplam, serta rencana pengembangan sumber daya air bersih dari S. Bateilie, Kec. Samalanga. Perwujudan dari rencana strategis ini diharapkan akan menjadi stimulan dalam rangka mendorong pertumbuhan ekonomi kawasan di sekitarnya, serta Kabupaten Bireuen secara umum. 10. Meningkatkan taraf hidup masyarakat petani dan nelayan, dan keluarga miskin yang ada di kawasan perencanaan.

LAPORAN AKHIR

III - 16

BRR NAD - Nias

3.3.2 STRATEGI PENGEMBANGAN A. Pengelolaan Kawasan Lindung dan Lingkungan 2. Melakukan pemantauan dan pengawasan secara ketat terhadap Kawasan Lindung Setempat (sesuai Keppres No. 32 Tahun 1990), meliputi : Kawasan Sempadan Pantai, Sempadan Sungai, Kawasan Sekitar Mata Air, dan Kawasan Sekitar Danau/Waduk. 3. Pengembangan kawasan industri Bate Geulungku, di Kec. Simpang Mamplam harus menghindari alih fungsi lahan pertanian produktif, khususnya lahan sawah berigasi teknis. Disamping itu, di sekeliling kawasan ini perlu dikembangkan zona penyangga (buffer) berupa zona hijau. 4. Mengembangkan sistem pemantauan dan pengawasan terhadap kawasan lindung yang efektif, mencakup : sistem tata laksana (prosedur), kelembagaan, pembagian tugas dan tanggung jawab, dll. 5. Menyiapkan berbagai kebijakan dan peraturan pendukung yang diperlukan guna mencegah alih fungsi kawasan lindung setempat, dengan penerapan sangsisangsi bagi pelanggar ketentuan, yang disertai dengan penegakan hukum (law enforcement) yang konsisten. Kebijakan dan peraturan pendukung ini juga perlu dilengkapi dengan pedoman operasionalnya. 6. Melakukan penanaman kembali (reboisasi) pada lahan kritis, untuk itu direkomendasikan penanaman pohon jarak dalam rangka mendukung rencana pengembangan industri bio-diesel di Kabupaten Bireuen. 7. Mempertahankan hutan mangrove yang ada saat ini di sepanjang pesisir pantai, serta melakukan penanaman kembali mangrove khususnya pada kawasan sempadan pantai. 8. Mensosialisasikan sistem pengelolaan hutan mangrove pada masyarakat setempat disertai dengan program pembinaan manfaat tanaman bakau, karena bakau dapat juga dijadikan sebagai bahan konstruksi, kayu bakar, bahan baku arang dan bahan baku kertas , pemasok larva beberapa jenis ikan, udang dan juga bisa sebagai daerah Bengen, 2001 ).
LAPORAN AKHIR

pariwisata ( Dr. Dietriech G.

III - 17

BRR NAD - Nias

9. Pengadaan

tempat pembibitan ( Nursery ) tanaman bakau dan tanaman

pantai lainya dengan program pemberdayaan masyarakat pesisir. 10. Melibatkan dan mengikutsertakan Peran Tokoh Masyarakt, Lembaga Swadaya Masyarakat, Praktisi Pendidikan dan Kelembagaan yang Berwenang dalam perencanaan dan pengelolaan hutan mangrove, sedangkan dalam proses pengawasan dan pengendaliannya tetap pada kewenangan pemerintah daerah. 11. Merencanakan Program Kadaster Laut dan Pesisir ( Marine and Coastal

Cadaster ) yaitu sistem pertanahan berbasis persil yang menjelaskan data kepemilikan dan peruntukannya dengan Pentahapan sebagai berikut ; Batas Laut dan Pesisir Dinamika Laut dan Pesisir Tata Wilayah Laut dan Pesisir Kadaster Laut dan Pesisir ( Hak, Larangan Dan Kewajiban ). 12. Setiap kegiatan pembangunan yang dilakukan harus didasari pendekatan ekosistem atau dengan perkataan lain pembangunan yang berwawasan lingkungan (sustainable development), tidak meninggalkan keberadaan masyarakat setempat dan tetap memberikan peluang pertumbuhan ekonomi regional (regional economic development). B. Pengembangan Kependudukan 1. Mengembangkan lembaga pendidikan dan pelatihan dalam rangka

meningkatkan kualitas SDM khususnya di bidang pertanian tanaman pangan, perkebunan, perikanan laut, pertambakan, dan industri agro, yang di masa mendatang diharapkan akan menjadi sektor unggulan di kawasan perencanaan, melalui kerjasama dengan perguruan tinggi dan lembagalembaga pendidikan yang ada. 2. Meningkatkan kesejahteraan bagi petani dan nelayan yang menjadi tulang punggung perekonomian Kabupaten Bireun, melalui : program pemberdayaan masyarakat petani dan nelayan. 3. Mendorong kegiatan-kegiatan pembinaan penduduk yang dapat

meningkatkan kualitas SDM di tiap kecamatan prioritas.

LAPORAN AKHIR

III - 18

BRR NAD - Nias

4. Menciptakan perluasan kesempatan dan lapangan kerja bagi penduduk miskin yang berbasis pada sektor pertanian tanaman pangan, perkebunan, perikanan laut, dan industri padat karya. Dalam hal ini pemerintah harus bertindak sebagai fasilitator dalam memberikan keterampilan dan kesempatan kerja bagi penduduk miskin. 5. Melakukan kerjasama dengan lembaga-lembaga sosial baik pemerintah (LKMD, BPD, RW, RT), maupun non-pemerintah (LSM, Ormas, Pesantren), serta tokohtokoh masyarakat (pimpinan ulama/ pondok pesantren, dll.) dalam melakukan penyuluhan/ sosialisasi terhadap rencana-rencana pembangunan. Disamping itu, lembaga-lembaga sosial dan tokoh masyarakat juga diharapkan dapat memberi masukan kepada Pemerintah tentang berbagai permasalahan dan keluhan masyarakat yang ada di daerahnya, program penanganan yang diperlukan, dll. 6. Penghargaan pada adat dan budaya mayarakat setempat. Masyarakat pada kawasan perencanaan, mayoritas adalah etnis Aceh yang memiliki agama dan adat istiadat serta karakteristik yang melekat secara turun menurun. Usaha pembangunan yang dilakukan harus secara bijak memeperhatikan kondisi tersebut, agar pola kehidupan yang telah berlangsung turun temurun tidak terpinggirkan. C. Pengembangan Ekonomi 1. Mengembangkan sektor pertanian tanaman pangan dan perkebunan (dengan komoditas utama padi dan kedelai), perikanan laut (dengan komoditas utama ikan tuna dan cakalang), pertambakan (dengan komoditas utama udang windu dan bandeng), dan industri agro, sebagai sektor unggulan di kawasan perencanaan kecamatan prioritas. 2. Menerapkan kebijakan insentif dan disentif bagi kegiatan usaha pada sektorsektor ungulan yang ada di kawasan perencanaan, yang diringi dengan program promosi investasi dalam rangka menarik minat investor untuk mengembangkan kegiatan usaha pada sektor-sektor unggulan, khususnya dalam rangka mendorong perwujudan rencana pengembangan kawasan industri dan rencana pelabuhan di kecamatan Simpang Mamplam.
LAPORAN AKHIR

III - 19

BRR NAD - Nias

3. Menciptakan iklim usaha yang kondusif, dengan menciptakan keamanan berusaha, kemudahan dalam perijinan, jaminan kepastian penegakan hukum dari pemerintah, sistem perpajakan yang tidak memberatkan pengusaha, dll. 4. Menyiapkan sistem informasi dan rencana pengembangan ekonomi yang menyeluruh dan terpadu antar sektor ekonomi, sosial budaya, dan biofisik yang mampu memberikan segala informasi yang diperlukan bagi para pengusaha, antara lain meliputi infromasi tentang : berbagai peluang usaha yang menguntungkan, besaran investasi yang diperlukan, kendala dan permasalahan yang ada, sumber daya yang tersedia, kebijakan dan rencana pemerintah, termasuk rencana pengembangan infrastruktur, dll. 5. Menerapkan kebijakan pengembangan ekonomi berkeadilan untuk ekonomi skala besar, skala menengah maupun skala kecil, antara lain dengan menerapkan perlakuan yang sama dalam memperoleh fasilitas kredit lunak untuk modal kerja, mendorong keterkaitan usaha yang saling menguntungkan antara ekonomi skala besar, menengah dan kecil. 6. Mengembangkan kegiatan perdagangan dan jasa, serta industri yang berbasis pada potensi sumber daya alam setempat (misal : agro industri) di wilayah perdesaan, melalui : promosi usaha, pemberian fasilitas kredit lunak, perluasan pangsa pasar, serta pengembangan berbagai prasarana dan sarana yang diperlukan (jalan akses, penyediaan air bersih, listrik, telepon, dll.). 7. Mengembangkan sistem jejaring ekonomi (economy network) yang terpadu lintas sektor, dan lintas daerah, melalui : pengembangan pusat informasi usaha di berbagai sektor, fasilitasi pemerintah dalam pengembangan kerjasama usaha antar sektor dan antar daerah. 8. Mendorong pengembangan usaha kecil dan menengah (UKM) dan kegiatan wirausaha antara lain melalui : pemberian fasilitas kredit usaha kecil (KUK) dan menengah, perluasan pangsa pasar produksi UKM, fasilitasi dalam meningkatkan kerjasama dengan usaha skala besar. 9. Meningkatkan daya saing produk-produk unggulan, khususnya produksi dari UKM.

LAPORAN AKHIR

III - 20

BRR NAD - Nias

10. Mengembangkan ekonomi perdesaan dan penciptaan lapangan kerja di wilayah perdesaan. D. Pengembangan Prasarana dan Sarana D.1 Prasarana dan Sarana Transportasi : 1. Melakukan rehabilitasi dan rekonstruksi prasarana dan sarana transportasi yang rusak akibat dampak tsunami. 2. Meningkatkan aksesibilitas antara pusat-pusat kegiatan yang ada kawasan perencanaan, melalui peningkatan kinerja pelayanan prasarana jalan raya dan sarana angkutan umum yang menghubungkan antara : a. Pusat-pusat Kecamatan dengan wilayah eksternal (kota Bireuen, Banda Aceh, Medan, dan Takengon), b. Pusat-pusat Desa dengan Pusat-pusat Kecamatan c. Rencana kawasan industri Batee Geulungku dan rencana Pelabuhan di Meunasah Mamplam, dengan wilayah eksternal (kota Bireuen, Banda Aceh, Medan, dan Takengon), d. Sentra produksi pertanian di Kec. Samalanga, Peusangan, dan Gandapura, dengan wilayah eksternal (kota Bireuen, Banda Aceh, Medan, dan Takengon), e. Lokasi PPI dan TPI yang ada, sentra produksi perikanan tambak, Pasar Hewan di Geurughok, dengan wilayah eksternal (kota Bireuen, Banda Aceh, Medan, dan Takengon), 3. Memelihara kemantapan ruas-ruas jalan yang kondisinya sudah baik, melalui pelaksanaan program pemeliharaan rutin dan berkala yang efektif. 4. Mengembangkan sistem jaringan jalan sekunder dengan pola grid pada kawasan perencanaan yang sistem jaringan jalan sekundernya masih kurang, khususnya untuk kawasan yang dilintasi oleh jalan nasional Banda AcehMedan, dalam rangka memantapkan fungsi jalan ini sebagai jalan Arteri Primer.

LAPORAN AKHIR

III - 21

BRR NAD - Nias

Jalan Sekunder

LL Lokal

Jalan Sekunder

Jalan Primer

LL Regional

LL Regional

Jalan Primer

Jalan Sekunder

LL Lokal

Jalan Sekunder

Sistem Jaringan Jalan Sekunder Dengan Pola Grid

5. Mengendalikan pemanfaatan ruang di sekitar jalan Arteri Primer Banda AcehMedan, dalam rangka mencegah terjadinya penurunan fungsi jalan Arteri Primer pada ruas jalan tersebut. 6. Mendorong realisasi rencana pengembangan pelabuhan di kec. Simpang Mamplam, melalui penyiapan studi kelayakan serta desain pelabuhan, serta promosi kepada investor. Pengembangan pelabuhan laut di Kec. Simpang Mamplam difokuskan pada pelayanan angkutan barang. D.2 Prasarana dan Sarana Irigasi : 1. Perluasan jaringan irigasi sawah, dan pembangunan waduk/ bendungan untuk mendukung kawasan-kawasan sentra produksi pertanian tanaman pangan, di Kecamatan Samalanga, Peusangan dan Gandapura. 2. Rehabilitasi pada jaringan irigasi yang terdegradasi 3. Perbaikan manajemen atau sistem pengelolaan prasarana dan sarana irigasi yang ada. 4. Pengembangan sarana produksi pertanian. 5. Melakukan pembangunan prasarana dan sarana jaringan irigasi baru pada daerah yang mempunyai daya dukung potensi air baik dan areal sawah potensial

LAPORAN AKHIR

III - 22

BRR NAD - Nias


D.3 Prasarana dan Sarana Permukiman : 1. Melakukan rehabilitasi dan rekonstruksi prasarana dan sarana permukiman, meliputi : prasarana dan sarana drainase dan pengendali banjir, penyediaan air bersih, pengelolaan sampah dan air limbah (sanitasi), serta sarana pendidikan dan kesehatan, yang rusak akibat dampak tsunami. 2. Melakukan pengembangan prasarana dan sarana permukiman sesuai kebutuhan dengan mengacu pada standar pelayanan minimal prasarana dan sarana terhadap jumlah penduduk tahun rencana di kawasan perencanaan. 3. Pengembangan prasarana dan sarana permukiman diprioritaskan pada daerahdaerah yang secara kumulatif sangat kurang terhadap ketersediaan prasarana dan sarananya, serta daerah-daerah yang dianggap strategis, seperti : kawasan sentra produksi pertanian di Kec. Samalanga, Peusangan, dan Gandapura, dan rencana kawasan Industri Bate Geulungku dan rencana pelabuhan di Kec. Simpang Mamplam. 4. Pengembangan sumber daya air dari S. Bate Ilie, Kec. Samalanga sebagai sumber air baku untuk kebutuhan air bersih di kawasan industri Bate Geulungku dan rencana pelabuhan di Kec. Simpang Mamplam, serta untuk keerluan pengairan untuk perluasan sawah pada kawasan sentra produksi pertanian di Kec. Samalanga, dengan melakukan penyiapan studi kelayakan terlebih dahulu. 5. Pembangunan prasarana dan sarana dasar permukiman tidak hanya melayani lingkup lokal saja, namun juga dapat melayani beberapa wilayah kecamatan. D.4 Penanganan Daerah Rawan Gempa dan Tsunami 1. Menempatkan stasion Pemantau / Pengamat Gempa di daerah rawan gempa dan menambah peralatan yang lebih modern. 2. Bekerja sama dengan negara lain yang lebih modern dan saling tukar menukar Informasi. 3. Mengadakan pelatihan pelatihan petugas pengamat stasion gempa apabila terjadi gempa untuk peringatan dini.

LAPORAN AKHIR

III - 23

BRR NAD - Nias

4. Mengadakan kerja sama dengan instansi terkait mengenai prosedur penangan korban gempa dan tsunami, serta evakuasi masyarakat yang terkena dampak gempa dan tsunami. 5. Mengadakan penyuluhan bagi masyakat yang tinggal di daerah rawan gempa dan tsunami.

LAPORAN AKHIR

III - 24

BRR NAD - Nias

3.4

KECAMATAN SAMALANGA

3.4.1 IDENTIFIKASI KONDISI DAN PERMASALAHAN YANG ADA A. FISIK DAN LINGKUNGAN A.1 Morfologi Kondisi morfologi di Kec. Samalanga adalah berupa dataran di sebelah Utara (antara lain meliputi desa: Meunasah Lincah, Meuliek, Namploh Baro, Namploh Manyang, Keude Aceh, Matang Teungoh, Ulee Ue, Tanjongan Idem, Maunasa Puuk) dan perbukitan di sebelah Selatan. A.2 Jenis Tanah Jenis tanah di Kec. Samalanga, meliputi : Aluvial, Hidromorf kelabu, dan Podsolik Merah Kuning. Jenis tanah Aluvial umumnya relatif subur dan sesuai untuk pengembangan pertanian, jenis tanah Podsolik Merah Kuning sesuai untuk tanaman perkebunan atau tahunan. A.3 Kedalaman Efektif Tanah Kedalaman efektif tanah di Kec. Samalanga, sebagian besar memiliki kedalaman efektif antara 30 60 cm (92,66 %), dan sebagian kecil memiliki kedalaman efektif > 90 cm (7,34 %). Kedalaman efektif tanah ini akan menjadi dasar pertimbangan untuk penentuan kedalaman fondasi bangunan. A.4 Sumber Daya Air Sumber Daya Air Permukaan di kecamatan Samalanga meliputi Sumber Daya Air Sungai, Rawa/paya dan waduk, diantaranya Krueng / Sungai ( Samalanga 112 Ha, Bate Iliek 110 Ha dan Arongan 50 Ha ), Paya/Rawa Cot Mane 5 Ha dan Waduk Cot Tembok 5 ha. A.5 Daerah Rawan Banjir Daerah Wilayah Kecamatan Samalanga yang berpotensi rawan banjir adalah daerah Pesisir yang relatip datar 0 - 5 meter di atas permukaan air laut, meliputi daerah sekitar muara sungai kuala Sukon dan Kuala Arongan yang kondisinya mengalami

LAPORAN AKHIR

III - 25

BRR NAD - Nias


pendangkalan akibat sedimentasi dan akresi yang menimbulkan penyempitan

Bottel Neck di bagian hilir ( muara ) . A.6 Daerah Rawan Gempa Daerah Wilayah Kecamatan Samalanga berpotensi mengalami bencana kegempaan di tinjau dari tatanan struktur geologi tektonik regional pulau Sumatra yang sewaktu-waktu dapat menimbulkan gempa tektonik dengan skala 6-7 reichter , patahan patahan tersebut. Salah satunya dapat dijumpai di krueng Peusangan. A.7 Daerah Rawan Tsunami Daerah Kecamatan samalanga yang berpotensi terhadap bencana tsunami adalah daerah Pesisir yaitu meliputi desa-desa pesisir baik desa tambak maupun desa pantai yang beresiko berat yaitu Maunasah Lancok, Maunasah Lincah, Angkieng Barat, Tanjung Baro, Matang Teugeh, Pineung Siribee, Kampung Baro, Panthe rheng. Faktor penyebab di sepanjang pesisir desa-desa pantai tidak terdapat zona penyanggah (buffer zone) ekosistim hutan mangrove yang mampu menahan laju gelombang tsunami secara alamiah, serta kedalaman toporafi daerah perairan pantai Samalanga 20 60 meter, yang juga berpengaruh terhadap laju kecepatan rambat gelombang C = L/T terhadap kedalaman laut d/L dan semakin ke arah darat cepat rambat gelombang semakin melemah ( Refraksi Gelombang ). Luas wilayah daerah pesisir 3.895,77 Ha ( 2,049 % ), Meliputi Desa Tambak dan desa Pantai yaitu ; Desa Maunasa Lancok, Matang Teuguh, Meuliek, Angking Barat, Tanjung Baro, Pineung Sirebe, Kampung Baro, Pante Rheng, Sangso A.8 Kelautan dan Lingkungan Pesisir Morfologi Daerah Pesisir Penggunaan lahan dan kenampakan yang ada adalah pertambakan, pemukiman penduduk, perkebunan kelapa dan sawah dengan panjang garis pantai 4,7 km. Potensi Sumber Daya Hayati Komunitas Hutan Mangrove di desa Pineung Siribee 0,5 Ha dan Desa Kampung Baro 0,5 Ha, Ekosistim Estuaria Muara Sungai ( Kuala Samalanga, Kuala Sukon dan Kuala Arogan), Perikanan Tangkap dengan sarana pendukung TPI Pante Rheng , Budidaya Perikanan Tambak seluas 572 Ha, Ekosisitim Padang Lamun, Ekosistim Pantai Pasir.
LAPORAN AKHIR

III - 26

BRR NAD - Nias


Permasalahan Kelautan dan Lingkungan Pesisir Kerusakan Ekosistim Hutan Mangrove, Abrasi di sepanjang pesisir pantai, Akresi di Muara Sungai Samalanga ( sedang dalam pengerukan ) Analisis Penanganan dan Pengembangan Berdasarkan permasalahan kelautan dan lingkungan pesisir yang ada di Kec. Samalanga, maka beberapa bentuk penanganan dan pengembangan yang diperlukan adalah sebagai berikut : 1. Ekosistim Hutan Mangrove ( Bakau ) a. Melindungi dan Mencegah di Desa kerusakan keberadaan Pineung Ekosistim Hutan

Mangrove ( Bakau )

Sirebee dan Desa Kampung Baro

sebagai kawasan lindung ( perlindungan setempat / Sepadan Pantai ). b. Mereboisasi Kawasan Pesisir pantai dengan menanam kembali tanaman bakau (mangrove) di desa Desa Angking Barat, Tanjung Baro, Pineung Sirebe, Kampung Baro, Pante Rheng, Sangso sebagai kawasan perlindungan setempat ( sepadan pantai ). c. Menetapkan sistem pengelolaan hutan mangrove pada masyarakat setempat disertai dengan program pembinaan manfaat tanaman bakau, karena bakau dapat juga dijadikan sebagai bahan konstruksi, kayu bakar, bahan baku arang dan bahan baku kertas, pemasok larva beberapa jenis ikan, udang dan juga bisa sebagai daerah pariwisata ( Dr. Dietriech G. Bengen, 2001 ). d. Melibatkan dan Mengikutsertakan Peran Tokoh Masyarakt, Lembaga Swadaya Masyarakat, Praktisi Pendidikan dan Kelembagaan yang Berwenang dalam perencanaan dan pengelolaan hutan mangrove. e. Mencegah dan mengadakan pemantauan ( Monitoring ) terjadinya aktifitas pengembangan di wilayah pesisir atau perluasan lahan (pemukiman dan tambak) yang dapat merusak komunitas hutan mangrove. f. Merencanakan Program Kadaster Laut dan Pesisir ( Marine and Coastal Cadaster ) yaitu sistem pertanahan berbasis persil yang menjelaskan data kepemilikan dan peruntukannya dengan Pentahapan sebagai berikut ; Batas

LAPORAN AKHIR

III - 27

BRR NAD - Nias


Laut dan Pesisir Dinamika Laut dan Pesisir Tata Wilayah Laut dan Pesisir Kadaster Laut dan Pesisir ( Hak, Larangan Dan Kewajiban ) 2. Ekosistim Estuaria a. Mencegah dan Melindungi daerah ekosistim estuaria dari pencemaran air sungai akibat dari limbah ( hulu ) yang dihasilkan oleh kegiatan di darat. b. Mencegah, melarang dan mengarahkan masyarakat setempat untuk memakai jaring tertentu dalam menangkap ikan di wilayah Estuaria karena beberapa biota laut memanfaatkan daerah estuaria untuk bertelur dan menetas. 3. Ekosistim Padang Lamun Menetapkan Zonasi Wilayah Ekosistim Padang Lamun sebagai zona laut bebas dari aktivitas kapal untuk membuang sauh dan dari pencemaran air laut maupun kegiatan yang dapat merusak lingkungan tersebut. 4. Ekosistim Pasir Pantai Mencegah dan Melarang terhadap penambangan pasir pantai. 5. Perikanan Tangkap Pembenahan dan Merehabilitasi kondisi TPI Pante Rheng dengan pembangunan dermaga Baru untuk mempercepat aksesibelitas nelayan, Pengadaan pengolahan alat-alat perikanan, Pengadaan pancing tuna / cakalang, Pengadaan keramba jaring tancap, Pembangunan Balai Nelayan 6. Perikanan Tambak Merehabilitasi Kawasan Tambak yang terkena dampak tsunami 7. Abrasi a. Penanggulangan abrasi pantai secara alamiah dengan memanfaatkan sumber daya ekosistim hutan mangrove ( Vegetasi ) dan Reboisasi di desa pantai Angking Barat, Tanjung Baro, Pineung Sirebe, Kampung Baro, Pante Rheng dan Sangso. b. Penanggulangan abrasi pantai dengan sistim Proteksi Bangunan Coastal Pantai (

Engineering ) yaitu Sea Wall, Bulkhealt dan Revetment, dengan

mengutamakan dan memanfaatkan batuan yang banyak tersebar di


LAPORAN AKHIR

III - 28

BRR NAD - Nias


kabupaten bireuen di desa pantai Angking Barat, Tanjung Baro, Pineung Sirebe, Kampung Baro, Pante Rheng dan Sangso. 8. Akresi a. Mencegah terjadinya akresi di muara sungai dengan sistem proteksi bangunan pantai ( Jetty ). b. Mengadakan pengerukan di daerah muara sungai yang terjadi akresi untuk memperlancar alur masuk kapal penangkap ikan dan juga untuk mencegah terjadinya banjir. c. Pengerukan Alur Pelayaran lebarnya maksimal 3 sampai 4 kali lebar kapal terbersar yang direncanakan menggunakan alur tersebut dan kedalaman maksimal 0,9 meter dari draf kapal terendam pada saat air surut ( Rendah ). d. Pengerukan Alur Pelayaran tidak terlalu dekat dengan garis pantai yang dapat menimbulkan longsornya tepi tepi alur maupun erosi langsung dari tepi alur akibat dari pukulan gelombang lalu lintas kapal. e. Memanfaatkan bekas tanah hasil penimbunan pengerukan untuk reboisasi kawasan hutan mangrove. f. Mencegah dan Melarang bekas tanah penimbunan hasil pengerukan untuk dijadikan pemukiman dan pertambakan. A.9 Penggunaan Lahan Kondisi Penggunaan Lahan Pada saat ini, data penggunaan lahan di Kecamatan Samalanga yang tersedia adalah data penggunaan lahan dari data Podes tahun 2003 atau kondisi sebelum terjadinya bencana tsunami. Sedangkan data Podes tahun 2005 tidak memuat data penggunaan lahan maupun data luas desa/kelurahan yang ada, namun hanya memuat peta batas desa/kelurahan pada tahun 2005. Dari hasil persandingan peta batas desa/kelurahan antara data Podes tahun 2003 dan 2005, menunjukkan adanya perbedaan jumlah maupun batas desa/kelurahan yang ada. Berdasarkan permasalahan tersebut, maka konsultan memutuskan untuk mulai mengukur luas desa/kelurahan yang ada dengan basis peta batas desa/kelurahan
LAPORAN AKHIR

III - 29

BRR NAD - Nias


dari data Podes tahun 2005, dimana hasilnya dapat dilihat pada tabel luas desa prioritas pada sub bab 4.2. Sedangkan untuk data penggunaan lahannya, konsultan akan melakukan pengukuran penggunaan lahan berdasarkan hasil interprestasi dari Peta Citra Ikonos skala 1 : 12.000, yang hasilnya masih belum dapat disajikan pada ini. Analisis Kesesuaian Lahan Secara umum, kawasan yang perlu dilindungi di kecamatan Samalanga adalah kawasan rawan bencana alam (tsunami) dan kawasan lindung setempat, meliputi :
Kawasan Sempadan Pantai, Sempadan Sungai, Kawasan Sekitar Mata Air, dan Kawasan Sekitar Danau/Waduk, dimana kriteria dan arahannya diatur dalam Keppres No. 32 Tahun 1990,

sebagai berikut : 1. Sempadan Pantai, adalah daratan sepanjang tepian pantai yang lebarnya proporsional dengan bentuk dan kondisi fisik pantai sekurang-kurangnya 100 m dari titik pasang tertinggi ke arah darat. 2. Sempadan Sungai : a. Sekurang-kurangnya 5 m di sebelah luar sepanjang kaki tanggul di luar kawasan perkotaan dan 3 m di sebelah luar sepanjang kaki tanggul di dalam kawasan perkotaan; b. Sekurang-kurangnya 100 m di kanan kiri sungai besar dan 50 meter di kanan kiri sungai kecil yang tidak bertanggul di luar kawasan perkotaan; c. Sekurang-kurangnya 10 m dari tepi sungai untuk yang mempunyai kedalaman tidak lebih dari 3 m; d. Sekurang-kurangnya 15 m dari tepi sungai untuk sungai yang mempunyai kedalaman lebih dari 3 m sampai dengan 20 m; e. Sekurang-kurangnya 30 m dari tepi sungai untuk sungai yang mempunyai kedalaman lebih dari 20 m; f. Sekurang-kurangnya 100 m dari tepi sungai untuk sungai yang terpengaruh oleh pasang surut air laut, dan berfungsi sebagai jalur hijau. 3. Kawasan Sekitar Mata Air, adalah kawasan dengan radius sekurang-kurangnya 200 m di sekitar mata air.

LAPORAN AKHIR

III - 30

BRR NAD - Nias

4. Kawasan Sekitar Danau/Waduk, adalah daratan sepanjang tepian waduk dan situ yang lebarnya proporsional dengan bentuk dan kondisi fisik waduk dan situ sekurang-kurangnya 50 m dari titik pasang tertinggi ke arah darat. 5. Kawasan Rawan Bencana Tsunami, diarahkan mengacu pada arahan dalam Rencana Induk Rehabilitasi dan Rekonstruksi NAD-Nias yang akan dijelaskan pada bagian selanjutnya. Adapun kesesuaian lahan untuk kawasan budidaya, serta kawasan rawan terhadap bencana tsunami adalah mengacu pada arahan pemanfaatan ruang Kabupaten Bireuen, yang termuat dalam Rencana Induk Rehabilitasi dan Rekonstruksi NADNias, sebagai berikut : 1. Zona Pantai dan Perikanan Zona ini tersebar di sepanjang pantai dari Timur ke Barat Kabupaten Bireuen, dengan kegiatan utama adalah zona penyangga (buffer zone), zona budidaya perikanan tangkap dan perikanan budidaya, dengan kegiatan pendukung berupa pelabuhan perikanan, serta pengembangan pelabuhan rakyat Kuala Radja, Pelabuhan Kawasan Industri Batee Geulumpu dan Pelabuhan Perikanan Peudada sebagai alternatif percepatan aksesibilitas perekonomian Kabupaten Bireuen. 2. Zona Permukiman Terbatas Zona permukiman terbatas direncanakan di sepanjang jalur jalan ke arah Zona Pantai, yang semula padat oleh permukiman, serta di berbagai tempat yang mengalami kerusakan, baik oleh gempa maupun tsunami. Zona ini dikembangkan untuk permukiman terbatas dan budidaya pertanian, serta memperhatikan konstruksi bangunan (pemerintah dan masyarakat) yang tahan terhadap gempa dan tsunami 3. Zona Pengembangan Kegiatan Zona ini berada di bagian selatan jalur jalan nasional dengan kegiatan utama adalah pertanian lahan basah (sawah irigasi) dan pertanian lahan kering. Pada beberapa wilayah di zona ini akan dikembangkan pusat-pusat permukiman baru (Gampong Putoh, Blang Rangkuluh, Leubu Mesjid), sebagai alternatif bagi
LAPORAN AKHIR

III - 31

BRR NAD - Nias


perluasan pengembangan permukiman di Zona Permukiman Terbatas, sekaligus dengan mengembangkan jalur jalan alternatif untuk mengurangi beban jalur jalan nasional. Gambar 3.5 - Zonasi Kabupaten Bireuen

B. SOSIAL EKONOMI B.1 Jumlah Penduduk dan KK Eksisting Jumlah penduduk dan Kepala Keluarga (KK) pada seluruh desa yang ada di Kecamatan Samalanga pada tahun 2005 adalah 23.390 jiwa dan 5.351 KK, dengan jumlah penduduk dan KK terbesar adalah di Desa Mideun Jok sebanyak 1.515 jiwa dan 302 KK, serta terkecil di desa Mns. Lancok sebanyak 105 jiwa dan 24 KK.
No 1 2 3 4 5 6 7 8 Kode Peta 001 002 003 005 006 007 008 009 Nama Desa MEURAH COT MEURAK BLANG BATEE ILIEK COT MEURAK BAROH MESJID BARO DARUSSALAM MATANG II MNS MATANG WAKEUH Jumlah Penduduk Laki-Laki 288 259 326 171 210 270 315 187 Wanita 337 342 398 226 291 300 462 201 Total 625 601 724 397 501 570 777 388 Jumlah Keluarga 136 132 129 76 130 257 178 100

LAPORAN AKHIR

III - 32

BRR NAD - Nias

No 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41 42 43 44 45 46

Kode Peta 010 011 012 013 034 035 036 037 038 039 040 041 042 043 044 048 049 050 051 052 053 054 070 071 072 073 074 075 076 077 078 079 080 081 082 084 085 087

Nama Desa MATANG JAREUNG ALUE BARAT ULEE ALUE COT MANE PALOH KAMPUNG MEULUM GEULUMPANG BUNGKOK LANCOK ULEE JEUMATAN LHOK SEUMIRA LUENG KEUBEU MIDEUN GEUDONG MEUNASAH LUENG NAMPLOH PAPEUEN MEULIEK NAMPLOH KRUENG MIDEUN JOK KAMPUNG PUTOH NAMPLOH BARO NAMPLOH BLANG GARANG KANDANG NAMPLOH MANYANG SANGSO KEUDE ACEH KAMPUNG BARO PINEUNG SIRI BEE MATANG TEUNGOH ULEE UE TANJONGAN IDEM TANJONG BARO MEUNASAH LINCAH ANKIENG BARAT MNS PUUK MNS LANCOK COT SIREN PANTE RHEENG PULO BAROH GLUMPANG PAYONG

Jumlah Penduduk Laki-Laki 337 109 152 133 167 413 289 155 191 128 222 153 140 202 257 160 881 467 207 148 294 88 488 402 206 325 241 116 135 357 89 141 108 47 128 397 289 274 Wanita 343 122 173 148 221 490 307 199 186 213 266 165 155 251 315 183 634 463 196 165 380 127 548 387 244 334 308 125 115 371 102 165 131 58 140 489 312 240 Total 680 231 325 281 388 903 596 354 377 341 488 318 295 453 572 343 1,515 930 403 313 674 215 1,036 789 450 659 549 241 250 728 191 306 239 105 268 886 601 514

Jumlah Keluarga 162 57 72 77 73 171 121 82 78 80 76 67 58 110 147 83 302 160 83 75 147 58 234 178 110 166 127 61 72 175 54 76 66 24 68 182 132 149

LAPORAN AKHIR

III - 33

BRR NAD - Nias


B.2 Pertumbuhan Penduduk dan Proyeksi Penduduk Tahun 2010 Adapun pertumbuhan penduduk pada desa-desa di Kec. Samalanga dari tahun 20032005 sebagian menunjukkan angka pertumbuhan negatif, berkisar antara -0,25 sampai -33,83 %. Hal ini kemungkinan disebabkan dampak tsunami yang cukup parah di Kecamatan Samalanga. Berdasarkan angka pertumbuhan yang ada, selanjutnya diproyeksikan jumlah penduduk di desa-desa Kec. Samalanga pada tahun 2010, total sebesar 25.824 jiwa, dengan rincian jumlah penduduk tiap desa disajikan pada tabel berikut.
Status Desa/Kota Desa Desa Desa Desa Desa Desa Desa Desa Desa Desa Desa Desa Desa Desa Desa Desa Desa Desa Desa Desa Desa Desa Desa Desa Desa Desa Desa Desa Desa Luas Wilayah (Ha) 184.42 151.60 216.10 144.27 72.14 52.79 130.67 80.99 94.88 195.31 560.37 72.67 97.33 123.25 118.65 48.18 147.62 99.00 144.77 115.76 107.26 125.62 15.63 73.63 181.24 111.83 116.48 122.04 477.36 Jml. Penduduk Tahun 2003 (Jiwa) 556 480 784 399 482 543 711 416 1,176 345 333 358 366 799 667 397 403 322 308 364 293 460 535 396 1,440 2,124 354 341 764 Jml. Penduduk Tahun 2005 (Jiwa) 625 601 724 397 501 570 777 388 680 231 325 281 388 903 596 354 377 341 488 318 295 453 572 343 1,515 930 403 313 674 Proyeksi Penduduk Tahun 2010 (Jiwa) 690 664 799 438 553 629 858 428 751 255 359 310 428 997 658 391 416 376 539 351 326 500 632 379 1,673 1,027 445 346 744

No. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29

Kode 001 002 003 005 006 007 008 009 010 011 012 013 034 035 036 037 038 039 040 041 042 043 044 048 049 050 051 052 053

Nama Desa/ Kel. sekarang MEURAH COT MEURAK BLANG BATEE ILIEK COT MEURAK BAROH MESJID BARO DARUSSALAM MATANG II MNS MATANG WAKEUH MATANG JAREUNG ALUE BARAT ULEE ALUE COT MANE PALOH KAMPUNG MEULUM GEULUMPANG BUNGKOK LANCOK ULEE JEUMATAN LHOK SEUMIRA LUENG KEUBEU MIDEUN GEUDONG MEUNASAH LUENG NAMPLOH PAPEUEN MEULIEK NAMPLOH KRUENG MIDEUN JOK KAMPUNG PUTOH NAMPLOH BARO NAMPLOH BLANG GARANG KANDANG

LAPORAN AKHIR

III - 34

BRR NAD - Nias

No. 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41 42 43 44 45 46

Kode 054 070 071 072 073 074 075 076 077 078 079 080 081 082 084 085 087

Nama Desa/ Kel. sekarang NAMPLOH MANYANG SANGSO KEUDE ACEH KAMPUNG BARO PINEUNG SIRI BEE MATANG TEUNGOH ULEE UE TANJONGAN IDEM TANJONG BARO MEUNASAH LINCAH ANKIENG BARAT MNS PUUK MNS LANCOK COT SIREN PANTE RHEENG PULO BAROH GLUMPANG PAYONG TOTAL

Status Desa/Kota Desa Desa Kota Desa Desa Desa Desa Desa Desa Desa Desa Desa Desa Desa Desa Desa Desa

Luas Wilayah (Ha) 34.57 261.24 128.64 642.06 448.25 121.17 91.75 291.00 233.12 128.01 159.15 603.08 656.93 117.22 1,412.07 83.67 226.82 9,821

Jml. Penduduk Tahun 2003 (Jiwa) 217 698 787 476 663 589 213 260 658 197 291 253 126 309 1,010 760 596 25,019

Jml. Penduduk Tahun 2005 (Jiwa) 215 1,036 789 450 659 549 241 250 728 191 306 239 105 268 886 601 514 23,390

Proyeksi Penduduk Tahun 2010 (Jiwa) 237 1,144 871 497 728 606 266 276 804 211 338 264 116 296 978 664 567 25,824

B.3 Mata Pencaharian Penduduk dan Jumah KK Miskin Hampir seluruh desa yang ada di Kecamatan Samalanga memiliki mata pencaharian utama pada sektor pertanian tanaman pangan, kecuali untuk desa Keude Aceh memiliki mata pencaharian utama sektor perdagangan. Adapun jumlah Kepala Keluarga (KK) Miskin adalah 2.836 KK atau 53 % dari total jumlah KK yang ada, dengan jumlah KK Miskin terbesar terdapat di desa Panthe Rheeng, yakni sebanyak 159 KK atau 87,4 % dari jumlah KK yang ada di desa ini. Sebanyak 28 (dua puluh delapan) desa yang ada di Kec. Samalanga memiliki persentase jumlah KK miskin di atas 50 %. Kondisi ini dapat digunakan sebagai indikator kebutuhan penanganan masalah kemiskinan di Kec. Samalanga.
No Kode Peta 001 002 003 005 MEURAH COT MEURAK BLANG BATEE ILIEK COT MEURAK BAROH 135 131 97 75 Nama Desa Keluarga di Sektor Pertanian Jumlah 1 2 3 4 Persentase 99 99 75 99 Keluarga Miskin Jumlah 56 104 90 38 Persentase 41.2 78.8 69.8 50.0 Sumber Penghasilan Utama Pertanian Pertanian Pertanian Pertanian Sub Sektor Pertanian Tanaman Pangan Tanaman Pangan Tanaman Pangan Tanaman Pangan 200 280 115 140 Buruh Tani Jumlah Presentase 32.3 47.1 21.2 35.6

LAPORAN AKHIR

III - 35

BRR NAD - Nias

No

Kode Peta

Nama Desa

Keluarga di Sektor Pertanian Jumlah Persentase 80 85 80 85 85 94 97 90 80 95 99 80 99 95 98 90 95 70 98 99 90 75 80 95 80 95 75 0 75 80 90 97 80 20 90 90 90 80 99 97 70 80 Keluarga Miskin Jumlah 53 47 160 47 92 45 68 74 50 156 97 45 61 50 50 48 42 60 47 45 46 51 50 17 35 35 62 50 92 54 92 11 46 90 39 49 48 20 60 159 60 45 Persentase 40.8 18.3 89.9 47.0 56.8 78.9 94.4 96.1 68.5 91.2 80.2 54.9 78.2 62.5 65.8 71.6 72.4 54.5 32.0 54.2 15.2 31.9 60.2 22.7 23.8 60.3 26.5 28.1 83.6 32.5 72.4 18.0 63.9 51.4 72.2 64.5 72.7 83.3 88.2 87.4 45.5 30.2

Sumber Penghasilan Utama Pertanian Pertanian Pertanian Pertanian Pertanian Pertanian Pertanian Pertanian Pertanian Pertanian Pertanian Pertanian Pertanian Pertanian Pertanian Pertanian Pertanian Pertanian Pertanian Pertanian Pertanian Pertanian Pertanian Pertanian Pertanian Pertanian Pertanian Perdagangan Pertanian Pertanian Pertanian Pertanian Pertanian Pertanian Pertanian Pertanian Pertanian Pertanian Pertanian Pertanian Pertanian Pertanian Tanaman Pangan Tanaman Pangan Tanaman Pangan Tanaman Pangan Tanaman Pangan Tanaman Pangan Tanaman Pangan Tanaman Pangan Tanaman Pangan Tanaman Pangan Tanaman Pangan Tanaman Pangan Tanaman Pangan Tanaman Pangan Sub Sektor Pertanian Tanaman Pangan Tanaman Pangan Tanaman Pangan Tanaman Pangan Tanaman Pangan Tanaman Pangan Tanaman Pangan Tanaman Pangan Tanaman Pangan Tanaman Pangan Tanaman Pangan Tanaman Pangan Tanaman Pangan Tanaman Pangan Tanaman Pangan Tanaman Pangan Tanaman Pangan Tanaman Pangan Tanaman Pangan Tanaman Pangan Tanaman Pangan Tanaman Pangan Tanaman Pangan Tanaman Pangan Tanaman Pangan Tanaman Pangan Tanaman Pangan 80 60 160 60 130 90 79 94 60 250 397 65 100 175 70 58 47 60 40 150 82 87 40 102 115 35 305 30 92 25 96 85 85 96 87 79 52 60 107 15 185 65 27.3 4.7 19.4 36.4 42.5 65.9 50.6 28.7 24.2 71.4 40.3 1.7 44.0 15.8 Buruh Tani Jumlah Presentase 20.0 12.4 25.7 18.2 22.5 41.4 25.1 37.2 19.3 29.1 67.3 23.0 26.8 54.0 14.6 20.3 16.8 18.9 7.1 44.2 6.0 12.5 12.4 34.3 21.3 17.1 39.3

5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41 42 43 44 45 46

006 007 008 009 010 011 012 013 034 035 036 037 038 039 040 041 042 043 044 048 049 050 051 052 053 054 070 071 072 073 074 075 076 077 078 079 080 081 082 084 085 087

MESJID BARO DARUSSALAM MATANG II MNS MATANG WAKEUH MATANG JAREUNG ALUE BARAT ULEE ALUE COT MANE PALOH KAMPUNG MEULUM GEULUMPANG BUNGKOK LANCOK ULEE JEUMATAN LHOK SEUMIRA LUENG KEUBEU MIDEUN GEUDONG MEUNASAH LUENG NAMPLOH PAPEUEN MEULIEK NAMPLOH KRUENG MIDEUN JOK KAMPUNG PUTOH NAMPLOH BARO NAMPLOH BLANG GARANG KANDANG NAMPLOH MANYANG SANGSO KEUDE ACEH KAMPUNG BARO PINEUNG SIRI BEE MATANG TEUNGOH ULEE UE TANJONGAN IDEM TANJONG BARO MEUNASAH LINCAH ANKIENG BARAT MNS PUUK MNS LANCOK COT SIREN PANTE RHEENG PULO BAROH GLUMPANG PAYONG

104 218 142 85 138 54 70 69 58 162 120 66 77 76 74 60 55 77 144 82 272 120 66 71 118 55 176 0 83 133 114 59 58 35 49 68 59 19 67 177 92 119

LAPORAN AKHIR

III - 36

BRR NAD - Nias


C. PRASARANA DAN SARANA C.1 Transportasi Secara umum, seluruh desa yang ada di Kecamatan Samalanga dihubungkan oleh prasarana jaringan jalan dengan tipe perkerasan aspal/beton, sirtu, dan tanah, dan hampir seluruh desa dapat dijangkau oleh kendaraan roda-4, kecuali 2 (dua) desa, yakni : Desa Darussalam dan Ulee Jematan. Kondisi ini menunjukkan bahwa secara kuantitas hampir seluruh desa di Kec. Samalanga telah cukup terlayani oleh prasarana jaringan jalan yang ada, kecuali untuk 2 (desa) tersebut, dan dari segi kualitas, terdapat 5 (lima) desa yang prasarana jaringan jalannya perlu ditingkatkan dari jenis permukaan tanah menjadi minimal jenis Sirtu (Pasir Batu), sehingga dapat dilalui oleh kendaraan roda-4 di musim hujan. Adapun sarana angkutan umum ke desa-desa di kec. Samalanga sebagian besar adalah ojek (sepeda motor), kecuali untuk Desa Meurah dan Matang Wakeuh. Untuk lebih jelasnya lihat tabel berikut :
Dapat Dijangkau Kendaraan Roda 4/ Lebih Sepanjang Tahun Ya Ya Ya Ya Ya Tidak Ya Ya Ya Ya Ya Ya Ya Ya Ya Ya Tidak Ya Ya

No

Kode Peta

Nama Desa

Sebagian Besar Cara Lalu Lintas Antar Desa Darat Darat Darat Darat Darat Darat Darat Darat Darat Darat Darat Darat Darat Darat Darat Darat Darat Darat Darat

Jenis Permukaan Jalan Yang Terluas (jika darat)

Tipe Angkutan Umum Utama

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19

001 002 003 005 006 007 008 009 010 011 012 013 034 035 036 037 038 039 040

MEURAH COT MEURAK BLANG BATEE ILIEK COT MEURAK BAROH MESJID BARO DARUSSALAM MATANG II MNS MATANG WAKEUH MATANG JAREUNG ALUE BARAT ULEE ALUE COT MANE PALOH KAMPUNG MEULUM GEULUMPANG BUNGKOK LANCOK ULEE JEUMATAN LHOK SEUMIRA LUENG KEUBEU

Diperkeras(kerikil,batu,dsb) Aspal/Beton Aspal/Beton Diperkeras(kerikil,batu,dsb) Diperkeras(kerikil,batu,dsb) Diperkeras(kerikil,batu,dsb) Aspal/Beton Aspal/Beton Aspal/Beton Tanah Diperkeras(kerikil,batu,dsb) Diperkeras(kerikil,batu,dsb) Aspal/Beton Aspal/Beton Aspal/Beton Aspal/Beton Diperkeras(kerikil,batu,dsb) Diperkeras(kerikil,batu,dsb) Diperkeras(kerikil,batu,dsb)

Kend Roda 3/Lebih Ojek Sepeda Motor Ojek Sepeda Motor Ojek Sepeda Motor Ojek Sepeda Motor Ojek Sepeda Motor Ojek Sepeda Motor Kend Roda 3/Lebih Ojek Sepeda Motor Ojek Sepeda Motor Ojek Sepeda Motor Ojek Sepeda Motor Ojek Sepeda Motor Ojek Sepeda Motor Ojek Sepeda Motor Ojek Sepeda Motor Ojek Sepeda Motor Ojek Sepeda Motor Ojek Sepeda Motor

LAPORAN AKHIR

III - 37

BRR NAD - Nias

No

Kode Peta

Nama Desa

Sebagian Besar Cara Lalu Lintas Antar Desa Darat Darat Darat Darat Darat Darat Darat Darat Darat Darat Darat Darat Darat Darat Darat Darat Darat Darat Darat Darat Darat Darat Darat Darat Darat Darat Darat

Jenis Permukaan Jalan Yang Terluas (jika darat)

Dapat Dijangkau Kendaraan Roda 4/ Lebih Sepanjang Tahun Ya Ya Ya Ya Ya Ya Ya Ya Ya Ya Ya Ya Ya Ya Ya Ya Ya Ya Ya Ya Ya Ya Ya Ya Ya Ya Ya

Tipe Angkutan Umum Utama

20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41 42 43 44 45 46

041 042 043 044 048 049 050 051 052 053 054 070 071 072 073 074 075 076 077 078 079 080 081 082 084 085 087

MIDEUN GEUDONG MEUNASAH LUENG NAMPLOH PAPEUEN MEULIEK NAMPLOH KRUENG MIDEUN JOK KAMPUNG PUTOH NAMPLOH BARO NAMPLOH BLANG GARANG KANDANG NAMPLOH MANYANG SANGSO KEUDE ACEH KAMPUNG BARO PINEUNG SIRI BEE MATANG TEUNGOH ULEE UE TANJONGAN IDEM TANJONG BARO MEUNASAH LINCAH ANKIENG BARAT MNS PUUK MNS LANCOK COT SIREN PANTE RHEENG PULO BAROH GLUMPANG PAYONG

Aspal/Beton Diperkeras(kerikil,batu,dsb) Diperkeras(kerikil,batu,dsb) Diperkeras(kerikil,batu,dsb) Aspal/Beton Aspal/Beton Aspal/Beton Aspal/Beton Diperkeras(kerikil,batu,dsb) Aspal/Beton Diperkeras(kerikil,batu,dsb) Diperkeras(kerikil,batu,dsb) Aspal/Beton Diperkeras(kerikil,batu,dsb) Tanah Tanah Aspal/Beton Aspal/Beton Diperkeras(kerikil,batu,dsb) Tanah Diperkeras(kerikil,batu,dsb) Aspal/Beton Tanah Diperkeras(kerikil,batu,dsb) Diperkeras(kerikil,batu,dsb) Diperkeras(kerikil,batu,dsb) Diperkeras(kerikil,batu,dsb)

Ojek Sepeda Motor Ojek Sepeda Motor Ojek Sepeda Motor Ojek Sepeda Motor Ojek Sepeda Motor Ojek Sepeda Motor Ojek Sepeda Motor Ojek Sepeda Motor Ojek Sepeda Motor Ojek Sepeda Motor Ojek Sepeda Motor Ojek Sepeda Motor Ojek Sepeda Motor Ojek Sepeda Motor Ojek Sepeda Motor Ojek Sepeda Motor Ojek Sepeda Motor Ojek Sepeda Motor Ojek Sepeda Motor Ojek Sepeda Motor Ojek Sepeda Motor Ojek Sepeda Motor Ojek Sepeda Motor Ojek Sepeda Motor Ojek Sepeda Motor Ojek Sepeda Motor Ojek Sepeda Motor

C.2 Prasarana Air Bersih, Air Limbah dan Sampah Hampir seluruh desa di Kec. Samalanga menggunakan sumur sebagai sumber air bersih. Untuk prasarana dan sarana sanitasi berupa jamban umum tersedia pada sebagian desa (24 desa) yang ada, dan sebanyak 9 (sembilan) desa menggunakan sarana bukan jamban. Secara umum, kondisi ini menunjukkan kebutuhan pembangunan jamban umum agar minimal dapat melayani 80 % masyarakat di kecamatan Samalanga.

LAPORAN AKHIR

III - 38

BRR NAD - Nias


Untuk pengolahan sampah, hampir seluruh desa menggunakan cara dibuang di lubang dan dibakar, dan hanya 1 (satu) desa yang telah menggunakan cara lain yaitu Desa Sangso. Secara umum, kondisi ini telah memenuhi standar pelayanan minimal pengelolaan sampah yang ada untuk kawasan permukiman perkotaan dan perdesaan.
Sumber Air Minum Sumur Sumur Sungai/Danau Sumur Sumur Sumur Sumur Sumur Sumur Sumur Sumur Sumur Sumur Sumur Sumur Sumur Sumur Sumur Sumur Sumur Sumur Sumur Sumur Sumur Sumur Sumur Sumur Sumur Sumur Sumur Sumur Pipa PAM Sumur Sumur Harus Membeli Air Minum Tidak Tidak Ada Tidak Ada Ada Ada Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak Ada Tidak Tidak Ada Ada Tidak Tempat Buang Air Besar Jamban Umum Bukan Jamban Jamban Sendiri Bukan Jamban Jamban Sendiri Jamban Umum Jamban Umum Jamban Umum Jamban Bersama Jamban Umum Jamban Umum Jamban Sendiri Bukan Jamban Jamban Umum Jamban Umum Bukan Jamban Jamban Bersama Jamban Umum Bukan Jamban Bukan Jamban Bukan Jamban Jamban Umum Jamban Umum Jamban Umum Jamban Umum Jamban Sendiri Jamban Umum Jamban Sendiri Jamban Sendiri Jamban Sendiri Jamban Bersama Jamban Sendiri Jamban Sendiri Bukan Jamban Cara Membuang Sampah Lobang/Dibakar Lobang/Dibakar Lobang/Dibakar Lobang/Dibakar Lobang/Dibakar Lobang/Dibakar Lobang/Dibakar Lobang/Dibakar Lobang/Dibakar Lobang/Dibakar Lobang/Dibakar Lobang/Dibakar Lobang/Dibakar Lobang/Dibakar Lobang/Dibakar Lobang/Dibakar Lobang/Dibakar Lobang/Dibakar Lobang/Dibakar Lobang/Dibakar Lobang/Dibakar Lobang/Dibakar Lobang/Dibakar Lobang/Dibakar Lobang/Dibakar Lobang/Dibakar Lobang/Dibakar Lobang/Dibakar Lobang/Dibakar Lobang/Dibakar Diangkut Lobang/Dibakar Lobang/Dibakar Lobang/Dibakar

No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34

Kode 001 002 003 005 006 007 008 009 010 011 012 013 034 035 036 037 038 039 040 041 042 043 044 048 049 050 051 052 053 054 070 071 072 073

Nama Desa MEURAH COT MEURAK BLANG BATEE ILIEK COT MEURAK BAROH MESJID BARO DARUSSALAM MATANG II MNS MATANG WAKEUH MATANG JAREUNG ALUE BARAT ULEE ALUE COT MANE PALOH KAMPUNG MEULUM GEULUMPANG BUNGKOK LANCOK ULEE JEUMATAN LHOK SEUMIRA LUENG KEUBEU MIDEUN GEUDONG MEUNASAH LUENG NAMPLOH PAPEUEN MEULIEK NAMPLOH KRUENG MIDEUN JOK KAMPUNG PUTOH NAMPLOH BARO NAMPLOH BLANG GARANG KANDANG NAMPLOH MANYANG SANGSO KEUDE ACEH KAMPUNG BARO PINEUNG SIRI BEE

LAPORAN AKHIR

III - 39

BRR NAD - Nias

No 35 36 37 38 39 40 41 42 43 44 45 46

Kode 074 075 076 077 078 079 080 081 082 084 085 087

Nama Desa MATANG TEUNGOH ULEE UE TANJONGAN IDEM TANJONG BARO MEUNASAH LINCAH ANKIENG BARAT MNS PUUK MNS LANCOK COT SIREN PANTE RHEENG PULO BAROH GLUMPANG PAYONG

Sumber Air Minum Sumur Sumur Sumur Sumur Sumur Sumur Sumur Sumur Sumur Pipa PAM Sungai/Danau Sumur

Harus Membeli Air Minum Tidak Ada Tidak Ada Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak Ada Tidak Tidak

Tempat Buang Air Besar Jamban Umum Jamban Sendiri Jamban Umum Jamban Umum Jamban Umum Jamban Umum Jamban Umum Jamban Umum Bukan Jamban Jamban Umum Jamban Umum Jamban Umum

Cara Membuang Sampah Lobang/Dibakar Lobang/Dibakar Lobang/Dibakar Lobang/Dibakar Lobang/Dibakar Lobang/Dibakar Lobang/Dibakar Lobang/Dibakar Lobang/Dibakar Lobang/Dibakar Lobang/Dibakar Lobang/Dibakar

C.3 Sarana Pendidikan Sarana pendidikan di Kecamatan Samalanga meliputi : 1. TK Swasta sebanyak 4 (empat) buah, dengan jangkauan pelayanan ke desa terjauh (Desa Luengkeubeu) adalah 40,4 Km, 2. SD Negeri sebanyak 18 (delapan belas) buah, dengan jangkauan pelayanan ke desa terjauh (Desa Luengkeubeu) adalah 5,5 Km, 3. SMP Negeri sebanyak 2 (dua) buah, dan SMP swasta sebanyak 3 (tiga) buah, dengan jangkauan pelayanan ke desa terjauh (Desa Luengkeubeu) adalah 5 Km. 4. SMU Negeri sebanyak 1 (satu) buah, dan SMU swasta sebanyak 2 (dua) buah, dengan jangkauan pelayanan ke desa terjauh (Desa Sangso) adalah 14 Km.

No

Kode Peta

Nama Desa

Taman Kanak-Kanak Jarak Jumlah Sekolah RataRata Negeri Swasta (km) 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 5 2 5 6 4 2.5 2

Sekolah Dasar Jumlah Sekolah Negeri 0 1 2 1 1 0 1 Swasta 0 0 0 0 0 0 0 Jarak RataRata (km) 0.3 . . . . 0.4 .

Sekolah Menengah Pertama Jarak Jumlah Sekolah RataRata Negeri Swasta (km) 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0.3 1.0 0.3 2.0 1.0 2.5 2.0

Sekolah Menengah Umum Jarak Jumlah Sekolah RataRata Negeri Swasta (km) 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 5.0 3.0 5.5 6.0 4.5 3.0 2.0

1 2 3 4 5 6 7

001 002 003 005 006 007 008

MEURAH COT MEURAK BLANG BATEE ILIEK COT MEURAK BAROH MESJID BARO DARUSSALAM MATANG II MNS

LAPORAN AKHIR

III - 40

BRR NAD - Nias

No

Kode Peta

Nama Desa

Taman Kanak-Kanak Jarak Jumlah Sekolah RataRata Negeri Swasta (km) 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1 0 0 0 0 0 1 0 0 0 0 1 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 2.5 2.6 2.5 2.5 3 3.2 3 4 3.3 35 0.5 4 2 1 0.2 0.3 0.3 1.5 1 0.3 2.2 3 3 2 2.5 2 3 2.5 4 4.5 3 3.5 3.5 40.4 3

Sekolah Dasar Jumlah Sekolah Negeri 0 1 0 0 1 1 0 1 0 0 1 0 0 0 0 0 1 0 0 2 0 1 0 0 1 0 0 0 0 0 1 0 0 1 0 0 0 0 0 Swasta 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 Jarak RataRata (km) 0.2 . 0.5 0.5 . . 1.0 . 0.8 0.3 . 5.5 3.1 0.2 0.5 0.5 . 1.0 1.5 . 0.9 . 0.3 0.3 . 0.5 1.7 0.1 1.0 0.2 . 0.5 0.5 . 0.5 0.5 0.1 0.3 0.1

Sekolah Menengah Pertama Jarak Jumlah Sekolah RataRata Negeri Swasta (km) 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1 0 0 0 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1 2 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 3.1 2.0 2.5 2.0 3.0 2.3 4.0 4.0 3.5 3.5 3.7 5.0 3.2 2.6 1.5 0.5 2.0 . . 1.0 1.2 1.0 0.4 0.4 . 0.5 1.5 0.4 1.0 . 1.0 1.3 0.8 0.2 1.0 3.5 0.1 1.0 2.0

Sekolah Menengah Umum Jarak RataRata Negeri Swasta (km) Jumlah Sekolah 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 3.1 2.5 2.5 12.0 3.0 2.3 4.0 4.0 3.5 4.0 4.0 5.0 3.2 2.7 2.1 1.0 2.5 . . 1.5 1.4 1.0 12.0 14.0 . 0.7 1.5 0.1 0.2 0.5 1.0 0.5 1.0 0.7 0.8 3.5 0.1 4.2 2.2

8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41 42 43 44 45 46

009 010 011 012 013 034 035 036 037 038 039 040 041 042 043 044 048 049 050 051 052 053 054 070 071 072 073 074 075 076 077 078 079 080 081 082 084 085 087

MATANG WAKEUH MATANG JAREUNG ALUE BARAT ULEE ALUE COT MANE PALOH KAMPUNG MEULUM GEULUMPANG BUNGKOK LANCOK ULEE JEUMATAN LHOK SEUMIRA LUENG KEUBEU MIDEUN GEUDONG MEUNASAH LUENG NAMPLOH PAPEUEN MEULIEK NAMPLOH KRUENG MIDEUN JOK KAMPUNG PUTOH NAMPLOH BARO NAMPLOH BLANG GARANG KANDANG NAMPLOH MANYANG SANGSO KEUDE ACEH KAMPUNG BARO PINEUNG SIRI BEE MATANG TEUNGOH ULEE UE TANJONGAN IDEM TANJONG BARO MEUNASAH LINCAH ANKIENG BARAT MNS PUUK MNS LANCOK COT SIREN PANTE RHEENG PULO BAROH GLUMPANG PAYONG

Kondisi di atas, apabila dikaitkan dengan standar pelayanan minimal untuk satuan lingkungan dengan jumlah penduduk < 30.000 jiwa (lihat Lampiran), dimana desaLAPORAN AKHIR

III - 41

BRR NAD - Nias


desa prioritas di Kecamatan Samalanga dianggap sebagai satu lingkungan, dengan proyeksi penduduk pada tahun 2010 sebesar 25.824 jiwa, maka kebutuhan tambahan sarana pendidikan di kawasan perencanaan Kec. Samalanga adalah hanya berupa sarana TK sebanyak 21 (dua puluh satu) buah. C.4 Sarana Kesehatan Sarana kesehatan di Kecamatan Samalanga meliputi : 1. Puskesmas sebanyak 1 (satu) buah, di Desa Keude Aceh, dengan jangkauan pelayanan ke desa terjauh (Desa Cot Meurak Baroh) adalah 6 Km, 2. Puskesmas Pembantu sebanyak 4 (empat) buah, dengan jangkauan pelayanan ke desa terjauh (Desa Cot Meurak Baroh) adalah 6 Km, 3. Posyandu sebanyak 44 (empat puluh empat) buah (hampir ada di setiap desa), dengan jangkauan pelayanan ke desa terjauh (Desa Ulee Ue) adalah 2,5 Km, 4. Polindes (Pondok Bersalin Desa) sebanyak 18 (delapan belas) buah, dengan jangkauan pelayanan ke desa terjauh (Desa Mns. Lancok) adalah 5,1 Km.
Poliklinik/Balai Pengobatan Jarak RataJumlah Rata (km) 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 5.0 2.0 45.0 6.0 43.1 42.5 41.3 43.0 41.0 2.5 2.0 42.0 44.2 46.0 1.0 43.5 44.5 Puskemas Jumlah 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 Jarak RataRata (km) 5.0 2.0 5.0 6.0 3.5 3.0 2.0 3.1 2.0 2.5 2.0 3.0 2.3 4.0 2.0 3.5 3.5 Puskemas Pembantu Jarak RataJumlah Rata (km) 0 0 0 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 1 0 0 0 2.0 2.0 1.0 6.0 . 0.5 1.5 0.3 2.0 2.5 2.0 4.0 1.0 . 2.0 1.2 3.0 POSYANDU Jumlah 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 Jarak RataRata (km) . . . . . . . . . . . . . . . . . Polindes (Pondok Bersalin Desa) Jarak RataJumlah Rata (km) 0 0 1 1 0 0 1 1 0 0 0 0 1 0 0 1 1 1.0 2.0 . . 1.0 0.5 . . 3.2 2.5 0.8 3.0 . 4.0 2.0 . .

No

Kode Peta

Nama Desa

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17

001 002 003 005 006 007 008 009 010 011 012 013 034 035 036 037 038

MEURAH COT MEURAK BLANG BATEE ILIEK COT MEURAK BAROH MESJID BARO DARUSSALAM MATANG II MNS MATANG WAKEUH MATANG JAREUNG ALUE BARAT ULEE ALUE COT MANE PALOH KAMPUNG MEULUM GEULUMPANG BUNGKOK LANCOK ULEE JEUMATAN

LAPORAN AKHIR

III - 42

BRR NAD - Nias

No

Kode Peta

Nama Desa

Poliklinik/Balai Pengobatan Jarak RataJumlah Rata (km) 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 45.5 47.0 43.1 44.6 44.0 42.0 2.0 45.0 46.0 47.0 44.0 44.0 43.0 43.0 43.0 2.5 43.5 46.0 45.0 45.0 45.8 45.0 45.0 45.0 46.3 3.0 0.5 43.1 41.0

Puskemas Jumlah 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 Jarak RataRata (km) 3.4 5.4 3.2 2.6 1.7 0.5 2.0 2.1 2.0 0.5 1.5 2.0 0.3 0.3 . 0.5 1.5 2.4 2.5 2.7 3.0 3.2 3.0 4.0 3.3 3.0 0.4 4.0 2.0

Puskemas Pembantu Jarak RataJumlah Rata (km) 0 0 0 0 0 0 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 3.0 4.0 1.0 1.0 5.0 0.5 4.0 . 0.5 0.3 4.0 1.8 5.0 2.6 2.6 2.5 1.5 0.5 . 0.1 1.0 0.5 0.5 0.5 1.0 3.5 5.0 0.4 1.5

POSYANDU Jumlah 1 1 1 1 1 1 1 1 1 0 1 1 1 1 1 1 1 1 0 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 Jarak RataRata (km) . . . . . . . . . 0.5 . . . . . . . . 2.5 . . . . . . . . . .

Polindes (Pondok Bersalin Desa) Jarak RataJumlah Rata (km) 1 0 1 1 1 1 1 1 0 0 1 0 0 0 1 0 0 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 1 0 . 4.0 . . . . . . 0.5 0.5 . 1.5 3.0 0.5 . 0.5 1.5 4.0 . 4.7 3.0 3.2 3.0 4.0 5.1 3.0 0.4 . 0.5

18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41 42 43 44 45 46

039 040 041 042 043 044 048 049 050 051 052 053 054 070 071 072 073 074 075 076 077 078 079 080 081 082 084 085 087

LHOK SEUMIRA LUENG KEUBEU MIDEUN GEUDONG MEUNASAH LUENG NAMPLOH PAPEUEN MEULIEK NAMPLOH KRUENG MIDEUN JOK KAMPUNG PUTOH NAMPLOH BARO NAMPLOH BLANG GARANG KANDANG NAMPLOH MANYANG SANGSO KEUDE ACEH KAMPUNG BARO PINEUNG SIRI BEE MATANG TEUNGOH ULEE UE TANJONGAN IDEM TANJONG BARO MEUNASAH LINCAH ANKIENG BARAT MNS PUUK MNS LANCOK COT SIREN PANTE RHEENG PULO BAROH GLUMPANG PAYONG

Kondisi di atas, apabila dikaitkan dengan standar pelayanan minimal untuk satuan lingkungan dengan jumlah penduduk < 30.000 jiwa (lihat Lampiran), dimana desadesa di Kecamatan Samalanga dianggap sebagai satu lingkungan, dengan proyeksi penduduk pada tahun 2010 sebesar 25.824 jiwa, maka tambahan sarana kesehatan yang dibutuhan di Kec. Samalanga, meliputi : 1. Poliklinik/Balai Pengobatan sebanyak 4 (empat) buah, dan 2. RS Bersalin sebanyak 1 (satu) buah
LAPORAN AKHIR

III - 43

BRR NAD - Nias

C.4 Listrik dan Telepon Secara umum, hampir seluruh desa di Kecamatan Samalanga telah dilayani oleh prasarana listrik, kecuali 2 (dua) desa, yakni desa Meunasah Lincah, dan desa Meunasah Lancok. Kondisi ini menunjukkan kebutuhan perluasan jaringan listrik yang dapat mencapai kedua desa tersebut. Demikian juga untuk prasarana telepon, sebagian desa di kecamatan Samalanga telah dilayani, dan terdapat 18 (delapan) desa yang masih belum terlayani. Kondisi ini menunjukkan kebutuhan perluasan jaringan telepon yang dapat mencapai desa-desa yang masih berlum terlayani.
Keluarga Berlangganan Telepon Persentase Jumlah (%) 0 0 5 0 15 2 5 10 15 0 0 0 0 0.0 0.0 0.0 0.0 0.0 0.0 0.0 0.0 0.0 0.0 0.0 0.0 0.0 0.0 0 0 3 4 3 0 0 9 8 25 16 3 5 20 0.0 0.0 3.9 0.0 11.5 0.8 2.8 10.0 9.3 0.0 0.0 0.0 0.0 0.0 0.0 3.7 5.1 3.8 0.0 0.0 15.5 7.3 17.0 19.3 1.0 3.1 24.1

No

Kode Peta 001 002 003 005 006 007 008 009 010 011 012 013 034 035 036 037 038 039 040 041 042 043 044 048 049 050 051 MEURAH

Nama Desa

Ketersediaan Listrik Ada Ada Ada Ada Ada Ada Ada Ada Ada Ada Ada Ada Ada Ada Ada Ada Ada Ada Ada Ada Ada Ada Ada Ada Ada Ada Ada

Keluarga Pengguna Listrik Jumlah Persentase (%) PLN Non PLN PLN Non PLN 100 93 124 65 130 257 178 100 146 43 43 49 70 30 112 82 64 75 55 59 42 105 145 83 80 160 68 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 73.5 70.5 96.1 85.5 100.0 100.0 100.0 100.0 90.1 75.4 59.7 63.6 95.9 17.5 92.6 100.0 82.1 93.8 72.4 88.1 72.4 95.5 98.6 100.0 26.5 100.0 81.9 0.0 0.0 0.0 0.0 0.0 0.0 0.0 0.0 0.0 0.0 0.0 0.0

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27

COT MEURAK BLANG BATEE ILIEK COT MEURAK BAROH MESJID BARO DARUSSALAM MATANG II MNS MATANG WAKEUH MATANG JAREUNG ALUE BARAT ULEE ALUE COT MANE PALOH KAMPUNG MEULUM GEULUMPANG BUNGKOK LANCOK ULEE JEUMATAN LHOK SEUMIRA LUENG KEUBEU MIDEUN GEUDONG MEUNASAH LUENG NAMPLOH PAPEUEN MEULIEK NAMPLOH KRUENG MIDEUN JOK KAMPUNG PUTOH NAMPLOH BARO

LAPORAN AKHIR

III - 44

BRR NAD - Nias

No

Kode Peta 052 053 054 070 071 072 073 074 075 076 077 078 079 080 081 082 084 085 087

Nama Desa

Ketersediaan Listrik Ada Ada Ada Ada Ada Ada Ada Ada Ada Ada Ada Tidak Ada Ada Tidak Ada Ada Ada Ada

Keluarga Pengguna Listrik Jumlah Persentase (%) PLN Non PLN PLN Non PLN 74 109 48 209 178 110 166 125 61 72 150 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 98.7 74.1 82.8 89.3 100.0 100.0 100.0 98.4 100.0 100.0 85.7 0.0 34 47 0 0 44.7 71.2 0.0 40 148 86 149 0 0 0 0 58.8 81.3 65.2 100.0 0.0 0.0 0.0 0.0 0.0 0.0 0.0 0.0 0.0 0.0 0.0 0.0 0.0 0.0 0.0 0.0 0.0

Keluarga Berlangganan Telepon Persentase Jumlah (%) 23 12 7 40 50 20 7 0 3 10 0 0 0 7 0 0 10 0 2 30.7 8.2 12.1 17.1 28.1 18.2 4.2 0.0 4.9 13.9 0.0 0.0 0.0 10.6 0.0 0.0 5.5 0.0 1.3

28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41 42 43 44 43 44

NAMPLOH BLANG GARANG KANDANG NAMPLOH MANYANG SANGSO KEUDE ACEH KAMPUNG BARO PINEUNG SIRI BEE MATANG TEUNGOH ULEE UE TANJONGAN IDEM TANJONG BARO MEUNASAH LINCAH ANKIENG BARAT MNS PUUK MNS LANCOK COT SIREN PANTE RHEENG PULO BAROH GLUMPANG PAYONG

3.4.2 RENCANA TINDAK (ACTION PLAN) KECAMATAN SAMALANGA Rencana Tindak (Action Plan) di Kecamatan Samalanga disusun berdasarkan 5 (lima) rangkaian kegiatan yang telah dijelaskan pada sub bab 3.2. Sebagaimana juga telah dijelaskan pada sub bab 3.2, pelaksanaan sosialisasi melalui FGD di kecamatan Samalanga tidak dapat dilaksanakan, sehingga dalam hal ini dilaksanakan survai wawancara (kuestioner) kepada masyarakat setempat sebagai bahan validitas terhadap draft rencana tindak (action plan) yang disusun konsultan dan telah dipadukan dengan bahan usulan program dari hasil pelaksanaan penjaringan aspirasi masyarakat melaui Forum FGD (Focus Group Discussion) yang dilakukan oleh Pemda Kabupaten Bireuen bekerjasama dengan Lembaga NGO dari Perancis pada tahun 2005. Hasil suvai wawancara (kuestioner) kepada masyarakat di 9 (sembilan) kecamatan prioritas (termasuk Kecamatan Samalanga) juga telah dijelaskan pada sub bab 3.2. Melalui 5 (lima) rangkaian kegiatan di atas, dan hasil pelaksanaan suvai wawancara
LAPORAN AKHIR

III - 45

BRR NAD - Nias


(kuestioner) kepada masyarakat selanjutnya disusun dan ditetapkan Rencana Tindak (Action Plan) di Kecamatan Samalanga Tahun 2007 sampai Tahun 2009 seperti disajikan pada Tabel dan gambar pada halaman berikut. 3.4.3 DESA PRIORITAS DI KECAMATAN SAMALANGA Dengan mengacu pada proses dan metode penetapan desa prioritas yang telah dijelaskan pada sub bab 3.2, maka dipilih dan ditetapkan desa prioritas untuk Village Planning di Kecamatan Samalanga seperti disajikan pada tabel berikut. Desa Prioritas di Kecamatan Samalanga
Urutan Prioritas 38 28 28 27 26 22 22 21 20 19 18 15 15 14 14 10 8 1 2 2 3 4 5 5 6 7 8 9 10 10 11 11 12 13

No 6 19 20 25 27 57 59 65 76 87 96 122 123 125 126 139 142

Kode 81 78 84 74 73 72 79 77 70 54 44 51 80 71 76 75 53

Nama Desa/Kel. sekarang MNS LANCOK MEUNASAH LINCAH PANTE RHEENG MATANG TEUNGOH PINEUNG SIRI BEE KAMPUNG BARO ANKIENG BARAT TANJONG BARO SANGSO NAMPLOH MANYANG MEULIEK NAMPLOH BARO MNS PUUK KEUDE ACEH TANJONGAN IDEM ULEE UE KANDANG

Kecamatan Samalanga Samalanga Samalanga Samalanga Samalanga Samalanga Samalanga Samalanga Samalanga Samalanga Samalanga Samalanga Samalanga Samalanga Samalanga Samalanga Samalanga

Nilai

LAPORAN AKHIR

III - 46

BRR NAD - Nias

LAPORAN AKHIR

III - 47

BRR NAD - Nias

LAPORAN AKHIR

III - 48

BRR NAD - Nias

LAPORAN AKHIR

III - 49

BRR NAD - Nias

LAPORAN AKHIR

III - 50

BRR NAD - Nias

3.5

KECAMATAN SIMPANG MAMPLAM

3.5.1 IDENTIFIKASI KONDISI DAN PERMASALAHAN YANG ADA A. FISIK DAN LINGKUNGAN A.1 Morfologi Kondisi morfologi di Kec. Simpang Mamplam berupa dataran di sebelah Utara, (antara lain meliputi desa : Ceureucok, Blang Teumulek, Blang Kuta II Mns, Blang Kuta Coh, Rheum Timur, dan Meunasah Asan), dan perbukitan di sebelah Selatan. A.2 Jenis Tanah Jenis tanah di Kec. Simpang Mamplam, meliputi : Aluvial, Hidromorf kelabu, dan Podsolik Merah Kuning. Jenis tanah Aluvial umumnya relatif subur dan sesuai untuk pengembangan pertanian, jenis tanah Podsolik Merah Kuning sesuai untuk tanaman perkebunan atau tahunan. A.3 Kedalaman Efektif Tanah Kedalaman efektif tanah di Kec. Simpang Mamplam, sebagian besar memiliki kedalaman efektif antara 30 60 cm. A.4 Sumber Daya Air Sumber Daya Air Permukaan di kecamatan Simpang Mamplam meliputi Sumber Daya Air Sungai, Rawa/paya dan, diantaranya Krueng / Sungai ( Surien , Tambue, Cangkue, Tambu 40 Ha ), Paya / Rawa Betee Glungku 6 Ha, Glen Mudong 3 Ha. A.5 Daerah Rawan Banjir Daerah wilayah Kecamatan Simpang Mamplam yang berpotensi rawan banjir adalah daerah Pesisir yang relatip datar 0 -5 meter di atas permukaan air laut .meliputi daerah sekitar muara sungai kuala Tambue dan Kuala Cangkue yang kondisinya mengalami pendangkalan akibat sedimentasi dan akresi yang menimbulkan penyempitan Bottle Neck di bagian hilir ( muara ) . A.6 Daerah Rawan Gempa Daerah Wilayah Kecamatan Simpang Mamplam berpotensi mengalami bencana kegempaan di tinjau dari tatanan struktur geologi tektonik regional pulau Sumatra
LAPORAN AKHIR

III - 51

BRR NAD - Nias


yang sewaktu-waktu dapat menimbulkan gempa tektonik dengan skala 6-7 reichter patahan patahan tersebut. Salah satunya dapat dijumpai di krueng Peusangan. A.7 Daerah Rawan Tsunami Daerah Pesisir yang berpotensi rawan tsunami meliputi desa-desa pesisir baik desa tambak maupun desa pantai yang beresiko berat yaitu desa Rhuem Baroh dan yang beresiko sedang yaitu desa Kaude Tambue, Core Tunong, Core Baroh, Peuneulet Baroh, Ulee Kareung, Blang Panyah dan Calok. Faktor penyebab lain di sepanjang pesisir desa-desa pantai tidak terdapat zona penyanggah (buffer zone) Ekosistim hutan mangrove yang mampu menahan laju gelombang tsunami secara alamiah serta kedalaman toporafi daerah perairan pantai Simpang Mamplam 20 60 meter, yang juga berpengaruh terhadap laju kecepatan rambat gelombang C = L/T terhadap kedalaman laut d/L yang semakin ke arah darat cepat rambat gelombang semakin melemah ( Refraksi Gelombang ) dan juga adanya sebaran Ekosistim Terumbu Karang di perairan desa Ulee Karueng, Blang Panyah dan Calok yang dapat menahan laju gelombang tsunami. A.8 Kelautan dan Lingkungan Pesisir Morfologi Daerah Pesisir Penggunaan lahan dan kenampakan yang ada adalah pemukiman penduduk, pertambakan, kebun kelapa, sawah dan hatchery 12,95 km. Potensi Sumber Daya Hayati Ekosisitim Terumbu Karang tersebar di desa ( Ulee Kareung, Blang Panyah dan Calok ) , Ekosisitim Estuaria Muara Sungai ( Kuala Surien, Kuala Tambue dan Kuala Cangkue), Perikanan tangkap dan rencana di bangun TPI, Ekosistim Padang Lamun , Ekosisitim Pantai Pasir dan Budi daya tambak seluas 866 Ha. Permasalahan Kelautan dan Lingkungan Pesisir Abrasi di sepanjang pesisir pantai, Akresi di daerah muara sungai Tambue dan Cangkoy, Kerusakan Ekosistim Hutan Mangrove. dengan panjang garis pantai

LAPORAN AKHIR

III - 52

BRR NAD - Nias


Analisis Penanganan dan Pengembangan Berdasarkan permasalahan kelautan dan lingkungan pesisir yang ada di Kec. Simpang Mamplam, maka beberapa bentuk penanganan dan pengembangan yang diperlukan adalah sebagai berikut : 1. Ekosistim Hutan Mangrove ( Bakau ) a. Mereboisasai Kawasan pantai dengan menanam kembali tanaman bakau (mangrove) di desa Rheum Baroh, Kaude Tambue, Core Tunong, Cure Baroh, Peneulet Baroh, Ulee Kareung, Blang Panyah, Calok. b. Penanganan lainnya adalah sama dengan yang telah dijelaskan untu kecamatan Samalanga. 2. Ekosistim Estuaria, Padang Lamun, Pasir Pantai, dan Perikanan Tambak Sama dengan yang telah dijelaskan untuk kecamatan Samalanga. 3. Abrasi a. Penanggulangan abrasi pantai secara alamiah dengan memanfaatkan sumber daya ekosistim hutan mangrove ( Vegetasi ) dan Reboisasi di desa Rhum Baroh, Kaude Tambue, Core Tunong, Cure Baroh, Peneulet Baroh, Ulee Karueng, Blang Panyah dan desa Calok. b. Penanggulangan abrasi pantai dengan sistim Proteksi Bangunan Coastal Pantai (

Engineering ) yaitu Sea Wall, Bulkhealt dan Revetment, dengan

mengutamakan dan memanfaatkan batuan yang banyak tersebar di kabupaten bireuen di desa Rhum Baroh, Kaude Tambue, Core Tunong, Cure Baroh, Peneulet Baroh, Ulee Karueng, Blang Panyah dan desa Calok. 4. Akresi Sama dengan yang telah dijelaskan untuk kecamatan Samalanga. A.9 Rencana Pembangunan Pelabuhan Internasional Bireuen Rencana Pembangunan Pelabuhan Laut Internasional Bireuen sesuai dengan Master Plan yang telah di buat Bapeda Kabupaten Bireuen berlokasi daerah Batee Guelungku berdekatan dengan rencana pegembangan Kawasan Industri (Batee Geulungku Industrial Estate Port).
LAPORAN AKHIR

III - 53

BRR NAD - Nias


1. Kondisi Pemanfaatan Lahan Pelabuhan Rencana Rencana Pembangunan Pelabuhan Bireuen meliputi wilayah desa-desa pantai yang umumya pemanfaatan lahannya sebagai daerah Pertambakan, Sawah, Pemukiman Nelayan dan Kebun Kelapa. Di kecamatan Simpang Mamplam luas lahan yang di jadikan budi daya perikanan tambak mencapai (866 Ha). Luas Desa yang termasuk desa pantai 5.009 Ha. Panjang garis pantai 12,95 km 2. Jalan Akses Ke Pelabuhan Rencana Jalan akses ke pelabuhan rencana adalah jalan Nasional (Arteri Primer) Banda Aceh Medan, yang terhubung dengan Akses jalan lokal Kecamatan dan Jalanjalan Desa yang ada. 3. Sumber Daya Air Bate Ilie Direncanakan akan dibangun Pengolahan Sumber Daya Air dari Sumber Mata Air Sungai Bate Ilie di Kecamatan Samalanga untuk menunjang kebutuhan terselenggaranya Pelabuhan Rencana dan Kawasan Industri (Batee Geulungku Industrial Estate Port). 4. Kondisi Hidro Oseanografi Perairan Pelabuhan Rencana a. Morfologi Daerah Pantai Kenampakan daerah pantai adalah pasir berwarna coklat muda, sepanjang garis pantainya banyak tumbuh pohon kelapa, dan tambak tambak. b. Bathimetri Kedalaman laut bervariasi, untuk alur sebelah barat yaitu Samalanga dan sekitarnya, alur kedalaman sekitar pantai antara 1 20 m, alur pendekat pantai kedalamannya 20 50 m, alur perairan lepas kedalamannya 50 200 m, alur semakin kelautan lepas kedalamannya 200 1000 m lebih. Untuk perairan sebelah timur Pandrah, Jeunieb, Peudada untuk alur dekat pantai relatip lebih dangkal. c. Arus Arus permukaan di perairan Bireuen dipengaruhi oleh musim barat dan musim timur. Untuk arus permukaan pendekat ke pantai kecepatannya 0,12
LAPORAN AKHIR

III - 54

BRR NAD - Nias


0,2 Knot, sedangkan arus lepas pantai kecepatannya 0,2 0,48 Knot dan Arus ke laut lepas kecepatannya 0,93 1,94 Knot. d. Pasang Surut Naiknya turunnya permukaan air laut di perairan bireuen berdasarkan jenis tabiatnya adalah Harian Ganda yaitu dalam satu hari terjadi dua kali pasang dan dua kali surut. Untuk perairan Bireuen kedalaman air laut di surutkan sampai air rendah terendah ( HHWL) 9 dm di pelabuhan Blanglancang dan dari Krueng Guelukoen 12 dm di bawah Duduk Tengah (MSL). 5. Analisis Kesesuaian Rencana Pelabuhan a. Kriteria Kapal Umum Pelabuhan Rencana Berdasarkan analisis kedalaman minimum dari topografi dasar laut

(Bathimetri), untuk alur dekat pantai dan pendekat ke pantai dapat dilalui kapal-kapal umum berdasarkan kriterian dan standard Badan Internasional IHO (Internasional Hidrographic Organisation). Untuk kedalaman alur dekat pelabuhan dan alur pendekat ke pelabuhan dapat dilalui kapal kapal umum dengan kriteria Kapal Penumpang (30.000 GRT), kapal Ferry (13.000 GRT), Kapal Barang (50.000 DWT), Kapal Minyak (80.000 DWT), Kapal Peti kemas (50.000 DWT), Kapal Barang Curah (150.000 DWT).
Tabel : 3.1 - Kriteria Kapal Umum Pelabuhan Rencana

Jenis Kapal Kapal Penumpang Kapal Ferri Kapal Barang Kapal Minyak Kapal Peti Kemas Kapal Barang Curah

Bobot GRT/DWT 51 - 30.000 1000 - 13.000 700 - 50.000 700 - 80.000 20,000 - 50.000 10.000 - 150.000

Panjang (M) 51 230 73 -188 58 216 50 255 201 280 140 313

Lebar (M) 10,2 - 27,5 14,3 - 27,1 9,7 - 31,5 8,5 - 38,3 27,1 - 35,8 18,7 - 44,5

Draft (M) 2,9 8,5 3,7 6,7 3,7 12,4 3,7 14,9 10,6 13,0 8,1 18,0

Sumber : Hasil Analis

b. Tatanan Pelabuhan Rencana

Menurut Fungsinya, sebagai Simpul pergatian moda transportasi, dan Pintu gerbang kegiatan perekonomiaan Nasional dan Internasional. Menurut Penggunaanya merupakan Pelabuhan Terbuka untuk perdagangan luar III - 55

LAPORAN AKHIR

BRR NAD - Nias


negeri. Menurut Jenisnya merupakan Pelabuhan Umum yang digunakan untuk melayani kepentingan umum. Menurut penyelenggaraannya diselenggarakan oleh pemerintah atau badan usaha pelabuhan. c. Perencanaan Lokasi Pelabuhan. Mengadakan survai dan studi kelayakan untuk mencari daerah yang tepat untuk di jadikan pelabuhan, mengingat pesisir pantai perairan desa Ulee Kareung, Blang Panyah dan Calok terdapat ekosistim terumbu karang yang perlu di lindungi keberadaannya. A.10 Rencana Pengembangan Kawasan Industri Rencana pengembangan daerah Batee Geulungku sebagai kawasan industri dengan luas area rencana kawasan industri seluas 660 Ha. Beberapa hal yang perlu dipertimbangkan dalam pengembangangan kawasan industri ini adalah sebagai berikut : 1. Penentuan lokasi untuk kawasan industri hendaknya perlu di dasari pertimbang jenis Industri, karakter dan volume efluen yang dihasilkan, metode atau tehnik pengelolaan limbah, terletak pada jalur Arteri, serta memliki sumber daya air yang cukup. 2. Hendaknya menghindari wilayah perairan yang sirkulasinya kurang baik, tempattempat yang mempunyai arti biologi penting, serta dalam perencanaan sistim pembuangan limbah tidak mengganggu biota perairan sekitarnya. 3. Penentuan lokasi pembuangan limbah Industri harus memiliki Kriteria : (1) tidak mencemari lingkungan pesisir, (2) tidak mengganggu secara higienik maupun secara estetik, (3) terhindar dari gangguan banjir, (4) semua jenis limbah industri terutama yang bersifat tosik dilarang dibuang di sungai, saluran, estauria, perairan pantai maupun lepas pantai, tanpa proses pengolahan terlebih dahulu.

LAPORAN AKHIR

III - 56

BRR NAD - Nias


B. SOSIAL EKONOMI B.1 Jumlah Penduduk dan KK Jumlah penduduk dan Kepala Keluarga (KK) pada seluruh desa di Kecamatan Simpang Mamplam pada tahun 2005 adalah 20.107 jiwa dan 4.936 KK, dengan jumlah penduduk dan KK terbesar adalah di Desa Ceureucok sebanyak 1.511 jiwa dan 332 KK, serta terkecil di desa Paku sebanyak 66 jiwa dan 16 KK.
No 1 2 3 4 5 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 32 33 34 Kode Peta 001 002 003 004 005 006 007 008 009 010 011 012 013 014 015 016 017 018 019 020 021 022 023 024 025 026 027 028 029 030 031 032 Nama Desa GLE MENDONG IE RHOB BABAH KRUENG LHOK TANOH KRUENG MEUSEUGOB PAKU BLANG TAMBUE MAMPLAM PULO DAPONG COT TRIENG IE RHOB TIMU IE RHOB BARAT MEUNASAH DAYAH PULO DRIEN IE RHOB GEULUMPANG CEUREUCOK ARONGAN BALEE BLANG MANE BARAT BLANG MANE II MNS JURONG BINJE MNS MESJID BLANG TEUMULEK BLANG KUTA II MNS BLANG KUTA COH RHEUM TIMUR RHEUM BARAT RHEUM BAROH LANCANG KEUDE TAMBUE MEUNASAH ASAN PEUNEULET TUNONG CURE TUNONG Jumlah Penduduk Laki-Laki 169 220 33 202 34 578 290 132 185 184 183 169 142 130 980 566 267 151 175 208 205 143 489 109 232 243 464 145 417 230 192 394 Wanita 219 230 37 223 32 562 336 131 216 165 233 189 127 126 531 515 288 139 196 192 193 169 480 126 253 292 430 169 409 243 196 346 Total 388 450 70 425 66 1,140 626 263 401 349 416 358 269 256 1,511 1,081 555 290 371 400 398 312 969 235 485 535 894 314 826 473 388 740 Jumlah Keluarga 92 112 16 129 16 241 176 56 93 87 115 99 70 59 332 282 154 56 78 75 84 132 241 62 123 129 213 69 185 108 97 223

LAPORAN AKHIR

III - 57

BRR NAD - Nias

No 35 36 37 38 39 40

Kode Peta 033 034 035 036 037 038

Nama Desa CURE BAROH PEUNEULET BAROH ULEE KAREUNG ALUE LEUHOB BLANG PANYANG CALOK

Jumlah Penduduk Laki-Laki 293 306 429 163 397 318 Wanita 279 314 427 167 418 342 Total 572 620 856 330 815 660

Jumlah Keluarga 140 168 185 81 193 165

B.2 Pertumbuhan Penduduk dan Proyeksi Penduduk Tahun 2010 Adapun pertumbuhan penduduk pada desa-desa di Kec. Simpang Mamplam dari tahun 2003-2005 sebagian menunjukkan angka pertumbuhan negatif, berkisar antara -0,21 sampai -40,3 %. Hal ini kemungkinan disebabkan dampak tsunami yang cukup parah di Kecamatan Simpang Mamplam. Berdasarkan angka pertumbuhan yang ada, selanjutnya diproyeksikan jumlah penduduk di desa-desa Kec. Simpang Mamplam pada tahun 2010, total sebesar 20.924 jiwa, dengan rincian jumlah penduduk tiap desa disajikan pada tabel berikut.
Status Desa/Kota Desa Desa Desa Desa Desa Desa Desa Desa Desa Desa Desa Desa Desa Desa Desa Desa Desa Desa Desa Desa Luas Wilayah (Ha) 319.66 148.36 479.24 522.07 323.73 1,031.58 449.82 76.86 59.91 84.98 164.34 107.60 95.78 58.81 88.14 55.02 44.60 63.82 54.33 61.24 Jml. Penduduk Tahun 2003 (Jiwa) 510 442 83 499 185 1,185 598 299 484 380 493 479 356 295 624 1313 711 317 404 400 Jml. Penduduk Tahun 2005 (Jiwa) 388 450 70 425 66 1,140 626 263 401 349 416 358 269 256 1,511 1,081 555 290 371 400 Proyeksi Penduduk Tahun 2010 (Jiwa) 404 468 73 442 69 1,186 651 274 417 363 433 373 280 266 1,572 1,125 578 302 386 416

No. 1 2 3 4 5 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21

Kode 001 002 003 004 005 006 007 008 009 010 011 012 013 014 015 016 017 018 019 020

Nama Desa/ Kel. sekarang GLE MENDONG IE RHOB BABAH KRUENG LHOK TANOH KRUENG MEUSEUGOB PAKU BLANG TAMBUE MAMPLAM PULO DAPONG COT TRIENG IE RHOB TIMU IE RHOB BARAT MEUNASAH DAYAH PULO DRIEN IE RHOB GEULUMPANG CEUREUCOK ARONGAN BALEE BLANG MANE BARAT BLANG MANE II MNS JURONG BINJE

LAPORAN AKHIR

III - 58

BRR NAD - Nias

No. 22 23 24 25 26 27 28 29 30 32 33 34 35 36 37 38 39 40

Kode 021 022 023 024 025 026 027 028 029 030 031 032 033 034 035 036 037 038

Nama Desa/ Kel. sekarang MNS MESJID BLANG TEUMULEK BLANG KUTA II MNS BLANG KUTA COH RHEUM TIMUR RHEUM BARAT RHEUM BAROH LANCANG KEUDE TAMBUE MEUNASAH ASAN PEUNEULET TUNONG CURE TUNONG CURE BAROH PEUNEULET BAROH ULEE KAREUNG ALUE LEUHOB BLANG PANYANG CALOK TOTAL

Status Desa/Kota Desa Desa Desa Desa Desa Desa Desa Desa Desa Desa Desa Desa Desa Desa Desa Desa Desa Desa

Luas Wilayah (Ha) 53.04 32.20 245.69 58.48 87.42 82.50 985.98 184.35 51.23 286.58 120.86 102.96 72.22 534.79 93.42 323.36 80.81 67.85 7,753.59

Jml. Penduduk Tahun 2003 (Jiwa) 366 570 913 240 569 578 1125 394 869 475 396 766 480 582 670 373 773 775 20,971.00

Jml. Penduduk Tahun 2005 (Jiwa) 398 312 969 235 485 535 894 314 826 473 388 740 572 620 856 330 815 660 20,107.00

Proyeksi Penduduk Tahun 2010 (Jiwa) 414 325 1,008 245 505 557 930 327 860 492 404 770 595 645 891 343 848 687 20,924

B.3 Mata Pencaharian Penduduk dan Jumah KK Miskin Hampir seluruh desa yang ada di Kecamatan Simpang Mamplam memiliki mata pencaharian utama pada sektor pertanian tanaman pangan. Adapun jumlah Kepala Keluarga (KK) Miskin adalah 4.024 KK atau 81,5 % dari total jumlah KK di Kec. Samalanga, dengan jumlah KK Miskin terbesar terdapat di desa Ceurecok, yakni sebanyak 295 KK atau 88,9 % dari jumlah KK yang ada di desa ini. Sebanyak 38 (tiga puluh delapan) desa yang ada di Kec. Simpang Mamplam memiliki persentase jumlah KK miskin di atas 50 %. Kondisi ini dapat digunakan sebagai indikator kebutuhan penanganan masalah kemiskinan di Kec. Simpang Mamplam.
No Kode Peta 001 002 003 004 Nama Desa Keluarga di Sektor Pertanian Jumlah Persentase 89 111 16 128 97 99 99 99 Sumber Penghasilan Utama Pertanian Pertanian Pertanian Pertanian

Keluarga Miskin Jumlah Persentase 87 85 14 115 94.6 75.9 87.5 89.1

Sub Sektor Pertanian Tanaman Pangan Tanaman Pangan Tanaman Pangan Tanaman Pangan

Buruh Tani Jumlah Presentase 20 48 12 15 5.3 10.8 17.3 3.6

1 2 3 4

GLE MENDONG IE RHOB BABAH KRUENG LHOK TANOH KRUENG MEUSEUGOB

LAPORAN AKHIR

III - 59

BRR NAD - Nias

No

Kode Peta 005 006 007 008 009 010 011 012 013 014 015 016 017 018 019 020 021 022 023 024 025 026 027 028 029 030 031 032 033 034 035 036 037 038 PAKU

Nama Desa

Keluarga di Sektor Pertanian Jumlah Persentase 16 227 158 55 91 86 113 91 64 56 319 212 137 52 74 69 75 129 231 60 114 116 211 68 181 107 92 212 136 134 176 77 187 160 100 94 90 98 98 99 98 92 92 95 96 75 89 92 95 92 89 98 96 97 93 90 99 99 98 99 95 95 97 80 95 95 97 97

Keluarga Miskin Jumlah Persentase 16 184 146 51 65 78 113 97 66 35 295 179 138 23 50 69 71 129 109 57 118 112 198 60 159 95 95 171 118 105 129 78 165 149 100.0 76.3 83.0 91.1 69.9 89.7 98.3 98.0 94.3 59.3 88.9 63.5 89.6 41.1 64.1 92.0 84.5 97.7 45.2 91.9 95.9 86.8 93.0 87.0 85.9 88.0 97.9 76.7 84.3 62.5 69.7 96.3 85.5 90.3

Sumber Penghasilan Utama Pertanian Pertanian Pertanian Pertanian Pertanian Pertanian Pertanian Pertanian Pertanian Pertanian Pertanian Pertanian Pertanian Pertanian Pertanian Pertanian Pertanian Pertanian Pertanian Pertanian Pertanian Pertanian Pertanian Pertanian Pertanian Pertanian Pertanian Pertanian Pertanian Pertanian Pertanian Pertanian Pertanian Pertanian

Sub Sektor Pertanian Tanaman Pangan Tanaman Pangan Tanaman Pangan Tanaman Pangan Tanaman Pangan Tanaman Pangan Tanaman Pangan Tanaman Pangan Tanaman Pangan Tanaman Pangan Tanaman Pangan Tanaman Pangan Tanaman Pangan Tanaman Pangan Tanaman Pangan Tanaman Pangan Tanaman Pangan Tanaman Pangan Tanaman Pangan Tanaman Pangan Tanaman Pangan Tanaman Pangan Tanaman Pangan Tanaman Pangan Perkebunan Tanaman Pangan Perkebunan Tanaman Pangan Tanaman Pangan Tanaman Pangan Tanaman Pangan Perkebunan Tanaman Pangan Tanaman Pangan

Buruh Tani Jumlah Presentase 15 26 43 22 18 23 21 13 11 8 24 27 18 12 11 21 20 15 20 18 37 19 38 24 39 18 17 43 17 31 32 12 33 20 22.7 2.4 7.6 8.5 4.6 6.7 5.2 3.9 4.4 3.3 1.7 3.3 3.6 4.5 3.1 5.7 5.6 4.9 2.1 7.9 8.2 3.9 4.3 7.7 4.8 3.8 4.6 6.1 3.1 6.3 3.9 3.8 4.2 3.1

5 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 32 33 34 35 36 37 38 39 40

BLANG TAMBUE MAMPLAM PULO DAPONG COT TRIENG IE RHOB TIMU IE RHOB BARAT MEUNASAH DAYAH PULO DRIEN IE RHOB GEULUMPANG CEUREUCOK ARONGAN BALEE BLANG MANE BARAT BLANG MANE II MNS JURONG BINJE MNS MESJID BLANG TEUMULEK BLANG KUTA II MNS BLANG KUTA COH RHEUM TIMUR RHEUM BARAT RHEUM BAROH LANCANG KEUDE TAMBUE MEUNASAH ASAN PEUNEULET TUNONG CURE TUNONG CURE BAROH PEUNEULET BAROH ULEE KAREUNG ALUE LEUHOB BLANG PANYANG CALOK

C. PRASARANA DAN SARANA C.1 Transportasi Seluruh desa yang ada di Kecamatan Simpang Mamplam dihubungkan oleh prasarana jaringan jalan dengan tipe perkerasan aspal/beton, sirtu, dan tanah, serta sebagian
LAPORAN AKHIR

III - 60

BRR NAD - Nias


besar desa dapat dijangkau oleh kendaraan roda-4, dan hanya 2 (dua) desa yang tidak dapat dijangkau oleh kendaraan roda-4, yakni Desa Rheum Baroh dan Alue Leuhob. Kondisi ini menunjukkan bahwa secara kuantitas, hampir seluruh desa yang ada di Kec. Simpang Mamplam telah terlayani oleh prasarana jaringan jalan yang ada, hanya dari segi kualitasnya saja perlu ditingkatkan khususnya untuk jalan-jalan dengan jenis permukaan tanah menjadi minimal jenis Sirtu (Pasir Batu), sehingga dapat dilalui oleh kendaraan roda-4 di musim hujan. Adapun sarana angkutan umum ke desa-desa di Kec. Simpang Mamplam adalah ojek (sepeda motor). Untuk lebih jelasnya lihat tabel berikut :
Sebagian Besar Cara Lalu Lintas Antar Desa Darat Darat Darat Darat Darat Darat Darat Darat Darat Darat Darat Darat Darat Darat Darat Darat Darat Darat Darat Darat Darat Darat Darat Darat Darat Darat Darat Darat Dapat Dijangkau Kendaraan Roda 4/ Lebih Sepanjang Tahun Ya Ya Ya Ya Ya Ya Ya Ya Ya Ya Ya Ya Ya Ya Ya Ya Ya Ya Ya Ya Ya Ya Ya Ya Ya Ya Tidak Ya

No

Kode Peta

Nama Desa

Jenis Permukaan Jalan Yang Terluas (jika darat) Diperkeras(kerikil,batu,dsb) Diperkeras(kerikil,batu,dsb) Tanah Diperkeras(kerikil,batu,dsb) Diperkeras(kerikil,batu,dsb) Aspal/Beton Aspal/Beton Aspal/Beton Diperkeras(kerikil,batu,dsb) Diperkeras(kerikil,batu,dsb) Aspal/Beton Tanah Aspal/Beton Aspal/Beton Aspal/Beton Aspal/Beton Aspal/Beton Aspal/Beton Aspal/Beton Aspal/Beton Aspal/Beton Tanah Aspal/Beton Aspal/Beton Aspal/Beton Aspal/Beton Tanah Tanah

Tipe Angkutan Umum Utama Ojek Sepeda Motor Ojek Sepeda Motor Ojek Sepeda Motor Ojek Sepeda Motor Ojek Sepeda Motor Ojek Sepeda Motor Ojek Sepeda Motor Ojek Sepeda Motor Ojek Sepeda Motor Ojek Sepeda Motor Ojek Sepeda Motor Ojek Sepeda Motor Ojek Sepeda Motor Ojek Sepeda Motor Ojek Sepeda Motor Ojek Sepeda Motor Ojek Sepeda Motor Ojek Sepeda Motor Ojek Sepeda Motor Ojek Sepeda Motor Ojek Sepeda Motor Ojek Sepeda Motor Ojek Sepeda Motor Ojek Sepeda Motor Ojek Sepeda Motor Ojek Sepeda Motor Ojek Sepeda Motor Ojek Sepeda Motor

1 2 3 4 5 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29

001 002 003 004 005 006 007 008 009 010 011 012 013 014 015 016 017 018 019 020 021 022 023 024 025 026 027 028

GLE MENDONG IE RHOB BABAH KRUENG LHOK TANOH KRUENG MEUSEUGOB PAKU BLANG TAMBUE MAMPLAM PULO DAPONG COT TRIENG IE RHOB TIMU IE RHOB BARAT MEUNASAH DAYAH PULO DRIEN IE RHOB GEULUMPANG CEUREUCOK ARONGAN BALEE BLANG MANE BARAT BLANG MANE II MNS JURONG BINJE MNS MESJID BLANG TEUMULEK BLANG KUTA II MNS BLANG KUTA COH RHEUM TIMUR RHEUM BARAT RHEUM BAROH LANCANG

LAPORAN AKHIR

III - 61

BRR NAD - Nias

No

Kode Peta

Nama Desa

Sebagian Besar Cara Lalu Lintas Antar Desa Darat Darat Darat Darat Darat Darat Darat Darat Darat Darat

Jenis Permukaan Jalan Yang Terluas (jika darat) Aspal/Beton Aspal/Beton Tanah Tanah Aspal/Beton Aspal/Beton Aspal/Beton Tanah Aspal/Beton Aspal/Beton

Dapat Dijangkau Kendaraan Roda 4/ Lebih Sepanjang Tahun Ya Ya Ya Ya Ya Ya Ya Tidak Ya Ya

Tipe Angkutan Umum Utama Ojek Sepeda Motor Ojek Sepeda Motor Ojek Sepeda Motor Ojek Sepeda Motor Ojek Sepeda Motor Ojek Sepeda Motor Ojek Sepeda Motor Ojek Sepeda Motor Ojek Sepeda Motor Ojek Sepeda Motor

30 32 33 34 35 36 37 38 39 40

029 030 031 032 033 034 035 036 037 038

KEUDE TAMBUE MEUNASAH ASAN PEUNEULET TUNONG CURE TUNONG CURE BAROH PEUNEULET BAROH ULEE KAREUNG ALUE LEUHOB BLANG PANYANG CALOK

C.2 Prasarana Air Bersih, Air Limbah dan Sampah Hampir seluruh desa di Kec. Samalanga menggunakan sumur sebagai sumber air bersih. Untuk prasarana dan sarana sanitasi, sebagian besar desa (32 desa) menggunakan bukan jamban, dan hanya 8 (delapan) desa menggunakan jamban umum, sisanya menggunakan jamban sendiri. Secara umum, kondisi ini menunjukkan kebutuhan pembangunan jamban umum agar minimal dapat melayani 80 % masyarakat di kawasan perencanaan Simpang Mamplam. Untuk pengolahan sampah, hampir seluruh desa menggunakan cara dibuang di lubang dan dibakar, dan hanya 1 (satu) desa yang telah menggunakan cara lain yaitu Desa Cure Baroh. Secara umum, kondisi ini telah memenuhi standar pelayanan minimal pengelolaan sampah yang ada untuk kawasan permukiman perkotaan dan perdesaan.
Kode Peta 001 002 003 004 005 006 007 008 009 Sumber Air Minum Sumur Sumur Sumur Sumur Sumur Sumur Sumur Sumur Sumur Harus Membeli Air Minum Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak Tempat Buang Air Besar Bukan Jamban Bukan Jamban Bukan Jamban Bukan Jamban Bukan Jamban Bukan Jamban Bukan Jamban Bukan Jamban Bukan Jamban Cara Membuang Sampah Lobang/Dibakar Lobang/Dibakar Lobang/Dibakar Lobang/Dibakar Lobang/Dibakar Lobang/Dibakar Lobang/Dibakar Lobang/Dibakar Lobang/Dibakar

No 1 2 3 4 5 7 8 9 10

Nama Desa GLE MENDONG IE RHOB BABAH KRUENG LHOK TANOH KRUENG MEUSEUGOB PAKU BLANG TAMBUE MAMPLAM PULO DAPONG COT TRIENG

LAPORAN AKHIR

III - 62

BRR NAD - Nias

No 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 32 33 34 35 36 37 38 39 40

Kode Peta 010 011 012 013 014 015 016 017 018 019 020 021 022 023 024 025 026 027 028 029 030 031 032 033 034 035 036 037 038

Nama Desa IE RHOB TIMU IE RHOB BARAT MEUNASAH DAYAH PULO DRIEN IE RHOB GEULUMPANG CEUREUCOK ARONGAN BALEE BLANG MANE BARAT BLANG MANE II MNS JURONG BINJE MNS MESJID BLANG TEUMULEK BLANG KUTA II MNS BLANG KUTA COH RHEUM TIMUR RHEUM BARAT RHEUM BAROH LANCANG KEUDE TAMBUE MEUNASAH ASAN PEUNEULET TUNONG CURE TUNONG CURE BAROH PEUNEULET BAROH ULEE KAREUNG ALUE LEUHOB BLANG PANYANG CALOK

Sumber Air Minum Sumur Sumur Sumur Sumur Sumur Sumur Sumur Sumur Sumur Sumur Sumur Sumur Sumur Sumur Sumur Sumur Sumur Sumur Sumur Sumur Sumur Sumur Sumur Sumur Sumur Sumur Sumur Sumur Sumur

Harus Membeli Air Minum Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak

Tempat Buang Air Besar Bukan Jamban Bukan Jamban Bukan Jamban Bukan Jamban Jamban Umum Bukan Jamban Jamban Umum Jamban Sendiri Bukan Jamban Bukan Jamban Jamban Sendiri Bukan Jamban Bukan Jamban Bukan Jamban Bukan Jamban Jamban Umum Jamban Sendiri Bukan Jamban Bukan Jamban Bukan Jamban Bukan Jamban Bukan Jamban Bukan Jamban Jamban Umum Bukan Jamban Bukan Jamban Bukan Jamban Jamban Sendiri Bukan Jamban

Cara Membuang Sampah Lobang/Dibakar Lobang/Dibakar Lobang/Dibakar Lobang/Dibakar Lobang/Dibakar Lobang/Dibakar Lobang/Dibakar Lobang/Dibakar Lobang/Dibakar Lobang/Dibakar Lobang/Dibakar Lobang/Dibakar Lobang/Dibakar Lobang/Dibakar Lobang/Dibakar Lobang/Dibakar Lobang/Dibakar Lobang/Dibakar Lobang/Dibakar Lobang/Dibakar Lobang/Dibakar Lobang/Dibakar Lobang/Dibakar Lainnya Lobang/Dibakar Lobang/Dibakar Lobang/Dibakar Lobang/Dibakar Lobang/Dibakar

C.3 Sarana Pendidikan Sarana pendidikan di Kecamatan Simpang Mamplam, meliputi : 1. TK Negeri sebanyak 1 (satu) buah, dan TK Swasta sebanyak 1 (satu) buah, dengan jangkauan pelayanan ke desa terjauh (Desa Lhok Tanoh) adalah 11 Km, 2. SD Negeri sebanyak 21 (dua puluh satu) buah, dengan jangkauan pelayanan ke desa terjauh (Desa Paku) adalah 4,0 Km,

LAPORAN AKHIR

III - 63

BRR NAD - Nias

3. SMP Negeri sebanyak 2 (dua) buah, dengan jangkauan pelayanan ke desa terjauh (Desa Lhok Tanoh) adalah 9 Km.
Kode No Peta Nama Desa Taman Kanak-Kanak Jarak Jumlah Sekolah RataRata Negeri Swasta (km) 0 0 0 0 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 3.8 3.5 4 3.1 2.5 3.3 3.8 1 2 3.5 3.5 4 7 7 3 7 12 3 3.5 0.5 7 5.5 1.3 5 4 3 1.5 3 2.6 4 6 5.5 7 11 8 5 Sekolah Dasar Jumlah Sekolah Negeri 0 1 0 1 0 1 0 0 0 0 0 0 1 1 0 1 1 1 0 0 2 1 0 0 1 1 1 1 1 1 0 0 1 1 0 1 1 0 Swasta 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 Jarak RataRata (km) 1.5 . 0.8 . 4.0 . 0.1 0.6 0.5 0.3 0.2 0.4 . . 0.5 . . . 0.5 0.1 . . 0.8 1.9 . . . . . . 0.5 0.3 . . 1.0 . . 1.2 Sekolah Menengah Pertama Jarak Jumlah Sekolah RataRata Negeri Swasta (km) 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1 0 0 0 0 0 0 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 5.5 7.0 9.0 7.0 4.0 0.2 0.1 3.5 0.5 5.0 5.5 0.7 1.5 2.1 3.0 1.5 3.0 2.5 2.5 5.0 . 1.5 1.6 3.9 3.0 2.0 3.1 1.5 . 0.4 3.0 1.3 3.0 6.5 6.0 4.0 6.5 5.0 Sekolah Menengah Umum Jarak Jumlah Sekolah RataRata Negeri Swasta (km) 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 6.0 7.3 17.0 14.3 7.0 9.0 6.5 3.3 6.6 7.2 6.1 7.7 5.1 4.3 3.2 38.0 3.3 2.9 4.3 5.0 7.3 4.0 3.8 4.3 3.3 2.8 3.4 4.0 6.0 8.0 12.5 13.1 12.5 15.0 8.0 4.0 7.8 5.0

1 2 3 4 5 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 32 33 34 35 36 37 38 39 40

001 002 003 004 005 006 007 008 009 010 011 012 013 014 015 016 017 018 019 020 021 022 023 024 025 026 027 028 029 030 031 032 033 034 035 036 037 038

GLE MENDONG IE RHOB BABAH KRUENG LHOK TANOH KRUENG MEUSEUGOB PAKU BLANG TAMBUE MAMPLAM PULO DAPONG COT TRIENG IE RHOB TIMU IE RHOB BARAT MEUNASAH DAYAH PULO DRIEN IE RHOB GEULUMPANG CEUREUCOK ARONGAN BALEE BLANG MANE BARAT BLANG MANE II MNS JURONG BINJE MNS MESJID BLANG TEUMULEK BLANG KUTA II MNS BLANG KUTA COH RHEUM TIMUR RHEUM BARAT RHEUM BAROH LANCANG KEUDE TAMBUE MEUNASAH ASAN PEUNEULET TUNONG CURE TUNONG CURE BAROH PEUNEULET BAROH ULEE KAREUNG ALUE LEUHOB BLANG PANYANG CALOK

LAPORAN AKHIR

III - 64

BRR NAD - Nias

Kondisi di atas, apabila dikaitkan dengan standar pelayanan minimal untuk satuan lingkungan dengan jumlah penduduk < 30.000 jiwa (lihat Lampiran), dimana desadesa di Kecamatan Simpang Mamplam dianggap sebagai satu lingkungan, dengan proyeksi penduduk pada tahun 2010 sebesar 20.924 jiwa, maka kebutuhan tambahan sarana pendidikan di Kec. Simpang Mamplam, meliputi : 1. TK sebanyak 19 (sembilan belas) buah. 2. SLTP sebanyak 1 (satu) buah, dan 3. SLTA sebanyak 1 (satu) buah. C.4 Sarana Kesehatan Secara umum, sarana kesehatan di Kecamatan Simpang Mamplam meliputi : 1. Puskesmas sebanyak 1 (satu) buah di Desa Mamplam, dengan jangkauan ke desa terjauh (Ds. Glemendong) adalah 55,5 Km. 2. Puskesmas Pembantu sebanyak 1 (satu) buah di Desa Cure Baroh, dengan jangkauan ke desa terjauh (Ds. Lhok Tanoh) adalah 9,3 Km. 3. Posyandu sebanyak 39 (tiga puluh sembilan) buah (hampir ada di setiap desa). 4. Polindes (Pondok Bersalin Desa) sebanyak 36 (tiga puluh enam) buah.
Poliklinik/Balai Pengobatan Jarak Jumlah Rata-Rata (km) 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 44.5 35.0 44.3 43.0 33.5 33.0 40.3 40.5 34.0 35.0 3.0 34.5 36.1 37.2 Puskesmas Jumlah 0 0 0 0 0 0 1 0 0 0 0 0 0 0 Jarak Rata-Rata (km) 55.5 3.0 9.3 7.0 7.0 3.0 . 3.5 1.0 2.5 3.0 1.0 0.3 1.2 Puskemas Pembantu Jumlah 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 Jarak RataRata (km) 5.5 3.0 9.3 7.0 6.0 3.0 3.1 3.5 1.0 3.0 5.5 1.0 0.3 1.2 POSYANDU Jumlah 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 Jarak Rata-Rata (km) . . . . . . . . . . . . . . Polindes (Pondok Bersalin Desa) Jarak Jumlah Rata-Rata (km) 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 . . . . . . . . . . . . . .

No

Kode Peta

Nama Desa

1 2 3 4 5 7 8 9 10 11 12 13 14 15

001 002 003 004 005 006 007 008 009 010 011 012 013 014

GLE MENDONG IE RHOB BABAH KRUENG LHOK TANOH KRUENG MEUSEUGOB PAKU BLANG TAMBUE MAMPLAM PULO DAPONG COT TRIENG IE RHOB TIMU IE RHOB BARAT MEUNASAH DAYAH PULO DRIEN IE RHOB GEULUMPANG

LAPORAN AKHIR

III - 65

BRR NAD - Nias

No

Kode Peta

Nama Desa

Poliklinik/Balai Pengobatan Jarak Jumlah Rata-Rata (km) 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 40.0 38.0 40.0 40.5 30.0 34.5 34.3 38.0 38.0 37.0 40.3 45.5 38.1 38.0 31.0 32.0 34.0 35.0 38.0 36.0 41.0 32.0 35.0 34.0

Puskesmas Jumlah 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 Jarak Rata-Rata (km) 3.0 1.5 3.0 2.0 1.0 0.9 0.4 2.2 2.3 4.0 3.1 2.1 3.1 2.0 3.0 4.0 4.5 6.0 8.0 8.1 9.0 13.0 10.0 11.0

Puskemas Pembantu Jumlah 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1 0 0 0 0 0 Jarak RataRata (km) 3.0 1.5 3.0 5.0 1.0 0.9 0.4 0.4 2.3 4.0 3.1 2.0 3.0 0.4 3.0 1.0 0.5 0.5 . 1.0 4.0 6.0 6.0 7.0

POSYANDU Jumlah 1 1 1 1 1 1 1 0 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 Jarak Rata-Rata (km) . . . . . . . 3.0 . . . . . . . . . . . . . . . .

Polindes (Pondok Bersalin Desa) Jarak Jumlah Rata-Rata (km) 1 0 1 1 1 0 1 0 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 0 1 1 1 1 1 . 1.5 . . . 34.1 . 3.0 . . . . . . . . . . 0.3 . . . . .

16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 32 33 34 35 36 37 38 39 40

015 016 017 018 019 020 021 022 023 024 025 026 027 028 029 030 031 032 033 034 035 036 037 038

CEUREUCOK ARONGAN BALEE BLANG MANE BARAT BLANG MANE II MNS JURONG BINJE MNS MESJID BLANG TEUMULEK BLANG KUTA II MNS BLANG KUTA COH RHEUM TIMUR RHEUM BARAT RHEUM BAROH LANCANG KEUDE TAMBUE MEUNASAH ASAN PEUNEULET TUNONG CURE TUNONG CURE BAROH PEUNEULET BAROH ULEE KAREUNG ALUE LEUHOB BLANG PANYANG CALOK

Kondisi di atas, apabila dikaitkan dengan standar pelayanan minimal untuk satuan lingkungan dengan jumlah penduduk < 30.000 jiwa (lihat Lampiran), dimana desadesa di Kecamatan Simpang Mamplam dianggap sebagai satu lingkungan, dengan proyeksi penduduk pada tahun 2010 sebesar 20.924 jiwa, maka tambahan sarana kesehatan yang diperlukan di Kec. Simpang Mamplam, meliputi : 1. Balai Pengobatan/Poliklinik sebanyak 6 (enam) buah, dan 2. RS Bersalin sebanyak 1 (satu) buah. C.5 Listrik dan Telepon Seluruh desa di Kecamatan Simpang Mamplam telah dilayani oleh prasarana listrik. Untuk prasarana telepon, hanya sebagian desa (19 desa) di kec. Simpang Mamplam III - 66

LAPORAN AKHIR

BRR NAD - Nias


yang telah dilayani. Kondisi ini menunjukkan kebutuhan perluasan jaringan telepon yang dapat mencapai ke-delapan desa yang belum terlayani.
Kode Peta Keluarga Berlangganan Telepon Jumlah 0 0 0 0 0 2 6 1 0 0 0 3 7 2 12 5 8 3 2 4 7 2 6 0 2 14 1 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 8 Persentase (%) 0.0 0.0 0.0 0.0 0.0 0.8 3.4 1.8 0.0 0.0 0.0 3.0 10.0 3.4 3.6 1.8 5.2 5.4 2.6 5.3 8.3 1.5 2.5 0.0 1.6 10.9 0.5 1.4 0.0 0.0 0.0 0.0 0.0 0.0 0.0 0.0 0.0 4.8

No

Nama Desa

Ketersediaan Listrik PLN Ada Ada Ada Ada Ada Ada Ada Ada Ada Ada Ada Ada Ada Ada Ada Ada Ada Ada Ada Ada Ada Ada Ada Ada Ada Ada Ada Ada Ada Ada Ada Ada Ada Ada Ada Ada Ada Ada 81 95 9 87 12 208 166 50 79 61 110 78 68 52 298 249 127 51 59 66 80 101 208 36 104 118 151 58 158 88 61 187 122 155 155 39 144 133

Keluarga Pengguna Listrik Jumlah Persentase (%) Non PLN 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 PLN 88.0 84.8 56.3 67.4 75.0 86.3 94.3 89.3 84.9 70.1 95.7 78.8 97.1 88.1 89.8 88.3 82.5 91.1 75.6 88.0 95.2 76.5 86.3 58.1 84.6 91.5 70.9 84.1 85.4 81.5 62.9 83.9 87.1 92.3 83.8 48.1 74.6 80.6 Non PLN 0.0 0.0 0.0 0.0 0.0 0.0 0.0 0.0 0.0 0.0 0.0 0.0 0.0 0.0 0.0 0.0 0.0 0.0 0.0 0.0 0.0 0.0 0.0 0.0 0.0 0.0 0.0 0.0 0.0 0.0 0.0 0.0 0.0 0.0 0.0 0.0 0.0 0.0

1 2 3 4 5 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 32 33 34 35 36 37 38 39 40

001 002 003 004 005 006 007 008 009 010 011 012 013 014 015 016 017 018 019 020 021 022 023 024 025 026 027 028 029 030 031 032 033 034 035 036 037 038

GLE MENDONG IE RHOB BABAH KRUENG LHOK TANOH KRUENG MEUSEUGOB PAKU BLANG TAMBUE MAMPLAM PULO DAPONG COT TRIENG IE RHOB TIMU IE RHOB BARAT MEUNASAH DAYAH PULO DRIEN IE RHOB GEULUMPANG CEUREUCOK ARONGAN BALEE BLANG MANE BARAT BLANG MANE II MNS JURONG BINJE MNS MESJID BLANG TEUMULEK BLANG KUTA II MNS BLANG KUTA COH RHEUM TIMUR RHEUM BARAT RHEUM BAROH LANCANG KEUDE TAMBUE MEUNASAH ASAN PEUNEULET TUNONG CURE TUNONG CURE BAROH PEUNEULET BAROH ULEE KAREUNG ALUE LEUHOB BLANG PANYANG CALOK

LAPORAN AKHIR

III - 67

BRR NAD - Nias

3.5.2 RENCANA TINDAK (ACTION PLAN) KECAMATAN SIMPANG MAMPLAM Rencana Tindak (Action Plan) di Kecamatan Simpang Mamplam disusun berdasarkan 5 (lima) rangkaian kegiatan yang telah dijelaskan pada sub bab 3.2. Sebagaimana juga telah dijelaskan pada sub bab 3.2, pelaksanaan sosialisasi melalui FGD di kecamatan Simpang Mamplam tidak dapat dilaksanakan, sehingga dalam hal ini dilaksanakan survai wawancara (kuestioner) kepada masyarakat setempat sebagai bahan validitas terhadap draft rencana tindak (action plan) yang disusun konsultan dan telah dipadukan dengan bahan usulan program dari hasil pelaksanaan penjaringan aspirasi masyarakat melaui Forum FGD (Focus Group Discussion) yang dilakukan oleh Pemda Kabupaten Bireuen bekerjasama dengan Lembaga NGO dari Perancis pada tahun 2005. Hasil suvai wawancara (kuestioner) kepada masyarakat di 9 (sembilan) kecamatan prioritas (termasuk Kecamatan Simpang Mamplam) juga telah dijelaskan pada sub bab 3.2. Melalui 5 (lima) rangkaian kegiatan di atas, dan hasil pelaksanaan suvai wawancara (kuestioner) kepada masyarakat selanjutnya disusun dan ditetapkan Rencana Tindak (Action Plan) di Kecamatan Simpang Mamplam Tahun 2007 sampai Tahun 2009 seperti disajikan pada Tabel dan gambar pada halaman berikut. 3.5.3 DESA PRIORITAS DI KECAMATAN SIMPANG MAMPLAM Dengan mengacu pada proses dan metode penetapan desa prioritas yang telah dijelaskan pada sub bab 3.2, maka dipilih dan ditetapkan desa prioritas untuk Village Planning di Kecamatan Simpang Mamplam seperti disajikan pada tabel berikut. Desa Prioritas di Kecamatan Simpang Mamplam
No 1 5 15 17 23 37 Kode 27 36 32 22 28 15 Nama Desa/Kel. sekarang RHEUM BAROH ALUE LEUHOB CURE TUNONG BLANG TEUMULEK LANCANG CEUREUCOK Kecamatan Simpang Mamplam Simpang Mamplam Simpang Mamplam Simpang Mamplam Simpang Mamplam Simpang Mamplam Nilai 43 38 29 28 27 24 Urutan Prioritas 1 2 3 4 5 6

LAPORAN AKHIR

III - 68

BRR NAD - Nias

No 71 78 81 85 92 93 101 102 106 112 120 143 145 144

Kode 37 16 25 38 26 30 23 24 33 34 35 29 6 17

Nama Desa/Kel. sekarang BLANG PANYANG ARONGAN RHEUM TIMUR CALOK RHEUM BARAT MEUNASAH ASAN BLANG KUTA II MNS BLANG KUTA COH CURE BAROH PEUNEULET BAROH ULEE KAREUNG KEUDE TAMBUE BLANG TAMBUE BALEE

Kecamatan Simpang Mamplam Simpang Mamplam Simpang Mamplam Simpang Mamplam Simpang Mamplam Simpang Mamplam Simpang Mamplam Simpang Mamplam Simpang Mamplam Simpang Mamplam Simpang Mamplam Simpang Mamplam Simpang Mamplam Simpang Mamplam

Nilai 20 19 19 19 18 18 17 17 17 16 15 9 7 7

Urutan Prioritas 7 8 8 8 9 9 10 10 10 11 12 13 14 14

LAPORAN AKHIR

III - 69

BRR NAD - Nias

LAPORAN AKHIR

III - 70

BRR NAD - Nias

LAPORAN AKHIR

III - 71

BRR NAD - Nias

LAPORAN AKHIR

III - 72

BRR NAD - Nias

LAPORAN AKHIR

III - 73

BRR NAD - Nias

LAPORAN AKHIR

III - 74

BRR NAD - Nias

3.6

KECAMATAN JEUNIEB

3.6.1 IDENTIFIKASI KONDISI DAN PERMASALAHAN YANG ADA A. FISIK DAN LINGKUNGAN A.1 Morfologi Kondisi morfologi di Kec. Jeunib sebagian berupa topografi dataran di sebelah Utara (antara lain meliputi : Matang Bangka, Lancang Matang Teungoh, Blang Lancang, Teupin Keupula Timur), dan di sebelah Selatan berupa perbukitan. A.2 Jenis Tanah Jenis tanah di Kec. Jeunib adalah relatif sama dengan yang ada di Kec. Samalanga dan Simpang Mamplam. A.3 Kedalaman Efektif Tanah Kedalaman efektif tanah di Kec. Jeunieb, sebagian besar memiliki kedalaman efektif antara 30 60 cm (80,99 %), dan sebagian kecil memiliki kedalaman efektif > 90 cm (19,01 %). Kedalaman efektif tanah ini akan menjadi dasar pertimbangan untuk penentuan kedalaman fondasi bangunan. A.4 Sumber Daya Air Sumber Daya Air Permukaan di kecamatan Jeunib meliputi Sumber Daya Air Sungai, Rawa/paya dan waduk, diantaranya Krueng / Sungai ( Nalan 150 Ha, Jeunib 112 Ha ), Paya / Rawa ( Rusab 1 Ha, Jambo Dalam 5 Ha, Alue Syueng 1,5 Ha ) dan Waduk Gasap 5 Ha. A.5 Daerah Rawan Banjir Daerah Wilayah Kecamatan Jeunib yang berpotensi rawan banjir adalah daerah Pesisir yang relatip datar 0 - 5 meter di atas permukaan air laut, meliputi daerah sekitar muara sungai kuala Jeunib yang kondisinya mengalami pendangkalan akibat sedimentasi dan akresi yang menimbulkan penyempitan Bottle Neck di bagian hilir ( muara ). Tanggal 11 Desember 2005 Wilayah pesisir Jeunib terjadi banjir karena hujan selama tiga hari berturut-turut sehingga jalur Banda Aceh Medan terputus selama 8 jam, warga sekitar mengungsi kedaerah aman dengan tinggi air

LAPORAN AKHIR

III - 75

BRR NAD - Nias


sampai 2 meter yang menggenangi rumah warga. Faktor penyebab lainnya adalah adanya penebangan kawasan hutan yang berada di wilayah hulu. A.6 Daerah Rawan Gempa Daerah Wilayah Kecamatan Jeunieb berpotensi mengalami bencana kegempaan di tinjau dari tatanan struktur geologi tektonik regional pulau Sumatra yang sewaktuwaktu dapat menimbulkan gempa tektonik dengan skala 6-7 reichter, patahan patahan tersebut. Salah satunya dapat dijumpai di krueng Peusangan. A.7 Daerah Rawan Tsunami Daerah Pesisir yang terpotensi rawan tsunami meliputi desa-desa pesisir baik desa tambak maupun dasa pantai yang beresiko berat yaitu desa Matang Bangka, Blang Lancang, Teupin Kapula dan Beresiko sedang meliputi desa tambak yaitu desa Matang Nibong, Matang teuguh, Lancang Blang Me Timu. Faktor penyebab lain di sepanjang pesisir desa-desa pantai tidak terdapat zona penyanggah (buffer zone) hutan mangrove yang mampu menahan laju gelombang tsunami secara alamiah serta kedalaman toporafi daerah perairan pantai Jeunib 20 100 meter, yang C = L/T terhadap berpengaruh terhadap laju kecepatan rambat gelombang timur oleh

kedalaman laut d/L. Gelombang tsunami sebelumnya mengalami Difraksi ke arah karena adanya terumbu karang di desa Ulee Karueng , Blang Panyah dan Calok sehingga terjadi pertemuan dengan gelombang datang dari arah barat laut menerjang desa - desa pantai yaitu Blang Lancang dan Matang Bangka. A.8 Kelautan dan Lingkungan Pesisir Morfologi Daerah Pesisir Penggunaan lahan dan kenampakan yang ada adalah Pemukiman Penduduk, Pertambakan, Kebun Kelapa, Tempat Pengolahan dan Sawah dengan panjang garis pantai 3,22 km. Potensi Sumber Daya Hayati Perikanan tangkap dan sarana PPI dan TPI, Budidaya Perikanan Tambak seluas 184,35 Ha , Ekosistim Estuaria Muara Sungai ( Kuala Jeunib dan Kuala Nalan ). Ekosisitim Padang Lamun dan Ekosistim Pantai Pasir.

LAPORAN AKHIR

III - 76

BRR NAD - Nias


Permasalahan Kelautan dan Lingkungan Pesisir Abrasi di sepanjang pesisir pantai, Akresi di komunitas hutan mangrove. Analisis Penanganan dan Pengembangan Berdasarkan permasalahan kelautan dan lingkungan pesisir yang ada di Kec. Jeunieb, maka beberapa bentuk penanganan dan pengembangan yang diperlukan adalah sebagai berikut : 1. Ekosistim Hutan Mangrove ( Bakau ) Mereboisasi Kawasan pantai dengan menanam kembali tanaman bakau (mangrove) di desa Matang Bangka, Blang Lancang, Teupin Kapula. Penanganan lainnya adalah sama dengan yang telah dijelaskan untu kecamatan Samalanga. 2. Ekosistim Estuaria, Padang Lamun, Pasir Pantai, dan Perikanan Tambak Sama dengan yang telah dijelaskan untuk kecamatan Samalanga. 3. Abrasi a. Penanggulangan abrasi pantai secara alamiah dengan memanfaatkan sumber daya ekosistim hutan mangrove ( Vegetasi ) dan Reboisasi di desa pantai Matang Bangka, Lancang dan desa Teupin Kapula. b. Penanggulangan abrasi pantai dengan sistim Proteksi Bangunan Coastal Pantai ( muara sungai Jeunieb , Kerusakan

Engineering ) yaitu Sea Wall, Bulkhealt dan Revetment, dengan

mengutamakan dan memanfaatkan batuan yang banyak tersebar di kabupaten bireuen di desa pantai Matang Bangka, Lancang dan desa Teupin Kapula. 4. Akresi Sama dengan yang telah dijelaskan untuk kecamatan Samalanga.

LAPORAN AKHIR

III - 77

BRR NAD - Nias


B. SOSIAL EKONOMI B.1 Jumlah Penduduk dan KK Jumlah penduduk dan Kepala Keluarga (KK) pada seluruh desa yang ada di Kecamatan Jeunib pada tahun 2005 adalah 19.421 jiwa dan 4.489 KK, dengan jumlah penduduk dan KK terbesar adalah di Desa Blang Lancang sebanyak 1.437 jiwa dan 312 KK, serta terkecil di desa Alue Seutui sebanyak 126 jiwa dan 29 KK.
No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 Kode Peta 001 002 003 010 011 012 013 014 015 016 017 018 019 020 021 022 023 024 025 030 031 032 033 034 035 036 037 038 039 040 041 042 043 Nama Desa JEUMPA SIKUREUNG BLANG POROH LHOK KULAM SAMPOI AJAT ULEE BLANG ALUE SEUTUI BLANG NEUBOK MNS ALUE MNS TUNONG LUENG LHEUE SIMPANG LHEUE BARAT MNS DAYAH MEUNASAH KEUPULA ULEE GAJAH UTEUN PUPALEH DARUL AMAN LAMPOH OE PULO RANGKILEH TUFAH TANJONG BUNGONG DAYAH BARO ULEE RABO LHUENG TENGOH MNS TAMBO MNS KEUTAPANG COT GEULUMPANG TUNONG COT GEULUMPANG BAROH KEUDE JEUNIEB JANGGOT SEUNGKO BLANG MEE TIMUR MATANG NIBONG BLANG MEE BARAT MATANG TEUNGOH Laki-Laki 117 278 400 360 161 42 103 305 160 222 153 257 198 193 74 101 196 208 265 230 253 260 291 301 255 107 188 294 350 366 186 327 155 Jumlah Penduduk Wanita 141 351 575 470 190 84 113 327 187 250 198 277 229 201 95 123 218 244 340 258 253 270 370 313 282 101 207 209 550 438 254 348 165 Total 258 629 975 830 351 126 216 632 347 472 351 534 427 394 169 224 414 452 605 488 506 530 661 614 537 208 395 503 900 804 440 675 320 Jumlah Keluarga 69 155 175 204 101 29 59 110 89 122 81 120 103 94 50 62 96 115 137 128 132 134 175 112 128 43 96 98 200 173 106 141 72

LAPORAN AKHIR

III - 78

BRR NAD - Nias

No 34 35 36 37 38

Kode Peta 044 045 046 047 057

Nama Desa MATANG BANGKA BLANG LANCANG LANCANG TEUPIN KEUPULA MEUNASAH LUENG Laki-Laki 152 685 285 338 198

Jumlah Penduduk Wanita 178 752 271 350 225 Total 330 1,437 556 688 423

Jumlah Keluarga 77 312 135 170 86

B.2 Pertumbuhan Penduduk dan Proyeksi Penduduk Tahun 2010 Adapun pertumbuhan penduduk di Kec. Jeunieb dari tahun 2003-2005 sebagian menunjukkan angka pertumbuhan negatif, berkisar antara -0,25 sampai -28,8 %. Hal ini kemungkinan disebabkan dampak tsunami yang cukup parah di Kecamatan Jeunieb. Berdasarkan angka pertumbuhan yang ada, selanjutnya diproyeksikan jumlah penduduk di desa-desa prioritas Kec. Jeunieb pada tahun 2010, total sebesar 20.922 jiwa, dengan rincian jumlah penduduk tiap desa disajikan pada tabel berikut.
Luas Wilayah (Ha) 542.76 14,188.17 446.19 87.82 164.77 363.94 353.46 102.03 141.65 186.30 72.02 116.43 112.58 91.59 123.31 209.30 103.62 159.04 166.85 100.85 76.85 Jml. Penduduk Tahun 2003 (Jiwa) 394 1,188 870 869 383 159 226 521 686 571 565 754 464 396 233 338 550 575 583 642 480 Jml. Penduduk Tahun 2005 (Jiwa) 258 629 975 830 351 126 216 632 347 472 351 534 427 394 169 224 414 452 605 488 506 Proyeksi Penduduk Tahun 2010 (Jiwa) 278 678 1,050 894 378 136 233 681 374 508 378 575 460 424 182 241 446 487 652 526 545

No. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21

Kode 001 002 003 010 011 012 013 014 015 016 017 018 019 020 021 022 023 024 025 030 031

Nama Desa/ Kel. sekarang JEUMPA SIKUREUNG BLANG POROH LHOK KULAM SAMPOI AJAT ULEE BLANG ALUE SEUTUI BLANG NEUBOK MNS ALUE MNS TUNONG LUENG LHEUE SIMPANG LHEUE BARAT MNS DAYAH MEUNASAH KEUPULA ULEE GAJAH UTEUN PUPALEH DARUL AMAN LAMPOH OE PULO RANGKILEH TUFAH TANJONG BUNGONG DAYAH BARO

Status Desa/Kota Desa Desa Desa Desa Desa Desa Desa Desa Desa Desa Desa Desa Desa Desa Desa Desa Desa Desa Desa Desa Desa

LAPORAN AKHIR

III - 79

BRR NAD - Nias

No. 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38

Kode 032 033 034 035 036 037 038 039 040 041 042 043 044 045 046 047 057

Nama Desa/ Kel. sekarang ULEE RABO LHUENG TENGOH MNS TAMBO MNS KEUTAPANG COT GEULUMPANG TUNONG COT GEULUMPANG BAROH KEUDE JEUNIEB JANGGOT SEUNGKO BLANG MEE TIMUR MATANG NIBONG BLANG MEE BARAT MATANG TEUNGOH MATANG BANGKA BLANG LANCANG LANCANG TEUPIN KEUPULA MEUNASAH LUENG TOTAL

Status Desa/Kota Desa Desa Desa Desa Desa Desa Kota Desa Desa Desa Desa Desa Desa Desa Desa Desa Desa

Luas Wilayah (Ha) 96.25 197.39 257.73 377.88 194.78 200.15 191.92 192.60 457.72 345.61 325.26 327.25 672.19 288.42 261.38 325.62 256.33 22,878

Jml. Penduduk Tahun 2003 (Jiwa) 540 643 578 605 192 407 390 855 1,347 352 607 333 333 1,087 455 582 464 21,217

Jml. Penduduk Tahun 2005 (Jiwa) 530 661 614 537 208 395 503 900 804 440 675 320 330 1,437 556 688 423 19,421

Proyeksi Penduduk Tahun 2010 (Jiwa) 571 712 661 579 224 426 542 970 866 474 727 345 356 1,548 599 741 456 20,922

B.2 Mata Pencaharian Penduduk dan Jumah KK Miskin Sebagian besar desa yang ada di Kecamatan Jeunieb memiliki mata pencaharian utama pada sektor pertanian tanaman pangan, dan terdapat 2 (dua) desa, yang memiliki mata pencaharian utama sektor Perindustrian dan Perdagangan, yakni : desa Lancang dan desa Keude Jeunieb. Adapun jumlah Kepala Keluarga (KK) Miskin adalah 3.540 KK atau 78,9 % dari total jumlah KK di kec. Jeunieb, dengan jumlah KK Miskin terbesar terdapat di desa Sampiajat, yakni sebanyak 204 KK atau 100 % dari jumlah KK yang ada di desa tersebut. Hampir seluruh desa yang ada di Kec. Jeunieb memiliki persentase jumlah KK miskin di atas 50 %, dan hanya 1(satu) desa yang memiliki presentasi dibawah 50 %. Kondisi ini dapat digunakan sebagai indikator kebutuhan penanganan masalah kemiskinan di Kec. Jeunieb.

LAPORAN AKHIR

III - 80

BRR NAD - Nias

Kode No Peta 001 002 003 010 011 012 013 014 015 016 017 018 019 020 021 022 023 024 025 030 031 032 033 034 035 036 037 038 039 040 041 042 043 044 045 046 047 057 Nama Desa JEUMPA SIKUREUNG BLANG POROH LHOK KULAM SAMPOI AJAT ULEE BLANG ALUE SEUTUI BLANG NEUBOK MNS ALUE MNS TUNONG LUENG LHEUE SIMPANG LHEUE BARAT MNS DAYAH MEUNASAH KEUPULA ULEE GAJAH UTEUN PUPALEH DARUL AMAN LAMPOH OE PULO RANGKILEH TUFAH TANJONG BUNGONG DAYAH BARO ULEE RABO LHUENG TENGOH MNS TAMBO MNS KEUTAPANG COT GEULUMPANG TUNONG COT GEULUMPANG BAROH KEUDE JEUNIEB JANGGOT SEUNGKO BLANG MEE TIMUR MATANG NIBONG BLANG MEE BARAT MATANG TEUNGOH MATANG BANGKA BLANG LANCANG LANCANG TEUPIN KEUPULA MEUNASAH LUENG

Keluarga di Sektor Pertanian Jumlah Persentase 71 99 98 98 60 99 98 96 99 73 70 60 93 92 30 91 96 55 67 94 98 88 80 96 83 98 93 10 82 23 55 25 90 80 20 15 70 95 49 153 172 200 61 29 58 106 88 89 57 72 96 86 15 56 92 63 92 120 129 118 140 108 106 42 89 10 164 40 58 35 65 62 62 20 119 82 Keluarga Miskin Jumlah 60 150 154 204 98 26 54 95 85 67 81 72 62 94 50 60 80 95 80 114 122 110 167 64 81 41 96 90 150 150 94 89 60 77 30 104 150 84 Persentase 87.0 96.8 88.0 100.0 97.0 89.7 91.5 86.4 95.5 54.9 100.0 60.0 60.2 100.0 100.0 96.8 83.3 82.6 58.4 89.1 92.4 82.1 95.4 57.1 63.3 95.3 100.0 91.8 75.0 86.7 88.7 63.1 83.3 100.0 9.6 77.0 88.2 97.7

Sumber Penghasilan Utama Pertanian Pertanian Pertanian Pertanian Pertanian Pertanian Pertanian Pertanian Pertanian Pertanian Pertanian Pertanian Pertanian Pertanian Pertanian Pertanian Pertanian Pertanian Pertanian Pertanian Pertanian Pertanian Pertanian Pertanian Pertanian Pertanian Pertanian Perdagangan Pertanian Pertanian Pertanian Pertanian Pertanian Pertanian Pertanian Industri Pertanian Pertanian Tanaman Pangan Tanaman Pangan Perkebunan Tanaman Pangan Tanaman Pangan Tanaman Pangan Tanaman Pangan Tanaman Pangan Tanaman Pangan Sub Sektor Pertanian Perkebunan Tanaman Pangan Tanaman Pangan Tanaman Pangan Tanaman Pangan Tanaman Pangan Perkebunan Tanaman Pangan Tanaman Pangan Tanaman Pangan Tanaman Pangan Tanaman Pangan Tanaman Pangan Tanaman Pangan Tanaman Pangan Tanaman Pangan Tanaman Pangan Tanaman Pangan Tanaman Pangan Perkebunan Tanaman Pangan Tanaman Pangan Tanaman Pangan Tanaman Pangan Tanaman Pangan Tanaman Pangan Tanaman Pangan 40 250 200 250 201 60 120 250 145 6 2 300 6 50 75 125 150 165 250 150 215 278 50 10 300 140 150 0 450 150 20 10 0 120 250 41 250 157 Buruh Tani Jumlah Presentase 21.8 40.1 20.9 30.7 95.4 48.1 56.7 41.2 42.2 1.7 0.8 93.6 1.5 13.8 147.9 61.3 37.7 66.4 61.7 32.7 43.4 59.6 9.5 1.7 67.3 68.7 40.8 0.0 61.0 81.1 8.3 5.9 0.0 45.5 87.0 49.2 51.9 39.1

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12
13 14 15 16 17 18 19 20 21 22

23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38

LAPORAN AKHIR

III - 81

BRR NAD - Nias


C. PRASARANA DAN SARANA C.1 Transportasi Secara umum, seluruh desa yang ada di Kecamatan Jeunieb dihubungkan oleh prasarana jaringan jalan dengan tipe perkerasan aspal/beton, sirtu, dan tanah, serta sebanyak 10 (sepuluh) desa belum dapat dijangkau oleh kendaraan roda-4. Kondisi ini menunjukkan diperlukannya pengembangan prasarana jaringan jalan yang dapat dilalui kendaraan roda-4 menuju ke-sepuluh desa tersebut, disamping juga diperlukan peningkatan jalan khususnya untuk jalan-jalan dengan jenis permukaan tanah menjadi minimal jenis Sirtu (Pasir Batu), sehingga dapat dilalui oleh kendaraan roda-4 di musim hujan. Adapun sarana angkutan umum ke desa-desa di kecamatan Jeunieb adalah ojek (sepeda motor). Untuk lebih jelasnya lihat tabel berikut :
Sebagian Besar Cara Lalu Lintas Antar Desa Darat Darat Darat Darat Darat Darat Darat Darat Darat Darat Darat Darat Darat Darat Darat Darat Darat Darat Darat Darat Darat Darat Darat Darat Dapat Dijangkau Kendaraan Roda 4/ Lebih Sepanjang Tahun Ya Tidak Ya Ya Tidak Ya Tidak Tidak Ya Ya Tidak Ya Ya Ya Ya Ya Ya Ya Ya Tidak Tidak Ya Tidak Ya

No

Kode Peta 001 002 003 010 011 012 013 014 015 016 017 018 019 020 021 022 023 024 025 030 031 032 033 034

Nama Desa JEUMPA SIKUREUNG BLANG POROH LHOK KULAM SAMPOI AJAT ULEE BLANG ALUE SEUTUI BLANG NEUBOK MNS ALUE MNS TUNONG LUENG LHEUE SIMPANG LHEUE BARAT MNS DAYAH MEUNASAH KEUPULA ULEE GAJAH UTEUN PUPALEH DARUL AMAN LAMPOH OE PULO RANGKILEH TUFAH TANJONG BUNGONG DAYAH BARO ULEE RABO LHUENG TENGOH MNS TAMBO

Jenis Permukaan Jalan Yang Terluas (jika darat) Diperkeras(kerikil,batu,dsb) Diperkeras(kerikil,batu,dsb) Diperkeras(kerikil,batu,dsb) Diperkeras(kerikil,batu,dsb) Diperkeras(kerikil,batu,dsb) Diperkeras(kerikil,batu,dsb) Diperkeras(kerikil,batu,dsb) Diperkeras(kerikil,batu,dsb) Diperkeras(kerikil,batu,dsb) Aspal/Beton Aspal/Beton Aspal/Beton Aspal/Beton Diperkeras(kerikil,batu,dsb) Diperkeras(kerikil,batu,dsb) Diperkeras(kerikil,batu,dsb) Diperkeras(kerikil,batu,dsb) Aspal/Beton Diperkeras(kerikil,batu,dsb) Aspal/Beton Diperkeras(kerikil,batu,dsb) Diperkeras(kerikil,batu,dsb) Diperkeras(kerikil,batu,dsb) Aspal/Beton

Tipe Angkutan Umum Utama Ojek Sepeda Motor Ojek Sepeda Motor Ojek Sepeda Motor Ojek Sepeda Motor Ojek Sepeda Motor Ojek Sepeda Motor Ojek Sepeda Motor Ojek Sepeda Motor Ojek Sepeda Motor Ojek Sepeda Motor Ojek Sepeda Motor Ojek Sepeda Motor Ojek Sepeda Motor Ojek Sepeda Motor Ojek Sepeda Motor Ojek Sepeda Motor Ojek Sepeda Motor Ojek Sepeda Motor Ojek Sepeda Motor Ojek Sepeda Motor Ojek Sepeda Motor Ojek Sepeda Motor Ojek Sepeda Motor Ojek Sepeda Motor

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24

LAPORAN AKHIR

III - 82

BRR NAD - Nias

No

Kode Peta 035 036 037 038 039 040 041 042 043 044 045 046 047 057

Nama Desa MNS KEUTAPANG COT GEULUMPANG TUNONG COT GEULUMPANG BAROH KEUDE JEUNIEB JANGGOT SEUNGKO BLANG MEE TIMUR MATANG NIBONG BLANG MEE BARAT MATANG TEUNGOH MATANG BANGKA BLANG LANCANG LANCANG TEUPIN KEUPULA MEUNASAH LUENG

Sebagian Besar Cara Lalu Lintas Antar Desa Darat Darat Darat Darat Darat Darat Darat Darat Darat & Air Darat Darat Darat Darat Darat

Jenis Permukaan Jalan Yang Terluas (jika darat) Aspal/Beton Diperkeras(kerikil,batu,dsb) Tanah Aspal/Beton Aspal/Beton Aspal/Beton Diperkeras(kerikil,batu,dsb) Aspal/Beton Aspal/Beton Diperkeras(kerikil,batu,dsb) Diperkeras(kerikil,batu,dsb) Tanah Diperkeras(kerikil,batu,dsb) Diperkeras(kerikil,batu,dsb)

Dapat Dijangkau Kendaraan Roda 4/ Lebih Sepanjang Tahun Ya Ya Ya Ya Ya Ya Tidak Ya Ya Ya Ya Ya Tidak Ya

Tipe Angkutan Umum Utama Ojek Sepeda Motor Ojek Sepeda Motor Ojek Sepeda Motor Ojek Sepeda/Becak/Gerobak/Pedati Ojek Sepeda Motor Ojek Sepeda Motor Ojek Sepeda Motor Ojek Sepeda Motor Ojek Sepeda Motor Ojek Sepeda Motor Ojek Sepeda Motor Ojek Sepeda Motor Ojek Sepeda Motor Ojek Sepeda Motor

25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38

C.2 Prasarana Air Bersih, Air Limbah dan Sampah Terdapat 5 (lima) desa yang ada di Kecamatan Jeunieb telah dilayani oleh sumber air bersih dari PDAM, lainnya masih menggunakan sumur sebagai sumber air bersih. Secara umum, kondisi ini telah memenuhi standar pelayanan minimal prasarana air bersih yang ada. Untuk prasarana dan sarana sanitasi berupa jamban umum tersedia hanya pada 1 (satu) desa, dan sebanyak 19 (sembilan belas) desa menggunakan sarana sanitasi bukan jamban. Secara umum, kondisi ini belum memenuhi standar pelayanan minimal sarana sanitasi yang ada (terlayani > 80 %), sehingga pelayanan sanitasi perlu ditingkatkan, khususnya pada desa-desa yang menggunakan sarana sanitasi bukan jamban. Untuk pengolahan sampah, seluruh desa menggunakan cara dibuang di lubang dan dibakar. Secara umum, kondisi ini telah memenuhi standar pelayanan minimal pengelolaan sampah yang ada untuk kawasan permukiman perkotaan dan perdesaan.

LAPORAN AKHIR

III - 83

BRR NAD - Nias

No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38

Kode Peta 001 002 003 010 011 012 013 014 015 016 017 018 019 020 021 022 023 024 025 030 031 032 033 034 035 036 037 038 039 040 041 042 043 044 045 046 047 057

Nama Desa JEUMPA SIKUREUNG BLANG POROH LHOK KULAM SAMPOI AJAT ULEE BLANG ALUE SEUTUI BLANG NEUBOK MNS ALUE MNS TUNONG LUENG LHEUE SIMPANG LHEUE BARAT MNS DAYAH MEUNASAH KEUPULA ULEE GAJAH UTEUN PUPALEH DARUL AMAN LAMPOH OE PULO RANGKILEH TUFAH TANJONG BUNGONG DAYAH BARO ULEE RABO LHUENG TENGOH MNS TAMBO MNS KEUTAPANG COT GEULUMPANG TUNONG COT GEULUMPANG BAROH KEUDE JEUNIEB JANGGOT SEUNGKO BLANG MEE TIMUR MATANG NIBONG BLANG MEE BARAT MATANG TEUNGOH MATANG BANGKA BLANG LANCANG LANCANG TEUPIN KEUPULA MEUNASAH LUENG

Sumber Air Minum Sumur Sumur Sumur Sumur Sumur Sumur Sumur Sumur Sumur Sumur Sumur Sumur Sumur Sumur Sumur Sumur Sumur Sumur Sumur Sumur Sumur Sumur Sumur Sumur Sumur Sumur Sumur Pipa PAM Sumur Pipa PAM Sumur Sumur Pipa PAM Pipa PAM Sumur Pipa PAM Sumur Sumur

Harus Membeli Air Minum Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak Ada Tidak Ada Ada Tidak Ada Ada Tidak Ada Tidak

Tempat Buang Air Besar Jamban Sendiri Bukan Jamban Bukan Jamban Jamban Sendiri Bukan Jamban Jamban Sendiri Bukan Jamban Bukan Jamban Jamban Sendiri Jamban Sendiri Bukan Jamban Jamban Sendiri Bukan Jamban Jamban Sendiri Bukan Jamban Jamban Sendiri Jamban Sendiri Jamban Sendiri Jamban Sendiri Bukan Jamban Bukan Jamban Jamban Sendiri Jamban Sendiri Bukan Jamban Bukan Jamban Bukan Jamban Bukan Jamban Jamban Sendiri Jamban Sendiri Jamban Sendiri Jamban Bersama Jamban Sendiri Jamban Sendiri Bukan Jamban Bukan Jamban Bukan Jamban Bukan Jamban Bukan Jamban

Cara Membuang Sampah Lobang/Dibakar Lobang/Dibakar Lobang/Dibakar Lobang/Dibakar Lobang/Dibakar Lobang/Dibakar Lobang/Dibakar Lobang/Dibakar Lobang/Dibakar Lobang/Dibakar Lobang/Dibakar Lobang/Dibakar Lobang/Dibakar Lobang/Dibakar Lobang/Dibakar Lobang/Dibakar Lobang/Dibakar Lobang/Dibakar Lobang/Dibakar Lobang/Dibakar Lobang/Dibakar Lobang/Dibakar Lobang/Dibakar Lobang/Dibakar Lobang/Dibakar Lobang/Dibakar Lobang/Dibakar Diangkut Lobang/Dibakar Lobang/Dibakar Lobang/Dibakar Lobang/Dibakar Lobang/Dibakar Lobang/Dibakar Lobang/Dibakar Lobang/Dibakar Lobang/Dibakar Lobang/Dibakar

LAPORAN AKHIR

III - 84

BRR NAD - Nias


C.3 Sarana Pendidikan Sarana pendidikan di Kecamatan Jeunieb meliputi : 1. TK Negeri dan TK swasta, masing-masing sebanyak 1 (satu) buah, dengan jangkauan pelayanan ke desa terjauh (Ds Mns Alue dan Ulee Gajah) adalah 7 Km 2. SD Negeri sebanyak 17 (tujuh belas) buah, dan SD swasta sebanyak 1 (satu) buah, dengan jangkaun pelayanan ke desa terjauh(Mns. Keupula) adalah 3 Km 3. SMP Negeri sebanyak 2 (dua) buah, dengan jangkauan pelayanan ke desa terjauh (Desa Ulee Gajah) adalah 7 Km 4. SMU Negeri sebanyak 1 (satu) buah di desa Blang Mee Timur, dengan jangkauan pelayanan ke desa terjauh (Desa Mns. Alue) adalah 9 Km.
Kode No Peta Nama Desa Taman Kanak-Kanak Jarak RataRata Negeri Swasta (km) Jumlah Sekolah 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 5 6 5 3 6 6 6 7 4 4 4 2.5 3 7 1 3 2 2.5 4 3 1 1 2 2 2 Sekolah Dasar Jumlah Sekolah Negeri 0 1 1 1 0 0 0 0 1 1 0 1 0 0 0 0 0 0 1 1 0 0 2 1 0 Swasta 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 Jarak RataRata (km) 1.0 . . . 1.0 0.5 1.0 1.0 . . 2.0 . 3.0 . 1.0 1.0 1.0 1.0 . . 1.0 2.0 . . 1.0 Sekolah Menengah Pertama Jarak Jumlah Sekolah RataRata Negeri Swasta (km) 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 5.0 6.0 5.0 4.0 4.0 4.0 6.0 4.0 4.0 4.0 4.0 2.5 3.0 7.0 6.0 2.0 2.0 1.0 . 3.0 1.0 2.5 2.0 2.0 2.0 Sekolah Menengah Umum Jarak RataRata Negeri Swasta (km) Jumlah Sekolah 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 5.0 6.0 5.3 4.0 8.0 6.5 6.0 9.0 4.0 4.0 6.0 2.5 3.0 7.0 6.0 4.0 4.0 3.0 2.0 3.0 1.0 1.0 3.0 5.0 2.7

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25

001 002 003 010 011 012 013 014 015 016 017 018 019 020 021 022 023 024 025 030 031 032 033 034 035

JEUMPA SIKUREUNG BLANG POROH LHOK KULAM SAMPOI AJAT ULEE BLANG ALUE SEUTUI BLANG NEUBOK MNS ALUE MNS TUNONG LUENG LHEUE SIMPANG LHEUE BARAT MNS DAYAH MEUNASAH KEUPULA ULEE GAJAH UTEUN PUPALEH DARUL AMAN LAMPOH OE PULO RANGKILEH TUFAH TANJONG BUNGONG DAYAH BARO ULEE RABO LHUENG TENGOH MNS TAMBO MNS KEUTAPANG

LAPORAN AKHIR

III - 85

BRR NAD - Nias

Kode No Peta Nama Desa

Taman Kanak-Kanak Jarak RataRata Negeri Swasta (km) Jumlah Sekolah 0 0 0 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1 1 1 2 1.5 1.5 2.5 4 2 1.5 0.5

Sekolah Dasar Jumlah Sekolah Negeri 0 0 0 2 0 0 1 0 0 1 0 1 1 Swasta 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 Jarak RataRata (km) 1.5 1.0 0.1 . 0.5 0.3 . 0.5 2.0 . 1.5 . .

Sekolah Menengah Pertama Jarak Jumlah Sekolah RataRata Negeri Swasta (km) 0 0 0 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 2.0 1.5 0.5 5.0 . 1.0 0.5 1.0 2.0 1.0 1.5 2.5 4.0

Sekolah Menengah Umum Jarak RataRata Negeri Swasta (km) Jumlah Sekolah 0 0 0 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 4.0 1.5 0.5 7.0 . 1.0 0.5 1.0 2.0 1.0 1.5 2.6 4.0

26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38

036 037 038 039 040 041 042 043 044 045 046 047 057

COT GEULUMPANG TUNONG COT GEULUMPANG BAROH KEUDE JEUNIEB JANGGOT SEUNGKO BLANG MEE TIMUR MATANG NIBONG BLANG MEE BARAT MATANG TEUNGOH MATANG BANGKA BLANG LANCANG LANCANG TEUPIN KEUPULA MEUNASAH LUENG

Kondisi di atas, apabila dikaitkan dengan standar pelayanan minimal untuk satuan lingkungan dengan jumlah penduduk < 30.000 jiwa (lihat Lampiran), dimana desadesa prioritas di Kecamatan Jeunieb dianggap sebagai satu lingkungan, dengan proyeksi penduduk pada tahun 2010 sebesar 20.922 jiwa, maka kebutuhan tambahan sarana pendidikan di Kec. Jeunieb, meliputi : 1. TK sebanyak 19 (sembilan belas) buah, dan 2. SLTP sebanyak 1 (satu) buah. C.4 Sarana Kesehatan Secara umum, sarana kesehatan di Kecamatan Jeunieb meliputi : 1. Poliklinik/Balai Pengobatan sebanyak 3 (tiga) buah, dengan jangkauan pelayanan ke desa terjauh (Desa Mns. Alue) adalah 32 Km 2. Puskesmas sebanyak 1 (satu) buah di Desa Blang Mee Timur, dengan jangkauan pelayanan ke desa terjauh (Desa Mns. Alue dan Ulee Gajah) adalah 7 Km 3. Posyandu sebanyak 29 (dua puluh sembilan) buah (hampir ada di setiap desa), dengan jangkauan pelayanan ke desa terjauh (Ds. J. Sikureung) adalah 5 Km 4. Polindes (Pondok Bersalin Desa) sebanyak 10 (sepuluh) buah, dengan jangkauan pelayanan ke desa terjauh (Desa Mns. Keupula, Lheue Simpang) adalah 30 Km.
LAPORAN AKHIR

III - 86

BRR NAD - Nias

No

Kode Peta

Nama Desa

Poliklinik/Balai Pengobatan Jarak RataJumlah Rata (km) 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1 1 0 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 31.0 6.0 5.0 29.0 6.0 31.0 6.0 32.0 30.0 30.0 5.3 2.0 30.0 7.0 6.3 30.0 26.0 . . 3.0 1.0 . 2.0 2.0 2.0 27.0 1.5 0.5 1.0 5.0 1.0 0.5 1.0 2.0 1.0 1.5 2.5 4.0

Puskemas Jarak RataJumlah Rata (km) 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 5.0 6.0 5.0 4.0 6.0 6.5 6.0 7.0 4.0 4.0 5.5 2.5 4.0 7.0 6.0 4.5 2.0 3.0 2.5 3.0 1.0 1.0 2.0 2.0 2.2 2.0 1.5 0.5 1.0 . 1.0 0.5 1.0 2.0 1.0 1.5 2.5 4.0

Puskemas Pembantu Jarak RataJumlah Rata (km) 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 12.0 2.0 0.6 1.0 1.0 1.0 3.0 4.0 5.0 8.0 2.0 2.5 9.0 7.0 6.5 1.5 2.0 3.0 2.0 2.0 1.0 2.0 2.0 2.0 2.2 2.0 1.5 1.0 3.0 1.5 1.0 1.0 2.0 2.0 1.0 1.5 2.0 1.0

POSYANDU Jarak RataJumlah Rata (km) 0 0 1 1 1 1 1 1 1 0 1 1 1 1 1 0 1 1 1 1 1 0 1 1 1 1 1 0 1 1 1 1 0 1 1 1 1 1 5.0 2.0 . . . . . . . 4.0 . . . . . 4.5 . . . . . 1.0 . . . . . 0.5 . . . . 1.0 . . . . .

Polindes (Pondok Bersalin Desa) Jarak RataJumlah Rata (km) 0 0 1 1 0 0 0 0 0 0 1 0 0 0 0 0 0 1 1 0 0 1 0 0 0 1 0 1 0 1 0 0 0 0 0 1 0 0 5.0 2.0 . . 6.0 1.0 6.0 7.0 2.0 30.0 . 2.5 30.0 3.0 2.0 4.0 1.0 . . 3.0 1.0 . 1.0 2.0 2.0 . 1.5 . 2.0 . 1.0 0.5 2.0 2.0 1.0 . 2.5 1.0

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38

001 002 003 010 011 012 013 014 015 016 017 018 019 020 021 022 023 024 025 030 031 032 033 034 035 036 037 038 039 040 041 042 043 044 045 046 047 057

JEUMPA SIKUREUNG BLANG POROH LHOK KULAM SAMPOI AJAT ULEE BLANG ALUE SEUTUI BLANG NEUBOK MNS ALUE MNS TUNONG LUENG LHEUE SIMPANG LHEUE BARAT MNS DAYAH MEUNASAH KEUPULA ULEE GAJAH UTEUN PUPALEH DARUL AMAN LAMPOH OE PULO RANGKILEH TUFAH TANJONG BUNGONG DAYAH BARO ULEE RABO LHUENG TENGOH MNS TAMBO MNS KEUTAPANG COT GEULUMPANG TUNONG COT GEULUMPANG BAROH KEUDE JEUNIEB JANGGOT SEUNGKO BLANG MEE TIMUR MATANG NIBONG BLANG MEE BARAT MATANG TEUNGOH MATANG BANGKA BLANG LANCANG LANCANG TEUPIN KEUPULA MEUNASAH LUENG

LAPORAN AKHIR

III - 87

BRR NAD - Nias


Kondisi di atas, apabila dikaitkan dengan standar pelayanan minimal untuk satuan lingkungan dengan jumlah penduduk < 30.000 jiwa (lihat Lampiran), dimana Kecamatan Jeunieb dianggap sebagai satu lingkungan, dengan proyeksi penduduk pada tahun 2010 sebesar 20.922 jiwa, maka tambahan sarana kesehatan yang diperlukan di Kec. Jeunieb, meliputi : 1. Poliklinik/Balai Pengobatan sebanyak 4 (empat) buah, dan 2. RS Bersalin sebanyak 1 (satu) buah. C.5 Listrik dan Telepon Hampir seluruh desa di Kecamatan Jeunieb telah dilayani oleh prasarana listrik, kecuali 1 (satu) desa, yakni Desa Lheue Barat. Kondisi ini menunjukkan kebutuhan perluasan jaringan listrik ke Desa tersebut. Sedangkan untuk prasarana telepon hanya 4 (empat) desa di kec. Jeunieb yang telah dilayani. Kondisi ini menunjukkan kebutuhan perluasan jaringan telepon yang dapat mencapai ke desa-desa yang masih belum terlayani.
Keluarga Berlangganan Telepon Jumlah 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0.0 0.0 0.0 0.0 0.0 0.0 0.0 0.0 0 0 0 0 0 0 0 0 Persentase (%) 0.0 0.0 0.0 0.0 0.0 0.0 0.0 0.0 0.0 0.0 0.0 0.0 0.0 0.0 0.0 0.0 0.0 0.0 0.0

No

Kode Peta 001 002 003 010 011 012 013 014 015 016 017 018 019 020 021 022 023 024 025

Nama Desa

Ketersediaan Listrik Ada Ada Ada Ada Ada Ada Ada Ada Ada Ada Tidak Ada Ada Ada Ada Ada Ada Ada Ada 83 55 43 17 36 53 37 94 PLN 26 49 85 67 70 8 22 75 30 87

Keluarga Pengguna Listrik Jumlah Non PLN 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 Persentase (%) PLN 37.7 31.6 48.6 32.8 69.3 27.6 37.3 68.2 33.7 71.3 0.0 69.2 53.4 45.7 34.0 58.1 55.2 32.2 68.6 Non PLN 0.0 0.0 0.0 0.0 0.0 0.0 0.0 0.0 0.0 0.0

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19

JEUMPA SIKUREUNG BLANG POROH LHOK KULAM SAMPOI AJAT ULEE BLANG ALUE SEUTUI BLANG NEUBOK MNS ALUE MNS TUNONG LUENG LHEUE SIMPANG LHEUE BARAT MNS DAYAH MEUNASAH KEUPULA ULEE GAJAH UTEUN PUPALEH DARUL AMAN LAMPOH OE PULO RANGKILEH TUFAH

LAPORAN AKHIR

III - 88

BRR NAD - Nias

No

Kode Peta 030 031 032 033 034 035 036 037 038 039 040 041 042 043 044 045 046 047 057

Nama Desa

Ketersediaan Listrik PLN Ada Ada Ada Ada Ada Ada Ada Ada Ada Ada Ada Ada Ada Ada Ada Ada Ada Ada Ada 111 110 104 87 87 99 24 44 91 150 148 60 121 50 25 300 100 145 39

Keluarga Pengguna Listrik Jumlah Non PLN 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 Persentase (%) PLN 86.7 83.3 77.6 49.7 77.7 77.3 55.8 45.8 92.9 75.0 85.5 56.6 85.8 69.4 32.5 96.2 74.1 85.3 45.3 Non PLN 0.0 0.0 0.0 0.0 0.0 0.0 0.0 0.0 0.0 0.0 0.0 0.0 0.0 0.0 0.0 0.0 0.0 0.0 0.0

Keluarga Berlangganan Telepon Jumlah 0 0 0 0 0 0 0 0 0 10 63 3 9 0 0 0 0 0 0 Persentase (%) 0.0 0.0 0.0 0.0 0.0 0.0 0.0 0.0 0.0 5.0 36.4 2.8 6.4 0.0 0.0 0.0 0.0 0.0 0.0

20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38

TANJONG BUNGONG DAYAH BARO ULEE RABO LHUENG TENGOH MNS TAMBO MNS KEUTAPANG COT GEULUMPANG TUNONG COT GEULUMPANG BAROH KEUDE JEUNIEB JANGGOT SEUNGKO BLANG MEE TIMUR MATANG NIBONG BLANG MEE BARAT MATANG TEUNGOH MATANG BANGKA BLANG LANCANG LANCANG TEUPIN KEUPULA MEUNASAH LUENG

3.6.2 RENCANA TINDAK (ACTION PLAN) KECAMATAN JEUNIEB Rencana Tindak (Action Plan) di Kecamatan Jeunieb disusun berdasarkan 5 (lima) rangkaian kegiatan yang telah dijelaskan pada sub bab 3.2. Sebagaimana juga telah dijelaskan pada sub bab 3.2, pelaksanaan sosialisasi melalui FGD di kecamatan Jeunieb tidak dapat dilaksanakan, sehingga dalam hal ini dilaksanakan survai wawancara (kuestioner) kepada masyarakat setempat sebagai bahan validitas terhadap draft rencana tindak (action plan) yang disusun konsultan dan telah dipadukan dengan bahan usulan program dari hasil pelaksanaan penjaringan aspirasi masyarakat melaui Forum FGD (Focus Group Discussion) yang dilakukan oleh Pemda Kabupaten Bireuen bekerjasama dengan Lembaga NGO dari Perancis pada tahun 2005. Hasil suvai wawancara (kuestioner) kepada masyarakat di kecamatan prioritas (termasuk Kecamatan Jeunieb) juga telah dijelaskan pada sub bab 3.2. Melalui pelaksanaan suvai wawancara (kuestioner) tersebut, selanjutnya disusun dan
LAPORAN AKHIR

III - 89

BRR NAD - Nias


ditetapkan Rencana Tindak (Action Plan) di Kecamatan Jeunieb Tahun 2007 sampai Tahun 2009 seperti disajikan pada Tabel dan gambar halaman berikut. 3.6.3 DESA PRIORITAS DI KECAMATAN JEUNIEB Dengan mengacu pada proses dan metode penetapan desa prioritas yang telah dijelaskan pada sub bab 3.2, maka ditetapkan desa prioritas untuk Village Planning di Kecamatan Jeunieb seperti disajikan pada tabel berikut. Desa Prioritas di Kecamatan Jeunieb
Urutan Prioritas 34 33 31 26 20 17 16 16 1 2 3 4 5 6 7 7

No 8 9 10 26 74 107 113 114

Kode 47 41 46 44 45 40 42 43

Nama Desa/Kel. sekarang TEUPIN KEUPULA MATANG NIBONG LANCANG MATANG BANGKA BLANG LANCANG BLANG MEE TIMUR BLANG MEE BARAT MATANG TEUNGOH

Kecamatan Jeunieb Jeunieb Jeunieb Jeunieb Jeunieb Jeunieb Jeunieb Jeunieb

Nilai

LAPORAN AKHIR

III - 90

BRR NAD - Nias

LAPORAN AKHIR

III - 91

BRR NAD - Nias

LAPORAN AKHIR

III - 92

BRR NAD - Nias

LAPORAN AKHIR

III - 93

BRR NAD - Nias

3.7

KECAMATAN PEUDADA

3.7.1 IDENTIFIKASI KONDISI DAN PERMASALAHAN YANG ADA A. FISIK DAN LINGKUNGAN A.1 Morfologi Pada sebelah Utara (wilayah pesisir) berupa topografi desa-desa pantai yang meliputi : Sawang, Matang Pasi Kukue, Meunasa Blang dan kampong Baro dan Calok. Desa berupa dataran meliputi: Blang Kubu, Seuneubok Paya, Matang Reuleut, dan Paya. Pada sebelah Selatan berupa punggung bukit antara lain, yaitu desa Meunasa Pulo. A.2 Jenis Tanah Jenis tanah di Kec. Peudada adalah relatif sama dengan yang ada di Kec. Samalanga, Simpang Mamplam, dan Jeunieb. A.3 Kedalaman Efektif Tanah Kedalaman efektif tanah di Kec. Peudada, sebagian memiliki kedalaman efektif antara 30 60 cm (53,55 %), dan sebagian lagi memiliki kedalaman efektif > 90 cm (46,46 %). A.4 Sumber Daya Air Sumber Daya Air Permukaan di kecamatan Peudada meliputi Sumber Daya Air Sungai, Rawa/paya dan waduk, diantaranya Krueng / Sungai (Peudada 185 Ha, Bugeng 40 Ha dan Kukue 35 Ha ), Paya / Rawa ( Paya Kameng 7 Ha dan Pinto Rimba 3,5 ) dan Waduk Paya Lot 7 Ha . A.5 Daerah Rawan Banjir Daerah Wilayah Kecamatan Peudada yang berpotensi rawan banjir adalah daerah Pesisir yang relatip datar 0 -5 meter di atas permukaan air laut, meliputi daerah sekitar muara sungai kuala Peudada yang kondisinya mengalami pendangkalan akibat sedimentasi dan akresi yang menimbulkan penyempitan Bottle Neck di bagian hilir ( muara ). Tanggal 11 Desember 2005 Wilayah pesisir Peudada terjadi banjir karena hujan selama tiga hari berturur turut sehingga jalur banda Aceh

LAPORAN AKHIR

III - 94

BRR NAD - Nias


Medan terputus selama 8 jam, warga sekitar mengungsi kedaerah aman dengan tinggi air sampai 2 meter yang menggenangi rumah - rumah warga. Faktor penyebab lain adanya penebangan hutan di wilayah hulu sungai. A.6 Daerah Rawan Gempa Daerah Wilayah Kecamatan Peudada berpotensi mengalami bencana kegempaan di tinjau dari tatanan struktur geologi tektonik regional pulau Sumatra yang sewaktuwaktu dapat menimbulkan gempa tektonik dengan skala 6-7 reichter, patahan patahan tersebut. Salah satunya dapat dijumpai di krueng Peusangan. A.7 Daerah Rawan Tsunami Daerah Pesisir yang terpotensi rawan tsunami meliputi desa pantai yang beresiko sedang yaitu desa Sawang, Blang Kubu, Matang Pasie, Kukue, Mns Blang, Kampung Baro, Seunebok Paya dan yang beresiko sedang meliputi desa tambak yaitu Maunasa Pulo, Matang Reuleut dan Paya. Factor penyebab di s pepanjang pesisir desa-desa pantai tidak terdapat zona penyanggah (buffer zone) hutan mangrove, yang mampu menahan laju gelombang tsunami secara alamiah serta kedalaman toporafi daerah perairan pantai Peudada 20 60 meter yang juga berpengaruh terhadap laju kecepatan rambat gelombang C = L/T terhadap kedalaman laut dan semakin ke darat cepat rambat gelombang semakin melemah ( Refraksi Gelombang ), Gelombang datang mengalami Difraksi oleh Terumbu Karang di perairan Simpang Mamplam sehingga laju kecepatan gelombang tertahan dan cenderug melemah. A.8 Kelautan dan Lingkungan Pesisir Morfologi Daerah Pesisir Penggunaan lahan dan kenampakan yang ada adalah Pemukiman penduduk, Pertambakan, Sawah dan kebun kelapa. Panjang garis pantai 4,12 km. Potensi Sumber Daya Hayati Perikanan tangkap dengan sarana PPI dan TPI, Budidaya Perikanan Tambak seluas 393,5 Ha , Ekosistim Estuaria Muara Sungai ( Kuala Peudada, Kuala Bugeng dan Kuala Kukue ), Ekosistim Padang Lamun dan Ekosistim Pantai Pasir.

LAPORAN AKHIR

III - 95

BRR NAD - Nias


Permasalahan Kelautan dan Lingkungan Pesisir Abrasi di sepanjang pesisir pantai, Akresi di muara sungai Peudada Membentuk Tanah Timbul, dan Kerusakan hutan mangrove. Analisis Penanganan dan Pengembangan Berdasarkan permasalahan kelautan dan lingkungan pesisir yang ada di Kec. Peudada, maka beberapa bentuk penanganan dan pengembangan yang diperlukan adalah sebagai berikut : 1. Ekosistim Hutan Mangrove ( Bakau ) Mereboisasai Kawasan pantai dengan menanam kembali tanaman bakau (mangrove) Sawang, Blang Kubu, Matang Pasie, Kukue, Mns Blang, Kampung Baro, Seuneubok Paya. Penanganan lainnya adalah sama dengan yang telah dijelaskan untu kecamatan Samalanga. 2. Ekosistim Estuaria, Padang Lamun, Pasir Pantai dan Perikanan Tambak Sama dengan yang telah dijelaskan untuk kecamatan Samalanga. 3. Abrasi a. Penanggulangan abrasi pantai secara alamiah dengan memanfaatkan sumber daya ekosistim hutan mangrove ( Vegetasi ) dan Reboisasi di desa pantai Sawang, Blang Kubu, Matang Pasi, Kukue, Gampong Baro dan desa Seuneubok Paya. b. Penanggulangan abrasi pantai dengan sistim Proteksi Bangunan Coastal Pantai (

Engineering ) yaitu Sea Wall, Bulkhealt dan Revetment, dengan

mengutamakan dan memanfaatkan batuan yang banyak tersebar di kabupaten bireuen di desa pantai Sawang, Blang Kubu, Matang Pasi, Kukue, Gampong Baro dan desa Seuneubok Paya. B. SOSIAL EKONOMI B.1 Jumlah Penduduk dan KK Jumlah penduduk dan Kepala Keluarga (KK) pada seluruh desa yang ada di Kecamatan Peudada pada tahun 2005 adalah 24.196 jiwa dan 5.515 KK, dengan
LAPORAN AKHIR

III - 96

BRR NAD - Nias


jumlah penduduk dan KK terbesar adalah di Desa Dayah Mon Ara sebanyak 1.973 jiwa dan 440 KK, serta terkecil di desa Jabet sebanyak 66 jiwa dan 40 KK.
No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 Kode Peta 001 002 003 004 005 006 007 008 009 010 011 012 013 014 015 016 017 018 019 020 021 022 023 024 025 026 027 028 029 030 031 032 033 034 035 036 Nama Desa Laki-Laki BLANG RANGKULUH ALUE SIJUEK BUKET PAYA DAYAH MON ARA PULO ARA COT LAOT MEUNASAH BUNGO PAYA BUNOT COT KEUTAPANG LAWANG HAGU MNS KRUENG MNS RABO MNS TAMBO MNS BAROH BLANG MATANG MNS TUNONG MNS ALUE BLANG BATI KEUDE ALUE RHEING PULO LAWANG KARIENG BLANG GLUMPANG MNS MESJID MNS CUT MATANG REULEUT MNS PULO ARA BUNGONG GAROT BLANG BEURURU JABET SAWANG BLANG KUBU MATANG PASI KUKUE MNS BLANG 750 433 150 976 256 45 175 245 137 131 191 314 232 330 313 160 672 285 159 152 159 100 228 91 291 270 441 223 257 268 32 275 698 440 314 267 Jumlah Penduduk Wanita 781 468 170 997 268 52 226 253 165 140 196 210 288 327 365 198 714 312 169 148 185 166 229 135 273 297 632 280 283 166 34 265 731 500 365 291 Jumlah Keluarga 464 192 71 440 132 22 106 75 66 54 91 95 115 133 154 73 232 145 78 71 84 70 98 66 95 130 283 101 129 101 40 126 319 221 108 132

Total 1,531 901 320 1,973 524 97 401 498 302 271 387 524 520 657 678 358 1,386 597 328 300 344 266 457 226 564 567 1,073 503 540 434 66 540 1,429 940 679 558

LAPORAN AKHIR

III - 97

BRR NAD - Nias

No 37 38 39 40 41

Kode Peta 037 038 039 040 041 PAYA

Nama Desa Laki-Laki KAMPONG BARO 257 413 176 203 117

Jumlah Penduduk Wanita 286 458 201 224 122

Total 543 871 377 427 239

Jumlah Keluarga 130 211 97 97 68

SEUNEUBOK PAYA MEUNASAH TEUNGOH CALOK

B.2 Pertumbuhan Penduduk dan Proyeksi Penduduk Tahun 2010 Adapun pertumbuhan penduduk pada desa-desa di Kec. Peudada dari tahun 20032005 sebagian menunjukkan angka pertumbuhan negatif, berkisar antara -0,15 sampai -38,9 %. Hal ini kemungkinan disebabkan dampak tsunami yang cukup parah di Kecamatan Peudada. Berdasarkan angka pertumbuhan yang ada, selanjutnya diproyeksikan jumlah penduduk di desa-desa Kec. Peudada pada tahun 2010, total sebesar 25.305 jiwa, dengan rincian jumlah penduduk tiap desa disajikan pada tabel berikut.
Luas Wilayah (Ha) 253.32 149.10 194.68 194.68 94.66 93.71 178.86 272.02 208.60 107.11 80.62 47.62 177.83 433.88 106.36 79.52 114.10 148.42 128.69 103.54 Jml. Penduduk Tahun 2003 (Jiwa) 1,648 783 321 1,970 540 111 545 494 284 264 345 381 426 652 837 307 818 649 329 289 Jml. Penduduk Tahun 2005 (Jiwa) 1,531 901 320 1,973 524 97 401 498 302 271 387 524 520 657 678 358 1,386 597 328 300 Proyeksi Penduduk Tahun 2010 (Jiwa) 1,601 942 335 2,063 548 101 419 521 316 283 405 548 544 687 709 374 1,450 624 343 314

No. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20

Kode 001 002 003 004 005 006 007 008 009 010 011 012 013 014 015 016 017 018 019 020

Nama Desa/ Kel. sekarang BLANG RANGKULUH ALUE SIJUEK BUKET PAYA DAYAH MON ARA PULO ARA COT LAOT MEUNASAH BUNGO PAYA BUNOT COT KEUTAPANG LAWANG HAGU MNS KRUENG MNS RABO MNS TAMBO MNS BAROH BLANG MATANG MNS TUNONG MNS ALUE BLANG BATI KEUDE ALUE RHEING

Status Desa/Kota Desa Desa Desa Desa Desa Desa Desa Desa Desa Desa Desa Desa Desa Desa Desa Desa Desa Desa Desa Desa

LAPORAN AKHIR

III - 98

BRR NAD - Nias

No. 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41

Kode 021 022 023 024 025 026 027 028 029 030 031 032 033 034 035 036 037 038 039 040 041

Nama Desa/ Kel. sekarang PULO LAWANG KARIENG BLANG GLUMPANG MNS MESJID MNS CUT MATANG REULEUT MNS PULO ARA BUNGONG GAROT BLANG BEURURU JABET SAWANG BLANG KUBU MATANG PASI KUKUE MNS BLANG KAMPONG BARO PAYA SEUNEUBOK PAYA MEUNASAH TEUNGOH CALOK TOTAL

Status Desa/Kota Desa Desa Desa Desa Desa Desa Desa Desa Desa Desa Desa Desa Desa Desa Desa Desa Desa Desa Desa Desa Desa

Luas Wilayah (Ha) 118.26 91.44 58.57 84.05 94.21 138.28 143.08 136.30 659.34 263.74 139.30 450.60 346.91 483.12 477.63 108.88 327.46 757.37 741.81 275.17 192.15 9,255.02

Jml. Penduduk Tahun 2003 (Jiwa) 354 268 456 606 305 586 1,087 576 614 465 175 515 1,764 728 468 475 555 961 321 239 23,511

Jml. Penduduk Tahun 2005 (Jiwa) 344 266 457 226 564 567 1,073 503 540 434 66 540 1,429 940 679 558 543 871 377 427 239 24,196

Proyeksi Penduduk Tahun 2010 (Jiwa) 360 278 478 236 590 593 1,122 526 565 454 69 565 1,494 983 710 584 568 911 394 447 250 25,305

B.3 Mata Pencaharian Penduduk dan Jumah KK Miskin Hampir seluruh desa yang ada di Kecamatan Peudada memiliki mata pencaharian utama pada sektor pertanian tanaman pangan. Adapun jumlah Kepala Keluarga (KK) Miskin adalah 3.654 KK atau 66,3 % dari total jumlah KK di kec. Peudada, dengan jumlah KK Miskin terbesar terdapat di desa Blang Rangkuluh, yakni sebanyak 275 KK atau 59,3 % dari jumlah KK yang ada di desa ini. Sebagian besar desa (35 desa) yang ada di Kec. Peudada memiliki persentase jumlah KK miskin di atas 50 %. Kondisi ini dapat digunakan sebagai indikator kebutuhan penanganan masalah kemiskinan di Kec. Peudada.

LAPORAN AKHIR

III - 99

BRR NAD - Nias

Kode No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41 Peta 001 002 003 004 005 006 007 008 009 010 011 012 013 014 015 016 017 018 019 020 021 022 023 024 025 026 027 028 029 030 031 032 033 034 035 036 037 038 039 040 041 Nama Desa BLANG RANGKULUH ALUE SIJUEK BUKET PAYA DAYAH MON ARA PULO ARA COT LAOT MEUNASAH BUNGO PAYA BUNOT COT KEUTAPANG LAWANG HAGU MNS KRUENG MNS RABO MNS TAMBO MNS BAROH BLANG MATANG MNS TUNONG MNS ALUE BLANG BATI KEUDE ALUE RHEING PULO LAWANG KARIENG BLANG GLUMPANG MNS MESJID MNS CUT MATANG REULEUT MNS PULO ARA BUNGONG GAROT BLANG BEURURU JABET SAWANG BLANG KUBU MATANG PASI KUKUE MNS BLANG KAMPONG BARO PAYA SEUNEUBOK PAYA MEUNASAH TEUNGOH CALOK

Keluarga di Sektor Pertanian Jumlah 459 190 70 436 119 21 101 68 59 49 86 86 98 120 123 62 197 142 70 43 76 63 88 59 86 117 255 91 103 91 38 113 287 199 103 125 111 190 68 87 61 Persentase 99 99 99 99 90 95 95 90 90 90 95 90 85 90 80 85 85 98 90 60 90 90 90 90 90 90 90 90 80 90 95 90 90 90 95 95 85 90 70 90 90 Keluarga Miskin Jumlah 275 173 60 189 70 18 15 47 60 44 69 65 90 87 61 60 146 65 78 50 67 50 85 40 73 101 140 90 113 85 40 90 95 160 104 120 115 175 84 55 50 Persentase 59.3 90.1 84.5 43.0 53.0 81.8 14.2 62.7 90.9 81.5 75.8 68.4 78.3 65.4 39.6 82.2 62.9 44.8 100.0 70.4 79.8 71.4 86.7 60.6 76.8 77.7 49.5 89.1 87.6 84.2 100.0 71.4 29.8 72.4 96.3 90.9 88.5 82.9 86.6 56.7 73.5

Sumber Penghasilan Utama Pertanian Pertanian Pertanian Pertanian Pertanian Pertanian Pertanian Pertanian Pertanian Pertanian Pertanian Pertanian Pertanian Pertanian Pertanian Pertanian Pertanian Pertanian Pertanian Pertanian Pertanian Pertanian Pertanian Pertanian Pertanian Pertanian Pertanian Pertanian Pertanian Pertanian Pertanian Pertanian Pertanian Pertanian Pertanian Pertanian Pertanian Pertanian Pertanian Pertanian Pertanian Sub Sektor Pertanian Tanaman Pangan Tanaman Pangan Tanaman Pangan Tanaman Pangan Tanaman Pangan Tanaman Pangan Tanaman Pangan Tanaman Pangan Tanaman Pangan Tanaman Pangan Tanaman Pangan Tanaman Pangan Tanaman Pangan Tanaman Pangan Tanaman Pangan Tanaman Pangan Tanaman Pangan Tanaman Pangan Tanaman Pangan Tanaman Pangan Tanaman Pangan Tanaman Pangan Tanaman Pangan Tanaman Pangan Tanaman Pangan Tanaman Pangan Tanaman Pangan Tanaman Pangan Perkebunan Tanaman Pangan Tanaman Pangan Tanaman Pangan Tanaman Pangan Tanaman Pangan Tanaman Pangan Tanaman Pangan Tanaman Pangan Tanaman Pangan Tanaman Pangan Tanaman Pangan Tanaman Pangan Buruh Tani Jumlah 140 135 150 145 137 19 210 30 35 57 220 57 210 35 71 32 425 55 39 27 92 50 50 17 21 37 157 137 160 25 50 150 705 675 281 401 136 112 64 42 70 Persentase 9.2 15.1 47.3 7.4 29.1 20.6 55.1 6.7 12.9 23.4 59.8 12.1 47.5 5.9 13.1 10.5 36.1 9.4 13.2 15.0 29.7 20.9 12.2 8.4 4.1 7.3 16.3 30.3 37.0 6.4 79.7 30.9 54.8 79.8 43.6 75.6 29.5 14.3 24.3 10.9 32.5

LAPORAN AKHIR

III - 100

BRR NAD - Nias

C. PRASARANA DAN SARANA C.1 Transportasi Secara umum, seluruh desa yang ada di Kecamatan Peudada dihubungkan oleh prasarana jaringan jalan dengan tipe perkerasan aspal/beton, sirtu, dan tanah, serta hampir seluruh desa dapat dijangkau oleh kendaraan roda-4, kecuali 1 (satu) desa, yakni Desa Mns. Rabo. Kondisi ini menunjukkan diperlukannya pengembangan prasarana jaringan jalan yang dapat dilalui kendaraan roda-4 menuju Ds. Mns. Rabo, disamping juga diperlukan peningkatan jalan khususnya untuk jalan-jalan dengan jenis permukaan tanah menjadi minimal jenis Sirtu (Pasir Batu), sehingga dapat dilalui oleh kendaraan roda-4 di musim hujan. Adapun sarana angkutan umum ke desa-desa di Kec. Peudada adalah ojek (sepeda motor). Untuk lebih jelasnya lihat tabel berikut :
Sebagian Besar Cara Lalu Lintas Antar Desa Darat Darat Darat Darat Darat Darat Darat Darat Darat Darat Darat Darat Darat Darat Darat Darat Darat Darat Darat Darat Darat Darat Dapat Dijangkau Kendaraan Roda 4/ Lebih Sepanjang Tahun Ya Ya Ya Ya Ya Ya Ya Ya Ya Ya Ya Ya Tidak Ya Ya Ya Ya Ya Ya Ya Ya Ya

No

Kode Peta 001 002 003 004 005 006 007 008 009 010 011 012 013 014 015 016 017 018 019 020 021 022

Nama Desa

Jenis Permukaan Jalan Yang Terluas (jika darat) Diperkeras(kerikil,batu,dsb) Diperkeras(kerikil,batu,dsb) Tanah Diperkeras(kerikil,batu,dsb) Diperkeras(kerikil,batu,dsb) Diperkeras(kerikil,batu,dsb) Diperkeras(kerikil,batu,dsb) Diperkeras(kerikil,batu,dsb) Diperkeras(kerikil,batu,dsb) Diperkeras(kerikil,batu,dsb) Diperkeras(kerikil,batu,dsb) Diperkeras(kerikil,batu,dsb) Diperkeras(kerikil,batu,dsb) Diperkeras(kerikil,batu,dsb) Diperkeras(kerikil,batu,dsb) Diperkeras(kerikil,batu,dsb) Diperkeras(kerikil,batu,dsb) Diperkeras(kerikil,batu,dsb) Diperkeras(kerikil,batu,dsb) Aspal/Beton Diperkeras(kerikil,batu,dsb) Diperkeras(kerikil,batu,dsb)

Tipe Angkutan Umum Utama

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22

BLANG RANGKULUH ALUE SIJUEK BUKET PAYA DAYAH MON ARA PULO ARA COT LAOT MEUNASAH BUNGO PAYA BUNOT COT KEUTAPANG LAWANG HAGU MNS KRUENG MNS RABO MNS TAMBO MNS BAROH BLANG MATANG MNS TUNONG MNS ALUE BLANG BATI KEUDE ALUE RHEING PULO LAWANG KARIENG

Ojek Sepeda Motor Ojek Sepeda Motor Ojek Sepeda Motor Ojek Sepeda Motor Ojek Sepeda Motor Ojek Sepeda Motor Ojek Sepeda Motor Ojek Sepeda Motor Ojek Sepeda Motor Ojek Sepeda Motor Ojek Sepeda Motor Ojek Sepeda Motor Ojek Sepeda Motor Ojek Sepeda Motor Ojek Sepeda/Becak/Gerobak/Pedati Ojek Sepeda Motor Ojek Sepeda Motor Ojek Sepeda Motor Ojek Sepeda Motor Ojek Sepeda Motor Kend Roda 3/Lebih Ojek Sepeda Motor

LAPORAN AKHIR

III - 101

BRR NAD - Nias

No

Kode Peta 023 024 025 026 027 028 029 030 031 032 033 034 035 036 037 038 039 040 041

Nama Desa

Sebagian Besar Cara Lalu Lintas Antar Desa Darat Darat Darat Darat Darat Darat Darat Darat Darat Darat Darat Darat Darat Darat Darat Darat Darat Darat Darat

Jenis Permukaan Jalan Yang Terluas (jika darat) Diperkeras(kerikil,batu,dsb) Diperkeras(kerikil,batu,dsb) Diperkeras(kerikil,batu,dsb) Diperkeras(kerikil,batu,dsb) Aspal/Beton Diperkeras(kerikil,batu,dsb) Diperkeras(kerikil,batu,dsb) Diperkeras(kerikil,batu,dsb) Diperkeras(kerikil,batu,dsb) Diperkeras(kerikil,batu,dsb) Diperkeras(kerikil,batu,dsb) Diperkeras(kerikil,batu,dsb) Diperkeras(kerikil,batu,dsb) Diperkeras(kerikil,batu,dsb) Diperkeras(kerikil,batu,dsb) Diperkeras(kerikil,batu,dsb) Diperkeras(kerikil,batu,dsb) Diperkeras(kerikil,batu,dsb) Diperkeras(kerikil,batu,dsb)

Dapat Dijangkau Kendaraan Roda 4/ Lebih Sepanjang Tahun Ya Ya Ya Ya Ya Ya Ya Ya Ya Ya Ya Ya Ya Ya Ya Ya Ya Ya Ya

Tipe Angkutan Umum Utama

23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41

BLANG GLUMPANG MNS MESJID MNS CUT MATANG REULEUT MNS PULO ARA BUNGONG GAROT BLANG BEURURU JABET SAWANG BLANG KUBU MATANG PASI KUKUE MNS BLANG KAMPONG BARO PAYA SEUNEUBOK PAYA MEUNASAH TEUNGOH CALOK

Ojek Sepeda Motor Ojek Sepeda Motor Ojek Sepeda Motor Ojek Sepeda Motor Ojek Sepeda Motor Ojek Sepeda Motor Ojek Sepeda Motor Ojek Sepeda Motor Ojek Sepeda Motor Kend Roda 3/Lebih Ojek Sepeda Motor Ojek Sepeda Motor Ojek Sepeda Motor Ojek Sepeda Motor Ojek Sepeda Motor Ojek Sepeda Motor Ojek Sepeda Motor Ojek Sepeda Motor Ojek Sepeda Motor

C.2 Prasarana Air Bersih, Air Limbah dan Sampah Hampir seluruh desa yang ada di Kecamatan Peudada menggunakan sumur sebagai sumber air bersih, kecuali 1 (satu) desa, yakni Desa Keude Alue Rheing menggunakan sumber air lainnya yang harus membeli. Secara umum, kondisi ini menunjukkan sebagian besar desa yang ada telah memenuhi standar pelayanan minimal prasarana air bersih yang ada, kecuali untuk Desa Keude Alue Rheing diperlukan penyediaan altenatif sumber air bersih, misal melalui penyediaan Hidran Umum. Untuk sarana sanitasi sebagian besar desa yang ada (26 desa) di kec. Peudada menggunakan sarana bukan jamban. Secara umum, kondisi ini masih dibawah standar pelayanan minimal sarana sanitasi yang ada (terlayani > 80 %), sehingga diperlukan program penyediaan sarana jamban umum minimal pada 21 (dua puluh satu) desa yang masih menggunakan sarana bukan jamban.

LAPORAN AKHIR

III - 102

BRR NAD - Nias


Untuk pengolahan sampah, hampir seluruh desa menggunakan cara dibuang di lubang dan dibakar. Secara umum, kondisi ini masih memenuhi standar pelayanan minimal pengelolaan sampah yang ada untuk kawasan permukiman perdesaan.
Sumber Air Minum Sumur Sumur Sumur Sumur Sumur Sumur Sumur Sumur Sumur Sumur Sumur Sumur Sumur Sumur Sumur Sumur Sumur Sumur Sumur Lainnya Sumur Sumur Sumur Sumur Sumur Sumur Sumur Sumur Sumur Sumur Sumur Sumur Sumur Sumur Sumur Sumur Harus Membeli Air Minum Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak Ada Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak Tempat Buang Air Besar Bukan Jamban Bukan Jamban Bukan Jamban Bukan Jamban Bukan Jamban Bukan Jamban Bukan Jamban Bukan Jamban Bukan Jamban Bukan Jamban Bukan Jamban Jamban Umum Jamban Sendiri Jamban Sendiri Jamban Sendiri Bukan Jamban Jamban Sendiri Bukan Jamban Bukan Jamban Jamban Sendiri Jamban Sendiri Jamban Sendiri Jamban Sendiri Jamban Sendiri Jamban Sendiri Jamban Sendiri Jamban Sendiri Bukan Jamban Jamban Bersama Bukan Jamban Bukan Jamban Bukan Jamban Bukan Jamban Bukan Jamban Bukan Jamban Bukan Jamban Cara Membuang Sampah Lobang/Dibakar Lobang/Dibakar Lobang/Dibakar Lobang/Dibakar Lobang/Dibakar Lobang/Dibakar Lobang/Dibakar Lobang/Dibakar Lobang/Dibakar Lobang/Dibakar Lobang/Dibakar Lobang/Dibakar Lobang/Dibakar Lobang/Dibakar Lobang/Dibakar Lobang/Dibakar Lobang/Dibakar Lainnya Lobang/Dibakar Lobang/Dibakar Lobang/Dibakar Lobang/Dibakar Lobang/Dibakar Lobang/Dibakar Lobang/Dibakar Lobang/Dibakar Lobang/Dibakar Lobang/Dibakar Lobang/Dibakar Lobang/Dibakar Sungai Lobang/Dibakar Lobang/Dibakar Lobang/Dibakar Lobang/Dibakar Lobang/Dibakar

No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36

Kode Peta 001 002 003 004 005 006 007 008 009 010 011 012 013 014 015 016 017 018 019 020 021 022 023 024 025 026 027 028 029 030 031 032 033 034 035 036

Nama Desa BLANG RANGKULUH ALUE SIJUEK BUKET PAYA DAYAH MON ARA PULO ARA COT LAOT MEUNASAH BUNGO PAYA BUNOT COT KEUTAPANG LAWANG HAGU MNS KRUENG MNS RABO MNS TAMBO MNS BAROH BLANG MATANG MNS TUNONG MNS ALUE BLANG BATI KEUDE ALUE RHEING PULO LAWANG KARIENG BLANG GLUMPANG MNS MESJID MNS CUT MATANG REULEUT MNS PULO ARA BUNGONG GAROT BLANG BEURURU JABET SAWANG BLANG KUBU MATANG PASI KUKUE MNS BLANG

LAPORAN AKHIR

III - 103

BRR NAD - Nias

No 37 38 39 40 41

Kode Peta 037 038 039 040 041

Nama Desa KAMPONG BARO PAYA SEUNEUBOK PAYA MEUNASAH TEUNGOH CALOK

Sumber Air Minum Sumur Sumur Sumur Sumur Sumur

Harus Membeli Air Minum Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak

Tempat Buang Air Besar Bukan Jamban Bukan Jamban Bukan Jamban Jamban Sendiri Bukan Jamban

Cara Membuang Sampah Lobang/Dibakar Lobang/Dibakar Lobang/Dibakar Lobang/Dibakar Lobang/Dibakar

C.3 Sarana Pendidikan Secara umum, sarana pendidikan di Kecamatan Peudada meliputi : 1. TK Negeri sebanyak 2 (dua) buah, dan TK Swasta sebanyak 1 (satu) buah, dengan jangkauan pelayanan ke desa terjauh (Desa Alue Sijuek dan Blang Bati) adalah 8 Km, 2. SD Negeri sebanyak 20 (dua puluh) buah, dengan jangkaun pelayanan ke desa terjauh (Desa Lawang) adalah 4 Km, 3. SMP Negeri sebanyak 2 (dua) buah, dengan jangkauan pelayanan ke desa terjauh (Desa Blang Rangkuluh dan Lawang) adalah 6 Km. 4. SMU Negeri sebanyak 1 (satu) buah, dengan jangkauan pelayanan ke desa terjauh (Desa Seuneubok Paya) adalah 10 Km.
Taman Kanak-Kanak Jarak RataRata Negeri Swasta (km) Jumlah Sekolah 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 6 8 7 7 5 6 3 4 2 6 3 4 2 1 Sekolah Dasar Jumlah Sekolah Negeri 2 1 0 1 0 0 0 1 0 0 0 1 0 0 Swasta 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 Jarak RataRata (km) . . 2.0 . 2.0 1.0 2.0 . 2.0 4.0 1.0 . 2.0 1.0 Sekolah Menengah Pertama Jarak Jumlah Sekolah RataRata Negeri Swasta (km) 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 6.0 5.0 2.0 2.0 3.0 4.0 3.0 4.0 2.0 6.0 3.0 4.0 2.0 1.0 Sekolah Menengah Umum Jarak RataRata Negeri Swasta (km) Jumlah Sekolah 0 0 0 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 6.0 5.0 2.0 2.0 . 6.0 5.0 8.0 6.0 6.0 8.0 4.0 5.0 5.0

No

Kode Peta 001 002 003 004 005 006 007 008 009 010 011 012 013 014

Nama Desa

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14

BLANG RANGKULUH ALUE SIJUEK BUKET PAYA DAYAH MON ARA PULO ARA COT LAOT MEUNASAH BUNGO PAYA BUNOT COT KEUTAPANG LAWANG HAGU MNS KRUENG MNS RABO MNS TAMBO

LAPORAN AKHIR

III - 104

BRR NAD - Nias

No

Kode Peta 015 016 017 018 019 020 021 022 023 024 025 026 027 028 029 030 031 032 033 034 035 036 037 038 039 040 041

Nama Desa

Taman Kanak-Kanak Jarak RataRata Negeri Swasta (km) Jumlah Sekolah 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1 0 0 0 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 2 3 2 3 4 5 5 4 2 3 3 7 3 5 4 2 2 1 2 3 4 8 5 6

Sekolah Dasar Jumlah Sekolah Negeri 2 0 0 1 1 1 0 0 0 0 0 1 0 1 1 1 0 1 0 0 0 1 0 2 0 1 0 Swasta 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 Jarak RataRata (km) . 2.0 2.0 . . . 2.0 1.0 2.0 2.0 2.0 . 1.0 . . . 2.0 . 2.0 1.0 2.0 . 2.0 . 2.0 . 2.0

Sekolah Menengah Pertama Jarak Jumlah Sekolah RataRata Negeri Swasta (km) 0 0 0 0 0 1 0 0 0 0 0 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1.0 2.0 3.0 3.0 2.0 . 2.0 1.0 5.0 . 2.0 2.0 . 3.0 3.0 4.0 3.0 4.0 2.0 3.0 4.0 3.0 3.0 5.0 5.0 4.0 2.0

Sekolah Menengah Umum Jarak RataRata Negeri Swasta (km) Jumlah Sekolah 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 8.0 4.0 5.0 3.0 2.0 3.6 2.0 1.0 5.0 5.0 4.0 2.0 6.0 8.0 8.0 6.0 3.0 7.0 8.0 3.0 4.0 2.0 2.0 5.0 10.0 4.0 8.0

15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41

MNS BAROH BLANG MATANG MNS TUNONG MNS ALUE BLANG BATI KEUDE ALUE RHEING PULO LAWANG KARIENG BLANG GLUMPANG MNS MESJID MNS CUT MATANG REULEUT MNS PULO ARA BUNGONG GAROT BLANG BEURURU JABET SAWANG BLANG KUBU MATANG PASI KUKUE MNS BLANG KAMPONG BARO PAYA SEUNEUBOK PAYA MEUNASAH TEUNGOH CALOK

Kondisi di atas, apabila dikaitkan dengan standar pelayanan minimal untuk satuan lingkungan dengan jumlah penduduk < 30.000 jiwa (lihat Lampiran), dimana Kecamatan Peudada dianggap sebagai satu lingkungan, dengan proyeksi penduduk pada tahun 2010 sebesar 25.305 jiwa, maka kebutuhan tambahan sarana pendidikan di Kec. Peudada, meliputi : 1. TK sebanyak 23 (dua puluh tiga) buah, 2. SLTP sebanyak 1 (satu) buah.

LAPORAN AKHIR

III - 105

BRR NAD - Nias


C.4 Sarana Kesehatan Sarana kesehatan di Kecamatan Peudada, meliputi : 1. Puskesmas sebanyak 1 (satu) buah di Desa Mns.Pulo, dengan jangkauan pelayanan ke desa terjauh (Desa Blang Bati) adalah 8 Km, 2. Puskesmas Pembantu sebanyak 1 (satu) buah di Desa Sawang, dengan jangkauan pelayanan ke desa terjauh (Desa Pulo Lawang) adalah 10 Km, 3. Posyandu sebanyak 41 (empat puluh satu) buah (ada di setiap desa). 4. Polindes (Pondok Bersalin Desa) sebanyak 40 (empat puluh) buah, dengan jangkauan pelayanan ke desa terjauh (Desa Calok) adalah 1 Km.
Poliklinik/ Balai Pengobatan Jumlah 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 001 002 003 004 005 006 007 008 009 010 011 012 013 014 015 016 017 018 019 020 021 022 023 024 025 026 027 BLANG RANGKULUH ALUE SIJUEK BUKET PAYA DAYAH MON ARA PULO ARA COT LAOT MEUNASAH BUNGO PAYA BUNOT COT KEUTAPANG LAWANG HAGU MNS KRUENG MNS RABO MNS TAMBO MNS BAROH BLANG MATANG MNS TUNONG MNS ALUE BLANG BATI KEUDE ALUE RHEING PULO LAWANG KARIENG BLANG GLUMPANG MNS MESJID MNS CUT MATANG REULEUT MNS PULO 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 Jarak Rata-Rata (km) 13.0 12.0 10.0 10.0 10.0 13.0 13.0 14.0 15.0 18.0 17.0 16.0 16.0 15.0 14.5 12.0 10.0 12.0 8.0 7.0 7.0 10.0 9.0 12.0 12.0 13.0 13.0

Puskemas Jarak Rata-Rata (km) 6.0 6.0 6.0 7.0 5.0 5.0 3.0 4.0 2.0 6.0 3.0 4.0 2.0 1.0 0.5 2.0 3.0 4.0 8.0 5.0 6.0 4.0 5.0 4.0 2.0 2.0 .

Puskemas Pembantu Jarak Rata-Rata (km) 2.0 3.0 3.0 3.0 2.0 4.0 3.0 3.0 4.0 8.0 3.0 4.0 5.0 3.0 2.0 3.0 4.0 4.0 4.0 2.0 10.0 2.0 3.0 3.0 2.0 2.0 3.0

POSYANDU Jarak Rata-Rata (km) . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .

No

Kode Peta

Nama Desa

Jumlah 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1

Jumlah 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0

Jumlah 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1

Polindes (Pondok Bersalin Desa) Jarak Jumlah Rata-Rata (km) 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .

LAPORAN AKHIR

III - 106

BRR NAD - Nias

No

Kode Peta

Nama Desa

Poliklinik/ Balai Pengobatan Jumlah Jarak Rata-Rata (km) 18.0 14.0 20.0 14.0 4.0 17.0 13.0 14.0 13.0 11.0 12.0 10.0 12.0 17.0

Puskemas Jarak Rata-Rata (km) 4.0 3.0 7.0 3.0 4.0 4.0 4.0 4.0 5.0 5.0 5.0 5.0 4.0 4.0

Puskemas Pembantu Jarak Rata-Rata (km) 3.0 2.0 3.0 2.0 . 2.0 5.0 2.0 3.0 4.0 3.0 2.0 3.0 2.0

POSYANDU Jarak Rata-Rata (km) . . . . . . . . . . . . . .

Jumlah 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0

Jumlah 0 0 0 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0

Jumlah 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1

Polindes (Pondok Bersalin Desa) Jarak Jumlah Rata-Rata (km) 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 0 . . . . . . . . . . . . . 1.0

28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41

028 029 030 031 032 033 034 035 036 037 038 039 040 041

ARA BUNGONG GAROT BLANG BEURURU JABET SAWANG BLANG KUBU MATANG PASI KUKUE MNS BLANG KAMPONG BARO PAYA SEUNEUBOK PAYA MEUNASAH TEUNGOH CALOK

0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0

Kondisi di atas, apabila dikaitkan dengan standar pelayanan minimal untuk satuan lingkungan dengan jumlah penduduk < 30.000 jiwa (lihat Lampiran), dimana Kecamatan Peudada dianggap sebagai satu lingkungan, dengan proyeksi penduduk pada tahun 2010 sebesar 25.305 jiwa, maka tambahan sarana kesehatan yang diperlukan di Kec. Peudada, meliputi : 1. Balai Pengobatan/Poliklinik sebanyak 7 (tujuh) buah, 2. RS Bersalin sebanyak 1 (satu) buah. C.5 Listrik dan Telepon Seluruh desa di Kecamatan Peudada telah dilayani oleh prasarana listrik. Sedangkan untuk prasarana telepon, baru sebagian desa (12 desa) yang sudah terlayani. Kondisi ini menunjukkan kebutuhan perluasan jaringan telepon yang dapat mencapai ke desa-desa yang masih belum terlayani.
Keluarga Pengguna Listrik Nama Desa BLANG RANGKULUH ALUE SIJUEK Ketersediaan Listrik Ada Ada Jumlah PLN 78 37 Non PLN 0 0 Persentase (%) PLN 16.8 19.3 Non PLN 0.0 0.0 Keluarga Berlangganan Telepon Jumlah 0 0 Persentase (%) 0.0 0.0

Kode No 1 2 Peta 001 002

LAPORAN AKHIR

III - 107

BRR NAD - Nias

Kode No 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41 Peta 003 004 005 006 007 008 009 010 011 012 013 014 015 016 017 018 019 020 021 022 023 024 025 026 027 028 029 030 031 032 033 034 035 036 037 038 039 040 041 Nama Desa BUKET PAYA DAYAH MON ARA PULO ARA COT LAOT MEUNASAH BUNGO PAYA BUNOT COT KEUTAPANG LAWANG HAGU MNS KRUENG MNS RABO MNS TAMBO MNS BAROH BLANG MATANG MNS TUNONG MNS ALUE BLANG BATI KEUDE ALUE RHEING PULO LAWANG KARIENG BLANG GLUMPANG MNS MESJID MNS CUT MATANG REULEUT MNS PULO ARA BUNGONG GAROT BLANG BEURURU JABET SAWANG BLANG KUBU MATANG PASI KUKUE MNS BLANG KAMPONG BARO PAYA SEUNEUBOK PAYA MEUNASAH TEUNGOH CALOK Ketersediaan Listrik Ada Ada Ada Ada Ada Ada Ada Ada Ada Ada Ada Ada Ada Ada Ada Ada Ada Ada Ada Ada Ada Ada Ada Ada Ada Ada Ada Ada Ada Ada Ada Ada Ada Ada Ada Ada Ada Ada Ada PLN 17 70 38 5 47 15 59 40 43 45 60 91 143 61 201 60 17 65 47 33 37 41 91 93 181 28 105 30 10 30 240 125 50 80 33 105 54 97 57

Keluarga Pengguna Listrik Jumlah Non PLN 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 Persentase (%) PLN 23.9 15.9 28.8 22.7 44.3 20.0 89.4 74.1 47.3 47.4 52.2 68.4 92.9 83.6 86.6 41.4 21.8 91.5 56.0 47.1 37.8 62.1 95.8 71.5 64.0 27.7 81.4 29.7 25.0 23.8 75.2 56.6 46.3 60.6 25.4 49.8 55.7 100.0 83.8 Non PLN 0.0 0.0 0.0 0.0 0.0 0.0 0.0 0.0 0.0 0.0 0.0 0.0 0.0 0.0 0.0 0.0 0.0 0.0 0.0 0.0 0.0 0.0 0.0 0.0 0.0 0.0 0.0 0.0 0.0 0.0 0.0 0.0 0.0 0.0 0.0 0.0 0.0 0.0 0.0

Keluarga Berlangganan Telepon Jumlah 0 0 0 0 0 0 0 0 0 3 15 10 8 11 10 8 0 7 6 0 0 0 0 0 20 0 3 0 0 0 10 0 0 0 0 0 0 0 0 Persentase (%) 0.0 0.0 0.0 0.0 0.0 0.0 0.0 0.0 0.0 3.2 13.0 7.5 5.2 15.1 4.3 5.5 0.0 9.9 7.1 0.0 0.0 0.0 0.0 0.0 7.1 0.0 2.3 0.0 0.0 0.0 3.1 0.0 0.0 0.0 0.0 0.0 0.0 0.0 0.0

LAPORAN AKHIR

III - 108

BRR NAD - Nias

3.7.2 RENCANA TINDAK (ACTION PLAN) KECAMATAN PEUDADA Rencana Tindak (Action Plan) di Kecamatan Peudada disusun berdasarkan 5 (lima) rangkaian kegiatan yang telah dijelaskan pada sub bab 3.2. Sebagaimana juga telah dijelaskan pada sub bab 3.2, pelaksanaan sosialisasi melalui FGD di kecamatan Peudada tidak dapat dilaksanakan, sehingga dalam hal ini dilaksanakan survai wawancara (kuestioner) kepada masyarakat setempat sebagai bahan validitas terhadap draft rencana tindak (action plan) yang disusun konsultan dan telah dipadukan dengan bahan usulan program dari hasil pelaksanaan penjaringan aspirasi masyarakat melaui Forum FGD (Focus Group Discussion) yang dilakukan oleh Pemda Kabupaten Bireuen bekerjasama dengan Lembaga NGO dari Perancis pada tahun 2005. Hasil suvai wawancara (kuestioner) kepada masyarakat di 9 (sembilan) kecamatan prioritas (termasuk Kecamatan Peudada) juga telah dijelaskan pada sub bab 3.2. Melalui 5 (lima) rangkaian kegiatan di atas, dan hasil pelaksanaan suvai wawancara (kuestioner) kepada masyarakat selanjutnya disusun dan ditetapkan Rencana Tindak (Action Plan) di Kecamatan Peudada Tahun 2007 sampai Tahun 2009 seperti disajikan pada Tabel dan gambar pada halaman berikut. 3.7.3 DESA PRIORITAS DI KECAMATAN PEUDADA Dengan mengacu pada proses dan metode penetapan desa prioritas yang telah dijelaskan pada sub bab 3.2, maka dipilih dan ditetapkan desa prioritas untuk Village Planning di Kecamatan Peudada seperti disajikan pada tabel berikut. Desa Prioritas di Kecamatan Peudada
No 31 38 39 40 48 50 Kode 35 34 36 37 39 32 Nama Desa/Kel. sekarang KUKUE MATANG PASI MNS BLANG KAMPONG BARO SEUNEUBOK PAYA SAWANG Kecamatan Peudada Peudada Peudada Peudada Peudada Peudada Nilai 25 24 24 24 23 22 Urutan Prioritas 1 2 2 2 3 4

LAPORAN AKHIR

III - 109

BRR NAD - Nias

No 51 73 95 103 124

Kode 33 41 38 26 27

Nama Desa/Kel. sekarang BLANG KUBU CALOK PAYA MATANG REULEUT MNS PULO

Kecamatan Peudada Peudada Peudada Peudada Peudada

Nilai 22 20 18 17 14

Urutan Prioritas 4 5 6 7 8

LAPORAN AKHIR

III - 110

BRR NAD - Nias

LAPORAN AKHIR

III - 111

BRR NAD - Nias

LAPORAN AKHIR

III - 112

BRR NAD - Nias

LAPORAN AKHIR

III - 113

BRR NAD - Nias

3.8

KECAMATAN JEUMPA

3.8.1 IDENTIFIKASI KONDISI DAN PERMASALAHAN YANG ADA A. FISIK DAN LINGKUNGAN A.1 Morfologi Sebagian berupa topografi desa-desa pantai yang meliputi : Blang Dalam, Cot Bada, Kuala Jeumpa, Lipah Rayeuk, Mon Jambee, Batee Timoh, Cot Geurundong, Beurawang, dan Lipah Cut. Desa berupa dataran meliputi: Teupok Tunong, dan Teupok Baroh. A.2 Jenis Tanah Jenis tanah di Kec. Jeumpa adalah relatif sama dengan yang ada di Kec. Samalanga, Simpang Mamplam, dan Jeunieb. A.3 Kedalaman Efektif Tanah Kedalaman efektif tanah di Kec. Jeumpa, seluruhnya memiliki kedalaman efektif > 90 cm. A.4 Sumber Daya Air Sumber Daya Air Permukaan di kecamatan Juempa meliputi Sumber Daya Air Sungai, Rawa/paya dan waduk, diantaranya Krueng / Sungai ( Jeumpa 30 Ha dan Juli 20 Ha ), Paya / Rawa Paya Jagat dan Waduk Paya Gapueh. A.5 Daerah Rawan Banjir Daerah Wilayah Kecamatan Jeumpa yang terpotensi rawan banjir adalah daerah Pesisir yang relatip datar 0 -5 meter di atas permukaan air laut, meliputi daerah sekitar muara sungai kuala Jeumpa yang kondisinya mengalami pendangkalan akibat sedimentasi dan akresi yang menimbulkan penyempitan Bottle Neck di bagian hilir ( muara ). A.6 Daerah Rawan Gempa Daerah Wilayah Kecamatan Jeumpa berpotensi mengalami bencana kegempaan di tinjau dari tatanan struktur geologi tektonik regional pulau Sumatra yang sewaktuIII - 114

LAPORAN AKHIR

BRR NAD - Nias


waktu dapat menimbulkan gempa tektonik dengan skala 6-7 reichter, patahan patahan tersebut. Salah satunya dapat dijumpai di krueng Peusangan. A.7 Daerah Rawan Tsunami Daerah Pesisir yang terpotensi rawan tsunami meliputi desa pantai dan desa tambak yang beresiko sedang yaitu desa Teupok Baroh, Cot Bada, Kuala Juempa, Blang Dalam, Mon Jambe, Batee Timoh, Lipah Ranyeuk, Cot Geurandong, Lipah Cut, Beurawang dan teupok Tunong. Faktor penyebab di sepanjang pesisir desa-desa pantai tidak terdapat zona penyanggah (buffer zone) hutan mangrove yang mampu menahan laju gelombang tsunami secara alamiah serta kedalaman toporafi daerah perairan pantai Jeumpa 20 100 meter yang juga berpengaruh terhadap laju kecepatan rambat gelombang C = L/T terhadap kedalaman laut d/L dan semakin ke darat cepat rambat gelombang semakin melemah (Refraksi Gelombang). Gelombang datang mengalami Difraksi oleh Terumbu Karang di perairan Simpang Mamplam sehingga laju kecepatan gelombang tertahan dan cenderug melemah sebelum nyampai ke daerah pesisir jeumpa. A.8 Kelautan dan Lingkungan Pesisir Morfologi Daerah Pesisir Penggunaan lahan dan kenampakan yang ada adalah Pemukiman penduduk, pertambakan, kebun kelapa, Hactheri dan sawah. Dengan panjang garis pantai 7,6 km. Potensi Sumber Daya Hayati Perikanan tangkap dan saranan PPI dan TPI, Budidaya perikanan tambak seluas 157,5 Ha, Ekosistim Estuaria Muara Sungai (Kuala jeumpa, Kuala Juli dan Kuala Raja), Ekosisitim Pantai Pasir dan Ekosistim Padang Lamun. Permasalahan Kelautan dan Lingkungan Pesisir Abrasi di sepanjang pesisir Pantai, Akresi di muara sungai Jeumpa, Kerusakan hutan mangrove.

LAPORAN AKHIR

III - 115

BRR NAD - Nias


Analisis Penanganan dan Pengembangan Berdasarkan permasalahan kelautan dan lingkungan pesisir yang ada di Kec. Jeumpa, maka beberapa bentuk penanganan dan pengembangan yang diperlukan adalah sebagai berikut : 1. Ekosistim Hutan Mangrove ( Bakau ) Mereboisasai Kawasan pantai dengan menanam kembali tanaman bakau (mangrove) di desa pantai yaitu Teupok Baroh, Cot Bada, Kuala Juempa, Blang Dalam, Mon Jambe, Batee Timu, Lipah Rayeuk, Cot Geurendong, Lipah Cut, Beurawang. Penanganan lainnya adalah sama dengan yang telah dijelaskan untuk kecamatan Samalanga. 2. Ekosistim Estuaria, Padang Lamun, Pasir Pantai dan Perikanan Tambak Sama dengan yang telah dijelaskan untuk kecamatan Samalanga. 3. Abrasi a. Penanggulangan abrasi pantai secara alamiah dengan memanfaatkan sumber daya ekosistim hutan mangrove ( Vegetasi ) dan Reboisasi di desa pantai Teupok Baroh, Cot Bada, Kuala Juempa, Blang Dalam, Lhokmana, Mon Jambe, Batee Timoh, Lipah Rayek, Lipah Cut, Cot Geurandong dan desa Beurawang. b. Penanggulangan abrasi pantai dengan sistim Proteksi Bangunan Coastal Pantai (

Engineering ) yaitu Sea Wall, Bulkhealt dan Revetment, dengan

mengutamakan dan memanfaatkan batuan yang banyak tersebar di kabupaten bireuen di desa pantai Teupok Baroh, Cot Bada, Kuala Juempa, Blang Dalam, Lhokmana, Mon Jambe, Batee Timoh, Lipah Rayek, Lipah Cut, Cot Geurandong dan desa Beurawang. 4. Akresi Sama dengan yang telah dijelaskan untuk kecamatan Samalanga.

LAPORAN AKHIR

III - 116

BRR NAD - Nias

B. SOSIAL EKONOMI B.1 Jumlah Penduduk dan KK Jumlah penduduk dan Kepala Keluarga (KK) pada seluruh desa yang ada di Kecamatan Jeumpa pada tahun 2005 adalah 28.592 jiwa dan 8.049 KK, dengan jumlah penduduk dan KK terbesar terdapat di Ds. Blang Cot Tunong sebanyak 2.100 jiwa dan 900 KK, terkecil di Ds. Geudong Tampu sebanyak 324 jiwa dan 64 KK.
No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 Kode Peta 001 002 003 004 005 006 007 008 009 010 027 028 029 030 031 032 033 034 035 036 037 038 039 040 041 042 043 044 061 062 063 064 Nama Desa ABEUK USONG BLANG SEUPEUNG COT IBOH SEUNEUBOK LHONG PALOH PANYANG BLANG RHEUM COT ULIM COT LEUSONG BLANG SEUNONG COT KEUTAPANG COT TAROM TUNONG BLANG COT TUNONG SEULEUMBAH ABEUK TINGKEUM BLANG ME PULO LAWANG PALOH SEULIMENG TEUPOK TUNONG TEUPOK BAROH COT BADA COT GADONG KUALA JEUMPA BLANG DALAM BLANG BLADEH GEULUMPANG PAYONG BLANG COT BAROH COT TAROM BAROH GEUDONG TAMPU LIPAH CUT LIPAH RAYEUK MON JAMBEE BATEE TIMOH Jumlah Penduduk Laki-Laki 741 616 309 491 235 336 224 176 360 599 437 1,500 150 198 201 298 230 412 450 225 276 943 225 213 951 314 393 166 286 526 278 367 Wanita 712 481 297 507 223 326 216 179 370 575 458 600 200 211 198 288 234 397 500 216 266 865 277 120 1,103 293 432 158 304 616 150 753 Total 1,453 1,097 606 998 458 662 440 355 730 1,174 895 2,100 350 409 399 586 464 809 950 441 542 1,808 502 333 2,054 607 825 324 590 1,142 428 1,120 Jumlah Keluarga 611 359 121 206 91 131 114 78 117 235 400 900 72 191 192 117 118 161 201 225 108 941 231 110 329 119 189 64 112 300 157 162

LAPORAN AKHIR

III - 117

BRR NAD - Nias

No 33 34 35 36

Kode Peta 065 066 073 075

Nama Desa COT GEURUNDONG BEURAWANG BLANG GANDAI SALAH SIRONG JAYA

Jumlah Penduduk Laki-Laki 291 327 478 360 Wanita 280 404 460 341 Total 571 731 938 701

Jumlah Keluarga 114 161 200 112

B.2 Pertumbuhan Penduduk dan Proyeksi Penduduk Tahun 2010 Adapun pertumbuhan penduduk pada desa-desa di Kec. Jeumpa dari tahun 20032005 sebagian menunjukkan angka pertumbuhan negatif, berkisar antara -0,14 sampai -53,5 %. Hal ini kemungkinan sebagian disebabkan dampak tsunami di Kecamatan Jeumpa. Berdasarkan angka pertumbuhan yang ada, selanjutnya diproyeksikan jumlah penduduk di desa-desa Kec. Jeumpa pada tahun 2010, total sebesar 30.650 jiwa, dengan rincian jumlah penduduk tiap desa disajikan pada tabel berikut.
Status Desa/Kota Desa Desa Desa Desa Desa Desa Desa Desa Desa Kota Desa Desa Desa Desa Desa Desa Desa Desa Desa Desa Desa Desa Luas Wilayah (Ha) 450.06 799.58 143.04 63.62 126.35 103.06 102.85 89.43 87.55 43.12 41.69 33.87 55.55 21.68 54.74 91.50 185.79 74.35 150.89 150.95 66.37 55.99 Jml. Penduduk Tahun 2003 (Jiwa) 1,443 1,824 599 1,029 453 701 435 384 541 1,158 769 648 351 425 206 577 486 809 950 441 537 1,808 Jml. Penduduk Tahun 2005 (Jiwa) 1,453 1,097 606 998 458 662 440 355 730 1,174 895 2,100 350 409 399 586 464 809 950 441 542 1,808 Proyeksi Penduduk Tahun 2010 (Jiwa) 1,558 1,176 650 1,070 491 710 472 381 783 1,259 959 2,251 375 438 428 628 497 867 1,018 473 581 1,938

No. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22

Kode 001 002 003 004 005 006 007 008 009 010 027 028 029 030 031 032 033 034 035 036 037 038

Nama Desa/ Kel. sekarang ABEUK USONG BLANG SEUPEUNG COT IBOH SEUNEUBOK LHONG PALOH PANYANG BLANG RHEUM COT ULIM COT LEUSONG BLANG SEUNONG COT KEUTAPANG COT TAROM TUNONG BLANG COT TUNONG SEULEUMBAH ABEUK TINGKEUM BLANG ME PULO LAWANG PALOH SEULIMENG TEUPOK TUNONG TEUPOK BAROH COT BADA COT GADONG KUALA JEUMPA

LAPORAN AKHIR

III - 118

BRR NAD - Nias

No. 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36

Kode 039 040 041 042 043 044 061 062 063 064 065 066 073 075

Nama Desa/ Kel. sekarang BLANG DALAM BLANG BLADEH GEULUMPANG PAYONG BLANG COT BAROH COT TAROM BAROH GEUDONG TAMPU LIPAH CUT LIPAH RAYEUK MON JAMBEE BATEE TIMOH COT GEURUNDONG BEURAWANG BLANG GANDAI SALAH SIRONG JAYA TOTAL

Status Desa/Kota Desa Desa Desa Desa Desa Kota Desa Desa Desa Desa Desa Desa Desa Desa

Luas Wilayah (Ha) 38.90 29.79 34.84 12.82 21.56 15.03 21.52 16.43 25.95 73.32 48.55 43.93 261.68 349.22 3,985.57

Jml. Penduduk Tahun 2003 (Jiwa) 502 1,540 1,470 604 943 599 590 1,142 428 1,120 571 731 938 698 28,450

Jml. Penduduk Tahun 2005 (Jiwa) 502 333 2,054 607 825 324 590 1,142 428 1,120 571 731 938 701 28,592

Proyeksi Penduduk Tahun 2010 (Jiwa) 538 357 2,202 651 884 347 632 1,224 459 1,201 612 784 1,006 751 30,650

B.2 Mata Pencaharian Penduduk dan Jumah KK Miskin Hampir seluruh desa yang ada di Kecamatan Jeumpa memiliki mata pencaharian utama pada sektor pertanian tanaman pangan, kecuali untuk desa Cot Geurundong memiliki mata pencaharian utama sektor perkebunan. Adapun jumlah Kepala Keluarga (KK) Miskin adalah 6.257 K atau 77,7 % dari total jumlah KK di kec. Jeumpa, dengan jumlah KK Miskin terbesar terdapat di desa Kuala Jeumpa, yakni sebanyak 930 KK atau 98,8 % dari jumlah KK yang ada di desa ini. Semua desa yang ada di Kec. Jeumpa memiliki persentase jumlah KK miskin di atas 50 %. Kondisi ini dapat digunakan sebagai indikator bahwa kebutuhan penanganan masalah kemiskinan adalah prioritas untuk Kec. Jeumpa.
Keluarga di Sektor No Peta 001 002 003 004 005 006 007 Nama Desa ABEUK USONG BLANG SEUPEUNG COT IBOH SEUNEUBOK LHONG PALOH PANYANG BLANG RHEUM COT ULIM 580 341 119 165 82 118 113 Pertanian Jumlah 1 2 3 4 5 6 7 Persentase 95 95 98 80 90 90 99 Keluarga Miskin Jumlah 480 200 90 150 50 110 90 Persentase 78.6 55.7 74.4 72.8 54.9 84.0 78.9 Sumber Penghasilan Utama Pertanian Pertanian Pertanian Pertanian Pertanian Pertanian Pertanian Sub Sektor Pertanian Tanaman Pangan Tanaman Pangan Tanaman Pangan Tanaman Pangan Tanaman Pangan Tanaman Pangan Tanaman Pangan 900 100 280 87 100 100 200 Buruh Tani Jumlah Presentase 65.2 9.6 47.1 10.9 24.3 16.8 45.9

LAPORAN AKHIR

III - 119

BRR NAD - Nias

Keluarga di Sektor No Peta 008 009 010 027 028 029 030 031 032 033 034 035 036 037 038 039 040 041 042 043 044 061 062 063 064 065 066 073 075 Nama Desa COT LEUSONG BLANG SEUNONG COT KEUTAPANG COT TAROM TUNONG BLANG COT TUNONG SEULEUMBAH ABEUK TINGKEUM BLANG ME PULO LAWANG PALOH SEULIMENG TEUPOK TUNONG TEUPOK BAROH COT BADA COT GADONG KUALA JEUMPA BLANG DALAM BLANG BLADEH GEULUMPANG PAYONG BLANG COT BAROH COT TAROM BAROH GEUDONG TAMPU LIPAH CUT LIPAH RAYEUK MON JAMBEE BATEE TIMOH COT GEURUNDONG BEURAWANG BLANG GANDAI SALAH SIRONG JAYA 59 111 176 360 450 36 124 144 111 89 145 161 108 97 489 166 77 171 83 151 38 67 240 102 97 80 105 180 106 Pertanian Jumlah 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 Persentase 75 95 75 90 50 50 65 75 95 75 90 80 48 90 52 72 70 52 70 80 60 60 80 65 60 70 65 90 95 Keluarga Miskin Jumlah 70 70 150 400 500 40 175 180 80 105 140 145 200 80 930 225 80 297 30 155 55 80 215 120 120 90 120 160 75 Persentase 89.7 59.8 63.8 100.0 55.6 55.6 91.6 93.8 68.4 89.0 87.0 72.1 88.9 74.1 98.8 97.4 72.7 90.3 25.2 82.0 85.9 71.4 71.7 76.4 74.1 78.9 74.5 80.0 67.0

Sumber Penghasilan Utama Pertanian Pertanian Pertanian Pertanian Pertanian Pertanian Pertanian Pertanian Pertanian Pertanian Pertanian Pertanian Pertanian Pertanian Pertanian Pertanian Pertanian Pertanian Pertanian Pertanian Pertanian Pertanian Pertanian Pertanian Pertanian Pertanian Pertanian Pertanian Pertanian Sub Sektor Pertanian Tanaman Pangan Perkebunan Tanaman Pangan Perkebunan Tanaman Pangan Tanaman Pangan Tanaman Pangan Tanaman Pangan Tanaman Pangan Tanaman Pangan Tanaman Pangan Tanaman Pangan Tanaman Pangan Tanaman Pangan Tanaman Pangan Tanaman Pangan Tanaman Pangan Tanaman Pangan Tanaman Pangan Tanaman Pangan Tanaman Pangan Tanaman Pangan Tanaman Pangan Tanaman Pangan Tanaman Pangan Perkebunan Tanaman Pangan Tanaman Pangan Tanaman Pangan 52 600 80 15 500 150 78 47 300 55 30 720 68 100 30 63 180 92 70 500 20 80 200 300 200 50 200 350 30 Buruh Tani Jumlah Presentase 19.5 86.5 9.1 1.9 47.6 85.7 29.3 15.7 53.9 15.8 4.1 94.7 32.1 20.5 3.2 17.4 77.2 8.6 16.5 75.8 10.3 22.6 21.9 107.8 29.8 12.5 42.1 41.5 4.5

C. PRASARANA DAN SARANA C.1 Transportasi Secara umum, seluruh desa yang ada di Kecamatan Jeumpa dihubungkan oleh prasarana jaringan jalan dengan tipe perkerasan aspal/beton, sirtu, dan tanah, serta sebanyak 4 (empat) desa belum dapat dijangkau oleh kendaraan roda-4. Kondisi ini menunjukkan diperlukannya pengembangan prasarana jaringan jalan yang dapat dilalui kendaraan roda-4 menuju ke-empat desa tersebut, disamping
LAPORAN AKHIR

III - 120

BRR NAD - Nias


juga diperlukan peningkatan jalan khususnya untuk jalan-jalan dengan jenis permukaan tanah menjadi minimal jenis Sirtu (Pasir Batu), sehingga dapat dilalui oleh kendaraan roda-4 di musim hujan. Adapun sarana angkutan umum ke desa-desa di Kec. Jeumpa, sebagian besar adalah ojek (sepeda motor), kecuali 3 (tiga) desa sudah dilayani angkutan umum kendaraan roda-4. Untuk lebih jelasnya lihat tabel berikut :
Sebagian Besar Cara Lalu Lintas Antar Desa Darat Darat Darat Darat Darat Darat Darat Darat Darat Darat Darat Darat Darat Darat Darat Darat Darat Darat Darat Darat Darat Darat Darat Darat Darat Darat Darat Darat Darat Darat Darat Darat Dapat Dijangkau Kendaraan Roda 4/ Lebih Sepanjang Tahun Ya Ya Ya Ya Ya Ya Ya Ya Ya Ya Ya Ya Ya Ya Ya Tidak Ya Ya Ya Ya Ya Ya Ya Ya Ya Tidak Ya Ya Ya Ya Ya Ya

No

Kode Peta 001 002 003 004 005 006 007 008 009 010 027 028 029 030 031 032 033 034 035 036 037 038 039 040 041 042 043 044 061 062 063 064

Nama Desa ABEUK USONG BLANG SEUPEUNG COT IBOH SEUNEUBOK LHONG PALOH PANYANG BLANG RHEUM COT ULIM COT LEUSONG BLANG SEUNONG COT KEUTAPANG COT TAROM TUNONG BLANG COT TUNONG SEULEUMBAH ABEUK TINGKEUM BLANG ME PULO LAWANG PALOH SEULIMENG TEUPOK TUNONG TEUPOK BAROH COT BADA COT GADONG KUALA JEUMPA BLANG DALAM BLANG BLADEH GEULUMPANG PAYONG BLANG COT BAROH COT TAROM BAROH GEUDONG TAMPU LIPAH CUT LIPAH RAYEUK MON JAMBEE BATEE TIMOH

Jenis Permukaan Jalan Yang Terluas (jika darat) Diperkeras(kerikil,batu,dsb) Tanah Tanah Diperkeras(kerikil,batu,dsb) Tanah Diperkeras(kerikil,batu,dsb) Diperkeras(kerikil,batu,dsb) Aspal/Beton Aspal/Beton Aspal/Beton Aspal/Beton Diperkeras(kerikil,batu,dsb) Tanah Diperkeras(kerikil,batu,dsb) Tanah Tanah Diperkeras(kerikil,batu,dsb) Diperkeras(kerikil,batu,dsb) Aspal/Beton Diperkeras(kerikil,batu,dsb) Tanah Tanah Aspal/Beton Aspal/Beton Aspal/Beton Tanah Tanah Tanah Diperkeras(kerikil,batu,dsb) Tanah Tanah Tanah

Tipe Angkutan Umum Utama Ojek Sepeda Motor Kend Roda 3/Lebih Ojek Sepeda Motor Kend Roda 3/Lebih Ojek Sepeda Motor Ojek Sepeda Motor Ojek Sepeda Motor Ojek Sepeda Motor Ojek Sepeda Motor Ojek Sepeda Motor Ojek Sepeda Motor Ojek Sepeda Motor Ojek Sepeda Motor Ojek Sepeda Motor Ojek Sepeda Motor Ojek Sepeda Motor Ojek Sepeda Motor Ojek Sepeda Motor Ojek Sepeda Motor Ojek Sepeda Motor Ojek Sepeda Motor Ojek Sepeda Motor Ojek Sepeda Motor Kend Roda 3/Lebih Ojek Sepeda Motor Ojek Sepeda Motor Ojek Sepeda Motor Ojek Sepeda Motor Kend Roda 3/Lebih Ojek Sepeda Motor Ojek Sepeda Motor Ojek Sepeda Motor

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32

LAPORAN AKHIR

III - 121

BRR NAD - Nias

No

Kode Peta 065 066 073 075

Nama Desa COT GEURUNDONG BEURAWANG BLANG GANDAI SALAH SIRONG JAYA

Sebagian Besar Cara Lalu Lintas Antar Desa Darat Darat Darat Darat & Air

Jenis Permukaan Jalan Yang Terluas (jika darat) Aspal/Beton Aspal/Beton Aspal/Beton Tanah

Dapat Dijangkau Kendaraan Roda 4/ Lebih Sepanjang Tahun Ya Ya Tidak Tidak

Tipe Angkutan Umum Utama Ojek Sepeda Motor Ojek Sepeda Motor Ojek Sepeda Motor Ojek Sepeda Motor

33 34 35 36

C.2 Prasarana Air Bersih, Air Limbah dan Sampah Terdapat hanya 1 (satu) desa yang ada di Kecamatan Jeumpa yang telah dilayani oleh PDAM, yakni Desa Kuala Jeumpa, sedangkan desa-desa lainnya menggunakan sumur sebagai sumber air bersih. Secara umum, kondisi ini telah memenuhi standar pelayanan minimal prasarana air bersih yang ada. Untuk sarana sanitasi, sebagian besar desa (33 desa) menggunakan jamban sendiri, 2 (dua) desa menggunakan jamban umum, dan hanya 1 (satu) desa yang menggunakan sarana bukan jamban, yakni Desa Pulo Lawang. Secara umum, kondisi ini menunjukkan hampir seluruh desa di Kec. Jeumpa telah memenuhi standar pelayanan minimal sarana sanitasi yang ada (minimal telah menggunakan jamban sendiri), dan hanya 1 (satu) desa yang perlu disediakan sarana jamban umum, yakni Desa Pulo Lawang. Untuk pengolahan sampah, seluruh desa menggunakan cara dibuang di lubang dan dibakar. Secara umum, kondisi ini juga telah memenuhi standar pelayanan minimal pengelolaan sampah yang ada untuk kawasan permukiman perdesaan.
Sumber Air Minum Sumur Sumur Sumur Sumur Sumur Sumur Sumur Sumur Sumur Sumur Harus Membeli Air Minum Tidak Tidak Ada Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak Tempat Buang Air Besar Jamban Umum Jamban Sendiri Jamban Sendiri Jamban Sendiri Jamban Sendiri Jamban Sendiri Jamban Sendiri Jamban Sendiri Jamban Sendiri Jamban Sendiri Cara Membuang Sampah Lobang/Dibakar Lobang/Dibakar Lobang/Dibakar Lobang/Dibakar Lobang/Dibakar Lobang/Dibakar Lobang/Dibakar Lobang/Dibakar Lobang/Dibakar Lobang/Dibakar

No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10

Kode Peta 001 002 003 004 005 006 007 008 009 010

Nama Desa ABEUK USONG BLANG SEUPEUNG COT IBOH SEUNEUBOK LHONG PALOH PANYANG BLANG RHEUM COT ULIM COT LEUSONG BLANG SEUNONG COT KEUTAPANG

LAPORAN AKHIR

III - 122

BRR NAD - Nias

No 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36

Kode Peta 027 028 029 030 031 032 033 034 035 036 037 038 039 040 041 042 043 044 061 062 063 064 065 066 073 075

Nama Desa COT TAROM TUNONG BLANG COT TUNONG SEULEUMBAH ABEUK TINGKEUM BLANG ME PULO LAWANG PALOH SEULIMENG TEUPOK TUNONG TEUPOK BAROH COT BADA COT GADONG KUALA JEUMPA BLANG DALAM BLANG BLADEH GEULUMPANG PAYONG BLANG COT BAROH COT TAROM BAROH GEUDONG TAMPU LIPAH CUT LIPAH RAYEUK MON JAMBEE BATEE TIMOH COT GEURUNDONG BEURAWANG BLANG GANDAI SALAH SIRONG JAYA

Sumber Air Minum Pompa Sumur Sumur Sumur Sumur Sumur Sumur Sumur Sumur Sumur Sumur Pipa PAM Sumur Sumur Sumur Sumur Sumur Sumur Sumur Sumur Sumur Sumur Sumur Sumur Sumur Sumur

Harus Membeli Air Minum Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak Ada Ada Tidak Ada Ada Tidak Ada Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak

Tempat Buang Air Besar Jamban Sendiri Jamban Sendiri Jamban Sendiri Jamban Sendiri Jamban Sendiri Bukan Jamban Jamban Sendiri Jamban Sendiri Jamban Sendiri Jamban Umum Jamban Sendiri Jamban Sendiri Jamban Sendiri Jamban Sendiri Jamban Sendiri Jamban Sendiri Jamban Sendiri Jamban Sendiri Jamban Sendiri Jamban Sendiri Jamban Sendiri Jamban Sendiri Jamban Sendiri Jamban Sendiri Jamban Sendiri Jamban Sendiri

Cara Membuang Sampah Lobang/Dibakar Lobang/Dibakar Lobang/Dibakar Lobang/Dibakar Lobang/Dibakar Lobang/Dibakar Lobang/Dibakar Lobang/Dibakar Lobang/Dibakar Lobang/Dibakar Lobang/Dibakar Lobang/Dibakar Lobang/Dibakar Lobang/Dibakar Lobang/Dibakar Lobang/Dibakar Lobang/Dibakar Lobang/Dibakar Lobang/Dibakar Lobang/Dibakar Lobang/Dibakar Lobang/Dibakar Lobang/Dibakar Lobang/Dibakar Lobang/Dibakar Lobang/Dibakar

C.3 Sarana Pendidikan Secara umum, sarana pendidikan di Kecamatan Jeumpa meliputi : 1. TK Negeri sebanyak 1 (satu) buah, dan TK Swasta sebanyak 2 (dua) buah, dengan jangkauan pelayanan ke desa terjauh (Desa Paloh Seulimeng) adalah 10,5 Km, 2. SD Negeri sebanyak 18 (delapan belas) buah dan SD swasta sebanyak 1 (satu) buah, dengan jangkaun pelayanan ke desa terjauh (Desa Blang Gandai) adalah 8 Km,

LAPORAN AKHIR

III - 123

BRR NAD - Nias

3. SMP Negeri sebanyak 1 (satu) buah, dengan jangkauan pelayanan ke desa terjauh (Desa Blang Gandai) adalah 10 Km.
Kode No Peta Nama Desa Taman Kanak-Kanak Jarak RataRata Negeri Swasta (km) Jumlah Sekolah 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1 0 0 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1 0 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1.5 1.5 1.5 5 7 6.5 3.2 3.5 1.5 10 4.1 5 3 6.5 2 2.5 4 3.2 5 2 10.5 5 4 6 5 4 4 2.1 2 2.5 6 Sekolah Dasar Jumlah Sekolah Negeri 1 2 1 0 1 1 1 0 0 1 0 0 0 1 0 0 0 1 0 0 1 0 0 1 2 0 0 0 0 1 1 1 0 0 0 1 Swasta 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 Jarak RataRata (km) . . . 1.5 . . . 1.0 1.0 . 2.0 1.5 2.0 . 1.0 3.0 2.0 . 4.0 2.0 . . 1.2 . . 1.5 1.5 1.0 4.0 . . . 1.5 3.0 8.0 . Sekolah Menengah Pertama Jarak Jumlah Sekolah RataRata Negeri Swasta (km) 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 5.0 3.2 3.0 2.8 7.0 2.6 7.0 6.3 4.0 3.0 3.0 4.0 4.0 4.8 3.5 5.0 8.5 . 6.0 2.0 5.5 2.5 3.3 6.0 2.1 3.0 2.0 2.0 3.0 7.0 3.5 3.5 4.3 3.0 10.0 6.0 Sekolah Menengah Umum Jarak RataRata Negeri Swasta (km) Jumlah Sekolah 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 5.0 4.5 5.0 3.0 7.0 1.9 7.0 5.5 4.5 3.0 5.0 5.0 4.0 6.0 5.2 5.0 9.3 8.0 7.0 3.0 3.5 6.0 5.0 6.0 4.3 7.0 4.0 6.0 1.0 6.0 4.8 6.5 8.2 6.0 11.0 7.5

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36

001 002 003 004 005 006 007 008 009 010 027 028 029 030 031 032 033 034 035 036 037 038 039 040 041 042 043 044 061 062 063 064 065 066 073 075

ABEUK USONG BLANG SEUPEUNG COT IBOH SEUNEUBOK LHONG PALOH PANYANG BLANG RHEUM COT ULIM COT LEUSONG BLANG SEUNONG COT KEUTAPANG COT TAROM TUNONG BLANG COT TUNONG SEULEUMBAH ABEUK TINGKEUM BLANG ME PULO LAWANG PALOH SEULIMENG TEUPOK TUNONG TEUPOK BAROH COT BADA COT GADONG KUALA JEUMPA BLANG DALAM BLANG BLADEH GEULUMPANG PAYONG BLANG COT BAROH COT TAROM BAROH GEUDONG TAMPU LIPAH CUT LIPAH RAYEUK MON JAMBEE BATEE TIMOH COT GEURUNDONG BEURAWANG BLANG GANDAI SALAH SIRONG JAYA

LAPORAN AKHIR

III - 124

BRR NAD - Nias


Kondisi di atas, apabila dikaitkan dengan standar pelayanan minimal untuk satuan lingkungan dengan jumlah penduduk < 30.000 jiwa (lihat Lampiran), dimana Kecamatan Jeumpa dianggap sebagai satu lingkungan, dengan proyeksi penduduk pada tahun 2010 sebesar 30.650 jiwa, maka kebutuhan tambahan sarana pendidikan di Kec. Jeumpa, meliputi : 1. TK sebanyak 27 (dua puluh tujuh) buah, 2. SLTP sebanyak 2 (dua) buah, dan 3. SLTA sebanyak 1 (satu) buah C.4 Sarana Kesehatan Secara umum, sarana kesehatan di Kecamatan Jeumpa meliputi : 1. Puskesmas sebanyak 1 (satu) buah di Desa Blang Cot Tunong, dengan jangkauan pelayanan ke desa terjauh (Desa Paloh Seulimeh) adalah 11,2 Km, 2. Puskesmas Pembantu sebanyak 2 (dua) buah, dengan jangkauan pelayanan ke desa terjauh (Desa Abeuk Usong) adalah 8 Km, 3. Posyandu sebanyak 29 (dua puluhsembilan) buah (hampir ada di setiap desa), dengan jangkauan pelayanan ke desa terjauh (Desa Salah Sirong Jaya) adalah 7,5 Km, 6. Polindes (Pondok Bersalin Desa) sebanyak 8 (delapan) buah, dengan jangkauan pelayanan ke desa terjauh (Desa Seleumbah) adalah 7,9 Km.
Balai Pengobatan/ Poliklinik Jarak Jumlah Rata-Rata (km) 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 8.0 1.0 3.9 3.3 6.0 2.3 7.0 6.0 7.0 3.0 7.0 Polindes (Pondok Bersalin Desa) Jarak Jumlah Rata-Rata (km) 0 0 0 1 0 0 1 0 0 0 0 5.0 5.0 3.0 . 2.0 2.5 . 4.2 2.0 3.0 0.5

No

Kode Peta

Nama Desa

Puskemas Jarak Jumlah Rata-Rata (km) 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 8.0 4.0 3.8 4.2 4.0 4.4 5.0 8.2 2.0 5.0 2.0

Puskemas Pembantu Jarak Jumlah Rata-Rata (km) 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 8.0 3.0 3.5 5.2 4.0 3.8 5.0 4.5 6.0 5.0 2.0

POSYANDU Jarak Jumlah Rata-Rata (km) 1 1 1 1 1 1 1 1 0 1 0 . . . . . . . . 1.0 . 0.5

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11

001 002 003 004 005 006 007 008 009 010 027

ABEUK USONG BLANG SEUPEUNG COT IBOH SEUNEUBOK LHONG PALOH PANYANG BLANG RHEUM COT ULIM COT LEUSONG BLANG SEUNONG COT KEUTAPANG COT TAROM TUNONG

LAPORAN AKHIR

III - 125

BRR NAD - Nias

No 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36

Kode Peta 028 029 030 031 032 033 034 035 036 037 038 039 040 041 042 043 044 061 062 063 064 065 066 073 075

Nama Desa BLANG COT TUNONG SEULEUMBAH ABEUK TINGKEUM BLANG ME PULO LAWANG PALOH SEULIMENG TEUPOK TUNONG TEUPOK BAROH COT BADA COT GADONG KUALA JEUMPA BLANG DALAM BLANG BLADEH GEULUMPANG PAYONG BLANG COT BAROH COT TAROM BAROH GEUDONG TAMPU LIPAH CUT LIPAH RAYEUK MON JAMBEE BATEE TIMOH COT GEURUNDONG BEURAWANG BLANG GANDAI SALAH SIRONG JAYA

Balai Pengobatan/ Poliklinik Jumlah Jarak 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 3.4 5.7 5.4 6.5 5.0 10.3 5.0 4.0 7.0 6.5 6.2 6.3 4.0 4.0 4.7 2.6 3.5 5.5 6.0 7.5 3.7 5.5 3.0 7.0 7.8

Puskemas Jumlah Jarak 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 . 3.8 2.5 3.5 6.0 11.2 3.0 4.0 4.0 3.5 3.3 3.1 3.0 1.0 4.6 2.5 0.5 3.0 4.0 3.8 3.3 4.0 4.0 4.0 5.7

Puskemas Pembantu Jumlah Jarak 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1 0 0 0 0 1 0 0 0 0 0 0 2.6 3.4 2.8 3.6 6.0 5.3 2.0 4.0 2.0 3.5 2.8 2.8 3.0 . 3.1 2.8 0.5 3.0 . 3.8 3.5 4.0 4.0 4.0 4.5

POSYANDU Jumlah Jarak 1 1 1 1 1 1 0 1 1 1 1 1 1 1 0 0 1 1 1 1 0 1 1 1 0 . . . . . . 5.0 . . . . . . . 4.5 2.5 . . . . 3.4 . . . 7.5

Polindes (Pondok Bersalin Desa) Jumlah Jarak 0 0 1 0 0 0 1 1 0 0 0 0 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 1 1 0 1.5 7.9 . 4.2 3.0 6.5 . . 1.6 0.5 2.3 2.5 1.0 . 5.4 2.1 1.5 0.5 0.5 0.5 3.2 0.5 . . 5.3

Kondisi di atas, apabila dikaitkan dengan standar pelayanan minimal untuk satuan lingkungan dengan jumlah penduduk < 30.000 jiwa (lihat Lampiran), dimana Kecamatan Jeumpa dianggap sebagai satu lingkungan, dengan proyeksi penduduk pada tahun 2010 sebesar 30.650 jiwa, maka tambahan sarana kesehatan yang diperlukan di Kec. Jeumpa, meliputi : 1. Balai Pengobatan/Poliklinik sebanyak 8 (delapan) buah, 2. RS Bersalin sebanyak 1 (satu) buah. C.5 Listrik dan Telepon Seluruh desa di Kecamatan Jeumpa telah dilayani oleh prasarana listrik. Sedangkan untuk prasarana telepon hanya terdapat di 8 (delapan) desa. Kondisi ini

LAPORAN AKHIR

III - 126

BRR NAD - Nias


menunjukkan kebutuhan perluasan jaringan telepon yang dapat mencapai ke desa-desa yang masih belum terlayani.
Keluarga Pengguna Listrik PLN 600 120 100 95 40 92 60 43 95 231 50 200 10 169 30 100 60 142 170 183 60 923 167 100 321 102 150 58 80 220 80 80 90 135 130 30 0 0 0 0 11 0 0 0 0 0 0 0 8 0 0 0 0 0 0 0 9 Jumlah Non PLN 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 Persentase (%) PLN Non PLN 98.2 33.4 82.6 46.1 44.0 70.2 52.6 55.1 81.2 98.3 12.5 22.2 13.9 88.5 15.6 85.5 50.8 88.2 84.6 81.3 55.6 98.1 72.3 90.9 97.6 85.7 79.4 90.6 71.4 73.3 51.0 49.4 78.9 83.9 65.0 26.8 0.0 0.0 0.0 0.0 6.8 0.0 0.0 0.0 0.0 0.0 0.0 0.0 5.0 0.0 0.0 0.0 0.0 0.0 0.0 0.0 7.6 0.0 0.0 0.0 0.0 0.0 0.0 0.0 0.0 0.0 0.0 Keluarga Berlangganan Telepon Persentase Jumlah (%) 0 0 0 0 0 0 0 0 0 35 30 0 0 0 0 0 0 0 0 3 0 2 1 10 53 7 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0.0 0.0 0.0 0.0 0.0 0.0 0.0 0.0 0.0 14.9 7.5 0.0 0.0 0.0 0.0 0.0 0.0 0.0 0.0 1.3 0.0 0.2 0.4 9.1 16.1 5.9 0.0 0.0 0.0 0.0 0.0 0.0 0.0 0.0 0.0 0.0

No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36

Kode Peta 001 002 003 004 005 006 007 008 009 010 027 028 029 030 031 032 033 034 035 036 037 038 039 040 041 042 043 044 061 062 063 064 065 066 073 075

Nama Desa ABEUK USONG BLANG SEUPEUNG COT IBOH SEUNEUBOK LHONG PALOH PANYANG BLANG RHEUM COT ULIM COT LEUSONG BLANG SEUNONG COT KEUTAPANG COT TAROM TUNONG BLANG COT TUNONG SEULEUMBAH ABEUK TINGKEUM BLANG ME PULO LAWANG PALOH SEULIMENG TEUPOK TUNONG TEUPOK BAROH COT BADA COT GADONG KUALA JEUMPA BLANG DALAM BLANG BLADEH GEULUMPANG PAYONG BLANG COT BAROH COT TAROM BAROH GEUDONG TAMPU LIPAH CUT LIPAH RAYEUK MON JAMBEE BATEE TIMOH COT GEURUNDONG BEURAWANG BLANG GANDAI SALAH SIRONG JAYA

Ketersediaan Listrik Ada Ada Ada Ada Ada Ada Ada Ada Ada Ada Ada Ada Ada Ada Ada Ada Ada Ada Ada Ada Ada Ada Ada Ada Ada Ada Ada Ada Ada Ada Ada Ada Ada Ada Ada Ada

LAPORAN AKHIR

III - 127

BRR NAD - Nias

3.8.2 RENCANA TINDAK (ACTION PLAN) KECAMATAN JEUMPA Rencana Tindak (Action Plan) di Kecamatan Jeumpa disusun berdasarkan 5 (lima) rangkaian kegiatan yang telah dijelaskan pada sub bab 3.2. Sebagaimana juga telah dijelaskan pada sub bab 3.2, pelaksanaan sosialisasi melalui FGD di kecamatan Jeumpa tidak dapat dilaksanakan, sehingga dalam hal ini dilaksanakan survai wawancara (kuestioner) kepada masyarakat setempat sebagai bahan validitas terhadap draft rencana tindak (action plan) yang disusun konsultan dan telah dipadukan dengan bahan usulan program dari hasil pelaksanaan penjaringan aspirasi masyarakat melaui Forum FGD (Focus Group Discussion) yang dilakukan oleh Pemda Kabupaten Bireuen bekerjasama dengan Lembaga NGO dari Perancis pada tahun 2005. Hasil suvai wawancara (kuestioner) kepada masyarakat di 9 (sembilan) kecamatan prioritas (termasuk Kecamatan Jeumpa) juga telah dijelaskan pada sub bab 3.2. Melalui 5 (lima) rangkaian kegiatan di atas, dan hasil pelaksanaan suvai wawancara (kuestioner) kepada masyarakat selanjutnya disusun dan ditetapkan Rencana Tindak (Action Plan) di Kecamatan Jeumpa Tahun 2007 sampai Tahun 2009 seperti disajikan pada Tabel dan gambar pada halaman berikut. 3.8.3 DESA PRIORITAS DI KECAMATAN JEUMPA Dengan mengacu pada proses dan metode penetapan desa prioritas yang telah dijelaskan pada sub bab 3.2, maka dipilih dan ditetapkan desa prioritas untuk Village Planning di Kecamatan Peudada seperti disajikan pada tabel berikut. Desa Prioritas di Kecamatan Jeumpa

No 7 12 13 24 47 54

Kode 38 62 64 63 36 39

Nama Desa/Kel. sekarang KUALA JEUMPA LIPAH RAYEUK BATEE TIMOH MON JAMBEE COT BADA BLANG DALAM

Kecamatan Jeumpa Jeumpa Jeumpa Jeumpa Jeumpa Jeumpa

Nilai 36 30 30 27 23 22

Urutan Prioritas 1 2 2 3 4 5

LAPORAN AKHIR

III - 128

BRR NAD - Nias

No 83 94 97 98 115 147

Kode 34 35 65 66 61 41

Nama Desa/Kel. sekarang TEUPOK TUNONG TEUPOK BAROH COT GEURUNDONG BEURAWANG LIPAH CUT GEULUMPANG PAYONG

Kecamatan Jeumpa Jeumpa Jeumpa Jeumpa Jeumpa Jeumpa

Nilai 19 18 18 18 16 12

Urutan Prioritas 6 7 7 7 8 9

LAPORAN AKHIR

III - 129

BRR NAD - Nias

LAPORAN AKHIR

III - 130

BRR NAD - Nias

LAPORAN AKHIR

III - 131

BRR NAD - Nias

LAPORAN AKHIR

III - 132

BRR NAD - Nias

LAPORAN AKHIR

III - 133

BRR NAD - Nias

3.9

KECAMATAN KUALA

3.9.1 IDENTIFIKASI KONDISI DAN PERMASALAHAN YANG ADA A. FISIK DAN LINGKUNGAN A.1 Sumber Daya Air

Sumber Daya Air Permukaan di kecamatan Kuala meliputi Sumber Daya Air sungai yaitu salah satunya sungai kuala raja. A.2 Rawan Banjir

Daerah Wilayah Kecamatan Kuala yang berpotensi rawan banjir adalah daerah Pesisir yang relatip datar 0 - 5 meter di atas permukaan air laut .meliputi daerah sekitar muara sungai kuala Raja yang kondisinya hilir ( muara ) . A.3 Rawan Longsor mengalami pendangkalan akibat sedimentasi dan akresi yang menimbulkan penyempitan Bottel Neck di bagian

Daerah Wilayah Kecamatan Kuala relatip lebih aman terhadap bencana rawan longsor karena termasuk daerah landai dengan kemiringan 0 8 % . A.4 Rawan Gempa

Daerah Wilayah Kecamatan Kuala berpotensi mengalami bencana kegempaan di tinjau dari tatanan struktur geologi tektonik regional pulau Sumatra yang sewaktuwaktu dapat menimbulkan gempa tektonik dengan skala 6-7 reichter, patahan patahan tersebut. Salah satunya dapat dijumpai di krueng Peusangan. A.5 Rawan Tsunami

Daerah Kecamatan Kuala yang berpotensi terhadap bencana gelombang tsunami adalah daerah Pesisir yaitu meliputi desa-desa pesisir baik desa tambak maupun dasa pantai, yang beresiko berat yaitu Desa Krueng Juli Barat, Krueng Juli Timur, Ujong Blang, Kuala Raja . Factor penyebab di sepanjang pesisir desa-desa pantai tidak terdapat zona penyanggah (buffer zone) Ekosistim hutan mangrove yang mampu menahan laju gelombang tsunami secara alamiah serta kedalaman toporafi daerah perairan pantai Samalanga 40 80 meter, yang juga berpengaruh terhadap
LAPORAN AKHIR

III - 134

BRR NAD - Nias


laju kecepatan rambat gelombang C = L/T terhadap kedalaman laut d/L dan semakin ke arah darat cepat rambat gelombang semakin melemah ( Refraksi Gelombang ). A.6 Kelautan dan Lingkungan Pesisir

Luas wilayah daerah pesisir 1.170,58 Ha ( 0,0615% ), Meliputi Desa Tambak dan desa Pantai yaitu ; Desa Krueng Juli Barat, Krueng Juli Timur, Ujung Blang Weu Jangka, Ujong Blang Masjid, Kuala Raja, Cot U Sibak, Morfologi Daerah Pesisir penggunaan lahan dan kenampakan yang ada adalah pertambakan, km. Potensi Sumber Daya Hayati Komunitas Hutan Mangrove di desa Ujong Blang 0,75 Ha dan Desa Kuala Raja 0,75 Ha, Ekosistim Estuaria Muara Sungai Kuala Ceurape, Perikanan Tangkap dengan sarana pendukung TPI Kuala Raja , Budidaya Perikanan Tambak seluas 446,4 Ha, Ekosisitim Padang Lamun, Ekosistim Pantai Pasir. Permasalah Kelautan dan Lingkungan Pesisir Pantai Kerusakan Ekosistim Hutan Mangrove, Abrasi di sepanjang pesisir pantai, Akresi di Muara Sungai Kuala Ceurape. Analisis Penanganan dan Pengembangan 1. Ekosistim Hutan Mangrove ( Bakau ) Melindungi dan Mencegah kerusakan keberadaan Ekosistim Hutan pemukiman

penduduk, perkebunan kelapa, Hachery dan sawah dengan panjang garis pantai 5,7

Mangrove ( Bakau ) di Desa Ujong Blang 0,75 Ha dan Desa Kuala Raja 0,75 Ha sebagai kawasan lindung ( perlindungan setempat / Sepadan Pantai ). Mereboisasai Kawasan Pesisir pantai dengan menanam kembali tanaman bakau (mangrove) di Desa Krueng Juli Barat, Krueng Juli Timur, Ujong Blang, Kuala Raja sebagai kawasan perlindungan setempat ( sepadan pantai ).

LAPORAN AKHIR

III - 135

BRR NAD - Nias


2. Ekosistim Estuaria, Padang Lamun, Pasir Pantai dan Perikanan Tambak. Sama dengan yang telah dijelaskan untuk kecamatan Samalanga. 3. Abrasi Sama dengan yang telah dijelaskan untuk kecamatan Samalanga. 4. Akresi Sama dengan yang telah dijelaskan untuk kecamatan Samalanga. B. SOSIAL EKONOMI B.1 Jumlah Penduduk dan KK Jumlah penduduk dan Kepala Keluarga (KK) pada seluruh desa yang ada di Kecamatan Kuala pada tahun 2005 adalah 15.798 jiwa dan 3.328 KK, dengan jumlah penduduk dan KK terbesar adalah di Desa Lancok-lancok sebanyak 1.675 jiwa dan 331 KK, serta terkecil di Desa Lancok Pante Ara sebanyak 290 jiwa dan 81 KK.
No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 Kode Peta 001 002 003 004 005 006 007 008 009 010 011 012 013 014 015 016 017 018 019 020 Nama Desa COT TRIENG LHOK AWE AWE COT UNOE COT BATEE COT KUTA COT GLUMPANG GLUMPANG BAROH LANCOK PANTE ARA BALEE KUYUN KAREUNG LANCOK LANCOK COT U SIBAK KUALA RAJA UJONG BLANG MESJID WEU JANGKA COT LAGASAWA UJONG BLANG KUTA BARO KRUENG JULI TIMUR KRUENG JULI BARAT Jumlah Penduduk Laki-Laki Wanita 530 556 308 635 231 116 179 143 322 297 712 164 552 361 601 203 324 374 562 508 511 610 252 715 265 139 172 147 295 331 963 213 489 398 411 226 384 418 657 524 Jumlah Keluarga 216 278 118 285 110 65 78 81 83 137 331 107 209 171 217 107 172 145 207 211

Total 1,041 1,166 560 1,350 496 255 351 290 617 628 1,675 377 1,041 759 1,012 429 708 792 1,219 1,032

LAPORAN AKHIR

III - 136

BRR NAD - Nias


B.2 Pertumbuhan Penduduk dan Proyeksi Penduduk Tahun 2010 Adapun pertumbuhan penduduk pada desa-desa di Kec. Kuala dari tahun 2003-2005 sebagian menunjukkan angka pertumbuhan negatif, berkisar antara -0,2 sampai 38,26 %. Hal ini kemungkinan disebabkan dampak tsunami di Kecamatan Kuala. Berdasarkan angka pertumbuhan yang ada, selanjutnya diproyeksikan jumlah penduduk di desa-desa Kec. Kuala pada tahun 2010, total sebesar 17.700 jiwa, dengan rincian tiap desa disajikan pada tabel berikut.
Status Desa/Kota Desa Desa Desa Desa Desa Desa Desa Desa Desa Desa Desa Desa Desa Desa Desa Desa Desa Desa Desa Desa Luas Wilayah (Ha) 16.90 28.29 32.67 45.94 26.09 41.26 0.00 68.46 180.87 469.08 49.50 57.46 176.40 149.83 105.71 15.65 149.54 16.75 97.01 65.60 1,793.01 572 1,594 545 1,121 762 920 403 662 769 1,004 1,023 14,948 420 Jml. Penduduk Tahun 2003 (Jiwa) 1,034 1,082 560 1,317 491 669 Jml. Penduduk Tahun 2005 (Jiwa) 1,041 1,166 560 1,350 496 255 351 290 617 628 1,675 377 1,041 759 1,012 429 708 792 1,219 1,032 15,798 Proyeksi Penduduk Tahun 2010 (Jiwa) 1,166 1,306 627 1,513 556 286 393 325 691 704 1,877 422 1,166 850 1,134 481 793 887 1,366 1,156 17,700

No. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20

Kode 001 002 003 004 005 006 007 008 009 010 011 012 013 014 015 016 017 018 019 020

Nama Desa/ Kel. sekarang COT TRIENG LHOK AWE AWE COT UNOE COT BATEE COT KUTA COT GLUMPANG GLUMPANG BAROH LANCOK PANTE ARA BALEE KUYUN KAREUNG LANCOK LANCOK COT U SIBAK KUALA RAJA UJONG BLANG MESJID WEU JANGKA COT LAGASAWA UJONG BLANG KUTA BARO KRUENG JULI TIMUR KRUENG JULI BARAT TOTAL

B.3 Mata Pencaharian Penduduk dan Jumah KK Miskin Seluruh desa yang ada di Kecamatan Kuala memiliki mata pencaharian utama pada sektor pertanian tanaman pangan. Adapun jumlah Kepala Keluarga (KK) Miskin adalah 2.313 KK atau 69,5 % dari total jumlah KK di kawasan perencanaan, dengan jumlah KK Miskin terbesar terdapat di desa Lancok-lancok, yakni sebanyak 250 KK atau 75,5 % dari jumlah KK yang ada di desa ini. Hampir seluruh desa yang ada di
LAPORAN AKHIR

III - 137

BRR NAD - Nias


Kec. Kuala memiliki persentase jumlah KK miskin di atas 50 %. Kondisi ini dapat digunakan sebagai indikator bahwa penanganan masalah kemiskinan merupakan prioritas di Kec. Kuala.
Kode No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 Peta 001 002 003 004 005 006 007 008 009 010 011 012 013 014 015 016 017 018 019 020 Nama Desa COT TRIENG LHOK AWE AWE COT UNOE COT BATEE COT KUTA COT GLUMPANG GLUMPANG BAROH LANCOK PANTE ARA BALEE KUYUN KAREUNG LANCOK LANCOK COT U SIBAK KUALA RAJA UJONG BLANG MESJID WEU JANGKA COT LAGASAWA UJONG BLANG KUTA BARO KRUENG JULI TIMUR KRUENG JULI BARAT 108 181 70 214 99 51 62 65 71 34 215 104 4 123 109 96 120 104 161 148 Keluarga di Sektor Pertanian Jumlah Persentase 50 65 59 75 90 78 80 80 85 25 65 97 2 72 50 90 70 72 78 70 Keluarga Miskin Jumlah 170 120 75 170 80 42 63 45 50 85 250 85 120 123 180 85 130 110 180 150 Persentase 78.7 43.2 63.6 59.6 72.7 64.6 80.8 55.6 60.2 62.0 75.5 79.4 57.4 71.9 82.9 79.4 75.6 75.9 87.0 71.1 Sumber Penghasilan Utama Pertanian Pertanian Pertanian Pertanian Pertanian Pertanian Pertanian Pertanian Pertanian Pertanian Pertanian Pertanian Pertanian Pertanian Pertanian Pertanian Pertanian Pertanian Pertanian Pertanian Sub Sektor Pertanian Tanaman Pangan Tanaman Pangan Tanaman Pangan Tanaman Pangan Tanaman Pangan Tanaman Pangan Tanaman Pangan Tanaman Pangan Tanaman Pangan Tanaman Pangan Tanaman Pangan Tanaman Pangan Tanaman Pangan Tanaman Pangan Tanaman Pangan Tanaman Pangan Tanaman Pangan Tanaman Pangan Tanaman Pangan Tanaman Pangan 600 700 300 75 80 150 120 120 300 150 650 36 300 450 800 300 450 400 400 800 Buruh Tani Jumlah Presentase 115.3 92.4 90.8 7.4 17.9 75.4 42.7 51.7 57.2 95.5 59.7 9.8 1440.9 82.3 158.1 77.7 90.8 70.1 42.1 110.7

C. PRASARANA DAN SARANA C.1 Transportasi Seluruh desa yang ada di Kecamatan Kuala dihubungkan oleh prasarana jaringan jalan dengan tipe perkerasan aspal/beton, kerikil/batu dan tanah, serta seluruh desa telah dapat dijangkau oleh kendaraan roda-4. Kondisi ini menunjukkan bahwa secara kuantitas dan kualitas, prasarana jaringan jalan yang ada di Kec. Kuala telah cukup memadai, kecuali untuk Desa Cot Kuta yang jenis permukaan jalannya sebagian besar masih tanah perlu ditingkatkan, sehingga dapat dilalui oleh kendaraan roda-4 di musim hujan.

LAPORAN AKHIR

III - 138

BRR NAD - Nias


Adapun sarana angkutan umum ke hampir seluruh desa di kec. Kuala adalah ojek (sepeda motor), kecuali satu desa telah dilayani angkutan umum roda-4, yakni Desa Cot Lagasawa. Untuk lebih jelasnya lihat tabel berikut :
Sebagian Besar Cara Lalu Lintas Antar Desa Darat Darat Darat Darat Darat Darat Darat Darat Darat Darat Darat Darat Darat Darat Darat Darat Darat Darat Darat Darat Dapat Dijangkau Kendaraan Roda 4/ Lebih Sepanjang Tahun Ya Ya Ya Ya Ya Ya Ya Ya Ya Ya Ya Ya Ya Ya Ya Ya Ya Ya Ya Ya

No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20

Kode Peta 001 002 003 004 005 006 007 008 009 010 011 012 013 014 015 016 017 018 019 020

Nama Desa COT TRIENG LHOK AWE AWE COT UNOE COT BATEE COT KUTA COT GLUMPANG GLUMPANG BAROH LANCOK PANTE ARA BALEE KUYUN KAREUNG LANCOK LANCOK COT U SIBAK KUALA RAJA UJONG BLANG MESJID WEU JANGKA COT LAGASAWA UJONG BLANG KUTA BARO KRUENG JULI TIMUR KRUENG JULI BARAT

Jenis Permukaan Jalan Yang Terluas (jika darat) Aspal/Beton Aspal/Beton Aspal/Beton Aspal/Beton Tanah Diperkeras(kerikil,batu,dsb) Diperkeras(kerikil,batu,dsb) Aspal/Beton Diperkeras(kerikil,batu,dsb) Aspal/Beton Aspal/Beton Aspal/Beton Aspal/Beton Aspal/Beton Aspal/Beton Aspal/Beton Aspal/Beton Aspal/Beton Aspal/Beton Aspal/Beton

Tipe Angkutan Umum Utama Ojek Sepeda Motor Ojek Sepeda Motor Ojek Sepeda Motor Ojek Sepeda Motor Ojek Sepeda Motor Ojek Sepeda Motor Ojek Sepeda Motor Ojek Sepeda Motor Ojek Sepeda Motor Ojek Sepeda Motor Ojek Sepeda Motor Ojek Sepeda Motor Ojek Sepeda Motor Ojek Sepeda Motor Ojek Sepeda Motor Kend Roda 3/Lebih Ojek Sepeda Motor Ojek Sepeda Motor Ojek Sepeda Motor Ojek Sepeda Motor

C.2 Prasarana Air Bersih, Air Limbah dan Sampah Seluruh desa yang ada di Kecamatan Kuala menggunakan sumur sebagai sumber air bersih. Secara umum, kondisi ini telah memenuhi standar pelayanan minimal prasarana air bersih yang ada. Untuk prasarana dan sarana sanitasi, hampir seluruh desa menggunakan sarana jamban sendiri, kecuali desa Kuala Raja menggunakan sarana jamban umum. Secara umum, kondisi ini juga telah memenuhi standar pelayanan minimal sarana sanitasi yang ada (terlayani > 80 %).

LAPORAN AKHIR

III - 139

BRR NAD - Nias


Untuk pengolahan sampah, seluruh desa menggunakan cara dibuang di lubang dan dibakar. Secara umum, kondisi ini juga telah memenuhi standar pelayanan minimal pengelolaan sampah yang ada untuk kawasan permukiman perdesaan.
Sumber Air Minum Sumur Sumur Sumur Sumur Sumur Sumur Sumur Sumur Sumur Sumur Sumur Sumur Sumur Sumur Sumur Sumur Sumur Sumur Sumur Sumur Harus Membeli Air Minum Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak Tempat Buang Air Besar Jamban Sendiri Jamban Sendiri Jamban Sendiri Jamban Sendiri Jamban Sendiri Jamban Sendiri Jamban Sendiri Jamban Sendiri Jamban Sendiri Jamban Sendiri Jamban Sendiri Jamban Sendiri Jamban Bersama Jamban Sendiri Jamban Sendiri Jamban Sendiri Jamban Sendiri Jamban Sendiri Jamban Sendiri Jamban Sendiri Cara Membuang Sampah Lobang/Dibakar Lobang/Dibakar Lobang/Dibakar Lobang/Dibakar Lobang/Dibakar Lobang/Dibakar Lobang/Dibakar Lobang/Dibakar Lobang/Dibakar Lobang/Dibakar Lobang/Dibakar Lobang/Dibakar Lobang/Dibakar Lobang/Dibakar Lobang/Dibakar Lobang/Dibakar Lobang/Dibakar Lobang/Dibakar Lobang/Dibakar Lobang/Dibakar

No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20

Kode Peta 001 002 003 004 005 006 007 008 009 010 011 012 013 014 015 016 017 018 019 020

Nama Desa COT TRIENG LHOK AWE AWE COT UNOE COT BATEE COT KUTA COT GLUMPANG GLUMPANG BAROH LANCOK PANTE ARA BALEE KUYUN KAREUNG LANCOK LANCOK COT U SIBAK KUALA RAJA UJONG BLANG MESJID WEU JANGKA COT LAGASAWA UJONG BLANG KUTA BARO KRUENG JULI TIMUR KRUENG JULI BARAT

C.3 Sarana Pendidikan Sarana pendidikan di Kecamatan Kuala, meliputi : 1. TK swasta, sebanyak 2 (dua) buah, dengan jangkauan pelayanan ke desa terjauh (Ds Kuala Raja) adalah 8,2 Km 2. SD Negeri sebanyak 5 (lima) buah, dengan jangkaun pelayanan ke desa terjauh (Ds. Weu Jangka) adalah 6,5 Km 3. SMP Negeri sebanyak 1 (satu) buah, dengan jangkauan pelayanan ke desa terjauh (Desa Kuala Raja) adalah 8,2 Km.

LAPORAN AKHIR

III - 140

BRR NAD - Nias

No

Kode Peta

Nama Desa

Taman Kanak-Kanak Jumlah Sekolah Jarak RataRata Negeri Swasta (km) 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0.4 8.2 6.5 6.5 2.1 6.5 4.6 3.5 5 2.5 2.7 3.5 3.1 5.2 4.2 2.5 4.5 2.5

Sekolah Dasar Jumlah Sekolah Jarak RataRata Negeri Swasta (km) 1 0 0 1 0 0 0 0 0 0 1 0 0 0 0 1 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 . 2.5 2.7 . 1.1 2.1 4.2 2.1 2.3 2.7 . 0.4 2.2 1.5 6.5 . . 2.1 3.5 3.0

Sekolah Menengah Pertama Jumlah Sekolah Jarak RataRata Negeri Swasta (km) 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 5.3 2.5 2.7 3.5 3.1 3.5 7.5 2.4 4.5 2.9 . 5.1 8.2 6.5 6.5 2.1 3.5 4.6 3.5 5.5

Sekolah Menengah Umum Jumlah Sekolah Jarak RataRata Negeri Swasta (km) 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 6.8 3.7 3.5 6.5 5.5 7.5 7.5 8.5 6.5 11.2 7.1 5.8 9.5 7.8 7.3 7.6 6.8 6.5 6.5 6.5

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20

001 002 003 004 005 006 007 008 009 010 011 012 013 014 015 016 017 018 019 020

COT TRIENG LHOK AWE AWE COT UNOE COT BATEE COT KUTA COT GLUMPANG GLUMPANG BAROH LANCOK PANTE ARA BALEE KUYUN KAREUNG LANCOK LANCOK COT U SIBAK KUALA RAJA UJONG BLANG MESJID WEU JANGKA COT LAGASAWA UJONG BLANG KUTA BARO KRUENG JULI TIMUR KRUENG JULI BARAT

Kondisi di atas, apabila dikaitkan dengan standar pelayanan minimal untuk satuan lingkungan dengan jumlah penduduk < 30.000 jiwa (lihat Lampiran), dimana Kecamatan Kuala dianggap sebagai satu lingkungan, dengan proyeksi penduduk pada tahun 2010 sebesar 17.700 jiwa, maka kebutuhan tambahan sarana pendidikan di Kec. Kuala, meliputi : 1. TK sebanyak 15 (lima belas) buah, dan 2. SLTP sebanyak 1 (satu) buah. C.4 Sarana Kesehatan Secara umum, sarana kesehatan di Kecamatan Kuala meliputi : 1. Poliklinik/Balai Pengobatan sebanyak 1 (satu) buah, di Desa Lancok-lancok dengan jangkauan pelayanan ke desa terjauh (Desa Kuala Raja) adalah 7,5 Km. 2. Puskesmas Pembantu sebanyak 1 (satu) buah, di Desa Cot Batee, dengan jangkauan pelayanan ke desa terjauh (Desa Lancok Pante Ara) adalah 9,5 Km.
LAPORAN AKHIR

III - 141

BRR NAD - Nias

3. Posyandu, terdapat di seluruh desa di Kecamatan Kuala 4. Polindes (Pondok Bersalin Desa) sebanyak 4 (empat) buah, dengan jangkauan pelayanan ke desa terjauh (Desa Cot Glumpang) adalah 7,3 Km.
Poliklinik/ Balai Pengobatan Jarak RataJumlah Rata (km) 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 3.8 2.6 3.5 4.6 2.1 3.7 3.5 2.4 7.4 2.7 . 0.8 7.5 4.5 4.8 1.8 4.0 5.0 2.5 6.0 Puskemas Jumlah 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 Jarak RataRata (km) 7.5 7.2 7.5 7.2 2.2 2.1 3.2 4.1 8.5 6.1 4.1 1.2 10.6 9.8 9.8 2.2 9.8 7.5 7.5 9.8 Puskemas Pembantu Jarak RataJumlah Rata (km) 0 0 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 3.8 2.1 1.2 . 3.1 2.1 3.2 9.5 3.5 6.1 4.1 1.2 4.5 3.2 3.5 2.2 3.2 1.5 1.5 3.2 POSYANDU Jumlah 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 Jarak RataRata (km) . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . Polindes (Pondok Bersalin Desa) Jarak RataJumlah Rata (km) 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1 1 1 0 0 0 1 0 0 0 0 2.0 2.5 4.0 4.2 4.1 7.3 5.1 2.5 3.5 . . . 5.0 3.0 5.0 . 4.0 3.0 2.0 3.5

No

Kode Peta

Nama Desa

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20

001 002 003 004 005 006 007 008 009 010 011 012 013 014 015 016 017 018 019 020

COT TRIENG LHOK AWE AWE COT UNOE COT BATEE COT KUTA COT GLUMPANG GLUMPANG BAROH LANCOK PANTE ARA BALEE KUYUN KAREUNG LANCOK LANCOK COT U SIBAK KUALA RAJA UJONG BLANG MESJID WEU JANGKA COT LAGASAWA UJONG BLANG KUTA BARO KRUENG JULI TIMUR KRUENG JULI BARAT

Kondisi di atas, apabila dikaitkan dengan standar pelayanan minimal untuk satuan lingkungan dengan jumlah penduduk < 30.000 jiwa (lihat Lampiran), dimana Kecamatan Kuala dianggap sebagai satu lingkungan, dengan proyeksi penduduk pada tahun 2010 sebesar 17.700 jiwa, maka tambahan sarana kesehatan di Kec. Kuala, hanya berupa Balai Pengobatan/Poliklinik sebanyak 4 (empat) buah, C.5 Listrik dan Telepon Seluruh desa di Kecamatan Kuala telah dilayani oleh prasarana listrik. Sedangkan untuk prasarana telepon, seluruh desa yang ada masih belum terlayani. Kondisi ini menunjukkan kebutuhan perluasan jaringan telepon yang dapat mencapai ke desa-desa yang ada di Kec. Kuala.
LAPORAN AKHIR

III - 142

BRR NAD - Nias

No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20

Kode Peta 001 002 003 004 005 006 007 008 009 010 011 012 013 014 015 016 017 018 019 020

Nama Desa COT TRIENG LHOK AWE AWE COT UNOE COT BATEE COT KUTA COT GLUMPANG GLUMPANG BAROH LANCOK PANTE ARA BALEE KUYUN KAREUNG LANCOK LANCOK COT U SIBAK KUALA RAJA UJONG BLANG MESJID WEU JANGKA COT LAGASAWA UJONG BLANG KUTA BARO KRUENG JULI TIMUR KRUENG JULI BARAT

Ketersediaan Listrik Ada Ada Ada Ada Ada Ada Ada Ada Ada Ada Ada Ada Ada Ada Ada Ada Ada Ada Ada Ada

Keluarga Pengguna Listrik Jumlah Persentase (%) PLN Non PLN PLN Non PLN 201 275 108 270 98 52 70 70 75 135 320 103 180 150 200 98 149 130 200 200 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 93.1 98.9 91.5 94.7 89.1 80.0 89.7 86.4 90.4 98.5 96.7 96.3 86.1 87.7 92.2 91.6 86.6 89.7 96.6 94.8 0.0 0.0 0.0 0.0 0.0 0.0 0.0 0.0 0.0 0.0 0.0 0.0 0.0 0.0 0.0 0.0 0.0 0.0 0.0 0.0

Keluarga Berlangganan Telepon Persentase Jumlah (%) 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0.0 0.0 0.0 0.0 0.0 0.0 0.0 0.0 0.0 0.0 0.0 0.0 0.0 0.0 0.0 0.0 0.0 0.0 0.0 0.0

3.9.2 RENCANA TINDAK (ACTION PLAN) KECAMATAN KUALA Rencana Tindak (Action Plan) di Kecamatan Kuala disusun berdasarkan 5 (lima) rangkaian kegiatan yang telah dijelaskan pada sub bab 3.2. Sebagaimana juga telah dijelaskan pada sub bab 3.2, pelaksanaan sosialisasi melalui FGD di kecamatan Kuala tidak dapat dilaksanakan, sehingga dalam hal ini dilaksanakan survai wawancara (kuestioner) kepada masyarakat setempat sebagai bahan validitas terhadap draft rencana tindak (action plan) yang disusun konsultan dan telah dipadukan dengan bahan usulan program dari hasil pelaksanaan penjaringan aspirasi masyarakat melaui Forum FGD (Focus Group Discussion) yang dilakukan oleh Pemda Kabupaten Bireuen bekerjasama dengan Lembaga NGO dari Perancis pada tahun 2005. Hasil suvai wawancara (kuestioner) kepada masyarakat di 9 (sembilan) kecamatan prioritas (termasuk Kecamatan Kuala) juga telah dijelaskan pada sub bab 3.2.
LAPORAN AKHIR

III - 143

BRR NAD - Nias


Melalui 5 (lima) rangkaian kegiatan di atas, dan hasil pelaksanaan suvai wawancara (kuestioner) kepada masyarakat selanjutnya disusun dan ditetapkan Rencana Tindak (Action Plan) di Kecamatan Kuala Tahun 2007 sampai Tahun 2009 seperti disajikan pada Tabel dan gambar pada halaman berikut. 3.9.3 DESA PRIORITAS DI KECAMATAN KUALA Dengan mengacu pada proses dan metode penetapan desa prioritas yang telah dijelaskan pada sub bab 3.2, maka ditetapkan desa prioritas untuk Village Planning di Kecamatan Kuala seperti disajikan pada tabel berikut. Desa Prioritas di Kecamatan Kuala

No 61 79 80 88 130

Kode 13 19 20 14 17

Nama Desa/Kel. sekarang KUALA RAJA KRUENG JULI TIMUR KRUENG JULI BARAT UJONG BLANG MESJID UJONG BLANG Kuala Kuala Kuala Kuala Kuala

Kecamatan

Nilai 21 19 19 18 12

Urutan Prioritas 1 2 2 3 4

LAPORAN AKHIR

III - 144

BRR NAD - Nias

LAPORAN AKHIR

III - 145

BRR NAD - Nias

LAPORAN AKHIR

III - 146

BRR NAD - Nias

3.10 KECAMATAN PEUSANGAN


3.10.1 IDENTIFIKASI KONDISI DAN PERMASALAHAN YANG ADA A. FISIK DAN LINGKUNGAN A.1 Morfologi Sebagian berupa topografi desa-desa dataran yang meliputi : Pante Pisang, Blang Cut Sp Iv, Pante Cut, Pante Piyeu, Matang Mesjid, Cot Bada Tunong, Cot Buket, Matang Cot Paseh, Gampong Putoh, Pulo Naleung, Mata Mamplam, Alue Glumpang Ba, Cot Rabo Baroh, Cot Rabo Tunong. Desa berupa lembah/DAS meliputi Kapa, Desa berupa punggung bukit yaitu Paya Reuhat, dan Desa dengan morfologi pantai meliputi Cot Puuek. A.2 Jenis Tanah Jenis tanah di Kec. Peusangan adalah relatif sama dengan yang ada di Kec. Samalanga, Simpang Mamplam, dan Jeunieb. A.3 Kedalaman Efektif Tanah Kedalaman efektif tanah di Kec. Peusangan, sebagian besar (78,55 %) memiliki kedalaman efektif > 90 cm, dan sebagian kecil (19,10 %) memiliki kedalaman efektif antara 30 60 cm. A.4 Sumber Daya Air Sumber Daya Air Permukaan di kecamatan Peusangan meliputi Sumber Daya Air Krueng /Sungai Peusangan 120 Ha dan Waduk Pasya Krueng 10 Ha. A.5 Daerah Rawan Gempa Daerah Wilayah Kecamatan Peusangan berpotensi mengalami bencana kegempaan di tinjau dari tatanan struktur geologi tektonik regional pulau Sumatra yang sewaktu-waktu dapat menimbulkan gempa tektonik dengan skala 6-7 reichter, patahan patahan tersebut. Salah satunya dapat dijumpai di krueng Peusangan. A.7 Daerah Rawan Tsunami Daerah pesisir yang terpotensi rawan tsunami meliputi desa-desa tambak beresiko sedang yaitu desa Pulo Nalueng,
LAPORAN AKHIR

yang

Mata Mamplam, Alue Glumpang, Cot III - 147

BRR NAD - Nias


Rabo Tunong, Cot Puuk, Cot Rabo Baroh. Desa pesisir di wilalayah kecamatan peusangan relatip lebih aman, gelombang tsunami masuk merusak kawasan tambaktambak juga masuk melalui sungai Peusangan. A.8 Lingkungan Pesisir Morfologi Daerah Pesisir Penggunaan lahan dan kenampakan yang ada adalah tambak tambak, pemukiman penduduk dan sawah. Potensi Sumber Daya Hayati Sebagian besar adalah budidaya perikanan tambak seluas 285,55 Ha. Permasalahan Lingkungan Pesisir Belum berfungsinya secara optimal saluran pertambakan. Analisis Penanganan dan Pengembangan Berdasarkan permasalahan kelautan dan lingkungan pesisir yang ada di Kec. Peusangan, maka beberapa bentuk penanganan dan pengembangan yang diperlukan adalah sebagai berikut : 1. Merehabilitasi saluran yang berfungsi untukl sirkulasi pengairan tambak dan merehabilitasi tambak tambak yang belum berfungsi secara optimal akibat tsunamai di desa pesisir Nalueng, Mata Mamplam, Alue Glumpang, Cot Rabo Tunong, Cot Puuk, Cot Rabo Baroh. B. SOSIAL EKONOMI B.1 Jumlah Penduduk dan KK Jumlah penduduk dan Kepala Keluarga (KK) pada seluruh desa yang ada di Kecamatan Peusangan adalah 42.102 jiwa dan 9.445 KK, dengan jumlah penduduk dan KK terbesar adalah di Desa Pante Gajah sebanyak 2.288 jiwa dan 478 KK, serta terkecil di desa Keude Tanjong sebanyak 181 Jiwa dan 44 KK.

LAPORAN AKHIR

III - 148

BRR NAD - Nias

No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41 42 43

Kode Peta 023 024 038 039 040 041 042 043 044 045 046 047 048 049 050 051 052 053 054 055 056 057 058 059 060 061 062 063 064 065 066 067 068 069 070 071 072 073 074 075 076 077 078

Nama Desa Laki-Laki ALUE UDEUNG ALUE PEUNO KAPA BLANG PANJOE PANTE LHONG PAYA CUT SEUNEUBOK ACEH PAYA LIPAH SEUNEUBOK RAWA BLANG GEULANGGANG UTEUN BUNTA PAYA REUHAT PAYA ABO PALOH PAYA MEUNENG MATANG SAGOE PANTON GEULIMA NEUHEUEN KEUDE MATANG GLP II PANTE GAJAH BLANG ASAN GAMPONG RAYA DAGANG GAMPONG RAYA TAMBO KEUDE TANJONG PANTE PISANG BLANG CUT SP IV PANTE CUT MATANG GLP II MNS TIMUR MATANG GLP II MNS DAYAH MATANG MESJID COT PANJOE COT KEURANJI GAMPONG BAROH BLANG RAMBONG TANOH MIRAH COT GIREK SAGOE COT BADA BARAT COT BADA TUNONG COT BUKET COT IEJU NICAH COT BADA BAROH 422 117 422 160 320 360 240 99 289 240 305 132 130 136 324 957 130 241 862 1,069 214 479 289 87 258 124 137 751 772 341 216 159 167 241 679 365 356 365 404 520 281 211 270

Jumlah Penduduk Wanita 425 203 477 167 329 377 266 103 295 249 325 144 139 149 308 1,030 145 286 821 1,219 222 488 298 94 262 149 169 774 797 498 186 191 150 291 782 420 360 394 413 565 302 248 267

Total 847 320 899 327 649 737 506 202 584 489 630 276 269 285 632 1,987 275 527 1,683 2,288 436 967 587 181 520 273 306 1,525 1,569 839 402 350 317 532 1,461 785 716 759 817 1,085 583 459 537

Jumlah Keluarga 253 115 200 74 182 217 140 57 101 108 134 74 51 77 127 373 60 123 364 478 92 215 195 44 125 69 74 325 400 203 95 52 74 109 416 176 118 173 109 200 121 116 117

LAPORAN AKHIR

III - 149

BRR NAD - Nias

No 44 45 46 47 48 49 50 51 52 53 54 55 56 57 58 59 60 61 62 63 64 65 66 67

Kode Peta 079 081 082 083 084 085 086 087 088 089 090 091 092 093 094 095 096 097 098 099 100 101 102 105

Nama Desa Laki-Laki COT KEUMUDEE PULO NALEUNG COT NGA KARIENG MATA MAMPLAM ALUE GLUMPANG BA COT RABO BAROH COT RABO TUNONG KRUENG DHEUE MATANG COT PASEH KRUENG BARO MESJID GAMPONG PUTOH PANTE PIYEU TANJONG MESJID TANJONG PAYA TANJONG NIE BAYU KRUENG BARO BB KRUENG MEUNASAH NIBONG PANTE ARA MEUNASAH MEUCAP ASAN BIDEUN PULO PISANG COT PUUEK 248 450 300 184 489 240 274 271 222 218 248 259 320 117 219 120 179 171 158 178 183 277 229 148

Jumlah Penduduk Wanita 255 434 350 227 493 247 299 291 249 225 257 265 326 116 237 130 186 188 165 184 191 284 220 163

Total 503 884 650 411 982 487 573 562 471 443 505 524 646 233 456 250 365 359 323 362 374 561 449 311

Jumlah Keluarga 119 162 152 104 196 75 137 123 109 111 85 103 185 49 98 61 77 72 80 67 79 120 92 63

B.2 Pertumbuhan Penduduk dan Proyeksi Penduduk Tahun 2010 Mengingat tidak tersedianya data jumlah penduduk pada desa-desa prioritas di Kec. Peusangan pada tahun 2003, maka angka pertumbuhan pendudukan pada kawasan perencanaan di Kec. Peusangan tidak dapat diberikan. Untuk keperluan proyeksi, diasumsikan bahwa pertumbuhan penduduk akan sama dengan pertumbuhan penduduk rata-rata kecamatan yan ada di kawasan perencanaan, yakni sebesar 2,1 %/tahun. Dengan menggunakan asumsi ini, maka diproyeksikan jumlah penduduk di Kec. Peusangan pada tahun 2010, total sebesar 43.889 jiwa, dengan rincian jumlah penduduk tiap desa disajikan pada tabel berikut.

LAPORAN AKHIR

III - 150

BRR NAD - Nias

No. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41 42

Kode 023 024 038 039 040 041 042 043 044 045 046 047 048 049 050 051 052 053 054 055 056 057 058 059 060 061 062 063 064 065 066 067 068 069 070 071 072 073 074 075 076 077

Nama Desa/ Kel. sekarang ALUE UDEUNG ALUE PEUNO KAPA BLANG PANJOE PANTE LHONG PAYA CUT SEUNEUBOK ACEH PAYA LIPAH SEUNEUBOK RAWA BLANG GEULANGGANG UTEUN BUNTA PAYA REUHAT PAYA ABO PALOH PAYA MEUNENG MATANG SAGOE PANTON GEULIMA NEUHEUEN KEUDE MATANG GLP II PANTE GAJAH BLANG ASAN GAMPONG RAYA DAGANG GAMPONG RAYA TAMBO KEUDE TANJONG PANTE PISANG BLANG CUT SP IV PANTE CUT MATANG GLP II MNS TIMUR MATANG GLP II MNS DAYAH MATANG MESJID COT PANJOE COT KEURANJI GAMPONG BAROH BLANG RAMBONG TANOH MIRAH COT GIREK SAGOE COT BADA BARAT COT BADA TUNONG COT BUKET COT IEJU NICAH

Status Desa/K ota Desa Desa Desa Desa Desa Desa Desa Desa Desa Desa Desa Desa Desa Desa Desa Desa Desa Desa Kota Kota Kota Kota Desa Desa Desa Desa Desa Kota Kota Desa Desa Desa Desa Desa Desa Desa Desa Desa Desa Desa Desa Desa

Luas Wilayah (Ha) 598.79 193.80 95.26 66.84 73.57 132.81 195.43 226.48 64.83 100.21 129.88 74.78 163.04 141.85 146.76 141.88 68.98 49.42 36.00 127.14 47.59 56.53 117.30 91.83 70.37 40.58 21.50 78.61 49.68 58.72 102.92 74.79 138.54 141.65 81.39 124.77 111.26 66.70 48.07 57.96 214.00 29.77

Jml. Penduduk Tahun 2003 (Jiwa) N/A N/A N/A N/A N/A N/A N/A N/A N/A N/A N/A N/A N/A N/A N/A N/A N/A N/A N/A N/A N/A N/A N/A N/A N/A N/A N/A N/A N/A N/A N/A N/A N/A N/A N/A N/A N/A N/A N/A N/A N/A N/A

Jml. Penduduk Tahun 2005 (Jiwa) 847 320 899 327 649 737 506 202 584 489 630 276 269 285 632 1,987 275 527 1,683 2,288 436 967 587 181 520 273 306 1,525 1,569 839 402 350 317 532 1,461 785 716 759 817 1,085 583 459

Proyeksi Penduduk Tahun 2010 (Jiwa) 883 334 937 341 677 768 527 211 609 510 657 288 280 297 659 2,071 287 549 1,754 2,385 455 1,008 612 189 542 285 319 1,590 1,636 875 419 365 330 555 1,523 818 746 791 852 1,131 608 478

LAPORAN AKHIR

III - 151

BRR NAD - Nias

No. 43 44 45 46 47 48 49 50 51 52 53 54 55 56 57 58 59 60 61 62 63 64 65 66 67

Kode 078 079 081 082 083 084 085 086 087 088 089 090 091 092 093 094 095 096 097 098 099 100 101 102 105

Nama Desa/ Kel. sekarang COT BADA BAROH COT KEUMUDEE PULO NALEUNG COT NGA KARIENG MATA MAMPLAM ALUE GLUMPANG BA COT RABO BAROH COT RABO TUNONG KRUENG DHEUE MATANG COT PASEH KRUENG BARO MESJID GAMPONG PUTOH PANTE PIYEU TANJONG MESJID TANJONG PAYA TANJONG NIE BAYU KRUENG BARO BB KRUENG MEUNASAH NIBONG PANTE ARA MEUNASAH MEUCAP ASAN BIDEUN PULO PISANG COT PUUEK TOTAL

Status Desa/K ota Desa Desa Desa Desa Desa Desa Desa Desa Desa Desa Desa Desa Desa Desa Desa Desa Desa Desa Desa Desa Desa Desa Desa Desa Desa

Luas Wilayah (Ha) 36.49 85.51 41.07 49.56 68.27 90.24 43.41 53.45 90.23 105.95 77.87 48.60 61.09 117.20 76.18 95.18 74.24 40.84 81.32 79.07 82.03 77.61 174.75 81.43 55.09 6538.98

Jml. Penduduk Tahun 2003 (Jiwa) N/A N/A N/A N/A N/A N/A N/A N/A N/A N/A N/A N/A N/A N/A N/A N/A N/A N/A N/A N/A N/A N/A N/A N/A N/A N/A

Jml. Penduduk Tahun 2005 (Jiwa) 537 503 884 650 411 982 487 573 562 471 443 505 524 646 233 456 250 365 359 323 362 374 561 449 311 42,102

Proyeksi Penduduk Tahun 2010 (Jiwa) 560 524 922 678 428 1,024 508 597 586 491 462 526 546 673 243 475 261 380 374 337 377 390 585 468 324 43,889

B.3 Mata Pencaharian Penduduk dan Jumah KK Miskin Hampir seluruh desa yang ada di Kecamatan Peusangan memiliki mata pencaharian utama pada sektor pertanian tanaman pangan. Adapun jumlah Kepala Keluarga (KK) Miskin adalah 5.903 KK atau 62,5 % dari total jumlah KK di kec. Peusangan, dengan jumlah KK Miskin terbesar terdapat di desa Matang Sagoe dan Pante Gajah, yakni masing-masing sebanyak 273 KK. Sebanyak 57 (lima puluh tujuh) desa yang ada di Kec. Peusangan memiliki persentase jumlah KK miskin di atas 50 %. Kondisi ini dapat digunakan sebagai indikator kebutuhan penanganan masalah kemiskinan di Kec. Peusangan.

LAPORAN AKHIR

III - 152

BRR NAD - Nias

No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41 42 43 44

Kode Peta 023 024 038 039 040 041 042 043 044 045 046 047 048 049 050 051 052 053 054 055 056 057 058 059 060 061 062 063 064 065 066 067 068 069 070 071 072 073 074 075 076 077 078 079

Nama Desa ALUE UDEUNG ALUE PEUNO KAPA BLANG PANJOE PANTE LHONG PAYA CUT SEUNEUBOK ACEH PAYA LIPAH SEUNEUBOK RAWA BLANG GEULANGGANG UTEUN BUNTA PAYA REUHAT PAYA ABO PALOH PAYA MEUNENG MATANG SAGOE PANTON GEULIMA NEUHEUEN KEUDE MATANG GLP II PANTE GAJAH BLANG ASAN GAMPONG RAYA DAGANG GAMPONG RAYA TAMBO KEUDE TANJONG PANTE PISANG BLANG CUT SP IV PANTE CUT MATANG GLP II MNS TIMUR MATANG GLP II MNS DAYAH MATANG MESJID COT PANJOE COT KEURANJI GAMPONG BAROH BLANG RAMBONG TANOH MIRAH COT GIREK SAGOE COT BADA BARAT COT BADA TUNONG COT BUKET COT IEJU NICAH COT BADA BAROH COT KEUMUDEE

Keluarga di Sektor Pertanian Jumlah Persentase 228 104 160 67 146 174 112 51 91 97 121 67 46 69 102 224 30 98 109 359 18 194 156 40 113 55 67 228 320 173 86 42 59 98 333 158 106 138 98 150 109 104 105 107 90 90 80 90 80 80 80 90 90 90 90 90 90 90 80 60 50 80 30 75 20 90 80 90 90 80 90 70 80 85 90 80 80 90 80 90 90 80 90 75 90 90 90 90

Keluarga Miskin Jumlah Persentase 191 92 80 58 96 82 132 51 60 67 102 51 39 59 55 273 43 93 183 273 46 170 96 24 69 47 68 127 171 90 60 39 45 100 108 120 80 110 100 153 90 75 80 110 75.5 80.0 40.0 78.4 52.7 37.8 94.3 89.5 59.4 62.0 76.1 68.9 76.5 76.6 43.3 73.2 71.7 75.6 50.3 57.1 50.0 79.1 49.2 54.5 55.2 68.1 91.9 39.1 42.8 44.3 63.2 75.0 60.8 91.7 26.0 68.2 67.8 63.6 91.7 76.5 74.4 64.7 68.4 92.4

Sumber Penghasilan Utama Pertanian Pertanian Pertanian Pertanian Pertanian Pertanian Pertanian Pertanian Pertanian Pertanian Pertanian Pertanian Pertanian Pertanian Pertanian Pertanian Pertanian Pertanian Lainnya Pertanian Pertanian Pertanian Pertanian Pertanian Pertanian Pertanian Pertanian Pertanian Pertanian Pertanian Pertanian Pertanian Pertanian Pertanian Pertanian Pertanian Pertanian Pertanian Pertanian Pertanian Pertanian Pertanian Pertanian Pertanian

Sub Sektor Pertanian Tanaman Pangan Tanaman Pangan Tanaman Pangan Tanaman Pangan Tanaman Pangan Tanaman Pangan Tanaman Pangan Tanaman Pangan Tanaman Pangan Tanaman Pangan Tanaman Pangan Tanaman Pangan Tanaman Pangan Tanaman Pangan Tanaman Pangan Tanaman Pangan Tanaman Pangan Tanaman Pangan Tanaman Pangan Tanaman Pangan Tanaman Pangan Perkebunan Tanaman Pangan Tanaman Pangan Tanaman Pangan Tanaman Pangan Tanaman Pangan Tanaman Pangan Tanaman Pangan Tanaman Pangan Tanaman Pangan Tanaman Pangan Tanaman Pangan Tanaman Pangan Tanaman Pangan Tanaman Pangan Tanaman Pangan Tanaman Pangan Tanaman Pangan Tanaman Pangan Tanaman Pangan Tanaman Pangan Tanaman Pangan

Buruh Tani Jumlah Presentase 400 250 85 200 300 100 150 100 300 250 400 150 100 150 300 500 140 100 100 500 60 450 80 90 200 200 140 900 325 25 45 100 100 210 600 400 350 400 500 400 400 200 250 200 52.5 86.8 11.8 68.0 57.8 17.0 37.1 55.0 57.1 56.8 70.5 60.4 41.3 58.5 59.3 41.9 101.8 23.7 19.8 29.1 68.8 51.7 17.0 55.2 42.7 91.6 50.8 84.3 25.9 3.5 12.4 35.7 39.4 43.9 51.3 56.6 54.3 65.9 68.0 49.2 76.2 48.4 51.7 44.2

LAPORAN AKHIR

III - 153

BRR NAD - Nias

No 45 46 47 48 49 50 51 52 53 54 55 56 57 58 59 60 61 62 63 64 65 66 67

Kode Peta 081 082 083 084 085 086 087 088 089 090 091 092 093 094 095 096 097 098 099 100 101 102 105

Nama Desa PULO NALEUNG COT NGA KARIENG MATA MAMPLAM ALUE GLUMPANG BA COT RABO BAROH COT RABO TUNONG KRUENG DHEUE MATANG COT PASEH KRUENG BARO MESJID GAMPONG PUTOH PANTE PIYEU TANJONG MESJID TANJONG PAYA TANJONG NIE BAYU KRUENG BARO BB KRUENG MEUNASAH NIBONG PANTE ARA MEUNASAH MEUCAP ASAN BIDEUN PULO PISANG COT PUUEK

Keluarga di Sektor Pertanian Jumlah Persentase 146 137 94 176 68 123 62 98 89 77 93 111 44 78 55 69 58 64 60 71 108 83 57 90 90 90 90 90 90 50 90 80 90 90 60 90 80 90 90 80 80 90 90 90 90 90

Keluarga Miskin Jumlah Persentase 85 110 100 101 70 80 105 49 85 61 53 114 45 58 57 54 54 72 52 72 86 52 30 52.5 72.4 96.2 51.5 93.3 58.4 85.4 45.0 76.6 71.8 51.5 61.6 91.8 59.2 93.4 70.1 75.0 90.0 77.6 91.1 71.7 56.5 47.6

Sumber Penghasilan Utama Pertanian Pertanian Pertanian Pertanian Pertanian Pertanian Pertanian Pertanian Pertanian Pertanian Pertanian Pertanian Pertanian Pertanian Pertanian Pertanian Pertanian Pertanian Pertanian Pertanian Pertanian Pertanian Pertanian

Sub Sektor Pertanian Tanaman Pangan Tanaman Pangan Tanaman Pangan Tanaman Pangan Tanaman Pangan Tanaman Pangan Tanaman Pangan Tanaman Pangan Tanaman Pangan Tanaman Pangan Tanaman Pangan Tanaman Pangan Tanaman Pangan Tanaman Pangan Tanaman Pangan Tanaman Pangan Tanaman Pangan Tanaman Pangan Tanaman Pangan Tanaman Pangan Tanaman Pangan Tanaman Pangan Tanaman Pangan

Buruh Tani Jumlah Presentase 150 300 250 500 30 40 281 200 250 250 250 150 100 198 90 150 125 100 150 120 200 250 200 18.9 51.3 67.6 56.6 6.8 7.8 100.0 47.2 70.5 55.0 53.0 38.7 47.7 54.3 40.0 45.7 43.5 38.7 46.0 35.7 39.6 61.9 71.5

C. PRASARANA DAN SARANA C.1 Transportasi Secara umum, seluruh desa yang ada di Kecamatan Peusangan dihubungkan oleh prasarana jaringan jalan dengan tipe perkerasan aspal/beton, sirtu, dan tanah, dan sebanyak 5 (lima) desa masih belum dapat dijangkau oleh kendaraan roda-4. Kondisi ini menunjukkan perlunya pengembangan jaringan jalan ke-5 desa tersebut agar dapat dijangkau oleh kendaraan roda-4, disamping diperlukan juga peningkatan jalan, khususnya untuk jalan-jalan dengan jenis permukaan tanah menjadi minimal jenis Sirtu (Pasir Batu), sehingga dapat dilalui oleh kendaraan roda-4 di musim hujan. Adapun sarana angkutan umum ke desa-desa di Kec. Peusangan sebagian besar adalah ojek (sepeda motor), dan hanya 9 (sembilan) desa yang telah dilayani angkutan umum kendaraan roda-4. Untuk lebih jelasnya lihat tabel berikut :
LAPORAN AKHIR

III - 154

BRR NAD - Nias

No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41

Kode Peta 023 024 038 039 040 041 042 043 044 045 046 047 048 049 050 051 052 053 054 055 056 057 058 059 060 061 062 063 064 065 066 067 068 069 070 071 072 073 074 075 076

Nama Desa ALUE UDEUNG ALUE PEUNO KAPA BLANG PANJOE PANTE LHONG PAYA CUT SEUNEUBOK ACEH PAYA LIPAH SEUNEUBOK RAWA BLANG GEULANGGANG UTEUN BUNTA PAYA REUHAT PAYA ABO PALOH PAYA MEUNENG MATANG SAGOE PANTON GEULIMA NEUHEUEN KEUDE MATANG GLP II PANTE GAJAH BLANG ASAN GAMPONG RAYA DAGANG GAMPONG RAYA TAMBO KEUDE TANJONG PANTE PISANG BLANG CUT SP IV PANTE CUT MATANG GLP II MNS TIMUR MATANG GLP II MNS DAYAH MATANG MESJID COT PANJOE COT KEURANJI GAMPONG BAROH BLANG RAMBONG TANOH MIRAH COT GIREK SAGOE COT BADA BARAT COT BADA TUNONG COT BUKET COT IEJU

Sebagian Besar Cara Lalu Lintas Antar Desa Darat Darat Darat Darat Darat Darat Darat Darat Darat Darat Darat Darat Darat Darat Darat Darat Darat Darat Darat Darat Darat Darat Darat Darat Darat Darat Darat Darat Darat Darat Darat Darat Darat Darat Darat Darat Darat Darat Darat Darat Darat

Jenis Permukaan Jalan Yang Terluas (jika darat) Diperkeras(kerikil,batu,dsb) Diperkeras(kerikil,batu,dsb) Diperkeras(kerikil,batu,dsb) Tanah Diperkeras(kerikil,batu,dsb) Aspal/Beton Aspal/Beton Tanah Tanah Diperkeras(kerikil,batu,dsb) Diperkeras(kerikil,batu,dsb) Diperkeras(kerikil,batu,dsb) Diperkeras(kerikil,batu,dsb) Aspal/Beton Tanah Aspal/Beton Tanah Tanah Aspal/Beton Tanah Diperkeras(kerikil,batu,dsb) Aspal/Beton Diperkeras(kerikil,batu,dsb) Diperkeras(kerikil,batu,dsb) Tanah Tanah Diperkeras(kerikil,batu,dsb) Aspal/Beton Aspal/Beton Aspal/Beton Diperkeras(kerikil,batu,dsb) Tanah Diperkeras(kerikil,batu,dsb) Diperkeras(kerikil,batu,dsb) Diperkeras(kerikil,batu,dsb) Diperkeras(kerikil,batu,dsb) Tanah Diperkeras(kerikil,batu,dsb) Diperkeras(kerikil,batu,dsb) Aspal/Beton Aspal/Beton

Dapat Dijangkau Kendaraan Roda 4/ Lebih Sepanjang Tahun Ya Ya Ya Ya Ya Ya Ya Ya Ya Ya Tidak Ya Ya Ya Ya Ya Ya Ya Ya Ya Ya Ya Tidak Ya Ya Ya Ya Ya Ya Ya Ya Ya Ya Ya Ya Ya Ya Tidak Ya Ya Ya

Tipe Angkutan Umum Utama Kend Roda 3/Lebih Ojek Sepeda Motor Ojek Sepeda Motor Ojek Sepeda Motor Ojek Sepeda Motor Ojek Sepeda Motor Ojek Sepeda Motor Ojek Sepeda Motor Kend Roda 3/Lebih Ojek Sepeda Motor Ojek Sepeda Motor Ojek Sepeda Motor Ojek Sepeda Motor Ojek Sepeda Motor Kend Roda 3/Lebih Ojek Sepeda Motor Ojek Sepeda Motor Ojek Sepeda Motor Ojek Sepeda Motor Ojek Sepeda Motor Ojek Sepeda Motor Ojek Sepeda Motor Ojek Sepeda Motor Ojek Sepeda Motor Ojek Sepeda Motor Ojek Sepeda Motor Ojek Sepeda Motor Ojek Sepeda Motor Ojek Sepeda Motor Ojek Sepeda Motor Ojek Sepeda Motor Kend Roda 3/Lebih Kend Roda 3/Lebih Kend Roda 3/Lebih Ojek Sepeda Motor Ojek Sepeda Motor Ojek Sepeda Motor Ojek Sepeda Motor Ojek Sepeda Motor Kend Roda 3/Lebih Ojek Sepeda Motor

LAPORAN AKHIR

III - 155

BRR NAD - Nias

No 42 43 44 45 46 47 48 49 50 51 52 53 54 55 56 57 58 59 60 61 62 63 64 65 66 67

Kode Peta 077 078 079 081 082 083 084 085 086 087 088 089 090 091 092 093 094 095 096 097 098 099 100 101 102 105 NICAH

Nama Desa

Sebagian Besar Cara Lalu Lintas Antar Desa Darat Darat Darat Darat Darat Darat Darat Darat Darat Darat Darat Darat Darat Darat Darat Darat Darat Darat Darat Darat Darat Darat Darat Darat Darat Darat

Jenis Permukaan Jalan Yang Terluas (jika darat) Diperkeras(kerikil,batu,dsb) Diperkeras(kerikil,batu,dsb) Diperkeras(kerikil,batu,dsb) Aspal/Beton Diperkeras(kerikil,batu,dsb) Aspal/Beton Aspal/Beton Diperkeras(kerikil,batu,dsb) Aspal/Beton Diperkeras(kerikil,batu,dsb) Aspal/Beton Aspal/Beton Diperkeras(kerikil,batu,dsb) Diperkeras(kerikil,batu,dsb) Aspal/Beton Diperkeras(kerikil,batu,dsb) Diperkeras(kerikil,batu,dsb) Diperkeras(kerikil,batu,dsb) Diperkeras(kerikil,batu,dsb) Tanah Diperkeras(kerikil,batu,dsb) Diperkeras(kerikil,batu,dsb) Diperkeras(kerikil,batu,dsb) Tanah Diperkeras(kerikil,batu,dsb) Tanah

Dapat Dijangkau Kendaraan Roda 4/ Lebih Sepanjang Tahun Ya Ya Ya Ya Ya Ya Ya Ya Ya Ya Ya Ya Ya Ya Ya Ya Ya Ya Tidak Ya Tidak Ya Ya Ya Ya Ya

Tipe Angkutan Umum Utama Ojek Sepeda Motor Ojek Sepeda Motor Ojek Sepeda Motor Ojek Sepeda Motor Kend Roda 3/Lebih Ojek Sepeda Motor Ojek Sepeda Motor Ojek Sepeda Motor Ojek Sepeda Motor Ojek Sepeda Motor Ojek Sepeda Motor Ojek Sepeda Motor Ojek Sepeda Motor Ojek Sepeda Motor Ojek Sepeda Motor Ojek Sepeda Motor Kend Roda 3/Lebih Ojek Sepeda Motor Ojek Sepeda Motor Ojek Sepeda Motor Ojek Sepeda Motor Ojek Sepeda Motor Ojek Sepeda Motor Ojek Sepeda Motor Ojek Sepeda Motor Ojek Sepeda Motor

COT BADA BAROH COT KEUMUDEE PULO NALEUNG COT NGA KARIENG MATA MAMPLAM ALUE GLUMPANG BA COT RABO BAROH COT RABO TUNONG KRUENG DHEUE MATANG COT PASEH KRUENG BARO MESJID GAMPONG PUTOH PANTE PIYEU TANJONG MESJID TANJONG PAYA TANJONG NIE BAYU KRUENG BARO BB KRUENG MEUNASAH NIBONG PANTE ARA MEUNASAH MEUCAP ASAN BIDEUN PULO PISANG COT PUUEK

C.2 Prasarana Air Bersih, Air Limbah dan Sampah Seluruh desa di Kecamatan Peusangan menggunakan sumur sebagai sumber air bersih. Secara umum, kondisi ini telah memenuhi standar pelayanan minimal prasarana air bersih yang ada. Sedangkan untuk sarana sanitasi, sebagian besar desa mengunakan sarana jamban umum, dan jamban sendiri. Hanya satu desa yang masih menggunakan sarana sanitasi bukan jamban, yakni Desa Paya Reuhat. Secara umum, kondisi ini menunjukkan kebutuhan penyediaan sarana sanitasi berupa jamban umum di Desa Paya Reuhat.

LAPORAN AKHIR

III - 156

BRR NAD - Nias


Untuk pengolahan sampah, hampir seluruh desa menggunakan cara dibuang di lubang dan dibakar, dan hanya 1 (satu) desa yang telah menggunakan cara diangkut oleh gerobak sampah, yakni Desa Gampong Putoh. Secara umum, kondisi ini juga telah memenuhi standar pelayanan minimal pengelolaan sampah yang ada untuk kawasan permukiman perdesaan.
Sumber Air Minum Sumur Sumur Sumur Sumur Sumur Sumur Sumur Sumur Sumur Sumur Sumur Sumur Sumur Sumur Sumur Sumur Sumur Sumur Sumur Sumur Sumur Sumur Sumur Sumur Sumur Sumur Sumur Sumur Sumur Sumur Sumur Sumur Sumur Sumur Sumur Harus Membeli Air Minum Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak Tempat Buang Air Besar Jamban Sendiri Jamban Sendiri Jamban Sendiri Jamban Sendiri Jamban Sendiri Jamban Sendiri Jamban Sendiri Jamban Sendiri Jamban Sendiri Jamban Sendiri Jamban Sendiri Bukan Jamban Jamban Sendiri Jamban Sendiri Jamban Sendiri Jamban Sendiri Jamban Sendiri Jamban Sendiri Jamban Sendiri Jamban Sendiri Jamban Sendiri Jamban Sendiri Jamban Sendiri Jamban Sendiri Jamban Sendiri Jamban Sendiri Jamban Sendiri Jamban Sendiri Jamban Sendiri Jamban Sendiri Jamban Sendiri Jamban Sendiri Jamban Sendiri Jamban Sendiri Jamban Sendiri Cara Membuang Sampah Lobang/Dibakar Lobang/Dibakar Lobang/Dibakar Lobang/Dibakar Lobang/Dibakar Lobang/Dibakar Lobang/Dibakar Lobang/Dibakar Lobang/Dibakar Lobang/Dibakar Lobang/Dibakar Lobang/Dibakar Lobang/Dibakar Lobang/Dibakar Lobang/Dibakar Lobang/Dibakar Lobang/Dibakar Lobang/Dibakar Diangkut Lobang/Dibakar Lobang/Dibakar Lobang/Dibakar Lobang/Dibakar Diangkut Lobang/Dibakar Lobang/Dibakar Lobang/Dibakar Lobang/Dibakar Lobang/Dibakar Lobang/Dibakar Lobang/Dibakar Lobang/Dibakar Lobang/Dibakar Lobang/Dibakar Lobang/Dibakar

No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35

Kode Peta 023 024 038 039 040 041 042 043 044 045 046 047 048 049 050 051 052 053 054 055 056 057 058 059 060 061 062 063 064 065 066 067 068 069 070

Nama Desa ALUE UDEUNG ALUE PEUNO KAPA BLANG PANJOE PANTE LHONG PAYA CUT SEUNEUBOK ACEH PAYA LIPAH SEUNEUBOK RAWA BLANG GEULANGGANG UTEUN BUNTA PAYA REUHAT PAYA ABO PALOH PAYA MEUNENG MATANG SAGOE PANTON GEULIMA NEUHEUEN KEUDE MATANG GLP II PANTE GAJAH BLANG ASAN GAMPONG RAYA DAGANG GAMPONG RAYA TAMBO KEUDE TANJONG PANTE PISANG BLANG CUT SP IV PANTE CUT MATANG GLP II MNS TIMUR MATANG GLP II MNS DAYAH MATANG MESJID COT PANJOE COT KEURANJI GAMPONG BAROH BLANG RAMBONG TANOH MIRAH

LAPORAN AKHIR

III - 157

BRR NAD - Nias

No 36 37 38 39 40 41 42 43 44 45 46 47 48 49 50 51 52 53 54 55 56 57 58 59 60 61 62 63 64 65 66 67

Kode Peta 071 072 073 074 075 076 077 078 079 081 082 083 084 085 086 087 088 089 090 091 092 093 094 095 096 097 098 099 100 101 102 105

Nama Desa COT GIREK SAGOE COT BADA BARAT COT BADA TUNONG COT BUKET COT IEJU NICAH COT BADA BAROH COT KEUMUDEE PULO NALEUNG COT NGA KARIENG MATA MAMPLAM ALUE GLUMPANG BA COT RABO BAROH COT RABO TUNONG KRUENG DHEUE MATANG COT PASEH KRUENG BARO MESJID GAMPONG PUTOH PANTE PIYEU TANJONG MESJID TANJONG PAYA TANJONG NIE BAYU KRUENG BARO BB KRUENG MEUNASAH NIBONG PANTE ARA MEUNASAH MEUCAP ASAN BIDEUN PULO PISANG COT PUUEK

Sumber Air Minum Sumur Sumur Sumur Sumur Sumur Sumur Sumur Sumur Sumur Sumur Sumur Sumur Sumur Sumur Sumur Sumur Sumur Sumur Sumur Sumur Sumur Sumur Sumur Sumur Sumur Sumur Sumur Sumur Sumur Sumur Sumur Sumur

Harus Membeli Air Minum Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak Ada Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak

Tempat Buang Air Besar Jamban Sendiri Jamban Sendiri Jamban Sendiri Jamban Sendiri Jamban Sendiri Jamban Sendiri Jamban Sendiri Jamban Sendiri Jamban Bersama Jamban Sendiri Jamban Sendiri Jamban Sendiri Jamban Sendiri Jamban Sendiri Jamban Sendiri Jamban Sendiri Jamban Sendiri Jamban Sendiri Jamban Sendiri Jamban Bersama Jamban Bersama Jamban Sendiri Jamban Sendiri Jamban Sendiri Jamban Sendiri Jamban Sendiri Jamban Sendiri Jamban Sendiri Jamban Sendiri Jamban Sendiri Jamban Sendiri Jamban Sendiri

Cara Membuang Sampah Lobang/Dibakar Lobang/Dibakar Lobang/Dibakar Lobang/Dibakar Lobang/Dibakar Lobang/Dibakar Lobang/Dibakar Lobang/Dibakar Lobang/Dibakar Lobang/Dibakar Lobang/Dibakar Lobang/Dibakar Lobang/Dibakar Lobang/Dibakar Lobang/Dibakar Lobang/Dibakar Lobang/Dibakar Lobang/Dibakar Lobang/Dibakar Diangkut Lobang/Dibakar Lobang/Dibakar Lobang/Dibakar Lobang/Dibakar Lobang/Dibakar Lobang/Dibakar Lobang/Dibakar Lobang/Dibakar Lobang/Dibakar Lobang/Dibakar Lobang/Dibakar Lobang/Dibakar

C.3 Sarana Pendidikan Sarana pendidikan di Kecamatan Peusangan meliputi : 1. TK Negeri sebanyak 4 (empat) buah dan TK Swasta sebanyak 11 (sebelas) buah, dengan jangkauan pelayanan ke desa terjauh (Desa Tanoh Mirah, Blang Geulanggang, dan Paya Reuhat) adalah 6 Km,

LAPORAN AKHIR

III - 158

BRR NAD - Nias

2. SD Negeri sebanyak 34 (tiga puluh empat) buah, dan SD swasta sebanyak 10 (sepuluh) buah, dengan jangkaun pelayanan ke desa terjauh (Desa Raya Reuhat) adalah 4,5 Km, 3. SMP Negeri sebanyak 4 (empat) buah, dengan jangkaun pelayanan ke desa terjauh (Desa Tanoh Mirah, Blang Geulanggang, dan Paya Reuhat) adalah 6 Km, 4. SMU Negeri sebanyak 4 (empat) buah, dengan jangkaun pelayanan ke desa terjauh (Desa Tanoh Mirah, Blang Geulanggang, dan Paya Reuhat) adalah 6 Km.

Kode No Peta Nama Desa

Taman Kanak-Kanak Jarak Jumlah Sekolah RataRata Negeri Swasta (km) 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1 0 0 1 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1 0 1 0 0 0 0 1 0 0 1 2 1 2 3 2 0.5 5 3 2 1 2 1 1.5 2 4 6 5 6 1 3 3 1 1.5

Sekolah Dasar Jumlah Sekolah Negeri 1 1 1 0 0 1 1 0 0 0 0 0 0 0 0 1 0 1 3 1 0 1 1 1 0 0 0 1 2 0 Swasta 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1 0 0 0 0 1 1 0 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1 Jarak RataRata (km) . . . 1.0 0.5 . . 1.0 1.0 . 1.0 4.5 1.0 1.0 . . 0.5 . . . 0.5 . . . 2.0 0.5 0.5 . . .

Sekolah Menengah Pertama Jarak Jumlah Sekolah RataRata Negeri Swasta (km) 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1 0 0 1 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1.0 3.0 2.0 1.0 1.0 1.0 1.5 2.0 4.0 6.0 2.0 6.0 2.0 3.0 2.0 1.0 0.5 1.0 . 0.5 1.0 . . 3.0 2.0 2.0 3.0 0.5 1.0 1.5

Sekolah Menengah Umum Jarak Jumlah Sekolah RataRata Negeri Swasta (km) 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 2 0 1 0 0 0 0 0 0 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 5.0 3.0 2.0 1.0 1.0 1.0 1.5 2.0 4.0 6.0 5.0 6.0 5.0 3.0 3.0 1.0 0.5 1.0 . 0.5 . 1.0 0.5 3.0 2.0 2.0 3.0 0.5 . 1.5

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30

023 024 038 039 040 041 042 043 044 045 046 047 048 049 050 051 052 053 054 055 056 057 058 059 060 061 062 063 064 065

ALUE UDEUNG ALUE PEUNO KAPA BLANG PANJOE PANTE LHONG PAYA CUT SEUNEUBOK ACEH PAYA LIPAH SEUNEUBOK RAWA BLANG GEULANGGANG UTEUN BUNTA PAYA REUHAT PAYA ABO PALOH PAYA MEUNENG MATANG SAGOE PANTON GEULIMA NEUHEUEN KEUDE MATANG GLP II PANTE GAJAH BLANG ASAN GAMPONG RAYA DAGANG GAMPONG RAYA TAMBO KEUDE TANJONG PANTE PISANG BLANG CUT SP IV PANTE CUT MATANG GLP II MNS TIMUR MATANG GLP II MNS DAYAH MATANG MESJID

LAPORAN AKHIR

III - 159

BRR NAD - Nias

Kode No Peta Nama Desa

Taman Kanak-Kanak Jarak Jumlah Sekolah RataRata Negeri Swasta (km) 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1 0 1 0 0 0 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1 0 0 0 0 0 0 2 3 1 3 3 0.5 2 1 1 1 4 3 2 4 1 4 1 4 4 1 2.5 4 4 4 6 3 3 5 5 5 3 4

Sekolah Dasar Jumlah Sekolah Negeri 0 0 0 0 2 0 0 1 0 1 1 0 0 1 1 1 0 0 0 1 0 1 1 0 1 1 1 1 0 0 0 0 0 1 0 1 0 Swasta 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1 0 0 1 0 0 0 1 0 0 1 0 0 0 0 0 1 Jarak RataRata (km) 1.5 0.5 0.2 1.0 . 0.5 2.0 . 2.0 . . 1.0 1.0 . . . 0.5 0.5 1.0 . . . . . . . . . 1.0 3.0 . 0.5 0.5 . 0.5 . .

Sekolah Menengah Pertama Jarak Jumlah Sekolah RataRata Negeri Swasta (km) 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 2.5 1.0 1. 0.5 6.0 3.0 2.0 3.0 3.0 1.0 . 1.0 2.0 3.0 1.0 1.0 4.0 2.0 2.0 5.0 4.0 4.0 2.0 2.0 3.0 1.0 2.0 4.0 2.0 3.0 2.0 3.0 3.0 3.0 3.0 3.0 5.5

Sekolah Menengah Umum Jarak Jumlah Sekolah RataRata Negeri Swasta (km) 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 2.5 4.0 4.0 4.0 6.0 2.0 3.0 3.0 3.0 4.0 3.0 4.0 5.0 3.0 7.0 4.0 4.0 4.0 4.0 5.0 4.0 4.0 2.0 2.0 3.0 1.0 2.0 4.0 2.0 3.0 2.0 3.0 3.0 3.0 2.0 3.0 5.5

31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41 42 43 44 45 46 47 48 49 50 51 52 53 54 55 56 57 58 59 60 61 62 63 64 65 66 67

066 067 068 069 070 071 072 073 074 075 076 077 078 079 081 082 083 084 085 086 087 088 089 090 091 092 093 094 095 096 097 098 099 100 101 102 105

COT PANJOE COT KEURANJI GAMPONG BAROH BLANG RAMBONG TANOH MIRAH COT GIREK SAGOE COT BADA BARAT COT BADA TUNONG COT BUKET COT IEJU NICAH COT BADA BAROH COT KEUMUDEE PULO NALEUNG COT NGA KARIENG MATA MAMPLAM ALUE GLUMPANG BA COT RABO BAROH COT RABO TUNONG KRUENG DHEUE MATANG COT PASEH KRUENG BARO MESJID GAMPONG PUTOH PANTE PIYEU TANJONG MESJID TANJONG PAYA TANJONG NIE BAYU KRUENG BARO BB KRUENG MEUNASAH NIBONG PANTE ARA MEUNASAH MEUCAP ASAN BIDEUN PULO PISANG COT PUUEK

Kondisi di atas, apabila dikaitkan dengan standar pelayanan minimal untuk satuan lingkungan dengan jumlah penduduk < 30.000 jiwa (lihat Lampiran), dimana Kecamatan Peusangan dianggap sebagai satu lingkungan, dengan proyeksi penduduk III - 160

LAPORAN AKHIR

BRR NAD - Nias


pada tahun 2010 sebesar 43.889 jiwa, maka kebutuhan tambahan sarana pendidikan di Kec. Peusangan, hanya berupa sarana TK sebanyak 29 (dua puluh sembilan) buah. C.4 Sarana Kesehatan Sarana kesehatan di Kecamatan Peusangan meliputi : 1. RS Bersalin sebanyak 1 (satu) buah di Ds. Keude Matang Glp II, dengan jangkauan pelayanan ke desa terjauh (Desa Cot Puuek) adalah 9 Km, 2. Poliklinik/Balai Pengobatan sebanyak 4 (empat) buah, dengan jangkauan pelayanan ke desa terjauh (Desa Cot Puuek) adalah 7 Km, 3. Puskesmas sebanyak 1 (satu) buah, di Desa Blang Asan, dengan jangkauan pelayanan ke desa terjauh (Desa Paya Reuhat) adalah 9 Km, 4. Puskesmas Pembantu sebanyak 4 (empat) buah, dengan jangkauan pelayanan ke desa terjauh adalah 7 Km, 5. Posyandu sebanyak 55 (lima puluh lima) buah (hampir ada di setiap desa), dengan jangkauan pelayanan ke desa terjauh (Desa Paya Reuhat) adalah 2,2 Km, 6. Polindes (Pondok Bersalin Desa) sebanyak 32 (tiga puluh dua) buah, dengan jangkauan pelayanan ke desa terjauh (Desa Cot Bada Baroh) adalah 5 Km.
Poliklinik/ Balai Pengobatan Jarak RataJumlah Rata (km) 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 5.0 3.0 3.0 0.5 1.5 1.0 2.5 2.0 4.0 2.0 2.0 2.5 5.0 Puskemas Pembantu Jarak RataJumlah Rata (km) 0 5.0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 3.0 7.0 4.5 4.0 1.0 6.0 5.0 4.0 2.0 2.0 2.5 1.0 Polindes (Pondok Bersalin Desa) Jarak RataJumlah Rata (km) 1 1 0 1 0 1 1 0 0 1 1 0 1 . . 1.0 . 0.5 . . 2.0 1.0 . . 2.5 .

No

Kode Peta

Nama Desa

RS Bersalin Jarak RataJumlah Rata (km) 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 5.0 3.0 4.0 2.0 2.5 1.0 1.5 2.0 4.0 6.0 5.0 6.0 5.0

Puskemas Jarak RataJumlah Rata (km) 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 5.0 3.0 3.0 0.5 1.5 1.0 2.5 2.0 4.0 7.0 5.0 9.0 5.0

POSYANDU Jarak RataJumlah Rata (km) 0 1 0 1 1 1 1 0 0 1 1 0 1 0.5 . 1.0 . . . . 2.0 1.0 . . 2.2 .

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13

023 024 038 039 040 041 042 043 044 045 046 047 048

ALUE UDEUNG ALUE PEUNO KAPA BLANG PANJOE PANTE LHONG PAYA CUT SEUNEUBOK ACEH PAYA LIPAH SEUNEUBOK RAWA BLANG GEULANGGANG UTEUN BUNTA PAYA REUHAT PAYA ABO

LAPORAN AKHIR

III - 161

BRR NAD - Nias

No

Kode Peta

Nama Desa

RS Bersalin Jarak RataJumlah Rata (km) 0 0 0 0 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 4.0 3.0 1.0 1.0 1.0 . 0.5 1.0 1.0 2.5 3.0 2.0 3.0 3.0 1.0 1.0 1.5 2.5 4.0 4.0 4.0 6.0 3.0 3.0 5.0 5.0 5.0 3.0 4.0 5.0 4.0 7.0 4.0 4.0 4.0 4.0 5.0 4.0 4.0 2.3 2.0 3.0 2.0

Poliklinik/ Balai Pengobatan Jarak RataJumlah Rata (km) 0 0 0 0 0 1 0 1 0 0 0 0 0 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1 0 0 0 0 0 3.0 3.0 1.0 2.0 1.0 . 1.0 . 1.0 1.0 3.0 2.0 3.0 4.0 . 1.0 2.5 3.5 4.0 4.0 4.0 6.0 3.0 3.0 5.0 5.0 5.0 3.5 4.5 5.0 4.0 7.0 4.0 5.0 4.0 1.0 6.0 . 4.0 3.0 2.0 4.0 2.0

Puskemas Jarak RataJumlah Rata (km) 0 0 0 0 0 0 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 3.0 3.0 1.0 2.0 2.0 1.0 0.5 . 1.0 0.7 3.0 2.0 2.0 4.0 1.0 1.0 2.5 3.5 4.0 4.0 4.0 7.0 4.0 3.0 5.0 6.0 5.0 3.0 5.0 5.0 4.0 2.0 4.0 5.0 5.0 4.0 6.0 5.0 5.0 3.0 2.0 4.0 2.0

14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41 42 43 44 45 46 47 48 49 50 51 52 53 54 55 56

049 050 051 052 053 054 055 056 057 058 059 060 061 062 063 064 065 066 067 068 069 070 071 072 073 074 075 076 077 078 079 081 082 083 084 085 086 087 088 089 090 091 092

PALOH PAYA MEUNENG MATANG SAGOE PANTON GEULIMA NEUHEUEN KEUDE MATANG GLP II PANTE GAJAH BLANG ASAN GAMPONG RAYA DAGANG GAMPONG RAYA TAMBO KEUDE TANJONG PANTE PISANG BLANG CUT SP IV PANTE CUT MATANG GLP II MNS TIMUR MATANG GLP II MNS DAYAH MATANG MESJID COT PANJOE COT KEURANJI GAMPONG BAROH BLANG RAMBONG TANOH MIRAH COT GIREK SAGOE COT BADA BARAT COT BADA TUNONG COT BUKET COT IEJU NICAH COT BADA BAROH COT KEUMUDEE PULO NALEUNG COT NGA KARIENG MATA MAMPLAM ALUE GLUMPANG BA COT RABO BAROH COT RABO TUNONG KRUENG DHEUE MATANG COT PASEH KRUENG BARO MESJID GAMPONG PUTOH PANTE PIYEU LAPORAN AKHIR

Puskemas Pembantu Jarak RataJumlah Rata (km) 0 2.0 0 0 0 0 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1 0 0 1 0 0 0 0 0 3.0 4.0 6.0 1.0 1.0 . 4.0 1.0 0.7 3.5 2.0 3.0 3.0 1.0 7.0 1.5 2.5 4.0 4.0 4.0 . 2.5 3.0 6.0 4.0 5.0 3.5 4.5 6.0 4.0 1.0 4.0 2.0 . 1.0 5.0 . 3.0 2.0 2.0 3.0 4.0

POSYANDU Jarak RataJumlah Rata (km) 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 0 1 1 1 1 1 1 1 0 0 1 1 1 1 1 1 1 0 1 1 1 0 1 1 1 1 0 1 1 1 1 1 . . . . . . . . . . . 0.5 . . . . . . . 0.3 1.0 . . . . . . . 1.0 . . . 1.0 . . . . 1.0 . . . . .

Polindes (Pondok Bersalin Desa) Jarak RataJumlah Rata (km) 0 1 1 0 0 1 1 1 0 1 0 0 0 0 0 1 1 0 1 0 0 1 1 1 1 1 1 1 0 0 0 1 0 0 0 1 1 0 0 1 1 0 1 3.0 . . 0.5 1.0 . . . 1.0 . 3.0 0.5 1.0 3.0 0.5 . . 1.0 . 0.3 1.0 . . . . . . . 1.0 5.0 1.0 . 1.0 4.0 4.0 . . 1.0 4.0 . . 1.0 .

III - 162

BRR NAD - Nias

No

Kode Peta

Nama Desa

RS Bersalin Jarak RataJumlah Rata (km) 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 3.0 4.0 3.0 3.0 2.0 3.0 3.0 3.0 3.0 3.0 9.0

Poliklinik/ Balai Pengobatan Jarak RataJumlah Rata (km) 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 2.0 4.0 2.0 3.0 3.0 4.0 3.0 4.0 3.0 3.0 7.0

Puskemas Jarak RataJumlah Rata (km) 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 2.0 4.0 1.0 3.0 3.0 4.0 4.0 4.0 2.0 3.0 7.0

57 58 59 60 61 62 63 64 65 66 67

093 094 095 096 097 098 099 100 101 102 105

TANJONG MESJID TANJONG PAYA TANJONG NIE BAYU KRUENG BARO BB KRUENG MEUNASAH NIBONG PANTE ARA MEUNASAH MEUCAP ASAN BIDEUN PULO PISANG COT PUUEK

Puskemas Pembantu Jarak RataJumlah Rata (km) 0 1.5 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 4.0 4.0 4.0 2.0 6.0 5.0 3.0 1.5 2.0 7.0

POSYANDU Jarak RataJumlah Rata (km) 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 0 . . . . . . . . . . 1.0

Polindes (Pondok Bersalin Desa) Jarak RataJumlah Rata (km) 0 1 0 0 0 0 0 0 1 0 0 3.0 . 0.5 3.0 1.0 3.0 1.0 3.0 . 3.0 0.5

Kondisi di atas, apabila dikaitkan dengan standar pelayanan minimal untuk satuan lingkungan dengan jumlah penduduk < 30.000 jiwa (lihat Lampiran), dimana Kecamatan Peusangan dianggap sebagai satu lingkungan, dengan proyeksi penduduk pada tahun 2010 sebesar 43.889 jiwa, maka kebutuhan tambahan sarana kesehatan di Kec. Peusangan, hanya berupa sarana Poliklinik/Balai Pengobatan sebanyak 6 (enam) buah. C.5 Listrik dan Telepon Seluruh desa di Kecamatan Peusangan telah dilayani oleh prasarana listrik. Untuk prasarana telepon telah melayani sebagian desa (9 desa) yang ada di Kec. Peusangan, dan sebanyak 8 (delapan) desa masih belum terlayani. Kondisi ini menunjukkan kebutuhan perluasan jaringan telepon yang dapat menjangkau ke desa-desa yang masih belum terlayani.
Keluarga Pengguna Listrik Jumlah Non PLN 0 0 0 0 2 0 Persentase (%) PLN Non PLN 79.1 87.0 27.5 81.1 98.9 92.2 0.0 0.0 0.0 0.0 1.1 0.0 Keluarga Berlangganan Telepon Jumlah 0 5 0 7 0 100 Persentase (%) 0.0 4.3 0.0 9.5 0.0 46.1

No 1 2 3 4 5 6

Kode Peta 023 024 038 039 040 041

Nama Desa ALUE UDEUNG ALUE PEUNO KAPA BLANG PANJOE PANTE LHONG PAYA CUT

Ketersediaan Listrik PLN Ada Ada Ada Ada Ada Ada 200 100 55 60 180 200

LAPORAN AKHIR

III - 163

BRR NAD - Nias

No 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41 42 43 44 45 46 47

Kode Peta 042 043 044 045 046 047 048 049 050 051 052 053 054 055 056 057 058 059 060 061 062 063 064 065 066 067 068 069 070 071 072 073 074 075 076 077 078 079 081 082 083

Nama Desa SEUNEUBOK ACEH PAYA LIPAH SEUNEUBOK RAWA BLANG GEULANGGANG UTEUN BUNTA PAYA REUHAT PAYA ABO PALOH PAYA MEUNENG MATANG SAGOE PANTON GEULIMA NEUHEUEN KEUDE MATANG GLP II PANTE GAJAH BLANG ASAN GAMPONG RAYA DAGANG GAMPONG RAYA TAMBO KEUDE TANJONG PANTE PISANG BLANG CUT SP IV PANTE CUT MATANG GLP II MNS TIMUR MATANG GLP II MNS DAYAH MATANG MESJID COT PANJOE COT KEURANJI GAMPONG BAROH BLANG RAMBONG TANOH MIRAH COT GIREK SAGOE COT BADA BARAT COT BADA TUNONG COT BUKET COT IEJU NICAH COT BADA BAROH COT KEUMUDEE PULO NALEUNG COT NGA KARIENG

Ketersediaan Listrik PLN Ada Ada Ada Ada Ada Ada Ada Ada Ada Ada Ada Ada Ada Ada Ada Ada Ada Ada Ada Ada Ada Ada Ada Ada Ada Ada Ada Ada Ada Ada Ada Ada Ada Ada Ada Ada Ada Ada Ada Ada Ada 140 40 80 80 110 30 36 73 125 360 25 123 364 450 92 200 195 40 100 60 72 325 400 195 80 50 70 100 394 166 100 150 99 190 115 100 92 109 130 150 90

Keluarga Pengguna Listrik Jumlah Non PLN 0 17 0 0 0 0 0 0 13 10 0 0 0 0 0 0 25 0 2 0 0 0 15 0 0 0 0 0 0 23 10 0 0 16 0 0 30 0 14 Persentase (%) PLN Non PLN 100.0 70.2 79.2 74.1 82.1 40.5 70.6 94.8 98.4 96.5 41.7 100.0 100.0 94.1 100.0 93.0 100.0 90.9 80.0 87.0 97.3 100.0 100.0 96.1 84.2 96.2 94.6 91.7 94.7 94.3 84.7 86.7 90.8 95.0 95.0 86.2 78.6 91.6 80.2 98.7 86.5 0.0 0.0 20.0 0.0 2.7 0.0 0.0 0.0 15.8 0.0 0.0 0.0 0.0 0.0 0.0 13.3 9.2 0.0 0.0 13.8 0.0 0.0 18.5 0.0 13.5 0.0 0.0 0.0 3.5 16.7 0.0 0.0 0.0 0.0 0.0 29.8 0.0 0.0 0.0

Keluarga Berlangganan Telepon Jumlah 30 0 0 0 0 0 0 0 23 100 0 25 250 40 25 50 5 10 20 3 0 100 60 10 0 20 10 0 6 35 30 15 10 50 27 5 10 5 0 11 6 Persentase (%) 21.4 0.0 0.0 0.0 0.0 0.0 0.0 0.0 18.1 26.8 0.0 20.3 68.7 8.4 27.2 23.3 2.6 22.7 16.0 4.3 0.0 30.8 15.0 4.9 0.0 38.5 13.5 0.0 1.4 19.9 25.4 8.7 9.2 25.0 22.3 4.3 8.5 4.2 0.0 7.2 5.8

LAPORAN AKHIR

III - 164

BRR NAD - Nias

No 48 49 50 51 52 53 54 55 56 57 58 59 60 61 62 63 64 65 66 67

Kode Peta 084 085 086 087 088 089 090 091 092 093 094 095 096 097 098 099 100 101 102 105

Nama Desa MATA MAMPLAM ALUE GLUMPANG BA COT RABO BAROH COT RABO TUNONG KRUENG DHEUE MATANG COT PASEH KRUENG BARO MESJID GAMPONG PUTOH PANTE PIYEU TANJONG MESJID TANJONG PAYA TANJONG NIE BAYU KRUENG BARO BB KRUENG MEUNASAH NIBONG PANTE ARA MEUNASAH MEUCAP ASAN BIDEUN PULO PISANG COT PUUEK

Ketersediaan Listrik PLN Ada Ada Ada Ada Ada Ada Ada Ada Ada Ada Ada Ada Ada Ada Ada Ada Ada Ada Ada Ada 180 75 105 100 93 101 70 90 175 44 70 50 67 50 70 50 76 100 80 40

Keluarga Pengguna Listrik Jumlah Non PLN 16 0 0 23 16 10 0 13 10 5 0 0 0 22 0 17 3 20 0 Persentase (%) PLN Non PLN 91.8 100.0 76.6 81.3 85.3 91.0 82.4 87.4 94.6 89.8 71.4 82.0 87.0 69.4 87.5 74.6 96.2 83.3 87.0 63.5 8.2 0.0 0.0 18.7 14.7 9.0 0.0 12.6 5.4 10.2 0.0 0.0 0.0 30.6 0.0 25.4 3.8 16.7 0.0

Keluarga Berlangganan Telepon Jumlah 5 4 0 0 0 30 0 0 18 0 7 10 0 0 1 0 10 10 5 0 Persentase (%) 2.6 5.3 0.0 0.0 0.0 27.0 0.0 0.0 9.7 0.0 7.1 16.4 0.0 0.0 1.3 0.0 12.7 8.3 5.4 0.0

3.10.2 RENCANA TINDAK (ACTION PLAN) KECAMATAN PEUSANGAN Rencana Tindak (Action Plan) di Kecamatan Peusangan disusun berdasarkan 5 (lima) rangkaian kegiatan yang telah dijelaskan pada sub bab 3.2. Sebagaimana juga telah dijelaskan pada sub bab 3.2, pelaksanaan sosialisasi melalui FGD di kecamatan Peusangan tidak dapat dilaksanakan, sehingga dalam hal ini dilaksanakan survai wawancara (kuestioner) kepada masyarakat setempat sebagai bahan validitas terhadap draft rencana tindak (action plan) yang disusun konsultan dan telah dipadukan dengan bahan usulan program dari hasil pelaksanaan penjaringan aspirasi masyarakat melaui Forum FGD (Focus Group Discussion) yang dilakukan oleh Pemda Kabupaten Bireuen bekerjasama dengan Lembaga NGO dari Perancis pada tahun 2005. Hasil suvai wawancara (kuestioner) kepada masyarakat di 9 (sembilan) kecamatan prioritas (termasuk Kecamatan Peusangan juga telah dijelaskan pada sub bab 3.2.
LAPORAN AKHIR

III - 165

BRR NAD - Nias


Melalui 5 (lima) rangkaian kegiatan di atas, dan hasil pelaksanaan suvai wawancara (kuestioner) kepada masyarakat selanjutnya disusun dan ditetapkan Rencana Tindak (Action Plan) di Kecamatan Peusangan Tahun 2007 sampai Tahun 2009 seperti disajikan pada Tabel dan gambar pada halaman berikut. 3.10.3 DESA PRIORITAS DI KECAMATAN PEUSANGAN Dengan mengacu pada proses dan metode penetapan desa prioritas yang telah dijelaskan pada sub bab 3.2, maka dipilih dan ditetapkan desa prioritas untuk Village Planning di Kecamatan Peusangan seperti disajikan pada tabel berikut. Desa Prioritas di Kecamatan Peusangan

No 33 34 56 58 72 75 99 100 108 109 117 127 129 133 137 140 141

Kode 60 61 62 74 38 47 75 87 85 105 91 89 92 65 84 81 86

Nama Desa/Kel. sekarang PANTE PISANG BLANG CUT SP IV PANTE CUT COT BADA TUNONG KAPA PAYA REUHAT COT BUKET COT RABO TUNONG ALUE GLP. BA COT PUUEK GAMPONG PUTOH MATANG C. PASEH PANTE PIYEU MATANG MESJID MATA MAMPLAM PULO NALEUNG COT RABO BAROH

Kecamatan Peusangan Peusangan Peusangan Peusangan Peusangan Peusangan Peusangan Peusangan Peusangan Peusangan Peusangan Peusangan Peusangan Peusangan Peusangan Peusangan Peusangan

Nilai 25 25 22 22 20 20 18 18 17 17 16 14 13 12 11 10 10

Urutan Prioritas 1 1 2 2 3 3 4 4 5 5 6 7 8 9 10 11 11

LAPORAN AKHIR

III - 166

BRR NAD - Nias

LAPORAN AKHIR

III - 167

BRR NAD - Nias

LAPORAN AKHIR

III - 168

BRR NAD - Nias

3.11 KECAMATAN JANGKA


3.11.1 IDENTIFIKASI KONDISI DAN PERMASALAHAN YANG ADA A. FISIK DAN LINGKUNGAN A.1 Morfologi Sebagian berupa topografi desa-desa dataran yang meliputi : Pulo U, Abeuk Jaloh, Pulo Seuna, Pulo Blang, Pulo Iboh, Pulo Reudeup, Gampong Meulinteung, Lamkuta, Ruseb Ara, Lueng, Ruseb Dayah, Kambuek, Bada Timur, Bada Barat, Barat Lanyan, Geundot Meunasah Krueng, Paya Bieng, Jangka Alue, Jangka Keutapang, Lampoh Rayeuk, Lhok Bugeng, Linggong, Pante Peusangan, Bugak Krueng, Bugak Mesjid, Bugak Krueng Mate, Bugeng, Alue Bayeu Utang, Bugak Blang, Pante Sukon, dan Pante Ranub. Desa berupa lembah/DAS meliputi Kapa, Desa berupa morfologi pantai yaitu Alue Buya, Tanoh Anoe, Tanjongan, Jangka Alue Bie, Jangka Mesjid, Jangka Alue U, Ulee Ceue, Alue Kuta, Punjot, Pulo Pineung Mns II, Pante Paku Alue, Buya Pasi, dan Kuala. A.2 Jenis Tanah Jenis tanah di Kec. Jangka, meliputi : aluvial dan hidromorf kelabu. A.3 Kedalaman Efektif Tanah Kedalaman efektif tanah di Kec. Jangka, seluruhnya memiliki kedalaman efektif > 90 cm. A.4 Sumber Daya Air Sumber Daya Air Permukaan di kecamatan Jangka meliputi Sumber Daya Air Sungai, Rawa/paya, diantaranya Krueng / Sungai Peusangan 80 Ha , Paya / Rawa Bieng 5 Ha, Krueng Mate 15 Ha, Krueng Nie 8 Ha. A.5 Daerah Rawan Banjir Daerah Wilayah Kecamatan Jangka yang berpotensi rawan banjir adalah daerah Pesisir yang relatip datar 0 -5 meter di atas permukaan air laut, meliputi daerah sekitar muara sungai kuala Jangka dan kuala Paon yang kondisinya mengalami

LAPORAN AKHIR

III - 169

BRR NAD - Nias


pendangkalan akibat sedimentasi dan akresi yang menimbulkan penyempitan

Bottel Neck di bagian hilir ( muara ) . A.5 Daerah Rawan Gempa Daerah Wilayah Kecamatan Jangka berpotensi mengalami bencana kegempaan di tinjau dari tatanan struktur geologi tektonik regional pulau Sumatra yang sewaktuwaktu dapat menimbulkan gempa tektonik dengan skala 6-7 reichter, patahan patahan tersebut. Salah satunya dapat dijumpai di krueng Peusangan. A.7 Daerah Rawan Tsunami Daerah pesisir yang terpotensi rawan tsunami meliputi desa-desa pantai yang

beresiko sedang yaitu desa Desa Alue Buya Pasi, Jangka Alue Bie, Jangka Masjid, Jangka Alue U, Pante Ranub, Pante Paku, Mns Dua, Punjol, Alue Kula dan desa Kuala Ceurape. Faktor penyebab di sepanjang pesisir desa-desa pantai tidak terdapat zona penyanggah (buffer zone) hutan mangrove yang mampu menahan laju gelombang tsunami secara alamiah serta kedalaman toporafi daerah perairan pantai Jangka 20 200 meter yang juga berpengaruh terhadap laju kecepatan rambat gelombang C = L/T terhadap kedalaman laut d/L dan semakin ke darat cepat rambat gelombang semakin melemah ( Refraksi Gelombang ), di tinjau dari letak geografis darah pesisir pantai gelombang tsunami langsung datang tanpa adannya difraksi seperti di kecamatan Jeunib, peudada dan Jeumpa. A.8 Kelautan dan Lingkungan Pesisir Morfologi Daerah Pesisir Penggunaan lahan dan kenampakan yang ada adalah Pemukiman Penduduk, Kebun Kelapa, Hactheri dan Sawah. Panjang garis pantai 18,9 km. Potensi Sumber Daya Hayati Perikanan Tangkap dengan sarana PPI dan TPI, Budi Daya Perikanan Tambak seluas 1.642 Ha, Ekosistim Estuaria Muara Sungai ( Kuala Jangka, Kuala Pawon, Kuala Ceurapee) , Ekosistim Padang Lamun, Ekosistim Pantai Pasir .

LAPORAN AKHIR

III - 170

BRR NAD - Nias


Permasalahan Kelautan dan Lingkungan Pesisir Abrasi di sepanjang pesisir pantai, Akresi di muara sungai Jangka dan Pawon dan akresi yang menyebabkan tanah timbul bertambahnya daratan baru, dan kerusakan Komunitas Hutan Mangrove. Analisis Penanganan dan Pengembangan Berdasarkan permasalahan kelautan dan lingkungan pesisir yang ada di Kec. Jangka, maka beberapa bentuk penanganan dan pengembangan yang diperlukan adalah sebagai berikut : 1. Ekosistim Hutan Mangrove ( Bakau ) Mereboisasai Kawasan pantai dengan menanam kembali tanaman bakau (mangrove) di desa pantai yaitu Alue Buya Pasi, Jangka Alue Bie, Jangka Masjid, Jangka Alue U, Pante Ranub, Pante Paku, Mns Dua, Pujot, Alue Kuta, Kuala Ceurape. Penanganan lainnya adalah sama dengan yang telah dijelaskan untuk kecamatan Samalanga. 2. Ekosistim Estuaria, Padang Lamun, Pasir Pantai dan Perikanan Tambak Sama dengan yang telah dijelaskan untuk kecamatan Samalanga. 3. Abrasi a. Penanggulangan abrasi pantai secara alamiah dengan memanfaatkan sumber daya ekosistim hutan mangrove ( Vegetasi ) dan Reboisasi di desa pantai Alue Buya Pasie, Jangka Alue Bie, Jangka Masjid, Jangka Alue U, Pante Ranub, Pante Paku, Pulo Pang Mns II dan Desa Pujot. b. Penanggulangan abrasi pantai dengan sistim Proteksi Bangunan Coastal Pantai (

Engineering ) yaitu Sea Wall, Bulkhealt dan Revetment, dengan

mengutamakan dan memanfaatkan batuan yang banyak tersebar di kabupaten bireuen di desa pantai Alue Buya Pasie, Jangka Alue Bie, Jangka Masjid, Jangka Alue U, Pante Ranub, Pante Paku, Pulo Pang Mns II dan Desa Pujot. 4. Akresi Sama dengan yang telah dijelaskan untuk kecamatan Samalanga
LAPORAN AKHIR

III - 171

BRR NAD - Nias

B. SOSIAL EKONOMI B.1 Jumlah Penduduk dan KK Jumlah penduduk dan Kepala Keluarga (KK) pada seluruh desa yang ada di Kecamatan Jangka adalah 24.730 jiwa dan 5.178 KK, dengan jumlah penduduk dan KK terbesar adalah di Desa Jangka Alue U sebanyak 1.098 jiwa dan 278 KK, serta terkecil di desa Lamkuta sebanyak 104 jiwa dan 6 KK.
Jumlah Penduduk No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 Kode Peta 001 002 003 004 005 006 007 008 009 010 011 012 013 014 015 016 017 018 019 020 021 022 023 024 025 026 027 028 029 030 031 032 033 034 035 Nama Desa PULO U ABEUK JALOH PULO SEUNA PULO BLANG PULO IBOH PULO REUDEUP GAMPONG MEULINTEUNG LAMKUTA RUSEB ARA LUENG RUSEB DAYAH KAMBUEK BADA TIMUR BADA BARAT BARAT LANYAN GEUNDOT MEUNASAH KRUENG PAYA BIENG JANGKA ALUE JANGKA KEUTAPANG LAMPOH RAYEUK LHOK BUGENG LINGGONG ALUE BUYA TANOH ANOE TANJONGAN JANGKA ALUE BIE JANGKA MESJID JANGKA ALUE U PANTE PEUSANGAN BUGAK KRUENG BUGAK MESJID BUGAK KRUENG MATE BUGENG KUALA CEURAPE Laki-Laki 150 203 131 226 178 300 137 103 401 207 430 130 189 129 164 159 134 303 317 411 218 343 351 231 170 299 428 485 560 185 396 366 367 104 322 Wanita 170 273 172 225 187 350 140 104 350 271 511 131 197 143 188 126 157 334 313 399 205 400 464 237 226 336 436 528 538 197 409 354 461 124 315 Total 320 476 303 451 365 650 277 207 751 478 941 261 386 272 352 285 291 637 630 810 423 743 815 468 396 635 864 1,013 1,098 382 805 720 828 228 637 Jumlah Keluarga 79 90 73 99 73 140 60 60 111 111 150 60 84 62 80 75 63 123 125 158 98 154 152 102 78 143 186 201 278 76 167 145 188 47 128

LAPORAN AKHIR

III - 172

BRR NAD - Nias

Jumlah Penduduk No 36 37 38 39 40 41 42 43 44 45 Kode Peta 036 037 038 039 040 041 042 043 044 045 Nama Desa ALUE BAYEU UTANG ULEE CEUE ALUE KUTA PUNJOT PULO PINEUNG MNS II BUGAK BLANG PANTE SUKON PANTE PAKU PANTE RANUB ALUE BUYA PASI Laki-Laki 95 308 405 479 264 118 170 334 334 272 Wanita 117 321 236 519 316 145 175 396 253 275 Total 212 629 641 998 580 263 345 730 587 547 Jumlah Keluarga 42 123 132 203 114 51 77 158 147 112

B.2 Pertumbuhan Penduduk dan Proyeksi Penduduk Tahun 2010 Adapun pertumbuhan penduduk pada desa-desa di Kec. Jangka dari tahun 20032005 sebagian menunjukkan angka pertumbuhan negatif, berkisar antara -0,1 sampai -29,3 %. Hal ini kemungkinan disebabkan dampak tsunami yang cukup parah di Kecamatan Jangka. Berdasarkan angka pertumbuhan yang ada, selanjutnya diproyeksikan jumlah penduduk di Kec. Jangka pada tahun 2010, total sebesar 25.859 jiwa, dengan rincian jumlah penduduk tiap desa disajikan pada tabel berikut.
Luas Wilayah (Ha) 35,74 83,01 72,20 87,74 128,84 54,38 162,16 44,08 108,86 53,80 53,72 72,08 132,98 29,39 34,64 33,83 132,45 56,79 62,47 90,98 65,87 Jml. Penduduk Tahun 2003 (Jiwa) 334 462 332 441 339 651 306 263 583 494 660 327 390 281 516 316 338 568 634 755 421 Jml. Penduduk Tahun 2005 (Jiwa) 320 476 303 451 365 650 277 207 751 478 941 261 386 272 352 285 291 637 630 810 423 Proyeksi Penduduk Tahun 2010 (Jiwa) 335 498 317 472 380 680 290 216 785 498 984 273 404 284 368 298 304 666 659 847 442

No. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21

Kode 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21

Nama Desa/Kel. sekarang PULO U ABEUK JALOH PULO SEUNA PULO BLANG PULO IBOH PULO REUDEUP GAMPONG MEULINTEUNG LAMKUTA RUSEB ARA LUENG RUSEB DAYAH KAMBUEK BADA TIMUR BADA BARAT BARAT LANYAN GEUNDOT MEUNASAH KRUENG PAYA BIENG JANGKA ALUE JANGKA KEUTAPANG LAMPOH RAYEUK

Status Desa/Kota Desa Desa Desa Desa Desa Desa Desa Desa Desa Desa Desa Desa Desa Desa Desa Desa Desa Desa Desa Desa Desa

LAPORAN AKHIR

III - 173

BRR NAD - Nias

No. 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41 42 43 44 45

Kode 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41 42 43 44 45

Nama Desa/Kel. sekarang LHOK BUGENG LINGGONG ALUE BUYA TANOH ANOE TANJONGAN JANGKA ALUE BIE JANGKA MESJID JANGKA ALUE U PANTE PEUSANGAN BUGAK KRUENG BUGAK MESJID BUGAK KRUENG MATE BUGENG KUALA CEURAPE ALUE BAYEU UTANG ULEE CEUE ALUE KUTA PUNJOT PULO PINEUNG MNS II BUGAK BLANG PANTE SUKON PANTE PAKU PANTE RANUB ALUE BUYA PASI TOTAL

Status Desa/Kota Desa Desa Desa Desa Desa Desa Desa Desa Desa Desa Desa Desa Desa Desa Desa Desa Desa Desa Desa Desa Desa Desa Desa Desa

Luas Wilayah (Ha) 43,71 105,81 79,30 130,22 29,53 186,33 101,94 86,68 117,70 108,17 268,65 343,01 404,68 341,14 397,56 395,36 324,79 428,33 298,32 48,69 212,76 207,50 164,18 80,78 6501,15

Jml. Penduduk Tahun 2003 (Jiwa) 445 712 937 690 463 868 1103 1045 431 834 629 789 229 526 188 563 598 860 536 223 397 688 631 512 24308

Jml. Penduduk Tahun 2005 (Jiwa) 743 815 468 396 635 864 1013 1098 382 805 720 828 228 637 212 629 641 998 580 263 345 730 587 547 24730

Proyeksi Penduduk Tahun 2010 (Jiwa) 777 852 489 414 664 904 1059 1148 400 842 753 866 238 666 222 658 670 1044 607 275 361 763 614 572 25859

B.3 Mata Pencaharian Penduduk dan Jumah KK Miskin Hampir seluruh desa yang ada di Kecamatan Jangka memiliki mata pencaharian utama pada sektor pertanian tanaman pangan dan perkebunan, kecuali untuk desa Tanoh Anoe memiliki mata pencaharian utama sektor perindustrian. Adapun jumlah Kepala Keluarga (KK) Miskin adalah 2.924 KK atau 56,47 % dari total jumlah KK di kec. Jangka, dengan jumlah KK Miskin terbesar terdapat di desa Jangka Mesjid, yakni sebanyak 150 KK atau 74,6 % dari jumlah KK yang ada di desa ini. Sebanyak 31 (Tiga puluh satu) desa yang ada di Kec. Jangka memiliki persentase jumlah KK miskin di atas 50 %. Kondisi ini dapat digunakan sebagai indikator kebutuhan penanganan masalah kemiskinan di Kec. Jangka.
Kode Peta 001 002 003 PULO U ABEUK JALOH PULO SEUNA Keluarga di Sektor Pertanian Jumlah 1 2 3 71 89 72 Persentase 90 99 99 Sumber Penghasilan Utama Pertanian Pertanian Pertanian

No

Nama Desa

Keluarga Miskin Jumlah 15 9 22 Persentase 19.0 10.0 30.1

Sub Sektor Pertanian Tanaman Pangan Tanaman Pangan Tanaman Pangan 25 8 70

Buruh Tani Jumlah Presentase 8.7 1.7 23.3

LAPORAN AKHIR

III - 174

BRR NAD - Nias

No 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41 42 43 44 45

Kode Peta 004 005 006 007 008 009 010 011 012 013 014 015 016 017 018 019 020 021 022 023 024 025 026 027 028 029 030 031 032 033 034 035 036 037 038 039 040 041 042 043 044 045

Nama Desa PULO BLANG PULO IBOH PULO REUDEUP GAMPONG MEULINTEUNG LAMKUTA RUSEB ARA LUENG RUSEB DAYAH KAMBUEK BADA TIMUR BADA BARAT BARAT LANYAN GEUNDOT MEUNASAH KRUENG PAYA BIENG JANGKA ALUE JANGKA KEUTAPANG LAMPOH RAYEUK LHOK BUGENG LINGGONG ALUE BUYA TANOH ANOE TANJONGAN JANGKA ALUE BIE JANGKA MESJID JANGKA ALUE U PANTE PEUSANGAN BUGAK KRUENG BUGAK MESJID BUGAK KRUENG MATE BUGENG KUALA CEURAPE ALUE BAYEU UTANG ULEE CEUE ALUE KUTA PUNJOT PULO PINEUNG MNS II BUGAK BLANG PANTE SUKON PANTE PAKU PANTE RANUB ALUE BUYA PASI

Keluarga di Sektor Pertanian Jumlah 94 72 133 54 45 110 97 135 48 67 59 64 38 50 117 100 126 78 131 61 71 31 142 149 171 195 75 134 123 160 42 102 21 98 119 132 34 41 54 95 118 56 Persentase 95 98 95 90 75 99 87 90 80 80 95 80 50 80 95 80 80 80 85 40 70 40 99 80 85 70 99 80 85 85 90 80 50 80 90 65 30 80 70 60 80 50

Keluarga Miskin Jumlah 15 20 15 40 27 100 90 118 40 64 52 50 55 40 100 50 120 40 6 60 80 50 25 130 150 100 58 120 87 74 37 70 32 103 110 120 60 30 50 110 100 80 Persentase 15.2 27.4 10.7 66.7 45.0 90.1 81.1 78.7 66.7 76.2 83.9 62.5 73.3 63.5 81.3 40.0 75.9 40.8 3.9 39.5 78.4 64.1 17.5 69.9 74.6 36.0 76.3 71.9 60.0 39.4 78.7 54.7 76.2 83.7 83.3 59.1 52.6 58.8 64.9 69.6 68.0 71.4

Sumber Penghasilan Utama Pertanian Pertanian Pertanian Pertanian Pertanian Pertanian Pertanian Pertanian Pertanian Pertanian Pertanian Pertanian Pertanian Pertanian Pertanian Pertanian Pertanian Pertanian Pertanian Pertanian Pertanian Industri Pertanian Pertanian Pertanian Pertanian Pertanian Pertanian Pertanian Pertanian Pertanian Pertanian Pertanian Pertanian Pertanian Pertanian Pertanian Pertanian Pertanian Pertanian Pertanian Pertanian

Sub Sektor Pertanian Tanaman Pangan Tanaman Pangan Tanaman Pangan Tanaman Pangan Tanaman Pangan Tanaman Pangan Tanaman Pangan Tanaman Pangan Tanaman Pangan Tanaman Pangan Tanaman Pangan Tanaman Pangan Tanaman Pangan Tanaman Pangan Tanaman Pangan Tanaman Pangan Tanaman Pangan Tanaman Pangan Tanaman Pangan Perkebunan Tanaman Pangan Tanaman Pangan Tanaman Pangan Perkebunan Tanaman Pangan Tanaman Pangan Tanaman Pangan Tanaman Pangan Tanaman Pangan Tanaman Pangan Tanaman Pangan Tanaman Pangan Tanaman Pangan Tanaman Pangan Tanaman Pangan Tanaman Pangan Perkebunan Tanaman Pangan Tanaman Pangan Tanaman Pangan Tanaman Pangan 78 50 50 50 20 349 220 410 50 86 110 50 15 100 10 82 30 40 120 250 129 68 150 400 15 100 179 400 70 310 80 50 20 300 75 40 200 120 30 300 52 80

Buruh Tani Jumlah Presentase 18.2 14.0 8.1 20.1 12.9 46.9 52.9 48.4 23.9 27.8 42.6 17.8 10.5 43.0 1.7 16.3 4.6 11.8 19.0 76.7 39.4 42.9 23.9 57.9 1.7 13.0 47.3 62.1 11.4 44.0 39.0 9.8 18.9 59.6 13.0 6.2 114.9 57.0 12.4 68.5 11.1 29.3

C. PRASARANA DAN SARANA


LAPORAN AKHIR

III - 175

BRR NAD - Nias


C.1 Transportasi Secara umum, seluruh desa yang ada di Kecamatan Jangka dihubungkan oleh prasarana jaringan jalan dengan tipe perkerasan aspal/beton, sirtu, dan tanah, dan hampir seluruh desa telah dapat dijangkau oleh kendaraan roda-4, kecuali 2 (dua) desa, yakni desa Ruseb Ara dan Bugek Krueng. Kondisi ini dapat dijadikan indikator kebutuhan pengembangan prasarana jaringan jalan untuk kendaraan roda-4 yang dapat menjangkau ke-dua desa tersebut, disamping perlunya peningkatan jaringan jalan yang ada, khususnya untuk jalan-jalan dengan jenis permukaan tanah menjadi minimal jenis Sirtu (Pasir Batu), sehingga dapat dilalui oleh kendaraan roda-4 di musim hujan. Adapun sarana angkutan umum yang ada di kec. Jangka sebagian besar adalah ojek (sepeda motor), kecuali untuk Desa Bada Timur dan Pante Pesangan telah dilayani oleh angkutan umum kendaraan roda-4.
Sebagian Besar Cara Lalu Lintas Antar Desa Darat Darat Darat Darat Darat Darat Darat Darat Darat Darat Darat Darat Darat Darat Darat Darat Darat Darat Darat Darat Darat Darat Dapat Dijangkau Kendaraan Roda 4/ Lebih Sepanjang Tahun Ya Ya Ya Ya Ya Ya Ya Ya Tidak Ya Ya Ya Ya Ya Ya Ya Ya Ya Ya Ya Ya Ya

No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22

Kode Peta 001 002 003 004 005 006 007 008 009 010 011 012 013 014 015 016 017 018 019 020 021 022 PULO U

Nama Desa

Jenis Permukaan Jalan Yang Terluas (jika darat) Diperkeras(kerikil,batu,dsb) Diperkeras(kerikil,batu,dsb) Diperkeras(kerikil,batu,dsb) Diperkeras(kerikil,batu,dsb) Diperkeras(kerikil,batu,dsb) Diperkeras(kerikil,batu,dsb) Tanah Tanah Tanah Tanah Tanah Tanah Tanah Tanah Tanah Tanah Tanah Tanah Tanah Tanah Diperkeras(kerikil,batu,dsb) Diperkeras(kerikil,batu,dsb)

Tipe Angkutan Umum Utama Ojek Sepeda Motor Ojek Sepeda Motor Ojek Sepeda Motor Ojek Sepeda Motor Ojek Sepeda Motor Ojek Sepeda Motor Ojek Sepeda Motor Ojek Sepeda Motor Ojek Sepeda Motor Ojek Sepeda Motor Ojek Sepeda Motor Ojek Sepeda Motor Kend Roda 3/Lebih Ojek Sepeda Motor Ojek Sepeda Motor Ojek Sepeda Motor Ojek Sepeda Motor Ojek Sepeda Motor Ojek Sepeda Motor Ojek Sepeda Motor Ojek Sepeda Motor Ojek Sepeda Motor

ABEUK JALOH PULO SEUNA PULO BLANG PULO IBOH PULO REUDEUP GAMPONG MEULINTEUNG LAMKUTA RUSEB ARA LUENG RUSEB DAYAH KAMBUEK BADA TIMUR BADA BARAT BARAT LANYAN GEUNDOT MEUNASAH KRUENG PAYA BIENG JANGKA ALUE JANGKA KEUTAPANG LAMPOH RAYEUK LHOK BUGENG

LAPORAN AKHIR

III - 176

BRR NAD - Nias

No 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41 42 43 44 45

Kode Peta 023 024 025 026 027 028 029 030 031 032 033 034 035 036 037 038 039 040 041 042 043 044 045

Nama Desa LINGGONG ALUE BUYA TANOH ANOE TANJONGAN JANGKA ALUE BIE JANGKA MESJID JANGKA ALUE U PANTE PEUSANGAN BUGAK KRUENG BUGAK MESJID BUGAK KRUENG MATE BUGENG KUALA CEURAPE ALUE BAYEU UTANG ULEE CEUE ALUE KUTA PUNJOT PULO PINEUNG MNS II BUGAK BLANG PANTE SUKON PANTE PAKU PANTE RANUB ALUE BUYA PASI

Sebagian Besar Cara Lalu Lintas Antar Desa Darat Darat Darat Darat Darat Darat Darat Darat Darat Darat Darat Darat Darat Darat Darat Darat Darat Darat Darat Darat Darat Darat Darat

Jenis Permukaan Jalan Yang Terluas (jika darat) Diperkeras(kerikil,batu,dsb) Tanah Tanah Diperkeras(kerikil,batu,dsb) Tanah Tanah Tanah Aspal/Beton Tanah Tanah Tanah Tanah Tanah Tanah Tanah Tanah Tanah Tanah Tanah Tanah Tanah Tanah Tanah

Dapat Dijangkau Kendaraan Roda 4/ Lebih Sepanjang Tahun Ya Ya Ya Ya Ya Ya Ya Ya Tidak Ya Ya Ya Ya Ya Ya Ya Ya Ya Ya Ya Ya Ya Ya

Tipe Angkutan Umum Utama Ojek Sepeda Motor Ojek Sepeda Motor Ojek Sepeda Motor Ojek Sepeda Motor Ojek Sepeda Motor Ojek Sepeda Motor Ojek Sepeda Motor Kend Roda 3/Lebih Ojek Sepeda Motor Ojek Sepeda Motor Ojek Sepeda Motor Ojek Sepeda Motor Ojek Sepeda Motor Ojek Sepeda Motor Ojek Sepeda Motor Ojek Sepeda Motor Ojek Sepeda Motor Ojek Sepeda Motor Ojek Sepeda Motor Ojek Sepeda Motor Ojek Sepeda Motor Ojek Sepeda Motor Ojek Sepeda Motor

C.2 Prasarana Air Bersih, Air Limbah dan Sampah Sebagian besar desa di Kec. Jangka masih menggunakan sumur sebagai sumber air bersih, dan hanya sebanyak 4 (empat) desa yang telah dilayani oleh PDAM, serta 4 (desa) lainnya menggunakan sumber air lainnya. Secara umum, kondisi ini menunjukkan kebutuhan penyediaan prasarana air bersih untuk 4 (empat) desa yang masih menggunakan sumber air lainnya. Untuk prasarana dan sarana sanitasi, sebagian besar desa (28 desa) menggunakan sarana jamban sendiri, sebanyak 13 (tiga belas) desa menggunakan sarana jamban umum, dan 4 (empat) desa masih menggunakan sarana bukan jamban. Secara umum, kondisi ini telah memenuhi standar pelayanan minimal sarana sanitasi yang ada (terlayani > 80 %). Namun untuk 4 (empat) desa yang masih menggunakan sarana bukan jamban perlu disediakan sarana jamban umum.
LAPORAN AKHIR

III - 177

BRR NAD - Nias


Untuk pengolahan sampah, seluruh desa menggunakan cara dibuang di lubang dan dibakar. Secara umum, kondisi ini juga telah memenuhi standar pelayanan minimal pengelolaan sampah yang ada untuk kawasan permukiman perdesaan.
No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 Kode Peta 001 002 003 004 005 006 007 008 009 010 011 012 013 014 015 016 017 018 019 020 021 022 023 024 025 026 027 028 029 030 031 032 033 034 035 036 037 PULO U ABEUK JALOH PULO SEUNA PULO BLANG PULO IBOH PULO REUDEUP GAMPONG MEULINTEUNG LAMKUTA RUSEB ARA LUENG RUSEB DAYAH KAMBUEK BADA TIMUR BADA BARAT BARAT LANYAN GEUNDOT MEUNASAH KRUENG PAYA BIENG JANGKA ALUE JANGKA KEUTAPANG LAMPOH RAYEUK LHOK BUGENG LINGGONG ALUE BUYA TANOH ANOE TANJONGAN JANGKA ALUE BIE JANGKA MESJID JANGKA ALUE U PANTE PEUSANGAN BUGAK KRUENG BUGAK MESJID BUGAK KRUENG MATE BUGENG KUALA CEURAPE ALUE BAYEU UTANG ULEE CEUE Nama Desa Sumber Air Minum Sumur Sumur Sumur Sumur Sumur Sumur Sumur Sumur Sumur Sumur Sumur Sumur Sumur Sumur Sumur Sumur Sumur Sumur Sumur Sumur Sumur Sumur Pipa PAM Sumur Pipa PAM Pipa PAM Sumur Sumur Sumur Sumur Sumur Sumur Sumur Sumur Lainnya Sumur Lainnya Harus Membeli Air Minum Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak Ada Ada Ada Tempat Buang Air Besar Jamban Sendiri Bukan Jamban Jamban Umum Jamban Sendiri Jamban Umum Bukan Jamban Jamban Sendiri Jamban Bersama Jamban Sendiri Jamban Umum Jamban Sendiri Jamban Sendiri Jamban Sendiri Jamban Sendiri Jamban Sendiri Jamban Sendiri Jamban Sendiri Jamban Sendiri Jamban Sendiri Jamban Sendiri Jamban Umum Jamban Sendiri Bukan Jamban Jamban Sendiri Jamban Umum Jamban Umum Jamban Sendiri Jamban Sendiri Jamban Sendiri Jamban Sendiri Jamban Umum Jamban Umum Jamban Sendiri Jamban Umum Bukan Jamban Jamban Sendiri Jamban Umum Cara Membuang Sampah Lobang/Dibakar Lobang/Dibakar Lobang/Dibakar Lobang/Dibakar Lobang/Dibakar Lobang/Dibakar Lobang/Dibakar Lobang/Dibakar Lobang/Dibakar Lobang/Dibakar Lobang/Dibakar Lobang/Dibakar Lobang/Dibakar Lobang/Dibakar Lobang/Dibakar Lobang/Dibakar Lobang/Dibakar Lobang/Dibakar Lobang/Dibakar Lobang/Dibakar Lobang/Dibakar Lobang/Dibakar Lobang/Dibakar Lobang/Dibakar Lobang/Dibakar Lobang/Dibakar Lobang/Dibakar Lobang/Dibakar Lobang/Dibakar Lobang/Dibakar Lobang/Dibakar Lobang/Dibakar Lobang/Dibakar Lobang/Dibakar Lobang/Dibakar Lobang/Dibakar Lobang/Dibakar

LAPORAN AKHIR

III - 178

BRR NAD - Nias

No 38 39 40 41 42 43 44 45

Kode Peta 038 039 040 041 042 043 044 045

Nama Desa ALUE KUTA PUNJOT PULO PINEUNG MNS II BUGAK BLANG PANTE SUKON PANTE PAKU PANTE RANUB ALUE BUYA PASI

Sumber Air Minum Lainnya Sumur Lainnya Sumur Sumur Pipa PAM Sumur Sumur

Harus Membeli Air Minum Ada Ada Ada Tidak Ada Tidak Tidak Tidak

Tempat Buang Air Besar Jamban Sendiri Jamban Sendiri Jamban Umum Jamban Sendiri Jamban Sendiri Jamban Sendiri Jamban Umum Jamban Sendiri

Cara Membuang Sampah Lobang/Dibakar Lobang/Dibakar Lobang/Dibakar Lobang/Dibakar Lobang/Dibakar Lobang/Dibakar Lobang/Dibakar Lobang/Dibakar

C.3 Sarana Pendidikan Sarana pendidikan di Kecamatan Jangka meliputi : 1. TK sebanyak 5 (lima) buah, dengan jangkauan pelayanan ke desa terjauh (Desa Kuala Ceurape) adalah 5 Km, 2. SD Negeri sebanyak 10 (sepuluh) buah dan SD swasta sebanyak 1 (satu) buah, dengan jangkaun pelayanan ke desa terjauh (Desa Bugak Blang) adalah 3 Km, 3. SMP Negeri sebanyak 2 (dua) buah, dengan jangkauan pelayanan ke desa terjauh (Desa Bada Barat, Bugeng, K. Ceurape) adalah 5 Km.
Kode No Peta Nama Desa Taman Kanak-Kanak Jarak Jumlah Sekolah RataRata Negeri Swasta (km) 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1 0 0 0 0 0 0 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 3 3 2 3 2 2 3.5 3 2 3 4 2.5 0.5 1.5 Sekolah Dasar Jumlah Sekolah Negeri 0 0 1 0 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 Swasta 0 0 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 Jarak RataRata (km) 2.5 0.5 . . 0.5 . 1.0 1.0 1.0 1.0 2.0 2.0 1.5 2.0 1.0 0.5 Sekolah Menengah Pertama Jarak Jumlah Sekolah RataRata Negeri Swasta (km) 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 2.5 3.5 3.5 3.5 2.0 2.5 3.0 3.0 3.0 3.0 4.0 2.0 3.5 5.0 2.0 3.0 Sekolah Menengah Umum Jarak Jumlah Sekolah RataRata Negeri Swasta (km) 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 2.5 3.5 3.0 3.5 2.0 2.5 3.0 3.0 3.0 3.0 4.0 2.0 3.5 5.0 2.0 3.0

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16

001 002 003 004 005 006 007 008 009 010 011 012 013 014 015 016

PULO U ABEUK JALOH PULO SEUNA PULO BLANG PULO IBOH PULO REUDEUP GAMPONG MEULINTEUNG LAMKUTA RUSEB ARA LUENG RUSEB DAYAH KAMBUEK BADA TIMUR BADA BARAT BARAT LANYAN GEUNDOT

LAPORAN AKHIR

III - 179

BRR NAD - Nias

Kode No Peta Nama Desa

Taman Kanak-Kanak Jarak RataRata Negeri Swasta (km) Jumlah Sekolah 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1 5 4 4 2 1 2 3 2 1.5 2 2.5 1.5 2 3 2.5 2 2 1 0.5 1 0.5 3 1 2 3

Sekolah Dasar Jumlah Sekolah Negeri 0 0 0 0 0 1 0 1 1 0 1 1 0 0 0 0 1 0 0 0 1 1 1 0 0 0 1 0 0 Swasta 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 Jarak RataRata (km) 0.5 1.0 1.0 1.0 0.5 . 1.0 . . 0.5 . . 1.0 1.0 2.5 1.5 . 1.0 1.0 0.5 . . . 1.0 3.0 3.0 . 2.0 2.5

Sekolah Menengah Pertama Jarak Jumlah Sekolah RataRata Negeri Swasta (km) 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1 0 0 0 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 2.0 1.0 1.0 1.0 2.0 3.0 0.5 2.0 3.0 2.0 2.0 . 1.5 2.0 2.5 2.5 . 5.0 5.0 4.0 4.0 3.0 1.5 2.0 3.0 3.0 2.0 2.0 2.5

Sekolah Menengah Umum Jarak Jumlah Sekolah RataRata Negeri Swasta (km) 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 2.0 1.0 1.0 1.0 2.0 3.0 5.0 2.0 3.0 2.0 2.0 . 1.5 2.0 2.5 2.5 4.0 5.0 6.0 4.0 4.0 3.0 3.0 3.0 3.0 3.0 2.0 2.0 2.5

17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41 42 43 44 45

017 018 019 020 021 022 023 024 025 026 027 028 029 030 031 032 033 034 035 036 037 038 039 040 041 042 043 044 045

MEUNASAH KRUENG PAYA BIENG JANGKA ALUE JANGKA KEUTAPANG LAMPOH RAYEUK LHOK BUGENG LINGGONG ALUE BUYA TANOH ANOE TANJONGAN JANGKA ALUE BIE JANGKA MESJID JANGKA ALUE U PANTE PEUSANGAN BUGAK KRUENG BUGAK MESJID BUGAK KRUENG MATE BUGENG KUALA CEURAPE ALUE BAYEU UTANG ULEE CEUE ALUE KUTA PUNJOT PULO PINEUNG MNS II BUGAK BLANG PANTE SUKON PANTE PAKU PANTE RANUB ALUE BUYA PASI

Kondisi di atas, apabila dikaitkan dengan standar pelayanan minimal untuk satuan lingkungan dengan jumlah penduduk < 30.000 jiwa (lihat Lampiran), dimana Kecamatan Jangka dianggap sebagai satu lingkungan, dengan proyeksi penduduk pada tahun 2010 sebesar 25.859 jiwa, maka kebutuhan tambahan sarana pendidikan di Kec. Jangka, meliputi : 1. TK sebanyak 19 (sembilan belas) buah. 2. SLTA sebanyak 1 (satu) buah.

LAPORAN AKHIR

III - 180

BRR NAD - Nias


C.4 Sarana Kesehatan Sarana kesehatan di Kecamatan Jangka meliputi : 1. Poliklinik/Balai Pengobatan sebanyak 2 (dua) buah di Desa Bugek Krueng Mate, dan Desa Bugeng. 2. Puskesmas sebanyak 2 (dua) buah di Desa Jangka Mesjid dan Jangka Alue U, 3. Puskesmas Pembantu sebanyak 2 (dua) buah di Ds. Jangka Waktu dan Lamkuta, 4. Posyandu sebanyak 28 (dua puluh delapan) buah, 5. Polindes (Pondok Bersalin Desa) sebanyak 6 (enam) buah.
Poliklinik/ Balai Pengobatan Jarak RataJumlah Rata (km) 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 2.5 3.5 3.0 3.5 2.0 2.5 5.0 2.0 3.0 3.0 3.0 2.0 3.0 1.0 2.0 3.0 6.0 1.0 1.0 1.0 2.0 3.0 5.0 2.0 3.0 2.0 2.0 8.0 1.5 Puskesmas Jarak RataRata (km) 2.5 3.5 3.0 3.5 2.0 2.5 3.0 3.0 3.0 3.0 5.0 2.0 3.5 5.0 2.0 3.0 2.0 1.0 1.0 1.0 2.0 3.0 5.0 2.0 3.0 2.0 2.0 . . Puskemas Pembantu Jumlah 0 0 0 0 0 0 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1 0 Jarak RataRata (km) 3.5 3.5 3.0 5.0 2.0 2.5 3.0 . 1.0 2.0 2.0 1.0 1.0 1.0 1.0 4.0 1.0 2.0 1.0 1.0 4.0 5.0 8.0 2.0 6.0 4.0 2.0 . 1.5 POSYANDU Jarak RataRata (km) . . . . . . . . . . . . . 5.0 . . . . . . . . . . . . . . . Pondok Bersalin Desa Jumlah 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1 0 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 1 0 0 0 0 0 Jarak RataRata (km) 2.5 3.5 3.0 3.5 2.0 2.5 3.0 2.0 1.0 1.0 2.0 . 1.5 1.0 . 2.0 2.0 1.0 1.0 1.0 4.0 3.0 5.0 . 3.0 2.0 2.0 8.0 1.5

No

Kode 001 002 003 004 005 006 007 008 009 010 011 012 013 014 015 016 017 018 019 020 021 022 023 024 025 026 027 028 029

Nama Desa/Kel. sekarang PULO U ABEUK JALOH PULO SEUNA PULO BLANG PULO IBOH PULO REUDEUP GAMPONG MEULINTEUNG LAMKUTA RUSEB ARA LUENG RUSEB DAYAH KAMBUEK BADA TIMUR BADA BARAT BARAT LANYAN GEUNDOT MEUNASAH KRUENG PAYA BIENG JANGKA ALUE JANGKA KEUTAPANG LAMPOH RAYEUK LHOK BUGENG LINGGONG ALUE BUYA TANOH ANOE TANJONGAN JANGKA ALUE BIE JANGKA MESJID JANGKA ALUE U

Jumlah 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1 1

Jumlah 1 1 1 1 1 1 1 4 1 1 1 1 1 0 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29

LAPORAN AKHIR

III - 181

BRR NAD - Nias

No

Kode 030 031 032 033 034 035 036 037 038 039 040 041 042 043 044 045

Nama Desa/Kel. sekarang PANTE PEUSANGAN BUGAK KRUENG BUGAK MESJID BUGAK KRUENG MATE BUGENG KUALA CEURAPE ALUE BAYEU UTANG ULEE CEUE ALUE KUTA PUNJOT PULO PINEUNG MNS II BUGAK BLANG PANTE SUKON PANTE PAKU PANTE RANUB ALUE BUYA PASI

Poliklinik/ Balai Pengobatan Jarak RataJumlah Rata (km) 0 0 0 1 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 2.0 2.5 2.5 . . 3.0 2.0 2.0 3.0 3.0 1.0 3.0 3.0 1.5 2.0 2.5

Puskesmas Jarak RataRata (km) 2.0 2.5 2.5 4.0 5.0 6.0 4.0 4.0 3.0 3.0 3.0 3.0 3.0 2.0 2.0 2.5

Puskemas Pembantu Jumlah 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 Jarak RataRata (km) 2.0 2.5 8.0 5.0 1.0 4.0 3.0 3.0 4.0 3.0 2.0 3.0 3.0 4.0 3.0 2.5

POSYANDU Jarak RataRata (km) . 0.5 . . . . . . . . . . 2.0 . . .

Pondok Bersalin Desa Jumlah 1 0 0 0 0 0 0 0 1 1 0 0 0 0 0 0 Jarak RataRata (km) . 1.5 2.5 4.0 5.0 7.0 5.0 4.0 . . 10.0 3.0 2.0 1.0 1.0 2.5

Jumlah 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0

Jumlah 1 0 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 0 1 1 1

30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41 42 43 44 45

Kondisi di atas, apabila dikaitkan dengan standar pelayanan minimal untuk satuan lingkungan dengan jumlah penduduk < 30.000 jiwa (lihat Lampiran), dimana Kecamatan Jangka dianggap sebagai satu lingkungan, dengan proyeksi penduduk pada tahun 2010 sebesar 25.859 jiwa, maka kebutuhan tambahan sarana kesehatan di Kec. Jangka, meliputi : 1. Puskesmas Pembantu sebanyak 1 (satu) buah. 2. Poliklinik/Balai Pengobatan sebanyak 7 (tujuh) buah. C.4 Listrik dan Telepon Secara umum, seluruh desa di Kecamatan Jangka telah dilayani oleh prasarana listrik. Sedangkan untuk prasarana telepon, hanya 4 (empat) desa yang telah dilayani. Kondisi ini menunjukkan kebutuhan perluasan jaringan telepon yang dapat mencapai ke desa-desa yang masih belum terlayani.

LAPORAN AKHIR

III - 182

BRR NAD - Nias

Keluarga Pengguna Listrik No Kode Peta 001 002 003 004 005 006 007 008 009 010 011 012 013 014 015 016 017 018 019 020 021 022 023 024 025 026 027 028 029 030 031 032 033 034 035 036 037 038 039 040 041 042 043 044 045 Nama Desa/ Kelurahan Sekarang PULO U ABEUK JALOH PULO SEUNA PULO BLANG PULO IBOH PULO REUDEUP GAMPONG MEULINTEUNG LAMKUTA RUSEB ARA LUENG RUSEB DAYAH KAMBUEK BADA TIMUR BADA BARAT BARAT LANYAN GEUNDOT MEUNASAH KRUENG PAYA BIENG JANGKA ALUE JANGKA KEUTAPANG LAMPOH RAYEUK LHOK BUGENG LINGGONG ALUE BUYA TANOH ANOE TANJONGAN JANGKA ALUE BIE JANGKA MESJID JANGKA ALUE U PANTE PEUSANGAN BUGAK KRUENG BUGAK MESJID BUGAK KRUENG MATE BUGENG KUALA CEURAPE ALUE BAYEU UTANG ULEE CEUE ALUE KUTA PUNJOT PULO PINEUNG MNS II BUGAK BLANG PANTE SUKON PANTE PAKU PANTE RANUB ALUE BUYA PASI Ketersediaan Listrik PLN Ada Ada Ada Ada Ada Ada Ada Ada Ada Ada Ada Ada Ada Ada Ada Ada Ada Ada Ada Ada Ada Ada Ada Ada Ada Ada Ada Ada Ada Ada Ada Ada Ada Ada Ada Ada Ada Ada Ada Ada Ada Ada Ada Ada Ada 50 78 60 89 63 126 55 40 95 72 150 56 74 49 70 70 40 108 115 140 98 60 150 60 74 98 96 200 275 45 150 120 140 39 100 22 120 97 170 100 40 60 80 62 110 0 0 0 0 0 0 0 2 0 0 0 0 0 0 0 0 15 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 Jumlah Non PLN Persentase (%) PLN 63.3 86.7 82.2 89.9 86.3 90.0 91.7 66.7 85.6 64.9 100.0 93.3 88.1 79.0 87.5 93.3 63.5 87.8 92.0 88.6 100.0 39.0 98.7 58.8 94.9 68.5 51.6 99.5 98.9 59.2 89.8 82.8 74.5 83.0 78.1 52.4 97.6 73.5 83.7 87.7 78.4 77.9 50.6 42.2 98.2 0.0 0.0 0.0 0.0 0.0 0.0 0.0 1.8 0.0 0.0 0.0 0.0 0.0 0.0 0.0 0.0 12.2 0.0 0.0 0.0 0.0 0.0 0.0 0.0 0.0 0.0 0.0 0.0 0.0 0.0 0.0 0.0 0.0 0.0 0.0 0.0 0.0 0.0 0.0 0.0 0.0 0.0 0.0 0.0 Non PLN

Keluarga Berlangganan Telepon Jumlah 0 0 0 5 0 0 0 3 0 2 0 0 0 0 0 8 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 Persentase (%) 0.0 0.0 0.0 5.1 0.0 0.0 0.0 5.0 0.0 1.8 0.0 0.0 0.0 0.0 0.0 10.7 0.0 0.0 0.0 0.0 0.0 0.0 0.0 0.0 0.0 0.0 0.0 0.0 0.0 0.0 0.0 0.0 0.0 0.0 0.0 0.0 0.0 0.0 0.0 0.0 0.0 0.0 0.0 0.0 0.0

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41 42 43 44 45

LAPORAN AKHIR

III - 183

BRR NAD - Nias

3.11.2 RENCANA TINDAK (ACTION PLAN) KECAMATAN JANGKA Rencana Tindak (Action Plan) di Kecamatan Jangka disusun berdasarkan 5 (lima) rangkaian kegiatan yang telah dijelaskan pada sub bab 3.2. Sebagaimana juga telah dijelaskan pada sub bab 3.2, pelaksanaan sosialisasi melalui FGD di kecamatan Jangka tidak dapat dilaksanakan, sehingga dalam hal ini dilaksanakan survai wawancara (kuestioner) kepada masyarakat setempat sebagai bahan validitas terhadap draft rencana tindak (action plan) yang disusun konsultan dan telah dipadukan dengan bahan usulan program dari hasil pelaksanaan penjaringan aspirasi masyarakat melaui Forum FGD (Focus Group Discussion) yang dilakukan oleh Pemda Kabupaten Bireuen bekerjasama dengan Lembaga NGO dari Perancis pada tahun 2005. Hasil suvai wawancara (kuestioner) kepada masyarakat di 9 (sembilan) kecamatan prioritas (termasuk Kecamatan Jangka) juga telah dijelaskan pada sub bab 3.2. Melalui 5 (lima) rangkaian kegiatan di atas, dan hasil pelaksanaan suvai wawancara (kuestioner) kepada masyarakat selanjutnya disusun dan ditetapkan Rencana Tindak (Action Plan) di Kecamatan Jangka Tahun 2007 sampai Tahun 2009 seperti disajikan pada Tabel dan gambar pada halaman berikut. 3.11.3 DESA PRIORITAS DI KECAMATAN JANGKA Dengan mengacu pada proses dan metode penetapan desa prioritas yang telah dijelaskan pada sub bab 3.2, maka dipilih dan ditetapkan desa prioritas untuk Village Planning di Kecamatan Jangka seperti disajikan pada tabel berikut. Desa Prioritas di Kecamatan Jangka
Urutan Prioritas 40 38 30 29 28 27 27 25 1 2 3 4 5 6 6 7

No 2 4 11 14 18 21 22 28

Kode 9 31 11 28 27 13 24 7

Nama Desa/Kel. sekarang RUSEB ARA BUGAK KRUENG RUSEB DAYAH JANGKA MESJID JANGKA ALUE BIE BADA TIMUR ALUE BUYA GMP.MEULINTEUNG

Kecamatan Jangka Jangka Jangka Jangka Jangka Jangka Jangka Jangka

Nilai

LAPORAN AKHIR

III - 184

BRR NAD - Nias

No 29 30 32 41 42 43 45 46 49 52 53 55 60 62 63 64 66 67 68 69 70 77 82 84 86 89 90 91 104 105 110 111 118 119 128 131 134

Kode 16 33 43 41 42 44 8 20 18 37 38 39 10 29 32 45 14 22 23 34 36 12 25 35 40 15 17 19 26 30 3 4 1 2 6 21 5

Nama Desa/Kel. sekarang GEUNDOT BUGAK KRUENG MATE PANTE PAKU BUGAK BLANG PANTE SUKON PANTE RANUB LAMKUTA JANGKA KEUTAPANG PAYA BIENG ULEE CEUE ALUE KUTA PUNJOT LUENG JANGKA ALUE U BUGAK MESJID ALUE BUYA PASI BADA BARAT LHOK BUGENG LINGGONG BUGENG ALUE BAYEU UTANG KAMBUEK TANOH ANOE KUALA CEURAPE P. PINEUNG MNS II BARAT LANYAN MEUNASAH KRUENG JANGKA ALUE TANJONGAN PANTE PEUSANGAN PULO SEUNA PULO BLANG PULO U ABEUK JALOH PULO REUDEUP LAMPOH RAYEUK PULO IBOH

Kecamatan Jangka Jangka Jangka Jangka Jangka Jangka Jangka Jangka Jangka Jangka Jangka Jangka Jangka Jangka Jangka Jangka Jangka Jangka Jangka Jangka Jangka Jangka Jangka Jangka Jangka Jangka Jangka Jangka Jangka Jangka Jangka Jangka Jangka Jangka Jangka Jangka Jangka

Nilai 25 25 25 24 24 24 23 23 22 22 22 22 21 21 21 21 20 20 20 20 20 19 19 19 19 18 18 18 17 17 16 16 15 15 13 12 11

Urutan Prioritas 7 7 7 8 8 8 9 9 10 10 10 10 11 11 11 11 12 12 12 12 12 13 13 13 13 14 14 14 15 15 16 16 17 17 17 18 19

LAPORAN AKHIR

III - 185

BRR NAD - Nias

LAPORAN AKHIR

III - 186

BRR NAD - Nias

LAPORAN AKHIR

III - 187

BRR NAD - Nias

LAPORAN AKHIR

III - 188

BRR NAD - Nias

LAPORAN AKHIR

III - 189

BRR NAD - Nias

LAPORAN AKHIR

III - 190

BRR NAD - Nias

3.12 KECAMATAN GANDAPURA


3.12.1 IDENTIFIKASI KONDISI DAN PERMASALAHAN YANG ADA A. FISIK DAN LINGKUNGAN A.1 Morfologi Sebagian berupa topografi desa-desa pantai yang meliputi : Ie Rhob, Alue Mangki, Lapang Barat, Mon Keulayu, Desa berupa punggung bukit yaitu Paya Reuhat, dan Desa dengan morfologi dataran meliputi Lingka Kuta, Blang Keude, Cot Mane, Lhok Mambang, Teupin Siron, Samuti Krueng, Samuti Makmur dan Samuti Aman. A.2 Jenis Tanah Jenis tanah di Kec. Gandapaura adalah relatif sama dengan yang ada di Kec. Jangka. A.3 Kedalaman Efektif Tanah Kedalaman efektif tanah di Kec. Gandapura, sebagian besar (62,14 %) memiliki kedalaman efektif > 90 cm, dan sebagian kecil (37,86 %) memiliki kedalaman efektif tanah antara 60 90 cm. A.4 Sumber Daya Air Sumber Daya Air Permukaan di kecamatan Gandapura meliputi Sumber Daya Air Krueng / Sungai, Rawa/paya, diantaranya Geurogoh 15 Ha dan Paya Nie 150 Ha. A.5 Daerah Rawan Banjir Daerah Wilayah Kecamatan Gandapura yang terpotensi rawan banjir adalah daerah Pesisir yang relatip datar 0 -5 meter di atas permukaan air laut .meliputi daerah sekitar muara sungai kuala Abu dan Kuala Bugeng yang kondisinya pendangkalan akibat Bottel Neck di bagian hilir ( muara ) . mengalami sedimentasi dan akresi yang menimbulkan penyempitan Sungai Mane 250 Ha, Paya/ Rawa

LAPORAN AKHIR

III - 191

BRR NAD - Nias


A.5 Daerah Rawan Gempa Daerah Wilayah Kecamatan Gandapura berpotensi mengalami bencana kegempaan di tinjau dari tatanan struktur geologi tektonik regional pulau Sumatra yang sewaktu-waktu dapat menimbulkan gempa tektonik dengan skala 6-7 reichter, patahan patahan tersebut. Salah satunya dapat dijumpai di krueng Peusangan. A.7 Daerah Rawan Tsunami Daerah pesisir yang terpotensi rawan tsunami meliputi desa-desa pantai yang

beresiko rusak berat yaitu Desa Ie Rhop dan Desa Pantai yang beresiko sedang yaitu Desa Moen Keulayu, Cot Mane, Lapang Barat, Alue Mangki, dan juga desa tambak meliputi Samuti Aman, Samuti Makmur, Samuti Krueng, Lhok Mambang, Blang Kaude, Linka Kuta, Teupin Siron. Faktor penyebab di sepanjang pesisir desa-desa pantai tidak terdapat zona penyanggah (buffer zone) hutan mangrove yang mampu menahan laju gelombang tsunami secara alamiah serta kedalaman toporafi daerah perairan pantai Gandapura 20 60 meter yang juga berpengaruh terhadap laju kecepatan rambat gelombang C = L/T terhadap kedalaman laut d/L dan semakin ke darat cepat rambat gelombang semakin melemah ( Refraksi Gelombang ), di tinjau dari letak geografis daerah pesisir pantai sebelah barat Gandapura yaitu di kecamatan Kuta Blang terdapat tanah timbul sehingga gelombang tsunami mengalami Difrasksi ke arah timur yang bertemu dengan gelombang tsunami dari arah barat laut sehingga menerjang desa desa pesisir bagian timur gandapura. A.8 Kelautan dan Lingkungan Pesisir Morfologi Daerah Pesisir Penggunaan lahan dan kenampakan yang ada adalah Pemukiman Penduduk, Pertambakan, Kebun Kelapa dan Sawah. Dengan panjang garis pantai 7 km. Potensi Sumber Daya Hayati Perikanan Tangkap, Budidaya Perikanan Tambak seluas 492 Ha, Ekosistim Estuaria muara sungai ( Kuala Lapang, Kuala Monkarayu, Kuala Abu, Kuala Bugeng ), Ekosistim Padang Lamun dan Ekosistim Pantai Pasir.

LAPORAN AKHIR

III - 192

BRR NAD - Nias


Permasalahan Kelautan dan Lingkungan Pesisir Abrasi di sepanjang Pesisir pantai, Akresi di muara sungai ( Kuala Abu dan Bugeng ), Kerusakan Hutan Mangrove. Analisis Penanganan dan Pengembangan Berdasarkan permasalahan kelautan dan lingkungan pesisir yang ada di Kec. Gandapura, maka beberapa bentuk penanganan dan pengembangan yang diperlukan adalah sebagai berikut : 1. Ekosistim Hutan Mangrove ( Bakau ) Mereboisasai Kawasan pantai dengan menanam kembali tanaman bakau (mangrove) di desa Mon Keulayu, Cot Mane, Lapang Barat, Alue Mangki, Ie Rhop. Penanganan lainnya adalah sama dengan yang telah dijelaskan untuk kecamatan Samalanga. 2. Ekosistim Estuaria, Padang Lamun, Pasir Pantai dan Perikanan Tambak. Sama dengan yang telah dijelaskan untuk kecamatan Samalanga. 3. Abrasi a. Penanggulangan abrasi pantai secara alamiah dengan memanfaatkan sumber daya ekosistim hutan mangrove ( Vegetasi ) dan Reboisasi di desa pantai Mon Keulayu, Cot Mane, Lapang Barat, Alue Mangki dan desa Ie Rhop b. Penanggulangan abrasi pantai dengan sistim Proteksi Bangunan Pantai

( Coastal Engineering ) yaitu Sea Wall, Bulkhealt dan Revetment, dengan mengutamakan dan memanfaatkan batuan yang banyak tersebar di kabupaten bireuen di desa pantai Mon Keulayu, Cot Mane, Lapang Barat, Alue Mangki dan desa Ie Rhop. 4. Akresi Sama dengan yang telah dijelaskan untuk kecamatan Samalanga

LAPORAN AKHIR

III - 193

BRR NAD - Nias

B. SOSIAL EKONOMI B.1 Jumlah Penduduk dan KK Jumlah penduduk dan Kepala Keluarga (KK) pada seluruh desa yang ada di Kecamatan Gandapura pada tahun 2005 adalah 19.321 jiwa dan 4.373 KK, dengan jumlah penduduk dan KK terbesar adalah di Desa Mon Keulayu sebanyak 1.297 jiwa dan 386 KK, serta terkecil di desa Ie Rhob sebanyak 93 jiwa dan 26 KK.
No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 Kode Peta 005 006 007 008 009 014 015 016 017 018 019 020 021 022 023 024 025 039 040 041 042 043 044 045 046 047 057 058 059 060 061 062 Nama Desa PALOH KAYEE KUNYET TANJONG RAYA PAYA SEUPAT PAYA KAREUNG BLANG KUBU PAYA BARO TANJONG MESJID MON JEUREUJAK DAMA KAWAN COT RAMBAT BLANG GURON COT TEUBEE TANJONG BUNGONG PULO GISA UJONG BAYU COT TUPAH COT TUNONG COT PUUK PALOH ME GEURUGOK COT JABET PANTE SIKEUMBONG CEUBO KEUDE LAPANG BLANG KEUDE COT MANE LHOK MAMBANG LAPANG TIMUR TEUPIN SIRON IE RHOB ALUE MANGKI LINGKA KUTA Jumlah Penduduk Laki-Laki 58 92 121 55 126 46 82 45 154 93 251 155 65 99 135 523 312 474 158 437 269 116 120 571 244 256 350 303 309 95 310 350 Wanita 84 138 134 77 136 68 94 48 181 95 281 156 80 117 146 532 383 546 170 463 295 152 135 604 286 284 383 346 351 79 333 379 Total 142 230 255 132 262 114 176 93 335 188 532 311 145 216 281 1,055 695 1,020 328 900 564 268 255 1,175 530 540 733 649 660 174 643 729 Jumlah Keluarga 30 49 58 32 65 26 40 26 86 53 116 73 35 50 68 241 144 200 75 183 121 65 60 250 127 101 163 131 154 37 137 160

LAPORAN AKHIR

III - 194

BRR NAD - Nias

No 33 34 35 36 37 38

Kode Peta 063 064 065 066 076 077

Nama Desa LAPANG BARAT SAMUTI KRUENG SAMUTI MAKMUR SAMUTI RAYEUK SAMUTI AMAN MON KEULAYU

Jumlah Penduduk Laki-Laki 273 439 405 290 376 932 Wanita 290 458 441 324 398 365 Total 563 897 846 614 774 1,297

Jumlah Keluarga 145 193 195 128 170 386

B.2 Pertumbuhan Penduduk dan Proyeksi Penduduk Tahun 2010 Adapun pertumbuhan penduduk pada desa-desa di Kec. Gandapura dari tahun 20032005 sebagian menunjukkan angka pertumbuhan negatif, berkisar antara -0,18 sampai -20,15 %. Hal ini kemungkinan disebabkan dampak tsunami yang cukup parah di Kecamatan Gandapura. Berdasarkan angka pertumbuhan yang ada, selanjutnya diproyeksikan jumlah penduduk di desa-desa Kec. Gandapura pada tahun 2010, total sebesar 20.917 jiwa, dengan rincian jumlah penduduk tiap desa disajikan pada tabel berikut.
Status Desa/Kota Desa Desa Desa Desa Desa Desa Desa Desa Desa Desa Desa Desa Desa Desa Desa Desa Desa Desa Desa Desa Luas Wilayah (Ha) 120.54 114.34 148.24 74.93 97.90 48.79 86.82 48.12 45.34 99.20 49.93 111.02 61.71 28.99 131.21 60.54 70.01 199.24 38.26 54.34 Jml. Penduduk Tahun 2003 (Jiwa) 187 212 272 151 267 140 276 137 344 169 509 270 177 204 301 1,007 627 942 341 924 Jml. Penduduk Tahun 2005 (Jiwa) 142 230 255 132 262 114 176 93 335 188 532 311 145 216 281 1,055 695 1,020 328 900 Proyeksi Penduduk Tahun 2010 (Jiwa) 154 249 276 143 284 123 191 101 363 204 576 337 157 234 304 1,142 752 1,104 355 974

No. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20

Kode 005 006 007 008 009 014 015 016 017 018 019 020 021 022 023 024 025 039 040 041

Nama Desa/ Kel. sekarang PALOH KAYEE KUNYET TANJONG RAYA PAYA SEUPAT PAYA KAREUNG BLANG KUBU PAYA BARO TANJONG MESJID MON JEUREUJAK DAMA KAWAN COT RAMBAT BLANG GURON COT TEUBEE TANJONG BUNGONG PULO GISA UJONG BAYU COT TUPAH COT TUNONG COT PUUK PALOH ME GEURUGOK

LAPORAN AKHIR

III - 195

BRR NAD - Nias

No. 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38

Kode 042 043 044 045 046 047 057 058 059 060 061 062 063 064 065 066 076 077

Nama Desa/ Kel. sekarang COT JABET PANTE SIKEUMBONG CEUBO KEUDE LAPANG BLANG KEUDE COT MANE LHOK MAMBANG LAPANG TIMUR TEUPIN SIRON IE RHOB ALUE MANGKI LINGKA KUTA LAPANG BARAT SAMUTI KRUENG SAMUTI MAKMUR SAMUTI RAYEUK SAMUTI AMAN MON KEULAYU TOTAL

Status Desa/Kota Desa Desa Desa Desa Desa Desa Desa Desa Desa Desa Desa Desa Desa Desa Desa Desa Desa Desa

Luas Wilayah (Ha) 91.22 100.70 105.89 98.94 102.49 112.06 113.57 90.02 89.38 620.34 991.04 497.46 430.45 810.18 149.32 61.42 55.54 812.17 7,021.64

Jml. Penduduk Tahun 2003 (Jiwa) 482 286 296 1,064 552 521 663 515 614 180 596 678 609 834 849 597 764 1,667 19,224

Jml. Penduduk Tahun 2005 (Jiwa) 564 268 255 1,175 530 540 733 649 660 174 643 729 563 897 846 614 774 1,297 19,321

Proyeksi Penduduk Tahun 2010 (Jiwa) 611 290 276 1,272 574 585 794 703 715 188 696 789 610 971 916 665 838 1,404 20,917

B.3 Mata Pencaharian Penduduk dan Jumah KK Miskin Hampir seluruh desa yang ada di Kecamatan Gandapura memiliki mata pencaharian utama pada sektor pertanian tanaman pangan, dan perkebunan. Adapun jumlah Kepala Keluarga (KK) Miskin adalah 2.974 KK atau 68 % dari total jumlah KK di kec. Gandapura, dengan jumlah KK Miskin terbesar terdapat di desa Mon Keulayu, yakni sebanyak 280 KK atau 72,5 % dari jumlah KK yang ada di desa ini. Sebagian besar desa (32 desa) yang ada di Kec. Gandapura memiliki persentase jumlah KK miskin di atas 50 %. Kondisi ini dapat digunakan sebagai indikator kebutuhan penanganan masalah kemiskinan di Kec. Gandapura.
Kode Peta 005 006 007 008 009 Keluarga di Sektor Pertanian Jumlah Persentase 30 48 57 32 59 99 98 99 99 90 Sumber Penghasilan Utama Pertanian Pertanian Pertanian Pertanian Pertanian

No 1 2 3 4 5

Nama Desa PALOH KAYEE KUNYET TANJONG RAYA PAYA SEUPAT PAYA KAREUNG BLANG KUBU

Keluarga Miskin Jumlah Persentase 29 20 40 27 59 96.7 40.8 69.0 84.4 90.8

Sub Sektor Pertanian Tanaman Pangan Tanaman Pangan Tanaman Pangan Tanaman Pangan Tanaman Pangan

Buruh Tani Jumlah Presentase 20 80 40 50 111 14.2 35.5 15.8 38.3 47.1

LAPORAN AKHIR

III - 196

BRR NAD - Nias

No 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38

Kode Peta 014 015 016 017 018 019 020 021 022 023 024 025 039 040 041 042 043 044 045 046 047 057 058 059 060 061 062 063 064 065 066 076 077

Nama Desa PAYA BARO TANJONG MESJID MON JEUREUJAK DAMA KAWAN COT RAMBAT BLANG GURON COT TEUBEE TANJONG BUNGONG PULO GISA UJONG BAYU COT TUPAH COT TUNONG COT PUUK PALOH ME GEURUGOK COT JABET PANTE SIKEUMBONG CEUBO KEUDE LAPANG BLANG KEUDE COT MANE LHOK MAMBANG LAPANG TIMUR TEUPIN SIRON IE RHOB ALUE MANGKI LINGKA KUTA LAPANG BARAT SAMUTI KRUENG SAMUTI MAKMUR SAMUTI RAYEUK SAMUTI AMAN MON KEULAYU

Keluarga di Sektor Pertanian Jumlah Persentase 26 40 26 82 52 93 33 32 50 67 205 122 160 68 146 109 59 59 75 76 71 130 92 139 37 110 96 102 154 156 122 153 347 99 99 99 95 98 80 45 90 99 99 85 85 80 90 80 90 90 99 30 60 70 80 70 90 99 80 60 70 80 80 95 90 90

Keluarga Miskin Jumlah Persentase 20 32 26 69 46 92 55 30 43 30 181 110 150 30 127 90 60 50 125 65 60 110 73 103 37 60 121 145 108 87 84 100 280 76.9 80.0 100.0 80.2 86.8 79.3 75.3 85.7 86.0 44.1 75.1 76.4 75.0 40.0 69.4 74.4 92.3 83.3 50.0 51.2 59.4 67.5 55.7 66.9 100.0 43.8 75.6 100.0 56.0 44.6 65.6 58.8 72.5

Sumber Penghasilan Utama Pertanian Pertanian Pertanian Pertanian Pertanian Pertanian Pertanian Pertanian Pertanian Pertanian Pertanian Pertanian Pertanian Pertanian Pertanian Pertanian Pertanian Pertanian Pertanian Pertanian Pertanian Pertanian Pertanian Pertanian Pertanian Pertanian Pertanian Pertanian Pertanian Pertanian Pertanian Pertanian Pertanian

Sub Sektor Pertanian Tanaman Pangan Tanaman Pangan Tanaman Pangan Tanaman Pangan Tanaman Pangan Tanaman Pangan Tanaman Pangan Tanaman Pangan Tanaman Pangan Tanaman Pangan Tanaman Pangan Tanaman Pangan Tanaman Pangan Tanaman Pangan Tanaman Pangan Tanaman Pangan Tanaman Pangan Tanaman Pangan Tanaman Pangan Tanaman Pangan Perkebunan Tanaman Pangan Tanaman Pangan Tanaman Pangan Tanaman Pangan Tanaman Pangan Tanaman Pangan Tanaman Pangan Tanaman Pangan Perkebunan Tanaman Pangan Tanaman Pangan Tanaman Pangan

Buruh Tani Jumlah Presentase 30 32 80 150 75 150 95 90 126 50 600 160 300 55 120 110 40 35 100 200 55 80 50 80 30 25 100 103 268 150 150 280 300 26.6 18.4 86.9 47.1 40.7 35.2 67.9 69.0 58.9 18.0 66.9 27.1 36.8 18.6 16.7 21.7 16.6 13.9 28.4 62.9 14.6 13.6 11.0 13.5 17.4 4.9 22.9 26.1 37.3 22.2 25.7 40.2 25.7

C. PRASARANA DAN SARANA C.1 Transportasi Secara umum, seluruh desa yang ada di Kecamatan Gandapura dihubungkan oleh prasarana jaringan jalan dengan tipe perkerasan aspal/beton, sirtu, dan tanah, dan seluruh desa telah dapat dijangkau oleh kendaraan roda-4. Kondisi ini menunjukkan bahwa secara kuantitas, seluruh desa prioritas yang ada di Kec. Gandapura telah III - 197

LAPORAN AKHIR

BRR NAD - Nias


cukup terlayani oleh prasarana jaringan jalan yang ada, hanya dari segi kualitasnya saja perlu ditingkatkan khususnya untuk jalan-jalan dengan jenis permukaan tanah menjadi minimal jenis Sirtu (Pasir Batu), sehingga dapat dilalui oleh kendaraan roda-4 di musim hujan. Adapun sarana angkutan umum ke desa-desa di Kec. Gandapura adalah ojek (sepeda motor). Untuk lebih jelasnya lihat tabel berikut :
Sebagian Besar Cara Lalu Lintas Antar Desa Darat Darat Darat Darat Darat Darat Darat Darat Darat Darat Darat Darat Darat Darat Darat Darat Darat Darat Darat Darat Darat Darat Darat Darat Darat Darat Darat Darat Darat Darat Darat Darat Dapat Dijangkau Kendaraan Roda 4/ Lebih Sepanjang Tahun Ya Ya Ya Ya Ya Ya Ya Ya Ya Ya Ya Ya Ya Ya Ya Ya Ya Ya Ya Ya Ya Ya Ya Ya Ya Ya Ya Ya Ya Ya Ya Ya

No

Kode Peta 005 006 007 008 009 014 015 016 017 018 019 020 021 022 023 024 025 039 040 041 042 043 044 045 046 047 057 058 059 060 061 062

Nama Desa

Jenis Permukaan Jalan Yang Terluas (jika darat) Tanah Tanah Diperkeras(kerikil,batu,dsb) Diperkeras(kerikil,batu,dsb) Diperkeras(kerikil,batu,dsb) Tanah Diperkeras(kerikil,batu,dsb) Diperkeras(kerikil,batu,dsb) Aspal/Beton Tanah Tanah Diperkeras(kerikil,batu,dsb) Diperkeras(kerikil,batu,dsb) Diperkeras(kerikil,batu,dsb) Tanah Aspal/Beton Aspal/Beton Aspal/Beton Tanah Aspal/Beton Diperkeras(kerikil,batu,dsb) Aspal/Beton Tanah Aspal/Beton Aspal/Beton Diperkeras(kerikil,batu,dsb) Aspal/Beton Diperkeras(kerikil,batu,dsb) Aspal/Beton Tanah Tanah Tanah

Tipe Angkutan Umum Utama Ojek Sepeda Motor Ojek Sepeda Motor Ojek Sepeda Motor Ojek Sepeda Motor Ojek Sepeda Motor Ojek Sepeda Motor Ojek Sepeda Motor Ojek Sepeda Motor Ojek Sepeda Motor Ojek Sepeda Motor Ojek Sepeda Motor Ojek Sepeda Motor Ojek Sepeda Motor Ojek Sepeda Motor Ojek Sepeda Motor Ojek Sepeda Motor Ojek Sepeda Motor Ojek Sepeda Motor Ojek Sepeda Motor Ojek Sepeda Motor Ojek Sepeda Motor Ojek Sepeda Motor Ojek Sepeda Motor Ojek Sepeda Motor Ojek Sepeda Motor Ojek Sepeda Motor Ojek Sepeda Motor Ojek Sepeda Motor Ojek Sepeda Motor Ojek Sepeda Motor Ojek Sepeda Motor Ojek Sepeda Motor

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32

PALOH KAYEE KUNYET TANJONG RAYA PAYA SEUPAT PAYA KAREUNG BLANG KUBU PAYA BARO TANJONG MESJID MON JEUREUJAK DAMA KAWAN COT RAMBAT BLANG GURON COT TEUBEE TANJONG BUNGONG PULO GISA UJONG BAYU COT TUPAH COT TUNONG COT PUUK PALOH ME GEURUGOK COT JABET PANTE SIKEUMBONG CEUBO KEUDE LAPANG BLANG KEUDE COT MANE LHOK MAMBANG LAPANG TIMUR TEUPIN SIRON IE RHOB ALUE MANGKI LINGKA KUTA

LAPORAN AKHIR

III - 198

BRR NAD - Nias

No

Kode Peta 063 064 065 066 076 077

Nama Desa

Sebagian Besar Cara Lalu Lintas Antar Desa Darat Darat Darat Darat Darat Darat

Jenis Permukaan Jalan Yang Terluas (jika darat) Diperkeras(kerikil,batu,dsb) Aspal/Beton Aspal/Beton Diperkeras(kerikil,batu,dsb) Diperkeras(kerikil,batu,dsb) Tanah

Dapat Dijangkau Kendaraan Roda 4/ Lebih Sepanjang Tahun Ya Ya Ya Ya Ya Ya

Tipe Angkutan Umum Utama Ojek Sepeda Motor Ojek Sepeda Motor Ojek Sepeda Motor Ojek Sepeda Motor Ojek Sepeda Motor Ojek Sepeda Motor

33 34 35 36 37 38

LAPANG BARAT SAMUTI KRUENG SAMUTI MAKMUR SAMUTI RAYEUK SAMUTI AMAN MON KEULAYU

C.2 Prasarana Air Bersih, Air Limbah dan Sampah Seluruh desa yang ada di Kec. Gandapura menggunakan sumur sebagai sumber air bersih. Secara umum, kondisi ini telah memenuhi standar pelayanan minimal prasarana air bersih yang ada. Untuk prasarana dan sarana sanitasi, sebagian besar desa menggunakan jamban sendiri, 2 (dua) desa meggunakan jamban umum, dan terdapat 14 (empat belas) desa menggunakan sarana bukan jamban. Secara umum, kondisi ini menunjukkan diperlukannya penyediaan sarana jamban umum di 14 desa tersebut. Untuk pengolahan sampah, hampir seluruh desa menggunakan cara dibuang di lubang dan dibakar. Secara umum, kondisi ini telah memenuhi standar pelayanan minimal pengelolaan sampah yang ada untuk kawasan permukiman perdesaan.
No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 Kode Peta 005 006 007 008 009 014 015 016 017 018 019 020 021 022 023 Nama Desa PALOH KAYEE KUNYET TANJONG RAYA PAYA SEUPAT PAYA KAREUNG BLANG KUBU PAYA BARO TANJONG MESJID MON JEUREUJAK DAMA KAWAN COT RAMBAT BLANG GURON COT TEUBEE TANJONG BUNGONG PULO GISA UJONG BAYU Sumber Air Minum Sumur Sumur Sumur Sumur Sumur Sumur Sumur Sumur Sumur Sumur Sumur Sumur Sumur Sumur Sumur Harus Membeli Air Minum Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak Tempat Buang Air Besar Bukan Jamban Bukan Jamban Jamban Umum Jamban Bersama Bukan Jamban Bukan Jamban Bukan Jamban Jamban Sendiri Bukan Jamban Bukan Jamban Jamban Sendiri Bukan Jamban Bukan Jamban Bukan Jamban Jamban Sendiri Cara Membuang Sampah Lobang/Dibakar Lobang/Dibakar Lobang/Dibakar Lobang/Dibakar Lobang/Dibakar Lobang/Dibakar Lobang/Dibakar Lobang/Dibakar Lobang/Dibakar Lobang/Dibakar Lobang/Dibakar Lobang/Dibakar Lobang/Dibakar Lobang/Dibakar Lobang/Dibakar

LAPORAN AKHIR

III - 199

BRR NAD - Nias

No 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38

Kode Peta 024 025 039 040 041 042 043 044 045 046 047 057 058 059 060 061 062 063 064 065 066 076 077

Nama Desa COT TUPAH COT TUNONG COT PUUK PALOH ME GEURUGOK COT JABET PANTE SIKEUMBONG CEUBO KEUDE LAPANG BLANG KEUDE COT MANE LHOK MAMBANG LAPANG TIMUR TEUPIN SIRON IE RHOB ALUE MANGKI LINGKA KUTA LAPANG BARAT SAMUTI KRUENG SAMUTI MAKMUR SAMUTI RAYEUK SAMUTI AMAN MON KEULAYU

Sumber Air Minum Sumur Sumur Sumur Sumur Sumur Sumur Sumur Sumur Sumur Sumur Sumur Sumur Sumur Sumur Sumur Sumur Sumur Sumur Sumur Sumur Sumur Sumur Sumur

Harus Membeli Air Minum Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak Ada Tidak Tidak Ada Tidak Ada Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak

Tempat Buang Air Besar Jamban Sendiri Jamban Sendiri Jamban Sendiri Bukan Jamban Jamban Sendiri Jamban Sendiri Bukan Jamban Bukan Jamban Jamban Sendiri Jamban Sendiri Jamban Sendiri Jamban Sendiri Jamban Sendiri Jamban Sendiri Jamban Umum Bukan Jamban Jamban Sendiri Jamban Sendiri Jamban Sendiri Jamban Sendiri Jamban Sendiri Jamban Sendiri Jamban Sendiri

Cara Membuang Sampah Lobang/Dibakar Lobang/Dibakar Lobang/Dibakar Lobang/Dibakar Lobang/Dibakar Lobang/Dibakar Lobang/Dibakar Lobang/Dibakar Diangkut Lobang/Dibakar Lobang/Dibakar Lobang/Dibakar Lobang/Dibakar Lobang/Dibakar Lobang/Dibakar Lobang/Dibakar Lobang/Dibakar Lobang/Dibakar Lobang/Dibakar Lobang/Dibakar Lobang/Dibakar Lobang/Dibakar Lobang/Dibakar

C.3 Sarana Pendidikan Sarana pendidikan di kawasan perencanaan Kecamatan Gandapura meliputi : 1. TK Swasta sebanyak 6 (enam) buah, dengan jangkauan pelayanan ke desa terjauh (Desa Tanjong Raya dan Paya Seupat) adalah 6 Km, 2. SD Negeri sebanyak 15 (lima belas) buah, dengan jangkaun pelayanan ke desa terjauh (Desa Paya Seupat) adalah 6 Km, 3. SMP Negeri sebanyak 3 (tiga) buah, dengan jangkauan pelayanan ke desa terjauh (Desa Blang Kubu) adalah 7,5 Km. 4. SMU Negeri sebanyak 2 (dua) buah, dengan jangkauan pelayanan ke desa terjauh (Desa Paya Seupat) adalah 36 Km.

LAPORAN AKHIR

III - 200

BRR NAD - Nias

Kode No Peta Nama Desa

Taman Kanak-Kanak Jarak Jumlah Sekolah RataRata Negeri Swasta (km) 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1 1 0 0 0 0 0 1 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1 1 1 1 2 3 1 1 1 1 1 1 1 1.5 1 2.5 2 2 5 6 6 4 2 1 5 4 5 4.1 4 2 3 4.2 2 2

Sekolah Dasar Jumlah Sekolah Negeri 0 0 0 0 0 0 1 0 1 0 1 1 0 0 0 0 1 0 0 1 0 0 0 2 1 0 0 0 1 0 0 1 0 1 1 1 0 1 Swasta 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 Jarak RataRata (km) 3.0 3.0 6.0 1.0 2.5 0.5 . 2.0 . 2.0 . . 0.5 4.1 2.0 2.0 . 1.5 1.5 . 1.0 1.0 1.0 . . 1.5 0.5 0.5 . 1.0 0.5 . 0.5 . . . 1.5 .

Sekolah Menengah Pertama Jarak Jumlah Sekolah RataRata Negeri Swasta (km) 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 8.0 4.0 6.0 4.0 7.5 5.0 6.0 4.0 5.0 6.0 4.0 2.0 3.0 4.0 2.0 3.0 4.0 1.5 2.0 1.0 2.5 2.0 3.0 . . 5.0 1.0 1.0 2.0 3.0 1.0 1.0 1.0 1.0 . 1.0 1.5 3.8

Sekolah Menengah Umum Jarak Jumlah Sekolah RataRata Negeri Swasta (km) 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1 0 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 8.5 6.5 36.0 4.0 8.0 6.0 6.5 4.5 5.0 12.5 4.5 2.0 4.0 4.5 4.0 6.0 5.0 2.5 30.0 1.0 3.0 2.5 2.0 1.0 . 12.0 1.0 . 1.0 23.0 1.0 1.0 1.5 1.0 3.0 4.0 2.5 10.0

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38

005 006 007 008 009 014 015 016 017 018 019 020 021 022 023 024 025 039 040 041 042 043 044 045 046 047 057 058 059 060 061 062 063 064 065 066 076 077

PALOH KAYEE KUNYET TANJONG RAYA PAYA SEUPAT PAYA KAREUNG BLANG KUBU PAYA BARO TANJONG MESJID MON JEUREUJAK DAMA KAWAN COT RAMBAT BLANG GURON COT TEUBEE TANJONG BUNGONG PULO GISA UJONG BAYU COT TUPAH COT TUNONG COT PUUK PALOH ME GEURUGOK COT JABET PANTE SIKEUMBONG CEUBO KEUDE LAPANG BLANG KEUDE COT MANE LHOK MAMBANG LAPANG TIMUR TEUPIN SIRON IE RHOB ALUE MANGKI LINGKA KUTA LAPANG BARAT SAMUTI KRUENG SAMUTI MAKMUR SAMUTI RAYEUK SAMUTI AMAN MON KEULAYU

Kondisi di atas, apabila dikaitkan dengan standar pelayanan minimal untuk satuan lingkungan dengan jumlah penduduk < 30.000 jiwa (lihat Lampiran), dimana III - 201

LAPORAN AKHIR

BRR NAD - Nias


Kecamatan Gandapura dianggap sebagai satu lingkungan, dengan proyeksi penduduk pada tahun 2010 sebesar 20.917 jiwa, maka kebutuhan tambahan sarana pendidikan di kawasan perencanaan Kec. Gandapura adalah hanya berupa sarana TK sebanyak 15 (lima belas) buah. C.4 Sarana Kesehatan Sarana kesehatan di Kecamatan Gandapura meliputi : 1. Poliklinik/Balai Pengobatan sebanyak 1 (satu) buah di Desa Keude Lapang, dengan jangkauan pelayanan ke desa terjauh adalah 40 Km, 2. Puskesmas sebanyak 1 (satu) buah di Desa Lapang Timur, dengan jangkauan pelayanan ke desa terjauh (Desa Palohkayee Kunyet) adalah 8,5 Km, 3. Puskesmas Pembantu sebanyak 2 (dua) buah, dengan jangkauan pelayanan ke desa terjauh (Desa Blang Kubu) adalah 7 Km, 4. Posyandu sebanyak 33 (tiga puluh tiga) buah (hampir ada di setiap desa), dengan jangkauan pelayanan ke desa terjauh (Desa Palohkayee Kunyet) adalah 8,5 Km, 5. Polindes (Pondok Bersalin Desa) sebanyak 19 (sembilan belas) buah, dengan jangkauan pelayanan ke desa terjauh (Desa Palohkayee Kunyet) adalah 8,5 Km.

No

Kode Peta

Nama Desa

Poliklinik/ Balai Pengobatan Jumlah Jarak Rata-Rata (km) 26.0 40.0 36.0 40.0 25.0 27.0 27.0 26.0 40.0 40.0 5.0 38.0 3.0

Puskemas Jumlah 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 Jarak Rata-Rata (km) 8.5 6.0 6.0 4.0 7.0 4.5 6.5 4.5 5.0 6.5 4.3 2.0 3.0

Puskemas Pembantu Jumlah 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 Jarak Rata-Rata (km) 2.0 6.0 6.0 4.0 7.0 2.0 6.5 4.5 5.0 2.5 4.5 2.0 3.0

POSYANDU Jumlah 0 1 1 1 0 1 1 1 1 1 1 1 1 Jarak Rata-Rata (km) 8.5 . . . 7.0 . . . . . . . .

Polindes (Pondok Bersalin Desa) Jumlah 0 0 0 0 0 0 1 1 1 0 0 1 1 Jarak Rata-Rata (km) 8.5 3.0 6.0 1.0 7.0 1.0 . . . 1.0 4.5 . .

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13

005 006 007 008 009 014 015 016 017 018 019 020 021

PALOH KAYEE KUNYET TANJONG RAYA PAYA SEUPAT PAYA KAREUNG BLANG KUBU PAYA BARO TANJONG MESJID MON JEUREUJAK DAMA KAWAN COT RAMBAT BLANG GURON COT TEUBEE TANJONG BUNGONG

0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0

LAPORAN AKHIR

III - 202

BRR NAD - Nias

No

Kode Peta

Nama Desa

Poliklinik/ Balai Pengobatan Jumlah Jarak Rata-Rata (km) 26.0 35.0 3.0 21.0 2.0 30.0 30.0 2.5 2.0 35.0 . 1.0 5.0 25.0 30.0 35.0 33.0 30.0 36.0 36.0 1.0 3.0 5.0 1.5 6.0

Puskemas Jumlah 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 Jarak Rata-Rata (km) 4.3 4.0 4.0 4.5 2.0 1.5 1.5 2.5 2.5 3.0 1.0 1.0 5.0 1.5 . 1.5 3.0 1.0 1.0 1.5 1.0 3.0 5.0 1.5 6.0

Puskemas Pembantu Jumlah 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1 0 0 1 Jarak Rata-Rata (km) 4.0 2.0 4.0 2.0 2.0 2.0 1.5 1.0 2.5 3.0 5.0 1.0 2.0 0.5 2.0 1.5 3.0 1.0 1.0 1.5 1.0 . 5.0 1.0 .

POSYANDU Jumlah 0 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 0 1 1 1 1 0 1 1 1 1 1 1 1 1 Jarak Rata-Rata (km) 4.0 . . . . . . . . . . 0.5 . . . . 3.0 . . . . . . . .

Polindes (Pondok Bersalin Desa) Jumlah 0 0 1 1 1 0 1 1 0 1 1 0 1 0 0 1 0 1 1 1 0 0 0 1 1 Jarak Rata-Rata (km) 4.0 4.0 . . . 1.0 . . 2.5 . . 0.5 . 1.5 0.5 . 3.0 . . . 1.0 3.0 5.0 . .

14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38

022 023 024 025 039 040 041 042 043 044 045 046 047 057 058 059 060 061 062 063 064 065 066 076 077

PULO GISA UJONG BAYU COT TUPAH COT TUNONG COT PUUK PALOH ME GEURUGOK COT JABET PANTE SIKEUMBONG CEUBO KEUDE LAPANG BLANG KEUDE COT MANE LHOK MAMBANG LAPANG TIMUR TEUPIN SIRON IE RHOB ALUE MANGKI LINGKA KUTA LAPANG BARAT SAMUTI KRUENG SAMUTI MAKMUR SAMUTI RAYEUK SAMUTI AMAN MON KEULAYU

0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0

Kondisi di atas, apabila dikaitkan dengan standar pelayanan minimal untuk satuan lingkungan dengan jumlah penduduk < 30.000 jiwa (lihat Lampiran), dimana Kecamatan Gandapura dianggap sebagai satu lingkungan, dengan proyeksi penduduk pada tahun 2010 sebesar 20.917 jiwa, maka tambahan sarana kesehatan yan diperlukan di kawasan perencanaan Kec. Gandapura hanya berupa Balai Pengobatan/Poliklinik sebanyak 4 (empat) buah. C.5 Listrik dan Telepon Hampir seluruh desa di Kecamatan Gandapura telah dilayani oleh prasarana listrik, kecuali 1 (satu) desa, yakni desa Ie Rhob. Untuk prasarana telepon hanya melayani 7 (tujuh) desa yang ada di kec. Gandapura. Kondisi ini menunjukkan kebutuhan III - 203

LAPORAN AKHIR

BRR NAD - Nias


perluasan jaringan telepon yang dapat mencapai belum terlayani.
Keluarga Berlangganan Telepon Persentase Jumlah (%) 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 5 0 0 0 25 15 0 0 20 6 0 0.0 0.0 0.0 0.0 0.0 0.0 0.0 0.0 0 20 2 0 0 0 0 0 0.0 0.0 0.0 0.0 0.0 0.0 0.0 0.0 0.0 0.0 0.0 0.0 0.0 0.0 0.0 0.0 0.0 0.0 0.0 2.7 0.0 0.0 0.0 10.0 11.8 0.0 0.0 15.3 3.9 0.0 0.0 12.5 1.4 0.0 0.0 0.0 0.0 0.0

ke desa-desa yang masih

No

Kode Peta 005 006 007 008 009 014 015 016 017 018 019 020 021 022 023 024 025 039 040 041 042 043 044 045 046 047 057 058 059 060 061 062 063 064 065 066 076 077

Nama Desa

Ketersediaan Listrik Ada Ada Ada Ada Ada Ada Ada Ada Ada Ada Ada Ada Ada Ada Ada Ada Ada Ada Ada Ada Ada Ada Ada Ada Ada Ada Ada Ada Ada Tidak Ada Ada Ada Ada Ada Ada Ada Ada

Keluarga Pengguna Listrik Jumlah Persentase (%) PLN Non PLN PLN Non PLN 20 22 30 30 55 11 31 23 74 35 101 50 30 38 31 233 140 190 75 182 118 60 50 240 120 96 160 129 154 133 160 80 180 190 125 168 346 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 66.7 44.9 51.7 93.8 84.6 42.3 77.5 88.5 86.0 66.0 87.1 68.5 85.7 76.0 45.6 96.7 97.2 95.0 100.0 99.5 97.5 92.3 83.3 96.0 94.5 95.0 98.2 98.5 100.0 0.0 97.1 100.0 55.2 93.3 97.4 97.7 98.8 89.6 0.0 0.0 0.0 0.0 0.0 0.0 0.0 0.0 0.0 0.0 0.0 0.0 0.0 0.0 0.0 0.0 0.0 0.0 0.0 0.0 0.0 0.0 0.0 0.0 0.0 0.0 0.0 0.0 0.0

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38

PALOH KAYEE KUNYET TANJONG RAYA PAYA SEUPAT PAYA KAREUNG BLANG KUBU PAYA BARO TANJONG MESJID MON JEUREUJAK DAMA KAWAN COT RAMBAT BLANG GURON COT TEUBEE TANJONG BUNGONG PULO GISA UJONG BAYU COT TUPAH COT TUNONG COT PUUK PALOH ME GEURUGOK COT JABET PANTE SIKEUMBONG CEUBO KEUDE LAPANG BLANG KEUDE COT MANE LHOK MAMBANG LAPANG TIMUR TEUPIN SIRON IE RHOB ALUE MANGKI LINGKA KUTA LAPANG BARAT SAMUTI KRUENG SAMUTI MAKMUR SAMUTI RAYEUK SAMUTI AMAN MON KEULAYU

LAPORAN AKHIR

III - 204

BRR NAD - Nias

3.12.2 RENCANA TINDAK (ACTION PLAN) KECAMATAN GANDAPURA Rencana Tindak (Action Plan) di Kecamatan Gandapura disusun berdasarkan 5 (lima) rangkaian kegiatan yang telah dijelaskan pada sub bab 3.2. Sebagaimana juga telah dijelaskan pada sub bab 3.2, pelaksanaan sosialisasi melalui FGD di kecamatan Gandapura tidak dapat dilaksanakan, sehingga dalam hal ini dilaksanakan survai wawancara (kuestioner) kepada masyarakat setempat sebagai bahan validitas terhadap draft rencana tindak (action plan) yang disusun konsultan dan telah dipadukan dengan bahan usulan program dari hasil pelaksanaan penjaringan aspirasi masyarakat melaui Forum FGD (Focus Group Discussion) yang dilakukan oleh Pemda Kabupaten Bireuen bekerjasama dengan Lembaga NGO dari Perancis pada tahun 2005. Hasil suvai wawancara (kuestioner) kepada masyarakat di 9 (sembilan) kecamatan prioritas (termasuk Kecamatan Gandapura) juga telah dijelaskan pada sub bab 3.2. Melalui 5 (lima) rangkaian kegiatan di atas, dan hasil pelaksanaan suvai wawancara (kuestioner) kepada masyarakat selanjutnya disusun dan ditetapkan Rencana Tindak (Action Plan) di Kecamatan Gandapura Tahun 2007 sampai Tahun 2009 seperti disajikan pada Tabel dan gambar pada halaman berikut. 3.12.3 DESA PRIORITAS DI KECAMATAN GANDAPURA Dengan mengacu pada proses dan metode penetapan desa prioritas yang telah dijelaskan pada sub bab 3.2, maka dipilih dan ditetapkan desa prioritas untuk Village Planning di Kecamatan Gandapura seperti disajikan pada tabel berikut. Desa Prioritas di Kecamatan Gandapura

No 3 16 35 36 44 116

Kode 60 62 63 77 61 76

Nama Desa/Kel. sekarang IE RHOB LINGKA KUTA LAPANG BARAT MON KEULAYU ALUE MANGKI SAMUTI AMAN

Kecamatan Gandapura Gandapura Gandapura Gandapura Gandapura Gandapura

Nilai 40 29 25 25 24 16

Urutan Prioritas 1 2 3 3 4 5

LAPORAN AKHIR

III - 205

BRR NAD - Nias

121 132 135 136 138 142 148

47 57 59 64 65 46 58

COT MANE LHOK MAMBANG TEUPIN SIRON SAMUTI KRUENG SAMUTI MAKMUR BLANG KEUDE LAPANG TIMUR

Gandapura Gandapura Gandapura Gandapura Gandapura Gandapura Gandapura

15 12 11 11 10 8 6

6 7 8 8 9 10 11

LAPORAN AKHIR

III - 206

BRR NAD - Nias

PENYUSUNAN RENCANA TATA RUANG WILAYAH KABUPATEN BIREUEN PROVINSI NANGGROE ACEH DARUSSALAM

BRR NAD - Nias


Sebagai penutup dari buku-1 ini, berikut akan dikemukakan beberapa kesimpulan dari rekomendasi hasil Review RTRW Kabupaten Bireuen dan Penyusunan Rencana Tindak (Action Plan) di Kecamatan Prioritas.

4.1

KESIMPULAN DARI HASIL REVIEW RTRW KABUPATEN BIREUN DAN REKOMENDASI UNTUK PENYUSUNAN RENCANA TATA RUANG WILAYAH KABUPATEN BIREUN (TAHAP II)

Dengan mengacu pada hasil review RTRW Kab. Bireuen yang ada saat ini (2002 2011) serta hasil kajian terhadap isu permasalahan tata ruang Kabupaten Bireun yang telah dijelaskan pada bab sebelumnya, maka berikut ini direkomendasikan beberapa hal penting yang perlu diperhatikan dalam penyusunan RTRW Kabupaten Bireuen (Tahap-II), sebagai berikut : 1. Dari hasil review RTRW Kab. Bireuen yang ada saat ini disimpulkan bahwa RTRW Kabupaten Bireuen saat ini memerlukan revisi secara menyeluruh, sehingga perlu disusun RTRW Kabupaten yang Baru. 2. Dalam rangka meminimasi dampak tsunami di Kabupaten Bireuen di masa mendatang, maka konsep Rencana Tata Ruang Kabupaten Bireuen, khususnya pada wilayah pesisir, perlu memberi penekanan khusus pada aspek mitigasi dan minimasi terhadap dampak bencana, misal dengan menerapkan konsepsi : Escape Roads dan Escape Hills. 3. Konsep pengembangan kawasan Budidaya Kabupaten Bireun perlu mengacu pada Sistem Zonasi Kabupaten Bireuen dalam Rencana Induk Rehabilitasi dan Rekonstruksi Wilayah NAD-Nias. 4. Dalam rangka mencegah terjadinya permasalahan degradasi lingkungan di Kabupaten Bireun, maka pada kawasan-kawasan yang termasuk dalam kriteria Kawasan Lindung Setempat (sesuai Keppres No. 32 Tahun 1990), meliputi : Kawasan Sempadan Pantai, Sempadan Sungai, Kawasan Sekitar Mata Air, dan Kawasan Sekitar Danau/Waduk, perlu dikelola secara baik dan dikembangkan sebagai sabuk hijau. Sabuk Hijau pada kawasan sempadan pantai direkomendasikan untuk pengembangan hutan bakau (mangrove).

LAPORAN AKHIR

IV - 1

BRR NAD - Nias

5. Dalam rangka menangani permasalahan banjir di Kab. Bireuen yang diduga disebabkan oleh masalah penggundulan hutan di wilayah hulu dan masalah sedimentasi di muara Sungai, maka dalam penyusunan RTRW Kab. Bireuen perlu ditekankan masalah penyelamatan kawasan resapan air (catchment area) di wilayah hulu sungai yang sering berpotensi banjir. 6. Dalam rangka mendukung pengembangan ekonomi Kab. Bireuen, maka dalam penyusunan RTRW Kab. Bireuen perlu ditampung beberapa Rencana Strategis Kabupaten Bireuen, meliputi : a. Rencana Kawasan Industri Bate Geulungku, b. Rencana Pelabuhan di Kec. Simpang Mamplam, c. Rencana pengembangan Sumber Daya Air Bersih S. Batuilie sebagai sumber air untuk Kawasan Industri Bate Geulungku dan Rencana Pelabuhan di Kec. Simpang Mamplam. d. Rencana pengembangan TPI dan PPI di Kec. Peudada. e. Rencana Pengembangan Kawasan Permukiman Utama (Perkotaan) Bireuen sebagai ibukota Kabupaten Bireuen. f. Rencana Pembangunan Jalan Lingkar Selatan dan Utara Kota Bireuen g. Rencana Kawasan Pemerintahan Kabupaten di Cot Gapu. h. Rencana Pengembangan Industri Bio-Diesel di Teupin Manee, Kec. Juli i. Rencana Pengembangan Industri Alat Pertanian di Kuta Blang. j. Rencana Pengembangan Pasar Hewan dan Pusat Pakan Ternak di Geurughok. k. Rencana Pengembangan potensi Pasir Besi di Mon Keulayu. 7. Perlunya mendorong beberapa sektor ekonomi yang potensial di Kabupaten Bireuen di masa mendatang, meliputi : a. Sektor Pertanian, dengan komoditas utama padi dan kedelai. Adapun kawasan sentra produksi pertanian terdapat di Kec. Samalanga, Gandapura, dan Peusangan.

LAPORAN AKHIR

IV - 2

BRR NAD - Nias

b. Sektor Perikanan Laut, dengan komoditas utama ikan cakalang dan tuna. Dari hasil budidaya pertambakan adalah udang windu dan bandeng. c. Sektor Industri, dengan penekanan pada jenis agro industri, termasuk industri bio-diesel, dan industri alat pertanian. d. Sektor Peternakan, sesuai dengan rencana pengembangan Pasar Hewan, Pusat Pakan Ternak, dan Pusat Kesehatan Ternak di Geurughok. e. Sektor Perdagangan/Jasa, dikembangkan di kota Bireuen (ibukota Kabupaten Bireuen) yang memiliki posisi strategis karena terletak pada persimpangan antara jalan Nasional yang menghubungkan antara kota pusat-pusat pertumbuhan Banda Aceh (kota PKN) dan Lhokseuwawe (kota PKN), serta jalan Provinsi Bireuen Takengon (kota PKW). 8. Perlunya memprioritaskan program pengembangan prasarana dan sarana transportasi di Kabupaten Bireuen, karena dengan terbukanya akses antara pusat-pusat kegiatan (termasuk pusat kecamatan), sentra-sentra produksi, lokasi bahan baku, kawasan industri pengolahan, pasar, dan outlet (Pelabuhan, Bandar Udara), diharapkan akan dapat menjadi stimulan untuk mengenerate perkembangan wilayah dan pertumbuhan ekonomi di Kab. Bireuen.

4.2

KESIMPULAN PENYUSUNAN

DAN

REKOMENDASI TINDAK

DARI

HASIL DI

RENCANA

(ACTION

PLAN)

KECAMATAN PRIORITAS
Dengan mengacu pada hasil penyusunan Rencana Tindak (Action Plan) yang telah dijelaskan pada bab sebelumnya, maka berikut ini disajikan beberapa kesimpulan dan rekomendasi tindak lanjut yang diperlukan untuk pelaksanaan Rencana Tindak (Action Plan) di kecamatan prioritas. 1. Dari hasil identifikasi kondisi dan permasalahan yang ada di 9 (sembilan) kecamatan prioritas, menunjukkan bahwa secara umum permasalahan yang ada di setiap kecamatan dipengaruhi oleh karakteristik fisik dan sosial-ekonomi wilayah, seperti : daerah pesisir atau bukan pesisir, daerah perkotaan (urban),

LAPORAN AKHIR

IV - 3

BRR NAD - Nias


perdesaan atau semi-urban, daerah sudah berkembang, sedang berkembang atau belum berkembang, daerah miskin atau bukan miskin, dll. 2. Dalam rangka menangani berbagai permasalahan yang ada di kecamatan prioritas Kabupaten Bireuen, telah disusun rencana tindak (action plan) Kecamatan prioritas Kabupaten Bireuen, yang diperoleh dari berbagai masukan sebagai berikut : a. Hasil analisis kebutuhan program sesuai dengan kaidah dan standar perencanaan program yang ada. b. Hasil rumusan konsep dasar dan strategi pengembangan kecamatan yang mengacu pada Rencana Induk Rehabilitasi dan Rekonstruksi NAD-Nias. c. Usulan Program dari : Pemda Kabupaten Bireun (Dinas-dinas/Instansi terkait), Pemerintah Kecamatan terpilih (9 kecamatan), Buku Rencana Program hasil Musrenbang Kabupaten Bireun, Lembaga NGO (Non Government Organization) Lokal dan Internasional yang memberikan bantuan di Kabupaten Bireuen, Aspirasi Masyarakat melalui Forum FGD yang pernah dilakukan oleh Pemda Kabupaten Bireuen bekerjasama dengan Lembaga NGO dari Perancis. d. Hasil cross-check atau validitas dari rumusan Draft Rencana Tindak (Action Plan) yang merupakan gabungan dari 3 (tiga) masukan yang telah dijelaskan sebelumnya melalui pelaksanaan survai wawancara (kuestioner) kepada masyarakat di setiap kecamatan. 3. Dari hasil survai wawancara kepada masyarakat, sebagian besar responden (71 %) menyatakan bahwa jenis program yang paling prioritas adalah program jalan, selanjutnya berturut-turut adalah program rehabilitasi rekonstruksi perumahan yang terkena dampak tsunami, program pembangunan sarana air bersih dan sanitasi, program pembangunan sarana pendidikan dan kesehatan, program penyediaan listrik, program pemberdayaan ekonomi, masyarakat miskin, petani
IV - 4

LAPORAN AKHIR

BRR NAD - Nias


dan nelayan, program penanganan banjir dan pengamanan pantai, program pembangunan sarana dan prasarana irigasi, serta terakhir adalah program pembangunan sarana dan prasarana pemerintahan kecamatan. 4. Dari hasil survai wawancara kepada masyarakat diperoleh bahwa sebagian besar responden menyarankan agar pelaksanaan rencana tindak yang dilakukan di kecamatan bersangkutan perlu : melibatkan masyarakat setempat dalam pelaksanaannya, memperhatikan adat-istiadat dan budaya setempat, memanfaatkan semaksimal mungkin ketersediaan sumber daya (SDA dan SDM) setempat yang ada.

LAPORAN AKHIR

IV - 5