Anda di halaman 1dari 6

Ingeu Widyatari Heriana 180110110055 Sastra Indonesia (A) Relevansi Nasib Tokoh dengan Judul Drama dalam Drama

Pandu Partiwi Merayu Sukma menciptakan drama dengan baik. Epilog drama dibuat terperinci dengan kelengkapan deskripsi watak tokoh utama, yaitu Pandu. Ciri-ciri fisik dan gerak-gerik tokoh Pandu digambarkan jelas oleh Merayu Sukma hingga menggugah citraan penglihatan pembaca. Hal tersebut memudahkan penyelenggaraan pementesan untuk menentukan pemeran sehingga lakon berjalan lebih hidup daripada sekedar naskah. Pernyataan di atas dibuktikan dengan kutipan berikut. PANDU, berpengawakan tinggi lampai, berkulit Sawo matang, sedang berjalan dalam keadaan letih lesu. Wajahnya cakap, tetapi muram. Mendung putus asa menyelimuti mukanya yang pucat. Sehingga matanya yang tajam menarik itu, guram rupanya. Tiba di tepi jalan yang sepi, berhentilah ia sambil memegang rambutnya yang kesut. Ia tegak dengan kepala terkulai. Kemudian perlahan-lahan diangkatnya mukanya sambil mengeluh menengadah langit, dengan rupa yang penuh duka. (Sukma, Merayu: 1943).

Pemeran tokoh perlu deskripsi gerak-gerik yang rinci. Aksi pemeran untuk adegan akan bagus apabila penjiwaan persis dengan deskripsi naskah dapat diterapkan dalam pementasan. Contohnya ditemukan dalam kutipan berikut. Tetapi ketika tangan yang memegang keris itu akan turun, tiba-tiba terdengar bunyi sepeda rubuh, lalu Jaya sigap secepat kilat melompat penuh ketangkasan, menangkap tangan PANDU. PANDU sangat terkejut, lalu berpaling memandang kepada orang yang tiba-tiba menangkap tangannya itu dan yang sedang tegak dengan sigap dan gagah di belakangnya. (Sukma, Merayu: 1943).

Marayu Sukma memudahkan pemeran memainkan lakon. Improvisasi tidak banyak dilakukan karena gerakan yang harus dilakukan sudah diatur dengan jelas dalam naskahnya. Sutradara juga bisa dengan mudah mengatur posisi tubuh pemeran pada latar pementasan.

Dilihat dari pendeskripsian tersebut, pemeran dibuat menguasai panggung di bagian awal sebagai perkenalan pementasan sehinggan pentas tidak hampa atau pun membosankan. Hal tersebut juga justru membuat penasaran penonton mengenai kejadian yang akan terjadi pada kedua tokoh. Melalui kutipan berikut. ... . Di tengah ruang sedikit ke belakang, terletak meja duduk kecil dengan empat buah kursi model pendek dan lebar. Meja serta kursinya itu sedikit miring letaknya, sehingga yang terletak di depan sekali tiadalah membelakangi penonton. Latar pementasan dapat dibayangkan dengan baik oleh pembaca. Tata letak properti dideskripsikan oleh pengarang dengan rinci sehingga pementasan akan lebih hidup. Pengaturan tata letak properti juga baik mementingkan hak penonton. Terlihat bahwa drama ini benarbenar siap untuk dipentaskan. Namun, efek suara tidak dimunculkan dalam drama ini, sehingga latar suasana tidak begitu hidup. Pada babak keempat, ditemukan keterangan ... ORANG BANYAK masuk, ... berkacaukacau: Pembunuhan! Pembunuhan! Dua orang POLISI datang menyuisih orang banyak. Dari kutipan keterangan tersebut terdapat adegan tokoh dua orang polisi datang tiba-tiba tanpa ada keterangan yang menunjukkan tokoh manapun memanggil sebelumnya. Hal tersebut merupakan kejanggalan yang ditemukan dalam drama ini. Kejanggalan juga ditemukan pada tokoh Jaya. Pada babak ketigaa, adegan sebelum

Priayiwati meninggal, Jaya tidak setuju Pandu menyukai dan memilih Partiwi untuk menjadi tolannya. Berikut kutipan dari beberapa dialog tokoh Jaya yang menunjukkan

ketidaksetujuannya.

JAYA: ... tidakkah Saudara merasa canggung sebagai orang majikan muda, memilih babu pelayan di rumah sendiri, buat Saudara jadikan nyonya rumah? JAYA: ... Keluargamu masih teguh memegang adat, mungkinkah dibiarkannya begitu saja anak kemenakannya beristri seorang babu, seakan-akan Saudara sudah tidak laku lagi terhadap perempuan lain yang lebih pantas kedudukannya? JAYA: ... kalau-kalau pilihanmu itu akan menyebabkan Saudara cerai berai dengan keluarga di negerimu. Ini saja yang saya takutkan. Sebab nama babu pada pendengaran telinga orang beradat di negerimu, tentu tidak enak. (Sukma, Merayu: 1943)

Kemudian pada babak kelima, setelah adegan tokoh Priayiwati meninggal, Jaya justru mendukung Pandu menjadikan Partiwi sebagai pasangan hidupnya. Hal tersebut menunjukkan ketidakkonsistenan pengarang. Bisa dikatakan perubahan tersebut dibuat sebagai alur yang menunjukkan penyelesaian konflik. Dibuktikan dengan kutipan berikut yang menandakan alur akan segera berakhir. JAYA: Baiklah aku mencari Partiwi. Sebab sesungguhnya dia sangat berharga buat menjadi tolan hidupmu. Aku berharap Saudara nanti dapat membangunkan rumah tangga yang diliputi kemakmuran dan kesentosaan. Kejanggalan ditemukan lagi pada babak kelima. Ditemukan sebuah adegan yang menimbulkan pertanyaan, mengapa tokoh Nadarlan tiba-tiba menyimpulkan bahwa Priayiwati

ingin kembali kepada Pandu dan ingin menjadi isrinya? Padahal, adegan sebelum Priayiwati meninggal, bukan nama Pandu yang disebutkan, melainkan nama Jaya yang disebutkan bahwa Jaya seorang pria gagah yang akan melindunginya.

Dibuktikan dengan kutipan berikut. PRIAYIWATI: ... .Apalagi sekarang aku dalam perlindingan Jaya, seorang yang gagah berani, yang selalu suka menolong segala manusia yang teraniaya. Kejanggalan pada dialog tokoh Nadarlan. NADARLAN: ... .Rupanya Priayiwati ingun menjadi istrimu, tidak suka lagi ia menerima aku, ... Hal menarik ditemukan dalam drama karya Merayu Sukma berjudul Pandu Partiwi ini. Permainan tanggal-tanggal sebagai hari peringatan dalam drama ini menjadi pertanyaan. Alasan pengarang memunculkan tangal-tanggal peringatan tersebut bisa dikatakan sebagai makna tersirat yang harus diteliti oleh pembaca. Tanggal 17 Agustus yang muncul dalam dialog tokoh Pandu dan Jaya diasumsikan sebagai pengingat cita-cita bangsa Indonesia untuk merdeka. Drama ini dibuat tahun 1943

masih pada masa penjajahan Jepang sebelum tahun 1945 masa kemerdekaan Republik Indonesia. Pada jenjang masa tersebut, terbentuknya BPUPKI dilanjut PPKI sebagai organisasi bentukan Jepang sangat berpengaruh terhadap kemerdekaan Republik Indonesia. Golongan pemuda tidak ingin kemerdekaan Indonesia dirasakan pemberian dari Jepang. Mereka menginginkan kemerdekaan asli hasil dari perjuangan rakyat Indonesia. Drama tersebut sebagai kritik politik terhadap zaman kilonialisme. Bisa dibilang tanggal-tanggal tersebut pada masa lahirnya karya tidak sama sekali sebagai bayangan atau dijadikan kesepakatan, tetapi bisa dikatakan sebagai peramalan. Pengarang juga menyinggung matahari terbit dalam beberapa dialog tokoh sebagai pencerminan zaman Jepang, masa saat dramanya muncul.

Judul Pandu Partiwi dapat disimpulkan bahwa dominannya tokoh Pandu dan Partiwi. Kedua tokoh ditakdirkan oleh pengarang untuk bertemu dan bersama-sama melalui perantara tokoh Jaya. Dibuktikan dengan tokoh Pandu yang ingin bunuh diri menggunakan keris diselamatkan oleh tokoh Jaya di awal drama. Tokoh Priayiwati yang juga diselamatkan oleh tokoh Jaya saat ingin dibunuh oleh tokoh Nadarlan. Pengarang menakdirkan selamatnya tokoh Priyaiwati dari pembunuhan Nadarlan agar tokoh ini dapat menyampaikan isi hatinya bahwa ingin menyerahkan Pandu kepada Partiwi untuk dijadikan pendamping hidup Partiwi. Hal tersebut merupakan penyelesaian konflik yang dipilih oleh pengarang agar masalah menjadi kerucut dan relevan dengan judul. Pandu dan Partiwi sama-sama diselamatkan dari maut oleh tokoh Jaya dan secara tidak langsung oleh Priayiwati melalui amanatnya, kemudian untuk ditakdirkan bersama-sama

kembali membangun rumah tangga.